Anda di halaman 1dari 6

Persiapan operasi

EVALUASI DAN PERSIAPAN PRE-OPERATIF

Evaluasi yang lengkap sebelum operasi biasanya meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik
yang dilengkapi dengan data labotarium yang meliputi :

a) Rontgen dada
Di gunakan untuk menemukan bila terjadi pembesaran jantung, kongesti
pembuluh pulmoner, atau efusi pleura.
b) Elektrokardiogram (EKG)
c) Urinalisis untuk memeriksa glukosa dan keton dalam urine.
d) Pemeriksaan darah lengkap, serum elektrolit, urea nitrogen, kadar gula darah dan
keton.
e) Analisa gas darah pemeriksaan keseimbangaan asam basa.

Selain itu, pemeriksaan fruktosamin diperlukan untuk memeriksa kadar gula darah 2-3
minggu sebelumya atau HbA1C untuk memeriksa kadar gula darah 2-3 bulan sebelumnya.
Evaluasi preoperative akan menentukan persiapan pasien dalam operasi, prinsip dasarnya
adalah sebagai berikut :

a) Hidrasi

Intake oral yang buruk terutama pada nyeri perut, muntah, deuresis osmotic
karena glukosuria dapat menyebabkan dehidrasi, Jika terdapat dehidrasi, harus
secepatnya dikoreksi. Normal dan separuh saline merupakan pilihan cairan intravena
karena kadar gula darah yang meningkat.

b) Insulin

Infeksi dan stress dapat meningkatkan kebutuhan insulin, dimana dapat terjadi
hiperglikemia. Insulin dapat diberikan dalam dosis kecil pada keadaan ini (10 unit
intramuscular) setiap jam atau melalui pompa infus. Kadar gula darah dan urine serta
keton setiap jam diukur untuk memonitor terapi. Koreksi asam basa harus dilakukan
berdasarkan tes analisa gas darah. Antibiotik sebaiknya dimulai saat hasil
pengambilan kultur didapat.

PENATALAKSANAAN INTRA-OPERATIF

- Efek Anastesi dan pembedahan dengan Insulin dan Metabolisme Glukosa.

Anastesi pada orang sehat tidak memberi perubahan kadar insulin plasma yang
signifikan dengan pemberian halotan, metoksifluran, thiopental-nitrrous oksigen, dan spinal
anestesi. Kadar gula dapat meningkat selama pemberian halotan, metoksifluran, dan
thiopental-nitrous oksigen, sehingga rasio insulin plasma terhadap gula darah menurun. Rasio
insulin terhadap gula darah telah dilaporkan tidak mengalami perubahan dengan pemakaian
enfluran dan anestesi spinal. Secara keseluruhan, anestesi sedikit mempengaruhi efek
metabolic daripada pembedahan itu sendiri. Muscle relaksan dan pemberian premedikasi
sudah umum digunakan.

- Tehnik Anestesi

1. Regional Anestesi

 Bunascan(Bupivacaine Hcl 0,5%)

2. General Anestesi

 Premedikasi : atropine ( kecuali IHD ) dan benzodiasepin


 Induksi : Penthotal dan atracurium
 Maintenance : N2 O, O2 , atracurium dan isoflurane

- Monitoring pasien

Penambahan alat perekam elektrokardiogram, tekanan darah, suhu, dan stethoscope


prekordial, perbandingan guls darah dan urine harus dimonitoring dengan cepat. Gula darah
dapat di perkirakan dengan mudah pada ruang operasi dengan menggunakan Dextrostix,
dimana akan menentukan rencana terapi .
Selama pembedahan kadar glukosa harus di tetapkan :

1. Sebelum induksi anestesi

2. 30 menit sesudah induksi

3. Setiap 45 menit selama tindakan

4. Pada akhir tindakan

5. 30 menit sesudah sadar

6. Setiap jam selama 6 jam atau sampai boleh makan

Pemeriksaan glukosa lebih sering ( tiap 30 menit ) bila glukosa >200mg/dl dan tiap 15
menit jika ,80 mg/dl selama anastesi.

Penggunaan Obat anestesi lokal

Obat anestesi lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf. Obat anestesi lokal bekerja secara
bolak-balik penerusan impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal – gatal atau rasa dingin.

Obat anestesi lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya
terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua organ
dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal mempunyai
efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua
jaringan otot.

Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi lokal:

1. Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen


2. Batas keamanan harus lebar
3. Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada membran
mukosa
4. Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu yang yang
cukup lama
5. Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga stabil terhadap pemanasan.
Secara kimia, anestesi lokal digolongkan sebagai berikut :

1. Senyawa ester

Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat anestesi lokal sebab pada degradasi dan
inaktivasi di dalam tubuh, gugus tersebut akan dihidrolisis di plasma. Karena itu
golongan ester umumnya kurang stabil dan mudah mengalami metabolisme
dibandingkan golongan amida. Menghasilkan PABA, PABA bersifat alergen sehingga
jgn diberikan kepada pasien yang mempunyai riwayat alergi. Contohnya: tetrakain,
benzokain, kokain, prokain dengan prokain sebagai prototip.

2. Senyawa amida

Contohnya senyawa amida adalah dibukain, lidokain, mepivakain dan prilokain.

3. Lainnya

Contohnya fenol, benzilalkohol, etilklorida, cryofluoran.

Anestesi lokal sering kali digunakan secara parenteral (injeksi) pada pembedahan
kecil dimana anestesi umum tidak perlu atau tidak diinginkan.

Jenis anestesi lokal dalam bentuk parenteral yang paling banyak digunakan adalah:

1. Anestesi permukaan.

Sebagai suntikan banyak digunakan sebagai penghilang rasa oleh dokter gigi untuk
mencabut geraham atau oleh dokter keluarga untuk pembedahan kecil seperti
menjahit luka di kulit. Sediaan ini aman dan pada kadar yang tepat tidak akan
mengganggu proses penyembuhan luka.

2. Anestesi Infiltrasi.

Tujuannya untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi pada atau sekitar
jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya rasa di kulit dan
jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya daerah kecil di kulit atau gusi (pada
pencabutan gigi).
3. Anestesi Blok

Cara ini dapat digunakan pada tindakan pembedahan maupun untuk tujuan diagnostik
dan terapi.

4. Anestesi Spinal

Obat disuntikkan di tulang punggung dan diperoleh pembiusan dari kaki sampai
tulang dada hanya dalam beberapa menit. Anestesi spinal ini bermanfaat untuk
operasi perut bagian bawah, perineum atau tungkai bawah.

5. Anestesi Epidural

Anestesi epidural (blokade subarakhnoid atau intratekal) disuntikkan di ruang


epidural yakni ruang antara kedua selaput keras dari sumsum belakang.

6. Anestesi Kaudal

Anestesi kaudal adalah bentuk anestesi epidural yang disuntikkan melalui tempat
yang berbeda yaitu ke dalam kanalis sakralis melalui hiatus skralis.

Efek sampingnya adalah akibat dari efek depresi terhadap SSP dan efek kardiodepresifnya
(menekan fungsi jantung) dengan gejala penghambatan penapasan dan sirkulasi darah.
Anestesi lokal dapat pula mengakibatkan reaksi hipersensitivitas.

Penggunaan obat anestesi lokal pada debridement ulkus diabetikum

Bunascan yang mengandung Bupivacaine HCL heavy 0,5% mengikat natrium channel dan
memblokir masuknya natrium ke dalam sel syaraf yang mencegah terjadinya depolarisasi.
Pada sel syaraf yang lebih tipis dan tidak bermielinisasi efek bunascan dapat lebih bekerja
dibandingkan dengan sel syaraf yang tebal dan bermielinisasi.

- Indikasi Bunascan

Bunascan digunakan untuk lokal anestesi yaitu infiltrasi, epidural, spinal dan intratekal.
Sering untuk diinjeksi pada tempat luka operasi untuk menghilangkan rasa sakit sampai 20
jam setelah pembedahan. Terkadang, bupivacaine digabungkan dengan adrenalin untuk
memperpanjang durasi pembiusan, untuk epidural analgesi ditambah dengan fentanyl.
Lamanya anestesi tergantung dari kecepatan obat meninggalkan cairan serebrospinal.
Pemakaian bupivacaine pada anestesi spinal tidak menyebabkan perubahan rasio insulin
terhadap gula darah. Berguna jika terjadi regurgitasi, kemungkinan aspirasi dan kesulitan
dalam melakukan intubasi.

- Kontraindikasi Bunascan

Kontra indikasi bunascan adalah IV regional anaesthesia (IVRA) karena berpotensi terjadinya
kegagalan di torniket dan absorpsi sistemik obat.

- Efek samping Bunascan

Dibandingkan dengan anestesi lokal lain, bupivacaine bersifat kardiotoksik. Tetapi, hal
tersebut jarang ditemukan apabila pemakaian dengan benar. Efek sistemik oleh bupivacaine
mengenai system saraf pusat dan kardiovascular. Efek pada SSP pada dosis yangrendah,
sedangkan efek di jantung ditemukan pada penggunaan dosis yang lebih tinggi walaupun
kolaps kardiovaskular dapat terjadi di konsentrasi yang rendah. Efek pada SSP berupa
eksitasi SSP yaitu gelisah, tinnitus, tremor, penglihatan menurun, kejang yang diikuti depresi
(penurunan kesadaran, apnea). Efek kardiovaskular adalah hipotensi, bradikardi dan aritmia
dan gagal jantung yang dapat mengakibatkan hipoksemia sekunder dan menjadi depresi
pernapasan.