Anda di halaman 1dari 84

RANCANGAN AKTUALISASI

PELATIHAN DASAR PEGAWAI NEGERI SIPIL


KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
GOLONGAN III ANGKATAN III
PENYEDIAAN LAYANAN PRIORITAS PEMOHON PASPOR BAGI
KELOMPOK RENTAN (DISABILITAS, LANSIA, IBU
HAMIL/MENYUSUI, ORANG CIDERA, IBU MEMBAWA BALITA) DI
KANTOR IMIGRASI KELAS 1 PANGKALPINANG.

Oleh:

FALAH BILAYUDHA, S.E.


NIP. 19930810 201712 1 001
NDH: 10 (SEPULUH)

PELATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL


GOLONGAN III ANGKATAN III KEMENKUMHAM PROVINSI
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG BEKERJA SAMA DENGAN
BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA

MANUSI DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

PANGKALPINANG
2018
PERSETUJUAN
Judul
: Penyediaan Layanan Prioritas Pemohon Paspor bagi Kelompok
Rentan (disabilitas, lansia, ibu hamil/menyusui, orang cidera, ibu
membawa balita)

Nama : Falah Bilayudha, S.E


NIP : 19930810 201712 1 001
Pangkat/Gol. : Penata Muda/IIIa
Jabatan : Analis Keimigrasian Pertama
Instansi : Kantor Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang
Telah Disetujui Berdasarkan Hasil Seminar Rancangan Aktualisasi Pelatihan Dasar
Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III Angkatan III Kementerian Hukum Dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Pada Hari Senin Tanggal 13 Agustus Tahun
2108 Bertempat Di BKPSDM Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Mentor Peserta

Ibnu Malik, SH Falah Bilayudha


NIP. 19930810 201712 1 001
NIP. 196701041990031002
Coach/Pembimbing
Penguji

Rachmat Bahmim, SH., M.Si


Mohamad Iqbalsyah, SE NIP. 196511071986021002
NIP. 197607202002121005

ii
PENGESAHAN
Judul : Layanan Prioritas Pemohon Paspor Lansia dan Difabel
Nama : Falah Bilayudha, S.E
NIP : 19930810 201712 1 001
Pangkat/Gol. : Penata Muda/IIIa
Jabatan : Analis Keimigrasian Pertama
Instansi : Kantor Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang
Telah Disahkan Berdasarkan Hasil Seminar Rancangan Aktualisasi Pelatihan Dasar
Calon Pegawai Negeri Sipil Gololongan III Angkatan III Kementerian Hukum
Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Pada Hari Senin Tanggal 13 Agustus
Tahun 2108 Bertempat Di BKPSDM Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Penguji Coach/Pembimbing

Mohamad Iqbalsyah, SE Rachmat Bahmim, SH., M.Si


NIP. 197607202002121005

NIP. 196511071986021002
Mengetahui
Kepala Divisi Imigrasi
Prov. Kep. Bangka Belitung
Mentor

Ahmad Firmansyah, SE., MH


NIP. 196112041982031001

Ibnu Malik, SH NIP.


196701041990031002

iii
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas hidayah-Nya sehingga penulis
mampu menyelesaikan Rancangan Aktualisasi yang berjudul “Layanan Prioritas
Pemohon Paspor Lanjut Usia dan Difabel” di Kantor Imigrasi Kelas I
Pangkalpinang yang akan dilaksanakan di tempat penulis bertugas yakni di Seksi
Lalu Lintas Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Pangkalpinang. Penyusunan
Rancangan Aktualisasi ini sebagai syarat untuk melakukan aktualisasi nilai-nilai
dasar Aparatur Sipil Negara pada Latihan Dasar (Latsar) Golongan III Kantor

Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Kepulauan Bangka Belitung

Penyusunan Rancangan Aktualisasi oleh penulis tidak terlepas dari bantuan

dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terimakasih kepada:

1. Kedua orang tuaku tercinta, yang telah menjadi sumber inspirasi, semangat,

dan motivasi, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, atas


semua perjuangan dan pengorbanan kalian baik moril maupun materil dan tiada
henti mendoakan penulis supaya dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik.
2. Bapak Drs. Sulistiarso, M.M., M.Si. selaku Kepala Kantor Wilayah

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Kepulauan Bangka


Belitung
3. Bapak Drs. H. Sahirman, M.Si. selaku Kepala BKPSDMD Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung.
4. Bapak Ibnu Malik, SH. selaku mentor.
5. Bapak Rachmat Bahmin, S.H.,
M.Si. selaku Coach yang telah banyak
membimbing, membagi ilmu dan pengalamannya dalam penyusunan laporan
ini
6. Segenap Widyaiswara selaku Tenaga Pengajar dan Panitia Penyelenggara
Diklatsar CPNS
7. Seluruh panitia Pelatihan Dasar CPNS Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia Tahun 2018.
iv
8. Seluruh rekan-rekan peserta Latsar Golongan III Angkatan III CPNS
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Tahun 2018, terima kasih atas
kerjasama dan kebersamaannya selama masa pendidikan latsar.

Menyadari rancangan aktualisasi tidak terlepas dari kekurangan, maka penulis


mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan agar rancangan aktualisasi ini
nantinya dapat memberi manfaat dalam bidang pekerjaan dan penerapannya di
lapangan serta mampu dikembangkan lebih lanjut.

Pangkalpinang, 13 Agustus 2018


Penulis

Falah Bilayudha, SE NIP.


199308102017121001

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................................... ii

LEMBAR PENGESEHAN ........................................................................................... iii

KATA PENGANTAR .................................................................................................... iv

DAFTAR ISI…............................................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ......................................................................................................... vi

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1

1.1. Latar Belakang ................................................................................................ 1


1.2. Tujuan dan Manfaat ......................................................................................... 3
1.3. Gambaran Umum Unit Kerja .......................................................................... 5
1.4. Visi, Misi dan Nilai Organisasi ........................................................................ 6
1.5. Struktur Organisasi ........................................................................................... 8
BAB II NILAI-NILAI ETIKA ..................................................................................... 11

2.1. Akuntabilitas .................................................................................................... 11


2.2. Nasionalisme .................................................................................................... 12
2.3. Etika Publik ..................................................................................................... 16
2.4. Komitmen Mutu .............................................................................................. 18
2.5. Anti Korupsi .................................................................................................... 19
BAB III KEDUDUKAN DAN PERAN PNS DALAM NKRI .................................... 22
3.1. Manajemen ASN ............................................................................................. 23
3.2. WoG ................................................................................................................. 28
3.3. Pelayanan Publik ............................................................................................. 32
BAB IV RANCANGAN AKTUALISASI .................................................................... 35

4.1. Identifikasi Isu ................................................................................................. 35


4.2. Isu yang Diangkat ............................................................................................. 36
4.3. Kegiatan Pemecahan Isu .................................................................................. 38
4.4. Jadwal Rancangan Aktualisasi ......................................................................... 58

vi
BAB V PENUTUP .......................................................................................................... 63

5.1. Kesimpulan ............................................................................................................ 63


5.2. Saran ...................................................................................................................... 63

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 64

DAFTAR TABEL
1. Perumusan Isu Dan Penetapan Isu Dengan Teknik USG..................................36
4. Tabel Matrik Rancangan Aktualisasi ........................................................................... 40
5. Tabel Jadwal Rancangan Aktualisasi (habituasi) ......................................................... 58

BIODATA ....................................................................................................................... 66

DAFTAR GAMBAR

1. Gambar Struktur organisasi........................................................................... 10

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut Undang-Undang no. 5 Tahun 2014 yang mengatur tentang fungsi ASN
(Aparatur Sipil Negara) yaitu sebagai: 1) Pelaksana kebijakan publik, 2) Pelayan
Publik, dan 3) Perekat dan pemersatu bangsa yang harus dilakukan dengan penuh
tanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik (masyarakat).
Untuk mewujudkan fungsi-fungsi ini maka diperlukan sosok ASN yang
profesional, yaitu ASN yang mampu memenuhi standar kompetensi jabatannya
sehingga tugas jabatannya dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Untuk dapat
membentuk sosok ASN profesional seperti tersebut di atas perlu dilaksanakan
pembinaan melalui jalur Pelatihan Dasar (Latsar). Dalam PERLAN No. 25 Tahun
2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar CPNS Golongan III,
ditetapkan bahwa salah satu jenis Diklat yang strategis untuk mewujudkan ASN
yang profesional seperti tersebut di atas adalah Pelatihan Dasar. Untuk mengikuti
Pelatihan Dasar ini, ASN harus sudah ditetapkan sebagai

CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Sebelum menjadi PNS, calon PNS harus
mengikuti Pelatihan Dasar yang dilaksanakan dalam rangka membentuk nilai-nilai
dasar profesi PNS. Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam membentuk
karakter PNS yang kuat, yaitu PNS yang mampu bersikap dan bertindak profesional
dalam melayani masyarakat secara berkesinambungan ( continuous) dan

menerapkan nilai-nilai ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,


Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi). PNS juga dituntut untuk meningkatkan
profesionalitasnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya serta bersih dan bebas
dari praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Dewasa ini kualitas dan kuantitas pelayan publik yang diberikan oleh aparatur
pemerintah banyak dipertanyakan kualitasnya, banyak media masa maupun
keluhan langsung dari masyarakat tentang mutu pelayanan publik yang masih jauh
dari kata layak. Banyaknya masalah yang timbul diakibatkan kurangnya dan
turunnya kesadaran dan kepedulian ASN dalam melaksanakan tugas dan

1
fungsinya. Dan di era globalisasi masyarakat semakin kritis terhadap segala aspek,
termasuk terhadap mutu pelayanan imigrasi yang berkualitas.

Reformasi dibidang pelayanan publik khususnya keimigrasian dilaksanakan untuk


meningkatkan pelayanan keimigrasian dan menjadikannya lebih efisien, efektif
serta dapat dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan meningkatnya
tingkat pendidikan dan keadaan sosial dalam masyarakat, maka meningkat pula
kebutuhan masyarakat akan dokumen keimigrasian guna keperluan untuk ke luar
negeri dan keadaan tersebut menyebabkan tuntutan masyarakat akan pelayanan
keimigrasian yang bermutu, nyaman, dan berorientasi pada kepuasan konsumen
semakin mendesak dimana diperlukan kinerja pelayanan yang tinggi. Adapun proses
pelayanan keimigrasian dan kualitas pelayanan berkaitan dengan ketersediaan
sarana keimigrasian yang terdiri dari pelayanan unit unit pelaksana teknis di bidang
kemigirasian seperti Kantor Imigrasi, Rumah Detensi Imigrasi, serta tempat
tempat pemeriksaan keimigrasian. Dibutuhkan pula ketersediaan tenaga/petugas
imigrasi, serta sarana prasarana teknologi yang mendukung. Kinerja pelayanan
menyangkut hasil pekerjaan, kecepatan kerja, pekerjaan yang dilakukan sesuai
dengan harapan pelanggan, dan ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.
Pemerintah telah berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan
keimigrasian dengan mendirikan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh wilayah
Indonesia.

UPT Kantor Imigrasi yang merupakan pusat pelayanan keimigrasian adalah salah
satu dari sekian banyak tempat pelayanan publik yang banyak disoroti
masyarakat dimana banyak menilai petugas imigrasi yang tidak melakukan tugas
dan kewajibannya seperti seharusnya, terutama tentang kualitas pelayanan yang
kurang memuaskan. Banyak masalah yang timbul diakibatkan kurangnya dan
turunnya kesadaran dan kepedulian dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan
dalam melakukan perbaikan sumber daya manusia melalui pendidikan dan
pelatihan dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Latar belakang penulisan rancangan aktualisasi ini agar peserta Pelatihan Dasar
Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III Angkatan III Kemenkumham Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung dapat memahami nilai-nilai dasar dari
2
ANEKA dan dapat mengaktualisasikan nilai-nilai dasar tersebut sesuai dengan
indikatornya, serta dapat menerapkan nilai-nilai dasar dari ANEKA di tempat tugas
masing-masing.

Untuk mewujudkan segala rencana tersebut maka CPNS yang mengikuti latsar
diwajibkan untuk melaksanakan enam kegiatan pembelajaran Aktualisasi yaitu:
a. Merancang aktualisasi nilai dasar profesi
b. Mempresentasikan rancangan aktualisasi
c. Mengaktualisasikan nilai dasar ditempat tugas atau tempat magang
d. Melaporkan pelaksanaan aktualisasi nilai dasar
e. Mempersentasikan laporan aktualisasi
f. Menyusun rencana aksi penyempurnaan aktualisasi nilai-nilai dasar profesi
PNS.

Berdasarkan peraturan Menteri No. 19 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Jabatan
Fungsional Analis Keimigrasian, tugas pokok adalah tugas Analis Keimigrasian
yang wajib dilakukan oleh setiap Analis Keimigrasian sesuai jenjang jabatannya
meliputi:
a. Dokumen Keimigrasian
b. Pengawasan/Intelijen
c. Pengendalian Rumah Detensi Imigrasi
d. Pengelolaan Informasi Keimigrasian
e. Lintas Batas dan Kerja Sama Luar Negeri, dan
f. Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian

1.2. Tujuan Dan Manfaat


A. Tujuan Aktualisasi (Habituasi)
Adapun tujuan dari aktualisasi (habituasi) yaitu:
1. Mampu mengidentifikasi nilai-nilai dasar ANEKA, peran dan kedudukan
PNS dalam NKRI serta mengimplementasikannya.
2. Menciptakan lingkungan kerja yang mencerminkan nilai-nilai dasar
ANEKA.

3
3. Membentuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) profesional yang karakternya
dibentuk oleh nilai-nilai dasar ANEKA.

B. Manfaat Aktualisasi (Habituasi)


Adapun manfaat dari aktualisasi (habituasi) yaitu:
1. Mampu menerapkan nilai-nilai akuntabilitas sehingga memiliki tanggung
jawab dan integritas terhadap tugas dan jabatan.
2. Mampu menerapkan nilai-nilai nasionalisme sehingga bekerja atas dasar
semangat nilai-nilai Pancasila.
3. Mampu menjunjung tinggi standar etika publik dalam pelaksanaan tugas
dan jabatan.
4. Mampu menerapkan nilai-nilai komitmen mutu sehingga mewujudkan
pelayanan yang prima di lingkungan kerja.
5. Mampu menerapkan nilai-nilai anti korupsi sehingga dapat mewujudkan
sikap disiplin serta menjaga kedisiplinan.
6. Terwujudnya lingkungan kerja yang harmonis yang didasari prinsip-
prinsip nilai ANEKA.
7. Terwujudnya organisasi dan unit kerja yang dapat memberikan pelayanan
prima dengan didasari nilai-nilai organisasi yaitu taqwa, menjunjung
tinggi kehormatan, cendikia, integritas pribadi, dan inovasi.

C. Ruang Lingkup Aktualisasi (Habituasi)

Ruang lingkup dari Laporan Aktualisasi (Habituasi) ini terdiri dari beberapa
kegiatan yaitu menyusun rancangan aktualisasi, mempresentasikan rancangan
aktualisasi, melaksanakan aktualisasi, menyusun laporan aktualisasi, dan
mempresentasikan laporan aktualisasi yang dikaitkan dengan nilai-nilai dasar PNS
(ANEKA) serta peran dan kedudukan PNS di dalam NKRI.

Pelaksanaan aktualisasi (habituasi) ini dilaksanakan pada saat off campus

selama 80 hari dimulai dari 15 Agustus 2018 sampai dengan November 2018.
Kegiatan aktualisasi dilakukan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kantor Imigrasi
Kelas I Pangkalpinang

4
1.3.Gambaran Umum Unit Kerja

Kantor Imigrasi Kelas I Pangkalpinang merupakan salah satu Kantor Imigrasi di


wilayah Kepulauan Bangka Belitung dengan jumlah pegawai yaitu 60 pegawai.
Wilayah Kerja Kantor Imigrasi Kelas I Pangkalpinang saat ini meliputi 1 (satu) kota
dan 4 (empat) Kabupaten yang ada di Pulau Bangka:
a. Kota Pangkalpinang Ibu Kota Propinsi Kepualuan Bangka Belitung yang
terdiri dari 7 (tujuh) Kecamatan;.
b. Kabupaten Bangka meliputi 8 (delapan) Kecamatan;
c. Kabupaten Bangka Tengah meliputi 6 (enam) Kecamatan;
d. Kabupaten Bangka Selatan meliputi 8 (delapan) Kecamatan;
e. Kabupaten Bangka Barat meliputi 6 (enam) Kecamatan.

Jarak paling jauh dari kota propinsi adalah Tanjung Labu (Kecamatan Lepar Pongok
Kabupaten Bangka Selatan dan Muntok (Kecamatan Muntok) Kabupaten Bangka
Barat sedangkan Kecamatan terdekat adalah Merawang.

Tidak seluruh daerah dapat dicapai melalui jalan darat, berbagai jarak tempuh antar
kecamatan ada pula yang harus ditempuh melalui jalan laut, melayari selat dan
menyeberangi laut lepas.

Dalam pelaksanaan Tugas dan Fungsi di Kantor Imigrasi Kelas I


Pangkalpinang, peran Keimigrasian dipayungi oleh Undang-Undang Nomor 6
tahun 2011 tentang Keimigrasian Penerapan prinsip SELECTIVE POLICY yang
berarti bahwa hanya orang asing yang membawa manfaat yang diberikan izin
masuk harus selaras dengan peran Imigrasi dalam menjalankan TRI FUNGSI
IMIGRASI yang antara lain pelayanan masyarakat, penegakkan hukum dan

fasilitator pembangunan sangat mendukung terciptanya kondisi pemerintahan yang


kondusif dan maju.

Kegiatan keimigrasian di Kantor Imigrasi Kelas I Pangkalpinang dapat


diidentifikasi sebagai berikut:

5
1.4. Visi, Misi dan Nilai Organisasi Visi Kementerian Hukum dan

Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

Adapun visi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
adalah “Masyarakat Memperoleh Kepastian Hukum”.

Misi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

Adapun misi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
adalah sebagai berikut:

1. Mewujudkan peraturan perundang-undangan yang berkualitas;


2. Mewujudkan pelayanan hukum yang berkualitas;
3. Mewujudkan penegakan hukum yang berkualitas;
4. Mewujudkan penghormatan, pemenuhan, dan perlindungan Hak Asasi
Manusia;
5. Mewujudkan layanan manajemen administrasi Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia; dan
6. Mewujudkan aparatur Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang
profesional dan berintegritas.

Nilai-nilai Organisasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik


Indonesia

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia memiliki nilai-nilai organisasi yaitu
PASTI yang terdiri dari:

1. Profesional: Aparatur Kementerian Hukum dan HAM adalah aparat yang

bekerja keras untuk mencapai tujuan organisasi melalui penguasaan bidang


tugasnya, menjunjung tinggi etika dan integirtas profesi;
2. Akuntabel : Setiap kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintah dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan atau
peraturan yang berlaku;
6
3. Sinergi : Komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama

yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku


kepentingan untuk menemukan dan melaksanakan solusi terbaik, bermanfaat,
dan berkualitas;
4. Transparan : Kementerian Hukum dan HAM menjamin akses atau kebebasan
bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan
pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan
pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai;
5. Inovatif : Kementerian Hukum dan HAM mendukung kreatifitas dan
mengembangkan inisiatif untuk selalu melakukan pembaharuan dalam
penyelenggaraan tugas dan fungsinya.

Visi Direktorat Jenderal Imigrasi

Adapun visi dari Direktorat Jenderal Imigrasi yang dianut oleh seluruh kantor
imigrasi yang ada di Indonesia adalah “Masyarakat mendapatkan kepastian
hukum”.

Misi Direktorat Jenderal Imigrasi

Adapun misi dari Direktorat Jenderal Imigrasi adalah “Melindungi Hak Asasi
Manusia”.

Sementara itu, Ditjen Imigrasi juga memiliki nilai yang dikenal dengan istilah
SMILE. Nilai SMILE ini merupakan pendukung dari nilai PASTI yang digaungkan
oleh Kementerian Hukum dan HAM. Penjabaran nilai SMILE adalah sebagai
berikut:

1. Simpatik

Aparat Ditjen Imigrasi dalam bekerja selalu menanamkan dan membangkitkan


rasa simpati dalam memberikan pelayanan keimigrasian
2. Mumpuni

Aparat Ditjen Imigrasi mampu melaksanakan tugas dengan baik, memiliki


keahlian, serta cakap dan terampil dalam memberikan pelayanan keimigrasian
7
3. Integritas
Aparat Ditjen Imigrasi konsisten dalam bekerja. Artinya, yang diharapkan
sesuai dengan tindakan yang dikerjakan dalam memberikan pelayanan
keimigrasian
4. Lugas
Aparat Ditjen Imigrasi dalam memberikan pelayanan langsung mengenai
pokok sasaran yang hendak dicapai serta tidak berbelit-belit sehingga janji
layanan kepada masyarakat dapat dipenuhi.
5. Empati
Aparat Ditjen Imigrasi dalam memberikan pelayanan akan menempatkan diri
sesuai dengan porsi dan kapasitasnya sehingga aparat akan bekerja secara
profesional dan bertanggung jawab.

1.5. Struktur Organisasi Kantor Imigrasi Kelas I Pangkalpinang


1. Sub Bagian Tata Usaha
Tugas:
Melakukan urusan tata usaha dan urusan rumah tangga kantor.
Fungsi:
a. Melakukan urusan kepegawaian,
b. Melakukan urusan keuangan, dan
c. Melakukan urusan surat menyurat perlengkapan dan rumah tangga.

2. Seksi Informasi dan Sarana Komunikasi Keimigrasian


Tugas:

Melakukan penyebaran dan pemanfaatan informasi serta pengelolaan sarana


informasi keimigrasian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Fungsi:
a. Melakukan pengumpulan atau penelaahan analisis data evaluasi penyajian dan
penyebaran untuk penyelidikan keimigrasian, dan
b. Melakukan pemeliharaan, pengamanan dokumen keimigrasian, dan
penggunaan serta pemeliharaan sarana komunikasi.

8
3. Seksi Lalu Lintas dan Status Keimigrasian
Tugas:
Melakukan kegiatan keimigrasian di seksi lalu lintas dan status keimigrasian
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Fungsi:
a. Melakukan pemberian dokumen perjalanan (Paspor Republik Indonesia), izin
berangkat, dan izin kembali,
b. Melakukan penentuan status keimigrasian bagi orang asing yang berada di
Indonesia, dan
c. Melakukan penelitian terhadap kebenaran bukti-bukti kewarganegaraan
seseorang mengenai status kewarganegaraan.

4. Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian


Tugas:
Melakukan pengawasan dan penindakan keimigrasian terhadap orang asing
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Fungsi:
a. Melakukan pemantauan terhadap pelanggaran perizinan keimigrasian dan
mengadakan kerjasama antar instansi di bidang pengawasan orang asing,
b. Melakukan penyidikan dan penindakan terhadap setiap orang yang melakukan
tindakan pidana dan pelanggaran keimigrasian, dan
c. Melakukan pemeriksaan cegah dan tangkal untuk permohonan dokumen
keimigrasian.

9
Gambar Struktur Organisasi Kantor Imigrasi Kelas I Pangkalpinang

10
BAB II

NILAI-NILAI ANEKA

2.1.AKUNTABILITAS

Akuntabilitas sering disamakan dengan responsibilitas atau tanggung jawab.


Namun pada dasarnya, kedua konsep itu memiliki makna yang berbeda.
Responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab. Akuntabilitas
adalah suatu kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai sedangkan
akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai.

Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi


untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Akuntabilitas
publik memiliki tiga fungsi utama (Bovens, 2007), yaitu untuk menyediakan
kontrol demokratis (peran demokratis) untuk mencegah korupsi dan
penyalahgunaan kekuasaan (peran konstitusional), dan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas ( peran belajar ).

Akuntabilitas publik terdiri dari dua macam, yaitu: akuntabilitas vertikal

( pertanggungjawaban kepada otoritas yang lebih tinggi ) dan akuntabilitas


horisontal (pertanggungjawaban pada masyarakat luas). Untuk memenuhi
terwujudnya organisasi sektor publik yang akuntabel, maka mekanisme
akuntabilitas harus mengandung dimensi akuntabilitas kejujuran dan hukum,
akuntabilitas proses, akuntabilitas program, dan akuntabilitas kebijakan.

Akuntabilitas tidak akan terwujud apabila tidak ada alat akuntabilitas berupa :
Perencanaan Strategis, Kontrak Kinerja, dan Laporan Kinerja. Dalam
menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel, ada beberapa indikator dari
nilai-nilai dasar akuntabilitas yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Kepemimpinan : Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah


dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam menciptakan
lingkungannya.
2. Transparansi : Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang
dilakukan oleh individu maupun kelompok/instansi.

11
3. Integritas : adalah adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan
dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.
4. Tanggung Jawab : adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau

perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.tanggung


jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban
5. Keadilan : adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu
hal, baik menyangkut benda atau orang.
6. Kepercayaan : Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.
7. Keseimbangan : Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja,

maka diperlukan keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta


harapan dan kapasitas.
8. Kejelasan : Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus memiliki

gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang
diharapkan.
9. Konsistensi : adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu
sampai pada tercapai tujuan akhir.

2.2.NASIONALISME

Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN. Bahkan tidak
hanya sekedar wawasan saja tetapi kemampuan mengaktualisasikan
nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan tugasnya merupakan hal yang
lebih penting. Diharapkan dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap
pegawai ASN memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik,
bangsa, dan negara. Nilai-nilai yang berorientasi pada kepentingan publik
menjadi nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap pegawai ASN. Pegawai ASN
dapat mempelajari bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam Pancasila agar
memiliki karakter yang kuat dengan nasionalisme dan wawasan
kebangsaannya.

Nasionalisme dalam arti sempit merupakan sikap yang meninggikan bangsanya


sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana

12
mestinya. Dalam arti luas, nasionalisme berarti pandangan tentang rasa cinta
yang wajar terhadap bangsa dan negara, sekaligus menghormati bangsa lain.
Nasionalisme Pancasila merupakan pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai
Pancasila.

Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme yang harus


diperhatikan, yaitu :

1. Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa

Ketuhanan YME menjadikan Indonesia bukan sebagai negara sekuler


yang membatasi agama dalam ruang privat. Pancasila justru
mendorong nilai-nilai ketuhanan mendasari kehidupan masyarakat
dan berpolitik. Nilai-nilai ketuhanan yang dikehendaki Pancasila
adalah nilai-nilai ketuhanan yang positif, yang digali dari nilai-nilai
keagamaan yang terbuka (inklusif), membebaskan dan menjunjung
tinggi keadilan dan persaudaraan.

Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan diharapkan


bisa memperkuat pembentukan karakter dan kepribadian,
melahirkan etos kerja yang positif, dan memiliki kepercayaan diri
untuk mengembangkan potensi diri dan kekayaan alam yang
diberikan Tuhan untuk kemakmuran masyarakat.

2. Sila kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kedua memiliki konsekuensi ke dalam dan ke luar. Ke dalam


berarti menjadi pedoman negara dalam memuliakan nilai- nilai
kemanusiaan dan hak asasi manusia. Ini berarti negara
menjalankan fungsi “melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum
dan mencerdaskan kehidupan bangsa
13
3. Sila ketiga: Persatuan Indonesia

Semangat kebangsaan adalah mengakui manusia dalam keragaman


dan terbagi dalam golongan-golongan. Keberadaan bangsa
Indonesia terjadi karena memiliki satu nyawa, satu asal akal yang
tumbuh dalam jiwa rakyat sebelumnya, yang menjalani satu kesatuan
riwayat, yang membangkitkan persatuan karakter dan kehendak
untuk hidup bersama dalam suatu wilayah geopolitik nyata.

Selain kehendak hidup bersama, keberasaan bangsa Indonesia juga


didukung oleh semangat gotong royong. Dengan kegotong royongan
itulah, Indonesia harus mampu melindungi segenap bangsa dan
tumpah darah Indonesia, bukan membela atau mendiamkan suatu
unsur masyarakat atau bagian tertentu dari teritorial Indonesia.

Tujuan nasionalisme yang mau didasari dari semangat gotong royong


yaitu ke dalam dan ke luar. Ke dalam berarti kemajemukan dan
keanekaragaman budaya, suku, etnis, agama yang mewarnai
kebangsaan Indonesia, tidak boleh dipandang sebagai hal negatif dan
menjadi ancaman yang bisa saling menegasikan. Sebaliknya, hal itu
perlu disikapi secara positif sebagai limpahan karunia yang bisa
saling memperkaya khazanah budaya dan pengetahuan melalui
proses penyerbukan budaya. Ke luar berarti memuliakan
kemanusiaan universal, dengan menjunjung tinggi persaudaraan,
perdamaian dan keadilan antar umat manusia.

4. Sila keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat


Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan

Demokrasi permusyawaratan mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama


, badan permusyawaratan/perwakilan bisa menjadi ajang
memperjuangkan asprasi beragam golongan yang ada di masyarakat.
Fungsi kedua, semangat permusyawaratan bisa menguatkan negara

14
persatuan, bukan negara untuk satu golongan atau perorangan.
Permusyawaratan dengan landasan kekeluargaan dan hikmat
kebijaksanaan diharapkan bisa mencapai kesepakatan yang
membawa kebaikan bagi semua pihak.

Abraham Lincoln mendefinisikan demokrasi sebagai


“pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Ada tiga
prasyarat dalam pemerintahan yang demokratis, yaitu : (1)
kekuasaan pemerintah berasal dari rakyat yang diperintah; (2)
kekuasaan itu harus dibatasi; dan (3) pemerintah harus berdaulat,
artinya harus cukup kuat untuk dapat menjalankan pemerintahan
secara efektif dan efisien.

Secara garis besar, terdapat dua model demokrasi, yaitu :


majoritarian democracy (demokrasi yang lebih mengutamakan
suara mayoritas) dan consensus democracy ( demokrasi yang

mengutamakan konsensus atau musyawarah). Oleh karena itu,


pilihan demokrasi konsensus berupa demokrasi permusyawaratan
merupakan pilihan yang bisa membawa kemaslahatan bagi bangsa
Indonesia.

5. Sila kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia

Dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, para pendiri bangsa


menyatakan bahwa Negara merupakan organisasi masyarakat yang
bertujuan menyelenggarakan keadilan. Keadilan sosial juga
merupakan perwujudan imperative etis dari amanat pancasila dan
UUD 1945.

Peran negara dalam mewujudkan rasa keadilan sosial, antara lain :

a. perwujudan relasi yang adil di semua tingkat sistem


kemasyarakatan
b. pengembangan struktur yang menyediakan kesetaraan kesempatan

15
c. proses fasilitasi akses atas informasi, layanan dan sumber daya
yang diperlukan
d. dukungan atas partisipasi bermakna atas pengambilan keputusan
bagi semua orang.

2.3.ETIKA PUBLIK

Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta keyakinan untuk
menentukan perbuatan yang pantas guna menjamin adanya perlindungan
hak-hak individu, mencakup cara-cara pengambilan keputusan untuk
membantu membedakan hal-hal yang baik dan buruk serta mengarahkan apa
yang seharusnya dilakukan sesuai nila-nilai yang dianut (Catalano, 1991).

Konsep etika sering disamakan dengan moral. Padahal ada perbedaan antara
keduanya. Etika lebih dipahami sebagai refleksi yang baik atau benar.
Sedangkan moral mengacu pada kewajiban untuk melakukan yang baik atau
apa yang seharusnya dilakukan. Etika juga dipandang sebagai karakter atau etos
individu/kelompokberdasarkan nilai-nilai dan norma-norma luhur.

Kode etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip
dalam bentuk ketentuan tertulis. Kode etik profesi dimaksudkan untuk
mengatur tingkah laku / etika suatu kelompok khusus dalam masyarakat
melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh
sekelompok profesional tertentu.

Berdasarkan UU ASN, kode etik dan kode perilaku ASN adalah :

b. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab dan


berintegritas.
c. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.
d. Melayani dengan sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan.
e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.

16
f. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat
yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan etika pemerintahan
g. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.
h. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
jawab, efektif dan efisien.
i. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya.
j. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada
pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
k. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan dan jabtannya untuk mendapat atau mencari keuntungan
atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain.
l. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan
integritas ASN.
m. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
disiplin pegawai ASN.

Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam undang- undang


ASN, memiliki indikator sebagai berikut :

1. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.


2. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan
Republik Indonesia 1945.
3. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
5. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.
6. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
7. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada public
8. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program
pemerintah.
9. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,
tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.

17
10. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
11. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
12. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
13. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
14. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir.

2.4.. KOMITMEN MUTU

Komitmen mutu adalah janji pada diri kita sendiri atau pada orang lain yang
tercermin dalam tindakan kita untuk menjaga mutu kinerja pegawai. Bidang
apapun yang menjadi tanggung jawab pegawai negeri sipil semua mesti
dilaksanakan secara optimal agar dapat memberi kepuasan kepada stakeholder.
Komitmen mutu merupakan tindakan untuk menghargai efektivitas, efisiensi,
inovasi dan kinerja yang berorientasi mutu dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan publik.

Ada empat indikator dari nilai-nilai dasar komitmen mutu yang harus
diperhatikan, yaitu :

1. Efektif

Efektif adalah berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan target.
Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian target yang telah
direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja.
Efektifitas organisasi tidak hanya diukur dari performans untuk mencapai
target (rencana) mutu, kuantitas, ketepatan waktu dan alokasi sumber daya,
melainkan juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan
pelanggan.

2. Efisien

Efisien adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil
tanpa menimbulkan keborosan. Sedangkan efisiensi merupakan tingkat
ketepatan realiasi penggunaan sumberdaya dan bagaimana

18
pekerjaan dilaksanakan sehingga dapat diketahui ada tidaknya
pemborosan sumber daya, penyalahgunaan alokasi, penyimpangan
prosedur dan mekanisme yang ke luar alur.

3. Inovasi

Inovasi Pelayanan Publik adalah hasil pemikiran baru yang konstruktif,


sehingga akan memotivasi setiap individu untuk membangun karakter
sebagai aparatur yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme layanan
publik yang berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau
menggugurkan tugas rutin.

4. Mutu

Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa,


manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi harapan
konsumen. Mutu mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa yang
diberikan kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan
keinginannya, bahkan melampaui harapannya. Mutu merupakan salah satu
standar yang menjadi dasar untuk mengukur capaian hasil kerja. Mutu
menjadi salah satu alat vital untuk mempertahankan keberlanjutan
organisasi dan menjaga kredibilitas institusi.

2.5.ANTI KORUPSI

Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya
kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Korupsi sering dikatakan sebagai
kejahatan luar biasa, karena dampaknya yang luar biasa, menyebabkan
kerusakan baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, masyarakat dan
kehidupan yang lebih luas. Kerusakan tidak hanya terjadi dalam kurun waktu
yang pendek, namun dapat berdampak secara jangka panjang.

Ada 9 (sembilan) indikator dari nilai-nilai dasar anti korupsi yang harus
diperhatikan, yaitu :
19
a. Jujur

Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama bagi


penegakan integritas diri seseorang. Tanpa adanya kejujuran mustahil
seseorang bisa menjadi pribadi yang berintegritas. Seseorang dituntut
untuk bisa berkata jujur dan transparan serta tidak berdusta baik terhadap
diri sendiri maupun orang lain, sehingga dapat membentengi diri terhadap
godaan untuk berbuat curang.

b. Peduli

Kepedulian sosial kepada sesama menjadikan seseorang memiliki sifat


kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa sosial tinggi akan
memperhatikan lingkungan sekelilingnya di mana masih terdapat banyak
orang yang tidak mampu, menderita, dan membutuhkan uluran tangan.
Pribadi dengan jiwa sosial tidak akan tergoda untuk memperkaya diri
sendiri dengan cara yang tidak benar tetapi ia malah berupaya untuk
menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu sesama.

c. Mandiri

Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri seseorang menjadi


tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain. Mentalitas kemandirian
yang dimiliki seseorang memungkinkannya untuk mengoptimalkan daya
pikirnya guna bekerja secara efektif. Pribadi yang mandiri tidak akan
menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab
demi mencapai keuntungan sesaat.

d. Disiplin

Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan dan


konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat seseorang
akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam menjalani tugasnya.
Kepatuhan pada prinsip kebaikan dan kebenaran menjadi pegangan utama
dalam bekerja. Seseorang yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai
20
kedisiplinan tidak akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan
kekayaan dengan cara yang mudah.

e. Tanggung Jawab

Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan menyadari bahwa
keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk melakukan perbuatan baik
demi kemaslahatan sesama manusia. Segala tindak tanduk dan kegiatan yang
dilakukannya akan dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang
Maha Esa, masyarakat, negara, dan bangsanya. Dengan kesadaran seperti ini
maka seseorang tidak akan tergelincir dalam perbuatan tercela dan nista.

f. Kerja Keras

Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan kualitas hasil


kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik yang sebesar-besarnya. Ia
mencurahkan daya pikir dan kemampuannya untuk melaksanakan tugas dan
berkarya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan mau memperoleh sesuatu
tanpa mengeluarkan keringat.

g. Sederhana

Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang menyadari


kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya dengan semestinya
tanpa berlebih-lebihan. Ia tidak tergoda untuk hidup dalam gelimang
kemewahan. Kekayaan utama yang menjadi modal kehidupannya adalah
ilmu pengetahuan. Ia sadar bahwa mengejar harta tidak akan pernah ada
habisnya karena hawa nafsu keserakahan akan selalu memacu untuk
mencari harta sebanyak-banyaknya.

h. Berani

Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian untuk


menyatakan kebenaran dan menolak kebathilan. Ia tidak akan mentolerir
adanya penyimpangan dan berani menyatakan penyangkalan

21
secara tegas. Ia juga berani berdiri sendirian dalam kebenaran walaupun
semua kolega dan teman-teman sejawatnya melakukan perbuatan yang
menyimpang dari hal yang semestinya. Ia tidak takut dimusuhi dan tidak
memiliki teman kalau ternyata mereka mengajak kepada hal-hal yang
menyimpang.

i. Adil

Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa yang dia
terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan menuntut untuk
mendapatkan lebih dari apa yang ia sudah upayakan. Bila ia seorang
pimpinan maka ia akan memberi kompensasi yang adil kepada bawahannya
sesuai dengan kinerjanya. Ia juga ingin mewujudkan keadilan dan
kemakmuran bagi masyarakat dan bangsanya.

22
BAB III

KEDUDUKAN DAN PERAN PNS DALAM NKRI

Indonesia sebagai negara hukum telah menempatkan landasan yuridis bagi warga
negaranya dalam memperoleh pekerjaan yang layak, sebagaimana tertulis dalam
Pasal 27 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi: “Tiap-tiap warga
Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.

Isi pasal tersebut, Negara menyadari akan arti penting dan mendasarnya masalah
pekerjaan bagi kelangsungan hidup manusia. Manusia untuk menjaga kelangsungan
hidupnya, maka perlu bekerja untuk menghasilkan sesuatu imbalan berupa materi,
dan salah satu dari pekerjaan itu adalah dengan cara mengabdi pada Negara dengan
menjadi Pegawai Negeri.

Tujuan nasional adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur secara
merata dan berkesinambungan materill dan spiritual. Hal tersebut dapat dicapai
salah satunya dengan adanya Pegawai Negeri sebagai Warga Negara, Unsur
Aparatur Negara, Abdi Negara, dan Abdi Masyarakat yang dengan penuh kesetiaan
dan ketaatan kepada Pancasila, UUD 1945, Negara dan Pemerintah.

Hubungan antara Pegawai Negeri dengan negara menimbulkan kaidah- kaidah


dalam hukum kepegawaian Kelancaran pelaksanaan pembangunan dan
pemerintahan tergantung pada kesempurnaan dan kemampuan aparatur Negara,
dalam hal ini adalah Pegawai Negeri. Kedudukan dan peranan pegawai dalam setiap
organisasi pemerintahan sangatlah menentukan, sebab Pegawai Negeri
merupakan tulang punggung pemerintah dalam melaksanakan pembangunan
nasional. Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang
Aparatur Sipil Negara menyatakan bahwa : Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya
disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah
dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah. Pegawai ASN
berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas
umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan

23
dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih
dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dengan terbitnya Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang aparatur sipil Negara,
pegawai negeri sipil diharuskan mempunyai fungsi sebagai:

a. pelaksana kebijakan public


b. pelayan publik dan
c. perekat dan pemersatu bangsa.

Berdasarkan pada Pasal 13 Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang aparatur sipil
Negara mengatur bahwa jabatan ASN terdiri atas:

a. Jabatan Administrasi
b. Jabatan Fungsional; dan
c. Jabatan Pimpinan Tinggi.

Peran dan kedudukan ASN dalam NKRI bisa dilihat dari kemampuan
mereka memahami manajemen ASN, Pelayanan Publik dan inovasi yang
berkaitan dengan whole of government (WOG).

3.1 Manajemen ASN

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai


ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi
politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Manajemen ASN
lebih menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan
agar selalu tersedia sumber daya ASN yang unggul selaras dengan
perkembangan zaman.

Kedudukan ASN

Kedudukan atau status jabatan PNS dalam sistem birokrasi selama ini
dianggap belum sempurna untuk menciptakan birokrasi yang profesional.
Untuk dapat membangun profesionalitas birokrasi, maka konsep yang
dibangun dalam UU ASN tersebut harus jelas. Berikut beberapa konsep yang
ada dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN.
24
 Berdasarkan jenisnya, pegawai ASN terdiri atas Pegawai Negeri

Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja


(PPPK). PNS merupakan warga negara Indonesia yang memenuhi
syarat tertentu, diangkat sebagai pegawai ASN secara tetap oleh
pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan
pemerintahan, memiliki nomor induk pegawai secara nasional.
Sedangkan PPPK adalah warga negara Indonesia yang memnuhi
syarat tertentu, yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian
berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan instansi
pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan
tugas pemerintahan.
 Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang
menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi
pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua
golongan dan partai politik. Pegawai ASN dilarang menjadi anggota
dan/atau pengurus partai politik. Selain itu untuk menjauhkan
birokrasi dari pengaruh partai politik, hai ini dimaksudkan untuk
menjamin keutuhan, kekompakan dan persatuan ASN, serta dapat
memusatkan segala perhatian, pikiran dan tenaga pada tugas yang
dibebankan kepadanya. Oleh karena itu dalam pembinaan karir
pegawai ASN, khususnya di daerah dilakukan oleh pejabat
berwenang yaitu pejabat karir tertinggi.
 Kedudukan ASN berada di pusat, daerah dan luar negeri. Namun

demikian pegawai ASN merupakan kesatuan. Kesatuan bagi


pegawai ASN sangat penting, mengingat dengan adanya
desentralisasi dan otonomi daerah, sering terjadinya isu putra daerah
yang hampir terjadi dimana-mana sehingga perkembangan birokrasi
menjadi stagnan di daerah-daerah. Kondisi tersebut merupakan
ancaman bagi kesatuan bangsa.
Peran ASN

Untuk menjalankan kedudukan pegawai ASN, maka pegawai ASN


berfungsi dan bertugas sebagai berikut:

25
 Pelaksana kebijakan publik

ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan


kebijakanyang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN harus
mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya, serta harus mengutamakan
pelayanan yang berorientasi pada kepentingan public.

 Pelayan publik

ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk memberikan pelayanan


publik yang profesional dan berkualitas. Pelayanan publik merupakan
kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk
atas barang, jasa dan/atau pelayanan administratif yang
diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik dengan tujuan
kepuasan pelanggan.

 Perekat dan pemersatu bangsa

ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat persatuan


dan kesatuan NKRI. ASN senantiasa setia dan taat sepenuhnya
kepada Pancasila, UUD1945, negara dan pemerintah. ASN senantiasa
menjunjung tinggi martabat ASN serta senantiasa mengutamakan
kepentingan negara dari pada kepentingan diri sendiri, seseorang dan
golongan. Dalam UU ASN disebutkan bahwa dalam penyelengaraan
dan kebijakan manajemen ASN, salah satu diantaranya asas persatuan
dan kesatuan.

Hak dan kewajiban ASN

Hak adalah suatu kewenangan atau kekuasaan yang diberikan oleh hukum,
suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum, baik pribadi maupun
umum. Dapat diartikan bahwa hak adalah sesuatu yang patut atau layak
diterima. Agar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan

26
baik , dapat meningkatkan produktivitas, menjamin kesejahteraan ASN
dan akuntabel, maka setiap ASN diberikan hak. Hak ASN dan PPPK yang
diatur dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN sebagai berikut;

PNS berhak memperoleh:

gaji, tunjangan, dan fasilitas


cuti
jaminan pensiun dan jaminan hari tua
perlindungan; dan

pengembangan kompetensi.

PPPK berhak memperoleh:

 gaji dan tunjangan


 cuti
 perlindungan; dan
 pengembangan kompetensi.

Selain hak sebagaimana disebutkan di atas, berdasarkan pasal 70 UU No.


5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan bahwa setiap pegawai ASN memiliki hak
dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi. Berdasarkan Pasal 92
pemerintah juga wajib memberikan perlindungan berupa:

 Jaminan kesehatan
 Jaminan kecelakaan kerja
 Jaminan kematian
 Bantuan hukum.

Sedangkan kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang bersifat


kontraktual. Dengan kata lain kewajiban adalah suatu yang sepatutnya
diberikan.Pegawai ASN berdasarkan UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN wajib:

 setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik


Indonesia, dan pemerintah yang sah

27
 menjaga persatuan dan kesatuan bangsa
 melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah
yang berwenang
 menaati ketentuan peraturan perundang-undangan
 melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian,
kejujuran, kesadaran,dan tanggung jawab
 menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku,
ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di
luar kedinasan
 menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan

rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-


undangan; danh. bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

3.2 Whole of Government (WoG)

Whole of Government (WoG) Berdasarkan interpretasi analitis dan


manifestasi empiris di lapangan, maka WoG didefinisikan sebagai “suatu
model pendekatan integratif fungsional satu atap” yang digunakan untuk
mengatasi wicked problems yang sulit dipecahkan dan di atasi karena
berbagai karakteristik atau keadaan yang melekat antara lain: tidak jelas
sebabnya, multi dimensi, menyangkut perubahan perilaku.

Penerapan Whole of Government

Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik dari
sisi penataan institusi formal maupun informal. Cara-cara ini pernah
dipraktekkan oleh beberapa negara, termasuk Indonesia dalam level-level
tertentu.

a. Penguatan koordinasi antar lembaga. Penguatan koordinasi dapat


dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga yang dikoordinasikan masih
terjangkau dan manageable. Dalam prakteknya, span of control atau
rentang kendali yang rasional akan sangat terbatas. Salah satu
alternatifnya adalah mengurangi jumlah lembaga yang ada sampai

28
mendekati jumlah yang ideal untuk sebuah koordinasi. Dengan jumlah
lembaga yang rasional, maka koordinasi dapat dilakukan lebih mudah.
b. Membentuk lembaga koordinasi khusus, pembentukan lembaga

terpisah dan permanen yang bertugas dalam mengkoordinasikan


sektor atau kementrian adalah salah satu cara melakukan WoG.
Lembaga koordinasi ini biasanya diberikan status lembaga setingkat
lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan kelembagaan yang
dikoordinasikan.
c. Membangun gugus tugas, gugus tugas merupakan bentuk
pelembagaan koordinasi yang dilakukan di luar struktur formal, yang
setidaknya tidak permanen. Pembentukan gugus tugas biasanya
menjadi salah satu cara agar sumber daya yang terlibat dalam
koordinasi tersebut dicabut sementara dari lingkungan formalnya
untuk berkonsentrasi dalam proses koordnasi tadi.
d. Koalisi sosial, koalisi sosial merupakan bentuk informal dari
penyatuan koordinasi antar sektor atau lembaga, tanpa perlu
membentuk pelembagaan khusus dalam koordinasi.
Tantangan dalam praktek

Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan WoG di tataran praktek


sebagai berikut:

a. Kapasitas SDM dan institusi

Kapasitas SDM dan institusi-institusi yang terlibat dalam WoG tidaklah


sama. Perbedaan kapasitas ini bisa menjadi kendala serius ketika
pendekatan WoG, misalnya mendorong terjadinya merger atau akuisisi
kelembagaan, dimana terjadi penggabungan SDM dengan kualifikasi
yang berbeda.

b. Nilai dan budaya organisasi

Nilai dan budaya organisasi menjadi kendala ketika terjadi upaya


kolaborasi dengan kelembagaan.
29
c. Kepemimpinan

Kepemimpinan menjadi salah satu kunci penting dalam pelaksanaan


WoG. Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang
mampu mengakomodasi perubahan nilai dan budayA organisasi serta
meramu SDM yang tersedia guna mencapai tujuan yang diharapkan

Praktek Whole of Government (WoG)

Praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan


seluruh sektor yang terkait dengan pelayanan publik. Jenis pelayanan publik
yang dikenalI dapat didekati oleh pendekatan WoG sebagai berikut:

 Pelayanan yang bersifat administratif, yaitu pelayanan publik yang

menghasilkan berbagai produk dokumen resmi yang dibutuhkan warga


masyarakat. Dokumen yang dihasilkan bisa meliputi KTP, status
kewarganegaraan, status usaha, surat kepemilikan, atau penguasaan atas
barang, termasuk dokumen-dokumen resmi seperti SIUP, izin trayek, izin
usaha, akta, sertifikat tanah dan lain-lain
 Pelayanan jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa
yang dibutuhkan warga masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan,
ketenagakerjaan, perhubungan dan lain-lain.
 Pelayanan barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan jenis barang yang
dibutuhkan warga masyarakat, seperti jalan, jembatan, perumahan,
jaringan telepon, listrik, air bersih, dan lain-lain
 Pelayanan regulatif, yaitu pelayanan melalui penegakan hukuman dan

peraturan perundang-undangan, maupun kebijakan publik yang mengatur


sendi-sendi kehidupan masyarakat. Adapun berdasarkan pola pelayanan
publik, juga dapat dibedakan dalam lima macam pola pelayanan sebagai
berikut:

Pola pelayanan teknis fungsional, yaitu suatu pola pelayanan publik yang
diberikan oleh suatu instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas, fungsi dan
kewenangannya. Pelayanan merupakan pelayanan sektoral, yang

30
bisa jadi sifatnya hanya relevan dengan sektor itu, atau menyangkut pelayanan
di sektor lain. WoG dapat dilakukan manakala pola pelayanan publik ini
mempunyai karakter yang sama atau memiliki keterkaitan antar satu sektor
dengan yang lainnya.

Pola pelayanan satu atap, yaitu pola pelayanan yang dilakukan secara terpadu
pada suatu instansi pemerintah yang bersangkutan sesuai kewenangan
masing-masing. Pola ini memudahkan masyarakat pengguna izin untuk
mengurus permohonan izinnya, walaupun belum mengurangi jumlah rantai
birokrasi izinnya.

Pola pelayanan satu pintu, yaitu pola pelayanan yang dilakukan secara tunggal
oleh suatu unit kerja pemerintah berdasarkan pelimpahan wewenang dari unit
kerja pemerintah terkait lainnya yang bersangkutan. Ini adalah salah satu bentuk
kelembagaan WoG yang lebih utuh, dimana pelayanan publik disatukan dalam
satu unit pelayanan saja, dan rantai izin sudah dipangkas menjadi satu saja.

Pola pelayanan terpusat, yaitu pola pelayanan yang dilakukan oleh suatu
instansi pemerintah yang bertindak selaku koordinator terhadap pelayanan
instansi pemerintah lainnya yang terkait dengan bidang pelayanan masyarakat
yang bersangkutan

Pola pelayanan elektronik, yaitu pola pelayanan elektronik yang dilakukan


menggunakan teknologi infromasi dan komunikasi yang merupakan otomasi
dan otomatisasi pemberian layanan yang bersifat elektronik atau daring
(online) sehingga dapat menyesuaikan diri dengan keinginan dan kapasitas
masyarakat pengguna.

Nilai-nilai dasar Whole of Government

Praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan


seluruh sektor yang terkait dengan pelayanan publik berdasarkan nilai-
nilai dasar berikut ini.

31
a. Koordinasi
Kompleksitas lembaga membutuhkan koordinasi yang efektif dan
efisien antar lembaga dalam menjalankan kegiatan kelembagaan
b. Integrasi
Integrasi dilakukan dengan pembauran sebuah sistem antar lembaga
sehingga menjadi kesatuan yang utuh
c. Singkronisasi

Singkronisasi merupakan penyelarasan semua kegiatan/data yang


berasal dari berbagai sumber , dengan menyingkronkan seluruh sumber
tersebut.

d. Simplifikasi

Simplikasi merupakan penyederhanaan segala sesuatu baik terkait


data/proses disuatu lembaga untuk mengefisienkan waktu, tenaga dan
biaya.

3.3 Pelayanan Publik

Sebagai Aparatur pemerintahan, ASN mempunyai salah satu peran yang


penting dalam tugas dan fungsinya sebagai Aparatur Sipil Negara dalam
penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan nasional melalui
pelaksanaan pelayanan publik kepada masyarakat. Aparatur Sipil Negara
melakukan perannya sebagai aparatur pemerintah dengan memberi pelayanan
publik.

Adapun menurut Keputusan MENPAN Nomor 63 tahun 2003, mengenai


pelayanan adalah sebagai berikut:

- Pelayanan Publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan

oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan


kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
- Penyelenggara pelayanan publik adalah Instansi Pemerintah
32
- Instansi Pemerintah adalah sebutan kolektif meliputi satuan kerja satuan

organisasi Kementrian, Departemen, Kesekretariatan Lembaga Tertinggi


dan Tinggi Negara, dan instansi Pemerintah lainnya, baik Pusat maupun
Daerah termasuk Badan Usaha Milik Negara, Badan Hukum Milik Negara
dan Badan Usaha Milik Daerah.
- Unit Penyelenggara pelayanan publik adalah unit kerja pada instansi

Pemerintah yang secara langsung memberikan pelayanan kepada penerima


pelayanan publik.
- Pemberi pelayanan publik adalah pejabat/pegawai instansi pemerintah
yang melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan publik sesuai dengan
peraturan perundang- undangan
- Penerima pelayanan publik adalah orang, masyarakat, instansi pemerintah
dan badan hukum yang menerima pelayanan dari instansi pemerintah
Pelayanan merupakan suatu proses. Proses tersebut menghasilkan suatu
produk yang berupa pelayanan, kemudian diberikan kepada pelanggan.

Aparatur Sipil Negara merupakan penyelenggara pelayanan publik dituntut untuk


memberikan kinerja dengan produktivitas yang baik dalam memberikan pelayanan,
memberikan kualitas pelayanan yang baik dan prima, dimana Aparatur Sipil Negara
responsive serta responsibel dalam melakasanakan dan memberikan pelayanan
publik kepada masyarakat dan bertanggung jawab atau ada pertanggung jawaban
(akuntabel) terhadap tugas dan fungsinya serta hasil pencapaian yang telah
dilaksanakannya.

Prinsip-prinsip Pelayanan Publik Penyelengaraan pelayanan publik juga harus


memenuhi beberapa prinsip pelayanan sebagaimana yang disebutkan dalam
Keputusan Menteri Pendayagunaan Negara Nomor 63 Tahun 2003 adalah sebagai
berikut :

1. Kesederhanaan
2. Kejelasan
3. Kepastian waktu
4. Akurasi
5. Keamanan

33
6. Tanggung jawab
7. Kelengkapan sarana dan prasarana
8. Kemudahan akses
9. Kedisiplinan, kesopanan, dan keramahan
10. Kenyamanan

34
BAB. IV
RANCANGAN AKTUALISASI

4.1 Identifikasi Isu

Untuk menyusun rancangan kegiatan aktualisasi, maka saya akan menjelaskan


jabatan saya. Jabatan saya adalah Analis Keimigrasian Pertama Kantor Imigrasi
Kelas 1 Pangkalpinang, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Kepulauan
Bangka Belitung. Adapun uraian tugas/pekerjaan pada jabatan sesuai peraturan
Permenkumham Nomor: 19 tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional
Analis Keimigrasian dan Angka Kreditnya adalah sebagai berikut :
a. Dokumen Keimigrasian
b. Pengawasan/intelejen
c. Pengendalian rumah detensi imigrasi
d. Pengelolaan informasi keimigrasian
e. Lintas batas dan kerjasama luar negeri; dan
f. Penyidikan dan penindakan keimigrasian
g. Melakukan tugas tambahan sesuai intruksi dari atasan

Berdasarkan pengalaman bekerja selama 5 bulan bertugas/bekerja membantu


pimpinan dirasakan adanya beberapa masalah/isu yang terjadi. adapun
isu-isu tersebut dapat diindentifikasikan sebagai berikut:

1. Masih ditemukan kesalahan entry data yang tidak sesuai dengan data yang
dilampirkan pemohon
2. Proses cetak paspor yang lama karena ketersediaan mesin cetak yang kurang
3. Kondisi antrian pemohon paspor yang tidak kondusif
4. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang aplikasi antrian online

Langkah selanjutnya adalah penulis mengkonsultasikan isu yang telah


teridentifikasi kepada rekan sekerja, atasan, dan mentor dan coach untuk
kemudian dianalisis sehingga terpilihlah sebuah isu utama/core isu yang diangkat

35
4.2 Isu Yang Diangkat

Dari identifikasi isu yang dikemukakan diatas, maka penulis akan


menentukan isu yang akan diangkat, penulis menggunakan teknik USG yang
mana pengertian USG adalah sebagai berikut :
1. Urgency
Seberapa mendesak isu tersebut dilakukan dengan waktu yang
tersedia serta seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk memecahkan
masalah yang menyebabkan isu tadi.
2. Seriousness

Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan akibat yang
timbul dengan penundaan pemecahan masalah yang menimbulkan isu
tersebut atau akibat yang menimbulkan masalah-masalah lain kalau
masalah isu tidak dipecahkan. Perlu dipahami bahwa dalam keadaan
yang sama, suatu masalah yang dapat menimbulkan masalah lain adalah
lebih serius bila dibandingkan dengan suatu masalah lain yang berdiri
sendiri.
3. Growth
Seberapa kemungkinan-kemungkinanya isu tersebut menjadi
berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan
semakin memburuk kalau dibiarkan.
Tabel 4.1
PERUMUSAN ISU DAN PENETAPAN ISU DENGAN TEKNIK USG

No PRIORITAS USG TOT RANKING


MASALAH U S G AL
1. Masih 4 4 4 12 III
ditemukan
kesalahan entry
data yang tidak
sesuai dengan
data yang
dilampirkan
pemohon

36
2. Proses cetak 5 3 3 11 IV
paspor yang
lama karena
ketersediaan
mesin cetak
yang kurang

5 5 4 14 I
3. Belum adanya
layanan
prioritas bagi
pemohon
paspor
berkebutuhan
khusus
5 4 4 13 II
4. Kurangnya
pemahaman
masyarakat
tentang
aplikasi antrian
online

Berdasarkan hasil analisis isu menggunakan alat analisis USG di atas dapat
dilihat bagaimana kualitas Isu yang ada. Isu yang mendapatkan prioritas
tertinggi adalah isu final yang perlu diangkat yaitu:“ Belum adanya layanan
prioritas bagi pemohon paspor berkebutuhan khusus di Kantor Imigrasi Kelas
1 Pangkalpinang ” dan menjadi isu yang perlu dicarikan pemecahan
masalahnya.

Jika isu tersebut tidak bisa segera dipecahkan maka akan mengakibatkan hal-hal
sebagai berikut :
1. Pemohon paspor akan merasa tidak nyaman akibat antrian yang lama
2. Pelayanan jadi kurang maksimal
3. Kantor Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang belum mampu menjadi lembaga
pelayanan publik yang ramah untuk lansia dan difabel.

37
Gagasan Pemecahan Isu

Mengajukan kegiatan layanan prioritas untuk pemohon kelompok rentan yaitu


lansia, difabel, ibu hamil, ibu membawa balita dan orang cidera berat ke Seksi Lalu
Lintas Keimigrasian yang salah satu tugasnya adalah memberikan pelayanan kepada
masyarakat yang akan membuat paspor. Kegiatan awal seperti ini akan
menimbulkan tahapan-tahapan selanjutnya, sebagai tahapan aktualisasi.

Dengan adanya layanan priporitas bagi pemohon paspor kelompok rentan akan
membuat antrian pemohon paspor menjadi lebih kondusif dan pelayanan akan lebih
maksimal sehingga menciptakan lingkungan kerja yang ramah bagi setiap
masyarakat yang datang terutama bagi pemohon paspor lansia dan difabel. Maka
gagasan pemecahan isu yang usulkan adalah PENYEDIAAN LAYANAN

PRIORITAS PEMOHON PASPOR BAGI KELOMPOK RENTAN


(DISABILITAS, LANSIA, IBU HAMIL/MENYUSUI, ORANG CIDERA,
IBU MEMBAWA BALITA) DI KANTOR IMIGRASI KELAS 1
PANGKALPINANG.

4.3 Kegiatan Pemecahan Isu

Menyadari bahwa core isu ini bersifat complicated atau tidak bersifat tunggal,
sehingga saya mengusulkan berapa kegiatan pemecahan masalah sebagai satu
rangkaian kegiatan besar, Kegiatan yang saya usulkan ini berasal dari
SKP(sasaran kerja pegawai), tugas dari atasan dan dari inisiatif sendiri yang
disetujui oleh atasan saya. Kegiatan yang diusulkan untuk memecahkan isu di atas
adalah sebagai berikut:

1. Melakukan koordinasi dengan atasan di seksi Lalu Lintas Keimigrasian


2. Menyiapkan bahan sosialisasi guna memberikan pemahaman kepada
pegawai di seksi Lalu Lintas Keimigrasian
3. Mensosialisasikan kegiatan kepada seluruh pegawai Seksi Lalu Lintas
Keimigrasian
4. Pembuatan Jalur Layanan Prioritas Lansia dan difabel
5. Pelaksanaan kegiatan
6. Evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan

38
7. Pembuatan laporan pelaksanaan kegiatan
.
Kegiatan-kegiatan yang saya sebutkan diatas akan saya laksanakan di Kantor
Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang dengan menerapkan nilai-nilai dasar aneka
(akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti korupsi) dan
penerapan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI ( Manajemen ASN, WoG)
sehingga nantinya diharapkan dapat berkontribusi mendukung terwujudnya
visi, misi Kantor Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang dan juga diharapkan dapat
memperkuat nilai-nilai organisasi di Kantor Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang.
Adapun kegiatan-kegiatan tersebut akan penulis uraikan satu persatu melalui
tabel rancangan kegiatan aktualisasi berikut ini:

39
Tabel 4.2. Rancangan Kegiatan Aktualisasi
Judul : Penyediaan Layanan Prioritas Pemohon Paspor Kelompok Rentan (disabilitas, lansia, ibu hamil/menyusui,
orang cidera, ibu membawa balita) di Kantor Imigrasi Kelas I Pangkalpinang
Nama Lengkap : Falah Bilayudha, S.E
Jabatan : Analis Keimigrasian Pertama
Unit Kerja : Kantor Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang
Coach : Rachmat Bahmim Safiri, S.H., M.Si
Mentor : Ibnu Malik, S.H
Identifikasi Isu :
1. Masih ditemukan kesalahan entry data yang tidak sesuai dengan data yang dilampirkan pemohon
2. Proses cetak paspor yang lama karena ketersediaan mesin cetak yang kurang
3. Belum Adanya Layanan Prioritas bagi Pemohon Berkebutuhan Khusus
4. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang aplikasi antrian online

Isu Yang Diangkat : Belum Adanya Layanan Prioritas bagi Pemohon Berkebutuhan Khusus

Gagasan Pemecahan : Penyediaan Layanan Prioritas Pemohon Paspor Lansia dan Difabel

40
Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Nilai
Subtansi Mata Terhadap Nilai Organisasi
No Pelatihan Visi Dan Misi
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
1. Melakukan 1. Membuat rencana 1. Adanya daftar Dengan Kegiatan
Koordinasi kegiatan yang akan kegiatan yang Akuntabilitas:
melakukan koordinasi
Dengan Atasan dilakukan akan Adanya rencana
koordinasi dengan dengan pimpinan
2. Konsultasi dikonsultasikan kegiatan yang baik
atasan maka sebagai cara agar
Kegiatan Yang kepada memberikan
diharapkan kegiatan ini bisa
Akan Kita pimpinan kejelasan mengenai
kegiatan bisa terlaksana dengan
Laksanakan 2. Saran dari bagaimana kegiatan
berlangsung baik sehingga
atasan ini akan
dengan lancar dan berkaitan dengan
dilaksanakan
sesuai dengan nilai-nilai
Etika Publik :
yang telah organisasi
Dengan
direncankan. Direktorat
mengkomunikasi
Sehingga kegiatan Jenderal Imigrasi,
tentang kegiatan
ini diharapkan Kementerian
yang akan
dapat memberikan Hukum dan
dilaksanakan
kontribusi untuk HAM RI yaitu
kepada pimpinan
mendukung visi “Profesional” dan
dengan cara yang
Kantor Imigrasi “Sinergis”. Nilai-
baik dan sopan
Kelas 1 nilai organisasi

41
3. Meminta 3. Lembar Pangkalpinang Direktorat
persetujuan atasan persetujuan santun terhadap yaitu “masyarakat Jenderal Imigrasi,
tentang kegiatan 4. Dokumentasi pimpinan memperoleh Kementerian
yang akan Kegiatan merupakan kepastian hukum” Hukum dan
dilaksanakan perwujudan dari terutama dalam HAM RI:
nilai hal pelayanan Profesional,
Memelihara Dan prima sehingga Akuntabel,
Menjunjung mendukung misi Sinergis,
Tinggi Standar Kantor Imigrasi Transparan,
Etika Luhur, Pangkalpinang Inovatif,
Kesopanan yaitu “melindungi Simpatik,
WoG: hak asasi Mumpuni,
Adanya komunikasi manusia” Integritas, Lugas,
dengan pimpinan dan Empati
menunjukkan (PASTI SMILE)
adanya koordinasi
yang baik antara
pimpinan dengan
staff, yang mana
akan membuat
kegiatan akan
berjalan dengan
lancar
Nasionalisme:
Dengan adanya
komunikasi dan
koordinasi dengan

42
pimpinan yang
dimana nantinya
akan ada masukan
atau saran yang
dapat digunakan
agar kegiatan
berjalan dengan
lancar, hal ini
merupakan
perwujudan dari
pancasila sila ke
4 (Musyawarah
Mufakat)

Dampak apabila kegiatan ini tidak memiliki nilai Akuntabilitas, Etika Publik, Nasionalisme, dan WOG, maka nantinya akan ada miss
komunikasi antara pimpinan dan pelaksana kegiatan. Selain itu kegiatan ini juga tidak akan bisa berjalan tanpa adanya izin dari
pimpinan.
2. Menyiapkan 1. Membuat draft 1. Draft sosialisasi Akuntabilitas: Kegiatan Dengan bahan
bahan sosialisasi sosialisasi Dengan membuat menyiapkan bahan sosialisasi yang
draft mengenai hal- sebelum telah disiapkan
hal yang akan melakukan dengan baik
disosialisaikan yang sosialisasi ini sehingga benar-
mana menunjukkan bertujuan agar apa benar
adanya kejelasan yang akan menciptakan
tentang apa saja disampaikan bisa informasi yang
yang akan benar-benar layak untuk
disosialisasikan terarah dan tepat disampaikan,

43
sasaran. Sehingga sehingga
kegiatan ini berkaitan erat
2. Mengkonsultasikan 2. Lembar Etika Publik : diharapkan dengan nilai
draft sosialisasi konsultasi Dengan meminta berkontribusi organisasi
ke pimpinan persetujuan untuk mendukung Direktorat
pimpinan sebelum visi Kantor Jenderal Imigrasi
melaksanakan Imigrasi Kelas 1 Kementerian
kegiatan merupakan Pangkalpinang Hukum dan HAM
cerminan dari nilai yaitu “Masyarakat RI yaitu
Memelihara Dan memperoleh Profesional dan
Menjunjung kepastian hukum” Mumpuni. Nilai-
Tinggi Standar melalui adanya nilai organisasi
Etika Luhur, informasi yang Direktorat
tepat dan sesuai Jenderal Imigrasi,
Kesopanan sehingga Kementerian
diharapkan Hukum dan HAM
WoG: mendukung misi RI: Profesional,
Adanya komunikasi Kantor Imigrasi Akuntabel,
dengan pimpinan Kelas 1 Sinergis,
menunjukkan Pangkalpinang Transparan,
adanya koordinasi yaitu “melindungi Inovatif, Simpatik,
yang baik antara hak asasi Mumpuni,
pimpinan dengan manusia”. Integritas, Lugas,
staff, yang mana dan Empati
akan membuat (PASTI SMILE)
kegiatan akan
berjalan dengan
lancar

44
3. Memperbaiki draft 3. Draft sosialisasi Komitmen mutu:
sosialisasi perbaikan Dengan adanya
berdasarkan masukan dan saran
masukan dan dari pimpinan akan
saran dari membantu
pimpinan memperbaiki draft
kegiatan yang akan
disosialisasikan
sehinggan nantinya
sosialisasi dapat
berjalan efektif

4. Meminta 4. Lembar Nasionalisme:


persetujuan persetujuan Dengan adanya
atasan mengenai 5. Dokumentasi komunikasi dan
draft sosialisasi koordinasi dengan
pimpinan yang
dimana nantinya
akan ada masukan
atau saran yang
dapat digunakan
agar kegiatan
berjalan dengan
lancar, hal ini
merupakan
perwujudan dari
pancasila sila ke

45
4
(Musyawarah
Mufakat)

Dampak apabila kegiatan ini tidak menceminkan nilai Akuntabilitas, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Nasionalisme maka dalam
menyampaikan sosialisasi tidak memiliki arah yang jelas, akan ada informasi yang bisa saja lupa untuk disampaikan.
3. Mensosialisasikan 1. Meminta izin 1. Adanya izin dari Etika Publik : Kegiatan Sosialisasi bagian
kepada pegawai kepada atasan untuk atasan untuk Dengan meminta sosialisasi kepada berfungsi untuk
bagian pelayanan mengadakan melakukan persetujuan pegawai memberikan
tentang jalur sosialisasi sosialisasi ke pimpinan sebelum merupakan pemahaman yang
layanan prioritas pegawai melaksanakan kegiatan yang sama kepada
lansia dan difabel kegiatan merupakan penting untuk pegawai sehingga
cerminan dari nilai dilakukan agar dapat
Memelihara Dan semua kegiatan memberikan
Menjunjung yang telah pelayanan yang
Tinggi Standar direncanakan prima, hal ini
Etika Luhur, dapat dipahami berkaitan dengan
oleh pegawai dan nilai organisasi
Kesopanan juga dilaksanakan Direktorat
2. Mengumpulkan 2. Berkumpulnya dengan baik. Hal Jenderal Imigrasi
pegawai bagian pegawai untuk Komitmen Mutu: ini diharapkan Kementerian
pelayanan mendapatkan Dengan berkontribusi Hukum dan HAM
sosialisasi mengumpulkan untuk RI yaitu
mengenai pegawai bagian mewujudkan visi “mumpuni” dan
kegiatan yang layanan maka Kantor Imigrasi “lugas”. Nilai-
akan proses sosialisasi Kelas 1 nilai organisasi
dilaksanakan. akan berjalan Pangkalpinang Direktorat
Efektif dan Efisien yaitu “masyarakat Jenderal Imigrasi,
dibandingkan harus memperoleh Kementerian
menyampaikan ke

46
satu per satu kepastian hukum” Hukum dan
pegawai. berkat HAM RI:
pemahaman yang Profesional,
sama terkait Akuntabel,
Akuntabilitas: kegiatan sehingga Sinergis,
Dengan masyarakat Transparan,
3. Adanya mensosialisasikan mendapat Inovatif,
penyampaian kegiatan kepada pelayanan yang Simpatik,
3. Memberikan baik, sehingga Mumpuni,
materi pegawai hal ini
sosialisasi kepada diharapkan dapat Integritas, Lugas,
sosialisasi merupakan bentuk
pegawai bagian mendukung misi dan Empati
tentang kegiatan tanggungjawab
pelayanan tentang Kantor Imigrasi (PASTI SMILE).
yang dalam memberikan
layanan prioritas Kelas 1
dilaksanakan pemahaman kepada
lansia dan difabel Pangkalpinang
berdasarkan pegawai berkaitan
4. Memberikan yaitu “Melindungi
draft yang telah dengan kegiatan
kesempatan kepada hak asasi
dibuat yang akan
pegawai lain untuk manusia”.
4. Adanya sesi dilaksanakan.
bertanya jika ada hal
tanya jawab Anti Korupsi:
yang belum
agar semua Dengan
dimengerti tentang
pegawai paham memberikan
kegiatan yang akan
dengan kegiatan kesempatan kepada
dilaksanakan dan
yang akan pegawai untuk
juga mengutarakan
dilaksanakan bertanya mengenai
pendapatnya
5. Dokumentasi hal yang belum
kegiatan mereka mengerti
seputar kegiatan
menunjukkan

47
adanya kepedulian
dengan cara
memberikan
jawaban atas
pertanyaan tersebut.
Hal ini akan
berdampak baik
bagi jalannya
kegiatan jika semua
pegawai mengerti
tentang kegiatan
tersebut.

Dampak jika kegiatan ini tidak mencerminkan nilai Etika Publik, Komitmen Mutu, Akuntabilitas, Anti Korupsi maka kegiatan tidak
bisa dilakukan tanpa ada izin dari pimpinan yang berakibat pula pegawai tidak akan memahami kegiatan yang akan dilaksanakan.
4. Pembuatan Jalur, . Menyiapkan bahan 1. Adanya bahan Akuntabilitas: Kegiatan Dengan adanya
penyediaan label yang akan yang akan Menyiapkan bahan pembuatan jalur kegiatan
kursi prioritas, digunakan untuk digunakan sebelum layanan prioritas pembuatan tanda
rambu disabilitas, pembuatan jalur untuk melaksanakan lansia dan difabel khusus yang
papan layanan khusus menunjang kegiatan merupakan ini guna dilakukan
pengumuman, lansia kegiatan tanggungjawab memudahkan bersam-sama
guna mendukung kita sebagai proses pelayanan pegawai lainnya
Layanan Prioritas pelaksana kegiatan sehingga ada yang nantinya
Lansia dan agar kegiatan bisa kejelasan dalam diperuntukkan
Difabel berjalan dengan hal batasan bagi pemohon
baik wilayah untuk paspor lansia dan
membagi layanan difabel yang akan

48
. Mengatur kursi dan 2. Kursi yang 49 Komitmen mutu: meningkatkan
tata ruang yang tertata rapi dan Pengkondisian tata kualitas
diperuntukkan tata ruang yang ruang untuk pelayanan.
untuk Lansia dan mendukung mewujudkan
Difabel pelaksanaan ruang pelayanan
layanan yang baik
sehingga nantinya
kegiatan
pelayanan
bisa berjalan
efektif
. Pemasangan label 3. Kursi yang telah
pada kursi, diberi label dan
pemasangan rambu tata ruang yang Pelayanan
dan tanda jalur sesuai standar Publik:
layanan yang akan untuk Dengan
digunakan khusus memberikan memanfaatkan
untuk antrian layanan fasilitas yang
pemohon paspor prioritas sudah ada dan
lansia dan difabel hanya
menggunakan
label sebagai
penanda pada
kursi sehingga
kegiatan ini bisa
dianggap sebagai
kegiatan yang
Mudah dan
Murah
namun tidak
mengurangi
kebermanfaatan
dalam
Inovatif,
WOG: Simpatik,
Dengan melaporkan Mumpuni,
kepada pimpinan Integritas, Lugas,
mengenai persiapan dan Empati
. Melaporkan pada 4. Pimpinan fasilitas yang telah (PASTI SMILE).
pimpinan tentang mengetahui selesai dilaksanakan
kesiapan fasilitas bahwa kegiatan merupakan bentuk
yang akan siap koordinasi lanjutan
digunakan untuk dilaksanakan dari berbagai
para antrian tahapan kegiatan.
pemohon paspor
lansia dan difabel
Dampak apabila kegiatan ini tidak mencerminkan nilai Akuntabilitas, Komitmen Mutu, Pelayanan Publik, dan WOG maka akan
terjadi saling lempar tanggungjawab karena tidak adanya koordinasi sebelumnya, yang akan berakibat pula pada pelayanan publik jadi
terganggu.
5. Pelaksanaan 1. Menerima 1. Menerima Nasionalisme: Pelaksanaan Kegiatan
kegiatan Pemohon Paspor pemohon paspor Menerima pemohon kegiatan yang pelayanan yang
dengan sopan dan paspor dengan adab nantinya akan mengutamakan
ramah yang baik, dengan dilakukan sopan santun,
penuh keramahan, mengutamakan ramah, dan saling
menggunakan tutur sikap sopan membantu, akan
kata yang sopan, santun, ramah, memberikan
mengucapkan salam dan saling kepuasan bagi
dan senyum membantu guna masyarakat yang
menunjukkan memberikan mendapatkan
penerapan nilai pelayanan yang pelayanan baik
prima yang dapat itu yang

50
Pancasila sila ke dirasakan mendapatkan
dua langsung oleh pelayanan
2. Mengatur antrian 2. Antrian yang masyarakat,
pemohon paspor tertata dengan diharapkan dapat
Komitmen Mutu: berkontribusi
51
baik antara untuk
Dengan adanya mewujudkan visi
antrian pemohon pengaturan antrian Kantor Imigrasi
paspor lansia Kelas 1
dan memisahkan Pangkalpinang
dengan pemohon dengan cara yaitu
paspor umum "Masyarakat
mendahulukan Memperoleh
pelayanan terhadap Kepastian
pemohon paspor Hukum" dan juga
lanjut usia akan diharapkan
membuat pelayan mendukung misi
berjalan lebih Kantor Imigrasi
optimal karena hal Kelas 1
ini dapat Pangkalpinang
mengurangi waktu yaitu “melindungi
yang dibutuhkan hak asasi
dalam memberikan manusia”
layanan yang
diakibatkan adanya
pembagian antrian.
Hal ini merupakan
Inovasi yang
dilakukan di Kantor
Imigrasi Kelas 1
Pangkalpinang.
3. Mengarahkan Inovatif,
pemohon paspor 3. Pemohon paspor Simpatik,
lansia dan difabel lansia dan difabel Etika Publik: Mumpuni,
untuk menuju ke menempati kursi Dengan Integritas, Lugas,
tahapan selanjutnya khusus yang mengarahkan dan Empati
4. Memandu disediakan pemohon paspor (PASTI SMILE).
pemohon paspor untuk melanjutkan
lansia dan difabel proses layanan ke
hingga seluruh tahapan selanjutnya
proses pembuatan berarti kita telah
paspor selesai memberikan
pelayanan kepada
publik secara
jujur, tanggap,
cepat, tepat,
berdaya guna dan
santun hal ini agar
pemohon bisa cepat
mendapatkan
pelayanan.
4. Selesainya semua Anti Korupsi:
proses pelayanan Dengan
5. Dokumentasi memberikan
kegiatan kesempatan kepada
pemohon paspor
lanjut usia untuk
mendapatkan
keutamaan dalam

52
pelayanan dan
memandu mereka
hingga
menyelesaikan
proses pembuatan
paspor adalah
bentuk kepedulian
terhadap orang yang
lebih tua dan
pemohon difabel.

Dampak apabila kegiatan ini tidak mencerminkan nilai Nasionalisme, Komitmen Mutu, Etika Publik, Anti Korupsi maka kegiatan
tidak akan terlaksana dengan baik, pelayanan prima yang diharapkan tidak akan mampu terwujud.
6. Evaluasi Kegiatan 1. Draft kuesioner Akuntabilitas: Dengan Kegiatan evaluasi
1. Menyiapkan daftar Dengan membuat melakukan yang dilakukan
pertanyaan draft mengenai hal- evaluasi disetiap guna mendapatkan
seputar kepuasan hal yang akan kegiatan yang perbaikan untuk
berkaitan dengan disosialisaikan yang dilakukan akan pelaksanaan
adanya layanan mana menunjukkan membantu selanjutnya yang
khusus lansia dan adanya kejelasan menyempurnakan lebih baik dan
difabel tentang apa saja kekurangan yang terus berkembang,
yang akan ada sehingga akan hal ini berkaitan
disosialisasikan berdampak pada dengan nilai
peningkatan organisasi
2. Draft kuesioner WOG: kualitas layanan Direktorat
2. Berkonsultasi perbaikan Adanya komunikasi kepada masyarakat Jenderal Imigrasi
dengan pimpinan setelah dengan pimpinan dalam hal ini
tentang daftar konsultasi menunjukkan pemohon
pertanyaan yang

53
akan dibagikan ke dengan adanya koordinasi paspor, sehingga Kementerian
pemohon paspor pimpinan yang baik antara diharapkan Hukum dan
pimpinan dengan berkontribusi HAM RI yaitu
staff, yang mana mewujudkan visi ”inovasi”.
akan membuat Kantor Imigrasi Nilai-nilai
kegiatan akan Kelas 1 organisasi
berjalan dengan Pangkalpinang Direktorat
lancar. yaitu “masyarakat Jenderal Imigrasi,
memperoleh Kementerian
kepastian hukum” Hukum dan
3. Membagikan 3. Draft kuesioner Pelayanan Publik: dan diharapkan HAM RI:
kuesioner kepada yang telah diisi Proses evaluasi mendukung misi Profesional,
pemohon paspor pemohon yang dilakukan Kantor Imigrasi Akuntabel,
paspor lansia memerlukan Kelas 1 Sinergis,
Partisipasi Pangkalpinang Transparan,
masyarakat selaku yaitu “melindungi Inovatif,
pihak penerima hak asasi Simpatik,
layanan untuk manusia”. Mumpuni,
menilai dan Integritas, Lugas,
memberikan dan Empati
masukan terhadap (PASTI SMILE).
program yang telah
dijalankan. Hal ini
akan membantu
kantor imigrasi
pangkalpinang
untuk semakin
meningkatkan

54
kualitas
pelayanannya
kedepan berkat
peran serta dan
partisipasi
masyarakat.
4. Menghitung nilai 4. Mampu Komitmen mutu:
kepuasan mengetahui Dengan
pemohonan tingkat kepuasan mengumpulkan
paspor pemohon paspor kuesioner yang telah
berdasarkan dari adanya dibagikan dan
kuesioner yang lauyanan ini menganalisis
telah diisi berdasarkan
jawaban dari
5. Dokumentasi pemohon paspor
kegiatan maka kita bisa
mengetahui tingkat
kepuasan dari
kegiatan pelayanan
yang telah kita
laksanakan.
Dampak apabila kegiatan ini tidak mencerminkan nilai-nilai Akuntabilitas, WOG, Pelayanan Publik, Komitmen Mutu maka kita tidak
akan tahu seberapa besar kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat sehingga kita bisa membuat keputusan apakah kegiatan ini masih bisa
dilanjutkan dengan beberapa perbaikan atau harus dihentikan.
7. Pembuatan 1. Membuatkan 1. Laporan Akuntabilitas: Kegiatan Adanya
laporan Laporan kegiatan Dengan adanya pembuatan pembuatan
pembuatan laporan, laporan laporan yang

55
hal ini juga berdasarkan apa menjelaskan
merupakan bentuk yang telah bagaimana
transparansi, dilaksanakan kegiatan tersebut
karena semua sebagai penjelasan dilaksanakan dan
kegiatan bagaimana hasil yang
dicantumkan kegiatan tersebut diperoleh,
dengan apa adanya telah dilaksanakan berkaitan erat
sehingga dapat dan memberi dengan nilai-nilai
diketahui oleh dampak pada organisasi
stakeholder. peningkatan Direktorat
Dengan adanya layanan, sehingga Jenderal Imigrasi
keterbukaan melalui diharapkan dapat Kementerian
pelaporan kegiatan berkontribusi Hukum dan
tentunya akan dalam HAM RI yaitu
mendapat respon mewujudkan visi ”akuntabel” dan
positif dari Kantor Imigrasi “transparan”.
masyarakat. Kelas 1 Nilai-nilai
Pangkalpinang organisasi
2. Konsultasi 2. Lembar WoG yaitu “masyarakat Direktorat
kepada atasan konsultasi Adanya komunikasi memperoleh Jenderal Imigrasi,
dengan pimpinan kepastian hukum” Kementerian
menunjukkan dan diharapkan Hukum dan
adanya koordinasi mendukung misi HAM RI:
yang baik antara Kantor Imigrasi Profesional,
pimpinan dengan Kelas 1 Akuntabel,
staff, yang mana Pangkalpinang Sinergis,
akan membuat yaitu “melindungi Transparan,
kegiatan akan Inovatif,

56
berjalan dengan hak asasi Simpatik,
lancar. manusia” Mumpuni,
3. Membuat 3. Laporan Integritas, Lugas,
Laporan kegiatan revisi Etika Publik dan Empati
Berdasarkan setelah Melalui laporan (PASTI SMILE).
Hasil Konsultasi melakukan yang dibuat
Akhir konsultasi berdasarkan dari
dengan rangkaian
pimpinan pelaksanaan
kegiatan dan juga
evaluasi yang telah
dilakukan, hal ini
merupakan bentuk
Mempertanggung
jawabkan
tindakan dan
kinerjanya kepada
publik. Sehingga
output dari kegiatan
ini bisa diketahui
oleh stakeholder.
Anti Korupsi:
Pembuatan laporan
yang apa adanya
dan sesuai dengan
fakta yang terjadi
dilapangan
merupakan nilai

57
kejujuran yang
diterapkan dalam
tahapan kegiatan
ini. Aspek
kejujuran dalam
pembuatan laporan
sangat penting
sehingga pembaca
dapat mempercayai
hasil yang dicapai
dari kegiatan yang
dilakukan

Dampak apabila kegiatan ini tidak mencerminkan nilai-nilai Akuntabilitas, WOG, Etika Publik, Anti Korupsi maka laporan kegiatan
yang dihasilkan tidak akan memberikan gambaran yang jelas tentang kegiatan yang telah dilaksanakan.

58
4.4 Jadwal Rancangan Kegiatan Aktualisasi

Kegiatan yang telah diuraikan diatas akan dilaksanakan selama masa off campus dimana penulis melaksanakan dinas di Kantor
Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang sebagaimana jadwal berikut :
Tabel 4.3 Jadwal kegiatan

NO Kegiatan Tahapan Kegiatan Bulan/Minggu ke-


Agustus September Oktober November
3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 12
1 Melakukan 1. Membuat rencana
koordinasi dengan
atasan di seksi Lalu kegiatan yang akan
Lintas Keimigrasian dilakukan
2. Konsultasi Kegiatan Yang
Akan Kita Laksanakan
3. Meminta persetujuan
atasan tentang kegiatan
yang akan dilaksanakan

2 Menyiapkan
bahan
sosialisasi 1. Membuat draft
sosialisasi

59
2. Mengkonsultasikan draft
sosialisasi ke pimpinan
3. Memperbaiki draft
sosialisasi berdasarkan
masukan dan saran dari
pimpinan
4. Meminta persetujuan
atasan mengenai draft
sosialisasi
3 Mensosialisasi
kan kepada
pegawai bagian 1. Meminta izin kepada
pelayanan atasan untuk mengadakan
tentang jalur sosialisasi
layanan 2. Mengumpulkan pegawai
prioritas lansia bagian pelayanan
dan difabel 3. Memberikan sosialisasi
kepada pegawai bagian
pelayanan tentang
layanan prioritas lansia
dan difabel
4. Memberikan kesempatan
kepada pegawai lain
untuk bertanya jika ada

60
hal yang belum
dimengerti tentang
kegiatan yang akan
dilaksanakan dan juga
mengutarakan
pendapatnya
4 Pembuatan
Jalur Layanan 1. Menyiapkan bahan yang
Prioritas Lansia akan digunakan untuk
dan Difabel pembuatan jalur layanan
khusus lansia
2. Mengatur kursi yang
diperuntukkan untuk
Lansia dan Difabel
3. Pemasangan label pada
kursi yang akan
digunakan khusus untuk
antrian pemohon paspor
lansia dan difabel
4. Melaporkan pada
pimpinan tentang
kesiapan fasilitas yang
akan digunakan untuk
para antrian pemohon
paspor lansia dan difabel

61
5 Pelaksanaan 1. Menerima Pemohon
kegiatan Paspor
2. Mengatur antrian
pemohon paspor
3. Mengarahkan pemohon
paspor lansia dan difabel
untuk menuju ke tahapan
selanjutnya
4. Memandu pemohon
paspor lansia dan difabel
hingga seluruh proses
pembuatan paspor selesai

6 Evaluasi 1. Menyiapkan daftar


Kegiatan pertanyaan seputar
kepuasan berkaitan
dengan adanya layanan
khusus lansia dan difabel
2. Berkonsultasi dengan
pimpinan tentang daftar
pertanyaan yang akan
dibagikan ke pemohon
paspor

62
3. Membagikan kuesioner
kepada pemohon paspor
4. Menghitung nilai
kepuasan pemohonan
paspor berdasarkan
kuesioner yang telah diisi
7 Pelaksanaan
pembuatan 1. Membuatkan Laporan
laporan 2. Konsultasi kepada atasan
3. Membuat Laporan
Berdasarkan Hasil
Konsultasi Akhir

63
BAB. V

PENUTUP
1.1 Kesimpulan

Rancangan aktualisasi ini berisi rencana kegiatan yang akan dilakukan di Kantor
Imigrasi Kelas 1 Pangalpinang yang dapat digunakan oleh peserta pelatihan dasar
calon pegawai negeri sipil golongan III angkatan III Kementerian Hukum dan Ham
Kepulauan Bangka Belitung dalam mengaktualisasikan nilai-nilai dasar
akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti korupsi
(ANEKA) dan kedudukan peran PNS dalam NKRI. Rancangan aktualisasi ini
diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan mutu peserta pelatihan dasar calon
pegawai negeri sipil golongan III angkatan III dalam menjalankan tugas dan
fungsinya sebagai petugas Kantor Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang serta diharapkan
juga berkontribusi dalam mewujudkan visi, misi instansi serta dapat memperkuat
nilai organisasi.

1.2 Saran
Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan aktualisasi di Kantor
Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang, diharapkan COACH, MENTOR dapat

membimbing penulis secara optimal sehingga rancangan aktualisasi dapat


terlaksana dengan baik. Bagi kantor /tempat lokasi aktualisasi sekiranya dapat
membantu memfasilitasi dan mendukung kegiatan penulis selama melakukan
kegiatan Aktualisasi dengan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi nilai dan nilai
kedudukan dan peran PNS dalam NKRI

64
DAFTAR PUSTAKA

Indonesia, Undang-Undang 2009, Undang-Undang Republik Indonesia nomor 25


tahun 2009 tentang pelayanan publik, Jakarta.

Indonesia, Undang-Undang 2014, Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5


tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Jakarta.

Indonesia, Peraturan Menteri Hukum dan HAM 2016, Petunjuk Teknis Jabatan
Fungsional Analis Keimigrasian dan Angka Kreditnya 2016, Jakarta.

Indonesia, Peraturan Lembaga Administrasi Negara 2017, Pedoman


Penyelenggaraan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan
III 2017, Jakarta.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi


Pegawai Negeri Sipil, Modul Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan
Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III, Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Akuntabilitas, Modul Penyelenggaraan


Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan
III, Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Nasionalisme, Modul Penyelenggaraan


Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan
III, Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2014. Etika Publik, Modul Penyelenggaraan


Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan
III, Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Komitmen Mutu, Modul Penyelenggaraan


Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan
III, Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2015. Anti Korupsi , Modul Penyelenggaraan


Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan
III, Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

65
Lembaga Administrasi Negara, 2016. Pelayanan Publik, Modul Penyelenggaraan
Pendidikan dan Pelatihan Dasar Kader Pegawai Negeri Sipil, Jakarta:
Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2016. Manajemen ASN, Modul Penyelenggaraan


Pendidikan dan Pelatihan Dasar Kader Pegawai Negeri Sipil, Jakarta:
Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara, 2016. Whole of Government, Modul


Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Dasar Kader Pegawai Negeri
Sipil, Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

66
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. IDENTITAS DIRI
1 Nama Lengkap Falah Bilayudha, S.E
2 Jenis Kelamin Laki-Laki
3 Jabatan Fungsional Analis Keimigrasian Pertama
4 NIP 199308102017121001
5 Tempat, Tanggal Lahir Tanjungpandan, 10 Agustus 1993
6 Email falahbilayudha@gmail.com
7 Nomor Telepon/HP 082227890515
8 Instansi Kantor Imigrasi Kelas 1 Pangkalpinang
8 Alamat Kantor Jl Jendral Soedirman KM 3 Pangkalpinang
B. RIWAYAT PENDIDIKAN
S1 Profesi
Nama Perguruan Universitas Negeri Universitas
Tinggi Semarang Diponogoro
Bidang Ilmu Ekonomi Akuntansi Akuntansi
Tahun Masuk-Lulus 2011-2015 2015-2016
C. RIWAYAT PEKERJAAN
Instansi BFI Finance DPRD Kab. Imigrasi
Belitung
Jabatan General Audit Specialist Tenaga Ahli Analis
Fraksi Keimigrasian
Tahun 2016 2016-2017 2018-sekarang

67