Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang
memiliki peranan penting dalam mengelola kondisi Indonesia saat ini. Sejumlah
kebijakan, keputusan-keputusan strategis, perencanaan pembangunan, dan pelayanan
terhadap masyarakat ditetapkan dan dilakukan oleh PNS diberbagai bidang maupun
sektor pembangunan (UU Nomor 5, 2014).
Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN menurut Undang-
Undang No. 5 Tahun 2014 adalah profesi bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang bekerja pada instansi
pemerintah. Undang-undang ini mengatur agar ASN mampu bersikap profesional,
memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik
korupsi, kolusi dan nepotisme. PNS sebagai bagian dari ASN diberikan tugas sebagai
pelayan publik, pelaksaan fungsi umum pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan.
ASN yang dibebani tugas ini harus profesional, memiliki kompetensi, moral dan mental
yang baik, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat (UU
Nomor 5, 2014).
Dalam rangka mencapai tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam alinea
ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD
1945) diperlukan ASN yang profesional, bebas dari intervensi politik, bersih dari
praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, mampu menyelenggarakan pelayanan publik
bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai perekat persatuan dan
kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (LAN, 2015).
Untuk dapat membentuk sosok ASN yang mampu mengerti tugas pokok dan
fungsi yang sesuai kode etik, nilai dasar, dan kode perilaku PNS yang diaktualisasikan
kedalam tindakan sehari hari maka perlu dilaksanakan pembinaan melalui jalur
pendidikan dan pelatihan (diklat). Sesuai dengan Undang - Undang Nomor 5 Tahun
2014 tentang Aparatur Sipil Negara sebelum diangkat sebagai PNS setiap CPNS wajib
mengikuti pendidikan dan pelatihan prajabatan (Diklat prajabatan). Tujuan dari diklat
prajabatan ini yaitu untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan
motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan

1
bertanggung jawab dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang (UU
Nomor 5, 2014).
Adanya penerapan kurikulum baru sesuai peraturan kepala Lembaga
Administrasi Negara nomor 38 tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III dalam
pola diklat prajabatan, maka setiap peserta wajib untuk mengaktualisasikan nilai-nilai
dasar profesi dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya pada satuan kerja masing-
masing. Sebelum mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut, peserta menginternalisasi
nilai-nilai dasar profesi PNS dalam proses Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan.
Adapun nilai - nilai dasar profesi PNS tersebut yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi. Kelima nilai-nilai dasar ini diakronimkan
menjadi ANEKA (LAN, 2015).
Puskesmas menurut Azrul Azwar (1996) adalah suatu unit pelaksana
fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan
peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan, serta pusat pelayanan kesehatan tingkat
pertama yang menyelenggarakan kegiatan secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal pada suatu wilayah
tertentu; upaya peningkatan kualitas kesehatan gigi dan mulut harus dilakukan di tingkat
Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan terhadap masyarakat
(Azwar Azrul, 1996). Menurut undang-undang kesehatan No 36 tahun 2009, upaya
kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara
terpadu,terintregasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan
kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau
masyarakat. Puskesmas Purwodiningratan merupakan salah satu instansi yang
digunakan untuk mengaktualisasikan nila-nilai dasar tersebut.
Sebagai dokter gigi ahli pertama di Puskesmas Purwodiningratan
mengidentifikasi isu-isu yang perlu mendapat perhatian serius guna mencapai tujuan
untuk membentuk PNS yang profesional dan dalam rangka mewujudkan visi dan misi
organisasi melalui kegiatan aktualisasi.
Berdasarkan observasi dan konsultasi dengan mentor, maka di dapatkan
identifikasi isu sebagai berikut : (1) Kurang Optimalnya Peran Tenaga Medis dan
Menurunkan Angka Karies gigi di Wilayah Puskesmas Purwodiningratan ; (2) Kurang
Optimalnya Pengaktifan Kembali Layanan Setiap Hari Poli Kesgilut di Puskesmas di

2
Gandekan dalam meningkatkan Jumlah Kunjungan Pasien Gigi dan Mulit; (3) Kurang
Optimalnya Peran tenaga Kesehatan dalam Meningkatkan Kunjungan Ibu Hamil di Poli
Kesgilut Puskesmas Purwodiningratan (4) Kurang Optimalnya Penggunaan Dental Unit di
Puskesmas Pembantu di Gandekan untuk Memeriksa Gigi dan Mulut (5) Kurang Optimalnya
Ergonomi Ruang Dokter Gigi.
Kejadian karies gigi diseluruh dunia memiliki angka yang cukup tinggi yaitu
80-90% pada anak dibawah 18 tahun. Target yang ditetapkan oleh WHO adalah 90%
anak umur 5 tahun bebas karies. Sedangkan angka kejadian karies gigi di Indonesia
pada tahun 2007 mencapai 43,4% dan meningkat pada tahun 2013 menjadi 53,2%.
Hasil tersebut menunjukkan prevalensi 53,2% mengalami karies gigi yang belum
ditangani atau belum dilakukan penambalan, sehingga di Indonesia terdapat 93.998.727
jiwa menderita karies aktif. Hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018
menyebutkan bahwa 93 persen anak usia dini, yakni dalam rentang usia 5-6 tahun,
mengalami gigi berlubang. Ini berarti hanya tujuh persen anak di Indonesia yang bebas
dari masalah karies gigi. Rasio peningkatan karies gigi juga terjadi di surakarta dengan
jumlah penderita mencapai 5.364 jiwa (Dinkes, 2014).
Faktor utama yang menyebabkan terjadinya karies gigi adalah host (gigi dan
saliva), Substrat (makanan), mikroorganisme penyebab karies dan waktu. Karies gigi
hanya akan terbentuk apabila terjadi interaksi antara keempat faktor berikut. Faktor
predisposisi yang juga cukup berpengaruh terjadinya karies gigi salah satunya adalah
perilaku membersihkan mulut (gosok gigi). Kesalahan perilaku membersihkan mulut
pada anak sekolah dasar dapat disebabkan kurangnya informasi tentang cara gosok gigi
yang benar, sehingga anak-anak menggosok gigi secara asal dan tanpa mereka sadari
hal tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan pada gigi mereka.
Disampaikan Prof. drg. Anton Raharjo dari Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia, hasil Riskesdas 2018 ini juga menunjukkan bahwa rata-rata
anak-anak usia 5-6 tahun mengalami lubang pada delapan giginya. Hal ini menurutnya
bisa memengaruhi status gizi anak karena gigi berlubang membuat anak menolak untuk
makan. Kerusakan gigi pada anak bisa menyebakan gangguan masalah pertumbuhan
dan perkembangan pada anak (Sari, dkk. 2012). Jika pertumbuhan dan perkembangan
anak terganggu, maka generasi penerus bangsa akan memiliki kualitas yang kurang
baik.
Sementara untuk perilaku menyikat gigi yang benar, hasil Riskesdas 2018
menyebut bahwa baru 2,8 persen penduduk Indonesia yang sudah menyikat gigi dua

3
kali sehari, yakni pagi dan malam secara benar. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi
seputar menyikat gigi harus dimulai sejak dini karena akan menjadi kebiasaan hingga
dewasa.
Upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut meliputi upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif dapat ditingkatkan dengan peran serta masyarakat.
Salah satu upaya untuk meminimalisasi angka kesakitan yang ada adalah dengan
preventif,dengan cara promosi kesehatan. Promosi kesehatan dapat dilakukan dengan
cara memberikan pendidikan kesehatan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan
pengetahuan dan pemahaman yang cukup baik tentang masalah kesehatan gigi terutama
karies gigi dan cara menggosok gigi yang benar pada anak sekolah.

B. Identifikasi Isu
Rancangan aktualisasi ini disusun berdasarkan identifikasi beberapa isu atau
problematika yang ditemukan di instansi tempat bekerja, yaitu di Puskesmas
Purwodiningratan. Isu-isu yang menjadi dasar rancangan aktualisasi ini bersumber dari
aspek: (1) whole of goverment, (2) layanan publik, dan (3) manajemen ASN. Kegiatan-
kegiatan yang dilakukan berasal dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi), Sasaran Kinerja
Pegawai (SKP), inovasi dan inisiatif penulis yang disetujui mentor dan coach.
Adapun daftar isu yang diperoleh dengan Agenda Ketiga Pelatihan Dasar CPNS
(Manajemen ASN, WoG dan Pelayanan Publik) pada unit kerja penulis yang
dirumuskan bersama dengan pihak mentor dapat ditampilkan pada tabel 1.1 berikut :

4
Tabel 1.1 Identifikasi Isu

Kondisi yang
No Identifikasi Isu Sumber Isu Kondisi Saat Ini
Diharapkan
1. Kurang Optimalnya Whole of Belum Upaya promotif
Peran Tenaga govermen optimalnya dan preventif
Kesehatan Dalam peran tenaga melalui
menurunkan angka Managemen kesehatan dalam penyuluhan
karies gigi di ASN upaya promotif dapat dilakukan
wilayah Puskesmas dan preventif secara rutin.
Purwodiningratan pencegahan
karies gigi di
masyarakat

2. Kurang optimalnya Manajemen Pelayanan gigi dan Pelayanan gigi dan


pengaktifan ASN mulut belum mulut di
kembali layanan dilakukan secara Puskesmas
setiap hari Poli rutin hanya 2 kali Pembantu di
Kesgilut di seminggu oleh Gandekan dapat
Puskesmas perawat gigi dilakukan setiap
Pembantu di karena tidak hari.
Gandekan dalam adanya dokter gigi
meningkatkan tetap di Puskesmas
Jumlah kunjungan Pembantu di
pasien gigi dan Gandekan
mulut.

5
Kondisi yang
No Identifikasi Isu Sumber Isu Kondisi Saat Ini
Diharapkan
3. Kurang Optimalnya Whole of Rendahnya Meningkatnya
Peran Tenaga govermen kunjungan ibu hamil kesadaran
Kesehatan dalam Manajemen di poli kesgilut pentingnya
meningkatkan ASN Puskesmas pemeriksaan gigi
kunjungan ibu hamil Purwodiningratan dan mulut pada
di poli kesgilut ibu hamil.
Puskesmas
Purwodningratan

4. Kurang Pelayanan Penggunaan Adanya


Optimalnya Publik dental unit belum penggunaan
Penggunaan optimal suction dan
Dental Unit untuk dikarenakan pengadaan
Memeriksa Pasien suction tidak dental chair.
Gigi dan Mulut di berfungsi dan
Puskesmas dental chair yang
Pembantu di tidak maksimal
Gandekan sehingga pasien
menjadi tidak
Nyaman
5. Kurang Optimalnya Manajemen Penataan ruang Penataan ruang
Ergonomi Ruangan ASN dokter gigi kurang dokter gigi dapat
Dokter gigi optimal untuk mendukung
dokter gigi dan optimalisasi
asisten dokter gigi pelayanan pasien
berkerja secara
ergonomis

6
1. Penetapan Isu
a. Penetapan Kualitas Isu
Proses tersebut menggunakan dua alat bantu penetapan kriteria kualitas isu
yakni berupa:
a. APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan, dan Kelayakan) APKL memiliki 4
kriteria penilaian yaitu Aktual, Problematik, Kekhalayakan, dan Kelayakan.
1) Aktual artinya benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan di kalangan
masyarakat.
2) Problematik artinya isu yang memiliki dimensi masalah yang kompleks,
sehingga perlu dicarikan solusinya.
3) Kekhalayakan artinya isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Sedangkan
4) Kelayakan artinya isu yang masuk akal, logis, realistis, serta relevan untuk
dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.
b. USG (Urgency, Seriousness, dan Growth)
Analisis USG (Urgency, Seriousness, dan Growth) mempertimbangkan
tingkat kepentingan, keseriusan, dan perkembangan setiap variabel dengan rentang
skor 1-5.

1) Urgency (urgensi), yaitu dilihat dari tersedianya waktu, mendesak atau tidak
masalah tersebut diselesaikan.
2) Seriousness (keseriusan), yaitu melihat dampak masalah tersebut terhadap
produktivitas kerja, pengaruh terhadap keberhasilan, membahayakan sistem
atau tidak, dan sebagainya.
3) Growth (berkembangnya masalah), yaitu apakah masalah tersebut
berkembang sedemikian rupa sehingga sulit dicegah.

7
Tabel 1.2. Analisis Isu Strategis

Prinsip Kriteria A Kriteria B Peri


ASN Identifikasi Isu A P K L Ket U S G ∑ ngkat

Whole of Kurang Optimalnya Peran + + + + Memenu 5 5 5 15 1


govermen Tenaga Kesehatan Dalam hi syarat
menurunkan angka karies
Managem gigi di wilayah Puskesmas
en ASN Purwodiningratan

Pelayanan Kurang optimalnya + + + - Tidak


Publik pengaktifan kembali memenu
layanan setiap hari Poli hi syarat
Kesgilut di Puskesmas
Pembantu di Gandekan
dalam meningkatkan
Jumlah kunjungan pasien
gigi dan mulut.

Whole of Kurang Optimalnya Peran + + + + Memenu 4 4 4 12 2


govermen Tenaga Kesehatan dalam hi syarat
Manajeme meningkatkan kunjungan
n ASN ibu hamil di poli kesgilut
Puskesmas
Purwodningratan
Manajeme Kurang Optimalnya + - + - Tidak
n ASN Penggunaan Dental Unit Memenu
untuk Memeriksa Pasien hi syarat
Gigi dan Mulut di
Puskesmas Pembantu di
Gandekan

8
Manajeme Kurang Optimalnya - + - + Tidak
n ASN Ergonomi Ruangan Dokter Memenu
gigi hi syarat

Keterangan:

1. Analisis APKL : (+) memenuhi

(-) tidak memenuhi

2. Analisis USG : Nilai (5) : Sangat Setuju

Nilai (4) : Setuju

Nilai (3) : Ragu

Nilai (2) : Tidak Setuju

Nilai (1) : Sangat tidak Setuju ( Skala Likert)

Berdasarkan tabulasi APKL seperti tercantum pada tabel 1.2. Analisis Isu Strategis,
ditemukan dua isu utama yang memenuhi syarat, yaitu sebagai berikut:
1. Kurang Optimalnya Peran Tenaga Kesehatan Dalam menurunkan angka karies gigi di
wilayah Puskesmas Purwodiningratan.
2. Kurang Optimalnya Peran Tenaga Kesehatan dalam meningkatkan kunjungan ibu hamil
di poli kesgilut Puskesmas Purwodningratan.

Kemudian dalam analisis USG yang telah dilakukan, Isu “Kurang Optimalnya
Peran Tenaga Kesehatan Dalam menurunkan angka karies gigi di wilayah Puskesmas
Purwodiningratan” mendapat prioritas pertama untuk diselesaikan dengan perolehan skor
USG 15.

C. Dampak
Berdasarkan hasil identifikasi isu di atas didapatkan isu “Kurang Optimalnya Peran
Tenaga Kesehatan Dalam menurunkan angka karies gigi di wilayah Puskesmas
Purwodiningratan”. Isu di atas sangat penting untuk dilakukan pemecahannya, karena jika
isu tersebut tidak diselesaikan, maka akan timbul banyak akibat.

9
Tabel 1.1 Dampak jika isu tidak terselesaikan.
Sumber isu Isu yang diangkat Dampak
Manajemen ASN Kurang Optimalnya 1. Pengetahuan tentang kesehatan gigi dan
Peran Tenaga Kesehatan mulut menjadi rendah
Dalam menurunkan 2. Angka kesakitan gigi dan mulut
angka karies gigi di masyarakat akan meningkat seperti
wilayah Puskesmas penyakit karies gigi.
Purwodiningratan 3. Dapat berpengaruh kepada kesehatan
lainnya apabila terjadi infeksi gigi dan
mulut berkelanjutan karena kurangnya
edukasi dari tenaga medis.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah pada perancangan aktualisasi ini adalah:
1. Bagaimana cara mengoptimalisasi peran tenaga kesehatan dalam menurunkan angka
karies gigi?
2. Bagaimana nilai dasar ANEKA dapat diimplementasikan selama kegiatan aktualisasi
melalui habituasi di unit kerja?
3. Bagaimana hubungan visi, misi dan nilai organisasi dengan hasil kegiatan dari isu yang
diangkat?
Gagasan pemecahan isu adalah “ Optimalisasi peran tenaga kesehatan dalam
menurunkan angka karies gigi di wilayah Puskesmas Purwodiningratan”. Rancangan-
rancangan kegiatan yang akan dilakukan, antara lain:
1. Membuat poster sebagai media penyuluhan
2. Melakukan penyuluhan pada saat Screening siswa sekolah
3. Demonstrasi sikat gigi bersama
4. Membuat tabel monitoring sikat gigi pagi dan malam
5. Evaluasi hasil tabel monitoring sikat gigi pagi dan malam.

10
E. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai pada perancangan aktulisasi ini adalah :
1. Menurunkan angka karies gigi di wilayah Puskesmas Purwodiningratan
2. Meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut.
3. Meningkatkan pelayanan Kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas
Purwodiningratan sesuai Nilai dasar ASN (ANEKA).

F. Manfaat Penulisan
Manfaat rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III
a. Mampu memahami, menginternalisasi dan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar
PNS yang meliputi Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu
dan Anti Korupsi.
b. Menjadi dokter gigi yang mampu menjalankan fungsi sebagai pelaksana kebijakan,
pelayan publik dan perekat dan pemersatu bangsa yang memiliki integritas dan
profesional di lingkungan Puskesmas Purwodiningratan pada khususnya dan
Pemerintah Kota surakarta pada umumnya.
2. Bagi Instansi Puskesmas Purwodiningratan
a. Mendukung visi dan misi Puskesmas Purwodiningratan
b. Meningkatkan pelayanan terbaik kepada masyarakat secara menyeluruh dan
berkesinambungan.
3. Bagi masyarakat
a. Mengetahui pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.
b. Mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan harapan
dalam bidang pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

11
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Sikap dan Perilaku Bela Negara


1. Wawasan Kebangsaan
Wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional
dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional yang
jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu, timbul semangat
kebangsaan atau semangat patriotisme.
Selain itu Pengertian dari Wawasan kebangsaan ialah cara pandang
bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
tentang diri dan lingkungannya dalam mengekspresikan diri sebagai bangsa
Indonesia di tengah-tengah lingkungan nusantara itu. Unsur-unsur dasar
wawasan kebangsaan itu ialah: wadah (organisasi), isi, dan tata laku. Dari
wadah dan isi wawasan itu, tampak adanya bidang-bidang usaha untuk
mencapai kesatuan dan keserasian dalam bidang-bidang: Satu kesatuan
bangsa, satu kesatuan budaya, satu kesatuan wilayah, satu kesatuan ekonomi,
dan satu kesatuan hankam.
Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur, pada
hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran berbangsa dan bernegara
yang berarti sikap dan tingkah laku PNS harus sesuai dengan kepribadian
bangsa dan selalu mengkaitkan dirinya dengan cita-cita dan tujuan hidup
bangsa Indonesia (sesuai amanah yang ada dalam Pembukaan UUD 1945)
melalui :
1. Menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia
yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang mendiami banyak pulau yang
membentang dari Sabang sampai Merauke, dengan beragam bahasa dan
adat istiadat kebudayaan yang berbeda-beda. Kemajemukan itu diikat
dalam konsep wawasan nusantara yang merupakan cara pandang bangsa
Indonesia tentang diri dan lingkungannya yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.
2. Menumbuhkan rasa memiliki jiwa besar dan patriotisme untuk menjaga
kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sikap dan perilaku yang patriotik

12
dimulai dari hal-hal yang sederhana yaitu dengan saling tolong menolong,
menciptakan kerukunan beragama dan toleransi dalam menjalankan
ibadah sesuai agama masing-masing, saling menghormati dengan sesama
dan menjaga keamanan lingkungan.
3. Memiliki kesadaran atas tanggungjawab sebagai warga negara Indonesia
yang menghormati lambang-lambang negara dan mentaati peraturan
perundang-undangan.

2. Sikap Bela Negara


Kesadaran bela negara adalah dimana kita berupaya untuk
mempertahankan negara kita dari ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan
hidup bermasyarakat yang berdasarkan atas cinta tanah air. Kesadaran bela negara
juga dapat menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di dalam diri
masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar juga merupakan
kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran,
penuh tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan
bangsa. Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta terhadap
tanah air kita.
Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya dalam
kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:
1. Cinta Tanah Air.
Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita cintai. Kesadaran
bela negara yang ada pada setiap masyarakat didasarkan pada kecintaan kita
kepada tanah air kita. Kita dapat mewujudkan itu semua dengan cara kita
mengetahui sejarah negara kita sendiri, melestarikan budaya-budaya yang ada,
menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga nama baik negara kita.
2. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara.
Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita yang harus sesuai
dengan kepribadian bangsa yang selalu dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan
hidup bangsanya. Kita dapat mewujudkannya dengan cara mencegah
perkelahian antar perorangan atau antar kelompok dan menjadi anak bangsa
yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
3. Pancasila.
Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan sungguh luar biasa,

13
pancasila bukan hanya sekedar teoritis dan normatif saja tapi juga diamalkan
dalam kehidupan sehari-hari. Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu
keberagaman yang ada di Indonesia yang memiliki beragam budaya, agama,
etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah yang dapat mematahkan setiap
ancaman, tantangan, dan hambatan.
4. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara.
Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela berkorban untuk
bangsa dan negara. Contoh nyatanya seperti sekarang ini yaitu perhelatan
seagames. Para atlet bekerja keras untuk bisa mengharumkan nama negaranya
walaupun mereka harus merelakan untuk mengorbankan waktunya untuk
bekerja sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan hanya menjadi
seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain. Begitupun supporter
yang rela berlama-lama menghabiskan waktunya antri hanya untuk
mendapatkan tiket demi mendukung langsung para atlet yang berlaga demi
mengharumkan nama bangsa.
5. Memiliki Kemampuan Bela Negara.
Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan dengan tetap menjaga
kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam menjalani profesi masing-masing.

3. Isu-isu kontemporer
Isu-isu global kontemporer adalah isu yang berkembang serta meluas setelah
Perang Dingin berakhir pada era 1990-an. Pengertian mengenai isu-isu global
kontemporer terkait erat dengan sifat dari isu-isu tersebut yang tidak lagi didominasi
oleh hubungan Timur-Barat, seperti, ancaman perang nuklir, persaingan ideologi
antara Demokrasi-Liberal dan Marxisme-Leninisme dan diplomasi krisis.
Masyarakat internasional kini dihadapkan pada isu-isu global yang terkait dengan
“Tatanan Dunia Baru” (New World Order). Isu-isu mengenai persoalan-persoalan
kesejahteraan ini berhubungan dengan Human Security antara negara-negara maju
(developed) dengan negara-negara berkembang (developing countries) serta masalah
lingkungan.
Isu-isu global kontemporer merupakan isu yang lahir sebagai bentuk baru
ancaman keamanan yang mengalami transformasi sejak berakhirnya Perang Dingin
menjadi suatu “Agenda Global Baru” (New Global Agenda). Ancaman dalam
bentuk baru ini bukan berupa “serangan militer” yang dilakukan oleh suatu negara

14
terhadap negara lain tetapi tindakan kejahatan yang dilakukan oleh non-state actor
dan ditujukan kepada state actor maupun individu atau warga negara yang
mengancam keamanan umat manusia (Human Security).
Ancaman tersebut dapat berupa tindakan terorisme atau kejahatan
transnasional yang terorganisir (Transnational Organized Crime/TOC),
kesejahteraan (kemiskinan), degradasi lingkungan, konflik etnis dan konflik
komunal yang berdimensi internasional, hutang luar negeri, dan sebagainya.
Berkembangnya isu-isu global merupakan akibat dari perkembangan ancaman dan
berbagai persoalan kontemporer yang bersifat nonkonvensional, multidimensional,
maupun transnasional tersebut. Meluasnya persoalan global kontemporer ini juga
didorong oleh perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi dalam era
globalisasi pasca Perang Dingin. Dengan demikian, isu-isu global kontemporer
dengan sifat-sifat utamanya tersebut telah mengalami transformasi yang menggeser
persepsi mengenai ancaman keamanan yang bersifat konvensional.

B. Nilai Dasar Pegawai Negeri Sipil


Dalam melakukan kegiatan aktualisasi ini ada lima nilai dasar atau indikator
profesi ASN yakni: Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan
Anti Korupsi yang disingkat menjadi ANEKA. Kelima nilai dasar tersebut harus
dikaitkan dengan kegiatan selama aktualisasi. Sehingga setiap kegiatan memiliki nilai -
nilai dalam ANEKA. Berikut ini penjelasan umum dari setiap nilai dasar dan indikator-
indikator nilai yang terkandung pada nilai dasar tersebut yaitu (LAN, 2015):
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah Kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau
untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan
hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau
berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.
a. Indikator dari nilai-nilai dasar akuntabilitas yang harus diperhatikan, yaitu :
1) Kepemimpinan : Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah dimana
pimpinan memainkan peranan yang penting dalam menciptakan lingkungannya.
2) Transparansi : Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang dilakukan
oleh individu maupun kelompok/instansi.
3) Integritas : konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung
tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.

15
4) Tanggung Jawab : kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang di
sengaja maupun yang tidak di sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat
sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban.
5) Keadilan : kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik
menyangkut benda atau orang.
6) Kepercayaan : Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.

16
7) Keseimbangan : Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka
diperlukan keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan dan
kapasitas.
8) Kejelasan : Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus memiliki gambaran
yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang diharapkan.
9) Konsistensi : adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu
sampai pada tercapai tujuan akhir.
2. Nasionalisme
Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN. Bahkan tidak
hanya sekedar wawasan saja tetapi kemampuan mengaktualisasikan nasionalisme
dalam menjalankan fungsi dan tugasnya merupakan hal yang lebih penting. Diharapkan
dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap pegawai ASN memiliki orientasi berpikir
mementingkan kepentingan publik, bangsa, dan negara. Nilai-nilai yang berorientasi
pada kepentingan publik menjadi nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap pegawai
ASN. Pegawai ASN dapat mempelajari bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam
Pancasila agar memiliki karakter yang kuat dengan nasionalisme dan wawasan
kebangsaannya.
Nasionalisme dalam arti sempit merupakan sikap yang meninggikan bangsanya
sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Dalam arti luas,
nasionalisme berarti pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan
negara, sekaligus menghormati bangsa lain. Nasionalisme Pancasila merupakan
pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya
yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme yang harus diperhatikan,
yaitu :
a. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
Ketuhanan YME menjadikan Indonesia bukan sebagai negara sekuler yang
membatasi agama dalam ruang privat. Pancasila justru mendorong nilai-nilai
ketuhanan mendasari kehidupan masyarakat dan berpolitik. Nilai-nilai ketuhanan
yang dikehendaki Pancasila adalah nilai-nilai ketuhanan yang positif, yang digali
dari nilai-nilai keagamaan yang terbuka (inklusif), membebaskan dan menjunjung
tinggi keadilan dan persaudaraan.
Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan diharapkan bisa

17
memperkuat pembentukan karakter dan kepribadian, melahirkan etos kerja yang
positif, dan memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi diri dan
kekayaan alam yang diberikan Tuhan untuk kemakmuran masyarakat.

b. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradap


Sila kedua memiliki konsekuensi ke dalam dan ke luar. Ke dalam berarti
menjadi pedoman negara dalam memuliakan nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi
manusia. Ini berarti negara menjalankan fungsi “melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum
dan mencerdaskan kehidupan bangsa
c. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia
Semangat kebangsaan adalah mengakui manusia dalam keragaman dan
terbagi dalam golongan-golongan. Keberadaan bangsa Indonesia terjadi karena
memiliki satu nyawa, satu asal akal yang tumbuh dalam jiwa rakyat sebelumnya,
yang menjalani satu kesatuan riwayat, yang membangkitkan persatuan karakter dan
kehendak untuk hidup bersama dalam suatu wilayah geopolitik nyata.
Selain kehendak hidup bersama, keberasaan bangsa Indonesia juga
didukung oleh semangat gotong royong. Dengan kegotong royongan itulah,
Indonesia harus mampu melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia,
bukan membela atau mendiamkan suatu unsur masyarakat atau bagian tertentu dari
teritorial Indonesia.
Tujuan nasionalisme yang mau didasari dari semangat gotong royong yaitu
kedalam dan ke luar. Ke dalam berarti kemajemukan dan keanekaragaman budaya,
suku, etnis, agama yang mewarnai kebangsaan Indonesia, tidak boleh dipandang
sebagai hal negatif dan menjadi ancaman yang bisa saling menegasikan.
Sebaliknya, hal itu perlu disikapi secara positif sebagai limpahan karunia yang bisa
saling memperkaya khazanah budaya dan pengetahuan melalui proses penyerbukan
budaya. Ke luar berarti memuliakan kemanusiaan universal, dengan menjunjung
tinggi persaudaraan, perdamaian dan keadilan antar umat manusia.

d. Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan/perwakilan.
Demokrasi permusyawaratan mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama,
badan permusyawaratan/perwakilan bisa menjadi ajang memperjuangkan asprasi

18
beragam golongan yang ada di masyarakat. Fungsi kedua, semangat
permusyawaratan bisa menguatkan negara persatuan, bukan negara untuk satu
golongan atau perorangan. Permusyawaratan dengan landasan kekeluargaan dan
hikmat kebijaksanaan diharapkan bisa mencapai kesepakatan yang membawa
kebaikan bagi semua pihak.
Abraham Lincoln mendefinisikan demokrasi sebagai “pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Ada tiga prasyarat dalam pemerintahan
yang demokratis, yaitu : (1) kekuasaan pemerintah berasal dari rakyat yang
diperintah; (2) kekuasaan itu harus dibatasi; dan (3) pemerintah harus berdaulat,
artinya harus cukup kuat untuk dapat menjalankan pemerintahan secara efektif dan
efisien.
Secara garis besar, terdapat dua model demokrasi, yaitu : majoritarian
democracy (demokrasi yang lebih mengutamakan suara mayoritas) dan consensus
democracy (demokrasi yang mengutamakan konsensus atau musyawarah). Oleh
karena itu, pilihan demokrasi konsensus berupa demokrasi permusyawaratan
merupakan pilihan yang bisa membawa kemaslahatan bagi bangsa Indonesia.
e. Sila Kelima : Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia
Dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, para pendiri bangsa menyatakan
bahwa Negara merupakan organisasi masyarakat yang bertujuan
menyelenggarakan keadilan. Keadilan sosial juga merupakan perwujudan
imperative etis dari amanat pancasila dan UUD 1945.
Peran negara dalam mewujudkan rasa keadilan sosial, antara lain : (a)
perwujudan relasi yang adil di semua tingkat sistem kemasyarakatan; (b)
pengembangan struktur yang menyediakan kesetaraan kesempatan; (c) proses
fasilitasi akses atas informasi, layanan dan sumber daya yang diperlukan; dan (d)
dukungan atas partisipasi bermakna atas pengambilan keputusan bagi semua orang.

19
3. Etika Publik
Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta keyakinan untuk
menentukan perbuatan yang pantas, guna menjamin adanya perlindungan hak-hak
individu, mencakup caracara pengambilan keputusan untuk membantu membedakan
hal-hal yang baik dan buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan sesuai
nila-nilai yang dianut.Berdasarkan UU ASN, kode etik dan kode perilaku ASN adalah :
1. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab dan berintegritas.
2. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.
3. Melayani dengan sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan.
4. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
5. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang
berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan etika pemerintahan.
6. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.
7. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif
dan efisien.
8. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.
9. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain yang
memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
10. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan dan
jabtannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri
atau untuk orang lain.
11. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN.
12. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin
pegawai ASN.
Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam undang-undang ASN,
memiliki indikator sebagai berikut :
Berdasarkan UU ASN, kode etik dan kode perilaku ASN adalah :
1. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
2. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia 1945.
3. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
5. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.

20
6. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
7. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.
8. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah.
9. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat,
berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
10. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
11. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
12. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
13. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
14. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat
sistem karir.
4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu adalah janji pada diri kita sendiri atau pada orang lain yang
tercermin dalam tindakan kita untuk menjaga mutu kinerja pegawai. Komitmen mutu
merupakan pelaksanaan pelayanan publik dengan berorientasi pada kualitas hasil,
dipersepsikan oleh individu terhadap produk/ jasa berupa ukran baik/ buruk. Bidang
apapun yang menjadi tanggungjawab pegawai negeri sipil semua mesti dilaksanakan
secara optimal agar dapat memberi kepuasan kepada stakeholder.
Nilai-nilai Komitmen Mutu:
a) Efektivitas: dapat diartikan dengan berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai
dengan target. Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian target yang
telah direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja. Efektivitas
organisasi tidak hanya diukur dari performans untuk mencapai target (rencana)
mutu, kuantitas, ketepatan waktu dan sumber daya melainkan juga diukur dari
kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan pelanggan.

b) Efisiensi: dapat dihitung sebagai jumlah sumberdaya yang digunakan untuk


menghasilkan barang dan jasa. Tingkat efisiensi diukur dari penghematan biaya,
waktu, tenaga, dan pikiran dalam melaksanakan kegiatan. Efisiensi organisasi
ditentukan oleh berapa banyak bahan baku, uang dan manusia yang dibutuhkan
untuk menghasilkan jumlah keluaran tertentu.

c) Inovasi: dapat muncul karena ada dorongan dari dalam (internal) untuk melakukan
perubahan, atau bisa juga karena ada desakan kebutuhan dari pihak eksternal
misalnya permintaan pasar. Inovasi dalam layanan publik harus mencerminkan

21
hasil pemikiran baru yang konstruktif, sehingga akan memotivasi setiap individu
untuk membangun karakter dan mindset baru sebagai aparatur penyelenggara
pemerintahan, yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme layanan publik yang
berbeda dengan sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau menggugurkan tugas
rutin.

d) Orientasi mutu: mutu merupakan salah satu standar yang menjadi dasar untuk
mengukur capaian hasil kerja. Mutu menjadi salah satu alat vital untuk
mempertahankan keberlanjutan organisasi dan menjaga kredibilitas institusi.
Orientasi mutu berkomitmen untuk senantiasa melakukan pekerjaan dengan arah
dan tujuan untuk kualitas pelayanan sehingga pelanggan menjadi puas dalam
pelayanan.
Ada lima dimensi karakteristik yang digunakan dalam mengevaluasi kualitas
pelayanan, yaitu:
e) Tangibles (bukti langsung), yaitu : meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi;

f) Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan dalam memberikan


pelayanan dengan segera dan memuaskan serta sesuai dengan yang
telah dijanjikan;
g) Responsiveness (daya tangkap), yaitu keinginan untuk memberikan
pelayanan dengan tanggap;
h) Assurance (jaminan), yaitu mencakup kemampuan, kesopanan, dan
sifat dapat dipercaya;
i) Empathy, yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, dan perhatian dengan tulus terhadap
kebutuhan pelanggan.

5. Anti Korupsi
Korupsi sering disebut dengan kejahatan luar biasa karena dampaknya dapat
menyebabkan kerusakan yang luar biasa baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga,
masyarakat dan kehidupan yang lebih luas. Kerusakan tersebut tidak hanya terjadi
dalam kurun waktu yang pendek, namun dapat berdampak secara jangka panjang.
Korupsi menurut UU No. 20 Tahun 2001 didefinisikan sebagai tindakan melawan
hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang
berakibat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

22
Korupsi secara harfiah adalah kebusukan, keburukan, kebejatan,
ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian. Kata kunci
untuk menjauhkan diri dari korupsi adalah internalisasi integritas pada diri sendiri dan
hidup atau bekerja dalam lingkungan yang menjalankan integritas dengan baik.
Identifikasi nilai dasar anti korupsi memberikan nilai-nilai dasar anti korupsi yang
prioritas dan memiliki signifikansi yang tinggi bagi kita. Nilai-nilai dasar anti korupsi
penting untuk mencegah terjadinya korupsi dan mendukung prinsip-prinsip anti korupsi
yang meliputi akuntabilitas, transparansi, kewajaran, kebijakan dan kontrol kebijakan
supaya semua dapat berjalan dengan baik serta, untuk mencegah faktor eksternal
penyebab korupsi.
Adapun Nilai-nilai dasar anti korupsi adalah meliputi:
a) Kejujuran
Menurut KBBI kata jujur dapat didefinisikan sebagai lurus hati, tidak berbohong,
dan tidak curang. Jujur adalah salah satu sifat yang sangat penting dalam
kehidupan pegawai, tanpa sifat jujur pegawai tidak akan dipercaya dalam
kehidupan sosialnya.
b) Kepedulian
Peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan menghiraukan. Nilai kepedulian
sangat penting bagi seorang pegawai dalam kehidupan di tempat kerja dan di
masyarakat
c) Kemandirian
Kondisi mandiri dapat diartikan sebagai proses mendewasakan diri yaitu dengan
tidak bergantung pada orang lain untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya.
Dengan karakter kemandirian pegawai dituntut untuk mengerjakan semua
tanggung jawab dengan usahanya sendiri dan bukan orang lain.
d) Kedisiplinan
Disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (KBBI). Manfaat dari hidup
yang disiplin adalah kita dapat mencapai tujuan hidup dengan waktu yang lebih
efisien, dan juga dapat membuat orang lain percaya dalam mengelola suatu
kepercayaan.
e) Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau
terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan dan diperkarakan) (KBBI). Tanggung
jawab adalah menerima segala sesuatu perbuatan yang salah baik itu disengaja

23
maupun tidak disengaja. Tanggung jawab tersebut berupa perwujudan dan
kesadaran akan kewajiban menerima dan menyelesaikan semua masalah yang telah
dilakukan
f) Kerja Keras
Bekerja keras didasari dengan adanya kemauan, di mana kemauan menimbulkan
asosiasi dengan ketekadan, ketekunan, daya tahan, tujuan jelas, daya kerja,
pendirian, pengendalian diri, keberanian, ketabahan, keteguhan, tenaga, kekuatan
dan pantang mundur.
g) Sederhana
Gaya hidup sederhana dibiasakan untuk tidak hidup boros, hidup sesuai dengan
kemampuannya dan dapat memenuhi semua kebutuhannya. Prinsip hidup
sederhana merupakan parameter penting dalam menjalin hubungan antara sesama
karena prinsip ini akan mengatasi permasalahan kesenjangan sosial, iri, dengki,
tamak, egosi dan juga menghindari dari keinginan yang berlebihan.
h) Keberanian
Keberanian diperlukan untuk mencapai kesuksesan, untuk mengembangkan sikap
keberanian demi mempertahankan pendirian dan keyakinan harus
mempertimbangkan masalah dengan sebaik-baiknya. Nilai keberanian dapat
dikembangkan dan diwujudkan dalam bentuk berani mengatakan dan membela
kebenaran, berani mengakui kesalahan, berani bertanggung jawab dan lain
sebagainya.
i) Keadilan
Adil berarti adalah sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak. Nilai keadilan
dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan pujian yang tulus kepada yang
berprestasi, memberikan saran perbaikan dan semangat pada yang tidak
berprestasi, tidak memilih kawan berdasarkan latar belakang sosial dan lain-lain.

C. Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI


Kedudukan ASN dalam NKRI yaitu
1. Pegawai ASN berkedudukan sabagai Aparatur Negara.
2. Pegawai ASN melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh Pimpinan Instansi
Pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan Intervensi semua Golongan dan
Parpol.
3. Pegawai ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.

24
4. Kedudukan ASN berada di Pusat, Daerah dan Luar Negeri, namun demikian
Pegawai ASN merupakan satu kesatuan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 53 Tahun 2010, Pegawai
Negeri Sipil memiliki kewajiban untuk:
1. Mengucapkan sumpah/janji PNS;
2. Mengucapkan sumpah/janji jabatan;
3. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan
Pemerintah;
4. Menaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan;
5. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh
pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;
6. Menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat PNS;
7. Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri, seseorang,
dan/atau golongan;
8. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus
dirahasiakan;
9. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan
negara;
10. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang
dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di
bidang keamanan, keuangan, dan materiil;
11. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja;
12. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan;
13. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-
baiknya;
14. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat;
15. Membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas;
16. Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier; dan
17. Menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 53 Tahun 2010, Pegawai Negeri


Sipil memiliki kewajiban untuk:
1. Menyalahgunakan wewenang;

25
2. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain
dengan menggunakan kewenangan orang lain;
3. Tanpa izin Pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain
dan/atau lembaga atau organisasi internasional;
4. Bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau lembaga swadaya
masyarakat asing;
5. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan
barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga
milik negara secara tidak sah;
6. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan, atau
orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk
keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau tidak
langsung merugikan negara;
7. Memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik
secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat
dalam jabatan;
8. Menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang
berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya;
9. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya;
10. Melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat
menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehingga
mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani;
11. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan;
12. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah dengan cara: a) Ikut serta sebagai pelaksana kampanye; b)
Menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut
PNS; c) Sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain; dan/atau d)
Sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara;
13. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden dengan cara:
Membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan
salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau b) Mengadakan
kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang
menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye

26
meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada
PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat;
14. Memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau
calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat
dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan
Tanda Penduduk sesuai peraturan perundang-undangan; dan
15. Memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah,
dengan cara: a) Terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon
Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah; b) Menggunakan fasilitas yang terkait
dengan jabatan dalam kegiatan kampanye; c) Membuat keputusan dan/atau
tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon
selama masa kampanye; dan/atau d) Mengadakan kegiatan yang mengarah
kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu
sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan,
himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit
kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat.

1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan
pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari
intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.
Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen PPPK. PNS
diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki suatu jabatan
pemerintahan dan memilili nomor induk pegawai nasional. Sementara itu,
PPPK diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian berdasarkan perjanjian
kerja sesuai dengan kebutuhan instansi pemerintah untuk jangka waktu
tertentu.
Manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan Sistem Merit.
Manajemen ASN meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan; pengadaan;
pangkat dan jabatan; pengembangan karier; pola karier; promosi; mutasi;
penilaian kinerja; penggajian dan tunjangan; penghargaan; disiplin;
pemberhentian; jaminan pensiun dan jaminan hari tua; dan perlindungan
(LAN, Manajemen Aparatur Sipil Negara, 2014).

27
2. Pelayanan Publik
LAN (1998), mengartikan pelayanan publik sebagai segala bentuk
kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan di
Pusat dan Daerah, dan di lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan
/atau jasa, baik dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dalam UU No. 25
tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, Pelayanan Publik adalah kegiatan atau
rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
dengan Peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan
penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan
oleh penyelenggara Pelayanan Publik.
Barang/jasa publik adalah barang/jasa yang memiliki rivalry (rivalitas)
dan excludability (ekskludabilitas) yang rendah. Barang/jasa publik yang
murni yang memiliki ciri-ciri: tidak dapat diproduksi oleh sektor swasta
karena adanya free rider problem, non-rivalry, dan non-excludable, serta cara
mengkonsumsinya dapat dilakukan secara kolektif. Perkembangan paradigma
pelayanan: Old Public Administration (OPA), New Public Management
(NPM) dan seterusnya menjadi New Public Service (NPS).
Sembilan prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan
pelayanan prima adalah: partisipatif, transparan, responsif, non diskriminatif,
mudah dan murah, efektif dan efisien, aksesibel, akuntabel, dan berkeadilan.
Fundamen Pelayanan Publik:
a. Pelayanan publik merupakan hak warga negara sebagai amanat konstitusi

b. Pelayanan publik diselenggarakan dengan pajak warga negara

c. Pelayanan publik diselenggarakan dengan tujuan untuk mencapai hal-hal


strategis untuk memajukan bangsa di masa yang akan datang

d. Pelayanan publik tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan


warga negara tetapi juga untuk proteksi

3. Whole of Government
Whole of Goverment (WoG) merupakan suatu pendekatan
penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif
pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang

28
lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, manajemen
program, dan pelayanan publik. Oleh karena itu WoG dikenal sebagai
pendekatan interagency, yaitu pendekatan dengan melibatkan sejumlah
kelembagaan yang terkait urusan-urusan yang relevan (Suwarno & Sejati,
2016).
WoG dipandang sebagai metode suatu instansi pelayanan publik
bekerja lintas batas atau lintas sektor guna mencapai tujuan bersama dan
sebagai respon terpadu pemerintah terhadap isu-isu tertentu (Shergold & lain-
lain, 2004).
Alasan penerapan WoG dalam sistem aparatur sipil Indonesia adalah:
a. Adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam mewujudkan
integrasi kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta
penyelenggaraan pemerintahan lebih baik, selain itu perkembangan
teknologi informasi, situasi dan dinamika kebijakan yang lebih kompleks
juga mendorong pentingnya WoG.

b. Faktor-faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan kapasitas


sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi antar sektor dalam
pembangunan.

c. Keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta bentuk latar
belakang lainnya mendorong adanya potensi disintegrtasi bangsa.

29
BAB III
PROFIL UNIT KERJA DAN TUGAS PESERTA

A. Profil Puskesmas Purwodiningratan


1. Data Wilayah Kerja
UPT Puskesmas Purwodiningratan terletak di Kelurahan Purwodiningratan Kecamatan
Jebres Kota Surakarta. Wilayah kerjanya meliputi 6 Kelurahan yaitu Sudiroprajan, Gandekan,
Purwodiningratan, Kepatihan Wetan, Kepatihan Kulon, dan Tegalharjo. UPT Puskesmas
Purwodiningratan mempunyai letak yang strategis sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat
dari seluruh wilayah binaan puskesmas.
Peta wilayah kerja binaan UPT Puskesmas Purwodiningratan adalah sebagai berikut:

KEL. MOJOSONGO

KEL. TEGALHARJO

KEL. JEBRES

KEL. KEPATIHAN
KULON

KEL. KEPATIHAN
WETAN KEL.
PURWODININGRATAN
KEL. JAGALAN

KEL.
SUDIROPRAJAN

KEL.
KEL. SEWU
GANDEKAN

Gambar 3.1 Peta Wilayah Puskesmas

30
2. Data Kelurahan Wilayah Kerja UPT Puskesmas Purwodiningratan

Jumlah Jumlah
No Kelurahan RW RT Luas (Ha)
KK penduduk
1. Sudiroprajan 9 35 23 1152 3408

2. Gandekan 9 36 35 2833 9240

3. Purwodiningratan 10 35 37,25 1365 4709

4. Kepatihan Wetan 2 8 22,50 847 3063

5. Kepatihan Kulon 3 20 17,50 832 2591

6. Tegalharjo 6 33 42 1424 5151

TOTAL 39 170 176,75 8467 28252


Tabel 3.1 Data kelurahan

3. Data Sekolah
INSTITUSI PENDIDIKAN DI WILAYAH UPT PUSKESMAS PURWODININGRATAN

JUMLAH GURU
INSTITUSI JUMLAH
NO JUMLAH KADER DILATIH
PENDIDIKAN MURID
KES KESEHATAN
1 PAUD/ TK 18 916 - 25
2 SD / SLB 10 1722 242 10
3 SMP / MTs 7 2494 84 7
4 SMA/ SMK 7 3049 84 7
JUMLAH 42 8181 410 4942
Tabel 3.2 Data sekolah
B. Visi, Misi dan Tata Nilai Organisasi
Visi
Mewujudkan unit pelayanan kesehatan Puskesmas Purwodiningratan yang berkualitas
dalam program pelayanan, dan SDM menuju masyarakat sehat.
Misi
a. Memberikan pelayanan tingkat pertama yang berkualitas
b. Meningkatkan kompetensi SDM
c. Meningkatkan peran serta individu, keluarga dan masyarakat
dalam pembangunan di bidang kesehatan

31
d. Menyediakan sarana dan prasarana, penunjang pelayanan
kesehatan yang memadai
e. Meningkatkan kinerja, ketrampilan, dan kecakapan petugas
dalam mengelola program
f. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat hidup sehat

Tata Nilai UPT Puskermas Purwodiningratan yaitu “KOMPAK”


K : Komunikasi dan Koordinasi
O : Organisir semua kegiatan secara terpadu
M : Melayani pelanggan internal dan eksternal dengan santun dan sepenuh hati
P : Profesional, memberikan pelayanan sesuai standar kompetensi dan
Kemampuan
A : Akuntabel, memberikan pelayanan sesuai pedoman yang ditetapkan, dapat
diukur dan dipertanggungjawabkan
K : Kreasi dan Inovasi pelayanan, sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan

Budaya kerja UPT Puskesmas Purwodiningratan


1. Gotong royong
2. Merawat
3. Menjaga
4. Memiliki

5. Mengamankan

C. Uraian Tugas Dokter Gigi


1. Melakukan pemeriksaan pada pasien untuk menentukan diagnosa
2. Memberi pengobatan / perawatan pada pasien sesuai dengan hasil diagnosa
3. Membuat surat pengantar beradasar hasil pemeriksaan agar mendapatkan
menanganan lebih lanjut
4. Membuat rujukan ke rumah sakit untuk penyakit yang tidak dapat ditangani di
puskesmas untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut

32
5. Memberikan arahan kepada perawat gigi secara periodik guna peningkatan
pelayanan kesehatan
6. Memberikan konseling dan penyuluhan pada pasien
7. Entry data simpus dan p-care
8. Membuat laporan hasil pelaksanaan tugas kepada atasan sebagai
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas.

D. Struktur Organisasi

Gambar 3.2 Struktur Organisani

33
E. Role Model

Role model merupakan figur atau contoh teladan untuk dijadikan sebagai
model mirroring. Pada rancangan aktualisasi ini,penulis memilih Walikota Surakarta,
yaitu: Bapak FX. Hadi Rudiatmo sebagai figur panutan/ role model bagi penulis.
Arahan beliau sejalan dengan nilai-nilai ANEKA, yaitu akuntabilitas (integritas,
tanggung jawab, keterbukaan), nasionalisme (sila ke-2), komitmen mutu (nyata,
kehandalan, kompetensi), dan anti korupsi (kejujuran, disiplin, kerjakeras, dan
berani). Sosok beliau dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan nilai-nilai
ANEKA. Beliau selalu ramah (etika publik) pada semua orang dan tidak
membeda-bedakan (Nasionalisme sila ke 2).

Gambar 3.3 Walikota Surakarta

Wali Kota Surakarta bapak FX. Hadi Rudiatmo dipilih sebagai role model karena
kepemimpinan (Akuntabilitas) beliau yang dinilai luar biasa dalam membawa perubahan
besar bagi Kota Surakarta. Beliau sangat berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan
publik guna memberikan kepuasan untuk masyarakat khususnya Masyarakat Kota Surakarta.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya sarana dan prasarana (komitmen mutu) yang dinilai
sangat bermanfaat. Berbagai inovasi dilakukan dalam memperbaiki kinerja pegawai
(komitmen mutu) Pegawai di Kota Surakarta.

34
BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan Nilai ANEKA


dan Peran Kedudukan ASN

Unit Kerja : Puskesmas Purwodiningratan


Identifikasi Isu :
1. Kurang Optimalnya Peran Tenaga Kesehatan Dalam menurunkan angka karies
gigi di wilayah Puskesmas Purwodiningratan
2. Kurang optimalnya pengaktifan kembali layanan setiap hari Poli Kesgilut di
Puskesmas Pembantu di Gandekan dalam meningkatkan Jumlah kunjungan pasien
gigi dan mulut.
3. Kurang Optimalnya Peran Tenaga Kesehatan dalam meningkatkan kunjungan ibu
hamil di poli kesgilut Puskesmas Purwodningratan
4. Kurang Optimalnya Penggunaan Dental Unit di Puskesmas Pembantu di
Gandekan untuk Memeriksa Pasien Gigi dan Mulut
5. Kurang optimalnya ergonomi ruang dokter gigi.

Analisis isu
Isu yang diangkat : Kurang Optimalnya Peran Tenaga Kesehatan
dalam Menurunkan angka karies gigi di Puskesmas
Purwodiningratan

Gagasan kegiatan pemecahan isu :

1. Membuat media penyuluhan berupa poster untuk Puskesmas Purwodiningratan


2. Melakukan kegiatan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut di sekolah pada
saat screning
3. Melakukan demontrasi sikat gigi yang baik dan benar di sekolah
4. Membuat lembar tabel monitoring sikat gigi pagi dan malam
5. Evaluasi hasil monitoring sikat gigi pagi dan malam

35
Tabel 4.1 Kegiatan Rancangan Aktualisasi

Penguatan
Keterkaitan Kontribusi Nilai
N Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata Terhadap Visi Organisasi
o Pelatihan (ANEKA) Misi
Organisasi

1 2 3 4 5 6 7
1 Pembuatan 1. Konsultasi kepada 1. Adanya arahan 1.Konsultasi dengan Melalui peran nilai- Kegiatan ini
poster pimpinan terkait dan persetujuan harus menghormati nilai dasar ASN menguatkan
kesehatan gigi mekanisme dari atasan atasan diharapkan kegiatan nilai
dan mulut pembuatan poster 2. Terbentuk (nasionalisme: ini dapat mendukung organisasi
2. Menyusun konsep konsep yang jelas Pancasila sila ke 2, terpenuhnya visi yaitu
Sumber: materi poster dan menarik Kemasusiaan yang Puskesmas Melayani
Inovasi 3. Mencetak poster adil dan beradap), Purwodiningratan pelanggan
2.Konsep materi yaitu “Mewujudkan internal dan
poster yang berisi unit pelayanan eksternal
tentang inovatif kesehatan dengan
(komitmen mutu) Puskesmas santun dan
Purwodiningratanya sepenuh hati
3. poster yang di
ng berkualitas dalam dikarenakan
hasilkan dapat
progam, pelayanan salah satu
dipertanggungjaw
dan SDM menuju media
abkan
masyarakat sehat” penyampai
(akuntabilitas)
informasi
kepada
pasien

29
2 Melakukan 1. Konsultasi kepada 1. Adanya arahan 1. Konsultasi dengan Melalui peran nilai- Kegiatan ini
kegiatan pimpinan terkait dan surat sopan santun nilai dasar ASN menguatkan
penyuluhan di mekanisme persetujuan dari (etika publik) diharapkan kegiatan nilai
sekolah dan di kegiatan atasan ini dapat mendukung organisasi
Puskesmas penyuluhan di 2. Terjalin terpenuhnya visi yaitu
sekolah kerjasama tim Puskesmas Komunikasi
Sumber 2. Pembentukan tim pelaksana Purwodiningratan dan
kegiatan :SKP dan koordinasi Siswa sekolah yaitu “Mewujudkan Koordinasi
pelaksanaan mengetahui unit pelayanan
terdiri dari : tentang kesehatan Kegiatan
dokter gigi, pentingnya Puskesmas dilakukan
perawat gigi, dan kesehatan gigi Purwodiningratanya dengan
Guru dan mulut ng berkualitas dalam pendekatan
progam, pelayanan pada anak-
dan SDM menuju anak di
masyarakat sehat” sekolah.

30
3. Persiapan media 3. Mendapatkan 2. menerima
berupa model studi informasi masukan dari Dan salah satu
gigi untuk tentang indeks tenaga terkait Misinya yaitu
pelaksanaan kesehatan gigi (nasionalisme: “menggerakkan dan
penyuluhan dan mulut siswa Pancasila sila ke- memberdayakan
kesehatan gigi dan di sekolah 4, Kerakyatan masyarakat untuk
mulut. 4. Terdokumentasi yang dipimpin hidup sehat”
4. Penyuluhan kegiatan oleh hikmat dan
tentang kesehatan penyuluhan kebijaksanaan
gigi dan mulut di dan screening dalam
sekolah permusyawaraha
5. Screening/ n perwakilan
pemeriksaan gigi 3. Persiapan media
dan mulut penyuluhan
6. Mendokumentasik dengan inovatif
an kegiatan (komitmen mutu
(antikorupsi).
4. Pelaksanaan
penyuluhan
dengan efisien
dan efektif
(komitmen
mutu)

31
5. Pelaksanaan
screening dengan
kepedulian
(etika publik),

6. Dokumentasi
kegiatan dengan
transparansi
(akuntabilitas)
3. Demo sikat gigi 1. Konsultasi dengan 1. Arahan dan 1. Konsultasi dengan Melalui peran Kegiatan
bersama pimpinan terkait surat persetujuan menghormati nilai- nilai dasar Demo sikat
pelaksanaan dari atasan atasan ASN gigi menjadi
Sumber : gerakan sikat gigi 2. Terjalinnya (nasionalisme: (ANEKA) diharapkan kegiatan
Inovasi bersama kerjasama antara Pancasila sila ke-2, dapat mendukung inovatif
2. Berkolaborasi tenaga kesehatan Kemanusiaan yang terpenuhnya visi untuk
dengan tenaga gigi dengan adil dan beradab Puskesmas meningkatk
kesehatan gigi dan tenaga 2. Berkolaborasi Purwodiningratan an
tenaga promkes promkes dengan tenaga yaitu “Mewujudkan kesejahtera
Puskemas puskemas kesehatan lainnya unit pelayanan an
3. Menetapkan 3. Tersusunnya musyawarah kesehatan Puskesmas kesehatan
jadwal dan lokasi jadwal dan lokasi (nasionalisme: Purwodiningratanyan gigi dan
pelaksanaan pelaksanaan Pancasila silake-4, g berkualitas dalam mulut
gerakan sikat gigi gerakan sikat Kerakyatan yang progam, pelayanan
bersama gigi bersama dipimpin oleh dan SDM menuju
4. Penyediaan sarana 4. Tersedianya hikmat dan masyarakat sehat”
gerakan sikat gigi sarana untuk kebijaksanaan
bersama (seperti pelaksanaan dalam
sikat gigi, pasta gerakan sikat permusyawaratan
gigi dan air gigi bersama perwakilan),
kumur) 5. Terlaksananya 3. Terjadwal dan
5. Melaksanakan kegiatan sikat tersedianya tempat
kegiatan gerakan gigi bersama kegiatan pelatihan
sikat gigi 6. Terdokumentasin dengan adanya

32
bersama ya kegiatan kejelasan
Mendokumentasi Gerakan sikat (akuntabilitas),
kegiatan gigi bersama
4 Membuat tabel 1. Konsultasi kepada 1. Adanya arahan 1. Konsultasi dengan Melalui peran Kegiatan ini
monitoring sikat pimpinan terkait dan persetujuan sopan santun nilai- nilai dasar menguatka
gigi bersama mekanisme dari atasan (etika publik), ASN diharapkan n nilai
Sumber pembuatan tabel 2. Terbentuk 2. tabel monitoring kegiatan ini dapat organisasi
Kegiatan: monitoring konsep yang yang dengan mendukung yaitu
Inovasi 2. Menyusun konsep jelas dan jujur (antikorupsi) terpenuhnya visi Melayani
materi menarik Puskesmas pelanggan
4. Tabel monitoring
3. Mencetak tabel Purwodiningratan internal dan
yang dapat di
monitoring yaitu eksternal
pertanggungjaw
“Mewujudkan unit dengan
abkan
pelayanan santun dan
(akuntabilitas)
kesehatan sepenuh hati
Puskesmas dikarenakan
Purwodiningratan salah satu
yang berkualitas media
dalam progam, penyampai
pelayanan dan informasi
SDM menuju kepada
masyarakat sehat” pasien dan
bisa
menjadi
bahan
evaluasi
keberhasilan
kegiatan
5 Evaluasi hasil 1. Konsultasi 1. Adanya 1. Konsultasi Melalui peran Kegiatan ini
monitoring dengan persetujuan dengan nilai- nilai dasar menguatka
pimpinan dari atasan menghormati ASN diharapkan n nilai
perihal izin dan 2. Adanya izin atasan kegiatan ini dapat organisasi
mekanisme dan (nasionalisme: mendukung yaitu

33
pelaksanaan kerjasama Pancasila sila terpenuhnya visi komunikasi
2. Koordinasi pelaksanaan ke-2, Puskesmas dan
dengan guru dari guru kemanusiaan Purwodiningratan koordinasi.
sekolah sekolah yang adil dan yaitu Yaitu
3. Kegiatan 3. Didapatkan beradab “Mewujudkan unit dengan
evaluasi nya hasil pelayanan bekerja
evaluasi 2. Hasil evaluasi kesehatan sama
pelaksanaan Tabel Puskesmas dengan
kegiatan monitoring Purwodiningratan lintas sektor
dapat yang berkualitas untuk
dipertanggung dalam progam, tercapainya
jawabkan pelayanan dan misi
(akuntabilitas, SDM menuju puskesmas
bersifat kerja masyarakat sehat” masyarakat
keras (anti sehat.
korupsi)

34
B. Jadwal Rencana Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi
Kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan antara tanggal 16 Mei 2019
sampai dengan tanggal 29 Juni 2019. Kegiatan-kegiatan aktualisasi akan di jabarkan dalam timeline kegiatan pada tabel sebagai
berikut :

Tabel 4.2. Jadwal Rencana Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi

Bulan/Minggu Portofolio/Bukti Kegiatan


No Kegiatan ke
Mei Juni
3 4 5 1 2 3 43
Pembuatan poster kesehatan gigi dan persetujuan dari atasan, Hasil desain poster, Hasil
1 mulut (inovasi) cetakan poster dan foto
2 Melakukan kegiatan penyuluhan Persetujuan atasan, Daftar Hadir, Materi
dan screening di Sekolah dan di penyuluhan Kesehatan gigi dan mulut dan Foto
puskesmas
Persetujuan dari atasan, Daftar jadwal kegiatan dan
3 Demo sikat gigi bersama Foto
Membuat tabel monitoring sikat gigi pagi Persetujuan dari atasan, hasil cetakan desain tabel
4 dan malam (inovasi) monitoring, Foto
Evaluasi hasil monitoring Persetujuan dari atasan, hasil monitoring.
5

Keterangan : Pelaksanaan Kegiatan

Libur sekolah dan hari raya

35
C. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala

Kegiatan aktualisasi dalam pelaksanaannya dimungkinkan terjadi


kendala-kendala yang berisiko menghambat kegiatan tersebut sehingga
menjadi kurang optimal. Oleh karena itu diperlukan antisipasi untuk
menghadapi kendala-kendala tersebut, sehingga dampak yang
menghambat kegiatan tersebut dapat diminimalisir. Antisipasi dalam
menghadapi kendala-kendala selama aktualisasi dapat dijelaskan lebih
lanjut pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.3 Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala

Antisipasi dan
No. Kegiatan Kendala
StrategiMenghadapi Kendala
Pembuatan poster Waktu tidak cukup Melakukan kolaborasi maupun
1. kesehatan gigi dan untuk proses konsultasi pada ahli pembuatan
mulut pembuatan desain desain poster
dan pencetakan
banner dan
poster

2. Melakukan kegiatan Musim liburan Melaksanakan kegiatan di awal


penyuluhan dan sekolah sebelum libur lebaran
screening di sekolah Bulan ramadhan Kolaborasi dengan pihak guru
Siswa sulit sekolah untuk membantu siswa
berpartisipasi agar dapat berpartisipasi dalam
Kurangnya kegiatan
kompetensi dalam Pemantapan materi yang akan di
penyampaian materi sampaikan dalam penyuluhan
dengan bersembur pada literatur
yang valid dan konsultasi kepada
ahlinya.
3. Demo sikat gigi Sarana dan prasaran Melakukan koordinasi dengan
bersama yang Guru untuk membantu
kurang memadai Informasi kepada siswa.
4 Membuat tabel Waktu tidak cukup Melakukan kolaborasi maupun
monitoring sikat gigi untuk proses konsultasi pada ahli pembuatan
pagi dan malam pembuatan desain poster

5 Evalusi hasil Kegiatan tidak tepat Managemen waktu sehingga sesuai


monitoring waktu atau tidak dengan perencanaan jadwal yang
sesuai jadwal telah dibuat

36
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Rancangan aktualisasi melalui habituasi di unit lingkungan kerja


akan dilakukan di Puskesmas Purwodiningratan guna menyelesaikan
berbagai isu permasalahan yang terjadi dikaitkan dengan nilai-nilai
dasar ASN yang telah dipelajari. Diharapkan setelah aktualisasi, dapat
dijadikan habituasi di unit tempat kerja. Nilai-nilai yang perlu
diaktualisasikan antara lain nilai-nilai dasar ASN berupa akuntabilitas,
nasionalisme, etika public, komitmen mutu, dan anti korupsi, serta nilai-
nilai peran dan kedudukan ASN dalam NKRI seperti Manajemen ASN,
Whole of Government, dan Pelayanan Publik.
Permasalahan yang diangkat dalam aktualisasi ini yakni
permasalah di bidang pelayanan public terkait “Upaya Optimalisasi
Peran Tenaga Kesehatan dalam Menurunkan Angka Karies Gigi Di
Wilayah Puskesmas Purwodiningratan”. Isu tersebut dipilih
berdasarkan hasil analisis menggunakan alat bantu analisis APKL
(Aktual, Problematika, Kekhalayakan, dan Layak) dan USG (Urgency,
Seriousness, Growth) mendapatkan skor penilaian tertinggi. Apabila

37
permasalahan tersebut tidak segera diselesaikan maka akan berdampak
pada pelayanan puskesmas yang tidak optimal.

B. Saran
Penulis juga berharap kegiatan dalam rancangan ini dapat dilakukan
secara berkelanjutan dan mendukung visi misi dalam pelaksanaan program
Puskesmas Purwodiningratan.

39
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Pustaka Sinar


Harapan: Jakarta.
Lembaga Administrasi Negara, 2014. Pola Pikir Aparatur Sipil Negara
Sebagai Pelayan Masyarakat. Jakarta:Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara, 2015. Akuntabilitas Modul Pendidikan dan
Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta:Lembaga Administrasi
Negara.
Lembaga Administrasi Negara, 2015. Nasionalisme Modul Pendidikan dan
Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta:Lembaga Administrasi
Negara.
Lembaga Administrasi Negara, 2015. Etika Publik Modul Pendidikan dan
Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta:Lembaga Administrasi
Negara.
Lembaga Administrasi Negara, 2015. Komitmen Mutu Modul Pendidikan
dan Pelatihan Prajabatan Golongan I dan II. Jakarta:Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara, 2015. Anti Korupsi Modul Pendidikan dan
Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta:Lembaga Administrasi
Negara.
Lembaga Administrasi Negara, Fatimah & Irawati, 2016. Manajemen ASN
Modul Pendidikan dan Pelatihan Dasar Kader PNS. Jakarta:Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara, 2017. Pelayan Publik Modul Pelatihan
Dasar Calon PNS. Jakarta:Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara, 2017. Whole of Government Modul
Pelatihan Dasar Calon PNS. Jakarta:Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara, Suwarno & Sejati, 2017. Manajemen ASN

40
Modul Pelatihan Dasar Calon PNS. Jakarta:Lembaga Administrasi
Negara.
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara RI Nomor 38 Tahun 2014
tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan
Prajabatan Calon Pegawai Sipil Golongan III.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

41
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. IDENTITAS DIRI

Nama : drg. Nita Rupirda Primatika


Tempat, Tanggal Lahir : Magetan, 7 April 1990
Status : Belum Menikah
NIP : 199004072019022004
Jabatan : Dokter gigi ahli pertama
Unit Kerja : Puskesmas Purwodiningratan
Alamat Unit Kerja : Jl. Surya No. 49, Surakarta
Alamat Rumah : Karangsono, Rt 15 Rw 4, Barat, Magetan
No HP : 082140721791
Email : drg.nitarupirda@gmail.com

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai
ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Surakarta, Mei 2019
Penyusun,

drg. Nita Rupirda Primatika


NIP. 199004072019022004

42

Anda mungkin juga menyukai