Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

OBAT TETES MATA

OLEH

NAMA : GHAITSA ZAHIRA SOPHA YUSUF

NIM : 754840118012

KELOMPOK : IV (EMPAT)

PEMBIMBING : RIZKA PUJI ASTUTI DAUD, S.Farm., Apt.

PRODI D-III FARMASI


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES GORONTALO
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sediaan farmasi meliputi berbagai macam sediaan. Diantaranya
sediaan padat, semi padat dan cair. Selain itu terdapat juga sediaan galenik
dan sediaan steril. Sediaan steril termasuk sediaan yang agak rumit karena
pengerjaannya harus memperhatikan keadaan bahan, alat dan lingkungan
yang steril serta pengerjaan yang dilakukan secara aseptik dan juga harus
hati-hati untuk menghindari terjadinya kontaminasi mikroba dan bahan asing.
Salah satu contoh sediaan steril yaitu obat tetes mata (guttae opthalmic
(Muchid, 2009).
Sediaan obat mata (optalmika) adalah tetes mata (Oculoguttae), salep
mata (Oculenta), pencuci mata (Colyria) dan beberapa bentuk pemakaian
yang khusus (lamella dan penyemprot mata) serta insert sebagai bentuk depo
yang ditentukan untuk digunakan pada mata utuh atau terluka. Obat mata
digunakan sebagai efek terapetik lokal. Obat mata ini pada dasarnya dapat
dibagi menjadi tiga macam yaitu tetes mata (Oculoguttae), salep mata
(Oculenta) dan pencuci mata (Colyria) (Lukas, 2011).
Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi
yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata
disekitar kelopak mata dari bola mata (Depkes, 1979). Tetes mata digunakan
untuk menghasilkan efek diagnostik, terapeutik lokal dan yang lain untuk
merelaksasikaan bahan obat dalam jaringan yang umumnya terdapat disekitar
mata (Voight, 1995).
Pembuatan tetes mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal
kebutuhan akan formulasi baik berupa zat tambahan atau toksisitas bahan
obat, sterilisasi dan kemasan yang tepat. Hal yang melatarbelakangi dalam
pembuatan sediaan tetes untuk mengetahui formulasi dan cara pembuatan dari
obat tetes mata.
B. Tujuan percobaan
1. Mengetahui cara memformulasikan sediaan obat tetes mata
2. Mengetahui cara membuat sediaan obat tetes mata
3. Mengetahui cara mengevaluasi sediaan obat tetes mata
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
a. Obat Mata
Sediaan obat mata (optalmika) adalah tetes mata (Oculoguttae),
salep mata (oculenta), pencuci mata (Colyria), dan beberapa bentuk
pemakaian yang khusus (lamella dan penyemprot mata) serta insert
sebagai bentuk depo yang ditentukan untuk digunakan pada mata utuh
atau terluka. Obat mata digunakan sebagai efek terapetik lokal (Lukas,
2011).
Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel asing,
merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga
sesuai digunakan pada mata. (Depkes RI, 2014).
Obat mata pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga macam
yaitu: (Lukas, 2011)
1. Tetes mata (Oculoguttae)
2. Salep mata (oculenta)
3. Pencuci mata (Colyria)
b. Tetes mata
1. Definisi tetes mata
Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau
suspensi yang digunaka dengan cara meneteskan obat pada selaput
lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata (Depkes, 1979).
Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak
dari alkaloid garam-garam alkaloid, antibotik atau bahan-bahan lain
yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam mata. Ketika cairan,
larutan harus isotonik, larutan mata digunakan untuk antibakterial,
anstetik, midriatikum, miotik atau maksud diagnosa. Larutan ini
disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium) (Jenkins,
1969)
Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau
suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam saccus
conjungtival. Mereka dapat mengandung bahan-bahan antimikroba
seperti antibiotik, bahan antiinflamasi, obat miotik atau obat (Ansel,
1989).
2. Keuntungan dan Kerugian Tetes Mata
1) Keuntungan Tetes Mata
a) Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan dan
menggambarkan larutan suatu mata dengan defenisi semua
bahan-bahan lengkap dalam larutan keseragaman tidak
menjadi masalah hanya sedikit pengaruh sifat fisika dengan
tujuan ini (Gennaro, 1998).
b) Larutan mata yng viskositasnya bertambah akan tinggi
dalam mata untuk periode waktu yang lebih lama sehingga
meningkatkan bioavabilitas obat (Ansel, 1989).
2) Kerugian Tetes Mata
a) Kerugian yang prinsipnya dari larutan mata relative singkat
antara obat dan permukaan yang terabsorbsi serta hanya
dapat bekerja pada bagian karena iris dan konjunctiva
(Gennaro, 1998).
b) Diberikan pada volume yang kecil maupun kapasitas mata
menahan dan menyimpan terbatas (Ansel, 1989).
3. Anatomi mata dan wilayah kerja Tetes Mata
Berdasarkan tempat konjunctiva, tetes mata bekerja pada
konjunctiva kornea dan iris. Penggunaan tetes mata akan
menghasilkan efekmyang bervariasi dari obat pada bagian
konjunctiva, kornea dan iris (Gennaro, 1998).
4. Syarat-syarat Tetes Mata
Menurut Jenkins (1969), syarat-syarat tetes mata yaitu:
1) Steril
2) Dalam pembawa yang mengadung bahan-bahan germisidal
untuk meningkatkan sterilitas
3) Bebas dari partikel yang tersuspensi
4) Bahan-bahan yang akurat
5) Isotonik atau sangat mendekati isotonic
6) Dibuffer sebagaimana mestinya
7) Dimasukkan dalam wadah yang steril
8) Dimasukkan dalam wadah yang kecil dan praktis
5. Komposisi Tetes Mata
1) Zat aktif (bahan obat)
Bahan obat yang khas digunakan pada mata
(Opthalmologika) adalah pelebar pupil (midriatika), seperti
atropine, S kopolamin, fenilefrin dan ephinefrin dan bahan
dengan kerj perixampit pupil (miotika) seperti pilokarpin,
fisostigmin, neostigimin, dan paraixo (miotosal). Untuk melaan
proses infeksi diguunakan antibiotic (misalnya klormfenikol,
titotisin) disamping garam perak untuk mengobati rasa nyeri
digunakan anestetika local (misalnya kokain, tetrakain).
Akhirnya juga diperlukan bahan antiplogistik (misalnya seng
sulfat, kartikosteroida) (Voight, 1995).
2) Zat tambahan
Adapun zat tambahan dari tetes mata diantaranya adalah :
(Ansel, 1989)
a) Pengisotonis
b) Pendapar
c) Pengental
d) Pengawet
e) Antioksidan
f) Pensuspensi (untuk suspensi)
g) Pembawa/pelarut
6. Cara penggunaan tetes mata
Menurut Gennaro (1998), Penggunaan Tetes Mata yaitu :
1) Cuci tangan
2) Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian
bawah
3) Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika
enates dimasukkan ke dalam botol untuk membawa larutan ke
dalam enates
4) Tempatkan penates di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak
mata bagian bawah sambil melihat ke atas jangan menyentuhkan
enates pada mata atau jari.
5) Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka
dan jangan berkedip paling kurang 30 detik
6) Jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan
tutup rapat
B. Uraian bahan
a. Aquadest (Depkes, 1979)
Nama bahan : AQUA DESTILATA
Nama lain : Air suling
Rumus molekul : H2O
BM : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau, tidak berasa dan
tidak berwarna
Kelarutan :-
Khasiat : Pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
a. Asam sitrat (Depkes, 1979; Rowe, 2009)
Nama bahan : ACIDUM CITRICUM
Nama lain : Asam Sitrat
Rumus Molekul : C6H8O7.H2O
BM : 210.14
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk putih tidak
berbau. Rasa sangat asam, agak higroskopis,
merapuh dalam udara kering dan panas.
Kelarutan : Larut dalam kurang dari 1 bagian air dan dalam 1,5
bagian etanol (95%) P, sukar larut dalam eter.
Khasiat : Pengdapar
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Stabilitas : Bentuk monohidratnya akan kehilangan hidratnya
karena kristalisasi pada udara kering atau suhu
panas
Inkompatibilitas : Kalium tartrat, alkali dan karbonat alkali dan tanah,
bikarbonat, asetat dan sulfide
b. Dexametaxon (Depkes, 1995; Gan Sulistia, 1987)
Nama Resmi : DEXAMETHASONUM
Nama lain : Deksametason
Rumus Molekul : C22H29FO5
Berat Molekul : 392,47
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, putih atau hampir putih,
tidak berba, rasa agak pahit
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, tidak larut dalam 42
bagian etanol (95%) P dan dalam 165 bagian
kloroform
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Stabilitas : Stabil diudara, melebur pada suhu lebih kurang
250o disertai penguraian
Inkompatibilitas : Inkompabilitas terhadap senyawa-senyawa alkohol
Indikasi : Anti histamin, anti inflamasi
Farmakologi : Setelah pemberian oral, AH1 diabsorbsi secara
baik, efeknya timbul dalam 15-30 menit setelah
pemberian oral dan maksimal setelah 1-2 jam.
Lama kerja AH1 setelah pemberian dosis tunggal
kira-kira 4-6 jam
Farmakokinetik : Dapat diabsorbsi dengan baik secara oral. Efek
timbul dalam 15-30 menit setelah pemberian oral
dan maksimal 1-2 jam. Lama kerjanya setelah
pemberian dosis tunggal umumnya 4-6 jam
Farmakodinamik : Menstabilkan membran sel mast, penghambat
migrasi meosinofil, menghambat pembebasan
mediator pada antigen-antibodi, menghambat
aktivitas trombosit yang diperantarai oleh IgE
(Imunoglobin)
Kontra indikasi : Tukak lambung, glaukoma, ostoporosis, psikosis,
psikoneorosis berat, infeksi bakteri akut, penderita
TBC akut, herpes zozter, herpes simplex, infeksi
fungsi sitemik dan sindrom cushing
Efek samping : Pemakaian jangka lama pada anak tidak
dianjurkan, pengaruh pada reseptor alfa adrenergik
menyebabkan pembuluh darah mukosa, kulit dan
ginjal, penglihatan kabur, rasa ngantuk, pusing dan
sakit kepala.
Dosis : 250-500 mg per tablet
c. Metil selulosa (Depkes, 1979; Rowe, 2009)
Nama Resmi : METHYL CELLULOSE
Nama Lain : Metil Selulosa
Pemerian : Serbuk putih, bubuk berserat atau butiran, tidak
berbau dan berasa.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air panas,dalam alkohol,
dalam aseton dan toluen, larut dalam air dingin.
Stabilitas : Stabil meskipun sedikit higroskopis,stabil untuk
alkalis dan larutan asam encer pada pH 3 – 11,
stabil pada suhu kamar.
Inkompatibilitas : Dengan aminacrine hidroklorida,chlorocresol,
klorida merkuri, fenol,resorsinol, Asam tannic,
perak nitrat, klorida cetylpyridinium,
hidroksibenzoatasam, paminobenzoic, methyl
paraben, propil paraben dan butil paraben.
Penyimpanan : Dalam wadah kedap udara.
d. Metil Paraben (Depkes, 1979; Rowe, 2009)
Nama Resmi : METHYL HYDROXYBENZOATE
Nama lain : Metil Paraben, nipagin, Methyl-4-hydroxybenzoate
RM/BM : C8H8O3 / 152.15
Pemerian : Serbuk hablur putih, hampir tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti
rasa tebal.
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, 20 bagian
airmendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%) P
dan dalam 3 bagian aseton P, mudah larut
dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Stabilitas : Larutan metilparaben pada pH 3-6 dapat disterilkan
dengan autoklaf pada suhu 120° C selama 20
menit, tanpa penguraian. Larutan ini stabil selama
kurang lebih 4 tahun dalam suhu kamar, sedangkan
pada pH 8 atau lebih dapat meningkatkan laju
hidrolisis
Inkompatibilitas : Aktivitas antimikroba metil paraben dan paraben
lainnya sangat berkurang dengan adanya surfaktan
nonionik, seperti polisorbat 80, sebagai akibat dari
miselisasi. Namun propilen glikol (10%) telah
terbukti mempotensiasi aktivitas antimikroba dari
paraben dengan adanya surfaktan nonionik dan
mencegah interaksi antara metil paraben dan
polisorbat.
b. NaCl (Depkes, 1979; Rowe, 2009)
Nama bahan : NATRII CHLORIDUM
Nama lain : Natrium klorida
Rumus molekul : NaCl
BM : 458,44
Pemerian : Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk
kristal putih, tiap 1g setara dengan 17,1 mmol
NaCl.
Kelarutan : 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian
gliserol
Khasiat : Pengisotonis
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat
menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas
Inkompatilitas : Cairan natrium klorida encer bersifat korosif
terhadap besi. Bereaksi membentuk endapan
dengan perak, timah, dan garam raksa.
Pengoksidasi kuat yang melepaskan klorin dari
larutan natrium klorida. Daya larut dari bahan
pengawet metilparaben dapat menurun dalam
larutan natrium klorida.
c. Natrium sitrat (Depkes, 1979; Rowe, 2009)
Nama bahan : NATRII CITRAS
Nama lain : Natrium Sitrat
Rumus molekul : C6H5Na3O7.2H2O
BM : 294,10
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk putih
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam
air mendidih, praktis tidak larut dalam etanol
(95%).
Khasiat : Pengdapar
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Sabilitas : Cukup stabil dan larutan dapat disterilkan dengan
autoklaf
Inkompatibilitas : Agen pereduksi dan pengoksidas
e. Propil paraben (Depkes, 1995; Rowe, 2009)
Nama Resmi : PROPYLIS PARABENUM
Nama lain : Propil paraben, Nipasol
RM / BM : C10H12O3/ 180,20
Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air ,larut dalam 3,5 bagian
etanol(95%P),dalam 3 bagian aseton P,dalam 140
bagian gliserol P dan dalam 40 bagian minyak
lemak, mudah larut dalam alkil hidroksida
Stabilitas : Kelarutan dalam air pada pH 3-6 bisa disterilkan
dengan autoclaving tanpa mengalami penguraian,
pada pH 3-6 kelarutan dalam air stabil (penguraian
kecil dari 10%). pH larutan : 4-8
Inkompatibiltas : Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan dengan
larutan garam besi dan beberapa logam seperti
aluminium, merkuri dan zink juga dengan gom
xanthan; pengendapan terjadi pada pH dibawah 2
dan pada saat pencampuran dengan etanol 95%.;
Membentuk kompleks dengan gelatin dan pektin
BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
a. Alat :
1. Autoklaf
2. Batang pengaduk
3. Corong
4. Erlenmeyer
5. Gelas kimia
6. Gelas ukur
7. Hot plate
8. Lumpang dan alu
9. Neraca analitik
10. Oven
11. Sendok tanduk
12. Wadah tetes mata
b. Bahan :
1. Alumunium foil
2. Aquadest
3. Asam sitrat
4. Dexamethason
5. Kapas
6. Kertas Hvs
7. Kertas perkamen
8. Kertas saring
9. Metil paraben
10. Metil selulosa
11. NaCl
12. Natrium sitrat
13. Propilen glikol
B. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Disterilisasi alat dan bahan sesuai karakteristik
3. Dihitung tonisitas, osmolaritas dan dapar
4. Ditimbang bahan yang akan digunakan sesuai perhitungan yang
didapatkan
5. Dibuat WFI (Water For Injection) sederhana dengan cara memanaskan
aquadest diatas hot plate dengan menutup lubang mulut erlenmeyer
menggunakan alumunium foil
6. Dilarutkan Dexamethason dengan aquadest secukupnya kedalam
erlenmeyer 1, kemudian dihomogenkan
7. Dilarutkan Metil paraben dengan aquadest secukupnya kedalam
erlenmeyer 2, kemudian dihomogenkan
8. Dilarutkan Propilen glikol dengan aquadest secukupnya kedalam
erlenmeyer 3, kemudian dihomogenkan
9. Dilarutkan Asam sitrat dengan aquadest secukupnya kedalam erlenmeyer
4, kemudian dihomogenkan
10. Dilarutkan Natrium sitrat dengan aquadest secukupnya kedalam
erlenmeyer 5, kemudian dihomogenkan
11. Dilarutkan NaCl dengan aquadest secukupnya kedalam erlenmeyer 6,
kemudian dihomogenkan
12. Dilarutkan Metil selulosa dengan aquadest secukupnya kedalam
erlenmeyer 7, kemudian dihomogenkan
13. Dicampur semua larutan kemudian dihomogenkan
14. Dicukupkan aquadest hingga 10 ml
15. Disaring menggunakan corong dan kertas saring
16. Dipindahkan larutan menggunakan dispo kedalam wadah
17. Disterilisasi akhir sediaan
18. Dievaluasi sediaan
19. Diberi etiket pada produk.
C. Perhitungan
a. Tonisitas NaCl
Dik : Dexamethason 10 ml larutan 0,1% (M)
Nilai ekuivalen Dexamethason 0,18 (E)
Dit : Tonisitas sediaan?
Penye : Tonisitas sediaan =MxE
= 0,1% x 0,18
= 0,018%
NaCl yang ditambahkan = (0,9% - 0,018%)
= 0,882 %
b. Osmolaritas
a) Dexamethason
0,1 𝑔 1𝑔
Dexamethason 0,1% = = = 1 𝑔⁄𝑙
100 𝑚𝑙 1000 𝑚𝑙
n = 4 molekul
𝑔
𝑙
𝑥 1000 𝑥 𝑛
mOsmole/L =
𝑏𝑚
1 𝑥 1000 𝑥 4
=
392,47
= 10,19 mOsmole/L

b) NaCl
0,882𝑔 8,82𝑔
NaCl 0,882% = = = 8,82 𝑔⁄𝑙
100 𝑚𝑙 1000 𝑚𝑙
n = 2 molekul
𝑔
𝑙
𝑥 1000 𝑥 𝑛
mOsmole/L =
𝑏𝑚
8,82 𝑥 1000 𝑥 2
=
58,44
= 301,84 mOsmole/L

mOsmole/L total = 10,19 + 301,84 = 312,03 mOsmole/L (Isotonis)


Sehingga dalam sediaan ini perlu ditambahkan NaCl agar sediaan isotonis
c. Dapar
Diketahui : Target pH = 7,5
Kapasitas dapar = 0,01
pKa 1 = 3,1
pKa 2 = 4,8
pKa 3 = 6,4
BM asam sitrat = 210
BM natrium sitrat = 294
Ditanya : Dapar yang ditambahkan?
Penyelesaian :
Penyelesaian 1 : a. pKa = -log (Ka)
6,4 = -log (Ka)
Ka = 10-6,4
= 3,1 x 10-7
b. pH = -log (H+)
7,5 = -log (H+)
H+ = 10-7,5 = 0,316 x 10-7
[𝐾𝑎][𝐻 + ]
Penyelesaian 2 : 𝛽 = 2,303 𝑥 𝐶 [𝐾𝑎]+ [𝐻 + ]

[3,1𝑥 10−7 ][0,316 𝑥 10−7 ]


0,01 = 2,303 𝑥 𝐶 [3,1 𝑥 10−7 ]+ [0,316 𝑥 10−7 ]
[1,25𝑥 10−14 ]
0,01 = 2,303 𝑥 𝐶 [4,29 𝑥 10−14 ]
0,01= 2,303 x C x 0,3
0,01 = 0,7 C
0,01
C= = 0,014
0,7
𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚
Penyelesaian 3 : 𝑝𝐻 = 𝑝𝐾𝑎 + 𝑙𝑜𝑔 𝑎𝑠𝑎𝑚
𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚
7,5 = 6,4 + 𝑙𝑜𝑔 𝑎𝑠𝑎𝑚
𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚
7,5 − 6,4 = 𝑙𝑜𝑔 𝑎𝑠𝑎𝑚
𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚
1,1 = 𝑙𝑜𝑔 𝑎𝑠𝑎𝑚
𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚
= 101,1
𝑎𝑠𝑎𝑚
𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 = 12,5 (𝑎)
Penyelesaian 4 : a. Asam
𝐶 = 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 + 𝑎𝑠𝑎𝑚
0,014 = 12,5 (𝑎) + (𝑎)
0,014 = 13,5 (𝑎)
0,014
=𝑎
13,5
0,001 = 𝑎
b. Garam
𝐶 = 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 + 𝑎𝑠𝑎𝑚
0,014 = 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 + 0,0014
0,014 − 0,001 = 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚
0,013 = 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚
Penyelesaian 5 : a. Asam = BM x asam x Volume
= 210 x 0,001 x 0,01 L
= 0,0021 %
= 0,002%
b. Garam = BM x garam x Volume
= 294 x 0,013 x 0,01 L
= 0,038
= 0,038%
d. Perhitungan Bahan
0,1 𝑔
Dexamethason 0,1% = x 10 ml = 0,01 g
100 𝑚𝑙
0,882 𝑔
NaCl 0,882% = x 10 ml = 0,0882 g
100 𝑚𝑙
0,002 𝑔
Asam sitrat 0,002% = x 10 ml = 0,0002 g
100 𝑚𝑙
0,038 𝑔
Natrium sitrat 0,038% = x 10 ml = 0,0038 g
100 𝑚𝑙
0,5 𝑔
Metil selulosa 0,5% = x 10 ml = 0,05 g
100 𝑚𝑙
0,18 𝑔
Metil paraben 0,18% = x 10 ml = 0,018 g
100 𝑚𝑙
10 𝑔
Propilen glikol 10% = x 10 ml = 1 ml
100 𝑚𝑙
Aqua pro injection ad 10 ml = 10 ml- 1,1702 g
= 8,8 ml
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
No. Evaluasi Tetes mata
Sediaan Dexamethason
1. Uji kejernihan Jernih
2. Uji pH 7

B. Pembahasan
Tujuan dari praktikum ini yaitu mengetahui cara memformulasikan,
menghitung formulasi, cara membuat dan cara mengevaluasi sediaan Tetes
mata. Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang
digunaka dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar
kelopak mata dari bola mata (Depkes, 1979).
Pada praktikum ini kami melakukan pembuatan tetes mata
Dexamethason 0,1% sebanyak 10 ml. Dexametason merupakan golongan
kortikosteroid pada penyakit mata, kortikosteroid dapat mengatasi inflamasi
mata bagian luar maupun pada segumen arterior (Gunawan, 2012).
Dalam praktikum ini bahan yang digunakan yaitu Dexamethason
sebagai zat aktif, NaCl sebagai pengisotonis, Asam sitrat dan Natrium sitrat
sebagai dapar, Metil paraben sebagai pengawet, Metil selulosa sebagai
viskositas dan pensuspensi, Propilen glikol sebagai penstabil pengawet dan
WFI (Water For Injection) sebagai pembawa atau pelarut.
Pada praktikum ini hal pertama yang dilakukan yaitu melakukan
sterilisasi alat. Alat terdiri dari gelas ukur, Erlenmeyer, karet pipet, dan
sendok tanduk menggunakan sterilisasi dengan alat autoklaf dengan suhu
121⁰C selama 15 menit. Kemudian gelas kimia, kaca arloji, batang
pengaduk dan pipet tetes menggunakan sterilisasi dengan alat oven dengan
suhu 170⁰C selama 1 jam. Kemudian untuk wadah tetes mata disterilkan
dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121⁰C selama 15 menit.
Setelah semua alat telah disterilkan, kami membuat Water For
Injection bebas CO2. Water For Injection bebas CO2 dibuat dengan cara air
didihkan kuat-kuat selama beberapa menit. Selama pendinginan dan
penyimpanan harus terlindung dari udara (Depkes, 1979).
Langkah berikutnya yaitu menimbang Dexamethason sebanyak 0,01
g kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan aquadest
bebas pirogen secukupnya. Kemudian dilarutkan metil paraben dengan
memasukkannya ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan aquadest bebas
pirogen secukupnya. Kemudian dilarutkan propilen glikol dengan
memasukkannya ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan aquadest bebas
pirogen secukupnya. Kemudian dilarutkan asam sitrat dan natrium sitrat dan
ditambahkan aquadest bebas pirogen secukupnya. Kemudian dilarutkan
NaCl dengan memasukkannya ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan
aquadest bebas pirogen secukupnya. Kemudian dilarutkan metil selulosa
dengan memasukkannya ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan aquadest
bebas pirogen secukupnya. Kemudian semua larutan dicampurkan dalam
satu wadah.
Setelah itu dilakukan evaluasi sediaan. Evaluasi sediaan terdiri dari
penentuan homogenitas, volume sedimentasi, penentuan viskositas dan sifat
aliran serta penentuan bobot jenis (Depkes, 1995). Pada praktikum ini kami
hanya melakukan evaluasi sediaan yaitu uji pH dan uji kejernihan karena
keterbatasan alat dan bahan. Uji pH dilakukan dengan menggunakan
patonsiometri (pH meter) (Depkes, 1995). Uji kejernihan dilakukan dengan
menggunakan latar belakang putih dan hitam di bawah cahaya lampu untuk
melihat ada tidaknya partikel viable (Depkes, 1995). Hasil dari uji pH yang
kami lakukan yaitu sediaan obat tetes mata menunjukkan pH 7. Kemudian
hasil dari uji kejernihan yaitu sediaan jernih.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkam bahwa :
1. Formulasi sediaan tetes mata terdiri dari zat aktif (Dezamethason),
pengisotonis (NaCl), pendapar (Asam sitrat dan Natrium sitrat),
pengawet (Metil paraben), viskositas dan pensuspensi (Metil selulosa),
penstabil pengawet (Propilen glikol) dan pelarut atau pembawa (WFI).
2. Pembuatan sediaan tetes mata Dexamethason dengan cara melarutkan
seluruh bahan dengan WFI pada masing-masing wadah kemudian
dicampur sekaligus.
3. Evaluasi sediaan tetes mata Dexamethason terdiri dari uji kejernihan dan
pH.
B. Saran
Sebaiknya sebelum memulai praktikum, praktikan sudah mensterilkan
alat dan bahan yang akan digunakan agar pada saat praktikum, praktikan
segera membuat sediaan agar waktu yang diperoleh lebih singkat.
LAMPIRAN

Persiapan Penimbangan Pengsterilan Pemanasan


alat dan bahan alat aquadest
bahan bebas pirogen

Penyaringan Pencampuran Penambahan Pemindahan


semua bahan aquadest bahan
kedalam
erlenmeyer

Pengujian pH Hasil uji pH


DAFTAR PUSTAKA
Muchid. 2009. Pedoman Dasar Dispending Sediaan Steril. Bina Farmasi
Komunitas dan Klinik. Jakarta.

Lukas, Stefanus. 2011. Formulasi steril. CV Andi Offset. Yogyakarta.

Voight. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

Depkes. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Dirjen POM. Jakarta.

Depkes. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Dirjen POM. Jakarta.

Depkes. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Dirjen POM. Jakarta.

Jenkins. 1969. Scoville's:The Art of Compounding. BurgessPublishing Co. USA.

Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi ke 4. Penerbit


Universitas Indonesia. Jakarta.

Gennaro. 1998. Remington's Pharmaceutical Science, 20th Ed. Marck Publishing


Co. Easton.

Rowe, R.C. et Al. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed. The
Pharmaceutical Press. London.

Gan Sulistia, dkk. Farmakologi dan Terapi edisi IV. UNHAS: Makassar. 1987