Anda di halaman 1dari 24

Makalah Komunikasi Kesehatan

Home Group 2
Afifah Ika K
Cecilia Nadine
Cindy Cisilia Rante
Dhea Arinanda Dwi Putri
Diva Muthia Rahma
KOMKES-20

I. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan
sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu tidak dapat dihindari
bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Sebagai
makhluk sosial yang hidup di masyarakat, manusia membutuhkan komunikasi
untuk saling berinteraksi. Dengan demikian komunikasi menjadi unsur penting
dalam berlangsungnya kehidupan bermasyarakat.
Kita sebagai tenaga kesehatan nantinya membutuhkan yang namanya interaksi
kepada masyarakat sehingga komunikasi sangat dibutuhkan. Terutama dunia
kedokteran memang merupakan sebuah profesi yang menuntut interaksi dan
komunikasi yang tinggi di antara sivitasnya. Oleh karena itu, pengetahuan dan
pemahaman tentang komunikasi itu sendiri, unsur komunikasi dan sifat dasar yang
terdapat di dalamnya sangatlah diperlukan. Agar pelaku komunikasi dapat melihat
dengan lebih jelas lagi hal – hal yang perlu diterapkan dan tidak perlu diterapkan
saat berkomunikasi dengan orang lain.

II. Pembahasan Topik


1. Konsep Dasar dan Prinsip Komunikasi Kesehatan
1.1 Konsep Umum Komunikasi Kesehatan
A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti sama.
Komunikasi dalam konteks kesehatan adalah proses penyampaian informasi
atau pesan-pesan mengenai kesehatan. Komunikasi bergantung pada
kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya.
Komunikasi kesehatan adalah segala jenis komunikasi yang berhubungan
dengan kesehatan (Rogers,1996, p.15). Komunikasi dalam konteks kesehatan
adalah proses penyampaian informasi atau pesan-pesan mengenai kesehatan.
Biasanya tujuan dari komunikasi kesehatan ini untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia dalam bidang kesehatan. Cara yang dilakukan dalam
komunikasi kesehatan ini cukup beragam diantaranya melalui konseling,
pelatihan, pendidikan, menyebarluaskan informasi baik secara individu maupun
kelompok. Dalam bidang kesehatan, komunikasi sangat penting karena bisa
menjadi salah satu bentuk pencegahan terhadap suatu penyakit melalui
kegiatan promosi atau pelatihan. Komunikasi yang baik dalam bidang kesehatan
juga sangat penting agar tidak terjadi salah pengertian antara pelayan kesehatan
dengan individu ataupun kelompok tertentu. Hal ini sangat penting agar
kesehatan manusia tetap terjaga sehingga bisa menjalani aktivitas sehari-hari.

B. Unsur-Unsur Komunikasi
Unsur-unsur komunikasi terdiri dari Pengirim/Sender,
Encoding(pengalihan gagasan menjadi pesan), Pesan/Message, Media,
Decoding(proses penafsiran pesan yang diterima), Penerima/Receiver, Umpan
Balik/Feedback, Gangguan/Noise(teknis dan semantik), Bidang Pengalaman
Pengirim dan Penerima/Field of Experience, Pertukaran Makna/Shared
Meaning, dan Konteks(situasi).
C. Sifat/Konsep Dasar Komunikasi
Sifat/konsep dasar komunikasi terdiri dari Proses Simbolis, Proses
Sosialisasi(penyesuaian diri), Proses Komunikasi Satu/Dua Arah, Bersifat
Koorientasi(dua pihak atau lebih memiliki tujuan sama), Bersifat Purposif dan
Persuasif(mempunyai tujuan dan memberi pengaruh), Mendorong Interpretasi
Pelaku(meningkatkan pendapat/pandangan), Pertukaran Makna Antarpelaku,
Dalam Konteks Ruang dan Waktu(dapat terpisahkan antara ruang dan waktu dan
dapat menggunakan media sepeti telepon).
D. Model Komunikasi
Model komunikasi yang digunakan adalah model komunikasi Berlo
(1960) atau biasa disebut SMCR (source, message, channel, receiver). Sumber
dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor- faktor keterampilan komunikasi,
sikap, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya. Pesan yang disampaikan dari
sumber ke penerima dikembangkan berdasarkan elemen, struktur, isi, perlakuan
dan kode. Pesan tersebut disampaikan melalui atau diterima melalui panca indra
yaitu dengan mendengar, melihat, menyentuh, membau, dan
mencicipi.Komunikasi kesehatan ini tentulah memiliki fungsi yaitu untuk
menyampaikan informasi yang akurat dari tenaga kerja kesehatan kepada pasien.

E. Bentuk Komunikasi
Komunikasi kesehatan memiliki beberapa bentuk, yaitu bentuk
komunikasi verbal dan nonverbal. Bentuk komunikasi verbal terbagi menjadi
dua, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa lisan merupakan percakapan kita
sehari-hari, dan bahasa tulis merupakan bahasa yang digunakan dalam tulisan
seperti berita, buku, pengumuman, dan lain sebagainya. Sedangkan bentuk
komunikasi nonverbal adalah komunikasi atau penyampaian pesan atau
informasi tanpa lisan ataupun tulisan, misalnya ekspresi dan bahasa tubuh.
Komunikasi nonverbal ini terbagi menjadi enam, yaitu kinetik, paralinguistik,
prosemik, kontak fisik, karakteristik lingkungan, dan penampilan fisik.

1.2 Hubungan Antarmanusia dalam Proses Berkomunikasi


A. Metode Komunikasi Kesehatan dalam Hubungan antar Manusia
1. Siapkan materi secara mendalam
Informasi kesehatan yang akan disampaikan harus disiapkan secara
matang. Sumber materinya bisa kalian cari di buku kesehatan dan jurnal
kesehatan. Kalian juga dapat berkonsultasi pada praktisi kesehatan.
2. Wawancara orang yang dituju
Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah usia, jenis kelamin, domisili
orang yang dituju. Terutama saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua,
kita harus sabar dan secara perlahan saat menjelaskan informasi kesehatan.
3. Diperlukan basa-basi
Saat tatap muka dan terjadi komunikasi dengan orang baru, kita harus
berbasa-basi dulu dengan mereka agar terjalin komunikasi yang nyaman. Tak
perlu mengenai kesehatan, tanyakan juga hobi mereka.
4. Jadilah pendengar yang baik
Dalam berkomunikasi dengan orang lain, tentunya terjadi komunikasi
dua arah. Sehingga saat menyampaikan pesan tentang kesehatan, kita juga harus
bersiap menerima keluh kesah tentang kondisi kesehatan mereka.
5. Perhatikan intonasi, pemilihan kata dan gaya bicara
Dalam menyampaikan sebuah pesan, gaya bicara perlu diperhatikan.
Atur intonasi dan pemilihan kata agar orang yang dituju merasa nyaman
berkomunikasi dengan kita dan perlahan-lahan menerima pesan kita.
6. Gunakan media sosial
Di era digital ini, media sosial merupakan salah satu media yang paling
sering digunakan dalam menyampaikan sebuah pesan. Penyebaran yang cepat
dan penggunaan gambar yang informatif dianggap efektif agar terbaca semua
kalangan. (HLCE, 2015)
B. Hambatan Komunikasi Kesehatan dalam Hubungan antar Manusia

1. Penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan setiap orang di berbagai negara berbeda satu
sama lain. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak bahasa,
namun disatukan dengan bahasa Indonesia. Tidak menutup kemungkinan
orang di daerah Papua kadang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh orang
dari Jakarta karena perbedaan bahasa daerah dan juga logatnya. Hal ini
menyebabkan bahasa menjadi hambatan dalam membentuk hubungan antar
manusia untuk berkomunikasi. Penyusunan kalimat dengan bahasa yang
tepat untuk diungkapkan melalui verbal atau tulisan harus diperhatikan.

2. Karakteristik dan keunikan seseorang


Manusia mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu sama lain.
Selain itu, terdapat keunikan di setiap diri manusia yang menjadikan dirinya
berbeda dari yang lain. Karakteristik dan keunikan itu yang membuat
manusia terlihat spesial. Sayangnya, hal yang spesial tersebut merupakan
salah satu hambatan yang dialami oleh manusia ketika ingin berhubungan
dan berkomunikasi. Terkadang seseorang tidak dapat memahami sifat spesial
orang lain, sehingga ketika mereka mencoba untuk berkomunikasi terjadi
bentrok, kesalahpahaman, atau hal negatif lainnya.

3. Latar belakang seseorang


Latar belakang yang dimaksud di sini adalah keluarga, budaya, suku,
agama yang membuat sudut pandang orang dalam melihat atau memahami
sesuatu saling berbeda. Semakin kuat latar belakang ini melekat dalam diri
seseorang, maka semakin sulit dan besar juga hambatan yang ada untuk
melakukan komunikasi. Hal ini dikarenakan pola pikir yang sudah terpaku
dengan latar belakangnya membuat pikirannya tidak mau terbuka untuk
menerima pemikiran lain yang berbeda.

4. Pengetahuan yang dimiliki


Tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan luas di bidang kesehatan
tentu mempunyai cara penyampaian informasi sendiri. Masalahnya adalah
bagaimana kalau mereka berhadapan dengan pasien yang mempunyai
pengetahuan mengenai kesehatan dari sumber tidak jelas dan orang itu
merasa dirinya paling benar karena pengetahuan yang dimiliki. Hal ini
menjadi hambatan yang rumit dan membutuhkan langkah berkomunikasi
yang beda agar pasien dapat diarahkan ke informasi dan pengetahuan yang
tepat.

5. Sikap dan perilaku


Hubungan antar manusia akan baik jika pemilik hubungan memiliki
sikap dan perilaku yang baik. Secara otomatis, komunikasi yang dilakukan
juga berlangsung dengan baik. Sayangnya, masih banyak orang yang
memiliki sikap dan perilaku tidak baik, sehingga menyulitkan proses
komunikasi dan memperburuk hubungan.

Tanpa dikatakan, para tenaga kesehatan tentu sudah sadar bahwa mereka
harus bersikap dan berperilaku baik karena mereka merupakan panutan bagi
pasien dan kliennya. Alangkah indahnya jika pasien yang ditangani memiliki
sikap dan perilaku baik pula, namun tidak semua pasien memiliki kesadaran
untuk berperilaku baik.
1.3 Prinsip dalam Melakukan Komunikasi Kesehatan
1. Fokus utamanya adalah terjadi transaksi informasi kesehatan
2. Berusaha untuk memengaruhi secara positif perilaku kesehatan individu maupun
komunitas masyarakat
3. Diharapkan adanya perubahan perilaku kesehatan dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan
4. Ada interaksi antara kesehatan dengan perilaku individu.
5. Komunikasi kesehatan yang berlangsung positif memberikan dampak penting bagi
pasien, dokter, dan orang lain.
6. Adanya pertukaran informasi yang cukup antara tenaga kesehatan dengan pasien,
juga saling menghormati keputusan satu sama lain

2. Bentuk dan Hambatan Komunikasi


2.1 Pentingnya Persepsi dalam Komunikasi Kesehatan
A. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah stimulus yang diterima individu melalui
indernya, diatur, dan diinterpretasikan sehingga seseorang tersebut
memiliki pemahaman atas apa yang diinderanya. Persepsi mampu
memengaruhi tingkah laku seseorang terhadap situasi yang terjadi di
lingkungannya.
B. Proses Pembentukan Persepsi
Menurut Walgito (2002:71), proses pembentukan persepsi adalah
saat suatu benda menimbulkan stimulus (sentuhan) lalu mengenai alat
indera atau reseptor.
Proses stimulus ini diteruskan oleh saraf sensorik ke otak. Proses
perjalanan stimulus ini disebut proses psiologis. Selanjutnya, di otak,
tempat pusat kesadaran manusia, terjadi proses pemrosesan stimulus di
mana individu akhirnya menyadari apa yang diinderanya, dalam hal ini
yaitu apa yang dirabanya. Proses munculnya kesadaran pada otak inilah
yang disebut dengan proses psikologis.
Menurut Jalaluddin Rakhmat (2003: 54), urutan proses
terbentuknya persepsi adalah dimulai dari stimulus yang hadir, registrasi,
interpretasi, dan diakhiri dengan umpan balik.
Proses terbentuknya persepsi dibagi melalui tiga tahapan menurut
Joseph A. DeVitto (1997: 75-76). Tiga tahap tersebut ialah stimulasi
pada alat indra, stimulasi terhadap alat indra diatur, kemudian stimulasi
alat indra ditafsirkan-dievaluasi.
Pada tahap pengaturan stimulasi terhadap alat indra, salah satu
prinsip yang digukan ialah prinsip proksimitas atau prinsip kemiripan.
Artinya, manusia mempersepsikan pesan yang dating langsung segera
setelah pesan yang lain yang datang sebagai satu kesatuan dan
menganggap keduanya saling berkaitan. Prinsip lainnya yang berlaku
adalah prinsip kelengkapan. Manusia akan mempersepsikan sesuatu yang
belum utuh sebagai suatu pesan yang lengkap dengan cara melengkapi
kekurangan-kekurangannya dengan logikanya sendiri.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Menurut Mar’at (1997:21), faktor-faktor yang memengaruhi
persepsi seseorang adalah faktor pengalaman, cakrawala berpikir, proses
belajar, serta pengetahuannya. Sedangkan, menurut Sarwono (2001:43),
relasi, harapan, kebutuhan, dan system nilai adalah faktor yang
memengaruhi persepsi. Sistem nilai dapat diartikan sebagai norma yang
berlaku dalam suatu masyarakat dimana individu itu berada.Selanjutnya,
kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosi, serta latar belakang budaya
adalah faktor yang memengaruhi persepsi seseorang menurut pemikiran
Krech dan Crutfield dalam Suwartinah (2001:25).²
Pandangan lain mengatakan bahwa faktor-faktor ini terbagi
menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya
mencakup faktor fisiologis, yaitu pemberian arti atau interpretasi
terhadap lingkungannya, perhatian, minat, kebutuhan yang searah,
pengalaman dan ingatan, serta suasana hati. Faktor eksternalnya ialah
ukuran dari penempatan obyek atau stimulus, warna obyek, keunikan dan
kekontrasan stimulus, intensitas dan kekuatan stimulus, serta gerakan.
D. Teori yang Mempengaruhi Persepsi
1. Health-Belief Model
Teori ini dicetuskan oleh Godfrey Houchbaum, Irwin
Rosenstock, dan Stephen Kegeles yang merupakan para psikolog
sosial dari US Public Health Service tahun 1950-an. Berdasarkan
teori ini, beberapa komponen dianggap sebagai pengungkit bagi
faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang. Komponen -
komponen ini ialah persepsi kerentanan (derajat risiko yang
dirasakan terhadap masalah kesehatan), persepsi keparahan, persepsi
manfaat, persepsi hambatan (lawan dari persepsi manfaat), petunjuk
untuk bertindak, serta efikasi diri (kepercayaan seseorang akan
kemampuannya sendiri dalam bertindak).
2. Teori Stimulus-Organisme-Respon
Teori ini memberi pandangan bahwa penyebab terjadinya suatu
perubahan perilaku seseorang bergantung pada kualitas rangsang
yang berinteraksi dengan organisme. Hosland, et al (1953) dalam
Notoatmodjo (2003) berpendapat bahwa perubahan perilaku adalah
bentuk proses belajar, yang mana proses belajar ini terdiri atas
beberapa tahap mulai dari stimulus yang diberikan yang dapat
diterima atau ditolak, apabila diterima maka berlanjut pada kesediaan
untuk bertindak akan diterima, kemudian adanya dukungan dari
lingkungan.
2.2 Bentuk Komunikasi Kesehatan
Komunikasi, berdasarkan cara komunikasinya, terdiri dua jenis yaitu
komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal merupakan
komunikasi yang penyampaiannya dalam bentuk verbal, lisan maupun tulisan.
Seseorang yang berkomunikasi secara verbal akan memastikan lawan bicaranya
mengerti apa yang ingin disampaikannya melalui kata-kata.
Selain itu, ada komunikasi secara nonverbal. Dalam berkomunikasi
secara nonverbal pasti memiliki bentuk atau jenis-jenis tersendiri, yang
diantaranya yaitu:
1. Kinesik
Komunikasi nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh kita, seperti
mata, tangan, kepala, dan kaki yang dapat mempengaruhi ekspresi wajah kita
atau menggantikan suatu kata ketika sedang berkomunikasi.
a. Emblem, gerakan tubuh untuk emnggantikan sautu kata atau ucapan.
b. Illustrator, gerakan tubuh yang menyertai suatu ucapan.
c. Regulator, gerakan tubuh untuk memastikan bahwa komunikasi yang
terjalin lancar dan dapat dimengerti.
d. Affect displays, gerakan tubuh yang memperlihatkan perasaan dan emosi
pad wajah dan biasanya terjadi dalam keadaan tidak sadar.
e. Adaptor, gerakan tubuh yang terjadi karena perasaan tegang dan digunakan
untuk mengendalikan emosi.
2. Prosemik
Bahasa ruang yang digunakan untuk melakukan komunikasi dengan
orang lain. Dengan kata lain, pengaturan jarak menentukan tingkat keakraban
seseorang dengan orang lain.
Hall (1996) mengindentifikasi empat zona jarak , yaitu jarak intim (
fase dekat 0-15cm, fase jauh 15-45 cm), jarak personal (fase dekat 45-75 cm ,
fase jauh 75-120 cm) , jarak sosial (120-360 cm) , jarak publik (360-750 cm).
Sudah seharusnya seorang petugas kesehatan memperhatikan kondisi jarak ini.
3. Paralinguistik
Paralinguistik adalah bentuk komunikasi nonverbal yang terdapat pada cara
berbicara seseorang, seperti nada suara, intonasi, atau kecepatan berbicara.
Paralinguistik juga dapat mempengaruhi penilaian pendengar tentang pembicara,
seperti kepribadian, dan keadaan emosi pada saat berbicara.
4. Kontak Fisik/Haptik
Kontak fisik atau sentuhan seringkali dilakukan oleh petugas kesehatan karena
kontak fisik merupakan sebuah penyampaian pesan dengan melibatkan perasaan
kasih sayang melalui sentuhan. Alangkah lebih baik jika meminta izin terlebih
dahulu jika ingin melakukan kontak fisik.
5. Lingkungan
Hal ini lebih merujuk pada pengaturan fisik interaksi atau komunikasi itu terjadi
baik itu di dalam atau di luar ruangan, seperti dekorasi ruangan, penerangan,
temperatur dan tingkat kebisingan. Faktor tersebut mempengaruhi suasana dan
pikiran dalam menilai seseorang.
6. Penampilan Fisik Tubuh
Penampilan atau cara berpakaian sangat berperan dalam komunikasi nonverbal.
Ada beberapa situasi tertentu dimana pekerja kesehatan wajib memperhatikan
penampilan atau cara berpakaian, contohnya ketika dokter memberikan kabar
buruk atau diagnosa penyakit. Dalam hal tersebut tidak mungkin seorang dokter
memakai kaos atau pakaian santai lainnya.
2.3 Faktor dan Variabel yang Berperan dalam Komunikasi
A. Faktor
1. Sumber Pesan
Sumber pesan atau penyampai pesan bias disebut sebagai
komunikator. Komunikator harus bisa merumuskan isi pesan agar pesan
dapat dimengerti oleh penerima pesan
2. Penerima (Targer Sasaran)
Target sasaran atau penerima pesan juga dapat disebut sebagai
komunikan. Komunikan harus tanggap dan peka dalam menerima pesan
yang disampaikan oleh komunikator agar pesan yang disampaikan dapat
diterima dengan baik.
3. Sistem Sosial (Norma, Nilai, Agama, Kebiasaan)

Para partisipan komunikasi harus memahami terkebih dahulu


sistem sosial yang ada di lingkungan sekitarnya karena sistem sosial
merupakan pusat dari peranan komunikasi.

B. Variabel
1. Empati

Empati adalah kemampuan individu untuk menempatkan diri


pada situasi atau kondisi orang lain. Seorang agen kesehatan memerlukan
rasa empati agar pasien merasa dimengerti dan dapat menjelaskan
kondisinya tanpa ragu.

2. Kontrol Personal
Orang yang memiliki kontrol personal adalah orang yang merasa
bisa mempengaruhi keadaan hidupnya. Di sini agen kesehatan memiliki
peran sebagai orang yang memegang kontrol saat pasien merasa tidak
memiliki kontrol akan kesehatan mereka sendiri.
3. Kepercayaan
Kepercayaan dapat membuat orang bisa secara bebas
menyampaikan atau mengungkapkan pikiran dan perasaanya kepada
orang lain.
4. Keterbukaan
Keterbukaan adalah kegiatan menyampaikan informasi yang
dirasa pribadi kepada orang lain. Berikut adalah karakteristik-
karakteristik orang yang terbuka:
a. Menilai pesan secara objektif
b. Berorientasi pada isi (to the point)
c. Mencari informasi dari berbagai sumber
d. Bersifat professional
5. Konfirmasi
Konfirmasi memiliki arti sebuah komunikasi di mana kita dapat
menghargai orang lain sebagai seorang manusia. Dengan adanya
komunikasi serta konfirmasi, agen kesehatan dapat membantu pasien
dalam menghadapi kondisinya secara maksimal.
2.4 Hambatan/Barier dalam Komunikasi
Northouse dan Northouse (1998) mencatat bahwa hubungan antara penyedia
jasa kesehatan dan pengguna jasa kesehatan dipengaruhi oleh empat hal yang
berpotensi menjadi penghambat dalam melakukan komunikasi yang efektif. Hal-hal
tersebut yang pertama ialah ketidakpuasan atas peran dan fungsi yang dimiliki oleh
penyedia jasa kesehatan dan pasien. Hal kedua ialah ketidakjelasan pembagian peran
penyedia jasa kesehatan sehingga terkadang dianggap tidak profesional. Selanjutnya
ialah kesenjangan sosial antara penyedia jasa kesehatan dan pasien, dimana pada
umumnya penyedia jasa kesehatan merasa lebih berkuasa. Hal terakhir ialah tentang
penggunaan bahasa medis yang terkadang menyulitkan pemahaman pasien.
Selain itu Davis dan Fallowfield (1994) menyatakan bahwa hambatan
komunikasi kesehatan yang sering terjadi juga disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti
etika yang kurang baik, tidak meminta klarifikasi pasien dengan baik, tidak
mendorong atau mengizinkan pasien untuk bertanya, dan tidak memberikan
informasi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pasien.
Menurut Liliweri, hambatan dalam komunikasi digolongkan menjadi lima yaitu
hambatan fisik berupa interferensi dengan transimisi fisik isyarat, teknis berupa
gangguan teknis pada alat-alat, psikologis berupa interferensi kognitif, sosiologis
berupa benturan kepentingan dengan nilai dan budaya, dan bahasa berupa perbedaan
bahasan dan tatanannya seperti semantic, fonem, dan lain-lain.
Menurut Schiavo hambatan komunikasi berdasarkan perspektif pasien
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu rendahnya tingkat pendidikan dan
pengetahuan kesehatan, hambatan tatanan Bahasa, perbedaan kultur dan etnik,
perbedaan usia, keterbatasan aspek kognitif, stress terhadap penyakit, dan
keterbatasan istilah medis dan istilah ilmiah.

3. Komunikasi Interpersonal pada Konseling dan Penyampaian Berita Buruk


3.1 Komunikasi Interpersonal

3.2 Komunikasi saat Penyampaian Berita Buruk

4. Komunikasi pada Situasi Khusus


4.1 Pasien Marah
Kemarahan adalah keadaan emosi
negatif yang umumnya disertai dengan
gairah fisiologis dan pikiran antagonis
yang diarahkan pada seseorang atau objek yang dipandang sebagai penyebab
peristiwa buruk. Manifestasi kemarahan berkisar dari iritasi ringan hingga
kemarahan yang tak terkendali. Kemarahan dapat juga dapat ditekan, seperti
ketika diarahkan ke dalam diri, atau dapat diarahkan pada orang lain dalam
bentuk konfrontasi atau perilaku agresif (Chipidza, wallwork, adam, et all 2016)
Menyadari kemarahan pasien sangatlah penting demi menjaga keamanan
tenaga medis, dan lingkungan sekitarnya. Mekipun jarang terjadi, beberapa
kasus kekerasan terhadap tenaga medis karena kemarahan pasienjuga pernah
terjadi dalam sejarah dunia kesehatan.
Setiap invidu pasti berbeda dalam mengungkpakan kemarahannya.
Beberapa diataranya mengurataknnya dengan fisik, perilaku, bahkan tidak
menunjukkan tanda apapun. Tanda-tanda pasien marah melalui bahasa tubuhnya
diataranya, mata melotot, alis naik, bibir mengerucut, muka memerah, dan
rahang tegang. Perilaku pasien marah biasanya menunjukkan parilaku agresif,
berteriak, menyumpahi dan lain lain. beberapa pasien pun mungkin tidak
memberikan tnda-tanda apapun saat dia marah. Biasanya dia menunjukkan
kemarahannya secara tidak langsung melalui ketidakpatuhan terhadap perawatan
medis.
Untuk menghindari terjadinya kasus-kasus terhadap tenaga medis maupun
kekacauan yang mungkin timbul saat pasien maraha, perlu adanya perlakuan
khusus untuk menanganinya. Hal yang sebaiknya kita lakukan terhadap pasien
marah diantaranya,
 Menjaga privasi mereka dengan mengajaknya ke tempat yang bisa
menjaga privasi mereka
 Menjaga jarak yang aman dengan mereka
 Tetap tenang saat bersama
 Pertahankan postur netral kita
 Selalu waspada dengan adanya kemungkinan ancaman fisik
 Biarkan pasien mengungkapkan atau mengekspresikan
kemarahannya

Selain beberapa hal yang perlu dilakukan diatas, ada juga hal yang tidak
boleh dilakukan kepada pasien marah, diantaranya,

 Jangan terprovokasi dengan perkataan/perilaku pasien


 Jangan menyentuh pasien apalagi memeluknya
 Jangan menatap pasien
 Jangan melakukan pergerakan yang tiba-tiba
 Jangan memandang rendah pasien, anggap semua sama

Beberapa contoh kasus pasien marah biasanya terjadi saat petugas kesehatan
melakukan hal yang tidak sesuai dengan harapannya atau petugas tidak
melakukan sesuatu yang diharapkan pasien. Biasanya terjadi pada pasien BPJS
yang tidak diutamakan saat ingin mendapatkan pelayanan kesehatan. Mereka
yang kecewa dengan perlakuakn tersebut ada kemungkinan akan marah.

Tata cara penyampaian terhdap paien marah pun harus diperhatikan.


Bicara dengan pasien yang marah sebaiknya dengan nada rendah, menanyakan
apa yang diharapkan pasien, bila mungkin beri solusi atau opsi kepada pasien
baiknya bagaimana. Apabila kita tidak dapat memutukan solusi/opi baiknya
bagaimana dengan pasien, sebaiknya tawarkan pertemuan dengan pihak yang
berwenang.

4.2 Pasien Geriatrik


Geriatri merupakan cabang ilmu dari gerontologi dan kedokteran yang mempelajari
kesehatan pada lansia dalam berbagai aspek, yaitu promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Pada prinsipnya geriatri mngusahakan masa tua yang bahagia dan berguna
(Depkes RI, 2000).
Menurut Black dan Jacob (1997), geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang berfokus
kepada penyakit yang timbul pada lansia. Penyakit yang timbul pada lansia beragam, dapat
secara fisik maupun secara mental.
Sebagai ilmu yang membahas tentang merawat orang yang berusia lanjut terhadap
penyakitnya dan merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang penyakit
pada lansia. Pasien Geriatri adalah pasien lanjut usia di atas enam puluh tahun dengan multi
penyakit dan/atau gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan
lingkungan yang membutuhkan pelayanan kesehatan secara terpadu dengan pendekatan
multidisiplin yang bekerja secara interdisiplin.
Dalam berkomunikasi dengan pasien geriatric dibutuhkan beberapa cara dan pendekatan
agar proses komunikasi dapat berjalan dua arah. Sebelum berkomunikasi dengan pasien
geriatric ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, kita harus mampu menempatkan
diri dalm keadaan dan kondisi yang sedang dialami oleh pasien geriatric yang sedang
dihadapi. Hal ini harus dilakukan agar pasien tidak merasa asing atau tidak merasa dituntut
agar harus mendengarkan apa yang sedang kita sampaikan kepada mereka.
Kedua, memonitor dan mengontrol kebiasaan atau sikap nonverbal saat menghadapi pasien
geritari. Dalam hal ini, dibutuhkan kontak mata dengan pasien, menghadirkan informasi
yang jelas dan mudah dipahami, juga memperhatikan volume suara. Kita harus memastikan
lingkungan dalam keadaan hening agar tidak terjadi kesalahpahaman dan informasi yang
disampiakan jelas dan tersimpan di memori jangka panjang pasien geriatric tersebut. Di
samping itu, kita harus bisa menampilkan sikap dewasa dan menyesuaikan diri sesuai umur
pasien.

Ketiga, agar komunikasi dapat berjalan lebih efektif, kita dapat memberikan visualisasi
selama proses komunikasi berlangsung untuk menarik perhatian pasien dan memberikan
mereka pengetahuan tentang kondisi medis yang sedang mereka hadapi. Dalam hal ini, kita
harus mampu membaca sikap nonverbal pasien dan selalu menjaga fokus kepada mereka
sehingga waktu yang dihabiskan untuk berkomunikasi memberikan dampak positif yang
lebih nyata. Pasien juga harus diberi kesempatan untuk bertanya, memberikan pendapat, dan
bercerita agar mereka tidak merasa bosan. Di samping itu, dari penjelasan yang diberikan
pasien kita juga dapat mengetahui sejauh mana pasien itu sendiri mengerti apa yang telah
kita sampikan.

Keempat, memberikan keputusan yang menarik mengenai pentingnya proses komunikasi


sehat, terutama dalam hal membuat mereka percaya akan keuntungan apa yang dapat
mereka ambil dari pembicaraan yang telah dilakukan dan mereka merasa puas atas informasi
yang mereka dapatkan.
Dalam menghadapi pasien lanjut usia,seorang pelayan kesehatan (dalam hal ini
dokter,perawat,konsultan kesehatan ,apoteker dan lain lain) ,hal pertama yang perlu
dilakukan adalah mencoba membangun koneksi dengan pasien tersebut dengan
melakukan kontak fisik dan tersenyum sebagai tanda pembangunan hubungan
emosional dengan pasien tersebut. Seorang pelayan kesehatan sebaiknya memberi
waktu lebih lama kepada pasien geriatric,sebagai solusi atas sifat pasieunn geriatric
yang selalu penasaran lebih banyak. Faktor ketenangan juga menjadi faktor utama
untuk memulai komunikasi dengan pasien geriatric demi mendapatkan kepercayaan
pasien. Pasien geriatric akan jauh lebih mudah untuk berkomunikasi apabila pelayan
kesehatan duduk berseberangan dan tetap mempertahankan kontak mata dengan
mereka. Kedua hal tersebut akan sangat membantu mengingat pendengaran pasien
geriatric yang sudah mulai memudar,maka dengan duduk di depan pasien tersebut
pasien bisa membaca gerak bibir dari pelayan kesehatan tersebut. Dalam berbicara,lebih
baik berbicara secara perlahan,namun jelas.sebagai bentuk penyesuaian bahwa pasien
geriatric memiliki kemampuan menyerap informasi secara lebih lama daripada pasien
normal,namun tidak boleh berteriak kepada mereka.

Pemilihan kalimat serta kata juga memiliki peran vital dalam komunikasi ini,dengan
seorang pelayan kesehatan lebih baik menggunakan kata yang pendek ,menjauhi
kata yang rumit. Selain itu,untuk mejaga fokus pasien geriatric terhadap satu topik
saja,maka penyampaian terhadap pasien geriatric harus perlahan-lahan per topiknya.
Lebih lanjut,dalam penyampaian intruksi bisa melalui penulisan dengan kalimat
dasar yang mudah diikuti,dengan alasan tulisan lebih bersifat permanen,mengingat
kondisi pasien geriatric yang sudah menurun fungsi memorinya. Seorang pelayan
kesehatan dalam menulis intruksinya bisa membentuk ringkasan dan juga beberapa
tugas yang harus dilakukan pasien tersebut di luar pertemuan dengan pelayan kesehatan
tersebut,seperti “Anda harus berjalan 3 menit di sore hari”,dengan harapan pasien
tersebut akan mengingat dan menjadikan hal tersebut kebiasaan.

Penggunaan teks yang terlalu banyak tentunya akan menimbulkan kebosanan dalam
kalangan pasien lanjut usia,untuk itu penggunaan gambar dan grafik akan memudahkan
pasien untuk mengerti kondisi dan tindakan yang akan dilakukan ke mereka. Sedari
menjalankan komunikasi dua arah dengan pasien geriatric,seorang pelayan kesehatan
dianjurkan untuk bertanya kembali kepada pasien hal-hal penting untuk memeriksa
apakah penjelasan yang diberikan dipahami dengan baik atau tidak. Jika tidak,informasi
tersebut harus diulang,namun menggunakan teknik paraphrase,agar tidak menimbulkan
kekesalan di pihak pasien itu sendiri.

Pasien juga harus diberi kesempatan untuk bertanya dan berekspresi ,agar sebagai
pelayan kesehatan bisa mengetahui kekhawatiran dari pasien itu sendiri dan kita bisa
memahami sejauh apa pasien mengerti penjelasan yang telah diberi.
Terakhir,pelayan kesehatan juga harus bisa menjadi pendengar yang aktif ,dengan
telinga fokus ke suara yang didengar,pikiran nya memahami apa yang sedang dipelajari
dan mata memahami gaya bahasa.

Sebagai salah satu contoh kasus,ketika seorang pasien geriatric diajak berdiskusi
tentang penyakit diabetes yang ia derita,terdapat perasaan dalam diri pelayan kesehatan
bahwa pasien tidak mengerti walau ketika ditanya,pasien menjawab mengerti. Untuk
lebih memastikan,anda bertanya lebih detail tentang penggunaan obat metformin,dan
pasien hanya tersenyum sambal berkata iya. Apabila terjadi kasus seperti ini,ada
baiknya pelayan kesehatan menanyakan kembali pertanyaan yang mengharuskan pasien
untuk menjelaskan kembali penggunaan obat tersebut. Metode ini efektif karena
membangkitkan komunikasi dua arah untuuk mencapai level interaksi antar pasien dan
pelayan kesehatan.

4.3 Pasien Pasif/Depresif

Pasien pasif adalah salah satu situasi khusus pada komunikasi kesehatan. Pasien
pasif merupakan pasien yang sulit diajak bicara atau tidak komunikatif, sukar
mengutarakan apa yang dia rasakan dan cendrung menutup diri. Tidak menutup
kemungkinan bahwa pasien pasif bisa menolak penanganan. Hal ini dapat
mengganggu proses diagnosis bagi pasien tersebut.

Depresi adalah suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan dan dangkal (low
mood), melibatkan keputusasaan, merasa tidak berguna serta sedih yang berlebihan
sebagai akibat dari pengaruh peristiwa yang tidak diharapkan, dimana manifestasi
gejalanya dapat bersifat ringan hingga pada tingkat yang berat (Rosenbaum, 2000).
Depresi juga didefinisikan sebagai suatu status emosional seseorang yang ditandai
dengan kesedihan yang sangat, perasaan bersalah, menarik diri dari lingkungan,
gangguan tidur, anoreksia, kehilangan gairah seksual, kehilangan ketertarikan pada
aktivitas-aktivitas yang biasanya menyenangkan. (Davison & Neale, 1994). Faktor-
faktor penyebab depresi dapat dibagi menurut asalnya sebagai berikut (Pennel &
Creed, 1987) bersumber dari fisik, bersumber dari psikis, dan bersumber dari sosial.
Menurut Lloyd dan Bor (1996), ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk
mengatasi tipe pasien yang pasif/depresif atau tidak komunikatif, yaitu sebagai
berikut.
1. Siapkan waktu yang lebih untuk sesi konsultasi.
2. Jangan menunjukan sikap frustasi (kewalahan) atau kemarahan.
3. Pethatikan pasien dengan seksama, terutama kebiasaan-kebiasaan non-
verbalnya.
4. Tunjukkan rasa empati, misalnya menggunakan gestur tubuh yang
menunjukan kepedulian. Dalam konteks ini contohnya adalah
mencondongkan tubuh kea rah pasien saat berkomunikasi dengannya
5. Memberikan penjelasan yang jelas mengenai tujuan wawancara atau
penanganan, serta informasi apa saja yang dibutuhkan oleh petugas
kesehatan dari pasien.
6. Gunakan close-ended question. Close-ended question adalah model
pertanyaan di mana hanya membutuhkan jawaban “ya”, “tidak”, “1 kali”,
dan lain sebagainya. Contohnya adalah pertanyaan seperti “Apakah Anda
merasa kesakitan?”. Jawaban yang dibutuhkan dari pertanyaan ini adalah
hanya “ya” atau “tidak”.
7. Gunakan Bahasa yang mudah dimengerti.

Ketika sedang menghadapi pasien, seorang dokter tentunya akan bertemu pasien
dengan beragam jenis perilaku dan sifatnya masing-masing. Ada sifat dan perilaku yang
baik sehingga mudah terjadinya interaksi antar dokter dengan pasien. Namun, ada juga
pasien yang bersifat kurang kooperatif sehingga terjadi hambatan dalam berinteraksi
dan berkomunikasi. Salah satunya adalah klien yang bersifat pasif dan depresif.
Pertama, diperlukan sebuah pemahaman latar belakang penyebab seorang klien bersifat
dan berperilaku secara demikian. Kemudian adalah cara penerapan berkomunikasi yang
baik dengan klien tersebut.

Pasien yang bersifat depresif bukan berarti termasuk dalam depresi klinis.
Namun merupakan sebuah perpindahan perasaan dari perasaan ‘normal’ seseorang.
Perpindahan perasaan tersebut disebabkan pada saat orang tersebut menghadapi masa-
masa yang sulit. Sedangkan perasaan normal tersebut berbeda pada setiap orangnya.
Sehingga sesuatu yang dianggap normal oleh seseorang dapat dianggap sebaliknya oleh
orang lain.
Pertama, perlu ditentukan apabila perasaan sedih seorang pasien merupakan sebuah
pokok permasalahan. Kemudian, dengan mendengarkan dan bertanya kepada pasien
yang terlihat depresif, rasa sedih mereka bisa dikategorikan ke dalam jangkauan emosi
yang dimiliki pasien tersebut apakah normal ataupun tidak normal. Sebagai seorang
yang berprofesi dalam bidang kesehatan, kita harus bisa membedakan apabila pasien
bersosialisasi seperti semestinya atau tidak. Pasien merupakan individu yang memiliki
kebutuhannya masing-masing dan reaksi emosional yang berbeda. Cara menanganinya
dengan baik adalah dengan bersiap-siap menggunakan waktu yang lebih lama saat
berkonsultasi dan tidak menjadi bosan, frustasi ataupun marah pada saat menghadapi
pasien tersebut. Selain itu, bentuk komunikasi verbal maupun non-verbal pasien harus
diamati dengan seksama dan direspon dengan tepat. Caranya adalah menunjukan rasa
empati dengan bahasa tubuh kita. Perlu juga dijelaskan maksud dan tujuan dari
konsultasi atau wawancara yang dilakukannya agar dapat dipahami pasien. Dianjurkan
juga agar memberi pertanyaan yang tidak terlalu luas agar pasien dapat menjawab
dengan baik.
Ada beberapa hal yang bias dilakukan untuk berkomunikasi dengan pasien
pasif/depresif, antara lain :
1.Persiapkan diri untuk menghabiskan waktu ekstra dalam konsultasi, karena pasien
pasif/depresif relative menutup diri dan sulit untuk mengungkapkan apa yang mereka
rasakan.
2.Jangan menunjukkan tanda-tanda frustrasi atau kemarahan, hal ini akan
menyebabkan pasien pasif/depresif semakin menutup diri.
3.Amati pasien dengan seksama, terutama perilaku non-verbal mereka.
4.Tunjukkan empati, misalnya, dengan menggunakan bahasa tubuh agar pasien merasa
lebih tenang dan dapat berkomunikasi.
5.Berikan penjelasan yang jelas tentang tujuan wawancara dan apa informasi yang
dibutuhkan.

Gunakan bahasa fasilitasi, dan tutup pertanyaan jika perlu.


Hal-hal yang dapat dilakukan untuk pasien khusus yang depresif:
 Memberikan dukungan sosial
 Mempererat kekerabatan
 Mendekatkan diri dengan kehidupan religious
 Beradaptasi dengan lingkungan
 Pola hidup sehat, gizi seimbang, olah raga, dan hidup teratur
 Terapi Individual Konseling: membantu pasien mengenali dan mengekspresikan
perasaannya, mengembangkan kemampuan pasien beradaptasi terhadap masalah
(3R=Rekonsiliasi, Reintegrasi, Rekreasi), Terapi Kognitif & Perilaku ( CBT ):
mengembangkan pola pikir dan perilaku positif, menumbuhkan sikap optimis
dan percaya diri
 Terapi Kelompok bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial,
mengembangkan sikap asertif, juga sebagai media untuk saling berbagi cerita (
reminescene ). Konseling Keluarga bertujuan mengembangkan partisipasi
keluarga dalam proses terapi. Menurunkan faktor ekspresi emosi dalam
keluarga. Memperbaiki pola adaptasi keluarga dalam menghadapi perubahan
perilaku pasien.
 Memberikan obat antidepressant untuk memberikan ketenangan.
Adapun bentuk intervensi lain yang layak dilakukan kepada pasien yang tidak
komunikatif. Bentuk intervensi ini dikemukaan oleh Duxbury (2000), yaitu sebagai
berikut.

1. Prescriptive: petugas kesehatan harus sejak dini menentukan tindakan


langsung atas nama kepentingan pasien.
2. Cathartic: terkadang obat perlu diberikan kepada pasien untuk membantu
mereka mengeluarkan perasaan terpendam yang mempengaruhi perilakunya
agar lebih mudah untuk ditangani.

Catalytic: petugas kesehatan dapat memfasilitasi perubahan perilaku


pasien dalam bentuk membantu mengembangkan kemampuan barunya, dan
membantunya untuk tumbuh dengan percaya diri.

Berikut adalah contoh-contoh pasien depresif/pasif:

 mayor depression
 atypical depression
 dysthymia
 seasonal affective disorder

Kesimpulan

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa latar belakang seorang pasien merasa
depresi adalah saat menghadapi masa yang sulit sehingga sulit terjalinnya
komunikasi. Agar terjalinnya komunikasi dengan baik, tidak perlu terburu-buru dan
menjaga sikap pada saat memberi konsultasi. Kemudian memperhatikan segala
bentuk komunikasi pasien dan berempati terhadap perasaan pasien. berkomunikasi
dengan pasien yang tidak komunikatif, memahami prespektif pasien adalah kunci
utamanya. Mendengarkan dan memperhatikan keluhan serta kebiasaannya, petugas
kesehatan seharusnya sudah bisa merasakan apa yang dideritanya. Menjadi
pendengar yang baik bagi pasien dan selalu sabar merupakan hal yang sangat penting
untuk dilakukan. Selain itu kontak mata juga peru selalu dijaga agar pasien merasa
dihargai. Pahami apa kecemasan dan harapannya. Tunjukan respon di mana petugas
kesehatan tidak menyepelekan deritanya dengan memberikan jawaban dan bahasa
tubuh yang mudah dimengerti oleh pasien. Dengan memperharikan berbagai factor,
tata cara dalam berkomunikasi, hambatan-hambatan yang ada serta kondisi maupun
situasi khusus, pelayanan akan lebih maksimal.

III. Penutup
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan)
dari satu pihak kepada pihak lain. Komunikasi dalam konteks kesehatan adalah proses
penyampaian informasi atau pesan-pesan mengenai kesehatan. Biasanya tujuan dari
komunikasi kesehatan ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam
bidang kesehatan.
Komunikasi kesehatan terdapat dalam berbagai bentuk seperti media massa,
media advokasi, media entertainmen dan internet. Komunikasi kesehatan diharapkan
mampu membentuk sikap dan mengubah atau memengaruhi perilaku individu dengan
cara menambah pengetahuan dan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu kesehatan,
masalah-masalah kesehatan dan solusi kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan
dan mempertahankan taraf kesehatan.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari komunikasi. Komunikasi
bertujuan untuk menyampaikan maksud atau pesan dengan tujuan untuk memengaruhi
atau mengubah pandangan orang lain. Dalam bidang kesehatan, komunikasi juga dapat
dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat, terutama
untuk meluruskan informasi salah yang terlanjur menyebar. Namun agar penyampaian
kita dapat diterima, diperlukan metode komunikasi yang mumpuni agar tujuan dari
pesan yang kita sampaikan dapat mereka terima dengan baik. Metode komunikasi saat
menyampaikan informasi kesehatan yang baik diantaranya kita harus menyiapkan
materi kesehatan dengan matang, pelajari etika komunikasi yang baik dan benar, dan
memanfaatkan media sosial.
Daftar Pustaka
- Schiavo, Renata. Health communication : from theory to practice / Renata Schiavo. — 1st ed.
- Basofi, A. 2001.Ilmu komunikasi. http://lecturer.eepis-its.edu/ (tanggal 16 Februari 2014).
- [internet] dinus.ac.id. [cited at 10 September 2019]. Available at :
http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/Model-model_Komunikasi_06.pdf
- Berry, D. (2007). Health Communicaion: Theory and Practice. New York.
- Putri TH & Fanani A. (2013). Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta : Mitra Setia.
- Parvanta C, Nelson DE, Parvanta SA, et all. (2011). Essentials of Public Heatlh
Communication. United State of America : Jones & Bartlett Learning, LLC.
- Chipidza F, Wallwork RS, Adam TN, et all. (2016, 23 Juni). Evaluation and Treatment of the
Angry Patient. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5035812/
- Cronen V, Pearce WB. The coordinated management of meaning: A theory of communication.
New York: Harper & Row; 1982.
- 3 Communication Practices for Nurses Caring for Older People [Internet]. Ohio University
[cited 2019 Sep 11]. Available from: https://onlinemasters.ohio.edu/blog/3-important-
communication-practices-for-nurses-caring-for-older-people/
- Thompson TL, Robinson JD, Beisecker AE. The older patient-physician interaction. New
Jersey: Lawrence Eerlbaum Assoc; 2004.
- Effective Communication in Caring for Older Adults [Internet]. National Institute on Aging
[cited 2019 Sep 11]. Available from: https://www.nia.nih.gov/health/effective-communication-
caring-older-adults
- 10 Tips for Nurses to Communicate with Elderly Patients [Internet]. Regis College Online
[cited 2019 Sep 11]. Available from: https://online.regiscollege.edu/blog/10-tips-nurses-
effectively-communicate-elderly-patients/
- Robinson TE, White GL, Houchins JC. Improving communication with older patients: Tips
from the literature [Internet]. FPM; 2006 Sep [cited 2019 11 Sep] Avaiable from:
https://www.aafp.org/fpm/2006/0900/p73.html.

- Breisch SL. Eldery patients need special connection. Am acad orthop surg bull; 2001 Feb
- Harwood J, et al. Communicating with older adults an evidence-based review of what really
works. US: The Gerontological Society of America; 2012.
- http://bprs.kemkes.go.id/v1/uploads/pdffiles/peraturan/47%20PMK%20No.%2079%20ttg%20
Penyelenggaraan%20Pelayanan%20Geriatri%20di%20RS.pdf
- Thompson TL, Robinson JD, Beisecker AE. The Older Patient-physican Interaction. New
Jersey: Lawrence Eerlbaum Assoc: 2004.
- Harwood J. Communicating With Older Adults. Gerontological Society of America: 2010.
- [Internet]. Digilib.uinsby.ac.id. [cited 11 September 2019]. Available from:
http://digilib.uinsby.ac.id/2160/5/Bab%202.pdf
- Berry, D. (2007). Health Communication: Theory and Practice. New York, NY : McGraw-
Hill Education.
- [Internet]. Jurnalilkom.uinsby.ac.id. [cited 11 September 2019]. Available from:
http://jurnalilkom.uinsby.ac.id/index.php/jurnalilkom/article/view/42/36
- Definition of COMMUNICATION. (2019). Retrieved 11 September 2019, from
https://www.merriam-webster.com/dictionary/communication
- Pengantar kuliah modul komkes [Internet]. [cited 2019 Sep 9]. Available from:
https://scele.ui.ac.id/mod/resource/view.php?id=630623
- Gayatri Setyabudi, Ratih. Dewi, Mutia. 2017. Analisis Strategi Promosi Kesehatan dalam
Rangka Meningkatkan Kesadaran Hidup Sehat oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM.
Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah, Jurnal Komunikasi. Vol. 12 No 1, hal 82-84.
- Audi Kinanti Pasha. 2018. Komunikasi Kesehatan. Makalah
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan). Persepsi
[Internet]. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud (Pusat
Bahasa);2012-2019 [cited 2019 Sep 11]. Available from: https://kbbi.web.id/persepsi
- Author unknown. Kajian teoritis persepsi [Internet]. [cited 2019 Sep 11]. Available from:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/45018/Chapter%20II.pdf?sequence=4
&isAllowed=y
- Author unknown. Persepsi dalam konteks komunikasi [Internet]. [cited 2019 Sep 11].
Available from: http://digilib.unila.ac.id/8570/20/BAB%20II.pdf
- Buckman RA. Breaking Bad News- The S-P-I-K-E-S Strategy. Commun Oncol [internet].
2005 [cited 2012 Sept 24]. Available from:
http://jco.imng.com/co/journal/articles/0202138.pdf
- Mulyana D. 2000. Pengantar Ilmun komunkasi .diakses dari
diansrimulyani.staff.gunadarma.ac.id pada 11 september 2019
- Liliweri, A . Dasar-dasar komunikasi kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Belajar; 2011.
- Liliweri, A . Dasar-dasar komunikasi kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Belajar; 2011. Hlm
266-274
- Liliweri, A. (2015) Komunikasi Antar Personal.
- Rahmadania, M. (2012) ‘Komunikasi Kesehatan : Sebuah Tinjauan’, Psikogenesis, 1.
- Liliweri, A. (2013) Dasar - dasar komunikasi kesehatan.
- Schiavo R. Health Communication from Theory to Practice. Vol. 53, Journal of Chemical
Information and Modeling. 2014.
- Horn S. Health Psychology. 2007;