Anda di halaman 1dari 10

A.

Biografi Singkat Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra dari Sultan Abu Al-Ma’ali Ahmad yang berkuasa pada
tahun 1640 M – 1650 M dan cucu dari Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir yang
berkuasa pada tahun 1605 M – 1640 M.
Ketika masih muda, dia digelari sebagai Pangeran Surya. Dan setelah ayah dan kakeknya wafat,
dia diangkat menjadi Sultan yang bergelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.
Sultan Ageng Tirtayasa memiliki hobi seni budaya yang sangat kuat hingga dapat memainkan
wayang wong dan permainan sejenis dedewaan. Selain itu, dia juga dikenal sebagai orang yang
taat beragama.

Pada masanya, Pendidikan Agama Islam mengalami kemajuan yang pesat dengan adanya
madrasah dan lembaga Islam lainnya, hingga mampu mendatangkan guru-guru dari Aceh, Arab,
dan wilayah-wilayah lainnya.
Masa Sultan Ageng Tirtayasa dikenal sebagai masa-masa puncak perlawanan pribumi dengan
VOC Belanda. Terjadi banyaknya perlawanan untuk membebaskan diri dari penjajahan Belanda.
Sultan Ageng Tirtayasa tetap bergerilya melawan VOC Belanda bersama rakyat hingga titik
darah penghabisan ketika Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap pada tahun 1683 oleh Belanda dan
diasingkan hingga akhir hayatnya.
Terdapat beberapa peristiwa yang terjadi semasa Sultan Ageng Tirtayasa menjabat. Wilayah
kekuasaannya menjadi salah satu yang disegani oleh para kolonial Belanda namun juga menjadi
sasaran wilayah yang ingin segera mereka hancurkan. Berikut peristiwa-peristiwa penting yang
terjadi pada masa kepemimpinannya.

Peristiwa Penting Masa Pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa


Sebagai Sultan yang dipercaya oleh rakyat, Sultan Ageng Tirtayasa memiliki karakter yang tegas
dan lebih cerdas dalam menjalankan roda pemerintahan. Keinginannya untuk mengembalikan
kejayaan Banten akhirnya terwujud dengan memajukan perdagangan Banten dan memperluas
daerah kekuasaan.
Serta mengusir Belanda dari kota Batavia. Karena kebijakannya itu, Banten akhirnya menjadi
kota pelabuhan dagang yang sangat penting di wilayah Selat Malaka dan peristiwa ini menjadi
peristiwa penting keberhasilan Sultan.
Selain itu, Sultan bercita-cita menjadikan Kerajaan Banten sebagai Kerajaan Islam terbesar di
Nusantara. Semua keberhasilan dan cita-citanya tidak disukai oleh VOC dan kemudian VOC
melakukan blokade.
Tetapi usaha Belanda tidak menuai hasil, bahkan Sultan Ageng Tirtayasa mampu menjadikan
Banten sebagai pelabuhan terbuka. Karena berulangkali usaha blokade gagal, Belanda akhirnya
melakukan strategi devide et impera (adu domba) untuk meruntuhkan kekuasaan Sultan Ageng
Titayasa.
Kejadian ini berlangsung ketika kedua anak Sultan Ageng Tirtayasa beranjak dewasa yang
bernama Sultan Haji dan Sultan Abdul Fathi. Belanda bertujuan menghasut Sultan Haji bahwa
kedudukan Sultan akan diserahkan kepada Sultan Abdul Fathi, adiknya.
Akhirnya terjadilah perang saudara dimana pada tahun 1681 Sultan Haji mengkudeta ayahnya
sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa. Selanjutnya Sultan Ageng Tirtayasa menyusun strategi untuk
mengepung Sultan Haji, dan membuat Sultan Haji terdesak.
Karena semakin terdesak, Sultan Haji meminta bantuan Belanda dan dilakukanlah penyerangan
terhadap benteng Tirtayasa hingga menyebabkan kerugian besar dari pihak Belanda. Perjuangan
tetap terus dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa hingga suatu saat dia terjebak dalam tipu
muslihat yang dibuat oleh Sultan Haji dan pihak Belanda.
Dia akhirnya ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Belanda hingga akhir hayatnya.
Perlawanan gerilyanya menjadi suatu peristiwa yang tak terlupakan dalam sejarah.
Melihat peristiwa-peristiwa penting dalam sejarahnya, peran Sultan Ageng Titayasa sangatlah
besar dalam memajukan roda pemerintahannya. Peran-peran yang dilakukan menjadi inspirasi
bagi Sultan-sultan yang menjabat pada masa-masa berikutnya.

Peran Sultan Ageng Tirtayasa

Dari biografi Sultan Ageng Tirtayasa, kita bisa mengetahui peran penting tokoh ini. Beliau
memiliki peran yang sangat besar dalam masa pemerintahannya. Peran-perannya terlihat dalam
bidang agama, politik, ekonomi, budaya, dan militer sebagai berikut :

1. Bidang Agama
Sultan Ageng Tirtayasa menaruh perhatian yang besar dalam perkembangan pendidikan Islam
yang ada di Kota Banten. Untuk memperkuat mental prajurit-prajurit Banten, dikirimkanlah
guru-guru dari wilayah Arab, Aceh, dan lain-lainnya. Seorang ulama besar yang dijadikan mufti
agung bernama Syekh Yusuf Tajul Khalwati dari Makassar dan merupakan guru besar Sultan.

2. Bidang Politik
Kesultanan Banten menjalankan politik bebas aktif, dimana membuka peluang bagi semua
kalangan yang hendak bekerjasama dengannya. Namun siapapun kalangan yang mengganggu
kedaulatan Kerajaan Banten dianggap tidak bersahabat. Kesultanan Banten memiliki hubungan
kerjasama yang baik dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, salah satunya dengan Kerajaan
Trunojoyo yang hendak memberontak kepada Kerajaan Mataram.

Biografi Soeharto

Sultan Ageng Tirtayasa juga memperluas pengaruh kekuasaannya hingga sampai ke daerah
Priangan, Cirebon, dan daerah-daerah sekitar Batavia. Tujuannya adalah mencegah beberapa
perluasan wilayah kerajaan lain seperti Mataram, serta mencegah perluasan wilayah kekuasaan
VOC yang dilakukan dengan memonopoli perdagangan secara paksa di Banten.

3. Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, Sultan Ageng Tirtayasa memajukan sistem pertanian yang unggul
dengan irigasi. Para penduduk pun relatif sejahtera dengan kebutuhan-kebutuhan pokok maupun
sekunder yang terpenuhi. Selain itu, Banten juga ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang baik
dalam negeri maupun luar negeri.

4. Bidang Budaya
Perkembangan budaya masyarakat Banten adalah dalam bidang arsitektur dan bangunan. Sultan
Ageng Tirtayasa melakukan transformasi budaya yang besar dengan cara pembaharuan fasilitas
fisik yang pada awalnya terbuat dari bahan kayu atau bambu menjadi pembuatan berbasis beton.
Dalam penerapannya, Sultan tidak ragu-ragu memanggil arsitek asal Cina yang bernama
Cakradana untuk ditugaskan menjadi pemimpin proyek dalam pembaharuan bangunan dan
arsitekturnya.

5. Bidang Militer
Pasukan militer Sultan Ageng Tirtayasa sangatlah kuat hingga disegani oleh militer-militer
Belanda. Dalam usaha memblokade pengaruh kekuasaan Sultan, militer Belanda tidak mau
berlama-lama berurusan.
Apalagi di setiap penyerangan terhadap kekuasaan Kesultanan Banten, militer Belanda menguras
biaya yang sangat besar, sehingga perlu berpikir berulangkali jika mau menyerang kedaulatan
Banten.
Itulah sekilas biografi Sultan Ageng Tirtayasa dengan peristiwa-peristiwa penting dalam setiap
masa perjuangannya. Sultan Ageng Tirtayasa dikenal sebagai pemimpin yang tegas, berani, dan
memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakatnya maupun masyarakat di sekitar wilayah
kerajaannya. Karena keberaniannya, Sultan Ageng Tirtayasa menjadi seseorang yang disegani
oleh militer-militer Belanda.
Selain biografi Sultan Ageng Tirtayasa, peran-peran yang dilakukannya selama menjadi Sultan
sangatlah besar. Berbagai peran yang dilakukan adalah dalam bidang Agama, Politik, Ekonomi,
Budaya, dan Militer. Peran-peran yang dilakukan patut kita teladani bersama dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

B. Biografi Panambahan sinopati

Panembahan Senopati awalnya bernama Danang Sutawijaya. Beliau merupakan anak dari Ki
Ageng Pamanahan (yang masih keturunan dari Brawijaya V yang merupakan raja terakhir
Majapahit) dan Nyai Sabinah (yang memiliki garis keturunan dari Sunan Giri).

Panembahan Senopati diangkat sebagai anak oleh Sultan Pajang yang bernama asli Jaka
Tingkir, hal ini dikarenakan Sultan Pajang tidak segera mempunyai anak dan Sutawijaya
sebagai pancingan agar memiliki anak.

Sutawijaya karena diangkat anak oleh Sultan Pajang, beliau diberikan tempat yang berada di
sebelah utara pasar. Sehingga beliau diberi julukan Raden Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya
dimasa belianya jatuh cinta terhadap calon istri atau selir dari Sultan Pajang yang bernama
Roro Werit. Walaupun dari beberapa sumber tidak jelas Roro Werit itu siapa.

Nyai Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani, yang kemudian diangkat
sebagai patih pertama Kesultanan Mataram. Ia ikut berjasa besar dalam mengatur strategi
menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549.

Peran Awal Panembahan Senopati

Sayembara menumpas Arya Penangsang tahun 1549 merupakan pengalaman perang pertama
bagi Sutawijaya. Ia diajak ayahnya Ki Ageng Pamanahan untuk ikut serta dalam rombongan
pasukan menumpas Arya Penangsang.

Sultan Pajang pun merasa tidak tega dan menyertakan pasukan Pajang sebagai bala bantuan.
Saat itu Sutawijaya masih berusia belasan tahun. Arya Penangsang adalah Bupati Jipang
Panolan yang telah membunuh Sunan Prawoto raja terakhir Kesultanan Demak. Ia sendiri
akhirnya tewas di tangan Sutawijaya.

Akan tetapi sengaja disusun laporan palsu bahwa kematian Arya Penangsang akibat
dikeroyok Ki Ageng Pamanahan dan Ki Panjawi, karena jika Sultan Pajang sampai
mengetahui kisah yang sebenarnya (bahwa pembunuh Bupati Jipang Panolan adalah anak
angkatnya sendiri), dikhawatirkan ia akan lupa memberikan hadiah.

Melawan Pajang dan Kemerdekaan Mataram

Usai sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan menjadi bupati di sana sejak tahun
1549, sedangkan Ki Ageng Pamanahan baru mendapatkan tanah Mataram sejak tahun 1556.
Sepeninggal Ki Ageng Pamanahan tahun 1584, Sutawijaya menggantikan kedudukannya
sebagai pemimpin Mataram, bergelar Senapati Ingalaga (yang artinya “panglima di medan
perang”).
Pada tahun 1576 Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil dari Pajang tiba untuk
menanyakan kesetiaan Mataram, mengingat Senapati sudah lebih dari setahun tidak
menghadap Sultan Pajang. Senapati saat itu sibuk berkuda di desa Lipura, seolah tidak peduli
dengan kedatangan kedua utusan tersebut. Namun kedua pejabat senior itu pandai menjaga
perasaan Sultan Pajang melalui laporan yang mereka susun.

Senapati memang ingin menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka. Ia sibuk


mengadakan persiapan, baik yang bersifat material ataupun spiritual, misalnya membangun
benteng, melatih tentara, sampai menghubungi penguasa Laut Kidul dan Gunung Merapi.

Senapati juga berani membelokkan para mantri pamajegan dari Kedu dan Bagelen yang
hendak menyetor pajak ke Pajang. Para mantri itu bahkan berhasil dibujuknya sehingga
menyatakan sumpah setia kepada Senapati.

Sultan Pajang resah mendengar kemajuan anak angkatnya. Ia pun mengirim utusan
menyelidiki perkembangan Mataram. Yang diutus adalah Arya Pamalad Tuban, Pangeran
Benawa, dan Patih Mancanegara. Semuanya dijamu dengan pesta oleh Senapati.

Hanya saja sempat terjadi perselisihan antara Raden Rangga (putra sulung Senapati) dengan
Arya Pamalad. Pada tahun 1582 Sultan Pajang menghukum buang Tumenggung Mayang ke
Semarang karena membantu anaknya yang bernama Raden Pabelan, menyusup ke dalam
keputrian menggoda Ratu Sekar Kedaton, putri bungsu Sultan.

Raden Pabelan sendiri dihukum mati dan mayatnya dibuang ke Sungai Laweyan. Ibu Pabelan
adalah adik Senapati. Maka Senapati pun mengirim para mantri pamajegan untuk merebut
Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya. Perbuatan Senapati ini membuat
Sultan Pajang murka.

Sultan pun berangkat sendiri memimpin pasukan Pajang menyerbu Mataram. Perang terjadi.
Pasukan Pajang dapat dipukul mundur meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak. Sultan
Pajang jatuh sakit dalam perjalanan pulang ke Pajang.

Ia akhirnya meninggal dunia namun sebelumnya sempat berwasiat agar anak-anaknya jangan
ada yang membenci Senapati serta harus tetap memperlakukannya sebagai kakak sulung.
Senapati sendiri ikut hadir dalam pemakaman ayah angkatnya itu.

Arya Pangiri adalah menantu Sultan Pajang yang menjadi adipati Demak. Ia didukung
Panembahan Kudus berhasil merebut takhta Pajang pada tahun 1583 dan menyingkirkan
Pangeran Benawa menjadi adipati Jipang.

Pangeran Benawa kemudian bersekutu dengan Senapati pada tahun 1586 karena
pemerintahan Arya Pangiri dinilai sangat merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya
Pangiri tertangkap dan dikembalikan ke Demak. Pangeran Benawa menawarkan takhta
Pajang kepada Senapati namun ditolak.

Senapati hanya meminta beberapa pusaka Pajang untuk dirawat di Mataram. Pangeran
Benawa pun diangkat menjadi raja Pajang sampai tahun 1587. Sepeninggalnya, ia berwasiat
agar Pajang digabungkan dengan Mataram. Senapati dimintanya menjadi raja.

Pajang sendiri kemudian menjadi bawahan Mataram, dengan dipimpin oleh Pangeran Gagak
Baning, adik Senapati. Maka sejak itu, Senapati menjadi raja pertama Mataram bergelar
Panembahan. Ia tidak mau memakai gelar Sultan untuk menghormati Sultan Pajang dan
Pangeran Benawa. Istana pemerintahannya terletak di Kotagede.
C. Sultan Babulla

Khalifah Islam Nusantara” merupakan gelar Sultan Baabullah. Lahir di Ternate, 10 Februari
1528. Baabullah merupakan generasi ke-5 Sultan Zainal Abidin (1585-1500) yang diangkat
menjadi Sultan di usia ke-42 . Ketika menjadi Sultan, Baabullah telah berpengalaman
berjihad melawan kafir Portugis yang hendak merampok kerajaan sekaligus merampok
akidah Islam rakyatnya.

Sebagian kerajaan Islam, setiap anak-anak di wilayah kekuasaan kerajaan ini mendapat
didikan agama yang kuat sejak kecil. Tak terkecuali Baabullah. Selain pengetahuan agama,
Baabullah juga mendapatkan gemblengan kemiliteran menurut Islam dari Salahaka Sula dan
Salahaka Ambon, keduanya panglima perang Ternate. Baabullah memperlihatkan kecakapan
yang tinggi sehingga di usia muda sudah dipercaya menjadi Kaicil Peperangan (panglima
tertinggi angkatan perang).

Semasa menjabat Sultan, Baabullah memperhebat peperangan terhadap Portugis. Baabullah


tak kan pernah lupa bagaimana perang Salib ini membunuh ayahnya, Sultan Hairun, dengan
biadab. Raga ayahnya hancur dengan dada yang bolong karena jantungnya dikeluarkan dan
diambil Portugis untuk dipersembahkan kepada Rajamuda Portugis di Goa,India (1570).
Dengan tangannya sendiri Baabullah membopong jasad ayahnya yang bermandikan darah.

Dalam memerangi Portugis, Sultan Baabullah senantiasa menyemangati barisan


mujahidinnya dengan kalimat “Ri Jou si to nonakogudu moju se to suba!” (Hanya kepada
Allah tercurah harapan, meski gaib, namun tetap akan kita sembah karena Dia ada!). Sultan
Baabullah juga mengamati perkembangan Dunia Islam dan benturannya dengan kekuatan
Salib Barat. Dalam salah satu tulisannya, Sultan Baabullah berkata, “Antara Islam dan
Katolik terdapat jurang pemisah yang lebar. Sejarah kemenangan di Andalusia (Spanyol),
Khalifah Barat, membuat mereka membenci dan iri kebesaran Kesultanan Ternate. Mereka
menderita penyakit dendam kesumat serta pemusnahan di mana saja setiap melihat negeri-
negeri Islam, baik di Goa, Malaka, Jawa, dan kita di Maluku sini. Kalau kita di Ternate kalah
maka nasib kita akan sama dengan neger-negeri Islam di Jawa, Sulawesi, dan Sumatra”.

Sebab itu, Ternate membangun armada perangnya dengan sangat kuat. Di masa Sultan
Baabullah, Ternate memiliki barisan mujahidin terlatih sebanyak lebih kurang 120.000
orang. Ternate juga menjalin kerjasama dengan sejumlah kerajaan Islam di luar Maluku
seperti dengan wilayah Jawa (Jepara), Melayu, Makasar, dan Buton. Gabungan kekuatan ini
akhirnya mampu merebut benteng Portugis seperti Fort Tolocce (dibangun tahun 1572),
Santo Lucia Fortress (1518), dan Santo Pedro (1522).
Dalam pertempuran, pasukan canga-canga yang terdiri dari suku Tobelo dilengkapi panah api
beracun, barisan Laskar Kolano Baabullah bersenjatakan meriam hasil rampasan dari
benteng Portugis di Castel Sin Hourra Del Rosario, pusat kekejaman Portugis di Asia
Tenggara sekaligus tempat mendidik para misionaris Portugis untuk menyebarkan Salib di
Maluku dan sekitarnya.

Perang berjalan selama lima tahun (1570-1575) dengan kemenangan selalu di pihak
Mujahidin. Akhirnya, pada 24 Desember 1575, Gubernur Nuno Pareira de Lacerda
menaikkan bendera putih di istananya dan menyerahkan kota-benteng Santo Paulo atau kota
Sen Hourra Del Rosario. Futuh Sen Houra del Rosario terjadi bertepatan di malam Natal.
Para salibis keluar dari benteng dengan linangan air mata namun dijaga dengan baik oleh
laskar Mujahidin Ternate. Senjata mereka dilicuti dan diantar menuju kapal laut yang
membawa mereka ke Manila dan Timor.

Sikap baik Sultan Baabullah terhadap musuhnya ini menimbulkan perasaan kurang puas di
kalangan pasukannya. Apalagi mereka masih ingat bagaimana ayah dari Sultan Baabullah
dibunuh secara kejam. Namun Sultan Baabullah dengan sagat biujak mengatakan, “wahai
rakyatku, ketahuilah bahwa Islam tidak memperbolehkan seorang Muslim mengambil
keuntungan karena kelemahan musuhnya dalam perang di medan laga.” Sikap yang
diperlihatkan Sultan Baabullah ini mengulang sikap ksatria yang diperlihatkan Panglima
Islam Shalahuddin Al-Ayyubi saat membebaskan Yarusallaem di abad ke-12. Di Ternate,
salib Portugis berhasil dikalahkan.

KemenanganTernate ini menginspirasikan para Mujahidin seluruh Nusantara. Kesultanan


Ternate menjelma menjadi pusat dakwah yang andal di timur Indonesia. Banyak tenaga da’I
dikirim ke wilayah-wilayah yang jauh dari pusatnya, seperti ke Kepulauan Nusa Tenggara.
Sultan Baabullah dinaugrahi gelar “Khalifah Islam Nusantara Penguasa 72 Negeri” . Sultan
Baabullah meninggal dunia pada 25 Mei 1583. Cucunya, Sultan Zainal Abidin, membentuk
Aliansi Kekuatan Islam Nusantara yakni antara Kesultanan Ternate, Kerajaan Aceh
Darusslama, dan Kerajaan Demak.

D. Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh,
yang berkuasa dari tahun 1607 hingga 1636. Iskandar Muda lahir di Aceh, Banda Aceh pada
tahun 1593 atau 1590 dan wafat di Banda Aceh, Aceh pada 27 September 1636.

Pada masa kepemimpinann Iskandar Muda, Kesultanan atau Kerajaan Aceh mencapai
kejayaannya, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional
sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam. Nama Sultan Iskandar Muda
diabadikan sebagai nama bandar udara yaitu Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar
Muda di Aceh.

Dari pihak leluhur ibu, Iskandar Muda adalah keturunan dari Raja Darul-Kamal, dan dari
pihak leluhur ayah merupakan keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Darul-Kamal dan
Makota Alam dikatakan dahulunya merupakan dua tempat permukiman bertetangga (yang
terpisah oleh sungai) dan yang gabungannya merupakan asal mula Aceh Darussalam.
Iskandar Muda seorang diri mewakili kedua cabang itu, yang berhak sepenuhnya menuntut
takhta.

Ibunya, bernama Putri Raja Indra Bangsa, yang juga dinamai Paduka Syah Alam, adalah
anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10; di mana sultan ini adalah putra
dari Sultan Firman Syah, dan Sultan Firman Syah adalah anak atau cucu (menurut
Djajadiningrat) Sultan Inayat Syah, Raja Darul-Kamal.

Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan upacara besar-besaran dengan Sultan Mansur Syah,
putra dari Sultan Abdul-Jalil, di mana Abdul-Jalil adalah putra dari Sultan Alauddin Riayat
Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3
Profil Singkat Sultan Iskandar Muda
Nama : Sultan Iskandar Muda
Lahir : Banda Aceh, 1593
Meninggal : Banda Aceh, 27 Desember 1636
Orang Tua : Puteri Raja Inderabangsa, Mansur Syah
Anak : Safiatuddin dari Aceh, Merah Pupok

Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman
Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai di pesisir barat
MInangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak. Pada saat Sultan Iskandar Muda
mulai berkuasa pada tahun 1607, beliau segera melakukan ekspedisi.

Demikian sedikit ulasan “Biografi Sultan Iskandar Muda Pahlawan Asal Aceh,” semoga
bermanfaat bagi pembaca sekalian.

E. Raden Pata

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan merupakan salah satu
Kerajaan Islam besar di Indonesia. Pada masa sejarah berdirinya Kerajaan Demak, maka
Raden Patah tentu saja adalah seorang yang memiliki peran sangat besar. Raden Patah adalah
raja pertama dari Kerajaan Demak sekaligus juga merupakan pendiri dari Kesultanan Demak.
Ketika kita membahas Kerajaan Demak, maka tak berlebihan jika kita memberikan porsi
yang lebih dalam membahas pendiri dan raja pertama dari Kerajaan Demak yaitu Raden
Patah.

Biografi Raden Patah


Biografi Raden Patah
Membahas biografi Raden Patah sendiri memang sesuatu yang sangat menarik. Selain
perjalanan hidup dan silsilah Raden Patah, bagaimana Raden Patah mengembangkan dan
meletakkan dasar kerajaan Demak juga merupakan bahasan yang sangat menarik. Maka dari
itu, jika Anda termasuk penggemar atau pun pecinta sejarah Demak, simak beberapa ulasan
sederhana mengenai biografi Raden Patah di bawah ini.

Biografi, Asal Usul dan Silsilah Raden Patah

Yang paling menarik dari biografi Raden Patah adalah bahwa Raden Patah adalah seorang
keturunan yang memiliki darah campuran Cina dan Jawa. Raden Patah dilahirkan di
Palembang pada tahun 1455. Raden Patah merupakan pendiri dan raja pertama dari Kerajaan
Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Raden Patah ini menurut
catatan sejarah Kerajaan Demak, memiliki banyak nama dan gelar. Beberapa nama lain
Raden Patah yang populer adalah Jin Bun, Pate Rodim, Tan Eng Hwa, dan Aryo Timur.

Perjalanan hidup Raden Patah ini begitu menarik untuk dipelajari. Yang paling menonjol dari
sifat Raden Patah adalah perjuangan, kerja keras dan tentu saja adalah sikap toleransi Raden
Patah yang cukup tinggi pada masa itu. Selain mendirikan Kerajaan Demak, masa
pemerintahan Raden Patah juga menjadi lokomotif pendirian Masjid Demak yang masih ada
sampai saat ini.

Selain asal usul Raden Patah yang ternyata memiliki darah campuran antara Jawa dan China,
silsilah Raden Patah pun juga sangat menarik. Raden Patah ternyata juga masih keturunan
dari Raja Majapahit terakhir yaitu Raja Brawijaya. Raden Patah adalah anak dari Raja
Brawijaya dengan seorang selir China yang bernama Siu Ban Ci. Perlu juga diketahui bahwa
Raja Brawijaya adalah raja terakhir yang memerintah kerajaan Majapahit yaitu mulai dari
1408 sampai dengan 1501. Hubungan Raja Brawijaya dengan istri selirnya dari Cina ini
kemudian membuat istri nya menjadi cemburu. Kemudian istri Raja Brawijaya meminta agar
selir dari Cina tersebut diasingkan ke Palembang.

Ketika Raja Brawijaya mengungsikan selirnya ke Palembang, keadaan Siu Ban Ci tengah
dalam keadaan hamil tua. Siu Ban Ci di Palembang tinggal bersama anak Brawijaya yang
menjadi bupati Palembang masa itu yang bernama Arya Damar. Kemudian setelah lama
tinggal di Palembang, Siu Ban Ci pun melahirkan seorang putera dari Raja Brawijaya yang
diberi nama Raden Patah. Siu Ban Ci pun pada akhirnya menikah dengan anak tirinya sendiri
yaitu Aryo Damar dan dikaruniai seorang anak yang bernama Raden Kusen.

Perjalanan Hidup Raden Patah

Perjalanan hidup Raden Patah ini cukup panjang hingga mencapai posisinya sebagai Raja
Demak. Seiring berlalunya waktu, Raden Patah kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda
yang berbakat dan memiliki kecerdasan otak yang luar biasa. Melihat kemampuan dan
bakatnya tersebut, lantas ayah tirinya yaitu Aryo Damar meminta Raden Patah untuk
menggantikan posisinya sebagai Adipati Palembang. Namun demikian Raden Patah menolak
permintaan ayah tirinya tersebut dengan berbagai alasan yang ia sampaikan. Raden Patah
lebih memilih meninggalkan Palembang dan menuju Pulau Jawa. Kepergian Raden Patah
kemudian disusul adik tirinya yang bernama Raden Kusen. Bukan saja Raden Patah yang
menolak menjadi bupati Palembang, Raden Kusen ternyata juga menolak menjadi bupati
Palembang.

Alasan keduanya menolak jabatan bupati Palembang adalah karena mereka berdua ingin
menuntut ilmu agama Islam di tanah Jawa. Pada masa-masa itu, Islam berkembang begitu
pesat di Indonesia termasuk di tanah Jawa. Pada akhirnya mereka berdua sampai di
padepokan Sunan Ampel di Surabaya. Setelah dirasa cukup belajar agama pada Sunan
Ampel, Raden Kusen memilih kembali ke kerajaan kakeknya Brawijaya di Majapahit
sedangkan Raden Patah berkelana ke Jawa Tengah untuk membuka hutan Glagah Wangi dan
menjadikan tempat tersebut sebagai pusat penyebaran Islam dan mendirikan pesantren.

Raden Patah Mendirikan Kerajaan Demak

Setelah kedua saudara tiri itu pergi dari pesantren Sunan Ampel, keduanya mulai
menentukan jalan hidupnya sendiri-sendiri. Raden Kusen menetap di Kerajaan Majapahit dan
kemudian diangkat menjadi seorang adipati. Sedangkan Raden Patah mulai membangun dan
membuka hutan Glagah Wangi untuk menjadikannya pusat persebaran Islam. Pesantren yang
didirikan oleh Raden Patah tersebut ternyata berkembang begitu cepat dan mendapatkan
antusiasme masyarakat yang sangat besar. Dari perkembangan pesantren Raden Patah inilah
kemudian Raja Brawijaya merasa khawatir dengan apa yang sedang terjadi. Ia khawatir apa
yang dilakukan oleh Raden Patah akan digunakannya untuk melakukan pemberontakan.

Untuk menghindari pemberontakan, maka Raja Brawijaya memerintahkan Raden Kusen


untuk memanggil Raden Patah agar datang ke Istana. Sungguh luar biasa yang terjadi, Raja
Brawijaya begitu takjub dengan perilaku, sikap dan sifat Raden Patah yang begitu mulia.
Raden Patah adalah sosok yang berwibawa, cerdas, dan memiliki budi yang luhur. Melihat
hal ini, Raja Brawijaya begitu bangga melihat putra dari selirnya tersebut memiliki
kepribadian yang begitu kuat dan memiliki sifat leadership yang tinggi. Dan bahkan
kemudian Raja Brawijaya mengangkat Raden Patah menjadi adipati di Glagah Wangi. Raden
Patah kemudian merubah nama Glagah Wangi menjadi Demak dengan Bintoro menjadi
ibukotanya.

Di bawah kepemimpinan Raden Patah ini kemudian Demak menjadi kadipaten yang sangat
ramai. Selain menjadi pusat persebaran Islam, Demak Bintoro juga menjadi pusat ekonomi
yang sangat ramai dikunjungi banyak masyarakat. Bukan saja masyarakat dari Jawa, namun
ada beberapa masyarakat dari luar Jawa yang juga melakukan aktifitas dagang di wilayah
Demak Bintoro. Dengan perkembangan yang begitu pesat, maka kemudian Raden Patah
melakukan pemberontakan ke Majapahit dan berhasil menaklukkan Majapahit. Ada banyak
hal yang terpaksa membuat Raden Patah melakukan pemberontaka kepada Majapahit. Ada
versi lain yang menyebut bahwa yang melakukan serangan ke Majapahit bukanlah Raden
Patah melainkan Girindrawardhana yang merupakan bupati di wilayah kekuasaan Majapahit
yang berada di Doho Kediri.

Kehidupan politik Kerajaan Demak pada masa Raden Patah adalah masa perkembangan dari
Kerajaan Demak. Salah satu peninggalan Kerajaan Demak dari masa pemerintahan Raden
Patah adalah Masjid Demak yang masih bisa disaksikan sampai saat ini.

Raden Patah Wafat

Raden Patah meninggal pada usia 63 tahun. Penyebab kematian Raden Patah adalah karena
sakit yang beliau derita yang tak kunjung sembuh. Raden Patah meninggal di Demak dan
dimakamkan di Masjid Demak yang sampai saat ini makam beliau ramai dikunjungi para
peziarah.

Nah teman-teman, demikianlah sedikit informasi yang bisa kami sampaikan mengenai
Biografi Raden Patah, Silsilah dan Perjalanan Hidupnya. Semoga sedikit informasi mengenai
Biografi Raden Patah, Silsilah dan Perjalanan Hidupnya di atas bisa menambah pengetahuan
dan wawasan kita semua mengenai sejarah Kerajaan Demak dan terutama mengenai biografi
Raden Patah sendiri.

5 AYAT AL-QUR’AN YANG MENGANDUNG BACAAN LAM JALALAH TAHQIM


DAN LIMA AYAT MENGANDUNG BACAAN JALJALAH TAQRIK.

ُ ‫ّللاه لَ َر‬.
Contoh hukum bacaan lam jalalah tafkhim adalah ‫س ْو ُل‬ ٰ

Pembahasan
Contoh hukum bacaan ra tafkhim pada surah al munafiqun
Ayat ke 1 pada ‫س ْو ُل‬ ُ ‫لَ َر‬
ُ
Ayat ke 1 pada ‫س ْوله‬ ُ ‫لَ َر‬
Ayat ke 3 pada ‫َكفَ ُر ْوا‬
Ayat ke 4 pada ‫َراَ ْيتَ ُه ْم‬
Ayat ke 4 pada ‫فَاحْ ذَ ْر ُه ْم‬

Contoh hukum bacaan ra tarqiq pada surah al munafiqun


Ayat ke 5 pada ‫لَ ُك ْم يَ ْست َ ْغ هف ْر‬
Ayat ke 6 pada ‫تَ ْستَ ْغ هف ْر لَ ْم‬
Ayat ke 8 pada ‫لَي ُْخ هر َجن‬
Ayat ke 9 pada ‫ال ٰل هذ ْك هر‬
Ayat ke 10 pada ‫قَ هريْب‬

Contoh hukum bacaan lam tafkhim pada surah al munafiqun


Ayat ke 1 pada ‫س ْو ُل‬ ُ ‫ّللاه لَ َر‬
ٰ
Ayat ke 1 pada ‫َوال ٰل‬
Ayat ke 4 pada ‫ّللاُ قَاتَلَ ُه ُم‬ٰ َ‫ۖا‬
Ayat ke 5 pada ‫س ْو ُل‬ ُ ‫ّللاه َر‬ ٰ ‫لَو ْوا‬
ْ
Ayat ke 6 pada ‫ّللاُ يغ هف َر‬ ٰ

Contoh hukum bacaan lam tarqiq pada surah al munafiqun


Ayat ke 2 pada ‫س هب ْي هل‬َ ‫ّللاه‬
ٰ ‫اهن ُه ْم‬
Ayat ke 7 pada ‫س ْو هل‬ ‫ر‬
ُ َ ‫ٰه‬‫ّللا‬
‫َو ه ٰ ه‬
Ayat ke 7 pada ‫لِل‬
‫َو ه ٰ ه‬
Ayat ke 8 pada ‫لِل‬
Ayat ke 9 pada ‫ّللا هذ ْك هر‬
‫ٰه‬
Kata kunci : Hukum bacaan lam, lam jalalah, lam tafhim, lam tarqiq, ra tarqiq, ra tafhim