Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

POTENSI MENGEMBANG DAN MENGERUT


( NILAI COLE )

DOSEN : Dr. Ir. Feira Budiarsyah Arief, M.Si

DISUSUN OLEH :

NAMA : RIA WIDI ASTUTI

NIM : C1021191035

FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI

UNIVERSITAS TANJUNG PURA


Kata pengantar

Puji Tuhan, terima kasih Saya ucapkan atas bantuan Tuhan yang telah
mempermudah dalam pembuatan tesis ini, hingga akhirnya terselesaikan tepat
waktu. Tanpa bantuan dari Tuhan, Saya bukanlah siapa-siapa. Selain itu, Saya
juga ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua, keluarga, serta
pasangan yang sudah mendukung hingga titik terakhir ini.

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt, yang telah memberikan izin dan
kekuatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Makalah Dasar-Dasar
Ilmu Tanah yakni yang berjudul ”POTENSI MENGEMBANG DAN MENGERUT ( NILAI COLE )”.

Meskipun banyak hambatan yang penulis alami dalam proses pengerjaannya, tapi
saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
penulis juga sampaikan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah membantu dan
membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini, penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada temen-teman yang sudah memberikan bantuan dan masukannya.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan.
Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk
perbaikan dimasa yang akan datang.

Pontianak, 5 Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI
Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Tanah adalah produk atau hasil pelapukan batuan induk akibat pengaruh dari iklim,
vegetatif, dan topografi. Banyak orang, bila memikirkan dan membayangkan suatu bahan yang
memberikan makanan dan mendukung tumbuhan yang sedang tumbuh.
Istilah “Tanah” mencakup semua bahan seperti lempung, pasir, kerikil, dan batu yang
besar. Untuk dapat membedakan serta menunjukkan dengan tepat masing-masing sifat dari tipe
yang berbeda, pertama perlu mempunyai cara untuk mengklasifikasikan tanah, berdasarkan asal
geologis, kadar mineral, ukuran butir, atau berdasarkan plastisitas.
Tanah dikenal beberapa tipe diantaranya tipe liat. Dalam tipe liat ini terbagi dua kelompok
yaitu kelompok silikat, meliputi montmorilonit, illit, vermikulit, dan kaolinit. Diantara bagian-
bagian silikat diatas montmorilonit dan vermikulit yang dikenal dengan tipe 2:1, dimana ukuran
tanah ini sangat halus sehingga sangat mudah menyerap air melalui retakan-retakan tanah disertai
dengan bertambahnya volume dan luas permukaan tanah.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Masalah
Untuk mengetahui besarnya derajat kerut tanah dari beberapa jenis tanah.

mendemonstrasikan sifat mengembang dan mengerut tanah dan mengukur besarnya pengembangan dan

pengerutan berdasarkan koefisien pengembangan linier. Kegunaan dari praktikum mengembang dan

mengerut adalah untuk mengetahui cara pengolahan pada tanah-tanah yang memiliki sifat

pengembangan dan pengerutan serta cara pemanfaatannya.


Bab II
Pembahasan
Salah satu sifat fisik tanah adalah mengembang dan mengerut. Sifat mengembang ditandai
dengan terisinya semua ruang pori-pori tanah baik pori makro maupun pori mikro oleh molekul-
molekul air dan gejala ini terjadi ketika tanah dalam keadaan basah. Sedangkan sifat mengerut
tanah terjadi ketika tanah dalam keadaan kering setelah basah yang ditandai dengan semakin
mengecilnya pori-pori tanah pada waktu mengerut.
Sifat mengembang dan mengerut tanah terjadi karena kandungan liat monmorilonit yang
tinggi. Tanah mengembang pada saat basah dan tanah mengerut pada saat kering. Akibatnya pada
saat musim kering tanah menjadi pecah-pecah dan kalau basah tanah mengembang dan menjadi
lengket, apabila tanahnya memiliki kandungan liat yang tinggi maka pertikel litanya akan mudah
mengalami perluasan akibatnya tanah ini mengembang pada keadaan lembab dan mengerut pada
keadaan kering (Hardjowigeno, 2003).
Sifat mengembang pada tanah, selain pori-pori tanah yang terisi oleh air, juga retakan-retakan
yang ada pada tanah. Pengembangan yang menyebabkan tertutupnya pori-pori tanah makro dan
retakan tanah, mengakibatkan tanah kurang mampu menyerap air sehingga kelebihan air hujan
akan menimbulkan aliran permukaan yang besar dan akibat yang lebih besar adalah terjadinya
banjir yang dapat membahayakan kesuburan tanah dan bahkan kehidupan manusia.(Anonim,
2011)
Sifat mengembang dan mengerut adalah masuk atau keluarnya air ke atau dari antara lempeng-
lempeng liat kristal tipe 2 : 1 yang menyebabkan terlihatnya sifat mengembang dalam keadaan
basah dan mengerut kalau kering. Pengembangan terjadinya karena beberapa sebab, sebagian
pengembangan terjadi karena penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat, yang menyebabkan
pengembangan dalam kristal. Akan tetapi, sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam
koloid-koloid dan ion-ion yang teradsorbsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam
pori mikro ketika memasuki pori tanah.
Retakan-retakan tanah dapat memperbaiki aerasi tanah pada bagian lebih dalam. Namun,
retakan-retakan yang terlalu lebar dapat menyebabkan putusnya akar-akar tanaman.
Pengembangan dan pengerutan yang tidak sama dapat menyebabkan retaknya pondasi gedung-
gedung, sedangkan jalan yang diperkeras menjadi bergelombang.
Pengembangan tanah adalah penjenuhan air sehingga menutupi celah-celah retakan tanah yang
diakibatkan oleh pengerutan. Tanah yang banyak mengandung mineral liat smectit
memperlihatkan sifat mengembang dan mengerut. Kation-kation dan molekul-molekul air sudah
masuk antara unit kristal mineral sehingga mineral akan mengembang saat basa dan mengerut saat
kering, karena banyaknya air yang hilang pada tanah tersebut. Beberapa tanah mempunyai sifat
mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah
mengerut maka menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh
kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi.
Dalam proses mengembang dan mengerut, bahan-bahan di dalam tanah di permukaan
tanah sangat memegang peranan penting. Selain itu iklim juga mempengaruhi proses mengembang
dan mengerut, semua energi di alam raya yang digunakan dalam proses genesis dan differensiasi
tanah bersumber dari energi pada panas matahari. Jumlah energi yang sampai ke permukaan bumi
tergantung pada kondisi bumi dan cuaca. Curah hujan yang tinggi juga mempengaruhi proses
mengembang mengerut tanpa curah hujan proses mengembang dan mengerut tidak akan terjadi.
Pengembangan terjadinya karena beberapa sebab, sebagian pengembangan terjadi karena
penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat, yang menyebabkan pengembangan dalam kristal. Akan
tetapi, sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid-koloid dan ion-ion yang
teradsorbsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika memasuki
pori tanah.
Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat
montmorilonit yang tinggi. Oleh sebab itu, para ahli bangunan sangat berhati-hati. Kalau tanah
banyak mengandung mineral liat tipe montmorilonit, mereka tidak berani mendirikan bangunan
atau jalan. Kalau terpaksa harus mendirikan bangunan atau jalan, maka lapisan atas tanah dikupas
atau dibuang, diganti dengan tanah dari tempat lain yang tidak mengandung montmorilonit, tetapi
tipe lain seperti kaulinit, karena dengan bantuan tipe tanah ini pada tanah yang mengandung
montmorilonit maka mereka dapat mendirikan bangunan.
Sifat mengembang dan mengerut tanah disebabkan oleh kandungan liat montmorillonit
yang tinggi. Besarnya pengembangan dan pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE
(Coefficient of Linear Extendility ) atau PVC ( Potential Volume Change = swell index = indeks
pengembangan) (Hardjowigeno, 1998).

Faktor Yang Mempengaruhi Mengembang dan Mengerut pada Tanah.


Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi sifat mengembang dan mengerut pada tanah
adalah kadar air dalam tanah, luas ruang atau pori tanah serta kandungan mineral liat. Ketiga faktor
ini sangat berpengaruh disebabkan karena apabila kadar air dalam tanah tinggi maka pori atau
ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air, sehingga terjadi pengembangan pada tanah.begitu
juga sebaliknya. Kandungan liat juga sangat berpengaruh disebabkan karena permukaan liat yang
besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar liat yang tinggi sangat
mudah terjadi pengembangan begitu pula sebaliknya. (Munir,1996).
Faktor-faktor yang mempengaruhi mengembang dan mengerut adalah pengembangan
terjadi karena penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat yang menyebabkan pengembangan di
dalam kristal. Akan tetapi sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid-koloid dan
ion-ion yang terabsorbsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika
memasuki pori tanah. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi sifat mengembang dan mengerut
pada tanah dalah kadar air dalam tanah, luas ruang atau pori tanah serta kandungan mineral liat.
Ketiga faktor ini sangat berpengaruh disebabkan karena apabila kadar air dalam tanah
tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air, sehingga terjadi
pengembangan pada tanah.begitu juga sebaliknya. `
Pada saat kering tanah mengalami pelebaran serta dalam keretakannya bisa mencapai pada
lapisan kedua.sifat mengembang ditandai dengan terisinya semua ruang pori-pori tanah baik
makro maupun mikro oleh molekul-molekul air dan gejala ini terjadi ketika tanah dalam keadaan
basah. Sedang sifat mengerut tanah terjadi ketika tanah dalam keadaan kering setelah basah yang
ditandai dengan semakin mengecilnya pori-pori tanah pada waktu mengerut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kerut tanah adalah sebagai berikut :
1. Jenis tanahnya termasuk dalam golongan tanah ringan atau tanah berat. Apabila termasuk
dalam golongan tanah berat maka, maka nilai derajat kerut tanah akan semakin besar
apabila semakin ringan, maka nilai derajat kerutnya kecil.
2. Kandungan bahan organik tanah. Apabila kandungan bahan orgaaniknya tinggi, maka nilai
derajat kerut tanah akan semakin kecil, jika kandungan bahan organiknya rendah, maka
nilai derajat kerut tanah lebih besar.
3. Kandungan bahan anorganik tanah. Tanah yang terdiri dari banyak bahan anorganik, maka
nilai derajat kerut tanahnya semakin tinggi karena tanah memiliki daya adsorbsi yang
tinggi terhadap air, tetapi aerasinya buruk.

Hubungan Mengembang dan Mengerut dengan Kadar Air


Antara pengembangan dan pengerutan, kohesi dan plastis berhubungan erat satu sama lain.
Ciri-ciri ini tergantung tidak hanya pada campuran lempung dalam tanah, tetapi juga sifat dan
jumlah humus yang terdapat bersama koloid organik. Sifat tergantung pada struktur
pengembangan tanah (Fonth, 1994).
Hubungan Mengembang dan mengerut dengan kadar air yaitu apabila kadar air dalam tanah
tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air sehinggat erjadi pengembangan
pada tanah begitu juga sebaliknya. Kandungan liat juga sangat berpengaruh disebabkan karena
permukaan liat yang besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar
liat yang tinggi sangat mudah terjadi pengembangan begitu pula sebaliknya (Foth, 1994).
Beberapa tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering).
Akibatnya pada musim panas (kondisi kering) tanah menjadi pecah-pecahkarena menkerut. Sifat
mengembang dan ngerut tanah disebabkan oleh adanya kandungan mineral lempung
montmorillonit yang tinggi. Besarnya nilai COLE (Coefficient Of Linier Extensibility) atau PVC
(Potential Volume Change=Swell index=indeks pengembangan). Istilah COLE banyak
dikembagkan dalam bidang ilmu tanah, sedangkan PVC banyak digunakan dalam bidang
engineering (pembuatan jalan, gedung dan lainnya).
Mineral liat montmorillonit dimana masing-masing unit dihubungkan dengan unit lain oleh
ikatan yang lemah (oksigen ke oksigen) sehingga mudah mengembang bila basah dan menkerut
bila kering. Hal ini karena air (kation-kation) masuk pada ruang-ruang antar unit tertentu.
Montmorilonit mengakibatkan tanah mempunyai sifat mengembang dan mengerut dengan
penjenuhan dan pengeringan.
Potensi pengembangan dan pengerutan tanah berkaitan erat dengan tipe dan jumlah liat
dalam tanah. Tanah yang banyak mengandung mineral liat akan memperlihatkan sifat
mengembang pada waktu basah karena kation-kation dan molekul air mudah masuk pada rongga
antara kristal mineral. Tanah yang mengembang selalu memilki kandungan liat yang banyak, di
mana mungkin saja mempunyai kemampuan yang tinggi menyimpan air, akan tetapi peredaran
udara dalam tanah atau aerase tidak baik, penambahan bahan organik akan mengurangi masalah
kekurangan air pada tanah berpasir. Bahan organik membantu mengikat butiran liat dan
membentuk ikatan yang lebih besar sehingga memperbesar ruang-ruang udara diantara ikatan
butiran (Pairunan, 1997).

Tabel klasifikasi COLE(Coefficient Of Linier Extensibility)

Kelas Klasifikasi Nilai


Rendah < 0,03
Sedang 0,0 3- 0,06

Tinggi .> 0,06 - 0,09


Sangat Tinggi > 0,09

Rumus (Coefficient Of Linier Extensibility) :


Cole =LM/LD – 1
Keterangan: LM=panjang sampel pasta tanah lembab (cm)
LD= panjang sampel pasta tanah kering mutlak/oven (cm)

Tanah yang Mempunyai Sifat Mengembang dan Mengerut


Tanah vertisol merupakan tanah yang mempunyai sifat mengembang dan mengerut. Hal
ini disebabkan karena tanah vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat 30 % atau lebih
diseluruh horisonnya. Tanah vertisol merupakan salah satu order tanah yang memiliki beberapa kondisi
sifat fisik yang tidak dikehendaki baik dari segi pertanian maupun teknik. Salah satu kondisi sifat fisik
tersebut adalah kemampuannya untuk mengembang dan mengerut secara intensif yang menyebabkan
tanah tersebut tidak stabil. Pengembangan tanah menyebabkan tanah mudah terdispersi dan pori-pori tanah
tersumbat, sehingga permeabilitas tanahnya menjadi rendah. Tanah jenis vertisol yang akan digunakan
sebagai lahan pertanian akan memberikan banyak masalah terutama kesuburan yang cenderung
rendah, maka solusinya adalah memperbanyak bahan organik seperti kompos dan pupuk kandang,
karena benda-benda ini akan bersifat sebagai buffer/penyangga yang berfungsi mengurangi daya
mengembang atau mengkerut tanah.

Proses terjadinya Mengembang dan Mengerut


Pengembangan juga terjadi karena beberapa sebab, sebagian pengembangan terjadi karena
penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat, yang menyebabkan pengembangan dalam kristal. Akan
tetapi, sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid–koloid dan ion–ion yang
teradsobsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika memasuki pori
tanah (Anonim, 2006).

Pengerutan biasanya terjadi pada musim kemarau atau musim kering. Pengerutan adalah
keadaan dimana tanah mengalami retakan–retakan, yang disebabkan oleh karena ruang atau pori
tanah tersebut tidak terisi oleh air yang cukup. Pengerutan pada tanah akan mengakibatkan
terjadinya pematahan pada akar tanaman (Hardjowigeno, 2003).
Bab III

Penutup

A. Kesimpulan

Mengembang dan mengerut merupakan salah satu sifat fisik tanah. Dimana sifat

mengembang ditandai dengan terisinya semua ruang pori tanah baik makro maupun

mikro oleh molekul-molekul air dan gejala ini terjadi ketika tanah dalam keadaan basah.

Sedang sifat mengerut tanah terjadi ketika tanah dalam keadaan kering setelah basah

yang ditandai dengan semakin mengecilnya pori-pori tanah pada waktu mengerut.

Pengerutan biasanya terjadi pada musim kemarau atau musim kering. Pengerutan adalah

keadaan dimana tanah mengalami retakan retakan, yang disebabkan oleh karena ruang

atau pori tanah tersebut tidak terisi oleh air yang cukup (Hakim, 1986).

B. Saran
Daftar Pustaka

https://tanicerdasramahlingkungan.blogspot.com/2017/11/laporan-pengembangan-dan-

pengerutan.html

http://renievianty.blogspot.com/2016/12/penentuan-cole-coefficient-of-linier.html
https://yohanissarmaidiot.blogspot.com/2015/12/laporan-praktikum-dasar-dasar-ilmu.html

http://agribussinesaqwal.blogspot.com/2014/04/v-behaviorurldefaultvmlo.html

http://iinmutmainna.blogspot.com/2012/05/mengembang-mengerut.html

http://khaeriyah-indahnyaberbagi.blogspot.com/2012/05/laporan-mengembang-dan-mengerut.html