Anda di halaman 1dari 4

Dari

kasus di atas, mahasiswa diminta untuk mendiskusikan materi tersebut.


Untuk memulai diskusi saya berikan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1. Dari kasus di atas, apakah Restoran D’Cost sudah melakukan evaluasi strategi?
Berikan critical review anda berdasarkan sumber referensi baik yang
mendukung (PRO) maupun yang tidak mendukung komentar anda (KONTRA).

2. Apakah Restoran D’Cost bisa dikatakan telah menerapkan konsep “Misfit”


(Hamel and Prahalad)?

3. Apakah Restoran D’Cost bisa dikategorikan sebagai perusahaan yang


mengedepankan prinsip spiritualitas? Berikan alasan berdasarkan sumber
referensi

Laviena Octora

530015984

1. Evaluasi strategi pemasaran yang dikutip dari https://www.stoqo.com/


ada 7 evaluasi strategi pemasaran namun disini akan dibahas 5 dan akan
dianalisis dengan strategi restoran D’cost yakni sebagai berikut ;

a. Evaluasi Return on Investment (ROI)

Salah satu hal yang perlu diperhatikan saat mengevaluasi


strategi marketing adalah Return on Investment (ROI). Tujuannya untuk
melihat apakah uang yang sudah diinvestasikan atau dikeluarkan untuk
melaksanakan strategi marketing tersebut benar-benar menghasilkan
keuntungan bagi bisnis atau tidak. Apabila dianalisis dari Restoran D’Cost
maka perusahaan yang memiliki falsafah bisnis yakni: “Hanya konsentrasi pada
apa yang dapat Anda berikan, jangan kawatir atas apa yang akan
Anda dapatkan“. Intinya, D’Cost harus memberi, memberi, Dan memberi.
Semakin banyak memberi, maka ujung-ujungya akan semakin banyak
mendapatkan. The more you give, the more you get!!! Dengan falsafah bisnis
yang seperti ini maka timbul kepercayaan bahwa keuntungan bisnis sejatinya
pasti didapat entah pada waktu kapanpun itu.

b. Bandingkan dengan strategi marketing kompetitor

Cobalah juga untuk sedikit melihat strategi marketing yang


dijalankan oleh kompetitor, lalu bandingkan dengan strategi bisnis yang
sedang dijalankan. Jika ternyata ada beberapa strategi yang mirip, lihat dan
bandingkan apa saja yang membedakan, misalnya kualitas, konten,
frekuensi kemunculan, hingga bagaimana respon yang didapat dari
masyarakat. Restoran D’cost memiliki model bisnis yaitu: menjadikan
makanan-makanan yang dulunya tidak terjangkau oleh kantong rakyat kecil, kini
menjadi terjangkau. “Mimpi saya adalah menjadikan rakyat kecil bisa makan
masakan hotel berbintang tapi dengan harga yang terjangkau oleh kantong
mereka,” papar Pak David mengenai falsafah di balik tagline “Mutu Bintang Lima,
Harga Kaki Lima.” Melihat hal tersebut sebenarnya sudah dapat disimpulkan
bahwa D’cost memiliki strategi marketing yang tidak biasa dari restoran lainnya
dan tentunya strategi bisnis ini ampuh untuk masyarakat ekonomi kelas
menengah dan bawah.

c. Kelengkapan strategi dan rencana marketing

Saat mengevaluasi strategi marketing yang sudah ada, jangan lupa


untuk memastikan bahwa segala aspek yang dibutuhkan sudah lengkap.
Bisa juga mencari referensi tentang apa saja yang diperlukan saat
menyusun strategi atau perencanaan marketing untuk memastikan
kelengkapannya lewat buku, jurnal, e-book, dan masih banyak lagi. Dalam
menyusun strategi marketing tentunya perusahaan haru memiliki
kelengkapan strategi dan rencana marketing. Hal tersebut tentunya sudah
menjadi pertimbangan restoran sekelas D’cost untuk merancang strategi
marketing sebaik mungkin hal tersebut telah tertuang pada argumentasi
Pak David selaku pemilik restoran D’cost yang menyebut dirinya sebagai
“pengusaha bodoh“. Dia bilang bahwa, kini pasar dipenuhi oleh “konsumen
pintar” Dan “pengusaha pintar“. Ciri konsumen pintar adalah IA minta mutu
tinggi tapi dengan harga semurah mungkin. Sementara ciri pengusaha
pintar adalah IA memberikan mutu tinggi tapi dengan harga berlipat-lipat
lebih tinggi. “Kalau konsumen Dan pengusaha sama-sama pintar, maka ini
nggak akan ketemu-ketemu,” jelas Pak David. Karena itu, Pak David
memosisikan diri sebagai “pengusaha bodoh“. Apa cirinya pengusaha
bodoh? Yaitu ketika dia memberikan mutu setinggi mungkin, tapi
memasang harga semurah mungkin (yup, ini namanya “ngajak bangkrut”
hehehe). “Saya bisa pastikan, konsumen pintar lebih suka pada pengusaha
bodoh dibanding pengusaha pintar. Itu sebabnya saya memilih menjadi
pengusaha bodoh,” seloroh Pak David berargumen.

d. Respon konsumen

Marketing ditujukan untuk menjangkau dan menarik lebih banyak


konsumen untuk datang dan membeli produk di suatu bisnis. Maka dari itu
ketika mengevaluasi strategi marketing, pelajari jugalah bagaimana respon
konsumen terhadap setiap iklan atau cara pemasaran yang sudah dilakukan
oleh bisnis. Seperti halnya restoran D’cost dengan strategi bisnisnya dimana
program “Hamil Baru Bayar“. Program ini memberikan kesempatan para
pasangan untuk merayakan pernikahan di D’Cost gratis untuk 300 kursi plus
dekorasi pelaminan. Bayarnya kapan? Bayarnya setelah si istri hamil. Begini
bunyi iklannya: “Pesta Pernikahan Sekarang Hamil Baru Bayar.. (Tidak Hamil,
Gratis)“. Ada juga program “Uang dan Doa” dimana konsumen membayar
makanan di D’Cost dengan “Separo Uang, Separo Doa“. Syaratnya, si konsumen
wajib mendoakan orang lain dalam secarik kertas, doa inilah yang dipakai untuk
membayar separo harga makanan yang dipesan. Selain itu program lainnya
adalah “Konsumen usia 104 tahun makan di D’Cost nggak bayar malah dapat
duit, Atau, “Dari program-progran yang unik itu kita mendapatkan simpati dari
konsumen dan ini bisa memicu promosi dari mulut ke mulut yang nilai
rupiahnya bisa miliaran,” ujar pak David sehingga dapat dipastikan dengan
strategi bisnis tersebut respon positif konsumen menjadi keuntungan bagi
perusahaan.

e. Apakah sudah siap memperluas pemasaran?

Jika setiap strategi marketing dinilai sudah berhasil dan secara


realistis bisa meningkatkan penjualan, maka tak ada salahnya
mempertimbangkan dan mendiskusikan kemungkinan memperluas
pemasaran. Misalnya dengan menambah variasi iklan, atau mulai
memasang iklan di kota yang berdekatan, hingga
menambah budget untuk marketing. Saat ini Pak David selaku pemilik
restoran D’cost sudah mempeluas pemasarannya dengan mempersiapkan
gerai bakery-nya dengan merek D Stupid Baker. Yang menarik adalah tagline-
nya yang berbunyi: “5 Star Quality, Stupid Price“. Yang lebih menarik adalah
nama perusahaan yang menaungi D’Stupid Baker, yaitu PT Bocuan Gapapa. Mau
tahu apa maksudnya? Bocuan Gapapa maksudnya “nggak profit nggak papa”
yang penting memberi..

2. Bertolak belakang dengan paradigma fit, Hamel dan Prahalad (1993)
menyatakan bahwa organisasi tidak akan memenangkan persaingan bisnis jika
paradigma strategic fit tetap digunakan. Perusahaan harus melakukan “breaking
managerial frame” dan mengubah paradigma fit menjadi “stretch dan leverage”.
Perusahaan harus mampu memaksimalkan kapasitas internal dan sumberdaya
untuk memenangkan persaingan. Paradigma dan "mindset ortodoks" harus
diubah menjadi "strategic thinking". Kata kunci yang merupakan cara mendasar
untuk mengubah paradigma tersebut adalah: konsentrasi sumberdaya financial
dan non-financial secara efektif pada tujuan strategic kunci, kombinasi antar
sumberdaya, menggunakan sumberdaya seminimal mungkin untuk mencapai
tujuan dan memperbaiki dan memperbaharui sumberdaya dalam jangka pendek.
Pada hakikatnya paradigma misfit beranggapan bahwa organisasi harus
menggunakan seluruh kemampuan sumberdayanya untuk dapat beradaptasi
dengan lingkungan. Hal ini tentunya sudah sejalan dengan strategi bisnis D’cost
dimana mutu bintang lima harga kaki lima, yang dimana saat ini di Indonesia
sendiri sudah menjamur restoran bintang lima dan juga restoran kaki lima
namun yang terjadi adalah restoran bintang lima umumnya menawarkan harga
yang cukup tinggi dan hanya mampu dicapai oleh masyarakat menengah keatas
dan restoran kaki lima umumnya memiliki kualitas rendah dari segi fasilitas
maka dari itu disini dengan konsep misfit yang diterapkan D’cost organisasi
mengadaptasi struktur lewat menggeser keadaan yang tidak cocok (misfit) harga
yang mahal dan fasilitas yang tidak berkualitas dengan akibat adanya
performansi rendah kepada keadaan cocok (fit), dimana ada keteraturan untuk
mencapai efektifitas dan performansi organisasi yakni harga yang terjangkau
tapi tetap kualitas terjamin.

3. Saat ini, telah berkembang konsep kepemimpinan spiritual yang
merupakan konsep kepemimpinan universal yang adaptif untuk menjawab
tantangan zaman pada era abad ke-21 yang syarat dengan perubahan, yang tidak
terjawab oleh kepemimpinan organisasi saat ini (Sureskiarti, 2015). Menurut
Tobroni (2005), konsep kepemimpinan spiritual ini diyakini sebagai solusi
terhadap krisis kepemimpinan saat ini, akibat semakin merosotnya nilai-nilai
kemanusiaan sebagai dampak dari adanya ethical malaise dan ethical crisis.
Menurut Milliman, Czaplewski, dan Ferguson (2003) spiritualitas di tempat kerja
mencakup level personal (pekerjaan yang bermakna/meaningful work), level
komunitas (perasaan terhubung dengan komunitas/sense of community), dan
level organisasi (penegakkan serta pemelihara-an nilai personal dan
kesesuaiannya de-ngan nilai organisasi/alignment of values). Disini apa yang
diupayakan oleh Pak David selaku leader dan owner dari restoran D’cost yang
memiliki falsafah bisnis the ‘more you give, the more you get’ dan dari usaha
bisnis restorannya Kalau bisnis D’Cost sukses, maka makin banyak karyawan
yang ditampung, semakin banyak berkah diberikan kepada karyawan. Karena itu
Pak David punya spirit bahwa D’Cost harus menjadi “distributor rezeki” bagi
bagi para karyawan Dan siapapun yang berbisnis dengan D’Cost. Dengan falsafah
bisnis tersebut tentunya Pak David telah menerapkan spiritualitas di tempat
kerja pada level organisasi.


Referensi :

Evaluasi Strategi Marketing, Ini 7 Hal Penting yang Tak Boleh Dilewatkan diakses
melalui https://www.stoqo.com/blog/3793/evaluasi-strategi-marketing-ini-7-
hal-penting-yang-tak-boleh-dilewatkan/

Prahalad, C.K. and Hamel, G. (1993) Stretch and Leverage. Harvard Business
Review, 71, 75-84.

Rahmawaty, Anita. Model Kepemimpinan Spiritual Dalam Meningkatkan
Kepuasan Kerja Dan Kinerja Karyawan di BMT se-Kabupaten Pati. IQTISHADIA
Vol. 9, No. 2, 2016, 276-303 P-ISSN: 1979-0724, E-ISSN: 2502-3993 DOI:
http://dx.doi.org/10.21043/iqtishadia.v9i2

Yogatama, Leo Agung Manggala, Nilam Widyarin. Kajian Spiritualitas di


Tempat Kerja pada Konteks Organisasi Bisnis. JURNAL PSIKOLOGI VOLUME
42, NO. 1, APRIL 2015: 1 – 14.