Anda di halaman 1dari 46

PPSDAL

UNIVERSITAS PADJADJARAN
2010
KAIDAH KLHS
 Sesuai kebutuhan (fit to the purpose)
 Berorientasi pada tujuan (objective-led oriented)
 Didorong motif keberlanjutan (sustainability-driven)
 Ruang lingkup komprehensif (comprehensive scope)
 Relevan dengan pengambilan keputusan (decision-
relevant)
 Terpadu (integrated)
 Transparan (transparent)
 Partisipatif (participative)
 Akuntabel (accountable)
 Efektif dalam pembiayaan (cost-effective)
PARADIGMA KLHS
 EIS-based SEA/EIA Mainframe : Ditujukan ke sumber/hulu
persoalan, fokus pada usulan KRP, integrasi pertimbangan
lingkungan dalam pengambilan keputusan, dan
mempertimbangkan alternatif dan pengendalian dampak
implementasi KRP, pemantauan terbatas, dan tindak lanjut
 SEA for Environmental Sustainability Assurance/
ESA/Environmental Appraisal : Idem dilengkapi penilaian
terhadap dampak lingkungan vs pengurangan stok SDA dan
jasa lingkungan; jaminan pengendalian kerusakan SDA dan
lingkungan pada batas toleransi; kompensasi; dan
pemantauan sistematis terhadap hasil dan dampak
 Integrated Assessment for Sustainability Assurance/ISA/
Sustainability Appraisal : Idem dilengkapi tujuan sosial dan
ekonomi dan batas ambang (threshold) yang harus dicapai;
penilaian dampak lingkungan usulan KRP vs triple bottom
line; evaluasi dampak penting vs evaluasi keberlanjutan
untuk verifikasi tradeoff bagi pemangku kepentingan; dan
eksplorasi keseimbangan optimal
FUNGSI KLHS
SIFAT KLHS FUNGSI (GENERIK) KLHS
Instrumental • Mengidentifikasi pengaruh atau konsekuensi dari KRP
terhadap lingkungan hidup untuk mendukung pengambilan
keputusan
• Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan dalam KRP
Transformatif • Memperbaiki mutu dan proses formulasi dan penyusunan
KRP
• Memfasilitasi proses pengambilan keputusan agar tercapai
keseimbangan tujuan lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi
Substantif • Meminimalkan potensi dampak penting negatif yang akan
timbul oleh usulan KRP (tingkat keberlanjtan lemah)
• Melakukan langkah perlindungan lingkungan yang tangguh
(tingkat keberlanjutan moderat)
• Memelihara potensi SDA dan daya dukung air, udara, tanah,
dan ekosistem (tingkat keberlanjutan tinggi)
KLHS DI INDONESIA
(STRATEGIC ENVIRONMENTAL ASSESSMENT/SEA)

 Kehendak untuk mengarusutamakan


lingkungan hidup dalam pembangunan
nasional
 Amanat undang-undang No. 32 Tahun
2009
PERKEMBANGAN KLHS DI DUNIA
2001 2003 2006

Komisi Ekonomi PPB


Uni Eropa membutuhkan untuk Eropa : AMDAL KLHS menjadi standar
1.000-2.000 KLHS per Lintas Negara donor dalam kerjasama
tahun di 27 negara ditandatangani oleh bantuan luar negeri
37 Negara
PERKEMBANGAN KLHS DI ASIA

Indonesia negara ke-3 Cina dan Vietnam telah


yang memiliki sistem KLHS mengembangkan KLHS
sejak 2003

Malaysia dan Filipina Laos dan Kamboja


sedang merancang sedang mengembangkan
dokumen KLHS KLHS
DEFINISI
Rangkaian analisis yang sistematis,
menyeluruh, dan partisipatif untuk
memastikan bahwa prinsip pembangunan
berkelanjutan telah menjadi dasar dan
terintegrasi dalam pembangunan suatu
wilayah dan/atau kebijakan, rencana,
dan/atau program (KRP)

UU PPLH Pasal 1 Angka 10


Pasal 15 ayat (2)
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib
melaksanakan KLHS sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ke dalam penyusunan atau evaluasi :
a. RTRW beserta rencana rincinya, RPJP, dan
RPJM Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota
b. KRP yang berpotensi dampak dan/atau risiko
lingkungan hidup
DAMPAK ATAU RISIKO
TERHADAP LINGKUNGAN
 Perubahan iklim
 Kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan
keanekaragaman hayati
 Peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana
banjir, longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan
dan lahan
 Penurunan mutu dan kelimpahan sumberdaya alam
 Peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan
 Peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya
keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat
 Peningkatan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan
manusia
Pasal 15 ayat (3)
KLHS dilaksanakan dengan mekanisme :
1. Pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau
program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu
wilayah
2. Perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan,
rencana, dan/atau program
3. Rekomendasi perbaikan untuk pengambilan
keputusan kebijakan, rencana, dan/atau program
yang mengintegrasikan prinsip pembangunan
berkelanjutan
Pasal 16
KLHS memuat kajian antara lain :
 Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup untuk pembangunan
 Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan
hidup
 Kinerja layanan/jasa ekosistem
 Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam
 Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap
perubahan iklim
 Tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman
hayati
Pasal 17
Apabila hasil KLHS menyatakan bahwa daya dukung dan
daya tampung sudah terlampaui :
a. Kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan
tersebut wajib diperbaiki sesuai dengan
rekomendasi KLHS, dan
b. Segala usaha dan/atau kegiatan yang telah
melampaui daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup tidak diperbolehkan

Pasal 18
KLHS dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat dan
pemangku kepentingan
RASIONALISASI KLHS DALAM KRP
1. Fasilitasi pengembangan informasi tentang
keterbatasan dan peluang lingkungan hidup
dalam penyelenggaraan KRP
2. Menyerasikan cara pandang tentang dampak dan
risiko lingkungan hidup
3. Integrasi pertimbangan pembangunan
berkelanjutan dalam penyelenggaraan KRP
4. Optimalisasi kinerja keberlanjutan KRP :
 Alternatif tujuan dan prioritas rencana pembangunan
 Alternatif rencana program dan kegiatan
 Alternatif lokasi, waktu, tahapan, dan dukungan
pembiayaan dalam pelaksanaan program dan kegiatan
PRINSIP
KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

Planning Process
Self Assessment Influencing
Improvement Capacity Building
Decisions

1 2 3 4
PELEMBAGAAN KLHS
 Inisiatif KLHS berasal dari pemrakarsa
 Adaptif terhadap proses KRP
 KLHS dilaksanakan sedini mungkin dalam
proses KLHS
 Satu KLHS untuk satu KRP
 Partisipasi pemangku kepentingan dan
masyarakat
LINGKUP KLHS

 Identifikasi dan keterlibatan stakeholder utama


 Identifikasi isu lingkungan hidup strategis yang
harus dipertimbangkan dalam KRP
 Kajian dampak atau risiko strategi dan tujuan KRP
terkait isu lingkungan strategis dan alternatif
untuk mengoptimalkannya
 Menyajikan hasil KLHS untuk pengambil
keputusan (kesimpulan akhir dan usulan-usulan)

18
KERANGKA PIKIR TUJUAN
Pemahaman konteks KRP dan Memahami proses dan prosedur KRP dan
identifikasi peluang untuk mempengaruhi memposisikan KLHS dalam KRP
pengambilan keputusan

Identifikasi pemangku kepentingan dan Memastikan substansi KLHS menjadi prioritas


aktor kunci pengambil keputusan pengambil keputusan

Identifikasi isu-isu lingkungan hidup Menghasilkan kesepakatan tentang isu-isu


dan pembangunan berkelanjutan lingkungan hidup dan pembangunan
strategis berkelanjutan yang harus dikaji dan
dipertimbangkan dalam KRP

Kajian dampak dan formulasi Memprakirakan dampak dan risiko lingkungan


rekomendasi oleh KRP dan merumuskan rekomendasi
perubahan atau prioritas implementasi KRP

Presentasi KLHS pada tahap akhir Memperoleh kesepakatan dan dukungan


pengambilan keputusan penyesuaian KRP berdasarkan KLHS
HUBUNGAN KLHS DENGAN PROSES KRP
Proses KRP KLHS
Menganalisis konteks,
permasalahan dan Pengkajian pengaruh kebijakan,
baseline study
rencana, dan program terhadap kondisi
lingkungan hidup wilayah

Membangun tujuan,
sasaran, strategi, dan
prioritas
Perumusan alternatif kebijakan,
rencana, dan program
Mengembangkan dan memilih
alternatif cara (means) yang
spesifik
untuk mencapai tujuan Rekomendasi perbaikan
Pengambilan keputusan
kebijakan, rencana, dan program
Merumuskan program yang mengintegrasikan prinsip
dan pembiayaan pembangunan berkelanjutan

20
PPSDAL
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2010
Peluang Integrasi KLHS Dalam
Pengambilan Keputusan KRP 1)
Sebelum RTRW Disusun Setelah RTRW Disusun

KLHS dapat
KLHS dapat diselenggarakan pada :
diselenggarakan dalam • Penjabaran RTRW
proses penyusunan dalam rencana rinci
RTRW • Evaluasi RTRW
berkala

Catatan : penyelenggaraan KLHS diintegrasikan ke dalam proses penyusunan


rencana atau proses evaluasi rencana sesuai dengan ketentuan PP
No.15/2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang

3
Peluang Integrasi KLHS Dalam
Pengambilan Keputusan KRP(2)
Sebelum Setelah
RPJP/M Daerah Disusun RPJP/M Daerah Disusun

KLHS dapat diselenggarakan


pada :
KLHS diselenggarakan dalam • Penjabaran RPJP/M daerah
penyusunan RPJP/RPJM ke dalam program
Daerah pembangunan daerah
• Evaluasi berkala RPJP/M
Daerah kurun waktu
berikutnya

Catatan : penyelenggaraan KLHS diintegrasikan ke dalam proses


penyusunan rencana atau proses evaluasi rencana sesuai dengan
ketentuan yang diatur Menteri Dalam Negeri
3
Peluang Integrasi KLHS Dalam
Pengambilan Keputusan KRP(3)
KRP sektoral belum disusun KRP sektoral telah disusun
Penerapan KLHS dapat diselenggarakan
pada penjabaran KRP [sektoral] ke dalam
Penerapan KLHS dapat penyusunan program

diselenggarakan dalam
proses penyusunan
Ada P dengan indikasi berdampak/
KRP risiko terhadap lingkungan hidup :
1) Dilakukan mitigasi
2) Disusun AMDAL, jika kegiatan/
usaha yang merupakan penjabaran
program memenuhi ketentuan PP
No.27/1999 tentang AMDAL
PROSES PENYELENGGARAAN KLHS

KONSULTASI ISU LH
DAN PB STRATEGIS

IDENTIFIKASI
PENGAMBIL IDENTIFIKASI
KEPUTUSAN KUNCI DAMPAK DAN
RISIKO
LINGKUNGAN
ISU LH DAN PB ALTERNATIF REKOMENDASI
PRIORITAS KRP KLHS
IDENTIIFKASI
KEBUTUHAN
IDENTIFIKASI PENYEMPUR
PEMANGKU NAAN KRP
KEPENTINGAN
YANG RELEVAN

KONSULTASI ISU LH
DAN PB STRATEGIS

PERKEMBANGAN DAN
KECENDERUNGAN KECENDERUNGAN PERKEMBANGAN DAN LAPORAN DAN
SELF ASSESSMENT WILAYAH PERENCANAAN PERUBAHAN DENGAN KRP PENGAMBILAN
TANPA KRP KEPUTUSAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN
PERENCANAAN TATA RUANG
RPJP NASIONAL RTRW NASIONAL

RPJM NASIONAL • RTR PULAU /KEPULAUAN


• RTR KAWASAN STRATEGIS
RENSTRA K/L NASIONAL

RPJP PROVINSI RTRW PROVINSI

RPJM PROVINSI RTR KAWASAN STRATEGIS


PROVINSI
RENSTRA SKPD
PROVINSI
RTRW
RPJP KABUPATEN/KOTA
KABUPATEN/KOTA
• RTR KAWASAN STRATEGIS
RPJM KABUPATEN/KOTA KABUPATEN/KOTA
• RENCANA DETAIL TATA RUANG
RENSTRA SKPD KABUPATEN/KOTA
KABUPATEN/KOTA
RENJA SKPD
KABUPATEN/KOTA RKPD REGULASI ZONASI
KABUPATEN/KOTA
KETERKAITAN RENCANA PEMBANGUNAN
DENGAN RENCANA TATA RUANG
RPJP NASIONAL RTRW NASIONAL

RPJM NASIONAL

• RTR PULAU /KEPULAUAN


RENSTRA K/L • RTR KAWASAN STRATEGIS
NASIONAL
RKA K/L Budget RKP
Budget
RPJP PROVINSI RTRW PROVINSI

RPJM PROVINSI RTR KAWASAN STRATEGIS


RENSTRA SKPD PROVINSI
PROVINSI
RENJA SKPD
PROVINSI Budget RKPD PROVINSI
Budget
RPJP KABUPATEN/KOTA RTRW KABUPATEN/KOTA

RPJM KABUPATEN/KOTA • RTR KAWASAN STRATEGIS


KABUPATEN/KOTA
• RENCANA DETAIL TATA RUANG
RENSTRA SKPD
KABUPATEN/KOTA
KABUPATEN/KOTA
RENJA SKPD
KABUPATEN/KOTA Budget RKPD KABUPATEN/
Budget KOTA
PROSES DAN PROSEDUR
PENYUSUNAN DAN PENETAPAN RPJP
PROSES PERENCANAAN RPJM DAERAH
KONDISI PROVINSI/ RTRW
KABUPATEN/KOTA : PROVINSI/KABUPATEN/K
- FISIK OTA
- LINGKUNGAN
- EKONOMI EVALUASI RENSTRA KEBIJAKAN
- SOSIAL PROVINSI/KABUPATEN KEWILAYAHAN JANGKA
- BUDAYA ISYU PEMBANGUNAN /KOTA MENENGAH
DAERAH PROVINSI/KABUPA
RPJP TEN/KOTA
PERKEMBANGAN NASIONAL, PROVINSI/KABUPATEN
REGIONAL, DAN GLOBAL /KOTA TAHAP KE-….

INDIKATOR KINERJA
VISI DAN MISI GUBERNUR/ VISI DAN MISI RPJM PROGRAM 5 TAHUNAN
PROVINSI/KABUPA KEBIJAKAN DAN
BUPATI/WALIKOTA PROGRAM
TEN/KOTA
PEMBANGUNAN 5 PERKIRAAN APBD 5
TAHUNAN TAHUNAN
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PROVINSI/KABUPA
GUBERNUR/BUPATI/
WALIKOTA TEN/KOTA
INDIKATOR KINERJA KEBIJAKAN APBD DAN
PEMBANGUNAN DAN DANA MASYARAKAT

PERDA PROVINSI/ RENSTRA SKPD


KABUPATEN/KOTA PENGELOLAAN APBD, APBN,
PROVINSI/KABUPATEN/ DAN DANA MASYARAKAT
TENTANG SOTK KOTA
PP No. 15 Tahun 2010 tentang
PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG
Pasal 25, 27, 32, dan 35
Pengolahan data dan analisis paling sedikit meliputi :
 Teknik analisis permasalahan regional dan global
 Teknik penentuan daya dukung dan daya tampung
lingkungan melalui kajian lingkungan hidup
strategis
 Teknik analisis keterkaitan antar wilayah
pulau/kepulauan dan dan antar wilayah provinsi

KLHS terintegrasi dalam proses penyusunan RTRW


PROSES PENATAAN RUANG

 Proses teknis penyusunan rencana


 Proses birokratik
 Proses publik
 Proses legislasi
 Proses penjabaran lanjut menjadi rencana rinci
 Proses pemrograman dalam rangka implementasi
 Proses pengendalian implementasi rencana
 Proses pemantauan implementasi dan pengendalian
rencana
 Proses evaluasi rencana
PENATAAN RUANG
PENATAAN RUANG

PERENCANAAN PEMANFAATAN PENGENDALIAN


TATA RUANG RUANG PEMANFAATAN
WILAYAH RUANG
- Penyusunan
- Struktur ruang program - Perijinan
wilayah
- Development - Pengawasan Pelaporan
- Pemanfaatan proposal
ruang wilayah - Penertiban Pemantauan
- Pembiayaan
Evaluasi

Sanksi
Agregasi sebagai feedback perencanaan dan pemanfaatan ruang
PROSES PENYUSUNAN
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW)
PENINJAUAN KEMBALI RTRW
KRP NON STATUTORY WAJIB KHLS

Pasal 15 Ayat (2) Huruf b:


KRP yang berpotensi dampak dan/atau risiko
lingkungan hidup

Harus dilakukan screening menurut kriteria yang


tertera pada Penjelasan UU yang perlu diatur lebih
lanjut dalam peraturan pelaksanaan
KRITERIA KRP NON STATUTORY
WAJIB KLHS
 Perubahan iklim
 Kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan keanekaragaman
hayati
 Peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir,
longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan lahan
 Penurunan mutu dan kelimpahan sumberdaya alam
 Peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan
 Peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya
keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat
 Peningkatan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan
manusia

o Perlu dielaborasi menurut kriteria yang ditetapkan


o Bagian dari proses keputusan yang melibatkan
pemangku kepentingan
PEMANGKU KEPENTINGAN
DALAM KLHS
 Pemrakarsa/pembuat keputusan
 Lembaga pembuat keputusan (dalam hal
pembuat keputusan berbeda dari
pemrakarsa)
 Instansi yang terkait dengan pelaksanaan KRP
 Instansi yang bertanggungjawab di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup
MASYARAKAT
 Perseorangan dan/atau kelompok orang yang
mempunyai informasi dan keahlian (akademisi,
asosiasi profesi, LSM)
 Perseorangan dan/atau kelompok orang
(termasuk dunia usaha) yang terkena dampak
penerapan KRP
 Perseorangan dan/atau kelompok orang
pemerhati (termasuk media massa)
ISU STRATEGIS
Faktor penentu :
 Menyangkut hajat hidup orang banyak
 Lintas sektor
 Lintas wilayah
 Sedang berlangsung atau dipercaya akan terjadi
 Berdampak negatif jangka panjang jika tidak
diselesaikan
 Potensi mengganggu pelaksanaan pembangunan
berkelanjutan
 Potensi dampak kumulatif dan efek berganda
PENGARUH KRP
 Kejadian terkait perubahan iklim : peningkatan GRK,
kenaikan muka laut, intensitas dan frekuensi extreem
events, dan lainnya
 Perubahan signifikan terhadap ekosistem penyangga
keanekaragaman hayati
 Kejadian wilayah bencana banjir, longsor, kekeringan,
dan kebakaran hutan
 Gangguan terhadap ketahanan pangan
 Berkurangnya kawasan berfungsi lindung
 Penurunan kesejahteraan masyarakat
 Peningkatan risiko penyakit
PRINSIP PENGEMBANGAN
ALTERNATIF KRP

 Memberi solusi saling menguntungkan (win-


win solutions)
 Memberi solusi yang lebih berkelanjutan
 Memberi solusi yang paling realistik dalam
mengelola dampak dan resiko lingkungan

13
LINGKUP ALTERNATIF BAGI KRP
 Skenario pembangunan
 Prioritas pembangunan
 Instrumen, metode, dan cara mitigasi dampak
dan risiko lingkungan
 Lokasi yang lebih layak secara lingkungan
 Tahapan pelaksanaan pembangunan dan
identifikasi waktu yang lebih tepat bagi
pembangunan
 Rencana KRP lebih rinci
FORMAT REKOMENDASI
 Materi rekomendasi memuat isu-isu utama
pembangunan berkelanjutan yang dikaji, kesimpulan
hasil pengkajian dan saran untuk perbaikan
pengambilan keputusan
 Meliputi :
 Pengkajian pengaruh KRP
 Rumusan alternatif penyempurnaan KRP
 Rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan
KRP (termasuk rencana mitigasi yang diusulkan dalam
KLHS)
 Disiapkan sebagai dokumen terpisah, yang menyertai
laporan evaluasi
 Ringkas dan fokus
4
PENGAMBIL KEPUTUSAN
PENGAMBIL KEPUTUSAN FORMAL
 Instansi yang bertanggungjawab menyusun KRP
 Instansi yang bertanggung jawab untuk menyetujui KRP
(Pemerintah/eksekutif; legislatif; dan BUMN/D yang
ditetapkan mengelola suatu kawasan tertentu yang skala
dampaknya luas)
 Lembaga legislatif
 Instansi lingkungan hidup

PENGAMBIL KEPUTUSAN NONFORMAL DAN INFORMAL


Kelompok-kelompok kepentingan (pelaku usaha, tokoh
masyarakat, LSM, dan kelompok lainnya) yang memiliki
pengaruh dalam pengambilan keputusan
46
Komunikasi Efektif Dengan
Pengambil Keputusan
Perlu memperhatikan karakter/personalitas
pengambil keputusan

Visioner Guardian
Fokus pada Fokus pada contoh2
ide/gagasan

Rasionalis Kreator
Fokus pada Fokus pada panduan
argumentasi

11
PERSPEKTIF IMPLEMENTASI KLHS
 KLHS diprakarsai oleh pemrakarsa KRP
 KLHS melekat pada KRP, sehingga adaptif terhadap
proses, sistem, dan tata cara KRP bersangkutan
 Tidak membutuhkan komisi khusus untuk menilai dan
memberikan persetujuan KLHS
 Tidak terdapat format baku untuk menyelenggarakan
KLHS
 KLHS bukan ‘audit’ KRP, melainkan pertimbangan
lingkungan hidup strategis untuk optimalisasi kinerja
KRP
 Dalam jangka panjang, KLHS terlembagakan dalam
tanggungjawab perencanaan institusi KRP
Terima Kasih