Anda di halaman 1dari 7

A.

UNSUR INTRINSIK

1. Tema : Keunikan dan kebaikan tukang pijat keliling.

2. Amanat :
 Amanat tersurat : Dia selalu mensyukuri mimpi
meskipun percaya mimpi tak akan mengubah apa – apa.
 Amanat tersirat : - Jangan mudah percaya akan
ramalan masa depan.
- Jangan memanfaatkan kelebihan
orang orang untuk hal yang buruk.
- Carilah pekerjaan yang halal
walaupun penghasilan sedikit.

3.Tokoh / penokohan :
 Tokoh : Darko, Pak Lurah, Surtini, Kurit.
 Penokohan :
Antagonis :
1.Pak Lurah = Pemarah, seenaknya sendiri dan suka
berjudi.
Bukti dalam cerpen, Pak Lurah kian geram, merasa
dilecehkan. Mendapati nomor togel pemberiannya yang
tak kunjung tembus.
2.Surtini = Mudah percaya akan ramalan.
Bukti dalam cerpen, “Eh, dia juga bilang, sebentar lagi
akan habis masa penantianku,” kata perempuan pemilik
warung dengan nada berbunga – bunga.
3.Kurit = Cerewet dan mudah percaya akan ramalan.
Bukti dalam cerpen, Kurit menceritakan kejelian Darko
membaca nasib seseorang kepada siapa saja yang
dijumpainya.
Protagonis :
1.Darko = Baik, ramah, rendah hati, lucu dan adil.
Bukti dalam cerpen, Selain itu, Darko memiliki
pembawaan sifat yang ramah, tidak mengherankan bila
orang – orang kampung segera akrab dengan dirinya.
Dia suka pula menceritakan kisah lucu di sela
pijatannya. Meskipun begitu, kami tetap tidak tahu asal
usulnya dengan jelas. Bila kami menanyakannya, dia
selalu mengatakan bahwa dirinya berasal dari kampung
yang jauh di kaki gunung.

4. Alur : Alur cerita maju.


 Pengenalan cerita = Dimulai dari cerita kedatangan
tokog Darko ke kampung tokoh aku.
 Pengungkapan peristiwa = Tokoh Darko menjalani
profesinya sebagai tukang pijat keliling kampung.
 Menuju konflik = Tidak ada yang tahu siapa yang
memulai bahwa Darko bisa meramal. Beberapa warga
kampung menjadi saksi bahwa omongan Darko
(ramalannya) terbukti.
 Peristiwa memuncak / konflik = Pak Lurah meminta
Darko memijatnya sekaligus meramalkan nomor togel
untuk Pak Lurah. Ternyata ramalan Darko tak berhasil,
Pak Lurah kian geram merasa dilecehkan.
 Penyelesaian / antiklimaks = Darko telah menghilang
selama 2 hari, warga kampung mendapati Darko tidak
lagi berada di kompleks pemakaman tempat biasa ia
tinggal.

5. Setting latar :
 Latar tempat :
 Pemakaman, = kemudian kami ketahui, bila malam
hampir tandas, Darko kembali ke tempat pemakaman di
ujung kampung.
 Kampung, = Tiba-tiba saja datang ke kampung dengan
pakaian tampak lusuh seseorang yang dikenal Darko, si
tukang pijat keliling. Setiap malam, dengan membawa
minyak urut, dia menyusuri ganggang di kampung guna
menjemput pelanggan. Bila malam hampir tandas,
Darko kembali ke tempat pemakaman di ujung
kampung.
 Rumah pak Lurah, = Malam itu diam – diam Pak
Lurah memanggil Darko ke rumahnya.
 Warung wedang jahe, = Di Warung Wedang Jahe,
orang – orang terus membicarakannya.
 Latar waktu :
 Siang hari, = Siang hari, Darko selalu duduk berlama
– lama di celah gundukan – gundukan tanah berjajar.
 Malam hari, = Malam itu diam – diam Pak Lurah
memanggil Darko ke rumahnya.
 Esok Jumat yang cerah = Esoknya, disuatu Jumat yang
cerah, Pak Lurah mengumpulkan beberapa warga
terutama lelaki guna memindahkan perlengkapan
penguburan ke tengah pemukiman.
 Latar suasana :
 Senang = “Eh dia juga bilang, sebentar lagi akan
habis masa penantian ku,” kata perempuan pemilik
warung dengan nada berbunga – bunga.
 Mengherankan = Dalam hati kami masih sempat
bertanya. Adakah Darko memang sudah mengetahui
segala yang akan terjadi?

6. Sudut pandang : Orang ketiga serba tahu.

7. konflik :
- Konflik agama = Adakah Darko memang sudah
mengetahui segala yang akan terjadi? Tentang dugaan
bahwa Darko memiliki kejelian menangkap hari lusa.
- Konflik sosial = Dengan memendam perasaan getir
kami merobohkan tempat tinggalnya.

8. Majas dan gaya Bahasa :


 Majas hiperbola pada cerpen Tukang Pijat Keliling:
1. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang
diutus kitab suci.
2. Setiap hari kami harus menumpahkan tenaga di
ladang.
3. Tentulah kehadiran Darko membuat kampung kami
lebih menggeliat, makin bergairah.
4. Kakinya bagai digerakkan tanah, dia begitu saja
melangkah tanpa bantuan tongkat.
5. Tak dapat kami bayangkan bagaimana aroma mayit
yang membubung ke udara lewat tengah malam,
menggenang di dadanya, menyesakkan pernapasan
6. Begitulah, dengan sangat berkobar-kobar kami
menceritakan ramalan masing-masing.
7. Pak Lurah pun merasa terusik mendengar kabar yang
dari hari ke hari semakin meluap itu.
 Majas simile :
1. Memang, tangannya kerap meraba-raba udara ketika
melangkah, seperti sedang menatap keadaan.
2. Kami merasakan urat syaraf kami yang perlahan
melepaskan kepenatan bagai menemukan kesegaran
baru setelah seharian ditimpa kelelahan.
3. Ucapannya terngiang kembali, mengendap ke telinga
kami bagai datang dari keterasingan yang kelam.
4. Kabar tentang ramalannya pun bagai udara, beredar
di perkampungan.
 Majas personifikasi :
1. Sebuah tempat pemakaman yang muram,
menegaskan keterasingan.
Berjalan kembali menapaki malam yang lengang.
2. Langkahnya begitu jelas terdengar, gesekan telapak
kakinya pada tanah menimbulkan bunyi yang gemetar.
3. Padahal, lihatlah betapa daun-daun tidak akan pernah
berhenti menciumi bumi.
4. Ia hampir layu menunggu lamaran.
 Majas simbolik :
1. Katanya kini masjid sedang berada di ujung tanduk
 Majas metafora :
1. Tentu saja merupakan tempat yang strategis daripada
di pelosok permukiman, harus melewati gang yang
meliuk-liuk dan becek seperti garis nasib kami.
2. Menunggu dengan keyakinan mengucur seperti curah
keringat kami yang terus menetes sepanjang hari.
3. Ketepatannya membaca nasib seperti seorang petani
memahami gerak musim-musim.
 Majas retoris :
1. Adakah Darko memang sudah mengetahui segala
yang akan terjadi?

B. Unsur Ekstrinsik
1. Konflik :
- Konflik agama = Adakah Darko memang sudah
mengetahui segala yang akan terjadi? Tentang dugaan
bahwa Darko memiliki kejelian menangkap hari lusa.
- Konflik sosial = Dengan memendam perasaan getir
kami merobohkan tempat tinggalnya.
2. Kepengarangan :
Cerita pendek ini mempunyai unsur kepengarangan
yang ditulis di daerah perkotaan. Hal ini terdapat dalam
kutipan : “Dengan memendam perasaan getir kami
merobohkan tempat tinggalnya.”
Cerpen ini juga memiliki unsur kepengarangan di
sekitar pulau jawa karena melakukan perjudian togel.
Hal ini terdapat dalam kutipan : “Sementara itu Pak
Lurah kian geram merasa dilecehkan karena nomor
togel nya yang tak kunjung tembus”
3. Cerita dikaitkan dengan zaman sekarang :
Banyak orang yang percaya dengan hal yang tidak
benar / pasti, atau dengan kata lain mudah percaya dan
mudah terpengaruhi.