Anda di halaman 1dari 14

SISTEM PERHITUNGAN BIAYA UNTUK PRODUK GABUNGAN

Ditujukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“Akuntansi Biaya”

Dosen Pengampu :

Mochammad Ilyas Junjunan, SE., MA.

Disusun oleh :

1. Akmal Adjie Syahputra (G02218001)


2. Mona Salsabila (G02218014)
3. Nina Nur’aini Widad (G02218018)
4. Ahmad Miftah Ainurrohman (G92218063)
5. Kharisma Galuh Cahyanti (G92218080)

PROGAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2019

1
DAFTAR ISI

BAB I............................................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN............................................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang........................................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................................................1
1.3 Tujuan Masalah......................................................................................................................................1
BAB II.............................................................................................................................................................. 2
PEMBAHASAN..............................................................................................................................................2
2.1. Produk Gabungan..................................................................................................................................2
2.2. Biaya Gabungan dan Titik Pemisah.......................................................................................................3
2.3. Akuntansi untuk Produk Sampingan......................................................................................................3
2.4. Akuntansi Untuk Produk Utama............................................................................................................9
BAB III...........................................................................................................................................................11
PENUTUP......................................................................................................................................................11
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam perusahaan manuaktur sering dijumpai pemakaian satu atau beberapa jenis bahan dalam proses
produksi yang akan menghasilkan beberapa jenis produk yang berbeda sekaligus secara simultan, misalnya
perusahaan minyak, perusahaan kimia, perusahaan susu, penggilingan padi dan srbagainya. Perhitungan
biaya untuk berbagai jenis produk sangat penting karena akan menyertakan alokasi biaya dalam proses
produksi untuk masing-masing produk yang tepat. Pembebanan biaya ke berbagai jenis produk tersebut
diperlukan dalam upaya menentukan nilai persediaan dan besarnya laba, serta pembuatan laporan keuangan.
Selain itu, biaya gabungan juga memberikan informasi biaya kepada pihak manajemen terkait perencanaan
laba dan tujuan evaluasi kinerja. Prosedur penentuan biaya dari produk gabungan tidak memerlukan sistem
perhitungan biaya secara khusus, penentuan biaya tersebut hanya merupakan bagian dari sistem perhitungan
biaya berdasarkan pesanan (job order costing) atau sistem perhitungan biaya berdasarkan proses (process
costing).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Pengertian Produk Gabungan?
2. Apa Pengertian Biaya Gabungan dan Titik Pemisah?
3. Bagaimana Akuntansi untuk Produk Sampingan?
4. Bagaimana Akuntansi untuk Produk Utama?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui Pengertian Produk Gabungan
2. Untuk mengetahui Pengertian Biaya Gabungan dan Titik Pemisah
3. Untuk mengetahui Akuntansi untuk Produk Sampingan
4. Untuk mengetahui Akuntansi untuk Produk Utama

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Produk Gabungan
Produk gabungan (joint product) adalah beberapa produk yang dihasilkan secara simultan atau
bersamaan melalui satu atau serangkaian proses produksi, yang mana setiap produk yang dihasilkan akan
mempunyai nilai yang sesuai dengan hasil pemrosesan. Dalam proses produksi yang menghasilkan berbagai
jenis produk, produk yang nilainya relatif besar dan jumlahnya lebih banyak disebut sebagai produk utama
(main product), sementara product yang nilainya relatif kecil disebut sebagai produk sampingan (by
product). Produksi dikatakan bersifat simultan karena proses produksi menghasilkan semua produk, baik
produk utama maupun produk sampingan tanpa terkecuali. Pembedaan produk utama & produk sampingnya
umumnya didasarkan atas nilai jual relatifnya, sehingga tempat & waktu dapat mengubah kategori produk
tersebut. Semula dapat saja sebagai produk utama, tetapi saat ini dapat berubah menjadi produk sampingan,
begitu juga sebaliknya. Berdasarkan uraian tersebut, berikut beberapa karakteristik dari produk gabungan

1. Produk utama yang dihasilkan oleh produk gabungan merupakan tujuan utama pengolahan produk,
sementara produk sampingan yang dihasilkan bukan merupakan tujuan utama tapi tidak dapat
dihindari (dikecualikan) karena sifat pengolahannya.
2. Harga jual produk utama relatif lebih tinggi dari pada harga jual produk sampingan.
3. Dalam pengolahan produk gabungan tidak dapat dihindari (dikecualikan) untuk tidak menghasilkan
produk tertentu (produk sampingan).1

Halim (2012:232) menyatakan bahwa produk bersama (Joint Products) yaitu beberapa produk yang
dihasilkan dari suatu rangkaian atau seri proses produksi secara serempak dengan menggunakan bahan baku,
tenaga kerja dan overhead pabrik yang sama, yang tidak dapat dilacak atau dibedakan/dipisahkan pada setiap
produk dan mempunyai nilai jual atau kuantitas produk relatif sama. Sementara itu Mulyadi (2012:334)
mengemukakan bahwa Produk bersama adalah dua produk atau lebih yang diproduksi secara serentak
dengan serangkaian proses atau dengan proses gabungan. Nilai jual masing-masing produk bersama ini
relatif sama, sehingga tidak ada diantara produk-produk yang dihasilkan tersebut dianggap sebagai produk
utama atau produk sampingan.

Halim (2012:232) menjelaskan bahwa Produk bersama mempunyai beberapa karakteristik, antara lain
sebagai berikut:

a. Produk bersama mempunyai hubungan fisik yang erat satu sama lain dalam proses produksinya. Jika
ada tambahan kuantitas untuk menambah unit produk yang lain, maka kuantitas produk yang lain
akan bertambah secara proporsional.
b. Tidak ada satu produk pun dari produk bersama yang secara signifikan nilainya lebih tinggi dari
produk yang lain.

1
Agus Purwarji, Akuntansi Biaya, (Jakarta: Salemba Empat, 2016), cet. 02, hlm. 250.
2
c. Dalam proses produk bersama dikenal istilah “titik pisah” yakni saat terpisahnya (split-off) masing-
masing jenis produk yang dihasilkan dari bahan baku, tenaga kerja dan overhead yang telah
dinikmati produk secara bersama-sama.
d. Setelah terpisah (split-off) produk berdiri sendiri-sendiri yang mungkin langsung dijual atau mungkin
pula diproses lebih lanjut untuk mendapatkan produk yang lebih menguntungkan. 2

2.2. Biaya Gabungan dan Titik Pemisah


Biaya Gabungan adalah biaya – biaya yang timbul dari proses produksi secara srimultan atas
berbagai produk sampai dengan titik pemisah, yang mana pada titik setiap produk secara individual dapat
diidentifikasi. Hal ini berarti sebelum sampai pada titik pemisah, semua produk masih berada dalam satu
kesatuan yang homogen. Alokasi biaya gabungan untuk masing-masing produk cukup sulit dilaksanakan,
dan memerlukan metode pengalokasian yang tepat. Berikut beberapa metodenya :
a. Menentukan nilai persediaan dan besarnya biaya produk untuk tujuan pelaporan keuangan eksternal
b. Menentukan nilai persediaan untuk tujuan asuransi
c. Menentukan biayaa dari setiap departemen atau devisi untuk tujuan penilaian kinerja eksekutif
d. Menentukan besarnya kontribusi masing-masing jeniss produk golongan terhaddap pendapatan
perusahaan

Produk A
Biaya Gabungan
Produk B Produk Utama
( BB, BTK, BOP )

Produk C

Produk Sampingan
Produk X

Titik Pemisah (Split-off Point)

2.3. Akuntansi untuk Produk Sampingan


Produk Sampingan adalah satu beberapa jenis produk yang dihasilkan dari proses produksi secara
simultan, tetapi nilainya relatif kecil jika dibandingkan dengan produk lainnya. Berikut pencatatan atas
produk sampingan yang dihasilkan perusahaan dan dikategorikan sebagai produksi yang laku jual.
1. Produk Sampingan yang siap jual setalah dilakukan pemisahan dengan produk yang utama tanpa
pemroesan lkebih lanjut
2. Produk sampingan yang memerlukabn proses lebih jauh setelah dilakukan pemisahan dengan produk
yang utama sebelum siap jual
3. Produk Sampingan yang siap jual setelah melakukan pemisahan dengan ptoduk utama namum
memerlukan proses lebih lanjut.
2
T. Charles Hongren, Akuntansi Biaya: Pendekatan Manajerial, (Jakarta, Indeks, 2005), Edisi 11.
3
Selama proses produksi, biaya gabungan tidak dapat ditelusuri kedalam produk utama maupun produk
sampingan. Berikut beberapa metode yang dapat digunakan :
1. Produk Sampingan tidak mempreloeh alokasi biaya dari biaya gabungan
2. Produk Sampingan memperoleh alokasi biaya dari biaya gabungan.
2.3.1. Metode Tanpa Alokasi Biaya
Hal ini setelah melewati pemisah msih memerlukan proses lenih lanjut yag sebelumnya
dijual. Berikut perlakuan atas hasil penjualan produk sampingan tanpa alokasi biaya :
a) Penambah pendapatan non operasional
Cara ini digunakan apabila produk nilai penjualan produk sampingan relatif kecil
dan tidak memerlukan adaya pencatatan atau ppersediaan produk sampingan. Hasil
penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pendapatan non operasional
b) Penambah pendapatan penjualan
Dihasilkan secacara simmultan dengan produk lainnya (Produk Utama). Penjualan
produk sampingan dapat diperlakukan sebagai mana penambah pendapatan penjualan dari
produk utama yang mana berdampak pada meningkatnya laba kotor.
c) Pengurang beban pokok penjualan
Penjualan produk sampinhgan akan meningkat apabila nilai laba kotor berkurang
nilai beban pokok. Besarnya laba bersih yang dihasilkan dengan cara ini sama dengan
besarnya nilai laba bersih yang dihasilkan saat mengakui penjualan.
d) Pengurang biaya produksi
Menghasilkan produk utama, sementara produk sampingan merupakan hasil
tambahan daru proses produksi. Hasilpenjualan produk sampingan dapat diakui sebagai
pengurang biaya produksi dari produk yang utama.
2.3.1.1. Metode Penjualan (Pendapatan) Kotor
Dalam upaya memberikan gambaran atas hasil penjualan produk sampingan dengan
metode penjualan (pendapatan) kotor, berikut ilustrasi dari PT MAKMUR ABADI sebagai
perusahaan yang menghasilkan berbagai jenis produk utama dan produk sampingan. Berikut
informasi biaya gabungan untuk bulan Agustus 2010.

Total biaya produksi (20.000 unit) Rp 40.000.000

Penjualan produk utama (15.000 unit @Rp3.000) Rp 45.000.000

Penjualan produk sampingan Rp 3.500.000

Beban administrasi dan pemasaran (produk utama) Rp 4.500.000

Persediaan akhir (5.000 unit @Rp2.000) Rp 10.000.000

1. Penjualan Produk sampingan sebagai penambah pendapatan non operasional


Cara ini digunakan apabila nilai penjualan produk sampingan relatif kecil dan tidak
memerlukan adanya pencatatan atas persediaan produk sampingan. Hasil penjualan produk
sampingan sebesar Rp3.500.000 dapat diperlakukan sebagai pendapatan non operasional.
Berikut ayat jurnal yang dibuat.

4
Tanggal Nama Akun dan Keterangan Ref Debit Kredit
Agus Kas (piutang usaha) Rp3.500.000
Pendapatan Non Operasional Rp3.500.000
(Penjualan produk sampingan sebagai penambah pendapatan non operasional)

2. Penjualan produk sampingan sebagai penambah pendapatan penjualan


Penjualan produk sampingan dapat diperlakukan sebagai penambah
pendapatan penjualan dari produk utama, yang menambah pendapatan laba kotor.
Besarnya nilai laba bersih yang dihasilkan dengan cara ini sama dengan besarnya nilai
laba bersih yang dihasilkan saat mengakui penjualan produk sampingan sebagai
penambah pendapatan non operasional. Berikut ayat jurnalnya

Tanggal Nama Akun dan Keterangan Ref Debit Kredit


Agus Kas (piutang usaha) Rp3.500.000
Pendapatan Penjualan Rp3.500.000
(Penjualan produk sampingan sebagai penambah pendapatan penjualan dari
produk yang utama)

3. Penjualan produk sampingan sebagai pengurang beban pokok penjualan


Hasil penjualan produk sampingan akan meningkatkan nilai laba kotor karena
berkurangnya nilai beban pokok penjualan. Besarnya nilai laba bersih yang dihasilkan
dengan cara ini sama dengan besarnya nilai laba bersih yang dihasilkan saat mengakui
penjualan produk sampingan sebagai penambah pendapatan non operasional dan
penambah pendapatan penjualan dari produk utama. Berikut ayat jurnalnya

Tanggal Nama Akun dan Keterangan Ref Debit Kredit


Agus Kas (piutang usaha) Rp3.500.000
Beban Pokok Penjualan Rp3.500.000
(Penjualan produk sampingan sebagai pengurang beban pokok penjualan)

4. Penjualan produk sampingan sebagai pengurang biaya produksi


Hasil penjualan produk sampingan dapat diakui sebagai pengurang biaya produksi
dari produk utama karena dilakukannya proses produksi adalah dihasilkannya produk utama,
sementara produk sampingan merupakan hasil tambahan dari proses produksi tersebut.
Berkurangya biaya produksi dapat memberikan dampak pada lebih rendahnya biaya yang
dibebankan untuk memperoleh laba bersih. Berikut ayat jurnalnya

Tanggal Nama Akun dan Keterangan Ref Debit Kredit


Agus Kas (piutang usaha) Rp3.500.000
Produk dalam Proses (PDP) Rp3.500.000

5
(Penjualan produk sampingan sebagai pengurang biaya produksi)

2.3.1.2. Metode Penjualan (Pendapatan) Bersih


Di metode ini, produk sampingan memerlukan pemrosesan lebih lanjut setelah
pemisahan dengan produk utama. Biaya-biaya yang terjadi setelah titik pemisah untuk
memproses dan menjual produk sampingan dicatat secara terpisah dari produk utama. Untuk
produk sampingan yang memerlukan pemrosesan lebih lanjut setelah titik pemisah, maka
hasil penjualan produk sampingan harus dikurangi dengan beban pemasaran, beban
administrasi, dan biaya yang diperlukan. Sebagai contoh diambil dari PT MAKMUR
ABADI yaitu sebagai berikut.

Total biaya produksi (20.000 unit) Rp40.000.000

Penjualan produk utama (15.000 unit @Rp3.000) Rp45.000.000

Beban administrasi dan pemasaran (produk utama) Rp 4.250.000

Persediaan akhir (5.000 unit @Rp2.000) Rp10.000.000

Hasil Penjualan produk sampingan Rp 4.750.000

Beban administrasi dan pemasaran (produk sampingan) Rp 700.000


Biaya pemrosesan produk sampingan setelah titik pemisah Rp 350.000

Penjualan:
Penjualan produk utama 15.000 unit x Rp3.000 Rp.45.000.000
Beban pokok Penjualan :
Biaya produksi 20.000 unit x Rp2.000 Rp40.000.000
Persediaan Akhir 5.000 unit x Rp2.000 (Rp10.000.000) (Rp30.000.000)
Laba Kotor Rp15.000.000

Beban Operasional:
Beban Administrasi dan pemasaran (produk utama) (Rp4.250.000)
Laba Operasional Rp.10.750.000
Pendapatan dan beban operasional:
Produk sampingan:
Penjualan produk sampingan Rp4.750.000
Pengurang:
Biaya Pemrosesan produk sampingan (Rp350.000)
Beban administrasi dan pemasaran (Produk
Sampingan) (Rp700.000)
Penjualan produk sampingan (bersih) Rp3.700.000
Laba Bersih Rp14.450.000

2.3.2. Metode dengan Alokasi Dana


Dengan metode ini, produk sampingan memperoleh alokasi biaya dari biaya
gabungan sebelum dipisah dari produk utama. Biaya produk sampingan termasuk biaya
gabungan yang di alokasikan untuk produk sampingan ditambah biaya-biaya yang timbul
untuk memproses lebih lanjut produk sampingannya tersebut setelah titik pemisah, apabila

6
ada. Metode yang umumnya digunakan adalah metode biaya pengganti (replacement cost)
dan metode harga pasar atau pembatalan biaya (reversal cost).
1. Metode Biaya Pengganti (Replacement Cost)
Metode ini umumnya digunakan oleh perusahaan yang hasil produk sampingannya
digunakan sebagai bahan atau bahan penolong. Hal ini akan menghilangkan kebutuhan
untuk membeli bahan atau bahan penolong sejenis dari pemasok. Oleh karena itu, biaya
yang digunakan sebagai dasar (ukuran) produk sampingan adalah sebesar harga beli atau
biaya pengganti yang berlaku di pasar.
Alokasi biaya gabungan ke dalam produk sampingan dicatat dengan mengkredit
akun Produk dalam Proses (PDP) dan mendebit akun Persediaan Produk Sampingan
sebesar harga beli atau biaya pengganti yang berlaku di pasar untuk produk sampingan
tersebut. Akun Persediaan Produk Sampingan akan dikredit mana kala produk sampingan
tersebut digunakan dalam proses produksi. Apabila akun Produk dalam Proses (PDP)
produk gabungan diselenggarakan untuk setiap elemen biaya, maka diperlukan metode
alokasi untuk setiap elemen biasa tersebut. Pengurangan biaya gabungan sebagai dampak
dari pengalokasian terhadap produk sampingan berujung pada rendahnya biaya per unit
untuk masing-masing produk utama.
2. Metode Harga Pasar atau Pembatalan Biaya (Reversal Cost Method)
Dengan metode ini, produk sampingan mendapat alokasi biaya gabungan pada saat
titik pemisah dengan melakukan estimasi harga jual produk sampingan terlebih dahulu.
Metode ini disebut juga sebagai metode kerja mundur (working backwards) karena untuk
menghitung alokasi biaya produk sampingan harus ditentukan terlebih dulu estimasi
harga jual produk sampingan tersebut, baru kemudian ke biaya produk sampingannya.
Alokasi biaya gabungan ke dalam produk sampingan dicatat dengan mendebit akun
Persediaan Produk Sampingan dan mengkredit akun Biaya Gabungan sebesar estimasi
biaya produk sampingan pada saat terjual.
Ilustrasi terkait alokasi biaya gabungan ke dalam produk sampingan menggunakan
metode harga pasar atau pembatalan biaya dari PT KARYA MAKMUR sebagai
perusahaan susuyang menghasilkan beberapa produk utama dan produk sampingan.
Berdasarkan ilustrasi ini, alokasi biaya gabungan ke dalam produk sampingan pada saat
titik pemisah diestimasi sebesar Rp120.000. nilai ini dihitung dari estimasi harga jual
sebesar Rp300.000 dikurangi dengan beberapa elemen, seperti estimasi laba kotor sebesar
Rp45.000, estimasi biaya produk setelah titik pemisah sebesar Rp100.000, serta estimasi
beban administrasi dan pemasaran sebesar Rp35.000. Apabila produk sampingan perlu
diproses lebih lanjut untuk menjadi produk yang lebih sempurna sebelum dijual, maka
terdapat tambahan biaya produksi untuk memproses produk sampingan tersebut sebesar
Rp80.000, sehingga total biaya produk sampingan sebesar Rp200.000
(Rp120.000+Rp80.000).
Alokasi biaya Gabungan ke dalam Produk Sampingan Menggunakan Metode Harga
Pasar atau Pembatalan Biaya (Resversal Cost Method)

7
8
Produk
Keterangan Sampingan Produk Utama

Biaya bahan Rp 4.000.000


Biaya tenaga kerja Rp 6.000.000
Biaya overhead pabrik Rp 2.000.000
Total biaya gabungan Rp 12.000.000

Alokasi biaya gabungan ke produk sampingan


Estimasi harga jual (100 unit x Rp 3.000) Rp 300.000
Estimasi laba kotor (5%) Rp 45.000
Estimasi beban administrasi dan pemasaran Rp 35.000
(Rp
Estimasi biaya produksi setelah titik pemisah Rp 100.000 180.000)
Alokasi biaya gabungan ke dalam produk sampingan Rp 120.000 (Rp 120.000)
Alokasi biaya gabungan ke dalam produk utama Rp 11.800.000

Biaya produksi untuk memproses produk sampingan


Rp 80.000
setelah titik pemisah
Total biaya untuk sampingan Rp 200.000

Jumlah unit 500 unit 7.500 unit


Biaya per unit dari produk sampingan (Rp
200.000/500 unit) Rp 400
Biaya per unit dari produk utama (Rp
11.880.000/7.500 unit) Rp 1.584

2.4. Akuntansi Untuk Produk Utama


Proses pengolahan produk gabungan menghasilkan produk utama dan produk sampingan.
Setiap jenis produk dari produk utama memiliki permasalahan terkait pemasaran, harga jual, dan biaya
produk yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pihak manajemen perlu memberikan perhatian terhadap
kontribusi dari setiap jenis produk tersebut terhadap pendapatan perusahaan. Biaya gabungan harus
dialokasikan secara tepat untuk setiap jenis produk dalam upaya menentukan besarnya nilai persediaan
yang disajikan di laporan posisi keuangan dan nilai pendapatan penjualan di laporan laba rugi. Berikut
metode pengalokasian biaya gabungan untuk setiap jenis produk dari produk utama.

2.4.1 Metode harga pasar dan harga jual (pasar) hipotesis

Metode harga jual (pasar) adalah metode alokasi biaya gabungan ke produk utama
berdasarkan perbandingan harga jual produk utama. Metode ini sering digunakan karena harga
jual suatu produk dianggap memiliki gambaran yang objektif atas biaya yang dikeluarkan untuk
memproses produk tersebut. Apabila harga jual suatu produk lebih mahal dari produk lain,maka
hal itu lebih disebabkan karena biaya yang dikeluarkan untuk memproses produk tersebut lebih
besar dari produk lainnya, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, jika estimasi harga jual dan
biaya pemrosesan produk tersebut dinilai akurat, maka metode harga jual (pasar) akan

9
menghasilkan estimasi presentase laba kotor yang sama untuk setiap jenis produk dari produk
utama.

2.4.2 Metode biaya rata-rata per unit

Metode biaya rata-rata per unit adalah metode alokasi biaya gabungan ke produk utama
berdasarkan biaya rata-rata per unit, yaitu membagi total biaya gabungan dengan jumlah unit
produk yang dihasilkan, sehingga setiap produk menerima alokasi biaya gabungan per unit
dalam nilai yang relatif sama. Metode ini hanya dapat digunakan apabila produk utama yang
dihasilkan memiliki ukuran satuan unit yang sama. Asumsi yang mendasari metode ini adalah
bahwa seluruh produk yang dihasilkan melalui proses yang sama, seharusnya menerima alokasi
dari biaya gabungan yang sifatnya proporsional dengan jumlah unit produk yang dihasilkannya.
Apabila ukuran satuan unit produk yang dihasilkan berbeda dan harga pasar yang menjadi acuan
juga berbeda secara signifikan, maka metode ini tidak tepat untuk digunakan.

2.4.3 Metode biaya rata-rata tertimbang

Metode rata-rata tertimbang adalah metode alokasi biaya gabungan ke produk utama
dengan cara mengalikan total biaya gabungan dengan dasar alokasi dari masing-masing jenis
produk (dalam bentuk persentase). Dasar alokasi yang digunakan dalam metode ini adalah
jumlah unit produk yang dihasilkan dikalikan dengan angka penimbang, yang mana pemberian
angka penimbang bertujuan agar alokasi biaya dapat adil dan teliti karena jenis dan harga pasar
produk yang dihasilkan memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Angka penimbang dapat
ditentukan berdasarkan satuan unit, tingkat kesulitan, waktu yang diperlukan, tipe tenaga kerja
yang dipekerjakan, jumlah bahan baku yang digunakan, dan sebagainya.

2.4.4. Metode unit kuantitatif

Metode unit kuantitatif adalah metode alokasi biaya gabungan ke produk utama
berdasarkan perbandingan unit produk gabungan yang dihasilkan, yang mana jumlah unit produk
digunakan sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya gabungan. Alokasi biaya gabungan untuk
setiap jenis produk dilakukan dengan membagi setiap jenis produk dengan total produk
gabungan (dalam bentuk persentase) dan mengalikan hasilnya dengan total biaya gabungan.
Dalam metode ini, alokasi biaya gabungan pada produk didasarkan dengan satuan unit yang
sama, misalnya kilogram, meter, galon,barel, liter, dan sebagainya. Apabila produk gabungan
yang dihasilkan memiliki ukuran yang berbeda, maka ukuran tersebut harus dikonversi menjadi
ukuran yang sama.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Produk bersama adalah dua produk atau lebih yang diproduksi secara serentak dengan serangkaian
proses atau dengan proses gabungan. Nilai jual masing-masing produk bersama ini relatif sama, sehingga
tidak ada diantara produk-produk yang dihasilkan tersebut dianggap sebagai produk utama atau produk
sampingan. Biaya Gabungan adalah biaya – biaya yang timbul dari proses produksi secara srimultan atas
berbagai produk sampai dengan titik pemisah, yang mana pada titik setiap produk secara individual
dapat diidentifikasi. Produk Sampingan adalah satu beberapa jenis produk yang dihasilkan dari proses
produksi secara simultan, tetapi nilainya relatif kecil jika dibandingkan dengan produk lainnya.

Selama proses produksi, biaya gabungan tidak dapat ditelusuri kedalam produk utama maupun
produk sampingan. Berikut metode yang dapat digunakan: Produk Sampingan tidak mempreloeh alokasi
biaya dari biaya gabungan dan Produk Sampingan memperoleh alokasi biaya dari biaya gabungan.
Berikut perlakuan atas hasil penjualan produk sampingan tanpa alokasi biaya :Penambah pendapatan non
operasional, Penambah pendapatan penjualan, Pengurang beban pokok penjualan, Pengurang biaya
produksi. Dengan metode Alokasi Dana produk sampingan memperoleh alokasi biaya dari biaya
gabungan sebelum dipisah dari produk utama. Biaya produk sampingan termasuk biaya gabungan yang
di alokasikan untuk produk sampingan ditambah biaya-biaya yang timbul untuk memproses lebih lanjut
produk sampingannya tersebut setelah titik pemisah, apabila ada. Metode yang umumnya digunakan
adalah metode biaya pengganti (replacement cost) dan metode harga pasar atau pembatalan biaya
(reversal cost). Metode pengalokasian biaya gabungan untuk setiap jenis produk dari produk utama
yaitu: Metode harga pasar dan harga jual (pasar) hipotesis, Metode biaya rata-rata per unit, Metode biaya
rata-rata tertimbang dan Metode unit kuantitatif

11
DAFTAR PUSTAKA

Purwarji, Agus. 2016. Akuntansi Biaya. Jakarta: Salemba Empat

Hongren, T. Charles. 2005. Akuntansi Biaya: Pendekatan Manajerial. Jakarta: Indeks

12

Anda mungkin juga menyukai