Anda di halaman 1dari 39

Laporan Mini Project

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MENGENAI


PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI TERHADAP KEJADIAN
DIARE DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKIK NYARING

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mengikuti Program


Dokter Internsip Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI)

Oleh:

dr. Nofia Gustiani Indra

Pembimbing:

dr. Lia Novita

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH

DINAS KESEHATAN DAERAH PUSKESMAS PEKIK NYARING

2019

I
Nama Penulis:

dr. Nofia Gustiani Indra

Judul:

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Ibu Mengenai Pemberian


Makanan Pendamping ASI Terhadap Kejadian Diare Di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekik Nyaring

Pekik Nyaring, 9 Oktober 2019

Mengetahui dan Menyetujui,

Dokter Pendamping

dr. Lia Novita

KATA PENGANTAR

II
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan miniproject ini.
Penulisan laporan miniproject ini bertujuan untuk memenuhi tugas internship
selama pengabdian dipuskesmas.
Penyusunan laporan ini dapat diselesaikan dengan bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada:
(1) Ibu Siti Zahara, S.St, selaku kepala Puskesmas Pekik Nyaring, yang
membantu terlaksananya miniproject ini
(2) dr. Lia Novita, selaku dokter pendamping yang telah membimbing dalam
pelaksanaan mini project dan laporan ini
(3) Serta seluruh staf Puskesmas Pekik Nyaring yang telah memberikan
bantuan, baik moril maupun materiil kepada kami.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan
miniproject dan penulisan laporan miniproject ini. Semoga miniproject ini dapat
bermanfaat bagi puskesmas dan peningkatan kesehatan dimasyarakat.

Pekik Nyaring, 9 Oktober 2019

Penulis

DAFTAR ISI

III
Lembar Pengesahan ......................................................................................... ii
Kata Pengantar ................................................................................................. iii
Daftar Isi........................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
1.3. Tujuan ................................................................................................. 2
1.4. Manfaat ............................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Diare .................................................................................................... 3
2.2. Makanan Pendamping ASI ................................................................. 10
2.3. Perilaku (Pengetahuan dan Sikap) ...................................................... 12
2.4. Kerangka Teori.................................................................................... 13
2.5. Kerangka Konsep ................................................................................ 14
2.6. Hipotesis.............................................................................................. 14
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian ................................................................................. 15
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................. 15
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian .......................................................... 15
3.4. Kriteria Inklusi dan Ekslusi................................................................. 15
3.5. Besar Sampel Penelitian...................................................................... 16
3.6. Variabel Penelitian .............................................................................. 16
3.7. Batasan Operasional ............................................................................ 16
3.8. Alur Penelitian .................................................................................... 16
3.9. Pengumpulan Data .............................................................................. 17
3.10. Pengolahan, Penyajian dan Teknik Analisis Data ............................ 17
BAB IV HASIL
4.1. Hasil Analisis Univariat ...................................................................... 19
4.2. Karakteristik Bayi ............................................................................... 22
4.3. Pengetahuan Responden Tentang MP ASI ......................................... 23
4.4. Sikap Ibu Tentang MP-ASI................................................................. 25
4.5. Hasil Analisa Bivariat ......................................................................... 28
BAB V DISKUSI
5.1. Pengetahuan Ibu Tentang MP-ASI ..................................................... 30
5.2. Sikap Ibu Tentang MP-ASI................................................................. 32
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan ......................................................................................... 33
6.2. Saran .................................................................................................... 33

IV
V
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit diare di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan


masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan karena masih tingginya angka
kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama pada balita. Di
Indonesia dilaporkan secara keseluruhan pada tahun 2006 diperkirakan angka
kesakitan diare meningkat sebesar 423 per 1000 penduduk pada semua usia
dengan jumlah kasus 10.980 penderita dan jumlah kematian 277 balita. Pada
tahun 2008, di Indonesia episode diare pada balita berkisar 40 juta per tahun
dengan kematian sebanyak 200.000-400.000 balita (Soebagyo, 2008).
Bertambahnya usia bayi mengakibatkan bertambah pula kebutuhan
gizinya. Ketika bayi memasuki usia enam bulan ke atas, beberapa elemen nutrisi
seperti karbohidrat, protein dan beberapa vitamin serta mineral yang terkandung
dalam ASI atau susu formula tidak lagi mencukupi, oleh sebab itu setelah usia
enam bulan bayi perlu mulai diberi makanan pendamping ASI (MP ASI) agar
kebutuhan gizi bayi atau anak terpenuhi (Depkes RI, 2007).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2007, menunjukkan bahwa
bayi yang mendapatkan MP ASI sebelum berusia enam bulan, lebih banyak
terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya
mendapat ASI eksklusif dan mendapatkan MP ASI dengan tepat waktu (usia
pemberian MP ASI setelah enam bulan) (Depkes RI, 2007).
Peran ibu dalam melakukan penatalaksanaan terhadap diare diperlukan
suatu pengetahuan, karena pengetahuan merupakan salah satu komponen faktor
predisposisi yang penting. Peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan
terjadinya perubahan sikap dan perilaku tetapi mempunyai hubungan yang positif,
yakni dengan peningkatan pengetahuan maka terjadinya perubahan perilaku akan
cepat. (Notoatmodjo, 2003)

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas dapat
dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut, Bagaimana tingkat pengetahuan
dan sikap ibu mengenai pemberian MP ASI terhadap kejadian diare di wilayah
kerja Puskesmas Pekik Nyaring

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap ibu mengenai pemberian MP
ASI terhadap kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Pekik Nyaring
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Memberikan informasi edukasi tentang diare, tanda bahaya diare, cara
pencegahan dan pengobatan diare.
2. Memberikan Informasi mengenai umur pemberian makanan pendamping ASI,
frekuensi, porsi pemberian, jenis dan cara pemberian makanan pendamping
ASI

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Tengah
Sebagai bahan masukan dalam membuat perencanaan kebijakan
pencegahan penyakit diare, penyusunan perencanaan kesehatan, dan evaluasi
program kesehatan khususnya dalam pencegahan penyakit diare yang
berhubungan dengan pemberian makanan pendamping ASI.
1.4.2 Bagi Puskesmas
Meningkatkan kerjasama serta komunikasi antara dokter internship,
petugas kesehatan dan masyarakat mengenai diare dan makanan pendamping ASI
serta mengoptimalkan program promosi kesehatan Puskesmas.
1.4.3 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi tentang pengetahuan dan sikap ibu pemberian
makanan pendamping ASI dengan kejadian diare, sehingga masyarakat lebih
meningkatkan kepeduliannya terhadap pentingnya dalam pemberian makanan
pendamping ASI yang tepat dan sehat pada bayi atau anak.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diare
2.1.1 Definisi
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi
defekasi lebih dari biasanya (>3x perhari) disertai perubahan konsistensi tinja
(menjadi cair) dengan atau tanpa darah dan atau lendir (Suraatmaja, 2007).
Berdasarkan waktu terjadinya, diare dibagi menjadi diare akut, diare
melanjut dan diare persisten. Diare akut adalah diare yang terjadi secara
mendadak dan berlangsung kurang dari 7 hari pada bayi dan anak yang
sebelumnya sehat. Diare melanjut yaitu episode diare akut yang melanjut hingga
berlangsung selama 7-14 hari. Diare persisten adalah episode diare yang mula-
mula bersifat akut namun berlangsung selama 14 hari atau lebih (Mansjoer et al,
2000).

2.1.2 Etiologi
Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus,
bakteri dan parasit. dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non-
inflamatory dan inflammatory (Subagyo dan Santoso, 2010).
Enteropatogen menimbulkan non-inflamatory diare melalui produksi
enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh
parasit, perlekatan dan/ atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya inflammatory
diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung
atau memproduksi sitotoksin (Subagyo dan Santoso, 2010).

Tabel 2.1 Penyebab diare akut pada manusia


GOLONGAN
GOLONGAN VIRUS GOLONGAN PARASIT
BAKTERI
Aeromonas Astrovirus Balantidiom coli
Bacillus cereus Calcivirus (Norovirus, Sapovirus) Blastocystis homonis
Canpilobacter jejuni Enteric adenovirus Crytosporidium parvum
Clostridium perfringens Corona virus Entamoeba histolytica
Clostridium defficile Rotavirus Giardia lamblia

3
Eschercia coli Norwalk virus Isospora belli
Plesiomonas Herpes simplek virus Strongyloides stercoralis
shigeloides
Salmonella Cytomegalovirus Trichuris trichiura
Shigella
Staphylococcus aureus
Vibrio cholera
Vibrio
parahaemolyticus
Yersinia enterocolitica

2.1.3 Epidemiologi
Penyakit diare kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi
dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan dan angka kejadian diare di
Indonesia berkisar diantara 150-430 per seribu penduduk setahunnya atau terjadi
pada 28 orang dari 100 penduduk. Pada tahun 2011, diare pada balita berkisar 28
juta dengan kematian sebanyak 150.000 -300.000 balita (Riskesdas, 2011).

2.1.4 Patofisiologi
Ada tiga mekanisme terjadinya diare cair, yaitu sekretorik, osmotik, dan
gangguan motilitas. Meskipun dapat melalui ketiga mekanisme tersebut, diare
sekretorik lebih sering ditemukan pada infeksi saluran cerna.

2.1.4.1 Diare osmotik


Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air dan
elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen
usus dengan cairan ekstrasel. Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan
bahan intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertoni
dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmose antara
lumen usus dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeable,
air akan mengalir ke arah jejunum, sehingga akan banyak terkumpul air dalam
lumen usus. Na akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan
terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na normal. Sebagian kecil
cairan ini akan dibawa kembali, akan tetapi lainnya akan tetap tinggal di lumen
oleh karena ada bahan yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukosa, sucrose,

4
lactose, maltose di segmen ileum dan melebihi kemampuan absorbsi kolon,
sehingga terjadi diare. Bahan-bahan seperti karbohidrat dan jus buah, atau bahan
yang mengandung sorbitol dalam jumlah berlebihan akan memberikan dampak
yang sama (Subagyo dan Santoso, 2010).

2.1.4.2 Diare Sekretorik


Diare sekretorik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus
halus yang terjadi akibat gangguan absorbi natrium oleh vilus saluran cerna,
sedangkan sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan ini
menyebabkan air dan elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja cair. Diare
sekretorik ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri akibat
rangsangan pada mukosa usus halus oleh toksin E.coli atau V. cholera (Gaurino
et al, 2008)

Tabel 2.5. Perbedaan diare osmotik dan sekretorik


Osmotik Sekretorik
Volume tinja <200 ml/hari >200 ml/hari
Puasa Diare berhenti Diare berlanjut
Na+ tinja <70 mEq/L >70 mEq/L
Reduksi (+) (-)
pH tinja <5 >6

2.1.5 Manifestasi Klinis


Tabel 2.6 Klasifikasi tingkat dehidrasi anak dengan diare
Klasifikasi Tanda dan Gejala Pengobatan
Terdapat dua atau lebih Beri cairan untuk diare
tanda di bawah ini: dengan dehidrasi berat
- Letargis/tidak sadar (lihat rencana terapi C
- Mata cekung untuk diare di rumah sakit)
Dehidrasi berat - Tidak bisa minum/malas
minum
- Cubitan kulit perut akan
kembali sangat lambat (≥
2 detik)
- Beri anak cairan dan
Dehidrasi Terdapat dua atau lebih makanan untuk dehidrasi
ringan/sedang tanda di bawah ini: ringan (lihat rencana
- Rewel, gelisah terapi B)

5
- Mata cekung - Setelah rehidrasi, nasihati
- Minum dengan lahap, ibu untuk penanganan di
haus rumah dan kapan
- Cubitan kulit perut akan kembali segera
kembali lambat - Kunjungan ulang dalam
waktu 5 hari jika tidak
membaik
- Beri cairan dan makanan
untuk menangani diare di
Tidak terdapat cukup tanda rumah (lihat rencana
untuk diklasifikasikan terapi A)
Tanpa dehidrasi sebagai dehidrasi ringan/ - Nasihati ibu kapan
sedang atau berat kembali segera
- Kunjungan ulang dalam
waktu 5 hari jika tidak
membaik

2.1.6 Diagnosis
2.1.6.1 Anamnesis
Riwayat pemberian makan anak sangat penting dalam melakukan
tatalaksana anak dengan diare. Tanyakan juga hal-hal berikut:
Diare
-
Frekuensi Buang Air Besar (BAB) anak
-
Lamanya diare terjadi
-
Apakah ada darah dan lendir pada tinja
-
Apakah ada muntah
Laporan setempat mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) kolera
Pengobatan antibiotik yang baru diminum anak atau pengobatan lain
Gejala invaginasi (tangisan keras dan kepucatan bayi)

2.1.6.2 Pemeriksaan fisik


Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi
denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari
tanda-tanda tambahan lainya: ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata cowong
atau tidak, ada atau tidak adanya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering
atau basah.

6
Tabel 2.8 Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003
Minimal atau Dehidrasi ringan
tanpa dehidrasi, sedang, Dehidrasi berat,
Symptom
kehilangan BB kehilangan BB kehilangan BB >9%
<3% 3%-9%
Kesadaran Baik Normal, lelah, Apatis, letargi, tidak
gelisah, irritable sadar
Denyut Normal Normal meningkat Takikardi, bradikardi,
jantung (kasus berat)
Kualitas Normal Normal melemah Lemah, kecil tidak
nadi teraba
Pernapasan Normal Normal-cepat Dalam
Mata Normal Sedikit cowong Sangat cowong
Air mata Ada Berkurang Tidak ada
Mulut dan Basah Kering Sangat kering
lidah
Cubitan Segera kembali Kembali<2 detik Kembali>2detik
kulit
Cappilary Normal Memanjang Memanjang, minimal
refill
Ekstremitas Hangat Dingin Dingin,mottled,
sianotik
Kencing Normal Berkurang Minimal
(Pusponegoro dkk, 2005).

2.1.7 Tata laksana


Terdapat lima pilar penting dalam tatalaksana diare yaitu rehidrasi,
dukungan nutrisi, suplement zink, pemberian obat sesuai indikasi dan edukasi
pada orang tua. Terdapat 5 prinsip tatalaksana, yaitu:
2.1.7.1 Rehidrasi
Salah satu komplikasi diare yang paling sering terjadi adalah dehidrasi.
Bila terjadi dehidrasi, harus segera dibawa ke petugas kesehatan untuk
mendapatkan pengobatan yang tepat dan cepat. Cairan Rehidrasi Oral (CRO)
yang dianjurkan WHO menggunakan cairan yang mengandung elektrolit dan
glukosa.
a. Dehidrasi berat
Diberikan cairan rehidrasi parenteral dengan RL atau ringer asetat
100ml/kgBB dengan cara pemberian:
- Umur < 1 tahun ; 30ml/kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan 70ml/kgBB

7
dalam 5 jam berikutnya
- Umur > 1 tahun ; 30ml/kgBB dalam 1,5 jam pertama, dilanjutkan
70ml/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya
- Masukkan cairan peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat
minum, dimulai dengan 5ml/kgBB selama proses rehidrasi.
b. Dehidrasi ringan-sedang
- Cairan Rehidrasi Oral (CRO) hipoosmolar diberikan sebanyak 75ml/kgBB
dalam 3 jam untuk mengganti kehilangan cairan yang terjadi dan sebanyak
5-10 ml/kgBB setiap diare cair.
- Rehidrasi parenteral (IV) diberikan bila anak muntah setiap diberi minum.
Cairan IV yang diberikan adalah RL, KaEn 3B atau NaCl dengan jumlah
cairan dihitung berdasarkan berat badan
 BB 3-10 kg : 200ml/kgBB
 BB 10-15 kg : 175ml/kgBB
 BB > 15kg : 135ml/kgBB
c. Tanpa dehidrasi
CRO yang diberikan 5-10 ml/kgBB setiap diare cair atau berdasarkan umur.
- Umur < 1 tahun sebanyak 50-100 ml
- Umur 1-5 tahun sebanyak 100-200 ml
- Umur >5 tahun, sesuai kemauan anak.

2.1.7.2 Nutrisi
ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai umur
tetap diberikan untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti
nutrisi yang hilang. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase
kesembuhan. ASI tetap diberikan.

2.1.7.3 Suplementasi Zink


Zink sudah terbukti secara ilmiah dapat menurunkan frekuensi diare. Zinc
mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu
makan anak. Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk
memelihara kehidupan yang optimal. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam
pengobatan diare akut didasarkan pada efeknya terhadap imunitas atau terhadap

8
struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran
cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorbsi air
dan elektrolit oleh usus halus meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus,
meningkatkan jumlah brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang
mempercepat pembersihan patogen di usus. Pemberian zinc dapat menurunkan
risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Dosis zinc untuk anak-anak:
- Umur < 6bulan ; 10mg (1/2 tablet) per hari
- Umur > 6bulan ; 20 mg (1 tablet) per hari
Cara pemberian zink pada bayi, tablet zink dapat dilarutkan dengan air
matang, ASI atau oralit yang diberikan selama 10-14 hari (Agarwal, 2007).

2.1.7.4 Antibiotik selektif


Antibiotik diberikan bila ada indikasi, sesuai dengan uji sensitivitas.
Pemberian antibiotic yang tidak rasional akan memperpanjang lamanya diare dan
mengganggu keseimbangan flora normal usus. Hanya sebagian kecil (10-20%)
yang disebabkan oleh bakteri pathogen seperti V,cholera, Shigella,
Enterotoksigenik E.coli, Salmonella, Campilobacter, dan sebagainya,1
Tabel 2.9 Antibiotik selektif untuk terapi diare
Penyebab Antibiotik pilihan Alternatif
Tetracycline 12,5 mg/kgBB Erythromycin12,5 mg/kgBB
Kolera
4x sehari selama 3 hari 4x sehari selama 3 hari
Pivmecillinam 20 mg/kg BB
4x sehari selama 3 hari
Shigella Ciprofloxacin 15 mg/kgBB Ceftriaxone 50-100
Disentri 2x sehari selama 3 hari mg/kgBB
1x sehari IM selama 2-5
hari
Metronidazole 10 mg/kgBB
Amoebiasis 3x sehari selama 5 hari (10
hari pada kasus berat)
Metronidazole 5mg/kgBB
Giadiasis
3x sehari selama 5 hari
(Suandi, 2007)
2.1.7.5 Edukasi orang tua
Orang tua diminta untuk membawa anaknya kembali jika ada demam,
tinja berdarah, muntah berulang, makan/minum sedikit, diare makin sering/ belum
membaik dalam 3 hari. Langkah preventif:

9
- ASI tetap diberikan
- Kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum makan
- Kebersihan lingkungan
- Imunisasi
- Memberikan makan selalu dimasak
- Air minum yang bersih

2.2 Makanan Pendamping ASI

2.2.1 Pemberian MP ASI


Pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) merupakan proses transisi
dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat.
Untuk proses ini juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Keterampilan motorik
oral berkembang dari refleks menghisap menjadi menelan makanan yang
berbentuk bukan cairan dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan
ke lidah bagian belakang. Makanan pendamping ASI adalah makanan atau
minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24
bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI. Sedangkan pengertian
makanan itu sendiri adalah merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang
dibutuhkan setiap saat dan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar
bermanfaat bagi tubuh (Irianto dan Waluyo, 2004).

2.2.2 Usia Pemberian Makanan Pendamping ASI


Menurut Depkes RI (2007) usia pada saat pertama kali pemberian
makanan pendamping ASI pada anak yang tepat dan benar adalah setelah anak
berusia enam bulan, dengan tujuan agar anak tidak mengalami infeksi atau
gangguan pencernaan akibat virus atau bakteri. Berdasarkan usia anak, dapat
diketegorikan menjadi:
2.2.2.1 Pada usia enam sampai sembilan bulan
1) Memberikan makanan lumat dalam tiga kali sehari dengan takaran yang cukup
2) Memberikan makanan selingan satu hari sekali dengan porsi kecil
3) Memperkenalkan bayi atau anak dengan beraneka ragam bahan makanan
2.2.2.2 Pada usia lebih dari sembilan sampai 12 bulan
1) Memberikan makanan lunak dalam tiga kali sehari dengan takaran yang cukup

10
2) Memberikan makanan selingan satu hari sekali
3) Memperkenalkan bayi atau anak dengan beraneka ragam bahan makanan
2.2.2.3 Pada usia lebih dari 12 sampai 24 bulan
1) Memberikan makanan keluarga tiga kali sehari
2) Memberikan makanan selingan dua kali sehari
3) Memberikan beraneka ragam bahan makanan setiap hari.

2.2.3 Frekuensi Pemberian Makanan Pendamping ASI


Menurut Depkes RI (2007) frekuensi dalam pemberian makanan
pendamping ASI yang tepat biasanya diberikan tiga kali sehari. Pemberian
makanan pendamping ASI dalam frekuensi yang berlebihan atau diberikan lebih
dari tiga kali sehari, kemungkinan dapat mengakibatkan terjadinya diare.

2.2.4 Porsi pemberian makanan pendamping ASI


Menurut Depkes RI (2007) untuk tiap kali makan, dalam pemberian porsi yang
tepat adalah sebagai berikut:
a. Pada usia enam bulan, beri enam sendok makan
b. Pada usia tujuh bulan, beri tujuh sendok makan
c. Pada usia delapan bulan, beri delapan sendok makan
d. Pada usia sembilan bulan, beri sembilan sendok makan
e. Pada usia 10 bulan, diberi 10 sendok makan, dan usia selanjutnya porsi
pemberiannya menyesuaikan dengan usia anak

2.2.5 Jenis Makanan Pendamping ASI


Menurut Depkes RI (2007) jenis makanan pendamping ASI yang baik
adalah terbuat dari bahan makanan yang segar, seperti tempe, kacangkacangan,
telur ayam, hati ayam, ikan, sayur mayur dan buah-buahan.
Jenis-jenis makanan pendamping yang tepat dan diberikan sesuai dengan usia
anak adalah sebagai berikut:
1) Makanan lumat
Makanan lumat adalah makanan yang dihancurkan, dihaluskan atau
disaring dan bentuknya lebih lembut atau halus tanpa ampas. Biasanya makanan
lumat ini diberikan saat anak berusia enam sampai sembilan bulan. Contoh dari

11
makanan lumat itu sendiri antara lain berupa bubur susu, bubur sumsum, pisang
saring atau dikerok, pepaya saring dan nasi tim saring.
2) Makanan lunak
Makanan lunak adalah makanan yang dimasak dengan banyak air atau
teksturnya agak kasar dari makanan lumat. Makanan lunak ini diberikan ketika
anak usia sembilan sampai 12 bulan. Makanan ini berupa bubur nasi, bubur ayam,
nasi tim, kentang puri.
3) Makanan padat
Makanan padat adalah makanan lunak yang tidak nampak berair dan
biasanya disebut makanan keluarga. Makanan ini mulai dikenalkan pada anak saat
berusia 12-24 bulan. Contoh makanan padat antara lain berupa lontong, nasi, lauk-
pauk, sayur bersantan, dan buah-buahan.

2.3 Perilaku (Pengetahuan dan Sikap)

2.3.1 Konsep Perilaku

Menurut Notoadmojo (2003) perilaku kesehatan pada dasarnya adalah


respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit,
sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Perilaku kesehatan itu
mencakup :
a. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia
berespon, baik secara pasif maupun aktif yang dilakukan sehubungan dengan sakit
dan penyakit tersebut.
b. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, misal dalam memilih
menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan.
c. Perilaku terhadap makanan, misal dalam memilih konsumsi makanan.
d. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan, misal perilaku sehubungan dengan
air bersih, pembuangan air kotor, pembuangan limbah, kondisi rumah sehat,
pembersihan sarang-sarang.

2.3.2 Pengetahuan (Knowledge)


Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi

12
melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).

2.3.3 Sikap (Attitude)


Menurut Saifuddin Azwar, 2002. Sikap merupakan reaksi atau respon
yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Beberapa
batasan lain tentang sikap ini dapat dikutipkan sebagai berikut :
Batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu
tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari
perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya
kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari
merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.

2.4 Kerangka Teori

Ibu yang mengasuh Balita

Faktor Pengetahuan dan Sikap Faktor MP ASI


Faktor Pengetahuan - Umur pemberian MP ASI
Tahu (Know) - Frekuensi pemberian MP ASI
Comprehention (memahami) - Porsi pemberian MP ASI
Aplikasi - Jenis MP ASI
Analisis - Cara pemberian MP ASI
Sintesis
Evaluasi
Faktor Sikap
Kepercayaan, ide , konsep terhadap suatu
obyek.
Kehidupan emosional atau evaluasi
terhadap obyek.
Kecenderungan untuk bertindak (tend to
behave).
13
Anak usia 0-24 Bulan

Kejadian Diare

Bagan 2.1 Kerangka Teori

2.5 Kerangka Konsep

Variabel Bebas
Pemberian MP ASI
Umur pemberian MP ASI Variabel Terikat
Frekuensi pemberian MP ASI Kejadian diare (anak usia 0-24
Porsi pemberian MP ASI bulan)
Jenis MP ASI
Cara pemberian MP ASI

Bagan 2.2 Bagan Kerangka Konsep

2.6 Hipotesis
Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap ibu mengenai
pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian diare di wilayah kerja
Puskesmas Pekik Nyaring.

14
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini adalah penelitian survei bersifat deskriptif analitik dengan
rancangan cross sectional (Notoatmodjo, 2003) yaitu untuk mengetahui hubungan
pengetahuan dan sikap ibu dengan pemberian MP-ASI terhadap kejadian diare.
Data yang diperoleh dari kuesioner yang diberikan pada ibu-ibu yang memiliki
balita.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian mini project ini dilakukan di posyandu-posyandu wilayah kerja
Puskesmas Pekik Nyaring. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2019

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


3.3.1 Populasi Target
Populasi target penelitian adalah ibu yang memiliki balita 0-24 bulan di
desa Pekik Nyaring
3.3.2 Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau adalah balita yang mengikuti program posyandu di
wilayah kerja Puskesmas Pekik Nyaring
3.3.3 Sampel Penelitian
Sampel penelitian adalah semua balita pada populasi terjangkau yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi.
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.4.1 Kriteria Inklusi
 Ibu yang memiliki bayi berusia 0-24 Bulan
 Ibu yang bersedia mengisi kuesioner secara lengkap
 Ibu yang bersedia mengikuti penyuluhan diare dan makanan pendamping ASI
3.4.2 Kriteria Eksklusi
 Ibu yang tidak bersedia mengikuti penelitian
 Pengisian kuesioner yang tidak lengkap

15
3.5 Besar Sampel Penelitian
Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan
sebagai subjek penelitian melalui sampling. Dalam penelitian ini teknik
pengambilan sampel menggunakan purposive sample adalah suatu teknik
penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan
yang dikehendaki peneliti (jumlah/masalah dalam penelitian), sehingga sampel
tersebut dan mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya.

3.6 Variabel Penelitian


3.6.1 Variabel bebas (independen) Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu
Tingkat pengetahuan dan sikap ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI.
3.6.2 Variabel tergantung (dependen) dalam penelitian ini adalah kejadian diare
pada anak usia 0-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pekik Nyaring.
3.7 Batasan Operasional
1. Diare dalam penelitian ini
2. Tingkat pengetahuan mengenai Makanan Pendamping ASI pada subjek
dinilai berdasarkan kuesioner yang terdiri dari lima pernyataan dengan
pilihan jawaban ya dan tidak.
 Baik jika diperoleh skor pengetahuan >80%
 Cukup jika diperoleh skor pengetahuan 60%-<80%
 Kurang jika diperoleh skor pengetahuan <60%
3. Sikap mengenai Makanan Pendamping ASI pada subjek dinilai
berdasarkan kuesioner yang terdiri dari lima pernyataan dengan pilihan
jawaban sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju
 Baik jika diperoleh skor sikap >80%
 Cukup jika diperoleh skor sikap 60%-<80%
 Kurang jika diperoleh skor sikap <60%
3.8 Alur Penelitian
Ibu yang memiliki bayi usia 0-24 bulan diwilayah kerja Puskesmas Pekik
Nyaring

Sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi

16
Pengisian kuesioner dengan
dipandu oleh peneliti

Dilakukan penyuluhan mengenai diare dan makanan pendamping ASI

Pencatatan data penelitian

Pengolahan data

Pelaporan hasil penelitian

Gambar Alur penelitian

3.9 Pengumpulan Data


1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner secara
langsung dengan responden.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data semua bayi berusia 0-24 bulan yang berada di wilayah
kerja Puskesmas Paguyaman dan diberikan makanan pendamping ASI

3.10 Pengolahan, Penyajian dan Teknik Analisis Data


3.10.1 Pengolahan Data
Setelah data terkumpul dari lembar kuesioner yang ada maka dilakukan
pengolahan data. Pengolahan data menggunakan program komputer tersebut
dengan tahap-tahap sebagai berikut:
a. Editing
Yaitu kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner.
Hasil wawancara atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan
penyuntingan terlebih dahulu.
b. Coding

17
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan
peng”kode”an atau “Coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau
huruf menjadi data angka atau bilangan.
c. Processing
Data dari jawaban masing-masing responden dalam bentuk “Code”
dimasukkan kedalam program atau “Software” computer yaitu paket program
SPSS for windows.
d. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden dimasukkan, perlu
dicek kembali untuk melihat kemungkinan–kemungkinan adanya kesalahan
kode, ketidaklengkapan kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

3.10.2 Analisis Data


Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan program SPSS
yang meliputi:
a. Analisis Univariat
Analisis univariat (analisis persentase) dilakukan untuk
menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing, baik variabel bebas
(independen), variabel terikat (dependen) maupun deskripsi karakteristik.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara masing-
masing variabel bebas dengan variabel tergantung disertai uji kemaknaan
statistik dengan uji Chi Square (Kai Kuadrat) dengan tingkat kepercayaan
95%. Uji Chi Square menggunakan data kategori (nominal dan ordinal), data
tersebut diperoleh dari hasil menghitung.
Keputusan Uji Chi Square, Ho ditolak apabila p < α (0,05), artinya ada
hubungan bermakna antara variabel dependen dengan variabel independen. Ho
gagal ditolak apabila p > α, artinya tidak ada hubungan bermakna antara
variabel dependen dengan variabel independen.

18
BAB IV
HASIL

4.1 Hasil Analisis Univariat


4.1.1. Umur
Responden dalam penelitian ini adalah seluruh ibu memiliki bayi usi 0-24
Bulan diwilayah kerja Puskesmas Pekik Nyaring
Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Wilayah Kerja Puskesmas
Pekik Nyaring
No Umur Jumlah %
1 16-20 11 16,2
2 21-25 26 38,2
3 26-30 13 19,1
4 31-35 11 16,2
5 36-40 5 7,4
6 >40 2 2,9
Total 100

Berdasarkan hasil penelitian, umur responden yang terlihat pada tabel


menunjukkan bahwa pada umumnya responden berumur 16-20 tahun 11 orang
(16,2 %), umur 21-25 tahun 26 orang (38,2 %), umur 26-30 tahun 13 orang
(19,1%), umur 31-35 tahun 11 orang (16,2%), umur 36-40 tahun 5 orang (7,4%),
dan umur >40 tahun 2 orang (2,9%). Umur 21-25 menjadi golongan umur yang
paling banyak 26 orang (38,2 %), dan umur responden paling sedikit adalah >40
tahun 2 orang (2,9%).
4.1.2 Agama
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui agama yang
dianut oleh responden dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Agama di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekik Nyaring
No Suku Jumlah %
1 Islam 68 100

19
Total 100

Tabel 4.7 menunjukkan bahwa umumnya ibu yang menjadi responden beragama
Islam yakni 68 orang (100%).
4.1.3 Pendidikan Terakhir
Untuk mengetahui pendidikan terakhir responden dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir di Wilayah
Kerja Puskesmas Pekik Nyaring
No Pendidikan Jumlah %
1 Tidak Lulus SD 6 8.8
2 SD 31 45.6
3 SMP 11 16.2
4 SMA 16 23.5
5 D3/S1 4 5.9
Total 100

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa pendidikan terakhir responden


Tidak Lulus SD sebanyak 6 orang (8.8%), Lulus SD sebanyak 31 orang (45.6%),
Lulus SMP sebanyak 11 orang (16.2%), Lulus SMA sebanyak 16 orang (23.5%),
dan Lulus D3/S1 sebanyak 4 orang (5.9%). Yang terbanyak adalah Lulus SD
yakni sebanyak 31 orang (45.6%) dan yang paling sedikit adalah D3/S1 yaitu
sebanyak 4 orang (5.9%).
4.1.4 Pekerjaan
Berdasarkan data penelitian pekerjaan responden dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekik Nyaring
No Pekerjaan Jumlah %
1 Guru 2 2.9
2 Ibu Rumah Tangga 60 88.2
3 Pedagang 3 4.4
4 Karyawan Swasta 1 1.5

20
5 Petani 1 1.5
6 PNS 1 1.5
Total 100

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa pekerjaan responden yang menjadi ibu


rumah tangga yakni 60 orang (88.2%), ekerjaan sebagai pedagang yakni 3 orang
(4.4%), sebagai guru yakni 2 orang (2.9%), sebagai petani yakni 1 orang (1.5%),
dan sebagai PNS yakni 1 orang (1.5%).
4.1.5 Penghasilan Keluarga
Untuk mengetahui pendapatan keluarga responden dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Keluarga di Wilayah
Kerja Puskesmas Paguyaman
No Penghasilan Jumlah %
1 Rp. <750.000 25 36.8
2 Rp. 750.000-1.500.000 12 17.7
3 Rp. >1.500.000-3.000.000 6 8.8
4 Rp. >3.000.000 2 2.9
5 Tidak Tentu 23 33.8
Total 100

Berdasarkan penelitian, pendapatan keluarga yang ditunjukkan pada tabel


4.11 di atas, diketahui bahwa sebagian besar pendapatan keluarga responden ≤
Rp. 750.000 sebanyak 25 orang (36.8%), Rp.750.000 – Rp.1.500.000 sebanyak
12 orang (17.7%), Rp.1.500.000 – Rp. 3.000.000 sebanyak 6 orang (8.8%), >Rp.
3.000.000 sebanyak 2 orang (2.9%), dan tidak tentu sebanyak 23 orang (33.8%).
4.1.6 Jumlah Anak
Berdasarkan data penelitian jumlah anak responden dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 4.12 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anak di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekik Nyaring
No Jumlah Anak Jumlah %
1 1 31 45.6

21
2 2 16 23.5
3 3 15 22.1
4 4 5 7.4
5 5 1 1.5
Total 100

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa jumlah anak dari responden dengan


jumlah 1 anak yakni 31 orang (45.6%), jumlah 2 anak yakni 16 orang (23.5%),
jumlah 3 anak yakni 15 orang (22.1%), jumlah 4 anak yakni 5 orang (7.4%),
jumlah 5 anak yakni 1 orang (1.5%). Yang paling banyak adalah 1 orang yakni
sebanyak 31 orang (45.6%) dan yang paling sedikit jumlah anak 5 orang yakni
sebanyak 1 orang responden (1.5%).

4.2 Karakteristik Bayi (0-24 bulan)


4.2.1. Umur Bayi
Dari data yang diperoleh umur bayi (0-24) bulan dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.13 Distribusi Responden Berdasarkan Umur Bayi di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekik Nyaring
No Usia Bayi Jumlah %
1 0-6 32 47.1
2 >6-9 9 13.2
3 >9-12 7 10.3
4 >12-24 20 29.4
Total 100

Tabel 4.13 menunjukkan bahwa umur bayi dari responden adalah 0-6
bulan orang ( %), >6-9 bulan orang ( %), >9-12 bulan orang ( %), >12-24 bulan
orang ( %).
4.2.2 Diare Bayi
Diare bayi berdasarkan 1 tahun terakhir mengalami diare
Tabel 4.14. Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Diare Bayi Dalam Satu
Tahun Terakhir di Wilayah Kerja Puskesmas Pekik Nyaring

22
No Diare Jumlah %
1 Ya 43 63.2
2 Tidak 25 36.8
Total 100

Tabel 4.14 menunjukkan bahwa bayi yang mengalami diare satu tahun
terakir dari responden yaitu Diare 43 orang (63.2%), Tidak Diare 25 orang
(36.8%).
4.2.3 Jumlah Diare
Banyaknya Jumlah diare dalam satu tahun terakhir yang mengalami diare
Tabel 4.15 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Diare Bayi Dalam Satu
Tahun Terakhir di Wilayah Kerja Puskesmas Pekik Nyaring
No Jumlah Diare Jumlah %
1 0 24 35.3
2 1 31 45.6
3 2 10 14.7
4 3 2 2.9
5 4 1 1.5
Total

Tabel 4.15 menunjukkan bahwa bayi yang tidak pernah mengalami diare
dalam satu tahun terakhir yaitu 24 orang (35.3%), satu kali diare sebanyak 31
orang (45.6%), dua kali diare sebanyak 10 orang (14.7%), tiga kali diare sebanyak
2 orang (2.9%), empat kali diare sebanyak 1 orang (1.5%).

4.3 Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI


Pengetahuan responden tentang MP-ASI dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.16 Distibusi Berdasarkan Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI di Wilayah
Kerja Puskesmas Pekik Nyaring
No Pertanyaan Jumlah %
1 Ibu tahu tentang pengertian makanan
pendamping ASI 14 20.6
Benar 54 79.4

23
Salah
2 Umur sebaiknya diberikan makanan pendamping
ASI 51 75.0
Benar 17 25.0
Salah
3 Jenis makanan yang pertamakali diberikan
kepada bayi usia >6 bulan 65 95.6
Benar 3 4.4
Salah
4 Mengapa bayi perlu diberi makanan tambahan
Benar 51 75.0
Salah 17 25.0
5 Pengaruh pemberian makanan bayi sebelum usia
6 bulan terhadap kesehatan bayi
Benar 40 58.8
Salah 28 41.2

Berdasarkan penelitian di atas dapat lihat pengetahuan mengenai


pengertian responden tentang MP-ASI sebanyak 54 orang (79.4%) sudah
mengetahui dengan benar. Pengetahuan tentang umur sebaiknya pemberian
makanan pendamping ASI sebanyak 51 orang (75.0%) menjawab benar.
Pengetahuan tentang jenis makanan pertamakali diberikan kepada bayi > 6 bulan
sebanyak 65 orang (95.6%) menjawab dengan benar. Untuk pengetahuan
mengapa bayi perlu diberi makanan sebanyak 51 orang (75.0%) menjawab
dengan benar. Pengetahuan tentang pengaruhnya pemberian makanan bayi
sebelum usia 6 bulan terhadap kesehatan bayi sebanyak 40 orang (58.8%) yang
menjawab jawaban yang benar.
Berdasarkan data di atas, maka secara kategori pengetahuan responden
dapat dikelompokkan, dimana masing-masing kategori dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 4.17 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pengetahuan di Wilayah
Kerja Puskesmas Pekik Nyaring

24
No Kategori Pengetahuan Jumlah Presentase (%)
1 Baik 29 42.7
2 Sedang 26 38.2
3 Kurang 13 19.1
Total 100

Berdasarkan penelitian di atas dapat dilihat bahwa tingkat kategori


responden pengetahuan yang baik sebanyak 29 orang (42.7%), sedangkan yang
kategori sedang sebanyak 26 orang (38.2%) responden memiliki pengetahuan
pada tingkat sedang dan sebanyak 13 orang (19.1%) responden memiliki tingkat
pengetahuan yang kurang.

4.4 Sikap Ibu Tentang MP-ASI


Sikap responden tentang MP-ASI dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.18 Distribusi Berdasarkan Sikap Ibu tentang MP-ASI di Wilayah Kerja
Puskesmas Pekik Nyaring
No Pertanyaan Jumlah (%)
1 Bayi berusia 4 bulan memerlukan makanan
khusus 11 16.2
a. Sangat Setuju 16 23.5
b. Setuju 11 16.2
c. Ragu-Ragu 27 39.7
d. Tidak Setuju 3 4.4
e. Sangat Tidak Setuju
2 Pada bayi berusia > 6 bulan baru boleh diberikan
makanan tambahan
a. Sangat Setuju 22 32.4
b. Setuju 41 60.3
c. Ragu-Ragu 2 2.9
d. Tidak Setuju 2 2.9
e. Sangat Tidak Setuju 1 1.5
3 Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6
bulan dapat membantu bayi mengatasi rasa lapar

25
dan tidak akan menangis
a. Sangat Setuju 14 20.6
b. Setuju 36 52.9
c. Ragu-Ragu 4 5.9
d. Tidak Setuju 14 20.6
e. Sangat Tidak Setuju 0 0
4 Memberi makanan lumat seperti bubur susu
sebagai makanan pertama pada bayi berusia > 6
bulan
a. Sangat Setuju 18 26.5
b. Setuju 45 66.2
c. Ragu-Ragu 3 4.4
d. Tidak Setuju 1 1.5
e. Sangat Tidak Setuju 1 1.5
5 Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6
bulan dapat menyebabkan anak kelebihan berat
badan
a. Sangat Setuju 9 13.2
b. Setuju 26 38.2
c. Ragu-Ragu 10 14.7
d. Tidak Setuju 21 30.9
e. Sangat Tidak Setuju 2 2.9

Dari hasil penelitian di atas di ketahui sikap responden tentang bayi


berusia 4 bulan memerlukan makanan khusus, sebanyak 11 orang (16.2%)
mengatakan sikap sangat setuju, 16 orang (23.5%) mengatakan sikap setuju, 11
orang (16.2%) mengatakan sikap sikap ragu-ragu, 27 orang (39.7%) mengatakan
sikap tidak setuju, 3 orang (4.4%) mengatakan sikap sangat tidak setuju. Sikap
responden terhadap bayi yang berumur > 6 bulan baru boleh diberikan makanan
tambahan, sebanyak 22 orang (32.4%) mengatakan sikap sangat setuju, 41 orang
(60.3%) mengatakan sikap setuju, 2 orang (2.9%) mengatakan sikap sikap ragu-
ragu, 2 orang (2.9%) mengatakan sikap tidak setuju, 1 orang (1.5%) mengatakan

26
sikap sangat tidak setuju. Sikap responden terhadap Pemberian makanan pada
bayi sebelum usia 6 bulan dapat membantu bayi mengatasi rasa lapar dan tidak
akan menangis, sebanyak 14 orang (20.6%) mengatakan sikap sangat setuju, 36
orang (52.9%) mengatakan sikap setuju, 4 orang (5.9%) mengatakan sikap sikap
ragu-ragu, 14 orang (20.6%) mengatakan sikap tidak setuju, 0 orang (0%)
mengatakan sikap sangat tidak setuju. Sikap responden terhadap memberi
makanan lumat seperti bubur susu sebagai makanan pertama pada bayi berusia > 6
bulan, sebanyak 18 orang (26.5%) mengatakan sikap sangat setuju, 45 orang
(66.2%) mengatakan sikap setuju, 3 orang (4.4%) mengatakan sikap sikap ragu-
ragu, 1 orang (1.5%) mengatakan sikap tidak setuju, 1 orang (1.5%) mengatakan
sikap sangat tidak setuju. Sikap responden terhadap Pemberian makanan pada
bayi sebelum usia 6 bulan dapat menyebabkan anak kelebihan berat badan,
sebanyak 9 orang (13.2%) mengatakan sikap sangat setuju, 26 orang (38.2%)
mengatakan sikap setuju, 10 orang (14.7%) mengatakan sikap sikap ragu-ragu, 21
orang (30.9%) mengatakan sikap tidak setuju, 2 orang (2.9%) mengatakan sikap
sangat tidak setuju.
Berdasarkan data tentang sikap responden di atas, setelah dilakukan
pengelompokan berdasarkan kategori baik dan buruk maka hasilnya dapat dilihat
pada tabel berikut :

Tabel 4.19 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Sikap Ibu di Wilayah


Kerja Puskesmas Pekik Nyaring

No Kategori Sikap Jumlah Presentase (%)

1 Baik 9 13.2

2 Sedang 36 53

3 Kurang 23 33.8

Total 100

Berdasarkan penelitian di atas dapat dikategorikan sikap responden,


sebanyak 9 orang (13.2%) mempunyai sikap kategori yang baik, sedangkan 36

27
orang (53%) mempunyai sikap kategori sedang dan 23 orang (33.8%) mempunyai
kategori kurang.

4.5. Hasil Analisa Bivariat


Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak hubungan
yang bermakna antara variabel independen pengetahuan dan sikap ibu terhadap
pemberian makanan pendamping ASI. Pengujian analisis bivariat dilakukan
dengan menggunakan Uji Chi Square. Alasan pemilihan analisis menggunakan
Uji Chi Square, disebabkan variabel independennya kategorik dan variabel
dependennya juga kategorik. Analisis ini dikatakan bermakna (signifikan) bila
hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik
antara variabel, yaitu dengan nilai p < 0,05. Variabel yang dianalisis adalah
pengetahuan dan sikap responden seperti tertera pada Tabel berikut ini:
Tabel 4.20 Hasil Uji Chi Square Hubungan Variabel Independen
(Pengetahuan dan Sikap) Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Terhadap Kejadian
Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Pekik Nyaring

No Klasifikasi Diare Total % P


Ya % Tidak %
1 Pengetahuan
a. Baik 14 48.3 15 51.7 29 100
b. Sedang 12 92.3 1 7.1 13 100 0.023
c. Kurang 17 65.4 9 34.6 26 100
Total 43 63.2 25 36.8 68 100
2 Sikap
a. Baik 5 55.6 4 44.4 9 100
b. Sedang 20 87.0 3 13.0 23 100 0.014
c. Kurang 18 50.0 18 50.0 36 100
Total 43 63.2 25 36.8 68 100

Berdasarkan Tabel 4.20 di atas, hasil uji statistik Chi Square (Pearson Chi
Square) dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dalam pemberian

28
makanan pendamping ASI (MP-ASI) terhadap kejadian diare, diperoleh nilai p
value = 0,023 (p<0,05). Hal ini menunjukkan secara statistik bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI
terhadap kejadian diare.
Berdasarkan hasil analisis Chi Square (Pearson Chi Square) dilakukan
untuk mengetahui hubungan sikap ibu tentang pemberian MP-ASI terhadap
kejadian diare, diperoleh nilai p value = 0,014 (p<0,05). Hal ini menunjukkan
secara statistik bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap ibu tentang
pemberian MP-ASI terhadap kejadian diare.

29
BAB V
DISKUSI

5.1. Pengetahuan Ibu Tentang MP-ASI


Hasil penelitian antara tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian
makanan pendamping ASI terhadap kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas
Pekik Nyaring tahun 2019 menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat cukup
bermakna antara variabel tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian makanan
pendamping ASI. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan uji chi Square
didapatkan nilai p=0,023 (p<0,05), maka Ha gagal ditolak atau ada hubungan
pemberian MP-ASI dengan kejadian diare pada bayi 0-24 bulan di wilayah kerja
puskesmas Pekik Nyaring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 68
responden yang memiliki anak 0-24 bulan kejadian diare dalam satu tahun
terakhir sebanyak 43 orang (63.2%) dan yang tidak diare 25 orang (36.8%). Hasil
penelitian juga menunjukkan tingkat pengetahuan ibu dalam pemberian MP-ASI
terhadap kejadian diare kategori baik yaitu sebanyak 29 orang (42.7%), sedang
sebanyak 26 orang (38.2%), kurang sebanyak 13 orang (19.1%). Dari hasil
tersebut dalam tingkat pengetahuan pemberian MP-ASI menunjukkan banyak ibu
memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Hal ini dapat terjadi karena walaupun
tingkat pengetahuan ibu baik tetapi dipengaruhi banyak faktor.
Karakteristik responden yang lain adalah pekerjaan dimana sebagian besar
responden merupakan ibu rumah tangga, ini berarti responden memiliki
ketersediaan waktu yang lebih banyak untuk meningkatkan pengetahuan
mengenai MP-ASI dan mengaplikasikannya pada pelaksananan pemberian MP-
ASI. Responden juga memiliki kesempatan untuk memperhatikan zat gizi dari
MP-ASI yang diberikan (Ariani, 2008).
Faktor lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan.
Tabel menunjukkan bahwa sebagian besar ibu berpendidikan tamat SD dengan
31 orang (45.6%). Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan sebagian besar
responden dibawah pendidikan dasar di Indonesia sehingga mempengaruhi pola
pikir individu dalam hal penerimaan dan pemahaman atas informasi tersebut yang
dapat berpengaruh terhadap pengetahuan yang bersangkutan (Notoatmodjo,

30
2007). Dalam hal ini pengetahuan dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial
sehingga dalam prakteknya tidak sesuai dengan teori yang ada. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Saryono (2003) bahwa sikap positif yang timbul dari suatu
pengetahuan akan membuat individu memiliki niat untuk melakukan suatu
perilaku. Terwujudnya niat menjadi perilaku tergantung pada beberapa faktor
seperti lingkungan sekitar, norma, aturan dan sebagainya
Responden penelitian yang memiliki seorang orang anak sebanyak 31
orang (45.6%), sehingga dimungkinkan responden belum memiliki pengalaman
dalam memberikan MP-ASI. Berdasarkan penelitian milik Saryono (2003), pola
kekerabatan di Indonesia masih menganut sistem Extended Family dimana ada
lebih dari dua generasi yang tinggal bersama dalam satu rumah sehingga
memungkinkan seseorang telah memiliki pengalaman merawat anak sebelum
berkeluarga karena ikut mengasuh anak saudaranya. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Notoatmodjo (2007) bahwa pengetahuan juga dapat diperoleh melalui
pendidikan, pengalaman diri sendiri maupun orang lain, media massa serta
lingkungan. Pengalaman merupakan sarana untuk mencapai kematangan dan
perkembangan kepribadian, pengalaman dalam memberikan MP-ASI dapat
diperoleh dengan cara melihat orang lain yang melakukan atau melakukannya
sendiri. Namun jika pengalaman awal yang didapat salah, hal itu dapat berakibat
pada praktek selanjutnya.
Pengetahuan yang didapatkan responden ini membentuk kepercayaan baru
karena pemberi informasi adalah sumber yang dapat dipercaya. Hal ini sesuai
dengan teori yang menyatakan bahwa pengetahuan akan membentuk kepercayaan
yang selanjutnya akan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersepsi
kenyataan, menjadi dasar pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap
objek tertentu Kepercayaan yang dimaksud adalah keyakinan bahwa sesuatu itu
benar atau salah atas dasar bukti, sugesti, otoritas, pengalaman atau intuisi.
Pengetahuan manusia berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki
seseorang. Semakin banyak informasi yang dimiliki maka semakin tinggi pula
pengetahuan orang tersebut (Saryono (2003).

31
5.2. Sikap Ibu Tentang MP-ASI
Hasil penelitian ini berdasarkan analisis Chi Square (Pearson Chi Square)
dilakukan untuk mengetahui hubungan sikap ibu tentang pemberian MP-ASI
terhadap kejadian diare, diperoleh nilai p value = 0,014 (p<0,05). Hal ini
menunjukkan secara statistik bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
sikap ibu tentang pemberian MP-ASI terhadap kejadian diare. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari 68 responden yang memiliki tingkat sikap baik
sebanyak 9 orang (13.2%), tingkat sikap sedang sebanyak 36 orang (53%), dan
tingkat sikap kurang sebanyak 23 orang (33.8%). Hal ini menunjukkan sikap ibu
dalam pemberian MP-ASI terhadap kejadian diare dalam tingkat sikap baik masih
sedikit.
Dari hasil penelitian di atas di ketahui sikap responden tentang bayi
berusia 4 bulan memerlukan makanan khusus, sebanyak 27 orang (39.7%)
mengatakan sikap tidak setuju, 3 orang (4.4%) mengatakan sikap sangat tidak
setuju. Sikap responden terhadap bayi yang berumur > 6 bulan baru boleh
diberikan makanan tambahan, sebanyak 22 orang (32.4%) mengatakan sikap
sangat setuju, 41 orang (60.3%) mengatakan sikap setuju. Sikap responden
terhadap Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6 bulan dapat membantu
bayi mengatasi rasa lapar dan tidak akan menangis, sebanyak 14 orang (20.6%)
mengatakan sikap tidak setuju, 0 orang (0%) mengatakan sikap sangat tidak
setuju. Sikap responden terhadap memberi makanan lumat seperti bubur susu
sebagai makanan pertama pada bayi berusia > 6 bulan, sebanyak 18 orang
(26.5%) mengatakan sikap sangat setuju, 45 orang (66.2%) mengatakan sikap
setuju. Sikap responden terhadap Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6
bulan dapat menyebabkan anak kelebihan berat badan, sebanyak 21 orang
(30.9%) mengatakan sikap tidak setuju, 2 orang (2.9%) mengatakan sikap sangat
tidak setuju.

32
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan proses dan hasil analisis data statistik yang telah diuraikan
pada BAB 4 dan BAB 5 dapat ditarik kesimpulan, yaitu:
1. Umumnya responden berumur 21-25 tahun yaitu sebanyak 26 orang (38,2 %).
2. Sebagian besar pendidikan responden pada umumnya adalah tamat SD yaitu
sebanyak 31 orang (45.6%).
3. Sebagian besar pekerjaan responden adalah sebagai ibu rumah tangga (IRT)
yaitu sebanyak 60 orang (88.2%).
4. Sebagian besar agama responden adalah agama Islam yaitu sebanyak 68 orang
(100%).
5. Sebagian besar penghasilan responden dalam sebulan adalah berkisar <
Rp.750.000 yaitu sebanyak 25 orang (36.8%).
6. Sebagian besar umur bayi responden adalah 8 bulan yaitu sebanyak 34 orang
(47.1%).
7. Sebagian besar bayi yang mengalami diare dalam satu tahun terakhir 43 orang
(63.2%).
8. Pengetahuan responden tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI) sebagian
besar pada kategori baik yaitu sebanyak 29 orang (42.7%).
9. Sikap responden tentang makanan pendamping ASI MP-ASI sebagian besar
pada kategori sedang yaitu sebanyak 36 orang (53.0%).

6.2. Saran
1. Bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Pekik Nyaring diharapkan dapat

memberikan penyuluhan dan edukasi serta program akan manfaat dan

pentingnya pemberian MP-ASI.

2. Pelayanan yang optimal, pemberian MP-ASI yang baik dari segi kualitas

maupun kuantitas, harus diberikan kepada bayi sebagai sumber utama asupan

energi dan zat gizi setelah usia 6 bulan bersama-sama dengan pemberian ASI.

33
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, 2006, prosedur penelitian suatu pendekatan prektik. Jakarta: Rhineka
Cipta
Azwar S, MA, Drs. 2002. Sikap Manusia Teori dan pengukurannya, Edisi ke 2,
Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Depkes RI. 2007. Buku Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI. Jakarta:
Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat
________. 2007. Buku Pedoman Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit
Diare. Jakarta: Ditjen PPM dan PL
________. 2007. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta: Ditjen PPM
dan PL
Firmansyah A dkk.2005. Modul Pelatihan Tata Laksana Diare pada Anak.
Jakarta: Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia
Mansjoer, A., Suprohaita., Wardhani WI., Setiowulan, W. 2000. Kapita Selekta
Kedokteran Jilid 2 “Gastroenterologi Anak”. Jakarta: Media
Aesculapius.
Muchtadi, D. 2004. Gizi untuk bayi: ASI, Susu Formula dan Makanan Tambahan,
Pustaka Harapan, Jakarta.

Notoatmojo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka


Cipta
Pediatri D. 2008. Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI Dini Dengan
Insiden Diare Pada Bayi Usia 1-4 Bulan (Karya Ilmiah). Fakultas
Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Saryono, M.D.A. 2003. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Praktek Ibu
dalam melaksanakan Stimulasi Bermain pada Bayi di wilayah kerja
Puskesmas Umbul Harjo I Yogyakarta. Jurnal Mandala of Health.
Vol.2. No.2. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto.
Soebagyo B. 2008. Diare Akut pada Anak. Surakarta: Universitas Sebelas Maret
Press.

Wahid Iqbal. 2007. Pengantar Riset Keperawatan Komunitas, Jakarta: CV


Sagung Seto.
WHO.2009. Diare dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit
Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten
Kota. Jakarta: WHO Indonesia.
Widodo, R. 2008. Pemberian Makanan, Suplemen dan obat pada Anak. Jakarta:
EGC.
Wulan K. 2009. Hubungan antara Pemberian MP-ASI dengan Kejadian Diare
pada Bayi Usia 0-6 Bulan (Studi Di Desa Gemarang Kecamatan
Gemarang Kabupaten Madiun) Tahun 2009. STIKES