Anda di halaman 1dari 7

TUGAS ILMU LINGKUNGAN

MASALAH EKOSISTEM DUNIA BESERTA CARA


PENANGGULANGANNYA

DISUSUN OLEH :

NAMA : ROSA MEILINDA


NIM : C1B016046
PRODI : ILMU TANAH

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2019
Ekosistem adalah salah satu unit dasar dari ilmu ekologi. Ekologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang interaksi yang hidup dengan lingkungannya. Ekosistem saling berkaitan
dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, suatu proses ekosistem melibatkan komponen
biotik (makhluk hidup) seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan mikroorganisme
sedangkan komponen abiotik (tidak hidup) meliputi pH, oksigen, angin, suhu, curah hujan,dll.
Ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu ekosistem darat dan ekosistem air :
1. Ekosistem Darat
 Hutan Hujan Tropis
Ekosistem hutan hujan tropis merupakan ekosistem yang berada di hutan dan
memiliki keragaman organisme yang tinggi. Hutan hujan tropis terdiridari
kumpulan berbagai jenis pepohonan dan berbagai macam tanaman yang
membentuk sebuah bioma hutan dengan suhu yang lembab, hangat, dan curah
hujan yang tinggi. Hutan hujan tropis hanya terdapat di wilayah Asia Tenggara
khususnya di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kemudian di sekitar
wilayah Afrika khususnya di Negara Kongo, serta pada wilayah lembah sungai
Amazon yang meliputi beberapa Negara seperti Brazil, Kolombia, Venezuela, dan
Bolivia.
 Gurun
Ekosistem gurun adalah suatu ekosistem yang ada di tengah gurun yang memiliki
karakteristik khusus seperti kondisi alamnya berupa batu karang dan gunung
pasir, curah hujan yang sangat rendah sekitar 25 cm/thn, iklim yang ekstrim,
tingkat penguapan tinggi, tumbuhannya biasanya berdaun kecil dan akar panjang
serta hewan yang hidup di gurun adalah hewan yang memiliki adaptasi yang
tinggi.
 Taiga dan Tundra
Taiga dengan curah hujan 30 – 85 mm/thn. Letak geografisnya antara daerah
subtropika dan kutub. Meliputi wilayah Skandinavia, Rusia, Siberia, Alaska, dan
Kanada. Tanaman yang dominan seperti pinus dan cemara, yang dimana tanaman
ini selalu hijau sepanjang tahun.
Tundra memiliki curah hujan 15 – 25 mm/thn. Terletak di belahan bumi utara dan
selatan, sekitar daerah lingkungan kutub. Hampir semua wilayahnya tertutup
salju. Tanaman yang rentan seperti sphagnum dan lumut kerak, rumput teki, dan
semak-semak pendek.
2. Ekosistem Air
Ekosistem air dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu air tawar dan air laut yang masing-
masing memiliki bioma dengan karakter berbeda.
 Ekosistem Air Tawar
Air tawar merupakan perairan yang memiliki konsentrasi garam yang rendah atau
kurang dari 1%. Bioma air tawar meliputi danau, sungai, dan rawa-rawa
 Ekosistem Air Laut
Air laut mendominasi permukaan bumi hingga 75%. Bioma air laut terdiri dari
lautan dan estuary. Lautan adalah ekosistem terbesar yang ada dengan
keanekaragaman hayati yang tinggi. Bioma estuari merupakan perairan payau
yang terbentuk akibat pertemuan air laut dengan air tawar.
Laut merupakan salah satu bagian penting bagi kehidupan, baik itu bagi flora dan fauna
tertentu, laut menjadi tempat berlangsungnya ekosistem. Sementara itu, bagi manusia, laut bisa
menjadi salah satu sumber mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Para nelayan
bisa mendapatkan keuntungan dari menangkap ikan di laut. Kalangan lainnya bisa mendapatkan
keuntungan dari membuka area wisata bertema laut. Karena pentingnya laut bagi banyak pihak,
semua kalangan harus memikirkan upaya penanggulangannya apabila terjadi pencemaran laut.
Salah satu permasalahan dunia yang menjadi tanggung jawab kita semua yakni masalah
kerusakan ekosistem lingkungan dimana hal ini apabila dibiarkan terus menerus akan
menyebabkan fungsi alam terganggu yang pada akhirnya merugikan makhluk hidup.
Berbagai aktivitas di daratan tersebut telah memberikan kontribusi yang sangat
besar terhadap terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan laut, yang pada akhirnya telah
menurunkan kualitas serta fungsi ekosistem laut. Ancaman itu bersumber sekitar 80% dari
aktivitas di daratan, sehingga telah menimbulkan masalah nutrient, air limbah (waste water),
sampah laut (marine litter), micro-plastics, dan emerging issues lainnya.
Ancaman kerusakan ekosistem di laut Indonesia dari waktu ke waktu semakin nyata dan
sulit dibendung. Ancaman tersebut, di antaranya berasal dari mikroplastik yang ada di dalam air
laut. Tak tanggung-tanggung, diperkirakan saat ini mikroplastik yang ada di air laut Indonesia
jumlahnya ada di kisaran 30 hingga 960 partikel/liter. Fakta tersebut diuraikan Peneliti Pusat
Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) M Reza Cordova
belum lama ini. Menurut dia, keberadaan mikroplastik di dalam air laut Indonesia, jumlahnya
sama dengan jumlah mikroplastik yang ditemukan di air laut Samudera Pasifik dan Laut
Mediterania.

Pencemaran Air Laut


Air laut merupakan tujuan akhir dari aliran sungai dan rawa. Air laut yang tidak
berpolusi, akan meningkatkan jumlah makhluk hidup yang ada di laut. Selain itu pantai sebagai
daratan terdekat dengan laut, menjadi salah satu penyebab laut mengalami pencemaran.
Pencemaran air laut terjadi akibat:

1. Pertambangan lepas pantai, yang mebuang limbah dan tumpahan minyak ke laut. Air dan
minyak adalah dua zat yang tidak bisa menyatu. Dengan adanya minyak yang tumpah ke
laut, akan menyebabkan populasi ikan akan mati. Hal ini terjadi akibat tidak adanya CO2
yang terserap ke laut akibat adanya minyak, sehingga terumbu karang tidak mampu
melakukan fotosisntesis, dan jumlah oksigen menjadi berkurang.
2. Pembuangan limbah pabrik ke laut, juga menyebabkan laut menjadi tercemar. Limbah
pabrik yang di buang ke laut mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, arsenic,
kromium, cadmium, seng, dan nikel. Semua bahan tersebut tidak dapat terurai, dan akan
menyatu kedalam air. Ikan yang berenang di sekitar daerah tercemar, akan mengandung
logam berat di dalamnya. Dan jika manusia memakan ikan yang tercemar secara terus
menerus, dapat menyebabkan banyak penyakit serius seperti kanker.
3. Sampah adalah salah satu bahan pencemar yang ada di darat maupun laut. Sampah yang
mencemari laut biasanya berasal dari pantai. Sampah yang berserakan di sekitar pantai,
akan terbawa ke laut oleh air pasang, sehingga laut menjadi kotor. Sampah yang tidak
dapat diurai seperti plastic dan karbon, dapat termakan oleh ikan, dan menyebabkan ikan
tersebut tidak sehat untuk dikonsumsi.
4. Pestisida adalah membunuh hama yang biasa dipakai untuk membunuh hama. Pestisida
bersifat racun dan dapat mengendap di dalam tubuh. Air laut yang terkontaminasi oleh
pestisda, akan diserap oleh ikan dan makhluk laut lainnya. Pestisida yang terserap, akan
mengendap di tubuh ikan, dan menyebabkan ikan tersebut menjadi beracun. Pestisida
dapat mencamari laut melalui air sungai yang telah tercemari pestisida, dan mengalir laut.
5. Terjadinya eutrofikasi. Eutrofikasi adalah sebuah kejadian dimana tanaman sejenis alga
tumbuh dengan cepat, dan mendominasi perairan. Akibatnya, kadar oksigen di dalam laut
menjadi menipis, karena alga membutuhkan oksigen untuk bernapas. Selain itu, akibat
pertumbuhan alga yang tidak normal, membuat ekosistem menjadi tidak seimbang, dan
membunuh hewan lain di sekitar perairan tersebut. Kejadian ini biasanya terjadi di sekitar
muara yang menjadi tempat bertemunya air tawar dan air laut.
6. Perubahan tingkat keasaman laut. Hal ini terjadi jika laut terlalu banyak menyerap CO2
tetapi sangat sedikit menghasilkan O2. Sehingga tingkat keasaman laut menjadi semakin
tinggi. Selain itu, bumi yang mulai memanas akibat adanya pemanasan global, membuat
laut tidak lagi mampu mengatur kondisi suhu. Makhluk hidup yang paling terkena
dampak dari perubahan keasaman laut adalah terumbu karang, serta ikan- ikan yang
bergantung hidup pada terumbu karang.
7. Kebisingan merupakan salah satu bagian dari pencemaran laut. Beberapa ikan memiliki
penglihatan yang buruk, dan bergantung sepenuhnya pada pendengaran, akan terganggu
dengan suara berisik dari kapal- kapal.
8. Penangkapan ikan secara berlebihan juga menyebabkan air laut menjadi tercemar.
Ekosistem yang sehat adalah ekosistem yang seimbang, dengan pola interaksi yang
sesuai. Jika sebuah spesies makhluk hidup punah, maka keseimbangan ekosistem manjadi
terancam, dan dapat merusak laut.

 Kerusakan Ekosistem Laut Akibat Dari Limbah Sampah Plastik


Foto : Vince Cinches / Greenpeace Filipina

Mengumpulkan sampah laut di Kepulauan Seribu, Jakarta yang dilakukan oleh Yayasan
Terumbu Karang Indonesia bersama masyarakat. Sumber: Yayasan Terumbu Karang
 Cara menanggulangi kerusakan ekosistem laut
1. Indonesia juga telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional untuk mengurangi limbah
plastik melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh semua pemangku kepentingan.
2. Indonesia juga melakukan inisiatif melalui komitmen 156 perusahaan besar untuk
mengurangi sampah plastik.
3. Indonesia telah menerapkan Program Penilaian Kinerja Lingkungan oleh Perusahaan
(Proper) yang telah menghasilkan pengurangan beban pencemaran dalam jumlah yang
signifikan. Sebanyak 437 perusahaan hijau telah melaporkan 8.474 kegiatan yang
didedikasikan untuk pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) target ke-14.
4. Melakukan penyuluhan terhadap masyarakat agar dapat merubah perilaku masyarakat
5. Melakukan pengelolaan sampah di daratan, pesisir dan perairan,
6. Diadakannya mekanisme pendanaan dan penguatan jaringan kerja sama kelembagaan dan
ditunjang oleh adanya riset dan inovasi teknologi.
7. Menyelenggarakan kegiatan yang aksi bersih pantai, sosialisasi dan pemberian
pemahaman kepada anak sekolah dan masyarakat. Untuk sosialisasi dikombinasikan
dengan seni tari kecak dan wayang samudera.