Anda di halaman 1dari 22

KOMUNIKASI KESEHATAN

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Kesehatan semester gasal
tahun akademik 2019/2020

Oleh :
1. Afifah Ika K (1906397645)
2. Cecilia Nadine A. (1906398181)
3. Cindy Cisilia Rante (1906404373)
4. Dhea Arinanda D. P. (1906297011)
5. Diva Muthia Rahma (1906294786)

KOMUNIKASI KESEHATAN 20
HOME GROUP 2
RUMPUN ILMU KESEHATAN
2019
I. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya
dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu tidak dapat dihindari bahwa manusia harus
selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Sebagai makhluk sosial yang hidup di
masyarakat, manusia membutuhkan komunikasi untuk saling berinteraksi. Dengan demikian
komunikasi menjadi unsur penting dalam berlangsungnya kehidupan bermasyarakat.
Kita sebagai tenaga kesehatan nantinya membutuhkan yang namanya interaksi kepada
masyarakat sehingga komunikasi sangat dibutuhkan. Terutama dunia kedokteran memang
merupakan sebuah profesi yang menuntut interaksi dan komunikasi yang tinggi di antara
sivitasnya. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman tentang komunikasi itu sendiri,
unsur komunikasi dan sifat dasar yang terdapat di dalamnya sangatlah diperlukan. Agar
pelaku komunikasi dapat melihat dengan lebih jelas lagi hal – hal yang perlu diterapkan dan
tidak perlu diterapkan saat berkomunikasi dengan orang lain.

II. Pembahasan Topik

1. Konsep Dasar dan Prinsip Komunikasi Kesehatan


1.1 Konsep Umum Komunikasi Kesehatan
A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti sama. Komunikasi
dalam konteks kesehatan adalah proses penyampaian informasi atau pesan-pesan
mengenai kesehatan. Komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat
memahami satu dengan yang lainnya.
Komunikasi kesehatan adalah segala jenis komunikasi yang berhubungan dengan
kesehatan (Rogers,1996, p.15). Komunikasi dalam konteks kesehatan adalah proses
penyampaian informasi atau pesan-pesan mengenai kesehatan. Biasanya tujuan dari
komunikasi kesehatan ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam
bidang kesehatan. Cara yang dilakukan dalam komunikasi kesehatan ini cukup beragam
diantaranya melalui konseling, pelatihan, pendidikan, menyebarluaskan informasi baik
secara individu maupun kelompok. Dalam bidang kesehatan, komunikasi sangat penting
karena bisa menjadi salah satu bentuk pencegahan terhadap suatu penyakit melalui
kegiatan promosi atau pelatihan. Komunikasi yang baik dalam bidang kesehatan juga
sangat penting agar tidak terjadi salah pengertian antara pelayan kesehatan dengan
individu ataupun kelompok tertentu. Hal ini sangat penting agar kesehatan manusia tetap
terjaga sehingga bisa menjalani aktivitas sehari-hari.

B. Unsur-Unsur Komunikasi
Unsur-unsur komunikasi terdiri dari Pengirim/Sender, Encoding (pengalihan
gagasan menjadi pesan), Pesan/Message, Media, Decoding (proses penafsiran pesan yang
diterima), Penerima/Receiver, Umpan Balik/Feedback, Gangguan/Noise (teknis dan
semantik), Bidang Pengalaman Pengirim dan Penerima/Field of Experience, Pertukaran
Makna/Shared Meaning, dan Konteks(situasi).
C. Sifat/Konsep Dasar Komunikasi
Sifat/konsep dasar komunikasi terdiri dari Proses Simbolis, Proses Sosialisasi
(penyesuaian diri), Proses Komunikasi Satu/Dua Arah, Bersifat Koorientasi (dua pihak
atau lebih memiliki tujuan sama), Bersifat Purposif dan Persuasif (mempunyai tujuan dan
memberi pengaruh), Mendorong Interpretasi Pelaku (meningkatkan
pendapat/pandangan), Pertukaran Makna Antarpelaku, Dalam Konteks Ruang dan
Waktu(dapat terpisahkan antara ruang dan waktu dan dapat menggunakan media sepeti
telepon).

D. Model Komunikasi
Model komunikasi yang digunakan adalah model komunikasi Berlo (1960) atau
biasa disebut SMCR (source, message, channel, receiver). Sumber dan penerima pesan
dipengaruhi oleh faktor- faktor keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, sistem
sosial, dan budaya. Pesan yang disampaikan dari sumber ke penerima dikembangkan
berdasarkan elemen, struktur, isi, perlakuan dan kode. Pesan tersebut disampaikan
melalui atau diterima melalui panca indra yaitu dengan mendengar, melihat, menyentuh,
membau, dan mencicipi. Komunikasi kesehatan ini tentulah memiliki fungsi yaitu untuk
menyampaikan informasi yang akurat dari tenaga kerja kesehatan kepada pasien.

E. Bentuk Komunikasi
Komunikasi kesehatan memiliki beberapa bentuk, yaitu bentuk komunikasi verbal
dan nonverbal. Bentuk komunikasi verbal terbagi menjadi dua, yaitu bahasa lisan dan
bahasa tulis. Bahasa lisan merupakan percakapan kita sehari-hari, dan bahasa tulis
merupakan bahasa yang digunakan dalam tulisan seperti berita, buku, pengumuman, dan
lain sebagainya. Sedangkan bentuk komunikasi nonverbal adalah komunikasi atau
penyampaian pesan atau informasi tanpa lisan ataupun tulisan, misalnya ekspresi dan
bahasa tubuh. Komunikasi nonverbal ini terbagi menjadi enam, yaitu kinetik,
paralinguistik, prosemik, kontak fisik, karakteristik lingkungan, dan penampilan fisik.

1.2 Hubungan Antarmanusia dalam Proses Berkomunikasi


A. Metode Komunikasi Kesehatan dalam Hubungan antar Manusia
1. Siapkan materi secara mendalam
Informasi kesehatan yang akan disampaikan harus disiapkan secara matang.
Sumber materinya bisa kalian cari di buku kesehatan dan jurnal kesehatan. Kalian juga
dapat berkonsultasi pada praktisi kesehatan.
2. Wawancara orang yang dituju
Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah usia, jenis kelamin, domisili orang
yang dituju. Terutama saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, kita harus sabar
dan secara perlahan saat menjelaskan informasi kesehatan.
3. Diperlukan basa-basi
Saat tatap muka dan terjadi komunikasi dengan orang baru, kita harus berbasa-
basi dulu dengan mereka agar terjalin komunikasi yang nyaman. Tak perlu mengenai
kesehatan, tanyakan juga hobi mereka.
4. Jadilah pendengar yang baik
Dalam berkomunikasi dengan orang lain, tentunya terjadi komunikasi dua arah.
Sehingga saat menyampaikan pesan tentang kesehatan, kita juga harus bersiap menerima
keluh kesah tentang kondisi kesehatan mereka.
5. Perhatikan intonasi, pemilihan kata dan gaya bicara
Dalam menyampaikan sebuah pesan, gaya bicara perlu diperhatikan. Atur intonasi
dan pemilihan kata agar orang yang dituju merasa nyaman berkomunikasi dengan kita
dan perlahan-lahan menerima pesan kita.
6. Gunakan media sosial
Di era digital ini, media sosial merupakan salah satu media yang paling sering
digunakan dalam menyampaikan sebuah pesan. Penyebaran yang cepat dan penggunaan
gambar yang informatif dianggap efektif agar terbaca semua kalangan. (HLCE, 2015)
B. Hambatan Komunikasi Kesehatan dalam Hubungan antar Manusia

1. Penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan setiap orang di berbagai negara berbeda satu sama lain.
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak bahasa, namun disatukan dengan
bahasa Indonesia. Tidak menutup kemungkinan orang di daerah Papua kadang tidak
mengerti apa yang dikatakan oleh orang dari Jakarta karena perbedaan bahasa daerah
dan juga logatnya. Hal ini menyebabkan bahasa menjadi hambatan dalam membentuk
hubungan antar manusia untuk berkomunikasi. Penyusunan kalimat dengan bahasa
yang tepat untuk diungkapkan melalui verbal atau tulisan harus diperhatikan.

2. Karakteristik dan keunikan seseorang


Manusia mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu sama lain. Selain itu,
terdapat keunikan di setiap diri manusia yang menjadikan dirinya berbeda dari yang
lain. Karakteristik dan keunikan itu yang membuat manusia terlihat spesial.
Sayangnya, hal yang spesial tersebut merupakan salah satu hambatan yang dialami
oleh manusia ketika ingin berhubungan dan berkomunikasi. Terkadang seseorang
tidak dapat memahami sifat spesial orang lain, sehingga ketika mereka mencoba
untuk berkomunikasi terjadi bentrok, kesalahpahaman, atau hal negatif lainnya.

3. Latar belakang seseorang


Latar belakang yang dimaksud di sini adalah keluarga, budaya, suku, agama yang
membuat sudut pandang orang dalam melihat atau memahami sesuatu saling berbeda.
Semakin kuat latar belakang ini melekat dalam diri seseorang, maka semakin sulit dan
besar juga hambatan yang ada untuk melakukan komunikasi. Hal ini dikarenakan pola
pikir yang sudah terpaku dengan latar belakangnya membuat pikirannya tidak mau
terbuka untuk menerima pemikiran lain yang berbeda.

4. Pengetahuan yang dimiliki


Tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan luas di bidang kesehatan tentu
mempunyai cara penyampaian informasi sendiri. Masalahnya adalah bagaimana kalau
mereka berhadapan dengan pasien yang mempunyai pengetahuan mengenai kesehatan
dari sumber tidak jelas dan orang itu merasa dirinya paling benar karena pengetahuan
yang dimiliki. Hal ini menjadi hambatan yang rumit dan membutuhkan langkah
berkomunikasi yang beda agar pasien dapat diarahkan ke informasi dan pengetahuan
yang tepat.

5. Sikap dan perilaku


Hubungan antar manusia akan baik jika pemilik hubungan memiliki sikap dan
perilaku yang baik. Secara otomatis, komunikasi yang dilakukan juga berlangsung
dengan baik. Sayangnya, masih banyak orang yang memiliki sikap dan perilaku tidak
baik, sehingga menyulitkan proses komunikasi dan memperburuk hubungan.

Tanpa dikatakan, para tenaga kesehatan tentu sudah sadar bahwa mereka harus
bersikap dan berperilaku baik karena mereka merupakan panutan bagi pasien dan
kliennya. Alangkah indahnya jika pasien yang ditangani memiliki sikap dan perilaku
baik pula, namun tidak semua pasien memiliki kesadaran untuk berperilaku baik.

1.3 Prinsip dalam Melakukan Komunikasi Kesehatan


1 Fokus utamanya adalah terjadi transaksi informasi kesehatan
2. Berusaha untuk memengaruhi secara positif perilaku kesehatan individu maupun
komunitas masyarakat
3. Diharapkan adanya perubahan perilaku kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan
4. Ada interaksi antara kesehatan dengan perilaku individu.
5. Komunikasi kesehatan yang berlangsung positif memberikan dampak penting bagi
pasien, dokter, dan orang lain.
6. Adanya pertukaran informasi yang cukup antara tenaga kesehatan dengan pasien, juga
saling menghormati keputusan satu sama lain

2. Bentuk dan Hambatan Komunikasi

2.1 Pentingnya Persepsi dalam Komunikasi Kesehatan


A. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah stimulus yang diterima individu melalui indernya, diatur, dan
diinterpretasikan sehingga seseorang tersebut memiliki pemahaman atas apa yang
diinderanya. Persepsi mampu memengaruhi tingkah laku seseorang terhadap situasi yang
terjadi di lingkungannya.

B. Proses Pembentukan Persepsi


Menurut Walgito (2002:71), proses pembentukan persepsi adalah saat suatu benda
menimbulkan stimulus (sentuhan) lalu mengenai alat indera atau reseptor.
Proses stimulus ini diteruskan oleh saraf sensorik ke otak. Proses perjalanan stimulus ini
disebut proses psiologis. Selanjutnya, di otak, tempat pusat kesadaran manusia, terjadi
proses pemrosesan stimulus di mana individu akhirnya menyadari apa yang diinderanya,
dalam hal ini yaitu apa yang dirabanya. Proses munculnya kesadaran pada otak inilah yang
disebut dengan proses psikologis.
Menurut Jalaluddin Rakhmat (2003: 54), urutan proses terbentuknya persepsi adalah
dimulai dari stimulus yang hadir, registrasi, interpretasi, dan diakhiri dengan umpan balik.
Proses terbentuknya persepsi dibagi melalui tiga tahapan menurut Joseph A. DeVitto (1997:
75-76). Tiga tahap tersebut ialah stimulasi pada alat indra, stimulasi terhadap alat indra
diatur, kemudian stimulasi alat indra ditafsirkan-dievaluasi.
Pada tahap pengaturan stimulasi terhadap alat indra, salah satu prinsip yang digukan ialah
prinsip proksimitas atau prinsip kemiripan. Artinya, manusia mempersepsikan pesan yang
dating langsung segera setelah pesan yang lain yang datang sebagai satu kesatuan dan
menganggap keduanya saling berkaitan. Prinsip lainnya yang berlaku adalah prinsip
kelengkapan. Manusia akan mempersepsikan sesuatu yang belum utuh sebagai suatu pesan
yang lengkap dengan cara melengkapi kekurangan-kekurangannya dengan logikanya
sendiri.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi


Menurut Mar’at (1997:21), faktor-faktor yang memengaruhi persepsi seseorang adalah
faktor pengalaman, cakrawala berpikir, proses belajar, serta pengetahuannya. Sedangkan,
menurut Sarwono (2001:43), relasi, harapan, kebutuhan, dan system nilai adalah faktor yang
memengaruhi persepsi. Sistem nilai dapat diartikan sebagai norma yang berlaku dalam suatu
masyarakat dimana individu itu berada. Selanjutnya, kebutuhan, kesiapan mental, suasana
emosi, serta latar belakang budaya adalah faktor yang memengaruhi persepsi seseorang
menurut pemikiran Krech dan Crutfield dalam Suwartinah (2001:25)
Pandangan lain mengatakan bahwa faktor-faktor ini terbagi menjadi dua bagian yaitu faktor
internal dan eksternal. Faktor internalnya mencakup faktor fisiologis, yaitu pemberian arti
atau interpretasi terhadap lingkungannya, perhatian, minat, kebutuhan yang searah,
pengalaman dan ingatan, serta suasana hati. Faktor eksternalnya ialah ukuran dari
penempatan obyek atau stimulus, warna obyek, keunikan dan kekontrasan stimulus,
intensitas dan kekuatan stimulus, serta gerakan.

D. Teori yang Mempengaruhi Persepsi


1. Health-Belief Model
Teori ini dicetuskan oleh Godfrey Houchbaum, Irwin Rosenstock, dan Stephen Kegeles
yang merupakan para psikolog sosial dari US Public Health Service tahun 1950-an.
Berdasarkan teori ini, beberapa komponen dianggap sebagai pengungkit bagi faktor yang
mempengaruhi perilaku seseorang. Komponen -komponen ini ialah persepsi kerentanan
(derajat risiko yang dirasakan terhadap masalah kesehatan), persepsi keparahan, persepsi
manfaat, persepsi hambatan (lawan dari persepsi manfaat), petunjuk untuk bertindak,
serta efikasi diri (kepercayaan seseorang akan kemampuannya sendiri dalam bertindak).

2. Teori Stimulus-Organisme-Respon
Teori ini memberi pandangan bahwa penyebab terjadinya suatu perubahan perilaku
seseorang bergantung pada kualitas rangsang yang berinteraksi dengan organisme.
Hosland, et al (1953) dalam Notoatmodjo (2003) berpendapat bahwa perubahan perilaku
adalah bentuk proses belajar, yang mana proses belajar ini terdiri atas beberapa tahap
mulai dari stimulus yang diberikan yang dapat diterima atau ditolak, apabila diterima
maka berlanjut pada kesediaan untuk bertindak akan diterima, kemudian adanya
dukungan dari lingkungan.
E. Bentuk Komunikasi Kesehatan
Komunikasi, berdasarkan cara komunikasinya, terdiri dua jenis yaitu komunikasi verbal dan
komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang penyampaiannya
dalam bentuk verbal, lisan maupun tulisan. Seseorang yang berkomunikasi secara verbal akan
memastikan lawan bicaranya mengerti apa yang ingin disampaikannya melalui kata-kata.
Selain itu, ada komunikasi secara nonverbal. Dalam berkomunikasi secara nonverbal pasti
memiliki bentuk atau jenis-jenis tersendiri, yang diantaranya yaitu:
1. Kinesik
Komunikasi nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh kita, seperti mata, tangan,
kepala, dan kaki yang dapat mempengaruhi ekspresi wajah kita atau menggantikan suatu
kata ketika sedang berkomunikasi.
a. Emblem, gerakan tubuh untuk emnggantikan sautu kata atau ucapan.
b. Illustrator, gerakan tubuh yang menyertai suatu ucapan.
c. Regulator, gerakan tubuh untuk memastikan bahwa komunikasi yang terjalin lancar
dan dapat dimengerti.
d. Affect displays, gerakan tubuh yang memperlihatkan perasaan dan emosi pad wajah
dan biasanya terjadi dalam keadaan tidak sadar.
e. Adaptor, gerakan tubuh yang terjadi karena perasaan tegang dan digunakan untuk
mengendalikan emosi.
2. Prosemik
Bahasa ruang yang digunakan untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Dengan
kata lain, pengaturan jarak menentukan tingkat keakraban seseorang dengan orang lain.
Hall (1996) mengindentifikasi empat zona jarak , yaitu jarak intim ( fase dekat 0-15cm,
fase jauh 15-45 cm), jarak personal (fase dekat 45-75 cm , fase jauh 75-120 cm) , jarak
sosial (120-360 cm) , jarak publik (360-750 cm). Sudah seharusnya seorang petugas
kesehatan memperhatikan kondisi jarak ini.
3. Paralinguistik
Paralinguistik adalah bentuk komunikasi nonverbal yang terdapat pada cara berbicara
seseorang, seperti nada suara, intonasi, atau kecepatan berbicara. Paralinguistik juga
dapat mempengaruhi penilaian pendengar tentang pembicara, seperti kepribadian, dan
keadaan emosi pada saat berbicara.
4. Kontak Fisik/Haptik
Kontak fisik atau sentuhan seringkali dilakukan oleh petugas kesehatan karena kontak
fisik merupakan sebuah penyampaian pesan dengan melibatkan perasaan kasih sayang
melalui sentuhan. Alangkah lebih baik jika meminta izin terlebih dahulu jika ingin
melakukan kontak fisik.
5. Lingkungan
Hal ini lebih merujuk pada pengaturan fisik interaksi atau komunikasi itu terjadi baik itu
di dalam atau di luar ruangan, seperti dekorasi ruangan, penerangan, temperatur dan
tingkat kebisingan. Faktor tersebut mempengaruhi suasana dan pikiran dalam menilai
seseorang.
6. Penampilan Fisik Tubuh
Penampilan atau cara berpakaian sangat berperan dalam komunikasi nonverbal. Ada
beberapa situasi tertentu dimana pekerja kesehatan wajib memperhatikan penampilan
atau cara berpakaian, contohnya ketika dokter memberikan kabar buruk atau diagnosa
penyakit. Dalam hal tersebut tidak mungkin seorang dokter memakai kaos atau pakaian
santai lainnya.

F. Faktor dan Variabel yang Berperan dalam Komunikasi


A. Faktor
1. Sumber Pesan
Sumber pesan atau penyampai pesan bias disebut sebagai komunikator. Komunikator
harus bisa merumuskan isi pesan agar pesan dapat dimengerti oleh penerima pesan
2. Penerima (Targer Sasaran)
Target sasaran atau penerima pesan juga dapat disebut sebagai komunikan.
Komunikan harus tanggap dan peka dalam menerima pesan yang disampaikan oleh
komunikator agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
3. Sistem Sosial (Norma, Nilai, Agama, Kebiasaan)
4. Para partisipan komunikasi harus memahami terkebih dahulu sistem sosial yang ada di
lingkungan sekitarnya karena sistem sosial merupakan pusat dari peranan komunikasi.

B. Variabel
1. Empati
Empati adalah kemampuan individu untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi
orang lain. Seorang agen kesehatan memerlukan rasa empati agar pasien merasa
dimengerti dan dapat menjelaskan kondisinya tanpa ragu.
2. Kontrol Personal
Orang yang memiliki kontrol personal adalah orang yang merasa bisa mempengaruhi
keadaan hidupnya. Di sini agen kesehatan memiliki peran sebagai orang yang
memegang kontrol saat pasien merasa tidak memiliki kontrol akan kesehatan mereka
sendiri.
3. Kepercayaan
Kepercayaan dapat membuat orang bisa secara bebas menyampaikan atau
mengungkapkan pikiran dan perasaanya kepada orang lain.
4. Keterbukaan
a. Keterbukaan adalah kegiatan menyampaikan informasi yang dirasa pribadi kepada
orang lain. Berikut adalah karakteristik-karakteristik orang yang terbuka:
b.Menilai pesan secara objektif
c. Berorientasi pada isi (to the point)
d.Mencari informasi dari berbagai sumber
e. Bersifat professional
5. Konfirmasi
Konfirmasi memiliki arti sebuah komunikasi di mana kita dapat menghargai orang lain
sebagai seorang manusia. Dengan adanya komunikasi serta konfirmasi, agen kesehatan
dapat membantu pasien dalam menghadapi kondisinya secara maksimal.

G. Hambatan/Barier dalam Komunikasi


Northouse dan Northouse (1998) mencatat bahwa hubungan antara penyedia jasa
kesehatan dan pengguna jasa kesehatan dipengaruhi oleh empat hal yang berpotensi menjadi
penghambat dalam melakukan komunikasi yang efektif. Hal-hal tersebut yang pertama ialah
ketidakpuasan atas peran dan fungsi yang dimiliki oleh penyedia jasa kesehatan dan pasien.
Hal kedua ialah ketidakjelasan pembagian peran penyedia jasa kesehatan sehingga terkadang
dianggap tidak profesional. Selanjutnya ialah kesenjangan sosial antara penyedia jasa
kesehatan dan pasien, dimana pada umumnya penyedia jasa kesehatan merasa lebih berkuasa.
Hal terakhir ialah tentang penggunaan bahasa medis yang terkadang menyulitkan pemahaman
pasien.
Davis dan Fallowfield (1994) menyatakan bahwa hambatan komunikasi kesehatan yang
sering terjadi juga disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti etika yang kurang baik, tidak
meminta klarifikasi pasien dengan baik, tidak mendorong atau mengizinkan pasien untuk
bertanya, dan tidak memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pasien.
Menurut Liliweri, hambatan dalam komunikasi digolongkan menjadi lima yaitu
hambatan fisik berupa interferensi dengan transimisi fisik isyarat, teknis berupa gangguan
teknis pada alat-alat, psikologis berupa interferensi kognitif, sosiologis berupa benturan
kepentingan dengan nilai dan budaya, dan bahasa berupa perbedaan bahasan dan tatanannya
seperti semantic, fonem, dan lain-lain.
Menurut Schiavo hambatan komunikasi berdasarkan perspektif pasien disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan kesehatan, hambatan
tatanan Bahasa, perbedaan kultur dan etnik, perbedaan usia, keterbatasan aspek kognitif,
stress terhadap penyakit, dan keterbatasan istilah medis dan istilah ilmiah.

3. Komunikasi Interpersonal pada Konseling dan Penyampaian Berita Buruk

3.1 Komunikasi Interpersonal


Definisi Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah kegiatan, bentuk, dan proses komunikasi yang terjadi antara
dua personal atau pribadi baik menggunakan cara verbal maupun non-verbal. Syarat utama
dalam komunikasi interpersonal ini adalah adanya dua orang yang melakukan komunikasi,
tentunya tidak kurang dan juga tidak lebih. Karena jika kurang dari dua orang maka disebut
komunikasi intrapersonal atau komunikasi dengan diri sendiri, dan jika lebih dari dua orang
maka sudah disebut komunikasi kelompok.
Komunikasi interpersonal dilakukan oleh orang yang saling terhubung satu sama lain, dan
bentuk komunikasinya adalah dyadic (komunikasi dua orang). Komunikasi interpersonal
dilakukan oleh dua pihak yang saling tergantung satu sama lain, maksud saling tergantung disini
adalah apa yang dilakukan oleh satu pihak dalam komunikasi interpersonal mempengaruhi pihak
yang satunya. Karena adanya saling ketergantungan, komunikasi interpersonal tidak dapat
dipisahkan dengan hubungan yang terjalin antar individu dan mempengaruhi serta
mendefinisikan hubungan tersebut.
Do and Dont’s pada Komunikasi Interpersonal
Berikut merupakan hal yang harus dilakukan agar terciptanya komunikasi interpersonal yang baik:
1. Tunjukkan Senyuman
2. Memberikan perhatian penuh
3. Memberikan respon
4. Mulai terbuka
5. Tempatkan Anda di posisi lawan bicara
Selain itu, Anda juga harus memerhatikan apa saja yang harus Anda hindari saat berkomunikasi
interpersonal. Berikut hal-hal yang harus Anda hindari:
1. Berbicara terus menerus
2. Jangan mengulang topik
3. Berbicara pelan, tidak jelas dan berbohong
4. Jangan membicarakan hal negatif
5. Sok tahu dan menggurui
6. Berujung argumentasi atau debat
7. Menyalahkan lawan bicara
Bentuk Komunikasi Interpersonal
Bentuk komunikasi intrapersonal yang dapat dilakukan:
1. Mengundang (mengajak) pasien untuk menceritakan perasaannya.
2. Menunjukan rasa simpati dan mengerti perasaannya.
3. Mengundang (mengajak) pasien untuk menceritakan lebih detail.
4. Menyampaikan dukungan dan meyakinkan pasien.
3.1 Komunikasi saat Penyampaian Berita Buruk
Definisi Komunikasi saat Penyampaian Berita Buruk
Berita buruk adalah multi langkah proses yang menciptakan situasi perasaan, seperti tidak
memiliki harapan, perasaan yang mengancam terhadap mental sesorang atau fisik orang
tersebut, risiko menimbulkan gangguan gaya hidup seseorang, atau pilihan hidup seseorang.
(Barnett, 2004; Bor, Miller, Goldman, & Scher 1993). Selain itu, berita buruk merupakan segala
informasi yang menciptakan pandangan negatif terhadap kesehatan seseorang (Buckman,
1984). Berita buruk juga dapat bervariasi dari penyakit kutil hingga, psoriasis, mata bintitan,
atau kemandulan.
Do and Dont’s pada Penyampaian Berita Buruk
Hal yang baik untuk dilakukan saat menyampaikan berita buruk adalah persiapan ruangan
dengan memilih ruangan yang privasinya baik. Dapat dilakukan dengan pasien sendiri maupun
bersama pendamping yang telah disetujui oleh pasien, hal ini dikarenakan akan ada hal penting
dan sangat sensitif yang akan disampaikan sehingga lebih baik dilakukan agar membuat pasien
nyaman dan merasa aman. Lebih baik dilakukan dengan posisi duduk yang menunjukan bahwa
kita tidak terburu-buru, tenang, serta bersedia untuk berdiskusi dengan pasien. Kedua, perlunya
rasa empati terhadap pasien. Dapat terlihat ketika penyampaian yang mempertanyakan kondisi
perasaan pasien yang sekarang, juga dengan cara bicara yang lembut, perhatian, serta berhati-
hati dalam pengucapan. Sangat baik apabila dilakukan sambil menggenggam tangan pasien dan
melakukan kontak mata karena hal itu dapat membangun hubungan yang baik antara pasien dan
kita sebagai tenaga kesehatan
Ketiga adalah kita harus mempersiapkan dalam hal informasi, kita harus mencari tahu
mengenai pasien, apakah dia sudah tahu dan mengerti dengan penyakitnya serta harapan yang
dimilikinya serta memperbaiki apabila ada kesalahan pemahaman oleh pasien.
Keempat, mengenai respon terhadap emosi pasien adalah biasanya pasien akan menahan
emosi mereka dan masih mencerna informasi yang mereka terima. Oleh karena itu, perlulah
kita memberikan solusi, menenangkan seperti pilihan terapi atau pengobatan yang
memungkinkan, memberikan kata-kata yang tidak menakutkan tetapi memberikan harapan
baik. Untuk pasien yang hanya diam saja, berikan pertanyaan-pertanyaan agar mereka dapat
menceritakan perasaannya.
Kemudian untuk hal tidak baik untuk dilakukan adalah seperti, memberitahukan berita dengan
tiba-tiba tanpa melihat situasi kondisi yang sedang terjadi, melakukan penyampaian berita
tanpa adanya empati maupun hubungan yang baik dengan pasien, apalagi ketika kita hanya
mengganggap pasien sebagai objek yang terkena musibah. Bahkan sangat tidak boleh apabila
kita menggunakan kata-kata yang menakutkan seperti “Anda mengalami kanker serviks, harus
diobati, kalau tidak akan mati.” Tentu itu akan sangat membahayakan mental bahkan
kesehatan pasien.
Tahapan Penyampaian Berita Buruk
Sebelum menyampaikan berita buruk tersebut, sekiranya kita dapat menjawab 4 pertanyaan dasar
yang secara tidak langsung juga memudahkan dokter dan para tenaga kesehatan lainnya untuk
menyampaikan berita buruk. Keempat pertanyaan tersebut adalah:
1. To whom should bad news be given?
Pertanyaan pertama ini memerhatikan bagaimana kondisi yang terjadi. Contohnya apabila
pasien masih tergolong anak- anak, maka dokter maupun tenaga kesehatan lainnya dapat
memberi tahu orang tua ataupun wali dari anak tersebut. Kondisi-kondisi sama dapat disikapi
berbeda, tergantung situasi dan pertimbangan lainnya.
2. Who should give bad news?
Untuk beberapa kasus, dengan mempertimbangkan beberapa alasan seperti “orang yang
diharapkan pasien untuk menyampaikan apa yang terjadi pada dirinya”, maka biasanya
bukan dokter yang menangani pasien langsung yang memberitahukan berita buruk.
Kekurangan dari pendelegasian tugas menyampaikan berita buruk ini adalah perasaan
bersalah karena tidak menyampaikan langsung berita yang ia temukan kepada pasien yang
ditangani.
3. When should bad news be given?
Pertimbangan menahan diri untuk tidak memberitahukan berita buruk secara langsung adalah
keadaan-keadaan seperti berita buruk yang “tidak langsung terjadi”. Contohnya seperti
kemungkinan cacat saat dewasa pada bayi yang baru lahir. Sedangkan untuk keadaan-
keadaan yang dapat membahayakan pasien serta orang-orang di sekitarnya secara langsung,
biasanya harus langsung disampaikan.
4. Should you give hope and reassurance along with bad news?
Untuk beberapa keadaan, penenangan dan pemberian harapan merupakan “pertolongan
pertama” dalam segi emosional bagi pasien. Namun begitu, tidak semua pasien dan tidak
semua keadaan cocok dan pantas bagi dokter dan para tenaga kesehatan lainnya untuk
memberikan penenangan dan harapan kepada pasien.
Keempat pertanyaan tersebut dapat dijawab setelah sebelumnya dokter dan para koleganya, juga
dengan tim pelayan kesehatan, sudah berdiskusi.
Kemudian, kita dapat melakukan tahapan-tahapan Penyampaian Berita Buruk yang lazim dikenal
dengan istilah SPIKES yang merupakan singkatan dari:
1. Setting up the interview; Menyiapkan wawancara atau sejenis diskusi merupakan hal pertama
yang dapat dilakukan oleh seorang tenaga kesehatan yang hendak menyampaikan berita buruk.
Persiapan diskusi ini sangat penting mengingat melalui tahap ini, seseorang dapat diperkirakan
akan nyaman maupun tidak, perkiraan respons yang akan diberikan, dan kondisi-kondisi lain.
Beberapa poin penting dalam mempersiapkan diskusi ini adalah:
• Pengaturan privasi
• Kehadiran orang terdekat pasien
• Beri posisi duduk
• Hubungan erat yang terbangun dengan pasien
• Pengaturan waktu
2. Assessing the patient’s Perception; Salah satu pertanyaan penting yang perlu diajukan dalam
diskusi adalah pertanyaan dengan kemungkinan jawaban terbuka lebar yang berfungsi
mengetahui persepsi dan gambaran yang dimiliki pasien terhadap kondisi medis yang
dimilikinya. Salah satu pertanyaan yang dapat ditanyakan adalah, “Bagaimana gambaran Bapak
terhadap kondisi yang Bapak alami?”
3. Obtaining the patient’s Invitation; Diskusi yang berlangsung dapat mengundang rasa ingin
tahu pasien sehingga tenaga kesehatan dapat merasa lebih mudah memberitahukan kondisi medis
yang sebenarnya. Namun begitu, tenaga kesehatan juga dapat mengajukan pertanyaan seperti:
“Apakah Bapak ingin saya berikan informasi mendetail terkait kondisi kesehatan Bapak, ataukah
hanya gambaran saja kemudian kita dapat membahas lebih dalam mengenai pengobatan dan
perawatan yang dapat Bapak dapatkan?”
4. Giving Knowledge and information to the patient; Setelah mendapat “izin” dari
Pasien untuk menyampaikan berita buruk, tenaga kesehatan dapat mulai menyampaikan berita
dan informasi yang perlu untuk disampaikan kepada pasien. Poin-poin yang dapat diperhatikan
adalah:4
• Mulai pada tingkat komprehensi dan kosakata yang sama dengan pasien
• Gunakan kata-kata nonteknis yang mudah dipahami oleh pasien
• Hindari penyampaian yang bersifat terlalu “langsung” dan terus terang
• Sampaikan informasi sedikit demi sedikit dengan cara berkala memerhatikan pemahaman
pasien
• Hindari penggunaan kata serta kalimat yang menghancurkan harapan
5. Addressing the patient’s Emotions with empathic responses; Respons empatis ini terdiri dari
4 langkah, yaitu:
• Observasi emosi
• Identifikasi emosi; Boleh melalui pertanyaan
• Identifikasi alasan emosi; Boleh melalui pertanyaan
• Setelah memberikan jeda bagi pasien untuk menenangkan diri setelah merasakan
“emosinya”, sampaikan bahwa kita “peduli dan empati”.
6. Strategy and summary; Menjadwalkan bersama pasien mengenai rencana pengobatan serta
perawatannya.
Cara menyampaikan berita buruk ini menurut Silverman dkk, dalam buku berjudul Skills for
Communicating with Patients, dapat dirangkum menjadi 6 tahapan:
1. Persiapan; Membuat janji secepatnya, meluangkan waktu, mengondisikan kenyamanan
tempat diskusi, mengajak orang terdekat pasien, paham mengenai kondisi medis serta latar
belakang pasien dan rekam medisnya, dan yang terpenting, meninggalkan sementara keinginan
untuk mengedepankan perasaan pribadi.
2. Memulai sesi diskusi; Mengecek keadaan pasien, menanyakan kabar hati dan tubuh, dan
negosiasi agenda.
3. Menyampaikan informasi; Menguji pemahaman pasien terlebih dahulu, kemudian memberi
sedikit peringatan dan berhati-hati dalam berbicara, serta menyampaikan informasi dimulai
dengan sederhana dengan gestur yang tepat.
4. Ikut merasakan perasaan pasien; Memerhatikan emosi pasien mulai dari yang disembunyikan
hingga yang ditunjukkan, respons emosi pasien dengan empati, dan jangan takut menampilkan
empati dan emosi.
5. Perencanaan dan dukungan; Sampaikan rencana pengobatan dan perawatan yang dapat
dilakukan serta tunjukkan dukungan terhadap pasien
6. Penutupan; Cek kembali pemahaman pasien terhadap informasi-informasi yang telah
diberikan, jadwalkan janji kembali, menunjukkan dukungan untuk perawatan tanpa paksaan

4. Komunikasi pada Situasi Khusus


4.1 Pasien Marah
Kemarahan adalah keadaan emosi negatif yang umumnya disertai dengan gairah
fisiologis dan pikiran antagonis yang diarahkan pada seseorang atau objek yang
dipandang sebagai penyebab peristiwa buruk. Manifestasi kemarahan berkisar dari iritasi
ringan hingga kemarahan yang tak terkendali. Kemarahan dapat juga dapat ditekan,
seperti ketika diarahkan ke dalam diri, atau dapat diarahkan pada orang lain dalam bentuk
konfrontasi atau perilaku agresif (Chipidza, wallwork, adam, et all 2016)
Menyadari kemarahan pasien sangatlah penting demi menjaga keamanan tenaga
medis, dan lingkungan sekitarnya. Mekipun jarang terjadi, beberapa kasus kekerasan
terhadap tenaga medis karena kemarahan pasienjuga pernah terjadi dalam sejarah dunia
kesehatan.
Setiap invidu pasti berbeda dalam mengungkpakan kemarahannya. Beberapa
diataranya mengurataknnya dengan fisik, perilaku, bahkan tidak menunjukkan tanda
apapun. Tanda-tanda pasien marah melalui bahasa tubuhnya diataranya, mata melotot,
alis naik, bibir mengerucut, muka memerah, dan rahang tegang. Perilaku pasien marah
biasanya menunjukkan parilaku agresif, berteriak, menyumpahi dan lain lain. beberapa
pasien pun mungkin tidak memberikan tnda-tanda apapun saat dia marah. Biasanya dia
menunjukkan kemarahannya secara tidak langsung melalui ketidakpatuhan terhadap
perawatan medis.
Untuk menghindari terjadinya kasus-kasus terhadap tenaga medis maupun kekacauan
yang mungkin timbul saat pasien maraha, perlu adanya perlakuan khusus untuk
menanganinya. Hal yang sebaiknya kita lakukan terhadap pasien marah diantaranya,
 Menjaga privasi mereka dengan mengajaknya ke tempat yang bisa menjaga
privasi mereka
 Menjaga jarak yang aman dengan mereka
 Tetap tenang saat bersama
 Pertahankan postur netral kita
 Selalu waspada dengan adanya kemungkinan ancaman fisik
 Biarkan pasien mengungkapkan atau mengekspresikan kemarahannya
Selain beberapa hal yang perlu dilakukan diatas, ada juga hal yang tidak boleh
dilakukan kepada pasien marah, diantaranya,
 Jangan terprovokasi dengan perkataan/perilaku pasien
 Jangan menyentuh pasien apalagi memeluknya
 Jangan menatap pasien
 Jangan melakukan pergerakan yang tiba-tiba
 Jangan memandang rendah pasien, anggap semua sama
Beberapa contoh kasus pasien marah biasanya terjadi saat petugas kesehatan
melakukan hal yang tidak sesuai dengan harapannya atau petugas tidak melakukan
sesuatu yang diharapkan pasien. Biasanya terjadi pada pasien BPJS yang tidak
diutamakan saat ingin mendapatkan pelayanan kesehatan. Mereka yang kecewa dengan
perlakuakn tersebut ada kemungkinan akan marah.
Tata cara penyampaian terhdap paien marah pun harus diperhatikan. Bicara dengan
pasien yang marah sebaiknya dengan nada rendah, menanyakan apa yang diharapkan
pasien, bila mungkin beri solusi atau opsi kepada pasien baiknya bagaimana. Apabila kita
tidak dapat memutukan solusi/opi baiknya bagaimana dengan pasien, sebaiknya tawarkan
pertemuan dengan pihak yang berwenang.

4.2 Pasien Geriatrik


Geriatri merupakan cabang ilmu dari gerontologi dan kedokteran yang
mempelajari kesehatan pada lansia dalam berbagai aspek, yaitu promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif. Pada prinsipnya geriatri mngusahakan masa tua yang bahagia
dan berguna (Depkes RI, 2000). Menurut Black dan Jacob (1997), geriatri adalah cabang
ilmu kedokteran yang berfokus kepada penyakit yang timbul pada lansia. Penyakit yang
timbul pada lansia beragam, dapat secara fisik maupun secara mental.
Sebagai ilmu yang membahas tentang merawat orang yang berusia lanjut terhadap
penyakitnya dan merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang penyakit
pada lansia. Pasien Geriatri adalah pasien lanjut usia di atas enam puluh tahun dengan
multi penyakit dan/atau gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologi, sosial,
ekonomi dan lingkungan yang membutuhkan pelayanan kesehatan secara terpadu dengan
pendekatan multidisiplin yang bekerja secara interdisiplin. Dalam berkomunikasi dengan
pasien geriatric dibutuhkan beberapa cara dan pendekatan agar proses komunikasi dapat
berjalan dua arah. Sebelum berkomunikasi dengan pasien geriatric ada beberapa hal yang
harus dilakukan.
Pertama, kita harus mampu menempatkan diri dalm keadaan dan kondisi yang
sedang dialami oleh pasien geriatric yang sedang dihadapi. Hal ini harus dilakukan agar
pasien tidak merasa asing atau tidak merasa dituntut agar harus mendengarkan apa yang
sedang kita sampaikan kepada mereka.
Kedua, memonitor dan mengontrol kebiasaan atau sikap nonverbal saat menghadapi
pasien geritari. Dalam hal ini, dibutuhkan kontak mata dengan pasien, menghadirkan
informasi yang jelas dan mudah dipahami, juga memperhatikan volume suara. Kita harus
memastikan lingkungan dalam keadaan hening agar tidak terjadi kesalahpahaman dan
informasi yang disampiakan jelas dan tersimpan di memori jangka panjang pasien
geriatric tersebut. Di samping itu, kita harus bisa menampilkan sikap dewasa dan
menyesuaikan diri sesuai umur pasien.
Ketiga, agar komunikasi dapat berjalan lebih efektif, kita dapat memberikan
visualisasi selama proses komunikasi berlangsung untuk menarik perhatian pasien dan
memberikan mereka pengetahuan tentang kondisi medis yang sedang mereka hadapi.
Dalam hal ini, kita harus mampu membaca sikap nonverbal pasien dan selalu menjaga
fokus kepada mereka sehingga waktu yang dihabiskan untuk berkomunikasi memberikan
dampak positif yang lebih nyata. Pasien juga harus diberi kesempatan untuk bertanya,
memberikan pendapat, dan bercerita agar mereka tidak merasa bosan. Di samping itu,
dari penjelasan yang diberikan pasien kita juga dapat mengetahui sejauh mana pasien itu
sendiri mengerti apa yang telah kita sampikan.
Keempat, memberikan keputusan yang menarik mengenai pentingnya proses
komunikasi sehat, terutama dalam hal membuat mereka percaya akan keuntungan apa
yang dapat mereka ambil dari pembicaraan yang telah dilakukan dan mereka merasa puas
atas informasi yang mereka dapatkan.

Dalam menghadapi pasien lanjut usia seorang pelayan kesehatan (dalam hal ini
dokter perawat, konsultan kesehatan, apoteker dan lain lain), hal pertama yang perlu
dilakukan adalah mencoba membangun koneksi dengan pasien tersebut dengan
melakukan kontak fisik dan tersenyum sebagai tanda pembangunan hubungan emosional
dengan pasien tersebut.
Seorang pelayan kesehatan sebaiknya memberi waktu lebih lama kepada pasien
geriatri, sebagai solusi atas sifat pasieunn geriatric yang selalu penasaran lebih banyak.
Faktor ketenangan juga menjadi faktor utama untuk memulai komunikasi dengan pasien
geriatric demi mendapatkan kepercayaan pasien.
Pasien geriatric akan jauh lebih mudah untuk berkomunikasi apabila pelayan
kesehatan duduk berseberangan dan tetap mempertahankan kontak mata dengan mereka.
Kedua hal tersebut akan sangat membantu mengingat pendengaran pasien geriatric yang
sudah mulai memudarmaka dengan duduk di depan pasien tersebut pasien bisa membaca
gerak bibir dari pelayan kesehatan tersebut. Dalam berbicara, lebih baik berbicara secara
perlahan, namun jelas. sebagai bentuk penyesuaian bahwa pasien geriatric memiliki
kemampuan menyerap informasi secara lebih lama daripada pasien normal, namun tidak
boleh berteriak kepada mereka.
Pemilihan kalimat serta kata juga memiliki peran vital dalam komunikasi ini, dengan
seorang pelayan kesehatan lebih baik menggunakan kata yang pendek, menjauhi kata
yang rumit. Selain itu, untuk mejaga fokus pasien geriatric terhadap satu topik saja, maka
penyampaian terhadap pasien geriatric harus perlahan-lahan per topiknya. Lebih lanjut,
dalam penyampaian intruksi bisa melalui penulisan dengan kalimat dasar yang mudah
diikuti, dengan alasan tulisan lebih bersifat permanen, mengingat kondisi pasien geriatric
yang sudah menurun fungsi memorinya. Seorang pelayan kesehatan dalam menulis
intruksinya bisa membentuk ringkasan dan juga beberapa tugas yang harus dilakukan
pasien tersebut di luar pertemuan dengan pelayan kesehatan tersebut, seperti “Anda harus
berjalan 3 menit di sore hari”, dengan harapan pasien tersebut akan mengingat dan
menjadikan hal tersebut kebiasaan.
Penggunaan teks yang terlalu banyak tentunya akan menimbulkan kebosanan dalam
kalangan pasien lanjut usia, untuk itu penggunaan gambar dan grafik akan memudahkan
pasien untuk mengerti kondisi dan tindakan yang akan dilakukan ke mereka. Sedari
menjalankan komunikasi dua arah dengan pasien geriatric, seorang pelayan kesehatan
dianjurkan untuk bertanya kembali kepada pasien hal-hal penting untuk memeriksa
apakah penjelasan yang diberikan dipahami dengan baik atau tidak. Jika tidak, Informasi
tersebut harus diulang, namun menggunakan teknik paraphrase, agar tidak menimbulkan
kekesalan di pihak pasien itu sendiri. Pasien juga harus diberi kesempatan untuk bertanya
dan berekspresi, agar sebagai pelayan kesehatan bisa mengetahui kekhawatiran dari
pasien itu sendiri dan kita bisa memahami sejauh apa pasien mengerti penjelasan yang
telah diberi.
Terakhir, pelayan kesehatan juga harus bisa menjadi pendengar yang aktif, dengan
telinga fokus ke suara yang didengar, pikiran nya memahami apa yang sedang dipelajari
dan mata memahami gaya bahasa. Sebagai salah satu contoh kasus, ketika seorang pasien
geriatric diajak berdiskusi tentang penyakit diabetes yang ia derita, terdapat perasaan
dalam diri pelayan kesehatan bahwa pasien tidak mengerti walau ketika ditanya, pasien
menjawab mengerti. Untuk lebih memastikan, anda bertanya lebih detail tentang
penggunaan obat metformin, dan pasien hanya tersenyum sambal berkata iya. Apabila
terjadi kasus seperti ini, ada baiknya pelayan kesehatan menanyakan kembali pertanyaan
yang mengharuskan pasien untuk menjelaskan kembali penggunaan obat tersebut.
Metode ini efektif karena membangkitkan komunikasi dua arah untuuk mencapai level
interaksi antar pasien dan pelayan kesehatan.

4.3 Pasien Pasif/Depresif


Pasien pasif adalah salah satu situasi khusus pada komunikasi kesehatan. Pasien pasif
merupakan pasien yang sulit diajak bicara atau tidak komunikatif, sukar mengutarakan apa
yang dia rasakan dan cendrung menutup diri. Tidak menutup kemungkinan bahwa pasien
pasif bisa menolak penanganan. Hal ini dapat mengganggu proses diagnosis bagi pasien
tersebut.
Depresi adalah suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan dan dangkal (low
mood), melibatkan keputusasaan, merasa tidak berguna serta sedih yang berlebihan sebagai
akibat dari pengaruh peristiwa yang tidak diharapkan, dimana manifestasi gejalanya dapat
bersifat ringan hingga pada tingkat yang berat (Rosenbaum, 2000).
Depresi juga didefinisikan sebagai suatu status emosional seseorang yang ditandai
dengan kesedihan yang sangat, perasaan bersalah, menarik diri dari lingkungan, gangguan
tidur, anoreksia, kehilangan gairah seksual, kehilangan ketertarikan pada aktivitas-aktivitas
yang biasanya menyenangkan. (Davison & Neale, 1994). Faktor-faktor penyebab depresi
dapat dibagi menurut asalnya sebagai berikut (Pennel & Creed, 1987) bersumber dari fisik,
bersumber dari psikis, dan bersumber dari sosial.
Menurut Lloyd dan Bor (1996), ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tipe
pasien yang pasif/depresif atau tidak komunikatif, yaitu sebagai berikut.
1. Siapkan waktu yang lebih untuk sesi konsultasi.
2. Jangan menunjukan sikap frustasi (kewalahan) atau kemarahan.
3. Pethatikan pasien dengan seksama, terutama kebiasaan-kebiasaan non-verbalnya.
4. Tunjukkan rasa empati, misalnya menggunakan gestur tubuh yang menunjukan
kepedulian. Dalam konteks ini contohnya adalah mencondongkan tubuh kea rah
pasien saat berkomunikasi dengannya
5. Memberikan penjelasan yang jelas mengenai tujuan wawancara atau penanganan,
serta informasi apa saja yang dibutuhkan oleh petugas kesehatan dari pasien.
6. Gunakan close-ended question. Close-ended question adalah model pertanyaan di
mana hanya membutuhkan jawaban “ya”, “tidak”, “1 kali”, dan lain sebagainya.
Contohnya adalah pertanyaan seperti “Apakah Anda merasa kesakitan?”. Jawaban
yang dibutuhkan dari pertanyaan ini adalah hanya “ya” atau “tidak”.
7. Gunakan Bahasa yang mudah dimengerti.
Ketika sedang menghadapi pasien, seorang dokter tentunya akan bertemu pasien dengan
beragam jenis perilaku dan sifatnya masing-masing. Ada sifat dan perilaku yang baik sehingga
mudah terjadinya interaksi antar dokter dengan pasien. Namun, ada juga pasien yang bersifat
kurang kooperatif sehingga terjadi hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Salah
satunya adalah klien yang bersifat pasif dan depresif. Pertama, diperlukan sebuah pemahaman
latar belakang penyebab seorang klien bersifat dan berperilaku secara demikian. Kemudian
adalah cara penerapan berkomunikasi yang baik dengan klien tersebut.

Pasien yang bersifat depresif bukan berarti termasuk dalam depresi klinis. Namun
merupakan sebuah perpindahan perasaan dari perasaan ‘normal’ seseorang. Perpindahan
perasaan tersebut disebabkan pada saat orang tersebut menghadapi masa-masa yang sulit.
Sedangkan perasaan normal tersebut berbeda pada setiap orangnya. Sehingga sesuatu yang
dianggap normal oleh seseorang dapat dianggap sebaliknya oleh orang lain.
Pertama, perlu ditentukan apabila perasaan sedih seorang pasien merupakan sebuah pokok
permasalahan. Kemudian, dengan mendengarkan dan bertanya kepada pasien yang terlihat
depresif, rasa sedih mereka bisa dikategorikan ke dalam jangkauan emosi yang dimiliki pasien
tersebut apakah normal ataupun tidak normal. Sebagai seorang yang berprofesi dalam bidang
kesehatan, kita harus bisa membedakan apabila pasien bersosialisasi seperti semestinya atau
tidak.

Pasien merupakan individu yang memiliki kebutuhannya masing-masing dan reaksi


emosional yang berbeda. Cara menanganinya dengan baik adalah dengan bersiap-siap
menggunakan waktu yang lebih lama saat berkonsultasi dan tidak menjadi bosan, frustasi
ataupun marah pada saat menghadapi pasien tersebut. Selain itu, bentuk komunikasi verbal
maupun non-verbal pasien harus diamati dengan seksama dan direspon dengan tepat. Caranya
adalah menunjukan rasa empati dengan bahasa tubuh kita. Perlu juga dijelaskan maksud dan
tujuan dari konsultasi atau wawancara yang dilakukannya agar dapat dipahami pasien.
Dianjurkan juga agar memberi pertanyaan yang tidak terlalu luas agar pasien dapat menjawab
dengan baik.

Ada beberapa hal yang bias dilakukan untuk berkomunikasi dengan pasien pasif/depresif, antara
lain :
1.Persiapkan diri untuk menghabiskan waktu ekstra dalam konsultasi, karena pasien
pasif/depresif relative menutup diri dan sulit untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan.
2.Jangan menunjukkan tanda-tanda frustrasi atau kemarahan, hal ini akan menyebabkan pasien
pasif/depresif semakin menutup diri.
3.Amati pasien dengan seksama, terutama perilaku non-verbal mereka.
4.Tunjukkan empati, misalnya, dengan menggunakan bahasa tubuh agar pasien merasa lebih
tenang dan dapat berkomunikasi.
5.Berikan penjelasan yang jelas tentang tujuan wawancara dan apa informasi yang dibutuhkan.
Gunakan bahasa fasilitasi, dan tutup pertanyaan jika perlu.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk pasien khusus yang depresif:
 Memberikan dukungan sosial
 Mempererat kekerabatan
 Mendekatkan diri dengan kehidupan religious
 Beradaptasi dengan lingkungan
 Pola hidup sehat, gizi seimbang, olah raga, dan hidup teratur
 Terapi Individual Konseling: membantu pasien mengenali dan mengekspresikan
perasaannya, mengembangkan kemampuan pasien beradaptasi terhadap masalah
(3R=Rekonsiliasi, Reintegrasi, Rekreasi), Terapi Kognitif & Perilaku ( CBT ):
mengembangkan pola pikir dan perilaku positif, menumbuhkan sikap optimis dan
percaya diri
 Terapi Kelompok bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial, mengembangkan
sikap asertif, juga sebagai media untuk saling berbagi cerita ( reminescene ). Konseling
Keluarga bertujuan mengembangkan partisipasi keluarga dalam proses terapi.
Menurunkan faktor ekspresi emosi dalam keluarga. Memperbaiki pola adaptasi keluarga
dalam menghadapi perubahan perilaku pasien.
 Memberikan obat antidepressant untuk memberikan ketenangan.

Adapun bentuk intervensi lain yang layak dilakukan kepada pasien yang tidak komunikatif.
Bentuk intervensi ini dikemukaan oleh Duxbury (2000), yaitu sebagai berikut.
1. Prescriptive: petugas kesehatan harus sejak dini menentukan tindakan langsung atas
nama kepentingan pasien.
2. Cathartic: terkadang obat perlu diberikan kepada pasien untuk membantu mereka
mengeluarkan perasaan terpendam yang mempengaruhi perilakunya agar lebih
mudah untuk ditangani.
3. Catalytic: petugas kesehatan dapat memfasilitasi perubahan perilaku pasien dalam
bentuk membantu mengembangkan kemampuan barunya, dan membantunya untuk
tumbuh dengan percaya diri.
Berikut adalah contoh-contoh pasien depresif/pasif:
 mayor depression
 atypical depression
 dysthymia
 seasonal affective disorder

Kesimpulan
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa latar belakang seorang pasien merasa depresi
adalah saat menghadapi masa yang sulit sehingga sulit terjalinnya komunikasi. Agar
terjalinnya komunikasi dengan baik, tidak perlu terburu-buru dan menjaga sikap pada saat
memberi konsultasi. Kemudian memperhatikan segala bentuk komunikasi pasien dan
berempati terhadap perasaan pasien. berkomunikasi dengan pasien yang tidak komunikatif,
memahami prespektif pasien adalah kunci utamanya.
Mendengarkan dan memperhatikan keluhan serta kebiasaannya, petugas kesehatan
seharusnya sudah bisa merasakan apa yang dideritanya. Menjadi pendengar yang baik bagi
pasien dan selalu sabar merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Selain itu kontak
mata juga peru selalu dijaga agar pasien merasa dihargai.
Pahami apa kecemasan dan harapannya. Tunjukan respon di mana petugas kesehatan
tidak menyepelekan deritanya dengan memberikan jawaban dan bahasa tubuh yang mudah
dimengerti oleh pasien. Dengan memperharikan berbagai factor, tata cara dalam
berkomunikasi, hambatan-hambatan yang ada serta kondisi maupun situasi khusus, pelayanan
akan lebih maksimal.

III. Penutup
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu
pihak kepada pihak lain. Komunikasi dalam konteks kesehatan adalah proses penyampaian
informasi atau pesan-pesan mengenai kesehatan. Biasanya tujuan dari komunikasi kesehatan ini
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam bidang kesehatan.
Komunikasi kesehatan terdapat dalam berbagai bentuk seperti media massa, media
advokasi, media entertainmen dan internet. Komunikasi kesehatan diharapkan mampu
membentuk sikap dan mengubah atau memengaruhi perilaku individu dengan cara menambah
pengetahuan dan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu kesehatan, masalah-masalah kesehatan
dan solusi kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan taraf kesehatan.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari komunikasi. Komunikasi bertujuan
untuk menyampaikan maksud atau pesan dengan tujuan untuk memengaruhi atau mengubah
pandangan orang lain. Dalam bidang kesehatan, komunikasi juga dapat dimanfaatkan untuk
menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat, terutama untuk meluruskan informasi
salah yang terlanjur menyebar. Namun agar penyampaian kita dapat diterima, diperlukan metode
komunikasi yang mumpuni agar tujuan dari pesan yang kita sampaikan dapat mereka terima
dengan baik. Metode komunikasi saat menyampaikan informasi kesehatan yang baik diantaranya
kita harus menyiapkan materi kesehatan dengan matang, pelajari etika komunikasi yang baik dan
benar, dan memanfaatkan media sosial.
Daftar Pustaka

- Schiavo, Renata. Health Communication : from theory to practice / Renata Schiavo. — 1st ed.
- Basofi, A. 2001. Ilmu Komunikasi. http://lecturer.eepis-its.edu/ (tanggal 16 Februari 2014).
- [internet] dinus.ac.id. [cited at 10 September 2019]. Available at :
http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/Model-model_Komunikasi_06.pdf
- Berry, D. (2007). Health Communicaion: Theory and Practice. New York.
- Putri TH & Fanani A. (2013). Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta : Mitra Setia.
- Parvanta C, Nelson DE, Parvanta SA, et all. (2011). Essentials of Public Heatlh Communication.
United State of America : Jones & Bartlett Learning, LLC.
- Chipidza F, Wallwork RS, Adam TN, et all. (2016, 23 Juni). Evaluation and Treatment of the Angry
Patient. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5035812/
- Cronen V, Pearce WB. The Coordinated Management of Meaning: A Theory of Communication. New
York: Harper & Row; 1982.
- Communication Practices for Nurses Caring for Older People [Internet]. Ohio University [cited 2019
Sep 11]. Available from: https://onlinemasters.ohio.edu/blog/3-important-communication-practices-for-
nurses-caring-for-older-people/
- Thompson TL, Robinson JD, Beisecker AE. The Older Patient-Physician Interaction. New Jersey:
Lawrence Eerlbaum Assoc; 2004.
- Effective Communication in Caring for Older Adults [Internet]. National Institute on Aging [cited
2019 Sep 11]. Available from: https://www.nia.nih.gov/health/effective-communication-caring-older-
adults
- 10 Tips for Nurses to Communicate with Elderly Patients [Internet]. Regis College Online [cited 2019
Sep 11]. Available from: https://online.regiscollege.edu/blog/10-tips-nurses-effectively-communicate-
elderly-patients/
- Robinson TE, White GL, Houchins JC. Improving communication with older patients: Tips from the
literature [Internet]. FPM; 2006 Sep [cited 2019 11 Sep] Avaiable from:
https://www.aafp.org/fpm/2006/0900/p73.html.
- Breisch SL. Eldery Patients Need Special Connection. Am Acad Orthop Surg Bull; 2001 Feb
- Harwood J, et al. Communicating With Older Adults an Evidence-Based Review of What Really Works.
US: The Gerontological Society of America; 2012.
- http://bprs.kemkes.go.id/v1/uploads/pdffiles/peraturan/47%20PMK%20No.%2079%20ttg%20Penyelen
ggaraan%20Pelayanan%20Geriatri%20di%20RS.pdf
- Harwood J. Communicating With Older Adults. Gerontological Society of America: 2010.
- [Internet]. Digilib.uinsby.ac.id. [cited 11 September 2019]. Available from:
http://digilib.uinsby.ac.id/2160/5/Bab%202.pdf
- Berry, D. (2007). Health Communication: Theory and Practice. New York, NY : McGraw-Hill
Education.
- [Internet]. Jurnalilkom.uinsby.ac.id. [cited 11 September 2019]. Available from:
http://jurnalilkom.uinsby.ac.id/index.php/jurnalilkom/article/view/42/36
- Definition of COMMUNICATION. (2019). Retrieved 11 September 2019, from https://www.merriam-
webster.com/dictionary/communication
- Pengantar kuliah modul komkes [Internet]. [cited 2019 Sep 9]. Available from:
https://scele.ui.ac.id/mod/resource/view.php?id=630623
- Gayatri Setyabudi, Ratih. Dewi, Mutia. 2017. Analisis Strategi Promosi Kesehatan dalam Rangka
Meningkatkan Kesadaran Hidup Sehat oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM. Soedjarwadi Provinsi
Jawa Tengah, Jurnal Komunikasi. Vol. 12 No 1, hal 82-84.
- Audi Kinanti Pasha. 2018. Komunikasi Kesehatan. Makalah
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan). Persepsi
[Internet]. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud (Pusat Bahasa);2012-
2019 [cited 2019 Sep 11]. Available from: https://kbbi.web.id/persepsi
- Author unknown. Kajian teoritis persepsi [Internet]. [cited 2019 Sep 11]. Available from:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/45018/Chapter%20II.pdf?sequence=4&isAllo
wed=y
- Author unknown. Persepsi dalam konteks komunikasi [Internet]. [cited 2019 Sep 11]. Available from:
http://digilib.unila.ac.id/8570/20/BAB%20II.pdf
- Buckman RA. Breaking Bad News- The S-P-I-K-E-S Strategy. Commun Oncol [internet]. 2005 [cited
2012 Sept 24]. Available from: http://jco.imng.com/co/journal/articles/0202138.pdf
- Mulyana D. 2000. Pengantar Ilmun komunkasi .diakses dari diansrimulyani.staff.gunadarma.ac.id
pada 11 september 2019
- Liliweri, A . Dasar-dasar komunikasi kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Belajar; 2011.
- Liliweri, A . Dasar-dasar komunikasi kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Belajar; 2011. Hlm 266-274
- Liliweri, A. (2015) Komunikasi Antar Personal.
- Rahmadania, M. (2012) ‘Komunikasi Kesehatan : Sebuah Tinjauan’, Psikogenesis, 1.
- Liliweri, A. (2013) Dasar - dasar komunikasi kesehatan.
- Schiavo R. Health Communication from Theory to Practice. Vol. 53, Journal of Chemical Information
and Modeling. 2014.
- Horn S. Health Psychology. 2007
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia. KBBI [Internet]. [Cited 2019 Sep 10]. Available from:
- https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/berita
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia. KBBI [Internet]. [Cited 2019 Sep 10]. Available from:
- https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/berita%20duka
- Prof. Margaret L, Prof. Robert B. Communication skills for medicine 3rd Edition.
- Philadelphia: Elsevier; 2009.
- Uniteforsight.org. (2019). Health Communication Course: Module 3 - Interpersonal Communication
(IPC). [online] Available at: https://www.uniteforsight.org/health-communication-course/module3
[Accessed 11 Sep. 2019].
- Barnett, M. (2004). A G.P. guide to breaking bad news. The Practitioner, 2: 392–404
- Hekmatpanah, J. (n.d.). Communication with and on behalf of patients.
- Sparks, L., Villagran, M., Raley, J. and Cunningham, C. (2019). A Patient-centered Approach to
Breaking Bad News: Communication Guidelines for Health Care Providers. Journal of Applied
Communication Research, 35(2).