Anda di halaman 1dari 137
M a n uU a | No. 029/BM/2011 KONSTRUKSI DAN BANGUNAN Pemeliharaan Jalan Tol KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA 1n Pattimura No. 20 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110 Telp : 7221960 Kepada Yth. L. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol; 2. Direktur Bina Teknik; 3. Para Direktur Bina Pelaksanaan Wilayah I s/d III; 4. Para Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I s/d VII. di- Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga dan Badan Pengatur Jalan Tol SURAT EDARAN NOMOR: ¢4 /SE/Db/2012 TENTANG PEDOMAN DAN MANUAL PEMELIHARAAN JALAN TOL, A. Umum Pedoman pemeliharaan jalan tol merupakan acuan agar jalan tol memenuhi ketentuan standar pelayanan minimal jalan tol, sehingga pelayanan jalan tol dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan bagi para pengguna jalan tol. B. Dasar Pembentukan 1. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 132 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4444); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 96 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3025); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol beserta Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 88 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5019); 4, Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 86 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4655); 5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 392/PRT/M/2005 tentang Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 02/PRT/M/2007 tentang Petunjuk Teknis Pemeliharaan Jalan Tol dan Jalan Penghubung; 7. Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Pedoman-pedoman dan Tata Cara yang berkaitan dengan teknis jalan dan jembatan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga maupun Kementerian Pekerjaan Umum. C. Maksud dan Tujuan Surat Edaran ini diterbitkan sebagai pedoman dalam pemeliharaan jalan tol yang dimaksudkan untuk menjamin bahwa jalan tol memenuhi ketentuan standar pelayanan minimal jalan tol dan bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan jalan tol bagi pengguna jalan tol. D. Ruang Lingkup Pemeliharaan jalan tol dilakukan terhadap unsur jalan tol yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah, serta di atas permukaan air. Aset-aset yang dipelihara jalan tol terdiri dari jalan, jembatan, bangunan pelengkap jalan, sarana pelengkap jalan, gedung dan lingkungan. E. Penutup Penerapan Pemeliharaan Jalan Tol selanjutnya secara terperinci tercantum dalam Pedoman Nomor 028/BM/2011 dan Manual Nomor 029/BM/2011 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari surat edaran ini, Demikian atas perhatiannya Saudara disampaikan terima kasih. Jakarta 1y Mee 2012 Ditetapkan di Pada tanggal DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA ‘Tembusan disampaikan kepada Yth. 1, Bapak Menteri Pekerjaan Umum (sebagai laporan); 2. Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pekerjaan Umum. Daftar isi Daftar Isi Prakata Istilah dan definisi Lingkup kegiatan.... Pemeliharaan rutin Pemeliharaan berkala Peningkatan Penanganan darurat... Inspeksi pemeliharaan jalan tol. Persiapan inspeksi Pelaksanaan inspeksi .. Aktifitas inspeksi Matriks kategori kerusakan dan prioritas perbaikannya.. BOVUNNNaaeesL Manual pemeliharaan. 12 Kerusakan pada jalan aspal (fexibe pavement) 12 Alur > 20 mm. ae 12 Retak buaya Bergelombangikeriting een Lubang dalam....... : nia) Pengausan & pelepasan buti... solemn a! Genangan air... Retak rambut . Jenis-Jenis penanganan untuk jalan aspal (ffoxiblo pavement. Local sealling > (L1) a Filling in > (L2) Patching > (L3) ‘Surface dressing Sanding > (L5) Overlay > (16). Pemeriksaan drainase > (L7) Pelaburan aspal > (L8) Scrapping filing -> (L9) Metoda penanganan kerusakan jalan aspal (flexible pavement). Kerusakan pada jalan beton (rigid pavement) Gompal/Pecah (spailling) .. Retak (Crack) Penurunan siab beton...... Kerusakan pengisi celah melintang ((ransverse joints). Permukaan licin Blow up. Deformasi Jenis-jenis penanganan untuk pemeliharaan jalan beton (rigid pavement) Resbakan cole ksaatal (exeraiod art eae) (1) Penyuntikan (injection) > (K2). ae Patching (penambalan) > (K3). Grooving (pengaluran) > (K4) Perbaikan blow up > (K5) Rekonstruksi > (K6) ..... Ringkasan metode penanganan jalan beton (rigid, pavement), 57 5.7.1 57.2 57.3 58 5.8.1 5.8.2 583 5g 5.9.1 5.9.2 5.10 5.10.1 5.10.2 5.10.3 5.10.4 5.10.5 5.11 5.11.1 5.11.2 5.11.3 5.11.4 5.12 5.12.1 5.12.2 5.12.3 5.12.4 5.12.5 5.13 5.13.4 5.13.2 5.14 5.14.1 5.14.2 5.14.3 5.14.4 5.14.5 5.14.6 5.15 5.16 5.17 5.18 5.18.1 5.18.2 5.18.3 5.19 5.19.1 5.19.2 5.19.3 5.19.4 5.20 5.20.1 5.20.2 5.20.3 Pemeliharaan perkerasan kaku pratekan precetak (precast pre-stressed concrete pavement) = PPCP ....... sevens 40 Pemeliharaan preventive perkerasan Kaku pratekan pracetak (PPCP) ..nuewnrn 44 Perbaikan perkerasan kaku pratekan pracetak (PPCP) 42 Perbaikan besar atau rekonstruksi ulang PPCP...... 2 Sure a2) Penanganan geoteknik jalan tol Penurunan (settlement), Longsoran (sliding) Pergerakan tanah (soil moving). Pengendalian genangan air pada ruas jalan tol Penyebab genangan air pada jalan tol... Metode pencegahan/pengendalian Pemelinaraan berkala jalan beton (rigid pavement). Pemeliharaan local crack (retak setempat) Pemeliharaan faulting (patahan) 3 Pemelinaraan deformation (perubahan bentuk) . Pemeliharaan crack (retak) .. Pemeliharaan buckling (tekuk) . Pemeliharaan rutin bangunan atas jembatan. Pembersihan kotoran i Retak/kerusakan beton : Karatan/lapisan cal/galvanis yang terkelupas Pin, baut kurang keneangfhilang. Pemeliharaan rutin bangunan bawah jembatan Pembersihan kotoran = Retak/kerusakan beton : Karatan pada tiang pancang baja . Drainase dinding yang tersumbat. Pipa cucuran: a Pemeliharaan rutin bangunan pelengkep jembatan Pembersihan kotoran aia Kerusakan pada fender. : Pemeliharaan berkala jembatan. Pemeliharaan sambungan ekspansi Pemeliharaan lantai jembatan..... Pemeliharaan kerusakan slab jembatan Pemeliharaan kerusakan slab jembatan dengan cara grouting . Pemeliharaan perbaikan girder jembatan. Pemeliharaan terowongan ...... ‘ Metode penanganan kerusakan jembatan .. Penanganan darurat kecelakaan kebakaran pada jembatan Pemeliharaan rutin bahu jalan. a Pemeliharaan rutin drainase Selokan samping diperkeras Gorong-gorong... Drainase air tanah (sub drain) Pemelinaraan rutin talud & dinding penahan tanah Erosi oe ee Longsor. Tergerus (scouring). Dinding retak Pemelinaraan rutin lingkungan tanaman Penyiraman. z Pendangiran dan penyiangan Pemangkasan... §.20.4 Pemupukan ae 5.20.5 Pencegahan dan pemberanlasan hama/penyakit 5.20.6 Penggantian tanaman/penyulaman. 5.21 Pemeliharaan rutin rumija & ruwasja. 5.21.1. Pohon, tumbuhan perdu, semak, rumput, dan lain-lain 84 5.22 Pemeliharaan rutin perlengkapan jalan 2 85 5.22.1. Patok KM & HM dan patok pengaman jalan. of 85 5.22.2 Rambu-rambu jalan dan rambu-rambu lalu lintas...... 86 5.22.3 Marka /alan....... en 87 5.22.4 Kereb Ere 5.22.5 Penerangan Jalan Umum .....-. i Maes 88 5.23 Pemeliharaan jembatan penyeberangan orang (JPO).. 89 5.24 — Pemeliharaan pager.. 89 5.25 Pemeliharaan gerbang tol... 90 Lampiran A Formulir inspeksi pemeliharaan jalan tol 93 Lampiran B Daftar nama dan lembaga ........ é eee es BIbIOGF AF esnnerrrntnrestnnen ; : a 126 il Daftar tabel Tabel 1 - Matriks Kategori Kerusakan Dan Prioritas Perbaikan abel 2 - Persyaratan temperatur minimum campuran berdasarkan tes inder (aspal) Tabel 3 - Metode penanganan jalan aspal.. Tabel 4 - Metode penanganan jalan beton........ Tabel 6 - Klasifikasi kondisi retak lantai jembatan ‘abel 6 - Metode penanganan jembatan utama bangunan atas... ‘Tabel 7 - Metode penanganan jembatan utama bangunan bawah Tabel 8 - Metode penanganan jembatan utama bangunan pilar..... 128 31 40 £562) 70 m1 n Daftar gambar Gambar 1- Operasi Inspeksi Pemeliharaan Bangunan Sipil é 4 Gambar 2. Pembersinan dan pemberian tanda pada bagian yang retak.. 7 Gambar 3- Penyemprotan aspal pada bagian yang retak. 7 Gambar 4- Perbaikan dengan metoda patching 18 Gambar 5- Pekerjaan surface dressing i f 20 Gambar 6 Keientuan panjang pas pendistribusian aspal..... cae 20 Gambar 7- Persiapan pendistriousian aspal pee alee Gambar 8- Pelaksanaan pendistribusian aspal 24 Gambar 9- Pendistribusian agregat...... eee 24 Gambar 10 - Penebaran agregat pada paruh bagian jalan pertama elas 2D Gambar 11 - Penebaran agregat pada paruh bagian jalan kedua satire Gambar 12 - Merapikan lokasi seusai pekerjaan surface dressing)... on 28 Gambar 13 - Tahap finishing pekerjaan surface dressing. 23 Gambar 14 - Pekerjaan perbaikan dengan metoda sanding... 24 Gambar 15 - Pemeriksaan screed plate alat paver finisher : 25 Gambar 16 - Mengatur ketinggian screed plate dengan spacer block a5, Gambar 17 - Hopper dalam keadaan bersin. E : 25 Gambar 18 - Pemeriksaan alat tyred roller. Gamiar 19 - Prosedur pemadatan tiap paruh bagian tala dengan alat ‘wed roller 27 Gambar 20 - Overlapping pemadatan ... Gambar 21 - Pemeriksaan alat stee! wheel roller... Gambar 22 - Prosedur pemadatan tiap paruh bagian jalan dengan alat Gambar 23 - Penebaran material pada saat paruh bagian jalan yang ditebar sebelumnya masih panas... Gambar 24 - Pemadatan pada sambungan memanjang Gambar 25 - Pemotongan lapisan overlay untuk sambungan melintang Gambar 26 - Mengatur ketinggian screed plate dengan spacer block... Gambar 27 - Pemadatan pada sambungan melintang Gambar 28 - Gambar retak di struktur yang bersilangan dengan jalan. Gambar 29 - Tambalan pada kerusakan sudut di Ping samburgen perkerasan Gambar 30 - Penambalan lubang fs ee Gambar 31 - Penambalan dengan aspal.... Gambar 32 - Jalan Tol Kanci - Pejagan. ‘Gambar 33 - Konfigurasi panel pracetak..... Gambar 34 ~ Contoh pengisian sambungan antara stab beton dengan ‘truktur lain di sisinya os Gambar 35 - Partial reconstruction pada sudut slab... : Gambar 36 - Conteh partial reconstruction pada kasus retak arah melintang slab ‘Gambar 37 - Contoh partial reconstruction nae retak arah memanjang slab Gambar 38 - Penampang melintang sho bond .. ee Gambar 39 - Pecahnya lantai jembatan .... : Gambar 40 - Pemasangan bekisting pada bagian embaten yang 1a dbonokar ies Gambar 41 - Cara pembongkaran. Gambar 42 - Jalur retak Gambar 43 - Perencanaan lokasi lubang injeksi.. Gambar 44 - Contoh alat injeksi aspal.......- Gambar 45 - Contoh menaikkan slab beton yang tenggelam .. Prakata Manual Pemeliharaan Jalan Tol ini telah dipersiapkan sejak tahun 2009 oleh Subdit Monitoring dan Evaluasi Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Tol yang pada tahun 2010 dilanjutkan oleh Subdit Teknik Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Perkotaan, Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, Manual ini merupakan acuan agar jalan tol memenuhi ketentuan standar pelayanan minimal jalan tol, sehingga pelayanan jalan tol dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan bagi para Pengguna jalan tol Dalam perkembangannya tidak menutup kemungkinan manual ini mengalami pembaharuan isi pada setiap edisi penerbitannya disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi yang ada di lapangan. Penerbitan edisi selanjutnya, akan disahkan oleh Direktur Jenderal Bina Marga dengan menerbitkan prakata pada tahun penerbitannya, ; Akhir kata kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Manual Pemeliharaan Jalan Tol inl. Jakarta, 2Desember 2011 Direktur Jenderal Bina Marga Ir. Djoko Murjartfo, M.Sc. Manual Pemoliharaan Jalan Tol 4. Istilah dan definisi Istilah yang digunakan pada pedoman ini mempunyai definisi sebagai berikut: 1. Pemeliharaan jalan tol adalah upaya yang dilakukan terhadap sebagian atau seluruh unsur jalan, dengan tujuan untuk mempertahankan, memulihkan atau meningkatkan kondisi jalan agar memenuhi ketentuan standar pelayanan minimal jalan tol dan umur rencana yang ditetapkan dapat tercapai. 2. Pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang dilakukan sepanjang tahun, dengan tujuan untuk mempertahankan kondisi jalan agar tetap memenuhi ketentuan standar pelayanan minimal jalan tol. 3. Pemeliharaan berkala adalah pemelinaraan yang dilakukan dengan cara menambah lapis, bukan struktural pada permukaan perkerasan jalan lama, termasuk koreksi minor bentuk permukaan dan penambalan permukaan perkerasan jalan lama, dengan tujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kondisi perkerasan jalan agar _tetap memenuhi ketentuan standar pelayanan minimal jalan tol dan umur rencana yang ditetapkan dapat tercapai. 4. Peningkatan adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan cara menambah lapis struktural pada permukaan perkerasan jalan lama, termasuk koreksi bentuk permukaan perkerasan jalan lama dan penambalan struktural, dan perbaikan sistem drainase, dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan perkerasan jalan agar selama kurun waktu tertentu di masa yang akan datang dapat memikul beban alu lintas, serta mempertahankan atau meningkatkan kondisi jalan agar tetap memenuhi ketentuan standar pelayanan minimal jalan tol dan umur rencana yang ditetapkan dapat tercapal. 5. Penanganan darurat adalah penanganan yang dilakukan untuk memulihkan secepatnya kondisi jalan yang mengganggu kelancaran lalu lintas dan/atau membahayakan pengguna jalan yang diakibatkan oleh kejadian tak terduga. Lingkup kegiatan 2.4 Pemeliharaan rutin 4. Penambalan perkerasan dan bahu, dan/atau perbaikan minor unsur lain jalan yang berfungsi struktural 2. Pembersihan dan/atau perbaikan minor sistem drainase. 3. Perbaikan, pengecatan dan/atau pemasangan kembali unsur bangunan pelengkap, perlengkapan dan fasilitas jalan. 4, Pembabatan rumput, pemangkasan pohon dan pengendalian air pada ruang milik jalan dan ruang pengawasan jalan yang mengganggu struktur jalan serta kelancaran lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan. 5. Pengendalian lalu lintas selama pelaksanaan pemeliharaan. 6. Pembersihan lapangan 7. Upaya-upaya rutin lain sepanjang tahun untuk mempertahankan kondisi jalan. 2.2 Pemeliharaan berkala 4. Perbaikan minor bentuk permukaan perkerasan dan bahu lama, termasuk penambalan permukaan, 2. Pemasangan lapis bukan struktural pada permukan perkerasan dan bahu lama, termasuk pengendalian mutu Pengendalian lalu lintas selama pelaksanaan pemeliharaan. Pembersihan lapangan. BO 1 dari 127 2.3 Peningkatan 1. Koreksi bentuk permukaan perkerasan dan bahu lama, termasuk penambalan struktural. 2. Pemasangan lapis struktural pada permukaan perkerasan lama, termasuk pengendalian mutu. 3. Perbaikan sistem drainase. 4. Pengendalian lalu lintas selama pelaksanaan pemeliharaan. 5. Pembersihan lapangan. 2.4 Penanganan darurat 4. Pembersihan insidental ruang milik jalan dan ruang pengawasan jalan dari benda-benda yang keberadaannya sebagai akibat kejadian tak terduga serta mengganggu kelancaran lalu lintas dan/atau membahayakan pengguna jalan. 2. Perbaikan insidental unsur-unsur jalan yang Kondisinya mengganggu kelancaran lalu lintas danfatau membahayakan pengguna jalan. 3. Pengendalian lalu lintas selama pelaksanaan pemeliharaan. 4, Upaya-upaya insidental lain untuk memulihkan secepatnya kondisi jalan. 3. Inspeksi pemeliharaan jalan tol Inspeksi merupakan landasan kegiatan yang tidak dapat dihindarkan dalam proses pemelinaraan, baik sebagai dasar tindak lanjut dari suatu penanganan perbaikan juga sebagai dasat/pendukung penyusunan program Kerja dan rencana anggaran jangka pendek maupun jangka panjang. Tujuan dari inspekst ini adalah ® Meningkatkan pengawasan terhadap bangunan dan sarana pelengkapnya, agar perubahan-perubahan yang terjadi dapat diketahui lebih dini. Petugas yang bersangkutan lebih mengenal secara mendetail tethadap bangunan dan ‘sarana yang menjadi tanggung jawabnya. © Untuk memperoleh data akhir kondisi bangunan dan sarana pelengkapnya. @ Menentukan langkah-langkah yang harus diambil, sehingga bangunan dan sarana pelengkapnya tetap berfungsi sebagaimana mestinya. « Sebagai Kontrol apakah pekerjaan pemeliharaan dilaksanakan cukup efektif Sebagai data pendukung penyusunan program RKAP. Instruksi kerja inspeksi mencakup tata cara inspeksi, mulai dari perstapan pelaksanaan, inspeksi sampai dengan pelaporan dan tindak lanjut. Obyek inspeksi, meliput = Inspeksi jalan aspal, Inspeksi jalan beton; = Inspeksi jembatan utama beton; = _ Inspeksi jembatan overpass beton; - _ Inspeksi bangunan pelengkap jalan (terowongan), = Inspeksi bangunan pelengkap jalan (jembatan penyeberangan orang beton); = Inspeksi bangunan pelengkap jalan (jembatan penyeberangan orang baja); = Inspeksi sarana pelengkap jalan (guadrail) = Inspeksi sarana pelengkap jalan (pagar); = Inspeksi sarana pelengkap jalan (perambuan), = Inspeksi sarana pelengkap jalan (marka jalan); - _ Inspeksi gedung gertvang tol; = Inspeksi penerangan jalan; 2 dari 127 Inspeksi ingkungan (tanaman); Inspeksi lingkungan (kebersihan); Inspeksi lingkungan (saluran); = _Inspeksi sarana pelengkap jalan (rambu dan sarana pengatur lalu lintas). 3.4. Persiapan inspeksi 1, Inspektor melihat pembagian tugas dan jadwal inspeksi. 2. Inspektor mempersiapkan alat bantu yang dibutuhkan dan kelengkapan kerja termasuk di dalamnya rompi refiektif dan rubber cone. 3. Inspektor melapor bahwa persiapan sudah selesai dan siap melakukan inspeksi. 3.2. Pelaksanaan inspeksi 4. Inspektor melaksanakan inspeksi dengan cara sesuai bagan alir di bawah ini. 2. Setelah inspektor menyelesaikan inspeksi, langkah yang dilakukan adalah: a. Mengembalikan alat bantu inspeksi pada tempatnya b. Menyusun dan membuat laporan inspeksi secara lengkap. c. Menyerahkan laporan hasil inspeksi paling lambat 7 (tujuh) hari setelah inspeksi 3.3 Aktifitas inspeksi ‘Adalah aktifitas inspeksi mulai dari obyek yang diinspeksi sampai kepada tindak lanjut deri perbalkannya, Rekaman tahapan bisa dillhat pada kolom kedua yang dimulal dari tahap 1 sampai dengan 7. 3 dari 127 REKAMAN 7 KETERANGAN SA BAGIANGACIA Ce EER TAIDA ()BLAKONIS ‘BAK PADA BAGAN CBYEK ”“ ER TANDA 09 DANCATAT ETAL KONDIS YANG RUSAK [CATAT KATEGORS KERUSAMAN| ‘CATAT OAK UANUT PERBAIKANNYA eS Tehepan No.1 1. Keren cen keg cerepn sexe pee inept 2 Nexen bere eran dbs iden ryan hecepden ax ekinfan 3. Meghiipkan lamp hazat Tobepen No, 23815 6.4 Famlepkst sans Famine Jenn 6.3 Fam Inspeksi Jena 6.4 Form inspeksi Badea 55 Fomine ‘Sarkepja 6 Forming Gedung 7 Fern epee Fre Oras 6 Fame LUngangen “Tahapan No. 627 Mats Kaleo enscken den pias perbakan Gambar1- Operasi Inspeksi Pemeliharaan Bangunan Sipil 4 dari 127 4, Matriks kategori kerusakan dan prioritas perbaikannya Tingkat kerusakan dibagi dalam 3 (tiga) kriteria. * Rt: Kerusakan perlu segera diperbaiki, karena dapat menyebabkan kerusakan terhadap struktur konstruksi tersebut * R2: Kerusakan yang tindak lanjutnya perlu dibahas dahulu Karena perbaikan atau penanganan kerusakan tidak mengganggu struktur Konstruksi atau dapat ditangguhkan * R3: Kerusakan yang tindak lanjut perbaikan atau penanganan kerusakannya dapat ditangguhkan PrioritasPerbaikan * P14: Perbaikan atau penanganan kerusakan yang tidak dapat ditunda karena membahayakan konstruksi atau lingkungan dan pemakai jalan * P2:Perbaikan atau penanganan kerusakan yang dapat ditunda atau tidak membahayakan Konstruksi atau lingkungan dan pemakai jalan Dibawah ini diberikan tabel kategori kerusakan dan prioritas perbaikan dari seluruh aset yang dipelihara mulai dari R1, R2 dan R3 serta prioritas perbalkan mulai dari P1 dan P2. 5 dari 127 Zz ep 9 id Be ~ BuuINedegPIEIOH INPINAS UOSE bd a (yesed esmy) uebuesed PNIeL bd va ISeUNOjEG ped Guess bd a ueinjes edie beh ba Buex, bd be Tujor worsuedks bd ve unan wdo_ uojeg ueequer |. bd be (GOUETETSSY HS) WeIESSED bd ve yeved be ze Tostuoy bd ce yee be Le BRE] veuunued bd a >yesny INO L Id 2a (Sade SeIS MEN IWAIeNS WHO ld ri ueununued bd a TeqUE| Tee EAUETED EPIL la Za (GsouyBnoy) wee Ves yEPIEY, vowauerer | “2 td we ‘pein sjebuy) eKeng AeIOd bed a (6up1§) 10s6U07 bd za EN Junin VeFer pNIEL. Cayeang Bunjers Burddus ‘Buenees) Id a sqng sede ‘Gancus) amyBung Id a *(Gupynay) anny j reurpnyj6u07 Buequiojed bd a Teouopisqnis_worssaideq) seiquuy be be jyoui0d) Buea bd zu (Bupesia) edsy ynweD bd va TeaTeNSISSY PIS) UeIESONSY (woyebnu05) Bune, bd wa jesiansues | BueqWO}eD bd wa [eseuybnoy) UeRIEMIEDIEN jedsyueer | “1 Zaid | eas cae UEyeqIed | UexesnIey ueyesuoy susp oN sejuoug | oberey | TEyeqIed SaONd Weg UBYESTIOY HOBsey SHNEW - F eGeL zz yep L zd ew Ten ueqnawn yeruea, Id a eu} UeBUEIES bd eu TqUIew dNINUEW ed eu pjoquow uned zd eu eed UeueC zd wa WeIBeqas NEW sejjy ueweue! uep Bunpuljeg ueweue! | “Ob bd ve Gun €) 101 Sueqien ip new ndwer bd a Sjesniy UEUBUE | UEIMNBUAd bd 1a Wee ISeleIsU] Teued ‘vavodwoy | bd ze yesny ndwe7 BUELL id eu Suelo] yepLwepeg Ndwey uejer uebuereued ndwey | “6 be a wejeyouepusgnequnsia, bd wy 1s0rg be re ‘Wepuog ueuTunued td ba 708BU01 sscusia cues | 8 id zu 7esbuo7 UeIer 1d. be a Sequiy /Suequiojsbieg ueler bd a yjesny ueeynuad ueer nyea |Z bd ze ~BueKop Bulle bd wa sedoTineg be zi Sedo] BUM weIepUEIS id be ‘unin /Serawiy | bd a wejoy UejeqWwor TeIUeT Id ba yesny ebbue | yeuy Buei9 uebueigaiued uerequer | “9 Thy SequiBy undwiN}Jeg "TO}034 ld a "euegnueg uebuomo.o| eped ueler bd 1a [eda GHEY MANS UIE uebuomoes | -s id ba unum wd Id wa WEST MPOTEW SHO Id ea yeieeg Inpns elee be ea Je56u0} ysjog ¥ePH INR veg vep inj uebuep a ugjey) enwas ere Weg 49puas efeg uereqwer |p TE ueyesniey, ueyesnisy) siuap eseytiodiq Buek osy oN uosareyi (uenlue]) Ueyeqied Seog Ue UeFESMIey HOBaey SEN 1 edeL zi vee id va wauEU OM id wy (SBunpeg YepIL XOB/IELG WEIDAH Wd i) TeOUET HepIL ueBueNquied UeINIES bd a aUeSuaADIEIL UISIOG IV id ra Wepeg nde bd va yeded elepuer ee bd ba Un IBUEH bel a ‘uneg /uesnyy bd a ‘yesmy ej@puer UBSNyL id by yerey Supula id ba edad [eve beh eu WHESTyL 12D bd bed ieo0g Buere bd by 000g deiy Seulg yowny uep Joey! Bunpep ueunBueg | “SL zd be THdwINT J0%0y, ed bs TeSuEWUR epy zd be 401034 uejer ueeynwiag uewisiagey | “pL @d ba (eue] Tea Sed UeIOIOY, ed a Ueweud| Uelemeleg Sexeg td ve efuiny 1p yedwes efuny ueysegey | eb @d a Tewunquin | ¥ePLL ed ea SON eUSHOL uefel nyeg 9» nsewyeseuyesg ueinjes nBSueb6ueHN zd eu er] ueunquin jjewing yekueg indwny ueweuer |Z @d BS Sieg 1uIGeFWN UeIBBUTSY zd eu SejeG 1uige|eyy UeweuEL 1437 uojewejasey Gunpujeg ueweues | “by Zdibd | oui zal ve weyeqieg | ueyesniey ueyesmey siuer exeytjedig Buek 398y oN seqoud | uoberey, {ueynfue}) ueHeqIeg Seo WEG UNE Tidy WoBeyey SHE - | eqeL 2ZL WEP 6 ee JO\034 JI PIBUEL by 30008 sty POUL a isbunjieg WepiL dung 181M be IEBUAW HEPLL UISI8R JV __eu Wepeg ndwey Ba (Sbunpeg yepIL Ue ISMEUXS we >yesmy Nig [OUNY/EIDUEH, cu yjeany niuid uneg /uSsAy, za yeIew BuIpulCr cH 1yeoed Ie}UET eu wesny 129) a Toa0g BUEIEL a 0008 dey sy pjBue | vep edwog yewiny ‘jesuep yewny veunbues | “21 a BURIOG WEIL Weld WEIL La jeBuaWN EDL UISIOG JI ba ese PUEIST OL FESON IMG wa yeded BlOpuar BOY, ie FEST Niu [UNFEIPUEH a deSNY Mid UNEC/UESN a ‘yest e1Opuer UOSN>y La eSMY TOL ABIES. = wesny 120) va 70009 BueIeL ie so00g dey ob eu 2a a uueyesniey4 ueyesnioy) siuap eseyyjodiq Guek yosy on seqoud | uoberey (uemfuey) UEWTeqed SeyWOLd UG UEYESMIey WOBsey SEW - F TGeL dev uep OL zd za senioyanrer | EA ed wu ewemnaner | ZA ed ww nsemanier | VA yesny > ‘SAROONOM EPIL (uvavONad NOLWd) L804 3aIno |_A zd za Jenieyianier | YA ed ee MON/BBUI “4 ed a uelpay = @d za euweinanier | Al ed a ToL Bueqen yeveed | CAL ynsewanier | VAL yesny IOSSIEY > BueliH 1019e4eu “G ‘enyooyeu WePLLe 401937494 id 1a joneg Ueelepusy uedeyBuejey nqwey Uaredpoxbued ex6ueH © ~ BuBIH GWEN" (Wey WeSUTBTEIS) seIeqL HPI JSEUNOJUI|OQWIS/UES!IN Le NOULYd NYvaVvSH NeWve ia a “enjoy JNIET Id a ‘MOUnBBuIg a Id by ueIpaW bd ba eweyn anier bd ba el usqe9 yereec id wy 3nseW ANE Bueiy Buel /oueTea ¢ ‘yesny Bue /Sueieg © avy aevno. Zdibkd | ewreure Teeqied | ueyesnioy ueyesnioyl siuop ereytjadig 6uek 308y oN seqoud | uobeiey, (ue;nfue}) uexeqieg Se}! id Ueg UByesHisy WOBaIey SHMTEW - b OdeL deb uep Ly zd ze ewe InIer zd. ee To Bueaieg) yesnuiiejed beg jsved © Buegnueg 16d @ (ueyedwieuag Iseyo7 uesesepieg) yoqou sebed | oaauebed zd a ‘MOH | FIX Bueqnueg 1ebed a Tusedursueg |Se07 ENIESEp IEE) oqoy zebede HSSIN 3YIM HvOVd td wa ‘MOY ed. we 1eL Bueqed yesnupiejed eed ued > ‘Bueqnveg sebeq "a (ueyeduisueg jse¥07 uersesepiog) ogo JeBed "e NOL3E wvOvd |_X td a Jenjoyaner | EI Ting piles BUEN. bed Ve jo Buedieo | ZX! te te Buiuny| Yan = shandio @ueW BULURy|- Wane - pIOS EEN td i eweinanier | 1X1 bd ba Bue er UEIPSW BueIH yowbueg Bue.l “a vyorteg presny jeued “e NWS dNLANSd TaNWa |_ IIA zd a 01 Bueqiag) ina (or bueqiag) aouenva yesny a “SANSSJEY HEPLL onrtive |_A td we joy Bueqies) xa te ey Tor Bueqes) souenua- Td Le jong UBeIEpUBY yesne 5 Buea SnVOAUEY HELL (wnv1..nonway) aNoo weeny | eur cue ueyesnioyt ueyesnioyi stuor exeytjodiq Bue yesy on noBerey {uEMnlue|) UeReqieg SHOUTS Ue URHESTIDy NOBSEy SANTEN - 1 GEL 5. 54 Manual pemeliharaan Kerusakan pada jalan aspal (flexible pavement) 6.4.4 Alur> 20mm il Lokasi: © Alur Memanjang: arah sejajar dengan sumbu jalan, biasanya pada jalur roda kendaraan atau sepanjang tepi perkerasan atau pelebaran * Alur Melintang: aran memotong sumbu jalan. Terjadi pada sebagian atau seluruh lebar jalan Ciri-cir Tampak alur memanjang atau melintang pada permukaan jalan. Tingkat kerusakan: Diukur dengan lebar retakan dan panjang retakan. Kemungkinan penyebab utama: * Kesalahan pelaksanaan, terutama pada sambungan pelaksanaan atau sambungan pelebaran. * Pemakaian bahan yang tidak sesuai dengan persyaratan + Penyusutan atau retak pada lapisan pondasi, « Penyusutan pada tanah dasar, terutama untuk tanah lempung ekspansf. Akibat: Bila dibiarkan, air hujan akan meresap ke dalam konstruksi perkerasan dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah seperti lubang-lubang, ambles. Usaha perbaikan: Local Sealing Pengamanan lalu lintas Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.1.2 Retak buaya 4 Lokasi: Dapat terjadi pada alur roda atau pada bagian lain dari permukaan jalan. Ciri-ciri: ‘Tampak retakan dengan arah tidak beraturan dan saling berpotongan. Lebar retakan: < 2 mm (retak rambut). > 2 mm (retak kulit buaya) Tingkat kerusakan: Diukur dengan lebar retakan (mm) dan luas retakan (m’). Kemungkinan penyebab utama: * konstruksi perkerasan tidak kuat mendukung beban_ lalu lintas yang ada. + lapis permukaan terlalu tipis ‘© pemilinan campuran yang terlalu kaku untuk lapis permukaan yang tipis. © kelelahan lapis permukaan akibat beban lalu lintas dan umur jalan. 12 dari 127 + daya dukung tanah (badan jalan) sangat rendah atau menurun akibat meresapnya air ke dalam konstruksi perkerasan. « stabilitas atau pemadatan lapis permukaan tidak memadal 5. Akibat: © Bila dibiarkan, kerusakan jalan akan lebih parah karena pengaruh air yang meresap. * Retak rambut akan berkembang menjadi retak kulit buaya © Retak kulit buaya akan berkembang menjadi lubang dan ambles. 6. Usaha perbaikan Patching 7. Pengamanan lalu lintas Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.1.3 Bergelombang/keriting 1. Lokasi Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan. 2. Ciricir Permukaan jalan tampak bergelombang atau keriting dengan arah tegak lurus sumbu jalan. 3, Tingkat kerusakan: Diukur dengan kedalaman gelombang dan luas yang terpengaruh. 4, Kemungkinan penyebab utama: * Terjadi pergeseran bahan perkerasan jalan. Lapis perekat antara lapis permukaan dan lapis pondasi tidak memadai © Pengaruh roda kendaraan, terutama di daerah dimana kendaraan sering berhenti (mengerem) atau menambah kecepatan, misalnya di persimpangan jalan. © Salah satu lapis perkerasan tidak cukup kaku akibat kesalahan perencanaan atau pelaksanaan, 5. Akibat Membahayakan keselamatan pemakai jalan, dan mengurangi kenyamanan 6. Usaha perbaikan Surface dressing 7. Pengamanan lalu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.1.4 Lubang dalam 1. Lokasi Dapat terjadi pada setiap bagian permukaan jalan. 2. Ciri-ciri Bahan lapis permukaan hilang dan membentuk lubang-ubang bulat. 3. Tingkat kerusakan: Diukur dengan kedalaman lubang dan luas daerah yang terpengaruh. 13 dari 127 Kemungkinan penyebab utama: * Merupaken perkembangan dari jenis kerusakan jalan lain (retak, ambles, alur, dan lain- lain) yang tidak segera ditangani * Pengaruh beban lalulintas dan cuaca (terutama hujan) akan mempercepat terbentuknya lubang. Akibat: + Membahayakan keselamatan pemakai jalan, dan mengurangi kenyamanan.. Bila dibiarkan, kerusakan akan berlanjut sehingga jalan tidak layak dilalui kendaraan. Usaha perbaikan: Overlay Pengamanan lalu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.1.5 Pengausan & pelepasan butir 1 Lokasi Lapisan permukaan jalan. Ciri-ciri Lepasnya butiran perkerasan pada jalan. Tingkat kerusakan ‘Tampaknya lapisan tanah akibat penggerusan. Kemungkinan penyebab utama Perubahan suhu yang signifikan pada permukaan jalan. Akibat Jika dibiarkan akan menimbulkan lubang pada lapisan permukaan jalan tersebut Usaha perbaikan Pelaburan aspal Pengamanan lalu lintas Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.1.6 Bleeding 1 Lokasi Dapat terjadi pada sebagian atau seluruh permukaan jalan. Circ Tampak lelehan aspal pada permukaan jalan, permukaan jalan tampak lebih hitam dan mengkilat dari bagian yang lain. Tingkat kerusakan Diukur dengan luas (m*) permukaan jalan yang terpengaruh. Kemungkinan penyebab utama: Pemakaian aspal yang tidak sesuai baik dalam jumlah (kadar aspal terlalu tinggi) maupun jenisnya. 14 dari 127 5. Akibat Bila dibiarkan, akan menimbulkan lipatan-lipatan (keriting) atau lubang-lubang pada permukaan jalan, dan menyebabkan jalan licin (berbahaya bagi pemakai jalan). 6. Usaha perbaikan Sanding, 7. Pengamanan lalu lintas Lakukan pengamanan lalu lintas, 5.1.7 Penurunan 1. Lokasi Umumnya terjadi disekitar alur roda kendaraan atau ditepi perkerasan, 2. Ciri-ciri ‘Tampak penurunan setempat permukaan jalan membentuk cekungan besar. 3. Tingkat kerusakan: Diukur dengan kedalaman dari penurunan dan luas (m*) daerah yang terpengaruh. 4, Kemungkinan penyebab utama: « Daya dukung konstruksi jalan atau badan jalan tidak memadai atau menurun akibat pengaruh air. ‘+ Mutu bahan dan pekerjaan konstruksi perkerasan tidak seragam. * Kurangnya dukungan samping dari bahu jalan karena konstruksi bahu jalan tidak pada 5. Akibat: + Membahayakan keselamatan pemakai jalan * Retak-retak akan terbentuk disekitar lokasi penurunan dan air yang meresap akan mempercepat kerusakan lebih lanjut. 6. Usaha perbaikan: Overlay 7. Pengamanan lalu lintas Lakukan pengamanan alu lintas. 5.1.8 Goresan 1. Lokasi Lokasi permukaan jalan 2. Ciri-ciri: ‘Tampak goresan memanjang atau melintang pada permukaan jalan. 3. Tingkat kerusakan: Diukur dengan lebar goresan dan panjang goresan. 4, Kemungkinan penyebab utama: © Pemakaian bahan yang tidak sesuai dengan persyaratan + Gesekan roda kendaraan 15 dari 127 5. Akibat Bila dibiarkan, air hujan akan meresap ke dalam konstruksi perkerasan dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah seperti retak yang semakin lama akan semakin membesar. 6. Usaha perbaikan: Patching 7. Pengamanan lalu lintas Lakukan pengamanan alu lintas. 5.1.9 Genangan air 1. Lokasi Pada jalan yang elevasi permukaannya lebih rendah. 2. Cirk-ciri Terjadi genangan pada permukaan jalan tersebut. 3. Tingkat kerusakan Volume air yang tergenang, 4. Kemungkinan penyebab utama © Debit air yang mengalir terlalu besar. * Elevasi yang tidak rata. + Sempitnya diameter drainase 5. Akibat Genangan air. 6. Usaha perbaikan Pemeriksaan drainase. 7. Pengamanan lalu lintas Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.1.10 Retak rambut 1. Ciri-ciri ‘Tampak retakan dan kerusakan lapisan permukaan perkerasan. 2. Tingkat kerusakan: Diukur dengan lebar dan panjang bagian jalan yang rusak. 3. Kemungkinan penyebab utama: * Bagian perkerasaan sering dilalui kendaraan. * Kepadatan lapis permukaan di tepi perkerasan tidak memadai. * Pengaruh air yang meresap. 4. Akibat: * Kerusakan akan cepat merambat ke bagian jalan yang lain © Membahayakaan bahu jalan. 16 dati 127 5. Usaha perbaikan: Patching. 6. Pengamanan lalu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.2 Jenis- is penanganan untuk jalan aspal (flexible pavement) 5.21 Local sealing > (L1) 1. Bagian yang akan diperbaiki disapu dengan cara manual, hingga permukaan jalan bersih dan kering (Gambar 2.a). 2. Beri tanda (outline) pada bagian yang akan diperbalki dengan kapur (Gambar 2.b). 3. Binder (aspal) disemprotkan di atas bagian yang sudah diberi tanda tadi dengan menggunakan tongkat penyemprot atau alat penyiram air (Gambar 3) dengan kuantitas penyemprotan: ¢ 1,5 kg/m? bila digunakan bitumen (aspal) emulsi untuk perbaikan retakan, ‘* 1,0 kg/m? bila digunakan bitumen (aspal) jenis cut back untuk perbaikan setempat permukaan. J Gambar 2- Pembersihan dan pemberian tanda pada bagian yang retak Gambar 3- —Penyemprotan aspal pada bagian yang retak 4. Agregat diturunkan dari truk pengangkut, kemudian ditebar di atas permukaan yang akan diperbaiki hingga seluruh permukaan tertutup rata (seperti pada metoda sanding). Material agregat yang digunakan berupa: 17 dari 127 ‘ pasir untuk perbaikan retakan, atau ¢ batu_pecah (ukuran 6-10 mm) untuk perbaikan permukaan. Bila digunakan batu pecah, harus dilakukan pemadatan dengan roller kecil 5.2.2 Filling in > (L2) 1. Bagian yang mengalami kerusakan harus di sapu secara manual, dan permukaannya harus bersih dan kering. 2. Pada permukaan bagian yang mengalami kerusakan yang akan disiiditambal harus di beri tanda (outline) dengan kapur. 3. Siapkan campuran aspal dingin. 4, Semprotkan cut back bitumen dengan menggunakan tongkat penyemprot atau alat penyiram air dengan kuantitas penyemprotan sekitar 0,5 kg/m”. 5. Campuran dituangkan ke dalam bagian yang mengalami kerusakan dengan menggunakan lat penggaruk, dengan membiarkan lapisan tersebut mempunyai kelebihan ketebalan kurang lebih sepertiga kedalaman kerusakan, untuk persiapan pemadatan. 6. Pemadatan dilakukan dengan menggunakan alat pemadat getar berukuran kecil atau menggunakan rammer, hingga permukaan tambalan rata dengan permukaan jalan di sekitarnya. 5.2.3 Patching > (L3) Metoda ini meliputi 4 (empat) tahap, yaitu: 1. Bagian yang akan diperbaiki di beri tanda (outline) dengan kapur. 2. Singkirkan seluruh material yang ada di dalam garis kapur. Gali lubang sampai ditemukan lapisan yang kuat, kemudian ratakan pinggir lubang hingga tegak lurus dasamya. Bagian bawah lubang harus dibuat datar dan horisontal, serta dipadatkan. ~ Gambar4- Perbaikan dengan metoda patching 18 dari 127 3. Lubang tersebut kemudian diisi dengan material terpilih yang bergradasi baik. Material ini dapat berupa material dengan kualtas serupa dengan lapis pondasi yang akan diperbaiki, atau merupakan suatu campuran dingin. Material tersebut dituangkan ke dalam lubang dan dipadatkan lapis demi lapis dengan ketebalan sama pada setiap lapisannya. Tebal tiap lapisan ini tergantung kepada kedalaman tambalan. Lapisan terakhir (sebelum pemadatan) harus memiliki kelebinan ketinggian sebesar 1/5 kedalaman lubang, untuk mengakomodasi penurunan ketinggian akibat pemadatan. Pemadatan dilakukan dengan menggunakan alat pemadat getar (vibrating roller) atau rammer hingga ketinggian permukaannya sama rata dengan ketinggian permukaan perkerasan jalan di sekitarnya. 5.2.4 Surface dressing > (L4) Permukaan jalan yang akan dikerjakan harus disapu bersih (Gambar 5.a) 2. Beri tanda di sepanjang pinggirannya, untuk memastikan alignment pingair yang baik pada saat pelaksanaan pekerjaan (Gambar 5.) 3. Periksa dan pastikan bahwa alat pendistribusi aspal dapat berfungsi dengan baik: © diluar badan jalan: periksa apakah spray bar jets (alat penyemprot aspal) berfungsi dengan baik (Gambar 5.0) © dibadan jalan: - _atur ketinggian “h’ dari batang penyemprot agar setiap bagian daripada permukaan. jalan terlapis aspal dari tiga lubang penyemprot, dan atur sudut horizontal batang penyemprot sehingga parale! terhadap potongan melintang jalan agar dihasilkan distribusi aspal yang baik (Gambar 5.d), - _atur lebar cakupan dari batang penyemprot agar 1/3 dari semprotan yang berasal dari lubang terakhir dari batang penyemprot menimpa garis sumbu jalan. Hal ini untuk memastikan bahwa sejumlah tertentu aspal telah tergelar di sepanjang sumbu jalan sebelum penyemprotan pada pas kedua/lajur berikutnya (Gambar 5. °). - Penyemprotan pas kedua harus dikerjakan dalam arah yang sama dengan penyemprotan pertama (Gambar 5.1). 19 dari 127 Gambar5- Pekerjaan surface dressing 4, Pasang sepotong kertas yang terbuat dari bahan yang kuat, secara melintang, pada posisi awal dan akhir dari satu pas penyemprotan aspal sebagai lokasi dari sambungan melintang (transverse joint). Panjang "L" dari setiap pas ditentukan dari jumlah dan kapasitas dari truk pengangkut agregat (lihat tabel pada Gambar 6). Gambar 6- Ketentuan panjang pas pendistribusian aspal 5. Aspal didistribusikan ¢ Aspal harus digelar pada permukaan yang benar-benar kering (pekerjaan surface dressing harus dihindari pada saat musim hujan) ‘+ Tempatkan distributor aspal dengan jarak 10-15 meter dari awal bagian permukaan jalan yang akan dikerjakan, dan diatur posisinya sehingga segaris dengan pinggiran jalan (Gambar 7). Sebelumnya, beritahu kepada operator alat mengenai batas-batas kecepatan pengoperasian alat. Dan kepada operator alat penyemprot aspal, perlu dijetaskan mengenai syarat-syarat dalam mendistribusikan aspal. 20 dari 127 J Gambar7- Persiapan pendistribusian aspal Gambar8- Pelaksanaan pendistribusian aspal © Katup alat distributor aspal diatur untuk ditutup dan dibuka selama tongkat penyemprot melintasi potongan kertas yang dipasang melintang pada permukaan jalan (Gambar 8). * Tidak ada orang maupun kendaraan yang diperbolehkan melintasi permukaan yang baru saja disemprot dengan aspal 6. Agregat didistribusikan: + Agregat didistribusikan dengan cara menurunkannya dari truk pengangkut agregat yang berjalan berlawanan arah/mundur (Gambar 9). * Untuk separuh bagian jalan yang pertama, agregat ditebarkan di atas permukaan aspal, dengan meninggalkan bagian selebar 20 cm, sepanjang garis sumbu jalan, terbukaltidak tertutup agregat (Gambar 10). + Pada separuh bagian jalan berikutnya, agregat ditebarkan di atas permukaan aspal, termasuk bagian yang ditinggalkan pada saat penebaran pertama (Gambar 11). Gambar9- Pendistribusian agregat 24 dari 127 Gambar 11- Penebaran agregat pada paruh bagian jalan kedua + Distribusi agregat ini dilakukan segera setelah penyemprotan aspal, yaitu dengan jarak antara distributor aspal dan truk pengangkut agregat tidak lebih dari 75 m. © Setelah truk pengangkut agregat melintas, periksa apakah keseluruhan permukaan jalan telah tertutup rata, kemudian > gunakan sapu untuk mengembalikan agregat yang mungkin terjatuh ke bagian yang harus dibiarkan terbuka selama penebaran pertama, atau ke luar dari pinggir jalan (Gambar 12.2), - singkirkan potongan kertas yang ditempatkan melintang pada awal dan akhir bagian jalan yang dikerjakan (Gambar 12.b). Lakukan pemadatan dengan menggunakan dua alat pemadat yang berjalan mundur dan maju dengan jarak 50 m dari truk pengangkut agregat, dengan kecepatan laju tidak lebih dari 8 kmijam. Pemadatan dilakukan dalam beberapa pas (umumnya 5 pas), hingga seluruh permukaan padat secara merata. Setelah seluruh permukaan selesai dipadatkan, bila tidak hujan, jalan dapat dibuka untuk lalu lintas dengan batas kecepatan 40 kmijam. 22 dari 127 Gambar 12- Merapikan lokasi seusai pekerjaan surface dressing 8. Pekerjaan penyempumaan (finishing) dilakukan selama seminggu setelah penggelaran surface dressing. Gambar 13- Tahap finishing pekerjaan surface dressing 6.2.6 Sanding > (LS) 4. Pasir (sand) diturunkan dari atas truk pengangkut pasir, di atas permukaan yang mengalami kerusakan (Gambar 14.a). Ukuran butiran pasir yang digunakan maksimum 5 mm. 23 dari 127 2. Kemudian pasir ditebar dan diratakan dengan sapu agar seluruh permukaan yang mengalami kerusakan tertutup dengan merata (Gambar 14.b). (b) Gambar 14- Pekerjaan perbaikan dengan metoda sanding 5.2.6 Overlay > (L6) 8 (delapan) tahapan dalam pekerjaan overlay: 1. Permukaan perkerasan jalan harus disapu bersih. 2. Beri tanda sepanjang lajur yang akan dikerjakan mulai dari awal hingga akhir lokasi Pekerjaan, untuk memastikan alignment pinggir yang baik pada saat penyemprotan tack coat. 3. Pastikan permukaan jalan dalam keadaan kering, kemudian semprotkan tack coat pada separuh lebar jalan dengan menggunakan distributor aspal (ketentuan dan syarat-syarat pelaksanaannya lihat uraian pada pekerjaan surface dressing - Sub Bab 3.2.3.0) Pastikan bahwa pengemudi menjalankan alat distributor aspal sesuai dengan kecepatan yang telah ditentukan sebelumnya dan operator penyemprot aspal menyetel batang penyemprot aspal dengan benar. Catatan: jangan lakukan penggelaran material overlay terlalu cepat setelah penyemprotan tack coat karena dapat mengakibatkan terpisahnya emulsi atau menguapnya cutting agent di dalam cut back, dan tidak diperkenankan bagi lalu lintas untuk melintas di atas lapisan tack coat. 4, Mesin paver diatur sedemikian rupa sehingga material dapat digelar dengan ketebalan yang Konstan. Mesin harus berjalan mengikuti tanda di pinggir jalan yang telah dibuat sebelumnya 5. Penggelaran aspal: © Paver finisher = Pastikan screed plate dalam keadaan bersih untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerusakan pada permukaan, dan harus dipanaskan agar tidak ada material yang menempel pada saat penggelaran dimulai (Gambar 15), 24 dari 127 Gambar 15 - Pemeriksaan screed plate alat paver finisher - atur ketinggian screed plate dengan menempatkan spacer block dengan ketebalan “e" (Gambar 16), Gambar 16 - Mengatur ketinggian screed plate dengan spacer block pastikan hopper dalam keadaan bersih dan tidak ada material yang dingin di dalamnya (Gambar 17). Gambar 17 - Hopper dalam keadaan bersih © Truk — pada saat truk menuangkan material ke dalam paver, pastikan bahwa menuangnya tidak sekaligus, — pada saat hopper di isi, jangan sampai ada material yang tumpah, — posisikan persneling truk pada posisi netral sehingga dapat didorong oleh paver hingga isi bak tertuang seluruhnya, 25 dari 127 — pastikan selalu ada satu truk berikutnya yang menanti, sehingga paver dapat bekerja secara kontinu + Temperatur campuran — Tabel berikut_ menunjukkan temperatur minimum campuran yang harus dipertahankan: Tabel 2- Persyaratan temperatur minimum campuran berdasarkan tipe binder {aspal) Tipe Binder (aspal) | Temperatur Minimum Gampuran ( C) 80/100 125 60/70 130 40/50 135 |. Pemadatan Untuk setiap jenis alat pemadat, jumlah pas yang dibutuhkan tergantung kepada tipe material yang digunakan dan ketebalan lapisan. Jumlah pas ini akan ditentukan oleh tenaga ahli. Jejak yang terbentuk oleh rubber tyred roller harus dihilangkan dengan steel wheeled roller. © Pemadatan Awal (Breakdown) dilakukan dengan steel wheeled roller © Pemadatan Antara (Intermediate), dilakukan dengan alat pemadat jenis rubber tyred roller. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pelaksanaannya. — Sebelum pelaksanaan pekerjaan pemadatan, seluruh ban harus dalam keadaan bersin, untuk menghindari kemungkinan terangkatnya aspal dari permukaan yang digelar (Gambar 18.a), dan harus mempunyai tekanan yang sama dan sebanding dengan 6 kg/cm? pada kondisi panas (Gambar 18.b). Gambar 18 - Pemeriksaan alat tyred roller — Alat pemadat harus dijalankan sedekat mungkin dengan paver, agar terjadi pemadatan yang sempurna ~ Apabila dikehendaki pemadatan secara paralel, untuk separuh bagian jalan yang pertama, pemadatan dimulai dari pinggir, dan untuk separuh bagian jalan yang berikutnya, pemadatan dimulai dari sumbu jalan (Gambar 19). 26 dari 127 Gambar 19 - Prosedur pemadatan tiap paruh bagian jalan dengan alat tyred roller Gambar 20 - Overlapping pemadatan — Setiap pas pemadatan, bagian yang dipadatkan harus sedikit overlap dengan bagian yang dipadatkan sebelumnya (Gambar 20), — Pada akhir pas pemadatan, kecepatan alat harus dikurangi agar alat dapat berjalan ke arah sebaliknya tanpa terjadi sentakan yang dapat merusak lapisan aspal. Pemadatan Akhir, dilakukan dengan alat pemadat jenis ste! wheel roller dengan berat 6-8 ton Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya: — Roller harus dalam keadaan bersih untuk menghindari rusaknya permukaan aspal (Gambar 21.2). — Sistem penyemprot air harus dipastikan berisi air dan dapat berfungsi dengan sempurna (Gambar 21.b) Gambar 21- Pemeriksaan alat steel wheel roller Untuk mendapatkan hasil pemadatan yang sempurna, steel wheel roller harus dijalankan sedekat mungkin dengan rubber tyred roller. = Apabila dikehendaki pemadatan secara paralel, untuk separuh bagian jalan yang pertama, pemadatan dimulai dari pinggir, dan untuk separuh bagian jalan yang berikutnya, pemadatan dimulai dari sumbu jalan (Gambar 22). 27 dari 127 Gambar 22- Prosedur pemadatan tiap paruh bagian jalan dengan alat steel whee! roller Pada akhir pas pemadatan, kecepatan alat harus dikurangi agar alat dapat berjalan ke arah sebaliknya tanpa terjadi sentakan yang dapat merusak lapisan aspal. 7. Sambungan ‘Sambungan perkerasan harus dibuat dengan baik, karena berpengaruh terhadap: — _ impermeabilitas (ketidak lolosan air) permukaan jalan, — kualitas overlay (pelapisan ulang), = penampilan final daripada jalan. Sambungan memanjang/longitudinal Prosedur pembuatan sambungan: = material ditebarkan di atas paruh bagian jalan yang kedua pada saat material pada paruh bagian jalan yang pertama masih dalam keadaan panas (Gambar 23), Gambar 23 - Penebaran material pada saat paruh bagian jalan yang ditebar sebelumnya masih panas D flay ratakan material-material berlebih yang jatuh di atas paruh bagian jalan yang pertama pada saat menebarkan material di atas paruh bagian jalan yang kedua, padatkan paruh bagian jalan yang kedua hingga memadatkan seluruh daerah ‘sambungan (Gambar 24) Gambar 24- Pemadatan pada sambungan memanjang Sambungan melintang/transverse Prosedur pembuatan sambungan: —_singkirkan sebagian material yang telah dipadatkan selebar sekitar 1 meter dengan potongan vertikal yang rapi (Gambar 25), 28 dari 127 Gambar 25 - Pemotongan lapisan overlay untuk sambungan melintang — sebelum pekerjaan dimulai, tempatkan balok dengan ketebalan sebesar penurunan yang terjadi akibat pemadatan, di antara screed plate dan permukaan yang telah dipadatkan (Gambar 26), Gambar 26 - Mengatur ketinggian screed plate dengan spacer block = padatkan sambungan sepanjang 30 - 40 cm dengan stee/ wheeled roller yang berjalan mundur (Gambar 27) Gambar 27 - Pemadatan pada sambungan melintang 8. Pemeriksaan * kemiringan sambungan melintang diperiksa dengan menggunakan straight edge dan spirit level, * pemeriksaan lain harus dilakukan oleh teknisi laboratorium, 5.2.7 Pemeriksaan drainase >(L7) 4. Cek volume air yang tergenang pada drainase 2. Cek elevasi kemiringan jalan 3. Lakukan perbesaran diameter drainase 29 dari 127 5.2.8 Pelaburan aspal >(L8) 4. 1. Bersihkan bagian yang akan ditangani. Permukaan jalan harus bersih dan kering. eb 3. Semprotkan aspal emulsi sebanyak 1,5 kg/m? ada bagian yang sudah diberi tanda hingga Beri tanda persegi pada daerah yang akan ditangani, dengan cat atau kapur. merata ‘Tebarkan pasir kasar atau anggregat halus, dan ratakan hingga menutup seluruh daerah yang ditangani 5.2.9 Scrapping filling > (L9) ‘Adalah pekerjaan pengupasan lapisan aspal yang rusak dengan ketebalan tertentu dan mengisinya dengan lapisan aspal yang baru. Pekerjaan_ scrapping filing dilakukan pada lokasi yang mengalami kerusakan sebagai berikut: i 2. 3. Retak permukaan (cracking) Perubahan bentuk (deformasi. Pengelupasan lapis permukaan. Kerusakan yang terjadi pada lokasi yang akan di scrapping filing adalah pada lajur tertentu. 1 2. 3. Prosedur pelaksanaan scrapping filing, * Sebelum pekerjaan dimulai (jam 20.00) terlebih dahulu dipasang rambu lalu lintas dan traffic cone berlampu 400m atau 500 m dari lokasi pekerjaan. ‘* Memasang lampu penerangan dengan genset serta lampu sirine atau rotator yang menandakan ada pekerjaan jalan selain dengan rambu-rambu pengaman yang diletakkan tiap 100m. * Peralatan traffic management antara lain rambu peringatan dengan lampu flash-light, rambu kerja yang diletakkan setiap 100 m antara lain rambu hati-hati, rambu petunjuk (sedang ada pekerjaan, kurangi kecepatan, batas kecepatan 60 kmijam dan 40 kmijam, penyempitan Iajur), traffic cone, senter, petugas traffic, mobil pickup dan rompi reflektif yang dipakai oleh petugas traffic. Mobilisasi Pengangkutan alat scrapping filling atau alat berat dilakukan setelah pekerjaan penutupan lajur yaitu pada jam 21.00 ke lokasi pekerjaan. Antara lain cold milling machine, dumptruck, power broom, compressor, asphalt cutter, jack hammer, asphalt finisher, tendem roller tire roller. Scrapping + Pemberian tanda pada sepanjang lajur yang akan discrapping filing dan diukur lebar dan panjang yang akan dibongkar. Pembongkaran dilakukan dengan cold milling dengan kedalaman 5 cm. Saat cold milling bekerja dump truck ikut berperan untuk menampung bongkaran permukaan jalan. * Pada bagian awal dan akhir dirapikan agar berbentuk sudut dengan cutter yang kemudian dibongkar dengan jack hammer. Bagian yang telah dibongkar tsb dibersinkan dari sisa bongkaran dengan alat power broom. * Kemudian permukaan perkerasan yang telah dibongkar tsb dibersinkan dengan compressor untuk menghilangkan debu-debu. Pengecekan kedalaman _hasil pengupasan dengan sling untuk mengetahui kuantitas aspal yang akan dinamparkan 30 dari 127 Filling Pastikan lokasi yang akan dikerjakan dalam keadaan kering lalu disemprotkan tack coat pada lokasi yang akan dikerjakan dengan menggunakan aspal distributor, sedangkan agian tepinya dilakukan dengan menggunakan sikat kawat oleh pekerja Pemadatan Sebaiknya alat pemadat dijalankan sedekat mungkin dengan asphalt finisher, agar mendapat pemadatan sempurna. Pemadatan akhir menggunakan alat pemadat jenis steel wheel roller. Pengujian core drill dilakukan untuk mengetahui ketebalan dan kepadatan aspal. Core drill dilakukan Kurang dari 1 jam setelah pemadatan akhir selesai dilaksanakan. Finishing Pekerjaan finishing dilakukan setelah pekerjaan scrapping filling selesai, dimana sisa- sisa material dari penghamparan aspal harus dibersihkan. Serta kegiatan demobilisasi sebelum rambu-rambu lalu lintas yang berfungsi sebagai pengaman diangkat. 5.3 Metoda penanganan kerusakan jalan aspal (flexible pavement) Metoda penanganan berbagai kerusakan untuk memudahkan para engineer, teknisi dan petugas lapangan menangani pemeliharaan jalan tol. Jenis penanganan yang dilakukan dikelompokkan dalam beberapa kelompok mulai dari L1 sampai dengan L9 yang dapat dilihat pada Tabel 3. dibawah it Penanganan No | Nama Kerusakan Jalan Aspal 749713 Tu Ee te ay Pe TS 7_| Aur Vv 2_| Retak Buaya Vv [ '3_| Bergeiombang / Keriting Vv 4__| Lubang dalam Vv EB 5_| Pengausan & Pelepasan butir VV 6_| Bleeding Vv { 7_| Penurunan Vv 8_| Goresan Vv | ‘9_| Genangan air Vv 70_| Retak rambut Vv 11_| Retak Permukaan, deformasi, Vv pengelupasan lapis permukaan | _ = ies Keterangan Li_| Local Sealing | 14 | Surface Dressing | L7_[ Pemeriksaan Drainase 12_| Filing in TS_| Sanding T8_| Pelaburan Aspal 13 | Patching U6 [ Overlay L9_| Sorapping-Filing Tabel 3- Metode penanganan jalan aspal 5.4 Kerusakan pada jalan beton (rigid pavement) 5.4.1. GompaliPecah (spailling) 1 Lokasi: Umumnya terjadi pada sambungan melintang (transverse joints) dan pada retakan. Ciri-citi Bagian slab beton terkelupas atau gompal. Arah kupasan umumnya miring ke arah sambungan. 34 dari 127 3. Tingkat kerusakan Diukur dengan lebar kupasan dan lebar slab yang terpengaruh. 4, Kemungkinan penyebab utama: + Kesalahan pelaksanaan, misalnya pada saat pemadatan beton terjadi pemnisahan bahan (segregasi). + Sebagai perkembangan (pengaruh beban lalu lintas) dari jenis kerusakan. + Penurunan slab di sambungan yang tidak segera ditangani 5. Akibat: * Bila dibiarkan, pengaruh cuaca dan beban lalu lintas akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah. * Mengurangi kenyamanan dan membahayakan keselamatan pemakai jalan. 6. Usaha perbaikan: Penambalan. 7. Pengamanan lalu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.4.2 Retak (Crack) 1. Lokasi: Umumnya terjadi pada badan jalan. 2. Cirioiri: Bagian permukaan perkerasan terdapat retakan, 3. Tingkat kerusakan: Diukur dengan lebar retakan dan lebar retakan yang terpengaruh. 4, Kemungkinan penyebab utama: * Pengeringan terlalu cepat selama konstruksi. ‘+ Kapasitas tanah dasar dan lapis pondasi (base course) untuk menahan beban kurang. * Ketidaksempurnaan sambungan struktur dan fungsinya © Perbedaan penurunan tanah dasar. * Ketidakrataan subsidence struktur dan lapis pondasi. + Konsentrasi tegangan. + Kualitas inferior dari beton. 5. Akibat: Bila dibiarkan maka retak tersebut akan menimbulkan lubang yang besar yang akan mengganggu keamanan dan kenyamanan pengguna jalan. 6. Usaha perbaikan: Penambalan. 7. Pengamanan lalu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas. 32 dari 127 5.4.3. Penurunan slab beton 1. Lokasi Dapat terjadi pada setiap sambungan melintang slab beton. 2. Ciriciri: * Tampak penurunan salah satu slab atau penurunan slab yang tidak seragam pada sambungan melintang, * Bila dilalui kendaraan, kendaraan mengalami benturan pada rodanya 3. Tingkat kerusakan: kur dengan kedalaman perbedaan penurunan antara kedua slab. 4, Kemungkinan penyebab utama: + Terdapat rongga di bawah slab karena material lapis pondasi tergerus air. + Terjadi penurunan badan jalan yang tidak seragam. 5. Akibat * Penurunan slab mengakibatkan bahan pengisi celah retak, sehingga air dapat meresap ke lapisan bawah dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah. * Membahayakan keselamatan pemakai jalan. 6. Usaha perbaikan: Penyuntikan (Mudjacking). 7. Pengamanan lalu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.4.4 Kerusakan pengisi celah melintang (transverse joints) 1. Lokasi Dapat terjadi pada setiap sambungan melintang slab beton. 2. Ciri-cir Pengisi celah (joint sealant) terkelupas atau retak-retak. 3. Tingkat kerusakan’ Diukur dengan panjang celah yang terpengaruh. 4. Kemungkinan penyebab utama: ‘+ Pengaruh cuaca, terutama panas matahari ‘+ Kesalahan pelaksanaan, misalnya: ~ Kebersihan tidak terjaga, — Kualitas bahan pengisi tidak memadai. 5. Akibat: Bila dibiarkan, air akan meresap ke lapisan di bawah slab dan dapat menimbulkan kerusakan yang lebih parah. 6. Usaha perbaikan: Perbaikan Celah Ekspansi (Expansion Joint Repair) 33 dari 127 7. Pengamanan Ialu lintas: * Selama pelaksanaan, arus lalu lintas yang menggunakan slab yang sedang citangani harus dialihkan * Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.4.5 Permukaan licin 4. Lokasi Pada permukaan perkerasan jalan. 2. Ciri-ciri: * Tampak permukaan jalan yang mengkilap jika terkena sinar matahari. ‘+ Bila dilalui kendaraan, kendaraan mengalami slip pada rodanya. 3. Tingkat kerusakan: Diukur dengan kekesatan permukaan jalan. 4, Kemungkinan penyebab utama: Penggerusan yang diakibatkan oleh roda kendaraan. 5. Akibat: Membahayakan keselamatan pemakai jalan. 6. Usaha perbaikan: Grooving (pengaluran) 7. Pengamanan /alu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas 5.4.6 Blow up 1. Lokasi Pada sambungan permukaan jalan beton. 2. Cirkeiri Sambungan beton yang mengalami kerusakan. 3. Tingkat kerusakan: Lebar dan luas dari sambungan beton yang mengalami kerusakan. 4. Kemungkinan penyebab utama: Ketidaksempumaan struktur dan fungsi sambungan. 5. Akibat Jika dibiarkan maka sambungan tersebut akan patah. 6. Usaha perbaikan: Rekonstruksi 7. Pengamanan lalu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas 34 dari 127 5.4.7 Deformasi 1. Lokasi: Permukaan ke arah memanjang jalan. 2. Ciri-ciri: Permukaan ke arah memanjang jalan mengalami perubahan. 3. Tingkat kerusakan: Luas jalan yang mengalami perubahan 4, Kemungkinan penyebab utama’ + Kapasitas tumpu tanah dasar dan lapis pondasi kurang * Perbedaan penurunan tanah daser. 5. Akibat: Jika dibiarkan maka permukaan ke arah memanjang tersebut akan rusak. 6. Usaha perbaikan: Rekonstruksi 7. Pengamanan lalu lintas: Lakukan pengamanan lalu lintas. 5.5 Jenis-jenis penanganan untuk pemeliharaan jalan beton (rigid pavement) 5.5.1 Perbaikan celah ekspansi (expansion joint repairs) > (K1) Kupas pengisi celah yang rusak. Bersihkan celah dari debu atau bahan lepas lain. Isi lubang dengan bahan pengisi yang sudah disiapkan terlebin dahulu, misainya rebberised asphalt dengan menggunakan corong Khusus. ens 5.5.2 Penyuntikan (injection) > (K2) Metoda injection atau sealing ini diterapkan pada sambungan perkerasan dan retakan di mana bahan penutup sambungannya terlepas atau mengalami penuaan, juga dapat diterapkan pada slab beton yang mengalami retak Apabila diterapkan secara periodik, akan dapat mencegah air permukaan mencapai lapis pondasi, sehingga metoda ini berperan besar dalam pencegahan kerusakan perkerasan beton 5.5.2.1 Injection pada sambungan perkerasan Pada injeksi ke dalam sambungan perkerasan, bila terjadi kasus di mana bahan penutup sambungan keluar dari slab, yang harus dilakukan adalah meratakannya dengan permukaan perkerasan sehingga tidak rusak akibat dilalui oleh kendaraan. Bila bahan penutup sambungan tenggelam ke dalam slab, harus ditambahkan bahan penutup dengan jenis yang sama ke dalamnya hingga merata. Bila bahan penutup sambungan terlepas ke luar, bahan penutup lain yang sesuai harus segera dipasang sebagai penggantinya. 36 dari 127 Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan: 1. Bersihkan sambungan perkerasan dan buang bahan penutup sambungan yang lama, debu, lumpur dan sebagainya. Bahan penutup yang masih berfungsi dengan baik tidak peru dibuang selama bahan yang akan digunakan masih merupakan jenis yang sama. 2. Sapu, sikat kawat, pahat, kompresor udara dan pembersih sambungan dapat digunakan untuk membersihkan sambungan tersebut. 3. Sambungan dikeringkan sebelum dilakukan pengisian, untuk menjamin terjadinya kelekatan yang baik dari bahan penutup. 5.5.2.2 Injection pada retakan Proses injeksi ke dalam retakan pada prinsipnya hampir sama dengan proses injeksi pada sambungan perkerasan, Pada kasus di mana penyebab keretakannya jelas, lebih efektif bila mengkombinasikan pekerjaan mengatasi penyebab retakan dengan pekerjaan penutupan retakan pada saat yang sama Retak non-progresif dengan lebar < 0,5 mm dapat ditutup dengan karet/lateks dengan viskositas rendah atau epoxy resin dengan viskositas rendah. Retak progresif dapat ditutup dengan bahan penutup sambungan setelah dibuat alur/lekukan sepanjang retakan. Pada kasus di mana diperkirakan tidak terjadi transmisi beban pada daerah retak, perbaikan dapat dilakukan dengan metoda rekonstruksi sebagian pada slab yang mengalami retak arah melintang, setelah sebelumnya menstabilisasi lapis pondasi. Retakan yang terjadi di dekat struktur yang bersilangan dengan jalan dapat ditutup dengan bahan penutup sambungan sepanjang retakan seperti terlihat pada Gambar 28 = SAB BETONS = ie (Pl NY sanuernaavcrees Gambar 28 - Gambar retak di struktur yang bersilangan dengan jalan 5.5.3 Patching (penambalan)> (K3) Metoda ini mengisi pecahan sudut dari pinggir sambungan atau retakan, faulting, kefidakrataan arah memanjang (longitudinal unevenness), raveling, pengelupasan (scaling), holing, retak kulit penyu (tortoise-shell cracking), crushing dan sebagainya. 3 (tiga) macam bahan pengikat yang digunakan untuk penambalan adalah aspal, semen dan resin, dan 2 (dua) macam agregat yang digunakan yaitu mortar dan beton. Di mana kombinasi penggunaannya berdasarkan kepada skaia kerusakan, kondisi alu lintas, kepentingan, ekonomis dan sebagainya. 5.5.3.1 Penambalan dengan semen Semen merupakan material yang paling banyak digunakan untuk perbaikan slab beton, karena _mudah dikerjakan dan memenuhi hasil yang diharapkan, kerugiannya adalah kesulitan yang dihadapi dalam membuat fappering dan membutuhkan waktu untuk curing, 36 dari 127 Bahan. Dengan pertimbangan kondisi lalu lintas, dipilih jenis semen yang paling sesuai dari jenis-jenis semen biasa (Normal Portland Cement), semen dengan kekuatan awal tinggi (High Early Strength Portland Cement), semen dengan kekuatan awal sangat tinggi (Super High Early Strength Portiand Cement), semen dengan waktu ikat sangat tinggi (Super High Early Hardening Cement) dan semen alumina (Alumina Cement). * Bila dikehendaki untuk membuat lapisan yang tips, digunakan mortar. Untuk lapisan yang lebih tebal, digunakan beton dengan ukuran maksimum agregat kasar kurang dati sepertiga ketebalannya. * Dalam mencampur mortar dan beton, perlu diperhatikan bahwa campuran yang diinginkan adalah yang kental. Bahan penurun kadar air dan bahan-bahan tambah lainnya dapat digunakan bila dibutuhkan. Pelaksanaan pekerjaan * Bagian slab yang mengalami kerusakan dibersihkan, permukaan construction joint dipotong dan dibuat dalam kondisi basah untuk menghilangkan debu beton, Pada saat membongkar, jangan sampai tulangan beton dan tulangan susut (wire mesh) terpotong. Misalnya terpotong, harus dilakukan penyambungan kembali * Pada saat permukaan yang akan ditambal dalam kondisi jenuh-kering permukaan (SSD) adukan semen atau mortar di tuang ke dalamnya. * Sebelum adukan semen atau mortar mengeras, padatkan kembali dan tuang campuran mortar (ready mixed) atau beton tanpa perlu ditambahkan air. * Padatkan, ratakan mortar atau beton dan sempumakan dengan menggunakan sekop pengaci. Ketinggian akhir harus lebih tinggi dari ketinggian rencana. * Setelah 30 - 60 menit, padatkan kembali mortar atau beton tersebut dan sempurnakan sampai mencapai ketinggian yang direncanakan. Alat pengukur kerataan dapat digunakan untuk memastikan kerataannya. Tekstur permukaan tambalan dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kondisi permukaan sekitamya. © Wet Curing dikerjakan dengan menggunakan kain basah atau curing mat. Periode curing tergantung kepada jenis semen yang digunakan. Catatan: * Untuk kasus kerusakan sudut dari pinggir sambungan perkerasan seperti pada gambar 29a) di mana kedalaman dan lebar kerusakan lebih dari 30 mm, bersinkan daerah yang mengalami kerusakan dan tambal dengan semen setelah lubang dibentuk seperti pada gambar 29(b). * Untuk kasus kerusakan sebagian seperti holing atau scaling, penambalan dilakukan seperti pada Gambar 30 LEBLU DARE MM KERUSAKAN SupuiT PENAMBALAN SLAR BETON r LEBUH DART ‘SMM OT a 9) KRRUSAKAR SUDUT >) PERAMBALAN SESUDAH PRMBENTUKAN, Gambar 29 - Tambalan pada kerusakan sudut di pinggit sambungan perkerasan 37 dari 127 PERMUKAAN SLAB BETON Re. Gambar 30 - Penambalan lubang 5.5.3.2. Penambalan dengan aspal Bagian slab yang rusak disingkirkan dan permukaan yang akan ditambal dibersihkan, sama seperfi pada penambalan dengan semen. Sebelum penambalan, semprot lapisan permukaan yang akan ditambal dengan tack coat. Kerjakan proses penambalan dengan cara yang sama seperti penambalan pada perkerasan aspal Catatan: 1. Bila kerusakan terjadi pada sambungan atau retakan, gunakan mortar aspal atau aspal beton gradasi rapat dan buat meruncing seperti pada Gambar 31. 2. Metoda perbaikan ini dapat diterapkan untuk faulting di antara slab beton dan perkerasan aspal, atau di antara slab beton dengan bahu jalan. Bila terdapat celah antara slab beton dan perkerasan aspal, dapat dilakukan penambalan atau injeksi bahan penutup sambungan. Gambar 31 - Penambalan dengan aspal 5.5.3.3 Penambalan dengan bahan resin sintetis Bahan resin sintetis sesuai untuk digunakan dalam penambalan karena periode curingnya singkat, tetapi harga bahannya mahal. 1. Bahan, * Material sintetis dapat berupa epoxy, polyester atau polyurethane dan Penanganannya tergantung kepada kualitasnya. Umumnya yang banyak digunakan adalah epoxy synthetic resin. * Campuran epoxy synthetic resin dibuat dengan mencampur epoxy synthetic resin sebagai bahan pengikat dan pasir silikon kering atau agregat keras dengan gradasi yang sesuai sebagai agregat. Proporsinya adalah sampai dengan rongga udara dari agregat terisi dengan bahan pengikat, biasanya perbandingan synthetic resin agregat = 1: 4-10. * Waktu ikat campuran tergantung kepada temperatur, tetapi waktu agar campuran mudah dikerjakan adalah 10-30 menit dengan waktu curing selama 2-8 jam. Lama waktu ini dapat diatur dengan merubah proporsi campuran antara material utama dan akselerator dari epoxy. Catatan: Pada temperatur tinggi, pekerjaan dapat terhambat karena campuran epoxy synthetic resin mengeras dengan sangat cepat. Oleh karena itu lebih baik pekerjaan penambalan dilakukan pagi hari, pada saat temperatur masih rendah, 38 dari 127 2. Pelaksanaan Pekerjaan * Singkirkan material perkerasan yang mengalami kerusakan. Keringkan permukaan yang akan ditambal, bersihkan dari debu dengan menggunakan kompresor. * Setelah dipastikan bahwa permukaan yang akan ditambal dalam keadaan kering, ‘semprotkan primer secara merata dengan kuantitas penyemprotan 0,3-0,5 kg/m?. * Tebarkan mortar dan padatkan selama primer masih basah. * Lakukan curing pada mortar, lindungi dari air hujan hingga mortar mengeras. 5.5.4 Grooving (pengaluran) > (K4) Grooving adalah membuat alur kecil pada permukaan perkerasan dengan alat diamond blade atau tungsten carbide disc. Grooving dibuat untuk mencegah hydroplaning dan meningkatkan ketahanan gelincir dari permukaan perkerasan dengan mencegah terbentuknya lapisan air antara permukaan perkerasan dan roda kendaraan Grooving dibuat pada arah memanjang maupun melintang, umumnya pada arah memanjang. Grooving arah memaniang efektif untuk mencegah kecelakaan lalu lintas akibat gaya lateral atau cross wind. Sedangkan grooving arah melintang efektif untuk memperpendek jarak henti dan sesuai untuk diterapkan pada lereng yang curam dan persimpangan. Untuk pelaksanaan digunakan mesin grooving. 5.5.5 Perbaikan blow up > (K5) Langkah-langkah yang dilakukan adalah: 1. Bila terjadi blow up, dilakukan perbaikan sementara untuk menghindari terhambatnya lalu lintas. Kemudian untuk selanjutnya direncanakan penggantian slab beton. 2. Bila terjadi blow up setempat, dilakukan inspeksi terhadap sambungan, dan dilakukan erbaikan sementara Karena kemungkinan akan terjadi lagi di lokasi lain 3. Bila blow up relatif kecil, dipotong bagian beton yang timbul, sejajar sambungan dengan jarak 50-60 cm dari sambungan dan dihancurkan dengan menggunakan penghancur (breaker) untuk menurunkan slab beton yang timbul. Isi tanah dan batu pecah untuk Penanganan sementara jika slab beton sudah disingkirkan, dan dilapisi dengan ‘campuran aspal agar dapat segera dibuka untuk lalu lintas. 5.5.6 Rekonstruksi >(K6) Langkah-langkah yang dilakukan adalah: 4. Pembongkaran slab beton, minimum satu unit. 2. Dilakukan penggalian lapis pondasi sedemikian rupa sehingga tidak merusak perkerasan Gi sekitarya yang masih baik. Gunakan mesin penggali secukupnya, setelah itu rapikan secara manual/dengan tangan. 3. Padatkan setiap sudut dari lapis pondasi dengan mesin penggllas. Padatkan dengan mesin pemadat ukuran kecil (vibro rammer, small-scale compactor) untuk daerah tepi, sudut yang biasanya tidak terpadatkan dengan sempuma, 4, Bila lalu lintas tetap dibuka selama pelaksanaan, perlu dibuat tapisan permukaan sementara agar tidak mengganggu lalu lintas. Gunakan campuran aspal sebagai lapisan permukaan ini 5. Untuk rekonstruksi dengan perkerasan aspal, selesaikan hingga lapis pengikat dan padatkan dengan membiarkan lapisan dilalui lalu lintas selama 1- 2 minggu. Buat taper (transisi kelandaian) dengan campuran aspal agar tidak mengganggu lalu lintas. 6. Bila rekonstruksi menggunakan perkerasan beton, perlakuan terhadap construction joint pada slab eksisting 7. Jarak antara sambungan melintang dari slab beton ditentukan sama dengan perkerasan beton yang baru. Bila rekonstruksi dilakukan hanya pada satu lajur, posisi dan struktur sambungan dibuat sama dengan lajur disebelahnya 30 dari 127 Untuk sambungan memanjang antara slab yang diganti dengan slab eksisting, pasang ie-bar dengan membuat lubang pada permukaan sambungan beton dengan menggunakan paku beton (rock boll). 8. Hindari hubungan antara struktur jalan eksisting dengan slab beton hasil rekonstruksi dengan mengisinya dengan bahan pengisi samoungan perkerasan aspal. 5.6 Ringkasan metode penanganan jalan beton (rigid pavement) Metoda penanganan berbagai kerusakan jalan beton ini untuk memudahkan para engineer, teknisi dan petugas lapangan menangani pemeliharaan jalan tol. Jenis penanganan yang dilakukan dikelompokkan dalam beberapa kelompok mulai dari K1 sampai dengan K6 yang dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini ‘Tabel 4~ _Metode penanganan jalan beton PENANGANAN No | Nama Kerusakan Jalan Beton qa] ka Ka | KS KE 1_| Gompalipecah (spalling) Vv 2_| Retak (crack) Vv 3_| Penurunan siab beton Vv 4_| Kerusakan pengisi celah melintang (Transverse Joint) v 5 _| Permukaan licin Vv 6_| Blow up Vv. 7_| Deformasi Vv Keterangan: k1_| Perbaikan Celah Ekspansi_[_Ka_| Pengaluran (Grooving) _| K2_| Penyuntikan/injection KS_| Blow Up K3_| Penambalan (Patching) | K6_| Rekonstruksi 5.7 Pemeliharaan perkerasan kaku pratekan pracetak (precast pre-stressed concrete pavement) = PPCP Ut \ 7 Gambar 32 - Jalan Tol Kanei - Pojagan PPCP adalah perkerasan berupa rangkaian panel yang menggunakan beton pracetak yang diberi tekanan atau gaya prategang arah melintang pretension di pabrik dan pemberian gaya prategang arah memanjang post tension dilakukan lokasi proyek (lapangan). Teknologi menggunakan gaya prategang untuk menyatukan panel-panel antara lain: joint panel, base panel dan central stressing panel. 40 dari 127 Base Panels Base Panels — Joint (tnuttipte) (amutuiptey Panel Gambar 33- Konfigurasi panel pracetak 5.7.1 Pemeliharaan preventive perkerasan kaku pratekan pracetak (PPCP) 5.7.1.4 Kehilangan butiran 4. Terkait dengan beban yang melalui jalan tersebut. 2. Jika tanah dasar memiliki nilai CBR yang rendah, lean concrete akan menjadi retak disekitar sambungan 3. Grouting disekitar area sambungan akan melindungi lapisan perkerasan. 4, Tingkat kerusakan ini dapat dilakukan test FWD (Falling Weight Deflectometer). 5. Kriteria perbaikan: Luas pusat kerusakan lebih dari 0,2 mm, 5.7.1.2 Retak deterioration 4. Terkait dengan beban yang melalui jalan tersebut, 2. Retak ini dapat dicegah dengan menginfiltrasi air dari dasar perkerasan kemudian ini dapat mengurangi retak extension. 3. Tingkat kerusakan ini dapat dilakukan fest crack width meter. 4. Kriteria perbaikan: dalamnya retakan lebih dari 6 mm. 5.7.1.3 Joint spalling Terkait dengan bahan yang digunakan. Dapat terjadi di joint panels. Pembersihan dan resealling pada joint sealant dapat mencegah joint spalling. Tingkat kerusakan ini dapat ditakukan observasi visual. kkriteria_perbaikan: Untuk patching biasa ukuran besar kerusakan setidaknya 100 mm dan panjang 250 mm dan untuk patching dengan lapis penutup (sealant) ukuran besar kerusakan lebih kecil dari 100 mm untuk besar dan 250 mm untuk panjang, GRENS 6.7.1.4 Joint faulting (patah sambungan) Terkait dengan beban yang melalui jalan tersebut. Penggunaan dasar lean concrete dapat meminimalkan patahnya sambungan tersebult Tingkat kerusakan ini dapat dilakukan test FWD (Falling Weight Deflectometer) Kriteria perbaikan: hasil dari test FWD adalah Transfer Efficiency (LTE) kurang dari 80% tapi lebih tinggi 60 %. Untuk straight edge, perbedaan berat minimal dari 2,5 mm (0,1 inch). ReRs 5.7.1.5 Kekesatan permukaan 1. Terkait dengan konstruksi yang digunakan dan beban lalu lintas. 2. Tingkat kerusakan ini dapat dilakukan dengan test IRI (international Roughness Index). 41 dari 127 3. Kriteria perbaikan: Berdasarkan hasil test nilai IRI yang tinggi. 5.7.2. Perbaikan perkerasan kaku pratekan pracetak (PPCP) 6.7.2.1 Joint seal damage (kerusakan akibat pecahnya sambungan) 1, Terkait dengan bahan yang digunakan 2. Tingkat kerusakan ini dapat dilakukan dengan cara mengobservasi secara langsung. 3. Hilangkan joint sealant yang rusak kemudian bersihkan dan isi ulang sambungan yang rusak tersebut. 5.7.2.2 Map cracking Terkait dengan bahan yang digunakan. ‘Map cracking adalah hasil dari reaksi alkal-silica. Penggunaan krikil di Indonesia yang berpotensi reaksi alkali semen yang tinggi. Perbalkannya dengan memasukkan fly ash pada campuran. Hindari air masuk kedalam aspal dengan overlay campuran aspal panas pada lapisan permukaan dan ditambah dengan penambahan topical lithium pada lapisan overlay sehingga dapat memperpanjang umur lapisan perkerasan jalan tersebut. gaene 5.7.2.3 Kehilangan butir pada permukaan perkerasan 1. Terkait dengan bahan dan konstruksi yang digunakan. 2. Test: Test friksi per ASTM E- 524-08 atau Friksi index international, 3. Diamond grinding, transverse or longitudinal grooving, and/ or hot-mixed asphalt overlay. 5.7.2.4 Patah sambungan 1, Terkait dengan beban yang melalui jalan tersebut. 2, Tingkat kerusakan ini dapat dilakukan test FWD (Falling Weight Deflectometer). 3. Perbaikan undersealling. 5.7.3 Perbaikan besar atau rekonstruksi ulang PPCP 5.7.3.1 Blow-up 1. Terkait dengan lingkungan. 2. Seperti kejadian yang terjadi di Cipularang perkerasannya mengalami blow-up, pada umumnya perubahan iklim sangat berpengaruh pada materials dalam sambungan. 3. Tingkat kerusakan ini dapat dilakukan dengan inspeksi visual. 5.7.3.2 Corner breaks 1. Terkait dengan beban yang melalui jalan tersebut. 2. Tingkat kerusakan ini dapat dilakukan dengan inspeksi visual 3. Perbaikan dengan patching. 5.7.3.3 Kehilangan pres-stress 4. Sangat jarang terjadi. 2, Dilakukan inspeksi visual. 3, Perbaikan replacement unit yang kehilangan pres-stress. 42 dari 127 5.7.3.4 Severely deteriorated cracks 1. Terkait dengan beban yang melalui jalan tersebut dan lingkungan. 2. Dilakukan inspeksi visual 3. Perbaikan Replacement unit yang mengalami kerusakan, 6.8 Penanganan geoteknik jalan tol Beberapa ruas jalan tol di bangun di atas tanah lunak atau tanah ekspansif sehingga pada saat pengoperasian dan pemeliharaan jalan tol, timbul problem geoteknik jalan tol. Beberapa problem yang kerap kali timbul antara lain: 4, Penurunan (settfement) Setelah beberapa tahun beroperasi, penurunan jalan tol tetap berlangsung, hal ini menjadi fokus perhatian karena pada sebagian kecil ruas jalan tol tersebut terdapat genangan air di luar rumija baik di kiri maupun di kanan jalan tol 2. Longsoran (slicing) Pada titik tertentu di jalan tol, terjadi longsoran yang disebabkan oleh beberapa hal misalnya air hujan yang terus-menerus. 3. Pergerakan tanah (soil moving) Pada lokasi tertentu di jalan tol setiap tahunnya terjadi pergerakan badan jalan yang memotong jalan tol akibat pergerakan tanah aktif di bawahnya. Penanganan terhadap kerusakan di alas bervariasi dari teknologi sederhana sampai dengan teknologi yang lebih tinggi. 5.8.1 Penurunan (settlement) Dikelompokkan dalam tiga hal, yaitu (1) penurunan seketika yang umumnya terjadi datam waktu singkat, (2) penurunan konsolidasi yang terjadi kemudian berlangsung cukup lama dan (3) penurunan rangka yang terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Apabila tanah pendukung bersifat lunak, maka besarnya penurunan akan lebih besar dan waktu yang dibutuhkan penurunan akan lebih lama. Di Indonesia sendiri, tanah lunaknya dibagi dalam 3 kategori, yaitu: (1). Tanah pesisir pantai, antara lain di jalan tol Prof. Dr Sedyatmo dan jalan tol Belawan-Medan, (2). Tanah deposit di jalan tol Padalarang-Cileunyi, (3). Tanah gemuk dan tanah ekspansif di jalan tol Surabaya-Gempol. Penurunan jalan tol menjadi menarik untuk diperhatikan mengingat di kiri kanan jalan tol tersebut adalah rawa-rawa yang level muka aimya cukup tinggi. Pada saat terjadinya banjir dapat menyebabkan pengoperasian jalan tol Prof. Dr. Sedyatmo menuju dan dari bandara Cengkareng terganggu. Disamping itu, terjadi penurunan antara struktur jembatan dan struktur perkerasan. ‘Ada beberapa alternatif penanganan 1. Untuk kasus penurunan oprit jembatan dilakukan leveling permukaan jalan. Sedangkan mengenai kasus permukaan jalan tol yang turun lebih rendah dari permukaan rawa-rawa dilakukan perbaikan sistem tanggul, jaringan pompa, dan sistem polder, namun level permukaan jalan tetap rendah sehingga diusulkan solusi penanganan berupa peninggian jalan. Ada beberapa metode peninggian ruas jalan dimana masing-masing memi konsekuensi geoteknik. + Metode timbunan dengan pondasi cakar ayam © Metode timbunan dengan send drain piles © Metode timbunan dengan expanded poly-styrol © Metode piled slab structure © Metode bridge structure 43 dari 127 2. Penangan oprit jembatan yang turun dapat ditangani dengan leveling, sedangkan ancaman banjir diantisipasi dengan membenahi sistem drainase di ruas jalan tol yang rawan dan berkoordinasi dengan instansi lain. 5.8.2 Longsoran (sliding) Kejadian longsoran adalah kejadian bencana alam yang terjadi di jalan tol, balk pada lereng bagian atas maupun bawah jalan tol. Longsoran terjadi karena nilai faktor keamanan lereng di bawah 1,0 atau gaya penahan lebih kecil daripada gaya yang menggelincir bagian lereng tersebut. Pada saat hujan terus-menerus turun di daerah lereng tersebut menimbulkan aliran air masuk ke dalam lereng dan mengakibatkan tanah jenuh air. Kadar air yang meningkat mengakibatkan tanah lempung lanau yang bersifat plastis ini bertambah volume tanahnya Hal ini mengakibatkan kekuatan geser, ikatan Kohesi, daya dukung serta parameter kekuatan tanah lainnya menjadi berkurang, sehingga tanah tidak sanggup menahan beban sendiri dan terjadilah bidang gelincir pada lereng, ‘Ada beberapa alternatif penanganan 1. Penanganan yang dilakukan adalah dengan mengupas lapisan tanah yang lunak dan menggantinya dengan tanah baru yang dipadatkan. Selain itu, membuat perkuatan dengan menanam masuk ke dalam badan lereng, barisan cerucuk dolken berdiameter 10-15 cm dan panjang 3-4 m atau batang kelapa berdiameter 25-35 om dan panjang 5-7 m. Perkuatan ini mempunyai batas waktu tertentu mengingat dolken atau batang kelapa bisa membusuk di dalam tanah. Perkuatan lain dengan tanaman hidup Johar Lambo dikombinasikan dengan struktur batu bronjong, Sistem drainase juga dibuat agar air hujan sedikit masuk ke dalam lereng atau lebih banyak mengalir di atas permukaan. Kemudian lereng di tanami rumput agar tanah tidak cepat terkikis. 2. Untuk longsoran yang diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi dimana air masuk ke dalam badan lereng melalui celah-celah adalah dengan membuat perkuatan lereng dengan dinding penahan tanah. Disamping itu, dibuat sistem aliran air agar dapat keluar dari badan lereng dengan membuat pipa-pipa air pada dinding penahan tersebut. 3. Perkuatan tebing, ada beberapa metode perkuatan tebing, antara lain: + Pemancangan sheet pile dari baja atau beton * Penimbunan tanah baru disertai dengan pembuatan gabion, namun struktur gabion sulit untuk mencagah air hujan masuk, sehingga tanah dikhawatirkan menjadi lemah kembali + Pemasangan lapisan kedap air untuk mencegah tanah jadi jenuh air, kemudian dilakukan perubahan kemiringan tebing agar menjadi lereng yang landai dengan cara penimbunan tanah baru secara terasering. 5.8.3 Pergerakan tanah (soil moving) ‘Satu-satunya lokasi pergerakan tanah yang aktif yang memotong badan jalan adalah jalan tol Semarang, di mana morfologi lokal daerahnya merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai tinggi dengan ketinggian 80-90 m di atas permukaan air laut. Kondisi batuan daerah ini adalah material endapan alluvial. Struktur geologinya dijumpai perlipatan dan patahan akibat proses tektonik. Terjadi pergerakan sebesar 1-2 mm dengan sudut 1-2 derajat selama dua bulan. Pergerakan ini belum berhenti. Akibat longsoran awal pada daerah timbunan dan lereng diatas pagar rumija, maka system drainase bawah permukaan (subdrain) tidak berfungsi. 44 dari 127 Dampaknya air tanah tidak mengalir, tekanan air pori naik, kuat geser tanah turun. Sehingga dengan kombinasi gejala kerusakan diatas, timbul, pergerakan memotong jalan yang merusak kondisi aspal, garis marka terpisah, guardrail patah, saluran tepid an pagar bergeser. Disamping itu timbul mata air-mata air baru. Untuk penanganannya lebih bersifat setempat-setempat, seperti pelapisan permukaan perkerasan, pembuatan garis marka, dan perbaikan guardril, saluran tepi dan pagar. 5.9 Pengendalian genangan air pada ruas jalan tol Secara visual penyebab genangan air pada jalan tol adalah akibat adanya perubahan tata guna lahan dan akibat penurunan permukaan jalan, serta akibat penurunan lapisan tanah. Dari tahun ke tahun untuk pemeliharaan genangan air banjir tersebut selalu berupaya merencana, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakan metoda-metoda dan cara- cara pencegahan dan pengendalian, serta penanggulangan terjadinya genangan air sesual tantangan dan kebutuhan di lapangan sejalan dengan perubahan konaisi dan situasi 5.9.1 Penyebab genangan air pada jalan tol 1, Akibat adanya penyempitan luas penampang basah di sungai yang dekat jalan tol, sehingga seringkali menyebabkan luapan air ke ROW jalan tol dan genanggan air pada jalur jalan 2. ‘Akibat meluapnya sungai yang masuk ke ruas jalan tol melalui inlet dan saluran melintang di bawah jalan tol, lokasi yang tergenang merupakan daerah superelevasi. 3. Penyebab terjadinya genangan adalah adanya perubahan tata guna lahan (daerah berair ‘menjadi tanah darat), penurunan badan jalan, dan penurunan lapisan tanah. Kasus-kasus masuknya air dari luar ROW ke dalam ROW jalan tol merupakan kasus umum yang terjadi hampir di semua ruas jalan tol. namun bila air yang masuk ke ROW tersebut menyebabkan genangan di ruas jalan tol, maka hanya beberapa ruas jalan tol yang mengalaminya. Secara visual, perubahan lahan di sekitar jalan tol nampak kegiatan penimbunan tanah pada daerah berair dan selanjutnya diikuti pembuatan bangunan sipil di atas penimbunan tanah tersebut. Penimbunan tanah pada daerah berair ini menyebabkan berkurangnyal menghilangnya daerah penampunagn air (pond/storage) dibandingkan sebelum lokasi tersebut ditimbun 5.9.2 Metode pencegahan/pengendalian 1. Air dari luar tidak boleh masuk ke ROW/ruas jalan tol dengan membuat tanggul tanah yang dirancang sedemikian sehingga memenuhi keperluan untuk menangani genangan banjir. 2. Dibuat patok pemantauan guna mempengaruhi posisi ketinggian permukaan air dibandingkan dengan permukaan jalan terendah secara teoritis air di dalam storage ini harus tetap ada dan dipertahankan untuk menjaga agar keringgian permukaan air kanan yang sama atau seimbang. 3. Pompa air akan menjasi satu bagian penting dari sistem ini untuk memompa air keluar dari pond storage. Pompa yang dipasang terdiri dari 2 macam, yaitu pompa listrik dan pompa diesel. Pompa listrik diset dan distel sedemikian sehingga setiap saat bila kondisi permukaan air mencapai ketinggian warna merah (pada patok pemantauan) maka pompa ini akan bekerja secara otomatis dan akan berhenti secara otomatis bila ketinggian permukaan pada batas ambang bawah wama kuning, Kendala yang sering terjadi pada pompa listrik di sini adalah gangguan catu daya PLN, gangguan pencurian pompa dan panel pompa. Pompa diesel merupakan plan siaga yaitu bila terjadi gangguan pada pompa listrik maka pompa diesel dioperasikan, 45 dari 127 4. Perawatan sarana atau prasarana. Perawatan asset, sarana/prasarana yang berupa sistem jaringan pencegahan/ pengendalian genangan air yang merupakan kegiatan yang tidak boleh dilupakan. Pemeliharaan sistem jaringa ini dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu pemeliharaan tanggul dan saluran dan pemeliharaan peralatan mechanical electrical (pompa air dan catu daya). 5.10 Pemeliharaan berkala jalan beton (rigid pavement) 5.10.1 Pemeliharaan local crack (retak setempat) a. Umum Salah satu bentuk kasus kerusakan pada jalan beton adalah crack (retak setempat). Pada umumnya, untuk kerusakan seperti ini dilakukan perbaikan dengan memperbaiki daerah yang rusak dengan menutupnya menggunakan karet/lateks dengan viskositas yang rendah. b. Metode perencanaan Jika retak non-progresif dengan lebar < 0.5 mm dapat ditutup dengan karet/lateks dengan viskositas rendah atau epoxy resin dengan viskositas rendah. Retak progresif dapat ditutup dengan bahan penutup sambungan setelah dibuat alur/lekukan sepanjang retakan c. Metode Pelaksanaan Menutup dengan karet/lateks: 1, Bersinkan daerah retakan dan buang bahan penutup retakan yang lama, debu, lumpur dan sebagainya. Bahan penutup yang masih berfungsi dengan baik tidak periu dibuang selama bahan yang akan digunakan masih merupakan jenis yang sama 2. Sapu, sikat kawat, pahat, kompresor udara dan pembersih retakan dapat digunakan untuk membersihkan retakan tersebut. 3. Retakan dikeringkan sebelum dilakukan pengisian, untuk menjamin terjadinya kelekatan yang baik dari bahan penutup. 4. Pengisian 5.10.2 Pemeliharaan faulting (patahan) a. Umum Salah satu_bentuk kasus lainnya pada kerusakan pada jalan beton adalah Faulting (Patahan), Pada umumnya, untuk kerusakan seperti kasus ini dilskukan perbaikan dengan memperbaiki daerah yang rusak dengan melakukan penambalan dengan semen, aspal, resin, mortar atau beton pada lokasi terjadinya patahan tersebut. b. Metode perencanaan Menentukan kemudian mengamati lokasi Kerusakan guna menentukan bahan apa yang akan digunaken untuk menambal patahan tersebut. c. Metode Pelaksanaan 1, Penambalan dengan Semen. + Bagian slab yang mengalami kerusakan dibersinkan, permukaan construction joint dipotong dan dibuat dalam kondisi basah untuk menghilangkan debu beton. Pada saat membongkar, jangan sampai tulangan beton dan tulangan susut (wire mesh) terpotong. Misalnya terpotong, harus dilakukan penyambungan kembali 46 dari 127 * Pada saat permukaan yang akan ditambal dalam kondisi jenuh-kering permukaan (SSD) adukan semen atau mortar di tuang ke dalamnya. * Sebelum adukan semen atau mortar mengeras, padatkan kembali dan tuang campuran mortar (ready mixed) atau beton tanpa perlu ditambahkan air. * Padatkan, ratakan mortar atau beton dan sempumakan dengan menggunakan sekop pengaci. Ketinggian akhir harus lebih tinggi dari ketinggian rencana. * Setelah 30-60 menit, padatkan kembali mortar atau beton tersebut dan sempurnakan sampai mencapai ketinggian yang direncanakan. Alat pengukur kerataan dapat digunakan untuk memastikan kerataannya + Tekstur permukaan tambalan dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kondisi permukaan sekitamya, * Wet Curing dikerjakan dengan menggunakan kain basah atau curing mat. Periode curing tergantung kepada jenis semen yang digunakan. 2. Penambalan dengan Aspal Bagian slab yang rusak disingkirkan dan permukaan yang akan ditambal dibersihkan, sama seperti pada penambalan dengan semen. Sebelum penambalan, semprot lapisan permukaan yang akan ditambal dengan tack coat. Kerjakan proses penambalan dengan cara yang sama seperti penambalan pada perkerasan aspal 3. Penambalan dengan Bahan Resin Sintetis + Singkirkan material perkerasan yang mengalami kerusakan. Keringkan permukaan yang akan ditambal, bersihkan dari debu dengan menggunakan kompresor. + Setelah dipastikan bahwa permukaan yang akan ditambal dalam keadaan kering,semprotkan primer secara merata dengan kuantitas penyemprotan 0,3-0,5 kgim’. ‘+ Tebarkan mortar dan padatkan selama primer masih basah + Lakukan curing pada mortar, lindungi dari air hujan hingga mortar mengeras 5.10.3 Pemeliharaan deformation (perubahan bentuk) a. Umum Perubahan bentuk permukaan pada lapisan perkerasan sangat mempengaruhi pada tingkat pelayanan jalan beton. Mengingat hal tersebut, maka diperiukan suatu metode pemeliharaan tertentu untuk mengatasinya. b. Metode perencanaan Perencanaan yang dilakukan adalah menentukan lokasi kerusakan dan perubahan bentuk yang terjadi ¢. Metode pelaksanaan Rekonstruksi skala besar. 1. Bongkar slab beton, minimum satu unit. 2. Gali lapis pondasi sedemikian rupa sehingga tidak merusak perkerasan di sekitarnya yang masih baik. Gunakan mesin penggali secukupnya, setelah itu rapikan secara manualidengan tangan. 3. Padatkan setiap sudut dari lapis pondasi dengan mesin penggilas. Padatkan dengan mesin pemadat ukuran kecil (vibro rammer, small-scale compactor) untuk daerah tepi, sudut yang biasanya tidak terpadatkan dengan sempurna. 47 dari 127 4, Bila lalu lintas tetap dibuka selama pelaksanaan, perlu dibuat lapisan permukaan sementara agar tidak mengganggu lalu lintas. Gunakan campuran aspal sebagai lapisan permukaan ini 8. Bila rekonstruksi menggunakan perkerasan beton, perlakuan terhadap construction joint pada slab eksisting dilaksanakan dengan mengikuti Metoda: = Bagian slab yang mengalami kerusakan dibersihkan, permukaan construction joint dipotong dan dibuat dalam kondisi basah untuk menghilangkan debu beton. Pada saat membongkar, jangan sampai tulangan beton dan tulangan susut (wire mesh)terpotong, Misalnya terpotong, harus dilakukan penyambungan kembali - Pada saat permukaan yang akan ditambal dalam kondisi jenuh-kering permukaan (SSD) adukan semen atau mortar di tuang ke dalamnya — Sebelum adukan semen atau mortar mengeras, padatkan kembali dan tuang campuran mortar (ready mixed) atau beton tanpa perlu ditambahkan air. — Padatkan, ratakan mortar atau beton dan sempumakan dengan menggunakan sekop pengaci, Ketinggian akhir harus lebih tinggi dari ketinggian rencana. — Setelah 30 - 60 menit, padatkan kembali mortar atau beton tersebut dan sempurnakan sampai mencapai ketinggian yang direncanakan. Alat pengukur kerataan dapat digunakan untuk memastikan kerataannya, Tekstur permukaan tambalan dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kondisi permukaan sekitarnya ~ Wet Curing dikerjakan dengan menggunaken kein basah atau curing mat. Periode curing tergantung kepada jenis semen yang digunakan 6. Jarak antara sambungan melintang dari slab beton ditentukansama dengan perkerasan beton yang baru. Bila rekonstruksi dilakukan hanya pada satu lajur, posisi dan struktur sambungan dibuat sama dengan lajur disebelahnya. Untuk sambungan memanjang antara slab yang diganti dengan slab eksisting, pasang tie-bar dengan membuat lubang pada permukaan sambungan beton dengan menggunakan paku beton (rock bolt) 7. Hindari hubungan antara struktur jalan eksisting dengan slab beton hasil rekonstruksi dengan mengisinya dengan bahan pengisi sambungan perkerasan aspal seperti pada Gambar 34 Gambar 34- Contoh pengisian sambungan antara slab beton dengan struktur sisinya di 8. Beton yang digunakan untuk pekerjaan penggantian/rekonstruksi harus sama dengan beton untuk perkerasan baru. Bila sulit untuk menggunakan mesin perkerasan skala besar, dimana area perkerasannya kecil dan terpisah-pisah, pillh campuran beton yang konsistensinya sesuai. Bila digunakan cara manual/dengan tangan, gunakan campuran beton dengan slump 5-6 cm, dengan mempertimbangkan waktu pengangkutannya ke lokasi 5.10.4 Pemeliharaan crack (retak) a. Umum Pada perkerasan jalan yang mengalami banyak retak, kerusakan atau keausan, umur slab beton dapat ditingkatkan dengan melapis ulang perkerasan dengan campuran beton 48 dari 127 b. Metode perencanaan Menetukan lokasi yang akan diperbaiki c Metode pelaksanaan Melapisi ulang daerah yang retak dengan langkah-langkah sebagai berikut 1 2, 3 4 Bersihkan daerah retakan dan buang bahan penutup retakan yang lama, debu, lumpur dan sebagainya. Bahan penutup yang masih berfungsi dengan baik tidak perlu dibuang selama bahan yang akan digunakan masih merupakan jenis yang sama. Sapu, sikat kawat, pahat, kompresor udara dan pembersih retakan dapat digunakan untuk membersihkan retakan tersebut. Retakan dikeringkan sebelum dilakukan pengisian, untuk menjamin terjadinya kelekatan yang baik dari bahan penutup. Pengisian. 5.10.5 Pemeliharaan buckling (tekuk) Umum Buckling (tekuk) merupakan kerusakan struktural yang terjadi pada jalan beton karena ketidaksempur-naan struktur dan fungsi sambungan b. Metode perencanaan Menentukan lokasi kerusakan tekuk yang terjadi guna menentukan metode pelaksanaan yang akan ditakukan cs A Metode pelaksanaan Partial Reconstruction pada sudut slab — Potong daerah di luar retakan sampai kedalaman 2-3 cm dengan pemotong beton seperti pada Gambar 35. Sudut persilangan dari dua garis pemotongan dibuat melengkung untuk mengurangi konsentrasi tegangan. Dee Gambar 35 - Partial reconstruction pada sudut slab — Singkirkan bagian beton yang mengalami retak tanpa merusak tulangan beton, tulangan susut (wire mesh) dan dowel bar. 49 dari 127 = Potong dan bengkokkan tulangan mendatar daripada tulangan susut ke atas. Bila sult untuk mempertahankan seluruhnya, potong tulangan dengan menyisakan sepanjang 20-30 cm masih menonjol ke luar. ~ Perbaiki tanah dasar dan lapis pondasi (base course) bila tidak dalam keadaan baik. Rekonstruksi dapat menggunakan soil cement karena daerah kerjanya sempit dan sulit untuk dilakukan pemadatan. ~ Periksa dowel bar yang ada, potong dan ganti yang rusak dengan yang baru. — Bila struktur sambungan eksisting adalah jenis contraction joint, tutup dengan poyethylene film atau lapis dengan material bitumen/aspal untuk menghindari ikatan antara beton lama dengan beton baru. Bila struktur sambungan eksisting adalah jenis expansion joint, gunakan joint filer — Setelah beton mengeras, buat alur sambungan dengan alat pemotong dan isi dengan bahan penutup sambungan. 2. Partial Reconstruction untuk retak melintang pada slab rs ron aan ee ae Gambar 36 - Contoh partial reconstruction pada kasus retak arah melintang slab - Potong bagian slab yang retak ke arah tegak lurus sumbu jalan. Satu garis pemotongan dibuat dengan kedalaman 2-3 cm dan garis pemotongan lainnya sedalam tebal slab. — Singkirkan beton yang ada diantara garis pemotongan. Untuk membuat construction Joint, ikuti metoda pekerjaan untuk rekonstruksi sebagian dari sudut slab. — Buat lubang pada beton exsisting dan masukkan mortar semen dan dowel bar (diameter 25x700 mm) sedalam setengah panjang dowel. — Lapis dari dowel bar dengan material bitumer/aspal dan cetakan beton = Setelah beton mengeras, buat lubang sambungan dengan alat pemotong dan masukkan bahan penutup sambungan. Catatan 1. Bila slab beton tidak menggunakan tulangan susut,ganti slab beton dengan satu slab yang utuh, Karena biasanya perbaikan mengakibatkan kerusakan pada beton di sekitarnya. 2. Bila suatu slab beton dengan retak memanjang harus diperbaiki, gunakan metoda rekonstruksi sebagian untuk retak melintang pada beton. Adapun contoh mengenai partial reconstruction untuk retak memanjang dapat dilihat pada Gambar 37 50 dari 127 5.11. Pem a ain AA Gambar 37 - Contoh partial reconstruction pada retak arah memanjang slab araan rutin bangunan atas jembatan 5.11.1 Pembersihan kotoran 1 Lokasi: Kotoran terdapat pada sebagian atau seluruh bangunan atas jembatan, Ciri-ciri: Tampak kotor, berlumut (rumput), sampah, lubang drainase tidak berfungsi dengan baik. Pengukuran hasil kerja Diukur dengan luas (m*), per buah, per meter panjang. Kemungkinan penyebab utama Debu, tanah, kotoran, pembuangan sampah tidak pada tempatnya, rumpul/tumbuh- tumbuhan dan sebagainya. Akibat: Apabila dibiarkan terus menerus akan mengganggu fungsi kerja konstruksi, mengurangi kenyaman pengemudi, menimbulkan kantong-kantong air, menimbulkan’ polusi, dan dapat merusak Komponen jembatan. Usaha perbaikan: — Disikat dan dicuci sampai bersin. — Apabila pada lokasi yang sempit dapat dipergunakan water jet (penyemprot air) 5.11.2 Retak/kerusakan beton 1 Lokasi: Terjadi pada tiang sandaran (parapet), trotoar atau lantai dan balok beton yang memerlukan perbaikan segera tetapi bersifat sementara Ciri-ciri ‘Tampak retak atau rusak, beton terkupas, keropos pada beton. Pengukuran hasil kerja: Diukur dengan luas (m*) permukaan yang diperbaiki. Kemungkinan penyebab utama: Pelaksana pengecoran beton yang kurang baik, benturan pelapukan, keausan dan lain- lain. 61 dari 127 5. Akibat: Dapat mengurangi kekuatan, umur dan daya tahan jembatan 6. Usaha perbaikan: — Buang/lepaskan semua bagian yang rusak/lepas sampai bagian yang baik terlihat dan bersih. Jika kerusakan mencapai kedalaman 4 om tetapi tidak terkena besi beton, gunakan wire mesh halus ditempelkan pada permukaan beton lama. Apabila kerusakan sampai pada besi beton usahakan membersihkan sampai 15 mm di belakang besi beton agar didapat ikatan yang baik. — Bersihkan karat pada besi beton. Jika akibat karat pada besi beton. Jika akibat karat luas penampang besi beton berkurang sampai + 20% dari luas semula, maka tambahkan besi beton baru disamping luar sepanjang + 30 cm. Kemudian pasang beton baru dan bentuk kembali hingga sesuai asal dengan bahan yang setara 7. Perbaikan beton — Buang dan bersihkan bagian yang rusak pada lubang akhir —_Bersinkan besi beton dari Karat. Bersinkan dengan sikat kawat. Isi lubang tadi dengan mortar khusus (usahakan tetap lembab selama 3 hari). 5.11.3 Karatan/lapisan cat/galvanis yang terkelupas 1. Lokasi: Terjadi pada sebagian komponen jembatan rangka baja/gelagar baja/gantung baja 2. Cirkir Lapisan cat galvanis terkelupas/karatan yang dapat dilihat dengan mata (visual). 3. Pengukuran hasil kerja: Diukur dalam meter persegi (m’) 4. Kemungkinan penyebab utama: Keausan cat, lapisan galvanis akibat cuaca/lingkungan, pengecatan kurang sempurna, benturan pada Komponen waktu pemasangan, pengumpulan air karena sampah, drainase kurang berfungsi, akibat benturan kendaraan. 5. Akibat Apabila dibiarkan akan menyebabkan daerah karat bertambah luas sehingga dapat mengurangi kekuatan konstruksi. 6. Usaha perbaikan: = Bagian yang berkarat disikat dengan sikat kawat dan diamplas sampai bersih kemudian dicat sampai rata = Untuk komponen yang bergalvanis hendaknya dipergunakan cat galvanis. 5.11.4 Pin, baut kurang kencang/hilang 4. Lokasi: Terjadi pada bagian komponen jembatan rangka baja/gelagar baja/gantung baja. 2. Circ Dapat diketahui dengan pengecekkan setempat, yaitu dengan menggunakan palu (1 kg) yang dipukulkan pada sekitar lokasi tempat kedudukan baut tersebut. 52 dari 127 3. Pengukuran hasil kerja’ Pengencangan/pergantian baut, pin, paku keeling dihitung per buah 4, Kemungkinan penyebab utama: Pemasangannya kurang sempurna, Keausan bahan, getaran akibat lalu lintas. 5. Akibat: Apabila tidak segera diperbaiki akan mengakibatkan getaran yang lebih besar, lawan lendut jembatan (camber) berkuang dan membahayakan keamanan konstruksi. 6. Usaha perbaikan: = Baut yang kendor segera dikencangkan Baut yang hilang segera diganti dengan bahan yang sama. Kencangkan sesuai spesifikasi yang ada 5.12 Pemeliharaan rutin bangunan bawah jembatan 5.12.1 Pembersihan kotoran 1. Lokasi Kotoran terdapat pada sebagian atau seluruh permukaan bangunan bawah jembatan 2. Ciricir Tampak kotor/sampah, lumut, warna berbeda dengan bagian yang bersih. 3. Pengukuran hasil kerja: Diukur dengan luas (m*) permukaan yang dibersihkan. 4, Kemungkinan penyebab utama: Debu, tanah, kotoran, pembuangan sampah tidak pada tempatnya, rumputitumbuh- tumbuhan dan sebagainya 5. Akibat: Bila dibiarkan akan menimbulkan polusi dan dapat merusak bangunan bawah jembatan, 6. Usaha perbaikan: Hilangkan kotoran dan lumut dengan sikat kawat atau alat lain, semprot dengan waterjet, bersinkan lubang drainase. 5.12.2 Retak/kerusakan beton 1. Lokasi: Terjadi pada bagian bangunan bawah yang terbuat dari beton 2. Cirkciri: ‘Tampak retak atau rusak, beton terkupas, keropos pada beton. 3. Pengukuran Hasil kerja Diukur dengan luas (m*) permukaan yang diperbaiki 4. Kemungkinan penyebab utama: Pelaksana pengecoran beton yang kurang baik, benturan, pelapukan, keausan dan lain- lain. 53 dari 127 5. Akibat Dapat mengurangi kekuatan, umur dan daya tahan jembatan. 6. Usaha perbaikan: Buang/lepaskan semua bagian yang rusak/lepas sampai bagian yang baik terlihat dan bersih. Jika kerusakan mencapai kedalaman 4 om tetapi tidak terkena besi beton, gunakan wire mesh halus ditempelkan pada permukaan beton lama. Apabila kerusakan sampai pada besi beton usahakan bersihkan sampai 15 mm dibelakang besi beton agar didapat ikatan yang baik. Bersihkan karat pada besi beton. Jika akibat karat luas penampang besi beton berkurang sampai + 20% dari luas semula, maka tambahkan besi beton baru disamping luar sepanjang + 30 cm. Kemudian pasang beton baru dan bentuk kembali hingga sesuai asal dengan bahan yang setara 7. Perbaikan Beton ~ Buang dan bersihkan bagian yang rusak pada lubang akhir. ~_ Bersihkan besi beton dari karat, bersihkan dengan sikat kawat, isi lubang tadi dengan mortar khusus (usahakan tetap lembab selama 3 hari). 5.12.3 Karatan pada tiang pancang baja 1, Lokasi: Terjadi pada sebagian permukaan tiang pancang baja. 2. Ciriciri: ‘Tampak karatan pada permukaannya. 3. Pengukuran hasil kerja Diukur dengan luas (m*) permukaan yang dicat 4, Kemungkinan penyebab utama: Terkelupasnya lapisan cat, goresan atau benturan, pengaruh udara dan air sekeliling. 5. Akibat: Bila dibiarkan akan menyebabkan daerah karat bertamah luas, sehingga dapat mengurangi tebal baja pada ting pancang, 6. Usaha perbaikar Bersihkan dengan sikat kawat atau alat lain hingga timbul goresan pada permukaan, kemudian cat sampai rata dengan bahan yang setara. 5.12.4 Drainase dinding yang tersumbat 1. Lokasi Terjadi pada lubang darinase dinding pada dinding kepala jembatan, dinding penahan tanah, dinding pilar berongga dan dinding pelengkung 2. Ciriciri: ‘Tampak tersumbat oleh kotoran/sampah 3. Pengukuran hasil kerja: Diukur dengan lumpsum 54 dari 127 4, Kemungkinan penyebab utama Debu, tanah, kotoran, pembuangan sampah tidak pada tempatnya, rumputtumbuh- tumbuhan dan sebagainya 5. Akibat: Dapat mengurangi kekuatan, umur dan daya tahan jembatan. 6. Usaha Perbaikan Hilangkan kotoran dan lumut dengan sikat kawat atau alat lain, semprot dengan waterjet, bersihkan lubang drainase dinding 5.12.8 Pipa cucuran 1. Lokasi: Terjadi pada sebagian atau sepanjang pipa cucuran 2. Ciri-ciri: Karat, cat memudar, bengkok, tersumbat sampah/kotoran, elemen pipa yang salah (diameter terialu kecil/pipa terlalu panjang/terpasang di kepala jembatan), Komponen hilang/rusak. 3. Pengukuran hasil kerja Diukur dengan lumpsum 4. Kemungkinan penyebab utama Cuaca, sampabikotoran, hilang 5. Akibat: Dapat mengurangi kekuatan, umur dan daya tahan jembatan 6. Usaha Perbaikan’ a. Penurunan Mutu Cat dan Karat * Bersihkan pipa cucuran terhadap karat dan kotoran yang melekat. + Lakukan pengecatan ulang, * Untuk pipa cucuran dengan bahan pipa baja, gunakan lapisan cat dengan bahan dasar epoxy. b. Perubahan Bentuk Pada Komponen + Bagian pipa cucuran yang bengkok kalau masih dapat diperbaiki (diluruskan), maka perbaiki apabila tidak maka, + Potong bagian pipa cucuran yang bengkok atau rusak. + Bersihkan pipa cucuran yang masih melekat pada lantai terhadap karat dan kotoran yang melekat. + Lakukan penyambungan dengan las. ‘+ Pipa diberi lapisan pelindung yaitu cat. * Untuk pipa cucuran dengan bahan pipa baja, gunakan lapisan cat dengan bahan dasar epoxy. . Komponen Yang Rusak Atau Hilang ‘+ Potong bagian pipa cucuran yang rusak. + Bersihkan pipa cucuran yang masih melekat pada lantai terhadap karat dan kotoran yang melekat. 55 dari 127 * Lakukan penyambungan dengan las. * Pipa diberi lapisan pelindung yaitu cat. * Untuk pipa cucuran dengan bahan pipa baja, gunakan lapisan cat dengan bahan dasar. d._ Elemen Yang Salah (Diameter Kecil/ kurang panjang) + Pipa cucuran yang kurang dimensinya dipotong, + Jalan masuk air dari lantai diperbesar. © Pasang pipa cucuran sesuai dimensi yang seharusnya. * Beri lapisan pelindung, e. Elemen Yang Salah (Tidak Boleh Dipasang di Abutment/Kepala Jembatan) © Bersihkan daerah abutment yang kotor. © agian pipa cucuran yang tidak pada tempatnya dibongkar. * Buat lubang baru yang lokasinya tidak di atas abutment. Pasang pipa cucuran baru. * Pipa diberi lapisan pelindung yaitu cat. * Untuk pipa cucuran dengan bahan pipa baja, gunakan lapisan cat dengan bahan dasar epoxy. f. Pipa Cucuran Tersumbat * Bersihkan lubang pipa cucuran, semprot dengan waterjet + Periksa kondisi pipa cucuran. 5.13. Pemeliharaan rutin bangunan pelengkap jembatan 5.13.1 Pembersihan kotoran 1. Lokasi Kotoran terdapat pada bagian fenderipilar, wingwall, slope protection. 2. Cirkoir Tampak kotor/sampah, lumut, barang hanyutan, tumbuhan liar dan rumput, lubang drainase tersumbat. 3. Pengukuran Hasil kerj Diukur dengan luas (m*) permukaan yang dibersihkan, lumpsum untuk pembersihan fender. 4. _Kemungkinan penyebab utama: Kotoran/sampah, tumbuhan liar atau rumput, barang hanyutan, 5. Akibat: Bila dibiarkan akan menimbulkan polusi dan tekanan akibat air/hanyutan bertambah. 6. Usaha perbaikan: ~ _Bersihkan kotoran/sampah, lumut, barang hanyutan, tumbuhan liar dan rumput. Bersihkan lubang drainase dinding. Catatan: Pekerjaan perbaikan pasangan batu/bata, beton pada bangunan pelengkap jembatan sama dengan pada bangunan bawah. 56 dari 127 5.13.2. Kerusakan pada fender 1. Lokasi Terjadi pada bagian fender dati pilar jembatan. Sedangkan kerusakan pada wingwall, slope protection dan parapet dan dilihat pada UPR-03.2 Pemeliharaan Rutin Bangunan Bawah Jembatan 2. Cirkeiti Tampak terjadi perubahan bentuk dari aslinya, terdapat kerusakan kecil atau pada bagian yang hilang/lepas. 3. Pengukuran hasil kerja’ Diukur dengan lumpsum 4. Kemungkinan penyebab utama: Aliran air dan tumbukan sampah atau barang hanyutan, atau benturan perahu/kapal, 5. Akibat: Bila dibiarkan akan mengurangi fungsi fender, sehingga barang hanyutan dapat menabrak konstruksi pilar 6. Usaha perbaikan: — Siapkan alat-alat kerja dan bahkan pengganti = Lepaskan yang rusak dan ganti dengan bahan yang setara. - Bila ada sambungan yang putus atau kendor, sambung (dengan las) atau dikencangkan kemball. 5.14 Pemeliharaan berkala jembatan 5.14.1 Pemeliharaan sambungan ekspansi a, Umum 1, Dalam proses memilih, mendesain, memasang dan memelihara sambungan ekspansi terdapat hal-hal yang perlu dicermati, diantaranya adalah umur operasional sambungan ekspansi, penentuan jenis sambungan ekspansi dan faktor-faktor yang mempengaruhi daya guna sambungan ekspansi. Ada 3 jenis sambungan ekspansi, yaitu sambungan terpendam (buried joint), samoungan karet (rubber joint) dan sambungan baja berbentuk jati (ste! finger joint), Sambungan yang banyak mengalami kerusakan adalah sambungan jenis karet. Jenis kerusakan yang teridentifikasi adalah: ~ Aspal turun kurang lebih 5-10 mm di kedua sisi SBR (Styrene Butadiene Rubber) atau latex mortar. — Aspal terurai disekitar sambungan ekspansi, ~ SBR mortar retak di kedua sisi/pecah. ~ Kerusakan pada sambungan karet. = Retak antara beton dan SBR mortar. 2. Mekanisme kerusakan diawali oleh terjadinya pemampatan pada perkerasan aspal disekitar sambungan ekspansi melebihi dari yang diperkirakan sebelumnya. 87 dari 127 Diberi Sho-Bond #901 Adukan SBR FRP Perkeracan | a Perkerasan Jalan : ese — ens A permukaan beton dai patongan 2" Irermuxast?beton dan potongan perkerasan diberi Sho-Bond #301 Jperkerasan diberi Sho-Bond #304 ‘Sebagal Lapisan Dasar (primer) |sebagai Lapisan Dasar(primer) Keret Pelat Beton Penyeket Pelat Beton Gambar 38- Penampang melintang sho bond b, Peralatan/bahan yang digunakan Jenis/merk sambungan ekspansi 1. Untuk jenis sambungan karet, material yang digunakan adalah SBR mortar (epoxy resin mortar, terdiri dari shobond # 301 (perekat) dan shobond silika sand no. 3,4,7 (agregat) 2. Liat brosur produk sambungan ekspansi dari berbagai negara yang terdiri dari jenisimerk, asal produk, akomodasi pergerakan dan material. c. Metode perencanaan Disain sambungan ekspansi harus disertai dengan pertimbangan penyaluran air dari permukaan jalan. Air yang mengalir sepanjang kerb harus diterima oleh saluran pembuang air sebelum mencapai sambungan ekspansi. Sedapat mungkin sambungan ekspansi dibuat kedap air sepanjang lebar lajur, kerb, trotoar dan sebagainya. Beton dan baja tulangan Jembatan harus sejauh mungkin dihindarkan dari air. Bila tidak memungkinkan, paling sedikit harus dilakukan pemeliharaan rutin pada perletakan (bearing) dan alas perletakan (pedestal) Biasanya umur sambungan ekspansi apabila dipelihara secara baik dapat mencapai lima tahun. Inipun dengan catatan bahwa penempatannya benar dan tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan. Kerusakan dini yang terjadi pada umumnya adalah akibat pemeliharaan yang kurang memadai atau bahkan mungkin tidak pernah dilakukan sama sekall d. Metode pelaksanaan Secara umum metode perbaikan sambungan ekspansi dapat dilakukan sebagai berikut 1. Perbaikan setempat, seperti: + Memperbaiki kondisi perkerasan jalan © Mengganti komponen sambungan ekspansi yang rusak. + Perbaikan keseluruhan, seperti — Mengganti sambungan ekspansi yang ada dengan sambungan jenis lain. — Mengganti sambungan ekspansi yang ada dengan sambungan jenis serupa. 2. Perbaikan lain-lain, seperti ‘* Memperbaiki lantai beton. + Membuat sambungan menjadi kedap terhadap air. ‘| Mengangkat sambungan yang amblas. 58 dari 127 e. Metoda pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perbaikan sambungan ekspansi adalah: 4. Perbaikan harus dikerjakan sesegera mungkin 2. Perbaikan yang sesuai harus dilakukan setelah mencari sebab dari kerusakan, 3. Rencana kerja terinci harus sepenuhnya mempertimbangkan peraturan lalu lintas yang berlaku. 4. Usahakan apabila ditemukan kerusakan pada lantai beton, perbaikannya dilakukan secara bersamaan dengan penagantian sambungan 5. Apabila kondisi sambungan ekspansi sudah parah sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, disarankan untuk dilakukan penggantian sambungan. f. Kasus-kasus yang dihadapi pada saat pelaksanaan 4. Aspal yang mengalami penurunan antara 5-10 mm di kedua sisi SBR mortar, diganti aspal baru sesuai dengan ketebalan yang dibutuhkan guna melindungi sambungan ‘ekspansi dari tumbukan roda kendaraan 2. Aspal yang terurai (scouring) di sekitar sambungan ekspansi harus seluruhnya diganti dengan lapisan aspal baru. 3. SBR mortar yang mengalami retak di kedua si epoxy SB 201 dan pasir halus. 4, SBR mortar yang pecah dibongkar dan diganti dengan yang baru 5. Kerusakan pada sambungan karet bila masih memungkinkan untuk diperbaiki (belum robek), cukup dibersihkan dari material yang mengotorinya. Apabila terdapat retak-retak sedikit, cukup dengan memberikan epoxy SB 901. Namun demikian apabila karetnya telah rusak harus dibongkar dan diganti 6. Retak yang terjadi antara beton dan SBR mortar cukup di chipping dan dicor baru. dibersihkan dan diisi dengan campuran 5.14.2, Pemeliharaan lantai jembatan a. Umum Kerusakan yang terjadi pada jembatan adalah pecahnya lantai jembatan, yang selanjutnya dibarengi pelepasan material pelat lantai beton bagian bawah. Kemungkinan penyebab kerusakan adalah: 1. Kesalahan pelaksanaan pada saat awal dibuat. Hal ini diindikasikan dari kerusakan pelat beton pada bagian bawah yang terlepas material betonnya keropos. 2. Ketidaksesuaian material agregat. Dari hasil bongkaran material terlihat material yang digunakan adalah batu koral polos yang berbentuk bulat, bukan menggunakan jenis material batu pecah berbentuk kubikal, sehingga ikatan antar material kurang kokoh 3. Akibat pendongkrakan kendaraan berat yang dilakukan di atas lantai jembatan. Hal ini terlihat dari bekas telapak balok kayu pada permukaan aspal dan arah retakan yang mengikuti arah memanjang balok kayu tersebut. Gambar 39 - Pecahnya lantai jembatan 59 dari 127 b. Peralatan/bahan yang digunakan 1. Material pengganti pelat beton jembatan dipilih material non-shrinkage yang memiliki kuat tekan 400 kg/cm? (K-400) dalam waktu 1 x 24 jam. Untuk keperluan ini dipilin material SIKA type M-215. 2. Material penutup permukaan, (AMP) terdekat. 3. Untuk pembongkaran lapisan aspal digunakan Mini Jack Hammer. ipiih aspal wearing course dari Aspahalt Mixing Plant cc. Metode perencanaan ‘Agar fungsi jembataan tetap dapat digunakan dengan baik oleh pemakai jalan, maka dilakukan metode perencanaan perbaikan sebagai berikut 1. Pengaturan dan pengamanan lalu lintas dibagi dalam 2 tahap yaitu: pengaturan dan pengamanan lalu lintas selama masa perbaikan dan pengaturan dan pengamanan lalu lintas selama pengecoran. Waktu pemasangan bekisting lantai jembatan ukuran 1,85 x 10,25 m: 1 hari Pembongkaran pelat lantai jembatan: 5 hari Pembersihan dan perapihan hasil bongkaran: 4 hari Pengecoran pelat lantai jembatan kembali: 1 hari Perawatan hasil pengecoran: 2 hari. Pengaspalan permukaan lantai: 1 hari NOGRON Sehingga total kebutuhan waktu perbaikan adalah 11 hari, Untuk memenuhi kecepatan waktu pelaksanaan tersebut, maka harus dilakukan pekerjaan dengan sistem kerja 3 shift. Gambar 40 - Pemasangan bekisting pada bagian jembatan yang dibongkar d. Metode pelaksanaan 1, Setelah dilakukan pengaturan lalu lintas di jalan utama dan diatas jembatan, dilanjutkan dengan pengamanan bagian pelat lantai jembatan yang telah mengalami pelepasan material dengan cara memasang lembaran multipleks tebal 12 mm diletakkan di bawah pelat lantai jembatan kemudian diberi penyokong yang kokoh, yang nantinya berfungsi ‘sebagai bekisting untuk pekerjaan selanjutnya. Selanjutnya setelah bekisting terpasang dengan baik dan cukup rapat, barulah dilakukan pembongkaran terhadap bagian lantai yang pecah, 2. Dikarenakan kerusakan pelat lantai jembatan yang terjadi adalah retak secara memanjang mengikuti arah dari balok girder jembatan dan sepanjang jarak antara intermediate diafragma, yaitu 1,85 x 10,25 m. Pembongkaran dilakukan dengan cara 2 tahap, yaitu: 60 dari 127 © Pertama membongker lapisan aspal wearing course menggunakan alat Mini Jack Hammer. * Kemudian dilanjutkan pembongkaran pelat beton menggunakan pahat dan marti, Cara ini ditempuh agar bekisting yang telah terpasang tidak rusak akibat pembongkaran. 3. Pengecoran dilakukan menggunakan metode dua arah yang dimulai dari bagian tengah pelat beton ke arah berlawanan dan dikerjakannya secara bersamaan. Pengecoran dilakukan pada malam hari dengan memperlimbangkan agar material beton tidak cepat mengalami pengeringan segera sehingga tidak terjadi penyusutan dan retak rambut. @. Metoda pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan adalah sebagai berikut 1. Setiap pelaksanaan pekerjaan pengecoran harus selalu diperhatikan penempatan alat pemadat (vibrator) untuk mencegah terjadinya beton keropos. 2. Untuk pemilihan material agregat beton yang akan digunakan untuk bahan pelat lantai Jembatan selain kekerasan material yang memenuhi syarat sebaiknya agregat tersebut dari material batu pecah (stone crusher) bukan material alam. 3. Bahwa hasil uji laboratorium terhadap benda uji kubus beton pada saat pelaksanaan tidak dapat mewakili seluruh hasil pekerjaan, seharusnya berdasarkan indikasi beton kropos tersebut dilakukan tes hammer pada tempat yang mencurigakan. 4, Dibuatkan prosedur tetap untuk disampaikan kepada petugas patroli jalan tol, bahwa pendongkraan kendaraan berat tidak dibolehkan diatas lantai jembatan. f. Kasus-kasus yang dihadapi pada saat pelaksanaan 1, Segera setelah selesai pengecoran, permukaan beton ditutup dengan karung goni basah, dan setelah melewati 2 jam sesudah pengecoran permukaan beton direndam dengan air. 2. Lalu lintas jembatan sudah dapat dibuka saat umur beton mencapal 1 x 24 jam, dengan tetap mengamankan lokasi bekas pengecoran. 3. Setelah 2 x 24 jam, material aspal wearing course sudah dapat dinampar pada bagian lantai jembatan yang diperbaiki. Dan kemudian setelah 1 x 12 jam penghamparan wearing course, seluruh permukaan lantai jembatan sudah dapat dilewati lalulintas. 5.14.3 Pemeliharaan kerusakan slab jembatan a. Umum Secara teoritis retak yang dapat mengurangi struktur slab jembatan apabila: 1. Tegangan akibat beban dan gaya yang bekerja melampaui kekuatan struktur slab jembatan. 2. Tegangan lelah akibat beban dinamis/ialu lintas yang melewati slab jembatan telah melampaui batas kekuatan lelah beton. Bebarapa kemungkinan faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya retakan antara lain: 1. Faktor air semen tinggi memungkinkan terjadinya akumulasi air semen pada permukaan, hal inilah yang menyebabkan terjadinya retak permukaan. 2. Pelaksanaan pembetonan tidak dilakukan dengan metode yang benar, sehingga terjadinya akumulasi air semen pada permukaan. 3, Mutu beton tidak memenuhi persyaratan, hal ini terjadi jika job mix tidak dilaksanakan sesuai mix design 61 dari 127 4, Slab jembatan tidak cukup kaku dibandingkan dengan beban lalu lintas yang melewatinya. 8. Kendaraan overload sangat dominan sehingga dapat menyebabkan terjadinya retak pada slab jembatan. b. Metode perencanaan Kondisi retakan yang terjadi pada slab jembatan dapat merupakan indikator seberapa tingkat kerusakan slab jembatan atau dengan kata lain kondisi retakan dapat mencerminkan kekuatan struktur slab itu sendiri Berdasarkan klasifikasi kondisi retak tersebut, perbaikan dengan cara mengganti beton pada slab yang rusak akan dilakukan jika kondisi slab jembatan sudah mencapai tingkat IV dan V. Sedangkan untuk slab yang termasuk dalam tingkat Ill, hanya dilakukan pengamatan secara intensif. Tabel § - _Klasifikasi kondisi retak lantai jembatan eae Pola Retak Keterangan 1 * Retak garis searah © Kekuatan lantai masih cukup * Retak garis dua arah setempat-| » Perlu diamati perkembangannya| setempat © Jarak retakan >200 cm, lebar <0,001 mm 7 * Pola retak bercabang atau jumlahnya | * Kekuatan lantai masih cukup bertambah * Perlu diamati serta diukur * Panjang retak garis bertambah kedalamannya * Jarak retakan 200-70 cm, lebar 0,01- 0.03 mm. i * Pola retak dediritis Kekuatan lantai berkurang ‘+ Jarak retakan 70-40 cm © Perlu segera ditanggulangi —_| « Lebar retakan 0.02.05 mm IV] Pola retak buaya + Struktur lantai dalam kondisi + Jarak retakan 40-30 om keris * Lebar retakan 0,5-1,0 mm © Perlu segera ditanggulangi V | + Retak buaya sebagian sudah spall | Lantai dalam kondisi rusak (lepas) parah * Jarak retakan <30 om * Perlu segera ditanggulangi Lebar retakan >4 mm. c. Metode pelaksanaan Perbaikan slab jembatan yang rusak dilakukan dengan cara membongkar bagian slab yang rusak dan diganti dengan yang baru dengan tahapan sebagai berikut: 1, Pengaturan lalu lintas ‘Selama masa pelaksanaan, jalur lalu lintas pada jembatan tidak ditutup untuk kendaraan melainkan hanya dilakukan penyempitan jalur. Pengaturan lalu lintas harus benar-benar konsisten dilaksanakan dengan mengacu pada perambuan untuk standar jalan tol. 62 dari 127 2. Pembongkaran Slab Yang periu diperhatikan pada tahapan inki adalah pembongkaran harus dilakukan sampai dengan as balok girder. Dengan demikian beton yang baru benar-benar bertumpu pada balok girder. ‘areal beton yang rusak Sleb Beton Balok Girder a -—— areal pembongkaran Gambar 41 - Cara pembongkaran 3. Pemasangan bekisting Bekisting dibuat sedemikian rupa agar kedap air, karena hal ini akan mempengaruhi mutu beton yang dihasilkan. 4. Penambahan tulangan Penambahan tulangan beton perlu diberikan menggunakan tulangan yang berdiameter dan jenis yang sama dengan tulangan yang terpasang pada tulangan melintang maupun memanjang dibagian atas maupun bawah slab. Hal ini dimaksud untuk menambah kekuatan/kekakuan slab. Juga untuk mereduksi getaran akibat lalu lintas pada saat Pengecoran beton sampai dengan proses pengerasan beton. 5. Bending Agent Untuk mempersatukan antara beton lama dengan beton baru diperlukan bending agent yang berfungsi sebagai lem perekat. 6. Pengecoran Beton Hal yang perlu diperhatikan pada tahap pencecoran yaitu: * Agar beton cepat mengeras diperlukan slump yang rendah, dengan demikian pengaruh getaran lalu lintas selama proses pengerasan dapat diminimalisasi. © Mengingat beton dengan slump rendah ini agak sulit pengerjaannya, maka vibrator yang diperlukan adalah vibrator elektrik. + Waldu pelaksanaan pengecoran dilakukan pada saat lalu lintas sepi. 7. Wearing Course Setelah masa curing beton selama 14 hari, maka slab beton siap dihampar wearing course dan pekerjaan perbaikan slab jembatan yang rusak dinyatakan selesai. Metoda pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan Metode pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan perbaikan slab jembatan adalah sebagai berikut: 1, Perambuan lalu lintas untuk pekerjaan, mengacu pada pemasangan rambu darurat pekerjaan jalan tol dan keputusan Menteri Perhubungan No. 61 tahun 1993 tentang rambu lalu lintas di jalan. Tambahan flasher (triblitz) dan ropelight untuk pengamanan lalu lintas pada malam hari. 63 dari 127 2. Pembongkaran slab harus mencapai as balok girder terdekat dengan lokasi slab yang rusak. Maksimum lebar pembongkaran 2,20 m (Sesuai jarak antar girder) untuk 1 tahap pekerjaan. 3. Disyaratkan bekisting harus benar-benar kedap air. 4. Disarankan mempergunakan bonding agent yang mempunyai kemampuan setara produk sikadur 732, volume bonding agent = 0,60 kg/m’. 5. Slump beton pada saat pengecoran: (52) cm. Vibrator yang digunakan adalah vibrator elektrik dan curing beton 14 hari setelah pengecoran e. Kasus-kasus yang dihadapi pada saat pelaksanaan 1. Beton jenis non- shrink menjadi phan utama sebagai pengganti slab jembatan yang usak. Kelebihan dari beton non-shrink adalah mampu mencapai kekuatan tekan maksimal (500-600 kg/cm’) hanya dalam waktu 3-7 hari setelah pengecoran. Beberapa produk yang pernah digunakan untuk perbaikan slab jembatan adalah: Sika, Denka Tascon dan construction grout. Yang menjadi masalah adalah beton non-shrink ini sangat mahal dan bahan dari material ini harus import dari negara lain. Bahan baku beton non- shrink sangat tergantung nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Hal inilah yang juga ikut memicu tingginya harga beton non-shrink. 2. Pilihan alternatif sebagai pengganti slab jembatan yang rusak adalah beton konvensional K-500 dengan pertimbangan bahan mudah didapat, diharapkan pada 14 hari kekuatan beton sudah mencapai 440 kg/cm” dan pada saat itulah jembatan sudah siap dilalui lalu lintas, 3. Yang perlu dihindarkan pada pilihan konvensional, adalah pemilihan waktu pelaksanaan dengan menghindari adanya hari libur nasional/hari raya, 5.14.4 Pemeliharaan kerusakan slab jembatan dengan cara grouting a. Umum Keretakan pelat jembatan yang diakibatkan oleh gejala kelelahan bahan (fatique) dalam menahan beban dinamis yang berulang-ulang. Kemampuan struktur pelat jembatan masih mampu memikul beban dengan standar pembebanan BM 100. Untuk memahami bagaimana menentukan tingkat keparahan dari suatu retak perlu diketahui 1. Seberapa panjang retak dalam daerah 1m? dapat dilakukan dengan menggunakan mistar. 2. Seberapa lebar retak pada permukaan pelat. Lebar retak ini dapat dicari dengan menggunakan kaca pembesar dalam satuan mm. 3. Seberapa dalam retak, untuk mengetahui kedalaman retak dengan menggunakan alat Pundit. “arpa Sonpna- Past, i ba Patt tot pajang tak mn Laer Gambar 42- Jalur retak 64 dari 127 4. Hasil perhitungan pola retak oleh Ir. Nixon Sitorus, Sub Divisi Pemeliharaan PT. Jasa Marga Persero. Keretakan pelat jembatan dikategorikan dalam 4 tipe pola retak 1. Tipe A, panjang retak 3 m/m?, lebar retak 0,1-0,2 mm , dalam retak 50-200 mm. 2. Tipe B, panjang retak 5 mim’, lebar retak 0,1-0,2 mm , dalam retak 50-160 mm. 3. Tipe C, panjang retak 7 m/m?, lebar retak 0,2-0,3 mm , dalam retak 70-210 mm. 4. Tipe D, panjang retak 9 mim’, lebar retak 0,2 mm, dalam retak 40-150 mm. Lebar retak yang cukup besar memungkinkan molekul oksigen masuk kedalam_pelat, sehingga dapat menyebabkan korosi pada tulangan. Untuk memperbaiki retak perlu diketahui jenis retak yang dikelompokkan sebagai berikut 1, Retak Dormant atau retak mati, dimana retak sudah stabil dan tidak akan bertambah terbuka. 2. Retak aktif, dimana retak tersebut masih bertambah banyak dan parah. Retak tersebut berkembang dan bersifat aktif, direkomendasikan untuk memperbaiki retak tipe C dan D. b. Peralatan/bahan yang digunakan Bahan grouting: Sho-bond Sealent Alat Cordrill Epoxy BONS ¢. Metode perencanaan Bahan grouting yang tersedia di pasaran adalah Sica, Fosroc, Sho-bond, Conisibond. Dengan menggunakan metode injeksi Ballon Injection for Concrete Structure (BICS) adalah mempunyai cara kerja sebagai berikut: 1, Pelat bawah jembatan dibersihkan dari debu, kotoran, minyak oli dan lainnya. 2. Jalur retak dan injeksi ditandai dengan kapur, kemudian dipasang pipa masuk. 3. Tutup retak permukaan dan disekitar "pipa masuk” dengan bahan sealent. 4. Tunggu sealent mengeras. 5. Pasang suntikan "BL-Injector’ ke dalam pipa masuk. 6. Bahan grouting diaduk rata, kemudian dimasukkan ke dalam suntikan dengan pompa. 7. Tunggu bahan grouting mengeras. Kemudian cabut suntikan dan pipa masuk. Kikis sealent agar pelat rata kembali. 8. Uji hasilnya dengan alat pundit atau metode cordhill. d. Metode Pelaksanaan 1. Melakukan injeksi epoxy pada tipe C dan tipe D, termasuk pada daerah yang injeksi sebelumnya tidak sempuma 2, Memasang steel plate bonding atau carbon striple plate pada pelat untuk mengurangi kemungkinan kelelahan bahan e. Metoda pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan Metode pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan perbaikan slab jembatan adalah sebagai berikut. 1. Perlu pemeriksaan terbaru mengenai kondisi retak 2. Untuk retak dengan lebar dibawah 0,2 mm tidak diperlukan perbaikan 65 dari 127 3. Untuk retak dengan lebar di atas 0,2 mm dilaksanakan dengan injeksi dan perkuatan pelat dengan steel plate bonding atau carbon sheet adhesion. f. Kasus-kasus yang dihadapi pada saat pelaksanaan. Perbaikan retak dengan injeksi tidak meningkatkan kekuatan ultimate pelat. 2. Tebal pelat 21 om, tidak cukup untuk menahan beban dinamis kendaraan. Menurut specification for highway bridge in Jepan (JRA), tebal pelat minimum adalah 24 cm, 3. Teknologi grouting ini mempunyai kelemahan besarnya grouting yang masuk dengan yang terbuang sekitar 60:40. 5.14.5 Pemeliharaan perbaikan girder jembatan a. Umum Kerusakan yang terjadi pada jembatan jalan tol adalah putusnya kabel prestress girder jembatan akibat dari bagian bawah girder terserempet truk container. Girder jembatan putus kabel prestressnya sebanyak 2 buah girder dan kabel yang putus sebanyak 4 buah di girder pertama dan kedua. Penyebab kerusakan adalah ketinggian dari kendaraan yang lewat melebihi tinggi bebas (clearance). b, Peralatan/bahan yang igunakan Material yang digunakan untuk perkuatan terdiri atas 2 kelompok material yaitu: 1. Material external prestress terdiri atas: + Kabel prestress D.16 mm yang telah dibungkus oleh HDPE D.16 mm sebanyak 7 buah, yang berfungsi sebagai kabel prestress. + Selubung luar dari material HDPE D. 2” (51,2 mm) yang berfungsi sebagai tendon kabel prestress. ‘+ Material pengisi tendon dari semen non-shrink grout. 2. Material angkur end block terdiri atas: * Anyaman besi beton D.16 mm berbentuk persegi panjang sebagai end block prestress. * McAlloy bar sebagai pengikat end biock ke ujung girder yang lama. + McAlloy nut and plate sebagai penguat dari McAlloy bar. c. Metode perencanaan Setelah dilakukan pengamatan lapangan ada beberapa alternatif perbaikan yang dapat dilakukan, yaitu: 1, Menyambung kembali kabel yang putus dan kemudian dibuat selimut beton yang baru dengan konsekwensi mengurangi tinggi bebas (clearance) yang ada. 2. Membuat perkuatan girder jembatan dengan memberikan gaya pengganti yang hilang akibat kabel prestress yang putus dengan metode externall prestress. ‘Agar fungsi dari prestress masih tetap sesuai dengan desain yang ada, maka dipilin dengan cara external prestress dengan pertimbangan sebagai berikut 1, Mengembalikan gaya prestress yang hilang, dengan memberikan gaya prestress yang baru 2. Tidak mengurangi tinggi bebas (clearance) yang ada. 3, Dalam pelaksanaannya tidak mengganggu alu lintas diatas dan dibawah jembatan dan relatif waktu pelaksanaannya lebih singkat (8 hari). 66 dari 127 d. Metode Pelaksanaan Pembuatan end block + Posisi dari kabel presteress berada di luar girder, maka kabel prestress harus dibuatkan tempat untuk meletakkan angkur dari tendon kabel prestress yang berupa end block. Dilakukan pekerjaan sebagai berikut = Melubangi girder jembatan untuk meletakkan McAlloy bar sebagai pengikat end block. Permukaan gider jembatan dibuat kasar agar pada saat pengecoran end block dapat bersatu dengan girder. = Memasang anyaman besi beton end block dan kemudian dibuatkan bekisting end block agar bentuk end block sebaik mungkin, sekaligus dipasang angkur untuk prestress di dalam end block dan selanjutnya dilakukan pengecoran. = Setelah hasil pengecoran sesuai umur beton kemudian begisting dibuka dan dilanjutkan dengan memasang MoAlloy nut & plate untuk kemudian dilakukan stressing terhadap McAlloy bar sesuai gaya stress yang direncanakan dan dikunci oleh McAlloy nut & plate. 2. Pemasangan Tendon Externall Prestress. Setelah kedudukan end block diperkuat, tendon yang telah diisi kabel prestress dipasang pada angkur yang telah tersedia di dalam end block. Kemudian dilakukan penarikan kabel (stressing) pemberian gaya stressing sesuai dengan perhitungan. Untuk mengontrol tegangan dan perpanjangan kabel, dilakukan pencatatan pada setiap kenaikan 1000 Psi dan hasilnya dibandingkan dengan perhitungan desain. Perbedaan yang dapat diterima adalah + 10 %. Metoda pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan 1, Memasang median pada bagian bawah jembatan, agar kendaraan yang lewat dapat melalui tepi badan jalan arteri 2. Memasang portal besi sebelum jembatan, yang berfungsi sebagai peringatan dini, apabila tinggi kendaraan yang lewat melebihi tinggi bersin jalan arteri f. Kasus-kasus yang dihadapi pada saat pelaksanaan Segera setelah selesai pekerjaan stressing maka dilakukan pekerjaan grouting sebagai berikut: 1, Pemotongan kabel (strand) yang berada pada angkur end block, kabel minimum 2 om dari tepi luar baqji (jaws) 2, 24 jam setelah pekerjaan patching pada sela-sela kabel dan baji dilakukan grouting tendon/duct dengan adukan grouting terdiri atas campuran semen pe 50 kg, air bersih 22 liter dan grout admixture 227 gram. 3. Bahan grout diaduk menggunakan mixer elektric dan dipompa ke dalam tendon dengan electrical grouting pump melalui grout inlet. Setelah bahan grout keluar dari grout inlet dan grout outlet ditutup. iotong 5.14.6 Pemeliharaan terowongan a. Umum Salah satu bentuk kasus kerusakan pada terowongan adalah crack (retak setempat). Pada umumnya, untuk kerusakan seperti kasus ini dilakukan perbaikan dengan memperbaiki daerah yang rusak dengan mengisi rongga udara antara slab beton dan lapis pondasi (base course) dengan bahan pengisi, atau slab yang turun/tenggelam didesak ke atas hingga sampai kepada posisi semula. Pengerjaan metoda ini tidak terlalu mahal dan terbukti efektif untuk memperpanjang umur perkerasan 67 dari 127 b, Peralatan/bahan yang digunakan Semen, aspal ©. Metode perencanaan Perencanaan pelaksanaan pemeliharaan dilakukan dengan memeriksa hal sebagai berikut. 1, Memeriksa ketahanan beton 2. Memeriksa karbonasi beton d. Metode pelaksanaan 1. Metoda Injeksi Aspal Dalam metoda ini, jalan dapat langsung dibuka untuk lalu lintas setelah aspal diinjeksi dan temperatumya menurun. Material injeksi yang digunakan adalah jenis aspal keras (penetrasi 10-40). Urutan pekerjaan © Buat lubang pada slab beton dengan diameter 50-60 mm tergantung kepada diameter pipa injeksi (nozzle). Kualitas injeksi tergantung kepada perencanaan lokasi lubang, di mana perencanaan tersebut berdasarkan kepada faktor-faktor: — Ukuran, besar penurunan, kondisi keretakan pada beton. = Alat injeksi, tekanan injeksi, material bitumen. (Unitim) Gambar 43 - Perencanaan lokasi lubang injeksi * Singkirkan sisa beton dari lubang injeksi agar proses injeksi berjalan lancar. Buang pasir, lumpur dan sisa beton dengan kompresor udara agar terbentuk rongga kecil di bawah lubang injeksi. Lakukan injeksi dengan pipa injeksi dan singkirkan tanah, pasir dan air di antara bagian bawah slab dan lapis pondasi © Panaskan dan cairkan aspal (di atas 210°C) dan lakukan injeksi dengan asphalt distributor dengan tekanan 2-4 kgicm? seperti terlihat pada Gambar. Jumlah aspal yang digunaken tergantung kepada kondisi slab beton dan lapis pondasi, umumnya 2- 6 kg/cm*. Karena ini dilakukan pada temperatur tinggi, harus diperhatikan mengenai pembakaran aspal dan bahan-bahan yang mudah terbakar lainnya. 68 dari 127 PRESSURE METER MANDI Lock wut SPACER RUBBER PACKING NUT NOLL HOOK Nozzu, Gambar 44- Contoh alat injeksi aspal Hal-hal lain yang juga perlu diperhatikan: ~ Pekerja yang mengendalikan pipa injeksi harus menggunakan pelindung. — Apabila terdapat air di dalam lubang injeksi, terkadang segera setelah dilakukan injeksi, aspal dapat terpancar keluar akibat tekanan uap dari lubang injeksi, sehingga pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-hati. - Pada saat dilakukan injeksi, aspal dapat keluar dari lubang injeksi, lubang-lubang lain, retakan, sambungan dan bahu jalan. - Aspal dapat mengalir keluar menuju fasilitas-fasilitas bawah tanah dan bahu jalan. — Aspal dapat mengalir ke arah sebaliknya pada saat pipa injeksi diangkat. © Biarkan pipa injeksi pada tempatnya selama 30 detik setelah injeksi selesai dan masukkan sebuah sumbat kayu segera setelah menarik pipa. Panjang dari sumbat kayu adalah 70 - 100 cm, * Cabut sumbat kayu setelah temperatur aspal menurun dan aspal mengeras, kemudian isi lubang dengan mortar aspal. Biasanya jalan dapat dibuka untuk lalu lintas 05-1 jam setelah proses injeksi selesai. 2. Metoda Injeksi Semen ‘Ada dua metoda injeksi semen: pertama, mengisi rongga udara antara slab beton dengan lapis pondasi, kedua, mengangkat slab beton yang turun/tenggelam. Metoda injeksi semen membutuhkan lebih banyak waktu untuk curing dibandingkan dengan pada metoda injeksi dengan aspal, yaitu lebih dari 3 hari Bila jalan dibuka untuk lalu lintas tanpa curing, air dari material injeksi dapat menyebabkan pumping dan kerusakan pada slab beton. Material injeksi terutama terdiri dari semen dan air, terkadang ditambahkan dengan tanah berbutir halus, pasir dan gypsum serta bubuk aluminium. Prosedur pengerjaan hampir sama dengan metoda injeksi aspal. 69 dari 127 ‘+ Untuk menaikkan slab beton yang tenggelam, dibuat lubang dengan posisi seperti pada Gambar berikut. HAMANG INE (ANGKA MENUSJCKKAN URUTAN PELARSANAAN INIEKSD es POTONGAN MEMANIANG Gambar 45 - Contoh menaikkan slab beton yang tenggelam © Cara injeksi sama dengan metoda injeksi aspal. * Grout pump dan mud-jack dapat digunakan sebagai alatinjeksi. Tekanan injeksi harus 3-5 kg/cm’. Untuk menaikkan slab beton, injeksi dimulai pada lubang injeksi di mana terdapat slab beton yang tenggelam paling dalam. Injeksi dilakukan sedikit demi sedikit, mengikuti urutannya seperti terlihat pada Gambar 45, dan seterusnya hingga ketinggian slab beton yang diharapkan tereapai, + Masukkan sebuah sumbat kayu dengan panjang 35-45 cm setelah injeksi. * [si mortar semen ke dalam lubang injeksi. Jalan dapat dibuka untuk lalu lintas setelah lebih dari 3 hari dilakukan curing. e. Metode pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan Dalam metode pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan hal yang paling utama diperhatikan adalah lalu lintas yang melewati terowongan ini. f. Kasus-kasus yang dihadapi pada saat pelaksanaan Rusaknya peralatan injeksi 5.15 Metode penanganan kerusakan jembatan Tabel 6 -_Metode penanganan jembatan utama bangunan atas Kerusakan Jembatan Penanganan No Bangunan Atas Jat | JA2 | JA3 | Jaa | JAS | JAG | JAZ Pengausan dan pelepasan Vv. Retak > Smm Vv Bergelombang dalam > 3 cm Vv Lubang dalam > 3 om diameter > 30 cm Vv | Bleeding, tinggi > imm Vv. Permukaan lin < 0,33 um z 7 ‘Opritturun > 3 om Tw 70 dari 127 | Expantion joint risak Vv 9 _| Pagat/ railing/ rusakikarat [ Vv 10 _| Saluran tersumbat / pecah/ lepas [ Vv Keterangan: Jat_| Penambalan Jaa | Sanding | Ja6 | Ganti JA2_| Surface Dressin JAS | Levelling —|-JA7_| Dibersinkan, ganti JA3_| Paichin Tabel 7- Metode penanganan jembatan utama bangunan bawah Kerusakan Jembatan Penanganan No Bangunan Bawah JB1 | JB2 | JB3 | JB4 | JBS 1 _| Bearing pad deformasi > 60 Vv. 2_| Gelagaridiagtrama beton retak <5 mm Vv 3_| Pas. Batu talud retak / pecah E Vv 4_| Abutment rusak : Vv 5 _| Petietakkan besi rusak e Vv Keterangan’ Perbaikan setempat, Perbaikan setempat, 481 | Senggantian 483 | Perbeikan setempat | J85 | enagantian ee 82 | Sealing {JB4__| Perbaikan setempat Tabel 8 -_Metode penanganan jembatan utama bangunan pilar Kerusakan Jembatan Penanganan No Bangunan Pilar Jpt | sp2 | uP3 1_| Pipa baja berkarat Vv. 2_| Beton retak < § mm Vv a 3__| Beton pecah > Smm Vv Keterangan’ (-sP1_| Pengecatan | JP2 | Sealing | JP3_| Patching | 5.16 Penanganan darurat kecelakaan kebakaran pada jembatan a. Umum Kebakaran merupakan salah satu faktor yang sangat merugikan masyarakat baik dari segi korban jiwa dan harta benda serta aset yang tidak temilai harganya. Penanganan kebakaran masih mengandalkan kesigapan dan peralatan dari pemadam kebakaran setempat. b. Peralatan dan bahan yang digunakan 1, Pasokan air untuk pemadaman kebakaran diperoleh dari sumber alam seperti: kolam air, danau, sungai, jeram, sumur dalam dan saluran irigasi; maupun buatan seperti; tangki air, tangki gravitasi, kolam renang, air mancur, reservoir, mobil tangki air dan hidran. 2. Bahan pemadam bukan air dapat berupa foam. atau bahan kimia lain. 3. Komunikasi, sebaiknya memiliki Pusat Alarm Kebakaran yang terhubung secara langsung ke Kantor Wilayah Pemadam Kebakaran, serta telepon darurat kebakaran. Setiap kota perlu menyediakan nomor telepon khusus untuk pelayanan pemadam kebakaran dan bencana. 4, Sarana Penanggulangan terdiri atas kendaraan operasional lapangan, peralatan teknik operasional dan kelengkapan perorangan. 71 dari 127 ° Metode perencanaan 1. Sistem pemberitahuan kebakaran dapat dirancang untuk menjamin respon yang tepat terhadap berbagai masalah yang mungkin terjadi dalam setiap kebakaran. 2. Respon yang tepat ditentukan pula oleh .waktu tanggap. dari pos pemadam kebakaran yang terdekat. 3. Waktu tanggap terhadap pemberitahuan kebakaran untuk kondisi di Indonesia tidak lebih dari 15 (lima belas) menit yang terdiri atas: * Waktu dimulai sejak diterimanya pemberitahuan adanya kebakaran di suatu tempat, interpretasi penentuan lokasi kebakaran dan penyiapan pasukan serta sarana pemadaman selama 5 menit, © Waktu perjalanan dari pos pemadam menuju lokasi selama 5 menit, * Waktu gelar peralatan di lokasi sampai dengan siap operasi penyemprotan selama 5 menit. d. Metode pelaksanaan Penanganan darurat kecelakaan dilakukan persiapan sebagai berikut: 1. Prasarana Penanggulangan Kebakaran Prasarana penanggulangan bahaya kebakaran ditekankan pada * Cukup tersedianya sumber air sehingga memudahkan pemadaman api apabila terjadi kebakaran, * Akses mobil kebakaran yang cukup sehingga memudahkan mobil pemadam kebakaran bersirkulasi tanpa hambatan, * Berfungsinya alat_komunikasi internal di dalam bangunan jembatan seperti PA (Public Address), Telepon Kebakaran (Fire Telephone), dan PABX. 2. Sarana Penanggulangan Kebakaran * Sistem deteksi dan alarm kebakaran yang digunakan mengacu pada ketentuan/SNI yang berlaku * Sistem pemadam kebakaran terdiri dari Alat Pemadam Api Ringan (APAR), sistem hidran kebakaran, sistem sprinkler kebakaran, sistem pengendalian asap, dan lain-lain. Perencanaan, pemasangan dan pengoperasiannya mengacu pada ketentuan/SNI yang berlaku. 3. Pemadaman Kebakaran * Informasi adanya Kebakaran dan Pemadaman Awal = Laporan melalui telepon, radio dan dari pemilikimasyarakat adanya asap/api dari daerah kebakaran di jembatan. = Penerima informasi segera membunyikan alarm kebakaran dengan cara mengaktifkan tik panggil manual, = Berusaha secara dini_ memadamkan kebakaran yang terjadi_ dengan menggunakan peralatan pemadam kebakaran yang tersedia. * Pencarian Sumber Api = Pencarian sumber api dilakukan segera setelah mendapat informasi melalui alarm, telepon atau melihat asap. = Tindakan ini dilakukan dalam rangka pemadaman dini agar api tidak cepat menjalar/berkembang. 4. Pemadaman Api * Pemadaman api dilakukan segera agar tidak berkembang dan diupayakan dalam waktu sepuluh menit pertama saat terlihat adanya api, sambil menunggu datangnya bantuan dari instansi pemadam kebakaran. 72 dari 127 © Selanjutnya diambil rangkaian tindakan sesuai dengan rencana_ strategi tindakan darurat penanggulangan kebakaran, seperti misainya tindakan saat mendengar suara tanda bahaya kebakaran (alarm), tindakan yang harus dilakukan bila terperangkap asap, dan sebagainya e. Metode pengawasan dan pengendalian mutu 1. Membuat Laporan Kebakaran. Laporan kebakaran antara lain meliputi: © waktu dan alamat kejadian, ¢ penyebab dan jumlah obyek kebakaran, + jumlah kerugian jiwa dan taksiran kerugian materi, *awal dan akhir pemadaman. 2. Pemeriksaan dan Penelitian Tingkat Keandalan Bangunan + Sebelum dilakukan tindakan penanganan konstruksi ke kondisi semula pada jembatan, maka terlebih dahulu dilakukan tindakan pemeriksaan dan penelitian mengenai tingkat keandalan bangunan jembatan tersebut __setelah kejadian kebakaran sesuai dengan Pedoman Teknis yang berlaku, « Pelaksanaan pemeriksaan dan penelitian termasuk pengujian keandalan bangunan pasca kebakaran harus ditangani oleh ahli yang berkompeten, ‘* Hasil pemeriksaan jembatan tersebut merupakan persyaratan dalam memperoleh ijin rehabilitasi, ‘* Hasil pemeriksaan tersebut digunakan sebagai masukan pada perencanaan rehabilitasi f. Kasus-kasus yang perlu dihadapi pada saat pelaksanaan * Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran _perlu mengikutsertakan pihak swasta, dalam hal ini masyarakat profesi dan atau forum komunikasi © Kontribusi masyarakat profesi yaitu dalam bentuk tenaga bantuan, sumberdaya, pemikiran, dan atau pengawasan yang diberikan oleh masyarakat profesi dan atau forum komunikasi. | Memberikan saran teknis, di mana hasil kajiannya menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk meningkatkan sarana dan prasarana lingkungan sekitar jembatan. 5.17 Pemeliharaan rutin bahu jalan 5.17.1.1 Retak 1. Lokasi: Memanjang/luas/setempat terbatas pada bahu. 2. Ciri-ciri: Terjadi lebar rekahan yang lebih kecil dari 3 mm, 3. Tingkat kerusakan: Presentase luas retak terhadap panjang jalan tertentu atau luas (m?) permukaan jalan yang terpengaruhi 4, Kemungkinan penyebab utama’ ‘+ Pemadatan kurang * Lereng longsor + Tanah yang expansif. 73 dari 127 5. Akibat: * Gangguan terhadap drainase permukaan, * Kerusakan pada struktur perkerasan. 6. Usaha Pemeliharaan: * Beri buras atau tambahan aggregat yang sesuai untuk bahan bahu beraspal. © Apabila tanah expansif selain usaha perbaikan seperti tersebut di atas dapat juga dilakukan dengan cara mengganti dengan tanah yang memenuhi syarat. 5.18 Pemeliharaan rutin drainase 5.18.1. Selokan samping diperkeras 5.18.1.1. Pendangkalan 1, Lokasi: Dapat terjadi pada sebagian atau merata sepanjang selokan, 2. Ciri-ciri Terlihat gundukan-gundukan tanah dan sampah setempat-setempat. Pada musim hujan, aliran air kadang-kadang sudah tidak mengikuti saluran yag ada, timbul genangan- genangan setempat. 3. Tingkat kerusakan: Daerah yang mengalami pendangkalan diukur dalam meter panjang saluran. 4, Kemungkinan penyebab utama: Aliran air membawa banyak material endapan. * Saluran tertimbun longsoran dari talud tepi jalan. 5. Akibat: « Aliran air membawa banyak material endapan. © Saluran tertimbun longsoran dari talud tepi jalan. * Saluran tidak berfungsi, air dapat meluap kebadan jalan dan merusak perkerasan jalan « Konstruksi selokan (pasangan/beton), lama kelamaan akan rusak, retak atau pecah karena tergerus air 6. Usaha perbaikan: Bahan-bahan endapan dikeruk dari saluran dan dibersihkan (secara manual). 7. Pengamanan Lalu lintas: Pemasangan kerucut-kerucut pengarah lalu lintas dan rambu-rambu sementara yang periu. 5.8.1.2 Konstruksi selokan rusak 4. Lokasi: Kerusakan dapat terjadi pada dasar dan dinding konstruksi selokan, baik pada daerah lurus maupun pada belokan aliran air. 2. Ciri-ciri: Kerusakan konstruksi dapat berupa: lubang, retak, pecah atau patah. 7A dari 127 3. Tingkat kerusakan: Besar kecilnya kerusakan konstruksi diukur dalam meter panjang saluran diperkeras. 4, Kemungkinan penyebab utama: * Aliran terlalu deras menimbulkan turbulensi, yang menyebabkan_ terjadi penggerusan air (scouring) baik pada dasar saluran maupun pada dinding konstruksi * Uplift (gaya angkat) dari air tanah menyebabkan kerusakan pada dasar saluran (retak dan pecah). + Beban [alu lintas pada jalan yang bahunya kurang lebar, atau akibat mobil-mobil yang diparkir di daerah bahu jalan + Pemasangaan selokan yang keliru dimana dinding selokan lebih tinggi dari pada elevansi berm. * Air hujan dari permukaan jalan di daerah tanjakan tidak langsung mengalir keselokan samping, tetapi membentuk alur pada batas antara berm dan tepi saluran, menyebabkan penggerusan pada dinding konstruksi saluran. + Akibat settlement pada tanah dasar saluran + Erosi talud samping maupun talud badan jalan. 5. Akibi * Jika dibiarkan, kerusakan akan berkembang dengan cepat, terutama pada musim hujan, sehingga pada akhirnya struktur selokan patah. + Akibat selanjutnya, air akan meresap masuk kebadan jalan dan merusak konstruksi perkerasan jalan dan bahu 6. Usaha perbaikan * Beri tanda dengan cat, daerah/konstruksi yang akan diperbaiki, kemudian bersihkan daerah tersebut. * Konstruksi selokan pasangan atau beton yang retak dapat diisi dengan adukan semen campur pasir, (1pe: 2 ps) atau dengan aspal + pasir. © Daerah konstruksi pasangan atau beton yang pecah atau berlobang dibongkar (usahakan berbentuk persegi empat panjang) kemudian dipasang kembali dengan menggunakan material yang sejenis dengan konstruksi aslinya. + Saluran yang putus disambung kembali dengan konstruksi dan bahan yang setara dengan konstruksi aslinya * Apabila kerusakan disebabkan oleh resapan air dari saluran, bagian yang mengalami penurunan dibongkar, dan tanah dasarnya dipadatkan baru kemudian konstruksi selokan dipasang kembali dengan material yang sejenis dengan konstruksi aslinya. Apabila kerusakan selokan disebabkan oleh air tanah (uplift), bagian selokan di atas mata air tersebut dibongkar dan air tanah diatasi dengan konstruksi sub drain, baru kemudian konstruksi selokan dipasang kembali dengan material dan adukan yang sesuai dengan konstruksi aslinya. * Apabila kerusakan disebabkan oleh resapan air dari bahu/berm yang tidak mengalir langsung ke selokan sehingga merusakkan dinding konstruksi, perbaikan dilakukan pada berm dan bahu plan agar air permukaan jalan dapat mengalir langsung ke selokan (lihat pemeliharaan bahu jalan) * Apabila kerusakan disebabkan akibat pengaruh beban kendaraan yang berhenti di daerah bahu tepi selokan, perawatan dapat berupa pemasangan rambu larangan parkir di daerah bahu jalan. 7. Pengamanan lalu lintas Pemasangan rambu-rambu sementara sebagai tanda ada kegiatan dan pemasangan kerucut-kerucut pengarah lalu lintas. 75 dari 127 5.18.2 Gorong-gorong 5.18.21 Penyumbatan 1. Lokasi: Penyumbatan dan pengendapan dapat terjadi pada mulut gorong-gorong, sepanjang saluran gorong-gorong, atau ditempat pengeluaran. 2. Ciri-cini © Banyak sampah dan batang-batang kayu yang hanyut ke dalam gorong-gorong dan tertahan dalam gorong-gorong * Juga banyak endapan-endapan berupa lumpur atau batu-batu yang tertahan pada dasar saluran dan pada tempat pengeluaran sehingga air tidak lancar mengalir. 3. Tingkat kerusakan: Penyumbatan dan endapan pada gorong-gorong dihitung berdasarkan panjang gorong- gorong 4, _Kemungkinan penyebab utama: Inlet gorong-gorong tidak dilengkapi dengan bak penampung (catch basin) sehingga air langsung mengalir masuk ke gorong-gorong bersama dengan benda-benda yang hanyut terbawa air. 5. Akibat: * Penyumbatan dan endapan memperkecil ruang untuk pengaliran air, sehingga air akan banyak tertahan pada mulut gorong-gorong yang kemudian menggerus dasar konstruksi. * Jika dibiarkan maka air akan membuat alur baru mencari jalan untuk mengalir dan akhirnya lama kelamaan jalan bisa terputus. 6. Usaha perbaikan: * Semua benda-benda yang menyumbat dan mengendap pada gorong-gorong disingkirkan dan dibersihkan. * Bila lubang gorong-gorong cukup besar (diameter > 1,00 meter), pembersihkan dapat dilakukan dengan mudah karena orang bisa masuk untuk menyingkirkan semua kotoran dan bahan hanyutan di dalam gorong-gorong * Bila lubang gorong-gorong cukup kecil maka pembersihan dilakukan dengan menggunakan alat khusus untuk mengeruk bahan-bahan endapan dalam gorong- gorong. + Agar barang-barang hanyutan tidak langsung masuk ke gorong-gorong mulut gorong- gorong dapat dipasang konstruksi penyaring (ruji-ruji) atau dengan membuat bak penampung pada inlet (catch basin). 5.18.2.2 Kerusakan pada konstruksi gorong-gorong 1. Lokasi Sebagian atau merata sepanjang gorong-gorong, 2. Ciri-ciri: Kerusakan konstruksi dapat berupa: + Retak-retak atau pecah/berlubang pada konstruksi gorong-gorong pasangan atau beton * Karatan pada gorong-gorong pipa besi atau baja gelombang. + Konstruksi gorong-gorong patah. 76 dari 127 3. Tingkat kerusakan: Retak-retak, pecah atau berlubang pada konstruksi gorong-gorong diukur dalam meter panjang gorong-gorong. 4, Kemungkinan penyebab utama: + Dasar gorong-gorong tergerus air (scouring) + Sambungan unit gorong-gorong (joint) kurang sempurna pemasangannya + Beban lalu lintas, terutama bila tebal timbunan material di atas gorong-gorong tidak cukup tebal, sehingga dinding atas gorong-gorong pecah-pecah + Konstruksi gorong-gorongnya sendiri sudah lecet pada awal pemasangannya, sehingga kerusakan tersebut makin berkembang setelah gorong-gorong difungsikan. 5. Akibat: * Apabila kerusakan dibiarkan terus, maka akan berkembang sehingga lama- kelamaan konstruksi gorong-gorong tersebut akan rusak total dan tidak dapat diperbaiki lagi (harus diganti konstruksi baru). ‘© Air akan merembes ke badan jalan melalui bagian konstruksi yang rusak, yang selanjutnya akan merusak badan jalan dan perkerasannya. 6. Usaha perbaikan: ¢ Memperbaiki yang retak adalah sebagai berikut: — Daerah yang retak dibersihkan dan dikeringkan. — Retak pada konstruksi beton diisi dengan mortar (1 pe: 2 ps) atau dengan aspal + pasir. — Retak pada pipa baja diisi (di seal) dengan aspal ditambah pasit epoxy, atau dias, + Memperbaiki bagian konstruksi yang pecah atau berlubang (khusus untuk konstruksi pasangan dan beton) adalah sebagai berikut: = Daerah yang akan ditambal, dibentuk supaya mudah ditambah dan dibersihkan serta dikeringkan, kemudian lubang tadi di isi dengan cor beton. = Memperbaiki sambungan unit gorong-gorong yang tidak sempuma dilakukan dengan terlebih dahulu membersihkan dan mengeringkan daerah sambungan (oint). Kemudian sambungan diisi dengan mortar (1 pe: 2 psr) atau aspal + pasir kemudian sambungan diratakan. + Gorong-gorong yang patah harus diganti seluruhnya. atau dengan 6.18.2.3 Kepala gorong-gorong (headwall) 1. Lokasi: Kerusakan dapat terjadi pada: + Konstruksi bak penampung (inlet) dan bak pembuang (outlet) + Pada headwall tanpa bak penampung (inlet) kerusakan terjadi pada dasar saluran yang akan masuk ke gorong-gorong. Juga terlihat gerusan pada dinding sayap headwall 2. Ciri-ciri + Pada bak penampung dapat terlihat: pendangkalan, retak-retak/pecah pada dasar dan dinding konstruksi bak penampung. + Pada headwall tanpa bak penampung sering terlihat tembok sayap dan ujung gorong-gorong menggantung karena dasarnya sudah tergerus. * Tembok sayap retak-retak, pecah dan ambrol 77 dari 127 3. Tingkat kerusakan: Kerusakan diukur menurut jumlah bangunan headwall 4. Kemungkinan penyebab utama: © Pada headwall tanpa bak penampung, air yang mengalir masuk gorong-gorong akan menggerus dasar headwall dan lantai mulut gorong-gorong. © Uplift (gaya angkat) dari air tanah akan merusak dasar bak penampung. Lantai dasar bak penampung terlalu dalam. © Sedimentasi terkumpul pada dasar bak penampung, —menyebabkan pendangkalan, 5. Usaha perbaikan: * Bahan endapan (sedimen) pada dasar bak penampung dikeruk dan dibersihkan. + Lantai dasar mulut gorong-gorong yang tergerus dibenahi kembali dengan konstruksi lantai yang kuat. © Konstruksi_ yang rusak (pecah, runtuh) ditambah dan diperbaiki _kembali dengan bahan yang setara dengan konstruksi aslinya. + Lantai dasar bak penampung yang rusak dicor kembali sehingga dapat menahan terjunan air yang masuk bak. 6.18.3 Drainase air tanah (sub drain) 1. Lokasi: Dapat terjadi pada pipa sub drain atau pada lubang-lubang peresapan. 2. Ciri-ciri * Sub drain yang tidak berfungsi dapat diketahui dengan mengecek daerah outlet (mulut pembuangan). Bila outlet beriumut atau tanah sekitar outlet ditumbuhi rumput-rumput yang lebih subur dari rumput disekelilingnya, berarti sub drain berfungsi dengan baik * Bila pipa sub drain patah atau pecah di dalam tanah maka permukaan tanah di daerah pipa yang rusak tersebut akan terlihat lebih basah dari permukaan tanah disekitarnya 3. Tingkat kerusakan’ Kerusakan sub drain diukur dalam meter panjang saluran, 4, Kemungkinan penyebab utama: * Pipa sub drain tersumbat endapan. * Lubang-lubang peresapan tersumbat tanah, sehingga air tanah tidak dapat mengalir masuk kedalam pipa-pipa sub drain + Terjadi settlement sehingga pipa-pipa pecah atau patah 5. Akibat: Air tanah akan meresap masuk kebadan jalan, terus ke lapisan perkerasan, sehingga akan menimbulkan kerusakan pada perkerasan jalan 6. Usaha perbaikan: * Perkirakan lokasi pipa yang rusak (pecah atau patah) dengan melihat tingkat kebasahan permukaan tanah di atas alinyemen pipa sub drain. * Gali lokasi yang diperkirakan tersebut di atas, untuk mengganti unit pipa sub drain yang rusak. + Persiapkan kedudukan pipa pengganti yang akan dipasang + Lubang-lubang pelepasan dibungkus dengan filter (ijuk atau bahan pabrikasi) + Pasang unit pipa pengganti yang rusak pada posisi yang benar. 78 dari 127 * Sambungan dengan eksisting pipa, kemudian diplester dengan mortar. * Rumput/alang-alang yang memenuhi mulut pembuangan disingkirkan. 5.19 Pemeliharaan rutin talud & dinding penahan tanah 5.19.1 Erosi 1. Lokasi: * Pada talud yang dilewati aliran air permukaan dengan kecepatan yang relatif besar. * Pada talud yang permukaannya dibiarkan tanpa berpenutup (rumput, batu kosong, tembok, beton). Lebih lebih yang tanah dasarnya berpasir. 2. Circ Permukaan talud tergerus karena sebagian materialnya terbawa aliran air. 3, Tingkat kerusakan: Diukur luas dan kedalaman daerah yang tererosi 4. Kemungkinan penyebab utama Aliran air yang deras yang mampu menghanyutkan material-material halus tanah dasar talud. 5. Akibat: * Bila dibiarkan akan berkembang menjadi longsoran. + Endapan hasil erosi akan menyebabkan pendangkalan pada selokan tepi gorong- gorong, dll 6. Usaha perbaikan * Mengarahkan pengaliran air permukaan agar selalu terkontrol melalui drainase jalan’ + Memelihara agar seluruh permukaan talud selalu berpenutup (rumput, batu kosong, tembok, dll.) * Memperlandai kemiringan talud atau permukaannya dibuat berteras. 7. Pengaman lalu lintas: * Bila pekerjaan dilakukan dipinggir jalan harus dipasang rambu tanda hati-hati dan tanda jalan sedang diperbaiki agar kendaraan dapat memperiambal kecepatannya. + Tidak diperbolehkan menimbun material di atas jalur lalu lintas atau bahu jalan. * Bronjong yang berdekatan diikat_bersama-sama _—_sepanjang sisi pertamanan menggunakan kawat ukuran yang sama seperti anyaman bronjong tidak kurang setiap jarak 25 cm. 5.19.2 Longsor 4. Lokasi: Berdasarkan kemungkinan penyebab dan cara perbaikannya, digolongkan menjadi 6 jenis + Pada talud dengan kemiringan lebih besar dari kemiringan alam tanah dasernya (ika tanpa dinding penahan). «Pada galian atau timbunan yang tinggi. * Pada bidang pertemuan antara lapisan tanah gembur (pervious soil) dengan lapisan tanah kedap air (impervious soil) yang terletak di atasnya. «Pada daerah yang air tanahnya tinggi 79 dari 127 + Pada jalan dengan bahu yang sempit * Pada jalan didaerah yang labil ir * Retaken tanah atau dinding penahan, sebagai tanda awal kerusakan, sampai terjadi longsoran pada lereng galian maupun badan jalan. * Pada daerah yang geologinya labil terkadang terlihat tumbuh-tumbuhan dan bangunan kedudukannya miring (tidak vertikal). 3. Tingkat kerusakan’ Diukur luas dan kedalaman daerah longsoran. 4. Pengamanan lalu lintas: Tergantung jenis dan besamya pekerjaan, serta sifat gangguannya terhadap lalu lintas Pengguna jalan. Jika tidak menimbulkan gangguan langsung, cukup diberikan rambu tanda hati-hati, petunjuk untuk mengurangi kecepatan dan tanda jalan sedang diperbaiki Apabila pekerjaan dilakukan i jalur lalu lintas maupun bahu jalan, selain tanda-tanda diatas mungkin diperlukan pengaturan lalu lintas yang lewat secara bergantian. 5.19.3 Tergerus (scouring) 1. Lokasi + Pada badan jalan yang didirikan di tapi aliran air sungai, laut, dil + Pada hilir selokan, gorong-gorong, atau pengaliran air lainnya yang berakhir di talud. 2. Ciri-cir Permukaan talud tergerus karena sebagian materialnya terbawa aliran air, yang mungkin berkembang menjadi longsoran. 3. Tingkat kerusakan: Diukur luas dan kedalaman daerah yang tererosi 4. Kemungkinan penyebab utama: * Aliran air yang deras yang memiliki tenaga relative besar sehingga mampu menghanyutkan tanah dasar talud Bila dibiarkan akan berkembang menjadi longsoran. Lereng galian atau timbunan tidak mantap. Tambahan gaya akibat tekanan air, karena drainase bawah tanah (sub drain) tidak tersedia + Tambahan gaya akibat beban (roda luar) kendaraan. Badan jalan tidak mantap karena pengaruh geologi tanah dasarnya yang labil 5. Usaha perbaikan © Memasang bangunan pelimpah air dari pasangan batu atau beton + Mengurangi kecepatan air dengan memperlandai kemiringan dasar aliran air yang mungkin perlu dilengkapi dengan bangunan terjunan. Kemantapan lereng dapat diperbesar dengan Lereng dibuat lebih landai sesuai dengan lereng alam tanah dasar. Dibuat berm sebagai bahan imbangan untuk kemantapan lereng. Diberikan perkuatan lereng (dinding penahan tanah) dari bronjong, turap kayu, baja, tembok, beton Stabilisasi lereng dengan penanaman tumbuh-tumbuhan. «Tanah dasar yang labil perlu dilakukan studi dan penanganan khusus. 80 dari 127 * Memperkecil tekanan air tanah, dengan pemasangan pipa drainase pada dinding penahan, pembuatan sub drain dan sedapat mungkin menghindarkan terjadinya penyimpanan air (kolam, saluran irigasi tidak diperkeras) diatas badan jalan. 6. Akibat: + Longsoran pada timbunan badan jalan bisa berakibat jalan terputus + Longsoran lereng galian bisa berakibat tertimbunnya badan jalan atau kerugian akibat hilang/rusaknya tanah, tanaman, bangunan diatasnya * Longsoran dapat terjadi dengan tiba-tiba, sehingga membahayakan pengguna jalan. 7. Pengamanan /alu lintas: * Tergantung jenis dan besarnya pekerjaan, serta sifat gangguannya terhadap lalu lintas pengguna jalan. Jika tidak menimbulken gangguan langsung, cukup iberikan rambu tanda hati-hati, petunjuk untuk mengurangi kecepatan dan tanda jalan sedang diperbaiki * Apabila pekerjaan dilakukan di jalur lalu lintas maupun bahu jalan, selain tanda- tanda diatas mungkin diperlukan pengaturan lalu lintas yang lewat secara bergantian. 5.19.4. Dinding retak 1. Lokasi: Mungkin terjadi di semua bagian dinding penahan tembok maupun beton. 2. Ciri-ciri Retakan memanjang, tegak maupun saling berhubungan membentuk blok 3. Tingkat kerusakan: Diukur tebal maupun panjang retakan, atau luas daerah retakan bila retakan telah saling bethubungan membentuk blok-blok. 4. Kemungkinan penyebab utama: * Rendahnya mutu adukan (kualitas bahan, komposisi campuran), atau cara pengerjaannya. + Konstruksi dinding penahan kurang kuat menahan tekanan tanah atau kombinasi dengan tekanan air, dan muatan lainnya * Tanah dibelakang dinding penahan kurang padat 5. Akibat: Dinding penahan yang mulai retak, apabila tidak cepat ditangani akan berkembang menjadi patah atau longsor. 6. Usaha perbaikan: * Bila retakan masih setempat, bisa ditutup dengan mortar ‘pe:3ps. Semua retakan harus dibersihkan terlebih dahulu * Bila retakan sudah saling berhubungan dan membentuk blok, dinding harus dibongkar, ditambal atau dibuat yang baru. 7. Pengamanan lalu lintas: «Bila pekerjaan dilakukan dipinggir jalan harus dipasang rambu tanda hati-hati dan tanda jalan sedang diperbaiki agar kendaraan dapat memperlambat kecepatannya. + Tidak diperbolehkan menimbun material di atas jalur lalu lintas atau bahu jalan. * Bronjong yang berdekatan diikat_ bersama-sama_—sepanjang _sisi pertamanan menggunakan kawat ukuran yang sama seperti anyaman ari bronjong tidak kurang setiap jarak 25 cm. 5.20 Pemeliharaan rutin lingkungan tanaman 5.20.1 Penyiraman 1. Lokasi: Dalam rumija (ruang milik jalan) yaitu pada jalur tanaman di daerah tepi jalan dan median jalan, 2. Penyiraman dilakukan untuk: Menjaga tanaman agar tidak mati kekeringan. 3. Cara Penyiraman + Siraman tidak terlampau keras agar media tanam dan tanaman tidak terganggu dilakukan merata pada seluruh tanaman. + Dilakukan rutin setiap hari terutama pada musim kemarau, yaitu pada: — _ pagi hari pukul 06.00 - 09.00 = sore hari pukul 15.00 - 18.00 5.20.2 Pendangiran dan penyiangan 1. Lokasi Dalam rumija (ruang milik jalan) yaitu pada jalur tanaman di daerah tepi jalan dan ‘median jalan. 2. Pendangiran dan penyiangan dilakukan untuk: Merupakan pekerjaan penggemburan tanah dan pembersihan rumput liar disekitar tanaman. 3. Cara pengerjaan’ * Tanaman liar harus dicabut sampai ke perakarannya dan penggemburan tanahnya harus dilaksanakan sedemikian rupa agar tidak merusak perakaran tanaman + Pendangiran dan penyiangan dilakukan minimal 1 bulan sekali. 4. Pendangiran ini tidak perlu dilakukan terutama apabila + tanaman mempunyai perakaran dalam + tanaman mempunyai perakaran dalam terutama jenis pohon. * pada lokasi yang curam (lereng), karena pekerjaan tersebut dapat menyebabkan terjadinya erosi/longsor. 5.20.3 Pemangkasan 1. Lokasi: Dalam RUMIJA (ruang milik jalan) yaitu pada jalur tanaman di daerah tepi jalan dan median jalan, 2. Pemangkasan dilakukan untuk: * Mengendalikan pertumbuhan tanaman yang sudah tidak teratur dan mengganggu lingkungan/penglihatan pemakai jalan. + Membuang cabang/ranting yang tua/rusak dan mati. + Mempertahankan bentuk/dimensi dan ukuran tanaman * Mengurangi penguapan pada musim kemarau panjang sehingga tanaman tidak mati kekeringan (dilakukan sebelum musim kemarau) * Mengurangi beban sehingga dahan tidak patah pada musim hujan. 82 dari 127 Cara pemangkasan: © Dilakukan miring dan rata (45°) agar air hujan tidak tergenang dan dapat mengakibatkan pembusukan batang * Arah memangkas dari bawah ke atas, setelah tanaman dipangkas sebaiknya dilakukan pemupukan agar tunas yang baru dapat terbentuk kembali 5.20.4 Pemupukan 1 Lokasi: Dalam rumija (ruang milk jalan) yaitu pada jalur tanaman di daerah tepi jalan dan median jalan, Pemupukan dilakukan untuk: * Menambah kesuburan tanah dengan memberi tambahan bahan organik dan anorganik * Memperbaiki sifat-sifat fisis tanah (susunan/struktur tanah). * Memperbaiki kehidudpan jasad-jasad renik yang hidup di dalam tanah, Cara pengerjaan: + Diberi dengan cara menabur pada tanah yang telah didenir sedalam 15 - 20 cm di sekeliling batang pohon selebar diameter tajuk, kemudian pupuk ditutup tanah kembali dan disiram dengan air agar cepat larut. * Pupuk kandang diberikan dengan ditabur diatas tanah kemudian dicampur dengan tanah subur (top soil) * Cara lain pemupukan dengan pupuk anorganik yaitu campuran pupuk dengan air yang kemudian disiram di sekeliling perakaran tanaman dan untuk pupuk daun disemprotkan pada daun * Pemakaian pupuk dilaksanakan minimal 1 bulan setelah tanam dan dilakukan 1 bulan sekali 6.20.6 Pencegahan dan pemberantasan hamalpenyakit, 1 Lokasi Dalam rumija (ruang milik jalan) yaitu pada jalur tanaman di daerah tepi jalan dan median jalan Cara pencegahan: * Agar tanaman tidak terserang oleh hama/penyakit perlu dilakukan pencegahan dengan penyemprotan insektisida ke arah batang, daun serta semua percabangan. * Penyemprotan jangan dilakukan pada waktu matahari bersinar dengan terik karena dapat menimbulkan terbakarnya daun. Usahakan agar penyemprotan merata pada seluruh bagian tanaman. Cara pemberantasan + Pemberantasan hama dilakukan dengan insektisida secara berulang-ulang tiap 1 minggu sekali, sampai tanaman bebas dari hama yang menyerang. Apabila serangan cukup berat, penyemprotan dapat dilakukan 2 kali seminggu. + Untuk pemberantasan penyakit, digunakan fungisida tiap 1 minggu sekali, apabila cukup parah sebaiknya tanaman dibongkar dan bekas lubang tanaman dibiarkan terbuka dikenai sinar matahari untuk beberapa lama, baru ditanam kembali + Penyemprotan jangan dilakukan pada waktu matahari bersinar dengan terik karena dapat menimbulkan terbakarnya daun. Usahakan agar penyemprotan merata pada seluruh bagian tanaman. 83 dari 127 5.20.6 Penggantian tanaman/penyulaman 1 Lokasi: Dalam rumija (ruang milik jalan) yaitu pada jalur tanaman di daerah tepi jalan dan median jalan Tanaman perlu diganti apabila: + Matifhilang + Rusak (dapat karena tertabrak) ‘+ Terkena serangan hama yang parah sehingga dapat menular ke tanaman lain. Cara pengerjaan * Tanaman yang mati atau rusak dicabut. + Siapkan lubang tanaman dengan ukuran: = pohon, 1mx1mx1m = semak, 60 cm x 40 cm x panjang (m?) + Isilubang dengan media tanam dengan komposisi tanah subur: pupuk kandani 3:2, masukkan tanaman pengganti secara hati-hati, setelah kaleng atau plastik pembungkus tanaman dibuka dan dibuang keluar lokasi. Kemudian media tanam dipadatkan * Untuk menjaga agar perakaran tanaman tidak patah, perlu ditunjang dengan bambu penahan (stegger) sampai pohon tumbuh dengan baik + Untuk penggantian rumput dilakukan setelah area dibersihkan dari rumput yang mati dan tanahnya digemburkan lalu dicampur dengan tanah subur dan pupuk urea dengan komposisi 2:1 Apabila serangan bersama-sama, dapat dilakukan penyemprotan secara berganti-ganti_ menggunakan insectisida dan fungisida, atau dapat keduanya dicampur pada pemakaiannya 5.21 Pemeliharaan rutin rumija & ruwasja 5.21.1 Pohon, tumbuhan perdu, semak, rumput, dan la 1 Lokasi Terietak pada sepanjang dengan selebar rumija dan ruwasja dari ruas jalan yang dipelinara; yang tak tercakup di dalam lingkup pekerjaan Pemeliharaan Bahu dan Trotoar dan Pemeliharaan Tanaman Jalan Ciri-ciri: * Adanya batang atau ranting yang keropos atau kering, tumbuhan tidak teratur dan terlalu menjorok. ‘+ Adanya tanaman perdu/semak yang tumbuh secara tidak teratur dan liar ‘= Adanya tanaman perdu/semak dan rumput yang mengering Ketiga ciri-ciri tersebut dapat mengakibatkan gangguan lingkungan, konstruksi maupun pemakai jalan. Tingkat kerusakan: Tingkat Kerusakan dapat diukur dengan cara berikut ini: untuk pohon besar dapat diukur dengan satuan volume (m*) sedangkan untuk tanaman perdu/semak dan rumput diukur dengan satuan luas (m’). 64 dari 127 4, _Kemungkinan penyebab utama: Penyebab utama dapat berupa menuanya pohon, tanah yang tidak subur, lokasi yang tidak tepat atau tidak teratur, dan keterlambatan pemeliharaan. 5. Akibat: Akibat_ yang timbul dapat berupa terganggunya keindahan, terganggunya jarak pandangan, kebakaran dan gangguan robohnya batang/ranting tua atau kering. 6. Usaha perbaikan: * Memotong batang/ranting yang kering, tua dan terlalu menjorok * Memotong rumput, semak/perdu yang sudah terlalu tinggi * Membuang, memindahkan atau menanam kembali pohon, tanaman semak/perdu dan rumput yang mati/ kering, liar ataupun tidak tepat/teratur lokasinya memupuk tanah disb. Catatan: Pada pelaksanaan pemeliharaan ini tidak dibenarkan untuk melakukan dengan cara pembakaran dan penggunaan bahan kimia yang dapat mengganggu lingkungan. 5.22 Pemeliharaan rutin perlengkapan jalan 5.22.1 Patok KM & HM dan patok pengaman jalan 1. Lokasi Terletak di median sepanjang jalan. Khusus patok pengaman hanya terdapat pada bagian-bagian jalan tertentu, seperti tikungan, sebelum dan sesudah jembatan atau gorong-gorong. 2. Ciri-ciri: Kerusakan dapat berupa patok pecah, zetar patah tercabut/tergeser atau hilang kotor, berlumut, cat memudar, berubah warna, atau tulisan menjadi tidak jelas. 3. Tingkat kerusakan: * Patok yang rusak (pecah, patah, tercabutitergeser) atau hilang dan harus diperbaiki atau diganti, diukur dalam buah/patok. * Patok yang kotor atau berlumut dan harus dibersihkan, juga buah/patok. * Patok yang berubah warna, atau tulisan menjadi tidak jelas dan harus dicat kembali, diukur dalam buah/patok. kur dalam 4. Kemungkinan penyebab utama: Ditabrak oleh kendaraan, Karena debu dan gas buang kendaraan bermotor serta pengaruh cuaca (panas dan hujan), 5. Akibat: Bila kerusakan tidak diperbaiki, dapat mengurangi keamanan lalu lintas (untuk patok- patok pengaman), pengguna jalan kehilangan informasi jarak (untuk patok KM & HIM). 6. Usaha perbaikan: * Untuk patok yang pecah (gompal) ditambal kembali dengan bahan adukan (semen dan pasir), kemudian dicat seperti semula. * Untuk patok yang patah atau hilang, diganti dengan yang baru 85 dari 127 * Patok yang tercabut atau tergeser, dipasang Kembali ditempat semula; disesuaikan menurut standard * Patok yang kotor/berlumut dibersinkan, sedangkan yang warna catnya telah memudar atau berubah, harus dicat kembali dengan warna yang sama. + Rumput yang tinggi dan semak-semak disekitar patok dibersihkan (dipotong). 7. Pengamanan lalu lintas: Digunakan kerucut-kerucut pengatur lalu lintas (cones) disepanjang lokasi perbaikan yang tengah dilaksanakan. 5.22.2. Rambu-rambu jalan dan rambu-rambu lalu lintas 1. Lokasi Terletak di kiri/kanan sepanjang jalan pada bagian bahu atau trotoar, atau menumpang pada konstruksi lain yang ada di rumija tol (di dalam kota), 2. Ciri-cir Kerusakan dapat berupa tiang rambu bengkok atau patok, pelat rambu rusak atau terlepas, cat mengelupas atau warna berubah 3. Tingkat kerusakan: * Tiang yang bengkok atau patah dan harus diperbaiki atau diganti, diukur dalam buah/rambu. + Pelat rambu yang rusak atau lepas dan harus diperbai puladalam buah/rambu. * Cat yang mengelupas atau berubah warna, dan harus dicat kembali, diukur dalam buah/rambu. fan dipasang kembali, diukur 4, Kemungkinan penyebab utama: Ditabrak oleh Kendaraan, pengaruh cuaca dan gas buang kendaraan bermotor. 5. Akibat Bila kerusakan tidak diperbaiki, para pengguna jalan kehilangan informasi tentang pengaturan lalu lintas (batas kecepatan, lajur cepat/lambat, dan sebagainya), kondisi Jalan (persimpangan, tanjakan/turunan, tikungan tajam, dan sebagainya), yang dapat mengakibatkan ketidak lancaran lalu lintas atau bahkan kecelakaan. 6. Usaha perbaikan: * Tiang rambu yang bengkok diluruskan kembali atau diganti baru, sedangkan yang patah diganti dengan tiang barn atau disesuaikan. ‘+ Pelat rambu yang rusak diperbaiki, sedangkan yang lepas dipasang kembali, tulisan diperbaiki rusak. * Cat yang mengelupas dikerok, dan dibersihkan, kemudian di cat kembali seperti semula, sedang cat yang berubah warna atau memudar dicat kembali 7. Pengamanan lalu lintas: Dalam hal pekerjaan mengganggu lalu lintas (khususnya untuk perbaikan papan rambu yang menggantung di atas jalan), diperiukan kerucut-kerucut pengatur lalu lintas (cones) 86 dari 127 5.22.3 Marka jalan 1 Lokasi: Terdapat pada permukaan perkerasan jalan. Ciri-cir 2 Marka jalan memudar, tethapus atau berubah bentuk/alinyemen. 3. Tingkat kerusakan: Kerusakan pada marka jalan yang diperbaiki dengan pengecatan kembali, diukur dalam luas (meter persegi) yang terkena cat 4. Kemungkinan penyebab utama Gesekan roda ban kendaraan, atau terjadinya perubahan bentuk (deformasi) pada perkerasan aspal. 5. Akibat Bila kerusakan tidak diperbaiki dapat berakibat kurangltidak terarahnya lalu lintas yang memungkinkan terjadinya kekacauan lalu lintas atau bahkan kecelakaan lalu lintas. 6. Usaha perbaikan © Marka yang memudar atau terhapus, langsung dicat kembali dengan mengikuti bekas marka lama, secara manual atau dengan mesin. * Marka yang mengalami perubahahan bentuklalinyemen, harus diukur kembali dan dicat denganmengikuti garis yang sudah dibuat. 7. Pengamanan lalu lintas: Dengan memasang rambu-rambu dan kerucut-kerucut pengatur lalu lintas (cones) untuk menjaga keselamatan pekerja yang sedang melakukan pengecetan marka jalan. 5.22.4 Kereb 1. Lokasi: Pada tepi perkerasan jalan, Median, Jalur Pemisah, dan pulau (Island) 2. Ciricir: Pecah, tergeser/terguling, kotor. 3. Tingkat kerusakan: Kerusakan yang harus diperbaiki atau diganti, serta pemasangan kembali dan pembersihan kereb, diukur dalam meter panjang (M') 4, Kemungkinan penyebab utama: Tertabrak oleh kendaraan, terkena gesekan roda ban kendaraan, dan pengaruh gas buang kendaraan bermotor, debu serta lumpur. 5. Akibat: * Bila tidak diperbaiki, Kereb yang rusak/pecah atau tergeseriterguling dapat mengganggu kelancaran lalu lintas. + Kereb kotor yang tidak dibersinkan akan memberikan pemandangan yang jelek 87 dari 127 6. Usaha perbaikan: + Kereb yang pecah atau gompal, di tambal kembali dengan bahan yang sama, atau untuk kereb yang tidak dapat diperbaiki (beton bertulang yang dicetak), harus diganti baru dengan ukuran dan mutu yang sama. + Kereb yang tergeser/terguling dipasang kemball ke kedudukan semula. + Kereb yang kotor dibersihkan. 7. Pengamanan lalu lintas Digunakan rambu-rambu dan kerucut-kerucut pengatur lalu lintas (cones). 5.22.5 Penerangan jalan umum 1. Lokasi Terietak di kiri/kanan jalan dan atau di tengah (di bagian median jalan) yang digunakan untuk menerangj jalan maupun lingkungan di sekitar jalan yang diperlukan termasuk jalan layang, jembatan dan jalan di bawah tanah 2. Ciri-ciri Kerusakan dapat berupa lampu padamitidak terang, tiang lampu rusak, komponen, panel, instalasi rusak, pengukuran tahanan rusak, atau lampu mati di gerbang tol. 3. Tingkat kerusakan: + Lampu padamitidak terang. © Tiang lampu rusak * Komponen, panel, instalasi rusak. * Pengukuran tahanan rusak. © Lampu mati di gerbang tol. 4, Kemungkinan penyebab utama: Lampu padamitidak terang kemungkinan disebabkan lampu sudah mencapai masa layan atau tidak sesuai spesifikasi, tiang lampu rusak kemungkinan disebabkan ditabrak oleh kendaraan, komponen/instalasi rusak kemungkinan disebabkan sudah mencapai masa layan atau mengalami korsleting 5. Akibat: Bila kerusakan tidak diperbaiki, para pengguna jalan kehilangan penerangan jatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya keselamatan, ketidaklancaran lalu lintas, dan berkurangnya kenyamanan bagi pengguna jalan, dan bahkan terjadinya kecelakaan. 6. Usaha perbaikan: * Lampu padamltidak terang harus diganti sesuai ketentuan kualitas kekuatan Pencahayaan. Tiang lampu rusak harus diperbaiki atau diganti. Komponen, panel, instalasi rusak harus diperbaiki atau diganti. Pengukuran tahanan rusak harus diperbaiki atau diganti. Lampu mati di gerbang tol harus diganti 7. Pengamanan lalu lintas: Dalam hal pekerjaan mengganggu lalu lintas (khususnya untuk perbaikan papan rambu yang menggantung di atas jalan), diperlukan kerucut-kerucut pengatur lalu lintas (cones) 88 dari 127 5.23 Pemeliharaan jembatan penyeberangan orang (JPO) a. Umum Bentuk kerusakan yang sering terjadi pada JPO adalah retak. Retak ini dapat di penambalan pada bagian yang retak tersebut, b, Metode perencanaan Tentukan retak yang ditimbulkan untuk kemudian ditambal sesuai dengan ukuran keretakan yang dihasilkan. c. Metode pelaksanaan 1. Bersihkan daerah retakan dan buang bahan penutup retakan yang lama, debu, lumpur dan sebagainya. 2. Sapu, sikat kawat, pahat, kompresor udara dan pembersih retakan dapat digunakan untuk membersihkan retakan tersebut. 3. Retakan dikeringkan sebelum dilakukan pengisian, untuk menjamin terjadinya kelekatan yang baik dari bahan penutup. 4, Penambalan d. Metode pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan Metode pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan pada pelaksanaan pemeliharaan jemb PO adalah dengan memperhatikan pekerjaan yang akan dilakukan pada rusak yang ditimbulkan. 5.24 Pemeliharaan pagar a. Umum Pagar merupakan pembatas (pemisah) atau pengaman. Pagar pada umumnya terbuat dari material besi dan beton. Penggunakan pagar pada jalan sebagai pembatas antara masyarakat disekitar jalan tersebut dengan jalan. b. Metode perencanaan Pagar di buat sebagai pengaman sehingga harus dipertimbangkan terhadap umur rencana dan kekuatan. Menggunakan material aluminium agar tahan terhadap karat jika terkena air hujan dan menggunakan cat yang berkualitas agar tidak mudah mengelupas. c. Metode pelaksanaan 1. Perawatan Berkala + Perbaikan atau pengecatan pagar yang sudah terlihat kusam. * Pengecatan pada pagar yang catnya terkelupas. 2. Perbaikan darurat * Dilakukan terhadap kerusakan yang tidak terduga_sebelumnya dan berbahanya/merugikan apabila tidak diantisipasi secepatnya. * Perbaikan bersifat sementara harus cepat selesai sehingga kerusakan tidak bertambah parah. Dilaksanakan secara swakelola Harus segera dilakukan perbaikan permanen 89 dari 127 d. Metode pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan 1, Pada umumnya pemeliharaan pagar sama dengan pemeliharaan dinding. 2. Karena letaknya diluar harus sering dibersihkan. 3. Rumput-rumput yang tumbuh dan menempel dipagar harus secepatnya dibersihkan. e. Kasus-kasus yang dihadapi Pagar di corat coret, pagar bengkok karena terkena benturan kendaraan, cat yang terkelupas sehingga pagar berkarat (pagar yang terbuat dari bahan besi) atau berlumut (pagar yang terbuat dari beton). 5.25 Pemeliharaan gerbang tol a. Umum Gerbang tol yaitu tempat terjadinya transaksi pembayaran tol. Proses yang mengatur pengelolaan sumber daya pengumpulan tol untuk menunjang pelaksanaan transaksi tol dan pengendalian hasil transaksi tol. b. Peralatan/bahan yang digunakan 1. LTC (Lane Terminal Switch) 2. TCT (Toll Colloctor's Terminal) 3. ADP (Automatic Double Printer) 4. PPCT (Pre Paod Card Terminal) 5. DCT (Duty Card Terminal) &. FDP (Fare Display) 7. VCD (Vehicle Class Dispaly) 8. VIA (Violation Alarm) 9. OBS (Optical Beam Sensor) 10. LLB (Lampu Lalu-lintas Bawah) 11, LA (Lampu Lalu-lintas Atas) 12. LVD (Loop Vehicle Detector) 13, LCB (Lane Close Barrier) 14, PCS (Plaza Computer Systern) 15, PDB (Power Distribution Board) 16. PCA (Plaza Computer Administrator) 17. Guard Pole 18. Karcis Manual 19. Transcend c. Metode perencanaan Perencanaan gerbang tol diantaranya yaitu sebagai berikut: 1, Tinggi pintu, minimal setinggi kendaraan yang mungkin masuk ke jalan tol + jagaan 40 cm (4,5 m) Lebar pintu, minimal selabar kendaraan terbesar + jagaan (2,75 m) Pintu tol harus dilindungi terhadap kemungkinan kendaraan menyelonong menabrak pintu tol Sebelum masuk pintu tol diberikan tanda kejutan pada jalan Pintu tol tidak menghambat lalu lintas Tidak boleh ada rintangan yang membahayakan bagi pengguna jalan oon 90 dari 127 d. Metode Pelaksanaan Secara umum metode pemeliharaan gerbang tol dapat dilakukan sebagai berikut: 1, Pemeliharaan Terus Menerus © Pembersihan halaman dari sampah dan kotoran. * Pembersihan ruangan-ruangan dan halaman dari sampah dan kotoran. * Pembersihan terhadap kaca, jendela, kursi, meja, lemari, dll. * Pembabatan rumput dan tanaman semak yang tidak teratur. © Pembersihan dan penyiraman kamar mandi/WC untuk menjaga kesehatan. 2. Pemeliharaan Berkala * Perbaikan atau pengecatan kusen-kusen, pintu, tembok dan komponen bangunan lainnya yang sudah terlihat kusam. Perbaikan mebeulair (lemari, kursi, meja, dll) serta pengecatan ulang Perbaikan genteng rusak/pecah sehingaa terjadi kebocoran. Pelapisan plesteran pada tembok yang retak atau terkelupas. Pembersihan dan pengeringan lantai halaman atau selasar yang terkena air hujan/air tergenang 3. Perbaikan darurat * Dilakukan terhadap kerusakan yang tidak terduga_- sebelumnya dan berbahanya/merugikan apabila tidak diantisipasi secepatnya. + Perbaikan bersifat sementara harus cepat selesai sehingga kerusakan tidak bertambah parah Dilaksanakan secara swakelola. Harus segera dilakukan perbaikan permanen, e. Metode pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan 1. Pekerjaan Atap * Genteng/penutup atap lainnya harus berkualitas balk, tidak mudah retak/pecah sehingga menyebabkan kebocoran, + Genteng/penutup atap lainnya sebaiknya di finishing dengan memakai bahan yang tahan terhadap cuaca seperti veernish untuk genteng dan cat untuk seng, * Apabila mengalami kebocoran, haus segera di ganti agar tidak merusak yang lainnya seperti plafond dan dinding. 2. Pekerjaan Kusen dan Pintu + Kayu kusen dan pintu harus dimeni dulu sebelum dicat, agar lebih tahan terhadap rayap. + Kusen, pintu, dan jendela harus sering dibersihkan. + Kusen, pintu dan jendela selalu dalam kering * Cat atau pelitur yang terkelupas harus segera diperbaiki agar kusen, daun pintu dan jendela terpelinara dengan baik. 3. Pekerjaan Dinding * Dinding harus selalu bersih dari kotoran dan serta harus selalu kering. Untuk membersihkan dinding bisa dilakukan dengan cara di lap dengan kain basah. + Dinding yang terkelupas harus segera diperbaiki dengan cara menambah bagian yang rusah dengan adukan semen dan pasir, kemudian segera dicat kembali. 4, Pekerjaan Kaca + Kaca harus dibersinkan setiap hari dari segala kotoran. 5. Pekerjaan Lantai _Lantai harus dalam keadaan bersih dan kering, * Lantai yang pecahilepas segera diganti agar tidak merusak yang lain. 91 dari 127 © Pada waktu pemasangan harus memakai lapisan pasir t = 5 cm dibawah adukan lantailkeramik untuk menghindari retak. © Adukan dibawah lantai/keramik harus dipastikan merata keseluruh permukaan lantai/keramik dan tidak boleh terlalu tebal, tebal adukan sekitar 2 cm. 6. Pekerjaan Kamar MandiWC + Dibersihkan setiap hari + Jangan membuang air sabun, kotoran yang bisa menyumbat kedalam Kloset. + Kotoran yang ada dilantai (seperti: tanah, daun dsb) jangan dibuang kedalam saluran buangan, Karena akan menyumbat saluran tersebut. + Ubin yang pecah segera diganti untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, 7. Pekerjaan Listrik dan Air Bersih * Sambungan-sambungan listrik harus benar-benar tertutup rapat untuk menghindari hubungan pendek apabila terkena air bocoran dan tidak membahayakan. © Instalasi listrik harus di periksa setiap 5 tahun sekali Kabel sekring tidak boleh terlalu besar, sebaiknya dipergunakan yang sesuai dengan daya listrik © Apabila tidak digunakan sebaiknya dimatikan, selain untuk menghemat biaya operasional juga memperpanjang umur daripada instalasi tersebut. * Sumber air bersih sebaiknya diletakkan minimal dengan jarak 20 m dari septictank/resapan. * Saluran air bersih harus mempergunakan pipa PVC yang baik mutunya dan tahan lama. Untuk saluran yang bocor segera diperbaiki/diganti 8. Pekerjaan Furniture © Furniture (meja, kursi, lemari dsb) harus dibersihkan setiap hari, untuk menjaga supaya kotoran-kotoran tersebut tidak merusak furniture tersebut. © Apabila ada yang rusak segera diperbaiki. Kalau lepas dipaku kembali. Kalau kerusakannya parah segera diganti © Apabila cat pelitur sudah mengelupas, segera dicat/pelitur kembali untuk mencegah rayap dan sebagainya yang akan merusak furniture tersebut. 9. Pekerjaan yang Menyangkut Pekerjaan Besi * Dilakukan pengecekan berkala setiap bulan untuk memastikan bahwa peraatan tersebut masih layak dipergunakan Cat yang terkelupas segera diperbaiki agar tidak berkarat, dengan cara bagian yang terkelupas diamplas dahulu. Setelah bersih dari kotoran baru dilakukan pengecatan * Bagian yang patah diperbaiki dengan cara mengelas bagian tersebut. Setelah tersambung baik kemudian dilakukan pengecatan. + Semua peralatan tersebut selalu dibersihkan untuk menghindari karat, 92 dari 127 Lampiran A (Normatif) Formulir Inspeksi Pemeliharaan Jalan Tol 93 dari 127 Nomor Lampiran PAT FORMULIR INSPEKSI JALAN ASPAL, Pemeriksa BUJT [Nama INSPEKSI Ruas Tol Jabatan Lokasi i Tanda Tangan z JALAN ASPAL Tel Inspeksi : Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kotak di bawab ini Utama [J Ramp O Akses o TALUD BADAN JALAN BAHU JALAN Perbaikan total (EJ | Perbaikan total 2) | Perbaikan total fea) Perbaikan setempat____]| | perbaikan setempat [)| | Perbaikan setempat C Leveling _ (J) | Pembuatan tali air C1) | teveting C) Patching Pasang dinding penahan [1] | patchinge CI Pengisian sealing Pasang gebalan rumput__[_]| | pengisian / Sealing CE) Tidak ada masalah Tidak ada masalah (1) | ridak ada masalah [es] CI [ez] =] Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang JALAN ASPAL diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata JALAN ASPAL tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) Utama Ramp Akses | $8 | SL | kk | | TaLuBaban satan | sp | st | Kk | | BAHU JALAN se | st | x ‘Alur > 20 mm Longsor Alur > 20 mm Retak Buaya <5 mm Penurunan Retak Buaya <5 mm. Bergelombang / ‘Gundut Bergelombang / Keriting Keriting Lubang dalam > 3 cm Lubang > 3 cm, diameter > 30 cm Erost diameter > 30 cm Pengausan & Pelepasan Pengausan & butir Pelepasan Butir Bleeding, tinggi > 4 Bleeding, tinggi > 4 Penurunan > 3 cm Penurunan > 3 cm Goresan Goresan Genangan air Genangan air Retak rambut <5 mm Retak rambut « 5 mm Permukaan licin < 0,33 94 dari 127 Nomor Lampiran F1.2 FORMULIR INSPEKSI JALAN BETON Pemeriksa BUST : Nama z INSPEKSI | Ruas Tol Jabatan : ae Lokasi Tanda Tangan GAUNIECTON Tal Inspeksi Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan ) tindak tanjut dengan tanda (v) dalam kotak di bawah ini Utam / Ramp / Akses TTALUD BADAN JALAN BAHU JALAN Perbaikan Seluruh [| | Perbaikan Seturuh [| | Perbaikan seluruh O Perbaikan Setempat___[_]| | perbaikan setempat [| | Perbaikan setempat C Patchange [J] | Pembuatan tali air C1] | Grouting Cj | Grouting [J] | pms. Dinding penahan [1 | Retexture [Ea Retexture Pms. Gebalan rumput___[_]] | patching Cl Tidak ada masalah [}) | tidak ada masatah (| | tidak ada masatah ea) OQ [= [ey Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang JALAN BETON, diindikasikan masalah yang ada dengan cara membuat tanda (v) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga memilih keadaan rata - rata JALAN BETON TERSEBUT Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan (KK) Utam/ Ramp /Akses | $8] SL | KK TaLup wapan saLan | $B | SL] KK BAHU JALAN | SB | SL | kK Pecah > 5 mm Longsor Pecah > 5 mm Retak > 5mm | Penurunan Retak < 5 mm Joint sealent lepas/rusak Gundut Joint seatent | lepas/rusak ‘Texture rusak Erosi Penurunan Penurunan Pumping Pumping Genangan air Genangan air Segregasi Permukaan ticin Segregasi | 1 J 95 dari 127 Nomor Lampiran Fat FORMULIR INSPEKS! JEMBATAN UTAMA BETON Pemeriksa INSPEKSI Nama Jabatan JEMBATAN UTAMA BUST Ruas Tol Lokasi Tanda Tangan BETON Tal Inspeksi Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak tanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini BANGUNAN ATAS BANGUNAN BAWAH PILAR Penggantian CO) | Penggantian [1] | Penggantian [z=] Levelin C1) | perbaikan setempat [| | Perbaikan setempat O Patchange C1) | Pengecatan C1] | seating O Grouting C1) | seatin CJ} | patchinge Ey Retexture C1) [tidak ada masatah [| | Pengecatan Ey Tidak ada masalah ey [| [tidak ada masalah [Ex] (= E& = Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang JEMBATAN BETON din ‘cara memberi tanda (v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata JEMBATAN BETON tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) \dikasikan masalah yang ada dengan BANGUNANATAS | SB | SL KK] [ BANGUNANGAWAH | SB] SL | KK PILAR 36 | st | KK Pengausan dan Bearing pad. Pipa baja berkarat pelepasan deformasi > 60 Retak> 5mm Gelagar / diagirama Beton retak <5 mm beton retak « 5 mm Bergelombang dalam > Pas, Batu talud retak Beton pecan > Sri Bem 1 pecah | Tabeng dita > em owtment ra | diameter > 30m Bleeding, tinggi > Pertetakian besi ‘mm rusak | Permukaan licin < | 0,33m | Oprit turun > 3 em Expantion join rusak Pagar/ railing/ | rusak/karat : Saluran tersumbat / — pecah/ tepas | Pecah > 5 mm 96 dari 127 Nomor Lampiran F2.2 FORMULIR INSPEKS! JEMBATAN OVERPASS BETON Pemeriksa BUST INSPEKSI we st Nama Ruas Tol Jabatan Sea Lokast Tanda Tangan OVERPASS BETON Tal Inspeksi bawah ini Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di Pengecatan ulang Tidak ada masalah BANGUNAN ATAS BANGUNAN BAWAH PILAR: Perbaikan total [| | Perbaikan totat C1} | Perbaikan total [zs Perbaikan setempat___ [| | perbaikan setempat [1] | perbaikan setempat C Patching 1} | tidak ada masatah C1) | pembersinan C) Leavelin CO [1] | Pengecatan C) Grouting [| [tidak ada masalah OO ] [ea [eal (es) (=) =) OVERPASS ( BETON ) tersebut Sebagii Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang JEMB. OVERPASS ( BETON ) diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda (Vv ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata JEMB. ian (5B), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) BANGUNAN ATAS | $8 | SL | KK BANGUNAN BAWAH | SB | SL | KK PILAR sB [st KK beton retak <5 mm Beem tak Bearing pc Pipa baja beara cetera» 60 Beemer | lag /dagtama Beton etek <5 mm ‘Dek Jemb. Retak rambut dalam < 3 mm Pas. Batu talud retak Tpecah Beton pecah > 5mm Dek Jemb. Retak Buaya > 3mm ‘Abutment rusak Balok diafragma retak rusak Perletakkan best Permukaan licin « 0,33 m Oprit turun > 3 em Expantion join rusak Railing rusak / karat Pagar rusak / karat Saluran tersumbat / pecah/ lepas 97 dari 127 Nomor Lampiran F4 FORMULIR INSPEKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN TEROWONGAN ‘Pemeriksa_—_ ~_ INSPEKSI Nama BANGUNAN PELENGKAP Jabatan JALAN el Tanda Tangan TEROWONGAN Tal Inspeksi : bawah ini Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usuilan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di SALURAN Pembuatan baru DINDING BETON Pembuatan baru JALAN PENETRASI Pembuatan baru Perbaikan total Perbaikan total Perbaikan total Perbaikan setempat Perbaikan setempat Perbaikan setempat Penambalan Penambalan. Penambalan Tidak ada masalah Tidak ada masalah Pelapisan ulang OOo oo OOOO |0/0 Tidak ada masalah OOO O00/0)0 Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang TEROWONGAN diindikastkan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata TEROWONGAN tersebut Sebagian (58), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) SALURAN KK DINDING BETON Ki JALAN PENETRAST KK Seturuh (| Retak-retak | Seturuh [1 Permukaan hancur | Seturuh CI] | Saluran hancur | Sebagian Sebagian LC] Sebagian LI aes seturuh CO Kotor Seturuh C1 Permukaan aus | Seluruh_L]| Air menggenang Sebagian Sebagian LO Sebagian 0) ‘saluran seturuh O] ‘Amblas / turun | Seluruh 0 Retak - retak Seluruh DO] SS Sebagian Sebagian Sebagian CI Seturuh CO] Seturuh Bergelombang Seluruh DO] Sebagian Sebagian LI] aaa seunn Oo Bertabang seturuh CI fSebagian C1] | Sebagian LI] _| Sorina “bles Ttarun Elles] | sebagian sebagian_L] ol | Seturun_ C]] oO > O | agi a epi jalan longsor atc] i seu o Saluran tak Bes] | Sakai a berfungst a I o “ir menggenang or] | a a ins | uaees eee 98 dari 127 Nomor Lampiran F3.2 FORMULIR INSPEKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN RUMAH POMPA Pemeriksa_ INSPEKSI Nama q BANGUNAN PELENGKAP Jabatan fi JALAN BUST Ruas Tol Lokasi Tanda Tangan RUMAH POMPA Tal Inspeksi Usulan tindak tanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda (v ) dalam kontak di Tidak ada masalah_ bawah ini BANGUNAN ATAS- BANGUNAN BAWAH PILAR: | Perbaikan total (1) | perbaikan total (1) | Perbatkan totat Ea Perbaikan setempat___L_1| | perbaikan setempat [1] | Perbaikan setempat O Patching 1) [tidak ada masalah [| | Pembersinan O Leaveling [==] T1| | Pengecatan utang ea Grouting = (| | tidak ada masalah CI) Pengecatan ulang =) a] es] CO = [=] keterangan masalah yang ada dengan cara mem Kerusakan ( KK) Berdasarkan pengamatan anda tentang JEMB.PENYEBERANGAN ORANG ( BETON ) diindikasikan iberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata JEMB. PENYEBERANGAN ORANG ( BETON ) tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori cucoavans [56 [5 [we] [ savcunncawan [6 [5 [ oe me sae Beem ek Ceara Pps bean Poe | teem or ieee aaa Ban ak Sm es Dak jb, ree Go isn peah> Sam es Pee Dek Jb. Ret Amen rk oa Balok diafragma retak ‘Perletakkan besi rusak Permukaan licin < 0,33 m Oprit turun > 3.cm Expantion join rusak Railing rusak / karat Pagar rusak / karat Saluran tersumbat / ecah/ lepas 99 dari 127 Nomor Lampiran 3.2 FORMULIR INSPEKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (BETON) ORANG (BETON) Pemeriksa ] INSPEKSI BUST Nama BANGUNAN PELENGKAP | Ruas Tol Jabatan JALAN Lokasi | Tanda Tangan = JEMBATAN Tel Inspeksi PENYEBERANGAN Usutan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda (v ) dalam kontak di Pengecatan ulang Tidak ada masalah bawah ini BANGUNAN ATAS BANGUNAN BAWAH PILAR Perbaikan total [| | Perbaikan total TD] | Perbaikan total eal Perbaikan setempat____[_]| | Perbaikan setempat. 1] | Perbaikan setempat O | Patchin CJ} | Tidak ada masalah [1] | pembersihan O | Leaveling O [1] | pengecatan ulang O Grouting [=a] (1) | tidak ada masatah C C [ee ==] | [=] [=] Keterangai masalah yang ada dengan cara mem! Kerusakan (KK) : Berdasarkan pengamatan anda tentang JEMB.PENYEBERANGAN ORANG ( BETON ) diindikasikan beri tanda ( v ) pada kotak Kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata JEMB. PENYEBERANGAN ORANG ( BETON ) tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori beton retak <5 mm Bancunan ats | sB | st | xk | | BancuNansawan | sB | st | xx PILAR sp | st | KK’ ‘Beem retak Bearing pad. Pipa baja berkarat deformasi > 60 ‘Beem tergores, Gelagar / diagframa Beton retak < 5 mm Dek Jemb. Retak Pas, Batu talud retak Beton pecah > 5mm rambut dalam < 3 mm Tpecah Dek Jemb. Retak ‘Abutment rusak Buaya > 3 mm. Balok diafragma retak Perletakkan best rusak Permukaan licin < 0,33 m Oprit turun > 3 em Expantion join rusak Railing rusak / karat Pagar rusak / karat Saluran tersumbat / ecah/ lepas 100 dari 127 Nomor Lampiran F3.4 FORMULIR INSPEKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (BAJA) Remerisai INSPEKSI BUST Nama’ BANGUNAN PELENGKAP | Ruas Tol Jabatan : JALAN Lokal 7 Tanda Tangan—: JEMBATAN Tgl inspeksi ; PENYEBERANGAN a ORANG (BAJA) Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di Dawah ini BANGUNAN ATAS BANGUNAN BAWAH BANGUNAN TENGAH Perbaikan total [| | Perbaikan totat (3) | Perbaikan totat O Perbaikan setempat___L_]] | perbaikan setempat [| | Perbaikan setempat C) Patchange CI) | cat uian: CI) | cat utang C) Leaveling (| | tidak ada masalah [| | tidak ada masatah [ea] Pembersihan f= [=a] El Cat ulang [=a] a Oo i Tidak ada masalah (ea) oO [asa] Kategori Kerusakan ( KK ) Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (BJA) diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (BAJA) tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan BANGUNAN ATAS KK BANGUNAN TENGAH | KK BANGUNAN BAWAH | KK Tantaljembtan Seturah CI Tiang jemb | Seturun CJ) Tataka Trang Jem, | Seturuh CJ Rusak /Kerooos | Sebagian Rusak /keropos: Sebagian Cl usak / Gompal | Sebagian Cl Beem jembatan | Seturun CI Batang seurun Tatua abutmant | Selurun CI usak /Meropos | Sob agian Diatage os [Sebastian C1 Rusa Keropos —[Sebagian CI] ‘Tangga jembatan | Seturuh CL] Pipa air kotor | Seturun [] ‘Mur/Baut Seturuh CJ} usak / Keropos | Sebagian usak /Keropos | Sebagian C1 | usak IKeropos | Sebagian Realing / Pager | Seturuh CJ murfBaut | Seturun Cl] seturun CI RusakiKeropes | [sebagian Rusak /Keropos | Sebagian C] Sebagian C] ‘Aspal lantal jemb | Seluru LI ae Seturuh LI r seturun usak/ Keropos TV sebagian CJ Sebagian LJ Sebagian CI [Seturun Gating‘ Setueun oO oor Sebagian CO Sebagian C1) ke ol Selurun o o Cat uang Sebagian o oO ol Oo o ol H o ol 4101 dari 127 Nomor Lampiran F3.5 FORMULIR INSPEKS! BANGUNAN PELENGKAP JALAN JALAN SAMPING Pemeriksa INSPEKSI BUST, E Nama BANGUNAN PELENGKAP _[ Ruas Tol Jabatan JALAN Lokasi R Tanda Tangan Tal Inspekst JALAN SAMPING bawah ini Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak tanjut dengan tanda (v ) dalam kontak di JALAN BETON JALAN SIRTU JALAN PENETRASI | Pembuatan baru Pembuatan baru Pembuatan baru | Perbaikan total Perbaikan total Perbaikan total Perbaikan setempat Perbaikan setempat. Perbaikan setempat Penambalan Penambalan Penambalan Tidak ada masalah | Tidak ada masatah | Tidak masalah OOOO O/0}0 OOOO |0 giolologo| ( Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang JALAN SAMPING diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK } keadaan rata - rata JALAN SAMPING JALAN BETON KK JALAN SIRTU KK JALAN PENETRASI KK Permukean seturun_ Permukaan | Selurun Permutaan renew Seu Co] | hancur Sebagian L] hancur Sebagian 0) Sebagian LO) , [seurun_C Selurun seturun CI] eine Batuan / sirtu ze ‘Sebagian L] lepas Sebagian LI Cerulean Sebagian LI ee seturuh C1 neg Seluruh eae Seturun LI Sebagian LJ berlubang Sebagian 0 Sebagian L] seturuh C1 Seluruh 0 es Seturun O) air (Berlubang Sebagian CJ mengsenang | cepagian Cores Sebagian LI Setuu O ss [sewn a sewrun ‘Amblas/turun Sebagian L] es Sebagian LJ ae Sebagian Seluruh LI Seluruh CI [jam fepi jalan Tepl jalan ni oe Sebagian [] longsor Sebagian fees enn, fal Sane seturuh CI] Saluran tak go Go berfungsi Sebagian C berfungst ial epi Jalan tongsor el Seturuh 1 oO Saluran tak ira Air menggenang | sebagian LI o berfungst ol 0 oO Oo ‘Air menggenang : Oo O O 102 dari 127 Nomor Lampiran F3.6 FORMULIR INSPEKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN GUARDRAIL Pemeriksa aaa INSPEKSI BUST. Nama i BANGUNAN PELENGKAP | Ruas Tol Jabatan JALAN Lokasi Tanda Tangan: aURRORAIE Tal Inspeksi 5 Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini GUARDRAIL SHOULDER GUARDRAIL MEDIAN GUARDRAIL TIKUNGAN Penggantian Baru Penggantian Baru Penggantian Baru O Perbaikan Setempat 1 | | peraikan Setempat [1_| | perbaikan Setempat Oo Pengecatan Mur/Baut___L_] | | pengecatan Mur/Baut___L]_| | pengecatan Mur/Baut___ LJ Cat Anti Karat —_ C1] | cat anti karat T1_| | cat anti Karat [=] “Tidak Ada Masalah 1 | | ticak Ada Masatan CI) Cj idak Ada Masalah cara memberi tanda ( v ) pada kot: tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang GUARDRAIL ini, diindikasikan masalah yang ada dengan ak Kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata GUARDRAIL dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) ~ GUARDRAIL SHOULDER KK GUARDRAIL MEDIAN | KK GUARDRAIL TIKUNGAN | KK een eer] Pan [Seana] eager | Saeeag ol metengkung | tpentang [1 metengkung | iBentang L] melengkung | iBentang 1 ae >t tiang rong miring EU Tave _O Lewy >1Tiang _O ang Mirin lang Mirin ang Mirin sees [ating O gms [iting O res [a tiene Permukaan | Seturuh__[ Permukaan | Seturun_[]| Permukaan | Seturun_L] Berkarat | setempat LI Berkarat setempat Berkarat’ | setempat LI Lepas Lepas [1 tepas Baut dan Mur Baut dan Mur Baut dan Mur Kendor kendor (1 Kendor [1] >1Tiang O] >1Tiang C] >1Tiang O) Amblas/Turun ‘Amblas/Turun = ‘Amblas/Turun es ttiang O = ttiang O ttiang Permukaan | Seturuh__C) Permukaan | Selurun_[] Permukean | Selurun_[] Kotor setempat O] Kotor Setempat [] Kotor __| setempat L] Lepas dari | > 1 Batang [) Lepas dari | > 1 Batangl_] Lepas dari | > 1 BatangL] kedudukan 1Batang L kedudukan 1 Batang L] kedudukan 1Batang L) 103 dari 127 Nomor Lampiran F3.7 FORMULIR INSPEKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN PAGAR Pemeriksa INSPEKSI BUST z Nama BANGUNAN PELENGKAP | Ruas Tol : Jabatan JALAN Lokasi Tanda Tangan PAGAR Tal Inspeksi : Usulan tindak tanjut + bawah ini Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak tanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di PAGAR KAWAT PAGAR WIREMESH PAGAR BETON Perbaikan Setempat Perbaikan Setempat Perbaikan Setempat Peningkatan C1} | Peningkatan C1 | | Pembersihan tembok __L_] Pengecatan Tiang C1 | | pengecatan Tian 1) | | tidak Ada Masatah [a] | Tidak Ada Masalah C1] | tidak ada Masatah [es fe O [=] [== Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang PAGAR ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata PAGAR tersebut, Sebagian (5B), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) PAGAR KAWAT KK PAGAR WIREMESH KK PAGAR BETON KK awat Putus |S022si2n Oo Berlubang | Setempat L] Berlubang _| Setempat L] seturun [1 Kecit Sebagian_[] Kecit Sebagian L] Kavat tang -emeEL Oo Berlubang | Setempat_L] Berlubang _| Setempat L] seturun_C] Besar sebagian [] Besar Sebagian L] baa a aa sebagian [] Plesteran | Setempat L] Plestaan Setempat [] selurun C] | Terkupas | sebagian L] Terkelupas | sebagian L]| Sebagian L] sebagian [] Sebagian L] Tiang Kropos Retak/Pecah Retak/Pecah seturuh_ [1 seturun [) seturun_[] sebagian [] i Sebagian Sebagian L] Tiang Miring z Ronee! sen Pondasi Turun Jo i seurun EI tuum [seuren O| sewn Trang Robon | Stemoat Oo — setempat [] ie Setempat [] sebagian L] Sebagian [] Sebagian L] eae setempat L] wm setempat L] ‘ Setempat L] lang Goyan iri rin scovand | sebagian CO] u sebagian Sebagian C] set 8 a ae setempat LJ a Setempat [] ie Setempat [] ondasi Turun or cor sebagian [] Sebagian [) sebagian [} 104 dari 127 Nomor Lampiran F3.8 FORMULIR INSPEKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN PERAMBUAN Pemeriksa INSPEKSI BUST £ Nama. i BANGUNAN PELENGKAP —_| Ruas Tol Jabatan si JALAN Lokasi Tanda Tangan PERAMBUAN Tal Inspeksi Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini PANEL RAMBU TIANG RAMBU PONDASI Perbaikan Setempat Perbaikan Setempat Perbaikan Setempat Peningkatan [1 | | Peningkatan [1 _| | Pembersinan Cl Pengecatan Ranake [J | | pengecatan Tana T1_| | tidak aca masateh Tidak Ada Masalah [1 | | tidak Ada Masalah CI C) -& =] [=] Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang RAMBU ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara member tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata RAMBU tersebut Sebagian ($8), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) PANEL RAMBU. Kk TIANG RAMBU_| Kk PONDASI KK. Sebagian [] Setempat_L] Setempat_[) Panel Rusak = Borkarat s Bolubeng| = isaren satueun Sebagian 0] Kecil Sebagian L] Saal Stare] eee | rare] Panel Hilan¢ Roboh 2 9 | sewun O Sebagian_C] Besar sebagian () Esreeye Sebagian [] Bengkor |Setemeat Oo Plesteran _ | Setempat [] anel Mirin jengkok |= S| setuun 0 oN | sebagian O Terkelupes | Sebagian Sebagian O] Sebagian LJ) sebagian Panel Lepas Kotor Retak/Pecan | setuun O selurun UO sewurun_ [1 Sebagian L] Sebagian Sebagian [) Panel Kotor Turun setureuh_[] seturuh sewurun_O) Setempat L] Setempat_U Setempat L) Rangka Miring Roboh Sebagian [1] Sebagian Sebagian L] ron setempat L] Setempat ie setempat Berkarat Sebagian L] Sebagian [1 Sebagian Rangka Setempat [] Setempat_[] Setempat Bengkok Sebagian [] Sebagian_L] Sebagian 1 105 dari 127 Nomor Lampiran F3.9 FORMULIR INSPEKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN MARKA JALAN Pemeriksa INSPEKSI [.BUJT qi Nama BANGUNAN PELENGKAP | Ruas Tol Jabatan JALAN Lokasi Tanda Tangan MARKA JALAN Tal inspeksi =: bawah ini Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda (v ) dalam kontak di Pengecatan Ulang GARIS TENGAH PUTUS-PUTUS, GARIS TEPI Pengecatan Ulang CHEVRON DAN TANDA PANAH Pengecatan Ulang Pengecatan Setempat___[_1| | Pengecatan Setempat___ [1] | | pengesatan setempat__ [| Pembersihan [1] | pembersinan I | | Pembersinen = Penghapusan yang tak perlu_] | | Penghapusan yang tak peru] _| | Penghapusan vana tak pertu L_] Tidak Ada Masalsh [)} (tidak Ada Masatan [1 | [tidak Ada Masatah (es) Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang MARKA JALAN ini, diindikastkan masalah yang ada dengan ‘cara memberi tanda ( v ) paca kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata MARKA JALAN tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) GARIS TENGAH PUTUS- ‘CHEVRON DAN TANDA eed KK GARIS TEPI KK ONAN KK Garis Tidak | Seturun_L] Garis Tidak | Seturun_ LT Garis Tidak | Seurun Tampak Sebagian Tampak sebagian |] Tampak sebagian L] seurun__( seturun_ [I] seturun_O) Cat Pudar Cat Pudar a Cat Pudar ol Sebagian_L Sebagian Sebagian L]} seturuh_ ‘ir seturun_U) ae seturah O) Menggenang | setempat_L] Menggenang | Setempatl] Menggenang | setempatl_] ae > meter U ee > 1 Meter} cae > 1 MeterL]| at Tergores at Tergores at Tergores 3 <1 meter [] erg <1 Meter] gore [<1 meter LI Cat Tertuuyp [2 tMeter L] Cat Tetutp | 21 MeterLI Cat Tertutup | > 1MeterL] BekasRem | <4 meter L] BekasRem | <1 Meter] BekasRem | <1 weterL] sambungan [24Meter LI Sambungan {24 MeterL] sambungan | >1 Meter] Tidak Lurus | <4 Meter Tidak Lurus | <4 meter) Tidak Luus | <4 meter] Giass Bleads | Seluruh LI Giass Bleads | Seturun_ UI Giass Bleads | Seuun_L Lepas Setempat_L Lepas Setempai LJ Lepas Setempat L] Tok Ada Glace | Seluuh CI tacada [Seth HI | | yey ada | Setwun_O Bleads Seni] Giass Bleads | SetempaiL] Giass Bleads | SetempatL | 106 dari 127 Nomor Lampiran F41 FORMULIR INSPEKSI GEDUNG a KANTOR CABANG Pemeriksa : BUIT : Tams mspexsi Tl Jabatan : Lokasi Tanda Tangan_: RANTORCAEANG Tal Inspeksi Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini DINDING. PINTU & JENDELA LANTAI Pengecatan Ulang Perbaikan Kusen LI] Pembersihan Pelituran Ulang Perbaikan Pintu | Perbaikan Lantai Perbaikan Dinding Perbaikan Jendela Penggantian Karpet Perbaikan Penutup Dinding Perbaikan Pelengkap Jendela Perbaikan/Penggantian Vinyl Tidak Ada Masalah Perbaikan Alat Penggantung Tidak Ada Masalah Tidak Ada Masalah entukan Kategori Kerusakan ( KK ) Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang Gedung ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakil Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan te ii keadaan rata - rata Gedung tersebut DINDING Xk pinvu a senoeta so [a | we Lavra o/s] te naergne or tere pair derma Cat/Plitr Pudar Kosen Lapuk Tergores cot Tereas ru us Lanta serutang caviar serutang biog - hak avi us Aris Tn Tew eons Pah te 7 Sanborn a me Peau tapas Z ind apts Ko onbesan aah rare [as atpver Ror cau Ps otek Pent Bins |watoaer | wa tetra rote Sendelay Sentiron Boventigh Lepas_ Vinyl = ange ee veeohint ote maaae EI Siena peceeee inva en oe ent Ast sg [BH | eganuang Enel sae | facing 4107 dari 127 Nomor | Lampiran F4.2 FORMULIR INSPEKSI GEDUNG KANTOR GERBANG TOL Pemeriksa INSPEKSI BUJT Nama GEDUNG Ruas Tol Jabatan Lokasi Tel hi Handayt angany KANTOR GERBANG ToL _| "2! Inspekst Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini PLAFON & ATAP BANGUNAN KAMAR MANDI & WC PELATARAN PARKIR & PAGAR Pembersihan Perbaikan Kusen J | | Pembersihan Pelituran Ulang Perbaikan Pintu Perbaikan Lantai Pengecatan Ulang Perbaikan Jendela Tidak Ada Masalah Perbaikan Dinding_ Perbaikan Pelengkap Jendela | Tidak ada Masatah Perbaikan Alat Penggantung Tidak Ada Masalah___ Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang Gedung ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v } pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata Gedung tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) PLAFON & ATAP PELATARAN PARKIR oo] sm rwumannmvorawe — |x | a | ax wo] a | we BANGUNAN PAG er vest ox same vase i ee -cnergean aaah [foe tah Pelotara | Rett = afchen , plate a Dinding, oe ae = erstons ra neg tare Pete Hee Bek mans am | ra ee burton Pecah/Robek Kotor Drainase | Retak/Pcah faa wosare | osurresmos neg benart Pec catTenetss erutg rar tetur Tok ‘lang ar? | sanoaan Tontok | in [ase cot [anes noe [By rasan |_ = seiterent | Sove/Temnta beaten ing Aang | anise urinot | par ert | toes Peco rea mn ints ae eps ee se Pate [canes cat Par Seravaee et Phat tote re Trae ota re mapa ‘Sal Air | eh sata [peak | wareepe sexs 108 dari 127 Nomor Lampiran F4.3 FORMULIR INSPEKSI GEDUNG GERBANG TOL Pemeriksa BUT fame INSPEKSI fs Ta Jabatan Lokast Tanda Tangan SeRBANGTON Tal Inspeksi Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini GERBANG TOL GARDU TOL TOILET Pembersihan Pembersihan Pembersihan Pengecatan Ulang, Perbaikan Dinding Perbaikan Bak Air Perbaikan Tiang Perbaikan Pintu Perbaikan Closet CT] Perbaikan Lisplang Perbaikan Lantal Perbaikan Kran Perbaikan Atao/Talang Perbaikan Langit-Lanait Perbaikan Urinoir i Perbaikan Plafon Perbaikan Alat Pengaantung Perbaikan Bangunan (Toilet) Tidak Ada Masalah ‘Tidak Ada Masalah ‘Tidak Ada Masalah memberi tanda ( v ) pada Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang Gedung ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata Gedung tersebut tukan Kategori Kerusakan ( KK ) Rusak | Kunst GERBANG TOL GARDU TOL, sb [| mk TOILET ab [st | kk Kotor Kotor Tolet (oat momar Baw Dinding | expecan Kotor Bak Air Koza Pecah RetskPecan Tang Robot Kotor Malengeung Cioset | BunurTereumost (oat Memuar RetohPecen ecpostLapu Lepas Pinta ren ‘Sambungan Lepes Beskreuhtocet aca Pacan BunurTersumoat Usinoir Patan RetakPecan LUsplang Kore Berumut Lanta Lantai | reitpccan Retake Retak eneng Metengkong Aap Kor Pintu | Lapuukopos Besser Cotmemuses - Paton = a Kops Kotor Talang Rook ‘Atop | rtaktBerivang ‘lat | engset Lapuldkronos Penggan Praton tung & | Rel Paw | Kun 109 dari 127 Nomor Lampiran F4.4 FORMULIR INSPEKSI GEDUNG RUMAH GENSET Pemeriksa BUST A Nama : oo Ruas Tol : Jabatan ‘Lokasi Tanda Tangan RUMATIGENSER Tal inspeksi = Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini DINDING & LANTAI PINTU & JENDELA PLAFON & ATAP Pengecatan Ulang Perbaikan Kusen Pembersihan ea Perbaikan Dinding Perbaikan Pintu Perbaikan Langit-Langit Pembersihan Lantai Perbaikan Jendela Perbaikan Atap imi Perbaikan Lantai Perbaikan Petengkap jendela Perbaikan Talan Tidak Ada Masatah Perbaikan Alat Penggantung Perbaikan Lisplang Tidak Ada Masalah Tidak Ada Masatah Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang Gedung ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda (v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata Gedung tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK } DINOING @LANTAD | sb [st] Ke PINTU & JENDELA > [st | kk PLAFONG ATAP [sb | st | xx] toe etengung ator Asp Bert anbuan Lange | Roto oe Kusen tangit ave Puce tapuk Lapse at Terhlopas Fatah Patan Dincing | nersbang coupe Par Berutang eta courier ‘Ne Nenggenang “wun eleniane hap [eae as eno ss |_| aoe Lapuk eos ata cy ae utente sot cau Pie dar searat tanta Tbe Turun Nelengiang tang pene nae sendeta/ | sambungan stare | samungan : Boventing | teas eps Lepukihropen lem Lapa aco sae Lapuerrepoe Petengkap | Tra cot emader Pinta & Pinta & | rawat yam kotor usak ac Fim Usptang_ | Reta rat Lapuivopos lat Renasacng | fae Patan etm Tak Angin ane! 110 dari 127 Nomor Lampiran F4.5 FORMULIR INSPEKSI GEDUNG POS JAGA Pemeriksa INSPEKSI BUJT Nama GEDUNG Ruas Tol Jabatan = : Lokasi ‘Tanda Tangan Tal Inspeksi 2 POS JAGA Se Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini DINDING & LANTAI PINTU & JENDELA PLAFON & ATAP Pengecatan Ulang Perbaikan Kusen Pembersihan Perbaikan Dinding Perbatlan Pintu Perbaikan Langit-Langit Pembersihan Lantai Perbaikan Jendela Perbaikan Atap Perbaikan Lantai Perbaikan Pelengkap jendela Perbaikan Talans Tidak Ada Masalah Perbaikan Alat Penggantung Perbaikan Lisplang_ E Tidak Ada Masalah Tidal Ada Masalah Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang Gedung ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata Gedung tersebut Sebagian ($B), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) DROWG aLANTAL | =| st] Hk PINTUG JENDELA | sb | a | Hk PLAFON & ATAP [sb | st | ke vote enna ora serum fromm Lange | Retr ooo (Cat/Pite Pudar Kusen Lapuk Ny Lapuik Cat Tertluas ah roan serutarg eres sertang Binding | petak Cats Ptite Pudar ‘Ai Menggenang, sun ering hap [ea ing Pintw oa Pec sek tapsk ops uh a pentrTese ae couric mone seat i teak Alemany serutang Jendela’ ‘Sambungan ane ‘Sambungan Lantat_| anbasrtann yea | sae san tana Lapis lem eas aco tapos Petenghap | ras catsenuta Pate Pty [rama Kotor ioe [reearin Lsotang [Rew Et tap top ae Aa exung [Bee Patan Chie [ racing Rusak Bak angi 414 dari 127 Nomar tampon F4.6 FORMULIR INSPEKS| GEDUNG RUMAH DINAS / MESS Pemeriksa BUST : Tam INSPEKSI as Ta Jabatan Lokasi Tanda Tangan Tal Inspeksi RUMAH DINAS / MESS bawah ini Usulan tindak lanjut: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di PLAFON ATAP BANGUNAN KAMAR MANDI & WC PELATARAN PARKIR : PAGAR | Perbaikan Plafon Pembersihan Pembersihan Perbaikan Atap Perbaikan Konstruksi Perbaikan Pelataran Perbaikan Talang Dasar Perbaikan Perlengkapan KM Perbaikan Talang tegak Perbaikan Saluran Air Kotor Perbaikan Drainase Perbaikan Pagar Perbaikan Risplang Perbaikan Instalasi Air Perbaikan Pintu Pagar Tidak Ada Masalah Tidak Ada Masatah Tidak Ada Masalah Keterangan Berdasarkan pengamatan anda tentang Gedung ini, memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga m Sebagian ($8), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) diindikasikan masalah yang ada dengan cara iewakili keadaan rata - rata Gedung tersebut raron:aTiaaxcowws | s ] a] Ke WAR ANDI WE | = | st | We plarONraTaP | | st | kk ar owes ote apa tepes tant — [scene senengerng Paton tant ews ett pelataran rash ett sermons Dining oxo eng as Ae ener tote per raner Bak Mandi ‘Buntu/Tersumba rp | souk becrPeah a echo owe orainase | reuivrean tout Pak Lees Wasa | bere Arnos sett ean carTeteups | serung our totum Teno Reta Tang Tata’ [sna seu Tera Terk Lepae Cleet | Pagar | Bertubang ary ess besidetarat beaten simone ee ssntunn Uni Tang | ne tocie Ss Teak [2 a pecan ean a L Pw tem Lees i = a cathenuder Setara/aacet etre ak er nw esumbat roth Pi ua Lisplang_ Saluran Air ew satan A | pach Laptop = 112 dari 127 Nomor Lamplran F47 FORMULIR INSPEKSI GEDUNG RANGKA ATAP BANGUNAN Pemeriksa BUJT Nama : eee Ruas Tol Jabatan Lokasi Tanda Tangan—: TANGKA ATAP BANGUNANT | HDasia: bawah ini Usulan tindak lanjut : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di KANTOR CABANG KANTOR GERBANG TOL, RUMAH DINAS/MESS Perbaikan Rangka Perbaikan Rangka Perbaikan Rangka Perbaikan Tiang. Perbaikan Tiang CT Perbaikan Tiang Perbaikan Balok Perbaikan Mur/Baut | Perbaikan Batok Perbaikan Balok Perbaikan Mur/Baut Perbaikan Mur/Baut Perbaikan Plat/Simpul Perbaikan Plat/Simpul Perbaikan Plat/Simpul Perbaikan Ikatan Angin Perbaikan Ikatan Angin Perbaikan tkatan Angin Tidak Ada Masalah Tidak Ada Masalah Tidak Ada Masalah Keterangan Berdasarkan pengamatan anda tentang Gedung ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) keadaan rata - rata Gedung tersebut aaa a ae tas ‘sambungan Aas: ‘Sambungan tas ‘Sambungan = as = gee | ms ts a al ae as im = el omer Ata pores oc (epee = aa ee oS eer ss en ea Se ea am as ee a a = war sagem mr [ine Sa ae = 113 dari 127 Nomor Lamplran F48 if FORMULIR INSPEKSI GEDUNG BENGKEL. Pemeriksa BUT Nama Fi Se Ruas Tol Jabatan : c Lokast Tanda Tangan feral Tel inspekst Usulan tindak lanjut_ : Nyatakan indikas! kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak i bawah ini DINDING PINTU & JENDELA LANTAL Pembersthan Perbatkan Kusen TO) | pembersinan O Pelituran Ulang CT) | | perbaikan Pintu [| | Perbaikan Lantai By Pengecatan Ulang 1) | perbaikan Jendeta (| | tidak Ada Masatan = Perbatkan Dinding 1] | perbaikan Pelengkap Jendeta 1 C Tidak Ada Masalah 1] | perbaikan Alat Penggantung L_] =) FJ | [tidak Ada masatah [=] Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang Gedung ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata Gedung tersebut Sebagian (SB), Seluruh (SL) dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) DINDING @LANTAL [sb [st | Ke PINTU & JENDELA sb | st | kk PLAFON& ATAP | sb [st | Ke oor Netengng ote ae ‘sabungan e ies pa oui Pode rn Lapa Teves cat Terelpas Fatah feta Lantai Dinding | serubane cautie Pudar Dertubong eta cat Pie Pada as/Tuun Tun eters aah samburaan ee sng Pintu a aba Leu Kropos Ptah a avai Pudar etenghong Jendeta/ | samburgan Boventing | teas Lapus repos aco Rusa Pelengkap | Tals Pinu & Pinta | kavat yam usek vaca Fim Engel lat Penagantung | RetPints exincl [mae Fusak Ba unc Ls 114 dari 127 Nomor Lampiran 5.1 FORMULIR INSPEKSI KELISTRIKAN SISTEM TATA UDARA Pemeriksa INSPEKSI BUT A Nama mi KELISTRIKAN Ruas Tol Jabatan 5 Lokast Tanda Tangan SISTEM TATA UDARA | Tat Inspeksi Usulan tindak lanjut _; Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini SENTRAL SISTIM SPLIT SISTIM WINDOW SISTIM Ditelit! / diperbaiki Diteliti / diperbaiki Ditetiti / diperbaikt CL Service/ Pengg Termostat Service/ Pengg Termestat Ll] | services Pengs Termostat LJ Dibersihkan defuser Perbaikan pipa Perbaikan pipa Dirapihkan Ganti bungkus pipa Perb saluran buang Tidak ada masatah Dirapihkan \si Freon | Penggantian / Perbaiki Isi Freon Alat Kontrol, Air Curtain Oy pont Tidak masala Tidak masalah Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang SISTIM TATA UDARA ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata SISTIM TATA UDARA tersebut dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) SENTRAL SISTIM KK SPLIT SISTIM KK ‘WINDOW SISTIM KK | = | fuangan | Seturun_ [I fuangan | Seturun_C Ruangan tidak | Seturun tidak dingin—[sebagian C1 tidak dingin | sebagian L] dingin een Thermostat | Seturun_C] Thermostat | Seturuh_L] Thermostat | Selurun_(] tak bekerja tdk bekerja = tdk yaa Sebagian L] yet sebagian [] akerja/rsk _ | Sebasin LI Defuser kotor selurun_[) eee Ssiie a Pipa pendingin |Seturuh fala | Be) see a _| Sebagian LI) ae Sebagian L] bocor sebagian L] Grterhatang |Seuran_L Pe engan 0 embuangan | Seurun_L] benda lain | Sebagian L] can Sebagian L] tdk sempurna | sebagian L] RMesin ta |-Seturuh_O Pembis pipa_| Seluruh QO Freon habis -seturan_C rapih Sebagian L] Peet opas | Sebasian LI (Volume) Sebagian L] Alat control | Seturun_ [1 Outdoor unit | seturun_O) ‘mesin tidak terhalang bekerja sebagian [] banda tai _| ebeeten 0 Aircurtain | Seturuh_[ Freon habis | Seturuh_C) tak bekerja | sebagian L] (Volume) _| sebagian L] Exhousfan | Seluruh_L] tidak bekerja | sebagian L] 115 dari 127 = ri Faz. FORMULIR INSPEKSI KELISTRIKAN PENERANGAN JALAN Pemeriksa_ BUJT van NPE. Rua Jabatan_ Lokasi Tanda Tangan : ‘Tel Inspeksi PENERANGAN JALAN bawah ini Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di PENERANGAN JALAN TRAFFIC LIGHT WARNING LIGHT Perbaikan Instalasi Perbaikan Instalasi Perbaikan instalasi Pengecatan/ pengg panel Pengecatan/_pengg panel Perbaikan comp panel Perbaikan comp panel Pengecatan/ pengg panel Perbaikan comp panel Penggantian Comp Panel Penggantian Comp Panel Penggantian Comp Panel Perb,Pengg Tiang / Pond Perb,Pengg Tiang / Pond Perb,Pengg Tiang / Pond Penggantian Lp, bls dll Penggantian Lp,bls dll Penggantian Lp, bls dll ‘Tidak ada masalah, doooocda goood Tidak ada masalah, 00|g000 Tidak ada masalah Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang PENERANGAN JALAN dengan cara memberi tanda (v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata PENERANGAN JALAN tersebut dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) ini, diindikasikan masalah yang ada RAILING/PAGAR 7 LANTA JEMBATAN KK ean Kk SALURAN JEMBATAN KK Inst kabet | Seturun_C] inst kabet | Seturun_L) Inst kabel seturun _(] | konstet sebagian [] konstet Sebagian L] konslet Sebagian Panet seturun_[] Panel seturun_(] panel berkarat (CU fe] anel berkarat 7 berkarat_—_| sebagian L] berkarat | sebagian L] Sebagian (1 Comp panet | Seturun_C] Comp panet | Seturuh_[] comp pane. | Seturun__ [1] rusak sebagian L] rusak Sebagian L] rusak Sebagian (1 Tiang lampu | Seluruh, o Tiang lampu_| Seluruh Oo Tiang lampu_| Seluruh Oo berkarat | sebagian L] berkarat | sebagianL) berkarat sebagian (| Tiang roboh | Seturuh_C Tiang robon | Seturun_L] Tiang robo |Seturun__[) / miring Sebagian L] Jmiring | sebagianL] miring sebagian |_| Pondasi tiang | Seturuh_[] Pondasi | Seluruh_C] Pondasi tiang |Setuun [1 {ongsor Sebagian L]} tiang longsor | sebagianL] longsor sebagian_[] Cat tiang seluruh_[] cattiang | Seturun_ [1] Cat tiang seturun pudar Sebagian L] pudar sebagian L] | pudar sebagian Lampupy | Seturun_( Lampu Trffic | Seturuh_[1 Lampu seturuh _[] mati /tdk bfs | sebagian L] tdk bfs sebagianL] worning mati | sebagian CL] 146 dari 127 Nomor Lampiran Fie FORMULIR INSPEKSI KELISTRIKAN PENERANGAN BANGUNAN DAN SARANANYA pomanise INSPEKSI ‘Jabatan KELISTRIKAN BUST Ruas Tol Lokasi Tanda Tangan PENERANGAN BANGUNAN DAN SARANANYA Tal Inspeksi bawah ini Usulan tindak lanjut.: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di PENERANGAN JALAN TRAFFIC LIGHT WARNING LIGHT Perbaikan Instalasi Perbaikan Instalasi Perbaikan Instalasi Pengecatan/ pengg panel Pengecatan/ pengg panel Pengecatan/ pengg panel Perbaikan comp panel Perbaikan comp panel Perbaikan comp panel Penggantian Comp Panel Penggantian Comp Panel Penggantian Comp Panel Perb,Pengg Tiang / Pond Perb,Pengg Tiang / Pond Perb,Pengg Tiang / Pond ! Penggantian Lp,bls dll Penggantian Lp, bls dl Penggantian Lp,bls dll OOoOGOC)O Tidak ada masalah, Tidak ada masalah go o00)0 Tidak ada masalah OOOO Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang PENERANGAN JALAN dengan cara memberi tanda ( v } pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata PENERANGAN JALAN tersebut dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) ini, diindikasikan masalah yang ada LANTAIJEMBATAN | KK PATING PAG KK SALURAN JEMBATAN | KK JEMBATAN, Inst kabet | Seturun_C Inst kabel |Seturuh_L) inst kabet | Seturun_[ konstet Sebagian onset Sebagian [1] onslet sebagian [] Peet seturuh_ [1 Panel seturuh_[) panet berkarat +2UuH o anel berkarat berkarat_ | sebagian L] berkarat__| sebagian L] sebagian (] Comp panet | Seturuh_O] comp panet | Seturuh_[] comp panet | Seturun_C] | rusak Sebagian L] usa Sebagian [] rusak Sebagian [} Tianglampu | Seturuh_[} Tiang tampu | Seturuh_C] Tiang tampu | Seturuh_ [1 berkarat Sebagian L]| berkarat | sebagian L]| berkarat Sebagian L] Tiang roboh | Seluruh O Tiang roboh | Seturuh_ C1 Tiang roboh / | Seluruh O {miring | Sebagian U1 Jmiring | sebagian C1 miring Sebagian L] Pondasi tiang | Seturuh_[] Pondasi seturuh_ (| Pondasi tiang | Seturu_[) longsor sebagian [1 tiang longsor | sebagian L] Longsor Sebagian LI cating | Seturun_O Cat tiang | Seturuh_O] cattiang | Seturuh_[ pudar Sebagian L] pudar Sebagian L]} pudar Sebagian L] Lampu py | Seturun_C Lampu Trffic | Seturuh_ eae seturun_[] mati /tdk bfs | sebagian LI | tak bs sebagian LI worning mati | sebagian L] 417 dari 127 Nomor Lampiran F5.4 FORMULIR INSPEKSI KELISTRIKAN FIRE HYDRANT Pemerilsa BUT Nama ean Ruas Tol Jabatan : Lokasi : Tanda Tangan = FIRE HYDRANT Tal Inspekst 5 Usulan tindak lanjut _: Nyatakan indikasi kemungkinan bawah ini {usulan) tindak lanjut dengan tanda ( v ) dalam kontak di PERALATAN HYDRANT PERSEDIAAN AIR Perbaikan / Penggantian Pipa distribusi Bak air dikuras, dibersihkan Penggantian Valve (Katup) | Bak air ditambat Pengecatan / Penggantian Kotak Hydran Bak air diperlukan perawatan Perbaikan / Penggantian Slang Gulung, Buat sumur baru / diperbaiki Perbaikan / Penggantian Kopling Perbaikan / Penggantian pompa air Sekeliting kotak dibersihkan dari penghalang Kedalaman Reservoir Air Perbaikan / Periksa tekanan air Scienes Conection OOo0000/0 Tidak ada masalah ooo 00 0\0 Tidak ada masalah, Keterangan : Berdasarkan hasil pengamatan anda ter 10Cm seturun [1] met [soe 0 O Tidak Tumbui/ | Setempat C) Serangan _| Sebagian O O Botak sebagian [J Hema seturuh O Oo setempat L] Banyak «soe [a Terkena Erost orkena Eres | sebagian OI Gulma >sox o Sebagian LI] ‘Mengganggu | Sebagian L] O Banyak Guima Vseturun O] rem | seturun ao a 7 Setempat L) a ongsor oO ie Sebagian L] Oo Oo [ols ea oO Oo oO [a Oo oO Oo oO Oo Oo 424 dari 127 Nomor Lampiran F6.3 FORMULIR INSPEKSI LINGKUNGAN le KEBERSIHAN emer INSPEKSI BUT. lama LINGKUNGAN Ruas Tol Jabatan Lokasi Tanda Tangan GnERGIAN Tal inspekst Usulan tindak lanjut’ : Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan ‘tanda ( v ) dalam kontak di bawah ini DAMIJA GERBANG TOL BANG JALAN Dibersihkan Dibersihkan Dibersihkan Tidak Ada Masalah Penambahan Bak Sampah___ Pembersihan Rumput Liar Tidak Ada Masalah Stripping Shoulder Tidak Ada Masalah gooo oobooolo gogo 0 Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang KEBERSIHAN ini, dlindikasikan masalah yang ada dengan cara memberi tanda ( v ) pada kotak kecil yang tersedia, sehingga mewakii Keadaan rata — tersebut dan tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) rata KEBERSIHAN DAMIJA KK ‘GERBANG TOL KK BAHU JALAN KK Banyak sebagian L] Banyak sedikit_[] Sebagian [] Sampah Sampah Kot puamgan __{setwruh Raven | Barvak an seturun (] Banyak Setempat [] Toner Sebagian L] sebagian L] Sampah Sisa r 7 Ditumbubi sebagian [] Sampah Sisa | seturun L] seturun [] Perawatan pel Rumput Tanaman Banyak sisa /Setempat Oo panyak sisa | S2xtkit Oo RumpurTalud | Seba O | Material Sebagian [] Material Banyak [] Bahu jalan seturuh 1] Oo Oo ooo ooO|o oo oooooOoO 122 dari 127 Nomor Lampiran, F6.4 FORMULIR INSPEKSI LINGKUNGAN SALURAN Pemeriksa BUJT A INSPEKSI Nama Ruas Tol z Jabatan LSA Lokasi Tanda Tangan eRTURAN Tal inspeksi bawah ini Usulan tindak lanjut_: Nyatakan indikasi kemungkinan (usulan) tindak lanjut dengan tanda (v ) dalam kontak di TERBUKA 7 TERTUTUP PARIT/GORONG?/B.CULVET) _| BAK KONTROL INLET/JERUJI BES! Perbaikan Setempat Perbaikan Setempat Pengerukan Pengerukan Pengerukan Pembersthan Tanaman Liar Pembersihan Tanaman Liar Pembersihan Tanaman Liar Pembersihan Sampah Pembersihan Sampah Pembersihan Sampah. Pembuatan Baru Pembuatan Baru Pemasangan Jeruji oogjo0 Tidak Ada Masalah Tidak Ada Masalah Pembuatan Baru gogo 0.0 gogo o}o0 Tidak Ada Masalah member tanda ( v ) pada kotak keci tentukan Kategori Kerusakan ( KK ) Keterangan : Berdasarkan pengamatan anda tentang SALURAN ini, diindikasikan masalah yang ada dengan cara il yang tersedia, sehingga mewakili keadaan rata - rata SALURAN tersebut dan TERBUKA / TERTUTUP panticononcrecuver | K BAK KONTROL, KK INLET/JERUSI KK ae Sebagian L] setempatL] setempat [] Penurunan Penurun Penurunan 5 Memanjan{_] sebagian L] ‘Memanjangl] Setempat L] setempat(] Sebagian [] Pendangkalan Pendangkalan Pendangkatan seturun (|_| seturun_[] seturun [1] pitumbuni | Sebasian LI Ditumbuni | Setempat ] Ditumbuni | Sebagian Tanaman Liar | seturuh _C] Tanamn Liat | seturun [1] Tanaman nee) Banyak Sebagian C] Bayan sebagian [] ene Sebagian [] Sampah seturun [] sampah seturun_[] Sampah sewurun (1) Sebagian [) Sebagian [] Tidak Ada Sebagian L] Retak/Pecah Retak/Pecah Ks seturun_() seturuh_[] Jerujt seturun (1) sebagian [] SetempatL] sebagian L) Hancur Hancur Pecah/Hancur seturun Sebagian [] seturun O Oo O Oo oO 423 dari 127 Nomor Lampiran FTA FORMULIR INSPEKSI SARANA PELENGKAP JALAN RAMBU DAN SARANA PENGATUR LALU LINTAS | —— SARANA PELENGKAP JALAN pasa Jabatan Lokasi Tanda Tangan RAMBU DAN SARANA _| Tt Inspeksi PENGATUR LALU LINTAS Beri tanda (v ) pada kolom yang dipilih |. DITEMUKAN KERUSAKAN [] Tidak Ada Temuan Oo Il, KERUSAKAN AKIBAT [atm [J kecetakaan [21 Tabrak Lari (1 Pencurian Il, KERUSAKAN PADA 2 satu set ( satu Buah TO satu Titik [1 Panet CO sebagian C2 seturuh TC Rangka [1 sebagian (J seturun (7 Tiang Ti sebagian (2) seturun Z Pondasi 1 sebagian CO seturuh Dea sebagian C2 seturuh TL Reptektif [71 sebagian Co seturun Co peton Co sebagian ( seturun [1 Paku Ktem (Repeat/Baut) [_] Sebagian ( seturuh IV. KATEGORI KERUSAKAN (TEMUAN) Berkarat 7 Miring ( turun 7 Patah [= Robek [1] Bertubang pecan (1 rentipat CD rubuh [1 Bengkok CT kotor C hiitang (7 Putus [J Tergores (= Y._TINDAK LANJUT (PERBAIKAN / PENINGKATAN) [J Pembuatan Baru [EZ Tambah Kiem (Repeat /Baut) (Co Pencucian 1 Pengetasan [1 Pengecatan Ulang C1 cor ulang [1 tapis ulang [[] Memperdatam Cor an [1 Pebaikan Langsung =) 124 dari 127 Lampiran B (informatif) Daftar Nama dan Lembaga TIM PENYUSUN MANUAL PEMELIHARAAN JALAN TOL Nama Lembaga Ir. Jonggi Panangian, M.Eng Direktorat Bina Teknik Vici Hartawan Tjaja, S.T., M.T. Direktorat Bina Teknik Herlina Setiyaningsih, S.T., M.Eng. Direktorat Bina Teknik Ranto P.R, 8.T., M.T. Badan Pengatur Jalan Tol Ir. Nofie, M.Si. Direktorat Bina Pelaksanaan Wilayah II Denny Chandra, .T. PT. Jasa Marga Noviana Triwidawaty, S.T. PT. Jasa Marga Indra Novayana, S.T. PT, Jasa Marga Ir. Achmad Nadjam, M.T. Professional Saka M. Bagisda, S.T., M.T. Professional TIM PEMBAHAS MANUAL PEMELIHARAAN JALAN TOL Nama Lembaga Ir, Bambang Suryono, M.Sc Direktorat Bina Teknik ‘Asep Hilmansyah, S.T., M.T. Direktorat Bina Teknik Heri Yugiantoro, ST. Direktorat Bina Teknik Nurul Fadillah, ST. Direktorat Bina Teknik Endri Wahyudi, S.T., MT. Direktorat Bina Teknik Indra R, §.T., MEng.Sc. Direktorat Bina Teknik Rikal Andani, S.T. Direktorat Bina Teknik Hendra Widharta, S.T. Direktorat Bina Teknik Johannes T. Panjaitan, S.T. Direktorat Bina Teknik Tr. Primawan Avicenna, M.ConstMat. Badan Pengatur Jalan Tol A Ruvai, 5.7. Badan Pengatur Jalan Tol Ratu Intan F.D., S.T- Badan Pengatur Jalan Tol Galuh Permana, S.T. Badan Pengatur Jalan Tol Panji Krsna Wardana, S.T. Puslitoang Jalan dan Jembatan 126 dari 127 Bibliografi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Pedoman-Pedoman dan Tata Cara yang berkaitan dengan teknis jalan dan jembatan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga maupun Departemen Pekerjaan Umum. Nomor/Kode Judul ‘SNI03-2442-1991 Spesifikasi Kurb Beton Untuk Jalan SNI-03-2443-1991 Spesifikasi Trotoar SNI-03-2444-1991 | Spesifikasi Bukaan Pemisah Jalur ‘SNI03-2446-1991 ‘Spesifikasi Bangunan Pengaman Tepi Jalan ‘SNI03-1732-1989 ‘Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya Dengan AMK_ H ‘SNI-03-1737-1989 ‘Tata Cara Pelaksanaan Lapis Beton Aspal (LASTON) Untuk’ Jalan Raya SNI-03-2853-1995 Tata Cara Pelaksanaan Lapis Pondasi Jalan Dengan Batu Pecah 002777811995 Manual Pemeliharaan Rutin Untuk Jalan Nasional dan Jalan Propinsi, Jilid I: Metode Perbaikan Standar (00e/T/BU1995 Tata Cara Pemeliharaan Lansekap Jalan ‘O05/T/BNKT/1992 Tata Cara Pelapisan Ulang Dengan Campuran Aspal Emulsi OO6/TIBNKT/1990 Petunjuk Pelaksanaan Pelapisan Ulang Jalan Pada Daerah Kereb Perkerasan dan Sambungan O16/T/BMI1999 Pedoman Pemeliharaan Perlengkapan Jalan 023/T/BM/1999 Pedoman Pelaksanaan Campuran Beraspal Dingin Untuk Pemelinaraan O26/T/BM/1S99 Pedoman Perencanaan Bubur Aspal Emulsi (slurry seal) Pd T-01-2004-8 Penanggulangan korosi tiang pancang pipa baja jembatan dengan proteksi katodik anoda korban Pd T-02-2004-8 Perkuatan struktur atas jembatan pelat berongga dengan metoda partegang ekstemal Pd T-03-2004-B Perkuafan rangka baja Asutralia dengan metode prategang eksternal Pd T-06-2005-B, Pelaksanaan bantalan karet pada jembatan Pd T-13-2005-B Pelaksanaan siar muai jenis asphaltic plug untuk jembatan UPR 02.1 Pemelinaraan Rutin Perkerasan Jalan UPR 02.2 Pemelinaraan Rutin Bahu dan Trotoar UPR 02.3 Pemeliharaan Rutin Drainase zl UPR 02.5 Pemeliharaan Rutin Perlengkapan Jalan UPR 02.6 Pemeliharaan Rutin Taman Jalan ne UPR 02.7 Pemeliharaan Rutin DAMIJA & DAWASJA UPR 03.1 Pemeliharaan Rutin Bangunan Atas Jembatan UPR 03.2 Pemeliharaan Rutin Bangunan Bawah Jembatan UPR 03.5 Pemeliharaan Rutin Bangunan Pelengkap Jembatan UPR 03.4 Pemeliharaan Rutin Perawatan Aliran Sungai ‘AASHTO, 1993 ‘AASHTO Guide for Design of Pavement Structures 1993 ‘ASTM D 1850 ‘Spesification of rubber-asphalt (cold-applied, and cold aplied mastic) for joint and crack sealer in concrete pavements ‘ASTM D 1790 Spesification of rubber-asphalt (hot-applied) for joint and crack sealer in concrete pavements 126 dati 127 Nomor/Kode Judut Asphalt Institute MS-13 Asphalt Surface Treatments and Asphalt Penetration Macadam Asphalt Institute MS-16 ‘Asphalt in Pavement Maintenance. Asphalt Institute MS-17 Asphalt Overlays and Pavement Rehabilitation Asphalt Institute SS-6 Specifications for Undersealing Portland Cement Concrete Pavements with AsphaltRoad Maintenance Practice NAASRA, 1975 Road Maintenance practice TRL, 1994 International Road Maintenance Handbook: Volume 7 — Maintenance of Roadside Areas and Drainage TRL, 1994 Intemational Road Maintenance Handbook’ Volume iT — Maintenance of Paved Roads TRL, 1994 International Road Maintenance Handbook: Volume IV — ‘Maintenance of Structures and TrafficControl Devices OiS/T/BMI1999 Manual Pengaturan Lalulintas Selama Pekerjaan Pemelinaraan Jalan SNI03-2416-1997 ‘Tata Cara Pelaksanaan Survei Kondisi Jalan Beraspal ‘SNI 03-3426-1994 Tata Cara Survei Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan Dengan Alat Ukur Kerataan NAASRA ‘SNI03-4427-1997 Metode Pengujian Kekesatan Permukaan Perkerasan Jalan dengan Alat Pendulum ‘SNI 03-6748-1997 Metode Pengujian Kekesatan Permukaan Jalan dengan Mu- meter ‘SNI03-6748-1997 Metode Uji Tingkat Kebisingan Jalan L10 dan Leg ‘SNI 03-2416-1991 Metode Pengujian Lendutan Perkerasan Lentur Dengan Alat Benkelman Beam 001777811995 Manual Pemeliharaan Rutin Untuk Jalan Nasional dan Jalan Propinsi,Jild |: Metode Survei Pt T-06-2002-B Penilaian kondisi jembatan untuk bangunan atas dengan cara ‘uji getar PtT-06-2002-8 Penilaian kondisi jembatan untuk bangunan bawah dengan cara uji getar PT, Jasa Marga, 1999 Pedoman Inspeksi Pemeliharaan Perkerasan Lentur TRRL, 1988 ‘Overseas Road Note 7 Volume 2: Bridge Inspector's Handbook PT. Jasa Marga, 1998 Jumal Pemeliharaan, Edisi Tahun 1998, Devisi Pelayanan Lalu Lintas dan Pemeliharaan PT. Jasa Marga, 1999 Jumal Pemeliharaan, Edisi Tahun 1999, Devisi Pelayanan Lalu Lintas dan Pemeliharaan PT. Jasa Marga, 2000 Jumal Pemeliharaan, Edisi Tahun 2000, Devisi Pelayanan Lalu Lintas dan Pemeliharaan 127 dari 127