Anda di halaman 1dari 20

CRITICAL BOOK REPORT

KOLOID

Disusun Oleh:
Kelompok 7:
1. YULIA PUTRI (5193250012)
2. DESI PASKALIA TINAMBUNAN (5193550011)
3. FADHIL AL HABIB (5193250004)
4. DION IQBAL (5193550025)
5. FRIANDA BASTIAN SIHOTANG (5193550003)

DOSEN PENGAMPU : MOONDRA ZUBIR Ph.D


MATA KULIAH : KIMIA
PRODI : TEKNIK SIPIL
FAKULTAS : TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun tugas
Critical Book Report ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam
tugas ini kami akan membahas mengenai kajian koloid

Critical Book Report ini telah dibuat dengan dari beberapa sumber dan
beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan
dan hambatan selama mengerjakan tugas ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan tugas Book Report ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada


Ciritical Book Report ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk
memberikan saran serta kritik yang dapat membangun. Kritik konstruktif dari
pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan tugas selanjutnya. Akhir kata
semoga tugas yang kami buat ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan
dapat memberikan nilai lebih pada proses pembelajaran mata kuliah Kimia Teknik

Medan, 21 November 2019

penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................


DAFTAR ISI..............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................


C. Tujuan ...............................................................................................
D. Manfaat ...............................................................................................

BAB II DESKRIPSI BUKU .....................................................................


A. Ringkasan Buku ....................................................................................
B. Kelebihan Buku ....................................................................................
C. Kekurangan Buku .................................................................................

BAB III PENUTUP ...................................................................................

A. Kesimpulan ...........................................................................................

B. Saran ...............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN

A. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem koloid beserta sifat-
sifatnya sehingga dapat diterapkan dalam dunia industri.
2. Untuk mengidentifikasi jenis-jenis sistem koloid sehingga mampu menerapkan
masing-masing jenis sistem koloid tersebut dengan tepat.

B. Manfaat Penulisan

1. Pembaca dapat mengetahui sistem koloid.


2. Pembaca mengetahui macam-macam sistem koloid.
3. Pembaca mengetahui sifat-sifat koloid.
4. Pembaca mengetahui proses pembuatan sistem koloid.
5. Pembaca mengetahui komponen sistem koloid, bentuk partikel dan kegunaannya
dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II DESKRIPSI BUKU
A.Buku Utama
Judul : Aktif Belajar Kimia
Pengarang : Budi Utami,Agung Nugroho,Lina
Mahardiani,Sri Yamtinah,Bakti Mulyani
Penerbit : Pusat Pembukuan Departemen
Pendidikan Nasional
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2009
ISBN : 978-979-068-179-8
Jumlah Halaman : 256

B. Buku Pembanding
Judul : Pandaun Pembelajaran Kimia
Pengarang :Suwardi, Soebiyanto,Th. Eka Widiasih
Penerbit : CV. Karya Mandiri Nusantara
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2009
ISBN : 978-979-068-717-2
Jumlah Halaman :218
BAB III PEMBAHASAN
A. Ringkasan Buku
1.Buku Utama
Pengertian Sistem Koloid
Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana
partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata
di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100
nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu
partikel.
Keadaan koloid atau sistem koloid atau suspensi koloid atau larutan koloid atau suatu koloid
adalah suatu campuran berfasa dua yaitu fasa terdispersi dan fasa pendispersi dengan ukuran
partikel terdispersi berkisar antara 10-7 sampai dengan 10-4 cm. Besaran partikel yang
terdispersi, tidak menjelaskan keadaan partikel tersebut.

Komponen Penyusun Koloid


Sistem koloid tersusun atas dua komponen, yaitu fasa terdispersi dan medium disperse(fasa
pendispersi). Fasa terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi
bersifat kontinu. Pada campuran susu dengan air yang disebut di atas, fasa terdispersi adalah susu,
sedangkan medium dispersi adalah air. Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi
disimpulkan dalam tabel berikut ini.

Larutan Koloid Suspensi


(Dispersi Molekuler) (Dispersi Koloid) (Dispersi Kasar)

1) Homogen, tak dapat dibedakan 1) Secara makroskopis bersifat ho- 1) Heterogen


walaupun menggunakan mi- mogen, tetapi heterogen jika 2) Salah satu atau semua dimensi
kroskop ultra diamati dengan mikroskop ultra partikelnya lebih besar dari 100
2) Semua partikel berdimensi (pan- 2) Partikel berdimensi antara 1 nm nm
jang, lebar, atau tebal) kurang sampai 100 nm 3) Dua fasa
dari 1 nm 3) Dua fasa 4) Tidak stabil
3) Satu fasa 4) Pada umumnya stabil 5) Dapat disaring
4) Stabil 5) Tidak dapat disaring, kecuali Contoh:
5) Tidak dapat disaring dengan penyaringan ultra air sungai yang keruh, campuran air
Contoh: Contoh: dengan pasir, campuran kopi de-
larutan gula, larutan garam, spiritus, sabun, susu, santan, jeli, selai, men- ngan air, dan campuran minyak
alkohol 70%, larutan cuka, air laut, tega, dan mayones dengan air
udara yang bersih, dan bensin
Jenis-jenis Koloid
Sistem koloid dapat dikelompokkan berdasarkan jenis fasa terdispersi dan fasa
pendispersinya.

Fasa Fasa
No. Nama Contoh
Terdispersi Pendispersi
1. padat Gas Aerosol padat asap (smoke), debu di udara
2. padat Cair sol sol emas, sol belerang, tinta, cat
3. padat Padat sol padat gelas berwarna, intan hitam
4. cair gas Aerosol cair kabut (fog)
5. cair cair emulsi susu, santan, minyak ikan
6. cair padat emulsi padat jeli, mutiara, opal
7. gas cair buih buih sabun, krim kocok
8. gas padat buih padat karet busa, batu apung

Koloid dalam Kehidupan Sehari-hari


a) Sebagai Bahan Kosmetik : foundation,face wash,shampo,pelembap
badan,deodorant,dsb
b) Tekstil : pewarna
c) Farmasi : Obat – obatan
d) Rumah tangga : Sabun Deterjen
e) Makanan : kecap dan saus

Sifat-sifat Sistem Koloid

1. Efek Tyndall
Mengenali sistem koloid dengan cara sangat sederhana adalah dengan menjatuhkan seberkas
cahaya (transparan), sedangkan koloid menghamburkannya. Oleh karena itu, berkas cahaya yang
melalui koloid dapat diamati dari arah samping, walaupun partikel koloidnya sendiri tidak
tampak. Jika partikel terdispersinya juga kelihatan, maka sistem itu bukan koloid melainkan
suspensi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita se-
ring mengamati efek Tyndall ini, antara lain:
1. Sorot lampu mobil pada malam yang
berkabut.
2. Sorot lampu proyektor dalam gedung
bioskop yang berasap atau berdebu.
3. Berkas sinar matahari melalui celah
daun pohon-pohon pada pagi hari yang
berkabut
2. Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi
tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). partikel-partikel tersebut akan bergerak
membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel
suatu zat senantiasa bergerak.
Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, atau hanya
bervibrasi di tempat seperti pada zat padat. Untuk koloid dengan medium pendispersi
zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan
partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown terjadi. Demikian
pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi.
Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak
ditemukan dalam zat padat (suspensi).
Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu system koloid, maka
semakin besar energi kinetic yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya.
Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat.
Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown
semakin lambat.

3. Absorpsi
Absorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada
permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel.
(Catatan : Absorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang
terjadi di dalam suatu partikel). Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena
permukaannya menyerap ion H+. (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena
permukaannya menyerap ion S2.

4. Muatan koloid
Dikenal dua macam koloid, yaitu koloid bermuatan positif dan koloid bermuatan
negatif.

5. Koagulasi koloid
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan
terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi
dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara
kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.

6. Koloid pelindung
Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari
proses koagulasi.
7. Dialisis
Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses
dialisis.

8. Elektroforesis
Elektroferesis ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan
menggunakan arus listrik.

Koloid Liofil dan Koloid Liofob


Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob.
Suatu koloid disebut koloid liofil apabila terdapat gaya tarik-menarik yang cukup besar antara zat
terdispersi dengan mediumnya. Liofil berarti suka cairan (Yunani: lio = cairan, philia = suka).
Sebaliknya, suatu koloid disebut koloid liofob jika gaya tarik-menarik tersebut tidak ada atau
sangat lemah. Liofob berarti tidak suka cairan (Yunani: lio = cairan, phobia = takut atau benci).
Jika medium dispersi yang dipakai adalah air, maka kedua jenis koloid di atas masing-masing
disebut koloid hidrofil dan koloid hidrofob.
Contoh:
• Koloid hidrofil: sabun, detergen, agar-agar, kanji, dan gelatin.
• Koloid hidrofob: sol belerang, sol Fe(OH)3, sol-sol sulfida, dan sol-sol logam

Perbedaan Sol Hidrofil dengan Sol Hidrofrob

No. Sol Hidrofil Sol Hidrofob

1. Mengadsorpsi mediumnya Tidak mengadsorpsi mediumnya


2. Dapat dibuat dengan konsentrasi yang relatif besar Hanya stabil pada konsentrasi kecil
3. Tidak mudah digumpalkan dengan penambahan elektrolit Mudah menggumpal pada penambahan elektrolit
4. Viskositas lebih besar daripada mediumnya Viskositas hampir sama dengan mediumnya
5. Bersifat reversibel Tidak reversibel
6. Efek Tyndall lemah Efek Tyndall lebih jelas

Pembuatan Sistem Koloid


Cara Kondensasi
Dengan cara kondensasi, partikel larutan sejati (molekul atau ion) ber-
gabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan dengan reaksi-reaksi
kimia, seperti reaksi redoks, hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau dengan
pergantian pelarut.
1) Reaksi Redoks
Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.
Contoh:
Pembuatan sol belerang dari reaksi antara hidrogen sulfida (H2S) dengan
belerang dioksida (SO2), yaitu dengan mengalirkan gas H2S ke dalam
larutan SO2.
2 H2S(g) + SO2(aq) ⎯⎯ 2 H2O(l) + 3 S (koloid)
2) Hidrolisis

Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air

Pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3. Apabila ke dalam air


mendidih ditambahkan larutan FeCl3, maka akan terbentuk sol Fe(OH)3.

FeCl (aq) + 3 H O(l) ⎯⎯ Fe(OH) (koloid) + 3 HCl(aq)


3 2 3

3) Dekomposisi Rangkap
Contoh 1:
Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutan
H2S.
2 H3AsO3(aq) + 3 H2S(aq) ⎯⎯ As2S3(koloid) + 6 H2O(l)

4) Penggantian Pelarut
koloid juga dapat terjadi dengan penggantian pelarut.

Contoh:
Apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol, maka
akan terbentuk suatu koloid berupa gel.

Cara Dispersi
Dengan cara dispersi, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid.
a) Cara Mekanik
Menurut cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumping atau peng-
giling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk
dengan medium dispersi.
Contoh:
Sol belerang dapat dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-
sama dengan suatu zat inert (seperti gula pasir), kemudian mencampur
serbuk halus itu dengan air.
b) Cara Peptisasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu
endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Zat pemeptisasi
memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid. Istilah peptisasi
dikaitkan dengan peptonisasi, yaitu proses pemecahan protein (polipeptida) yang
dikatalisis oleh enzim pepsin.
Contoh:
Agar-agar dipeptisasi oleh air, nitroselulosa oleh aseton, karet oleh bensin,
dan lain-lain. Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S dan endapan Al(OH)3 oleh
AlCl3.

c) Cara Busur Bredig


Cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang
akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan dalam
medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujungnya.
Mula-mula atom-atom logam akan terlempar ke dalam air, lalu atom-atom
tersebut mengalami kondensasi, sehingga membentuk partikel koloid. Jadi, cara
busur ini merupakan gabungan cara dispersi dan cara kondensasi
2. Buku Pembanding

A.Komponen dan Pengertian Sistem Koloid

1. Pengertian Sistem Pengertian Koloid

Isitilah "koloid" pertama kali diusulkan oleh Thomas Graham (1805-1869) dari Inggris sewaktu
mempelajari sifat difusi beberapa larutan yang berdisfusi melalui membran kertas perkamen.

Tahun 1907, Ostawald mengemukakan istilah siistem terdispersi bagi zat yang terdispersi dalam
suatu medium terdispersi. Tahun 1912, Richard Esignondi (jerman?), Mendesain mikroskop ultra
untuk mengamati partikel-partikel terlarut termasuk partikel koloid.

2. Jenis-Jenis Koloid

Fase terdispersi (fase dalam) maupun medium pendispersi (fase luar) dalam suatu sisitem
koloid dapat berupa gas, padat dan cair. Fase terdispersi (fase dalam) adalah zat yang jumlahnya
sedikit, sedangkan zat yang jumlahnya banyak disebut medium pendispersi (fase luar). Namun perlu
dikemukakan bahwa campuran gas dengan gas tidak membentuk sistem koloid, sebab semua gas
akan bercampur homogen dalam segala perbandingan.

Berdasarkan hal tersebut, sistem koloid dapat dibedakan menjadi 8 jenis seperti berikut ini:

A. Busa atau Buih

Buih merupakan sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair, jika pendispersi ya
berupa zat padat disebut buih padat. Buih dapat digunakan dalam berbagai proses misalnya pada
pengolahan bijih logam serta pada alat pemadam kebakaran.

Tabel sistem Koloid

Fase Medium
JenisKoloid Contoh
Terdispersi Pendispersi
Padat Padat Sol padat Sol Intan hitam, kaca rubi Cat,
Cair selai, pati dalam air Debu,
Gas Aerosol padat asap

Cair Padat Emulsi padat Keju, mentega Susu,


Cair Emulsi mayones Kabut,
Gas Aerosol cair awan

Gas Padat Busa padat Batu apung, karet busa


Cair Busa Krim kocok, busa sabun

B. Aerosol

Hair spray merupakan partikel cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Apabila zat yang
terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat, sedangkan jika terdispersi berupa zat cair disebut
aerosol cair.

Contoh aerosol padat : asap dan debu di udara,sedangkan

Contoh aerosol cair : kabut dan awan.

C. Emulsi

Emulsi merupakan sistem koloid yang fase terdispersinya berupa zat cair yang
didispersikan dalam padatan, cairan, atau gas. Jadi, emulsi dibedakan menjadi tiga jenis
berdasarkan medium pendispersinya.

1.)Jika medium pendispersinya berupa zat padat, maka sistem


koloidnya disebut emulsi padat. Sebagai contoh keju, di mana
lemak mentega didispersikan dalam kasein (protein susu) dan
mentega. Ada juga jenis emulsi padat yang disebut sebagai gel.
Gel merupakan sistem koloid yang setengah kaku (antara padat
dan cair). Misalnya gelatin dan silikagel.

2.)Jika medium pendispersinya berupa zat cair, maka sistem


koloidnya disebut emulsi. Misalnya, susu dan mayones, di
manaketiganyaterdiridariminyakyangterdispersidalamair.

3.)Jika medium pendispersinya berupa gas, maka sistem koloidnya


disebut aerosol cair. Sebagai contoh adalah kabut dan awan, di
mana partikel-partikel air terdispersi dalam udara, produkindustri
dalam bentuk spray (semprot), seperti hairspray, pengharum
ruangan, obat nyamuksemprot.

B. Sifat-Sifat Koloid

Sistem koloid memiliki sifat-sifat yang khas, yang membedakannya


dari campuran yang lain. Berikut ini akan dijelaskan empat sifat koloid,
yaitu efek Tyndall, gerak Brown, adsorpsi, dan koagulasi.
1. Efek Tyndall

Coba kalian perhatikan cahaya matahari yang masuk ke dalam


kamar kalian melalui ventilasi jendela di pagi hari. Apa yang kalian lihat?
Partikel-partikel debu beterbangan di udara, bukan? Setiap saat partikel
debu juga beterbangan di sekitar kalian namun karena ukurannya yang
sangat kecil, maka tidak terlihat oleh mata biasa. Mengapa partikel
debu bisa terlihat ketika ada berkas cahaya?Ternyata, cahaya yang
melewati partikel debu akan dihamburkanoleh debu tersebut sehingga
debu jadi bisa terlihat.
Partikel koloid dapat menghamburkan cahaya karena ukurannya yang cukup besar.
Tidak seperti koloid, larutan sejati tidak dapat menghamburkan cahaya. Sebenarnya
larutan sejati juga dapat menghamburkan cahaya karena pada dasarnya semuagas dan
cairan dapat menghamburkan cahaya.

Cara membedakan larutan dengan koloid efek Tyndall

Beberapa contoh lain dari efek Tyndall ini dapat kalian amati pada warna langit siang
hari. Penghamburan cahaya oleh molekul udara di atmosfer menyebabkan langit berwarna
biru. Jika kalianmengendarai kendaraan bermotor dan lewat jalan yang berkabut, maka
cahaya kendaraan bermotor akan dihamburkan oleh kabut sehingga cahaya lampu tampak
lebih terang.

2. Gerak Brown

Jika kalian mengamati suatu sistem koloid menggunakan mikroskop ultra, maka
kalian akan melihat partikel-partikel koloid bergerak terus- menerus secara acak (tidak
beraturan) dalam lintasan lurus yang berliku-liku. Gerak acak dari partikel koloid
ditemukan pertama kali oleh ahli botani dari Inggris yang bernama Robert Brown
(1827) berdasarkan pengamatannya pada gerak partikel serbuk sari dalam suatu
cairan. Olehkarena itulah, gerak acak partikel koloid dalam medium pendispersi ini
kemudian dikenal sebagai gerak Brown.

Adanya gerak Brown mengakibatkan partikel-partikel koloid dalam


sistem koloid menjadi relatif stabil karena gerakan yang terus-menerus
akibat tumbukan dari partikel koloid akan mengurangi pengaruh gaya
gravitasi.
3. Adsorbsi
Partikel koloid memiliki luas permukaan yang sangat besar. Pada
permukaan partikel koloid tersebut terdapat gaya Van der Waals yang
belum terimbangi atau gaya valensi yang dapat menarik dan mengikat
ion atau molekul yang lain. Peristiwa penyerapan ion atau molekul
oleh permukaan partikel koloid disebut sebagai adsorpsi.
Bila permukaan partikel koloid menyerap ion
yangbermuatan
positif,makakoloidtersebutmenjadibermuatanpositif.Sebagai
contoh adalah koloid Fe(OH) 3 bermuatan positif karena
permukaannya menyerap ion H+. Sebaliknya, bila
permukaan
partikelkoloidmenyerapionyangbermuatannegatif,makakoloid
tersebut menjadi bermuatan negatif. Misalnya, koloid
As 2 S 3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ionS2–
.

4. Koagulasi
Proses penggumpalan partikel-partikel koloid dalam suatu
sistem koloiddisebut kongulasi. Koagulasi berfungsi untuk
memisahkan fase terdispersi dari medium pendispersinya.

Koagulasi koloid dapat terjadi dengan dua cara, yaitu cara mekanik
dan cara kimia:
a. Cara Mekanik
Penggumpalan partikel-partikel koloid secara mekanik dapat
dilakukan dengan pemanasan atau pendinginan. Sebagai contoh, jika
kalian merebus telur, maka albumin (protein dalam telur) yang
merupakan sistem koloid akan menggumpal karena adanya
pemanasan. Albumin juga terdapat dalam darah. Akibatnya jika darah
dipanaskan akan menggumpal. Sebaliknya, jika kalian membuat
agar-agar atau jelly, maka sistem koloid tersebut harus didinginkan
supayamenggumpal.
b. Cara Kimia
Penggumpalan partikel koloid juga dapat dilakukan secara kimia,
yaitu dengan menambahkan larutan elektrolit atau
mencampurkan koloid yang berbedamuatan.
1. Penambahan Larutan Elektrolit
2.PenambahanKoloidyangBerbedaMuatan
5. Stabilisasi Sistem Koloid
Pada umumnya sistem koloid relatif stabil, meskipun masih
kurang stabil jika dibandingkan dengan larutan. Untuk tujuan-
tujuan tertentu, sistem koloid harus dijaga supaya berada pada
keadaan yang stabil, terutama pada pembuatan suatu produk
industri.Misalnya,bedakcair,susupembersihmuka,krimminyak
rambut,obat-obatan,ataubahanmakanandanminumanlainnya.
Untuk menstabilkan sistem koloid dapat dilakukan dengan
penambahankoloidpelindungataudenganmenghilangkanmuatan
koloid.
6.Koloid Liofil dan KoloidLiofob

Dalam sistem koloid yang berupa sol terjadi interaksi antara fase terdispersi yang
berupa padatan dengan medium pendispersi yang berupa air. Berdasarkan interaksi
tersebut, sol dibagi ke dalam dua golongan liofil utama, yaitu koloid liofil (koloid hidrofil)
dan koloid liofob (koloid hidrofob).

Sifat Koloid Liofil Koloid Liofob

Efek Tyndall Adsorpsi Lemah (kurang jelas) Kuat (sangat jelas) Tidak
terhadap medium Mudah mengadsorpsi mengadsorpsi medium
pendispersi Muatan medium pendispersinya pendispersinya Bermuatan
partikel Muatan kecil atau positif atau negatif

tidak bermuatan Kurang stabil Hampir


Lebih stabil Lebih samadengan
Stabilitas
besardari
medium pendispersinya
Viskositas(kekentalan)
medium pendispersinya Mudah mengalami
Sukar mengalami koagulasi koagulasi
Koagulasi

C. Pembuatan Sistem Koloid

1.CaraKondensasi

Pembuatan koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan


mengubah ukuran partikel larutan yang berupa ion, atau
molekulmenjadi partikel koloid melalui beberapa reaksi kimia, antara
lain:
a.ReaksiReduksi-Oksidasi

Reaksi oksidasi-reduksi (atau disingkat reaksi redoks)


merupakan reaksi yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi.
Koloid yang terbentuk melalui reaksi ini merupakan hasil oksidasi
ataureduksi.Sebagaicontoh,pembuatansolbelerangdarilarutan SO2
dilakukan dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan
tersebut.
2H2S(g) + SO2(aq) 3S(s)+2H2O(l)

Contoh yang lain adalah pembuatan sol emas dari larutan


garamnya,AuCl3denganmereduksilarutantersebutmenggunakan
pereduksi organik formaldehid(HCOH).
2AuCl3(aq) + HCOH (aq) + 3H2O(l)2Au(s) + HCOOH(aq) + 6HCl(aq)

b.ReaksiHidrolisis

Reaksi hidrolisis merupakan reaksi suatu senyawa dengan air. Pada


pembuatan koloid melalui reaksi hidrolisis, suatu larutanyang berupa
garam direaksikan dengan air sehingga dihasilkan suatu sistem koloid.
Sebagai contoh, pembuatan sol Fe(OH)3 darilarutan FeCl 3 dengan
mereaksikan larutan tersebut dengan air mendidih.
FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)

Contoh yang lain adalah pembuatan sol Al(OH) 3 dari larutan AlCl3
dengan mereaksikan larutan tersebut dengan air mendidih.
AlCl3(aq) + 3H2O(l) Al(OH)3(s) + 3HCl(aq)

c.ReaksiSubstitusi

Reaksi substitusi merupakan suatu reaksi yang


melibatkanpertukaran ion. Koloid dihasilkan dari pertukaran ion-ion
dalam reaktan-reaktannya. Sebagai contoh, pembuatan sol As2S 3

larutan asam arsenit (H3AsO3) dengan mengalirkan gas H2S ke dalam


larutan tersebut sampai terbentuk sol AS 2S3 yang berwarna kuning
terang.
2H3AsO3(aq) + 3H2S(g) As2S3(s) + 6H2O(l)

Contoh yang lain adalah pembuatan sol AgCl dari larutan AgNO 3
denganmereaksikanlarutantersebutdenganlarutanHClencer.
AgNO3 (aq) + HCl (aq) AgCl (s) +HNO3 (aq)

d.Penggantian Pelarut

Pembuatan koloid dengan penggantian pelarut dilakukan dengan


cara melarutkan suatu zat dalam pelarut yang sesuai kemudian
didispersikan ke dalam medium pendispersinya untuk membentuk
suatu koloid. Sebagai contoh, pembuatan sol belereng dalam air.
Belerang sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam alkohol,
misalnya etanol. Jadi, untuk membuat sol belerang dalam air,
larutan belerang dalam etanol tersebut ditambahkan sedikit demi
sedikit ke dalam air sambil diaduk. Akibat adanya penurunan
kelarutan belerang dalam air, belerang akan menggumpal menjadi
partikel koloid dan terbentuk sol belerang.
2.CaraDispersi

Pembuatan koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan


mengubah partikel suspensi menjadi partikel koloid. Hal itu dapat
dilakukansecaramekanikataukimia.
A.CaraMekanik

Pembuatan koloid dengan cara dispersi dapat dilakukan secara


mekanik, yaitu melalui penggilingan/penggerusan. Partikel
suspensi dihancurkan atau dihaluskan menjadi partikel koloid
dengan cara digerus/digiling kemudian didispersikan ke dalam
suatu cairan sehingga membentuk sol. Misalnya, jika kalian akan
membuat sol belerang, dilakukan dengan mencampur belerang
dengan gula kemudian digerus sampai halus. Setelah itu
didispersikan ke dalam air.
Dalam skala industri, alat yang digunakan untuk
menghaluskan partikel suspensi atau zat padat lainnya disebutalat
penggilingan koloid. Alat ini terdiri dari dua pelat baja dengan arah
rotasi yang berlawanan. Partikel-partikel kasar dimasukkan ke
ruang antara kedua pelat tersebut kemudian digiling. Partikel-
partikel berukuran koloid yang terbentuk kemudian
didispersikankedalammediumpendispersinyauntukmembentuksisi
stem koloid.
Beberapa industri yang menerapkan pembuatan koloid dengan cara
ini dalam membuat produk-produknya, antara lain:
1.Industri makanan untuk membuat jus buah, sirup, selai, es krim, dan lain-lain.

2.Industri bahan-bahan kimia untuk membuat pasta gigi,


detergen, semir sepatu, tinta, cat, bahan pelumas, dan lain- lain.
3.Industri farmasi untuk membuat obat-obatan dalam bentuk sirup, danlain-lain.

B.Peptisasi
Peptisasi adalah proses pemecahan partikel suspensi atau
endapan hasil reaksi kimia menjadi partikel berukuran koloid
dengan penambahan suatu zat kimia tertentu. Zat kimia yang
digunakan untuk memecah partikel tersebut disebut zat
pemeptisasi.Zatpemeptisasidapatberupaelektrolit,terutamayang
mengandung ion sejenis atau pelarut tertentu. Sebagai contoh, untuk
membuat sol Fe(OH)3, endapan Fe(OH)3 ditambahkan dengan elektrolit
FeCl3 (yang juga memiliki ion Fe 3+). Endapatn Fe(OH) 3 akan
mengadsorpsi ion Fe3+ sehingga endapan menjadi bermuatan positif dan
saling memisahkan diri untuk membentuk partikel- partikelkoloid.
Contoh:

1)Sol NiS dibuat dengan cara menambahkan gas H2S ke dalam endapanNiS.

2)Sol Al(OH)3 dibuat dengan cara menambahkan AlCl3 ke dalam


endapanAl(OH)3.
3)Sol AgCl dibuat dengan cara menambahkan HClke dalam
endapan AgCl.

4)Karet dibuat menjadi sistem koloid dengan menambahkan bensin.

C.Proses Bredig (CaraListrik)

Proses Bredig digunakan untuk membuat sol-sol dari logam,


misalnya dalam pembuatan sol emas, perak, platina, dan tembaga.
Dalam proses Bredig, logam yang akan diubah menjadi partikel- partikel
koloid digunakan sebagai elektroda. Dua elektroda logam dicelupkan ke
dalam medium pendispersi (air dingin) dengan kedua ujung saling
berdekatan dan diberi loncatan listrik. Panas yang timbul menyebabkan
logam tersebut menguap. Uap yang dihasilkan akan terkondensasi
dalam medium pendispersinya dan membentuk partikel-partikel koloid.

B.Kelebihan Buku
a. buku Utama
1. Menerapkan fungsi koloid dalam kehidupan sehari-hari
2. banyak menjelaskan reaksi kimia dalam koloid
3. Materi yang disajikan jelas
4.memberikan informasi reaksi pembuatan sol emas

b. buku pembanding
1.) Dilihat dari segi cover, sangat jelas buku ini membahas tentang
"Kimia".
2.) Materi yang disajikan dalam buku tentang koloid sangat jelas
sehingga akan mempermudah kita untuk memahami materi koloid.
3.) Dari segi isi, buku ini memuat beragam materi tentang kimia
salah satunya materi tentang koloid.
4.) Dalam buku ini terdapat 9 bab, dalam materi 9 bab ini membahas
materi yang berbeda dari teori mekanika mekanika kuantum sampai
ke sistem koloid. Tujuan dibuat pemisahan materi dalam setiap bab,
untuk mempermudah kita memahami materi ataupun isi dari buku
tersebut.
5.) Dalam buku ini juga disajikan gambar-gambar yang sesuai materi
yang sedang dipaparkan sehingga membuka kita mudah untuk
membayangkannya.
6.) Setelah materi satu bab di jelaskan maka akan ada uji latihan
soal, uji latihan soal ini bertujuan untuk melatih kita ataupun
mengingatkan kita pada materi yang telah kita bahas sebelumnya.
7.) Dan buku ini sangat cocok untuk melakukan CBR , selain karena
data yang dimuat sangat lengkap, bahasanya juga mudah untuk
dipahami.
C.Kekurangan Buku
a. Buku Utama
1. kurangnya praktik dalam penerapan koloid
2.Tampilan cover kurang menarik karna warnanya kurang cerah
3.Pemilihan diksi pada materinya bertele – tele

b. Buku Pembanding
1.) Buku ini tidak membahas secara mendetail, materi yang disajikan
adalah garis besar yang sering kita dengar.
2.) Buku ini juga memuat beberapa tabel kimia, yang sulit kita untuk
pahami, sehingga kita memerlukan seseorang untuk menjelaskannya
secara mendetail sehingga kita mudah untuk memahami tabel tersebut.

BAB III PENUTUP

A. Simpulan

I. Partikel koloid dapat menghamburkan cahaya sehingga berkas cahaya yang


melalui sistem koloid. Dapat diamati dari samping sifat partikel koloid ini
disebut efek Tyndall.
II. Jika diamati dengan mikroskop ultra ternyata partikel koloid senantiasa bergerak
dengan gerak patah-patah yang disebut gerak Brown. Gerak Brown terjadi
karena tumbukan tak simetris antara molekul medium dengan partikel koloid.
III. Koloid dapat mengadsorpsi ion atau zat lainpada permukaannya, dan oleh karena
luas permukaannya yang relatif besar, maka koloid mempunyai daya adsorpsi
yang besar.
IV. Adsorpsi ion-ion oleh partikel koloid membuat partikel koloid menjadi
bermuatan listrik. Muatan koloid menyebabkan gaya tolak-menolak di antara
partikel koloid, sehingga menjadi stabil (tidak mengalami sedimentasi).
V. Muatan partikel koloid dapat ditunjukkan dengan elektroforesis, yaitu
pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.
VI. Penggumpalan partikel koloid disebut koagulasi. Koagulasi dapat terjadi karena
berbagai hal, misalnya pada penambahan elektrolit. Penambahan elekrolit akan
menetralkan muatan koloid, sehingga faktor yang menstabilkannya hilang.
VII. Koloid yang medium dispersinya berupa cairan dibedakan atas koloid liofil dan
koloid liofob. Koloid liofil mempunyai interaksi yang kuat dengan mediumnya;
sebaliknya, pada koloid liofob interaksinya tersebut tidak ada
VIII. Koloid dapat dibuat dengan cara dispersi atau kondensasi. Pada cara dispersi,
bahan kasar dihaluskan kemudian didispersikan ke dalam medium dispersinya.
Pada cara kondensasi, koloid dibuat dari larutan di mana atom atau molekul
mengalami agregasi (pengelompokan), sehingga menjadi partikel koloid.
IX. Asbut adalah suatu bentuk pencemaran yang merupakan sistem koloid.
B. Saran

Sistem Koloid harus dipelajari karena berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan kita
sehari-hari. Cairan tubuh seperti darah adalah sistem koloid. Bahkan bahan makanan seperti
susu, keju, nasi,roti,saus, dan kecap adalah sistem koloid. Cat, dan berbagai jenis obat, bahan
kosmetik, juga merupakan sistem koloid. Sehingga sistem koloid ini harus kita ketahui karena
tidak hanya bersifat untung dalam kehidupan tetapi juga ada dampak / kerugiannya bagi
kehidupan kita.
Dan buku utama maupun buku pembanding sangat cocok digunakan dalam melakukan
CBR. Karena mempunyai kesamaan materi contohnya tentang koloid. Namun yang paling
cocok digunakan adalah buku utama karena materi yang dipaparkan lebih lengkap daripada
buku pembanding, sehingga kami membuat jadi buku utama.