Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM INVENTORI

Disusun sebagai salah satu tugas dalam Mata Kuliah Tes Inventori

Semester Gasal 2019

Dosen Pengampu: T.M. Raditya Hernawa, M. Psi

Dr. Agnes Indar, M. Si., Psikolog Asisten

: Bernadetha Sekar Rosari

Disusun oleh:

Nama : Christina Mega Citraning Tyas

NIM : 159114157

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2019
LAPORAN
TESTI I
I. Identitas Testi I
Inisial : BRA
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/tanggal lahir : Kulon Progo, 20 Mei 1998
Alamat tinggal : Kotabaru, Yogyakarta
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Mahasiswi
Urutan kelahiran : Anak kedua dari dua bersaudara
II. Latar Belakang
Testi memandang dirinya sebagai sosok yang santai dalam melakukan aktivitas,
hal ini dikarenakan testi tidak menyukai situasi rumit dan juga dirinya tidak nyaman
bila harus berada di tengah konflik. Sifat santai tersebut menjadi suatu kelebihan
yang dimiliki testi, ia mengaku bahwa tidak semua orang bisa tenang dalam
menghadapi masalah sehingga malah menimbulkan konflik-konflik yang tidak
perlu. Meski terkesan santai, testi akan melakukan aktivitas yang ia jalani sebaik
mungkin. Testi juga menyatakan bahwa dirinya merupakan sosok yang senang
membantu orang lain selagi dirinya memiliki daya untuk membantu. Testi
merupakan orang yang bisa menempatkan diri serta beradaptasi dan juga suka
mendengarkan pendapat orang lain, namun testi mengaku bahwa dirinya tidak suka
bila hidupnya terlalu diatur-atur oleh orang lain. Testi menyatakan salah satu
kelemahan yang ia miliki adalah sikap perfeksionis, meski ia tidak yakin bahwa sifat
tersebut masuk sebagai kelemahan atau kelebihan. Hal tersebut dikarenakan sifat
perfeksionis tersebut bisa membuat orang lain lelah untuk mengikuti pola pikir yang
ia miliki, terutama bila ia harus berada dalam suatu kelompok. Target yang dimiliki
saat ini adalah dapat menyelesaikan tugas akhir sebaik mungkin dan dapat lulus
dengan tepat waktu. Testi mengaku bahwa ia bukan tipe orang yang melakukan
perencanaan akan hidup dan masa depan, ia cenderung mengikuti alur dan
mengusahakannya sebaik mungkin. Testi menyatakan selalu bingung ketika ia
ditanyai mengenai cita-citanya selepas ia menyelesaikan studi di strata satu, yang
terpenting baginya kelak adalah menjadi orang kaya secara finansial dan mandiri
agar tidak merepotkan orang lain. Hal ini dikarenakan testi merasa tidak nyaman
bila harus menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Motto hidup yang dimiliki
testi adalah menjadi orang yang cukup dan mencukupi orang lain. Testi mengaku
bahwa dirinya tidak pernah menyesali semua keputusan yang telah ia buat. Hal ini
dikarenakan testi selalu mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi yang kiranya
1
akan muncul dalam setiap keputusan yang ia ambil, sehingga ketika ada hal yang
tidak menyenangkan muncul testi sudah siap untuk menghadapinya.

Testi mengaku bahwa dirinya merupakan sosok yang tidak terstruktur dalam
pengerjaan tugas suka menunda-nunda pekerjaan sampai mendekati batas waktu
yang ditentukan. Hal ini terjadi karena testi merupakan tipe orang yang hanya bisa
bekerja ketika suasana hatinya mendukung, selain itu testi juga mengaku bahwa
seringkali inspirasi pekerjaan datang ketika mendekati masa tenggang berakhir. Testi
menyatakan bahwa dia bukan orang yang gila kerja dan penuh ambisi. Testi juga
mengaku ia merupakan orang yang bisa mengukur kapasitas dirinya bila hendak
memulai suatu tanggung jawab, dirinya tidak akan menerima suatu tugas ketika ia
tidak merasa mampu untuk menyeimbangkan waktu serta tenaga untuk
menyelesaikannya. Hal ini dikarenakan testi tidak mau memberi harapan palsu
kepada orang lain, dan berprinsip bahwa ketika ia sudah menerima suatu pekerjaan
maka ia harus menyelesaikan pekerjaan itu dengan maksimal. Testi lebih menyukai
pekerjaan yang diselesaikan secara individu bila dibandingkan dengan pekerjaan
kelompok, karena ia bisa leluasa mengerjakan pekerjaan sesuai idealismenya tanpa
harus mempertimbangkan idealisme orang lain. Selain itu, dengan mengerjakan
pekerjaan secara mandiri testi tidak perlu merasa tidak enak hati kepada rekan saat
ia menunda-nunda untuk mengerjakan. Saat berada dalam kelompok, testi cenderung
lebih suka mengikuti alur daripada harus mengatur, namun ketika testi merasa bahwa
dirinya perlu untuk berperan dalam suatu masalah ia akan terjun dan
menyelesaikannya dengan baik. Tantangan terbesar dalam mengerjakan tugas adalah
melawan kemalasan yang ia miliki, terutama bila testi berada dalam suatu kelompok
yang beranggotakan orang-orang yang cekatan dan tidak suka menunda-nunda
pekerjaan. Testi akan lebih menempatkan diri dan mengikuti alur kerja kelompok,
dan berusaha untuk tidak merepotkan anggota kelompok yang lain dengan
mengerjakan tugas sesuai kesepakatan kelompok. Testi mengaku tidak sulit untuk
beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan, karena sejak kecil testi sudah terbiasa
mengikuti dan berdinamika dengan komunitas yang beranggotakan orang-orang
dengan latar belakang yang beragam.

Testi merupakan mahasiswi semester tujuh, selama menjalani perkuliahan ia


juga mengikuti beberapa kegiatan diluar jam kuliah untuk menjalin relasi yang lebih
luas serta untuk menambah pengalaman. Bagi testi prestasi merupakan hasil dari apa
yang sudah diusahakan, serta ukuran prestasi tidak selalu menjadi yang terbaik dari

2
orang lain. Testi menyatakan bahwa prestasi di bidang akademik adalah IPK yang
diperoleh, karena dirinya merasa mampu menyeimbangkan padatnya waktu
berkegiatan di luar perkuliahan tanpa harus mengesampingkan tanggung jawab
kuliah. Testi mengungkapkan bahwa ia cukup sedih saat melewatkan dua
kesempatan bagi dirinya untuk berpartisipasi dalam kompetisi paduan suara. Testi
harus merelakan kesempatan pertama karena keterbatasan finansial keluarga saat itu,
testi enggan merepotkan ibunya bila harus mengikuti ego untuk berangkat ke
kompetisi tersebut. Pada kesempatan kedua, testi terjebak pada situasi di mana
dirinya harus menjalani magang di Muntilan sehingga mustahil baginya untuk
menyeimbangkan waktu magang dan proses latihan paduan suara yang sangat padat.
Prinsip yang testi pegang saat hendak mengambil keputusan adalah mengutamakan
prioritas utama yang sudah ia pegang dan juga jangan sampai keputusan yang ia
ambil akan merepotkan serta merugikan orang lain. Testi mengungkapkan bahwa ia
sudah merasa bangga ketika dirinya bisa berkontribusi pada kegiatan yang selaras
dengan hobinya yaitu menyanyi, kontribusi yang dimaksudkan seperti menjadi
dirigen koor, mengikuti konser, dan mengisi paduan suara di kegiatan lingkup
kampus.

Testi merupakan sosok yang enggan memperkeruh keadaan, sehingga ketika saat
ia berada pada kelompok yang sedang menghadapi perselisihan, ia akan terlebih
dahulu mendengarkan dan berusaha memahami situasi dengan tenang. Saat testi
sudah memahami akar masalah maka dirinya akan mengambil tindakan yang
menurutnya sesuai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Testi enggan untuk
gegabah dalam bertindak, dan menjadikan masalah baru. Pada beberapa waktu
terakhir, testi baru saja memutuskan untuk berpisah dengan kekasihnya. Testi
mengaku bahwa keputusannya untuk berpisah tersebut telah ia pikirkan cukup lama
dan sudah melalui berbagai pertimbangan. Testi tidak menyangka bahwa keputusan
untuk berpisah tersebut masih belum bisa diterima oleh mantan kekasihnya, meski
sudah berpisah namun mantan kekasihnya tersebut masih sering memantau keadaan
terkini testi melalui sahabat terdekat testi. Perlakuan mantan kekasih testi membuat
dirinya semakin merasa tidak nyaman karena merasa terintai, selain itu testi merasa
tidak enak hati dengan sahabatnya karena merasa merepotkan dan mengganggu
ketentraman hidup sahabatnya. Hal yang dialami testi ini cukup menguras emosi
testi, karena testi sudah berusaha untuk menjelaskan dengan baik alasan mengapa ia
memilih untuk berpisah dan juga sudah berusaha untuk menjalin relasi yang baik
dengan mantannya meski respon mantan kekasihnya tersebut masih tetap dan belum
3
legowo. Maka, sikap yang dilakukan testi adalah mengabaikan mantan kekasihnya,
ia enggan menimbulkan masalah yang baru lagi. Testi akan menyelesaikan
masalahnya sendirian, meski dalam beberapa hal ia juga akan meminta
pertimbangan teman terdekat. Hal ini dilakukan testi karena dirinya selalu takut
ketika dirinya akan merepotkan orang lain. Testi mengaku bahwa dirinya merupakan
orang yang santai dan tidak ambil pusing dalam hal pertemanan, namun dirinya
sering merasa jengkel ketika temannya sering menggantungkan keadaan dan situasi
yang tidak pasti. Contohnya adalah ketika testi dan temannya sudah membuat
agenda untuk bercerita, namun tiba-tiba temannya membatalkan hal tersebut tanpa
alasan yang tidak pasti. Saat menghadapi situasi seperti ini, testi akan mengejar
teman tersebut untuk bercerita meski cara mengejar masih dalam tahap yang wajar
agar temannya masih bisa merasa nyaman. Testi percaya bahwa ketika ada kejadian
yang dibatalkan secara tiba-tiba pasti ada alasan yang harus digali.

Arti keluarga bagi testi adalah tempat untuk kembali pulang, dalam artian
bahwa segala hal yang ia lakukan pasti akan bersangkutan dengan kesejahteraan
keluarga. Testi merupakan anak kedua dari dua bersaudara, namun saat ini dirinya
tinggal bersama ibunya karena ayah dan saudara perempuannya sudah meninggal
sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Testi menyatakan bahwa sejak kecil
hubungannya dengan anggota keluarganya terbilang biasa-biasa saja, dalam artian
tidak terlalu dekat namun juga tidak pernah ada perselisihan. Testi mengakui bahwa
semenjak dirinya hanya tinggal bersama ibunya, menjadikan ia semakin dekat
dengan ibu. Hal ini disadari testi bahwa ibu merupakan satusatunya sosok yang
harus ia lindungi dan yang akan selalu melindungi. Menyadari tanggung-jawab
untuk menjaga ibunya, menjadikan keluarga sebagai prioritas utama bagi testi di atas
kepentingan dirinya sendiri. Testi cenderung suka bercerita kepada ibunya mengenai
hidupnya, namun cerita tentang asmara merupakan pengecualian yang enggan ia
ceritakan kepada ibunya. Hal yang paling berkesan bagi testi ketika pertama kalinya
memberi ucapan selamat ulang tahun beserta kado kepada ibunya, dalam pengakuan
testi nampak raut muka bahagia yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Testi
berharap agar ibunya selalu memberi kepercayaan kepada testi untuk melakukan apa
saja yang ia suka, tanpa harus mengekang kebebasan test.

Bagi testi, teman merupakan hal yang sangat penting dalam hidupnya karena
teman merupakan pendukung bagi dirinya untuk berkembang. Testi menyatakan
bahwa teman yang baik adalah teman yang tidak akan memaksakan kehendak, juga

4
teman yang baik adalah saling mendukung dan saling mengingatkan namun bukan
berarti membatasi. Testi bersyukur karena selama ini ia berada di lingkungan
pertemanan yang mampu memahami dirinya sehingga tidak pernah terjadi
pertikaian. Testi akan memberi pandangannya ketika ada teman yang datang untuk
bercerita dan meminta saran, namun testi menghormati bahwa keputusan tetap
berada di tangan temannya tersebut. Perlakuan demikian pula yang diharapkan testi
kepada dirinya. Testi cenderung suka bermain dengan teman laki-laki, persentase
teman laki-laki lebih banyak bila dibanding teman perempuannya. Testi menyatakan
bahwa berteman dengan laki-laki lebih menyenangkan, cekatan dalam bertindak,
dan juga solutif. Hal yang disukai testi saat bermain dengan teman laki-laki tidak
perlu membuang waktu untuk hal yang tidak penting seperti meributkan mau makan
dimana, tidak seperti ketika testi bermain dengan teman perempuan yang terlalu
banyak pertimbangan dan membuang waktu. Namun, testi lebih suka untuk bercerita
kepada teman perempuan daripada kepada teman laki laki. Testi mengaku bahwa
terkadang teman laki-laki tidak bisa diajak bercerita tentang hal yang bersangkutan
dengan perasaan.

Testi menyatakan bahwa pertemanan dan kisah asmara berada di tingkat yang
setara, sehingga ia tidak akan pernah mengorbankan pertemanan demi pacaran.
Kualitas hubungan yang didambakan testi adalah hubungan yang saling mendukung
namun tidak saling mengatur. Testi tidak sungkan untuk mengatakan kepada
pasangan bila ada perlakuan dari pasangan yang membuat dirinya merasa tidak
nyaman, terutama bila dirinya merasa bahwa pasangan mulai terlalu mengatur
kehidupannya. Testi juga berprinsip bahwa di usianya saat ini agar jangan terlalu
larut dalam perasaan dan berekspektasi terlalu jauh. Testi percaya bahwa dunia ini
bersifat cair, semua kemungkinan masih bisa terjadi mulai dari yang sempat terlintas
di pikiran sampai hal yang tidak pernah terpikirkan

III. Pelaksanaan Tes


Pengetesan dilakukan pada hari Selasa, 23 Oktober 2019 pukul 16.30 WIB
hingga pukul 19.00 WIB di ruang Laboratorium Psikologi, Fakultas Psikologi,
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Di dalam ruang pengetesan, terdapat enam
meja dan kursi untuk enam testi, dua meja dan kursi di belakang untuk tester dan
pengawas, serta terdapat dua meja dan kursi di depan untuk dua tester. Kondisi fisik
dalam ruangan kondusif dengan standar ruang tes yang memadai seperti pendingin
ruangan yang diatur dengan suhu normal, pencahayaan yang cukup. Namun suasana
pengetesan tidak kondusif karena terdapat gangguan suara dari dalam ruangan
5
maupun dari luar ruangan. Gangguan yang dimaksudkan adalah pergesekan
pengharum ruangan dengan alat pendingin ruangan yang secara konsisten
menimbulkan suara dan munculnya gangguan dari luar ruangan berupa keriuhan dari
acara.

Testi tiba di tempat pengetesan pada pukul 15.45 WIB. Testi menggunakan
kaos berwarna putih, celana jeans berwarna biru tua, dan bersepatu putih. Testi
terlihat tenang dan tidak menunjukan ekspresi gelisah. Sebelum pengetesan
dimulai,tester mempersilakan testi untuk duduk di depan Laboratorium Psikologi.
Testi menunggu bersama testi lain di depan laboratorium psikologi saat tester
melakukan briefing dengan pengawas. Pukul 16.30 WIB, semua testi dipersilakan
untuk masuk dalam ruangan pengetesan. Testi duduk di barisan paling belakang
pojok kiri. Saat rapport awal, testi terlihat memperhatikan dengan antusias. Pada tes
pertama yaitu tes EPPS, testi memperhatikan tester yang memberikan panduan
pengerjaan dan membaca panduan di buku soal dengan seksama. Pada tes kedua
yaitu tes PAULI, testi menyimak tester yang memberikan petunjuk administrasi tes,
dan memeriksa lembar PAULI dengan membalik kertas. Testi menganggukan
kepalanya di akhir rapport PAULI sebagai tanda testi telah paham dengan petunjuk
pengerjaan tes.

Testi mengerjakan tes EPPS mulai dari pukul 16.30 setelah tester
menjelaskan panduan pengerjaan. Sebelum memulai pengerjaan tes EPPS, testi
mencari riuh suara yang berasal dari pendingin ruangan dan juga kegaduhan yang
diakibatkan oleh gesekan sepatu peserta tes lain. Selama pengerjaan tes testi sangat
tenang dan fokus pada soal, hal ini didukung oleh posisi tubuh testi yang cenderung
mendekatkan badan ke meja dan tidak menyenderkan punggung ke kursi. Selain itu,
meski muncul distraksi suara dari luar ruangan testi dan pemberian peringatan
pertama oleh tester, testi tetap fokus mengerjakan soal. Saat tester memberikan
peringatan yang kedua testi menanggapi interaksi peserta lain dengan melakukan
kontak mata. Testi menyelesaikan soal EPPS dalam kurun waktu 46 rmenit. Testi
memanfaatkan sisa waktu pengerjaan untuk mengecek kembali pekerjaan,
memperbaiki rambut, memperbaiki kaos, dan melihat peserta lain. Testi segera
memasukan lembar jawab ke buku soal saat tester memberi instruksi bahwa
pengerjaan sudah selesai. Testi keluar dari ruangan tes untuk beristirahat sebelum
melakukan kegiatan tes yang kedua, setelah tester mempersilakan seluruh peserta
tes untuk keluar dari ruangan.

6
Testi kembali memasuki ruangan untuk melakukan tes PAULI pada pukul
17.45 bersama dengan peserta tes yang lain. Testi nampak terkejut dan panik saat
menerima lembar jawab PAULI, hal ini didukung saat testi mencoba melakukan
interaksi dengan tester untuk memastikan apakah dirinya harus berurusan dengan
angka. Testi juga mengajukan pertanyaan setelah tester selesai memberikan
instruksi pengerjaan. Pada pengerjaan tes EPPS sebelumnya, testi nampak tenang
dan fokus. Namun berbeda dengan pengerjaan tes PAULI, pada pengerjaan tes
PAULI testi nampak tidak berkonsentrasi. Hal ini didukung oleh intensitas
pergerakan yang dilakukan testi lebih banyak, dengan memperhatikan peserta tes
lain, mata melihat ke arah pintu, dan juga testi cenderung sering mengubah posisi
kaki dan tubuh selama pengerjaan. Testi terlihat terkejut dan mengumpat empat kali
saat tester memberi instruksi “GARIS”, namun testi mulai bisa menyesuaikan diri
pada instruksi “GARIS” selanjutnya. Testi meletakan alat tulis dan lembar jawab
PAULI saat tester memberi instruksi “STOP”. Testi nampak mengeluhkan
kelelahannya dengan peserta tes yang lain saat tester memberi raport penutup.

Testi keluar ruangan setelah tester selesai memberikan raport penutup.

IV. Hasil Tes


A. EPPS
1. Tabel Hasil
No Kebutuhan Persentil Interpretasi
1. Nurturance 91 (Tinggi) Testi memiliki kecenderungan
yang tinggi untuk memberikan
bantuan kepada orang lain
2. Interception 90(Tinggi) Testi memiliki kecenderungan
yang tinggi memahami dan
mengerti perasaan orang lain.
3. Aggresion 79 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk
melakukan penyerangan kepada
pihak yang bertentangan dengan
dirinya.
4. Autonomy 77 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk
menentukan keputusan sendiri.
5. Order 77 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk
melakukan perencanaan dan
bekerja secara teratur

7
6. Change 68 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk
melakukan sesuatu yang baru dan
berbeda, serta mengikuti
perubahan keadaan.
7. Heterosexual 63 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk menjalin
relasi dengan teman lawan jenis
8. Abasement 58 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk merasa
bersalah, merasa takut, dan merasa
rendah diri.
9. Defereance 50 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk menaati
aturan.
10. Achievement 47 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk
mencapai prestasi
11. Endurance 44 (Rata-rata) Testi memilikikecenderungan
yang
cukuptinggiuntukbertekundalamt
ugasnyadantidakingindiganggudal
ammenyelesaikantugasnya
12. Succorance 33 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk menerima
bantuan dari orang lain.

13. Dominance 23 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan


yang cukup tinggi untuk
mempengaruhi dan memimpin
orang lain.
14. Exhibition 10 (Rendah) Testi memiliki kecenderungan
yang rendah untuk menunjukan
potensi dan prestasi diri.
15. Affiliation 2 ( Sangat Testi memiliki kecenderungan
Rendah) yang sangat rendah untuk menjalin
pertemanan dengan orang lain.

2. Profil
(terlampir)

B. PAULI
1. Hasil Interpretasi Tes
8
Skor
No. Aspek Interpretasi
(Kategori)
1 Jumlah 1704 Testi memiliki
(rendah) energi melakukan
pekerjaan yang
rendah. Selain itu
testi cenderung
memiliki
kesediaan kerja
yang kurang baik
sehingga testi
memiliki
semangat dan
kecepatan dalam
menyelesaikan
pekerjaan yang
rendah.
2 Grafik Menanjak lalu Testi memiliki
menurun
kualitas kerja dan
( Grafik IIC)
Kategori : GK penyebaran energi
(-) yang kurang baik.
3 Hasil Awal 74( HA ≤ X) Testi kurang
memiliki kesiapan
kerja yang kurang
baik. Selain itu,
testi memiliki
kepercayaan diri
dan semangat kerja
yang kurang baik.

4 Penurunan Awal 2 (Ada ) Testi cenderung


(3 menit ke 7) memiliki
kemampuan
adaptasi yang baik
sehingga dirinya
tidak menemui
kesulitan yang
berarti dalam
mengatasi
kesulitan yang

dihadapinya.

9
5 Titik Rendah 72 (3 menit ke Testi cenderung
7) memiliki
Kategori :Arah kemampuan yang
kiri baik dalam
penyesuaian diri
sehingga testi
cenderung cepat
dalam mengatasi
masalah terhadap
tekanan suatu
pekerjaan.

6 a. Salah 0% (tinggi) Testi memiliki


ketelitian yang
tinggi dalam
bekerja.
b. Dibetulkan 0, 75% Testi memiliki
(sedang) tanggung jawab
dan kosentrasi
dalam bekerja
yang cukup baik
c. Parit 0 (tidak ada) Testi memiliki
konsentrasi yang
baik dalam bekerja
di bawah tekanan.
7 Titik Puncak 95 (3 menit ke Testi memiliki
11) sikap kerja yang
Kategori: kurang baik dalam
rendah bekerja. Selain itu,
testi memiliki
minat yang rendah
dalam melakukan
pekerjaan.
8 Tinggi 23 Testi memiliki
Kategori:rendah energi yang kurang
dalam bekerja
sehingga testi
kurang dapat
mengusahakan
hasil yang baik
dalam suatu
pekerjaan. Selain
itu, testi memiliki

10
daya juang yang
rendah untuk
bangkit dari
keterpurukan
9 Simpangan 4,3% Testi memiliki
(Rendah) fluktuasi kerja
yang kurang baik.
Testi juga
memiliki
dorongan dan
kemauan untuk
mengerjakan suatu
pekerjaan yang
rendah.
Selain itu testi
kurang mampu
mengatur stabilitas
emosi dalam
melakukan
pekerjaan

2. Profil
(terlampir)

V. Dinamika Hasil Tes


1. EPPS
Berdasarkan hasil tes, testi memiliki kecenderungan yang tinggi untuk
memahami dan mengerti perasaan orang lain. Hal ini sesuai dengan latar belakang
testi yang menyatakan bahwa ketika dirinya berada pada kelompok yang sedang
menghadapi perselisihan, ia akan terlebih dahulu mendengarkan dan berusaha
memahami situasi dengan tenang Namun, testi memiliki kecenderungan yang cukup
tinggi untuk merasa bersalah, merasa takut, dan merasa rendah diri. Hal ini selaras
dengan latar belakang testi yang merasa tidak enak hati kepada ibunya bila ia harus
memaksakan kehendak untuk mengikuti kompetisi paduan suara karena takut
merepotkan ibunya. Di sisi lain, testi memiliki kecenderungan yang cukup tinggi
untuk menaati aturan dan norma. Hal ini selaras dengan latar belakang testi yang
memprioritaskan keluarganya di atas dirinya sendiri. Kemudian, testi memiliki
kecenderungan yang cukup tinggi untuk menerima bantuan atau simpati dari orang
lain. Hal ini tidak selaras dengan latar belakang testi yang enggan bila orang lain
direpotkan karena dirinya dan selalu berusaha untuk mandiri. Testi juga memiliki
kecenderungan yang rendah untuk menunjukan potensi dan prestasi diri. Hal ini

11
tidak selaras dengan latar belakang testi yang mengungkapkapkan bahwa dirinya
bisa berkontribusi pada beberapa kegiatan atas potensi yang ia miliki.

Testi memiliki kecenderungan yang tinggi untuk memberikan bantuan kepada


orang lain. Hal ini selaras dengan latar belakang testi yang mengaku bahwa dirinya
merupakan sosok yang senang membantu orang lain selagi dirinya memiliki daya
untuk membantu, didukung oleh pernyataan motto hidup testi yakni agar hidupnya
mampu menjadi orang yang cukup dan mencukupi orang lain. Di sisi lain, testi
memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk melakukan penyerangan kepada
pihak yang bertentangan dengan dirinya. Hal ini tidak sesuai dengan latar belakang
testi yang enggan untuk bertindak gegabah dan memperbesar masalah dengan orang
yang berseberangan dengan dirinya. Testi juga memiliki kecenderungan yang cukup
tinggi untuk menjalin relasi dengan teman lawan jenis. Hal ini sesuai dengan latar
belakang testi yang cenderung suka bermain dengan teman laki-laki, selain itu
persentase teman laki-laki lebih banyak bila dibanding teman perempuannya. Testi
menyatakan berteman dengan laki-laki lebih menyenangkan, cekatan dalam
bertindak, dan juga solutif daripada ketika sedang bersama teman-teman
perempuannya. Namun, testi memiliki kecenderungan yang sangat rendah untuk
menjalin pertemanan dengan orang lain. Hal ini tidak sesuai dengan latar belakang
testi yang menyatakan bahwa teman merupakan hal yang sangat penting dalam
hidupnya karena teman merupakan pendukung bagi dirinya untuk berkembang,
meskipun dirinya selalu berusaha untuk tidak melibatkan orang lain dalam
penyelesaian masalah yang dihadapi.

Testi memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk menentukan


keputusan sendiri dan enggan melibatkan orang lain dalam urusannya. Hal ini
selaras dengan latar belakang testi yang enggan bila hidupnya diatur-atur bahkan
oleh orang terdekat seperti ibu, teman, maupun kekasihnya. Hal ini semakin
didukung oleh pernyataan testi yang ingin dirinya mandiri secara finansial supaya
tidak bergantung dengan orang lain. Testi juga memiliki kecenderungan yang cukup
tinggi untuk melakukan perencanaan dan bekerja secara teratur. Hal ini tidak sesuai
dengan latar belakang testi yang menyatakan bahwa dalam pengerjaan tugas dirinya
merupakan sosok yang tidak terstruktur dan suka menunda-nunda pekerjaan sampai
mendekati batas waktu yang ditentukan. Hal ini terjadi karena testi merupakan tipe
orang yang hanya bisa bekerja ketika suasana hatinya mendukung. Kemudian testi
memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk melakukan sesuatu yang baru dan

12
berbeda serta mengikuti perubahan keadaan. Hal ini sesuai dengan latar belakang
testi yang percaya bahwa dunia ini bersifat cair, semua kemungkinan masih bisa
terjadi mulai dari yang sempat terlintas di pikiran sampai hal yang tidak pernah
terpikirkan. Kemudian, testi juga memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk
mencapai prestasi. Hal ini selaras dengan latar belakang testi yang memiliki target
dan tengah berusaha agar dapat menyelesaikan tugas akhir sebaik mungkin dan
dapat lulus dengan tepat waktu. Selain itu, testi juga memiliki kecenderungan yang
cukup tinggi untuk bertekun dalam tugasnya dan tidak ingin diganggu dalam
menyelesaikan tugasnya. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi yang enggan mau
memberi harapan palsu kepada orang lain, dan berprinsip bahwa ketika ia sudah
menerima suatu pekerjaan maka ia harus menyelesaikan pekerjaan itu dengan
maksimal. Testi juga memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk
mempengaruhi dan memimpin orang lain. Hal ini tidak sesuai dengan latar belakang
testi yang cenderung lebih suka mengikuti alur daripada harus saat dirinya berada
dalam kelompok.

2. PAULI
Berdasarkan hasil pengetesan, testi memiliki kemampuan pengelolaan energi
yang kurang baik untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Selain itu testi kurang
memiliki kesediaan dan energi untuk melakukan suatu pekerjaan. Oleh sebab itu,
testi kurang memiliki kecepatan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini sesuai
dengan latar belakang testi yang sering mendunda untuk mengerjakan pekerjaannya
dan testi mengaku bahwa dirinya hanya menerima tugas atau mengambil tanggung
jawab sesuai dengan kemampuannya.

Testi memiliki kesiapan kerja dan kepercayaan diri yang kurang dalam
memulai suatu pekerjaan. Selain itu testi kurang memiliki penyebaran energi
sehingga membuat kualitas kerja yang kurang baik. Hal ini sesuai dengan latar
belakang testi yang tidak membuat perencanaan dalam melakukan pekerjaan. Selain
itu, testi juga sering menunda pekerjaan bahkan sampai lupa untuk menyelesaikan
pekerjaan tersebut. Testi memiliki kemampuan adaptasi yang baik Hal ini sesuai
dengan pernyataan testi bahwa dirinya tergolong cepat dalam beradaptasi dengan
lingkungannya dan testi tidak pernah kesulitan untuk menyesuaikan dengan
lingkungan yang baru.

Testi memiliki stabilitas emosi yang kurang baik. Hal ini tidak sesuai dengan
latar belakang testi yang lebih memilih untuk menghindari dan memperparah konflik

13
dengan orang lain. Selain itu testi juga memiliki fluktuasi kerja yang rendah. Testi
kurang bisa mengendalikan dorongan, dan kemauan dari dalam dirinya. Hal ini
terlihat dari kebiasaan testi yang sering malas untuk menyelesaikan pekerjaan.

Selanjutnya, testi memiliki ketelitian kerja dan konsentrasi yang tergolong


baik. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi bahwa dirinya tetap bisa mencapai
IPK yang baik meski ia harus menyelesaikan banyak tanggung jawab di luar lingkup
kuliah. Testi juga memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya. Hal ini
sesuai dengan pernyataan testi bahwa meskipun dirinya sering menunda
mengerjakan tugasnya namun testi selalu menyelesaikan tugas dan tanggung
jawabnya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan testi.

3. Kesimpulan Umum
Berdasarkan uraian di atas, testi memiliki keingan untuk dapat menyelesaikan
S1 dengan tepat waktu. Kebutuhan-kebutuhan yang dapat menunjang keinginan testi
adalah. Hal ini didukung oleh testi yang memiliki rasa tanggung jawab yang besar
untuk menyelesaikan tugas yang ia emban. Ketelitian, penyebaran energi yang baik,
dan konsentrasi yang baik sangat dibutuhkan testi demi mendukung dalam
penyelesaian tugas akhir agar dirinya bisa lulus tepat waktu.

Dari hasil tes EPPS dan PAULI, maka dapat disimpulkan bahwa testi memiliki
kebutuhan yang tinggi memberikan bantuan kepada orang lain serta kebutuhan untuk
memahami dan mengerti perasaan orang lain. Hal ini akan mendukung testi dalam
menjalin relasi dengan orang lain baik secara individual maupun berkelompok. Testi
juga memiliki tanggung jawab dan konsentrasi yang sangat tinggi, hal ini akan
membantu testi dalam penyelesaian tanggung jawab yang ia emban seperti penulisan
tugas akhir.

Akan tetapi, testi memiliki kebutuhan yang rendah untuk menunjukan


kemampuan dan potensi yang ia miliki kepada orang, seperti . Testi perlu untuk
melatih kepercayaan dirinya agar ia bisa tetap bersaing dengan orang lain

14
LAPORAN
TESTI II

15
I. Identitas Testi II
Inisial : LGA
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 9 Agustus 1998
Alamat tinggal : Triharjo, Sleman, Yogyakarta
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Mahasiswi
Urutan kelahiran : Anak pertama dari dua bersaudara
II. Latar Belakang

Testi merupakan sosok yang dominan menggunakan perasaan dalam melakukan


suatu hal, testi mudah merasa bersalah, dan takut merepotkan orang lain. Testi
mengakui bahwa ketakutan terbesar testi adalah ketika ia merasa dirinya
merepotkan orang lain, saat dirinya mendapat bantuan dari orang lain meski teman
tersebut sama sekali tidak merasa direpotkan. Testi juga merasa bahwa sifatnya
yang mudah terbawa perasaan membuat dirinya lelah, karena energinya terkuras
untuk lebih banyak memikirkan perasaan orang lain daripada kepentingan dirinya
sendiri. Testi mengaku bahwa dirinya lebih senang bila melakukan aktivitas
bersama orang lain, testi juga sering merasa tidak nyaman ketika sendirian. Ketika
testi merasa sendirian, ia lekas menghubungi temannya untuk mengajak bepergian
atau sekadar menelepon. Namun dalam beberapa kesempatan, testi juga
menyediakan waktu untuk “me time” dengan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan
seorang diri selepas beribadah. Hal yang menjadi kelebihan dirinya adalah testi
mampu membangun dan mempertahankan suasana saat bersama orang lain
terutama dalam suatu kelompok. Kelebihan yang dimiliki testi ini menjadi penting
karena ia merasa bahwa tidak semua orang bisa melakukan hal yang serupa dengan
dirinya. Hal paling utama yang hendak dicapai oleh testi dalam waktu terdekat
adalah agar dirinya bisa menyelesaikan studi strata satu dengan tepat waktu dan
juga mempertahankan predikat cumlaude di samping kesibukan paduan suara yang
ia jalani. Demi mencapai keinginannya tersebut, testi berinisiatif untuk mulai
mencari bahan yang berkenaan dengan tugas akhir serta lebih aktif untuk bertanya
kepada dosen pembimbing dan juga teman-teman satu kelompok tugas akhir.
Testi merupakan orang yang lebih senang mengerjakan tugas kuliah saat
mendekati waktu batas pengumpulan, namun ketika testi merasa bahwa tugas yang
ia terima cukup sulit ia akan berusaha untuk menyicil jauh-jauh hari sebelum waktu
batas pengumpulan. Hal ini dikarenakan sifat testi yang suka menundanunda
pekerjaan, di samping itu testi juga sering merasa kekurangan waktu sebab ia sering
berkegiatan sampai larut malam. Meski testi menyadari sifat suka menunda-nunda
pekerjaan, testi mengaku bahwa dirinya tidak bisa memforsir dirinya untuk
begadang sampai larut malam, sehingga testi akan membuat perencanaan waktu
yang tepat untuk mengerjakan tugas. Testi cenderung memilih bangun lebih awal
untuk mengerjakan daripada harus begadang. Salah satu tantangan yang dialami
testi adalah ketika dirinya mengikuti kegiatan untuk kompetisi paduan suara, jtestial
latihan yang sangat padat bahkan di akhir pekan sangat menyita waktu testi untuk
mengerjakan tugas perkuliahan. Testi bersyukur karena saat itu ia mampu
melewatinya dengan baik, dia akan membawa tugas perkuliahan yang sekiranya
berat dan mencicilnya saat jeda waktu latihan. Selain itu, testi merasa sangat
didukung oleh teman-temannya di kelas dengan diingatkan untuk menjaga
kesehatan sehingga ia tidak jatuh sakit agar tetap bisa menyelesaikan tugas sembari
mempersiapkan kompetisi paduan suara. Testi memiliki prinsip bahwa semua
pekerjaan harus selesai, meski kadang ia menunda dalam mengerjakannya. Dalam
melakukan pekerjaan, testi tidak sungkan untuk bertanya dan meminta bantuan
kepada orang lain ketika ia tidak mengerti, bagi testi lebih baik bertanya daripada
tersesat. Testi juga cenderung lebih menyukai pekerjaan yang diselesaikan secara
berkelompok karena dengan cara demikian pekerjaan terasa lebih ringan sekaligus
menjadikan pertemanan semakin akrab dan solid. Testi mengaku bahwa meskipun
senang berada dalam lingkup kelompok, dia juga sering mengalami kendala saat
berada di dalam kelompok. Kendala yang dihadapi testi adalah ketika menghadapi
anggota kelompok yang pasif namun ingin terlihat menonjol dan tidak
memperdulikan orang lain, hal ini sering ditemui testi saat berada dalam kelompok
paduan suara. Testi mengaku bahwa ia akan mengamati terlebih dahulu apakah
teman dengan karakteristik tersebut dapat mempengaruhi dinamika yang terjadi di
dalam kelompok. Ketika testi mendapati bahwa teman tersebut memberi pengaruh
buruk pada dinamika kelompok, maka ia akan menegur teman tersebut pada forum.
Testi mengaku bahwa dirinya tidak terlalu nyaman saat menegur teman dalam
forum, namun hal ini harus ia lakukan demi kebaikan bersama.

17
Menurut pandangan testi, prestasi adalah sesuatu yang diperoleh atas dasar suatu
usaha. Testi mengaku bahwa dengan mampu bertahan di jurusan dan memperoleh
IPK yang baik merupakan suatu prestasi di bidang akademik yang tidak pernah ia
bayangkan. Testi mengaku bahwa ia berasal dari latar belakang sekolah menengah
yang linear dengan jurusannya saat ini, namun saat berada di sekolah menengah ia
mendapatkan nilai yang kurang memuaskan dan juga salah satu gurunya pernah
mengatakan bahwa kemungkinan testi salah jurusan. Hal ini menyebabkan testi
sempat merasa tidak percaya diri saat memutuskan untuk mengambil jurusan yang
ia jalani saat ini. Testi memiliki hobi menyanyi sejak ia masih duduk di bangku
sekolah dasar, sejak saat itulah testi sering mengikuti lomba paduan suara hingga
saat ini. Beberapa penghargaan sudah diterima testi dari menyalurkan hobinya
tersebut, penghargaan terakhir yang ia terima adalah saat dirinya boleh mewakili
kampus dalam suatu kompetisi paduan suara di Vietnam. Testi mengaku bahwa
tidak mudah untuk menyeimbangkan waktu antara hobi dan kewajibannya sebagai
mahasiswi, namun ia berusaha keras untuk totalitas di keduanya. Testi juga
menyatakan bahwa ia sangat terbantu oleh kepedulian teman-temannya yang selalu
mengingatkan dirinya akan segala tanggung jawab yang ia emban. Testi
menyatakan bahwa dirinya memiliki niat untuk bekerja sesuai dengan jurusannya
saat ini, yakni akuntansi. Meski tidak memiliki kemampuan akuntansi yang sangat
bagus, namun ia percaya bahwa kegigihan dan kemauan untuk belajar yang ia miliki
akan membuat ia bertahan.

Testi merupakan orang yang cukup melibatkan pendapat dan saran dari orang
lain terhadap masalah yang ia alami. Testi mengaku bahwa ia tidak cukup percaya
diri untuk memutuskan suatu keputusan tanpa pertimbangan orang lain, terutama
pertimbangan dari keluarganya merasa bahwa ia belum siap bila harus menanggung
konsekuensi apabila langkah yang ia ambil merupakan langkah yang salah dan
mampu mempengaruhi kehidupannya. Salah satu pengalaman testi adalah ketika
dirinya bingung menentukan jurusan kuliah. Testi adalah lulusan SMK jurusan
akuntansi, meski begitu saat bersekolah ia tidak pernah meraih nilai yang bagus di
bidang akuntansi yang akhirnya membuat ia menjadi minder bila harus mengambil
jurusan akuntansi di perkuliahan nanti. Testi sempat ingin berkuliah di jurusan
komunikasi atau apapun yang tidak berkaitan dengan akuntansi, namun pada
akhirnya ia tetap mengambil jurusan akuntansi setelah mendapatkan arahan dari

18
orangtuanya untuk tetap bertahan. Testi beberapa kali menyaksikan perbedaan
pendapat yang mengakibatkan munculnya masalah di dalam kelompok, saat berada
dalam situasi ini testi akan berusaha untuk menyelesaikannya secara pribadi
langsung kepada orang yang bersangkutan agar tidak menjatuhkan kepercayaan diri
orang lain di mata kelompok. Testi juga menyatakan bahwa dirinya akan berusaha
mempertahankan suasana hati yang positif ketika sedang berada dalam kelompok,
hal ini dilakukan testi untuk membangun energi yang positif dalam kelompok
terutama saat kelompok sedang berada dalam situasi yang canggung. Meski begitu,
testi akan merasa tidak nyaman ketika ada rekan yang mudah berperasangka buruk
dan memberi label negatif kepada dirinya. Contohnya adalah ketika ia dicap oleh
teman perempuannya dalam satu kelompok KKN sebagai perempuan yang ganjen
karena ia lebih sering berdinamika dengan teman laki-lakinya. Meski merasa kesal
dengan teman perempuannya tersebut, testi akan tetap bersikap netral dan tetap
mencoba berinteraksi sewajarnya agar dinamika kelompok selama KKN tetap
terjaga.

Keluarga merupakan segalanya bagi testi. Testi menyatakan bahwa


hubungannya dengan keluarga sangatlah harmonis, dalam arti testi tidak pernah
mengalami masalah yang berat dalam lingkup keluarganya, komunikasi dengan
anggota keluarga pun sangat lancar meski terbatasi oleh jarak. Testi terbiasa untuk
menceritakan aktivitas dan kehidupannya kepada orangtua sejak dirinya masih
kecil, bahkan testi mengaku merasa bersalah ketika ia tidak menceritakan atau tidak
meminta ijin akan sesuatu kepada orang tuanya. Testi tidak sungkan untuk
menceritakan masalah apapun kepada orangtuanya, termasuk mengenai
hubungannya dengan teman lawan jenis. Testi sangat menikmati momen bersama
keluarganya, terutama saat seluruh anggota keluarganya berkumpul untuk makan
bersama di rumah. Momen berkumpul bersama seluruh anggota keluarga
merupakan momen langka bagi testi, hal ini disebabkan oleh kesibukan
masingmasing anggota keluarga. Bila testi terjebak di posisi kebakaran bersama
kedua orangtuanya, yang akan testi selamatkan terlebih dahulu adalah ibunya baru
ayahnya. Alasan testi terlebih dahulu menyelematkan ibunya adalah karena ibu
adalah sosok yang membawa dirinya hadir kedunia ini dari
mengandungmelahirkan-dan membesarkan, meski peran ayah juga tidak kalah

19
penting bagi testi. Harapan testi bagi keluarganya adalah supaya keharmonisan
mereka tetap terjaga, dan semakin banyak momen untuk kumpul bersama.

Bagi testi hubungan pertemanan sangatlah penting, karena teman adalah


mereka yang akan menjaga, mendukung, dan mengingatkan testi. Hal ini dirasakan
bagi testi saat dirinya memutuskan untuk merantau ke luar kota dan jauh dari
keluarganya. Testi cenderung suka untuk berbagi cerita kepada temannya, baik
teman perempuan maupun teman laki-laki. Testi cenderung suka bercerita dengan
teman laki-laki karena membuat ia lebih rasional dalam mengambil keputusan.
Selain itu, ketika bercerita kepada teman laki-laki dirinya lebih merasa terlindungi
dan diayomi. Namun testi juga suka bercerita kepada teman perempuan karena ada
beberapa hal dalam hidupnya yang hanya bisa dipahami oleh temannya perempuan
daripada teman laki-laki. Testi yang sering merasa tidak nyaman ketika merasa
sendirian, hal tersebut membuat testi cukup banyak menghabiskan waktunya
bersama teman-teman seperti makan bersama, nonton, dan juga berkegiatan
bersama seperti paduan suara, dari interaksi bersama teman itulah testi
mendapatkan energi. Testi bukan orang yang terlalu pemilih dalam berteman karena
bagi testi semua orang pasti memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing,
yang terpenting bagi testi adalah bisa mengontrol diri agar tidak terjebak dalam hal
negatif yang merugikan dirinya. Testi mengaku tidak pernah memiliki masalah
yang berarti dalam lingkup pertemaan karna ia selalu menempatkan diri untuk bisa
berteman dengan siapa saja di sekitarnya, dirinya mudah berinteraksi dan bercerita
kepada orang lain. Namun testi juga memiliki sahabat yang paling mengerti gejolak
dirinya secara mendalam sejak ia masih kecil, dan hubungan mereka sangat baik.
Testi cenderung lebih suka untuk memulai bercerita karena dengan cara demikian
ia bisa membangun suasana. Testi menyatakan bahwa dirinya bisa menjadi
pendengar yang baik dan akan sebisa mungkin menolong teman yang sedang
membutuhkan bantuannya

20
III. Pelaksanaan Tes
Pengetesan dilakukan pada hari Selasa, 23 Oktober 2019 pukul 16.30 WIB
hingga pukul 19.00 WIB di ruang Laboratorium Psikologi, Fakultas Psikologi,
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Di dalam ruang pengetesan, terdapat enam
meja dan kursi untuk enam testi, dua meja dan kursi di belakang untuk tester dan
pengawas, serta terdapat dua meja dan kursi di depan untuk dua tester. Kondisi fisik
dalam ruangan kondusif dengan standar ruang tes yang memadai seperti pendingin
ruangan yang diatur dengan suhu normal, pencahayaan yang cukup. Namun suasana
pengetesan tidak kondusif karena terdapat gangguan suara dari dalam ruangan
maupun dari luar ruangan. Gangguan yang dimaksudkan adalah pergesekan
pengharum ruangan dengan alat pendingin ruangan yang secara konsisten
menimbulkan suara dan munculnya gangguan dari luar ruangan berupa keriuhan
dari acara.

Testi tiba di tempat pengetesan pada pukul 15.30 WIB. Testi menggunakan baju
berkancing berwarna putih dengan motif polkadot, celana berwarna hitam, dan
bersepatu putih. Testi terlihat tenang dan tidak menunjukan ekspresi gelisah.
Sebelum pengetesan dimulai, tester mempersilakan testi untuk duduk di depan
Laboratorium Psikologi. Testi menunggu bersama testi lain di depan laboratorium
psikologi saat tester melakukan briefing dengan pengawas. Pukul 16.30 WIB,
semua testi dipersilakan untuk masuk dalam ruangan pengetesan. Testi duduk di
barisan paling belakang pojok kiri. Saat rapport awal, testi terlihat memperhatikan
dengan antusias. Pada tes pertama yaitu tes EPPS, testi memperhatikan tester yang
memberikan panduan pengerjaan dan membaca panduan di buku soal dengan
seksama. Pada tes kedua yaitu tes PAULI, testi menyimak tester yang memberikan
petunjuk administrasi tes, dan memeriksa lembar PAULI dengan membalik kertas.
Testi menganggukan kepalanya di akhir rapport PAULI sebagai tanda testi telah
paham dengan petunjuk pengerjaan tes.

Testi mengerjakan tes EPPS mulai dari pukul 16.30 setelah tester menjelaskan
panduan pengerjaan. Testi mengerjakan soal EPPS dalam waktu 50 menit. Pada
awal pengerjaan soal EPPS berlangsung testi nampak tidak tenang, hal ini
dibuktikan oleh testi melihat ke sekeliling ruangan dan mencari suara yang
bersumber dari pendingin ruangan. Selain itu, selama pengerjaan soal EPPS
seringkali testi mengubah posisi kaki dan memainkan rambut. Selama pengerjaan

21
soal EPPS, testi juga tampak terpengaruh oleh gangguan dari luar ruangan seperti
orang lewat dan suara musik. Hal ini tampak dari perilaku testi yang sering
menengok ke arah luar ruangan dan tampak terkejut mendengarkan suara yang
berasal dari luar ruangan. Selain itu, testi nampak mencoba berinteraksi dengan
peserta tes lainnya setiap kali tester memberi peringatan waktu pengerjaan. Testi
menyelesaikan pengerjaan soal EPPS pada pukul 17.20, sisa waktu digunakan testi
untuk memeriksa kembali jawabannya dan testi tampak memperhatikan situasi
dalam ruangan. Testi segera memasukan lembar jawab ke buku soal saat tester
memberi instruksi bahwa pengerjaan sudah selesai. Testi keluar dari ruangan tes
untuk beristirahat sebelum melakukan kegiatan tes yang kedua, setelah tester
mempersilakan seluruh peserta tes untuk keluar dari ruangan.

Testi kembali memasuki ruangan untuk melakukan tes PAULI pada pukul 17.45
bersama dengan peserta tes yang lain. Testi nampak memperhatikan instruksi dan
arahan tester dengan antusias, hal ini dibuktikan dengan testi ikut berpartisipasi
dalam contoh pengerjaan tes PAULI. Testi mulai mengerjakan tes PAULI pada
pukul 17.50 setelah tester memberi instruksi “mulai”. Pada pengerjaan tes EPPS
sebelumnya, testi menunjukan bahwa dirinya melakukan beberapa pergerakan dan
terpengaruh dengan beberapa gangguan baik yang berasal dari dalam ruangan
maupun dari luar ruangan. Namun, pada pengerjaan tes PAULI testi tampak serius
dan berkonsentrasi, hal ini dibuktikan dari minimnya pergerakan yang dilakukan
testi dan dirinya tidak terpengaruh oleh gangguan yang ada. Testi meletakan alat
tulis dan lembar jawab PAULI saat tester memberi instruksi “STOP”. Testi nampak
mengeluhkan kelelahannya dengan peserta tes yang lain saat tester memberi raport
penutup. Testi keluar ruangan setelah tester selesai memberikan raport penutup.

IV. Hasil Tes

A. Hasil Tes EPPS


1. Tabel Hasil Kategori
Kebutuha Skor Persentil dan
No n Interpretasi
Kategori
1. Change 85 (Tinggi) Testi memiliki kecenderungan
tinggi untuk melakukan hal
baru.

22
2. Autonomy 82 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
untuk mengambil keputusan
pada tingkatan yang wajar.
3. Defearanc 80 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
e yang cukup tinggi untuk
menaati perintah dan peraturan
4. Endurance 80 (Rata-rata) Testi memilikikecenderungan
yang cukup tinggi untuk
bertekun dalam tugasnya dan
tidak ingin diganggu dalam
menyelesaikan tugasnya
5. Nurturanc 74 (Rata-rata) Testi memiliki kebutuhan yang
e cukup tinggi untuk membantu
orang lain
6. Abasemen 66 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
t yang cukup tinggi untuk merasa
rendah diri dan merasa bersalah

7. Intraceptio 66 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan


n yang cukup tinggi untuk
menganalisa motif dan perasaan
orang lain.
8. Achievem 64 (Rata-rata) Testi memiliki kebutuhan yang
ent cukup tinggi untuk meraih
prestasi.
9. Order 55 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup tinggi untuk
melakukan perencanaan dan
bekerja secara teratur.
10. Aggresion 51 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
untuk melakukan penyerangan
kepada pihak yang bertentangan
dengan dirinya.
11. Exhibition 42 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup rendah untuk
menunjukan potensi dan
prestasi diri.
12. Affiliation 41 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
yang cukup rendah untuk
menjalin pertemanan dengan
orang lain.

23
13. Succoranc 33 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
e yang cukup rendah untuk
menerima bantuan dari orang
lain.
14. Dominanc 23 (Rata-rata) Testi memiliki kecenderungan
e yang cukup rendah untuk
mempengaruhi dan memimpin
orang lain.
15. Heterosex 1 (Sangat Rendah) Testi memiliki kecenderungan
ual yang sangat rendah untuk
menjalin relasi dengan sesama
lawan jenis.

2. Profil
(terlampir)

B. Hasil Tes Pauli 1. Tabel


Hasil Kategorisasi
No. Aspek Skor Interpretasi
1 Jumlah 2162 Testi memiliki energi
(rendah) melakukan pekerjaan
yang rendah. Selain itu
testi cenderung
memiliki kesediaan
kerja yang kurang baik
sehingga testi memiliki
semangat dan kecepatan
dalam
menyelesaikan
pekerjaan yang rendah
2 Grafik GK (+) Testi memiliki kualitas
kerja dan penyebaran
energi yang baik
3 Hasil Awal 117 (HA≤ X) Testi kurang memiliki
kesiapan kerja yang
baik. Selain itu, testi
memiliki kepercayaan
diri dan semangat kerja
yang kurang baik.

24
4 Penurunan Awal Tidak ada penurunan Testi tidak memiliki
kesulitan yan berarti,
sehingga ia mampu
menyesuaikan diri
dengan baik
5 Titik Rendah 87 (3 menit ke-4) Testi cenderung
Arah: Kiri memiliki kemampuan
yang baik dalam
penyesuaian diri
sehingga testi cenderung
cepat dalam mengatasi
masalah terhadap
tekanan suatu pekerjaan.
6 Salah Tidak ada Testi memiliki
ketelitian yang tinggi
dalam menyelesaikan
tugasnya
Dibetulkan 0,75%
Testi memiliki
tanggung jawab dan
kosentrasi dalam
bekerja yang cukup
baik

Parit Tidak ada Testi memiliki


konsentrasi yang baik
dalam bekerja di bawah
tekanan.
7 Titik Puncak 125 (3 menit ke-14) Testi mampu mengatur
energi dan konsentrasi
dengan baik sehingga
tidak mudah terpengaruh
terhadap distraksi
selama pengerjaan.
Selain itu testi juga
cenderung cukup
memiliki kesiapan kerja
yang baik.

25
8 Tinggi 38 (rata-rata) Testi memiliki tingkat
fluktuasi kerja yang
tinggi. Dorongan,
kemauan, dan
kemampuan yang
dimiliki testi untuk
mengendalikan diri juga
tergolong tinggi. Testi
juga memiliki stabilitas
emosi yang cukup
tinggi.
9 Simpangan 4,5 % Testi memiliki tingkat
(rendah) fluktuasi kerja yang
tinggi. Dorongan,
kemauan, dan
kemampuan yang
dimiliki testi untuk
mengendalikan diri juga
tergolong tinggi. Testi
juga memiliki stabilitas
emosi yang cukup
tinggi.

2. Profil (terlampir)

V. Dinamika Hasil Tes


1. EPPS
Berdasarkan hasil pengetesan, testi memeliki kecenderungan yang cukup tinggi
untuk menaati perintah dan peraturan. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi
yang mengikuti perintah dan arahan dari orangtuanya untuk mengambil jurusan
kuliah. Selain itu, testi memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk merasa
rendah diri dan merasa bersalah. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi yang
menyatkan bahwa ketakutan terbesarnya adalah ketika ia merasa dirinya
merepotkan orang lain, terutama saat dirinya mendapat bantuan dari orang lain
meski teman tersebut sama sekali tidak merasa direpotkan. Kemudian testi memiliki
kecenderungan yang cukup tinggi untuk menganalisa motif dan perasaan orang lain.
Hal ini sesuai dengan latar belakang testi dalam menyelesaikan masalah di

26
kelompok. Testi mengaku bahwa ia akan mengamati terlebih dahulu apakah teman
dengan karakteristik tersebut dapat mempengaruhi dinamika yang terjadi di dalam
kelompok. Di sisi lain testi memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk
menunjukan potensi dan prestasi diri. Hal ini selaras dengan latar belakang testi
yang mampu memaparkan prestasinya terkait kemampuan bernyanyi. Testi juga
memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk menerima bantuan dari orang
lain. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi yang selalu berusaha mencari bantuan
orang lain terutama untuk mengatasi rasa kesepiannya dengan menelpon teman atau
keluarganya.

Testi memiliki kebutuhan yang cukup tinggi untuk membantu orang lain. Hal
ini sesuai dengan latar belakang testi yang mengaku bahwa dirinya bisa menjadi
pendengar yang baik dan juga akan membantu orang lain selagi ia mampu. Namun,
testi memiliki kecenderungan untuk melakukan penyerangan kepada pihak yang
bertentangan dengan dirinya. Hal ini tidak sesuai dengan pengalaman testi yang
enggan untuk mencari keributan dengan teman KKN yang telah berprasangka buruk
kepada dirinya. Di sisi lain, testi memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk
menjalin pertemanan dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi
yang mengaku bahwa dirinya sangat mengedepankan relasi dengan teman-
temannya. Kemudian, testi memiliki kecenderungan yang sangat rendah untuk
menjalin relasi dengan lawan jenis. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi yang
mengaku bahwa dirinya lebih suka untuk bercerita kepada teman laki-laki bila
dibandingan untuk bercerita kepada teman perempuan.

Testi memiliki kecenderungan tinggi untuk melakukan hal baru. Hal ini sesuai
dengan pengalaman testi yang memberanikan diri untuk menegur teman kelompok
paduan suara demi kebaikan seluruh anggota kelompok. Testi mengaku bahwa ia
tidak terlalu suka bila harus menegur orang lain, walaupun dirinya bukan orang
yang terlalu suka menegur orang lain. Testi juga memiliki kecenderungan yang
cukup tinggi untuk mengambil keputusan secara mandiri. Hal ini tidak sesuai
dengan latar belakang testi, testi mengaku bahwa ia selalu melibatkan pertimbangan
orang lain dalam setiap keputusan yang akan ia ambil. Salah satu contohnya adalah
saat testi berkuliah di jurusan akuntansi sesuai dengan arahan orangtuanya, meski
dirinya menginginkan untuk mengambil jurusan komunikasi. Kemudian, testi
memilikikecenderungan yang cukup tinggi untuk bertekun dalam tugasnya. Hal ini

27
sesuai dengan latar belakang testi yang mengaku bahwa dirinya memiliki prinsip
agar semua pekerjaan yang ia emban harus selesai, meski ia sibuk dan memiliki
kecenderungan untuk menunda-nunda pekerjaan. Selain itu ditambah bahwa testi
juga memiliki kebutuhan yang cukup tinggi untuk meraih prestasi. Hal ini sesuai
dengan latar belakang testi yang memiliki target untuk ia raih. Testi mengaku bahwa
target yang ingin ia raih dalam waktu terdekat adalah agar dirinya bisa
menyelesaikan studi strata satu dengan tepat waktu dan juga mempertahankan
predikat cumlaude di samping kesibukan paduan suara yang ia jalani. Kemudian
testi juga memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk melakukan perencanaan
dan bekerja secara. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi yang selalu memiliki
perencanaan saat ia akan menyelesaikan tugas kuliah. Testi akan berusaha untuk
menyicil jauh-jauh hari sebelum waktu batas pengumpulan, terutama pada tugas
yang ia anggap berat. Testi memiliki kecenderungan yang cukup tinggi untuk
mempengaruhi dan memimpin orang lain. Hal ini sesuai dengan latar belakang testi
yang lebih terpengaruh orang lain dalam mengambil suatu keputusan.

2. PAULI

Berdasarkan hasil pengetesan, testi memiliki kemampuan pengelolaan energi


yang kurang baik untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Testi juga cenderung
memiliki kecepatan dalam menyelesaikan tugas kurang baik. Hal ini sesuai dengan
latar belakang testi yang mengatakan bahwa dirinya dalam mengerjakan tugas-
tugasnya sering melakukan penundaan. Testi memiliki energi yang baik dalam
melakukan banyak pekerjaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan testi bahwa dirinya
akan menyelesaikan segala tugas yang ia emban meski dia memiliki banyak
kesibukan.

Testi memiliki kemampuan beradaptasi yang baik dan tidak memiliki kesulitan
yang berarti. Hal ini sesuai dengan pernyataan testi bahwa dirinya tergolong cepat
dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Testi tidak pernah kesulitan untuk
menyesuaikan dengan lingkungan yang baru. Testi cenderung memiliki
kepercayaan diri yang kurang. Hal ini sesuai dengan pernyataan testi bahwa dirinya
merasa tidak percaya diri saat mengambil jurusan kuliah. Testi kurang memiliki
kesiapan kerja yang baik. Hal tidak sesuai dengan pernyataan testi bahwa dirinya
akan selalu menyicil pekerjaan yang sekiranya ia anggap sulit. Testi juga cenderung
baik dalam mengelola tenaga dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini sesuai

28
dengan latar belakang testi yang menyatakan bahwa ia selalu bisa menyelesaikan
semua tugas meski dirinya memiliki kesibukan lain.

Testi memiliki stabilitas emosi yang sangat baik. Hal ini terlihat dari latar
belakang testi lebih memilih untuk menghindari konflik. Selain itu Testi juga
memiliki fluktuasi kerja yang tinggi. Testi mampu mengendalikan dorongan, dan
kemauan dari dalam dirinya. Hal ini terlihat dari inisiatif testi dalam pengerjaan
skripsi demi mencapai targetnya untuk lulus tepat waktu.

Selanjutnya, testi memiliki ketelitian kerja dan konsentrasi yang tergolong baik
terlihat dari tidak adanya kesalahan yang dilakukan waktu mengerjakan tes. Hal ini
sesuai dengan sikap testi yang bisa tetap bisa berkonsentrasi dalam pengerjaan tes
PAULI meski banyak gangguan suara terjadi selama tes berlangsung. Testi juga
memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya. Hal ini sesuai dengan
pernyataan testi bahwa meskipun dirinya sering menunda mengerjakan tugasnya
namun testi selalu menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sebaik mungkin
sesuai dengan kemampuan testi.

3. Kesimpulan Umum
Berdasarkan uraian di atas, testi memiliki kebutuhan-kebutuhan dan
kemampuan yang selaras dengan keinginan testi agar bisa menyelesaikan studi
S1 dengan tepat waktu. Kebutuhan testi yang cukup tinggi untuk bertekun
dalam tugasnya serta kebutuhan untuk menaati peraturan. Selain itu, testi juga
memiliki tingkat adaptasi dan kepercayaan diri saat mengerjakan tugas. Dengan
demikian kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki testi akan mendukung
dirinya dalam penyelesaian tugas akhir yang sedang ia kerjakan sehingga ia bisa
lulus dengan tepat waktu.

Dari hasil tes EPPS dan PAULI, maka dapat disimpulkan bahwa testi
memiliki kebutuhan yang tinggi untuk melakukan hal yang baru seperti
bergabung pada kegiatan non akademik di samping kegiatan akademik. Hal ini
akan mendukung pengembangan diri testi sehingga tidak hanya unggul dalam
satu bidang saja. Selain itu testi juga memiliki ketelitian dan adaptasi kerja yang
baik, sehingga dapat membantu testi dalam menyelesaikan tanggung jawab
yang sedang ia emban.

29
Akan tetapi, testi memiliki kebutuhan yang rendah untuk menjalin relasi
dengan teman lawan jenis seperti lebih senang untuk bercerita pada teman
perempuan daripada kepada teman laki-laki. Hal ini perlu diperhatikan kembali
oleh testi agar ketika dirinya sudah terjun dalam dunia kerja, ia tidak sungkan
untuk bekerja sama dengan rekan yang merupakan lawan jenis.

30
LAMPIRAN