Anda di halaman 1dari 7

Percobaan V

Rangkaian AC
Andreas Juan Daniel Simorangkir (14S16060)
Tanggal Percobaan : 08/12/2017
[ELS2102] [Rangkaian Elektronika]
[Laboratorium dasar Teknik Elektro] – Teknik Elektro
Institut Teknologi Del

Abstrak— On this Practice, will be discussed about AC II. LANDASAN TEORETIS


circuit. In this practice 5 experiments are written on the
module, namely: RC circuit, RL circuit, Differentiator circuit, A. Arus AC
and last Frequency observed in the frequency domain. Tools
used are circuit kits, signal generators, oscilloscopes, and
multimeters. Expected after practice, we can understand the
concept of impedance and its relation to RC & RL circuit.

Kata Kunci—circuits, frequency, impedance, relation.

I. PENDAHULUAN

P ADA praktikum modul 5 ini akan dibahas mengenai


Rangkaian arus AC (bolak-balik). Dalam arus AC, bentuk
gelombang nya sinus, impedansi adalah perbandingan phasor Arus listrik AC (alternating current), merupakan listrik yang
tegangan dan pashor arus. Hubungan arus dan tegangan tersebut besarnya dan arah arusnya selalu berubah-ubah dan bolak-
dapat terlihat dari persamaan berikut : V = R . I ; V = L di/dt ; I balik. Arus listrik AC akan membentuk suatu gelombang yang
= C dv/dt. Pada arus dan tegangan AC, kapasitor dan inductor dinamakan dengan gelombang sinus atau lebih lengkapnya
dapat dimodelkan sebagai sebuah hambatan yang tergantung sinusoida. Di Indonesia sendiri listrik bolak-balik (AC)
terhadap nilai frekuensi tegangan. Hambatan tersebut memiliki dipelihara dan berada dibawah naungan PLN, Indonesia
satuan ohm seperti hambatan namun bersifat imajiner dalam menerapkan listrik bolak-balik dengan frekuensi 50Hz.
perhitungan. Karena hambatannya tergantung terhadap Tegangan standar yang diterapkan di Indonesia untuk listrik
frekuensi maka tegangan pada kedua komponen tersebut pun bolak-balik 1 (satu) fasa adalah 220 volt.
bergantung pada frekuensi. Hal ini membuatnya bisa digunakan
sebagai filter sederhana dengan outputnya diambil pada B. Rangkaian RC
tegangan di komponen tersebut. Perilaku yang tergantung
frekuensi tersebut dapat dilihat di plot Bode dari rangkaian
tersebut.

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:


 Memahami konsep impedansi dalam arti fisik
 Memahami hubungan antara impedansi resistansi dan
reaktansi pada rangkaian seri RC dan RL
 Memahami hubungan tegangan dan arus pada
rangkaian seri RC dan RL
 Mengukur pada fasa tegangan dan arus pada rangkaian
seri RC dan RL
Menurut hukum Kirchoff II (KVL), dapat ditulis :
 Memahami “response” terhadap frekuensi pada
rangkaian seri RC dan RL 1
𝑉𝑖 = 𝑅𝑖 + ∫ 𝑖. 𝑑𝑡
𝐶
radio .Mereka juga dapat digunakan bersamaan
Vi = VR + VC dengan filter low-pass untuk menghasilkan filter
bandpass .
Filter high-order elektronik high-pass sederhana
Tegangan resistor VR sefasa dengan I sedangkan tegangan
kapasitor VC ketinggalan 90o dari arus. Arus total mendahului yang ditunjukkan pada Gambar 1 diimplementasikan
antara 0o s/d. 90o. Sudut ketertingalan vi ( Ѳ ) ditentukan oleh dengan menempatkan tegangan masukan pada kombinasi
perbandingan reaktansi dan resistansinya. Beda fasa antara VC seri kapasitor dan resistor dan menggunakan voltase di
dan i, atau vi dan i dapat dilihat dengan membandingkan beda resistor sebagai keluaran. Produk dari resistansi dan
fasa. kapasitansi ( R × C ) adalah konstanta
waktu (τ);berbanding terbalik dengan frekuensi cutoff f c .
C. Differentiator Filter high-pass atau sering juga disebut dengan
filter lolos atas adalah suatu rangkaian yang
Bila output diambil pada resistor
akan melewatkan suatu isyarat yang berada diatas
VO = VR, untuk VC >> VR frekuensi cut-off (ωc) sampai frekuensi cut-off (ωc)
rangkaian tersebut dan akan menahan isyarat yang
berfrekuensi dibawah frekuensi cut-off (ωc)rangkaian
tersebut. Filter high-passs dasar disusun
Maka akan diperoleh Vi ≈ VC sehingga, dengan rangkaian RC seperti berikut.
1
𝑉𝑖 ≈ ∫ 𝑖 𝑑𝑡
𝐶

Atau,
𝑑𝑣𝑡
𝑖 ≈𝐶
𝑑𝑡

Dengan demikian diperoleh hubungan output (Vo = VR) dengan


input (Vi) sebagai berikut :

𝑑𝑣𝑡
Prinsip kerja dari filter high pass atau filter lolos atas
𝑉𝑜 = 𝑅𝐶 + adalah dengan memanfaatkan karakteristik dasar
𝑑𝑡
komponen C dan R, dimana C akan mudah melewatkan
sinyal AC sesuai dengan nilai reaktansi kapasitifnya dan
Rangkaian dengan persyaratan ini dikenal sebagai rangkaian komponen R yang lebih mudah melewatkan sinyal
differentsiator. Dalam bentuk phasornya, persyaratan di atas dengan frekuensi yang rendah. Prinsip kerja rangkaian
dapat dituliskan sebagai nerikut: filter lolos atas atau high pass filter (HPF) dengan RC
dapat diuraikan sebagai berikut, apabila rangkaian filter
VC >>VR atau ῡC>> ῡR high pass ini diberikan sinyal input dengan frekuensi
1
Ī ≫ 𝑅Ī diatas frekuensi cut-off (ωc) maka sinyal tersebut akan
𝑗𝑤𝑐 di lewatkan ke output rangkaian melalui komponen C.
Kemudian pada saat sinyal input yang diberikan ke
D. High Pass Filter rangkaian filter lolos atas atau high pass filter memiliki
Filter high-pass (HPF) adalah filter frekuensi di bawah frekuensi cut-off (ωc) maka sinyal
elektronik yang melewati sinyal denganfrekuensi lebih input tersebut akan dilemahkan dengan cara dibuang ke
tinggi dari frekuensi cutoff tertentu ground melalui komponen R.
dan melemahkan sinyal dengan frekuensi yang lebih Sinyal output rangkaian filter high-pass mendahului
rendah dari frekuensi cutoff. Jumlah atenuasiuntuk setiap inputnya yaitu sebesar :
frekuensi tergantung pada desain filter. Filter high-pass
biasanya dimodelkan sebagai sistem invarian linier
linier . Terkadang disebut filter low-cut atau filter bass-
cut . Filter high-pass memiliki banyak kegunaan, seperti
menghalangi DC dari sirkuit yang sensitif terhadap
voltase rata-rata yang tidak nol atau perangkat frekuensi
E. Integrator

Op-amp bisa juga digunakan untuk membuat


rangkaian-rangkaian dengan respons frekuensi, misalnya
rangkaian penapis (filter). Rangkaian dasar sebuah
integrator adalah rangkaian op-amp inverting, hanya saja
rangkaian umpanbaliknya (feedback) bukan resistor
melainkan menggunakan capasitor C.
Rangkaian integrator banyak digunakan dalam
“computer analog” sebagai alat untuk memecahkan
persamaan integral. Sirkuit ini dapat di buat dengan
menempatkan kapasitor pada input dan output terbalik
dan tidak ada reverse input dibumikan.

F. Low Pass Filter


Filter low-pass ( LPF ) adalah filter yang
melewati sinyal dengan frekuensilebih rendah
dari frekuensi cutoff tertentu dan melemahkan sinyal
dengan frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi
cutoff. Respons frekuensi yangtepat dari filter tergantung
pada desain filter . Filter kadang-kadang disebut filter
berpotongan tinggi , atau filter treble-cut pada aplikasi
Mari kita coba menganalisa rangkaian ini. audio. Filter low-pass adalah pelengkap filter high-pass .
Prinsipnya sama dengan menganalisa rangkaian op-amp
Filter low-pass ada dalam berbagai bentuk, termasuk
inverting. Dengan menggunakan 2 aturan op-amp (golden
sirkuit elektronik seperti filter hiss yang digunakan
rule) maka pada titik inverting akan didapat hubungan
pada filter audio , anti-aliasing untuk sinyal
matematis :
pengkondisian sebelum konversi analog-ke-digital , filter
digital untuk set data smoothing, hambatan
akustik, kabur gambar, dan sebagainya.Operasi rata-rata
bergerak yang digunakan di bidang keuangan adalah jenis
filter low-pass tertentu, dan dapat dianalisis dengan
teknikpemrosesan sinyal yang sama seperti yang
Maka jika disubtisusi, akan diperoleh persamaan : digunakan untuk filter low-pass lainnya. Filter low-pass
memberikan bentuk sinyal yang lebih halus,
menghilangkan fluktuasi jangka pendek, dan
Dari sinilah nama rangkaian ini diambil, karena meninggalkan tren jangka panjang.
secara matematis tegangan keluaran rangkaian ini
merupakan fungsi integral dari tegangan input. Sesuai Desainer filter akan sering menggunakan low-pass
dengan nama penemunya, rangkaian yang demikian form sebagai prototype filter . Artinya, filter dengan
dinamakan juga rangkaian Miller Integral. Aplikasi yang bandwidth dan impedansi seimbang. Filter yang
paling populer menggunakan rangkaian integrator adalah diinginkan diperoleh dari prototipe dengan menskalakan
rangkaian pembangkit sinyal segitiga dari inputnya yang bandwidth dan impedansi yang diinginkan dan
berupa sinyal kotak. Dengan analisa rangkaian integral mengubahnya menjadi bentuk band yang diinginkan
serta notasi Fourier, dimana : (yaitu low-pass, high-pass, band-pass atau band-stop ).
f = 1/t dan . Batas frekuensi antara sinyal yang dapat diteruskan
dan yang diredam disebut dengan frekuensi cut-off.
Frekuensi cut-off dapat ditentukan dengan perhitungan
sebagai berikut:
Dimana:
R: Nilai hambatan
C: Nilai kapasitor
Low-pass filter yang dirangkai dengan high-pass
filter (filter yang meneruskan frekuensi tinggi) akan
membentuk filter baru, yaitu band-pass
filter (meneruskan sinyal pada jangkauan frekuensi
tertentu) ataupun band-stop filter (menghambat sinyal
pada frekuensi tertentu).

G. Rangkaian RL Rangkaian R-L seri, sifat rangkaian seri dari


sebuah resistor dan sebuah induktor yang dihubungkan
Gambar 2-2 Rangkain RL sederhana
dengan sumber tegangan bolak-balik sinusioda adalah
terjadinya pembagian tegangan secara vektoris. Arus (i)
yang mengalir pada hubungan seri adalah sama besar.
Arus (i) tertinggal 90 derajad terhadap tegangan induktor
(VL). Tidak terjadi perbedaan fasa antara tegangan jatuh
pada resistor (vR) dan arus (i). Gambar berikut
memperlihatkan rangkaian seri R-L dan hubungan arus
(i), tegangan resistor (vR) dan tegangan induktor (vL)
secara vektoris.
Melalui reaktansi induktif (XL) dan resistansi (R)
Menurut Kirchoff II(KVL) Vi = VR + VL sehingga arus yang sama i = im.sin ω t. Tegangan efektif (v) = i.R
Untuk sinyal berbentuk sinusoidal, VR sefasa dengan I dan vi berada sefasa dengan arus (i). Tegangan reaktansi induktif
mendahului terhadap I (dengan sudut atara 0o dan 90o). Sama (vL) = i.XL mendahului 900 terhadap arus (i). Tegangan
seperti pada rangkaian RC, sudut θ ditentukan oleh gabungan vektor (v) adalah jumlah nilai sesaat dari
perbandingan reaktansi dan resistansinya. Beda fasa antara VL tegangan resistor (vR) dan tegangan induktif (vL), dimana
dan I, atau antara vi dan I dapat dilihat dengan
membandingakan beda fasa VL dan VR, atau vi dan VR 3.
tegangan ini juga mendahului sebesar φ terhadap arus (i).
Metodologi 3.1 Alat yang digunakan 1. Kit Rangkaian RC & Dalam diagram fasor aliran arus (i), yaitu arus yang
RL (1 buah) 2. Generator sinyal (1 buah) 3. Osiloskop (1 buah) mengalir melalui resistor (R) dan reaktansi induktif (XL)
4. Multimeter (1 buah) diletakan pada garis t = 0. Fasor (vektor fasa) tegangan
jatuh pada resistor (vR) berada sefasa dengan arus (i),
Rangkaian RL adalah sebuah rangkaian yang terdiri fasor tegangan jatuh pada induktor (vL) mendahului
dari resistor atau hambatan dan inductor, yang terhubung sejauh 900.
secara langsung terhadap simber arus atau sumber Tegangan gabungan (v) adalah diagonal dalam persegi
tegangan. Bila kontak saklar ditutup maka arus didalam panjang dari tegangan jatuh pada reaktansi induktif (vL)
hambatan mulai naik. Seandainya inductor tersebut tidak dan tegangan jatuh pada resistif (vR). Sudut antara
ada , maka arus akan naiak dengan cepat. Akantetapi, tegangan vektor (v) dan arus (i) merupakan sudut fasa (φ).
karena adanya inductor, maka sebuah tegangan yang
muncul didalam rangkaian tersebut, dari hkum Lenz,
maka tegangan gerak elektrik ini menentang kenaikan
arus, yang berarti polaritas tegangan gerak elktik Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini
terdiri dari :
baterai.Jika terminal –terminal osciloskop dihubungkan 1. Kit rangkaian RC & RL (1 buah)
melalui hambatan, maka bentuk gelombang yang 2. Generator sinyal (1 buah)
dipertunjukkan akan membentuk gelombang dari arus di 3. Osiloskop (1 buah)
dalam rangkaian tersebut karena penurunan potensial 4. multimeter (1 buah)
melalui R yang menentukan penyimpangan osciloskop, 5. Resistor (masing-masing nilai 1 buah)
adalah di berikan oleh V=IR. 6. Kapasitor (masing-masing nilai 1 buah)
7. Inductor : 2.5 mH (1 buah)
III. HASIL DAN ANALISIS 2.Tugas 2: Rangkaian RL

1.Tugas 1: Rangkaian RC

Hasil yang didaptkan dari percobaan ke dua ini, sama dengan


percobaan pada rangkaian RC, dimana Vi≠VR+VL
dikarenakan keduanya berbeda fasa.Jika dijumlahkan dengan
vector hasilnyap cukup berbeda dengan ttegangan sumber(Vi).
Ini disebabkan oleh frekuensi yang digunakan cukup tinggi
sehingga mempengaruhi hasil keluaran.

Dari hasil percobaan pertama kami ini, dapat kita lihat Nilai XL adalah:
bahwa:
Vi ≠Vc(0,781V)+VR(1,89V) XL=jwl=j2.3,14.6.10^4.2,5.10^-3=942

hal ini terjadi karena perbedaan fasa antara Vc dan VR.


beda fasa tersebut diakibatkan adanya nilai kompleks Beda fasa VR dan VL adalah:
pada Vc yang berasal dari impedansi kapasitor. Tetapi jika
kita menjumlahkannya secara vector maka hasilnya akan Ø = tan^-1(XL/R)=tan^-1(942/1000)=43,289
mendekati nilai Vi. Nilai pada Vc lebih kecil
dibandingkan nilai pada VR,hal ini terjadi karena nilai
impedansi pada Xc lebih kecil dibandingkan impedansi
pada R.Nilai impedansi kapasitor adalah:
3.Tugas 3: Rangkaian Diferensiator
Xc=1/jwc=1/j2.3,14.300.10^-7=5500

Maka beda fasa antara Vc dan VR adalah :

Ø = tan^-1(Xc/R)=tan^-1(5500/10000)=28,8

Beda fasa ideal antara keduanya adalah bernilai 90


derajat.

Masih dengan rangkaian yang sama seperti pada


percobaan yang pertama, tetapi nilai capasitor nya diubah
ke nilai terkecil agar didapatkan nilai Vc yang maksimal.
Sebuah rangkaian RC bisa digunakan sebagai sehingga persamaan vo adalah antiturunan dari vi berlaku.
diferensiator, Syaratnya bahwa impedansi dari kapasitor cukup kecil
maka sehingga tegangan pada kapasitor jauh lebih kecil dari
VC>>VR tegangan pada resistor.
Kapasitansi kapasitor perlu dibuat cukup besar karena
frekuensi dibuat tetap pada percobaan ini. Dilihat bahwa
sehingga persamaan di kedua percobaan yang paling mendekati gambar
vo=RC dv/dt integrator ideal adalah yang kedua dimana kapasitansi
dan hambatan resistor samasama besar,
syarat bahwa Vr>>Vc terpenuhi.
Dari gambar pada osiloskop diatas dapat disimpulkan
berlaku.
rangkaian yang digunakan mendekati rangkaian
Agar VC > VR, impedansi dalam kapasitor harus besar.
intregrator ideal.
Gambar osiloskop di atas menunjukkan differensiator
ideal. yang turunan dari fungsi segiempat adalah implus
yang terjadi setiap naik turunnya fungsi.
5.Tugas 5: Pengaruh Frekuensi Dimensi pada Domain
Frekuensi

Tidak selesai dilakukan, dikarenakan kekurangan waktu.

IV. SIMPULAN
4.Tugas 4: Rangkaian Intregrator Dari hasil praktikum yang didapatkan dapat disimpulkan :

 Rangkaian AC yang dicoba pada percobaan ini adalah


rangkaian seri RC dan RL
 Rangkaian ini ternyata juga dapat dipengaruhi dengan
mengubah nilai frekuensinya dan kita dapat melihat apakah
rangkaiannya low pass filter atau high pass filter dari
perbandingan nilai Vo dan Vinya
 Nilai V ouput yang idukur pada R ataupun C akan berbeda
tergantung pada nilai resistansi dan reaktansinya

REFERENSI
[1] Alexander, Charles K.,and Sadiku, Mtthew N.O. Fundamental of Electric
Circuit, New York: The McGraw Hill Companies, 2007.
[2] Mervin T.Hutabarat, dkk ,Petunjuk Praktikum Rangkaian Elektrik, 37-41,
Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI – ITB, 2009.
[3] en.wikipedia.org/wiki/Lowpass_filter
[4] http://elektronikadasar.web.id/teorielektronika/analisa-rangkaian-r-
Analisis: cseri/.
Pada percobaan ini, rangkaian yang digunakan sama
seperti pada rangkaian percobaan pertama. Syarat untuk
rangkaian RC sebagai integrator adalah

Vr>>Vc
Lampiran

LAMPIRAN \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\
1.Sinyal Rangkaian RC
4.Sinyal Rangkaian Intregrator

2.Sinyal Rangkaian RL

R
3.Sinyal Rangkaian Differensiator