Anda di halaman 1dari 8

HAND OUT

Mata Kuliah : Metodik Khusus


Topik : Modeling
Sub Topik : a. Definisi modeling
b. Prinsip metode modeling
c. Peran pembimbing dalam metode modeling
d. Kelemahan dalam metode modeling
e. Keuntungan dalam metode modeling
f. Hambatan dalam metode modeling
g. Proses dalam metode modeling
waktu : 1 x 100 menit
Dosen : Anita, SST, MPH

Sumber Referensi

1. Nursalam, 2002,Manajemen Keperawatan : Aplikasi DalamKeperawatan Profesional,


Edisi Pertama. Jakarta : Salemba Medika.
2. Nursalam, 2007, anajemen Keperawatan: Aplikasi DalamKeperawatan Profesional,
Edisi ke-2. Jakarta : SalembaMedika.
3. Nursalam & Ferry E. 2008, Pendidikan Dalam Keperawatan, Jakarta : Salemba Medika
4. Hamalik, Oemar, 2008, Perencanaan Pengajaran BerdasarkanPendekatan
Sistem, Bumi Aksara : Jakarta

Objektif Perilaku Mahasiswa


Setelah selesai mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu menjelaskan tentang definisi
Definisi modeling, Prinsip metode modeling, Peran pembimbing dalam metode modeling,
Kelemahan dalam metode modeling, Keuntungan dalam metode modeling, hambatan dalam
metode modeling, dan Proses dalam metode modeling

URAIAN MATERI

Pengertian Metode Pembelajaran

Klinik
Pembelajaran praktisi klinik adalah suatu bentuk pengalaman beajar professional yang
menekankan pada pentingnya klien, mahasiswa dan konteks situasional proses
pembelajaran terjadi (Hamalik, oemar. 2008).

Definisi Modeling

Metode pembelajaran klinik modeling merupakan metode pembelajaran dengan cara


memperagakan suatu prosedur atau tindakan dan mempergunakan alat disertai suatu
penjelasan, metode ini sering digunakan pada pendidikan kebidanan dalam materi prosedur
kebidanan. Metode ini dilaksanakan di rumah sakit, dan laboratorium kebidanan (Aziz
Alimul, 2002).
Perry dan Furukawa (dalam Abimanyu dan Soli 2008) mendefinisikan modeling sebagai
proses belajar melalui observasi dimana tingkah laku dari seorang individu atau kelompok,
sebagai model, berperan sebagai rangsangan bagi pikiran-pikiran, sikap-sikap, atau tingkah
laku sebagai bagian dari individu yang lain yang mengobservasi model yang ditampilkan.
Teknik modeling ini adalah suatu komponen dari suatu strategi dimana konselor
menyediakan demonstrasi tentang tingkah laku yang menjadi tujuan. Model dapat berupa
model sesungguhnya (langsung) dan dapat pula simbolis. Model sesungguhnya adalah
orang, yaitu konselor, guru, atau teman sebaya. Di sini konselor bisa menjadi model langsung
dengan mendemonstrasikan tingkah laku yang dikehendaki dan mengatur kondisi optimal
bagi konseli untuk menirunya (Abimanyu, Soli. 2008).

Dalam prakteknya, metode ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara tidak
langsung yang dilakukan oleh tenaga bidan yang disaksikan oleh peserta didik dalam tugas
sehari-hari. Dan secara langsung adalah apa yang dipersiapkan secara teliti dan disajikan
oleh peserta dengan keahliannya dibantu pembimbing tentang bagaimana melakukan suatu
prosedur kesehatan (Aziz. Alimul: 2002).

Manusia memperoleh procedure tindakan dengan cara mengobservasi sendiri suatu


model yang melakukan procedure tindakan yang dibutuhkan mahasiswa dan mereka juga
memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan prosedure tindakan tersebut (Indraswati,
2011).

Kriteria yang menjadi model atau seseorang yang akan menjadi role model bagi peserta
bimbingan klinik yaitu berpengalaman dalam bidangnya, profesional, berjiwa pemimpin,
memahami konsep dan asuhan kebidanan , mampu mengadakan perubahan, mampu
menjadi role model yang di contoh, nerminat dalam bidang kebidanan (Nursalam, 2009).

Dosen / pembimbing klinik bdrperan memberikan bimbingan mahasiswa dalam


memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk perawatan klien dan
mempelajari peran dan tanggung jawab bidan di lahan praktik, memperbaiki kemampuan
mahasiswa jika melakukan kesalahan untuk mendukung perencanaan dan tindakan
kebidanan, melakukan orientasi dan sosialisasi terkait tentang prosedur-prosedur dan
kebijakan di lahan klinik, memberikan pendelegasian untuk menjaga hal-hal yang tidak
diinginkan selama tidak mendampingi mahasiswa selama pengajaran klinik (Nurhidayah,
2011).

Prinsip Metode Modeling

Prinsip yang dilakukan sebagi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan di antaranya:

1. Tujuan demonstrasi tindakan harus dirumuskan dengan jelas, oleh karena tujuan
yang telah ditentukan dapat diketahui kecakapan atau keterampilan apa yang harus
dimiliki peserta didik.
2. Demonstrasi tindakan harus terlihat dengan jelas oleh setiap peserta didik, karena
hanya melalui ini peserta didik dapat mengamati secara detail langkah prosedur
yang akan di demonstrasikan atau diperagakan oleh role model.
3. Jumlah kelompok atau kelas dalam demostrasi tindakan harus tidak terlalu besar,
sehingga setiap peserta didik mendapatkan gambaran atau penjelasan yang cukup
dari apa yang didemonstrasikan.
4. Demonstrasi tindakan harus benar dan sistematis.
5. Sebelum demonstrasi tindakan dilaksanakan pembimbing harus menjelaskan dan
mengorientasikan peserta didik pada peragaan yang akan dilihat.
6. Peserta didik harus deberi kesempatan untuk menangani peralatan atau bahan yang
akan digunakan saat demonstrasi tindakan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil
yang efektif.
7. Pembimbing harus konsisten tentang apa yang akan diucapkan terhadap apa yang
didemonstrasikan.
8. Sangat diperlukan alat penunjang demonstrasikan tindakan seperti slide, gambar
atau film.
9. Demonstrasi tindakan harus dilakukan sesuai dengan tahapan dan sistematis (Aziz
Alimul. 2002).

Peran Pembimbing dalam Metode


Modeling

Menurut Nursalam (2002) Dalam membelajarkan orang dewasa, seorang pendidik


tepat dikatakan sebagai pembimbing, karena pembimbing itu lebih mengutamakan kegiatan
belajar pada keaktifan peserta didik. Pendidik lebih banyak membimbing peserta didik
dalam kegiatan pendidikan orang dewasa. Beberapa peran pembimbing, diantaranya:
1. Sebagai Pamong Belajar
Pamong belajar berarti orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik (learner
centered), akan tetapi ini tidak berarti bahwa di dalam penerapan proses pembelajaran
sesuai dengan segala keinginan peserta didik. Oleh sebab itu, sebagai pendidik mempunyai
tanggungjawab menyediakan suatu pola kegiatanbelajar, dimana pendidik mempunyai dua
peran, yaitu:
 Pamong bertindak sebagai warga kelompok belajar,
 Pamong bertindak sebagai pemimpin kelompok belajar yang dilakukannya secara
luwes.
Tugas pendidik dalam peranannya sebagai pemimpin kegiatan belajar antara lain ialah
melakukan motivasi terhadap peserta didik, sehingga menumbuhkan partisipasi secara
maksimal dalam diri peserta didik. Pendidik juga melakukan penjelasan atau memperjelas
tujuan belajar sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Kemudian pendidik juga
merancang sedemikian rupa, sehingga peserta didik mampu menelaah sendiri alternatif-
alternatif pemecahan masalah. Peranan pendidik ialah sebagai pengatur dan menciptakan
suasana yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan
pemikiran dan tindakannya sesuai dengan hasil pemikiran mereka. Di samping itu, pendidik
berperan sebagai penunjuk jalan bagi peserta didik dan membekalinya dengan teknik-teknik
belajar yang cocok bagi diri si pelajar (Nursalam, 2002).
2. Sebagai Penyuluh
Istilah ini sering dipakai pada kegiatan penyuluhan kesehatan, pendidikan dan
pertanian. Penyuluhan berasal dari kata suluh, yang artinya kegiatan yang dilakukan,
sehinggan menjadikan seseorang / kelompok terang (memahami) informasi-informasi yang
disampaikan penyuluh tersebut (Nursalam, 2002).
Penyuluhan adalah usaha yang dilakukan seseorang / kelompok kepada orang lain
dalam rangka memberikan informasi, penjelasan sehingga orang lain tersebut menjadi
paham tentang materi-materi yang disampaikan. Misalnya; dikalangan Dinas Kesehatan dan
Keluarga Berencana, pamong belajar dalam rangka melakukan penyuluhan tentang
imunisasi, penimbangan bayi, dan lain-lain. Pada penyuluhan, penyuluh berfungsi sebagai
orang yang aktif memberikan informasi, penjelasan kepada orang lain (Nursalam, 2002).
3. Sebagai Fasilitator
Fasilitator adalah orang yang memberikan kesempatan kepada peserta didik atau
memfasilitasi mereka sehingga mereka akan aktif mengarahkan diri sendiri. Contoh dalam
membangkitkan peran serta peserta didik dalam mempelajari pesan-pesan pembangunan,
digunakan permainan simulasi. Kegiatan belajarnya dilakukan melalui kelompok belajar.
Untuk menggerakkan kegiatan belajar, permainan simulasi tersebut keberadaan dan
berfungsi sebagai fasilitator (Nursalam, 2002).
Fasilitator warga masyarakat di desa / wilayah dimana ia tinggal, dilatih sebagai
pemimpin kegiatan belajar pada kelompok belajar, permainan simulasi untuk
menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat. Fasilitator berfungsi menumbuhkan atau
mendorong peserta permainan pada kejar (Nursalam, 2002).
4. Sebagai Tutor
Pembelajaran masyarakat melalui kegiatan pendidikan luar sekolah, misalnya program
Paket A, B, dan C, dan dibimbing oleh seorang tutor. Sebagai pendidik , maka tutor memiliki
peranan dan fungsi yang hampir bersamaan dengan peranan dan fungsi pada pendidikan
sekolah (formal). Secara umum, tugas dan fungsi tutor adalah merencanakan kegiatan
pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran
(Nursalam, 2002).
Kelemahan Metode Modeling

Menurut Nursalam (2002) beberapa kelemahan dari metode modeling adalah sebagai
berikut:
1. Memerlukan persiapan yang lebih matang dan waktu yang banyak.
2. Memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai.
3. Memerlukan kemampuan dan keterampilan dituntut untuk bekerja lebih profesional
(Nursalam, 2002).
Menurut Indraswati (2011) kelemahan metode modeling adalah sebagai berikut:
1. Dosen atau pembimbing klinik yang tidak konsisten tentang apa yang akan
diucapkan terhadap apa yang di demonstrasikan akan membingungkan mahasiswa.
2. Alat penunjang demonstrasi prosedur tindakan yang kurang memadai akan
mengurangi keefektifan pembelajaran (Indraswati, 2011).

Keuntungan Metode Modeling

Menurut Nursalam & Ferry E (2008) keuntungan dari metode modeling adalah sebagai
berikut:
1. Memberikan pengalaman belajar yang bisa dicontoh oleh konseling.
2. Menghapus hasil belajar yang tidak adaptif.
3. Memperoleh tingkah laku yang lebih efektif.
4. Mengatasi gangguan-gangguan keterampilan sosial, gangguan reaksi emosional dan
pengendalian diri.

Hambatan dalam Metode Modeling


Menurut Nursalam & Ferry E (2008) hambatan dalam metode modeling adalah sebagai
berikut:
1. Keberhasilan teknik modeling tergantung persepsi konseli terhadap model. Jika
konseli tidak menaruh kepercayaan pada model, maka konseli akan kurang
mencontoh tingkah laku model tersebut.
2. Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan
tingkah laku yang didapat konseli bisa jadi kurang tepat.
3. Bisa jadi konseli menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang
harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi model
tersebut sesuai dengan gayanya sendiri.

Proses dalam Metode Modeling

Menurut Nursalam (2007) proses dalam metode modeling adalah sebagai berikut:
1. Meminta konseling (individu) untuk memperhatikan apa yang harus ia pelajari
sebelum model didemonstrasikan.
2. Memilih model yang serupa dengan konseli dan memilih siapa yang bisa
mendemonstrasikan tingkah laku yang menjadi tujuan dalam bentuk tiruan.
3. Menyajikan demonstrasi model tersebut dalam urutan skenario yang memperkecil
stress bagi konseling. Konseling bisa terlibat dalam demonstrasi perilaku ini.
4. Meminta konseli menyimpulkan apa yang ia lihat setelah demonstrasi tersebut.
5. Adegan yang dilakukan bisa jadi lebih dari satu.