Anda di halaman 1dari 3

Sebelumnya harus diketahui dulu apa itu historical cost.

Menurut Suwardjono (2008) dalam


Sonbay (2010) historical cost merupakan rupiah kesepakatan atau harga pertukaran yang telah
tercatat dalam sistem pembukuan. Prinsip historical cost menghendaki digunakannya harga
perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal dan biaya. Yang dimaksud dengan harga
perolehan adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang tersangkut dalam
tranksaksi. Harga perolehan ini harus terjadi pada seluruh traksaksi diantara kedua belah pihak
yang bebas. Harga pertukaran ini dapat terjadi pada seluruh tranksaksi dengan pihak ektern, baik
yang menyangkut aktiva, utang, modal dan transaksi lainnya. Kemudian dalam historical cost,
Harga perolehan harus terjadi dalam transaksi di antara dua belah pihak yang bebas (arm’slength
transaction) dan berasumsi bahwa unit moneter yang digunakan (rupiah) nilainya stabil. Tujuan
dari penggunaan historical cost accounting yaitu menekankan pada hubungan ‘kontrak’ antara
perusahaan dengan pihak yang menyediakan sumber daya. Hal ini membuat manajemen
bertanggungjawab atas penggunaan asset dalam operasi perusahaan dan dampaknya terhadap
net asset. Tanggung jawab manajemen tersebut dituangkan dalam bentuk laporan keuangan.
Dalam pengimplementasian historical cost, terdapat beberapa kelemahan penggunaan
nilai historis antara lain:
1. Adanya pembebanan biaya yang terlalu kecil karena pendapatan untuk suatu hal tertentu pada
saat tertentu akan dibebani biaya yang didasarkan pada suatu nilai uang yang telah ditetapkan
beberapa periode yang lalu pada saat pencatatan terjadinya biaya tersebut,
2. Nilai aktiva yang dicatat dalam neraca akan mempunyai nilai yang lebih rendah apabila
dibandingkan dengan perkembangan harga daya beli uang terakhir. Di samping itu juga terjadi
perubahan-perubahan kurs yang cepat atas aset dalam valuta asing yang dikuasai persahaan,
3. Alokasi biaya untuk depresiasi, amortisasi akan dibebankan terlalu kecil dan mengakibatkan
laba dihitung terlalu besar,
4. Laba/rugi yang terjadi yang dihasilkan oleh perhitungan laba/rugi yang didasarkan pada asumsi
adanya stable monetary unit tersebut tidaklah riil apabila diukur dengan perkembangan daya
beli uang yang sedang berlangsung,
5. Tujuan akuntansi pada historical cost accounting fokus pada fungsi stewardship saja, tidak
mengindahkan pengguna yang lain. Selain itu, pemilik pun sebenarnya juga tertarik dengan
kenaikan dan penurunan nilai dari investasi yang mereka buat.
Untuk menentukan apakah sebuah pengukuran dianggap baik atau tidak, maka menjadi penting
untuk mengetahui kriteria pengukuran yang baik seperti apa. Kriteria pengukuran yang baik
diantaranya:
1. Keandalan (reliability)
Pengukuran dikatakan andal ketika ia memenuhi unsur – unsur adanya konsistensi, berulang
dan presisi. Reliability melibatkan dua aspek diantaranya akurasi dan kepastian pengukuran
serta penyajian yang wajar atas pengungkapan dalam kaitannya dengan transaksi dan peristiwa
ekonomi yang mendasarinya.
2. Keakurasian (accuracy)
Kekonsistensian dari hasil, presisi dan keandalan tidak selalu mengarah pada keakurasian.
Akurasi lebih terkait dengan seberapa dekat sebuah pengukuran dengan nilai sebenarnya dari
ukuran atributnya. Sedangkan nilai sebenarnya ini bisa jadi tidak diketahui. Untuk mengetahui
akurasi dalam akuntansi, perlu diketahui atribut apa yang harus diukur untuk memahami alasan
dilakukannya pengukuran.
Tujuan akuntansi salah satunya disebutkan adanya kegunaan dari informasi yang tersaji.
Karenanya akurasi dalam pengukuran berkaitan dengan gagasan pragmatis, bahwa informasi
tersebut bersifat praktis dan berguna. Akan tetapi para akuntan tidak sependapat atas standar
kuantitatif dan spesifik yang terimplikasi.
Pengukuran dalam akuntansi banyak menggunakan skala rasio. Skala ini merupakan skala yang
paling informatif. Akan tetapi dalam akuntansi, skala yang digunakan merupakan pengukuran fiat
bukan berdasarkan referensi dari teori pengukuran yang terkonfirmasi. Misalnya, kita tidak tahu
apakah cara kita mengukur profit sudah valid. Cara ini mungkin satu dari ratusan cara lain untuk
mengukur profit dan selama sebuah cara pengukuran tidak didasarkan atas teori yang
terkonfirmasi maka tidak ada alasan yang kuat untuk percaya pada hasil pengukurannya. Daripada
menggunakan pengukuran fiat , akan lebih kuat bila menggunakan pengukuran fundamental.
Akan tetapi untuk menghasilkannya, teori akuntansi harus dapat diuji secara empiris
Laporan keuangan dihasilkan sebagai bentuk pertanggungjawaban dan alat pembantu
pengambilan keputusan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, keandalan historical costing akan
menjadi berguna untuk menunjukkan nilai pasti yang terbentuk saat peristiwa terjadi. Sedangkan
sebagai alat bantu pengambilan keputusan, pengukuran yang akurat dapat menghindarkan
pengambil keputusan dari keputusan yang menyesatkan.
Sehingga untuk menjadi sebuah pengukuran yang baik historical costing perlu memiliki kedua
kriteria di atas, baik secara keandalan maupun keakurasian. Sehingga ketika kedua kriteria ini
tidak terpenuhi maka dapat disimpulkan bahwa historical costing bukan merupakan pengukuran
yang baik.