Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI INTERNA HEWAN BESAR


Yang dilaksanakan di
PETERNAKAN DRH RIBUT HARTONO DAN
KAMPUNG SAPI ADVENTURE KOTA BATU

INDIGESTI SEDERHANA PADA SAPI

Oleh:
AZIZ ANINUR RAHMAN, S.KH
170130100011092

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
KATA PENGANTAR

Ucapan syukur penulis haturkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena


atas limpahan rahmat, hidayah dan pertolongan-Nya lah sehingga penulis dapat
menyelesaikan kegiatan dan laporan koasistensi Program Pendidikan Dokter
Hewan (PPDH) rotasi Interna Hewan Besar yang dilaksanakan di Peternakan Drh
Ribut Hartono dan Kampung Sapi Adventure Kota Batu. Penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Drh. Analis Wisnu Wardhana dan Drh. M. Arfan Lesmana selaku
penanggung jawab dan penguji kegiatan PPDH rotasi Interna Hewan
Besar.
2. Drh. Ribut Hartono dan Drh. Deddy F. Kurniawan yang telah banyak
membagikan ilmunya kepada penulis.
3. Teman sejawat PPDH Gelombang X Kelompok 4 atas kerjasama,
dorongan, semangat, inspirasi, keceriaan, dan kebersamaannya.
Penulis berharap semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas segala
kebaikan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis selama melaksanakan
koasistensi rotasi Interna Hewan Besar yang dilaksanakan di Peternakan Drh
Ribut Hartono dan Kampung Sapi Adventure Kota Batu. Penulis sadar bahwa
laporan ini jauh dari sempurna. Penulis berharap semoga laporan hasil koasistensi
rotasi Interna Hewan Besar ini dapat digunakan sebagaimana mestinya, dapat
memberikan manfaat serta menambah pengetahuan tidak hanya bagi penulis tetapi
juga bagi pembaca, Aamiin.

Malang, April 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii


KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................2
1.3 Tujuan .............................................................................................................2
1.4 Manfaat ...........................................................................................................2
BAB II STUDI KASUS ......................................................................................... 3
2.1 Sinyalemen .....................................................................................................3
2.2 Anamnesa .......................................................................................................3
2.3 Pemeriksaan Fisik ...........................................................................................3
2.4 Diagnosa .........................................................................................................3
2.5 Diagnosa Banding...........................................................................................4
2.6 Prognosa .........................................................................................................4
2.7 Terapi ..............................................................................................................4
BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................... 5
BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 13
4.1 Kesimpulan ...................................................................................................13
4.2 Saran .............................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
Gambar 2.1 Sapi Limousin yang terkena indigesti sederhana dan feses sapi
dengan konsistensi lembek ............................................................ 3
Gambar 3.1 Penyebab dan gejala pada indigesti sederhana ................................ 6

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ternak sapi di Indonesia merupakan salah satu sumber daya alam yang
dapat diperbaharui potensinya untuk dikembangkan guna meningkatkan dinamika
produktivitas pertumbuhan ekonomi yang memadai. Budi daya ternak sapi di
Indonesia telah berkembang sangat luas di seluruh wilayah dan daerah karena
beberapa keunggulannya antara lain: efisiensi reproduksinya sangat bagus, daya
adaptasi dengan lingkungan yang keras sudah sangat teruji, mudah dipelihara
untuk berbagai keperluan dalam suatu sistem usaha tani, serta mempunyai kualitas
daging dan susu yang sangat bagus (Andarman dkk., 2016). Ternak sapi, baik sapi
potong maupun sapi perah terus mengalami peningkatan secara populasi di
Indonesia. Pada tahun 2017, populasi ternak sapi potong mencapai 16,4 juta ekor
(meningkat 2,7% dari tahun 2016) dan populasi ternak sapi perah mencapai 540
ribu ekor (meningkat 1,22% dari tahun 2016) (Kementan, 2018).
Usaha ternak sapi potong merupakan usaha yang saat ini banyak dipilih
oleh rakyat untuk dibudidayakan. Kemudahan dalam melakukan budidaya serta
kemampuan ternak untuk mengkonsumsi limbah pertanian menjadi pilihan utama.
Sebagian besar skala kepemilikan sapi potong di tingkat rakyat masih kecil yaitu
antara 5 sampai 10 ekor. Hal ini dikarenakan usaha ternak yang dijalankan oleh
rakyat umumnya hanya dijadikan sampingan yang sewaktu-waktu dapat
digunakan jika peternak memerlukan uang dalam jumlah tertentu (Indrayani dan
Andri, 2018). Keberhasilan usaha sapi potong, baik penghasil bibit (breeding)
maupun penggemukan (fattening), sangat tergantung dari kesehatan ternak.
Sehingga penanganan, pengendalian dan pencegahan penyakit harus menjadi
prioritas utama. Satu diantara banyak penyakit atau gangguan yang mengganggu
kesehatan ternak adalah indigesti sederhana. Oleh karena itu, dilaksanakannya
Program Pendidikan Dokter Hewan (PPDH) FKH UB rotasi Interna Hewan Besar
di peternakan drh Ribut Hartono dan Kampung Sapi Adventure kota Batu
diharapkan menjadi sarana pembelajaran pada calon dokter hewan untuk

1
mendiagnosa dan menangani kasus penyakit pada hewan besar terutama kasus
indigesti sederhana pada sapi potong.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana tindakan penanganan kasus penyakit indigesti sederhana pada
sapi potong yang dilaksanakan di peternakan rakyat Kota Batu, Jawa
Timur?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka diperoleh
tujuan diantaranya:
1. Bagaimana tindakan penanganan kasus penyakit indigesti sederhana pada
sapi potong yang dilaksanakan di peternakan rakyat Kota Batu, Jawa
Timur?

1.4 Manfaat
Manfaat dari kegiatan Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) rotasi
Interna Hewan Besar (IHK) di peternakan drh Ribut Hartono dan Kampung Sapi
Adventure kota Batu adalah mampu melakukan prosedur pemeriksaan kesehatan,
menentukan diagnosa, serta merancang terapi pada kasus penyakit yang terjadi
pada hewan besar.

2
BAB II
STUDI KASUS

2.1 Sinyalemen
Jenis Hewan : Sapi
Ras : Limousin
Jenis Kelamin : Jantan
Warna Rambut : Coklat
Umur : 7 bulan

Gambar 2.1 Sapi Limousin yang terkena indigesti sederhana dan feses sapi dengan
konsistensi lembek (Dokumentasi pribadi)

2.2 Anamnesa
Feses lembek, anorexia, tidak ada regurgitasi.

2.3 Pemeriksaan Fisik


Sapi terlihat lesu, malas bergerak dan matanya tidak bersinar. Kulit dan
rambut tampak kusam dan bola mata tampak cekung. Pada rumen, ketika
dipalpasi tidak terdeteksi adanya gerakan rumen dan terdapat reflek kesakitan.
Hasil pemeriksaan suhu tubuh menunjukkan hewan dalam keadaan hipotermia
(37°C). Frekuensi pernapasan terhitung meningkat menjadi sekitar 60 bpm.

2.4 Diagnosa
Indigesti sederhana.

3
2.5 Diagnosa Banding
• Traumatic reticuloperitonitis
• Left displaced abomasum
• Ketosis
• Lactic acidosis
• Rumen alkalosis
• Rumen putrefaction
• Vagal indigestion
• Peritonitis
• Hipokalsemia
• Penyakit sistemik lainnya yang dapat menyebabkan anorexia

2.6 Prognosa
Fausta.

2.7 Terapi
Terapi yang diberikan adalah pemberian antibiotik serta analgesik.
Antibiotik yang digunakan adalah Oxytetracycline dengan dosis 20 mg/kgBB IM
dosis tunggal karena obat yang bersifat long-acting. Analgesik yang digunakan
adalah Metamizole dengan dosis 40 mg/kgBB IM.

4
BAB III
PEMBAHASAN

Istilah indigesti digunakan untuk menggambarkan sindrom klinis yang


bersifat kompleks pada sapi, mulai dari fermentasi berlebihan dari pakan dan
produksi gas dalam saluran pencernaan hingga inflamasi pada usus dan bentuk
penyakit yang lebih parah seperti asidosis laktat. Seperti yang telah umum
diketahui, rumen merupakan organ pencernaan yang paling sering terkena
indigesti, kemudian usus halus dan usus besar. Perubahan mikroba usus, motilitas
usus, dan pH luminal, sering dihasilkan dari konsumsi pakan yang memicu
fermentasi abnormal, yang kemudian berlanjut pada kejadian indigesti. Gangguan
pada rumen dan usus halus bisa terjadi secara bersamaan atau sendiri-sendiri
(Peek dan Divers, 2018). Istilah indigesti digunakan apabila tidak dapat
ditentukan perubahan patologis yang bersifat menciri seperti ruminitis, retikulitis,
dan lainnya. Indigesti dapat dibagi menjadi indigesti akut dan indigesti kronis
(vagal). Indigesti akut kemudian dapat dibagi lagi menjadi berikut ini (Subronto,
2007).
a. Indigesti sederhana atau simpleks
b. Indigesti asam (asidosis rumen)
c. Alkalosis rumen
d. Kembung rumen (bloat, timpani rumen)
e. Indigesti toksemia
Indigesti sederhana merupakan sindrom gangguan pencernaan yang
berasal dari daerah rumen. Kebanyakan kejadian timbul sebagai akibat perubahan
pakan yang mendadak, terutama pada hewan muda yang mulai mendapatkan
pakan untuk sapi dewasa. Hewan yang terlalu letih, atau sehabis makan terus
dipekerjakan lagi, akan banyak yang menderita indigesti (Subronto, 2007).
Indigesti sederhana juga dapat muncul akibat akumulasi pakan yang tidak dapat
tercerna dengan baik dalam rumen sehingga akan menggunggu fungsi normal dari
rumen (Chase et al., 2017).

5
Penyebab lainnya dari indigesti sederhana selain perubahan pakan secara
mendadak dan pemberian pakan yang tidak dapat dicerna dengan baik adalah
pemberian jenis pakan yang mengandung kadar protein yang terlalu tinggi, pakan
yang berjamur, pakan yang terlalu panas atau terlalu dingin, serta berlebihan
dalam memberikan konsentrat pada sapi (Anderson dan Rings, 2008). Sapi yang
tidak diberikan air minum secara ad libitum juga akan sering mengalami indigesti
sederhana terutama pada musim panas. Penyebab lainnya selain yang
berhubungan dengan pakan adalah pemberian terapi antibiotik oral yang
berkepanjangan yang dapat menurunkan populasi mikroba dalam rumen
(Cockcroft, 2015). Semua penyebab yang telah disebutkan akan menyebabkan
mikroba yang tersisa dalam rumen menghasilkan produk fermentasi yang berefek
pada penurunan absorpsi nutrisi dalam rumen, penurunan motilitas bahkan
terhentinya motilitas rumen apabila pH dalam rumen mencapai 4-5 derajat (Chase
et al., 2017). Berikut adalah diagram alir patogenesa dan etiologi dari indigesti
sederhana.

Gambar 3.1 Penyebab dan gejala pada indigesti sederhana (Elghany, 2014)

6
Gejalan klinis yang umum terjadi adalah anorexia, penurunan produksi
susu, ekstremitas yang terasa dingin, disfungsi pada rumen dan terdapat
kemungkinan untuk berkembangnya ketosis jika terjadi pada awal masa laktasi.
Kolik umum terjadi jika indigesti juga terdapat pada usus halus. Meskipun atoni
rumen atau hipoaktivitas rumen sering ditemukan pada indigesti sederhana,
terkadang pada beberapa kasus yang ditemukan adalah peningkatan kontraksi
rumen, tetapi dengan penurunan kekuatan kontraksi. Suhu tubuh, denyut jantung,
dan laju respirasi sering terhitung normal pada kasus indigesti sederhana, meski
demikian terkadang takikardia dan takipnea muncul sebagai respon dari rasa sakit
akibat kolik serta metabolik asisdosis. Distensi abdomen dapat terjadi berkaitan
dengan distensi pada rumen, sedangkan distensi gas atau cairan yang terjadi pada
kuadran bawah kanan abdomen mempresentasikan adanya distensi pada usus
halus. Distensi pada usus halus akibat indigesti terkadang dapat teraba melalui
pemeriksaan rektal (Peek dan Divers, 2018).
Pada kasus yang terjadi di peternakan rakyat kota Batu, sapi limousin yang
terdiagnosa indigesti sederhana menunjukkan gejala nafsu makan dan minum
yang menurun. Sapi kemudian akan menjadi dehidrasi dan kekurangan nutrisi
serta tenaga, sehingga sapi tampak lesu serta bola mata tampak cekung. Rumen
tidak terpalpasi pergerakannya disebabkan mengalami indigesti sederhana.
Hipotermia yang terjadi dikarenakan menurunnya metabolisme dalam tubuh sapi
sehingga mengurangi produksi panas dalam tubuh, sedangkan takipnea
merupakan kompensasi dari metabolik asidosis yang sedang dialami oleh sapi.
Metabolik asidosis merupakan keadaan menurunnya kadar pH dan bikarbonat
dalam tubuh. Keseimbangan asam basa dalam tubuh bergantung pada kadar
karbon dioksida (CO2), ion bikarbonat (HCO3-), serta senyawa asam lainnya
dalam tubuh. Mekanisme tubuh dalam mengkompensasi menurunnya kadar
HCO3- akibat digunakan untuk menetralisir kelebihan asam dalam tubuh adalah
dengan cara banyak mengeluarkan CO2 yang bersifat asam melalui pernapasan.
Hal tersebut kemudian akan membuat sapi teramati frekuensi pernapasannya
dalam keadaan takipnea.

7
Penegakan diagnosa indigesti sederhana biasanya didasarkan pada gejala
klinis serta pemeriksaan pada pakan yang diberikan. Pemeriksaan klinis secara
menyeluruh dilakukan untuk memetakan penyebab dari anorexia, diare dan atoni
rumen yang muncul (Scott et al., 2011). Diagnosa penunjang yang dapat
membantu menegakkan diagnosa indigesti sederhana adalah Complete Blood
Count (CBC) dan biokimia darah yang biasanya mengindikasikan adanya
dehidrasi dan azotemia prerenal yang direfleksikan oleh peningkatan konsentrasi
protein total, hematokrit, urea nitrogen, dan kreatinin. Pengujian laboratoris
lainnya adalah dengan mengambil cairan rumen kemudian diperiksa pH dan
secara mikroskopis. Derajat pH cairan rumen pada kasus indigesti sederhana
dapat bervariasi, terkadang bersifat asam (<6) dan terkadang bersifat basa (>7)
bergantung pada pakan yang diberikan dan durasi terjadinya kasus tersebut (Chase
et al., 2017). Secara mikroskopis, pada pemeriksaan cairan rumen ditemukan
adanya penurunan aktivitas dan jumlah protozoa serta memanjangnya durasi dari
uji reduksi New Methylene Blue (NMB) menjadi lebih dari 6 menit. Uji reduksi
NMB berguna untuk mengetahui jumlah bakteri anaerob fungsional pada rumen
yang dapat mengubah atau mereduksi warna dari NMB menjadi tidak berwarna.
Semakin cepat perubahan warna yang terjadi, maka semakin banyak bakteri
anaerob fungsional yang membantu proses fermentasi normal dalam rumen (Peek
dan Divers, 2018). Pada kasus yang ditangani, diagnosa-diagnosa penunjang
tersebut tidak dilaksanakan sehingga penegakan diagnosa praktis hanya
mengandalkan gejala klinis, pemeriksaan klinis dan anamnesa dari pemilik hewan
serta mempertimbangkan diferensial diagnosa dari indigesti sederhana.
Diferensial diagnosa dari indigesti sederhana menurut Elghany (2014)
adalah sebagai berikut.
1. Ketosis
• Ketonuria (positif pada uji Rother)
• Pergerakan rumen lebih lemah
• Produksi susu menurun pada beberapa hari
2. Traumatic reticuloperitonitis
• Anorexia secara tiba-tiba, agalactia
8
• Demam
• Respon kesakitan pada saat palpasi di bagian xiphoideus os sternum
• Rumen tidak ada pergerakan dan mengecil ukurannya
3. Left displaced abomasum
• Ketonuria dan rumen yang mengecil saat palpasi
• Terjadi biasanya beberapa hari setelah kelahiran
• Suara *ping* saat perkusi pada bagian kiri bawah flank
• Kontraksi rumen melemah kekuatannya
4. Vagal indigestion
• Distensi abdomen secara bertahap karena adanya distensi dari rumen
selema beberapa hari
• Dehidrasi secara progresif dan feses yang dikeluarkan sedikit
• Frothy bloat dan disertai dengan atoni rumen
5. Hipokalsemia
• Atoni rumen dan anorexia pada tahap awal
• Teramati adanya proses perbaikan setelah diterapi dengan Kalsium
boroglukonat
Terapi yang diberikan pada sapi indigesti sederhana adalah antibiotik dan
analgesik. Antibiotik berguna untuk mencegah atau mengatasi bakteremia jika
indigesti sederhana tersebut berlanjut hingga menjadi rumenitis, sedangkan
analgesik diberikan bertujuan untuk menurunkan respon sakit yang terjadi (Chase
et al., 2017). Pada kasus sapi indigesti sederhana di peternakan rakyat Batu, terapi
yang digunakan adalah Oxytetracycline sebagai antibiotik dan Metamizole
sebagai analgesik.
Oxytetracycline adalah antibiotik yang bekerja dengan cara mengikat
ribosom subunit 30S dan menghambat protein sintesis sehingga biasanya bersifat
bakteriostat. Antibiotik ini memiliki spektrum luas, termasuk diantaranya adalah
bakteri gram positif, bakteri gram negatif dan beberapa protoza seperti Rickettsiae
dan Ehrlichiae (Papich, 2016). Metamizole merupakan antipiretik, analgesik dan
antiinflamasi yang banyak digunakan dalam dunia kedokteran hewan. Mekanisme

9
kerjanya adalah menghambat membentukan prostaglandin melalui aksi hambatan
pada kerja enzim cyclooxygenase (COX) baik COX-1, COX-2 dan COX-3.
Metamizole sering digunakan sebagai terapi pada pasien yang mengalami kolik
pada gastrointestinal (Jasiecka et al., 2014).
Bersamaan dengan pemberian kedua obat tersebut, pemilik hewan juga
diberi saran untuk mencekoki sapi yang terkena indigesti sederhana dengan soda
kue sebanyak kira-kira 100-200 gram sebagai terapi tambahan. Pemberian soda
kue yang berisi beberapa senyawa basa yang salah satunya adalah Natrium
bikarbonat berguna untuk meredakan asidosis yang terjadi dalam rumen sapi
(Subronto, 2007). Selain itu, untuk mengatasi keadaan asidosis yang dapat
memperparah indigesti sederhana, maka produksi salivasi dan ruminasi harus
ditingkatkan dengan cara memberi banyak hijauan dan serat kasar serta
mengurangi pemberian pakan konsentrat (Sudono dkk., 2003). Terapi suportif
lainnya dapat diberikan pada sapi sesuai kebutuhan. Keadaan dehidrasi yang
biasanya menyertai indigesti sederhana, dapat diberikan terapi cairan secara per
oral maupun parenteral. Pada kejadian asidosis yang terjadi, pemilihan jenis
cairan infus didasarkan pada kemampuan untuk meningkatkan kadar HCO3- yang
kemudian dapat menetralisir kelebihan asam dalam tubuh. Cairan Ringer Laktat
sering menjadi pilihan utama untuk mengatasi asidosis yang terjadi. Dosis yang
dapat digunakan pada sapi yang dehidrasi adalah 20 ml/kgBB/jam dengan dosis
maintenance nya adalah 2-4 ml/kgBB/jam (Chase et al., 2017). Pemberian
mineral seperti kalsium, magnesium serta fosfat dapat ditambahkan pada pakan
untuk mengatasi defisit mineral yang terjadi selama sapi mengalami gangguan
pada saluran pencernaan.
Terapi secara farmakologis berdasarkan gejala klinis yang muncul untuk
indigesti sederhana menurut Elghany (2014) adalah sebagai berikut.
1. Rumenatorik
• Tartar emetik 10-12 g per oral dilarutkan dalam air
• Parasimpatomimetik
- Carbamyl choline chloride - physostagmine 2-5 mg/100kgBB

10
Carbamyl choline chloride berguna merangsang kontraksi
muskulus tetapi kontraindikasi untuk digunakan pada sapi yang
bunting dan peritonitis
- Neostagmin 2-5mg/45kgBB (paling efektif digunakan)
2. Purgatif
• Mineral oil seperti Paraffin oil bekerja sebagai purgatif mekanik
yang akan menyelimuti partikel makanan dan melubrikasinya agar
degan mudah melalui saluran pencernaan
• Saline purgatif seperti garam Epsim (0,5-1 kg per oral), yang bekerja
dengan cara meningkatkan volume cairan dalam usus dan berefek
pada stimulasi terhadap gerakan peristaltik usus
3. Stomachic
• Obat-obatan stomachic bekerja dengan cara meningkatkan nafsu
makan sehingga memicu kontraksi lambung.
• Dapat digunakan preparat strychnine hingga maksimal 65 mg single
dose (seperti Vapcodigest®, Stomavetic Digestine®, dan lain-lain)
4. Gastric Stimulant
• Menggunakan resep seperti berikut
- Amonium carbonat 16 g
- Minyak Turpentine 30 cc
- Minyak Linseed hingga 1 liter
- Diberikan 3 kali dengan interval 12 jam
5. Pengatur pH lambung
• Pada kasus peningkatan keasaman, dapat digunakan zat alami yang
bersifat basa seperti berikut
- Magnesium hidroksida 500 g yang dilarutkan dalam air
- Sodium bikarbonat 200-500 g per oral, atau secara IV dengan
konsentrasi 2.5-5%
• Pada kasus peningkatan kebasaan, dapat digunakan zat alami yang
bersifat asam seperti berikut

11
- Cuka 50-100 ml
- Asam asetat 5% (2ml/kgBB)
6. Antihistamin
• Digunakan untuk mengoreksi efek samping histamin yang dapat
menyebabkan atoni rumen
7. Transfaunation cairan rumen
• Rekonstitusi mikroba yang secara alami berada dalam rumen yang
sebelumnya banyak berkurang populasinya akibat perubahan pH
cairan rumen pada sapi yang sakit
• Mikroba rumen dapat diambil dari Rumah Potong Hewan (RPH) dari
cairan rumen sapi sehat yang telah dipotong (1-2 liter) untuk
kemudian diberikan pada sapi yang mengalami indigesti sederhana
Pencegahan untuk indigesti sederhana, adalah melalui pengontrolan
manajemen pakan dengan tidak sering memberikan pakan dengan kandungan
sereal tinggi atau karbohidrat yang mudah terfermentasi, serta banyak
memberikan pakan hijauan yang kandungan seratnya tinggi mencapai 10-15%
dari berat kering hijauan untuk merangsang salivasi dan ruminasi. Selalu
menghindari penggantian jenis pakan secara tiba-tiba. Penggantian pakan
disarankan dilakukan secara bertahap dalam waktu sekitar 10-14 hari. Pemberian
air minum harus selalu tersedia (Chase et al., 2017). Indigesti sederhana yang
dapat segera teratasi dengan baik akan mencegah peternak mengalami penurunan
keuntungan akibat sapi yang menurun produksinya atau melambat kenaikan berat
badannya. Edukasi terhadap klien yang dapat diberikan adalah saran agar pakan
yang diberikan jangan terlalu sering untuk diganti, pakan harus selalu diperiksa
kerusakan dan kontaminasinya, serta pakan yang disimpan seperti silase harus
aman dari kerusakan akibat lingkungan sekitar.

12
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Indigesti sederhana merupakan sindrom gangguan pencernaan yang
berasal dari daerah rumen. Kebanyakan kejadian timbul sebagai akibat perubahan
pakan yang mendadak, pemberian jenis pakan yang mengandung kadar protein
yang terlalu tinggi, pakan yang berjamur, pakan yang terlalu panas atau terlalu
dingin, berlebihan dalam memberikan konsentrat pada sapi, serta pemberian terapi
antibiotik oral yang berkepanjangan yang dapat menurunkan populasi mikroba
dalam rumen. Pada kasus indigesti sederhana di peternakan rakyat kota Batu, sapi
diberikan terapi berupa antibiotik Oxytetracycline dan analgesik Metamizole.
Selain itu, pemilik hewan juga diberi saran untuk memberikan soda kue pada sapi,
mengurangi pemberian konsentrat dan meningkatkan pemberian hijauan dengan
kadar serat yang tinggi.

4.2 Saran
Disarankan untuk melaksanakan pemeriksaan darah, meskipun jarang
dilakukan dilapangan, guna meningkatkan ketepatan diagnosa pada kasus
penyakit yang terjadi di hewan besar. Obat-obatan parasimpatomimetik juga lebih
baik digunakan untuk merangsang kontraksi dari saluran pencernaan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Andarman., Y. Bobihu dan R. Faisal. 2016. Sistem Informasi Diagnosa Penyakit


Ternak Sapi Berbasis Web (Studi Kasus Pada Dinas Pertanian dan
Peternakan Kota Bima Nusa Tenggara Barat). Makassar: Universitas
Islam Negeri (UIN) Alauddin

Anderson, D.E., dan M. Rings. 2008. Current Veterinary Therapy: Food Animal
Practice. Missouri: Elsevier Inc

Chase, C.C.L., K.A. Lutz, E.C. McKenzie, dan A. Tibary. 2017. Blackwell’s Five-
Minute Veterinary Consult Ruminant, 2nd Edition. Hoboken: John Wiley &
Sons Inc

Cockroft, P. 2015. Bovine Medicine, 3rd Edition. Oxford: John Wiley & Sons Ltd

Elghany, A.E.H.A. 2014. Guide in Ruminant Medicine, 2nd Edition. Benha: Benha
University

Indrayani, I., dan Andri. 2018. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan


Usaha Ternak Sapi potong di Kecamatan Sitiung, Kabuaten Dharmasraya.
Jurnal Peternakan Indonesia 20(3): 151-159

Jasiecka, A., T. Maslanka dan J.J. Jaroszewski. 2014. Pharmacological


Characteristics of Metamizole. Polish Journal of Veterinary Sciences
17(1): 207–214

Kementerian Pertanian [Kementan]. 2018. Statistik Peternakan dan Kesehatan


Hewan 2018. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia

Papich, M.G. 2016. Saunders Handbook of Veterinary Drugs: Small and Large
Animals, 4th Edition. Missouri: Elsevier Inc

Peek, S.F., dan T.J. Divers. 2018. Rebhun’s Diseases of Dairy Cattle, 3rd Edition.
Missouri: Elsevier Inc

Scott, P.R., C.D. Penny, dan A.I. Macrae. 2011. Cattle Medicine. London:
Manson Publishing Ltd

14
Subronto. 2007. Ilmu Penyakit Ternak II (Mammalia). Yogyakarta: Gajah Mada
University Press

Sudono, A., R.F. Rosdiana dan B.S. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara
Intensif. Malang: Agromedia Pustaka

15