Anda di halaman 1dari 6

1 Apakah IAS 1 berlaku untuk penyusunan pada laporan keuangan konsolidasi, kuarter

atau semesteran?
Standar ini berlaku sama untuk semua entitas, termasuk yang menyajikan laporan
keuangan konsolidasi sesuai dengan IFRS 10 Laporan Keuangan Konsolidasian dan yang
menyajikan laporan keuangan tersendiri ini sesuai dengan IAS 27 Laporan Keuangan
Tersendiri.
Namun standar ini tidak diterapkan untuk struktur dan isi dari laporan keuangan interim
ringkas yang disusun sesuai dengan IAS 34 Laporan Keuangan Interim. Namun, untuk
Ketentuan Umum (Penyajian secara wajar dan kepatuhan terhadap IFRS, Kelangsungan
Usaha, Dasar Akrual, Material dan Agregasi, serta Saling hapus ) dalam IAS 1 juga berlaku
untuk laporan tersebut.
2 Apakah semua entitas yang menyusun laporan keuangan harus menerapkan IAS 1?
Standar ini lebih cocok untuk entitas profit oriented, termasuk badan usaha sektor
public (BUMN).
Misal perusahaan go public (Public Listed Company), entitas menguasai aset dalam
kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas
asuransi, pialang.
Jika entitas non profit di sektor swasta atau sektor publik menerapkan standar ini,
mereka mungkin perlu untuk mengubah deskripsi yang digunakan untuk pos tertentu
dalam laporan keuangan atau laporan keuangan itu sendiri.
Demikian pula, entitas yang tidak memiliki ekuitas sebagaimana didefinisikan dalam IAS
32 Instrumen Keuangan: Penyajian (misalnya beberapa perusahaan pengelola reksa
dana) dan entitas yang modal sahamnya bukan ekuitas (misalnya beberapa koperasi)
mungkin perlu menyesuaikan penyajian laporan keuangan anggota atau pemegang unit
penyertaan kepentingan.
Sebenarnya IFRS telah mengeluarkan IFRS SME “Small Medium Entity” atau di Indonesia
SAK ETAP untuk entitas "UKM”. Untuk Indonesia ada pula SAK Syariah
3 Seperti apa keadaan dari informasi material dalam laporan keuangan yang dapat
mempengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan?
Materialitas tergantung pada sifat atau besarnya informasi yang lalai, atau gabungan
keduanya. Sebuah entitas menilai apakah informasi, baik secara individual maupun
kombinasi dengan informasi lainnya, adalah material dalam konteks laporan
keuangannya secara keseluruhan.
Contohnya:
a) informasi mengenai pos, transaksi atau peristiwa lain yang material diungkapkan
dalam laporan keuangan menggunakan bahasa yang samar/ kabur atau tidak
jelas; missal XXX
b) pos, transaksi atau peristiwa lain yang berbeda digabungkan secara tidak tepat;
missal XXX
c) pos, transaksi atau peristiwa lain yang serupa tidak dipilah secara tepat; missal
XXX dan
d) informasi material yang disembunyikan oleh informasi tidak material sejauh
bahwa pengguna utama tidak dapat menentukan informasi apa yang material.
Misal: XXX
4 Bagaimana jika suatu perusahaan menerapkan standar akuntansi keuangan di
negaranya walaupun standar tersebut mengadopsi IFRS? apakah boleh menyatakan
mematuhi IFRS?
Disebutkan dalam IAS 1 paragraf 16 bahwa suatu entitas tidak boleh menyatakan
laporan keuangan sebagai kepatuhan terhadap IFRS kecuali mereka mematuhi semua
ketentuan IFRS.
Jika di Negara tersebut menggunakan Standar Akuntansi sendiri, walaupun mengadopsi
IFRS contohnya Indonesia, maka tidak boleh membuat pernyataan eksplisit terhadap
kepatuhan IFRS laporan keuangannya mematuhi IFRS. Apalagi SAK di Indonesia belum
semuanya full adoption atas IFRS maupun IAS.

https://www.ifrs.org/use-around-the-world/use-of-ifrs-standards-by-
jurisdiction/indonesia/#application
https://cdn.ifrs.org/-/media/feature/around-the-world/jurisdiction-profiles/indonesia-
ifrs-profile.pdf
5 Tadi dikatakan perusahaan dapat menyimpang dari suatu ketentuan IFRS, adakah
persyaratan yang dipenuhi agar diperbolehkan menyimpang?
Sebelum menyimpulkan perusahaan menyimpang dari suatu ketentuan IFRS,
manajemen harus menilai apakah kepatuhan terhadap ketentuan khusus dari suatu IFRS
akan memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan
keuangan yang diatur dalam Kerangka Konseptual.
Apakah dengan mematuhi ketentuan suatu IFRS, maka laporan keuangan menjadi tidak
menyajikan secara jujur atas transaksi, peristiwa dan kondisi lain sehingga akan
cenderung mempengaruhi keputusan ekonomi yang dibuat oleh pengguna laporan
keuangan.
Manajemen perlu mempertimbangkan:
a. alasan mengapa tujuan laporan keuangan tidak tercapai dalam keadaan tersebut;
dan
b. bagaimana perbandingan dengan entitas lain dengan kondisi yang sama namun
dapat mematuhi ketentuan IFRS. Jika entitas lain dengan kondisi yang sama
menerapkan ketentuan tersebut, maka akan muncul asumsi yang dapat
diperdebatkan bahwa kepatuhan terhadap persyaratan tersebut tidak akan
memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan
keuangan yang diatur dalam Kerangka Konseptual.
6 Adakah aturan tentang penilaian kemampuan entitas untuk mempertahankan
kelangsungan usahanya?
Dalam mempertimbangkan asumsi kelangsungan usaha, manajemen harus
memerhatikan semua informasi masa depan, paling sedikit dua belas bulan setelah akhir
periode pelaporan.
Tingkat pertimbangan tergantung pada fakta dari setiap kasus. Jika selama ini entitas
masih menghasilkan laba dan mempunyai akses ke sumber pembiayaan, maka dapat
disimpulkan bahwa kelangsungan usaha telah sesuai tanpa melalui analisis rinci.
Namun dalam kasus lain, manajemen perlu memerhatikan faktor yang memengaruhi
profitabilitas masa kini maupun masa yang akan datang serta solvabilitas, missal jadwal
pembayaran utang dan sumber potensial pembiayaan pengganti sebelum dapat
menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah sesuai.
Nantinya auditor akan mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk melajutkan
kelangsungan hidup untuk jangka waktu tidak lebih dari satu tahun setelah tanggal
laporan keuangan yang diaudit.
7 Bagaimana jika ada perlakuan pos/ akun yang ada di komponen utama laporan
keuangan namun tidak material?
Jika terdapat akun yang nilainya tidak material, tetapi merupakan komponen utama
laporan keuangan maka harus disajikan tersendiri.
Sedangkan untuk akun-akun yang nilainya tidak material, dan tidak merupakan
komponen utama, dapat digabungkan dalam pos tersendiri, namun harus dijelaskan
sifat dari unsur utamanya dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Akun yang berbeda tetapi mempunyai sifat atau fungsi yang sama dapat digabungkan
dalam satu pos jika saldo masing-masing akun tidak material.
Contoh: “Uang Muka” yang baru akan habis dibiayakan dalam jangka waktu lama
(panjang), “Aset Pajak Tangguhan” yang waktu pemulihannya lama dapat digabung
menjadi Aset Lain-lain.
8 Contoh saling hapus/ offsetting seperti apa? (Argo)
Contoh: suatu perusahaan mempunyai hutang dari PT ABD 400jt dan piutang atas PT
ABD 300jt. Perusahaan tidak boleh mencatat bahwa ia hanya memliki hutang PT ABD
sebesar 100jt, tetapi perusahaan harus mengakui Piutang PT ABD 300jt dan hutang PT
ABD 400jt”.
Beban bunga dan penghasilan bunga tidak boleh disalinghapuskan dan harus disajikan
terpisah, sedangkan keuntungan dan kerugian kurs disalinghapuskan.
9 Bisa dijelaskan mengenai periode pelaporan 52 minggu? Apakah ada dampak yg
berbeda dengan pelaporan tahunan?
Tahun fiskal dalam periode akuntansi biasanya adalah periode 12 bulan berturut-turut
yang dimulai pada bulan pertama dan berakhir pada hari terakhir bulan ke-12. Bulan
pertama kalender tidak harus Januari. Namun ada pula tahun fiskal 52-53 minggu, yang
berganti-ganti antara tahun 52 minggu dan tahun 53 minggu dimana tidak harus
berakhir pada hari terakhir dalam sebulan.

Salah satu metode yang digunakan dalam 52-53 minggu adalah Sabtu terdekat
akhir bulan. Dengan metode ini, tahun fiskal perusahaan didefinisikan sebagai hari
Sabtu (atau hari lain yang dipilih) yang jatuh paling dekat dengan hari terakhir bulan
akhir tahun fiskal. Misalnya, jika bulan akhir tahun fiskal adalah Agustus, akhir tahun
perusahaan dapat jatuh pada tanggal 28 Agustus hingga 3 September.
Salah satu manfaatnya adalah memberikan kepastian lebih dan memudahkan
dibandingkan dengan periode lain sehingga analisis data yang ilakukan manajemen
dapat lebih akurat dan komprehensif
Selain itu juga menghilangkan masalah umum dengan pelaporan kartu absen yang sering
digunakan oleh bisnis yang menggunakan pembayaran secara mingguan. Masalah
muncul ketika akhir minggu tidak sesuai dengan akhir bulan. Jadi jika perusahaan
mempertahankan biaya waktu setiap minggu namun akuntansi dan faktur klien
berdasarkan bulan kalender, periode tidak akan cocok. Ketika ini terjadi, jam yang dapat
ditagih harus dibawa ke bulan berikutnya, yang mengarah ke penagihan dan pengakuan
pendapatan yang ditangguhkan.
https://en.wikipedia.org/wiki/Accounting_period#52%E2%80%9353-week_fiscal_year
https://www.cfoedge.com/blog/financial-reporting/statement-preparation/52-53-week-fiscal-
year-consistent-time-period-comparisons/
10 Mengapa pajak tangguhan tidak boleh diklasifikasikan ke dalam aset lancer atau
liabilitas jangka pendek?
Pajak tangguhan berasal dari perbedaan beban yang dianggap antara manajemen
dengan fiskus. Ketika muncul suatu pajak tangguhan baik berupa aset maupun liabilitas,
tidak ada kepastian apakah di tahun depan aset atau liabilitas pajak tangguhan tersebut
dapat dikompensasikan sehingga tidak memenuhi syarat untuk masuk ke dalam aset
lancer atau liabilitas jangka pendek.
11 Mengapa dalam laporan posisi keuangan intangible assets diletakkan paling atas
sedangkan cash dan setara kas diletakkan paling bawah? Apakah kas dan setara kas
kurang likuid?
Dikatakan pada IAS 1 paragraph 60 bahwa Suatu entitas harus menyajikan aset lancar
dan tidak lancar dan liabilitas jangka pendek dan jangka panjang sebagai klasifikasi yang
terpisah dalam laporan posisi keuangan kecuali penyajian berdasarkan likuiditas
memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat diandalkan.
Untuk beberapa entitas, penyajian aset dan laibilitas berdasarkan urutan likuiditas
memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat diandalkan dibandingkan penyajian
berdasarkan lancar dan tidak lancar atau jangka pendek dan jangka panjang karena
entitas pada industri tersebut tidak menyediakan barang atau jasa selama siklus operasi
entitas yang dapat diidentifikasi secara jelas. Commented [ARWPA1]: Contoh perusahaan yang
menggunakan current/non dan likuiditas
Dalam Standar juga tidak mengatur susunan atau format penyajian pos-pos. Daftar ppos
pada penyajian minimum tadi hanya menjelaskan daftar pos-pos yang berbeda
berdasarkan sifat atau fungsinya untuk menjamin penyajian terpisah di dalam laporan
posisi keuangan. Sebagai tambahan:
a. suatu pos disajikan terpisah jika ukuran, sifat atau fungsi dari pos tersebut atau
agregasi pos-pos yang sama menyebabkan penyajian terpisah menjadi relevan
untuk memahami laporan posisi keuangan entitas; dan
penjelasan yang digunakan dan urutan dari pos-pos atau agregasi pos-pos yang sama
dapat diubah sesuai dengan sifat entitas dan transaksinya, untuk memberikan informasi
yang relevan dalam memahami posisi keuangan entitas. Sebagai contoh, lembaga
keuangan mungkin mengubah penjelasan di atas dalam rangka memberikan informasi
yang relevan mengenai operasi lembaga keuangan.
12 Mengapa aset harus dipisah current/ non?
b. Ketika entitas menyediakan barang atau jasa dalam siklus operasi yang dapat
diidentifikasi secara jelas, maka klasifikasi aset lancar dan tidak lancar serta liabilitas
jangka pendek dan jangka panjang dalam laporan posisi keuangan memberikan
informasi yang bermanfaat dengan membedakan aset neto yang digunakan secara
terus menerus sebagai modal kerja dari aset neto yang digunakan dalam operasi
entitas jangka panjang. Pengklasifikasian tersebut juga menunjukkan aset yang
diharapkan akan akan direalisasi dalam siklus operasi berjalan, dan liabilitas yang
akan jatuh tempo untuk penyelesaian pada periode yang sama.
13 Perusahaan seperti apa yang menggunakan format penyajian laoran posisi keuangan
menggunakan urutan likuiditas?
Untuk beberapa entitas, seperti lembaga keuangan, penyajian aset dan laibilitas
berdasarkan urutan likuiditas memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat
diandalkan dibandingkan penyajian berdasarkan lancar dan tidak lancar atau jangka
pendek dan jangka panjang karena entitas pada industri tersebut tidak menyediakan
barang atau jasa selama siklus operasi entitas yang dapat diidentifikasi secara jelas.
14 Bagaimana jika entitas tidak terbagi dalam modal saham, mengungkapkan informasi
yang setara?
Entitas yang modalnya tidak terbagi dalam saham, seperti persekutuan atau trust,
mengungkapkan informasi yang setara sesuai dengan paragraf 79 (a), yang
memperlihatkan perubahan selama suatu periode dari setiap jenis penyertaan, hak,
keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis penyertaan.
15 Contoh pos pendapatan komprehensif lain yang tidak akan dipindahkan kemudian ke
laporan laba rugi; dan akan dipindahkan kemudian ke laba atau rugi ketika kondisi
tertentu terpenuhi?
Bisa liat di lapkeu halaman 3, OCInya
• Tidak akan direklasifikasi lebih lanjut ke laba rugi;
– Surplus revaluasi aset tetap  direklasifikasi melalui saldo laba saat didepresiasi
atau ketika aset dijual
– Penyesuaian imbalan kerja manfaat pasti – keuntungan/kerugian aktuaria  tidak
direklasifkasi.
• Akan direklasifikasi lebih lanjut ke laba rugi ketika kondisi tertentu terpenuhi.
– Keuntungan/kerugian dari available for sale  jika dijual direklasifiksai ke laba rugi
– Cash flow hedge  keuntungan/kerugian yang efektif  kontrak berakhir  L/R
– Translasi mata uang asing dari anak perusahaan / cabang dengan mata uang
fungsional yang berbeda dengan induk / pusat
Bagian penghasilan komprehensif asosiasi  jika dijual direklasifikasi ke laba rugi.
16 Contoh kejadian/ kondisi yang dahulu masuk ke pos luar biasa dan bagaimana
perlakuannya jika menggunakan IAS 1?
– Contohnya jika dahulu kejadian kebakaran dicatat sebagai kerugian luar biasa pada
akun yang terbakar. Sekarang, jika terjadi kebakaran dan aset masih tersisa, maka
aset tersebut diturunkan nilainya (impairment). Jika aset tidak tersisa lagi, maka
dicatat sebagai kerugian di luar usaha pokok. Logika yang sama berlaku untuk
kejadian bencana alam seperti gempa bumi atau lain sebagainya.