Anda di halaman 1dari 8

2.1.

2 Jurnal Pembanding

Judul Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Argumentatif Yang


Koheren Padatulisan Mahasiswastiba Saraswati Denpasar
Penulis Santang
Email santangsastra@gmail.com
Penerbit Linguistika
Volume Vol. 24. No. 46
Tahun terbit 2017
ISSN 0854-9613
Jumlah Halaman 10 Lembar
Reviewer Pity Adinda HZ
Tanggal review 5 Oktober 2017

2.2.2 Jurnal Pembanding

Judul Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Argumentatif Yang


Koheren Pada tulisan Mahasiswas Saraswati Denpasar
Abstrak Kemampuan menulis teks yang koheren merupakan salah satu
materi yang penting dalam pembelajaran menulis pada jenjang
universitas.Pada kenyataannya masih terdapat kekurangan-
kekurangan dalam penulisan teks pada mahasiswa.Untuk itulah
penelitian ini diadakan untuk meningkatkan tulisan argumentatif
yang koheren pada mahasiswa dengan pembelajaran
koherensi.Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan
bertujuan untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan, yaitu
pertama,bagaimanakah hasil skor yang diperoleh mahasiswa pada
siklus 1?Kedua,bagaimanakah hasil skor yang diperoleh
mahasiswa pada siklus akhir?Ketiga,bagaimanakah
kekoherensian teks argumentatif mahasiswa setelah penerapan
pembelajaran koherensi?Oleh karena itu, tujuan yang ingin
dicapai pada penelitian ini adalah untuk(1) menjelaskan hasil skor
yang diperoleh mahasiswa pada siklus 1; (2) menjelaskan hasil
skor yang diperoleh mahasiswa pada siklus akhir; dan (3)
menjelaskan kekoherensian teks argumentatif mahasiswa setelah
penerapan pembelajaran koherensi.
Pendahuluan Bahasa dipelajari dalam bentuk empat keterampilan dasar,
yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan
membacadiperlukan khususnya oleh mahasiswa untuk
kepentingan mencari literatur yang terkait dengan penelitian yang
akandilakukan. Begitu pula, kebutuhan akan kemampuan menulis
juga sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan khususnya pada
tingkat universitas. Sesuai dengan kebutuhan mahasiswanya,
pembelajaran bahasa Inggris merupakan mata kuliah wajib pada
mahasiswa STIBA Saraswati Denpasar.Empat keterampilan dasar
yang menjadi patokan kompetensi mahasiswa di STIBA, yaitu
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas
(PTK).Penelitian tindakan kelas dinyatakan oleh Suyatno (1997:
34) sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan
melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki
atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara
profesional. Penelitian ini dilaksanakan pada mahasiswa semester
genap Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Saraswati
Denpasar.Lokasi STIBA Denpasar adalah di Jalan Kamboja No.
11A, Denpasar.Penelitian kali ini berfokus pada peningkatan
pembelajaran koherensi dalam kemampuan menulis teks
argumentatif pada mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris
(Strata 1) semester empat
Pembahasan Konsep Argumentatif Dalam menghadapi situasi di
masyarakat untuk memecahkan permasalahan sosial argumen
merupakan hal yang penting. Kata argumen berasal dari kata
“argue” dalam bahasa Inggris yang maknanya sama dengan
menunjukkan sesuatu disertai bukti-bukti untuk memengaruhi
orang lain. Pesan yang ingin disampaikan seseorang disertai bukti
bertujuan mendukung pendapat utama yang diajukan.Dasar
empiris seseorang dalam menghasilkan sebuah karya ilmiah
adalah berupabukti-bukti atau contoh-contoh.
Teori Konstruktivisme Penerapan teori konstruktivisme pada
proses belajar mengajar diharapkan dapat mengarahkan penelitian
ini terutama dalam kegiatan pembelajaran oleh mahasiswa
dengan pembelajaran koherensi.Agar lebih jelas berikut diuraikan
teori konstruktivisme dimulai dengan latar belakangnya secara
umum.Istilah konstruktivisme telah dimulai oleh para filosof
kognitif pada tahun 1710 (Rizana dkk., 2012). Teori ini
berkembang seiring dengan perkembangan yang dilakukan oleh
peneliti lainnya dibidang serupa. Vygotsky pada “Interaction
Between Learning and Development” dalam Mind and Society
(1978), misalnya, salah seorang konstruktivistik yang mengaitkan
adanya hubungan antara interaksi sosial dan pengonstruksian
pengetahuan dalam segi kognitif anak.
Teori Belajar Konstruktivisme Walaupun pada mulanya Piaget
tidak memfokuskan diri pada proses belajar mengajar terkait
dengan teorinya, banyak peneliti yang menemukan bahwa teori
ini dapat berlaku pula pada proses berlajarmengajar (McLeod,
2009).Dalam teori ini terdapat beberapa prinsip pembelajaran
yang berkaitan dengan tahapan-tahapan dalam segi kognitif anak
yang didasarkan atas teori konstruktivisme.Prinsip-prinsip
tersebut adalah sebagai berikut (McLeod, 2009). a. Fokus pada
proses pembelajaran dibandingkan dengan produk akhir (focus on
the process of learning, rather than the end product of it). b.
Penggunaan metode aktif yang memerlukan penemuan kembali
atau rekonstruksi ―fakta‖ (using active methods that require
rediscovering or reconstructing "truths"). c. Penggunaan
pembelajaran kolaboratif, seperti halnya aktivitas individual
sehingga anakanak dapat saling belajar satu sama lain (using
collaborative, as well as individual activities, so children can
learn from each other). d. Perencanaan situasi yang
mempresentasikan permasalahan yang bermanfaat dan
menciptakan disekuilibrium untuk anak (devising situations that
present useful problems, and create disequilibrium in the child). e.
Evaluasi tahap perkembangan anak sehingga tugas yang tepat
dapat diberikan (evaluate the level of the child's development, so
suitable tasks can be set).
Dalam menulis teks argumentatif kemampuan mahasiswa
dilihat dalam menunjukkan fakta untuk menyimpulkan kebenaran
yang diungkap yang selama ini belum diketahui pembaca
teks.Pada teks argumentatif karangan mahasiswa nantinya dinilai
kohesi dan koherensi dalam teks.Alwi (2001: 428) berpendapat
kohesi dan koherensi menjadikan tulisan yang dibaca bermakna,
dan untaian kalimat yang tidak kohesif dan koheren tidak akan
membentuk wacana‖.Berdasarkan pendapat Alwi tersebut, dapat
dikatakan bahwa kohesi dan koherensi membuat suatu wacana
menjadi berterima bagi pembaca.Suatu tulisan menjadi bermakna
dan dapat dikatakan sebagai sebuah wacana apabila tulisan
tersebut kohesif dan koheren.Menurut Laelasari dan Nurlaila
(2006: 140), koherensi adalah keselarasan yang mendalam antara
isi dalam wacana.Suatu wacana dikatakan koheren apabila ada
kekompakan antara gagasan yang dikemukakan kalimat yang satu
dan yang lainnya.
Koherensi Dalam menulis sebuah teks seorang penulis
hendaknya mampu memudahkan pembaca untuk memahami teks
yang disajikan dengan penggunaan kalimat-kalimat yang
mengalir dengan baik. Kalimat-kalimat yang terangkai dengan
baik satu sama lain menghasilkan sebuah teks yang koheren.
Pengertian koherensi dikutip dari Creswell (2009) sebagai
berikut. Coherence in writing means that the ideas tie together
and logically flow from one sentence to another and from one
paragraph to another. (Creswell, 2009:83). Pernyataan di atas
memperlihatkan bahwa koherensi dalam menulis berarti ide-ide
saling berhubungan dan secara logis mengalir dari satu kalimat ke
kalimat lainnya dan dari satu paragraf ke paragraf lainnya.
Terdapat empat parameter keherensi pada kemampuan
menulis, yaitu penggunaan ekspresi transisi, pengulangan kata-
kata dan frasa kunci, penggunaan referensi kata ganti, dan
penggunaan bentuk paralel (dalam Burchfield, 1996: 1 – 4).
Berikut bagian-bagian dari keempat parameter tersebut.
1. Penggunaan ekspresi transisi.
2. Pengulangan kata-kata dan frasa kunci
3. Penggunaan referensi kata ganti
4. Penggunaan bentuk paralel

Kesimpulan Berikut dipaparkan simpulan yang diperoleh dari hasil


penelitian berdasarkan ketiga masalah yang telah dirumuskan di
atas sebagai berikut. Perolehan skor mahasiswa pada siklus I
ternyata belum dapat dikatakan meningkat secara signifikan
dibandingkan dengan hasil perolehan skor mahasiswa pada tahap
praobservasi.Hasil menunjukkan rata-rata nilai mahasiswa pada
siklus I adalah 63,1 yang tidak berbeda jauh dengan hasil
perolehan skor mahasiswa pada tahap praobservasi, yaitu 60,4.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara hasil
skor mahasiswa pada tahap praobservasidan pada skilus I yang
belum menerapkan pembelajaran koherensi.
Penelitian ini dilaksanakan sampai dengan siklus III.Pada
siklus II pembelajaran koherensi teks telah dilaksanakan. Pada
siklus ini skor perolehan mahasiswa telah mengalami
peningkatan, yaitu 77,2. Namun, untuk lebih meyakinkan hasil
yang diperoleh maka penelitian ini berlanjut pada siklus III. Pada
siklus III dapat dilihat adanya peningkatan kembali pada skor
perolehan mahasiswa, yaitu 85,7. Berdasarkan perolehan skor
mahasiswa di atas dapat dinyatakan bahwa pembelajaran
koherensi teks telah mampu meningkatkan perolehan skor
mahasiswa dalam kompetensi menulis.

Jurnal pembanding
Abstrak Penyajian Abstrak dengan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia
sebagai bahasa pertama Abstrak dan bahasa Inggris sebagai bahasa
kedua, namun penulisan bahasa Inggris tersebut tidak ditulis cetak
miring. Penyajian Abstrak kurang rapi dan ada satu paragraf yang
hanya berisi tiga baris. Abstrak yang disajikan memuat alasan
penulis melakukan penelitia, tujuan penelitian dan hasil penelitian
serta metode penelitian yang digunakan oleh penulis.
Pendahuluan Dalam penyajian pendahuluan ini kurang lengkap, penulis
hanya mengemukakan pentingnya menulis, rumusan masalah dari
penelitian tersebur dan menerangkan tujuan penelitian untuk
menjawab permasalahan yang diteliti tersebut dengan singkat.
Kajian pustaka Kajian Pustaka dalam Jurnal ini tidak secara langsung di tulis
dengan nama “Kajian Pustaka” namun melalui gambaran umum di
dalam metode penelitian. Seperti:
Konsep Argumentatif
Dalam menghadapi situasi di masyarakat untuk memecahkan
permasalahan sosial argumen merupakan hal yang penting. Kata
argumen berasal dari kata ―argue‖ dalam bahasa Inggris yang
maknanya sama dengan menunjukkan sesuatu disertai bukti-bukti
untuk memengaruhi orang lain. Pesan yang ingin disampaikan
seseorang disertai bukti bertujuan mendukung pendapat utama
yang diajukan.Dasar empiris seseorang dalam menghasilkan
sebuah karya ilmiah adalah berupa bukti-bukti atau contoh-contoh.
Seharusnya, penulisan kajian pustaka ditulis terpisah dari metode
penelitian dan memiliki nama sendiri “Kajian Pustaka” sehingga
pembaca tidak sulit menemukan kajian pustaka dari Jurna ini.
Metode Penelitian Dalam metode penelitian penulis mengemukakan metode yang
digunakan nya dalam penelitian tersebut. penulisan metode
penelitian dilengkapi dengan peta konsep untuk mempermudah
pembaca memahami metode yang digunakan penulis.
Hasil dan Pembahasan Seperti hal nya kajian pustaka, Hasil dan pembahasan jurnal ini
juga tidak disajikan terpisah dengan nama “Hasil dan Pembahsan”
tetapi digabung dengan metode penelitian. Penulis melengkapi
melengkapi hasil dan pembahasan dengan grafik namun sulit
mengetahui hasil dan pembahasan dimulai darimana karena
penggabungan dengan metode penelitian tersebut.
Seharusnya penulisan Hasil dan Pembahasan ditulis terpisah
dengan nama “Hasil dan Pembahasan” tidak digabung dengan yang
lain. untuk mempermudah pembaca memahami maksud yang
disampaikan penulis.
Jurnal Pembanding

Kelebihan Kekurangan
Metode penelitian dilengkapi dengan Kesalahan dalam penulisan Judul jurnal
peta konsep. yaitu tidak adanya spasi dan ada beberapa
kata yang tidak memakai huruf kapital.
Seharusnya:
Peningkatan kemampuan Menulis teks
argumentatif yang poheren pada tulisan
Mahasiswa STIBA Saraswati Denpasar
Penulis menyajikan kesimpulan dari Kajian Pustaka dalam Jurnal ini tidak
hasil penelitiannya dengan singkat dan secara langsung di tulis dengan nama
jelas serta menggunakan bahasa yang “Kajian Pustaka” namun melalui gambaran
mudah dipahami umum di dalam metode penelitian
Daftar pustaka ditulis dengan rapi sesuai Tidak menyajikan Hasil dan
abjad dan mengikuti format penulisan. Pembahasan secara langsung dengan nama
Penulis menyajikan daftar pusataka dari ”Hasil dan Pembahasan” serta tidak
berbagai sumber yaitu buku, jurnal dan menyajikan saran
artikel dari internet yang disertai dengan
keterangan waktu pengunduhannya