Anda di halaman 1dari 4

1. Apa yang dimaksud pengukuran (measurement)?

Apa beda pengukuran dengan penilaian


(valuation)?
Campbell mendefinisikan pengukuran adalah pemberian angka untuk menggambarkan
sifat dari suatu sistem properti berdasarkan suatu aturan yang mengatur properti tersebut.
Pengukuran pada umumnya dikaitkan dengan satuan pengukur berupa unit moneter. Pengukuran
biasanya untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat pada saat obyek
atau transaksi terjadi.
Sedangkan penilaian adalah kegiatan yang bertujuan mengambil keputusan tentang
sesuatu berdasarkan kriteria baik buruk dan bersifat kualitatif. Penilaian biasanya digunakan
untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus diletakkan pada tiap elemen atau
pos laporan keuangan pada saat penyajian laporan keuangan. Jadi secara aplikatif dalam praktek
pengukuran terjadi pada saat pencatatan (jurnal) sedang penilaian pada saat penyajian.
Sebagai contoh, ketika stakeholder ingin mengetahui nilai dari sebuah perusahaan,
mereka melakukan penilaian perusahaan tersebut baik / buruk dengan memberikan atribut
pengukuran pada perusahaan yakni dengan mengukur wealth dan net wealth.

2. Apakah Akuntansi suatu sistem pengukuran? Apa yang hendak diukur oleh akuntansi? (400-500
kata)
Akuntansi merupakan suatu sistem pengukuran karena digunakan untuk
menggambarkan sifat dari suatu sistem properti. Pengukuran merupakan bagian yang sangat
penting dalam akuntansi. Pengukuran dibuat dan dilakukan dalam akuntansi karena data
kuantitatif dapat menghasilkan berdampak lebih besar daripada data kualitatif. Pengukuran
biasanya untuk menunjuk pada proses penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat pada saat
obyek atau transaksi terjadi. Tujuan dari pengukuran tersebut adalah untuk menjadikan data
menjadi lebih informatif dan menjadi lebih bermanfaat.
Dalam akuntansi pengukuran paling penting digunakan adalah untuk pengukuran modal
dan laba, dengan terlebih dahulu menetapkan nilai terhadap modal dan kemudian menghitung
laba sebagai perubahan modal selama periode akuntansi setelah memperhitungkan semua
peristiwa ekonomi yang mempengaruhi kekayaan perusahaan. Laba berasal dari perbandingan
dari beban dan pendapatan, juga perubahan modal dalam satu periode akuntansi. Sementara
Modal dapat dinilai dan dihitung dengan berbagai cara, contoh: historical cost, operasional,
keuangan, atau nilai wajar.
Namun saat ini, berdasarkan standar akuntansi internasional, laba adalah perubahan
modal selama satu periode yang berasal dari seluruh aktivitas termasuk kenaikan dan penurunan
nilai aset termasuk transaksi dengan pemilik. Sedangkan dulu, laba diakui jika pendapatan yang
didapat lebih besar dari beban dan hanya diakui jika modal awal berdasarkan historical cost telah
dijaga. Pada awalnya, modal dalam akuntansi belum diukur secara finansial namun hanya dihitung
jumlahnya dan diinventarisasi. Banyak pendekatan dalam sistem pengukuran akuntansi saat ini
telah beralih fokus terhadap pencaatatan aset berwujud dan tak berwujud. Adanya globalisasi
perusahaan membuat dibutuhkannya suatu standar akuntansi pengukuran aset yang dapat
dibandingkan di seluruh dunia. Ini menghasilkan standar akuntansi pengakuan dan pengukuran,
contohnya IAS: Financial Instruments: Recognition and Measurement.
Sejak 2005, prinsip pengukuran berfokus pada perubahan nilai aset dan kewajiban dan ke
neraca. Sebuah pengukuran dalam akuntansi harus dapat diandalkan dan akurat. Sering
diperlukan bahwa sebelum unsur-unsur seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban diakui
dalam laporan keuangan, unsur-unsur tersebut harus mampu untuk dilakukan pengukuran yang
dapat diandalkan. Gagasan keandalan menggabungkan dua aspek: ketepatan dan kepastian
pengukuran, dan pengungkapan yang secara meyakinkan mewakili sehubungan dengan transaksi
ekonomi yang mendasarinya dan berbagai peristiwa. Keandalan dari pengukuran berkaitan
dengan ketepatan di mana suatu properti tertentu diukur. Akurasi berhubungan dengan seberapa
dekat pengukuran menuju ‘nilai sejati ' dari atribut pengukuran. Pengukuran sangat penting
dilakukan karena dengan mengukur suatu objek, maka kita dapat mengetahui nilai suatu objek
sehingga dapat menjadi acuan untuk dapat menentukan kebijakan yang berkaitan dengan objek
tersebut, dalam hal ini sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk strategi
sebuah entitas untuk memperoleh keuntungan. Dalam akuntansi pengukuran sangat bermanfaat
dalam penyusunan laporan keuangan yang akan digunakan sebagai acuan dalam pengambilan
keputusan.

3. Apakah Akuntansi Biaya Historis memenuhi kriteria-kriteria sistem pengukuran yang baik?
Jelaskan ya atau tidak (500 - 700 kata)
Sebelumnya harus diketahui dulu apa itu historical cost. Menurut Suwardjono (2008) dalam
Sonbay (2010) historical cost merupakan rupiah kesepakatan atau harga pertukaran yang telah
tercatat dalam sistem pembukuan. Prinsip historical cost menghendaki digunakannya harga
perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal dan biaya. Yang dimaksud dengan harga
perolehan adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang tersangkut dalam
tranksaksi. Harga perolehan ini harus terjadi pada seluruh traksaksi diantara kedua belah pihak
yang bebas. Harga pertukaran ini dapat terjadi pada seluruh tranksaksi dengan pihak ektern, baik
yang menyangkut aktiva, utang, modal dan transaksi lainnya. Kemudian dalam historical cost,
Harga perolehan harus terjadi dalam transaksi di antara dua belah pihak yang bebas (arm’slength
transaction) dan berasumsi bahwa unit moneter yang digunakan (rupiah) nilainya stabil. Tujuan
dari penggunaan historical cost accounting yaitu menekankan pada hubungan ‘kontrak’ antara
perusahaan dengan pihak yang menyediakan sumber daya. Hal ini membuat manajemen
bertanggungjawab atas penggunaan asset dalam operasi perusahaan dan dampaknya terhadap
net asset. Tanggung jawab manajemen tersebut dituangkan dalam bentuk laporan keuangan.
Dalam pengimplementasian historical cost, terdapat beberapa kelemahan penggunaan
nilai historis antara lain:
1. Adanya pembebanan biaya yang terlalu kecil karena pendapatan untuk suatu hal tertentu pada
saat tertentu akan dibebani biaya yang didasarkan pada suatu nilai uang yang telah ditetapkan
beberapa periode yang lalu pada saat pencatatan terjadinya biaya tersebut,
2. Nilai aktiva yang dicatat dalam neraca akan mempunyai nilai yang lebih rendah apabila
dibandingkan dengan perkembangan harga daya beli uang terakhir. Di samping itu juga terjadi
perubahan-perubahan kurs yang cepat atas aset dalam valuta asing yang dikuasai persahaan,
3. Alokasi biaya untuk depresiasi, amortisasi akan dibebankan terlalu kecil dan mengakibatkan
laba dihitung terlalu besar,
4. Laba/rugi yang terjadi yang dihasilkan oleh perhitungan laba/rugi yang didasarkan pada asumsi
adanya stable monetary unit tersebut tidaklah riil apabila diukur dengan perkembangan daya
beli uang yang sedang berlangsung,
5. Tujuan akuntansi pada historical cost accounting fokus pada fungsi stewardship saja, tidak
mengindahkan pengguna yang lain. Selain itu, pemilik pun sebenarnya juga tertarik dengan
kenaikan dan penurunan nilai dari investasi yang mereka buat.
Historical cost merupakan sistem pengukuran namun apakah ia termasuk pengukuran
yang baik atau tidak, diliat dari kriteria pengukuran yang baik dalam mencapai tujuan laporan
keuangan dan memelihara kualitas laporan keuangan. Untuk mencapai hal tersebut, pengukuran
harus bersifat andal / reliable dan akurat sehingga pengukuran tersebut dapat disebut
pengukuran yang baik.
Yang pertama, pengukuran yang baik harus dapat diandalkan (reliable). Dalam IAS 8
Accounting Policies, Changes in Accounting Estimates and Errors, paragraph 10(b) dinyatakan
bahwa sebelum dilaporkan dalam laporan keuangan, unsur-unsur dalam laporan keuangan harus
memenuhi prinsip pengukuran yang andal (reliable measurement). Gagasan keandalan
menggabungkan dua aspek: ketepatan dan kepastian pengukuran, dan pengungkapan yang
secara meyakinkan mewakili sehubungan dengan transaksi ekonomi yang mendasarinya dan
berbagai peristiwa. Akuntansi biaya historis selama ini diukur dengan prinsip arm’s length padahal
pada kenyataannya, ada kemungkinan biaya historis dilakukan antara pihak yang memiliki
hubungan istimewa sehingga transaksi tersebut tidak andal sehingga historical cost tidak
memenuhi syarat reliable secara penuh.
Kedua, pengukuran yang baik harus akurat. Pengukuran yang andal belum tentu
memberikan hasil yang akurat. Keakuratan terkait dengan seberapa dekat suatu pengukuran
dengan nilai yang sebenarnya dari atribut yang diukur. Dalam menentukan akurasi dalam
akuntansi, perlu diketahui atribut apa yang harus diukur untuk mencapai tujuan pengukuran,
yaitu menghasilkan informasi yang bermanfaat. Akuntansi biaya historis tidak menyesuaikan
pengukuran atas asset dan kewajiban terhadap nilai sekarang, yang dapat dipahami sebagai nilai
sebenarnya. Profit yang dihasilkan tidak mencerminkan kondisi sekarang sehingga konsep
pemeliharaan modal dan laba disesuaikan dengan inflasi (market priced capital) dan dianggap
sebagai peningkatan yang sesungguhnya terhadap daya beli atau kemampuan untuk menjaga
supply barang dan jasa. Dari penjelasan tersebut akuntansi biaya historis tidak dapat menjelaskan
keakuratan berkaitan dengan seberapa dekat pengukuran dengan nilai yang sesungguhnya. Oleh
karena itu, aspek akurasi tidak dipenuhi oleh akuntansi biaya historis. Pengguna laporan keuangan
tidak dapat menggunakan informasi yang disediakan oleh akuntansi biaya historis sebagai dasar
pengambilan keputusan. Menjadi tidak relevan ketika pengambilan keputusan di masa kini
menggunakan informasi di masa lalu. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa historical cost bukan
merupakan sistem pengukuran yang baik.