Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA I

MODUL 8

PERIODE I (2019/2020)

KELOMPOK V

Nama Mahasiswa/NIM : Givson Gabriel/104118029

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR

UNIVERSITAS PERTAMINA

2019
PENGAMATAN ALIRAN DALAM DIAMETER PIPA YANG BERBEDA

Arya Fadila Fergiawan5, Fira Riska Syahrun5, Givson Gabriel5*, Hans Kelsen Christian
Hutajulu5, Muhammad Daffa Firdian5, Nabiela Puspaningtyas5

5
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Perencanaan Infrastruktur,

Universitas Pertamina

*Coressponding author: givsong@gmail.com

Abstrak : Pada praktikum yang dilaksanakan pada tanggal 5 November 2019 kita melakukan sebuah penelitian
mengenai Pengamatan Aliran Dalam Diameter Pipa Yang Berbeda. Dengan tujuan mengetahui penyebab
terjadinya kehilangan tenaga pada sistem perpipaan, mendapatkan hubungan antara kehilangan tenaga dengan
diameter pipa dan mendapatkan perbandingan antara debit dengan koefisien kehilangan tenaga . Fluida yang kita
gunakan yaitu air. Lalu kita mendapatkan hasil bahwa kehilangan tenaga sangat terpengaruh dengan diameter pipa
dengan perlakuan yang berbeda, dimana diameter berbanding lurus dengan besarnya nilai kehilangan tenaga, dan
perbandingan antara debit dengan koefisien kehilangan tenaga yaitu tegak lurus
Kata Kunci : Koefisien Kehilangan Tenaga, Pipa, Diameter, Debit, Fluida.

Abstract : In the practicum that we have done on November 5th, 2019 we conducted a study
on the Observation of Flow in Different Pipe Diameter. With the aim of knowing the cause of
the loss of power in the piping system, get the relationship between power loss with pipe
diameter and get a comparison between the discharge with the coefficient of power loss. The
fluid we use is water. Then we get the result that the power loss is greatly affected by the
diameter of the pipe with different treatments, where the diameter is directly proportional to
the value of the power loss, and the ratio between the discharge with the coefficient of power
loss is perpendicular
Keywords: Coefficient of Losing Power, Pipe, Diameter, Discharge, Fluid.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam melakukan pengamatan kajian ilmu fisika, kita pasti perlu adanya
pengukuran, seperti pengukuran yang ditimbulkan dari sebuah alat. Salah satunya
kehilangan tenaga pada sistem perpipaan dengan diameter yang berbeda dengan
perlakuan bukaan katup yang berbeda. Kehilangan tenaga pada sistem perpipaan
terjadi karena gesekan aliran air dengan permukaan pipa dan gesekan antar partikel
fluida itu sendiri. Faktor yang menyebabkan kehilangan energi pada sistem
perpipaan bergantung pada diameter dan panjang pipa sesuai dengan perlakuannya.
Pada laporan ini kami membahas pengukuran yang terkesan tidak terlalu
penting, tetapi sebenarnya perlu kita kaji, terlebih untuk perhitungan hidrolisis.
Selain mengetahui penyebab terjadinya kehilangan tenaga pada sistem perpipaan,
pengaruh dari besarnya diamater pipa dan panjangnya pipa kami bahas dengan
perlakuan bukaan katupnya yang berbeda pada laporan ini. Untuk itulah dibuat
makalah ini dalam memudahkan pemahaman mengenai kehilangan tenaga pada
sistem perpipaan.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa yang menyebabkan kehilangan tenaga dalam sistem perpipaan?
b. Bagaimana hubungan dari kehilangan energi terhadap diameter pipa dan
panjang pipa pada setiap perlakuan yang berbeda?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui penyebab terjadinya kehilangan tenaga dalam sistem perpipaan.
b. Mendapatkan hubungan dari kehilangan energi terhadap diameter pipa dan
panjang pipa pada setiap perlakuan yang berbeda.

1.4 Dasar Teori


Fluida adalah zat cair yang bisa mengalir menempati ruangan, mempunyai
partikel yang mudah bergerak dan berubah bentuk tanpa pemisahan massa
(Triatmodjo, 1993:9). Tahanan fluida terhadap perubahan bentuk sangat kecil,
sehingga fluida dapat dengan mudah mengikuti bentuk dan ruang serta tempat
yang membatasinya.

Fluida dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu zat cair dan gas. Zat cair
terlihat memiliki volume tertentu, dan dapat berubah bentuk mengikuti ruang yang
di tempatinya. Zat ini memerlukan perubahan tekanan dan temperatur yang besar
untuk memperoleh perubahan volume yang mudah terlihat. Perbedaan antara
keduanya juga bersifat teknis, yaitu berhubungan dengan akibat gaya kohesif. Zat
cair terdiri atas molekul-molekul tetap dan rapat dengan gaya kohesif yang relatif
kuat, sehingga cenderung mempertahankan volumenya dan akan membentuk
permukaan bebas yang rata dalam medan gravitasi. Sebaliknya gas, karena terdiri
dari molekul-molekul yang tidak rapat dengan gaya kohesif yang cukup kecil
(dapat diabaikan). Sehingga volume gas dapat memuai dengan bebas dan terus
berubah. Secara mekanis, sebuah fluida adalah suatu substansi yang tidak mampu
menahan tekanan tangensial. Hal ini menyebabkan fluida pada keadaan diamnya
berbentuk mengikuti bentuk wadahnya.

Istilah fluida sendiri di dalam mekanika fluida adalah zat yang yang akan
berdeformasi terus menerus selama dipengaruhi oleh tegangan geser. Tegangan
geser terjadi apabila ada gaya tangensial pada sebuah permukaan. Secara umum
fluida dibagi dua, yaitu fluida statik dan fluida dinamik. Fluida statik adalah fluida
yang diam atau tegangan gesernya nol, atau tidak bergerak, sedangkan fluida
dinamik adalah fluida yang bergerak atau tegangan gesernya tidak nol. Pada fluida
kental (viscous) maupun fluida cair (liquid) apabila ada gaya geser yang
bekerja padanya akan mengalami pergerakan antara satu bagian terhadap bagian
lainnya. Ini berarti bahwa fluida tidak dapat menahan gaya geser. Kehilangan
tenaga yang sebenarnya akibat gesekan H1-2, sehingga nilai Koefisien Kehilangan
dapat diketahui dengan persamaan :

𝐻1−2 ·𝐷 5
𝐾= (persamaan 1.1)
𝐿·𝑄 2

*keterangan :

K = Koefisien kehilangan

D = Diameter dalam pipa (m)

L = Panjang pipa (m) konstan

Q = Debit aliran (m3/s)

Pada aliran air salah satu gangguan atau hambatan yang sering terjadi dan
tidak dapat diabaikan pada aliran air yang menggunakan pipa adalah kehilangan
energi akibat gesekan (mayor lose) dan minor lose (adanya perubahan arah,
perubahan penampang serta gangguan- gangguan lain yang mengganggu aliran
normal. Hal ini menyebabkan energi aliran air semakin lemah dan mengecil).
Disamping adanya kehilangan energi akibat gesekan, terjadi pula kehilangan energi
yang disebabkan oleh perubahan penampang pipa. Pada pipa panjang kehilangan
energi akibat gesekan biasanya jauh lebih besar dari pada kehilangan energi akibat
perubahan penampang, sehingga pada keadaan tersebut kehilangan energi akibat
perubahan penampang dapat diabaikan. Pada pipa pendek kehilangan energi akibat
perubahan penampang harus diperhitungkan. Untuk memperkecil kehilangan
energi akibat perubahan penampang, perubahan penampang dibuat secara
beransur-ansur.

a. Pembesaran Penampang

Perbesaran penampang mendadak dari aliran yang mengakibatkan kenaikan


tekanan dari P1 menjadi P2 dan kecepatan turun dari V1 menjadi V2.
METODE PENELITIAN
2.1 Alat dan Bahan
Alat yang kami gunakan pada praktikum modul 8 ini yaitu jaringan perpiaan
dengan diameter berbeda, hydraulic bench, gelas ukur, hand pressure meter,
stopwatch.
Untuk bahan yang kami gunakan adalah fluida jenis air.

Gambar 2.1 Stopwatch Gambar 2.2 Jaringan Perpipaan Gambar 2.3


Hand Pressure Meter

Gambar 2.4 Hydraulic Bench Gambar 2.5 Gelas Ukur

2.2 Cara Kerja


Sebelum memulai praktikum, pastikan alat dan bahan terlebih dahulu. Lalu
siapkan jaringan perpipaan kemudian konfigurasikan sistem untuk pengujian
pipa A dengan membuka dan menutup katup pengisi. Setelah itu, buka katup
kontrol aliran masukan hingga penuh. Kemudian aliran fluida masuk menuju H1
dan H2, ukur kehilangan tenaga pada pipa A. Sebelum mengambil data
pembacaan, katup tekanan harus diputar dengan memegang katup diatas tangki
volumetrik, lalu buka katup pada sambungan sampai semua udara keluar dari
tabung. Variasikan aliran yang melalui pipa uji dengan mengatur katup kontrol
arus keluaran pada bagian atas atau katup kontrol masuk pada bagian bawah.
Pada setiap perlakuan, ukur dan catat kehilangan tenaga dengan menggunakan
hand pressure meter dan debit. Bila karakteristik beda tekan aliran sudah
didapat untuk pipa A, lakukan perlakuan lain untuk pipa B, C, dan D secara
bergantian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1 Data Hasil Pengamatan

Diameter Panjang Headloss


Test
Perlakuan Pipa Pipa (L) (H1-2)
No.
(m) (m) (mH2O)
1 1 10-2 0.7 1055 x 10-2
2 2 10-2 0.7 1533 x 10-2
2 3 6 x 10-3 0.7 1957 x 10-2

Tabel 3.2 Data Hasil Pengamatan

Volume (V) Waktu (t) Debit (Q)


(m3) (s) (m3/s) K
V1 V2 t1 t2 Q1 Q2
10-2 10-3 24.73 1.40 4.04 x 10-4 7.14 x 10-4 2.96 x 10-3
10-2 10-3 21.03 1.53 4.76 x 10-4 6.54 x 10-4 5.12 x 10-3
10-2 10-3 58.17 4.12 1.72 x 10-4 2.43 x 10-4 3.68 x 10-3

*keterangan :

V1 = Volume Hydraulic Bench

V2 = Volume Gelas Ukur

t1 = Waktu Hydraulic Bench

t1 = Waktu Gelas Ukur

Q1 = Debit Hydraulic Bench


Q1 = Debit Gelas Ukur

K = Koefisien Kehilangan

Gambar 3.1 Pembacaan Skala Gambar 3.2 Pembacaan Skala Gambar 3.3 Pembacaan Skala
Headloss Perlakuan 1 D=0.01 m t1 Perlakuan 1 D=0.01 m t2 Perlakuan 1 D=0.01 m

Gambar 3.4 Pembacaan Skala Gambar 3.5 Pembacaan Skala Gambar 3.6 Pembacaan Skala
Headloss Perlakuan 2 D=0.01 m t1 Perlakuan 2 D=0.01 m t2 Perlakuan 2 D=0.01 m

Gambar 3.7 Pembacaan Skala Gambar 3.8 Pembacaan Skala Gambar 3.9 Pembacaan Skala
Headloss Perlakuan 2 D=0.006 m t1 Perlakuan 2 D=0.006 m t2 Perlakuan 2 D=0.006 m
3.2 Pembahasan

• Perlakuan 1 (Diameter 10-2)


- Debit
V1
Q1 = t1
0.01
= 24.73

= 4.04 x 10-4 m3/s


V2
Q2 = t2
0.001
= 1.40

= 7.14 x 10-4 m3/s


- Koefisien Kehilangan
Hf ·D5
K= L·Q22

1055 x 10−2 ·(10−2 )5


= 0.7·(7.14 x 10−4 )2

= 2.96 x 10-3
• Perlakuan 2 (Diameter 10-2)
- Debit
V1
Q1 = t1
0.01
= 21.03

= 4.76 x 10-4 m3/s


V2
Q2 = t2
0.001
= 1.53

= 6.54 x 10-4 m3/s


- Koefisien Kehilangan
Hf ·D5
K= L·Q22

1533 x 10−2 ·(10−2 )5


= 0.7·(6.54 x 10−4 )2

= 5.12 x 10-3
• Perlakuan 2 (Diameter 6 x 10-3)
- Debit
V1
Q1 = t1
0.01
= 58.17

= 1.72 x 10-4 m3/s


V2
Q2 = t2
0.001
= 4.12

= 2.43 x 10-4 m3/s


- Koefisien Kehilangan
Hf ·D5
K= L·Q22

1957 x 10−2 ·(6 x 10−3 )5


= 0.7·(2.43 x 10−4 )2

= 3.68 x 10-3

Perbandingan antara besar diameter dalam pipa yang divariasikan


terhadap besarnya nilai koefisien kehilangan memiliki pengaruh bahwa semakin
besar diameter dalam pipa akan membuat nilai koefisien semakin besar juga.
Jadi, perbandingan antara diameter dalam pipa dengan nilai koefisien
kehilangan berbanding lurus. Dibuktikan pada tabel 3.1 dan tabel 3.2, dimana
pada diameter dalam pipa 0.01m perlakuan 2 memiliki nilai koefisien
kehilangan lebih besar daripada diameter dalam pipa 0.006 m perlakuan 2.

Perbandingan antara debit dengan koefisien kehilangan dapat didapatkan


dari tabel 3.1 dan tabel 3.2, dimana pada setiap debit yang dimiliki akan
berbanding terbalik dengan nilai koefisien kehilangan tenaganya. Seperti, pada
diameter dalam pipa 0.006 m perlakuan 2, debit (Q2) didapatkan 0.000243
dengan nilai koefisien kehilangannya 0.00368 yang didapatkan dari perumusan
persamaan 1.1. Dibuktikan juga pada persamaan 1.1 nilai K dengan Q
berbanding terbalik.

KESIMPULAN

Penyebab terjadinya kehilangan tenaga dalam sistem perpipaan dikarenakan


adanya gesekan antara aliran fluida dengan permukaan dalam pipa yang digunakan.
Selain itu juga, kehilangan tenaga dikarenakan adanya gesekan karena tubrukan antar
molekul-molekul fluida tersebut.

Hubungan dari kehilangan tenaga terhadap diameter pipa dan panjang pipa pada
setiap perlakuan yang berbeda, bahwa diameter pipa dengan besarnya nilai kehilangan
tenaga itu memiliki hubungan yang berbanding lurus. Semakin besar diameter dan
semakin panjang yang dilalui sebuah aliran fluida, maka akan mendapatkan nilai
kehilangan tenaga yang besar.
DAFTAR PUSTAKA

Subirto, Pangeran Apriyono. (2017). GESEKAN ALIRAN MELALUI PIPA. Diakses dari
https://www.academia.edu/34110294/LAPORAN_MEKANIKA_FLUIDA_-
_GESEKAN_ALIRAN_MELALUI_PIPA.docx.

Widanarko, Aris. (2017). KEHILANGAN HEAD ALIRAN AKIBAT PERUBAHAN


PENAMPANG PIPA PVC. Diakses dari https://docplayer.info/44865268-Kehilangan-head-
aliran-akibat-perubahan-penampang-pipa-pvc-diameter-12-7-mm-0-5-inchi-dan-19-05-mm-
0-75-inchi.html

Zenir, Febri Irawan Putra. (5 Mar 2011). SISTEM ALIRAN TERTUTUP. Diakses dari
https://www.scribd.com/doc/50080215/Sistem-Aliran-Tertutup-Paper-Praktikum-Mekanika-
Fluida-Kelompok-1-Teknik-Pertanian-UNSRI
LAMPIRAN

Gambar 6.1 Data Hasil Perhitungan

Anda mungkin juga menyukai