Anda di halaman 1dari 17

IDE, EGO, SUPER EGO

Ada 3 sistem yang terdapat dalam stuktur kepribadian manusia, yaitu :

1. Id (aspek biologis)
Adalah sumber segala energi psikis. Id merupakan dunia batin yang berisikan hal-hal yang di bawa
sejak lahir (unsur-unsur biologis), merupakan bagian dari alam tidak sadar. Karena id adalah sistem
adalah sistem yang tidak di sadari, maka semua ciri ketidak sadaran berlaku buat id : amoral, tidak
terpengaruh waktu, tidak memperdulikan realitas, tidak menyensor diri sendiri dan bekerja atas
prinsip kesenangan (pleasure principle). Tetapi karena sifatnya yang tidak memperdulikan realitas,
padahal objek yang di perlukan untuk memenuhi impuls-impuls dari id terletak dalam realitas, maka
id memerlukan sisitem yang dapat menghubungkannya dengan realitas. Oleh karena itu tumbuh
sistem baru yaitu ego.

Contoh : ketika seseorang tidak memiliki uang maka dia akan berusaha untuk mendapatkan uang
agar di merasa puas/senang (pleasure principle).

2. Ego
Merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Sumber energi ego berasal dari id. Tetapi
dalam perkembangan selanjutnya ego akan berdiri sendiri, terpisah dari id. Fungsi utama ego adalah
menghadapi realitas dan menerjemahkan untuk id. Karena itu di katakan bahwa ego berfungsi atas
dasar prinsip realitas (reality principle). Di samping bekerja atas dasar prinsip realitas, ego juga
beroperasi atas dasar proses berfikir sekunder. Jadi dalam mengintepretasikan realitas, ego
menggunakan logika. Selain itu persepsi dan kognisi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
proses sekunder tersebut.

Contoh : seseorang yang ingin mendapatkan uang maka ia akan berfikir apa yang dapat di lakukan
sehingga dapat memperoleh uang yaitu bekerja (reality principle)

3. Super ego
Merupakan aspek sosiologis dari kepribadian / aspek moral. Super ego merupakan perkembangan
dari ego yang pada suatu saat melepaskan diri dari ego. Sifat super ego sama dengan id, dalam arti
tidak terpengaruh waktu dan tempat, tidak mempunyai sensor diri serta memiliki energi sendiri. Ia
pun mengbaikan realitas. Akan tetapi super ego memiliki fungsi yang bertentangan dengan id. Fungsi
dari super ego adalah menentukan sesuatu itu benar atau salah, susila atau tidak, dengan demikian
pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat. karena itu, super ego memiliki prinsip
identifikasi (identification principle). Juga dapat di katakan super ego berprinsip mencari
kesempurnaan di bandingkan id yang berprinsip mencari kesenangan.

Contoh : dalam perasaan yang ambivalen yang terdapat pada anak laki-laki terhadap ayahnya atau
anak perempuan terhadap ibunya, yaitu pertentangan antara perasaan benci dan cinta, takut dan
kagum, ingin meniru dan ingin mengingkari, terjadilah penerapan nilai-nilai orang tua ke jiwa anak.

KEJANG DEMAM
(Febrile Convulsion)
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karenakenaikan suhu tubuh (suhu rectal diatas
38° C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.

ETIOLOGI
1. disebabkan oleh suhu yang tinggi
2. timbul pada permulaan penyakit infeksi (extra Cranial), yang disebabkan oleh banyak macam
agent:
a. Bakteriel:
Penyakit pada Tractus Respiratorius:
• Pharingitis
• Tonsilitis
• Otitis Media
• Laryngitis
• Bronchitis
• Pneumonia
Pada G. I. Tract:
• Dysenteri Baciller
Sepsis.
Pada tractus Urogenitalis:
• Pyelitis
• Cystitis
• Pyelonephritis
b. Virus:
Terutama yang disertai exanthema:
• Varicella
• Morbili
• Dengue
• Exanthemasubitung

PATOFISIOLOGI
Belum jelas, kemungkinan dipengaruhi faktor keturunan atau genetik

PROGNOSA
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat prognosa baik dan tidak menyebabkan
kematian.Apabila tidak diterapi dengan baik, kejang demam dapat berkembang menjadi :
• Kejang demam berulang
• Epilepsi
• Kelainan motorik
• Gangguan mental dan belajar
GEJALA KLINIS
Ada 2 bentuk kejang demam (menurut Lwingstone), yaitu:
1. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala klinis sebagai berikut :
• Kejang berlangsung singkat, < 15 menit
• Kejang umum tonik dan atau klonik
• Umumnya berhenti sendiri
• Tanpa gerakan fokal atau berulang dalam 24 jam
2. Kejang demam komplikata (Complex Febrile Seizure), dengan cirri-ciri gejala klinis sebagai berikut
:
• Kejang lama > 15 menit
• Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
• Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS


Anamnesis: Biasanya didapatkan riwayat kejang demam pada anggota keluarga yang lainnya (ayah,
ibu, atau saudara kandung).
Pemeriksaan Neurologis : tidak didapatkan kelainan.
Pemeriksaan Laboratorium : pemeriksaan rutin tidak dianjurkan, kecuali untuk mengevaluasi sumber
infeksi atau mencari penyebab (darah tepi, elektrolit, dan gula darah).
Pemeriksaan Radiologi : X-ray kepala, CT scan kepala atau MRI tidak rutin dan hanya dikerjakan atas
indikasi.
Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) : tindakan pungsi lumbal untuk pemeriksaan CSS dilakukan
untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil, klinis meningitis
tidak jelas, maka tindakan pungsi lumbal dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Bayi < 12 bulan : diharuskan.
2. Bayi antara 12 – 18 bulan : dianjurkan.
3. Bayi > 18 bulan : tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda meningitis.
Pemeriksaan Elektro Ensefalografi (EEG) : tidak direkomendasikan, kecuali pada kejang demam yang
tidak khas (misalnya kejang demam komplikata pada anak usia > 6 tahun atau kejang demam fokal.

DIAGNOSIS BANDING
• Meningitis
• Ensefalitis
• Abses otak
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kejang demam meliputi :
Penanganan pada saat kejang
• Menghentikan kejang : Diazepam dosis awal 0,3 – 0,5 mg/KgBB/dosis IV (perlahan-lahan) atau 0,4
– 0,6 mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA. Bila kejang masih belum teratasi dapat diulang dengan
dosis yang sama 20 menit kemudian.
• Turunkan demam :
Anti Piretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO atau Ibuprofen 5 – 10 mg/KgBB/dosis PO,
keduanya diberikan 3 – 4 kali per hari.
Kompres : suhu > 39° C dengan air hangat, suhu > 38° C dengan air biasa.
• Pengobatan penyebab : antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit dasarnya.
• Penanganan suportif lainnya meliputi : bebaskan jalan nafas, pemberian oksigen, menjaga
keseimbangan air dan elektrolit, pertahankan keseimbangan tekanan darah.
Pencegahan Kejang
• Pencegahan berkala ( intermiten ) untuk kejang demam sederhana dengan Diazepam 0,3
mg/KgBB/dosis PO dan anti piretika pada saat anak menderita penyakit yang disertai demam.
• Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata dengan Asam Valproat 15– 40 mg/KgBB/hari
PO dibagi dalam 2 – 3 dosis.

PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
Tentu kamu tidak asing lagi dengan istilah kepribadian bukan? Kepribadian dimiliki seseorang
melalui sosialisasi sejak ia dilahirkan. Lalu apakah yang kamu ketahui tentang kepribadian?
1. Pengertian Kepribadian
Kepribadian menunjuk pada pengaturan sikap-sikap seseorang untuk berbuat, berpikir, dan
merasakan, khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan.
Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat yang dimiliki seseorang apabila berhubungan
dengan orang lain. Konsep kepribadian merupakan konsep yang sangat luas, sehingga sulit untuk
merumuskan satu definisi yang dapat mencakup keseluruhannya.
2. Unsur-Unsur dalam Kepribadian
Kepribadian seseorang bersifat unik dan tidak ada duanya. Unsur-unsur yang memengaruhi
kepribadian seseorang itu adalah pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri.
a. Pengetahuan
Pengetahuan seseorang bersumber dari pola pikir yang rasional, yang berisi fantasi, pemahaman,
dan pengalaman mengenai bermacam-macam hal yang diperolehnya dari lingkungan yang ada di
sekitarnya. Semua itu direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit diungkapkan dalam bentuk
perilakunya di masyarakat.
b. Perasaan
Perasaan merupakan suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif
atau negatif terhadap sesuatu atau peristiwa tertentu. Perasaan selalu bersifat subjektif, sehingga
penilaian seseorang terhadap suatu hal atau kejadian akan berbeda dengan penilaian orang lain.
Contohnya penilaian terhadap jam pelajaran yang kosong. Mungkin kamu menganggap sebagai hal
yang tidak menyenangkan karena merasa rugi tidak memperoleh pelajaran. Lain halnya dengan
penilaian temanmu yang menganggap sebagai hal yang menyenangkan. Perasaan mengisi penuh
kesadaran manusia dalam hidupnya.
c. Dorongan Naluri
Dorongan naluri merupakan kemauan yang sudah menjadi naluri setiap manusia. Hal itu
dimaksudkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia, baik yang bersifat rohaniah
maupun jasmaniah. Sedikitnya ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu untuk mempertahankan
hidup, seksual, mencari makan, bergaul dan berinteraksi dengan sesama manusia, meniru tingkah
laku sesamanya, berbakti, serta keindahan bentuk, warna, suara, dan gerak.
3. Faktor-Faktor yang Membentuk Kepribadian
Secara umum, perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu warisan biologis,
warisan lingkungan alam, warisan sosial, pengalaman kelompok manusia, dan pengalaman unik.
a. Warisan Biologis (Heredity)
Warisan biologis memengaruhi kehidupan manusia dan setiap manusia mempunyai warisan biologis
yang unik, berbeda dari orang lain. Artinya tidak ada seorang pun di dunia ini yang mempunyai
karakteristik fisik yang sama persis dengan orang lain, bahkan anak kembar sekalipun. Faktor
keturunan berpengaruh terhadap keramah-tamahan, perilaku kompulsif (terpaksa dilakukan), dan
kemudahan dalam membentuk kepemimpinan, pengendalian diri, dorongan hati, sikap, dan minat.
Warisan biologis yang terpenting terletak pada perbedaan intelegensi dan kematangan biologis.
Keadaan ini membawa pengaruh pada kepribadian seseorang. Tetapi banyak ilmuwan berpendapat
bahwa perkembangan potensi warisan biologis dipengaruhi oleh pengalaman sosial seseorang.
Bakat memerlukan anjuran, pengajaran, dan latihan untuk mengembangkan diri melalui kehidupan
bersama dengan manusia lainnya.
b. Warisan Lingkungan Alam (Natural Environment)
Perbedaan iklim, topografi, dan sumber daya alam menyebabkan manusia harus menyesuaikan diri
terhadap alam. Melalui penyesuaian diri itu, dengan sendirinya pola perilaku masyarakat dan
kebudayaannyapun dipengaruhi oleh alam. Misalnya orang yang hidup di pinggir pantai dengan
mata pencaharian sebagai nelayan mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang yang tinggal
di daerah pertanian. Mereka memiliki nada bicara yang lebih keras daripada orang-orang yang
tinggal di daerah pertanian, karena harus menyamai dengan debur suara ombak. Hal itu terbawa
dalam kehidupan sehari-hari dan telah menjadi kepribadiannya.
c. Warisan Sosial (Social Heritage) atau Kebudayaan
Kita tahu bahwa antara manusia, alam, dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat dan
saling memengaruhi. Manusia berusaha untuk mengubah alam agar sesuai dengan kebudayaannya
guna memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya manusia membuka hutan untuk dijadikan lahan
pertanian. Sementara itu kebudayaan memberikan andil yang besar dalam memberikan warna
kepribadian anggota masyarakatnya.
d. Pengalaman Kelompok Manusia (Group Experiences)
Kehidupan manusia dipengaruhi oleh kelompoknya. Kelompok manusia, sadar atau tidak telah
memengaruhi anggota-anggotanya, dan para anggotanya menyesuaikan diri terhadap kelompoknya.
Setiap kelompok mewariskan pengalaman khas yang tidak diberikan oleh kelompok lain kepada
anggotanya, sehingga timbullah kepribadian khas anggota masyarakat tersebut.
e. Pengalaman Unik ( Unique Experience )
Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang lain, walaupun orang itu berasal
dari keluarga yang sama, dibesarkan dalam kebudayaan yang sama, serta mempunyai lingkungan
fisik yang sama pula. Mengapa demikian? Walaupun mereka pernah mendapatkan pengalaman yang
serupa dalam beberapa hal, namun berbeda dalam beberapa hal lainnya.
4. Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian
Tahap-tahap perkembangan kepribadian setiap individu tidak dapat disamakan satu dengan yang
lainnya. Tetapi secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut.
a. Fase Pertama
Fase pertama dimulai sejak anak berusia satu sampai dua tahun, ketika anak mulai mengenal dirinya
sendiri. Pada fase ini, kita dapat membedakan kepribadian seseorang menjadi dua bagian penting,
yaitu sebagai berikut.
1) Bagian yang pertama berisi unsur-unsur dasar atas berbagai sikap yang disebut dengan attitudes
yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah di kemudian hari. Unsur-unsur itu
adalah struktur dasar kepribadian (basic personality structure) dan capital personality . Kedua unsur
ini merupakan sifat dasar dari manusia yang telah dimiliki sebagai warisan biologis dari orang
tuanya.
2) Bagian kedua berisi unsur-unsur yang terdiri atas keyakinan-keyakinan atau anggapan-anggapan
yang lebih fleksibel yang sifatnya mudah berubah atau dapat ditinjau kembali di kemudian hari.
b. Fase Kedua
Fase ini merupakan fase yang sangat efektif dalam membentuk dan mengembangkan bakat-bakat
yang ada pada diri seorang anak. Fase ini diawali dari usia dua sampai tiga tahun. Fase ini merupakan
fase perkembangan di mana rasa aku yang telah dimiliki seorang anak mulai berkembang
karakternya sesuai dengan tipe pergaulan yang ada di lingkungannya, termasuk struktur tata nilai
maupun struktur budayanya.
Fase ini berlangsung relatif panjang hingga anak menjelang masa kedewasaannya sampai
kepribadian tersebut mulai tampak dengan tipe-tipe perilaku yang khas yang tampak dalam hal-hal
berikut ini.
1) Dorongan-Dorongan (Drives)
Unsur ini merupakan pusat dari kehendak manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang
selanjutnya akan membentuk motif-motif tertentu untuk mewujudkan suatu keinginan. Drivers ini
dibedakan atas kehendak dan nafsu-nafsu. Kehendak merupakan dorongan-dorongan yang bersifat
kultural, artinya sesuai dengan tingkat peradaban dan tingkat perekonomian seseorang. Sedangkan
nafsu-nafsu merupakan kehendak yang terdorong oleh kebutuhan biologis, misalnya nafsu makan,
birahi (seksual), amarah, dan yang lainnya.
2) Naluri (Instinct)
Naluri merupakan suatu dorongan yang bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat makhluk
hidup. Misalnya seorang ibu mempunyai naluri yang kuat untuk mempunyai anak, mengasuh, dan
membesarkan hingga dewasa. Naluri ini dapat dilakukan pada setiap makhluk hidup tanpa harus
belajar lebih dahulu seolah-olah telah menyatu dengan hakikat makhluk hidup.
3) Getaran Hati (Emosi)
Emosi atau getaran hati merupakan sesuatu yang abstrak yang menjadi sumber perasaan manusia.
Emosi dapat menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia, seperti senang, sedih,
indah, serasi, dan yang lainnya.
4) Perangai
Perangai merupakan perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak dari
raut muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu unsur dari kepribadian
yang mulai riil, dapat dilihat, dan diidentifikasi oleh orang lain.
5) Inteligensi (Intelligence Quetient-IQ)
Inteligensi adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang. Sesuatu yang termasuk
dalam intelegensi adalah IQ, memori-memori pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman yang
telah diperoleh seseorang selama melakukan sosialisasi.
6) Bakat (Talent)
Bakat pada hakikatnya merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena warisan
biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, olahraga, berdagang, berpolitik, dan
lainnya. Bakat merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam mengembangkan keterampilan-
keterampilan yang ada pada seseorang. Setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda, walaupun
berasal dari ayah dan ibu yang sama.
c. Fase Ketiga
Pada proses perkembangan kepribadian seseorang, fase ini merupakan fase terakhir yang ditandai
dengan semakin stabilnya perilaku-perilaku yang khas dari orang tersebut.
Pada fase ketiga terjadi perkembangan yang relatif tetap, yaitu dengan terbentuknya perilaku-
perilaku yang khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak. Setelah kepribadian
terbentuk secara permanen, maka dapat diklasifikasikan tiga tipe kepribadian, yaitu kepribadian
normatif, kepribadian otoriter, dan kepribadian perbatasan.
1) Kepribadian Normatif ( Normative Man )
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang ideal, di mana seseorang mempunyai prinsip-
prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil
sosialisasi pada masa sebelumnya. Seseorang memiliki kepribadian normatif apabila terjadi proses
sosialisasi antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan terhadap orang lain sesuai dengan tata
nilai yang ada di dalam masyarakat. Tipe ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri yang
sangat tinggi dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang lain.
2) Kepribadian Otoriter ( Otoriter Man )
Tipe ini terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang lebih mementingkan kepentingan diri
sendiri daripada kepentingan orang lain. Situasi ini sering terjadi pada anak tunggal, anak yang sejak
kecil mendapat dukungan dan perlindungan yang lebih dari lingkungan orang-orang di sekitarnya,
serta anak yang sejak kecil memimpin kelompoknya.
3) Kepribadian Perbatasan ( "text-align: justify;">Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang
relatif labil di mana ciri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya seringkali mengalami perubahan-
perubahan, sehingga seolah-olah seseorang itu mempunyai lebih dari satu corak kepribadian.
Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualisme budaya,
misalnya karena proses perkawinan atau karena situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi
pada dua struktur budaya masyarakat yang berbeda.
Gangguan Mental Organik (GMO)

Menurut Arif Mansjoer (2003; 18), GMO dapat dibagi menjadi menjadi 4, yaitu;
1. Delirium
a) Delirium yang berhubungan dengan suatu kondisi medis lain
b) Delirium yang di indiuksi oleh zat
c) Delirium yang disebabkan oleh berbagai macam etiologi
d) Delirium yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
2. Demensia
a) Demensia tipe Alzheimer
b) Demensia tipe vascular
c) Demensia yang berhubungan dengan suatu kondisi medis lain (HIV, Parkinson, trauma kepala,
penyakit Huntington, penyakit Pick, penyakit Creatzfeldt-Jacob, kondisi medis lain)
d) Demensia yang di induksi oleh zat
e) Demensia yang disebabkan oleh berbagai macam etiologi
f) Demensia yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
3. Gangguan Amnesia
a) Gangguan Amnesia yang berhubungan dengan kondisi medis lain
b) Gangguan Amnesia yang di induksi oleh zat.
4. Gangguan kognitif yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.

A. DELIRIUM
a. Definisi
Suatu sindrom dengan gejala pokok adanya gangguan kesadaran yang biasanya tampak dalam
bentuk hambatan pada fungsi kognitif (Arif Mansjoer, 2001; 189).
Status kebingungan akut yang ditandai dengan kewaspadaan, perhatian, dan konsentrasi dengan
awitan akut dan berlangsung singkat (berjam-jam hingga berhari-hari) (Barry. Guze, MD, 1997; 165).

b. Etiologi (faktor penyebab)


Menurut Arif Mansjoer (2001; 190), delirium memunyai berbagai macam penyebab, semuanya
mempunyai pola gejala serupa putus obat maupun zat toksik, penyebab delirium terbanyak terletak
diluar sistem saraf pusat, misalnya gagal ginjal dan hati. Neurotransmitter yang dianggap berperan
adalah asetilkolin, serotonin, serta glutamat. Area yang terutama terkena adalah formasio
retikularis. Faktor predisposisi terjadinya delirium, antara lain;
1) Usia
2) Kerusakan otak
3) Riwayat delirium
4) ketergantungan alkohol
5) Diabetes
6) Kanker
7) Gangguan panca indera
8) Malnutrisi
Sementara itu menurut Barry Gue (1997; 167), menyatakan penyebab lain terjadinya Delirium yaitu;
1) Gangguan sistemik
2) Disfungsi endokrinologis
3) Proses infeksi
4) Defisiensi nutrisional
5) Proses intrakranial
Perdarahan subaraknoid dan subdural, trauma, infeksi (meningitis dan ensefalitis), stroke, sakit
kepala, migrain, tumor, epilepsi (delirium dan pascaiktal) dan ensefalopati hipertensif.
6) Intoksikasi
Obat-obatan dan medikasi (khususnya antikolinergik), alkohol, racun (logam, bahan industri dan
karbon monoksida).
7) Penarikan diri karena obat
8) Masalah psikiatrik
9) Penyebab lainnya.

c. Manifestasi Klinis
Gejala utama pada penyakit delirium adalah kesadaran yang menurun. Gejala-gejala lain adalah
penderita tidak mampu mengenal orang dan berkomunikasi dengan baik, ada yang bingung atau
cemas, gelisah dan panik, ada pasien yang terutama berhalusinasi dan ada yang hanya berbicara
komat-kamit dan inkoherent. Pasien delirium yang berhubungan dengan sindrom putus obat
merupakan jenis hiperaktif yang dapat dikaitkan dengan tanda-tanda otonom, seperti flushing,
berkeringat, takikardi, dilatasi pupil, nausca, mundan dan hipertermi. Orientasi waktu seringkali
hilang, sedangkan orientasi tempat dan orang mungkin terganggu pada kasus yang berat. Pasien
seringh mengalami Abromalitas dalam berbahasa, seperti pembicaraan yang bertele-tele, tidak
relevan dan inkoheren (Arif Mansjoer, 2001; 190).
Fungsi kognitif lain yang mungkin terganggu adalah daya ingat dan fungsi kognitif umum. Pasien
mungkin tidak mampu membedakan rangsang sensorik dan mengintegrasikannya sehingga sering
merasa terganggu dengan rangsang yang tidak sesuai atau timbul agitasi, gejala yang sering tampak
adalah marah, mengamuk dan ketakutan yang tidak beralasan, pasien selalu mengalami gangguan
tidur sehingga tampak mengamuk sepanjang hari dan tertidur dimana saja (Arif Mansjoer, 2001;
190).
Delirium biasanya hilang bila penyakit badaniah yang menyebabkannya sudah sembuh, mungkin
sampai kira-kira 1 bulan sesudahnya. Jika disebabkan oleh proses langsung menyerang otak, bila
proses itu sembuh, maka gejala-gejalanya tergantung pada besarnya kerusakan yang ditinggalkan
(gejala neurologik/gangguan mental dengan gejala utama gangguan intelegensi). Biasanya delirium
muncul tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari) faktor penyebabnya telah dapat diketahui dan
dihilangkan, walaupun delirium biasanya terjadi mendadak, gejala-gejala prodnormal mungkin telah
terjadi beberapa hari sebelumnya. Prognosa tergantung pada dapat atau tidak dapat kembalinya
penyakit yang menyebabkannya dan kemampuan otak untuk menahan pengaruh penyakit itu (WF.
Maramis, 1995; 182).

d. Penalaksanaan
Menurut Maramis (1995; 182), pengobatan etiologik harus sedini-dininya dan disamping ini faal otak
dibantu agar tidak terjadi kerusakan otak yang tetap. Peredaran darah harus diperhatikan (nadi,
jantung, tekanan darah), bila perlu diberi stimulansia. Pemberian cairan harus cukup, sebab tidak
jarang terjadi dehidrasi.
a) Penderita harus dijaga terus, lebih-lebih ia sangat gelisah, sebab ia berbahaya untuk diri sendiri
(jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun untuk orang lain.
b) Dicoba menenangkan penderita dengan kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau dengan
kompres es, penderita mungkin menjadi lebih tenang bila ia melihat orang tua, barang yang ia kenal
dari rumah. Sebaiknya kamar jangan terlalu gelap, penderita tidak tahan terlalu di isolasi. Terhadap
gejala-gejala psikiatrik, bila sangat mengganggu dapat diberi neroleptika, terutama yang mempunyai
dosis efektif tinggi.
c) Bila kondisi ini merupakan foksisitas antikolinergik digunakan fisostigmin salisilat 1-2 mg IV atau
im. (dosis 15-30 menit)
d) Dilakukannya terapi untuk memberi dorongan perbaikan fisik sensorik dan lingkungan
e) Untuk gejala-gejala psikosis digunakan haloperidol 2-10 ms
f) Insomnia diobati dengan benzodiazepin.
Sementara itu menurut Arif Mansjoer (2000; 191), bila kondisi ini merupakan toksisitas anti
kolinergik, digunakan fisostigmin salisilat 1-2 mg, iv atau im dengan pengulangan dosis setiap 15-30
menit. Selain itu, perlu dilakukan terapi untuk memberi dorongan perbaikan pada fisik, sensorik, dan
lingkungan. Untuk mengatasi gejala psikosis digunakan haloperidol 2-10 mg im, yang dapat diulang
setiap 1 jam. Insomnia sebaiknya diobati dengan benzodiazepin yang mempunyai waktu terapi
pendek.
Pengobatan tergantung pada penyakitnya:
1. Infeksi diatasi dengan antibiotik.
2. Demam diatasi dengan obat penurun panas.
3. Kelainan kadar garam dan mineral dalam darah diatasi dengan pengaturan kadar ciran dan garam
dalam darah.

B. Demensia
a) Definisi
Suatu sindrom akibat penyakit/gangguan otak yang biasanya bersifat kronik-progresif, dimana
terdapat gangguan fungsi luhur kortikel yang multiple (Rusdi Maslim, 2003; 22).
Sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran, gangguan
fungsi kognitif antara lain pada intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah,
orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian dan kemampuan bersosialisasi (Arif
Mansjoer, 2001; 191).
b) Etiologi
Sebagian besar disebabkan oleh penyakit alzheimer dan vaskular. Penyebab lain adalah penyakit
pick, creutzfeldt-jacob, huntington, parkinson, HIV dan trauma kepala (Arif Mansjoer. 2000;
191).Penyebab kedua tersering dari demensia adalah serangan stroke yang berturut-turut.
Demensia juga bisa terjadi setelah seseorang mengalami cedera otak atau cardiac arrest
(http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=698).
Sementara itu menurut Barry Guze (1997; 195-196), beberapa penyebab terjadinya Demensia
diantaranya adalah;
1. Demensia karena Al-zheimer (AD)
Merupakan penyebab tunggal paling lazim untuk demensia, mencakup hampir 55% dari semua kasus
1) Temuan histopatologik umum
(1) Mikroskopik, otak atropik dengan pelebaran sulkus, konvules kortikel yang menciut dan ventrikel
yang membesar.
(2) Temuan histopatologik termasuk kekacauan neuro psikologik, plaksenilis, degenerasi
granulovakuoler dan kehilangan neural.
2) Faktor etiologik
(1) Faktor genetik
Pada 20% kasus, penyakit ini diwariskan sebagai dominan autosomal pada 50% sisanya, tampaknya
terdapatnya peningkatan insidens familial.
(2) Aluminium
Pada model hewan, aluminium ditemukan menyebabkan demensia degenarif neurofibriler, juga
pada pasien yang terkena AD, telah dideteksi adanya peningkatan konsentrasi aluminium otak.
(3) Faktor lain
Walaupun data masih langka telah diperkirakan adanya etiologi virus dan auto imun.
2. Demensia infark majemuk
Keadaan ini mencakup 10% hingga 15% demensia, karena intervensi yang pada waktunya dapat
mempunyai dampak terhadap perjalanan penyakit ini, maka penting dikenali manifestasi klinisnya.
3. Sindrom ekstrapiramidal
1) Penyakit Parkinson
Penyakit Parkinson timbul sebagai akibat kehilangan sel pengandung dopamin dalam lintasan
nigrostriatal dan tegmentum ventral. Secara klinis ditandai dengan bradikinesia tremor, rigiditas,
ekspresi wajah yang berkurang dan berjalan dengan kaki diseret. Demensia berkorelasi buruk
dengan tremor pada gangguan ini tetapi tampaknya bervariasi menurut beratnya bradikinesia yang
ada.
2) Penyakit Huntington
Penyakit Hungtinton diwariskan sebagai suatu gangguan dominan autosomal. Demensia subkortikal
merupakan manifestasi lazim dari penyakit ini yang ditandai dengan gangguan gerakan koreiform
dan perjalan penyakit yang progresif lambat. Biasanya diikuti dengan demensia Huntington, tetapi
dapat mendahului timbulnya gangguan gerakan atau terdapat sendiri sebagai satu-satunya
manifestasi dari penyakit ini.
3) Kelumpuhan Supranuklear Progresif
Kelumpuhan supranuklear progresi ditandai dengan demensia subkortikal ringan, kelumpuhan
tatapan supranuklear, kekakuan aksial dan kelumpuhan pseudobulber (afek yang tak semestinya
dalam derajat dan atau arah, disfagia dan disartria). Pada fase awal dan pertengahan kadang-kadang
ditemukan depresi.
4) Penyebab Infeksi
(1) Penyakit Jacob-Creutzfeldt
Keadaan ini merupakan suatu infeksi virus progresif cepat dari susunan saraf pusat yang biasanya
berpuncak dengan kematian dalam 6 bulan sejak mulai terinfeksi.
(2) Kompleks Demensia Sindrom Imunodefisiensi didapat (AID)
Menurut Artno, Demensia terkait HIV. http//spiritia.or.id.1999. Istilah demensia terkait HIV ( HIV
Associated Dementia-HAD) mencakup spektrum luas perwujudan psikiatri dan neurologi dari infeksi
HIV pada SSP, HAD mencakup berbagai derajat gejala kognitif, motor dan perilaku.

5) Defisiensi nutrisional
Defisiensi vitamin yang paling lazim menimbulkan demensia B12, folat dan niasin, defisiensi tianin
menimbulkan amnesia dalam konteks sindrom wernicke, korsakoff dengan sedikit gangguan
intelektual.
6) Kelainan endokrinologik
Keadaan endokrinologik berikut dapat meliputi demensia dalam gambaran klinisnya, hipotroidisme,
hipertiroidisme, hipopara tiroidisme, hiperpara tiroidisme, penyakit addison dan penyakit custing.
7) Gangguan elektrolit
8) Hipoksia
Anoreksia, gangguan jantung dan fungsi pernapasan.
9) Demensia dialisis dan uremia
10) Ensefalopati uremik kronik
11) Obat-obatan, logam dan paparan kimiawi industri
12) Ensefalopatii hepatik
13) Porikiria
14) Demensia pseudo
15) Demensia hidrosefalik
16) Demensia traumatik dan neoplastik
17) Demensia terkait penyakit mielin
18) Penyusunan diagnostik demensia
Dalam salah satu website dengan alamat http://www.idijakbar.com mengklasifikasikan beberapa
penyebab terjadinya demensia diantaranya:
1) Menurut umur
(1) Demensia senilis (> 65 tahun)
(2) Demensia prasenalis (< 65 tahun)
2) Menurut perjalanan penyakit
(1) Reversibel
(2) Ireversibel

3) Menurut kerusakan struktur otak


(1) Tipe Al-Zheimer
(2) Tipe non Alzheimer
(3) Demensia vaskular
(4) Demensia jisim lewy
(5) Demensia lobus frontal-temporal
(6) Demensia terkait HIV
(7) Morbus parkinson
(8) Morbus huntington
(9) Morbus pick
(10) Morbus jacob creutzfeldt
(11) Sindrom gerstmann
(12) Priondisease
(13) Priondisease
(14) Palsi supranuklear progresif
(15) Multiple sklerosis
(16) Neurosifilis
(17) Tipe campuiran
4) Menurut sifat-klinis
(1) Demensia proprius
(2) Pseudo-demensia

2.4.2.3 Manifestasi Klinis


Demensia biasanya dimulai secara perlahan dan makin lama makin parah, sehingga keadaan ini pada
mulanya tidak disadari. Terjadi penurunan dalam ingatan, kemampuan untuk mengenali orang,
tempat dan benda. Penderita memiliki kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata yang
tepat dan dalam pemikiran abstrak dan sering terjadi perubahan kepribadian.
(http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=698)
Menurut Arif Mansjoer (2001; 191) tanda dan gejala dari Demensia yaitu:
1. Pada stadium awal, pasien menunjukkan kesulitan untuk mempertahankan kinerja mental fatig
dan cenderung gagal bila diberi suatu tugas baru atau kompleks.
2. Orientasi, daya ingat, persepsi dan fungsi intelektual pasien memburuk
3. Pasien tampak introvert dan kurang peduli terhadap akibat tingkah lakunya
4. Diperkirakan 20-30% pasien tipe Alzheimer mengalami halusinasi dan 30-40% mempunyai gejala
waham, terutama waham curiga dan tidak sistematik
5. Terdapat depresi dan ansietas pada sebagian besar pasien. Pasien dapat mengalami afasia,
apraksia dan agnosia
6. Kejang.

2.4.2.4 Penatalaksanaan
Demensia dapat disembuhkan bila tidak terlambat. Secara umum, terapi pada demensia adalah
perawatan medis yang mendukung, memberi dukungan emosional pada pasien dan keluarganya,
serta farmakoterapi untuk gejala yang spesifik. Terapi simtomatik meliputi diet, latihan fisik yang
sesuai, terapi rekreasional dan aktivitas, serta penanganan terhadap masalah-masalah lain.
Sebagai farmakoterapi, benzodiazepin diberikan untuk ansietas dan insomnia, anti depresan untuk
depresi, serta anpsikotik untuk gejala waham dan halusinasi (Arif Mansjoer, 2001; 192).
Sementara itu takrin telah digantikan oleh donepezil, yang menyebabkan lebih sedikit efek samping
dan memperlambat perkembangan penyakit alzheimer selama 1 tahun atau lebih. Ibuprofen juga
bisa memperlambat perjalanan penyakit ini. Obat ini paling baik jika diberikan pada stadiun dini.
(http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=698)

2.4.2.5 Klasifikasi Demensia


Menurut WF. Maramis (1997; 192) Demensia terbagi menjadi:
1. Demensia senilis
Adalah perubahan fisik akan mental yang terjadi pada orang lanjut usia disertai dengan energi yang
berkurang, reaksi terhadap kejadian sekitarnya menjadi lambat, daya kreatif dan inisiatif berangsur-
angsur menyempit dan pelan-pelan menarik diri, seakan-akan kepribadiannya terbungkus.
1) Gejala
Biasanya sesudah umur 60 tahun baru timbul gejala-gejala yang jelas untuk membuat diagnosis
demensia klinis. Penyakit jasmaniah atau gangguan emosi yang hebat mempercepat kemunduran
mental.
2) Gejala jasmaniah
Kulit menjadi tipis, atrofis dan keriput, berat badan mengurang, atrofi pada otot-otot, jalannya
menjadi tidak stabil, suara kasar dan bicaranya menjadi pelan, tremor pada tangan dan kepala.
3) Gejala psikologik
Sering hanya terdapat tanda kemunduran mental umum (demensia simplek).
4) Pencegahan
Pertahankan perasaan aman dan harga diri, perhatikanlah dan cobalah memuaskan kebutuhan rasa
kasih sayang, rasa masuk hitungan, rasa tercapainya sesuatu dan rasa perlu dibenarkan serta
dihargai.

2. Demensia prasenilis
Seperti namanya telah menjelaskan maka pada gangguan ini gejala utamanya ialah demensia
sebelum masa senil, akan dibicarakan dua macam demensia prasenilis, yaitu penyakit Alzheimer dan
penyakit pick.
1) Morbus Alzheimer
Penyakit alzheimer ini biasanya timbul antara umur 50-60 tahun. Terdapat degeneratif korteks yang
difus pada otak dilapisan-lapisan luar, terutama di daerah frontal dan temporal. Atrofi otak ini dapat
dilihat pada pnemo-ensefalogram: sistema ventrikel membesar serta banyak hawa diruang
subarakhroidal (giri mengecil dan sulkus-sulkus melebar).
Penyakit ini mulai pelan-pelan sekali, tidak ada ciri-ciri yang khas pada gangguan inteligensi atau
pada kelainan perilaku. Terdapat disorientasi, gangguan ingatan, emosi yang labil, kekeliruann
mengenai hitungan dan mengenai pembicaraan sehari-hari. Terjadi afasi sering juga terdapat
perseverasi, pembicaraan logoklonia dan bila sudah berat maka penderita tidak dapat dimengerti
lagi, ada yang menjadi gelisah dan hiperaktif.
2) Morbus Pick
Pick dari prahara pertama kali mengumumkan hal-hal tentang penyakit yang jarang ini pada tahun
1892. secara patologis ciri khas ialah atrofi dan gliosis di daerah-daerah asosiatif. Daerah motorik,
sensorik dan daerah proyeksi secara relatif tidak banyak berubah yang terganggu ialah daerah
korteks yang secara filogenptik lebih muda yang penting buat fungsi asosiasi yang lebih tinggi, sebab
itu yang terutama terganggu ialah pembicaraan dan proses berpikir.
Penyakit ini mungkin herediter diperkirakan bahwa terdapat faktor menjadi tua dari sel-sel ganglion
yang tertentu, yaitu yang genetis paling muda. Lobus frontalis menjadi demikian atrofis sehingga
kadang-kadang kelihatan seperti ditekan oleh suatu lingkaran. Biasanya terjadi pada umur 45-60
tahun yang termuda pernah diberikan ialah 31 tahun.
Dalam waktu satu tahun terjadi demensia yang jelas. Ada yang eforia, ada yang menjadi susah dan
curiga, sering terdapat gejala-gejala fokal seperti afasia, apraxia, alexia, agrafia, tetapi gejala-gejala
ini sering diselubungi oleh demensia umum. Ciri afasia yang penting pada penyakit ini ialah
terjadinya secara pelan-pelan (tidak mendadak seperti pada gangguan pembuluh darah otak).

2.4.3 Amnesia
2.4.3.1 Definisi
Amnesia (dari bahasa Yunani) adalah kondisi harganya daya ingat.
(http://Wikipedia.org/wiki/Amnesia/2008).
Amnesia adalah suatu gangguan daya ingat yang ditandai adanya gangguan kemampuan
mempelajari hal-hal baru atau mengingat hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya serta
menimbulkan hambatan pada fungsi sosial dan pekerjaan (Arif Mansjoer, 2001; 192).

2.4.3.2 Etiologi
Gangguan ini sangat sering terjadi pada orang dewasa muda, lebih sering terjadi pada orang yang
telah terlibat didalam peperangan, kecelakaan atau bencana alam .
(http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=698).
Penyebab amnesia bervariasi mulai dari fisiologis sampai kerusakan otak. Kerusakan otak disebabkan
karena trauma atau kecelakaan, tumor, stroke, maupun pembengkakan otak.
(http://www.emedicine.com/neuro/tropic380.html).
Penyebab amnesia dapat berupa organik dan fungsional. Penyebab organik dapat berupa kerusakan
otak akibat trauma, penyakit atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif).
Penyebab fungsional adalah faktor psikologis, seperti halnya mekanisme pertahanan ego.
(http://www.emedicine.com/neuro/tropic380.html).
Sementara itu menurut Arif Mansjoer (2001; 192), gangguan pada daya ingat umumnya diakibatkan
kerusakan struktur neuroanatomi tertentu, pada satu atau dua lebih hemister, namun lebih mudah
timbul bila yang terkena hemister kiri. Gangguan amnesia dapat disebabkan banyak hal, antara lain;
1. Gangguan sistemik
1) Defisiensi tramin (sindrom korsakoff)
2) Hipoglikemia.
2. Gangguan otak primer
1) Kejang, trauma kepala, tumor otak
2) Penyakit serebrovaskular, ensevolitis karena virus herpes simpleks
3) Hipoksia, sklerosis multipel
4) Amnesia transien global
5) Tindakan bedah otak, terapi syok listrik.
3. Obat-obatan: alkohol, neurotoksin, benzodiazepin dan sejenisnya

2.4.3.3 Klasifikasi Amnesia


Menurut website dengan alamat http://www.emidicine.com/neuro /topic 380.htmi, amnesia terbagi
menjadi:
1. Anterograde
Ketidakmampuan untuk mengingat kejadian-kejadian setelah terjadinya trauma atau penyakit
setelah terjadinya trauma atau penyakit yang menyebabkan amnesia.
2. Retrograde
Ketidakmampuan untuk mengingat kejadian-kejadian sebelum terjadinya trauma.

3. Amnesia lakunar
Ketidakmampuan mengingat kejadian tertentu.
4. Amnesia emosional
Hilangnya ingatan karena trauma psikologis. Biasanya bersifat sementara.
5. Sindrom korsakoff
Hilangnya ingatan karena alkoholisme kronik.
6. Amnesia posthipnotik
Hilangnya ingatan setelah keadaan hipnotik atau informasi yang disimpan pada memori jangka
panjang.
7. Transient global amnesia
Merupakan kehilangan sementara seluruh memori secara khusus disertai anterograde amnesia dan
juga retrograde amnesia ringan.

2.4.3.4 Manifestasi Klinis


Gambaran yang sangat umum pada amnesia dissociative adalah kehilangan ingatan. Segera setelah
terjadi amnesia, seseorang bisa kelihatan bingung. Kebanyakan orang dengan amnesia dissociative
setidaknya depresi atau sangat menderita karena amnesia mereka.
(http://www.emedicine.com/neuro/tropic380.html)
Gejala utamanya adalah ketidak mampuan mempelajari ha-hal baru (amnesia anterograde) atau
mengingat hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya (amnesia retrograde). Daya ingat jangka pendek
biasanya terganggu, bahkan pada kasus yang berat, orientasi tempat dan waktu juga terganggu.
Namun, orientasi orang jarang terganggu. Daya ingat jangka panjang yang meliputi pengalaman
masa kecil tidak terganggu. Daya ingat segera masih baik. Gejala penyerta lainnya antara lain
perubahan kepribadian, apatis, kurang inisitif, agitasi dan kebingungan. Pasien tidak mempunyai
tilikan diri yang baik terhadap penyakitnya (Arif Mansjoer, 2001; 192-193).

2.4.3.5 Perjalanan Penyakit dan Prognosis


Dapat timbul secara segera seperti pada trauma dan penyakit cerebrovaskular dapat juga timbul
secara bertahap pada kekurangan nutrisi dan tumor otak. Durasinya dapat singkat, kurang dari
sebulan (amnesia transien) atau lebih dari sebulan (amnesia peristen) (Arif Mansjoer, 2001; 193).

2.4.3.6 Penatalaksanaan
Terutama ditujukan kepada penyakit yang mendasarinya, pendekatan bersifat suportif yang
berkaitan dengan waktu dan tempat akan sangat membantu pasien dan mengurangi rasa cemasnya,
setelah episode amnesia teratasi, beberapa jenis psikoterapi (kognitif, psikodinamika atau suporatif)
mungkin dapat membantu pasien (Arif Mansjoer, 2001; 193).
Untuk mempercepat pemulihan amnesia biasanya diberikan terapi atau obat-obatan yang
meningkatkan fungsi otak. Diluar terapi dan obat-obatan, cara yang paling ampuh adalah
menyediakan kondisi yang memberi rasa aman bagi penderita. Kebanyakan penderita amnesia justru
sembuh bukan diruang praktek, namun ketika menjalani kehidupan secara normal
(http://id.wikipedia.org/wiki.amnesia).
Dokter memulai pengobatan dengan membantu orang tersebut untuk merasa aman dan terjamin.
Jika ingatan yang hilang tidak secara spontan teringat, atau jika kebutuhan untuk mengingat ingatan
tersebut mendesak, teknik mengingat kembali sering kali berhasil. Menggunakan hipnotis atau
wawancara yang diawali dengan obat (wawancara dilakukan setelah orang tersebut tenang dengan
obat secara infus seperti amobarbital atau midazolam), dokter menanyakan orang yang amnesia
mengenai masa lalunya (http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=3095)

2.4.4 Gangguan Akibat Alkohol dan Obat/Zat


Konsep ketergantungan obat meliputi ketergantungan perilaku dan ketergantungan fisik.
Ketergantungan perilaku menekankan pada aktifitas mencari-cari zat sedangkan ketergantungan
fisik menekankan efek fisiologis dari penggunaan zat berulang.
Kekurangan zat ditandai oleh sekurangnya satu gejala spesifik yang menyatakan bahwa penggunaan
zat telah mempengaruhi kehidupan seseorang (Arif Mensjoer, 2001; 193)
Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai setelah terjadi
masalah
2.4.4.1 Etiologi
Ketergantungan zat disebabkan oleh pemakaian zat dalam pola yang berlebihan secara umum,
1. Rentang respon kimiawi
Perlu diingat bahwa pada rentang respon tidak semua individu yang menggunakan zat akan menjadi
penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Hanya individu yang menggunakan zat berlebihan dapat
mengakibatkan penyalahgunaan dan ketergantungan zat.
Penyalahgunaan zat merujuk pada penggunaan zat secara terus-menerus bahkan sampai setelah
terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering dianggap sebagai
penyakit. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi berarti bahwa
memerlukan peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan (Stuart & sundeen,
1995, Stuart & laraia, 1998, diunduh dari http://kuliah bidan.wordpress.com/2008/11/07/asuhan-
keperawatan-klien-dengan-sindrom-putus-zat-napza).
2. Perilaku
3. Faktor penyebab
Faktor penyebab pada klien penyalahgunaan dan ketergantungan napza meliputi :
1) Faktor biologic
(1) Kecenderungan keluarga, terutama penyalahgunaan narkoba.
(2) Perubahan metabolisme alkohol yang mengakibatkan respon fisiologik yang tidak nyaman.
2) Faktor psikologic
(1) Tipe kepribadian ketergantungan.
(2) Harga diri rendah biasanya sering berhybyngan dengan penganiayaan waktu masa kanak-kanak.
(3) Perilaku maladaptif yang dipelajari secara berlebihan.
(4) Mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit.
(5) Sifat keluarga, termasuk tidak stabil, tidak ada contoh peran yang positif, kurang percaya diri,
tidak mampu memperlakukan anak sebagai individu, dan orang tua yang adiksi.
3) Faktor sosiokultural
(1) Ketersediaan dan penerimaan sosial terhadap pengguna obat.
(2) Ambivalens sosial tentang penggunaan dan penyalahgunaan berbagai zat seperti tembakau,
alkohol dan mariyuana.
(3) Sikap, nilai, norma dan sanksi cultur.
(4) Kemiskinan dengan keluarga yang tidak stabil.

2.4.4.2 Manifestasi Klinis


Pada dasarnya terdapat dua konsep ketergantungan zat, yaitu ketergantungan perilaku dan
ketergantungan fisik. Ketergantungan perilaku diperlihatkan dengan aktifitas mencari zat.
Ketergantungan fisik diperlihatkan dari efek fisik dari episode multipel penggunaan zat (Arif
Mansjoer, 2001; 195).

2.4.4.3 Penatalaksanaan
Pendekatan pengobatan untuk penyalahgunaan zat bervariasi menurut zat, pola penyalahgunaan,
tersedianya sistem pendukung dan ciri individual pasien. Tujuan utama pengobatan adalah
abstinensi zat serta mencapai kesehatan fisik psikiatrik dan psikososial.
Pendekatan pengobatan awal dapat dilakukan dengan rawat inap atau rawat jalan. Pengiobatan
rawat inap diindikasikan pada adanya gejala medis atau psikiatrik yang parah, suatu riwayat
gagalnya pengobatan rawat jalan, tidak adanya dukungan psikosoasial atau riwayat penggunaan zat
yang parah atau berlangsung lama.
Pada beberapa kasus penggunaan obat psikotropik mungkin diindikasikan untuk menghalangi pasien
menggunakan zat yang disalahgunakan, untuk menurunkan efek putus zat, atau untuk mengobati
suatu perkiraan gangguan psikiatrik dasar. Kadang-kadang psikoterapi diperlukan. (Arif Mansjoer,
2000; 195).
EPILEPSI
A.PENGERTIAN
Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya
muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam
serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak,
yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi
Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya
serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak secara berlebihan
dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik
B.KLASIFIKASI
1.Berdasarkan penyebabnya dapat dibagi :
a.Epilepsi idiopatik : bila tidak di ketahui penyebabnya.
b.Epilepsi simtomatik : bila ada penyebabnya
2.Berdasarkan letak focus epilepsy atau tipe bangkitan:
Menurut klasifikasi Internasional Bangkitan Epilepsi (1981)
a.Bangkitan parsial atau fokal (partial seizure)
b.Bangkitan parsial sederhana (simple Partial)
-Motorik
-Sensorik
-Otonom
-Psikis
c.Bangkitan partial komplek (disertai gangguan kesadaran)
d.BAngkitan parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum
e.Bangkitan umum (Konvulsif atau non. Lonvulsif)
f.Bangkitan yang tidak terklarifikasi
C.ETIOLOGI
Penyebab pada kejang epilepsi sebagianbesara belum diketahui (Idiopatik) Sering terjadi pada:
1.Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
2.Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
3.Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol
4.Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
5.Tumor Otak
6.kelainan pembuluh darah
D.PATOFISIOLOGI
Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan pusat pengirim
pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian berjuta-jutaneron. Pada hakekatnya tugas neron ialah
menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik sarafyang berhubungan satu dengan yang lain melalui
sinaps. Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter. Acetylcholine dan norepinerprine
ialah neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA (gama-amino-butiric-acid) bersifat
inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh
suatu sumber gaya listrik saran di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas
listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neron-neron di sekitarnya dan demikian
seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih
(depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya
akan menyebar kebagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya
kesadaran. Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang
substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke
belahan otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum yang disertai
penurunan kesadaran.
E.TANDA DAN GEJALA
a.Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan
b.Kelainan gambaran EEG
c.Tergantung lokasi dan sifat Fokus Epileptogen
d.Dapat mengalami Aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik (Aura dapat berupa
perasaan tidak enak, melihat sesuatu, men cium bau-bauan tak enak, mendengar suara gemuruh,
mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya)

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.CT Scan à untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan
degeneratif serebral
b.Elektroensefalogram(EEG) à untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan
c.magnetik resonance imaging (MRI)
d.kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.
G. PENATALAKSANAAN
1)Medik
•Pengobatan Kausal :
Perlu diselidiki apakah pasien masih menderita penyakit yang aktif, misalnya tumor
serebri,hematome sub dural kronik. Bila ya, perlu diobati dahulu.
•Pengobatan Rumat :
Pasien epilepsi diberikan obat antikonvulsan secara rumat. Di klinik saraf anak FKUI-RSCM Jakarta,
biasanya pengobatan dilanjutkan sampai 3 tahun bebas serangan, kemudian obat dikurangi secara
bertahap dan dihentikan dalam jangka waktu 6 bulan. Pada umumnya lama pengobatan berkisar
antara 2-4 tahun bebas serangan.Selama pengobatan harus diperiksa gejala intoksikasi dan
pemeriksaan laboratorium secara berkala.

Obat yang dipakai untuk epilepsi yang dapat diberikan pada semua bentuk kejang
1.Fenobarbital, dosis 3-8 mg/kg BB/hari.
2.Diazepam, dosis 0,2 -0,5 mg/Kg BB/hari.
3.Diamox (asetazolamid); 10-90 mg/Kg BB/hari.
4.Dilantin (Difenilhidantoin), dosis 5-10 mg/Kg BB/hari.
5.Mysolin (Primidion), dosis 12-25 mg /Kg BB/hari.
Bila menderita spasme infantil diberikan :
1.Prednison dosisnya 2-3 mg/Kg BB/hari.
2.Dexametasone, dosis 0,2-0,3 mg/Kg BB/hari.
3.Adrenokortikotropin, dosis 2-4 mg/Kg BB/hari.