Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK FISIK

PERCOBAAN 6
PENENTUAN ENERGI KISI DAN SIKLUS BORN HABER MELALUI
PELARUTAN GARAM IONIK

Disusun oleh:
Nama : Novena Tesalonika Rasuh
NIM : 171444008
Shift/Kelompok : A1/01

Dosen Pengampu:
Johnsen Harta, M.Pd.

Asisten Dosen:
1. Yosua Agung Santoso
2. Ivonna Yuni Nugraheni

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA, YOGYAKARTA
SEMESTER GANJIL 2019/2020

0
PERCOBAAN 6
PENENTUAN ENERGI KISI DAN SIKLUS BORN HABER MELALUI
PELARUTAN GARAM IONIK

A. Judul Praktikum
Penentuan Energi Kisi Dan Siklus Born Haber Melalui Pelarutan Garam Ionik
B. Hari dan Tanggal Praktikum
Senin, 18 November 2019
C. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan energi kisi berbagai garam
anorganik dengan merancang dan menginterpretasikan Siklus Born Haber dengan
melibatkan energi kisi, entalpi pelarutan, dan entalpi hidrasi.
D. Landasan Teori
Kristal senyawa ionik cenderung bersifat stabil karena pengaruh entalpi
pembentukan dan energi kisi struktur ionik tersebut. Percobaan ini difokuskan pada
pengaruh energi kisi terhadap kristal senyawa ionik yang menggunakan siklus Born-
Haber. Energi kisi itu sendiri merupakan salah satu bentuk energi potensial yang
dibutuhkan untuk memecah struktur padat senyawa ionik menjadi gas. Definisi ini
menunjukkan reaksi akan selalu endotermis. Energi kisi dalam proses bolak balik
didefinisikan sebagai pelepasan energi saat ion-ion gas digabungkan membentuk
senyawa ionik yang padat. Definisi tersebut menunjukkan reaksi eksoterm (Petrucci et
al., 2007).
Energi kisi dapat dihitung dengan menerapkan Hukum Coulomb saat struktur
dan komposisi senyawa ioniknya diketahui. Selain itu, energi kisi dapat ditentukan
secara tidak langsung menggunakan siklus Born-Haber. Energi kisi yang semakin
besar menunjukkan sifat senyawa ionik yang semakin stabil. Kestabilan senyawa ionik
yang semakin besar menurunkan sifat kelarutannya (Asi, 2019).
Energi kisi dalam kristal ionik memiliki perbedaan dengan energi ikat yang
dimiliki oleh dua atom. Perbedaan tersebut karena energi kisi merupakan interaksi
lebih dari dua ion yang membentuk molekul ionik. Energi ikat merupakan energi yang
diberikan pada kristal untuk memisahkan komponennya menjadi atom bebas yang
netral pada jarak tak terhingga dengan konfigurasi elektron yang sama. Untuk energi
kisi pada kristal ionik merupakan energi yang dibutuhkan kristal untuk memisahkan
ion-ionnya menjadi ion bebas pada jarak tak terhingga (Kardiawarman, 2011).
Adapun entalpi kisi yang merupakan kekuatan gaya yang digunakan antara ion-
ion dalam kristal senyawa ionik. Semakin tinggi entalpi kisi tersebut, maka gayanya

1
akan semakin besar. Interaksi ini hanya dapat dihancurkan saat ion-ion tersebut dalam
fase gas yang dapat terurai dan terpisah pada jarak yang cukup jauh. Hal tersebut dapat
menyebabkan interaksi ionik didalamnya terabaikan (Clark, 2019).
Siklus Born-Haber memiliki beberapa konsep penting yang dapat digunakan
untuk menentukan energi kisi kristal ionik, yaitu energi ionisasi, afinitas elektron,
disosiasi energi, energi sublimasi, panas pembentukan, dan Hukum Hess. Percobaan
ini difokuskan pada Hukum Hess yang menyatakan perubahan energi secara
keseluruhan dari proses yang dapat ditentukan melalui pembagian beberapa tahapan
proses dengan penambahan energi di setiap tahap (Suzuki, 2005).
E. Alat dan Bahan
Alat :
a. Tabung reaksi dan rak
b. Pipet tetes
c. Pipet ukur
d. Batang pengaduk
e. Spatula
f. Gelas kimia 100 mL
g. Kalorimeter cangkir kopi
h. Termometer
i. Neraca
Bahan :
a. Akuades
b. NH4NO3
c. KCl
d. BaCl2
e. FeCl3

F. Prosedur Kerja
D1. Prediksi Kelarutan Beberapa Garam Anorganik

D2. Penentuan Energi Kisi Garam Ionik melalui Siklus Born Haber

2
G. Data Pengamatan
Tabel 1. Prediksi Kelarutan Beberapa Garam Anorganik
No. Jenis Garam Kelarutan (mudah/sukar larut)
1. NH4NO3 Paling cepat larut (1)
2. BaCl2 Larut (3)
3. KCl Cepat larut (2)
4. FeCl3 Larut, butuh waktu lebih (4)

Tabel 2. Penentuan Energi Kisi Garam Ionik melalui Siklus Born Haber
Senyawa Massa Ti Tf ∆T Qreaks ∆Hreaksi Jenis
Ionik (g) (℃ ) (℃ ) (℃ ) (J) (kJ/mol) Reaksi
NH4NO3 0,5 28,4 27,9 0,5 105 + 16,94 Endoterm
BaCl2 0,5 28,4 28,0 0,4 84 + 42 Endoterm

3
KCl 0,5 27,9 27,6 0,3 63 + 9,4 Endoterm
FeCl3 0,5 27,9 28,1 0,2 42 - 23,34 Eksoterm

H. Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan energi kisi pada beberapa garam
ionik melalui siklus Born-Haber dengan menggunakan entalpi kelarutan dan entalpi
hidrasi. Penentuan energi kisi ini dilakukan pada beberapa garam ionik, yaitu
amonium nitrat (NH4NO3), barium klorida (BaCl2), kalium klorida (KCl), dan besi
(III) klorida (FeCl3).
Percobaan ini dimulai dengan membuat kalorimeter. Kalorimeter itu sendiri
merupakan alat yang digunakan dalam mengukur perubahan kalor saat reaksi kimia
berlangsung. Prinsip kerja dari kalorimeter ini ialah mengukur perubahan suhu dari
suatu reaksi dan digunakan dala memperkirakan kapasitas panas/kalor untuk
menentukan kalor reaksi dengan baik (Rufiati, 2011). Dalam percobaan ini,
kalorimeter disusun menggunakan bahan styrofoam untuk mengisolasi kegiatan
transfer kalor dari sistem ke lingkungan ataupun sebaliknya (Kotz et al., 2011).
Kalorimeter disusun dari gelas kopi dan penutup styrofoam. Kalorimeter diisi dengan
akuades sebanyak 50 mL. Dalam percobaan ini, suhu akuades sebagai suhu awal
diukur menggunakan termometer. Lalu, garam-garam ionik dimasukkan ke dalam
kalorimeter dan langsung diukur suhunya menggunakan termometer untuk

menentukan entalpi reaksi atau dalam hal ini adalah entalpi pelarutan ( Hs).

4
Gambar 2. Kelarutan masing-masing garam dalam akuades (sebelum dan sesudah)
Garam-garam ionik dalam percobaan ini diberi perlakuan yang sama, yaitu
dilarutkan dalam akuades dengan jumlah pengadukan yang sama. Garam-garam ionik
ini merupakan garam-garam yang mudah larut, meskipun kecepatan larutnya yang
berbeda-beda. Setelah garam-garam tersebut dimasukkan dalam kalorimeter, suhu
kalorimeter diukur. Berdasarkan hasil percobaan, garam yang paling cepat larut ialah
amonium nitrat (NH4NO3) diikuti dengan garam kalium klorida (KCl). Posisi
selanjutnya ditempati oleh garam BaCl2, sedangkan posisi terakhir ditempati oleh besi
(III) klorida (FeCl3). Adapun suhu garam-garam ionik yang dilarutkan dalam

kalorimeter diperoleh hasilnya masing-masing, yaitu 27,9 untuk NH4NO3; 28

untuk BaCl2; 27,6 untuk KCl; dan 28,1 untuk FeCl3. Setiap garam menunjukkan

penurunan suhu yang menandakan reaksi endoterm, kecuali FeCl3 yang menunjukkan
kenaikan suhu yang menandakan reaksi eksoterm. Hasil pengamatan menunjukkan
entalpi pelarutan standar untuk garam NH4NO3, BaCl2, KCl, dan FeCl3 masing-masing
sebesar +16,94 kJ/mol, + 42 kJ/mol, +9,4 kJ/mol, dan -23,34 kJ/mol.

5
Gambar 2. Pengukuran suhu pelarutan garam dalam kalorimeter
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan energi kisi melalui siklus Born-

Haber. Dalam merancang siklus Born-Haber, entalpi pelarutan standar ( Hs) dan

entalpi hidrasi ( Hh) standar telah diketahui. Entalpi pelarutan standar telah

didapatkan melalui percobaan yang dilakukan untuk melarutkan beberapa garam ionik
tersebut. Untuk entalpi hidrasi standar, datanya merupakan data teoritis. Energi kisi
yang diperoleh ini menunjukkan kelarutan dari garam ionik tersebut. Semakin besar
energi kisinya, maka kristal ionik tersebut semakin stabil yang menyebabkan kristal
sulit terlarutkan. Percobaan ini menunjukkan nilai energi kisi masing-masing garam
yang kecil, sehingga dapat terlarut dengan mudah (Clark, 2019).
Hasil yang didapatkan dari percobaan dan teoritis digunakan untuk merancang
siklus Born-Haber. Siklus Born-Haber menunjukkan entalpi kisi yang diperoleh dari

penjumlahan entalpi pelarutan standar ( Hs) dengan entalpi hidrasi standar ( Hh).

Entalpi pelarutan standar dapat bernilai positif maupun negatif yang melarutkan kristal
ionik menjadi ion-ion aqueous, sedangkan entalpi hidrasi standar selalu bernilai
negatif karena melepas energi untuk mengubah ion-ion aqueous menjadi gas. Dalam
percobaan ini, entalpi hidrasi standar bernilai positif karena senyawa ionik yang
diubah dari gas menjadi aqueous. Dari data-data tersebut, entalpi pembentukan kisi
dapat ditentukan dengan tandanya negatif karena energi dilepas untuk membentuk

6
kristal ionik dari ion-ion gas. Oleh karena itu, energi kisi yang diperoleh bernilai
positif dan entalpi pembentukan kisi bernilai negatif (Clark, 2019).
Untuk garam amonium nitrat (NH4NO3) yang ditunjukkan pada Gambar 3,
entalpi pelarutan standar yang didapatkan dari hasil percobaan sebesar + 16,94 kJ/mol.
Untuk entalpi hidrasi standar teoritis, ion amonium sebesar - 307 kJ/mol dan ion nitrat
sebesar sebesar - 314 kJ/mol (Smith, 1977). Namun, entalpi hidrasi standar dalam
percobaan ini merupakan entalpi hidrasi dari aqueous menjadi gas. Oleh karena itu,
nilai entalpi hidrasi standar pada kedua ion bernilai positif. Data-data tersebut diolah
untuk menentukan energi kisi amonium nitrat dengan perolehannya sebesar + 654,88

kJ/mol. Untuk entalpi pembentukan kisi ( Hlat) dari amonium nitrat sebesar – 654,88

kJ/mol. Energi kisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan kristal amonium nitrat
dari ion-ion gasnya membutuhkan energi sebesar + 654,88 kJ/mol. Entalpi kisi
NH4NO3 secara teoritis sebesar – 657 kJ/mol (Zumdahl, 2013). Entalpi kisi amonium
nitrat hasil percobaan menunjukkan nilai yang tidak jauh berbeda dengan teoritisnya.

Gambar 3. Siklus Born-Haber NH4NO3


Untuk garam barium klorida (BaCl2) yang ditunjukkan pada gambar 4, entalpi
pelarutan standar yang didapatkan dari hasil percobaan sebesar + 42 kJ/mol. Untuk
entalpi hidrasi standar teoritis, ion barium sebesar – 1.309 kJ/mol dan ion klorida
sebesar sebesar - 378 kJ/mol (Smith, 1977). Namun, entalpi hidrasi standar dalam
percobaan ini merupakan entalpi hidrasi dari aqueous menjadi gas. Oleh karena itu,
nilai entalpi hidrasi standar pada kedua ion bernilai positif. Data-data tersebut diolah
untuk menentukan energi kisi barium klorida dengan perolehannya sebesar + 2.149
kJ/mol. Untuk entalpi pembentukan kisi (∆Hlat) dari barium klorida sebesar – 2.149
kJ/mol. Energi kisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan kristal barium klorida
dari ion-ion gasnya membutuhkan energi sebesar 2.149 kJ/mol. Entalpi kisi BaCl2

7
secara teoritis sebesar – 2.506 kJ/mol (Tattersall, 2003). Entalpi kisi barium klorida
hasil percobaan menunjukkan nilai yang cukup jauh dari teoritisnya yang dapat
disebakan oleh energi yang mungkin lepas saat dilakukan pengukuran menggunakan
kalorimeter.

Gambar 4. Siklus Born-Haber BaCl2


Untuk garam kalium klorida (KCl) yang ditunjukkan pada gambar 5, entalpi
pelarutan standar yang didapatkan dari hasil percobaan sebesar + 9,4 kJ/mol. Untuk
entalpi hidrasi standar teoritis, ion kalium sebesar – 320 kJ/mol dan ion klorida sebesar
sebesar - 378 kJ/mol (Smith, 1977). Namun, entalpi hidrasi standar dalam percobaan
ini merupakan entalpi hidrasi dari aqueous menjadi gas. Oleh karena itu, nilai entalpi
hidrasi standar pada kedua ion bernilai positif. Data-data tersebut diolah untuk
menentukan energi kisi kalium klorida dengan perolehannya sebesar + 716,8 kJ/mol.
Untuk entalpi pembentukan kisi (∆Hlat) dari kalium klorida sebesar – 716,8 kJ/mol.
Energi kisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan kristal kalium klorida dari ion-
ion gasnya membutuhkan energi sebesar 716,8 kJ/mol. Entalpi kisi KCl secara teoritis
sebesar – 719 kJ/mol (Weller et al., 2014). Entalpi kisi kalium klorida hasil percobaan
menunjukkan nilai mendekati nilai teoritisnya.

8
Gambar 5. Siklus Born-Haber KCl
Untuk garam besi (III) klorida (FeCl3) yang ditunjukkan pada gambar 6, entalpi
pelarutan standar yang didapatkan dari hasil percobaan sebesar – 23,34 kJ/mol.
Untuk entalpi hidrasi standar teoritis, ion besi (III) sebesar – 442 kJ/mol dan ion
klorida sebesar sebesar - 378 kJ/mol (Smith, 1977). Namun, entalpi hidrasi standar
dalam percobaan ini merupakan entalpi hidrasi dari aqueous menjadi gas. Oleh
karena itu, nilai entalpi hidrasi standar pada kedua ion bernilai positif. Data-data
tersebut diolah untuk menentukan energi kisi besi (III) klorida dengan perolehannya
sebesar +1.484,32 kJ/mol. Untuk entalpi pembentukan kisi (∆Hlat) dari besi (III)
klorida sebesar – 1.484,32 kJ/mol. Energi kisi tersebut menunjukkan bahwa
pembentukan kristal besi (III) klorida dari ion-ion gasnya membutuhkan energi
sebesar 1.484,32 kJ/mol. Entalpi kisi KCl secara teoritis sebesar – 2.631 kJ/mol
(Weller et al., 2014). Entalpi kisi besi (III) klorida hasil percobaan menunjukkan nilai
yang cukup jauh dari hasil teoritisnya.

Gambar 6. Siklus Born-Haber FeCl3

I. Pertanyaan Pascapraktek
1. Jelaskan apa saja faktor yang mempengaruhi kelarutan garam-garam ionik dalam
eksperimen ini!
Kelarutan garam-garam ionik dalam eksperimen ini dipengaruhi oleh faktor

entalpi kelarutan ( Hs) dan entalpi hidrasi ( Hh). Melalui kedua faktor tersebut,

siklus Born-Haber dapat dibuat untuk menentukan energi kisi. Faktor-faktor ini
menentukan energi kisi secara tidak langsung dengan menerapkan Hukum Hess.
Entalpi kelarutan menunjukkan besarnya perubahan energi yang dibutuhkan untuk
melarutkan senyawa ionik yang berlansung secara endoterm maupun eksoterm.

9
Entalpi hidrasi merupakan perubahan energi yang dibutuhkan untuk mengubah
ion-ion gas dilarutkan dalam air, sehingga nilainya selalu negatif. Percobaan ini
menunjukkan entalpi hidrasi bernilai positif karena prosesnya berlangsung
sebaliknya (aqueous menjadi gas). Kedua faktor ini mempengaruhi kelarutan
garam-garam ionik ditinjau dari energi kisi yang dihasilkan (Clark, 2010).
2. Dalam suatu siklus Born-Haber, bagaimana cara menentukan energi kisi suatu
garam ionik berdasarkan entalpi kelarutan dan hidrasi?
Energi kisi dapat ditentukan melalui siklus Born-Haber dengan bantuan
entalpi kelarutan dan entalpi hidrasi. Penentuan energi kisi didasari oleh Hukum
Hess. Energi kisi ditentukan melalui total entalpi kelarutan dan entalpi hidrasi ion-
ion pembentukan garam ionik tersebut. Entalpi kelarutan pada kation dan anion
yang bernilai sama dan positif dijumlahkan dengan entalpi hidrasi ion-ion garam
yang bernilai negatif. Oleh karena itu, energi kisi selalu bernilai negatif dalam
membentuk kristal ionik dari ion-ion gas (Clark, 2019).
J. Simpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa energi
kisi masing-masing garam ionik dapat ditentukan melalui siklus Born-Haber. Energi
kisi yang semakin kecil menyebabkan kristal ionik semakin mudah untuk larut.
Garam-garam ionik pada percobaan ini menunjukkan kelarutan dalam akuades dengan
mudah. Garam amonium nitrat memiliki – 654,88 kJ/mol, barium klorida memiliki –
2.149 kJ/mol, kalium klorida memiliki – 716,8 kJ/mol, dan besi (III) klorida memiliki
1.484,32 kJ/mol.

DAFTAR PUSTAKA

Asi, N. B. (2019). Energi Kisi Senyawa Ionik. Diambil dari www.chem.co.id diakses
tanggal 29 November 2019.
Clark, J. (2019). Lattice Enthalpies and Born Haber Cycles. Diambil dari
https://chemlibretext.org diakses tanggal 30 November 2019.
Clark, J. (2010). Enthalpies of Solution and Hydration. Diambil dari www.chemguide.co.uk
diakses tanggal 29 November 2019.

10
Kardiawarman. (2011). Fisika Zat Padat: Ikatan Kristal. Jakarta: Universitas Terbuka.
Kotz, J. C., Trechel, P. M., dan Townsend, J. (2011). Chemistry and Chemical Reactivity.
USA: Brooks/Cole.
Petrucci, R. H., Harwood, W. S., Herring, G. F., & Madura, J. D. (2007). General
Chemistry: Principles and Modern Applications. New Jersey: Pearson Prentice
Hall.
Rufiati, E. (2011). Penentuan Kalor Reaksi. Surabaya: Unair.
Smith, D. W. (1977). Ionic Hydration Enthalpies. Journal of Chemistry Education, 54(9),
540-542.
Suzuki, T. (2005). Free Energy and Self-Interacting Particles. Boston: Birkhauser.
Tattersall, K. (2003). Chemistry. England: Assessment and Qualifications Alliance.
Weller, M., Overton, T., Rourke, J., & Armstrong, F. (2014). Inorganic Chemistry. United
Kingdom: Oxford University Press.
Zumdahl, S. S. (2013). Chemical Principles. USA: Brooks/Cole Cengage Learning.

LAMPIRAN

1. Garam NH4NO3

Qreaksi = maair Cair


= 50 g 4,2 J/g 0,5
= 105 J

Massa
Mol NH4NO3 =
Mr
0,5 g
=
80,04 g/mol

11
= 0,0062 mol

105 J
reaksi =+
0,0062 mol
= + 16.935,48 J/mol
= + 16,94 kJ/mol
2. BaCl2

Qreaksi = maair Cair


= 50 g 4,2 J/g 0,4
= 84 J

Massa
Mol NH4NO3 =
Mr
0,5 g
=
244,28 g/mol
= 0,002 mol

84 J
reaksi =+
0,002 mol
= + 42.000 J/mol
= + 42 kJ/mol
3. Garam KCl

Qreaksi = maair Cair


= 50 g 4,2 J/g 0,3
= 63 J

Massa
Mol NH4NO3 =
Mr
0,5 g
=
74,55 g/mol
= 0,0067 mol

63 J
reaksi =+
0,0067 mol
= + 9.400 J/mol
= + 9,4 kJ/mol
4. Garam FeCl3

Qreaksi = maair Cair


= 50 g 4,2 J/g 0,2
= 42 J

Massa
Mol NH4NO3 =
Mr
0,5 g
=
270,33 g/mol
= 0,0018 mol
12
42 J
reaksi =+
0,0018 mol
= + 23.340 J/mol
= + 23,34 kJ/mol

13