Anda di halaman 1dari 15

SAMBUNGAN BIBIR MIRING BERKAIT

LAPORAN

diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Praktik Kayu
diampu oleh :
Dr. Dedy Suryadi, M.Pd

disusun oleh :
Syifa Sudirman ( 1800044 )
M. Ilham Abdurrahman ( 1807337 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN


FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini yang merupakan salah satu
syarat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Praktik Kayu di Universitas
Pendidikan Indonesia yang berjudul “Sambungan Bibir Miring Berkait”.
Pada laporan ini kami banyak mengambil informasi dari berbagai sumber
dan berbagai referensi yang terkait dengan laporan ini. Oleh sebab itu, dalam
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih sebesar-sebesarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini terutama kepada Bapak
Dr. Dedy Suryadi, M.Pd selaku dosen mata kuliah Praktik Kayu. Semoga Tuhan
Yang Maha Esa memberikan kesehatan serta rahmat dan hidayah-Nya kepada kita
semua. Amin.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini sangat jauh dari sempurna,
untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
guna kesempurnaan laporan ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih dan
semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk semua pihak.

Bandung, 28 November 2019

Penulis

11
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... iii
LAMPIRAN .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Identifikasi Masalah ........................................................................ 1
1.3 Pembatasan Masalah ....................................................................... 1
1.4 Rumusan Masalah ........................................................................... 1
1.5 Tujuan Penelitian ............................................................................ 2
1.6 Sistematika ...................................................................................... 2
BAB 2 HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................... 3
2.1 Sambungan Kayu ............................................................................ 3
2.2 Dasar Teori Mengetam, Menggergaji, dan Memahat Kayu ............ 3
2.3 Macam-macam Sambungan Kayu .................................................. 4
2.4 Sambungan Kayu Bibir Miring Berkait .......................................... 6
2.5 Prosedur Pembuatan Sambungan Bibir Miring Berkait .................. 6
BAB 3 PENUTUP ......................................................................................... 9
3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 9
3.2 Saran ................................................................................................ 9
Daftar Pustaka .............................................................................................. 10
Lampiran ...................................................................................................... 11

11
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Sambungan Bibir Lurus .......................................................................5


Gambar 2.2 Sambungan BIbir Lurus Berkait .........................................................5
Gambar 2.3 Sambungan Bibir Miring Berkait .........................................................6
LAMPIRAN
Gambar 4. Alat dan Bahan Pembuatan Sambungan Kayu Bibir Miring Berkait...11
Gambar 5. Proses Pembuatan Sambungan Kayu Bibir Miring
Berkait ......................................................................................................................1
1 ..................................................................................................................................
Gambar 6. Proses Pengikiran Sambugan Kayu Bibir Miring Berkait ...................11

11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kayu sebagai bahan konstruksi memerlukan persyaratan tertentu yaitu
keteguhan kayu dalam memikul beban maksimum yang mungkin timbul,
karena kayu di dalam konstrusi bangunan digunakan pada bagian yang menahan
muatan tetap dan muatan angin dengan bentangan yang panjang (Singa, 1994).
Sambungan kayu merupakan konstruksi kayu yang terdiri dari dua potong kayu
yang dihubungkan dengan sistem hubungan tertentu dengan suatu bentuk
tertentu dan menggunakan alat sambung untuk sambungannya.
Tugas terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman
materi oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar
kompetensi. Laporan tugas terstruktur ini merupakan salah satu persyaratan
yang harus dipenuhi bagi mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Teknik
Bangunan yang mengontrak mata kuliah Praktik Kayu di semester 3 ini. Pada
penyusunan tugas terstruktur ini laporan yang dibahas adalah tentang
pembuatan sambungan bibir miring berkait yang dilaksanakan di workshop
kayu Gedung C Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Universitas
Pendidikan Indonesia.
1.2 Indetifikasi Masalah
1) Kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai sambungan kayu
2) Kurangnya pemahaman mahasiswa dalam mengaplikasikan pembuatan
sambungan kayu
1.3 Pembatasan Masalah
1) Penjelasan mengenai macam-macam sambungan diambil secara garis
besarnya.
2) Hasil praktikum hanya pada sambungan bibir miring berkait.
1.4 Rumusan Masalah
1) Apa yang dimaksud dengan sambungan kayu?
2) Bagaimana dasar teori sebelum melakukan pembuatan sambungan kayu?
3) Apa saja macam-macam sambungan kayu?

11
4) Apa yang dimaksud dengan sambungan kayu bibir miring berkait dan
fungsi dari sambungan bibir miring berkait?
5) Bagaimana prosedur pembuatan sambungan kayu bibir miring berkait?
1.5 Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui sambungan kayu
2) Untuk mengetahi dasar teori sebelum melakukan pembuatan sambungan
kayu
3) Untuk mengetahui macam-macam sambungan kayu
4) Untuk mengetahui sambungan bibir miring berkait dan fungsinya
5) Untuk mengetahui prosedur pembuatan sambungan kayu
1.6 Sistematika
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini, berisikan Latar Belakang, Identifikasi Masalah, Pembatasan
Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, dan Sistematika.
BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini, berisikan tentang uraian materi dari rumusan masalah yang
telah dirumuskan yang kemudian dibahas pada bab ini.
BAB III PENUTUP
Pada bab ini, berisikan tentang simpulan dan saran mengenai laporan ini.

11
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Sambungan Kayu
Sambungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang disambungkan
satu sama lain sehingga menjadi satu batang kayu yang panjang. Sambungan kayu
secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu : (1) Sambungan
memanjang, (2) Sambungan melebar, dan (3) Sambungan menyudut.
Pada bagian ini hanya akan disinggung secara garis besar tentang
sambungan kayu memanjang saja. Untuk sambungan kayu melebar dibahas pada
modul lain yaitu “Pembuatan Dinding dan Lantai Kayu”. Sedangkan untuk
sambungan kayu menyudut akan diuraikan pada lembar informasi Kegiatan Belajar
II dan III pada modul ini juga.Pada konstruksi bangunan gedung sambungan kayu
memanjang banyak digunakan untuk menyambung lisplank kayu, gording, balok
tembok (blandar), bubungan (nok), batang-batang kuda-kuda yang kurang panjang,
dan lain-lain. Untuk menyambung lisplank kayu pada bangunan gedung seringkali
digunakan bentuk sambungan ekor burung tertutup.
Sedangkan untuk menyambung arah memanjang dari konponen bangunan
gedung yang berbentuk balok, beberapa bentuk sambungan yang sering digunakan
adalah : (1) Sambungan bibir lurus, (2) Sambungan bibir lurus berkait, (3)
Sambungan bibir miring, (4) Sambungan bibir miring berkait, dan lain-lain. Tebal
sambungan memanjang untuk kayu-kayu yang berupa papan adalah setengah dari
tebal kayu. Sedangan untuk sambungan kayu yang berupa balok panjang
sambungannya dibuat antara 2 –2 1/2 t (t = tinggi kayu) untuk sambungan bibir
lurus dada tegak, bibir lurus dada miring, dan bibir lurus mulut ikan. Panjang
sambungan adalah 2 ½ -3 t untuk sambungan bibir lurus berkait, bibir miring dada
tegak, bibir miring dada serong, dan bibir miring berkait. Tinggi kait pada
sambungan bibir lurus berkait dibuat 1/5 t, dan tinggi dada untuk jenis sambungan
memanjang yang lain adalah setinggi 1/8 -1/6 t.

2.2 Dasar Teori Mengetam, Menggergaji dan Memahat Kayu


1) Mengetam
Mengetam adalah salah satu pekerjaan dalam kerja kayu yang
dilakukan untuk melicinkan atau menghaluskan, menyikukan serta

11
meratakan atau membentuk potongan kayu. Alat yang digunakan untuk
menghaluskan serta meratakan permukan kayu adalah ketam kayu. Ketam
terdiri dari rumah ketam dan mata ketam. Rumah ketam terbuat dari kayu
dan lubang mata ketam bersudut 45o terhadap bidang dasar rumah ketam.
Supaya hasil pengetaman dapat diatur maka mata ketam dipasanglidah
ketam, yang berfungsi untuk mematahkan sisa pengetaman. Ukuran mata
ketam yaitu 1/4-1/2 cm yang memiliki sudut penajaman 25o-30o.
2) Menggergaji
Menggergaji adalah suatu pekerjaan dalam kerja kayu yang
dilakukan untuk memotong dan membelah kayu sesuai dengan jenis
gergajinya dalam ukuran dan bentuk yang kita hendaki. Proser
penggergajian pada suatu gergaji yang baik adalah didasarkan pada kerataan
dan ketajaman giginya yang bekerja sebagai pahat-pahat kecil.
Serpihan/tatal gergaji akan dibuang dengan sendirinya seoarang dorongan
gergaji oleh takikan gigi-gigi gergaji. Digunakan untuk membagi kayu
dalam bentuk potongan yang dikehendaki.
3) Memahat
Memahat adalah suatu pekerjaan dalam kerja kayu yang digunakan
untuk membentuk kayu menjadi bentuk rupa sehingga didapatkan hasil
yang diinginkan. Alat yang digunakan untuk membetuk bentuk kayu dengan
pola yang diinginkan ini dengan alat pahat yang sesuai dengan fusingsinya,
misalnya pahat tusuk dengan pahat lubang yang masing-masing memiliki
fungsi berbeda dalam membentuk kayu. Sebelum pahat digunakan alangkah
baiknya untuk menajamkannya terlebih dahulu dengan diasah sampai rata
dan membetuk sudut 25o, karena proses pemahatan pada suatu alat pahat
yang baik didasarkan pada ketajaman dari alat pahat tersebut.
2.3 Macam-macam Sambungan Kayu
1) Sambungan Bibir Lurus
Sambungan ini digunakan bila seluruh batang dipikul, misalnya
balok tembok. Pada sambungan ini kayunya banyak diperlemah karena
masing-masing bagian ditakik separuh kayu.

11
Gambar 2.1 Sambungan Bibir Lurus
2) Sambungan Bibir Lurus Berkait
Sambungan kait lurus ini digunakan bila akan ada gaya tarik yang
timbul. Gaya tarik diterima oleh bidang kait tegak sebesar: L x 1/5 t x σTk
σTk = tegangan tekan yang diizinkan pada kayu/serat kayu dan oleh bidang
geser mendatar sebesar 1/5 t x 1 ¼ t x σgs
σgs = tegangan geser yang diizinkan pada kayu
L= lebar kayu balok

Gambar 2.2 Sambungan Bibir Lurus Berkait


3) Sambungan Bibir Miring
Sambungan bibir miring digunakan untuk menyambung gording
pada jarak 2.5 - 3.50 m dipikul oleh kuda-kuda. Sambungan ini tidak boleh
disambung tepat di atas kuda-kuda karena gording sudah diperlemah oleh
takikan pada kuda-kuda dan tepat di atas kaki kuda-kuda gording menerima
momen negatif yang dapat merusak sambungan. Jadi sambungan harus

11
ditempatkan pada peralihan momen positif ke momen negatif sebesar = Q.
Maka penempatan sambungan pada jarak 1/7 – 1/9 dari kuda-kuda
4) Sambungan Memanjang Tegak
Sambungan ini biasa digunakan untuk menyambung tiang-tiang yang
tinggi dimana dalam perdagangan sukar didapatkan persediaan kayu-kayu
dengan ukuran yang diinginkan. Untuk itu perlu membuat sambungan-
sambungan tiang, hal ini yang disebut sambungan tegak lurus.
2.4 Sambungan Kayu Bibir Miring Berkait
Sambungan bibir miring berkait biasa digunakan pada balok kayu dengan
arah memanjang. Sambungan ini seperti pada sambungan bibir miring yang
diterapkan pada gording yang terletak 5 – 10 cm dari kaki kuda-kuda yang
berjarak antara 2.50 – 3.50 m. Gaya tarik yang mungkin timbul, diterima oleh
bidang geser saja sebesar: a x b x σ gs
σ gs = tegangan geser yang diizinkan pada kayu
a = bidang kait
b = panjang bidang geser

Gambar 2.3 Sambungan Bibir Miring Berkait


2.5 Prosedur Pembuatan Sambungan Bibir Miring Berkait
1) Lokasi
Dilaksanakan di Workshop Kayu (Gedung C) Fakultas Pendidikan
Teknologi dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Indonesia
2) Waktu
Dilaksanakan pada hari kamis bulan Oktober 2019 sampai selesai, pada
pukul 08.40-12.00.
3) Standar Kompetensi
a. Mahasiswa dapat membuat sambungan kayu bibir miring berkait.

11
b. Mahasiswa dapat membuat potongan kayu sesuai dengan kebutuhan.
4) Kompetensi Dasar
a. Dapat menggergaji kayu dengan baik dan benar.
b. Dapat memotong dan membentuk kayu sesuai dengan ukuran.
c. Dapat menyelesaikan job dengan tepat waktu.
5) Kesehatan dan Keselamatan Kerja
a. Saat bekerja selalu patuhi peraturan-peraturan yang diberikan dengan
tidak bertindak ceroboh.
b. Menggunakan alat kerja sesuai petunjuk yang baik dan benar sesuai
prosedur.
c. Menggunakan alat-alat keselamatan kerja.
d. Serius dalam bekerja dengan tidak bercanda agar pekerjaan dapat
efektif.
6) Alat dan Bahan
a. Alat : gergaji, penggaris siku, ketam, meteran, palu kayu, alat tulis, pahat
(tusuk dan lubang), klem, kikir,asahan.
b. Bahan : kayu balok ukuran 8/12 dengan panjang 100cm.
7) Langkah Kerja
a. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b. Ketam pada keempat sisinya hingga rata, lurus, dan siku.
c. Lukis sambungan bibir miring berkait pada balok yang sudah diketam
dengan cara sebagai berikut :
 Lukis sambungan bibir miring berkait pada bagian kedua ujung balok
dibuat sama dan berhadapan.
 Tentukan panjang sambungan dan tebal kait sesuai dengan gambar
kerja.
 Berilah tanda pada bagian yang akan dihilangkan.
d. Potong pada bagian yang diberi tanda hingga membentuk bibir miring
dengan menggunakan gergaji agar hasilnya dapat rata.
e. Buat kaitan pada bagian yang diarsir sesuai dengan garis kerja dengan
menggunakan pahat.

11
f. Ratakan pada bagian sambungan kaitan dan bibir miring dengan
menggunakan pahat.
g. Kontrol pada bagian bibir miring dan kaitnya terhadap kesikuannya.
h. Potong balok tersebut menjadi 2 bagian yang sama panjang.
i. Hilangkan kedua sambungan bibir miring berkait menjadi satu
sambungan.
j. Setel dan haluskan sambungan bibir miring berkait dengan
menggunakan kikir hingga terbentuk sambungan yang rata, lurus, siku,
dan rapat.
k. Periksakan kembali hasil kerja kepada intruktor.

11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sambungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang
disambungkan satu sama lain sehingga menjadi satu batang kayu yang
panjang. Sambungan kayu secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga
kelompok yaitu : (1) Sambungan memanjang, (2) Sambungan melebar, dan
(3) Sambungan menyudut. Sedangkan untuk menyambung arah memanjang
dari konponen bangunan gedung yang berbentuk balok, beberapa bentuk
sambungan yang sering digunakan adalah: (1) Sambungan bibir lurus, (2)
Sambungan bibir lurus berkait, (3) Sambungan bibir miring, (4) Sambungan
bibir miring berkait, dan lain-lain. Dasar teori sebelum membuat sambungan
adalah dengan melakukan pengetaman untuk meratakan permukaan kayu,
menggergaji untuk memotong kayu sesuai ukuran yang di inginkan, dan
memahat kayu sesuai dengan bentuk yang di inginkan.
3.2 Saran
Kami menyarankan untuk lebih memahami teori mengenai
sambungan kayu ini dengan mencari sumber lain sebagai referensi guna
menambah pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas, selalu
memperhatikan keselamatan kerja saat praktikum agar, memahami dan
mempelajari terlebih dahulu jobsheet atau langkah kerja sebelum
melakukan praktikum, selalu memperhatikan arahan dosen dan mematuhi
peraturan yang ada atau telah disediakan laboratoriun (workshop kayu
misalnya).

11
DAFTAR PUSTAKA
Sutikno.1995. Pengantar Praktek konstruksi Kayu I. Pusat Pengembangan
Pendidikan Politeknik. Bandung.
Yap, F.H. 1999. Konstruksi Kayu. Bandung: Trinitra mandiori.
Frick, Heinz. 1982. Ilmu Konstruksi Bangunan Kayu. Yogyakarta: Kanisius.
SKKNI 2016 No.87 Industri Pengolahan Golongan Pokok Industtri Kayu
Yani Ahmad (2013) Keteguhan Sambungan Kayu Resak (Vatica rassak BI)
Berdasarkan Benduk Sambungan dan Jumlah Paku, Volume 9

11
LAMPIRAN

Gambar 4. Alat dan Bahan Pembuatan Sambungan Kayu Bibir Miring Berkait

Gambar 5. Proses Pemahatan Sambungan Kayu Bibir Miring Berkait

Gambar 6. Proses Pengikiran Sambungan Kayu Bibir Miring Berkait

11