Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS SENAM HIPERTENSI PADA

LANSIA DI BANJAR KAYANGAN

9
OLEH:
KELOMPOK VI
A10 C

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA BALI
DENPASAR
2019
1 133211749 I PUTU OKA WIJAYA KUSUMA

2 133211839 I KETUT GEDE ARYA MAHENDRA

3 163212550 NI KADEK AYU VIDIA SASMITA

4 163212533 A.A ANI SRI ANDEWI

5 163212534 A.A GEDE BAGUS WAHYUDI PUTRA

6 163212535 DEDY AGASTINA GATSU

7 163212536 DESAK AGUNG SASMITA PUTRI

8 163212537 DEWA GEDE AWIDIA WIDNYANA

9 163212538 I DEWA AYU BINTANG SRIDEWI

10 163212540 I KOMANG KRISNA

11 163212542 I PUTU SUARTAMA PUTRA

12 163212543 I WAYAN BUKI SUSANTO

13 163212544 I WAYAN GEDE KRISNA MAHENDRA

14 163212545 I WAYAN LENTARA YASA

15 163212546 KADEK ARI NOPITA DEWI

16 163212547 KADEK AYU KARLINA DEWI

17 163212548 KADEK DIAH LAKSMI DEWI

18 163212549 LUH PUTU AYU JULIA DEWI

19 163212551 NI KADEK DWI NOVI MIRAYANI

20 163212552 NI KADEK HITA KARLINA WINARTI

21 163212553 NI KADEK IDA AGUS TALIA DEWI

22 163212554 NI KADEK KAMAYANTI

23 163212555 NI KADEK NOVIA ARISTANTI

24 163212556 NI KADEK NOVITA SARI

25 163212557 NI KADEK PURWATI

26 163212558 NI KADEK WIDIASTUTI


LEMBAR PENGESAHANAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Meningkatnya penduduk lanjut usia dibutuhkan perhatian dari semua pihak
dalam mengantisipasi berbagai permasalahan yang ada. Penuaan penduduk
membawa berbagai implikasi baik dari aspek social, ekonomi, hukum, politik dan
terutama kesehatan (Komnas Lansia 2010).
Meningkatnya populasi lansia ini tidak dapat dipisahkan dari masalah
kesehatan yang terjadi pada lansia, menurunnya fungsi organ memicu terjadinya
berbagai penyakit degeneratif (Azizah, 2011). Penyakit degeneratif pada lansia ini
jika tidak ditangani dengan baik maka akan menambah beban finansial negara yang
tidak sedikit dan akan menurunkan kualitas hidup lansia karena meningkatkan
angka morbiditas bahkan dapat menyebabkan kematian (Depkes RI, 2013).
WHO dan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan
lanjut usia pada BAB 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia
permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang
berangsur – angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif., merupakan proses
menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar
tubuh yang berakhir dengan kematian.
Prevalensi hipertensi di dunia diperkirakan sebesar 1 milyar jiwa dan hampir
7,1 juta kematian setiap tahunnya akibat hipertensi, atau sekitar 13% dari total
kematian (Gusmira, 2012). Prevalensi hipertensi di Indonesia untuk penduduk
berumur diatas 25 tahun adalah 8,3%, dengan prevalensi laki-laki sebesar 12,2%
dan perempuan 15,5%.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Depkes (Riskesdas) 2013, sekitar
76% kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil
pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi
hipertensi di Indonesia sebesar 31,7% (Depkes RI, 2013). Hipertensi seringkali
ditemukan pada lansia. Dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan
kesehatan lanjut usia yang dilaksanakan Komnas Lansia di 10 Provinsi tahun 2012,
diketahui bahwa penyakit terbanyak yang diderita lansia adalah penyakit sendi
(52,3%) dan Hipertensi (38,8%), penyakit tersebut merupakan penyebab utama
disabilitas pada lansia (Kemenkes RI, 2013).
Berdasarkan data dari Puskesmas 3 Denpasar Utara dan kader didapatkan
jumlah usia pertengahan (middle age) di Br. Kayangan berjumlah 49 orang dan
jumal lansia yang berumur diatas 60 tahun sebanyak 49 orang. Data lansia yang
terdata selama 2 bulan terakhir menunjukan adanya peningkatan 1 lansia yang
mengalami hipertensi.
Olahraga seperti senam hipertensi mampu mendorong jantung bekerja secara
optimal, dimana olahraga mampu meningkatkan kebutuhan energi oleh sel,
jaringan dan organ tubuh, dimana akibatnya dapat meningkatkan aliran balik vena
sehingga menyebabkan volume sekuncup yang akan langsung meningkatkan curah
jantung sehingga menyebabkan tekanan darah arteri meningkat, setelah tekanan
darah arteri meningkat akan terlebih dahulu, dampak dari fase ini mampu
menurunkan aktivitas pernafasan dan otot rangka yang menyebabkan aktivitas
saraf simpatis menurun, setelah itu akan menyebabkan kecepatan denyut jantung
menurun, volume sekuncup menurun, vasodilatasi arteriol vena, karena menurunan
ini mengakibatkan penurunan curah jantung dan penurunan resistensi perifer total,
sehingga terjadinya penurunan tekanan darah (Sherwood, 2005).
Hubungan senam hipertensi terhadap pengendalian tekanan darah lansia
sebagaimana disimpulkan dalam penelitian Wahyuni (2015). Penelitian
menunjukkan terjadinya perbaikan tekanan darah pada lansia namun tidak
mencapai taraf signifikansi yang diinginkan. Tidak tercapinya perbaikan tekanan
darah yang diinginkan disebabkan adanya faktor perancu yang berhubungan
dengan tekanan darah lansia antara lain pola makan, stress, aktivitas fisik, genetik
serta farmakologi dalam penelitian yang tidak dapat dikendalikan. Senam
hipertensi merupakan olah raga yang salah satunya bertujuan untuk meningkatkan
aliran darah dan pasokan oksigen kedalam otot-otot dan rangka yang aktif
khususnya terhadap otot jantung. Mahardani (2010) mengatakan dengan senam
atau berolah raga kebutuhan oksigen dalam sel akan meningkat untuk proses
pembentukan energi, sehingga terjadi peningkatan denyut jantung, sehingga curah
jantung dan isi sekuncup bertambah. Dengan demikian tekanan darah akan
meningkat. Setelah berisitirahat pembuluh darah akan berdilatasi atau meregang,
dan aliran darah akan turun sementara waktu, sekitar 30-120 menit kemudian akan
kembali pada tekanan darah sebelum senam. Jika melakukan olahraga secara rutin
dan terus menerus, maka penurunan tekanan darah akan berlangsung lebih lama
dan pembuluh darah akan lebih elastis. Mekanisnme penurunan tekanan darah
setelah berolah raga adalah karena olahraga dapat merilekskan pembuluhpembuluh
darah. Sehingga dengan melebarnya pembuluh darah tekanan darah akan turun.
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan suatu gangguan
pada pembuluh darah sehingga mengakibatkan suplasi oksigen dan nutrisi. Kondisi
ini menyebabkan tekanan darah diarteri meningkat dan jantung harus bekerja lebih
keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hipertensi merupakan penyakit yang
yang banyak tidak menimbulkan gelaja yang khas sehingga sering tidak
terdiagnosis dalam waktu yang lama. Menurut WHO batas tekanan darah yang
normal adalah 140/90 mmHg. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
hipertensi yaitu jeni kelamin, keturunan, merokok, obesitas, stress, alkohol, kurang
olahraga dan usia.
Hipertensi jika dibiarkan dapat berkembang menjadi gagal jantung kronik,
stroke serta pengeclan volume otak, sehingga kemampuan fungsi kognitif dan
intelektual seorang penderita hipertensi akan berkurang. Dampak dari hipertensi
dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan kematian mendadak.
Pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan kesehatan untuk mencegah
dan mengendalikan NCD (Non communicable diseases) dengan Permenkes No 30
tahun 2013 tentang pencantuman pormasi kandungan gula, garam dan lemak serta
pesan kesehatan untuk pangan olehan dan pangan siap saji guna menekan
konsumen dari penyakit tidak menular dengan multi sektoral yaitu mengurangi
faktor resiko yang di modifikasi melalui intervensi yang cost–effective,
mengembangkan dan memperkuat kegiatan pelayanan kesehatan berbasis
masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam
pengendalian faktor resiko NCD. Program NCD yang dilakukan seperti promosi
kesehatan melalui pos pembinaan terpadu pada masyarakat yaitumenjelaskan
perilaku hidup sehat, pengendalian terpadu pada faktor risiko NCD melalui dokter
keluarga dan puskesmas, rehabilitasi pada kasus NCD melalui homecare,
monitoring & controling.
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) merupakan salah satu terapi modalitas
yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mengalami masalah
keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi dan kelompok
digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi
saling bergantungan, saling membutuhkan, dan menjadi laboratorium tempat klien
berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku yang maladaptive.
Berdasarkan uraian diatas, proses penuaan atau lanjut usia merupakan suatu
hal yang alamiah dan tidak dapat dihentikan. Menurut data yang diperoleh jumlah
lanjut usia serta angka harapan hidup mengalami peningkatan yang cukup
signifikan setiap tahun nya. Untuk mencegah penurunan fungsional tubuh pada
lansia terutama tekanan darah tinggi dapat dilakukan dengan melakukan latihan
fisik. Akan tetapi tidak semua latihan fisik sesuai dengan lansia mengingat
kemampuan mobilisasi lansia terbatas. Oleh karena itu kelompok menggunakan
senam hipertensi sebagai intervensi dalam TAK untuk menurunkan tekanan darah
lansia hipertensi yang tinggal di Banjar Kayangan, Peguyangan Kangin terlebih
lagi di Banjar Kayangan belum pernah dilakukannya senam hipertensi selama
aktivitas lansia di Banjar Kayangan.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah dilakukan latihan senam hipertensi pada lansia, klien dapat
mempraktekan secara mandiri untuk mencegah peningkatan tekanan darah.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan latihan senam hipertensi pada lansia di Banjar Khayangan
Peguyangan Kangin :
1. Memahami tentang hipertensi
2. Mampu mempraktekkan latihan senam hipertensi pada lansia secara
mandiri.
BAB II
SISTEMATIKA KEGIATAN

2.1 Judul
Terapi Aktivitas Kelompok Senam Hipertensi
2.2 Tempat
Pelaksanaan TAK lansia dilakasanakan di Banjar Khayangan, Peguyangan
Kangin
2.3 Waktu
Hari / Tanggal : Senin, 25 November 2019
Waktu : 17.00 Wita – selesai
2.4 Sasaran
Peserta : Lansia Banjar Kayangan, Peguyangan Kangin dengan penyakit
Hipertensi.
Jumlah : 26 lansia
2.5 Metode
Dinamika Kelompok
2.6 Media
Sound system
Laptop
Leaflet
2.7 Denah
(Terlampir)
2.8 Pembagian Kelompok
1. Leader : Kadek Karlina Dewi
Tugas :
1) Memimpin jalannya terapi aktivitas kelompok.
2) Merencanakan, mengontrol dan menganjurkan jalnnya terapi.
3) Membuka acara.
4) Menyampaikan materi tujuan TAK
5) Memimpin diskusi kelompok
6) Menutup acara diskusi.
2. Co Leader : Ni Kadek Ida Agus Talia Dewi
Tugas :
1) Mendampingi leader
2) Mengambil posisi leader jika pasif
3) Mengarahkan kembali posisi pemimpin kepada leader
4) Menjadi motivator.
3. Fasilitator : Ni Kadek Diah Laksmi Dewi, Ni Kadek Kamayanti, Ni
Kadek Dwi Novi Mirayanti, Ni Kadek Purwati, Ni Kadek Vidia
Sasmita, I Putu Suartama Putra, Desak Agung Sasmita Putri.
Tugas :
1) Ikut serta dalam kegiatan kelompok.
2) Memberikan stimulus dan motivator pada anggota kelompok
untuk aktif mengikuti jalan terapi.
4. Obserbever : Ni Kadek Hita Karlina Winarti, Luh Putu Ayu Julia
Dewi
Tugas :
1) Mencatat serta mengamati respon klien
2) Mengawasi jalannya aktivitas kelompok dari mulai persiapan,
proses, dan penutup.
5. Ketua Kelompok : I Wayan Lentara Yasa
6. Penanggung Jawab TAK & Proposal TAK : I Dewa Ayu Bintang
Sridewi
7. Tim Kesehatan
1) AA Ani Sri Andewi
2) I Wayan Buki Susanto
3) Ni Kadek Novia Aristanti
4) Ni Kadek Widiastuti
8. Konsumsi
1) Ni Kadek Nopita Sari
2) Ni Kadek Ari Nopita Dewi
3) I Wayan Gede Krisna Mahendra
4) I Putu Oka Wijaya Kusuma
9. Perlengkapan
1) Dedy Agastina Gatsu
2) AA Gede Bagus Wahyudi Putra
3) I Komang Krisna
4) Dewa Gede Awidia Widnyana
10. Dokumentasi
I Ketut Gede Arya Mahendra
2.9 Rencana Pelaksanaan
1. Persiapan
1) Mengingatkan kontrak dengan klien.
2) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Proses
1) Orientasi
(1) Salam Terapeutik
(1 Salam dari terapis kepada klien
(2 Mahasiswa menggunakan name tag
(3 Leader memperkenalkan diri dan memperkenalkan anggota
kelompok yang lain.
(2) Evaluasi / validasi
(1 Menanyakan perasaan klien saat ini.
(2 Menanyakan keluhan klien saat ini
(3 Mengukur tekanan darah
(3) Kontrak
(1 Mahasiswa menjelaskan tujuan kegiatan
(2 Mahasiswa menjelaskan aturan kegiatan sebagai berikut :
(3 Jika ada klien yang meninggalkan kelompok, harus minta
izin ke mahasiswa
(4 Lama kegiatan 60 menit.
(5 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap Kerja
1) Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu senam
lansia dan pemeriksaan kesehatan.
2) Melakukan pemeriksaan kesehatan (tekanan darah).
3) Mendemostrasikan latihan senam hipertensi (pemanasan ,gerakan
inti,pendinginan)
4. Tahap Terminasi
1) Evaluasi
(1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah melakukan TAK.
(2) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
melakukan TAK.
2) Tindak Lanjut
(1) Pemeriksaan kesehatan ( Tekanan Darah)
(2) Kontrak yang akan datang
(3) Memberikan kewenangan kepada klian banjar untuk meneruskan
program rutin senam hipertensi.
BAB III

MATERI SENAM HIPERTENSI

3.1 Pengertian
Menurut Hidayat (2002) senam didefinisikan sebagai suatu latihan tubuh
yang dipilih dan dikonstruk dengan sengaja, dilakukan secara sadar dan terencana,
disusun secara sistematis dengan tujuan meningkatkan kesegaran jasmani,
mengembangkan keterampilan, dan menanamkan nilai-nilai mental spiritual.
Penelitian lain dikemukakan oleh Werner (2000) yang menyebutkan bahwa senam
adalah bentuk latihan tubuh pada lantai dan pada alat yang dirancang untuk
melungkatkan daya tahan, kekuatan, kelentukan, kelincahan, koordinasi serta
kontrol tubuh. Lansia atau usia tua adalah periode dimana organisme telah
mancapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan
kemunduran sejalan dengan waktu (Ahmadi, 2009).
Senam lansia adalah olahraga ringan dan mudah dilakukan, tidak
memberatkan yang diterapkan pada lansia. Aktifitas olahraga ini akan membantu
tubuh agar tetap bugar dan tetap segar karena melatih tulang tetap kuat,
memdorong jantung bekerja optimal dan membantu menghilangkan radikal bebas
yang berkeliaran di dalam tubuh.

3.2 Jenis Senam Lansia


Jenis-jenis senam lansia yang biasa diterapkan, meliputi :
1. Senam kebugaran lansia
2. Senam otak
3. Senam osteoporosis
4. Senam hipertensi
5. Senam diabetes mellitus
6. Olahraga rekreatif/jalan santai.
3.3 Manfaat Olahraga Bagi Lansia
Semua senam dan aktifitas olahraga ringan tersebut sangat bermanfaat
untuk menghambat proses degeneratif/penuaan. Senam ini sangat dianjurkan
untuk mereka yang memasuki usia pralansia (45 thn) dan usia lansia (65 thn ke
atas). Senam lansia disamping memiliki dampak positif terhadap peningkatan
fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas dalam tubuh
manusia setelah latihan teratur.
Tingkat kebugaran dievaluasi dengan mengawasi kecepatan denyup
jantung waktu istirahath yaitu kecepatan denyut nadi sewaktu istirahat. Jadi
supaya lebih bugar, kncepatan denyut jantung sewaktu istirahat harus menurun
Dengan mengikuti senam lansia efek minimalya adalah lansia merasa berbahagia,
senantiasa bergembira, bisa tidur lebih nyenyak, pikiran tetap segar.
Manfaat dari olahraga bagi lanjut usia sebagai berikut :
1. Memperlancar proses degenerasi karena perubahan usia
2. Mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmani dalam kehidupan
(Adaptasi)
3. Funsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya
terhadap bertambahnya tuntutan, misalnya sakit. Sebagai rehabilitas pada
lanjut usia terjadi penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut
jantung maksimal, toleransi latihan, kapasitas aerobic dan terjadinya
peningkatan lemak tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia
dapat mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan
dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan/ olahraga seperti senam
lansia dapat mengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti hipertensi,
diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan.

3.4 Tujuan Senam Lansia Dengan Hipertensi


1. Melebarkan pembuluh darah
2. Tahanan pembuluh darah menurun
3. Berkurangnya hormon yg memacu peningkatan tekanan darah
4. Menurunkan lemak / kolesterol yang tinggi.

3.5 Indikasi Senam Lansia


Indikasi dilakukan senam lansia dengan hipertensi adalah klien yang
menderita hipertensi

3.6 Kontraindikasi
1. Klien dengan fraktur ekstremitas bawah atau bawah
2. Klien dengan bedrest total

3.7 Permasalahan Dan Pemecahannya


Permasalahan yang biasanya terjadi yang merupakan hambatan dalam
melakukan senam lansia adalai rasa bosan. Perasaan ini wajar saja dan muncul
mungkin dikarenakan tidak adanya variasi senam. Untuk itu macam atau jenis
senam yang dilakukan sebaiknya selalu bervariasi/berganti-ganti. Misalnya pada
minggu pertama melakukan senam kebugaran dan minggu selanjutnya jenis
senam osteoporosis dan seterusnya dilakukan secara bergiliran. Musik juga
mempengaruhi, sehingga peserta senam lansia menyukai musik tertentu yang
memungkin tumbuh semangat para lansia ketika melakukan senam lansia.

3.8 Langkah-Langkah Senam Hipertensi


1. Tarik nafas, angkat tangan ke atas, hembuskan pelan-pelan dari mulut tangan
turunkan. Lakukan sebanyak 2x
2. Ayunkan kaki kanan kedepan sebanyak 8 kali. Lakukan 2x
3. Ayunkan kaki kiri kedepan sebanyak 8 kali. Lakukan 2x
4. Ayunkan kaki kanan kedepan sebanyak 2x kemudian kaki kiri sebanyak 2x
5. Jalan ditempat sebanyak 8 kali. Lakukan 2x
6. Letakkan tangan diperut tangan kanan ayunkan kesamping kanan dan kanan
ayunkan ke kanan. Lakukan secara bersamaan 8 kali. Lakukan 2x
7. Letakkan tangan kanan diperut tangan kiri ayunkan ke samping kiri dan kaki
kiri ayunkan ke kiri. Lakukan secara bersamaan sebanyak 8 kali. Lakukan 2x
8. Letakkan tangan diperut ayunkan kedua tangan kesamping dan kedua kaki
kesamping sebanyak 8 kali. Lakukan 2x
9. Jalan ditempat sebanyak 8 kali. Lakukan 2x
10. Letakkan tangan di perut ayunkan ke atas bersamaan dengan kaki ayunkan
kesampingsebanyak 8 kali. Lakukan 2x
11. Jalan di tempat sebanyak 8 kali. Lakukan 2x
12. Pada hitungan satu, ujung jari kaki menyentuh tanah pada hitungan ke dua
tumit menyentuh tanah, lakukan pada kaki kiri dan kanan sebanyak 8 kali.
Lakukan 2x
13. Tarik nafas, angkat tangan ke atas, hembuskan pelan-pelan dari mulut tangan
turunkan. Lakukan sebanyak 3x
U

DENAH

L
S
CO

K K K

F F

K K K

K K K
F
F

K K K

OBS

Keterangan :
L : Leader
Co : Co-Leader
K : Klien/Lansia
F : Fasilitator
Obs : Obsever
DAFTAR PUSTAKA

Azizah. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2013.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Gusmira, S. 2012. Evaluasi Penggunaan Antihipertensi Konvensional dan Kombinasi


Konvensional Bahan Alam pada Pasien Hipertensi di Puskesmas
Wilayah Depok Makara, Kesehatan. Vol. 16, NO. 2. 77-83.

Kemenkes RI. 2013. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Jakarta:
Kemenkes RI.

Komnas Lansia. 2010. Profil Penduduk Lanjut Usia 2009. Jakarta.

Mahardani, N.M.A.F. 2010. Pengaruh Senam Jantung Sehat terhadap Penurunan


Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di klub Jantung Sehat Klinik
Kardiovaskuler Rumah Sakit Hospital Cinere tahun 2010.

Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998


tentang Kesejahteraan Lanjut Usia 1998.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2013. Kementrian Kesehatan RI, Badan


Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
Jakarta.

Sherwood, L. 2005. Fisiologi kedokteran:dari Sel ke Sistem. Jakarta:ECG.

Sustrani L, Alam S, Hadibroto I. 2006. Stroke. Jakarta: Geamedia.

Wahyuni, S. 2015. Pengaruh Senam Hipertensi Terhadap Tekanan Darah ansia di


Posyandu Lansia Desa Krandegan Kabupaten Wonogiri, Skripsi,
Program Studi S-1 Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta,
Surakarta.