Anda di halaman 1dari 32

Critical Book Report

KETERAMPILAN PENERAPAN KONSEP


PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
(PAUD)

DisusunOleh :

Nama : Maysi I.T. Damanik


Nim : 1173311159
Kelas : H Mandiri

JURUSAN PENDIDIKAN PRA SEKOLAH DAN SEKOLAH


DASAR (PPSD/PGSD)
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas restu dan
rahmat nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Konsep Dasar Pendidikan PAUD.
Saya ingin mengucapkan terimah kasih kepada Ibu Dosen yang bersangkutan yang
kiranya sudah memberikan tuntunan dalam menyelesaikan tugas ini.

Saya juga rilis bahwa tugasnya masih dalam kekurangan oleh karna itu penulis
mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan saya juga mengharapkan kritik dan
saran untuk kesempurnaan tugas ini.

Sebagai kesimpilan saya saya ingin berterimah kasih , semoga dapat


bermanfaat dan dapat membantu menambah pengetahuan dan wawasan pembawa

Medan, September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………. 1

1.1 Latar Belakang Masalah………………………… 1

1.2 Tujuan Penulisan …….………………………… 1

1.3 Manfaat Penulisan ……………………………. 1

BAB II PEMBAHASAN……………………………………… 2

2.1 Identitas Buku…………………………………… 2

2.2 Ringkasan Isi Buku……………………………….3

BAGIAN I : PARA FILSUF


DALAM
PENDIDIKAN ANAK……. 3

BAGIAN II : MODEL PRASEKOLAH


DI BERBAGAI NEGARA.. 6

BAGIAN III : DEVELOPMENT


APPROPRIATE
PRACTICE……………… 10

BAGIAN IV : IMPLEMENTASI
MODEL PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI…… 13

BAGIAN V : IMPLEMENTASI
MODEL
PEMBELAJARAN…….. 19

BAB III PEMBAHASAN............................................................

ii
Kelebihan........................................................................

Kelemahan......................................................................

BAB IV PENUTUP……………………………………………. 25

3.1 Kesimpulan………………………………………5

3.2 Saran……………………………………………. 25

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………. 26

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini sangat penting bagi pertumbuhan kanak-kanak
dan perlu diperhatikan bahwa pendidikan anak usia dini butuh perhatian lebih
dari orang dewasa atau dari orang dan dan orang yang terdekatnya

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan tersebut :
1. Mengetahui betapa pentingnya pendidikan anak usia dini
2. Mengetahui macam-macam permainan yang bisa dikembangkan dalam
anak menjadi pelajaran
3. Mengetahui usia-usia anak dalam perkembangan

C. Manfaat Penulisan
1. Agar kita tidak meremehkan pentingnya pendidikan bagi anak
2. Dapat menambah ilmu pengetahuan

1
BAB II
Identitas Buku

Buku panduan

 Judul Buku : Model Pendidikan Anak Usia Dini


 Pengarang : Dr. Anita Yus, M.Pd.
 Penerbit : KENCANA
(PRENADAMEDIA GROUP)
 Tahun Terbit : 2014
 Kota Terbit : Jakarta
 ISBN : 978-602-8730-42-6

2
Buku Pembanding

Judul Buku : Siap Menjadi Guru dan Pengelola Paud Profesional


Penulis : Dr. Masnipal, M.Pd
Penerbit : PT Elex Media Kompotindo
Kota Terbit : Bandung
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 354 halaman
ISBN : 978-602-02-2106-9

3
Ringkasan Isi Buku Pedoman

MODEL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

BAGIAN I : PARA FILSUF DALAM PENDIDIKAN ANAK

A. Martin Luther

Martin Luther hidup pada 1483-1546. Luther yang pertama kali menunjukkan
perlunya sekolah. Ia menekankan bahwa sekolah digunakan sebagai sarana untuk
mengajar anak membaca. Martin Luther berkeyakinan bahwa keluarga sebagai
institusi yang paling penting untuk membuat dasar pendidikan dan perkembangan
bagi anak.

B. John Amos Comenius

Comenius yang hidup pada 1592-1670 sangat percaya bahwa pendidikan


harus dimulai sejak dini. Pendidikan berlangsung secara alami dengan
memerhatikan aspek kematangan (maturation) dan memberi kesempatana pada
anak untuk menggunakan seluruh inderanya. Comenius meyakini bahwa
penggunaan buku yang ada ilustrasinya akan sangat membantu mengembangkan
kemampuan anak. Comenius juga menekankan pentingnya bermain dalam
pengembangan diri anak.

C. John Locke

John Locke hidup pada 1632-1704. John Locke terkenal dengan teori yang
dikemukakan, yaitu teori “Tabula Rasa”. Teori ini memandang bahwa anak
sebagai kertas putih. Teori ini memandang bahwa pada saat lahir anak tidak
berdaya dan tidak memiliki apa-apa. Anak berada dan hidup di dalam lingkungan
yang sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan dirinya.

D. Jean-Jacques Rousseau

4
Rousseau yang hidup pada 1712-1778 mengembangkan pemikiran bahwa
pendidikan dilakukan dengan menggunakan pendekatan alami yang disebutnya
sebagai pendekatan naturalistik. Pendidikan naturalistik membiarkan anak
tumbuh tanpa intervensi dengan cara tidak membandingkan anak satu dengan
anak lain serta memberikan kebebasan anak untuk mengeksplorasi tanpa
membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sebagai seorang naturalis, Rousseau
meyakini bahwa orang dewasa berperan sebagai pendidik dengan memberikan
dukungan (support) kepada anak untuk dapat berkembang secara alami.

E. Johann Pestalozzi

Pestalozzi sangat menekankan bahwa pendidikan perlu memerhatikan


kematangan anak. Ia berpendapat bahwa pendidikan harus didasarkan pada
pengaruh “objek pembelajaran”. Misalnya, guru perlu membawa benda
sesungguhnya ketika mengajar.

F. Friederich Wilhem Frobel

Frobel lahir 1782 di Oberweiszbach (Jerman). Frobel merupakan salah


seorang tokoh pendidikan anak yang banyak memberikan pengaruh dalam
pemikiran baru (modern) dalam pengembangan anak usia dini, khususnya taman
kanak-kanak. Pola pendidikan demokratis yang dikembangkannya banyak
menimbulkan konfrontasi dengan pihak pemerintah sehinggga diangggap sebagai
pemberontak.

Frobel memiliki prinsip bahwa pendidikan anak sebagai berikut: 1)


pengembangan individu 2) kebebasan atau suasana merdeka 3) pengamatan dan
peragaan.

G. John Dewey

John Dewey beraliran progresivisme yang hidup pada 1859-1952. John


Dewey mengemukakan bahwa minat anak menjadi hal yang penting dalam
pembelajaran. Anak perlu belajar dari kehidupan sehingga memperoleh
keterampilan sebagai bekal kehidupan.

5
H. Rudolf Steiner

Rudolf Steiner terkenal dengan Sekolah Waldorf. Steiner berpendapat bahwa


anak berkembang melalui pengalaman dan proses berpikir. Perkembangan diri
anak adalah perkembangan kesadaran. Anak perlu banyak berhubungan dengan
lingkungannya dan mengeksplorasi lingkungan untuk memperoleh suatu
pemahaman. Pembelajaran perlu dilakukan dengan menggunakan media yang
berkaitan dengan lingkungan.

I. Maria Montessori

Montessori hidup pada 1870-1952. Montessori meyakini bahwa dalam tahun-


tahun awal kehidupan, seorang anak mempunyai masa peka (sensitive periods).
Bayi yang masih kecil perlu dikenalkan pada orang-orang dan suara-suara, diajak
bermain, dan bercakap-cakap agar anak dapat berkembang menjadi anak normal
yang bahagia.

J. John Bowlby

Bowlby lahir pada 1907 dan meninggal pada 1990. Bowlby lebih menekankan
pada perkembangan aspek psikososial. Bowlby terkenal dengan teori kedekatan
(attachment). Menurutnya, secara genetis anak akan dekat dan nyaman dengan
ibunya. Pendidikan menurut Bowlby adalah melatih anak untuk bekerja sama
dengan orang-orang di sekitar anak.

K. Ki Hajar Dewantara

Dewantara seorang tokoh di Indonesia yang hidup pada 1989 sampai 1959. Ia
berpendapat bahwa anak-anak ialah makhluk hidup yang memiliki kodratnya
masing-masing. Pandangan Dewantara tentang pendidikan adalah ing ngarso
sungtulodo, ing madyo mangunkurso, tut wuri handayani.

L. Howard Gardner
6
Gardner lahir pada 1943. Teori Howard Gardner muncul dalam zaman kita
hidup sekarang ini. Gardner menyatakan hakekatnya setiap anak ialah anak yang
cerdas. Pandangan ini menentang bahwa kecerdasan hanya dilihat dari faktor IQ.
Gardner melihat kecerdasan dari berbagai dimensi.

BAGIAN II : MODEL SEKOLAH DI BERBAGAI NEGARA

A. Maria Montessori

Maria Montessori salah seorang tokoh yang sangat terkenal di dunia


pendidikan anak dan ia juga dikenal sebagai filsuf pendidikan anak.montessori adalah
seorang dokter wanita Italia pertama. Ia lahir di Chiaravalle, sebuah provinsi kecil di
Ancona, Italia, pada 1870.

Dasar pendidikan Montessori menekankan pada tiga hal, yaitu :

1. Pendidikan Sendiri (Pedosentris)

Menurut Montessori, anak-anak memiliki potensi atau kekuatan dalam


dirinya untuk berkembang sendiri. Anak-anak memiliki hasrat alami untuk
belajar bekerja, bersamaan dengan keinginan yang kuat untuk mendapatkan
kesenangan.

2. Masa Peka

Masa peka ialah masa yang sangat penting dalam perkembangan


seorang anak. Di masa yang akan datang anak harus segera difasilitasi dengan
alat-alat permainan yang mendukung aktualisasi potensi yang muncul.

3. Kebebasan

Dalam pembelajaran, anak memiliki kebebasan untuk berpikir,


berkarya, dan berbuat sesuatu. Kebebasan ini bertujuan agar ketika tiba masa
peka terhadap suatu kemampuan yang mendorong untuk melatih satu fungsi,
anak akan berlatih sesuka hatinya.

Ada beberapa alat permainan yang dapat digunakan untuk


mengembangkan pancaindra. Alat ini dikemukakan berikut bini:

7
1. Alat permainan untuk indra penglihatan

Untuk melatih daya penglihatan dapat digunakan beberapa mscsm alat, antara
lain:tiga set silinder dengan baloknya yang berlubang sesuai dengan silindernya, tiga
set kubus, balok, dan keping papan, serta berbagai macam benda dengan berbagai
bangun geometri, seperti bulat, segitiga, segiempat, dan campuran.

2. Alat untuk indra peraba atau perasa

Untuk melatih perasa digunakan papan yang dibagi menjadi kotak-kotak.

3. Alat-alat untuk indra pendengar


a. Satu set kotak-kotak tertutup yang berisi batu, uang logam, jagung, dan beras.
b. Beberapa kelinting dan bunyi nada berlainan.
4. Alat untuk indra penciuman

Indra penciuman dilatih dengan bau-bauan dari berbagai macam buah, bunga,
atau makanan. Anak diminta mengenali berbagai macam bau, dengan cara menyebut
nama suatu bunga atau buah tanpa melihat bentuknya.

Pembelajaran di sekolah Montessori dilakukan dalam tiga tahap, yaitu langkah


menunjukkan, mengenal, dan mengingat. Langkah pembelajaran ini dapat dilakukan
dengan cara:

a. Langkah menunjukkan
b. Langkah mengenal
c. Langkah mengingat

Terdapat tiga hal yang perlu selalu dipantau dalam penggunaan pendekatan
Montessori, yaitu pendidikan usia dini (early child-hood), lingkungan pembelajaran
9learning enviroment), dan peran guru (role of the teacher).

B. High/Scope

High/Scope pada mulanya sebagai nama kurikulum yang dikembangkan


untuk anak usia tiga – empat tahun. Pada perkembangan berikutnyaa nama ini berubah

8
menjadi suatu pendekatan. High/Scope digunakan sebagai suatu pendekatan dalam
penyelenggaraan PAUD. Pada tahun 1960-an, program ini ditujukan untuk anak yang
menghadapi kesulitan (luar biasa) dengan situasi dan program sekolah dari
lingkungan miskin di Ypsilanti, Michigan

Kurikulum High/Scope akan membantu anak-anak prasekolah menjadi lebih


bebas dan mandiri (independen), bertanggung jawab dan menjadi pembelajaran yang
percaya diri.

Kurikulum High/Scope memerhatikan beberapa hal berikut:

1. Belajar Aktif

Pengalaman pembelajaran aktif akan membantu anak membangun


pengetahuan mereka, seperti: belajar konsep, membentuk gagasan,
menciptakan simbol, memecahkan masalah, dan abstraksi mereka sendiri.

2. Interaksi Anak dengan Orang Dewasa

Orang dewasa mendukung motivasi dari dalam diri anak selama


pembelajaran dengan cara mengatur jadwal dan lingkungan, dan
mempertahankan iklim sosial yang suportif.

3. Lingkungan Pembelajaran

Secara perinci lingkungan pembelajaran dalam pembelajaran


High/Scope Curriculum harus memenuhi beberapa kriteria, antara lain:

- Sekolah harus menyediakan lingkungan fisik pembelajaran dan


fasilitas pembelajaran yang kondusif untuk belajar dan merefleksikan
tahapan yang berbeda dalam perkembangan masing-masing anak;
- Sekolah harus menyediakan ruang yang layak untuk melakukan
seluruh program kegiatan; dan
- Ruangan harus disusun dalam area yang fungsional yang dapat
dikenali anak dan berpeluang terjadinya interaksi sosial serta aktivitas
individual.

C. Bank Street

9
Bank street merupakan salah satu institusi pendidikan yang diperkenalkan
pada awal 1800-an. Model ini terkenal setelah dikembangkan oleh Lucy Sprague
Mitchell.

Sejak 1920 melalui Bank Street Collage of Education, Bank Street


dikembangkan di Cityland Country School New york. Bank street memiliki
komitmen yang tinggi untuk membantu perkembangan anak dengan mengembangkan
intelektual dan sosial emosional secara bersamaan. Bank street memandang anak
sebagai manusia kompleks dan unik. Pada diri anak terdapat suatu kekuatan dan
keinginan untuk belajar.

Prinsip utama pendidikan Bank Street ialah pendidikan yang berorientasi agar
anak menjadi seorang pembelajar abadi. Oleh karena itu, anak perlu belajar dengan
menggunakan permainan balok, dramatis, laboratorium untuk bekerja, mengecat, dan
darmawisata sebagai basis dasar yang akan mereka alami untuk memperoleh
pemahaman dari pengetahuan yang mereka bangun.

D. Waldorf

Pada 1919, Waldorf Astoria Cigarrete Company mendirikan Waldorf school


di Stuttgat, Jerman. Direktur menyediakan sekolah ini pada awalnya sebagai satu
bentuk pendidikan komprehensif bagi anak-anak para pekerja pabrik. Pendidikan ini
membantu mereka menjadi lebih kreatif dan memiliki keseimbangan rasa.

Pandangan yang dianut sekolah Waldorf ialah sekolah melaksanakan


pendidikan dengan berusaha membantu anak agar anak memiliki kepercayaan diri,
kreativitas, pengetahuan, dan keterampilan.kurikulum sekolah Waldorf didesain
untuk mempertemukan berbagai perubahan dalam perkembangan yang terjadi secara
alamiah sepanjang masa kanak-kanak. Metode pendidikan di sekolah Waldorf bekerja
keras untuk membangkitkan dan memuliakan kemampuan anak sehingga anak tidak
selalu dipaksakan secara intelektual.

E. Reggio Emilia

Model pendidikan Reggio Emilia merupakan contoh model pendidikan untuk


periode kanak-kanak yang dicetuskan oleh Loris Mallaguzzi. Reggio Emilia
digunakan sebagai pendekatan dalam pendidikan awal atau masa kanak-kanak.

Prinsip pendekatan Reggio Emilia sebagai berikut:


1. Kurikulum Emergent
2. Proyek (Pekerjaan)
10
3. Representational Development
4. Kerja Sama/Kolaborasi
5. Para Guru sebagai Peneliti
6. Dokumentasi
7. Lingkungan

BAGIAN III : DEVELOPMENT APPROPRIATE PRACTICE

A. Pengertian Developementally Appropriate

Konsep Developmentally Appropriate Practice (DAP) pertama kali


dimunculkan oleh The National Association for the Education of Young
Childeran (NAEYC). Munculnya konsep DAP diawali dengan adanya
kecenderungan peningkatan kegiatan belajar (pembelajaran) secara formal dalam
program pendidikan anak usia dini (PAUD), yaitu taman kanak-kanak, dan
Raudhatul Atfal.

Gestwicki (2007) mengemukakan bahwa Developmentally Appropriate


Practice bukan kurikulum, bukan merupakan suatu satuan standar yang kaku yang
menentukan bagaimana praktik atau melaksanakan PAUD.

Batasan ini menunjukkan bahwa DAP memiliki tiga fungsi, yaitu filosofi
(berkaitan dengan cara pandang terhadap anak), pendekatan (berkaitan dengan
cara memperlakukan anak-anak dalam kegiatan belajar di PAUD), dan kerangka
bekerja (berisi rambu-rambu berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan belajar
dalam PAUD).

Menurut Sue Bredekemp (1992), konsep Developmentally Appropriateness


memiliki dua dimensi, yaitu: Age appropriateness adalah perkembangan manusia
yang berdasarkan hasil penelitian bersifat universal, memiliki urutan
pertumbuhan dan perkembangan yang dapat diperkirakan yang terjadi pada anak
selama delapan tahun awal kehidupan manusia. Individual Appropriateness
adalah bahwa setiap anak ialah pribadi yang unik dengan pola dan waktu
pertumbuhan individual seperti kepribadian individual, gaya belajar, dan latar
belakang keluarga.

11
B. Prinsip Dasar Perkembangan Berdasarkan Developmentally Appropriate
Practice

Konsep Developmentally Appropriate Practice (DAP) didasarkan pada


pengetahuan tentang bagaimana anak berkembang dan belajar. Perubahan
perkembangan apa yang khas berlangsung sejak usia lahir hingga delapan tahun
dan selanjutnya, bagaimana variasi dalam perkembangan akan berlangsung, dan
upaya dilakukan untuk mendukung belajar dan perkembangan anak pada kurun
waktu perkembangan ini.

Prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak berdasarkan DAP yaitu:

1. Wilayah perkembangan anak-fisik, moral, emosional, kognitif, dan


dimensi lainnya saling berkaitan erat. Pengembangan dalam satu wilayah
memengaruhi dan dipengaruhi oleh wilayah lainnya.
2. Perkembangan terjadi dalam urutan yang relatif teratur, dan kemampuan,
keterampilan, serta pengetahuan berikut terbentuk atas kemampuan
keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya.
3. Perkembangan berlangsung dalam kecepatan yang berbeda antara anak
satu dan yang lain maupun antara wilayah perkembangan satu dengan
yang lain pada individu anak yang sama.
4. Pengalaman yang telah diperoleh anak memiliki dampak langsung
maupun tidak langsung terhadap perkembangan anak berikutnya.
5. Perkembangan berproses pada arah yang dapat diprediksi menuju ke arah
kompleksitas, pengorganisasian, dan internalisasi yang lebih luas.
6. Perkembangan dan pembelajaran berlangsung dalam dan dipengaruhi oleh
berbagai konteks sosial dan budaya dan anak belajar melalui interaksi
dengan teman sebaya dan orang dewasa serta semua yang ada
lingkungannya.
7. Anak adalah pembelajar yang aktif, yang belajar dengan menunjukkan
secara berlangsung pengalaman fisik dan sosial berkenaan dengan aspek-
12
aspek budaya yang diperlihatkan melalui pengetahuan dalam rangka
membangun pemahaman mereka tentang dunia sekitar mereka.
8. Perkembangan dan belajar adalah hasil dari interaksi kematangan biologis
dan lingkungan, juga meliputi aspek fisik dan kehidupan sosial anak.
9. Bermain adalah wahana penting bagi perkembangan sosial, emosional,
kognitif, dan aspek perkembangan lainnya maupun bagi refleksi dan
deteksi ketercapaian perkembangan anak.
10. Perkembangan anak akan lebih meningkat, jika anak diberi kesempatan
untuk melatih keterampilan yang baru dan meningkatkan keterampilan
baru melalui tantangan di atas zona kemampuan perkembangannya.
11. Anak memiliki keragaman cara untuk belajar dan mencari tahu serta
memiliki berbagai cara untuk menunjukkan dan menyajikan apa yang
diketahuinya.
12. Anak akan lebih mudah belajar jika kebutuhan fisik dan psikisnya
dipenuhi, anak merasa aman dan nyaman, motivasi belajar anak muncul
bila kegiatan sesuai dengan minat dan mendorong keingintahuannya.

C. DAP untuk Perencanaan Kurikulum Pengembangan Kurikulum

Mengembangkan kurikulum harus memerhatikan dua hal utama, yaitu aspek


perkembangan anak (child development) dan pendekatan yang sesuai digunakan
(approach) untuk membelajarkan anak. Aspek perkembangan anak terdiri dari
cognitive development, spritual, emotional, social, moral, dan physical. Aspek
approach berkaitan dengan teori dan filosofi yang dipahami.

D. DAP dan Bermain

Elga menekankan pentingnya peran aktif dari si anak dalam proses belajarnya.
Belajar berdasarkan minat dan kemampuan anak akan mendorong anak
berinisiatif dan bergerak aktif untuk mengekplorasi kemampuan. Kaitannya
13
dengan DAP, bermain dilakukan berdasarkan tahapan perkembangan dan
kebutuhan anak.

BAGIAN IV : IMPLEMENTASI MODEL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Rasional

Setiap warga Negara berhak memperoleh pendidikan yang layak. Pendidikan


diberikan dalam rangka membantu individu untuk mengembangkan kecerdasan,
hidup berkualitas, dan memperoleh kesejahteraan hidup. Untuk mencapai ketiga
hal ini, pendidikan perlu diberikan sejak dini, sejak anak lahir, bahkan sejak dalam
kandungan.

Masa emas (golden age) perkembangan sebagai suatu masa yang menjadi
dasar dan memberi pengaruh besar terhadap kualitas perkembangan anak
selanjutnya. Masa ini menurut banyak ahli dimulai sejak usia lahir sampai usia
delapan tahun.

Lembaga pendidikan anak usia dini merespons dengan membuka kelompok


bermain. Program belajar dirancang untuk membantu perkembangan dan belajar
anak. Melalui program belajar ini anak diharapkan memperoleh pengalaman
belajar yang dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki dan siap belajar
di sekolah dasar.

B. Filosofi

Filosofi atau dasar pemikiran penyelenggaraan pendidikan anak usia dini


adalah kami pecaya bahwa :

1. Setiap anak memiliki multikemampuan yang bisa berkembang.

2. Setiap anak berhak memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan


karakteristik dan kebutuhan perkembangan.

14
3. Setiap anak belajar melalui begerak (move), bermain (play), melakukan (do)
untuk memperoleh pengalaman (hands on learning).

4. Setting lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak akan


menumbuhkembangkan semua potensi yang dimiliki.

C. Visi

Visi kelompok bermain yaitu : menjadi lembaga pendidikan anak usia dini
yang inovatif dan kompatibel dalam membangun karakter anak Indonesia yang
cerdas, tangguh, ceria, dan berkepribadian luhur.

D. Misi

Lembaga pendidikan anak usia dini mengemban tugas :

1. Menyelenggarakan kegiatan belajar sesuai dengan prinsip pengembangan


dimensi kecerdasan jamak.

2. Mengembangkan program dan bentuk kegiatan belajar berbasis lingkungan


bagi anak usia dini.

3. Memfasilitasi orangtua dalam merealisasi fungsi dan peran sebagai pendidik


pertama dan utama.

E. Tujuan

Tujuan diselenggarakan pendidikan anak usia dini sebagai berikut :

1. Diperoleh anak yang memiliki pengalaman belajar kepada anak usia dini
untuk dapat mengembangkan semua dimensi kecerdasannya.

2. Menghasilkan anak usia enam tahun yang memiliki kesiapan belajar pada
jenjang sekolah dasar atau sederajat.

15
3. Tersedia layanan edukasi, konsultasi, informasi, dan advokasi anak bagi
masyarakat.

F. Kompetensi Keluaran

1. Kompetensi Utama

Setelah mengikuti program kegiatan belajar diharapkan anak :

a. Memiliki pengalaman belajar melalui berbagai aktivitas dan kegiatan dengan


materi dan sumber bervariasi yang dapat menumbuhkembangkan kecerdasan
yang berhubungan dengan bahasa, matematis dan sains, fisik dan motorik,
seni, penguasaan ruang, diri sendiri, orang lain, alam sekitar, serta makna dan
kegunaan hidup.

b. Siap mengikuti pendidikan di sekolah dasar atau sederajat.

2. Kompetensi Pendukung

Orangtua dapat merencanakan pengembangan potensi anak dan perolehan


layanan pendidikan lanjut.

G. Prinsip dan Pendekatan Pembelajaran

1. Prinsip Pembelajaran

a. Berorientasi pada kebutuhan anak.

b. Belajar melalui bermain.

c. Kegiatan belajar mengembangkan dimensi kecerdasan secara terpadu.

d. Menggunakan pendekatan klasikal, kelompok, dan individual.

e. Lingkungan kondusif.

f. Menggunakan berbagai model pembelajaran.

g. Mengembangkan keterampilan hidup dan hidup beragama.

h. Menggunakan media dan sumber belajar.

i. Pembelajaran berorientasi kepada prinsip perkembangan dan belajar anak.

2. Pendekatan Pembelajaran

16
Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan, yaitu
pendekatan proses, konkret, holistic dan discovery.

H. Dimensi Pengembangan

Teori kecerdasan jamak yang dikemukakan Gardner (1983) mengemukakan


teori yang dikenal dengan teori kecerdasan jamak. Teori ini mengidentifikasikan
bahwa anak memiliki kemampuan yang menyebar ke dalam beberapa dimensi.

1. Linguistik/Bahasa

Merupakan kemampuan menggunakan bahasa untuk menyatakan


gagasan tentang dirinya dan memahami orang lain serta untuk mempelajari
kata-kata baru atau bahasa lain.

2. Logika Matematis

Adalah kemampuan untuk memahami dasar-dasar operasional yang


berhubungan dengan angka dan prinsip-prinsip serta kepekaan melihat pola
dan hubungan sebab akibat dan pengaruh.

3. Visual Spasial

Merupakan kemampuan untuk membentuk suatu gambaran mental


tentang tata ruang atau menghadirkan dunia mengenai ruang secara internal di
dalam pikirannya.

4. Kinestesis Jasmani (Bodily Kinesthetic Intelligence)

Merupakan kemampuan menggunakan seluruh tubuh dan komponennya


untuk memecahkan permasalahan, membuat sesuatu, atau menggunakan
beberapa macam produksi, dan koordinasi anggota tubuh dan pikiran untuk
menyempurnakan penampilan fisik.

5. Musikal

Merupakan kemampuan untuk mendengar dan mengenali pola,


mengingat,dan bereaksi sesuai dengan musik yang didengar, serta
menghasilkan musik dengan intonasi suara, irama, dan warna nada.

17
6. Intrapersonal

Merupakan kemampuan memahami hal-hal yang berkaitan dengan


perasaan-perasaan yang ada pada diri sendiri, seperti perasaan senang ataupun
sedih, apa yang dapat ia lakukan, apa yang ingin ia lakukan, bagaimana ia
bereaksi terhadap hal-hal tertentu.

7. Interpersonal

Merupakan kemampuan melihat dan memahami perbedaan mood,


temperamen, motivasi dan hasrat orang lain, serta bekerjasama dengan orang
lain, seperti peka pada ekspresi wajah, suara, gerak isyarat orang lain dan
dapat berinteraksi dengan orang lain.

8. Naturalis

Merupakan kemampuan memahami alam sekitar, mengenali binatang,


dan tumbuhan di lingkungan, sensitif terhadap corak yang berkaitan dengan
dunia alami seperti awan, formasi batu untuk mengenali dan mengklasifikasi
sejumlah spesies flora dan fauna serta lingkungan.

I. Materi (Content) dan Tema Belajar

1. Pengembangan Materi (Content) Belajar

Materi belajar meliputi belajar bahasa (the language arts), seni (art), musik
(music), matematis (mathematics learning), sains (processes science), dan sosial
(the social studies).

2. Penentuan Tema Pembelajaran

Penentuan tema berdasarkan karakteristik perkembangan dan belajar anak


dan materi belajar. Selain itu, kecenderungan minat anak juga menjadi dasar
penentuan tema.

18
J. Pelaksanaan Kegiatan Belajar

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan


belajar.

1. Tempat dan Ruang Belajar

Belajar dilaksanakan di dalam dan luar ruangan. Ruangan ditata sesuai


dengan bentuk dan strategi pembelajaran yang akan dilaksanakan dan disusun
pada pagi hari kegiatan belajar akan dilaksanakan.

2. Waktu Belajar

Belajar dilaksanakan pada pagi hari dari pukul 08.00 sampai dengan
pukul 11.00 setiap hari kerja. Waktu yang digunakan dapat dikelompokkan
menjadi tiga bagian, yaitu pembukaan, inti dan penutup.

3. Bentuk dan Metode Kegiatan

Kegiatan belajar dilakukan dalam beberapa bentuk dengan menggunakan


berbagai metode dan kegiatan. Metode dan kegiatan sebagai salah satu faktor
penentu dalam membantu anak memperoleh pengalaman belajar.

BAGIAN V : IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN

A. Pendahuluan

Pembelajaran untuk anak usia dini, misalnya pembelajaran di taman


kanak-kanak dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai model. Salah
satu model yang dapat digunakan adalah pembelajaran berbasis portofolio.

Pembelajaran berbasis portofolio dirancang dengan memerhatikan prinsip


pembelajaran khususnya pembelajaran di taman kanak-kanak dengan
memasukkan langkah pembuatan dan penggunaan portofolio sebagai assessment
pembelajaran. Untuk itu, pembelajaran dikembangkan dengan memerhatikan
karakteristik anak, terdiri dari berbagai kegiatan yang dapat dilakukan anak,

19
menggunakan berbagai metode, dan media yang dapat memotivasi anak
melakukan kegiatan belajar yang menyenangkan dengan system penilaian yang
dapat menggambarkan keberhasilan anak dalam mengikuti kegiatan belajar.

Selain itu, pembelajaran berbasis portofolio dirancang dengan melibatkan


anak sebagai subjek belajar. Anak memperoleh kesempatan untuk mengetahui
tujuan belajar yang dilakukannya, berpartisipasi dalam menentukan criteria
keberhasilan belajar dan menentukan tingkat keberhasilan yang dicapainya.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan umum pembelajaran berbasis portofolio adalah memberi


kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dengan berlatih
dan memperoleh pengalaman dari berbagai kegiatan belajar serta merefleksi semua
kegiatan dan hasil yang diperoleh pada satu kegiatan belajar berdasarkan criteria yang
ditetapkan bersama antara guru dan anak sehingga terbentuk kemampuan sesuai dengan
standard kompetensi perkembangan. Dalam penelitian ini, kemampuan yang dibentuk
dideskripsi berdasarkan kecerdasan jamak, yang selanjutnya disesbut dengan kecerdasan
jamak. Dimensi kecerdasan jamak terdiri dari dimensi bahasa (linguistic). Kogniif (logika
matematis), fisik motorik (kinestesis jasmani), seni rupa (spasial), music (musical),
emosional (intrapersonal), social (inter personal), dan lingkungan (naturalis).

2. Tujuan Khusus

Secara khusus pembelajaran berbasis portofolio bertujuan mendeskripsi dan


melaksanakan kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan guru dan kegiatan belajar
anak selama pelajaran berlangsung untuk meningkatkan delapan dimensi kecerdasan
jamak yang terdiri dari kecerdasan bahasa (linguistic intelligence), fisik motorik (bodily-
kinesthetic intelligence), seni rupa (spatial intelligence), music (musical intelligence),
emosional (intrapersonal intelligence), sosial (interpersonal feelings intelligence), dan
lingkungan (naturalis).

C. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Berbasis Portofolio

20
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran berbasis portofolio dilakukan dengan
tahapan sebagai berikut:

1. Sebelum Pembelajaran Dimulai

Ada beberapa persiapan yang harus dilakukan guru saat menyiapkan


pembelajaran berbasis portofolio, yaitu:

a. Perhatikan program taman kanak-kanak selama satu semester. Tema-tema apa


saja yang akan digunakan dalam pembelajaran . Penentuan tema berkaitan dengan
kompetensi yang akan dikembangkan, isi (countent) kegiatan belajar dan arah
minat anak.

b. Deskripsi setiap tema menjadi subtema. Hasil diskripsi akan menggambarkan


tema secara perinci sehingga memudahkan dalam merancang kegiatan
pembelajaran. Mendeskripsikan tema dapat dilakukan dengan menggunakan
matriks atau peta konsep.

Lakukan analisis untuk memperkirakan berapa lama tema tersebut digunakan


dalam pembelajaran., misalnya enam hari, dua minggu, atau yang lainnya. Berdasarkan
hasil analisis susun satuan mingguan. Didalam satuan kegiatan mingguan dapat dituliskan
minggu kebera, pada bulan apa, tema itu digunakan misalnya tema keluarga minggu
pertama bulan juli.

Perhatikan tema subtema. Tentukan kegiatan apa yang akan dilakukan sesuai
dengan tema. Misalnya, pada minggu kesembilan tema tanaman subtema buah-buah pada
rabu direncanakan melakukan kegiatan membuat jus avokad. Susun kegiatan harian yang
dituang dalam bentuk satuan kegiatan garian. Datuan harian kegiatan (SKH) berisi tujuan
pembelajaran, langkah kegiatan, yaitu pada tahap pembukaan, inti, dan penutup,
menentukan media dan evaluasi yang digunakan.

2. Saat Pelajaran Berlangsung

Pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rancangan yang telah disusun


dalam satuan kegiatan harian. Dibawah ini, dikemukakan bagaimana pelaksanaan
pembelajaran sesuai dengan satuan kegiatan harian yang dikemukakan pada
tulisan ini.

a. Menyiapkan media yang digunakan dan kelas sesuai dengan kegiatan


pembelajaran yang akan dilakukan.
21
b. Mulailah pembelajaran sesuai dengan satuan kegiatan harian, yaitu pembukaan,
inti, dan penutup.

c. Mengakhiri pembelajaran dengan kegiatan merefleksi semua kegiatan oleh anak


dan guru. Selanjutnya guru menginformasikan rencana kegiatan besok. Kegiatan
diakhiri dengan dengan bernyanyi, doa, dan salam.

3. Sesudah Pembelajaran Berakhir

Guru menyempurnakan semua data yang diperoleh selama pembelajaran


berlangsung.

D. Berkas (Evidence) Portofolio

Pembelajaran dengan kegiatan membuat jus avokad dapat menghasilkan


berkas (evidence) portofolio antara lain dalam bentuk:

1. Tulisan anak dengan meniru kata yang diberikan dalam kartu kata

2. Mewarnai daftar harga minuman dari buah (juice)

3. Catatan guru tentang perilaku anak selama pelajaran

Ringkasan buku kedua

BAB I : PANDANGAN TOKOH, HASIL STUDI DAN MODEL KURIKULUM

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

 Pendidikan Pestalozzi

 Pendidikan Froebel

 Pendidikan Montessori

 Pendidikan Ki Hajar Dewantara

 Pendidikan Yayasan Bersekolah Pada Ibu

 Kontribusi Studi Piaget

 Konstribusi Vygotsky

22
 Kontribusi Smilansky

 Kontribusi Gardner

 Model-model Kurikulum

BAB II : KREATIVITAS DAN PENGEMBANGANNYA

A. Pendekatan Kreativas
 Pendekatan
 Teori-teori kreativitas
 Kreativitas sebagai proses belajar yang dapat dipelajari dan
dikembangkan
 Hasil penelitian tentang usaha pengembangan kreativitas AUD
B. Pengembangan kreativitas Guru PAUD
 Menjadi guru kreatif
 Berfikir dan bersikap kreatif
 Kreativitas guru dalam mengemmas pembelajaran
 Kreativitas guru dalam menyediakan sumber belajar beragam
C. Merangsang Tumbuhnya Kreativitas AUD

BAB III : TAHNIK BERMAIN KONSTRUKTIF

 Konsep, tujuan, dan jenis permainan konstruktif


 Bermain balok (Blok Building)
 Tehnik dan langkah bermain balok
 Penelitian masnipal tentang permainan balok (2008)

BAB IV : MENEMBANGKAN PROGRAM BAGI ANAK USIA DINI

Konsep pengembangan program


Prinsip-prinsip pengembangan program
Lingkup pengembangan dan materi progam
Merencanakan program tahunan dan semester
23
BAB III

PEMBAHASAN

 Kelebihan buku pedoman

Kelebihan dalam buku pedomannya adalah covernya sangat menarik karna


disertai dengan gambar anak-anak yang sedang melakukan belajar mengajar atau
belajar sambil bermain.

24
Buku tersebut juga sangat bagus untuk digunakan para mahasiswa untuk
mengetahui bagaimana model-model pendidikan anak usia dini dan seberapa
penting pendidikan bagi anak usia dini.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini lebih banyak bahasa bakunya dari pada
bahasa yang tidak baku.

Isi dalam buku tersebut juga membahas tentang pendidikan anak usia menurut
para ahli sehingga mahasiswa atau pembaca dapat mengetahui pendidikan anak usia
dini menurut para ahli

 Kelemahan buku

Kelemahan dalam buku ini adalah bahasa yang digunakan lebih banyak
digunakan bahasa yang baku sehingga mahasiswa atau yang membaca susah untuk
memahaminya.

Pembahasan yang ada didalam buku juga tidak terlalu lengkap dan membuat
pembaca harus lebih banya mengambil pengetahuan dari buku lain.

 Kelebihan buku pendamping


Kelemahan dalam buku pendamping adalah cover yang digunakan juga
menarik karna disertai dengan gambar yang unik.
Pembahasan yang digunakan juga dikategorikan lengkap karna
pembahasannya lebih banyak dari pada buku yang pertama.
Identitas dalam buku juga lengkap sehingga dapat mempermudah
pembaca untuk mengetahui identitas buku tersebut.

25
Bahasa yang digunakan juga bahasa baku dan mudah dipahami pembaca
atau mahasiswa

 Kelemahan buku kedua

Kelemahan dalam buku ini adalah buku yang digunakan sangat tebal sehingga
membuat pembaca merasa bosan membacanya.

Bahasa yang digunakan juga lebih banyak bahasa bakunya daro pada bahasa yang
mudah dipahami, sehingga sulit untuk menjabarkannya

Dalam setiap pembahasan tidak disertai dengan gamabr karenanya membuat sulit
pembaca memahami maksud dari pembahasan tersebut.

BAB III

PENUTUP

26
3.1 Kesimpulan

Buku ini menjelaskan tentang pendidikan anak usia dini menurut para ahli
dan filsuf, dan pemabahan buku ini juga menjelaskan berbaigai macam model pendidikan
bagi anak usai dini.

3.2 Saran

Saran saya dalam pengembangan anak usia dini ini adalah agar kita sebagai
calon guru dapat memahami dan mengembangkan potensi yang dimiliki pada anak,
yaitu dengan cara bermain yang disenangi mereka namun permainan itu dapat mendidik
anak tersebut dan kita membimbingnya kejalan yang lebih baik walaupun dengan
metode bermain yang sederhana.

Dengan adanya kritikal book ini saya berharap ada masukan atau pendapat dari
para pembaca yang merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam critical book
tersebut.

27
DAFTAR PUSTAKA

Yus, Anita. 2014. Model Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : KENCANA.

Masnipal.2013. Siap Menjadi Guru dan Pengelola PAUD Profesional.bandung : PT Elex


Media Komputindo.

28