Anda di halaman 1dari 9

“Aku, Kau, dan Langkah Kecil Kita Membangun Bangsa”

Perkenalkan, namaku Borno Khatulisti. Yup, benar, dari namaku bisa ditebak aku
berasal dari daerah mana. Aku berasal dari Kota Pontianak. Sudah 20 tahun aku tumbuh besar
di kota ini, ibukota Kalimantan Barat.

Kalian tahu kenapa kota ini dinamakan kota Pontianak? Cobalah tengok di peta dunia,
lihat nama-nama kota eksotik bahkan terkenal, namun tidak ada seganjil nama kota kami.
Adakah kalian melihat nama kota vampir, kota drakula? Begitu juga di Indonesia yang
diseleraskan dengan budaya hantu lokal, apakah kalian pernah melihat nama kota pocong,
kota genderuwo?

Namun, tidak dengan kota kami. Kota Pontianak. Apa itu Pontianak? Pontianak, tidak
lain dan tidak bukan adalah nama hantu dalam bahasa Melayu, yang berarti kuntilanak.
Pontianak dahulu didirikan oleh raja-raja dimana saat membuka wilayah Kalimantan yang
dipenuhi hutan belantara harus melawan kuntilanak yang berdiam di daerah tersebut.
Dengan senjata meriam karbit, raja-raja tersebut berhasil melumpuhkan kuntilanak dan
akhirnya memulai suatu peradaban baru yang dinamakan Kota Pontianak.

Pagi ini, entah pagi yang keberapa yang ada di Pontianak, kami semua terlihat sibuk.
Aku mulai berjalan menuju mulut gang, yang mulai dipenuhi oleh anak-anak sekolah, pekerja
kantoran, bapak-bapak, dan ibu-ibu. Arah gang kecil ini bermuara menuju jalan besar yang
telah dipenuhi kendaraan berkepul asap, oplet tua yang berkentut berisik. Aku tetap berjalan
lurus menelusuri gang di sepanjang Kapuas. Rumah-rumah sempit memadati di sepanjang
Kapuas. Anak-anak asyik mandi di sungai, ibu-ibu yang sibuk mencuci baju. Tak sedikit pula
tetangga yang menegurku, dan aku balas mengangguk samar.

“Mau kemana kau, Borno?” Tanya Koh Cuan, yang juga tinggal di tepian Kapuas dan
membuka warung kecil-kecilan di rumahnya.

“Ah, Koh Cuan, biasaaa,” jawab singkatku.

“Kerja kau?” Sahut Pak Tua yang duduk asyik menikmati kopi Koh Cuan.

“Hehe, iya Pak Tua,” jawabku menyengir.


“Ah, pantas pagi-pagi sudah gagah kau Borno. Dapat kerja mana kau?” Sahut Bu Beti
yang membuka warung makan di sebelah warung Koh Cuan.

“Hehe, dapat kerja kemarin Bu Beti dan ditempatkan di bagian pengawas keamanan
TPS 01 seberang gang,” Ujarku singkat.

“Wah, mantap juga kau. Semangat buat hari ini. Lakukan yang terbaik untuk negara
dan emak kau juga”, sahut Bu Beti lagi.

“Iya Bu Beti, doakan saja yang terbaik” Jawabku.

Aku hanya seorang pemuda yang hidup sederhana dan bekerja serabutan bersama
ibuku. Bapakku sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Dari itulah, aku sudah terbiasa mandiri,
dan membantu ibuku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semua usaha ku kerahkan
untuk mencari pekerjaan. Namun, nasib beruntung belum berpihak padaku.

Hari ini adalah hari pemungutan suara untuk pemilihan presiden Indonesia yang
sekian kalinya. Untungnya, aku diajak pak RT bekerja mengawasi keamanan jalannya
pemilihan umum. Pemilihan presiden dilakukan secara berkala yang dipilih langsung oleh
masyarakat. Seorang pemimpin terpilih yang akan mengayomi dan memimpin negara yang
memiliki keberagaman suku, budaya, agama, ras yang berbeda-beda.

Sudah satu minggu pemilihan umum dilakukan. Presiden dan wakil rakyat lainnya pun
telah terpilih. Saatnya program kerja yang diancang-ancang harus dilaksanakan sebagai
tanggung jawab terhadap negara dan warga Indonesia. Itu berarti pekerjaan sementara ku
telah usai. Aku pun mencari lagi pekerjaan lain untuk bertahan hidup.

“Oi Borno, pemilu udah selesai. Jadi kerja apa lagi yang bakal kau cari?” Ujar Pak Tua
seperti biasa sedang menikmati kopi manis Koh Cuan.

“Hm, belum tau Pak Tua. Belum ada dapat informasi pak,” Jawabku singkat sambil
meneguk segelas kopi Koh Cuan.

“Borno, Borno. Cobe gak kau usaha cari tau. Ade yang Aku tau tuh di pabrik karet
seberang jalan lagi buka lowongan kerja buat 3 orang, persyaratannye pun mudah gak. Cobe
jak kau cari tau informasi nye, siape tau gak kan cocok dengan kau,” Sahut Bu Beti.
“Iye ke bu? Nantilah saye cobe cari informasi dan ngelamar pekerjaan disana. Siape
tau juga kan rejeki,” Sahutku.

Dengan informasi yang diberikan oleh Bu Beti sedikit banyak membuatku terpacu
untuk melamar pekerjaan disana. Ku coba untuk menelusuri jalanan dan masuk ke pabrik dan
bertanya tentang informasi yang diberikan Bu Beti sebelumnya. Dengan perlengkapan
seadanya yang ku bawa, ijazah SD, SMP, dan SMA, dan tak lupa pula surat lamaran kerja yang
ku buat seperti biasanya. Semoga dengan berkas yang seadanya ini dapat membantu agar
dapat bekerja di pabrik ini.

Di depan gerbang pabrik

“Permisi, Pak. Saya ingin bertanya tentang informasi lowongan pekerjaan di pabrik ini.
Apakah benar ya Pak?” Tanyaku pada satpam yang bertugas menjaga pintu gerbang pabrik.

“Oh iya benar. Coba saja kamu tanyakan ke bagian di dalam gedung lantai satu disana.
Nanti akan mendapat arahan lagi disana,” Jawab satpam tersebut.

“Baik, terima kasih banyak pak,” Senyum ku lontarkan kepada nya sambil menuju ke
gedung yang telah ditunjuk oleh pak satpam.

“Permisi Mbak, saya Borno. Apakah disini benar yang mengurus lowongan pekerjaan
di pabrik ini?” Tanya ku pada pegawai cantik yang sibuk mengurus berkas-berkas. Dan aku
taksir umurnya sekitar 20an.

“Iya benar, Mas. Disini bagian yang mengurus tentang lowongan kerja. Ada yang bisa
saya bantu?” Tanya nya dengan senyuman manis yang terukir di mimik wajahnya.

“Jadi begini Mbak, saya ingin melamar pekerjaan disini. Dan ini merupakan berkas-
berkas yang mungkin diperlukan untuk pertimbangan yang lebih lanjut lagi,” Ku serahkan
berkas tersebut kepada mbak yang sedang bertugas.

“Baik, terima kasih, berkas yang diperlukan pun sudah lengkap. Besok akan diadakan
sesi wawancara. Dan tiga hari setelah itu saya akan mengumumkan hasilnya ya mas,” Ujarnya
tak lupa dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.

“Terima kasih banyak Mba sebelumnya,” Sahutku juga diiringi senyuman dan berbalik
arah untuk pulang.
Setibanya di rumah, aku mengucapkan salam dan dijawab oleh mamakku.

“Waalaikumsalam. Oii Borno, gimane hasilnye Nak? Lolos ndak kau kerje disana?”
Tanya mamakku dengan sapu di tangan kanan dan serbet di pundaknya. Biasa, jika memiliki
waktu luang mamakku selalu membersihkan rumah sambil masak untuk makan siang.

“Belum tau Mak, besok masih ade tahap wawancara. Tiga hari dari itu baru
diumumkan hasilnye. Doekan jak ye Mak,” Ujarku sambil menuju ke dapur. Maklum, perut
sudah tidak dapat diajak kerja sama lagi. Lapar. Dan hari ini mamakku masak ikan asin, pucuk
ubi, dan sambal belacan. Itu sudah cukup lebih dari enak, ditambah dengan nasi panas yang
barusan mamakku masak.

Keesokan harinya aku mengikuti tahap wawancara. Lancar. Alhamdulillah, ujarku. Tiga
hari setelah itu diumumkan hasilnya. Sujud syukur ku lakukan. Aku diterima bekerja di pabrik
karet ini. Yah walaupun hanya sekadar buruh karet. Namun bagiku, itu sudah lebih dari cukup
untuk memenuhi keperluan hidup aku dan mamakku.

Hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya berjalan dengan lancar. Namun, satu
bulan dari itu, semuanya kacau balau. Tiga omprengan padat merapat ke halaman pabrik.
Penumpangnya membawa spanduk, menenteng toa, berteriak. Dari kisi-kisi pabrik aku
menerka, sepertinya mereka sibuk demo soal lingkungan hidup. “Pabrik Membawa Bau!”,
“Jangan Buang Limbah Ke Sungai Kami!”, “Usir Pabrik Karet di Tepian Kapuas!” Demikian
tulisan di spanduk.

Keributan kecil terjadi. Petugas pabrik sibuk membuat tameng. Massa tiga puluh orang
itu tiba-tiba menjadi tak terkendali, berteriak-teriak, melemparkan apa saja yang ada di dekat
mereka. Sebelum situasi semakin kacau, penyeliaku jahil mengeluarkan ember-ember berisi
perasan dari mesin pembuat lembaran karet, menyuruh kami menyiramkannya ke pendemo
itu. Kocar-kacirlah mereka. Tampaknya air itu lebih menyeramkan dibandingkan dengan gas
air mata polisi.

“Biasalah, akhir-akhir ini mereka sering protes, mengirim surat, minta ganti rugi.
Mereka bukan orang sini, entah dari mana, menghasut penduduk sekitar pabrik”. Penyelia
menepuk-nepuk ujung baju seragam yang terkena cipratan air kotor.
Jelas pabrik tutup bukan karena aku yang mulai bekerja disitu, ataupun karena aktivis
itu, melainkan pemilik pabrik terkena musibah. Krisis dunia, harga karet anjlok bagai meteor
jatuh, grafiknya turun bebas. Imbasnya kemana-mana. Pedagang karet memutuskan
memarkirkan kapal, berhenti membeli bantalan karet di pedalaman. Pabrik pengolahan
terpaksa menanggung biaya produksi lebih tinggi dibanding harga jual.

Pabrik rugi, dan tutup. Aku kehilangan pekerjaan.

Sebelum peradaban kota Pontianak yang semakin maju seperti sekarang, transportasi
air sudah menjadi primadona dari zaman dahulu. Bahkan konon saat raja-raja Pontianak yang
membuka hutan melawan Kuntilanak dengan senjata meriam karbit, transportasi air seperti
sampan telah menjadi primadona. Mau berangkat sekolah, berangkat kerja, pergi kondangan,
berkunjung ke tetangga. Sampan istimewa. Dengan sampan, warga mudah untuk pergi ke
daerah seberang hanya dengan menyebrang sungai. Sampan telah menjadi alat transportasi
sekaligus menjadi mata pencaharian para nelayan, serta warga yang tinggal di tepian Kapuas,
termasuk aku.

Akhirnya aku kembali menjadi seorang pengayuh sampan, seperti bapakku ataupun
orang-orang yang tinggal di sekitarku, di tepian Kapuas. Dengan alasan pekerjaan yang telah
pasti, meskipun dengan hasil yang tidak menentu.

Hari pertama berjalan dengan lancar seperti biasanya. Anak-anak, ibu-ibu, bapak-
bapak, nenek-nenek hilir mudik menaiki sampan. Entah itu untuk berangkat sekolah di
seberang, berbelanja, berkunjung ke tetangga, atupun pergi bekerja. Seberang dari daerah ini
adalah Masjid Jami’ yang juga berdekatan dengan keraton, pasar rakyat, dan kampung Beting.

Sejarah panjang kota Pontianak, Kalimantan Barat tidak akan pernah lepas dengan
cerita kampung Beting. Kampung Beting adalah suatu peradaban di masa lalu yang hingga
sekarang masih terjaga kelestariannya. Kampung tersebut dibangun di atas sungai, sehingga
speedboat dan sampan merupakan sarana yang penting untuk lalu lintas sehari-hari. Aktivitas
perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat juga bergantung pada transportasi air.
Kampung Beting banyak menyingkap kehidupan era kesultanan Pontianak sejak berdirinya
ibukota Kalimantan Barat yaitu pada tahun 1771 M. Ada ungkapan lazim yang mengatakan
bahwa “belum sampai ke Pontianak, kalau belum sampai ke Beting nye”. Ini menandakan
bahwa Kampung Beting memiliki sejarah tersendiri yang patut dikenang.
Jika di Amerika Serikat memiliki kota Texas, di Jakarta punya Kampung Ambon, dan di
Pontianak punya Kampung Beting. Kampung Beting identik dengan tingkat kriminalitasnya.
Berbagai jenis narkoba, sabu, dan tingkat kriminalitas lainnya beredar luas. Sudah banyak
jaringan narkoba beting yang terbongkar, banyak orang yang tertangkap narkoba. Sebutlah
disini merupakan sarang dari kejahatan yang beredar. Dalam dua dasawarsa, kampung Beting
dikenal angker. Karena kriminalitas dan narkoba tumbuh kembang di lingkungan yang sumpek
tanpa adanya struktur sosial. Semenjak kedatangan bandar narkoba tahun 1990an, mereka
memanfaatkan pemuda lokal untuk penyebaran narkoba ke khalayak luas dengan imbalan
yang sangat besar. Imbalan berkisar antara 200an ribu hingga jutaan.

Aku sebenarnya telah mengetahui sisi sejarah, baik dan buruknya kampung Beting.
Namun, aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Karena aku pikir ini sudah menjadi akar
budaya ibukota Kalimantan Barat. Peduli setan, yang penting aku berusaha untuk memenuhi
kebutuhan hidup bersama mamakku.

Entah ini rutinitas yang keberapa aku mengayuh sampan, menyeberangkan orang-
orang sekitar. Namun, mataku mulai jatuh hati kepada penumpang perempuan yang tiap hari
menaiki sampanku. Bolak-balik menyebrang. Entah dia bekerja atau bagaimana aku tidak
tahu. Untuk sekian kalinya, aku memberanikan diri untuk bertegur sapa dan memulai
percakapan dengannya. Perempuan itu yang kulihat dia begitu menawan. Dengan bola
matanya yang bulat, kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, alis yang terukir layaknya
bulan sabit.

“Oh abang Borno, aku Yulita Pensa, panggil saja Pensa. Aku berasal dari kota
Singkawang. Aku sudah cukup lama tinggal disini, saat mulai kuliah di Universitas
Tanjungpura. Dan sekarang aku telah menyelesaikan studiku sebagai guru seni.

Aku mencari informasi tentang Pontianak, dan aku temui sebuah kampung, yaitu
Kampung Beting. Yang aku tahu kampung beting merupakan kampung yang bersejarah di
Kota Pontianak, dan sayangnya juga terkenal dengan tingkat kriminalitasnya. Aku sangat
tergerak untuk mencoba gebrakan baru. Aku mencoba untuk membangun bangsa dengan
usaha yang dimulai dari kecil. Ya seperti ini. Aku mencoba untuk menjadi sukarelawan yang
mengajar di Beting. Membuka kelas kreativitas untuk anak-anak disana, dengan mimpi dapat
mengubah pandangan tentang kampung beting. Memang, tidak banyak yang aku lakukan,
tapi semoga dengan langkah ini aku mencoba untuk membangun bangsa dan memajukan
daerah Pontianak” Ujarnya dengan panjang dan jelas. Aku menyimak setiap ocehan yang dia
lontarkan. Sungguh, aku kagum kepadanya.

“Lantas, apakah kamu tidak sibuk dengan urusanmu yang lain? Bagaimana kamu bisa
setiap pagi dan sore menaiki sampan hanya untuk mengajar dan membuka kelas?” Tanyaku.

Dia terkekeh halus, “Hahaha bang Borno, sebegitu egoisnya kah dirimu sampai tidak
mempedulikan orang lain di sekitarmu? Pernah dengar pepatah, kezaliman tetap terjadi
bukan karena banyaknya orang jahat, namun diamnya orang baik.

Aku sangat menyukai kota Pontianak ini. Kota khatulistiwa. Gerbang ibukota
Kalimantan Barat. Meskipun kota yang sangat panas karena dilewati khatulistiwa, kota yang
tidak banyak memiliki tempat wisata, ya tapi aku cinta dengan kota ini. Kita sebagai pemuda
harus produktif untuk membangun bangsa, tidak perlu untuk melakukan hal yang besar
seperti presiden yang membangun jalan dan lain sebagainya. Kita sebagai pemuda harus
bergerak untuk mewujudkan mimpi Indonesia melalui budaya kita sendiri. Sekarang kita
hidup dan tinggal di Pontianak. Budaya yang ada di Pontianak tentunya akan berbeda dengan
daerah yang lain. Meskipun hal tersebut disatukan oleh nasionalitas yang menyatukan
keberagaman. Jadi, perjuanganku tiap pagi dan sore menaiki sampan bukanlah suatu beban,
tetapi suatu kecintaan kepada lingkunganku sendiri,” Lagi-lagi ocehannya membuatku malu.
Skakmat. Aku yang sudah 20 tahun hidup di Kota Pontianak, egois memikirkan hidupku
sendiri. Tetapi aku lupa untuk peduli dengan kondisi lingkungan aku berada.

Seperti biasa. Setiap pagi dan sore aku pulang-pergi bersamanya. Aku pun mulai
memahaminya dan mengetahuinya. Dia begitu sempurna. Memiliki hati yang tulus, ikhlas,
cantik luar dan dalam. Semakin hari kami semakin dekat. Dan perasaan kagum tersebut
berubah menjadi perasaan ingin memiliki dan mencintainya. Namun, itu bukan suatu hal yang
mudah. Dengan pemikiran dan tindakannya yang gemilang, aku juga tergerak untuk
mengikuti jejaknya. Ini bukan soal cinta, tapi ini adalah soal kepedulian tentang membangun
bangsa ku sendiri.

Pensa telah mendobrak gebrakan baru yang ada di kampung beting. Berani. Ia dan
teman-temannya yang lain membuka kelas Beting Pintar, Beting Kreatif, dan Sanggar Seni
Beting. Dengan kobaran semangat, dan hati yang tulus untuk membangun bangsa, aku juga
mengikuti jejaknya. Dan sekarang aku juga bergabung membantunya untuk menghidupkan
kampung Beting.

Memang tak mudah untuk mendobrak suatu budaya yang lama menjadi suatu
kebiasaan yang baru yang lebih baik lagi. Memberikan pengetahuan yang baru kepada anak-
anak, penjelasan tentang masa depan yang cerah, move on dari kebiasaan yang buruk menjadi
baik, tentu butuh perjuangan yang ekstra. Capek, lelah, jenuh, aku juga ikut merasakannya.
Namun demi tercapainya bangsa yang gemilang, aku juga berusaha semangat dan konsisten
terhadap apa yang kami lakukan. Usaha yang kami lakukan memang belum tampak jelas di
awal, namun dengan terus ditanamkannya kegiatan produktif ini maka lama-kelamaan akan
menjadi sebuah kebiasaan.

Mengubah kampung beting tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun,


seiring berjalannya waktu, pemuda mulai terbuka pikirannya untuk memikirkan masa depan
yang gemilang melalui kelas Beting Pintar, Beting Kreatif, dan Sanggar Seni Beting.

Beting Pintar merupakan suatu kelas yang bergerak untuk memajukan pendidikan
anak-anak, dengan mengajarkan baca tulis, hitung mengitung, pelajaran eksak dan umum
diberikan sehingga dapat membuka wawasan mereka. Beting kreatif merupakan suatu kelas
yang menaungi tentang kreatifitas anak muda beting, menciptakan suatu tulisan, dan lain
sebagainya. Serta sanggar seni beting yang bergerak dalam seni tari, maupun seni lukis.
Dengan Pensa, aku merasakan bahwa usaha ini akan membuahkan hasil untuk ke depannya.

Sekarang, banyak anak-anak dan pemuda yang mulai mengembangkan bakat dan
minatnya. Tak sedikit pula mereka mengikuti ajang perlombaan di tingkat kecamatan, kota,
maupun provinsi. Memang, membangun bangsa tidaklah semudah kita membalikkan telapak
tangan. Butuh cucuran keringat, dan usaha yang keras demi mewujudkannya.

Indonesia memiliki corak budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Begitu juga di
Pontianak. Dengan langkah kecil sebagai upaya untuk membangun bangsa, dengan peduli dan
ikut aktif dalam kehidupan sosial bermasyarakat, kita telah berperan penting untuk
mewujudkan Indonesia yang maju, cerdas, sesuai dengan tujuan negara yang dituangkan
dalam UUD 1945. Pontianak memiliki budaya yang berbeda dari daerah yang lain, kebiasaan
dan adat istiadat yang juga berbeda dengan daerah yang lain. Contoh langsung yang dapat
kita ambil adalah kehidupan Kampung Beting, Texas nya Amerika Serikat. Yang mana
membangun bangsa Indonesia harus dimulai dari langkah kecil dan sesuai dengan budaya
yang ada di Kalimantan Barat, yang juga tidak terlepas dari budaya nusantara.

Disini, di kota Pontianak ini aku sudah terbiasa hidup dengan suasana pluralitas
budaya, bahasa, suku, agama dan ras yang berbeda-beda. Dari Koh Cuan yang merupakan
keturunan Tionghoa, Pak Tua bekerja mengayuh sampan yang berdarah Melayu asli
Pontianak, Bu Beti yang keturunan Batak, juga tetangga yang lain yang berdarah Jawa,
Madura, ataupun yang lainnya. Dua puluh tahun hidup sederhana dalam keberagaman telah
membuatku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan tanah subur
yang luas, hasil laut yang melimpah, serta masyarakat plural yang hidup damai satu sama lain
tanpa adanya kesenjangan dan perpecahan. Dengan rasa memiliki, peduli, dan kasih sayang,
kita mampu untuk menjaga Indonesia tetap bersatu. Sesuai dengan semboyan “Bhinneka
Tunggal Ika”, yang memiliki makna yang dalam, yaitu “berbeda-beda tapi tetap satu”. Ini
bukan tentang aku, kamu, atau dia, ini adalah tentang kita, Indonesia.

Dan dari sini pula, aku merasakan ikut berperan aktif dalam usaha membangun bangsa
Indonesia yang diselaraskan dengan budaya kotaku, Kota Pontianak.

TEMA : BANGUN BANGSA BERLANDASKAN BUDAYA

NAMA : NURY KAMELIA

UTUSAN/ NIM : FKIP UNTAN/ F1071171032