Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan,
bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan bahan tersebut
yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan
pengalaman. Obat tradisional pada umumnya menggunakan bahan-bahan alam yang
lebih dikenal sebagai simplisia. Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan
sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain,
berupa bahan yang telah dikeringkan (Kayne, 2010).
Berbeda dengan obat-obatan modern, standar mutu untuk jamu didasarkan pada
bahan baku dan produk akhir yang pada umumnya belum memiliki baku standar yang
sesuai dengan persyaratan. Penggunaan obat tradisional secara luas oleh masyarakat
disebabkan selain karena alami, mudah didapat, serta harganya yang murah,
penggunaan obat ramuan tumbuhan secara tradisional ini tidak menghasilkan efek
samping yang ditimbulkan seperti yang sering terjadi pada pengobatan secara kimiawi,
selain itu masih banyak orang yang beranggapan bahwa penggunaan obat tradisional
lebih aman dibandingkan dengan obat sintesis.
Minat masyarakat yang besar terhadap produk jamu pegal linu sering kali
disalah gunakan produsen jamu yang nakal untuk menambahkan bahan kimia obat.
Pemakaian bahan kimia obat dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan fungsi
organ tubuh. Oleh karena itu dibutuhkan pengawasan oleh BPOM supaya tidak beredar
bahan kimia obat yang ditambahkan dalam jamu pegal linu (BPOM RI 2009). Badan
POM RI (2009) telah memberikan peringatan keras kepada produsen jamu dan
memerintahkan untuk menarik produk serta memusnahkannya, membatalkan nomor
pendaftaran produk bahkan mengajukannya ke Pengadilan. Namun demikian
berdasarkan pemantauan Badan POM RI, diantara produk-produk jamu yang
mengandung BKO masih ditemukan di toko jamu.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan praktikum analisis kandungan
serta kadar natrium dikolefenak pada sediaan obat dan jamu menggunakan metode
spektrofotometri UV-VIS.
1.2 Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui tahapan analisis dan
menentukan kadar natrium diklofenak obat dalam sediaan obat dan jamu dengan
metode tertentu.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapaun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui tahapan analisis dan
menentukan kadar natrium diklofenak dalam sediaan obat dan jamu menggunakan
spektrofotmetri UV-VIS.
1.4 Prinsip Spektrofotometri UV-VIS
Adapun prinsip kerja dari spektrofotometri yakni cahaya berasal dari lampu
deuterium maupun wolfarm yang bersifat polikromatis diteruskan melalui lensa
menuju ke monokromator kamudian akan mengubah cahaya polikromatis menjadi
cahaya monokromatis (tunggal) berkas-berkas cahaya dengan panjang tertentu
kemudian akan dilewatkan pada sampel yang mengandung suatu zat dalam konsentrasi
tertentu.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dengan analisis menggunakan
spektrofotometri UV-VIS maka didapatkan nilai absorbansi natrium diklofenak pada
konsentrasi 10 ppm (0,090) 20 ppm (0,047), 30 ppm (0,085), 40 ppm (0,126), 50 ppm
(0129) dan memiliki kadar 10 ppm (420%) 20 ppm (-5%), 30 ppm (123,3%), 40 ppm
(195%), 50 ppm (162%). Sedangkan pada jamu didapatkan nilai absorbansi pada
konsentrasi 10 ppm (0,064) 20 ppm (0,193), 30 ppm (0,070), 40 ppm (0,186), 50 ppm
(0,147) dan memiliki kadar 10 ppm (1,6%) 20 ppm (7,25%), 30 ppm (0,73%), 40 ppm
(3,45%), 50 ppm (1,98%).
5.2 Saran
5.2.1 Untuk Asisten
Sebaiknya asisten lebih memberikan pengetahuan atau penjelasan tentang
tahapan analisis menggunakan spektrofotometri UV-VIS pada praktikan saat
pelaksanaan praktikum.
5.2.2 Untuk Laboratorium
Sebaiknya alat-alat di dalam laboratorium lebih diperbanyak lagi untuk
mempermudah dan mengoptimalkan kelancaran praktikum.
5.2.3 Untuk Jurusan
Sebaiknya jurusan lebih mengupayakan kelengkapan alat dalam laboratorium.