Anda di halaman 1dari 9

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/332289769

PROSES PRODUKSI GULA SAGU DAN SARAN PENGEMBANGAN DI DESA SEI


TOHOR, KECAMATAN TEBING TINGGI TIMUR, KABUPATEN KEPULAUAN
MERANTI, PROVINSI RIAU (PROCESSING OF SUGAR FROM SAGO P....

Conference Paper · April 2019

CITATIONS READS

0 212

3 authors, including:

Yeni Kusumawaty Susy Edwina


Universitas Riau Universitas Riau
11 PUBLICATIONS   3 CITATIONS    6 PUBLICATIONS   3 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Evaluasi mutu ojol pada perkebunan karet rakyat di kampar riau View project

All content following this page was uploaded by Yeni Kusumawaty on 09 April 2019.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


PROSES PRODUKSI GULA SAGU DAN SARAN PENGEMBANGAN
DI DESA SEI TOHOR, KECAMATAN TEBING TINGGI TIMUR,
KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI, PROVINSI RIAU

PROCESSING OF SUGAR FROM SAGO PALM STARCH AND DEVELOPMENT


SUGGESTION IN SEI TOHOR VILLAGE, TEBING TINGGI TIMUR SUB-DISTRICT,
KEPULAUAN MERANTI DISTRICT, RIAU PROVINCE

Yeni Kusumawaty1* Evy Maharan1,Susy Edwina1


Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Riau Jl H.R Subrantas Pekanbaru Riau
*E-mail: evy.maharani@lecturer.unri.ac.id

ABSTRAK
Tingginya kebutuhan gula nasional membuat Indonesia sangat tergantung pada impor gula tebu.
Produk alternatif sangat dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan impor gula tebu, dan salah
satu produk yang berpotensi adalah gula sagu. Saat ini gula sagu mulai dikembangkan di Desa Sei
Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Kepulauan Meranti. Sebagai produk yang relatif
baru di Indonesia, dibutuhkan informasi tentang proses pengolahan pati sagu menjadi gula sagu.
Maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi proses pengolahan sagu menjadi gula sagu
yang dilaksanakan di Desa Sei Tohor dan (2) Merekomendasikan saran-saran terkait
pengembangan produk gula sagu sebagai produk unggulan di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Penelitian ini dilakukan pada Bulan Juni 2018 di Desa Sei Tohor dengan metode survei ke pengrajin
gula sagu. Survei menunjukkan bahwa: (1) terdapat dua jenis gula sagu yang diproduksi yaitu gula
cair dan gula bubuk dan diproduksi terbatas sesuai pesanan; (2) Tahapan pengolahan gula sagu
cair terdiri dari pencucian, pengendapan, penambahan enzim α-amilase dan perebusan,
penambahan enzim β-glukoamilase dan pengendapan, pemasakan untuk meningkatkan kekentalan,
pendinginan dan pengemasan; (3) Gula sagu bubuk merupakan produk lanjutan dari gula cair yang
disimpan dalam suhu ruang sehingga menggumpal, dijemur, dihaluskan dan dikemas; (4) Gula sagu
memiliki prospek yang besar sebagai pengganti gula pasir jika kendala produksi khususnya
kurangnya air bersih dan listrik serta transportasi ke luar pulau dapat diatasi dan dilakukan
penciptaan pasar melalui pengenalan produk kepada masyarakat.

Kata kunci: glukosa, gula sagu, agroindustri, gula cair, gula bubuk

ABSTRACT
The high national sugar demand causing Indonesia to be highly dependent on the import of sugar
cane. Alternative products are needed to reduce the dependence on imported sugar cane, and one
of the potential products is sugar processed from sago palm starch. Currently sago sugar is being
developed in Sei Tohor Village, Tebing Tinggi Timur Sub-District, Kepulauan Meranti District. As a
relatively new product in Indonesia, information is needed on the processing of sago palm starch
into sago sugar. Therefore, the purpose of this study were: (1) Identifying the methods of sago
palm starch processing into sugar which is conducted in Sei Tohor Village and (2) Providing
suggestions regarding the development of sago sugar products as superior product in Kepulauan
Meranti District. This research was conducted in June 2018 in Sei Tohor Village with survey method
to sago sugar household-scale producers. The survey shows that: (1) There are two types of sago
sugar produced, namely liquid sugar and powdered sugar and these were produced in limited
quantity according to order; (2) Stages of liquid sago sugar processing consist of washing,
precipitation, addition of α-amylase enzyme and boiling, addition of β-glucoamylase enzyme and
precipitation, cooking to increase viscosity, cooling and packaging into plastic bottles; (3)
Powdered sago sugar is an advanced product of liquid sugar stored at room temperature until
sugar granules are formed, then it is dried, ground and packaged in plastic pouch; (4) Sago sugar
has a great prospect as a substitute for cane sugar if the production constraints, especially the lack
of clean water and electricity as well as transportation to the outer islands, can be overcome and
market creation is carried out through product introduction to the public.

Keywords: glucose, sago palm sugar, agroindustry, liquid sugar, powdered sugar

Prosiding Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian 593


Indonesia (FKPTPI) 2018 Universitas Syah Kuala Banda Aceh
1.PENDAHULUAN

Pada saat ini tanaman sagu adalah Untuk mengurangi ketergantungan


tanaman yang memiliki potensi yang besar impor gula yang mengancam ketahanan
bagi masyarakat. Sagu menjadi satu- pangan nasional, industri hulu
satunya tanaman pangan yang dapat (perkebunan tebu) harus didukung, dan
beradaptasi dan harusnya menjadi solusi salah satu strategi yang penting adalah
ketahanan pangan masa depan di mengembangkan sumber pemanis
Indonesia. Ketahanan pangan berbasis alternatif non-tebu khususnya dari produk
pada kekuatan sumber daya lokal akan karbohidrat lokal.
mengurangi atau meniadakan Upaya untuk memenuhi kebutuhan
ketergantungan pada komoditas atau gula secara nasional selain dengan cara
produk impor sehingga menciptakan mengembangkan industri gula di luar Jawa
kemandirian pangan. adalah dengan meningkatan produksi
Sagu sebagai bahan baku produk pemanis alami non tebu seperti gula merah
agroindustri potensial bernilai ekonomi kelapa, gula aren, gula cair sagu dan
tinggi. Komoditas pangan sumber lainnya. Menurut Balitbang Pertanian
karbohidrat dan bahan baku agroindustri Papua (2018) gula cair sagu mampu
hilir ini sangat potensial dikembangkan menjadi alternatif kebutuhan gula di
sebagai produk bisnis di Provinsi Riau. Indonesia. Jika dilihat dari tingkat
Sayangnya usaha agribisnis sagu di Riau kesehatannya, gula cair sagu ini lebih sehat
masih sebagai usaha sampingan dan dibanding dengan gula biasa. Selain itu,
tanaman tabungan dengan pembudidayaan proses pembuatan gula cair sagu
lebih banyak secara alami dan dikelola juga tergolong mudah dan cocok dibuat
secara tradisional. Sagu sebagai tanaman untuk skala rumah tangga.
tradisional masyarakat di pesisir Riau Menurut BPPT (2015), olahan pati sagu
merupakan komoditas potensial untuk menjadi produk glukosa (gula cair) ini
meningkatkan ekonomi pelakunya. bernilai ekonomi tinggi. Produk ini dapat
Kondisi kurangnya produksi gula tebu menjadi alternatif bahan baku glukosa yang
dalam negeri dan meningkatnya kebutuhan selama ini banyak diambil dari tapioka.
gula menyebabkan Indonesia terus Sirup glukosa adalah pemanis alami dari
mengimpor gula tebu. Swasembada gula bahan baku pati. Glukosa ini banyak
gagal dicapai malahan pemerintah digunakan untuk industri makanan dan
menggencarkan strategi impor gula (Arifin minuman seperti sirup, permen, coklat dan
2008 di dalam Hairani et al. 2014). Antara es krim. Pada umumnya industri glukosa
tahun 2007-2011, pemerintah mengimpor menggunakan bahan baku tapioka yang
gula rata-rata lebih dari 2,5 juta ton harganya sangat fluktuatif.
(sebagian besar dalam bentuk raw sugar, Kabupaten Kepulauan Meranti
dan sisanya berbentuk white sugar dan merupakan wilayah pemekaran dari
refined sugar) dan jumlahnya terus Kabupaten Bengkalis sejak tahun 2009
bertambah (Hairani et al., 2014). yang memiliki potensi tanaman sagu tapi
Menurut peneliti Bappenas Nugroho masih merasakan ketimpangan dan 80
Ananto, ketergantungan impor pangan persen desa di Kabupaten ini terkategori
mengancam kedaulatan bangsa dan negara. desa tertinggal. Salah satu solusi
Negara yang bergantung mudah ditekan pengembangan sektor pertanian ke depan
oleh negara yang berkuasa. Pada tahun harus diarahkan kepada sistem agribisnis,
2030, diperkirakan akan terjadi krisis karena pendekatan ini akan dapat
pangan dunia. Jika hal ini terjadi, semua meningkatkan nilai tambah sektor
negara akan mendahulukan kepentingan pertanian dan memperkuat ekonomi rakyat
rakyatnya masing-masing sehingga negara (Syahza dan Suarman, 2013). Oleh karena
yang tergantung impor terancam itu, penelitian ini bertujuan untuk
kekurangan pangan dan harus membeli mengidentifikasi proses pengolahan pati
dengan harga tinggi (Republika 2013).

Prosiding Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian 594


Indonesia (FKPTPI) 2018 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
sagu menjadi gula sagu yang dilaksanakan lahan yang dimiliki sebesar 38.614 ha yang
di Desa Sei Tohor dan merekomendasikan tersebar di 9 kecamatan. Tebing Tinggi
saran-saran terkait pengembangan produk Timur merupakan kecamatan yang
gula sagu sebagai produk unggulan di memiliki potensi sagu terbesar
Kabupaten Kepulauan Meranti. dibandingkan dengan kecamatan lainnya.
Produksi sagu yang dihasilkan oleh
2. MATERIAL DAN METODE Kecamatan Tebing Tinggi Timur adalah
71.943 ton/tahun dengan luas lahan yang
Penelitian dilakukan di Desa Sei Tohor, dimiliki sebesar 16.584 ha (Dinas
Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten
Kepulauan Meranti selama bulan Juni 2018. Kepulauan Meranti, 2017)
Penelitian ini dilakukan dengan metode Desa Sungai Tohor merupakan Desa
survei ke pengrajin gula sagu yang dikelola dari Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten
oleh kelompok Usaha Peningkatan Meranti, Riau yang berjarak tempuh 45
Pendapatan Keluarga (UP2K) di Desa Sei menit dari Selat Panjang. Pulau Tebing
Tohor yang mulai berproduksi sejak tahun Tinggi berlokasi diantara dua pulau, yaitu
2016. Jumlah responden adalah 5 orang Pulau Rangsang dan Pulau Sumatera. Desa
pengrajin dari total 7 orang pengrajin di Sungai Tohor yang memiliki sekitar 1000
Desa Sei Tohor. Analisis data dilakukan penduduk didominasi oleh suku Melayu
secara deskriptif kualitatif, karena Pesisir. Transportasi laut merupakan
ditujukan untuk mendeskripsikan transportasi utama di Desa Sungai Tohor
fenomena-fenomena yang ada khususnya dengan adalanya Pelabuhan Sungai Tohor.
aktivitas dan proses yang berlangsung Lokasi penelitian ditampilkan pada gambar
(Linarwati et al., 2016) yaitu proses 1.
pengolahan gula sagu. Berdasarkan kondisi
dan proses pengolahan gula sagu, disusun
saran-saran terkait pengembangan
agroindustri gula sagu agar menjadi produk
unggulan di Kabupaten Kepulauan Meranti.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN METODE

Desa Sungai Tohor sebagai sentra


penanaman sagu
Pemerintah Provinsi Riau telah
menetapkan Kabupaten Kepulauan Meranti
sebagai pusat pengembangan tanaman
sagu. Di Kabupaten Kepulauan Meranti,
Desa Sungai Tohor adalah penghasil sagu
terbesar di Indonesia dengan kapasitas
produksi sagu basah 500 ton per bulan.
Permasalahan yang dihadapi dalam
pengembangan komoditi sagu di Gambar 1. Lokasi Penelitian di Kecamatan
Tebing Tinggi Timur
Kabupaten Meranti diantaranya kondisi
petani sagu yang masih tradisional dan
Sungai Tohor merupakan salah satu
perekonomian petani yang tergantung
desa yang menghasilkan Sagu terbesar di
pada toke.
Sumatera dengan tanaman Sagu Organik
Kabupaten Kepulauan Meranti
berbeda dengan pohon sagu yang ada di
merupakan salah satu daerah penghasil
Indonesia bagian timur. Kebanyakan
sagu terbesar di Provinsi Riau. Produksi
pekerjaan masyarakat Sungai Tohor adalah
sagu yang dihasilkan oleh Kabupaten
petani Sagu. membudidaya, menghasilkan
Kepulauan Meranti pada tahun 2016
sagu dan mengolah sagu menjadi makanan
mencapai 200.062 ton/tahun dengan luas

Prosiding Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian 595


Indonesia (FKPTPI) 2018 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
pokok ciri khas mereka seperti lumping yang ada pada saat ini. Masyarakat Sungai
sagu, sempolet sagu, telur sagu, ongol- Tohor sangat antusias dengan pertanian
ongol dan lainnya. sagu. Pada tahun 1990-an masyarakat
Sagu yang berasal dari pohon sagu atau mencoba merubah sistem pertanian
biasa disebut pohon rumbia merupakan mereka, tidak menggunakan sistem bakar
makanan pokok masyarakat sungai Tohor. lahan untuk menanam sagu, hanya dengan
Pohon sagu dapat di panen sekitar membersihkan 5 meter di lahan pertanian,
berumur 10 tahunan, biasanya masyarakat dan tetap mempertahankan kayu alam.
melihat umur berdasarkan tinggi dan Melihat potensi sagu di Kepulauan
banyaknya dahan pohon sagu yang jatuh. Meranti ini sangat baik, maka Pemerintah
Satu pohon sagu dapat menghasilkan 20-30 Kepulauan Meranti bersama dengan Bank
kilo bahan mentah sagu dan biasanya Indonesia melakukan pembinaan usaha
sehari petani sagu dapat menghasilkan 10 agroindustri gula cair sagu yang
batang pohon. Artinya, hasil petani merupakan produk turunan dari komoditi
memperoleh sagu mentah selama sebulan sagu. Usaha ini mulai berdiri pada tahun
yaitu lebih kurang 3 Ton. Pengolahan 2016 dan dipusatkan di Desa Sungai Tohor
pohon sagu menjadi bahan mentah Kecamatan Tebing tinggi Timur.
endapan sagu dilakukan oleh masyarakat. Pengolahan gula cair sagu ini
Saat ini sekitar 98 persen masyarakat diperkenalkan kepada anggota kelompok
Sungai Tohor menggantungkan hidup dari Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga
sagu. Dulu, cuma ada 5 kilang sagu di desa (UP2K).
Sungai Tohor. Saat ini, sudah ada 14 kilang
sagu didirikan. Kilang-kilang sagu ini dapat Proses Produksi Gula Sagu
menghasilkan sagu sebanyak 400-600 ton Gula Cair Sagu
per bulan. Jika dirupiahkan, bisa mencapai Gula cair adalah salah satu olahan sagu
740 juta sampai 1,1 miliar per bulan. yang tergolong baru bagi masyarakat. Gula
Sebelum tahun 1980-an, harga sagu cair diproduksi dalam upaya pemenuhan
sangat rendah, hanya 25-40 rupiah per kebutuhan gula melalui pemanis alternatif
kilogram. Sekitar era reformasi, harga sagu pengganti gula tebu seperti siklamat,
perlahan meningkat menjadi 125-300 aspartam, stevia dan gula hasil hidrolisis
rupiah per kilogram. Saat ini, sagu basah pati. Pati sagu memiliki potensi yang besar
dihargai 1.850 rupiah per kilogramnya. sebagai bahan dasar pembuatan gula cair.
Pada tahun 1980-an ini masyarakat sudah Produksi gula cair masih tergolong rendah
bertani sagu. Namun, masih menggunakan karena belum adanya pasar untuk
sistem ijon. Melalui sistem ini, petani memasarkan gula cair sehingga gula cair
meminjam uang terlebih dahulu kepada diproduksi kerika ada pesanan. Rataan
toke sagu dengan menjaminkan pokok- bahan baku utama yang digunakan sebesar
pokok sagu yang masih muda milik ± 6 kg sagu basah untuk menghasilkan ± 3
masyarakat. Dengan kata lain, sagu yang liter gula cair. Proses produksi masih
masih muda milik masyarakat yang belum menggunakan peralatan sederhana berupa
dipanen, sudah dijual terlebih dahulu. dandang/panci, mesin penggiling, sendok,
Sistem ijon tersebut sangat merugikan sudip, baskom, tungku, dan semprong.
masyarakat. Sebab, batang sagu dijual Dapat juga digunakan alat vakum bantuan
sebelum layak jual. Melihat kerugian yang dari Bank Indonesia untuk produksi gula
besar akibat sistem ini, salah seorang tokoh cair dalam jumlah besar.
masyarakat mencoba untuk memutus Tahapan pengolahan gula cair terdiri
rantai ijon pada tahun 1989. dari pencucian, pengendapan, pemasakan,
Caranya, dengan mendirikan kilang- pengendapan, pengentalan, pendinginan
kilang sagu tradisional milik masyarakat. dan pengemasan.
Terutama, setelah mendapat bantuan dari
presiden berupa mesin sagu yang
dimodifikasi seperti kilang-kilang sagu

Prosiding Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian 596


Indonesia (FKPTPI) 2018 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
1. Pencucian gula cair tersebut menjadi beku. Tahapan
Sagu basah yang telah diambil dari ini memerlukan waktu ±10 menit.
kilang dicuci terlebih dahulu untuk
memisahkan sagu basah dari kotoran. 7. Pengemasan
Gula cair yang telah didinginkan
2. Pengendapan dikemas dalam botol. Botol yang digunakan
Sagu basah yang telah dicuci lalu adalah botol plastik bekas air mineral
diendapkan untuk memisahkan kotoran ukuran 1,5 L.
dengan pati sagu yang akan digunakan
sebagai bahan utama gula cair. Kotoran dan Gula Sagu Bubuk (Gula Tepung)
pati tersebut dipisahkan dan hasil Gula tepung merupakan modifikasi
pemisahan menghasilkan pati sagu sebesar lanjutan dari gula cair dan olahan ini masih
± 5 Kg. tergolong baru bagi masyarakat. Gula
tepung diproduksi melalui pembekuan gula
3. Pemasakan cair lalu dihaluskan. Sejalan dengan gula
Bahan yang akan digunakan disiapkan cair, gula tepung diproduksi dalam upaya
yaitu sagu basah, air, enzim α-amilase dan pemenuhan kebutuhan gula melalui
enzim glukoamilase. Masukkan sagu basah pemanis alternatif dan produksinya masih
dan air dengan perbandingan 1:4 kedalam rendah. Dalam pembuatan gula serbuk
panci. Tambahkan enzim α-amilase dengan sagu melibatkan 7 orang pengrajin dari
perbandingan 1 kg sagu basah digunakan 5 anggota UP2K. Mereka sejauh ini masih
ml enzim α-amilase. Campuran bahan memproduksi gula serbuk sagu dirumah
dipanaskan hingga matang dalam waktu ± masing-masing. Produksi yang mereka
1 jam. lakukan berkisar antara 2-8 kg tepung sagu
sesuai kapasitas dandang yang mereka
4. Pengendapan miliki. Dalam pemasakan tepung sagu
Setelah rebusan campuran bahan tadi menjadi gula cair hanya membutuhkan
matang, ditambahkan enzim β- waktu selama 1 jam. Namun, dalam
glukoamilase dalam kondisi rebusan masih pengolahan gula cair menjadi gula serbuk
hangat (± 50 °C). Perbandingan enzim dibutuhkan beberapa hari untuk
glukoamilase adalah 1 kg sagu basah mengeringkan gulanya sesuai kondisi
digunakan 5 ml enzim β-glukoamilase. Lalu matahari. Menurut Ibu Kepala Desa Sungai
diendapkan selama 1 malam (12 jam) Tohor, 1 kg pati sagu bisa menghasilkan 1,5
untuk memisahkan pati sagu dengan liter gula cair dan 500 gram gula serbuk.
endapan yang berisi kotoran dari sagu Alat yang digunakan dalam pembuatan
basah. gula serbuk sagu sama dengan pembuatan
gula cair hanya ditambah mesin penggiling
5. Pengentalan (blender) untuk menghaluskan gumpalan
Pati sagu yang telah mengalami gula menjadi gula bubuk. Sedangkan bahan
pengendapan dan pemisahan dari endapan yang digunakan adalah pati sagu basah, air
direbus kembali selama ± 2 jam. Hal ini bersih, dan dua jenis enzim (enzim α-
bertujuan untuk mendapatkan kekentalan amilase dan enzim β-glukoamilase). Bahan
gula cair seperti madu. Endapan yang berisi baku utama yang digunakan sebesar ± 6 Kg
kotoran dipisahkan untuk dibuang sagu basah yang dapat menghasilkan ± 3 Kg
sebanyak 600 mL. gula serbuk. Tahapan pengolahan gula
serbuk terdiri dari pencucian,
6. Pendinginan pengendapan, perebusan, pengendapan,
Gula cair yang telah mengalami pengentalan, pendinginan, penggumpalan,
perebusan didinginkan pada suhu kamar. penghalusan dan pengemasan.
Proses pendinginan ini tidak memerlukan
waktu yang lama karena dapat membuat

Prosiding Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian 597


Indonesia (FKPTPI) 2018 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
1. Pencucian 7. Penggumpalan
Sagu basah yang telah diambil dari Pada tahapan ini gula cair yang telah
kilang dicuci terlebih dahulu untuk mengalami pendinginan dibiarkan pada
memisahkan sagu basah dari kotoran. suhu kamar agar menggumpal. Waktu yang
diperlukan untuk membekukan gula cair ini
2. Pengendapan adalah ± 3 jam.
Sagu basah yang telah dicuci lalu
diendapkan untuk memisahkan kotoran 8. Penghalusan/penggilingan
dengan pati sagu yang akan digunakan Setelah gula cair tersebut membeku
sebagai bahan utama gula cair. Kotoran dan dilanjutkan dengan tahapan penghalusan.
pati tersebut dipisahkan dan hasil Alat yang digunakan untuk menghaluskan
pemisahan menghasilkan pati sagu sebesar bekuan gula cair ini adalah blender.
± 5 Kg. Gumpalan gula cair diblender hingga
memiliki tekstur yang lebih halus. Pada
3. Pemasakan tahapan ini memerlukan waktu ± 15 menit.
Bahan yang akan digunakan disiapkan
yaitu sagu basah, air, enzim α - amilase dan
enzim β-glukoamilase. Masukkan sagu 9. Pengemasan
basah dan air dengan perbandingan 1:4 ke Gula serbuk yang telah dihaluskan
dalam panci. Tambahkan enzim α-amilase dikemas dalam plastic pouch dengan berat
dengan perbandingan 1 kg sagu basah 500 gram. Plastik pouch direkatkan dengan
digunakan 5 ml enzim α-amilase. pemanasan menggunakan lampu
Campuran bahan dipanaskan hingga semprong. Tahapan ini memerlukan waktu
matang dalam waktu ± 1 jam. sekitar 10 menit.
4. Pengendapan
Setelah rebusan campuran bahan tadi Saran-saran Pengembangan produk
matang, ditambahkan enzim β- gula sagu
glukoamilase dalam kondisi rebusan masih
hangat (± 50 °C). Perbandingan enzim Provinsi Riau, terdapat surplus
glukoamilase adalah 1 kg sagu basah sumberdaya karbohidrat lokal untuk
digunakan 5 ml enzim β-glukoamilase. Lalu mengurangi ketergantungan kepada beras
diendapkan selama 1 malam (12 jam) yaitu sagu. Namun saat ini tidak begitu
untuk memisahkan pati sagu dengan banyak dikonsumsi karena kurang
endapan yang berisi kotoran dari sagu beragamnya menu yang diolah dari sagu
basah. dan kurang sosialisasi kepada masyarakat.
Pengolahan sagu secara tradisional
5. Pengentalan merupakan bagian yang terbanyak
Pati sagu yang telah mengalami dilakukan terutama oleh masyarakat lokal.
pengendapan dan pemisahan dari endapan Permasalahan pengolahan sagu secara
dipanaskan kembali selama ± 2 jam. Hal ini tradisional terletak pada kapasitas olah,
bertujuan untuk mendapatkan kekentalan rendemen dan mutu hasil yang rendah
gula cair seperti madu. Endapan yang berisi serta tingkat kehilangan hasil cukup tinggi.
kotoran dipisahkan untuk dibuang Gula sagu sebagai salah satu produk yang
sebanyak 600 mL. berbahan baku sagu yang terdiri dari gula
cair dan gula bubuk. Namun saat ini
6. Pendinginan ditemui kendala dalam teknologi.
Gula cair yang telah mengalami Menurut Tarigan dkk (2007)
perebusan didinginkan pada suhu kamar. pengembangan teknologi untuk industri
Tahapan ini memerlukan waktu ±10 menit. pengolahan sagu sudah banyak dilakukan.
Penerapannya banyak terkendala oleh
mahalnya biaya perolehan teknologi dan
biaya operasionalnya. Kebutuhan teknologi

Prosiding Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian 598


Indonesia (FKPTPI) 2018 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
dalam bentuk peralatan seperti vacum 5. Keterbatasan listrik menghasilkan
yang berkapasitas tinggi di Desa Sei Tohor pembekuan larutan gula sagu cair menjadi
membutuhkan pasokan listrik. Dalam hal suatu inovasi baru berupa gula sagu bubuk
ini maka diperlukan penyediaan pasokan yang juga berpotensi untuk dikembangkan
listrik agar pengolahan gula cair ke depannya sebagai bahan pemanis untuk
berlangsung dengan baik. Namun dengan konsumsi rumah tangga dan gula khusus
keterbatasan pasokan listrik memberikan penderita diabetes yang telah
inovasi baru berupa gula sagu bubuk yang mendapatkan respon dari konsumen di
berpotensi untuk dikembangkan sebagai Malaysia dalam jumlah terbatas.
bahan pemanis untuk konsumsi rumah
tangga dan gula khusus penderita diabetes. 6. Produksi gula sagu baik cair maupun
Pengembangan agroindustri sagu bubuk yang belum kontinyu karena
sebaiknya diprioritaskan untuk mendorong merupakan produk baru yang belum
pengembangan agroindustri kecil dan dikenal, menunjukkan urgensi penelitian
menengah di perdesaan. Karena sub sistem lanjutan berupa kajian kelayakan
pengolahan merupakan kelanjutan dari sub agroindustri ini secara finansial.
sistem produksi maka bisa berperan
sebagai bagian dari pendekatan 7. Prospek pemasaran gula sagu cair
permintaan (demandside strategy). Selain maupun bubuk sangat besar tetapi
itu dengan adanya pengolahan gula sagu diperlukan pengenalan produk kepada
membuka peluang pasar bagi masyarakat. konsumen termasuk masyarakat lokal
Prospek pemasaran gula sagu cair maupun Kabupaten Meranti maupun masyarakat di
bubuk sangatlah besar namun perlu Kota Pekanbaru, untuk menciptakan pasar
memperkenalkan produk ini kepada
masyarakat lokal maupun masyarakat luar. DAFTAR PUSTAKA

4. KESIMPULAN Balitbang Pertanian Papua. 2018. Gula Sagu


Berpotensi Memenuhi Kebutuhan Gula
Masyarakat Papua.
1. Terdapat dua jenis gula sagu yang http://papua.litbang.pertanian.go.id/index.php/
diproduksi yaitu gula cair dan gula bubuk berita pada tanggal 11 Juli 2018.
dan diproduksi dalam jumlah yang terbatas
sesuai pesanan. BPPT. 2015. BPPT: Sagu Meranti Bisa Jadi Bahan
Alternatif Glukosa.
http://batamnews.co.id/berita-2348-bppt--
2. Tahapan pengolahan gula sagu cair sagu-meranti-bisa-jadi-bahan-alternatif-glukosa--
terdiri dari pencucian, pengendapan, -.html
penambahan enzim α-amilase dan
perebusan, penambahan enzim β- Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten
glukoamilase dan pengendapan, Meranti. 2017. Data luasan dan jumlah
kelompok tani sagu di Kaupaten Meranti.
pemasakan untuk meningkatkan
kekentalan, pendinginan dan pengemasan.
Hairani, R.I., Aji, J.M.M dan Januar, J. 2014. Trend
Analysis of Sugar Production and Import and Its
3. Gula sagu bubuk merupakan produk Factor influence on Sugar Import in Indonesia.
lanjutan dari gula cair yang disimpan dalam Berkala Ilmiah PERTANIAN 1(4): 77-85.
suhu ruang sehingga menggumpal, dijemur,
dihaluskan dan dikemas. Linarwati, M., Fathoni, A. dan Minarsih, M.M. 2016.
Studi Deskriptif Pelatihan dan Pengembangan
Sumberdaya Manusia Serta Penggunaan Metode
4. Kebutuhan teknologi berupa bantuan Behavioral Event Interview dalam Merekrut
alat vakum untuk pengolahan tepung sagu Karyawan Baru di Bank Mega Cabang Kudus.
menjadi gula cair berkapasitas tinggi saat Journal of Management 2(2): 8 hal.
ini terkendala oleh terbatasnya pasokan
listrik di Desa Sungai Tohor saat ini. Republika. 2013. Ketergantungan Impor Pangan
Indonesia Tinggi. Diunduh dari
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/m

Prosiding Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian 599


Indonesia (FKPTPI) 2018 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
akro/13/02/20/miik99-ketergantungan-impor- Kabupaten Jayapura.
pangan-indonesia-tinggi pada tanggal 18 https://pse.litbang.pertanian.go.id/imd/pdffiles
Desember 2017. /Pros_2007-B.pdf. pada tanggal 10 September
2018.
Syahza, A. dan Suarman. 2013. Strategi
Pengembangan Daerah Tertinggal Dalam Upaya
Percepatan Pembangunan Ekonomi Pedesaan.
Jurnal Ekonomi Pembangunan 14(1): 126-139

Tarigan. H dan Ariningsih, E. 2007. Peluang dan


Kendala Pengembangan Agroindustri Sagu di

Prosiding Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian 600


Indonesia (FKPTPI) 2018 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

View publication stats