Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

HISPRUNG PADA ANAK

DISUSUN OLEH :
EKA MARLIANA (2017030049)

DOSEN PEMBIMBING :
SEMI NA’IM , S.ST., M.KES

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang
“Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Hisprung Pada Anak” dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada Ibu SEMI
NAIM, S.ST., M.Mkes selaku Dosen mata kuliah Keperawatan Anak II yang telah
memberikan tugas ini kepada saya.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai hisprung. Saya juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya
buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.

Jombang, September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii


DAFTAR ISI ....................................................................................................................iii

BAB I . PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah ........................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
1.3. Tujuan .................................................................................................................... 1

BAB II . PEMBAHASAN
2.1. LP Hisprung ........................................................................................................... 2
2.2. Askep Hisprung ...................................................................................................... 5

BAB III . PENUTUP


3.1. Kesimpulan ........................................................................................................... 16
3.2. Saran ..................................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... iv

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Penyakit hisprung merupakan suatu kelainan bawaan yang menyebabkan
gangguan pergerakan usus yang dimulai dari spingter ani internal ke arah proksimal
dengan panjang yang bervariasi dan termasuk anus sampai rektum. Penyakit hisprung
adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang dapat muncul pada semua usia
akan tetapi yang paling sering pada neonatus.
Penyakit hisprung juga dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana
tidak terdapatnya sel ganglion parasimpatis dari pleksus auerbach di kolon, keadaan
abnormal tersebutlah yang dapat menimbulkan tidak adanya peristaltik dan evakuasi
usus secara spontan, spingter rektum tidak dapat berelaksasi, tidak mampu mencegah
keluarnya feses secara spontan, kemudian dapat menyebabkan isi usus terdorong ke
bagian segmen yang tidak adalion dan akhirnya feses dapat terkumpul pada bagian
tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus proksimal.
Insidens keseluruhan dari penyakit hisprung 1: 5000 kelahiran hidup, laki-laki
lebih banyak diserang dibandingkan perempuan ( 4: 1 ). Biasanya, penyakit hisprung
terjadi pada bayi aterm dan jarang pada bayi prematur.
Selain pada anak, penyakit ini ditemukan tanda dan gejala yaitu adanya
kegagalan mengeluarkan mekonium dalam waktu 24-48 jam setelah lahir, muntah
berwarna hijau dan konstipasi faktor penyebab penyakit hisprung diduga dapat terjadi
karena faktor genetik dan faktor lingkungan.

1.2. Rumusan Masalah


1. Laporan Pendahuluan hisprung.
2. Asuhan keperawatan pada anak dengan hisprung.

1.3. Tujuan
1. Untuk menambah kemampuan kita agar lebih maksimal dalam aplikasi merawat
pasien dengan hisprung.
2. Untuk mendapat informasi tentang definisi, etiologi, manifestasi klinik, klasifikasi,
patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, komplikasi, dan pathway
untuk pasien dengan hisprung.
3. Dapat membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan hisprung serta mampu
mengaplikasikannya dalam praktek keperawatan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Laporan Pendahuluan Hisprung


2.1.1. Definisi Hisprung
Penyakit Hisprung disebut juga kongenital aganglionik megakolon.
Penyakit ini merupakan keadaan usus besar (kolon) yang tidak mempunyai
persarafan (aganglionik). Jadi, karena ada bagian dari usus besar (mulai dari
anus kearah atas) yang tidak mempunyai persarafan (ganglion), maka terjadi
“kelumpuhan” usus besar dalam menjalanakan fungsinya sehingga usus
menjadi membesar (megakolon). Panjang usus besar yang terkena berbeda-
beda untuk setiap individu.
Penyakit hirschsprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion
parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai pada usus halus. (Ngastiyah,
1997 : 138).
Penyakit hirschsprung adalah anomali kongenital yang mengakibatkan
obstruksi mekanik karena ketidak adekuatan motilitas sebagian dari usus.
(Donna L. Wong, 2003 : 507).

2.1.2. Klasifikasi Hirschprung


Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan 2 tipe :
1. Penyakit Hirschprung segmen pendek
Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini
merupakan 70% dari kasus penyakit Hirschprung dan lebih sering
ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.
2. Penyakit Hirschprung segmen panjang
Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh
kolon atau usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak laki maupun
prempuan.

2.1.3. Etiologi Hisprung


Mungkin karena adanya kegagalan sel-sel ”Neural Crest” ambrional
yang berimigrasi ke dalam dinding usus atau kegagalan pleksus mencenterikus
dan submukoisa untuk berkembang ke arah kranio kaudal di dalam dinding
usus. Disebabkan oleh tidak adanya sel ganglion para simpatis dari pleksus
Auerbach di kolon.
Sebagian besar segmen yang aganglionik mengenai rectum dan bagian
bawah kolon sigmoid dan terjadi hipertrofi serta distensi yang berlebihan pada
kolon.

2
2.1.4. Tanda dan Gejala Hisprung
Pada bayi baru lahir
1. Tidak ada pengeluaran mekonium (keterlambatan > 24 jam)
2. Muntah berwarna hijau
3. Distensi abdomen, konstipasi.
4. Diare yang berlebihan yang paling menonjol dengan pengeluaran tinja /
pengeluaran gas yang banyak
Pada anak lebih besar
1. Distensi abdomen bertambah
2. Serangan konstipasi dan diare terjadi selang-seling
3. Terganggu tumbang karena sering diare.
4. Feses bentuk cair, butir-butir dan seperti pita.
5. Perut besar dan membuncit.

2.1.5. Patofisiologi
Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya
kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa
kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian
proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau
tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya
evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga
mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi
pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada
bagian yang rusak pada Mega Colon ( Betz, Cecily & Sowden).
Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk
kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus mendorong
ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan
terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi
obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S &
Wilson ).

2.1.6. Manifestasi Klinis


Masa Neonatal :
1. Gagal mengeluarkan mekonium dalam 48 jam setelah lahir.
2. Muntah berisi empedu.
3. Enggan minum.
4. Distensi abdomen.
Masa bayi dan anak-anak :
1. Konstipasi
2. Diare berulang
3. Tinja seperti pita, berbau busuk
4. Distensi abdomen
5. Gagal tumbuh

3
2.1.7. Komplikasi
1. Gawat pernapasan (akut)
2. Enterokolitis (akut)
3. Striktura ani (pasca bedah)
4. Inkontinensia (jangka panjang)
5. Obstruksi usus
6. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
7. Konstipasi

2.1.8. Pemeriksaan Diagnostik


1. Biopsi isap, yakni mengambil mukosa dan submukosa dengan alat
penghisap dan mencari sel ganglion pada daerah submukosa.
2. Biopsi otot rectum, yakni pengambilan lapisan otot rectum, dilakukan
dibawah narkos. Pemeriksaan ini bersifat traumatic.
3. Foto abdomen ; untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
4. Enema barium ; untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
5. Manometri anorektal ; untuk mencatat respons refleks sfingter interna dan
eksterna.

2.1.9. Penatalaksanaan
Pembedahan hirschsprung dilakukan dalam 2 tahap, yaitu dilakukan
kolostomi loop atau double-barrel sehingga tonus dan ukuran usus yang dilatasi
dan hipertropi dapat kembali normal (memerlukan waktu 3-4 bulan), lalu
dilanjutkan dengan 1 dari 3 prosedur berikut :
1. Prosedur Duhamel : Penarikan kolon normal kearah bawah dan
menganastomosiskannya dibelakang usus aganglionik.
2. Prosedur Swenson : Dilakukan anastomosis end to end pada kolon
berganglion dengan saluran anal yang dibatasi.
3. Prosedur saave : Dinding otot dari segmen rektum dibiarkan tetap utuh.
Kolon yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus.

4
2.2. Asuhan Keperawatan Hisprung

ASUHAN KEPERAWATAN
Pada By. A a/i Hisprung Disease
di Ruang Perinatologi (11) IRNA IV RSU dr. Saiful Anwar Malang

Tanggal MRS : 09 Mei 2014


Tanggal Pengkajian : 19 Mei 2014

I. BIODATA
IDENTITAS BAYI
Nama : By. A
No.Register : 1175670
Umur : 13 Hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Ds.Gondanglegi RT 42 RW 04 Gondanglegi Malang
Tanggal lahir : 06 Mei 2014
Diagnosa medis : Hisprung Disease

IDENTITAS AYAH
Nama : Tn. S
Umur : 36 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Ds.Gondanglegi RT 42 RW 04 Gondanglegi Malang
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Kuli Bangunan

IDENTITAS IBU
Nama : Ny. S
Umur : 31 tahun
Alamat : Ds.Gondanglegi RT 42 RW 04 Gondanglegi Malang
Pendidikan : SLTP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

II. KELUHAN UTAMA


- Saat MRS :
Bayi tidak dapat buang air besar sejak lahir, kentut hanya sekali,
tidak pernah kecirit dan perut membesar
- Saat Pengkajian :
By. A buang air besar dengan konsistensi cair, muntah saat
minum,dan hipotermi.

5
III. RIWAYAT KESEHATAN
A. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Bayi tidak dapat buang air besar sejak lahir, kentut hanya sekali,
tidak pernah kecirit dan perut membesar. Bayi dibawa ke RSUD Kepanjen
dan dirujuk ke RSU dr.SAiful Anwar Malang pada tanggal 09-05-2014.
Dan dirawat diruang perinatology. Tanggal 13 Mei 2014 Bayi
dinyatakan menderita hisprung disease. Dan pada tanggal 15 Mei 2014
bayi sudah dapat buang air besar.
B. RIWAYAT KEHAMILAN
- Pemeriksaan rutin : ANC ke bidan puskesmas rutin setiap bulan.
- Penyakit yang diderita selama hamil : Pilek
- Keluhan saat hamil : Hanya pada trimester I : Pusing dan mual.
- Imunisasi : Tidak pernah
- Obat / vitamin yang dikonsumsi : Tablet Fe dan Komix
- Riwayat minum jamu : Tidak pernah
- Riwayat dipijat : Tidak pernah
- Masalah : Ketuban Merembes
C. RIWAYAT PERSALINAN
- Cara Persalinan : Normal/ Spontan
- Tempat : Polindes
- Penolong : Bidan
- Usia gestasi : 37-38 minggu
- Kondisi Ketuban : Warna Jernih
- Letak : Bujur
- BB/PB/LK/LD :3600 gram/55cm/39cm/32cm.
D. RIWAYAT POST NATAL
- Pernafasan : Bayi langsung menangis spontan tanpa alat bantu
- Skor APGAR : 1 menit = 7, 5 menit = 9
- Trauma Lahir : Tidak ada
E. RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN YANG LALU

NO TAHUN TIPE PENOLONG JENIS KEADAAN MASALAH


BB
BAYI
PERSALINAN KELAMIN LAHIR WAKTU
LAHIR

1. 2009 Spontan Bidan L 3300 gr Aterm Tidak Ada


Birthing

2. 2014 Spontan Bidan L 3600 gr Aterm Tidak Ada


Birthing

6
IV. PEMERIKSAAN FISIK (HEAD TO TOE)
A. Keadaan Umum
- Postur : Normal
- Kesadaran : Compos mentis
- BB/PB/LK/LD : 3300 gram/53 cm/ 35 cm/ 32 cm
- Nadi : 120 x/menit
- Suhu : 36,2 C
- RR : 40 x/menit
B. Kepala dan Rambut
- Kebersihan : Cukup
- Bentuk : Normal, simetris
- Rambut : Hitam, lurus, berketombe
- Fontanela Anterior : Lunak
- Sutura Sagitalis : Tepat
- Distribusi rambut : Merata
C. Mata
- Kebersihan : Bersih
- Pandangan : Baik, belum terfokus
- Sklera : Tidak Icterus
- Konjungtiva : Anemis
- Pupil : Normal, Reflek cahaya baik
- Gerakan bola mata : Normal, memutar dengan baik
- Sekret : Tidak ada
D. Hidung
- Pernapasan cuping hidung : Tidak ada
- Struktur : Normal
- Kelainan lain : Tidak ada
- Sekresi : Tidak ada
E. Telinga
- Kebersihan : Bersih
- Sekresi : Tidak ada
- Struktur : Normal, simetris
F. Mulut dan Tenggorokan
- Kandidiasis : Tidak ada
- Stomatitis : Tidak ada
- Mukosa Bibir: Kering
- Kelainan Bibir dan Rongga Mulut : Tidak ada
- Problem menelan : Tidak ada
G. Leher
- Kelenjar Tiroid : Tidak ada pembesaran
- Arteri Karotis : Teraba berdenyut teratur dan kuat
- Trachea : Berada di garis tengah

7
H. Dada atau Thorak (Jantung dan Paru)
- Bentuk dada : Simetris, barrel chest
- Pergerakan dinding dada : Simetris, tidak terdapat tarikan intercostal
- Tarikan dinding dada (retraksi) : Normal, tidak terdapat retraksi
- Suara pernafasan : Sonor, tidak ada wheezing dan ronchi
- Abnormalitas suara nafas : Tidak ada
- Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
- Perkusi : pekak
- Palpasi : ict cordis palpable midclavicula line sinistra
- Auskultasi : Suara jantung I, suara jantung II ; tunggal,kuat, regular
- Kelainan jantung bawaan : Tidak ada
I. Ekstremitas Atas dan bawah
- Tonus otot : Cukup
- Refleks menggenggam : Baik
- Warn : Kuku pucat, ekstremitas pucat.
- Trauma, deformitas : Tidak ada
- Kelainan : Tidak ada
J. Abdomen
- Bentuk : destended abdomen
- Bising Usus : Normal, 5 x/menit
- Benjolan : Tidak ada
- Turgor : > 3 detik
- Hepar, lien : Tidak teraba
- Distensi : Ya, terdapat nyeri tekan.
K. Kelamin dan Anus
- Kebersihan : Bersih
- Keadaan Eksternal : Normal, tidak ada lesi, tidak ada benjolan abnormal
- Anus : Normal, hemorrhoid (-)
- Kelainan : Tidak ada
L. Integumen
- Warna kulit : Kuning kecoklatan
- Kelembapan : Kering
- Lesi : Tidak ada
- Warna Kuku : Pucat
- Kelainan : Tidak ada

8
V. REFLEKS PRIMITIF
1. Rooting Refleks (Refleks mencari)
Baik. Bayi merespon ketika pipi dibelai / disentuh bagian pinggir mulutnya
dan mencari sumber rangsangan tersebut.
2. Sucking Refleks (Refleks menghisap)
Bayi merespon ketika disusui ibunya atau diberi susu melalui botol. Namun
daya hisap masih lemah.
3. Palmar grasp (Refleks menggenggam)
Baik. Jarinya menutup saat telapak tangannya disentuh dan menggenggam
cukup kuat.
4. Tonic neck (Refleks leher)
Baik. Peningkatan tonus otot pada lengan dan tungkai ketika bayi menoleh
ke satu sisi.
5. Refleks Moro / Kejut
Baik. Bayi merespon secara tiba – tiba suara atau gerakan yang
mengejutkan baginya.
6. Reflek Babinski
Cukup baik. Gerakan jari-jari mencengkram saat bagian bawah kaki diusap.

VI. RIWAYAT IMUNISASI


Bayi belum mendapatkan imunisasi.

VII. PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR


1. Oksigen
Kebutuhan Oksigen : O2 ruangan
2. Cairan
- Kebutuhan cairan dalam 24 jam :
Tgl 19 : Diet OGT ASI/SF 8x65-70cc
Tgl 20 : IVFD CN 10% + CaGluc 10% 3cc + KCl 7,4% 3cc
Diet OGT ASI/SF 8 x 65-70 cc
Tgl 21 : IVFD CN 10% + CaGluc 10% 3cc + KCl 7,4% 3cc
Diet OGT ASI/SF 8 x 65-70 cc
- Jenis cairan yang diberikan :
Infuse CN 10%, CaGluc 10%, KCl 7,4%, ASI, dan SF
- Cara/rute pemberian : Per oral (OGT) dan melalui infus
- Intake :
tgl 19 :, SF 8 x 65-70 cc
tgl 20 :IVFD, 8 x 65-70 cc
tgl 21 : IVFD, 8 x 65-70 cc
- Output : ± 400 cc

9
3. Nutrisi
- Bentuk atau jenis nutrisi yang diberikan : Cair (ASI dan SF)
- Cara pemberian : per oral (OGT)
- Frekuensi :
tgl 19 : 8 x 65-70 cc
tgl 20 : 8 x 65-70 cc
tgl 21 : 8 x 65-70 cc

4. Eliminasi Urine
- Volume urin : ± 300 cc @ pampers
- Warna : Kuning jernih
- Frekuensi : ± 3-4 x/hari
- Cara BAK : Spontan
- Kelainan pemenuhan BAK : Tidak ada

5. Eliminasi Alvi
- Volume feses : ± 100 cc @ pampers
- Warna : Kuning
- Frekuensi : 1-2 x/hari
- Konsistensi : Cair
- Darah / lendir : Tidak ada

6. Pola Istirahat
- Jumlah jam tidur dalam 24 jam : ± 16-18 jam
- Kualitas tidur : Sering terbangun dan rewel

VIII. PENATALAKSANAAN
19 Mei 2014
- Inj IV ampicillin 3x 180 mg
- Inj IV gentamicin 1x 16 mg
- IV metronidazole 3x 50 mg
20 Mei 2014
- IVFD CN 10% + CaGluc 10% 3cc + KCl 7,4% 3cc = 180cc = 7,5 cc/jam
- Paracetamol 2,5 cc
- Inj IV ampicillin 3x 180 mg
- Inj IV gentamicin 1x 16 mg
- IV metronidazole 3x 50 mg
21 Mei 2014
- IVFD CN 10% + CaGluc 10% 3cc + KCl 7,4% 3cc = 180cc = 7,5 cc/jam
- Paracetamol 2,5 cc
- Inj IV ampicillin 3x 180 mg
- Inj IV gentamicin 1x 10 mg
- IV metronidazole 3x 50 mg
- IVFD amikasin 80 mg
- Inj IV morphin 0,6 mg
- Pasien menjalani operasi rectosigmoidektomi

10
IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Risiko konstipasi berhubungan dengan penyempitan kolon, sekunder,
obstruksi mekanik
2. Risiko ketidakseimbangan volume cairan/elektrolit tubuh berhubungan
dengan keluar cairan tubuh dari muntah, ketidakmampuan absorbs air
oleh intestinal.
3. Risiko injuri berhubungan dengan pasca prosedur bedah, iskemia,
nekrosis dinding intestinal sekunder dari kondisi obtruksi usus
4. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pasca prosedur pembedahan

X. ANALISA DATA
Data Etiologi Masalah keperawatan
Ds : - Segment pendek/ segment Risiko konstipasi
Do : panjang
konstipasi, tidak ada
mekonium > 24-48 jam Obstruksi
pertama, kembung, kolon
distensi abdomen,
peristaltic menurun
Ds : - Mual, muntah, kembung Risiko ketidakseimbangan
Do : anorexia volume cairan tubuh
tidak mau minum, rewel
mukosa mulut kering, Intake nutrisi tidak
ubun-ubun dan mata adekuat
cekung, turgor kulit
kurang elastic
Kehilangan cairan dan
elektrolit
Ds : - Intervensi pembedahan Risiko injuri
Do :
rewel dan merasa
kurang nyaman akibat Kerusakan jaringan
kolostomi pasca pembedahan
BAB melalui kolostomi
Ds : - Obstruksi kolon proksimal Risiko infeksi
Do :
pasien merasa demam Intervensi pembedahan
hipertermi (suhu 38o C)

Kerusakan jaringan
pasca pembedahan

11
12
XI. Intervensi keperawatan
Dx keperawatan Tujuan dan Kriteri hasil Intervensi Rasional
1. Risiko konstipasi
Tujuan : pola BAB normal 1. Observasi bising usus dan periksa 1. Untuk menyusun rencana
berhubungan adanya distensi abdomen pasien. penanganan yang efektif dalam
dengan Kriteria hasil : pasien tidak Pantau dan catat frekuensi dan mencegah konstipasi dan impaksi fekal
penyempitan kolon, mengalami karakteristik feses. 2. Untuk meyakinkan terapi
sekunder, obstruksi konstipasi,pasien 2. Catat asupan haluaran secara akurat penggantian cairan yang adekuat.
mekanik mempertahankan defekasi 3. Dorong pasien untuk mengonsumsi 3. Untuk meningkatkan terapi
setiap hari cairan 2,5 L setiap hari, bila tidak ada penggantian cairan dan hidrasi
kontraindikasikan 4. Untuk membantu adaptasi terhadap
4. Lakukan program defekasi. fungsi fisiologis normal.
Letakkan pasien di atas pispot atau 5. Untuk meningkatkan eliminasi feses
commode pada saat tertentu setiap padat atau gas dari saluran pencernaan,
hari, sedekat mungkin kewaktu biasa pantai keefektifannya.
defekasi (bila diketahui)
5. Berikan laksatif, enema atau
supositoria sesuai instruksi.
2. Risiko Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi, 1. Timbang berat badan pasien setiap 1. Untuk membantu mendeteksi
ketidakseimbangan hari sebelum sarapan perubahan keseimbangan cairan
volume cairanKriteria hasil : turgor kulit elastic 2. Ukur asupan cairan dan haluaran 2. Penurunan asupan atau peningkatan
tubuh berhubungan dan normal, CRT < 3 detik urine untuk mendapatkan status cairan haluaran mengakibatkan deficit cairan
dengan keluar 3. Pantai berat jenis urin 3. Peningkatan berat jenis urin
cairan tubuh dari 4. Periksa membrane mukosa mulut mengindikasikan dehidrasi. Berat jenis
muntah, setiap hari urin rendah mengindikasikan kelebihan
ketidakmampuan 5. Tentukan cairan apa yang disukai volume cairan.
absorbs air oleh pasien dan simpan cairan tersebut 4. Membrane mukosa kering merupakan
intestinal. disamping tempat tidur pasien, sesuai suatu indikasi dehidrasi.
instruksi. 5. Untuk meningkatkan asupan.
6. Pantau kadar elektrolit serum

13
3. Risiko injuriTujuan : Dalam waktu 2x24 jam 1. Observasi faktor-faktor yang 1. Pascabedah terdapat resiko rekuren
berhubungan pascaintervensi reseksi meningkatkan resiko injuri dari hernia umbilikalis akibat
dengan pasca kolon pasien tidak peningkatan tekanan intra abdomen
prosedur bedah, mengalami injuri 3. Lakukan pemasangan selang 3. Tujuan memasang selang nasogastrik
iskemia, nekrosis
Kriteria hasil : TTV dalam batas nasogastrik adalah intervensi dekompresi akibat
dinding intestinal normal,(RR : 16-24 respon dilatasi dan kolon obstruksi dari
sekunder dari x/menit,Suhu : 36oC- kolon aganglionik. Apabila tindakan
kondisi obtruksi 37oC,N : 60-100 x/menit, dekompresiini optimal, maka akan
usus TD : 120/70 menurunkan distensi abdominal yang
mmHg), Kardiorespirasi menjadi penyebab utama nyeri
optimal, Tidak terjadi abdominal pada pasien hirschsprung.
infeksi pada insisi 4. Monitor adanya komplikasi 4. Perawat memonitor adanya
pascabedah komplikasi pascabedah seperti mencret
atau ikontinensia fekal, kebocoran
anastomosis,formasi striktur, obstruksi
usus, dan enterokolitis. Secara kondisi
6. Bantu ambulasi dini 6. Pasien dibantu turun dari tempat tidur
pada hari pertama pascaoperatif dan
didorong untuk mulai berpartisipasi
dalam ambulasi dini.
7. Hadirkan orang terdekat 7. Pada anak menghadirkan orang
terdekat dapat menpengaruhi
penurunan respon nyeri.
8. Kolaborasi pemberian antibiotik 8. Antibiotik menurunkan resiko infeksi
pascabedah yang akan menimbulkan reaksi
inflamasi lokal dan dapat memperlama
proses penyembuhan pascafunduplikasi
lambung

14
4. Risiko infeksi
Tujuan : suhu dalam keadaan 1. Minimalkan risiko infeksi pasien
o
berhubungan normal (36-37 C) dengan :
dengan pasca a. Mencuci tangan sebelum dan 1.a. mencuci tangan adalah satu-satunya
prosedur kriteria hasil : suhu dalam rentang setelah memberikan perawatan cara terbaik untuk mencegah penularan
pembedahan. normal, tidak ada pathogenb. menggunakan sarung tangan untuk pathogen.
yang terlihat dalam kultur, mempertahankan asepsis pada saat 1.b. sarung tangan dapat melindungi tangan
luka dan insisi terlihat memberikan perawatan langsung pada saat memegang luka yang dibalut
bersih, merah muda, dan 2. atau melakukan berbagai tindakan.
bebas dari drainase Observasi suhu minimal setiap 4 2. Suhu yang terus meningkat setelah
purulen. jamdan catat pada kertas grafik. pembedahan dapat merupakan tanda
Laporkan evaluasi kerja. awitan komplikasi pulmonal, infeksi
luka atau dehisens

XII. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN


No. Dx Implementasi TTD Evaluasi
1 1. mengobservasi bising usus dan periksa adanya distensi abdomen S : pasien tidak rewel lagi
pasien. Pantau dan catat frekuensi dan karakteristik feses. O: konstipasi berkurang, tidak ada distensi
2. mencatat asupan haluaran secara akurat abdomen, peristaltic meningkat, kembung
3. mendorong pasien untuk mengonsumsi cairan 2,5 L setiap hari, bila berkurang
tidak ada kontraindikasikan A : masalah teratasi sebagian
4. melakukan program defekasi. Letakkan pasien di atas pispot atau P : intervensi dilanjutkan
commode pada saat tertentu setiap hari, sedekat mungkin kewaktu
biasa defekasi (bila diketahui)
5. memberikan laksatif, enema atau supositoria sesuai instruksi.

15
2 1. menimbang berat badan pasien setiap hari sebelum sarapan S : pasien tidak merasa haus, tidak rewel
2. mengukur asupan cairan dan haluaran urine untuk mendapatkan lagi
status cairan O : turgor kulit baik dan normal, mukosa
3. memantai berat jenis urin mulut tidak kering
4. memeriksa membrane mukosa mulut setiap hari A : masalah teratasi sebagian
5. menentukan cairan apa yang disukai pasien dan simpan cairan P : intervensi dilanjutkan
tersebut disamping tempat tidur pasien, sesuai instruksi.
6. memantau kadar elektrolit serum

3 1. mengobservasi faktor-faktor yang meningkatkan resiko injuri S : rewel pasien berkurang dan mulai
2. memonitor tanda dan gejala perforasi atau peritonitis nyaman dengan terpasangnnya kolostomi
3. melakukan pemasangan selang nasogastrik O : terpasang kolostomi
4. memonitor adanya komplikasi pascabedah A : masalah teratasi sebagian
5. mempertahankan status hemodinamik yang optimal P : intervensi dilanjutkan
6. membantu ambulasi dini
7. menghadirkan orang terdekat
8. melakukan kolaborasi pemberian antibiotik pascabedah
4 1. meminimalkan risiko infeksi pasien dengan : S : pasien tidak meriang lagi
c. Mencuci tangan sebelum dan setelah memberikan perawatan O : Suhu normal (36-37o C)
a. menggunakan sarung tangan untuk mempertahankan asepsis pada A : masalah teratasi sebagian
saat memberikan perawatan langsung P : intervensi dilanjutkan
2. mengobservasi suhu minimal setiap 4 jamdan catat pada kertas
grafik. Laporkan evaluasi kerja

16
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Penyakit hisprung merupakan penyakit yang sering menimbulkan masalah.
Baik masalah fisik, psikologis maupun psikososial. Masalah pertumbuhan dan
perkembangan anak dengan penyakit hisprung yaitu terletak pada kebiasaan buang air
besar. Orang tua yang mengusahakan agar anaknya bisa buang air besar dengan cara
yang awam akan menimbulkan masalah baru bagi bayi/anak. Penatalaksanaan yang
benar mengenai penyakit hisprung harus difahami dengan benar oleh seluruh pihak.
Baik tenaga medis maupun keluarga. Untuk tecapainya tujuan yang diharapkan perlu
terjalin hubungan kerja sama yang baik antara pasien, keluarga, dokter, perawat
maupun tenaga medis lainnya dalam mengantisipasi kemungkinan yang terjadi.

3.2. Saran
Kami berharap setiap mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang
penyakit hisprung. Walaupun dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan.

17
DAFTAR PUSTAKA

http://septiapujiastuti.blogspot.com/2014/12/asuhan-keperawatan-pada-bayi-dengan.html
http://princerudias.blogspot.com/

iv