Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH

ASKEP PERIOPERATIF
ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA KASUS BEDAH ONKOLOGI

DI SUSUN OLEH :

1. Rori Wilanda (1614301015)


2. Istiati Cici Antika (1614301019)
3. Lidia Elvana Dewi (1614301022)
4. Indana Zulfa (1614301025)
5. Addinatul Muqtadiroh (1614301029)
6. Feby Dwi Jayanti (1614301031)
7. M. Gigih Bangsawan (1614301035)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2018/2019

i
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmatNyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan
Perioperatif Pada Kasus Bedah Onkologi” tepat pada waktunya.

Makalah ini kami susun untuk melengkapi mata kuliah Askep PO, selain itu untuk
mengetahui dan memahami tentang Asuhan Keperawatan Perioperatif Pada Kasus Bedah
Onkologi. Kami mengucapkan terima kasih pada pihak-pihak yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu setiap pihak
diharapkan dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun.

Bandar Lampung, September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI.............................................................................................. iii
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah . .............................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah. ......................................................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ............................................................................ 2

II. PEMBAHASAN
2.1 Definisi Onkologi............................................................................ 3
2.2 Definisi Kanker.. ............................................................................. 3
2.3 Etiologi Kanker ............................................................................... 4
2.4 Jenis/Lokasi Kanker ........................................................................ 7
2.5 Yang Mempengaruhi Kecepatan Pertumbuhan Kanker.................. 7
2.6 Konsep Askep Perioperatif pada Kasus Bedah Onkologi............... 8

III. CONTOH KASUS .............................................................................. 16

IV. PENUTUP
3.1. Kesimpulan . .................................................................................. 36
3.2. Saran . ............................................................................................ 36

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Onkologi Bedah merupakan divisi dari bedah yang dibentuk dari prosedur screening
cancer, theraphy cancer, dan follow up untuk pasien dengan benigna dan malignant
tumor. Sedangkan Terapi Bedah Onkologi adalah sebuah prosedur yang kompleks yang
melibatkan sebuah team yang kompak terdiri dari tenaga ahli pada sebuah Center Cancer
yaitu ahli oncologi, ahli radiasi oncologi, ahli radiologi, ahli patologi, ahli bedah
plastik/rekonstruksi, konsultan genetic, perawat onkologi, dan pekerja sosial yang bekerja
untuk pasien kanker.
Pembahasan mengenai pembedahan adalah tindakan utama untuk perawatan tumor,
sudah dimulai oleh Edwin Smith Papyrus (circa 1600 BC). Halsted juga menganut paham
yang sama, maka dia mengembangkan tehnik pembedahan mastektomi radikal sebagai
terapi kuratif suatu breast cancer.
Berjalannya ilmu pengetahuan mengenai sifat progresivitas kanker dan metastasis,
ketika diagnosis kanker ditegakkan, hampir mencapai 70% solid tumors telah menyebar
secara sistemik. Pada keadaan ini yang dilakukan hanya pembedahan, tetapi kurang
memperhatikan segi perawatan kuratif. Di jaman sekarang ini, semua modalitas terapi
kanker untuk mengintegrasi dan mengkoordinasi perawatan pasien kanker harus dimiliki
oleh seorang ahli bedah onkologi.
Penanganan pasien dengan tumor-tumor yang resectable juga bisa dilakukan oleh ahli
bedah. Mereka juga harus mampu untuk mengatasi gawat darurat bedah pada pasien
kanker, juga terapi bedah pada penyakit metastasis. Mereka juga harus berperan dalam
penyaringan dan usaha pencegahan kanker, serta pengawasan kanker. Selain dari dalam
diagnosis, modalitas (terutama pencitraan dengan CT scan) sering digunakan untuk
menentukan operabilitas, yaitu apakah pembedahan mungkin untuk menghapus tumor
secara keseluruhan. Umumnya, sebuah "jaringan diagnosis" (dari biopsi) dianggap
penting untuk identifikasi yang tepat dari kanker. Bila hal ini tidak mungkin, "terapi
empiris" (tanpa diagnosis yang tepat) dapat diberikan, berdasarkan bukti yang tersedia
(misalnya sejarah, x-ray dan scan.)

1.2 Rumusan Masalah


Apa yang dimaksud dengan onkologi dan bagaimana asuhan keperawatan perioperatif
pada kasus bedah onkologi ?

1
1.3 Tujuan Penulisan
Mengetahui apa yang dimaksud dengan onkologi dan bagaimana asuhan keperawatan
perioperatif pada kasus bedah onkologi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Onkologi


Onkologi berasal dari kata “onko” yang berarti massal, atau tumor dan akhiran
''-logi'', yang berarti cabang ilmu. Onkologi adalah cabang ilmu kedokteran yang
berhubungan dengan tumor (kanker). Onkologi adalah berkaitan dengan :

 Diagnosis kanker apapun dalam diri seseorang


 Terapi (misalnya, pembedahan, kemoterapi, radioterapi dan modalitas lainnya)
 Tindak lanjut dari pasien kanker setelah pengobatan berhasil
 Perawatan paliatif pasien dengan keganasan terminal
 Pertanyaan seputar etika perawatan kanker
 Alat diagnostik yang paling penting tetap sejarah medis : karakter dari keluhan dan
gejala yang spesifik (kelelahan, penurunan berat badan, anemia yang tidak dapat
dijelaskan, demam asal tidak diketahui, fenomena paraneoplastic dan tanda-tanda
lainnya). Seringkali pemeriksaan fisik akan mengungkapkan lokasi keganasan.
Metode diagnostik mencakup:
 Biopsi, baik insisional atau excisional
 Endoskopi, baik bronkoskopi atas atau bawah saluran pencernaan, atau
nasendoscopy
 X-ray, CT scan, MRI scan, USG dan lainnya teknik radiologi
 Skintigrafi, Single Photon Emission Computed Tomography, Positron emission
tomography dan metode lain dari kedokteran nuklir
 Tes darah, termasuk marker tumor, yang dapat meningkatkan kecurigaan jenis
tertentu tumor atau bahkan menjadi patognomonik dari penyakit tertentu

2.2 Definisi Kanker


Kanker adalah penyakit yang menyerang proses dasar kehidupan sel, mengubah
genom sel (komplemen genetik total sel) dan menyebabkan penyebaran liar dan
pertumbuhan sel-sel. Penyebab mutasi genom berubah dari satu atau lebih gen atau
mutasi dari segmen besar dari untai DNA yang mengandung banyak gen atau
kehilangan segmen kromosom besar (Guyton, 1981). Kanker bukanlah penyakit

3
tunggal dengan satu penyebab, melainkan merupakan grup penyakit berbeda dengan
penyebab yang berbeda, manifestasi, perawatan dan prognosis (Brunner).

2.3 Etiologi Kanker


1. Carcinogenesis Kimia
a. Karsinogen yang bekerja langsung
 Agen Alkilasi : Beta-propriolakton, dimetil sulfat, diepoksibutan, anti
kanker (siklofosfamid, klorambusil, nitrosourea, dll)
 Agen asilasi : 1-asetil imidazol, dietilkarbamil kloridaProkarsinogen yg
memerlukan aktivasi metabolik:Hidrokarbon polisiklik aromatik dan
heterosiklik : Benz(a) antrasen, benzo(a)piren, Dibenz(a,h)antrasen, 3-
metilolantren, 7,12 dimetilbenz(a)antrasen
 Amin dan amida aromatik dan zat warna azo : 2-naftil amin (beta-
naftilamin), 2-asetilaminofluoren, dimetilaminobenzena (kuning mentega),
sakarin, siklamat
 Tumbuhan alam dan hasil mikroba : Aflatoksin B1, griseofulvin, sikasin,
safrol, kacang betel
 Lain-lain : nitrosamin, amida, vinil klorida, nikel, kromium, kadmiun,
insektisida, fungisida, bifenil polikronat (PCBs)
Mekanisme Kerja :

 Sebagian besar karsinogen kimia adalah mutagen


 Sifat karsinogenik kimia tergantung dosis, dan dosis multiple terbagi
 Sifat karsinogenik dapat ditingkatkan dengan pemberian beruntun
promoter
 Untuk efektifnya promotor harus mengukuti inisiator

2. Virus Onkogenik
a. RNA
 HTLV I : leukemia/limfoma sel T
 Virus tumor payudara : Ca payudara
 Agen yg tdk dpt ditentukan : leukemia, limfoma

4
b. DNA
 Virus papiloma manusia (HPV) : kutil, kondiloma, Ca sel squamosa
 Virus herpes simpleks 2 : Ca vulva dan serviks
 EBV : Limfoma Burkitt, Ca nasofaring
 CMV : Sarkoma Kaposi
 HBV : Ca hepatoselulare
c. Carcinogenesis Fisik
 Radiasi
 Sinar ultraviolet : ca sel squamosa, basalioma, melanoma
 Radiasi sinar X : karsinoma kulit, leukemia
 Radioisotop : radium (osteosarkoma)
 Debu radiaktif
 Iritasi Kronik
 Sikatriks luka bakar, ulkus kronis uang lain
 Fistel akibat osteomielitis, sinus pilonidalis, fistel perianal
 Esofagus Barret
d. Carcinogenesis nutrisional
Makanan berserat kurang dikaitkan dengan kejadian Ca kolon
Makanan berlemak (hewan) dikaitkan dengan Ca kolon dan payudara
Makanan yg mgdg beta karoten, vit C, vit E dan selenium diduga mempunyai
efek pencegahan
e. Onkogenesis hormona
 Faktor pemicu (induction faktor)
 Estrogen : hiperplasia, displasia, neoplasia endometrium
 Estrogen : karsinoma payudara
 DES: anak wanita yg terpapar intrauterin — clear cell adenocarcinoma
vagina
 Steroid : adenoma dan karsinoma sel hati
 Pertumbuhannya tergantung pada hormone
 Ca prostat : hormon androgen
 Ca payudara : estrogen
 Ca tiroid : TSH (yang berdeferensiasi baik)

5
f. Lain-lain
 Gaya hidup : Kebiasaan makan, merokok, alkoholisme
 Parasit : Schistosoma hemotobium (Ca planoselulare buli-buli)
 Sunat dan Fimosis : Tidak disunat (Ca penis)

Faktor Predisposisi Neoplasma :

a. Geografi dan Ras


Insiden tinggi :
 Ca lambung : Skandinavia, Jepang, Islandia
 Ca hepar : Afrika Barat dan Selatan
 Ca nasofaring : China
 Ca buli-buli : Mesir

Insiden rendah :

 Ca kolorektal : Afrika (kulit hitam)


 Ca prostat/mamma : Jepang
 Ca serviks uteri : Jahudi
 Ca kulit : Kulit hitam
b. Umur
c. Lingkungan
d. Keturunan/genetic
 Kelainan kanker/ prakanker herediter
 Autosom dominan
 Sindroma Gardner : Ca kolon, polip adenomatosa
 Sindroma Peutz-Jeghers : Ca kolon
 MEN I : Tumor kelenjar hipofise, paratiroid, pancreas
 MEN II : Ca medular tiroid, feokromasitoma, paratiroid
 MEN III : varian tipe II
 Melanoma ganas kulit : melanoma maligna kulit, dll
 Penyakit Von Hippel-Lindau : Hemangioblastoma serebelum,
hipernefroma, feokromasitoma
 Tumor Wilms (gen WT-1/kromosom 11p13) : tumor wilms

6
 Sindroma kanker familial : adenokarsinoma (kolon dan endometrium)
 Kanker payudara berkaitan dgn neoplasma ganas lain (BRCA1 dan 2): Ca
payudara, Ca ovarium, sarkoma, leukemia, tumor otak
 Autosom resesif
 Xeroderma pigmentosa : Basalioma, squamosa, melanoma
 Anemia Fanconi : leukemia, limfoma
 Sindroma Bloom : leukemia akut
 Ataksi telangiektasi : leukemia akut, limfoma, Ca lambung
 Sindroma Turcot : polip kolon, kanker/tumor otak

e. Lesi prakanker
Replikasi sel yg regeneratif menetap : fistel kronik, sirosis Proliferasi
hiperplasi, displasi : endometrium, bronkus Gastritis kronik atrofi, kolitis
ulseratif kronik Lekoplakia, keratosis solaris Adenoma tubuler dan vilosa
kolon.

2.4 Jenis/Lokasi Kanker


1. Payudara
2. Kolon rektum
3. Laring
4. Paru
5. Leukemia
6. Pankreas
7. Prostat
8. Gaster
9. Uterus
10. Serviks
11. Lain : Hodgkin’s, Thyroid dll

2.5 Yang Mempengaruhi Kecepatan Pertumbuhan Kanker


1. Faktor Tumor
 Asal tumor atau jenis tumor
 Sifat tumor : neoplasma ganas, insitu, jinak, sifat tidak tentu

7
 Waktu siklus (siklus pertumbuhan tumor) / lag periode
 Derajat diferensiasi sel : G1, G2, G3, G4
 Populasi sel kanker : rasio fraksi sel kanker yang tumbuh, tidak tumbuh, yang
hilang
2. Faktor Penderita
 Umur : umumnya lebih cepat tumbuh pada anak-anak
 Pertahanan tubuh : barier mekanik, imunologis (seluler dan humoral)
3. Faktor Lingkungan Hidup Tumor
 Ruang tempat tumbuh tumor
 Nutrisi (vaskularisasi)
 Status hormonal

2.6 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Kasus Bedah Onkologi


A. Pengkajian Keperawatan pada Askep Kanker
1. Sistem Integumen
a. Perhatikan : nyeri, bengkak, flebitis
b. Inspeksi kemerahan & gatal, eritema
c. Perhatikan pigmentasi kulit
d. Kondisi gusi, gigi, mukosa & lidah
2. Sistem Gastrointestinal
a. Kaji frekwensi, mulai, durasi, berat ringannya mual & muntah setelah
pemberian kemotherapi
b. Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit
c. Kaji diare & konstipasi
d. Kaji anoreksi
e. Kaji : jaundice, nyeri abdomen kuadran atas kanan
3. Sistem Hematopoetik
a. Kaji Netropenia
b. Kaji tanda infeksi
c. Auskultasi paru
d. Perhatikan batuk produktif & nafas dispnoe
e. Kaji suhu
f. Kaji Trombositopenia : < 50.000/m3 - menengah, < 20.000/m3 – berat

8
g. Kaji Anemia : Warna kulit, capilarry refill, dispnoe, lemah, palpitasi,
vertigo
4. Sistem Respiratorik & Kardiovaskular
a. Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe, kering, batuk non
produktif - terutama bleomisin
b. Kaji tanda CHF
c. Lakukan pemeriksaan EKG
5. Sistem Neuromuskular
a. Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik
b. Perhatikan adanya parestesia
c. Evaluasi refleks
d. Kaji ataksia, lemah, menyeret kaki
e. Kaji gangguan pendengaran
f. Diskusikan ADL
6. Sistem Genitourinari
a. Kaji frekwensi BAK
b. Perhatikan bau, warna, kekeruhan urine
c. Kaji : hematuria, oliguria, anuria
d. Monitor BUN, kreatinin

B. Diagnosa Keperawatan pada Askep KankeR


1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan netropenia
2. Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia
3. Resiko gangguan Perfusi Jaringan
4. Resiko Gangguan Keseimbangan Cairan
5. Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut
6. Resiko Gangguan Rasa Nyaman akibat Stomatitis
7. Resiko Gangguan komunikasi verbal akibat nyeri di mulut
8. Resiko Gangguan Integritas Kulit Perineum akibat diare
9. Resiko Gangguan Citra Diri akibat Alopesia
10. Resiko Disfungsi Seksual akibat Kemoterapi

C. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa : Resiko infeksi berhubungan dengan netropenia
9
 Kaji resiko yang dapat terjadi akibat depresi sistem imun
 Jenis, dosis, cara pemberian kemoterapi
 Stressor yang sedang dialami klien dan kemampuan koping yang dimiliki
 Kebiasaan kebersihan diri
 Pola tidur
 Pola makan
 Pola eliminasi
 Riwayat & pemeriksaan fisik
 Tanda-tanda infeksi: demam, adanya nyeri menelan, nyeri saat eliminasi,
adanya exudat
 Tanda perdarahan: pusing, adanya perdarahan
 Tanda anemia: pucat, lemah, sesak nafas saat aktifitas
 Fungsi pernafasan & suara nafas
 Laboratorium: DPL
 Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3
 Lindungi klien dari terpaparnya bakter
 Tempatkan klien di ruang isolasi
 Pasang papan pengumuman di pintu masuk ruang isolasi klien yang
menginformasikan: pengunjung harus cuci tangan sebelum masuk,
pengunjung yang FLU dilarang masuk dan DILARANG membawa buah,
bunga atau sayuran segar ke ruangan klien
 Pasang papan pengumuman yang menginformasikan TIDAK BOLEH
menginjeksi per-IM dan mengukur suhu per-rektum
 Rencanakan program kebersihan mulut, mandi sehari sekali, dan kebersihan
area perineum dalam kegiatan perawatan klien
 Kaji tempat penusukan infus, ganti balutan dengan teknik aseptik 2 hari
sekali atau apabila ada tanda-tanda plebitis
 Hindari tindakan invasif (jika memungkinkan)
 Cuci tangan sebelum merawat klien, tidak menempatkan petugas kesehatan
yang FLU (atau infeksi lain) atau yang merawat klien yang terinfeksi di
ruang isolasi
 Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3
 Kaji terus menerus adanya infeksi pada klien

10
 Monitor tanda vital terutama pada peningkatan temperatur
 Monitor angka lab neutrofil
 Kaji tanda infeksi seperti kemerahan, adanya peradangan di area tertentu
(mukosa mulut, tempat bekas penusukan suntik/infus, dll)
 Monitor perubahan warna urin, sputum & feses

2. Diagnosa : Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia


 Lakukan tindakan khusus jika trombosit menurun / meningkat
 Cegah klien dari trauma dan resiko perdarahan
 Pasang tanda “Dilarang” injeksi per IM dan pemberian obat aspirin
 Minimalkan penusukan vena atau tekan bekas penusukan minimal 5 menit
 Ajarkan cara sikat gigi dengan sikat gigi lembut, hindari penggunaan dental
floss
 Pasang pembatas tempat tidur
 Cegah konstipasi dengan pemberian cairan minimal 3 L/hari
Monitor terjadinya perdarahan :
 Kaji tanda infeksi dini: petekie, ekimosis, epistaksis, darah di feses, urin,
dan muntahan
 Perubahan tekanan darah ortostatik >10 mmHg atau nadi >100/mnt
 Monitor hematokrit & trombosit
 Lapor dokter jika ada tanda perdarahan
 Diskusikan tanda & gejala infeksi yang terjadi ke dokter yang bertanggung
jawab, kolaborasi perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan kultur, pemberian
antipiretik & antibiotik

3. Diagnosa : Resiko gangguan Perfusi Jaringan


 Kaji tanda dan gejala anemia
 Hematokrit: 31-37% (anemia ringan), 25-30% (anemia sedang), <25%>
 Tanda anemia ringan: pucat, lemah, sesak ringan, palpitasi, berkeringat
dingin; anemia sedang: meningkat tingkat keparahan tanda dari anemia
ringan; tanda anemia berat: sakit kepala, pusing, nyeri dada, sesak saat
istirahat, dan takikardi)

11
 Anjurkan klien untuk merubah posisi secara bertahap, dari tidur ke duduk,
dari duduk ke berdiri.
 Anjurkan latihan nafas dalam selama perubahan posisi.
 Kaji respon pemberian transfusi, menjadi lebih baik atau tetap.
 Kaji pula perubahan hematokrit setelah transfusi
 Kaji adanya ketidak mampuan melakukan aktifitas, dan kebutuhan klien
akan Oksigen
 Kolaborasikan ke gizi & anjurkan klien untuk mendapatkan diet tinggi Fe
(zat besi)
 Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Ketidakmampuan melakukan
aktifitas akibat anemia
 Anjurkan klien untuk meningkatkan frekuensi & kualitas istirahat &
buatkan daftar aktifitas-istirahat
 Anjurkan klien untuk mengkonsumsi diet tinggi zat besi seperti hati, telur,
daging, wortel dan kismis

4. Diagnosa : Resiko Gangguan Keseimbangan Cairan


 Anjurkan klien untuk minum 3L/hari
 Monitor intake-output tiap 4 jam
 Kaji frekuensi, konsistensi & volume diare/muntah
 Kaji turgor kulit, kelembaban mukosa
 Beri obat antidiare/antimuntah sesuai program
 Rawat area kulit perineum dengan salep betametasone atau Zinc
 Beri cairan rehidrasi (cairan fisiologis) per-infus sesuai program

5. Diagnosa : Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut


 Kaji & catat kondisi mukosa mulut (lidah, bibir, dinding & langit-langit
mulut) & kaji adanya stomatitis tiap shift. Ajarkan pada klien cara
mendeteksi dini adanya stomatitis
 Kaji kenyamanan & kemampuan untuk makan & minum
 Kaji status nutrisi klien
 Anjurkan & ajarkan klien membersihkan mulut (kumur-kumur) tiap 2 jam

12
 Gunakan cairan fisiologis, atau campuran cairan fisiologis dan BicNat (1
sdt dicampur 800 cc air) tiap 4 jam atau,
 Gunakan larutan H2O2 dg perbandingan 1 : 4, atau
 Obat kumur Listerine
 Anjurkan & ajarkan sikat gigi dan menggunakan dental floss, & tidak
dilakukan jika leukosit <1500/mm3>
 Anjurkan & jelaskan klien untuk melepas gigi palsu saat kumur-kumur &
saat sedang iritasi mukosa
 Anjurkan & ajarkan klien untuk melembabkan mulut dengan cara banyak
minum dan menggunakan pelembab bibir
 Hindarkan makanan yang merangsang (pedas, panas & asam) & jelaskan
pada klien

6. Diagnosa : Resiko Gangguan Rasa Nyaman akibat Stomatitis


 Berikan (kolaborasi) obat kumur yang mengandung xylocain 2% 10-15 cc
per kumur dilakukan tiap 3 jam
 Kolaborasikan perlunya pemberian analgesic sedang-kuat per parenteral
(mis. Morphin)

7. Diagnosa : Resiko Gangguan komunikasi verbal akibat nyeri di mulut


 Kaji kemampuan komunikasi klien
 Kaji adanya sekret yang kental yang sulit untuk dikeluarkan, anjurkan
minum hangat
 Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klien
tidak dapat berkomunikasi verbal
 Responsif terhadap bel panggilan dari klien

8. Diagnosa : Resiko Gangguan Integritas Kulit Perineum Akibat Diare


 Kaji area kulit perineum
 Anjurkan untuk membersihkan menggunakan sabun lembut saat membilas
sesudah bab
 Oleskan anastetik topikal K/P
 Gunakan pampers untuk menjaga keringnya area perineum

13
 Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Terjadi Nefrotoksik akibat
Kemoterapi
 Hidrasi dengan cairan fisiologis 100-150cc/jam atau sampai cairan urin
bening
 Diuresis dengan furosemid sesuai dg program
 Ukur pH urin (pH > 7)
 Cegah dehidrasi dan muntah yang masif
 Hidrasi pasca kemoterapi minimal 3L/hari
 Monitor hasil lab ureum, creatinin

9. Diagnosa : Resiko Gangguan Citra Diri akibat Alopesia


 Kaji resiko terjadi alopesia, obat kemoterapi yang digunakan
 Jelaskan penyebab dari alopesia dan dampak yang terjadi, yaitu alopesia
terjadi sejenak, dapat tumbuh rambut yang baru
 Anjurkan klien menceritakan perasaannya
 Anjurakan klien mencukur rambutnya yang panjang
 Anjurkan klien mencoba memakai kerudung, wig, topi atau selendang
 Ikutkan klien pada kegiatan pasien alopesia di RS
 Ajarkan cara perawatan kulit kepala dengan menggunakan sampoo baby,
“sun cream”, dll
 Jika terjadi kerontokan alis & bulu mata, gunakan kacamata hitam & topi
jika bepergian

10. Diagnosa : Resiko Disfungsi Seksual akibat Kemoterapi


 Bina rasa saling percaya
 Kaji pengetahuan klien tentang efek penyakit dan pengobatannya pa da
fungsi seksual
 Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk mendiskusikan masalah klien
 Mendiskusikan strategi menghadapi disfungsi seksual
 Alternatif pengekspresian seksual
 Alternatif posisi yang meminimalkan nyeri
 Melakukan aktifitas seksual saat kondisi tubuh fit
 Membantu mengetahui perasaan seksual dirinya dan pasangannya

14
 Penjelasan dampak kemoterapi pada fungsi seksual
 Mendiskusikan alternatif pola dalam keluarga
 Mengajak orangtua klien untuk merawat anaknya
 Menganjurkan klien yang sulit punya anak untuk adopsi

15
BAB III
CONTOH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS BEDAH
ONKOLOGI

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama : Tn. X
Umur : 40 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Gol. Darah :O
Alamat : Lampung
No. RM : 123456
Diagnosa : Ca. Thyroid
R. Tindakan : Total Thyroidectomy
Tgl. MRS : 7 Februari 2018

2. Riwayat Praoperatif
- Pasien mulai dirawat : Pukul 08.15 Tanggal: 7 Februari 2018, di ruang
Lavender
- Ringkasan hasil amamnesa praoperatif :
Klien mengatakan nyeri pada leher karena terdapat benjolan kurang lebih 3 cm,
nyeri dirasakan saat klien menelan dan sangat dirasakan ketika klien menelan
makanan, lokasi nyeri di leher bagian kiri, dengan skala VAS 5, klien tampak
meringis.
3. Hasil pemeriksaan fisik
a. TTV Tanggal 8 Februari 2018, Pukul: 08:15 WIB
TD : 130/80 mmHg
Suhu : 36,7oC
Nadi : 100 x/menit
RR : 20 x/menit

16
Kesadaran : Composmentis,
GCS : E4, V5, M6
Orientasi : baik

b. Pemeriksaan Fisik (Head to toe)


 Kepala dan leher : Rambut klien tampak bersih, tidak ada benjolan pada
bagian kepala, adanya benjolan dibagian leher, adanya benjolan bulat di
bagian leher sebelah kiri kurang lebih 3cm, benjolan tidak mengeluarkan
darah, warna kulit leher sama dengan kulit sekitarnya, konsistensi kenyal,
terdapat nyeri tekan pada saat menelan, pada saat klien disuruh menelan
tumor ikut bergerak.
 Thorax dan Paru
Jantung : I = Tidak tampak letus cordis
P = Denyut jantung teratur
P = Terdengar bunyi pekak
A = Irama jantung teratur, tidak terdapat bunyi murmur
Paru : I = RR: 22x/mnt, gerakan naik turun dada teratur
P = Bunyi sonor
P = Vokal Fremitus sama
A = Tidak terdapat bunyi ronkhi/ wheezing, vasikuler
 Abdomen :
I = Warna kulit merata dengan kulit sekitarnya, tidak terdapat lesi
A = Peristaltik usus 14x/menit
P = Tidak ada massa/ benjolan
P = Terdengar bunyi timpani
 Ekstremitas atas dan bawah : Kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah
4,4,4,4
 Genetalia dan rectum : Bersih, tidak ada lesi, tidak terpasang DC, tidak ada
kelainan, tidak ada hemoroid
4. Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan rontgen polos : Thorax PA -> Normal
 Histopatologi (PA)tanggal 7 Februari 2018 Kesan = Adenocarcinoma
Thyroid Papillare

17
 Hasil Laboratorium
Parameter Hasil Nilai Rujukan Satuan
Patologi
Hemoglobin 16,1 13,00-18,00 g/dL
Leukosit 8.200 4.800-10.800 µL
Eritrosit 5,6 4,7-6,1 Juta/µL
Hematokrit 46 42-52
Trombosit 354.000 150.000-450.000 /µL
MCV 82 79-99 fL
MCH 29 27-31 pg
MCHC 35 33-37 g/dL
Hitung Jenis
Basofil 0 0-1 %
Easinofil 1 2-4 %
Batang 0 3-5 %
Segmen 79 50-70 %
Limfosit 14 25-40 %
Monosit 6 2-8 %
LED 50 0-10 mm/jam
CT 10 9-15 menit
BT 2,30 1-3 menit

KIMIA
SGOT 19 < 37 U/L
SGPT 46 < 41 U/L
Gula Darah Sewaktu 129 < 140 Mg/dL

18
5. Prosedur Khusus Sebelum Pembedahan
No Prosedur Ya Tidak Keterangan
1 Tindakan Ya Berdoa menurut keyakinanan yang dianut
persiapan Berikan latihan nafas dalam dan
psikologi pasien meyakinkan pasien bahwa tim medis akan
melakukan yang terbaik untuk kesembuhan
klien.

2. Lembar Informed Ya Klien dan keluarga telah menyetujui akan


consent dilakukan tindakan operasi

3 Puasa Ya Klien berpuasa selama 8 jam

4 Membersihkan Tidak Klien diinstruksikan mandi menggunakan


kulit (pencukuran desinfektan diruangan
area operasi )
5 Membersihkan Tidak Klien tidak diberikan obat pencahar
saluran
pencernaan
(lavement / obat
pencahar)
6 Pengosongan Ya Untuk memantau intake dan output
kandung kemih
7 Persiapan Ya Mengantisipasi resiko perdarahan
Transfuse darah
8 Terapi cairan Ya Klien terpasang cairan infuse 20 tts / menit
infuse
9 Penyimpanan Tidak Klien tidak menggunakan perhiasan ,
perhiasan, aksesoris, kacamata, anggota tubuh palsu
aksesoris
,kacamata, dan
anggota tubuh
yang palsu

19
10 memakai baju Ya Mengurangi resiko infeksi.
khusus operasi

6. Pemberian Obat Obatan


Antibiotic profilaksis = cifrofloxacin 1 gram

B. ANALISA DATA PREOPERATIF


Data Subjektif & Obyektif Masalah Keperawatan Etiologi
PRA OPERATIF
DS : Klien mengatakan nyeri Nyeri Adanya desakan
pada leher karena terdapat pembengkakan
benjolan kurang lebih 3 cm,
nyeri dirasakan saat klien
menelan dan sangat dirasakan
ketika klien menelan makanan,
lokasi nyeri di leher bagian kiri,
dengan skala NMRS 5,
DO : klien tampak meringis.
TTV :
TD: 130/90 mmHg
Suhu: 36,7oC
Nadi: 100 x/menit
RR: 20 x/menit

DS: Klien mengatakan khawatir Cemas Kurangnya informasi


karena klien belum pernah mengenai prosedur
menjalani operasi sebelumnya pengobatan
dan klien menanyakan tentang
prosedur operasi
DO: Klien tampak gelisah, klien
tampak banyak bertanya
Nadi klien 100 x/menit

20
A. DIAGNOSA KEPERAWATAN PRE OPERASI
1. Nyeri b.d adanya desakan pembengkakan
2. Cemas b.d kurang informasi mengenai prosedur pengobatan

B. INTERVENSI PRE OPERATIF


INTERVENSI
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI
1 Nyeri b.d adanya desakan Setelah dilakukan 1. Ukur TTV
pembengkakan asuhan keperawatan 2. Kaji skala nyeri
diharapkan nyeri 3. Berikan posisi
berkurang, dengan nyaman
kriteria hasil : 4. Anjurkan
- nyeri berkuag pada teknik relaksasi nafas
skala 3 atau 4 dalam
- klien dapat 5. Kolaborasi
mengontrol nyeri pemberian analgesic
2 Cemas b.d kurang informasi Setalah dilakukan 1. Ukur TTV
mengenai prosedur pengobatan asuhan keperawatan 2. Beri posisi
diharapkan cemas nyaman
klien berkurang 3. Jelaskan
dengan kriteria hsil: tindakan yang akan
- Klien mampu dilakukan, prosedur
mengungkapkan dan dan lama operasi
menunjukkan teknik 4. Beri
untuk mengontrol kesempatan pasien
cemas untuk bertanya
5. Beri penjelasan
dan yakinkan klien
bahwa perawat akan
mendampingi selama
periode perioperatif
6. Anjurkan
teknik relaksasi nafas

21
dalam pembedahan

E. IMPLEMNTASI DAN EVALUASI

NO DIAGNOSA IMPLEMNTASI EVALUASI


1 Nyeri b.d adanya 1. Mengukur TTV S klien mengatakan masih
desakan 2. Mengkaji skala nyeri merasakan nyeri pada leher
pembengkakan 3. Memberikan posisi karena terdapat benjolan
nyaman kurang lebih 3cm, nyeri
4. Menganjurkan teknik dirasakan saat klien menelan,
relaksasi nafas dalam lokasi nyeri dileher bagian
5. Berkolaborasi pemberian kiri. Klien mengatakan skala
analgesic : ketrolak nyeri 5 dari (0-10)
O : - TTV :
TD : 120/80 mmHg
Suhu : 36,6oC
Nadi : 98 x/menit
RR : 20 x/menit
klien tampak meringis
A : masalah nyeri belum
teratasi
P: lamjutkan intervensi :
- Ukur TTV
- Kaji skala nyeri
- Berikan posisi nyaman
- Anjurkan teknik
relaksasi nafas dalam
- Kolaborasi Tindakan
Total Thiroidektomie
2 Cemas b.d kurang 1. Mengukur TTV S : klien mengatakan sudah
informasi 2. Memberi posisi nyaman mengerti tentang tindakan

22
mengenai 3. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan pada
prosedur yang akan dilakukan, prosedur dirinya
pengobatan dan lama operasi O:
4. Memberi kesempatan Ttv :
pasien untuk bertanya TD : 120/80 mmHg
5. Menganjurkan teknik Suhu : 36,6oC
relaksasi nafas dalam Nadi : 98 x/menit
pembedahan RR : 20 x/menit
klien dapat menyebutkan
tindakan yang akan dilakukan
pada dirinya yaitu
tiroidektomi dengan lokasi di
leher, klien mengerti tentang
prosedur pembedahan, klien
tampak tenang.
TD :
A: masalah cemas sebagian
teratasi Klien siap operasi
P : Dampingi klien ketika
akan masuk ke kamar operasi.

23
INTRAOPERATIVE
A. PENGKAJIAN INTRAOPERATIVE
1. Tanda tanda vital, tanggal 8 februari 2018 jam 09:00
Suhu : 36,5oc Nadi : 100 x/menit SPO2= 98%
TD :106/78 mmHg RR : 22 X/menit
2. Posisi pasien dimeja operasi : supinase dengan posisi kepala hiperekstensi
3. Tenaga medis dan perawat diruang operasi
4. Dokter anastesi : dr. Wahyu.sp.An
Penata Anastesi : Putri
Dokter bedah : dr. Bintang, sp.B Asisten dokter bedah : Taufik
Perawat instrument : Pariyes
Perawat sirkuler : Komang Linda
5. Pemberian obat anastesi: General
Tgl/jam Nama Obat Dosis Rute
8/2/2018 Provovol 150 mg Injeksi IV
Fentanyl 150 mg Injeksi IV
tramus 25mg Injeksi IV
Ondan 4mg Injeksi IV
Kalnex 1 Injeksi IV
Dexametasone 10 mg Injeksi IV
N2o 40-80 ml Inhalasi
Sevorane 30 cc Inhalasi

6. Tahap tahap atau kronologi pembedahan


 Area di desain, antiseptic insisi
 Time OUT jam 09:00wib
 Insisi kulit sesuai desain
 Dibuat flap superior – inverior
 Dilakukan insisi istmolobektomi sinistra sampai nampak trakea sebagian dasar
atau terdapat kesulitan dalam pembebasan poul atas
 Dilakukan Thiroidektomie Total
 Perdarahan dirawat dengan Elektrosurgery ( Koagulation)
 Kontrol pendarahan dengan pasang drain

24
 Luka dijahit lapis demi lapis
 Sign Out jam 10 :45
 Luka ditutup dengan kasa steril
 Tumor difiksatie denga formalin dan dikirim kelaboratorium PA
 Operasi selesai,
 Perawat merpihkan Instrumen dan pasien

7. Tindakan bantuan yang diberikan selama pembedahan :


 Pemberian oksigen
 Pemberian suction
 Pemasangan drain
 Pemasangan intubasi (ett non king king no 7)
 Pemasangan kateter
 Pemeriksaan Patologi Anatomie
8. Pembedahan berlangsung selama 2 jam, jam operasi dimulai pukul 09.00 dan jam
operasi selesai pukul 11.00
9. Komplikasi dini setelah pembedahan (saat pasien masih diruang operasi) tidak ada
komplikasi

B. ANALISA DATA INTRA OPERATIF


INTRA OPERATIF
DS: - Resiko Cidera Anestesi
DO: narkotik
Posisi supine dengan posisi kepala hiperekstensi,
pasien akan dilakukan thyroidectomy
(pembedahan mayor), pasien dilakukan anastesi
general
Penggunaan Alat – alat elektrosurgeery

DS: - Resiko Perdarahan


DO: ketidakseimbangan
Incisi didaerah leher dengan panjang 10 cm volume cairan
Pasien terpasang infuse: 300 cc.

25
Kebutuhan cairan dewasa:
= 50 cc/kg/BB/24 jam
= 50 cc x 70kg/ 24 jam = 145,8 cc/jam
2 jam operasi = 2 x 145,8 = 291 cc= 300 cc

Perdarahan saat ini: ±100 cc


IWL: BB x 15 = 70 x 15 = 105 cc
IWL 2 jam= 8,75 cc= 9 cc
pasien terpasang kateter urin: 250 cc.
Output= 9 + 100 + 250 = 359 cc
Balance cairan: intake – output = 300 cc – 359 cc=
-59 cc

DS: - Resiko Infeksi Prosedur


DO: Akan dilakukan Total Thiroidektomie Invasif

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN INTRA OPERASI


1. Resiko cidera b.d anestesi narkotik
2. Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d perdarahan
3. Resiko infeksi b.d prosedur invasif

D. INTERVENSI INTRA OPERASI


No Dx Kep. Tujuan Intervensi
1 Resiko cidera b.d anestesi Setalah dilakukan asuhan 1. Pastikan posisi
narkotik keperawatan diharapkan pasien yang sesuai
tidak terjadi cidera, dengan dengan tindakan
kriteria hasil : operasi
- Tubuh klien bebas dari 2. Cek integritas
cidera kulit
3. Cek daerah
penekanan pada tubuh
selama operasi
4. Pasang

26
penghantar elektroda
5. Hitung jumlah
kasa, jarum, bisturi,
dapper, dan instrumen
bedah
6. Lakukan time out
7. Lakukan sign out

2 Resiko ketidakseimbangan Setalah dilakukan asuhan 1. Pertahankan


volume cairan bd perdarahan keperawatan diharapkan keseimbangan cairan
volume cairan dalam 2. Pertahankan iv
keadaan seimbang, dengan line
kriteria hasil : 3. Pantau urine
output
 Tidak ada tanda
4. Kolaborasi
tanda dehidrasi
dengan operator dalam
(elastisitas tugor
penghentian
baik, membran
perdarahan (pemberian
mukosa lembab)
klem, koter, dan
 Mempertahankan
dapper)
urine output sesuai
dengan usia dan BB

3 Resiko infeksi b.d prosedur Setalah dilakukan asuhan 1. Pertahankan APD


invasif keperawatan diharapkan (masker dan topi)
klien tidak terjadi infeksi 2. Lakukan
dengan kriteria hasil : scrubbing
3. Lakukan
 Tidak ada tanda
gaunning
tanda infeksi (rubor,
4. Lakukan gloving
kalor, dubor, tumor,
5. Lakukan aseptik
fungsio laesa)
area operasi
6. Lakukan

27
drapping
7. Pertahankan
prinsip steril

E. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI INTRA OPERASI


No Dx. Kep Implementasi Evaluasi
1 Resiko cidera b.d 1. Memaastikan posisi pasien S:
anestesi narkotik yang sesuai dengan tindakan O: elektroda terpasang,
operasi integritas kulit baik.
2. mengecek integritas kulit A : Cidera tidak terjadi
3. mengecek daerah P:
penekanan pada tubuh selama Pertahankan intervensi :
operasi
 Pastikan posisi
4. Memasang penghantar
pasien tepat
elektroda
 Cek intergritas
5. Menghitung jumlah kasa,
kulit
jarum, bisturi, dapper, dan
 Cak daerah
instrumen bedah
penekanan pada
6. Melakukan time out
tubuh
7. Melakukan sign out

2 Resiko 1. Mempertahankan S:
ketidakseimbangan keseimbangan cairan O : balance cairan : -59cc
volume cairan bd 2. Mempertahankan iv line Iv line dipertahankan
perdarahan 3. Memantau urine output Urine output 2500cc
4. Berkolaborasi dengan A : resiko ketidak
operator dalam penghentian seimbangan volume
perdarahan (pemberian klem, cairan
koter, dan dapper) P:
Pertahankan
keseimbangan cairan

28
3 Resiko infeksi b.d 1. Mempertahankan APD S:
prosedur invasif (masker dan topi) O : telah dilakukan Total
2. Melakukan scrubbing Thiroidektomie oleh
3. Melakukan gaunning operator
4. Melakukan gloving A : resiko infeksi
5. Melakukan aseptik area P : pertahankan prinsip
operasi steril selama periode post
6. Melakukan drapping operasi
7. Mempertahankan prinsip Kolaborasi pemberian
steril antibiotika post operasi

29
POST OPERATIVE
A. POST OPERASI
1. Pasien pindah keruang recovery room pada pukul 14.15WIB
2. Keluhan saat di recovery room gelisah, wajah klien tampak meringis menahan sakit,
VAS : 3
3. Air way : terdengar bunyi gargling, klien terpasang OPA
4. Breathing : RR : 24x/menit, tidak menggunakan otot bantu pernafasan, SpO2 99 %
5. Sirkulasi : 140/70mmHg, tingkatt kesadaran GCS :12 Apatis : e:3, v : 4, m : 5 = 12
(apatis), akral dingin, Nadi : 96x/menit
6. Observasi RR : aldret score
No Criteria Skor Skor Skor saat
Saat masuk jam keluar RR jam
11:00 12:05
1 Warna kulit 2 2
- Kemerahan 2
- Pucat 1
- Sianosis 0
2 Aktivitas motoric
- Gerak 4 anggota tubuh 2 2 2
- Gerak 2 anggota tubuh 1
- Tidak ada gerakan 0
3 Pernapasan
- Napas dalam, batuk dan kuat 2 1 2
- Nafas dangkal dan kuat 1
- Apnea atau nafas tidak 0
adekuat
4 Tekanan darah
- ± 20 mmhg dari pre operasi 2 2 2
- 20-50 mmhg dari pre 1
operasi 0
- ± 50 mmhg dari pre operasi
5 Kesadaran 1 1
- Sadar penuh mudah 2

30
dipanggil 1
- Bangun jika dipanggil 0
- Tidak ada respon
Jumla 8 9
h

7. TTV : suhu 35,7oc, nadi : 96 x/menit, td : 140/70 mmhg, rr : 24 x/mnt


8. Kesadaran : e:3, v : 4, m : 5 = 12 (apatis)
9. Balance cairan
Kebutuhan cairan dewasa
= 50 cc/kg/BB/24 jam
= 50 cc x 70kg/ 24 jam = 145,8 cc/jam
2 jam operasi = 2 x 145,8 = 291 cc= 300 cc)
Perdarahan saat ini: ±100 cc
IWL: BB x 15 = 70 x 15 = 105 cc
IWL 2 jam= 8,75 cc= 9 cc
Pasien terpasang kateter urin: 250 cc.
Output= 9 + 100 + 250 = 359 cc
Balance cairan: intake – output = 300 cc – 359 cc= -59 cc
Intake = 300 cc
10. Survey sekunder, lakukan secara head to toe secara prioritas:
NORMAL
PENJELASAN
YA TIDAK
Kepala Ya Bentuk kepala bulat, tidak ada benjolan, tidak ada
lesi
Leher Tidak Terdapat luka post oeprasi total thyrodectomy di
leher sinistra
Dada Ya I = Tidak tampak letus cordis
P = Denyut jantung teratur
P = Terdengar bunyi pekak
A = Irama jantung teratur, tidak terdapat bunyi
murmur
Abdomen Ya I = RR: 24x/mnt, gerakan naik turun dada teratur

31
P = Bunyi sonor
P = Vokal Fremitus sama
A = Tidak terdapat bunyi ronkhi/ wheezing, bunyi
nafas vasikuler
Genetalia Ya Bersih, tidak ada lesi, tidak terpasang DC, tidak ada
kelainan, tidak ada hemoroid
Integumen Tidak Terdapat luka post operasi total thyrodectomy di
leher
Ekstremitas Kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah
4 4
4 4

B. ANALISA KEPERAWATAN POST OPERASI


POST OPERATIF
DS: - Bersihan jalan nafas tidak Akumulasi Sekret efek
DO: efektif narkose General
RR= 24 x/mnt
Pasien terpasang OPA
Terdengar bunyi gargling
GCS: 12 (Apatis)
DS : - Hipotermi Terpajan suhu lingkungan
DO : rendah
Klien tampak mengigil
kedinginan, tubuh klien
bergetar kedinginan,
akral dingin, suhu : 35,7c
DS : Nyeri Adanya incisi (luka) post
DO : Klien gelisah , TD Total thiroidektomie
140/70 mmhg, Nadi 96 x
/mt
Wajah klien tampak
meringis menahan sakit,
VAS : 3

32
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d Akumulasi Sekret
2. Hipotermi b.d terpajan suhu lingkungan rendah
3. Nyeri b.d insisi pembedahan post total thiroidektomie

D. INTERVENSI POST OPERASI


NO Diagnosa Tujuan Intervensi
1 Bersihan jalan nafas tidak efektif Setalah dilakukan 1. Pertahankan OPA
b.d Akumulasi Sekret efek asuhan keperawatan 2. Lakukan suction
narkose general diharapkan bersihan 3. Pantau saturasi
jalan nafas efektif 02
dengan kriteria hasil: 4. Pantau TTV
5. Evaluasi jalan
 Suara nafas
nafas
vasikuler
tidak terdapat
sekret di jalan
nafas

2 Hipotermi b.d terpajan suhu Setelah dilakukan 1. PantauTTV


lingkungan rendah asuhan keperawatan 2. Berikan selimut
diharapkan suhu penghagat
tubuh klien dalam 3. Pantau suhu
rentan normal, lingkungan
dengan kriteria hasil
: 36,5 -37,5celsius
3 Nyeri b.d insisi pembedahan post Setelah dilakukan 1. Ukur TTV
total thiroidektomie asuhan keperawattan 2. Kaji skala nyeri
diharapkan nyeri 3. Berikan posisi
klien berkurang, nyaman
dengan kriteria hasil 4. Anjurkan teknik

33
: VAS berkurang relaksasi nafas dalam
pada skala 1 - 2,
klien dapat
mengontrol rasa
nyeri

E. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI POST OPERASI


NO Diagnosa Implementasi Evaluasi
1 Bersihan jalan
1 1. Mempertahankan OPA S : klien mengatakan
nafas tidak efektif 2. Melakukan suction tidak ada sekret
b.d Akumulasi 3. Memantau saturasi 02 O : OPA dilepas,suara
Sekret 4. Memantau TTV ( hasilnya) nafas vesikuler, gurgling
5. Mengkaji bersihan jalan ( - ), Jalan nafas clear
nafas GCS : 14 (Composmetis)
TTV :
TD : 120/79mmHg
Nd : 88x/menit
S: 36,4 c
RR: 22x/m
A : masalah teratasi
P : Monitor dan kaji jalan
nafas s/d 24 jam
2 Hipotermi b.d1. MemantauTTV S : klien mengatakan
terpajan suhu2. Memberikan selimut penghagat tubuhny mulai
lingkungan rendah 3. Memantau suhu lingkungan menghangat
O : klien terpasang
selimut penghangat pada
suhu 37-45 celsius
Suhu : 36,4celsius
A: masalah hipotermi
sebagian teratasi
P : lanjutakn intervensi

34
 Pantau TTV
 Berikan selimut
 Pantau suhu
lingkungan

3 Nyeri b.d insisi 1. Mengukur TTV S : klien mengatakan


pembedahan post 2. Mengkaji skala nyeri dapat mengontrol
total thiroidektomie 3. Memberikan posisi nyerinya, klien
nyaman mengatakan skala nyeri 2
4. Menganjurkan teknik dari (0-10)
relaksasi nafas dalam O : klien melakukan
relaksasi nafas dalam,
TTV :
TD : 120/79mmHg
Nd : 88x/menit
S: 36,4 c
RR: 22x/m
A : Masalah nyeri
sebagian teratasi
pertahankan intervensi :

 Ukur TTV
 kaji skala nyeri
 Berikan posisi
nyaman
 Anjurkan teknik
relaksasi nafas
dalam

35
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Onkologi Bedah merupakan divisi dari bedah yang dibentuk dari prosedur screening
cancer, theraphy cancer, dan follow up untuk pasien dengan benigna dan malignant
tumor. Sedangkan Terapi Bedah Onkologi adalah sebuah prosedur yang kompleks yang
melibatkan sebuah team yang kompak terdiri dari tenaga ahli pada sebuah Center Cancer
yaitu ahli oncologi, ahli radiasi oncologi, ahli radiologi, ahli patologi, ahli bedah
plastik/rekonstruksi, konsultan genetic, perawat onkologi, dan pekerja sosial yang
bekerja untuk pasien kanker.

4.2 Saran
a. Dalam pemecahan masalah pasien, perawat hendaknya mampu melaksanakan asuhan
keperawatan meliputi pengkajian, analisa data, intervensi, implementasi, dan evaluasi
secara cermat, teliti, tepat serta paripurna dengan kemajuan dan perkembangan ilmu
keperawatan.
b. Untuk meningkatkan mutu dalam asuhan keperawatan pada pasien pre dan post
operasi tiroidektomi sebaiknya keluarga perlu dilibatkan dalam perawatan pasien baik
selama di rumah sakit juga setelah pulang dari rumah sakit.

36
DAFTAR PUSTAKA

Lukitto,P : Sejati, F Terapi Bedah Pada tumor. Sub bagian oncology. Bagian Ilmu
Bedah. FK Unpad/RSHS Bandung 1982

http://www.perawat-cerdas.blogspot.com/askep-po-kanker-tiroid/
Diakses tanggal 15 September 2019

http://www.scribd.com/askep-onkologi/
Diakses tanggal 15 September 2019

http://www.scribd.com/teori-onkologi/
Diakses tanggal 15 September 2019

37