Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Akhir-akhir ini banyak diberitakan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh
orang tua atau pengasuh terhadap anaknya. Dari yang memukul anak, menyiram anak dengan
air panas, hingga membakar anak. Ada juga berita ayah melakukan hubungan sexual dengan
anak, atau kakek dengan anak atau kakak dengan adik, bahkan sampai hamil. Banyak alasan
yang dikemukakan oleh orang tua maupun pengasuh, antara lain kesal karena anak tidak bisa
diberi tahu, anak rewel terus, kesal pada suami, kesal pada majikan, dsb. Itu adalah fenomena
child abuse yang terjadi di sekitar kita. Perawat, terkadang merupakan orang yang pertama
mengenali adanya child abuse di masayarakat. Perawat maternitas, perawat anak dan perawat
keluarga hendaknya mengamati adanya tanda tanda family abuse sehingga dapat
mempersiapkan untuk menangani hal tersebut secara objektif. Hal ini penting agar korban
kekerasan menjadi aman dan agar fungsi keluarga dapat berjalan dengan baik.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum Setelah menyelesaikan tugas pembuatan asuhan keperawatan pada pasien
dengan Child Abuse, diharapkan mahasiswa memahami tentang Child Abuse.

2. Tujuan khusus Setelah menyelesaikan tugas asuhan keperawatan pada pasien dengan Child
Abuse, mahasiswa mampu:

a. Memahami definisi Child Abuse b. Mengetahui etiologi terjadinya Child Abuse c.


Mengetahui patofisiologi terjadinya Child Abuse d. Mengetahui proses terjadinya Child
Abuse e. Mengetahui manifestasi klinis dari Child Abuse f. Mengetahui komplikasi dari
Child Abuse g. Mengetahui pemeriksaan penunjang untuk Child Abuse h. Merumuskan
asuhan keperawatan pada anak dengan Child Abuse meliputi pengkajian, diagnosis
keperawatan, dan intervensi keperawatan
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Child abuse adalah seorang anak yang
mendapat perlakuan badani yang keras, yang dikerjakan sedemikian rupa sehingga menarik
perhatian suatu badan dan menghasilkan pelayanan yang melindungi anak tersebut. (Delsboro,
1993) Child abuse dimana termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal
dari indrom perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling
berat dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya / pengasuh. (Fontana, 1998) Child Abuse
adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David
gill, 1998) Child Abuse adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan
pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 2000) Child abuse
adalah sebagai suatu kelalaian tindakan / perbuatan oleh orang tua atau yang merawat anak
yang mengakibatkan terganggu kesehatan fisik emosional serta perkembangan anak. (Patricia,
2005) B. Etiologi Perlakuan salah terhadap anak bersifat multidimensional, tetapi ada 3 faktor
penting yang berperan dalam terjadinya perlakuan salah pada anak, yaitu: 1. Karakteristik
orangtua dan keluarga Faktor-faktor yang banyak terjadi dalam keluarga dengan child abuse
antara lain: a. Para orangtua juga penderita perlakuan salah pada masa kanak-kanak. b.
Orangtua yang agresif dan impulsif. c. Keluarga dengan hanya satu orangtua. d. Orangtua yang
dipaksa menikah saat belasan tahun sebelum siap secara emosional dan ekonomi. e.
Perkawinan yang saling mencederai pasangan dalam perselisihan. f. Tidak mempunyai
pekerjaan. g. Jumlah anak yang banyak. h. Adanya konflik dengan hukum. i. Ketergantungan
obat, alkohol, atau sakit jiwa. j. Kondisi lingkungan yang terlalu padat. k. Keluarga yang baru
pindah ke suatu tempat yang baru dan tidak mendapat dukungan dari sanak keluarga serta
kawan-kawan. 2. Karakteristik anak yang mengalami perlakuan salah Beberapa faktor anak
yang berisiko tinggi untuk perlakuan salah adalah: a. Anak yang tidak diinginkan. b. Anak yang
lahir prematur, terutama yang mengalami komplikasi neonatal, berakibat adanya keterikatan
bayi dan orangtua yang membutuhkan perawatan yang berkepanjangan. c. Anak dengan
retardasi mental, orangtua merasa malu. d. Anak dengan malformasi, anak mungkin ditolak.

5 e. Anak dengan kelainan tingkah laku seperti hiperaktif mungkin terlihat nakal. f. Anak
normal, tetapi diasuh oleh pengasuh karena orangtua bekerja. 3. Beban dari lingkungan:
Lingkungan hidup dapat meningkatkan beban terhadap perawatan anak. Penelitian yang telah
dilakukan menyatakan bahwa penyiksaan anak dilakukan oleh orang tua dari banyak etnis,
letak geografis, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan social ekonomi. Kelompok
masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meningkatkan laporan penyiksaan fisik terhadap
anak-anak. Hal ini mungkin disebabkan karena: a. Peningkatan krisis di tempat tinggal mereka
(contoh: tidak bekerja atau hidup yang berdesakan). b. Akses yang terbatas ke pusat ekonomi
dan sosial saat masa-masa krisis. c. Peningkatan jumlah kekerasan di tempat tinggal mereka.
d. Hubungan antara kemiskinan dengan faktor resiko seperti remaja dan orang tua tunggal
(single parent).(hidayat,2008) C. Klasifikasi Terdapat 2 golongan besar yaitu : 1. Dalam
keluarga Penganiayaan fisik, non Accidental injury mulai dari ringan bruiser laserasi sampai
pada trauma neurologik yang berat dan kematian. Cedera fisik akibat hukuman badan di luar
batas, kekejaman atau pemberian racun. Penelantaran anak/kelalaian, yaitu: kegiatan atau
behavior yang langsung dapat menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan
perkembangan psikologisnya. Kelalaian dapat berupa: Pemeliharaan yang kurang memadai.
Menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan,
keterlambatan perkembangan Pengawasan yang kurang memadai. Menyebabkan anak gagal
mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa Kelalaian dalam mendapatkan
pengobatan Kegagalan dalam merawat anak dengan baik Kelalaian dalam pendidikan, meliputi
kegagalan dalam mendidik anak agar mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal
menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa
putus sekolah. Penganiayaan emosional Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang
merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu
diikuti bentuk penganiayaan lain.

6 Penganiayaan seksual mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada seseorang anak


untuk mengajak berperilaku/mengadakan kegiatan seksual yang nyata, sehingga
menggambarkan kegiatan seperti: aktivitas seksual (oral genital, genital, anal, atau sodomi)
termasuk incest. 2. Di luar rumah dalam institusi/ lembaga, di tempat kerja, di jalan, di medan
perang. D. Manifestasi Klinis 1. Lecet, hematom, luka bekas gigitan, luka bakar, patah tulang,
perdarahan retina akibat dari adanya subdural hematom dan adanya kerusakan organ dalam
lainnya. 2. Sekuel atau cacat sebagai akibat trauma, misalnya jaringan parut, kerusakan saraf,
gangguan pendengaran, kerusakan mata dan cacat lainnya. 3. Kematian. Akibat pada tumbuh
kembang anak, pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah, pada
umumnya lebih lambat dari anak yang normal, yaitu: a. Kecerdasan Berbagai penelitian
melaporkan terdapat keterlambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, membaca, dan
motorik. Retardasi mental dapat diakibatkan trauma langsung pada kepala, juga karena
malnutrisi. Pada beberapa kasus keterlambatan ini diperkuat oleh tidak adanya stimulasi yang
adekuat atau karena gangguan emosi. b. Emosi 1) Terdapat gangguan emosi Perkembangan
konsep diri yang positif, atau bermusuh dalam mengatasi sifat agresif, perkembangan
hubungan sosial dengan orang lain, termasuk kemampuan untuk percaya diri. 2) Terjadi
pseudomaturitas emosi Beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa,
sedang yang lainnya menjadi menarik diri atau menjauhi pergaulan. Anak suka ngompol,
hiperaktif, perilaku aneh, kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, tempretantrum, dsb. 3)
Konsep diri Anak yang mendapat perlakuan salah merasa dirinya jelek, tidak dicintai, tidak
dikehendaki, muram, dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi aktifitas dan bahkan ada
yang mencoba bunuh diri. 4) Agresif

7 Anak yang mendapat perlakuan salah secara badani, lebih agresifterhadap teman sebayanya.
Sering tindakan egresif tersebut meniru tindakan orangtua mereka atau mengalihkan perasaan
agresif kepada teman sebayanya sebagai hasil miskinnya konsep diri. 5) Hubungan sosial Pada
anak anak ini sering kurang dapat bergaul dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa.
Mereka mempunyai sedikit teman dan suka mengganggu orang dewasa, misalnya dengan
melempari batu atau perbuatan perbuatan kriminal lainnya. a) Akibat dari penganiayaan
seksual Tanda tanda penganiayaan seksual antara lain: Tanda akibat trauma atau infeksi lokal,
misalnya nyeri perianal, sekret vagina, dan perdarahan anus. b) Tanda gangguan emosi
Misalnya konsentrasi berkurang, enuresis, enkopresis, anoreksia, atau perubahan tingkah laku.
Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan umurnya. Pemeriksaan
alat kelamin dilakukan dengan memperhatikan vulva, himen, dan anus anak. c) Sindrom
munchausen Gambaran sindrom ini terdiri dari gejala: Gejala yang tidak biasa atau tidak
spesifik Gejala terlihat hanya kalau ada orangtuanya Cara pengobatan oleh orangtuanya yang
luar biasa Tingkah laku orangtua yang berlebihan.

E. Komplikasi 1. Mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental 2. Kejang-kejang 3.


Hidrocepalus 4. Ataksia 5. Kenakalan remaja 6. Depresi dan percobaan bunuh diri 7. Gangguan
Stress post traumatic 8. Gangguan makan (Soegeng,2002)

F. Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium Jika dijumpai luka memar, perlu dilakukan


skrining perdarahan pada penganiayaan seksual, dilakukan pemeriksaan. a. Swab untuk analisa
asam fosfatase, spermatozoa, dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual. b. Kultur spesimen
dari oral, anal, dan vaginal untuk gonokokus. c. Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B. d.
Analisa rambut pubis.

8 2. Radiologi Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada
anak, yaitu untuk: a. Identifikasi fokus dari bekas b. Dokumentasi Pemeriksaan radiologi pada
anak di bawah usia dua tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak
di atas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam
pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. Adanya fraktur multipel dengan tingkat penyembuhan
yang berbeda, merupakan suatu kemungkinan adanya penganiayaan fisik. Ultrasonografi
(USG) digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi viseral. CTscan lebih sensitif dan spesifik
untuk lesi serebral akut dan kronik, hanya diindikasikan pada penganiayaan anak atau seorang
bayi yang mengalami trauma kepala yang berat. 3. Diagnostik perlakuan salah dapat
ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik yang teliti, dokumentasi riwayat
psikologik yang lengkap, dan laboratorium. a. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik 1)
Penganiayaan fisik Tanda patogomonik akibat penganiayaan anak dapat berupa: Luka memar,
terutama di wajah, bibir, mulut, telinga, kepala, atau punggung. Luka bakar yang patogomonik
dan sering terjadi: rokok, pencelupan kaki-tangan dalam air panas, atau luka bakar berbentuk
lingkaran pada bokong. Luka bakar akibat aliran listrik seperti oven atau setrika. Trauma
kepala, seperti fraktur tengkorak, trauma intrakranial, perdarahan retina, dan fraktur tulang
panjang yang multipel dengan tingkat penyembuhan yang berbeda. Trauma abdomen dan
toraks lebih jarang dibanding trauma kepala dan tulang pada penganiayaan anak. Penganiayaan
fisik lebih dominan pada anak di atas usia 2 tahun. Pengabaian Pengabaian non organic failure
to thrive, yaitu suatu kondisi yang mengakibatkan kegagalan mengikuti pola pertumbuhan dan
perkembangan anak yang seharusnya, tetapi respons baik terhadap pemenuhan makanan dan
kebutuhan emosi anak. Pengabaian medis, yaitu tidak mendapat pengobatan yang memadai
pada anak penderita penyakit kronik karena orangtua menyangkal anak menderita penyakit
kronik. Tidak mampu imunisasi dan perawatan kesehatan lainnya. Kegagalan yang disengaja
oleh orangtua juga mencakup kelalaian merawat kesehatan gigi dan mulut anak sehingga
mengalami kerusakan gigi.

9 BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Riwayat keluarga dari


penganiayaan anak yang lalu. 2. Kecelakaan yang berulang-ulang, dengan
fraktur/memar/jaringan yang berbeda waktu sembuhnya. 3. Orang tua yang lambat mencari
pertolongan medis. 4. Orang tua yang mengaku tidak mengetahui bagaimana jelas tersebut
terjadi. 5. Riwayat kecelakaan dari orangtua berbeda atau berubah-ubah pada anamnesis. 6.
Keterangan yang tidak sesuai dengan penyebab jejas yang tampak atau stadium perkembangan
anak. 7. Orang tua yang mengabaikan jejas utama yang hanya membicarakan masalah kecil
yang terus-menerus. 8. Orangtua berpindah dari satu dokter ke dokter yang lain sampai satu
saat akhir bercerita bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka. 9. Penyakit anak yang
tidak dapat dijelaskan penyebabnya. 10. Anak yang gagal tumbuh tanpa alasan yang jelas. 11.
Anak wanita yang tiba-tiba berubah tingkah lakunya, menyendiri atau sangat takut dengan
orang asing, harus diwaspadai kemungkinan terjadinya penganiayaan seksual. 12. Pada anak
yang lebih tua, mungkin dapat menceritakan jejasnya, tetapi kemudian mengubah uraiannya
karena rasa takut akan pembalasan atau untuk mencegah pembalasan orangtua.

10 PATHWAY Faktor anak: 1. Anak tidak diinginkan 2. Anak cacat 3. Retardasi mental 4. dsb
Faktor orang tua: 1. Pecandu alkohol 2. Narkoba 3. Kelainan jiwa 4. Depresi/stress 5.
Pengalaman penganiayaan waktu kecil Faktor Lingkungan: 1. Keluarga kurang harmonis 2.
Ortu tidak bekerja 3. Kemiskinan 4. Kepadatan hunian Child Abuse Dx: Resiko kerusakan
kedekatan Penelantaran Kekerasan Kurang pemberian asuhan Dx: Resiko Dx: Penurunan
kondisi fisik/sosial Dx: Resiko trauma Dx: Resiko keterlambatan perkembangan

11 B. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko trauma berhubungan dengan karakteristik anak,


pemberian asuhan dan lingkungan. 2. Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang
berulang-ulang, ketidakberdayaan dan potensial kehilangan orang tua. 3. Resiko terhadap
kerusakan kedekatan orang tua / anak / bayi berhubungan dengan perlakuan kekerasan 4.
Risiko cidera berhubungan dengan kekerasan fisik (kekerasan orang tua) 5. Ketakutan
berhubungan dengan kondisi fisik / social 6. Resiko keterlamnbatan perkembangan
berhubungan dengan perilaku kekerasan (Nanda, 2012) C. Intervensi 1. Dx 1 : Resiko trauma
berhubungan dengan karakteristik anak, pemberian asuhan dan lingkungan. Tujuan: setelah
dialakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi trauma pada anak NOC : Abuse
Protection Kriteria hasil : a. Keselamatan tempat tinggal b. Rencana dalam menghindari
kekerasan/ perlakuan yang salah c. Rencanakan tindakan untuk menghindari perlakuan yang
salah d. Keselamatan diri sendiri e. Keselamatan anak NIC: Enviromental Mangemen: safety
Intervensi: a. Identifikasi kebutuhan rasa aman pasien berdasarkan tingkat fisik, fungsi kognitif
dan perilaku masa lalu b. Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko c.
Monitor lingkungan dalam perubahan status keamanan d. Bantu pasien dalam menyiapkan
lingkungan yang aman e. Ajarkan resiko tinggi individu dan kelompok tentang bahaya
lingkungan f. kolaborasi dengan agen lain untuk mengmbangkan keamanan lingkungan 2. Dx
2 : Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang berulang-ulang ketidakberdayaan dan
potensial kehilangan orang tua. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatandiharapkan
rasa cemas anak dapat berkurang / hilang NOC : Kontrol cemas Kriteria hasil : a. Monitor
intensitas kecemasan b. Menyingkirkan tanda kecemasan
12 c. Menurunkan stimulasi lingkuangan ketika cemas d. Mencari informasi untuk menurunkan
cemas e. Menggunakan strategi koping efektif NIC : Penurunan cemas Intervensi: a.
Tenangkan klien b. Berusaha memahami keadaan klien c. Temani pasien untuk mendukung
keamanan dan menurunkan rasa takut d. Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi-situasi
yang menciptakan cemas e. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri dengan cara yang
tepat f. kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan 3. Dx 3 : Resiko
terhadap kerusakan kedekatan orang tua / anak / bayi berhubungan dengan perlakuan kekerasan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan tidak
terjadi kerusakan kedekatan orang tua / anak / bayi NOC : Parenting Kriteria hasil : a.
Menyediakan kebutuhan fisik anak b. Merangsang perkembangan kognitif c. Merangsang
perkembangan emosi d. Merangsang perkembangan spiritual e. Menggunakan masyarakat dan
sumber lain yang tepat f. Gunakan interaksi yang tepat untuk perkembangan emosi anak NIC
: Anticipatory guidance Intervensi: a. Kaji pasien untuk mengidentifikasi perkembangan dan
krisis situasional selanjutnya dalam efek dari krisis yang ada pada kehidupan individu dan
keluarga. b. Instruksikan perkembangan dan perilaku yang tepat c. sediakan informasi yang
realistic yang berhubungan dengan perilaku pasien d. tentukan kebiasaan pasien dalam
mengatasi masalah e. Bantu pasien dalam memutuskan bagaimana dalam memutuskan masalah
f. Bantu pasien berpartisipasi dalam mengantisipasi perubahan peraturan 4. Dx 4 : Risiko cidera
berhubungan dengan kekerasan fisik (kekerasan orangtua) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan diharapkan tidak terjadi cidera NOC : Pengendalian resiko Kriteria hasil: a.
Pantau factor resiko perilaku pribadi dan lingkungan b. Mengembangkan dan mengikuti
strategi pengendalian resiko c. Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko d. Menghindari
cidera fisik e. Orang tua akan mengenali resiko dan membantu kekerasan. NIC : Manajemen
lingkungan: keselamatan

13 Intervensi: a. Monitor lingkungan untuk perubahan status b. Identifikasi keselamatan yang


dibutuhkan pasien, fungsi kognitif dan level fisik c. Modifikasi lingkungan untuk
meminimalkan bahaya dan resiko d. Gunakan alat-alat pelindung untuk mobilitas fisik yang
sakit e. Catat agen-agen berwenang untuk melindungi lingkungan 5. Dx 5 : Ketakutan
berhubungan dengan kondisi fisik / social Tujuan : Pasien tidak merasa takut. NOC : Kontrol
ketakutan Kriteria hasil: a. Mencari informasi untuk menurunkan ketakutan b. Menghindari
sumber ketakutan bila mungkin c. Mengendalikan respon ketakutan d. Mempertahan
penampilan peran dan hubungan social NIC 1 : Pengurangan Ansietas Intervensi: a. Sering
berikan penguatan positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat menurunkan /
mengurangi takut b. Tetap bersama pasien selama dalam situasi baru c. Gendong / ayun-ayun
anak d. Sering berikan penguatan verbal / non verbal yang dapat membantu menurunkan
ketakutan pasien NIC 2 : Peningkatan koping Intervensi: a. Gunakan pendekatan yang tenang,
meyakinkan b. Bantu pasien dalam membangun penilaian yang objektif terhadap suatu
peristiwa c. Tidak membuat keputusan pada saat pasien berada dalam stress berat d. Dukung
untuk menyatukan perasaan, persepsi dan ketakutan secara verbal e. Kurangi stimulasi dalam
lingkungan yang dapat disalah interprestasikan sebagai ancaman 6. Dx 6: Resiko keterlambatan
perkembangan berhubungan dengan perilaku kekerasan Tujuan : Tidak terjadi keterlambatan
perkembangan NOC : Abusive behavior self-control Kriteria hasil: a. Hindari perilaku
kekerasan fisik b. Hindari perilaku kekerasan emosi c. Hindari perilaku kekerasan seksual d.
Gunakan alternative mekanisme koping untuk mengurangi stress e. Identifikasi factor yang
dapat menyebabkan perilaku kekerasan NIC : Family terapi Intervensi: a. Tentukan terapi
dengan keluarga b. Rencanakanstrategi terminasi dan evaluasi

14 c. Tentukan ketidakmampuan spesifik dalam harapan peran d. Gunakan komunikasi dalam


berhubungan dengan keluarga e. Berikan penghargaan yang positif pada anggota keluarga

15 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Child abuse adalah seorang anak yang mendapat
perlakuan badani yang keras, dimana termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai
stadium awal dari indrom perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir
yang paling berat dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya/ pengasuh. Child Abuse
adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi.
Diagnosa Keperawatan 1. Resiko trauma berhubungan dengan karakteristik anak, pemberian
asuhan dan lingkungan. 2. Cemas berhubungan dengan perlakuan salah yang berulang-ulang,
ketidakberdayaan dan potensial kehilangan orang tua. 3. Resiko terhadap kerusakan kedekatan
orang tua / anak / bayi berhubungan dengan perlakuan kekerasan 4. Risiko cidera berhubungan
dengan kekerasan fisik (kekerasan orang tua) 5. Ketakutan berhubungan dengan kondisi fisik /
social 6. Resiko keterlamnbatan perkembangan berhubungan dengan perilaku kekerasan

16 DAFTAR PUSTAKA Betz, Delsboro Keperawatan Pediatric, Jakarta : EGC Budi Keliat,
Anna Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak. Jakarta: FKUI Gordon et all Nanda Nursing
Diagnoses. Definition and classification Phildelpia : NANDA Johnson, Fontana, dkk IOWA
Intervention Project Nursing Outcomes Classifition (NOC), Second Edition. USA : Mosby
Mccloskey, Gill D.dkk IOWA Intervention Project Nursing Intervention Classifition (NOC),
Second Edition. USA : Mosby Nelson, Synder Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC Whaley
s and Wong Clinic Manual of Pediatric Nursing,4th Edition. USA Potter A Patricia.2005.Buku
Ajar Fundamental Keperawatan,edisi 4.Jakarta :EGC NANDA Nursing Diagnoses: Definitions
& Classification Philadelphia: NANDA International. NICNOC. 2008, Diagnosa Nanda NIC
& NOC, Jakarta: Prima Medika. American Academy of Pediatrics, Soft Drinks in Schools:
Committee on School Health. Available from: /113/1/152.htm. [Accessed 14 April 2013].
Soegijianto, Soegeng.2002.Ilmu Penyakit Anak.Jakarta: Salemba Medika. Hidayat, A. 2008,
Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, (2 Edition), Jakarta:Salemba Medika.