Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN DENGAN


METODE DU-NOUY

Oleh:
KELOMPOK 8

Putu Metri Pradnyani (1313031039)

Kadek Widiastari (1313031041)

Muthia Zahra Nabila (1313031042)

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2016

1
PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN DENGAN
METODE DU-NOUY

I. TUJUAN
1. Menentukan tegangan permukaan cairan/cairan pada CHCl3, minyak, detergen.
2. Mengetahui efek surface active agent pada larutan detergen dalam berbagai
konsentrasi tertentu terhadap γ (tegangan permukaan).

II. DASAR TEORI


Di dalam zat cair murni, satu molekul zat x akan dikelilingi oleh molekul-
molekul lainnya yang sejenis dari segala arah sehingga gaya tarik menarik sesama
molekulnya (gaya kohesi) adalah sama besar. Namun, berbeda halnya dengan yang
terjadi pada permukaan zat cair. Di permukaan zat cair terjadi gaya tarik menarik antara
molekul cairan dengan molekul udara (adhesi). Gaya adhesi lebih kecil bila
dibandingkan dengan gaya kohesi sehingga molekul di permukaan zat cair cenderung
tertarik ke arah dalam. Tetapi hal ini tidak terjadi karena adanya gaya yang bekerja
sejajar dengan permukaan zat cair yang mengimbangi besarnya gaya kohesi antar
molekul di dalam zat cair terhadap molekul sejenisnya di permukaan. Akibatnya
molekul tersebut berada di permukaan. Gaya ini disebut tegangan permukaan.

Gambar 1. Gaya tarik molekul-molekul dalam cairan


Tegangan permukaan didefinisikan sebagai gaya F per satuan panjang L yang
harus diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan dalam dengan
satuan dyne/cm. Secara umum terdapat dua jenis tegangan permukaan, yaitu: (1)
Tegangan permukaan yang terjadi di permukaan cairan yang berbatasan dengan udara
(tegangan permukaan cairan-gas/ tegangan permukaan) dan (2) tegangan permukaan
yang terjadi antara dua cairan yang membentuk 2 fasa yang tidak saling bercampur
(tegangan permukaan cairan-cairan/tegangan antar permukaan).

2
Secara matematis tegangan permukaan dapat dirumuskan sebagai berikut:
F
 
2L
dimana,  = tegangan permukaan
F = gaya
L = panjang keliling permukaan selaput fluida
Tegangan permukaan dapat terjadi akibat kecenderungan permukaan zat cair
untuk menegang sehingga permukaannya tampak seperti selaput tipis. Hal ini
dipengaruhi oleh adanya gaya kohesi antara molekul air. Peristiwa ini sering kita amati
dikehidupan sehari-hari sebagai contoh, nyamuk yang dapat mengapung/berdiri diatas
air, ataupun penjepit kertas/silet yang diletakkan secara perlahan diatas air akan dapat
mengambang/mengapung. Ketika penjepit kertas/silet diletakkan secara hati-hati di atas
permukaan air, maka molekul-molekul air yang terletak di permukaan agak ditekan oleh
gaya berat penjepit kertas/silet tersebut, sehingga molekul-molekul air yang terletak di
bawah memberikan gaya pemulih ke atas untuk menopang penjepit kertas/silet tersebut.
Pengukuran tegangan permukaan atau tegangan antar muka dapat dilakukan
dengan 2 cara yaitu : (1) Metode kenaikan kapiler, Tegangan permukaan diukur dengan
melihat ketinggian air/cairan yang naik melalui suatu kapiler. Metode ini hanya dapat
digunakan untuk mengukur tegangan permukaan tidak bisa untuk mengukur tegangan
antar muka. (2) Metode tersiometer Du-Nouy. Metode ini dapat digunakan untuk
mengukur tegangan permukaan ataupun tegangan antar muka. Prinsip dari alat ini adalah
gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin platina iridium yang dicelupkan
pada permukaan sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan antar muka dari
cairan tersebut (Sukardjo;1989).
Pada dasarnya tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya suhu dan zat terlarut. Keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan
mempengaruhi besarnya tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada pada
permukaan cairan berbentuk lapisan monomolekular yang disebut dengan molekul
surfaktan. Besarnya gaya ke bawah akibat tegangan permukaan diukur dengan
persamaan :
F = 4R
Dimana  merupakan tegangan muka; nilai  adalah sebesar 3,14; R adalah jari-jari
cincin; dan F adalah gaya untuk memisahkan permukaan cairan. Pada saat cincin lepas,
dapat dituliskan melalui persamaan:
3
F1 = F2
F1 = 4R
F
γ
4π R
Karena tegangan permukaan merupakan perbandingan antara gaya tegangan permukaan
dengan satuan panjang, maka satuan tegangan permukaan adalah Newton per meter
(N/m) atau dyne per centimeter (dyne/cm).
1 dyne/cm = 10-3 N/m = 1 mN/m
Dalam prakteknya bentuk cairan film yang diangkat lingkaran logam berbeda
dari sistem ideal dan mempengaruhi harga tegangan permukaan yang diperoleh,
sehingga diperlukan faktor koreksi yang berkisar antara 0,75–1,02 (Brady;1999).
Pembacaan skala pada tensiometer menghasilkan tegangan permukaan nyata dan
tegangan permukaan nyata antara dua cairan. Untuk mendapatkan tegangan permukaan
yang sebenarnya, dipergunakan rumus:
γ=SxF
γ = tegangan permukaan sebenarnya
S = tegangan permukaan nyata
F = faktor koreksi
Faktor koreksi F tergantung pada ukuran diameter cincin logam, ukuran
diameter logam yang dipergunakan, tegangan permukaan nyata, tegangan permukaan
nyata antara dua cairan, serta BJ dari kedua fasa.Hubungan faktor di atas dapat
dinyatakan dalam bentuk, salah satu dari kedua bentuk tersebut dapat digunakan untuk
membuat kurva faktor koreksi:
4b S
( F  a) 2  x K
1. (R) 2
D-d

0.01452 1.679r
F  0.725   0.04534 
C (D  d )
2
R
2.
F = faktor koreksi
R = jari-jari cincin logam (cm)
r = jari-jari logam pembuat cincin (cm)
S = tegangan permukaan nyata (dyne per cm)
D = berat jenis cairan yang di bawah (gram/cm-3)
d = berat jenis cairan yang di atas
K = 0.04534 – 1.679 r/R
4
C = keliling cincin logam (cm)
a = 0.725
b = 0.0009075
a, b, dan K adalah konstanta yang nilainya tidak bergantung pada cincin logam yang
dipergunakan.
Emulsifier atau zat pengemulsi didefinisikan sebagai senyawa yang mempunyai
kemampuan aktivitas pemukaan (surface activity agents) sehingga dapat menurunkan
tegangan permukaan (surface tension) cairan. Detergen sintesis modern didesain untuk
meningkatkan kemampuan air membasahi kotoran yang melekat pada pakaian, yaitu
dengan menurunkan tegangan permukaan air. Misalnya, air murni tidak membasahi dan
bentuk butiran air ini tidak banyak berubah, tetapi tetes air yang mengandung detergen
(surfaktan) akan membasahi lilin dan butir air akan menyebar (luas permukaan
bertambah) (Chang;2003).

III. Alat dan Bahan


Alat
Alat Jumlah
Tensiometer Du-Nouy 1 set
Cawan Penguap 1 buah
Gelas kimia 100 mL 4 buah
Batang Pengaduk 1 buah
Spatula 1 buah
Gelas ukur 50 mL 1 buah
Gelas ukur 10 mL 1 buah
Labu ukur 100 mL 1 buah
Neraca analitik 1 buah
Pipet tetes 2 buah
Bahan
Bahan Keterangan
Aquades 500 mL
Detergen merk “TOTAL” 0,5 gram
Minyak goreng 100 mL
Kloroform 100 mL
IV. PROSEDUR KERJA DAN HASIL PENGAMATAN
No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
A Penentuan Tegangan Permukaan Larutan Murni/Udara

5
1 Alat tensiometer dirangkai seperti Rangkaian alat tensiometer yang digunakan seperti
gambar berikut. pada gambar berikut.

Gambar 2. Alat tensiometer


Gambar 1. Rangkaian alat
Cincin pada tensiometer memiliki diameter sebesar
tensiometer
2,9 cm, sehingga jari-jari cincin adalah sebesar
1,45 cm.
2  Aquades dimasukkan ke dalam Aquades merupakan cairan bening tidak berwarna.
cawan petri. Suhu aquades yang digunakan adalah 28oC.
 Selanjutnya cincin dimasukkan
Pengukuran tegangan permukaan pada air
ke dalam aquades dan cincin
dijaga agar tidak saling ditunjukkan pada gambar berikut.
bersentuhan dengan dinding
cawan.
 Skala pada tensiometer diamati
pada tarikan pertama, kemudian
dicatat.
 Pengamatan dilakukan
berulang-ulang untuk
memperoleh hasil yang akurat.

Gambar 3. Pengukuran tegangan permukaan pada air

Setelah beberapa kali pengukuran pada air, skala


yang ditunjukkan pada alat tensiometer adalah
sebagai berikut.

Pengukuran ke- Skala (mN)


I 25,1
II 25,9

6
III 25,7
IV 23,2
V 28,1
Rata-rata 25,6
3 Langkah yang sama pada prosedur Minyak goreng cairan berwarna kuning bening.
kerja no. 2 di atas dilakukan juga Tegangan permukaan cairan minyak diukur
pada larutan murni lainnya yaitu dengan cara sama seperti pengukuran tegangan
kloroform dan minyak goreng. permukaan air. Skala pengukuran yang
ditunjukkan sebagai berikut.
Pengukuran ke- Skala (mN)
I 25,2
II 19,3
III 21,0
IV 17,3
V 19,0
Rata-rata 20,36

Kloroform merupakan cairan bening tidak


berwarna. Tegangan permukaan cairan kloroform
diukur dengan cara sama seperti pengukuran
tegangan permukaan air. Skala pengukuran yang
ditunjukkan sebagai berikut.
Pengukuran ke- Skala (mN)
I 13,2
II 12,3
III 12,3
IV 13,1
V 12,8
Rata-rata 20,36
B Penentuan Tegangan Permukaan Larutan Detergen
1  Detergen bubuk yang akan Detergen yang digunakan adalah detergen merk
digunakan disiapkan terlebih ‘TOTAL”
dahulu.

7
 Detergen bubuk tersebut
kemudian ditimbang masing –
masing sebanyak 0,05 g; 0,10 g;
dan 0,15 g.

Gambar 4. Detergen merk “TOTAL”


Variasi konsentrasi detergen yang digunakan
adalah 0,05 gram, 0,10 gram, dan 0,15 gram.

2 Setelah ditimbang, masing- Detergen yang sudah ditimbang kemudian


masing detergen yang massanya dilarutkan dalam air sampai volume 100 mL
berbeda tersebut dilarutkan sehingga terbentuk larutan yang berwarna putih
dengan air hingga volumenya 100 keruh dan berbusa.
mL, sehingga diperoleh larutan
detergen dengan lima konsentrasi
yang berbeda yaitu 0,05%; 0,10%;
0,15%.

Gambar 5. Larutan detergen 0,05%; 0,10%; 0,15%.

3  Masing-masing larutan Pada pengukuran tegangan permukaan detergen,


detergen dimasukkan ke dalam skala yang ditunjukkan adalah sebagai berikut.
cawan petri secara bergantian. Pengukuran Skala (mN)
 Selanjutnya cincin dimasukkan ke- 0,05% 0,10% 0,15%
ke dalam larutan detergen dan I 21,1 20,5 18,1
cincin dijaga agar tidak saling II 21,8 20,2 20,5
bersentuhan dengan dinding III 20,9 20,5 19,4
cawan. IV 20,9 22,4 18,9
 Skala pada tensiometer diamati V 20,5 18,9 19,3
pada tarikan pertama, kemudian Rata-rata 21,04 20,5 19,56
dicatat.

8
 Pengamatan dilakukan Suhu larutan deterjen 0,05% adalah 29oC, larutan
berulang-ulang untuk deterjen 0,1% adalah 28 oC, larutan detergen
memperoleh hasil yang akurat. 0,15% adalah 28 oC.
C Penentuan Tegangan Permukaaan Campuran Air-Minyak Goreng
1 Sebanyak 25 mL minyak Campuran minyak dan air mebentuk dua lapisan.
ditambahkan ke dalam 60 mL air. Lapisan atas adalah minyak dan lapisan bawah air.

Gambar 6. Campuran air dan minyak


2 Cincin aluminium dicelupkan Saat pengukuran pada campuran air dan minyak,
pada campuran air dan minyak skala yang ditunjukkan alat adalah sebagai berikut.
pada bagian perbatasan antara Pengukuran ke- Skala (mN)
lapisan minyak dengan air. Skala I 18,1
yang ditunjukkan dicatat. II 18,5
III 19,2
Rata-rata 18,6
D Penentuan Tegangan Permukaan Campuran Air-Kloroform
1 Sebanyak 30 mL air ditempatkan Saat kloform dimasukkan ke dalam air, terbentuk
dalam cawan petri. Kemudian dua lapisan, lapisan atas adalah air dan lapisan
sebanyak 20 mL kloroform bawah adalah kloroform seperti yang ditunjukkan
ditambahkan pada 30 mL air yang pada gambar.
telah ditempatkan pada cawan
petri tersebut.

Gambar 7. Campuran air dan kloroform

9
2 Cincin aluminium dicelupkan Saat pengukuran pada campuran air dan kloroform,
pada campuran air dan kloroform skala yang ditunjukkan alat adalah sebagai berikut.
pada bagian perbatasan antara Pengukuran ke- Skala (mN)
lapisan aqaudes dan kloroform. I 14,7
Skala yang ditunjukkan dicatat. II 15,1
III 14,6
Rata-rata 14,8
E. Penentuan Tegangan Permukaan Campuran Air-Minyak Goreng-Detergen
1 Sebanyak 15 mL air disiapkan Air merupakan cairan bening tidak berwarna
dalam gelas kimia. disiapkan sebanyak 15 mL.
2 Kedalam air ditambahkan 10 mL Setelah minyak dimasukkan ke dalam air yang ada
minyak kemudian ditambahkan dalam gelas kimia, terbentuk dua lapisan, Lapisan
0,1 gram detergen. atas adalah minyak dan lapisan bawah air.
Setelah ditambahkan detergen, campuran menjadi
keruh berwarna kekuningan seperti pada gambar.

Gambar 8. Campuran air, minyak, dan detergen


3 Larutan yang terbentuk diaduk Setelah diaduk dan didiamkan, campuran tetap
dan didiamkan beberapa saat. keruh kekuningan.
4 Cincin aluminium dicelupkan Setelah tiga kali pengukuran pada campuran air,
pada campuran air-minyak- minyak, dan detergen, skala yang ditunjukkan
detergen pada bagian perbatasan sebagai berikut.
antara lapisan aqaudes dan Pengukuran ke- Skala (mN)
minyak. Skala yang ditunjukkan I 14,3
dicatat. II 15,5
III 15,1

10
Rata-rata 14,96
F. Penentuan Tegangan Permukaan Campuran Air-Kloroform-Detergen
1 Sebanyak 15 mL air disiapkan Air merupakan cairan bening tidak berwarna
dalam gelas kimia. disiapkan sebanyak 15 mL.
2 Kedalam air ditambahkan 10 mL Setelah kloroform dimasukkan ke dalam air yang
kloroform kemudian ditambahkan ada dalam gelas kimia, terbentuk dua lapisan,
0,1 gram detergen. Lapisan atas adalah air dan lapisan bawah adalah
kloroform.
Setelah ditambahkan detergen, campuran
menjadi berwarna putih keruh.

Gambar 9. Campuran air, kloroform, dan


detergen
3 Larutan yang terbentuk diaduk dan Setelah diaduk dan didiamkan, campuran tetap
didiamkan beberapa saat. menjadi dua lapisan.
4 Cincin aluminium dicelupkan pada Setelah tiga kali pengukuran pada campuran air,
campuran air-kloroform-detergen kloroform, dan detergen, skala yang ditunjukkan
pada bagian perbatasan antara sebagai berikut.
lapisan aqaudes dan minyak. Skala Pengukuran ke- Skala (mN)
yang ditunjukkan dicatat. I 9,2
II 9,6
III 10,3
Rata-rata 9,7

V. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan penentuan tegangan permukaan cairan/gas (air/udara,
kloroform/udara dan minyak goreng/udara), tegangan permukaan larutan detergen 0,05%,

11
0,10%, 0,15% serta tegangan permukaan cairan/cairan (air-kloroform, air-minyak, air-minyak-
detergen dan air-kloroform-detergen) menggunakan metode Du-Nouy. Hasil pengukuran gaya
tegangan permukaan dari cairan murni dan campuran tersebut telah dipaparkan pada hasil
pengamatan. Diameter cincin yang digunakan dalam percobaan adalah 2,9 cm, sehingga jari-
jari (R) dari cincin yang digunakan adalah 1,45 cm atau 1,45 x 10-2 m. Perhitungan tegangan
permukaan dari masing-masing cairan/gas dan cairan/cairan adalah sebagai berikut.

 Perhitungan Tegangan Permukaan Tanpa Faktor Koreksi

F = 4πR . γ  γ  F ; R  jari  jari cincin


4π R
4π R  4  3,14  1,45 cm
 4  3,14  1,45  10  2 m
 0,18212 m
a. Cairan Murni/Udara
Air/Udara (F = 25,1 x 10-3 N)
25,1  10 3 N
γF 
4π R 0,18212 m
 0,1378 N
m
Minyak Goreng/Udara (F = 20,36 x 10-3 N)
20,36  103 N
γF 
4π R 0,18212 m
 0,1118 N
m
Kloroform/Udara (F = 12,74x 10-3 N)
12,74  103 N
γF 
4π R 0,18212m
 0,070 N
m
b. Larutan Detergen
Detergen 0,05% (F = 21,04 x 10-3 N)
21,04  103 N
γF 
4π R 0,18212 m
 0,1155 N
m
Detergen 0,1% (F = 20,5 x 10-3 N)

12
20,5  103 N
γF 
4π R 0,18212 m
 0,1127 N
m
Detergen 0,15% (F = 19,56 x 10-3 N)
19,56  103 N
γF 
4π R 0,18212 m
 0,1074 N
m
c. Campuran
Air dan kloroform (F = 14,8 x 10-3 N)
14,8  103 N
γF 
4π R 0,18212 m
 0,0813 N
m
Air dan minyak (F = 18,6 x 10-3 N)
18,6  103 N
γF 
4π R 0,18212 m
 0,1021 N
m
Air, kloroform dan detergen (F = 9,7 x 10-3 N)
9,7  103 N
γF 
4π R 0,18212 m

 0,0533 N
m
Air, minyak dan detergen (F = 14,96 x 10-3 N)
14,96  103 N
γF 
4π R 0,18212 m
 0,0821 N
m
 Perhitungan Tegangan Permukaan dengan Faktor Koreksi
Tegangan permukaan yang sebenarnya, dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan dengan faktor koreksi sebagai berikut.
γ=S x F
dimana nilai F (faktor koreksi) adalah:

0,01452 S 1,679 r
F  0,725   0,04534 
C (D  d )
2
R

13
F = faktor koreksi
R = jari-jari cincin logam (cm) = 1,45 cm
r = jari-jari logam pembuat cincin (cm) (platina) = 135 pm = 1,35 x 10-8 cm
S = tegangan permukaan nyata (dyne per cm)
D = berat jenis cairan yang di bawah (gram/cm-3)
d = berat jenis cairan yang di atas
C = keliling cincin logam (cm) = 2πr = 2 x 3,14 x 1,45 cm = 9,106 cm
a. Campuran Air-Minyak
ρ (minyak) = 0,911 g/mL
ρ (air) = 1 g/mL
S = 0,1021 N/m = 0,1021 x 10-3 dyne/cm

0,01452 S 1,679 r
F  0,725   0,04534 
C (D  d )
2
R
0,0001021 (dyne/cm) 1,679 (1,35 x 10 -8 cm)
 0,725   0,04534 
(9,106 cm) 2 (1  0,911 ) g/cm 3 1,45 cm
0,0001021 dyne/cm
 0,725  3
 0,04534 1,56 x 10 -8
7,3798 g/cm
 0,725  1,38x 10 -5  0,04534 1,56 x 10 -8
 0,725  0,045
 0,725  0,2129
 0,9379
γ=S x F
= 0,1021 x 10-3 dyne/cm x 0,9379
= 9,575 x 10-5 dyne/cm
= 9,57 x 10-2 N/m
b. Campuran Air-Kloroform
ρ (air) = 1 g/mL
ρ (kloroform) = 1,47 g/mL
S = 0,0813 N/m = 0,0813 x 10-3 dyne/cm

14
0,01452 S 1,679 r
F  0,725   0,04534 
C (D  d )
2
R
0,01452 (0,0813 x 10 -3 dyne/cm) 1,679 (1,35 x 10 -8 cm)
 0,725   0,04534 
(9,106 cm) 2 (1,47  1) g/cm 3 1,45 cm
1,180 x 10 -6 dyne/cm
 0,725  3
 0,04534 1,56 x 10 -8
38,97 g/cm
 0,725  3,027 x 10 -8  0,04534  2,52 x 10 -8
 0,725  0,0453
 0,725  0,2128
 0,9378
γ=S x F
= 0,0813 x 10-3 dyne/cm x 0,9378
= 7,6243x 10-5 dyne/cm
= 7,624x 10-2 N/m
Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh di atas disajikan data sebagai berikut.
Tabel 1. Nilai gaya dan tegangan permukaan pada hasil percobaan
Tegangan Permukaan
Campuran F (mN)
(N/m)
Air/Udara 25,60 0,1378
Minyak goreng/Udara 20,36 0,1118
Kloroform/Udara 12,74 0,0700
Larutan detergen 0,05% 21,04 0,1155
Larutan detergen 0,10% 20,50 0,1127
Larutan detergen 0,15% 19,56 0,1074
Air/kloroform tanpa faktor koreksi 14,80 0,0813
Air/kloroform dengan faktor koreksi - 0,0957
Air/minyak tanpa faktor koreksi 18,6 0,1021
Air/minyak dengan faktor koreksi - 0,0762
Air + kloroform + detergen 9,70 0,0533
Air + minyak + detergen 14,96 0,0821

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 1, dapat ditentukan bahwa tegangan
permukaan suatu cairan murni maupun campuran tidak sama satu sama lainnya. Besarnya gaya
tarik antar molekul berbanding lurus dengan tegangan permukaan. Tegangan permukaan akan
semakin besar seiring dengan semakin besarnya gaya tarik antar molekul di permukaannya.
Tegangan permukaan suatu cairan terjadi disebabkan karena adanya gaya antar molekul yang
menarik molekul-molekul dalam suatu cairan ke segala arah, tetapi molekul-molekul yang
15
terdapat pada permukaan cairan hanya ditarik ke bawah dan ke samping oleh molekul-molekul
lainnya sehingga tarik menarik antar molekul ini cenderung menarik molekul-molekul ke
dalam cairan dan menyebabkan tegangan permukaan menegang seperti lapisan tipis elastis.
Ukuran gaya elastis pada permukaan cairan tersebut disebut dengan tegangan permukaan.
Pada percobaan diketahui tegangan permukaan aquades/udara memiliki nilai yang
paling besar. Selain dipengaruhi oleh gaya tarik menarik antar molekul, tegangan permukaan
juga dipengaruhi oleh luas permukaan cairan yaitu tegangan permukaan suatu cairan
berbanding terbalik dengan luas permukaan cairan. Secara teoritis, luas permukaan air lebih
kecil dibandingkan luas permukaan kloroform dan minyak goreng. Jadi dapat diketahui bahwa
luas permukaan air lebih kecil daripada luas permukaan dari minyak dan kloroform. Hal
tersebut disebabkan oleh perbedaan keelektonegatifan yang besar antara atom O dan atom H
penyusun air. Perbedaan kelektronegatifan tersebut menyebabkan adanya momen dipol yang
besar, sehingga air bersifat sangat polar. Adanya momen dipol tersebut menyebabkan
ikatan/interaksi antara molekul-molekul air sangat kuat, sehingga luas permukaan air kecil.
Selain adanya momen dipol tersebut, terdapat juga interaksi ikatan hidrogen antar molekul air.
Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan atom H berikatan dengan atom dengan
keelektronegatifan besar, dalam hal ini adalah atom O. Oleh karena itu, di dalam air akan terjadi
ikatan hidrogen antara atom H pada molekul air dengan atom O dari molekul air lainya. Pada
air, ikatan hidrogen memiliki pengaruh yang lebih besar daripada interaksi dipol-dipol
sehingga bisa dikatakan kecilnya luas permukaan air dipegaruhi oleh adanya ikatan hidrogen.

Minyak dan kloroform adalah senyawa yang nonpolar. Molekul minyak memiliki
rantai karbon yang terikat dengan gugus fungsi, dalam hal ini dalah gugus karboksilat. Rantai
hidrokarbon minyak menyebabkan minyak memiliki sifat non polar sedangkan gugus
karboksilat yang terikat pada rantai tersebut memiliki sifat polar mengingat gugus karboksilat
terdiri dari atom O yang memiliki keelektronegatifan besar. Dalam minyak, atom O akan
membentuk ikatan hidrogen dengan atom H dari gugus karboksilat pada molekul minyak
lainya. Namun, besarnya interaksi ini tidaklah lebih besar daripada interaksi yang terjadi pada
air. Hal tersebut dikarenakan gugus karboksilat mengikat rantai hidrokarbon panjang yang
bersifat non polar, dimana interaksi gugus karboksilat tersebut akan direduksi oleh adanya
rantai hidrokarbon tersebut melalui rintangan sterik. Hal tersebut menyebabkan luas
permukaan minyak lebih besar dari air. Kloroform memiliki tegangan permukaan terkecil atau
memiliki luas permukaan terbesar diantara cairan lainya. Hal tersebut dikarenakan pada
molekul kloroform terdapat tiga buah atom Cl dan sebuah atom H yang terikat pada sebuah
16
atom H. Adanya tiga buah atom Cl yang memiliki keelektronegatifan besar tersebut
menyebabkan momen dipol yang terbentuk sangat kecil. Selain itu, dengan adanya tiga buah
atom Cl yang terikat pada atom C menyebabkan secara keseluruhan distribusi elektron pada
molekul kloroform berbentuk bola (terpusat) sehingga tidak memungkinkan terjadi interaksi.
Tidak terjadinya interaksi tersebut dikarenakan tidak adanya perbedaan dipol pada molekul
kloroform, sehingga menyebabkan luas permukaannya besar.
Selain pada air, minyak dan kloroform, pada percobaan ini juga dilakukan pengukuran
tegangan permukaan larutan detergen dengan berbagai konsentrasi, meliputi 0,05%, 0,10% dan
0,15%. Berdasarkan hasil percobaan semakin besar konsentrasi detergen, maka semakin kecil
tegangan permukaan atau dengan kata lain semakin besar luas permukaannya. Hal tersebut
dikarenakan pada detergen mengandung senyawa (surfaktan) yang bersifat emulsifier.
Senyawa yang dimaksud merupakan senyawa yang terdiri dari gugus fungsi (kepala) dan ekor
(rantai). Jika senyawa ini ditambahkan ke dalam air, maka ikatan hidrogen akan rusak.
Rusaknya ikatan hidrogen diakibatkan oleh adanya rantai nonpolar (ekor) yang menyebabkan
adanya rintangan sterik sehingga jarak atom H dan atom O menjauh dan akhirnya ikatan
hidrogen putus. Oleh karena itu, luas permukaan akan semakin besar atau dengan kata lain
tegangan permukaan semakin kecil dengan semakin banyak penambahan detergen.
Campuran ukur pada percobaan selanjutnya adalah campuran air-minyak dan
campuran air-kloroform. Apabila minyak/kloroform dan air jika dicampurkan akan tidak saling
menyatu dan membentuk dua fase. Diantara kedua fase larutan tersebut terdapat lapisan antar
permukaan. Lapisan antar permukaan ini yang dicari tegangan permukaannya. Pada campuran
air dan minyak, minyak berada pada lapisan atas dan air pada lapisan bawah, sedangkan pada
campuran kloroform dan air, lapisan atasnya adalah air dan lapisan bawahnya adalah
kloroform. Hal ini disebabkan oleh berat molekul kloroform yang lebih besar daripada air.
Berdasarkan hasil percobaan, tegangan permukaan campuran ini lebih rendah dari tegangan
permukaan air murni. Hal ini disebabkan oleh adanya molekul-molekul kloroform dan minyak
yang tersebar dalam air yang mengganggu daya tarik antar molekul-molekul air, dalam hal ini
adalah ikatan hidrogen antar air itu sendiri. Jadi gaya tarik molekul air dengan campurannya
(kloroform dan minyak) akan menjadi lebih lemah dibandingkan dengan air murni sehingga
luas permukaan campuran air dengan kloroform dan air dengan minyak akan menjadi lebih
besar dan tegangan permukaan akan lebih kecil.
Campuran lain yang diukur tegangan permukaannya adalah campuran air, minyak dan
detergen serta campuran air, kloroform dan detergen. Pencampuran minyak, kloroform dan
detergen ke dalam air murni akan menurunkan tegangan permukaan air murni. Berdasarkan
17
hasil percobaan, diketahui adanya penurunan tegangan permukaan dari campuran ini, baik
campuran air/minyak/detergen maupun campuran air/kloroform/detergen lebih kecil dari
tegangan permukaan campuran air/minyak dan air/kloroform. Penambahan detergen pada
campuran air/minyak maupun air/kloroform menyebabkan air akan menyebar dan
mengakibatkan luas permukaan menjadi semakin luas. Luas permukaan yang semakin besar
ini akan menurunkan tegangan permukaan dari campuran.
VI. SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan yaitu sebagai
berikut.
1. a. Tegangan permukaan cairan/gas antara lain:
- Tegangan permukaan air/udara adalah 0,1378 N/m.
- Tegangan permukaan kloroform/udara adalah 0,070 N/m.
- Tegangan permukaan minyak goreng/udara adalah 0,1118 N/m.
b. Tegangan permukaan cairan/cairan antara lain:
- Tegangan permukaan larutan detergen 0,05% adalah 0,1155 N/m.
- Tegangan permukaan larutan detergen 0,10% adalah 0,1127 N/m.
- Tegangan permukaan larutan detergen 0,15% adalah 0,1074 N/m.
- Tegangan permukaan campuran air-kloroform tanpa faktor koreksi adalah 0,0813 N/m.
- Tegangan permukaan campuran air-kloroform dengan faktor koreksi adalah 0,0957 N/m.
- Tegangan permukaan campuran air-minyak tanpa faktor koreksi adalah 0,1021 N/m.
- Tegangan permukaan campuran air-minyak dengan faktor koreksi adalah 0,0762 N/m.
- Tegangan permukaan campuran air-kloroform-detergen adalah 0,0533 N/m.
- Tegangan permukaan campuran air-minyak-detergen adalah 0,0821 N/m.
2. Tegangan permukaan air dapat berkurang dengan penambahan detergen karena di dalam
detergen mengandung surfaktan (surface active agent) yang molekul-molekulnya dalam air
akan membentuk misel yang bersifat polar yang akan menarik molekul air yang juga bersifat
polar (prinsip like dissolve like), sehingga molekul air yang semula terakumulasi banyak
pada permukaan akan banyak yang tertarik ke dalam misel. Hal ini selanjutnya
menyebabkan tegangan permukaan air berkurang.

18
DAFTAR PUSTAKA

Brady, James. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Edisi Kelima Jilid Satu. Alih bahasa
Sukmariah Maun, dkk. Jakarta: Binarupa Aksara.
Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid Satu. Alih bahasa Muhamad
Abdulkadir, dkk. Jakarta: Erlangga.
Retug, Nyoman dan Dewa Sastrawidana. 2004. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Singaraja:
IKIP Negeri Singaraja.
Retug, Nyoman dan Dewa Sastrawidana. 2004. Buku Ajar Kimia Fisika II. Singaraja: IKIP
Negeri Singaraja.
Suardana, I Nyoman, Nyoman Retug, dan I Wayan Subagia. 2002. Buku Ajar Kimia Fisika.
Singaraja: Undiksha.
Sukardjo. 1989. Kimia Fisika. Jakarta : Bina Aksara

19