Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

UJI Z DAN UJI T SAMPEL BERKORELASI DAN SAMPEL


INDEPENDEN

Untuk Memenuhi Tugas Presentasi Mata Kuliah

STATISTIK MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu:

Drs. Suparto, M.Pd.I.

Disusun Oleh:

Ubaidillah (D03216037)

Puput Ayu W. (D93216061)

Alifatun Nur Faizza (D93216070)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2019
KATA PENGANTAR

Teriring salam dan doa semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan


rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini yang disusun guna memenuhi tugas
presentasi mata kuliah Statistik Manajemen Pendidikan Islam.

Disampaikan terimakasih kepada Bapak Drs. Suparto, M.Pd.I. selaku


dosen pengampu yang telah membantu dan mengarahkan agar penyusunan makalah
ini baik dan tepat, serta rekan-rekan yang berpartisipasi dalam penyusunan makalah
ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran untuk meningkatkan kualitas
makalah ini.

Surabaya, 07 April 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
C. Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
A. Uji Z ............................................................................................................. 3
B. Uji T Berkorelasi .......................................................................................... 9
C. Uji T Idependen.......................................................................................... 12
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 17
A. Kesimpulan ................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Statistik inferensi merupakan tindak lanjut dari statistik deskriptif.
Ruang lingkup statistik inferensi adalah pengambilan kesimpulan, seperti
penaksiran parameter dan uji hipotesis dengan tingkat ketidakpastian tertentu.
Statistik inferensi adalah pengambilan kesimpulan tentang parameter populasi
berdasarkan data sampel yang diambil dari populasi. Suatu harga yang dihitung
dari sampel sebagai estimasi dari parameter disebut statistik. Jadi, konsep
statistika inferensi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu estimasi dan uji
hipotesis.1

Uji hipotesis adalah suatu prosedur yang digunakan untuk menguji


validitas hipotesis statistik suatu populasi, dengan menggunakan data dari
sampel populasi. Uji hipotesis menjadi bagian terpenting dari statistik inferensi
karena berdasarkan uji tersebut, suatu keputusan atau pemecahan permasalahan
dari suatu penelitian dapat terselesaikan. Berdasarkan rumusan hipotesisnya, uji
hipotesis dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: uji hipotesis dua pihak, satu pihak
kiri, dan satu pihak kanan.2 Uji hipotesis satu populasi maupun dua populasi
untuk mean dengan sampel besar dan populasi terdistribusi normal biasanya
menggunakan uji Z. Sedangkan uji hipotesis satu populasi maupun dua populasi
untuk mean dengan sampel kecil yang variansinya tidak diketahui maka
digunakan uji T.

Misal seorang peneliti ingin melakukan penelitian tentang metode


pembelajaran di sebuah sekolah. Oleh karena itu, ia memilih satu kelas sebagai
sampel. Untuk membuktikan apakah metode pembelajaran mampu memberikan
nilai ujian yang diharapkan atau tidak, maka dilakukan uji hipotesis untuk
membuktikan hipotesis mana yang benar. Maka, digunakanlah uji Z atau uji T
bergantung pada apakah data berdistribusi normal atau tidak, dan apakah

1
Mohammad Farhan Quadratullah, Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan Aplikasi dengan
SPSS (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2014), 193-194.
2
Quadratullah, Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan Aplikasi dengan SPSS, 198,199.

1
variansi populasi diketahui atau tidak. Hal tersebut mempengaruhi peneliti
harus memakai uji hipotesis yang mana.

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan uji Z?
b. Apa yang dimaksud dengan uji T berkorelasi?
c. Apa yang dimaksud dengan uji T independen?

C. Tujuan
a. Mengetahui pengertian tentang uji Z.
b. Mengetahui pengertian tentang uji T berkorelasi.
c. Mengetahui pengertian tentang uji T independen.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Uji Z
Uji Z adalah salah satu uji statistika yang pengujian hipotesisnya
didekati dengan distribusi normal. Menurut teori limit terpusat, data dengan
ukuran sampel yang besar akan berdistribusi normal. Oleh karena itu, uji Z
dapat digunakan utuk menguji data yang sampelnya berukuran besar. Jumlah
sampel 30 atau lebih dianggap sampel berukuran besar. Selain itu, uji Z ini
dipakai untuk menganalisis data yang varians populasinya diketahui. Namun,
bila varians populasi tidak diketahui, maka varians dari sampel dapat digunakan
sebagai penggantinya.3

Rumus statistik uji yang digunakan untuk uji hipotesis satu populasi
untuk mean dengan sampel besar (n ≥ 30) adalah Zhit, dinamakan Z karena
mengikuti distribusi Z (normal standar), sehingga disebut uji Z.4 Uji Z dapat
diterapkan untuk menguji hipotesis dalam penelitian satu perlakuan yang
menggunakan persentase. Akan tetapi, layaknya statistik inferensial yang
memiliki sifat dapat memprediksi, mengestimasi, dan menggeneralisasi,
mengharuskan dipenuhinya beberapa syarat pengukuran salah satunya
persyaratan normalitas sebaran data.5

Lima langkah yang biasa digunakan dalam uji Z untuk mean atau rata-
rata atau populasi adalah:

1. Merumuskan hipotesis
Terdapat tiga bentuk hipotesis yang dirumuskan
a. Uji hipotesis dua pihak
H0 : µ = µ0
H1 : µ ≠ µ0
b. Uji hipotesis satu pihak kiri
H0 : µ = µ0

3
Agus Irianto, Statistik Konsep Dasar dan Aplikasihnya (Jakarta: Kencana 2009), 23.
4
Quadratullah, Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan Aplikasi dengan SPSS, 246.
5
Subana, dkk., Statistik Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), 127.

3
H1 : µ < µ0
c. Uji hipotesis satu pihak kanan
H0 : µ = µ0
H1 : µ > µ0
2. Menentukan tingkat signifikan α atau tingkat kepercayaan (1 - α)*100%
3. Menentukan nilai kritis atau daerah penolakan H0, yaitu:
a. Uji dua pihak
H0 tidak ditolak apabila -Zα/2 ≤ Zhit ≤ Zα/2 dan H0 ditolak jika Zhit >
Zα/2 atau Zhit < -Zα/2 di mana Zα/2: dapat diperoleh dari tabel Z
(normal standar).
b. Uji satu pihak kiri
H0 tidak ditolak apabila Zhit ≥ -Zα dan H0 ditolak jika Zhit < -Zα, di
mana Zα: dapat diperoleh dari tabel Z (normal standar).
c. Uji satu pihak kanan
H0 tidak ditolak apabila Zhit ≤ Zα dan H0 ditolak jika Zhit > Zα, di
mana Zα: dapat diperoleh dari tabel Z (normal standar).
4. Menghitung statistik uji
𝑥̅ −𝜇0
Zhit =
𝜎⁄√𝑛
Atau jika variansi 𝜎 tidak diketahui
𝑥̅ −𝜇0
Zhit =
𝑠⁄√𝑛
5. Kesimpulan: keputusan menolak atau menerima H0 dilakukan setelah
membandingkan nilai hasil perhitungan statistik uji dengan nilai kritis.
Jika nilai stasistik uji berada dalam daerah penolakan, maka H0 ditolak.6

Contoh:

Hasil survei BEM F. SAINTEK dari 36 orang mahasiswa SAINTEK yang


dipilih secara acak, diketahui bahwa rata-rata uang saku yang digunakan
mahasiswa untuk membeli buku dan perlengkapan alat tulis setiap bulannya
adalah Rp 31.500,00 dengan standar deviasi Rp 4.500,00.

6
Quadratullah, Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan Aplikasi dengan SPSS, 247-249.

4
Jika terdapat pernyataan yang mengakatan: Rata-rata uang saku yang digunakan
mahasiswa untuk membeli buku dan perlengkapan alat tulis setiap bulannya di
atas Rp 30.000,00, lakukan pengujian terhadap masalah tersebut menggunakan
tingkat kepercayaan 98%.

Pengujian menggunakan uji satu pihak kanan, berikut proses pengujiannya:

a. Hipotesis
H0 : µ = 30.000
H1 : µ > 30.000
b. Telah ditetapkan bahwa tingkat kepercayaan yang digunakan adalah
98% (tingkat signifikasi 2% atau α=0.02).
c. Nilai kritis atau daerah penolakan
H0 tidak ditolak apabila Zhit ≤ Z0.02 dan H0 ditolak jika Zhit > Z0.02,
berdasarkan tabel distribusi normal standar diperoleh Z0.02 = 2.05
sehingga H0 ditolak jika Zhit > 2.05.
d. Statistik uji.
31500−30000
Zhit = = 3.00
4500⁄√81
e. Kesimpulan
Tampak bahwa Zhit = 3.00 > 2.05 (Zhit berada di daerah penolakan
H0) atau ditolak. Oleh karena itu, cukup alasan mengatakn bahwa
rata-rata uang saku yang digunakan mahasiswa F. SAINTEK untuk
membeli buku dan alat tulis setiap bulannya adalah melebihi Rp
30.000,00.

Rumus statistik uji yang digunakan pada uji hipotesis selisih dua mean
untuk sampel besar (n ≥ 30) adalah Zhit, dinamakan Z karena mengikuti
distribusi Z (normal standar), sehingga disebut uji Z.

Suatu uji Z untuk populasi independen digunakan apabila:

1. Sampel diambil dari dua populasi yang independen dan terdistribusi


normal

5
2. Nilai-nilai deviasi standar populasi 𝜎1 dan 𝜎2 telah diketahui atau
ukuran sampel lebih dari 30 (n > 30).7

Berikut ini langkah-langkahnya:

1. Merumuskan hipotesis
Terdapat tiga bentuk hipotesis yang dirumuskan
a. Uji hipotesis dua pihak
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2
b. Uji hipotesis satu pihak kiri
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 < µ2
c. Uji hipotesis satu pihak kanan
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 > µ2
2. Menentukan tingkat signifikan α atau tingkat kepercayaan (1 - α)*100%
3. Menentukan nilai kritis atau daerah penolakan H0
Bentuk uji hipotesisnya ada tiga, maka terdapat tiga bentuk daerah
penolakan H0, yaitu:
a. Uji dua pihak
H0 tidak ditolak apabila -Zα/2 ≤ Zhit ≤ Zα/2 dan H0 ditolak jika Zhit >
Zα/2 atau Zhit < -Zα/2 di mana Zα/2: dapat diperoleh dari tabel Z
(normal standar).
b. Uji satu pihak kiri
H0 tidak ditolak apabila Zhit ≥ -Zα dan H0 ditolak jika Zhit < -Zα, di
mana Zα: dapat diperoleh dari tabel Z (normal standar).
c. Uji satu pihak kanan
H0 tidak ditolak apabila Zhit ≤ Zα dan H0 ditolak jika Zhit > Zα, di
mana Zα: dapat diperoleh dari tabel Z (normal standar).
4. Menghitung statistik uji
Rumus statistik uji yang digunakan adalah:

7
Harinaldi, Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005), 180.

6
(𝑋̅1 −𝑋̅2 )
Zhit =
𝜎 2
𝜎 2
√ 1+ 2
𝑛1 𝑛2

Sering sekali nilai variansi populasi variansi 𝜎12 dan 𝜎22 tidak diketahui dan
nilainya diestimasi dengan 𝑠12 dan 𝑠22 , sehingga rumus statistik ujinya
adalah:
(𝑋̅1 −𝑋̅2 )
Zhit =
𝑠 2𝑠 2
√ 1+ 2
𝑛1 𝑛2

5. Kesimpulan: keputusan menolak atau menerima H0 dilakukan setelah


membandingkan nilai hasil perhitungan statistik uji dengan nilai kritis.
Jika nilai stasistik uji berada dalam daerah penolakan, maka H0 ditolak.8

Contoh:

Sebuah sekolah Dasar (SD) menerima 100 siswa baru yang terdiri atas 64 siswa,
dengan latar belakang TK dan sisanya 36 siswa tidak berlatar belakang TK.

Seorang pengamat pendidikan ingin mengetahui tingkat kesiapan siswa tersebut


dalam mengikuti pendidikan dan diperoleh data sebagai berikut:

Siswa dengan latar Siswa tidak berlatar


Statistik
belakang TK belakang TK
Rata-rata (mean) 20 16
Variansi 16 25

Berdasarkan data di atas, apakah dapat disimpulkan bahwa tingkat kesiapan


siswa dengan latar belakang TK lebih baik dibandingkan dengan siswa yang
tidak berlatar belakang TK?

Siswa dengan latar belakang TK

n1 = 64 x1 = 20 s12 = 16

n2 = 36 x2 = 16 s22 = 25

8
Quadratullah, Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan Aplikasi dengan SPSS, 292-295.

7
pengujian menggunakan uji satu pihak kanan, berikut proses pengujiannya:

a. Hipotesis
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 > µ2
b. Telah ditetapkan bahwa tingkat kepercayaan yang digunakan adalah
98% (tingkat signifikan 2%), α = 0.02.
c. Nilai kritis atau daerah penolakan
H0 tidak ditolak apabila Zhit ≤ Z0.02 dan H0 ditolak jika Zhit > Z0.02.
Berdasarkan tabel distribusi normal standar diperoleh Z0.02 = 2.05,
sehingga H0 ditolak jika Zhit > Z0.05.
d. Statistik uji
(𝑋̅1 −𝑋̅2 )
Zhit =
𝑠 2
𝑠 2
√ 1+ 2
𝑛1 𝑛2

(20−16)
=
16 25
√ +
64 36

= 4.12
e. Kesimpulan
Tampak bahwa Zhit = 4.12 > 2.05 (Zhit berada di daerah penolakan
H0), sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kesiapan siswa
dengan latar belakang TK lebih baik dibandingkan siswa yang tidak
berlatar belakang TK.

8
B. Uji T Berkorelasi
Identik dengan uji hipotesis untuk mean pada inferensi satu populasi,
rumus statistik uji yang digunakan untuk uji hipotesis selisih mean sampel
dependen atau berpasangan adalah Zhit untuk ukuran sampel besar, sehingga
menggunakan distribusi normal standar dalam penentuan daerah penolakan H0
dan thit untuk ukuran sampel kecil menggunakan distribusi – t.9

9
Quadratullah, Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan Aplikasi dengan SPSS, 323.

9
Populasi yang saling tergantung (dependent population) dapat
dicontohkan dengan suatu kelompok yang ditinjau sifatnya sebelum dan
sesudah mendapatkan perlakuan terhadap sifat yang ditinjau tersebut.10 Contoh
sampel berkorelasi, misalnya skor pada tes awal dan pada tes akhir, skor IQ dan
prestasi akademik, kemampuan verbal dan kemampuan komunikasi.11 Berikut
ini adalah langkah-langkah uji hipotesis selisih mean sampel dependen atau
berpasangan untuk sampel kecil:

1. Merumuskan hipotesis
Terdapat tiga bentuk hipotesis yang dapat dirumuskan:
a. Uji hipotesis dua pihak
H0 : µd = 0
H1 : µd ≠ 0
b. Uji hipotesis satu pihak kiri
H0 : µd = 0
H1 : µd < 0
c. Uji hipotesis satu pihak kanan
H0 : µd = 0
H1 : µd > 0
2. Menentukan tingkat signifikan α atau tingkat kepercayaan (1 - α)*100%
3. Menentukan nilai kritis atau daerah penolakan H0
Bentuk uji hipotesisnya ada tiga, maka terdapat tiga bentuk daerah
penolakan H0, yaitu:
a. Uji dua pihak
H0 tidak ditolak apabila -tα/2;(n-1) ≤ thit ≤ tα/2;(n-1) dan H0 ditolak jika
thit > tα/2;(n-1) atau thit < -tα/2;(n-1), di mana tα/2;(n-1) : dapat diperoleh
dari tabel distribusi t.
b. Uji satu pihak kiri
H0 tidak ditolak apabila thit ≥ -tα;(n-1) dan H0 ditolak jika thit < -
tα;(n-1), di mana tα;(n-1) : dapat diperoleh dari tabel distribusi t.

10
Harinaldi, Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains, 178.
11
Kadir, Statistika Terapan: Konsep, Contoh, dan Analisis Data dengan Program SPSS/Lisrel
dalam Penelitian (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), 302.

10
c. Uji satu pihak kanan
H0 tidak ditolak apabila thit ≤ -tα;(n-1) dan H0 ditolak jika thit > tα;(n-
1), di mana tα;(n-1) : dapat diperoleh dari tabel distribusi t.
4. Menghitung statistik uji
𝑑̅
thit =
𝑠𝑑 ⁄√𝑛
5. Kesimpulan: keputusan menolak atau menerima H0 dilakukan setelah
membandingkan nilai hasil perhitungan statistik uji dengan nilai kritis.
Jika nilai statistik uji berada di dalam daerah penolakan, maka H0
ditolak.12

Contoh:

Seorang manajer HRD suatu perusahaan melakukan rotasi terhadap beberapa


karyawan sesuai dengan minat dan kompetensinya. Oleh sebab itu, dilakukan
pengamatan secara acak terhadap 5 karyawan mengenai kinerja sebelum dan
sesuah rotasi, berikut datanya

Sebelum : 70 50 48 67 69

Sesudah : 75 54 50 70 75

Dengan menggunakan tingkat signifikasi 5%, apakah dapat disimpulkan bahwa


kinerja karyawan sebelum dan sesudah dilakukan rotasi adalah sama?

Misalnya:

x1 : Kinerja karyawan sebelum dilakukan rotasi

x2 : Kinerja karyawan sesudah dilakukan rotasi

di : x1i – x2i, di mana I = 1,2,3,4,5

Berdasarkan data tersebut:

Karyawan 2
x1 x2 d (𝑑 − 𝑑̅ )
ke-
1 70 75 -5 1

12
Quadratullah, Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan Aplikasi dengan SPSS, 323-325

11
2 50 54 -4 0
3 48 50 -2 4
4 67 70 -3 1
5 69 75 -6 4
Jumlah -20 10

20
Diperoleh 𝑑̅ = - 5 = -4 dan sd = √10/4 = 1.58

Pengujian menggunkaan uji dua pihak, berikut prosesnya:

a. Hipotesis
H0 : µd = 0
H1 : µd ≠ 0
b. Telah ditetapkan bahwa tingkat signifikasi yang digunakan adalah
5% (tingkat kepercayaan 95%). α = 0.05
c. Nilai kritis atau daerah penolakan
H0 tidak ditolak apabila –t0.025;4 ≤ thit ≤ t0.025;4) dan H0 ditolak jika thit
> t0.025;4 atau thit < -t0.025;4. Berdasarkan tabel distribusi t. diperoleh
t0.025;4 = 2.7765, sehingga H0 ditolak jika thit < -2.7765
d. Statistik uji
−4
thit = = -5.66
1.58⁄√5
e. Kesimpulan
Tampak bahwa thit = -5.66 < -2.7765 (thit berada di daerah penolakan
H0), sehingga dengan tingkat signifikasi 5% tidak dapat disimpulkan
bahwa kinerja jaryawan sebelum dan sesudah dilakukan rotasi
adalah sama. Dengan kata lain, kebijakan rotasi menyebabkan
kinerja karyawan sebelum dan sesudahnya menjadi berbeda.

C. Uji T Idependen
Rumus statistik uji yang digunakan untuk uji hipotesis selisih dua mean
sampel kecil dan variansi 𝜎2 diketahui adalah Zhit. Namun jika variansi 𝜎2 tidak
diketahui, maka statistik ujinya adalah thit.

Uji ini digunakan bila:

12
1. Sampel diambil dari dua populasi yang independen dan terdistribusi
normal.
2. Nilai-nilai deviasi standar populasi 𝜎1 dan 𝜎2 tidak diketahui.
3. Ukuran sampel 𝑛1 atau 𝑛2 kecil (<30).
4. Uji F pada varians menunjukkan bahwa 𝜎12 = 𝜎22 .
5. Uji F pada varians menunjukkan bahwa 𝜎12 ≠ 𝜎22 .13

Berikut langkah-langkahnya:

1. Merumuskan hipotesis
Terdapat tiga bentuk hipotesis yang dirumuskan
a. Uji hipotesis dua pihak
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2
b. Uji hipotesis satu pihak kiri
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 < µ2
c. Uji hipotesis satu pihak kanan
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 > µ2
2. Menentukan tingkat signifikan α atau tingkat kepercayaan (1 - α)*100%
3. Menentukan nilai kritis atau daerah penolakan H0
Bentuk uji hipotesisnya ada tiga, maka terdapat tiga bentuk daerah
penolakan H0, yaitu:
a. Uji dua pihak
H0 tidak ditolak apabila -tα/2;(k) ≤ thit ≤ tα/2;(k) dan H0 ditolak jika
thit > tα/2;(k) atau thit < -tα/2;(k), di mana tα/2;(k) : dapat diperoleh dari
tabel distribusi t.
b. Uji satu pihak kiri
H0 tidak ditolak apabila thit ≥ -tα;(k) dan H0 ditolak jika thit < -tα;(k),
di mana tα;(k) : dapat diperoleh dari tabel distribusi t.
c. Uji satu pihak kanan

13
Harinaldi, Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains, 182,184.

13
H0 tidak ditolak apabila thit ≤ tα;(k) dan H0 ditolak jika thit > tα;(k),
di mana tα;(k) : dapat diperoleh dari tabel distribusi t.
4. Menghitung statistik uji
Terdapat dua bentuk rumus statistik uji yang dapat digunakan, yaitu:
a. Rumus statistik uji untuk variansi berbeda adalah:
(𝑋̅1 − 𝑋̅2 )
thit =
1 1
𝑠𝑝 √ +
𝑛1 𝑛2

di mana nilai k : derajat bebas yang digunakan pada perincian


nilai tabel – t pada langkah ke-3 di atas
b. Rumus statistik uji untuk variansi diasumsikan sama adalah:
2
𝑠2 𝑠2
(𝑛1 +𝑛2 )
1 2
k= 2 2
𝑠2
1 𝑠22
(𝑛 ) (𝑛 )
1 2
+
𝑛1 −1 𝑛2 −2

(𝑋̅1 − 𝑋̅2 )
thit =
𝑠 2
𝑠 2
√ 1+ 2
𝑛1 𝑛2

(𝑛1 −1)𝑠12 +(𝑛2 −1)𝑠22


di mana 𝑠𝑝2 =
𝑛1 +𝑛2 −2
k = (𝑛1 + 𝑛2 − 2)
5. Kesimpulan: keputusan menolak atau menerima H0 dilakukan setelah
membandingkan nilai hasil perhitungan statistik uji dengan nilai kritis.
Jika nilai statistik uji berada di dalam daerah penolakan, maka H0
ditolak.14

Contoh:

Tim R&D suatu perusahaan menduga bahwa baterai merek A kekuatannya


lebih baik dari baterai merek B untuk digunakan pada mainan digital. Oleh

14
Quadratullah, Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan Aplikasi dengan SPSS, 304-307.

14
karena itu, diambil sampel 15 baterai merek A dan 13 baterai merek B, berikut
datanya:

Baterai Merek A Merek B


Rata-rata 50 45
Standar deviasi 8 5

Dengan mengasumsikan data berdistrubusi normal dan memiliki variansi sama,


selidikilah pada tingkat kepercayaan 95%, apakah benar dugaan tim R&D
bahwa baterai merek A kekuatannya lebih baik daripada baterai merek B?

Diketahui:

Merek A

nA = 15 𝑋̅𝐴 = 50 𝑠𝐴 = 8 𝑠𝐴2 = 64

nB = 13 𝑋̅𝐵 = 45 𝑠𝐵 = 5 𝑠𝐵2 = 25

(15−1)64+(13−1)25
Selanjutnya: 𝑠𝑝2 =
15+13−2

= 46

= √46 = 6.78

Dan: k = 𝑛𝐴 + 𝑛𝐵 − 2 = 15 + 3 − 2 = 26

Pengujian menggunakan uji satu pihak kanan dengan asumsi variansi sama,
berikut proses pengujiannya:

a. Hipotesis:
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2
b. Telah ditetapkan bahwa tingkat signifikasi yang digunakan adalah
5% (tingkat kepercayaan 95%). α = 0.05.
c. Nilai kritis atau daerah penolakan
H0 tidak ditolak apabila thit ≤ t0.05;(26) dan H0 ditolak jika thit > t0.05;(26).
Berdasarkan tabel distribusi t diperoleh t0.05;(26) = 1.7056.

15
d. Statistik uji
(𝑋̅1 − 𝑋̅2 )
thit =
1 1
𝑠𝑝 √𝑛 +𝑛
1 2

(50−45)
= = 1.9462
1 1
6.78√15+13

e. Kesimpulan
Tampak bahwa thit = 1.9462 < 1.7056 (thit berada di daerah
penolakan H0), artinya H0 ditolak atau H1 diterima, sehingga dapat
disimpulkan bahwa rata-rata kekuatan baterai merek A lebih baik
daripada baterai merek B pada tingkat kepercayaan 95%. Dengan
kata lain, dugaan Tim R&D perusahaan tersebut adalah benar.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Uji Z digunakan untuk uji hipotesis satu populasi untuk mean dengan
sampel besar (n ≥ 30) dan digunakan pada uji hipotesis selisih dua mean
untuk sampel besar (n ≥ 30). Dinamakan Z karena mengikuti distribusi Z
(normal standar), sehingga disebut uji Z.
2. Uji hipotesis selisih mean sampel dependen atau berpasangan adalah Zhit
untuk ukuran sampel besar, sehingga menggunakan distribusi normal
standar dalam penentuan daerah penolakan dan H0 dan thit untuk ukuran
sampel kecil menggunakan distribusi – t.
3. Rumus statistik uji yang digunakan untuk uji hipotesis selisih dua mean
sampel kecil dan variansi 𝜎2 diketahui adalah Zhit. Namun jika variansi 𝜎2
tidak diketahui, maka statistik ujinya adalah thit.

17
DAFTAR PUSTAKA

Harinaldi. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains. Jakarta: Penerbit


Erlangga, 2005.
Kadir. Statistika Terapan: Konsep, Contoh, dan Analisis Data dengan Program
SPSS/Lisrel dalam Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.
Quadratullah, Mohammad Farhan. Statistika Terapan: Teori, Contoh Kasus, dan
Aplikasi dengan SPSS. Yogyakarta: CV Andi Offset, 2014.
Subana, dkk. Statistik Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia, 2015.

18