Anda di halaman 1dari 10

Diagnosis dan penanganan hematoma subdural: sebuah ulasan dari literatur terkini

Wed Alshora*, Mohammed Alfageeh, Salman Alshahrsni, Saeed Alqahtani, Abdulrahma.


Dajam, Mutaz Matar, Rakan Ashour, Atif Alasmari, Abdulrhman Alqthani

ABSTRACT
Subdural hematoma merupakan akumulasi darah ekstra-serebral antara dura mater dan
lapisan subaraknoid. Hematoma subdural dapat dikaitkan dengan morbiditas jangka panjang
dan angka mortalitas yang tinggi. Mortalitas yang mengikuti kejadian hematoma subdural
paling tinggi dapat mencapai hingga 32%, dan angka berulangnya dapat mencapai 33%.
Hematoma subdural akut adalah suatu kondisi gawat darurat dan memerlukan diagnosis yang
sesuai dengan menggunakan CT di kebanyakan waktu, serta penanganan membutuhkan
pembedahan juga dengan penghentian antikoagulan. Kami mengadakan ulasan ini
menggunakan pencarian komprehensif di MEDLINE, PubMed, dan EMBASE, Januari 1985,
hingga Februari 2017. Berikut adalah terminologi pencarian yang digunakan: penanganan
kegawatdaruratan dari hematoma subdural, hematoma subdural, CT vs. MRI dalam diagnosis
dari hematoma subdural, penanganan hematoma subdural. Dalam ulasan ini, tujuan kami adalah
untuk mempelajari penyebab dari hematoma subdural dan memahami bagaimana kondisi ini
harus didiagnosa dan ditangani. Hematoma subdural adalah kegawatdaruratan klinis yang
memerlukan penanganan yang segera dan cepat untuk mencegah morbiditas dan mortalitas
yang signifikan. Hematoma subdural dapat dikelompokkan menjadi akut, subakut, atau kronik,
dengan tipe akut yang menjadi tipe paling berbahaya serta berkaitan dengan tingkat mortalitas
tertinggi. Hematoma subdural didiagnosa menggunakan pencitraan CT atau MRI. Penanganan
pada seorang pasien dengan hematoma subdural termasuk resusitasi yang diikuti dengan
menguasai perdarahan. Kontrol tekanan intrakranial adalah faktor penting dalam memprediksi
hasil akhir dari hematoma subdural, dan harus secara terus-menerus diawasi serta dikoreksi.
Kata kunci: Hematoma subdural, Diagnosis di ruang gawat darurat untuk hematoma subdural,
CT vs. MRI, Penanganan hematoma subdural
Pendahuluan
Hematoma subdural secara relatif adalah kasus yang umum dijumpai yang selalu
dihadapi dokter bedah saraf. Insidensi dan prevalensi hematoma subdural telah mengalami
peningkatan akhir-akhir ini, dengan peningkatan ini menjadi lebih menetap pada individu
berusia tua yang dapat mencapai hingga 80 kasus per 100.000 orang per tahun.1 Secara umum,
laki-laki memiliki insidensi dan prevalensi lebih tinggi pada hematoma subdural dibandingkan
dengan perempuan, dan diperkirakan bahwa sekitar 20% hematoma subdural pada laki-laki
terjadi bilateral saat ditemukan.2 meskipun insidensi pada populasi yang lebih muda lebih
sedikit dibandingkan populasi yang lebih tua, bayi dan balita memiliki insidensi yang secara
relatif lebih tinggi saat dibandingkan dengan kelompok usia lainnya dengan insidensi yang
dapat mencapai 40 per 100.000 orang per tahun. Etiologi dari kasus-kasus pada bayi dan balita
tersebut dapat dikategorikan ke dalam penyebab-penyabab yang berbeda dari kelompok usia
yang lain. Etoiologi-etiologi tersebut bisa termasuk hidrosefalus, trauma selama persalinan,
penyakit hematologis, penyakit genetik, infeksi dan sepsis, serta malformasi vaskular.3
Hematoma subdural dapat dikaitkan dengan morbiditas jangka panjang yang signifikan
serta angka mortalitas yang tinggi. Faktanya, diperkirakan bahwa mortalitas setelah suatu
hematoma subdural dapat mencapai hingga setinggi 32%, dan tingkat kejadian berulangnya
dapat mencapai 33%. Lebih jauh lagi, pada kasus hematoma subdural akut akibat trauma, angka
mortalitas dapat mencapai 90% pada beberapa kondisi klinis. Glasgow coma scale ditemukan
berkaitan secara berlawanan dengan angka mortalitas.4
Hematoma subdural berasal dari lapisan lebih dalam dari dura, dan di luar dari lapisan
araknoid menciptakan beberapa ruangan bersekat yang mengandung darah. Perjalanan alamiah
hematoma subdural ini membuat penanganannya cukup menantang dan mengarah pada angka
berulang yang tinggi.3 Terdapat banyak faktor yang berpedan dalam perluasan hematoma
subdural. Faktor tersebut termasuk berulangnya perdarahan yang dapat diakibatkan dari
peningkatan kadar fibrinogen dan plasmin, liquefaksi hematoma subdural mengarah pada
gradien osmotik dan suatu perluasan kompartemen hematoma subdural, serta proses inflamasi
yang berkaitan dengan neovaskularisasi mengarah pada lebih banyak lagi perdarahan.5
Hematoma subdural dikategorikan ke dalam akut, subakut, dan kronik. Hematoma
subdural akut muncul dalam 3 hari sejak perdarahan, hematoma subdural subakut muncul
dalam empat hingga dua puluh hari sejak perdarahan, dan hematoma subdural kronik muncul
kapan saja setelah dua puluh hari sejak perdarahan. Metode diagnosis pilihan untuk
mendiagnosa hematoma subdural adalah teknik pencitraan CT atau MRI. Kebanyakan dari
hematoma subdural akut dapat dikaitkan dengan perdarahan vena setelah suatu ruptur traumatik
dari bridging vein, dan mengarah pada peningkatan tekanan intrakranial. Sekitar 20% kasus
hematoma subdural akut dapat diakibatkan oleh suatu ruptur arterial.6
Saat berhadapan dengan pasien yang mengalami suatu cedera otak traumatik, prevalensi
hematoma subdural dapat mencapai 20%, dengan sekitar setengah dari pasien tersebut datang
dengan suatu kondisi koma.7 Di sisi lain, penggunaan obat-obat antiplatelet dan antikoagulan
dapat mengarah pada terbentuknya suatu hematoma subdural.7 Meski begitu, hematoma
subdural pada bayi masih belum dapat dijelaskan dengan baik.

Metode
Kami melakukan pencarian sistematis tentang hematoma subdural menggunakan mesin
pencarian PubMed (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/) dan mesin pencarian Google Scholar
(https://scholar.google.com). Pencarian kami juga sekaligus mencari prevalensi, etiologi,
diagnosis serta penanganan dari kasus-kasus hematoma subdural. Seluruh penelitian yang
relevan diikutsertakan dan dibahas. Kami hanya memasukkan artikel-artikel yang lengkap.
Berikut adalah terminologi pencarian yang digunakan: penanganan kegawatdaruratan
hematoma subdural, hematoma subdural, CT vs. MRI dalam diangosis hematoma subdural,
penanganan hematoma subdural. Penelitian ini telah disetujui oleh dewan pengurus ulasan dari
King AbdulAziz Hospital.

Penanganan awal pada pasien-pasien SDH


Saat berhadapan entah dengan hematoma subdural akut, subakut, atau kronik,
penanganan harus dimulai dengan menerapkan protokol advanced trauma life support. Dalam
pedoman terkitni, the Neuro-Critical Care Society merekomendasikan untuk menjaga mean
arterial pressure diantara 80 hingga 110 mmHg, dengan tekanan sistolik arterial yang tidak
melebihi 180 mmHg. Target-target tersebut bertujuan untuk menjaga perfusi serebral tetap
mencukupi dengan tetap mencegak perdarahan lebih lanjut.8 oksigenasi dari otak harus
dipertahankan pada 60 mmHg, karena hipoksia dapat mengakibatkan kerusakan permanen yang
signifikan.9 Pada beberapa kasus cedera yang parah, agitasi, intoksikasi, atau perubahan status
mental, intubasi dilakukan untuk mencapai oksigenasi yang mencukupi serta untuk mencegah
risiko terjadinya aspirasi.10 Untuk menyediakan sedasi yang mencukupi pada kondisi trauma,
etomidate seringkali digunakan untuk induksi bersamaan juga dengan propofol, ketamine, dan
fentanyl. Lidokain intravena juga seringkali diberikan untuk mencegah peningkatan tekanan
intrakranial.9 untuk mencapai blok neuromuskular yang memadai, suksinilkolin, rocuronium,
atau cisatracurium intravena dapat digunakan.9 Setelah intubasi tercapai, obat sedatif yang
digunakan untuk menjaga tingkat status sedasi adalah termasuk propofol, midazolam, fentanyl,
dexmedetomidine, atau remifentanil.

Pencitraan untuk konfirmasi diagnosis


Setelah tercapainya resusitasi yang memadai untuk pasien, pencitraan intrakranial
dibutuhkan untuk mengkonfirmasi diagnosis dari hematoma subdural serta rencanakan
penanganan yang sesuai. Penggunaan pencitraan dengan CT Scan dalam mendeteksi hematoma
subdrual memiliki beberapa keuntungan termasuk ketersediaan alat yang luas, hasil yang cepat,
serta sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, yang secara berturut-turut dapat mencapai 96%
dan 98%. Di sisi lain, teknik pencitraan MRI masih lebih dipilih karena sensitivitas dan
spesifisitas yang dapat mencapai 100%, kemampuan untuk mendeteksi bahkan perdarahan
yang minimal, serta kemampuan mengidentifikasi etiologinya.
Baik teknik pencitraan CT dan MRI dapat memberikan informasi mengenai ukuran
hematoma, tingkat kronisitas penyakit, pergeseran garis tengah (jika ada),
menghilangnya/memudarnya sisterna basalis, serta jebakan dari ventrikel. Saat etiologi
dicurigai berasal dari vaskular, pasien direkomendasikan untuk menjalani MRA. Pencitraan
segera diindikasikan pada kasus apapun yang menunjukkan penurunan kondisi klinis atau status
mental yang dramatis.6

Penanganan hipertensi intrakranial pada hematoma subdural


Biasanya, hematoma subdural berkaitan dengan suatu peningkatan tekanan intrakranial
yang signifikan. Sayangnya, suatu tekanan intrakranial yang lebih tinggi dari 22 berkaitan
dengan hasil akhir tingkat kesintasan yang lebih buruk, serta morbiditas dan mortalitas yang
lebih tinggi pada pasien-pasien yang muncul dengan perdarahan subdural.11 Karena itu,
penanganan dari peningkatan tekanan intrakranial memiliki kepentingan ekstrim pada
hematoma subdrual. Secara dini, pencegahan sederhana seperti elevasi kepala dapat dilakukan.
Tindakan tersebut dapat membantu mencegah obstruksi aliran balik vena.12 pencegahan penting
lainnya adalah hiperventilasi yang akan mengarah pada vasokonstriksi dan penurunan dari
tekanan intrakranial.11 Meski begitu, hiperventilasi jangka panjang berkaitan dengan iskemia
dan alkalosis, karena itu tindakan ini harus secara hati-hati digunakan. Bahkan faktanya, suatu
uji coba klinis menunjukkan pemberian hiperventilasi pada pasien dengan cedera otak
traumatik selama lima hari berkaitan dengan hasil akhir yang buruk.13 Cairan salin hipertonik
dan hiperosmotik bisa juga bermanfaat karena cairan tersebut meningkatkan pertukaran cairan
ke dalam sirkulasi dan keluar dari kompartemen intrasel serebral. Meski demikian,
penggunaannya haruslah hanya sementara. Penggunaan suatu shunt yang akan mengeluarkan
CSF tidak direkomendasikan akibat dari risiko pelebaran vena. Beberapa faktor dapat
menentukan dalam pemilihan penggunaan salin hiperosmolar dibandingkan salin salin
hipertonik. Faktor tersebut termasuk status volume, riwayat penyakit dan penyakit yang
menyertai. Sebagai contoh, jika pasien dalam kondisi hipotensi, terapi hipertonik lebih cocok.
Di sisi lain, pasien yang memiliki riwayat gagal jantung kongestif direkomendasikan untuk
mendapat mannitol. Tingkat sodium yang tinggi (lebih dari 165mEq/L) juga dikaitkan dengan
prognosis yang buruk. Meski demikian, koreksi kadar sodium juga belum pernah menunjukkan
perbaikan hasil akhir, atau menurunkan tekanan intrakranial.14 huipotermia juga dapat memiliki
efek dalam menurunkan tekanan intrakranial serta meningkatkan hasil akhir dari hematoma
subdural. Meski begitu, efek ini masih diteliti dalam uji klinis tanpa adanya bukti yang dapat
mendukung teori tersebut.14 lebih jauh lagi, hipotermia dapat berpotensi mengarah pada
komplikasi lain seperti misalnya aritmia.14

Agen-agen antiplatelet dan antikoagulan dan hematoma subdural


Penggunaan agen-agen antiplatelet dan antikoagulan secara luas sangat sering yang
mengarah pada peningkatan signifikan pada insidensi hematoma subdural spontan. Kasus-
kasus hematoma subdural tersebut kadangkala dapat sulit untuk diberikan penawarnya.13 untuk
mencapai hasil akhir yang lebih baik pada kasus-kasus tersebut, penawar cepat dari
antikoagulan dibutuhkan.16 Pasien-pasien dalam penggunaan warfarin dan yang mengalami
suatu perdarahan subdural spontan harus segera menerima vitamin K dan konsentrat kompleks
protrombin, dengan INS yang secara terus-menerus diawasi. Pada kasus-kasus
kegawatdaruratan yang parah, rekombinan fakotr VIIa dapat juga digunakan.17
Saat berhadapan dengan hematoma subdural spontan pada pasien yang menggunakan
dabigatran, apixaban, rivaroxaban, atau edoxaban, penggunaan antibodi monoklonal
idarucizumab disarankan. Pilihan lain dalam populasi ini termasuk plasmaparesis dan
hemodialisis.16 Penggunaan transfusi platelet dalam populasi spesifik ini ditemukan
menyebabkan tingkat mortalitas yang lebih tinggi.16
Kehadiran dari koagulopati tidak terbatas pada hematoma subdural spontan. Sekitar
sepertiga dari pasien yang mengalami hematoma subdural akibat suatu cedera otak traumatik
dapat memiliki koagulopati yang parah. Hal ini bahkan dapat mengarah pada perkembangan
dari disseminated intravascular coagulation (DIC). Penanganan dari disseminated
intravascular coagulation termasuk faktor-faktor koagulasi, kriopresipitat, dan transfusi
konsentrat kompleks protrombin.18
Penggunaan kembali agen-agen antikoagulan masih menjadi masalah kontroversial.
The American College of Chest Physicians merekomendasikan pembahasan dari penggunaan
kembali antikoagulan dalam jenjang kasus, dengan mempertimbangkan keparahan dari
hematoma, risiko berulangnya hematoma subdural, serta risiko trombosis.19

Penanganan kejang pada hematoma subdural


Agen profilaksis kejang masih berada dalam perdebatan pada kasus-kasus hematoma
subdural. Laporan-laporan sebelumnya menunjukkan hingga 25% pasien dengan hematoma
subdural traumatik akan mengalami kejang setidaknya sekali selama perjalanan klinis
penyakitnya.20 Pedoman terkini merekomendasikan penggunaan fenitoin sebagai profilaksis
kejang pada pasien dengan hematoma subdural traumatik.21 Kejang dapat dikaitkan dengan
hasil akhir yang jelek akibat efeknya terhadap peningkatan metabolisme dan peningkatan
tekanan intrakranial.20 Lebih baru lagi, penggunaan levetiracetam dalam profilaksis kejang
untuk pasien-pasien hematoma subdural sedang meningkat jumlahnya.22
Bagaimanapun juga, saat berhadapan dengan pasien-pasien berusia tua dengan
hematoma subdural kronik, tidak ada bukti tersedia untuk mendukung penggunaan profilaksis
anti-kejang. Won et al menyarankan penggunaan suatu sistem penilaian pada populasi ini untuk
menilai risiko mereka untuk mengalami kejang serta apakah mereka memerlukan terapi
profilaksis atau tidak. Penilaian ini perlu pertimbangkan beberapa faktor termasuk penggunaan
obat-obat antikoagulan, kebutuhan pembedahan, adanya riwayat kejang, bersamaan dengan
faktor-faktor lainnya.23

Indikasi intervensi pembedahan


Seperti yang sudah disinggung di atas, kasus asimptomatik dan ringan dari hematoma
subdural dapat ditangani secara medis. Meski begitu, pada kasus-kasus sedang hingga berat,
atau saat penurunan kondisi klinis terjadi, intervensi pembedahan diindikasikan. Hematoma
subdural berulang juga dapat menjadi indikasi untuk intervensi pembedahan. Suatu hematoma
subdural berulang diartikan sebagai akumulasi berulang dari darah yang dapat memberikan
gejala kembali. Perubahan status mental, dilatasi kedua pupil, atau perubahan postur menjadi
ekstensor juga dapat menjadi tanda bahaya yang memerlukan penanganan pembedahan segera.
Sebagai aturan umum, hematoma subdural yang lebih besar dari 10 mm dapat dipertimbangkan
untuk diberikan intervensi pembedahan. Terdapat beberapa teknik pembedahan yang
digunakan pada kasus hematoma subdural. Termasuk kraniostomi twist drill, burr hole(s),
kraniotomi, bersama dengan beberapa prosedur lain yang akan kita bahas.4

Prosedur kraniostomi twist drill dalam penanganan hematoma subdural


Prosedur kraniostomi twist drill untuk penanganan hematoma subdural pertama kali
diperkenalkan pada 1966.24 Seiring waktu berjalan, prosedur ini berkembang secara signifikan
dengan pengenalan dari teknik yang lebih maju, serta dengan penelitian lebih mendalam
mengenai sudut melubangi yang ideal, titik untuk memasukkan bor, metode bor, penggunaan
sekrup, dan jalur irigasi. Lebih jauh lagi, prosedur kraniostomi twist drill berkaitan dengan
jumlah komplikasi yang relatif sedikit saat dibandingkan dengan intervensi pembedahan
lainnya. Meskipun jumlahnya sedikit, komplikasi tersebut dapat termasuk kejang, infeksi, dan
hematoma subdural berulang. Komplikasi berat seperti pneumosefalus sangatlah jarang.25
Teknik SEPS kemudian diperkenalkan pada 1999 dan mengarah pada hasil akhir yang
secara signifikan lebih baik bahkan dengan komplikasi serta tingkat berulang yang lebih sedikit.
Pada prosedur ini, suatu jalur masuk dengan benang dimasukkan ke bagian tebal dari hematoma
subdural tanpa masuk ke dalam rongga subdural itu sendiri. Penggunaan dari teknik ini
mengijinkan drainase secara perlahan dengan konsep tekanan negatif.26 Diperkirakan bahwa
prosedur SEPS memiliki tingkat keberhasilan yang dapat mencapai 77%. Meski begitu, tingkat
kesuksesan ini lebih rendah pada pasien yang memiliki hematoma subdural dengan densitas
berseptum dan yang densitas bervariasi.27 Pada teknik SEPS, ditemukan bahwa sudut elevasi
kepala tidak berkaitan dengan perubahan tingkat drainase atau risiko berulang. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa setelah SEPS, hingga sekitar 20% memerlukan tindakan
prosedur burr hole lanjutan.28
Saat melakukan kraniostomi twist drill pada pasien-pasien lebih tua dengan hematoma
subdural, anestei lokal dapat memberikan pilihan yang lebih baik, terutama pada pasien yang
memiliki penyakit komorbid lain. Untuk menghindari terjadinya kerusakan pada parenki
serebri, penelitian sebelumnya menyarankan penggunaan selang makan bayi selama menguras
perdarahan.29 Secara umum, prosedur kraniostomi twist drill dalam beberapa penelitian
menunjukkan kaitan dengan pemulihan yang lebih cepat, masa rawat inap yang lebih singkat,
serta komplikasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan burr holes.20
Lebih jauh, lokasi lubang masuk dan durasi drainase saat melakukan kraniostomi twist
drill bisa memainkan peran signifikan dalam penentuan hasil akhir. Saat lubang masuk dibuat
pada bagian yang tebal dari hematoma subdural, efikasi kraniostomi twist drill menunjukkan
peningkatan dalam efikasinya. Faktor kunci lainnya termasuk penggunaan jalur masuk yang
dapat mengijinkan injeksi terapi lain secara langsung ke dalam kavitas hematoma subdural.
Sebuah model terkini dari kraniostomi twist drill menggunakan dua jalur satu untuk drainase
satu untuk irigasi.31
Penggunaan tPA selama dan setelah kraniostomi twist drill juga berkaitan dengan hasil
akhir yang lebih baik. Sebuah uji sebelumnya menemukan bahwa tingkat berulangnya dapat
diturunkan hingga nol saat menggunakan tPA. Penggunaan urokinase juga telah dikaitkan
dengan hasil akhir yang lebih baik, lama rawat inap yang lebih singkat, serta tingkat berulang
hingga sekecil 0,4%.32

Evakuasi burr hole untuk penanganan hematoma subdural


Teknik evakuasi burr hole dipertimbangkan sebagai satu prosedur dari yang paling
umum dan secara luas digunakandalam penanganan pembedahan dari hematoma subdural.
Untuk melakukan evakuasi burr hole, suatu lingkungan yang memenuhi semua kondisi dari
operasi pembedahan dibutuhkan. Biasanya, perkiraan burr hole sekitar 14mm dapat
memberikan visualisasi dari hematoma, deteksi bekuan darah (jika ada), akses lebih cepat dan
kontrol perdarahan yang lebih cepat, serta kemampuan untuk menggunakan instrumen
pembedahan tambahan lain seperti endoskop, yang tidak dapat dicapai pada kraniostomi twist
drilli.33
Evakuasi burr hole tersedia baik dibawah anestesi lokal maupun anestesi umum.
Diperkirakan bahwa evakuasi burr hole dalam anestesi lokal dapat mencapai 98,6% evakuasi
dengan tingkat berulangnya sebesar 4,7%.33 Penggunaan lubang tunggal atau multipel saat
melakukan suatu prosedur evakuasi burr hole juga telah diteliti. Dilaporkan bahwa burr hole
multipel berkaitan dengan tingkat berulang yang secara signifikan lebih sedikit.34
Faktor yang paling penting untuk menentukan tingkat kesuksesan setelah prosedur burr
hole adalah penggantian drain. Penggantian drain, sebenarnya, ditemukan mengarah pada
tingkat berulang yang secara signifikan lebih rendah saat dibandingkan dengan prosedur
evakuasi burr hole tanpa penggunaan drain.36 Lebih jauh lagi, penggunaan sebuah drain pada
prosedur burr hole tunggal berkaitan dengan peningkatan hasil akhir dan tingkat berulang yang
lebih rendah saat dibandingkan dengan proseudr burr hole multipel.37
Waktu untuk sampai kapan drain digunakan ternyata juga memiliki efek. Penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa drainase yang berlanjut hingga periode lebih lama dari tiga
hari berkaitan dengan penurunan signifikan dari tingkat berulangnya hematoma. Lokasi
pemasangan drain juga dapat memainkan peran dalam menentukan hasil akhir, mengurangi
risiko kejang, serta mengarah pada lebih sedikitnya infeksi. Lebih lanjut, penggunaan drain
subperiosteal berkaitan dengan tingkat berulang yang secara signifikan lebih rendah saat
dibandingkan dengan drain subdural.38

Kraniotomi dalam penanganan hematoma subdural akut


Pasien yang datang dengan suatu hematoma subdural akut disertai dengan bekuan darah
tebal direkomendasikan untuk menjalani kraniotomi. Kasus lain dimana kraniotomi disarankan
termasuk pada hematoma subdural kronik atau subakut dimana prosedur pembedahan yang lain
tidak menunjukkan keberhasilan. Secara umum, hematoma subdural akut dipertimbangkan
sebagai suatu kondisi yang mengancam nyawa yang berkaitan dengan tingkat mortalitasi yang
tinggi secara signifikan. Oleh karenanya, intervensi pembedahan dengan kraniotomi
diindikasikan segera pada kasus-kasus tersebut.39
Hasil akhir dari kraniotomi pada hematoma subdural dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor termasuk penyebab dari hematoma, usia pasien, waktu sebelum pembedahan, status
tekanan intrakranial, serta ukuran dari hematoma. Di luar segala pencegahan, hematoma
subdural masih memiliki tingkat mortalitas yang relatif tinggi. Alasan yang memungkinkan di
balik mortalitas yang tinggi ini termasuk cedera pada parenkim serebri, disfungsi autoregulasi,
perubahan status mental dan neurologis, serta tekanan tinggi intrakranial pada kebanyakan
kasus.7 Faktanya, diperkirakan bahwa pasien-pasien dengan hematoma subdural akut yang
datang dengan Glasgow coma score sebesar tiga atau empat, memiliki angka mortalitas hingga
sebesar 90%.40

Simpulan
Hematoma subdural adalah kegawatdaruratan klinis yang memerlukan penanganan
segera dan cepat untuk mencegah morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Hematoma
subdural dapat dikelompokkan ke dalam akut, subakut, atau kronik, dengan tipe akut menjadi
yang paling berbahaya dan berkaitan dengan angka mortalitas yang paling tinggi. Hematoma
subdural utamanya didiagnosa menggunakan pencitraan CT atau MRI. Langkah pertama dalam
penanganan seorang pasien dengan hematoma subdural adalah resusitasi yang sesuai.
Kemudian, metode lanjutan untuk mengontrol perdarahan dapat diberikan. Tekanan
intrakranial adalah faktor penting yang mengatur hasil akhir dari hematoma subdural dan
selanjutnya haruslah secara terus-menerus diawasi dan dikoreksi. Meskipun kebanyakan kasus
hematoma subdural adalah akibat trauma, beberapa kasus lain terjadi secara spontan, dan pada
kebanyakan kasus adalah sebagai akibat dari koagulopati. Pada kasus-kasus tersebut, etiologi
haruslah ditentukan dan ditangani untuk menghentikan perdarahan serta mencegah akumulasi
darah lanjutan. Pada kasus-kasus sedang hingga berat, saat penanganan medis dan konservatif
tidak mencukupi, intervensi pembedahan diindikasikan untuk meningkatkan angka kesintasan
serta mencegah komplikasi dan mortalitas yang mungkin terjadi.