Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Asuhan Keperawatan Narapidana

Disusun Oleh :
Kelompok 2

NAMA NIM
Raudhiatul Azzahra 21117099
Ririn Agustin 21117101
Safitri 21117103
Seni Mariska 21117105
Shelly Nugraha 21117107
Shinta Prima Dewi 21117110
Siti Jamilah 21117112

Dosen Pembimbing :
Ine Yulisni, S.Kep.,Ns.,M.Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN
AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan penulis kelancaran
dalam menyusun makalah ini, sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan. Kami juga
ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu dalam
pembuatan karya tulis ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai data
dan fakta pada karya tulis ini.
Kami mengakui bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal.
Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna.
Begitu pula dengan karya tulis ini yang telah selesaikan. Tidak semua hal dapat
penulis deskripsikan dengan sempurna dalam karya tulis ini. Penulis melakukannya
semaksimal mungkin dengan kemampuan yang penulis miliki. Di mana penulis juga
memiliki keterbatasan kemampuan.
Maka dari itu penulis bersedia menerima kritik dan saran. Penulis akan
menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat
memperbaiki karya tulis penulis di masa mendatang. Sehingga semoga karya tulis
berikutnya dan karya tulis lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.

Palembang, 18 November 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................................1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................2
C. Tujuan Penulisan...............................................................................................2

BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian ........................................................................................................5
B. Etiologi .............................................................................................................5
C. Masalah Kesehatan Narapidana .......................................................................8
D. Klasifikasi ........................................................................................................9
E. Rentang Respon .............................................................................................10
F. Pohon Masalah ...............................................................................................10
G. Penatalaksanaan .............................................................................................11
BAB III : Nursing Care Plan
A. Pengkajian .......................................................................................................14
B. Diagnosa ........................................................................................................15
C. Intervensi ......................................................................................................16
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan ..........................................................................................................18
Saran ....................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kunci keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup adalah ketika seseorang
mampu mempertahankan kondisi fisik, mental dan emosionalnya dalam suatu
kondisi yang optimal melalui pengendalian diri, peningkatan aktualisasi diri serta
selalu menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam menyelesaikan masalah.
Setiap individu memiliki kekuatan, martabat, tumbuh kembang, kemandirian dan
merealisasikan diri, potensi untuk berubah, kesatuan yang utuh mulai dari bio psiko
sosial dan spiritual, perilaku yang berarti, serta persepsi, pikiran, perasaan dan gerak.
Keseluruhannya merupakan suatu rangkaian yang tidak terpisahkan (Jaya, 2015).
Menurut WHO kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa, melainkan
mengandung berbagai karakteristik yang positif yang menggambarkan keselarasan
dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadiannya.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang
kesehatan jiwa dalam pasal 1 menyebutkan bahwa kesehatan jiwa adalah kondisi
dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial
sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan,
dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk
kelompoknya.
Kesehatan jiwa adalah suatu keadaan sejahtera dikaitkan dengan kebahagiaan,
kegembiraan, kepuasan, pencapaian, optimisme, atau harapan. Kesehatan jiwa
melibatkan sejumlah kriteria yang terdapat dalam suatu rentang. Kriteria sehat jiwa
yaitu, sikap positif terhadap diri sendiri, berkembang aktualisasi diri dan ketahanan
diri, integrasi, otonomi, persepsi sesuai realitas, dan penguasaan lingkungan (Stuart,
2017).
Gangguan jiwa adalah pola perilaku atau psikologis yang ditunjukkan oleh
individu yang menyebabkan distres, disfungsi, dan menurunkan kualitas kehidupan.
Hal ini mencerminkan disfungsi psikobiologis dan bukan sebagai akibat dari
penyimpangan sosial atau konflik dengan masyarakat (Stuart, 2017).

1
Menurut Purnama, Yani, & Titin (2016) mengatakan gangguan jiwa adalah
seseorang yang terganggu dari segi mental dan tidak bisa menggunakan pikirannya
secara normal.
Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di
LAPAS (Lembaga Permasyarakat). Narapidana bukan saja objek melainkan subjek
yang tidak berbeda dari manusia lainnya yang sewaktu-waktu dapat melakukan
kesalahan atau kekilafan yang dapat dikenakan pidana, sehingga tidak harus
diberantas. Oleh karenanya, yang harus diberantas adalah factor, factor yang dapat
menyebabkan narapidana berbuat hal-hal yang bertentangan dengan hokum,
kesusilaan, agama, atau kewajiban- kewajiban sosial lain yang dapat dikarenakan
pidana (Malinda, Anggun 2016:26).
Seseorang yang terpaksa tinggal di lembaga pemasyarakatan karena menjalani
hukuman akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Mereka akan mengalami
kesulitan untuk menyesuaikan kehidupannya di lembaga pemasyarakatan, tetapi
mereka harus tetap mengikuti aturan-aturan yang berlaku di lembaga
pemasyarakatan. Selain itu, mereka juga harus terpisah dari keluarganya, kehilangan
barang dan jasa, kehilangan kebebasan untuk tinggal diluar, atau kehilangan pola
seksualitasnya. Hal tersebut akan menyebabkan seseorang mendapatkan tekanan
karena hidup di dalam lembaga pemasyarakatan yang mengakibatkan mereka
menjadi stres. Jika seseorang sudah mengalami stres berat, ia akan beresiko untuk
membahayakan diri sendiri maupun orang lain bahkan dapat terjadi percobaan bunuh
diri.
Stres merupakan hal yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Stres juga
merupakan tanggapan atau reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban
atasnya yang bersifat non spesifik. Namun, di samping itu stres dapat juga
merupakan faktor pencetus, penyebab sekaligus akibat dari suatu gangguan atau
penyakit. Faktor-faktor psikososial cukup mempunyai arti bagi terjadinya stres pada
diri seseorang. Kehidupan narapidana di lembaga pemasyarakatan juga selalu dijaga
oleh petugas. Seluruh aktivitas akan selalu diawasi oleh para petugas sehingga
mereka merasa kesulitan untuk beraktivitas dan selalu merasa dicurigai karena
dipantau oleh petugas. Para narapidana ini merasa dirinya tidak berguna ketika hidup
di lembaga pemasyarakatan karena tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka juga

2
memikirkan kehidupan setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan. Mereka berpikir
bahwa dirinya sudah dianggap penjahat oleh orang-orang sekitar sehingga tidak mau
untuk bersosialisasi dengan komunitas. Mereka juga akan merasa dirinya sulit
mendapatkan pekerjaan karena masa lalunya yang pernah ditahan di lembaga
pemasyarakatan dan sudah dianggap penjahat. Ini dapat mengakibatkan mereka
merasa dirinya tidak berguna lagi sehingga akan berdampak pada psikologisnya
berupa penurunan harga diri.
Stres dan harga diri rendah sangat berhubungan dan harus segera ditangani.
Apabila stres dan harga diri rendah sudah terjadi pada seorang individu, ini akan
mempengaruhi seseorang dalam berpikir dan akan mempengaruhi terhadap koping
individu tersebut sehingga menjadi tidak efektif. Bila kondisi seorang individu
dengan stres dan harga diri tidak ditangani lebih lanjut, akan menyebabkan individu
tersebut tidak mau bergaul dengan orang lain, yang menyebabkan mereka asik
dengan dunia dan pikirannya sendiri sehingga dapat muncul risiko perilaku
kekerasan. Selain dapat membahayakan diri sendiri, lingkungan, maupun orang lain
juga dapat terjadi percobaan bunuh diri pada individu yang mengalami stres dan
harga diri rendah.
Perawat sebagai profesi yang berorientasi pada manusia mempuyai andil dalam
memberikan pelayanan kesehatan di LP dalam bentuk “Correctional setting” .
perawat memberikan pelayanan secara menyeluruh. Warga binaan memiliki hak
untuk mendapatkan kesejahteraan kesehatan baik fisik mauapun mental selama masa
pembinaan. Namun hal tersebut kurang mendapatkan perhatian. Kenyataannya
banyak narapidana yang mengalami gangguan psikologis seperti cemas, stress,
depresi dari ringan sampai berat (Butler, dkk. 2005).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pada narapidana ?
2. Apa faktor penyebab pada narapidana ?
3. Bagaimana klasifikasi pada narapidana ?
4. Apa masalah kesehatan pada narapidana ?
5. Bagaimana penatalaksanaan gangguan jiwa pada narapidana?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada narapidana ?

3
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pada narapidana
2. Untuk mengetahui faktor penyebab pada narapidana
3. Untuk mengetahui klasifikasi pada narapidana
4. Untuk mengetahui masalah kesehatan pada narapidana
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan gangguan jiwa pada narapidana
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada narapidana

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Narapidana adalah orang-orang sedang menjalani sanksi kurungan atau sanksi
lainnya, menurut perundang- undangan. Pengertian narapidana menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah orang hukuman (orang yang sedang menjalani
hukuman karena tindak pidana) atau terhukum.
Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di
lembaga pemasyarakatan, yaitu seseorang yang dipidana berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum (UU No.12 Tahun 1995).
Narapidana yang diterima atau masuk kedalam lembaga pemasyarakatan maupun
rumah tahanan negara wajib dilapor yang prosesnya meliputi: pencatatan putusan
pengadilan, jati diri ,barang dan uang yang dibawa, pemeriksaan kesehatan,
pembuatan pasphoto, pengambilan sidik jari dan pembuatan berita acara serah terima
terpidana. Setiap narapidana mempunyai hak dan kewajiban yang sudah diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Narapidana yang ditahan dirutan dengan cara
tertentu menurut Undang-Undang No. 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana
(KUHAP) pasal 1 dilakukan selama proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan
untuk disidangkan di pengadilan.Pihak-Pihak yang menahan adalah Penyidik,
Penuntut Umum, Hakim dan mahkamah agung. Pada pasal 21 KUHAP Penahanan
hanya dapat dilakukan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana termasuk
pencurian. Batas waktu penahanan bervariasi sejak ditahan sampai dengan 110 hari
sesuai kasus dan ketentuan yang berlaku.

B. Etiologi
Faktor-faktor penyebab kejahatan sehingga sesorang menjadi narapidana adalah:
a. Faktor ekonomi
1. Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi baru dengan produksi besar-besaran, persaingan bebas,
menghidupkan konsumsi dengan jalan periklanan, cara penjualan modern
dan lain-lain, yaitu menimbulkan keinginan untuk memiliki barang dan

5
sekaligus mempersiapkan suatu dasar untuk kesempatan melakukan
penipuan-penipuan.
2. Pendapatan
Dalam keadaan krisis dengan banyak pengangguran dan gangguan
ekonomi nasional, upah para pekerja bukan lagi merupakan indeks
keadaan ekonomi pada umumnya. Maka dari itu perubahan-perubahan
harga pasar (market fluctuations) harus diperhatikan.
3. Pengangguran
Di antara faktor-faktor baik secara langsung atau tidak, mempengaruhi
terjadinya kriminalitas, terutama dalam waktu- waktu krisis, pengangguran
dianggap paling penting. Bekerja terlalu muda, tak ada pengharapan maju,
pengangguran berkala yang tetap, pengangguran biasa, berpindahnya
pekerjaan dari satu tempat ke tempat yang lain, perubahan gaji sehingga
tidak mungkin membuat anggaran belanja, kurangnya libur, sehingga
dapat disimpulkan bahwa pengangguran adalah faktor yang paling penting.
b. Faktor Mental
1. Agama
Kepercayaan hanya dapat berlaku sebagai suatu anti krimogemis bila
dihubungkan dengan pengertian dan perasaan moral yang telah meresap
secara menyeluruh. Meskipun adanya faktor-faktor negatif , memang
merupakan fakta bahwa norma- norma etis yang secara teratur diajarkan
oleh bimbingan agama dan khususnya bersambung pada keyakinan
keagamaan yang sungguh, membangunkan secara khusus dorongan-
dorongan yang kuat untuk melawan kecenderungan-kecenderungan
kriminal.
2. Bacaan dan film
Sering orang beranggapan bahwa bacaan jelek merupakan faktor
krimogenik yang kuat, mulai dengan roman-roman dari abad ke-18, lalu
dengan cerita-cerita dan gambar-gambar erotis dan pornografi, buku-buku
picisan lain dan akhirnya cerita- cerita detektif dengan penjahat sebagai
pahlawannya, penuh dengan kejadian berdarah. Pengaruh crimogenis yang
lebih langsung dari bacaan demikian ialah gambaran suatu kejahatan

6
tertentu dapat berpengaruh langsung dan suatu cara teknis tertentu
kemudian dapat dipraktekkan oleh si pembaca. Harian- harian yang
mengenai bacaan dan kejahatan pada umumnya juga dapat berasal dari
koran-koran. Di samping bacaan-bacaan tersebut di atas, film (termasuk
TV) dianggap menyebabkan pertumbuhan kriminalitas tertutama
kenakalan remaja akhir- akhir ini.
c. Faktor Pribadi
1. Umur
Meskipun umur penting sebagai faktor penyebab kejahatan, baik secara
yuridis maupun kriminal dan sampai suatu batas tertentu berhubungan
dengan faktor-faktor seks/kelamin dan bangsa, tapi faktor-faktor tersebut
pada akhirnya merupakan pengertian- pengertian netral bagi kriminologi.
Artinya hanya dalam kerjasamanya dengan faktor-faktor lingkungan
mereka baru memperoleh arti bagi kriminologi. Kecenderungan untuk
berbuat antisocial bertambah selama masih sekolah dan memuncak
antara umur 20 dan 25, menurun perlahan-lahan sampai umur 40, lalu
meluncur dengan cepat untuk berhenti sama sekali pada hari tua.
Kurve/garisnya tidak berbeda pada garis aktivitas lain yang tergantung
dari irama kehidupan manusia.
2. Alkohol
Dianggap faktor penting dalam mengakibatkan kriminalitas, seperti
pelanggaran lalu lintas, kejahatan dilakukan dengan kekerasan,
pengemisan, kejahatan seks, dan penimbulan pembakaran, walaupun
alcohol merupakan faktor yang kuat, masih juga merupakan tanda tanya,
sampai berapa jauh pengaruhnya.
3. Perang
Memang sebagai akibat perang dan karena keadaan lingkungan,
seringkali terjadi bahwa orang yang tadinya patuh terhadap hukum,
melakukan kriminalitas. Kesimpulannya yaitu sesudah perang, ada krisis-
krisis, perpindahan rakyat ke lain lingkungan, terjadi inflasi dan revolusi
ekonomi. Di samping kemungkinan orang jadi kasar karena perang,

7
kepemilikan senjata api menambah bahaya akan terjadinya perbuatan-
perbuatan kriminal.

C. Masalah Kesehatan Narapidana


1. Kesehatan Mental
Menurut data dari Bureau of justice, 1999 kira-kira 285.000 tahanan
dilembaga pemasyarakatan mengalami gangguan jiwa. Penyakit jiwa yang
sering dijumpai adalah skozofrenia, bipolar affective disorder dan personality
disorder. Karena banyak yang mengalami ganguan kesehatan jiwa maka
pemerintah harus menyediakan pelayanan kesehatan mental.
2. Kesehatan fisik
Perawatan kesehatan yang paling penting adalah penyakit kronis dan penyakit
menular seperti HIV, Hepatitis dan Tuberculosis.
a. HIV
Angka kejadian HIV diantara para narapidana diperkiraan 6 kali lebih
tinggi daripada populasi umum. Tingginya angka infeksi HIV ini
berkaian dengan perilaku yang beresiko tinggi seperti penggunaan obat-
obaan, sexual intercourse yang tidak aman dan pemakaian tato.
Pendekatan yang dilakukan utnuk menekan angka kejadian yaitu dengan
dilakukannya penegaan dan program pendidikan kesehatan mengenai
HIV dan AIDS.
b. Hepatitis
Hepatitis B dan C meningkat lebih tinggi dariopada populasi umum
walaupun data yang ada belum lengkap. Hal ini berkaitan dengan
penggunaan obat-obat lewat suntikan, tato, imigran dari daerah dengan
insiden hepatitis B dan C tinggi. National Commision on Correctional
Healt Care (NCCHC) menyarankan agar dilakukan skrining pada semua
tahanan dan jika diindikasikan maka harus segera diberikan pengobatan.
NCCHC juga merekomendasikan pendidikan bagi semua staf dan
tahanan mengenai cara penyebaran, pencegahan, pengobatan dan
kemajuan penyakit.

8
c. Tuberculosis
Angka TB tiga kali lebih besar di LP dibanding populasi umum. Hal ini
terkait dengan kepadatan penjara dan ventilasi yang buruk, yang
mempengaruhi penyebaran penyakit. Pada tahun 196, lembaga yang
menangani tuberculosis yaitu CC merekomendasikan pencegahan dan
pengontrolan TB di lembaga pemasyarakatan yaitu:
1) Diadakannya skrining TB bagi semua staf dan tahanan
2) Diadakan penegahan transmisi penyakit dan diberikan pengobatan
yang sesuai
3) Monitoring dan evaluasi skrining

D. Klasifikasi
Berdasarkan populasi narapidana yang mempunyai masalah kesehatan pada
lembaga pemasyarakatan, yaitu :
a. Wanita
Masalah kesehatan yang ada mungkin lebih komplek misalnya tahanan
wanita yang dalam keadaan hamil, meninggalkan anak dalam pengasuhan
orang lain (terpisah dari anak), korban penganiayaan dan kekerasan social,
penyalahgunaan obat terlarang. Tetapi pelayanan kesehatan yang selama ini
diberikan belum cukup maksimal untuk memenuhi kebutuhan mereka
seperti pemeriksaan ginekologi untuk wanita hamil dan korban kekerasan
seksual. NCCHC menawarkan ketentuan-ketentuan berikut untuk
pemenuhan pelayanan kesehatan :
1. LP memberikan pelayanan lengkap secara rutin termasuk pemeriksaan
ginekologi secara koprehensif.
2. Pelayanan kesehatan komprehensif meliputi kesehatan reproduksi,
korban dari penipuan, konseling berkaitan dengan peran sebagai orang
tua dan pemakaian obat- obatan dan alcohol.
b. Remaja
Meningkatnya jumlah remaja yang terlibat tindak kriminal membuat mereka
harus ikut dihukum dan ditahan seperti orang dewasa. Hal ini akan
menghalagi pemenuhan kebutuan untuk berkembang seperti perkembangan

9
fisik, emosi dan nutrisi yang dibutuhkan. Para remaja ini akan mempunyai
masalah-masalah kesehatan seperti kekerasan seksual, penyerangan oleh
tahanan lain atau tindakan bunuh diri. Disini perawat harus memantau
tingkat perkembangan dan pengalaman mereka dan perlu waspada bahwa
pada usia ini paling rentan terkena masalah kesehatan.

E. Rentang Respon

F. Pohon Masalah
Pohon masalah yang muncul menurut Fajariyah (2012) :

Resiko tinggi perilaku kekerasan

Perubahan persepsi sensori : Halusinasi

Isolasi sosial : Menarik diri

Harga diri rendah

Koping individu tidak efektif

10
G. Penatalaksanaan
1. Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan
orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak
mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk
kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau
latihan bersama (Maramis, 2005, hal. 231)
2. Keperawatan
Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok
stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi
aktivitas kelompok stimulasi realita dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi
(Keliat dan Akemat,2005,hal.13). Dari empat jenis terapi aktivitas kelompok
diatas yang paling relevan dilakukan pada individu dengan gangguan konsep
diri harga diri rendah adalah terapi aktivitas kelompok stimulasi
persepsi.Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi
yang mengunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan pengalaman
atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok, hasil diskusi kelompok
dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian
masalah.(Keliat dan Akemat, 2005).
3. Terapi kerja
Terapi kerja atau terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan
partisipasi seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu yang telah
ditetapkan. Terapi ini berfokus pada pengenalan kemampuan yang masih ada
pada seseorang, pemeliharaan dan peningkatan bertujuan untuk membentuk
seseorang agar mandiri, tidak tergantung pada pertolongan orang lain (Riyadi
dan Purwanto, 2009).
a. Terapi kerja pada narapidana laki laki
1) Pelatih binatang
Bekerja sebagai pelatih sekaligus merawat binatang- binatang
dianggap dapat membantu narapidana untuk mendapatkan terapi
secara psikologis dan menjadi lebih terlatih secara emosional.
Binatang yang dilatih tidak hanya binatang peliharaan, namun

11
juga binatang yang ditinggalkan atau dibuang oleh pemiliknya.
Diharapkan nantinya binatang- binatang ini juga dapat berguna di
masyarakat, sama seperti narapidana yang mendapatkan pelatihan
untuk dapat diterima dan bekerja dengan masyarakat lainnya.
2) Bidang kuliner
Dapur yang ada di penjara juga dapat dimanfaatkan sebagai
pelatihan memasak bagi para narapidana. Meskipun ada yang
mendapatkan pekerjaan sederhana seperti membuka kaleng,
banyak pula yang mendapatkan pelatihan memasak secara
khusus, mulai dari membuat menu hingga menyusun anggaran.
Beberapa penjara juga bekerja sama dengan restoran lokal untuk
memberi pelatihan ini. Selain itu, dengan pekerja di dapur,
mereka tidak perlu banyak berinteraksi dengan masyarakat yang
mungkin memandang negatif.
3) Konseling
Meskipun Anda mungkin tidak berencana untuk berkonsultasi
pada mantan penjahat, namun di penjara, narapidana diberikan
pengetahuan mengenai rehabilitasi dan terapi konseling. Hal ini
dikarenakan narapidana memiliki pengalaman yang membuat
mereka lebih mengerti mengenai tindak kejahatan.
Dengan pelatihan ini, mereka diharapkan untuk dapat
memberikan konseling dengan lebih baik kepada orang-orang
yang bermasalah berdasarkan pengalaman pribadi mereka serta
pelatihan yang mereka terima.
b. Terapi kerja pada anak
1) Keterampilan
Agar narapidana anak menjadi terampil dan juga sebagai bekal
baginya setelah kembali kemasyarakat nantinya, kepada mereka
di berikan latihan kerja. Pemberian latihan kerja ini dapat
dilakukan oleh lembaga pemasyarakatan sedangkan tempat
penentuan kerja dan jenis pekerjaan yang akan diberikan kepada
narapidana ditetapkan oleh Tim Pengamat Pemasyarakatan.

12
Latihan kerja ini berupa latihan kerja di bidang pertanian,
Perkebunan, Pengelasan, Penjahitan dan lain sebagainya.
c. Terapi kerja pada narapidana perempuan
Program pembentukan perilaku wirausaha narapidana di Lapas IIB
Sleman dilaksanakan melalui pembinaan soft kill dan hard skill
dengan pendekatan perilaku wirusaha. Pembinaan soft skill yang
dilaksanakan yaitu pembinaan intelektual, pembinaan kerohanian dan
pembinaan rekreatif. Pembinaan hard skill yang dilaksanakan yaitu
pembinaan keterampilan dan kemandirian melalui bimbingan
kerja.Ketrampilan khusus yang di latihkan pada naraidana perempuan
berupa ketrampilan hidup seperti pertukangan kayu, kerajinan sapu,
las listrik, batik tulis, kerajinan sangkar burung,perkebunan, dan
pembuatan souvenir.

13
BAB III
Nursing Care Plan

A. Pengkajian
1. Identitas klien
a. Nama
b. Umur
c. Jenis kelamin
d. Tanggal dirawat
e. Tanggal pengkajian
f. Nomor rekam medis
2. Faktor predisposisi
a. Genetik
b. Neurobiologis : penurunan volume otak dan perubahan sistem
neurotransmiter.
c. Teori virus dan infeksi
3. Faktor presipitasi
a. Biologis
b. Sosial kutural
c. Psikologis
4. Penilaian terhadap stress
5. Sumber koping
a. Disonasi kognitif ( gangguan jiwa aktif )
b. Pencapaian wawasan
c. Kognitif yang konstan
d. Bergerak menuju prestasi kerja
6. Mekanisme koping
a. Regresi( berhubungan dengan masalah dalam proses informasi dan
pengeluaran sejumlah besar tenaga dalam upaya mengelola anxietas)
b. Proyeksi ( upaya untuk menjelaskan presepsi yang membingungkan
dengan menetapkan tanggung jawab kepada orang lain)

14
c. Menarik diri
d. Pengingkaran

B. Diagnosa keperawatan yang muncul pada narapidana


Harga Diri Rendah
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh
dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. (Gail.
W. Stuart, 2007).
Tanda dan gejala dari HDR meliputi DS dan DO yaitu :
DS:
 Mengejek dan mengkritik diri.
 Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri.
 Menunda keputusan.
 Merusak diri: harga diri rendah menyokong klien untuk mengakhiri
hidup.
 Perasaan tidak mampu.
 Pandangan hidup yang pesimitis.
 Tidak menerima pujian.
 Penurunan produktivitas.
 Penolakan tehadap kemampuan diri.
DO :
 Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi, gangguan
penggunaan zat.
 Kurang memperhatikan perawatan diri.
 Berpakaian tidak rapi.
 Berkurang selera makan.
 Tidak berani menatap lawan bicara.
 Lebih banyak menunduk.
 Bicara lambat dengan nada suara lemah.
 Merusak atau melukai orang lain.
 Sulit bergaul.
 Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.

15
 Menarik diri dari realitas, cemas, panic, cemburu, curiga dan
halusinasi.
Dalam HDR juga terdapat faktor predisposisi yaitu:
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri
2. Faktor yang mempengaruhi peran.
3. Faktor yang mempengaruhi identitas diri.
4. Faktor biologis
Faktor presipitasi dalam HDR yang mana stressor pencetus dapat berasal dari
internal dan eksternal, yaitu:
1. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan.
2. Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan
dan individu mengalaminya sebagai frustasi.
C. Intervensi keperawatan
Diagnosa 1. Harga Diri Rendah
Tujuan umum: klien tidak terjadi gangguan interaksi sosial, bisa berhubungan
dengan orang lain dan lingkungan.
Tujuan khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
 Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri,
 Jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,
 Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
 Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
 Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
 Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga
dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
 Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien,
 Utamakan memberi pujian yang realistis

16
 Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
 Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke
rumah
4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
 Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari
sesuai kemampuan
 Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
 Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Tindakan :
 Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
 Beri pujian atas keberhasilan klien
 Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
 Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

17
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di
lembaga pemasyarakatan, yaitu seseorang yang dipidana berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum (UU No.12 Tahun 1995).
Seseorang yang terpaksa tinggal di lembaga pemasyarakatan karena menjalani
hukuman akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Mereka akan mengalami
kesulitan untuk menyesuaikan kehidupannya di lembaga pemasyarakatan, tetapi
mereka harus tetap mengikuti aturan-aturan yang berlaku di lembaga
pemasyarakatan.
Faktor-faktor yang menyebabkan seorang menjadi narapidana adalah faktor
ekonomi, faktor mental, dan faktor pribadi. Masalah kesehatan yang muncul pada
narapidana yang berada di lapas yaitu kesehatan mental dan fisik. Kebanyakan
masalah kesehatan terjadi pada narapidana wanita dan remaja karena adanya koping
tidak efektif. Penatalaksanaan pada narapidana yang mengalami gangguan jiwa yaitu
terapi psikoterapi, keperawatan, terapi kerja.
Perawat sebagai profesi yang berorientasi pada manusia mempuyai andil dalam
memberikan pelayanan kesehatan berupa asuhan keperawatan kepada semua
masyarakat bahkan narapidana sekalipun, karena banyak narapidana yang mengalami
gangguan psikologis seperti cemas, stress, depresi dari ringan sampai berat (Butler,
dkk. 2005).

B. Saran
Sebagai tenaga profesional tindakan perawat dalam penangan masalah
keperawatan khusunya pada narapidana harus memiliki pengetahuan yang luas dan
tindakan yang dilakukan harus rasional sesuai gejala penyakit dan asuhan
keperawatan hendaknya diberikan secara komprehensif, biopsikososial cultural dan
spiritual

18
DAFTAR PUSTAKA

Butler, Rj. 1994. Nocturnal Enursis. The Child’s Experience. Oxford: Butterworth-
Heineann LTD,P:132-135.
Keliat, B.A. 1994. Seri Keperawatan Gangguan Konsep diri, Cetakan II. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC
Rasmun. 2001. Keperawatan Kesehatan Metal Psikiatri Terintegrasi dengan
Keluarga, Edisi 1. Jakarta. Jakarta : CV.Agung Seto.
Sumardi. Mulyanto. 1982. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok . Jakarta: Rajawali.
Syafaat, Rachmad. 2002. Dagang Manusia-Kajian Trafficking Terhadap Perempuan
dan Anak di Jawa Timur . Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama.

19