Anda di halaman 1dari 31

KOMPARASI STRUKTUR KURIKULUM DI INDONESIA

DAN NEGARA MAJU


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penelaahan Kebijakan Pendidikan
dan Kurikulum Sekolah Dasar di Berbagai Negara
Dosen Pengampu: Dr. Triyanto, S.H., M.Hum.

Disusun oleh:

1. Bernadeta Tri H (S031808007)


2. Dewi Astuti (S031808012)
3. Isnaeni Aprilia K (S031808019)
4. Muna Fauziah (S031808024)

PROGRAM S2 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL ........................................................................................................ i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belalakang Masalah .................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 3
C. Tujuan ............................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN
A. Kurikulum Indonesia ……………....................................................
B. Kurikulum Jepang ………………….................................................
C. Kurikulum Singapura ……………………………….......................
D. Kurikulum Inggris ………………………………………………....
E. Kurikulum Amerika ………………………….................................
F. Kurikulum Jerman …………………………………………............
G. Kurikulum Australia ………………………………….....................

BAB III KESIMPULAN


A. Kesimpulan ......................................................................................
B. Saran .................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................
Kata Pengantar

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT pemilik alam semesta
yang telah memberikan kekuatan dan kesehatan kepada penulis sehingga makalah
ini telah selesai dapat di tuangkan dalam bentuk karya tulis, karena berkat limpahan
rahmat NYA sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Komparasi
Struktur Kurikulum di Indonesia dan Negara Maju”.
Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Penelaahan Kebiajakan
Pendidikan dan Kurikulum Sekolah Dasar di Berbagai Negara dan juga bisa
dijadikan sebagai bahan materi kuliah. Makalah ini menguraikan implementasi
pendidikan kurikulum di Indonesia, Jepang, Singapura, Inggris, Amerika, Jerman,
dan Australia.
Makalah ini tidak akan terwujud sebagai mana mestinya jika tidak ada bantuan
dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung
untuk itu perkenankanlah penulis dengan hati yang tulus untuk menyampaikan rasa
hormat dan ucapan terima kasih sebesar – besarnya kepada rekan – rekan yang telah
membantu selesainya makalah ini.

Surakarta, November 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah salah satu komponen kehidupan yang paling urgen.


Semenjak manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah
manusia telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam
segala kehidupan mereka. Bahkan, pendidikan adalah suatu yang dialami dalam
perkembangan peradaban manusia. Secara paralel proses pendidikan pun
mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun
target yang akan dicapai. Hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari
pendidikan, yaitu selalu bersifat maju. Sebuah pendidikan tidak mengalami serta
tidak menyebabkan suatu kemajuan atau menimbulkan kemunduran maka tidaklah
dinamakan pendidikan. Pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang
mencakup target, metode, dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang
mampu berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungannya, baik internal maupun
eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik. Peningkatan mutu
pendidikan Indonesia, pemerintah terus berupaya melakukan berbagai reformasi
dalam bidang pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan
diperlukan sebuah kurikulum.
Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu (Sukmadinata, 2008). Kurikulum memiliki empat komponen,
yaitu komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi pencapaian tujuan dan
komponen evaluasi. Penulis mencoba mengkaji dan menguraikan perbandingan
kurikulum terhadap beberapa Negara khususnya Indonesia, Jerman, Inggris,
Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Singapura.
Dalam dimensi manajemen kurikulum, diperlukan koherensi antara
kurikulum dan dengan pembelajaran yang dilakukan di lembaga pendidikan, yaitu
(1) kurikulum berpijak pada purposes or goal of the curriculum (tujuan kurikulum
yang ingin dicapai); (2) kurikulum yang berpijak pada titik pandang berdasarkan
konteks kurikulum yang digunakam; (3) kurikulum berpijak pada titik pandang
strategis tentang pengembangan kurikulum yang dipilih. Pengembangan juga tak
dapat dipisahkan dengan proses, strategi pembelajaran yang dipilih, teknik
pembelajaran yang digunakan. Begitulah sisi lain dari pandangan kurikulum
sebagai proses (curriculum as a process) (Wahyudin, 2016).
Sistem manajemen kurikulum dari ke tujuh negara ini terdapat kemiripan
yaitu gabungan antara sentralistik dan desentralisasi. Kondisi ini sebenarnya sedikit
berbeda dengan sistim pendidikan di Indonesia yang mana masalah sepenuhnya
bersifat sentralistik tanpa memberi kewenangan kepada daerah untuk
mengembangkan proses pendidikan walaupun saat ini Indonesia sudah masuk
dalam era desentralisasi tapi proses pengolahan pendidikan khususnya aspek
anggaran daerah masih belum menaruh perhatian penuh terhadap pendidikan.
Penulis tertarik untuk mengkaji ke tujuh negara ini d karenakan negara ini memiliki
karakteristik yang berbeda-beda baik dalam hal sektor industri, ekonomi maupun
pendidikan itu sendiri.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah dalam makalah
ini:
1. Bagaimana implementasi kurikulum di Indonesia?
2. Bagaimana implementasi kurikulum di Jepang?
3. Bagaimana implementasi kurikulum di Singapura?
4. Bagaimana implementasi kurikulum di Inggris?
5. Bagaimana implementasi kurikulum di Amerika?
6. Bagaimana implementasi kurikulum di Jerman?
7. Bagaimana implementasi kurikulum di Australia?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini:
1. Untuk mengetahui implementasi kurikulum di Indonesia.
2. Untuk mengetahui implementasi kurikulum di Jepang.
3. Untuk mengetahui implementasi kurikulum Singapura.
4. Untuk mengetahui implementasi kurikulum di Inggris.
5. Untuk mengetahui implementasi kurikulum di Amerika.
6. Untuk mengetahui implementasi kurikulum di Jerman.
7. Untuk mengetahui implementasi kurikulum di Australia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kurikulum Indonesia
Indonesia telah mengalami perubahan kurikulum dari tahun ke tahun.
Kurikulum di Indonesia diawali dengan kurikulum rencana pelajaran (1946-
1968), kurikulum berorientasi pada pencapaian tujuan (1975-1984), kurikulum
1994, kurikulum berbasis kompetensi (tahun 2004), kurikulum tingkat satuan
pendidikan (tahun 2006) dan yang digunakan saat ini yaitu kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik (permendikbud no 67 tahun
2013):
1. Keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin
tahu, kreativitas, kerja sama dengan sikap pengetahuan intelektual dan
psikomotorik.
2. Pengalaman belajar yang terencana di sekolah sehingga siswa mampu
menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan
memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.
3. Mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan serta
menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan di masyarakat.
4. Pengembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan dengan waktu yang
cukup leluasa.
5. Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci
lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran.
6. Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi kompetensi dasar,
dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan
untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.
7. Pengembangan kompetensi dasar didasarkan pada prinsip akumulatif,
saling memperkuat dan memperkaya antarmata pelajaran dan jenjang
pendidikan (organisasi horizontal dan vertical).
Kompetensi lulusan mencakup tiga dimensi yakni sikap, pengetahuan dan
keterampilan. Profil lulusan sekolah dasar dalam kurikulum 2013 tersaji dalam
tabel berikut (Permendikbud Th. 2016 No. 20):
Dimensi Kualifikasi kemampuan
Sikap Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap:
1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME,
2. berkarakter, jujur, dan peduli,
3. bertanggungjawab,
4. pembelajar sejati sepanjang hayat, dan
5. sehat jasmani dan rohani
sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan
keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam
sekitar, bangsa, dan negara.
Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural,
dan metakognitif pada tingkat dasar berkenaan dengan:
1. ilmu pengetahuan,
2. teknologi,
3. seni, dan
4. budaya.
Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks
diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan
lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.
Keterampilan Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak:
1. kreatif,
2. produktif,
3. kritis,
4. mandiri,
5. kolaboratif, dan
6. komunikatif
melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan tahap
perkembangan anak yang relevan dengan tugas yang
diberikan
Kurikulum 2013 memuat empat kompetensi inti. Kompetensi inti-1
merupakan kompetensi sikap spiritual, kompetensi inti-2 merupakan kompetensi
sikap sosial, kompetensi inti-3 merupakan kompetensi pengetahuan, dan
kompetensi inti-4 merupakan kompetensi keterampilan. Kompetensi sikap
dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu
keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan
karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang
proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan
guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.
Uraian kompetensi inti untuk siswa sekolah dasar tersaji dalam tabel berikut
(Permen 37 Tahun 2018):
Kelas I
Kompetensi Deskripsi
Sikap spiritual Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
Sikap sosial Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, dan guru
Pengetahuan Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati
(mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan
rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan
di sekolah
Keterampilan Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan
logis
dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan
anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku
anak beriman dan berakhlak mulia
Kelas II
Kompetensi Deskripsi
Sikap spiritual Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
Sikap sosial Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, dan guru
Pengetahuan Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati
(mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan
rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan
di sekolah
Keterampilan Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan
logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

Kelas III
Kompetensi Deskripsi
Sikap spiritual Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
Sikap sosial Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, guru, dan tetangganya
Pengetahuan Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati
(mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan
rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan
di sekolah
Keterampilan Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas,
sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan
yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

Kelas IV
Kompetensi Deskripsi
Sikap spiritual Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang
dianutnya
Sikap sosial Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, guru, dan tetangganya
Pengetahuan Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan
menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk
ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, di sekolah
dan di tempat bermain
Keterampilan Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas,
sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan
yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

Kelas V
Kompetensi Deskripsi
Sikap spiritual Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang
dianutnya
Sikap sosial Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air
Pengetahuan Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara
mengamati, menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin
tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya,
dan bendabenda yang dijumpainya di rumah,
di sekolah dan tempat bermain
Keterampilan Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa
yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang
estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

Kelas VI
Kompetensi Deskripsi
Sikap spiritual Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang
dianutnya
Sikap sosial Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air
Pengetahuan Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara
mengamati, menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin
tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya,
dan benda-benda yang dijumpainya di
rumah, di sekolah dan di tempat bermain
Keterampilan Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa
yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang
estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

Struktur kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, beban belajar dan
kalender pendidikan. Mata pelajaran terdiri atas mata pelajaran wajib yang diikuti
oleh seluruh peserta didik di satu satuan pendidikan dan mata pelajaran pilihan yang
diikuti oleh peserta didik sesuai dengan pilihan mereka. Mata pelajaran pilihan
diterapkan pada SMA/SMK sedangkan untuk SD dan SMP belum terdapat mata
pelajaran pilihan mengingat usia dan perkembangan psikologi.
Berikut merupakan alokasi waktu pembelajaran Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah (Permendikbud 57 tahun 2014)
No Mata Pelajaran Alokasi waktu perminggu
I II III IV V VI
Kelompok A
1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 4 4 4 4 4 4
2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran 5 5 6 5 5 5
3. Bahasa Indonesia 8 9 10 7 7 7
4. Matematika 5 6 6 6 6 6
5. Ilmu Pengetahuan Alam - - - 3 3 3
6. Ilmu Pengetahuan Sosial - - - 3 3 3
Kelompok B
1. Seni Budaya dan Prakarya 4 4 4 4 4 4
2. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 4 4 4 4 4 4
Jumlah jam pelajaran per minggu 30 32 34 36 36 36

B. Kurikulum Jepang
Kurikulum sekolah ditentukan oleh menteri pendidikan yang kemudian
dikembangkan oleh dewan pendidikan distrik dan kota praja. Kurikulum awal
tahun 1980 memuat mata pelajaran untuk SD terdiri dari bahasa Jepang sebagai
pengantar, ilmu sosial, berhitung, ilmu pengetahuan umum, musik/seni dan
kerajinan, pendidikan jasmani dan kerumah tanggaan (grade 4 dan 6),
disamping itu pendidikan moral wajib belajar 9 tahun, khusus perbaikan
kurikulum dilakukan setiap 10 tahun sekali.
Wajib belajar di jepang dilaksanakan dengan memberikan akses kepada
setiap anak untuk mengenyam pendidikan dalam waktu 9 tahun (SD-SMP).
Hal tersebut dilaksanakan dengan menggratiskan biaya pendidikan dan
mewajibkan orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Di setiap distrik di
jepang terdapat SD dan SMP yang memiliki mutu yang sama. Selama wajib
belajar, orang tua wajib menyekolahkan anak mereka di distrik masing-masing.
Barulah setelah SMA, siswa diperbolehkan untuk bersekolah di distrik yang
lain.
Pendidikan dasar di jepang tidak mengenal ujian kenaikan kelas. Siswa yang
telah menyelesaikan proses belajar di suatu kelas secara otomatis akan naik ke
kelas selanjutnya. Pendidikan di jepang juga tidak mengenal ujian akhir karena
SD dan SMP masih termasuk dalam kelompok wajib belajar. Siswa yang telah
menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat secara langsung mendaftar ke
SMP.

C. Kurikulum Singapura

D. Kurikulum Inggris

E. Kurikulum Amerika
Meskipun tidak ada kurikulum nasional di AS, State (Negara Bagian)
bersama sekolah dan asosiasi sekolah maupun asosiasi keahlian
merekomendasikan standar tertentu untuk memandu kurikulum yang digunakan
di sekolah. Oleh karena itu, setiap State memiliki standar dan kurikulum yang
berbeda-beda (Common Core State Standard). Standarisasi kurikulum menjadi
perdebatan di AS. Kalaupun perlu, sampai seberapa jauh standarisasi harus
dilakukan. Pemerintah AS memberlakukan standar kualifikasi tertentu bagi
sekolah yang ingin mendapatkan dana Federal melalui program Undang-Undang
No Child Left Behind (Winarso, 2014).
Secara khusus tujuan pendidikan pada semua level termasuk level sekolah
dasar di Amerika Serikat secara singkat dirumuskan sebagai berikut: 1) Setiap
siswa harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan komputasi
(perhitungan); 2) Setiap siswa harus dapat menerapkan metode penelitian
(inquiry) dan pengetahuan yang telah dipelajari, serta dapat menggunakan
metode dan pengetahuan tersebut dalam aplikasi interdisipliner; 3) Setiap siswa
harus memiliki pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi mengenai seni artistik,
kebudayaan, prestasi intelektual, serta mengembangkan kemampuan dalam
mengekspresikan bakat pribadi; 4) Setiap siswa harus memiliki dan dapat
menerapkan pengetahuan mengenai politik, ekonomi dan institusi sosial di
dalam negeri maupun luar negeri; 5) Setiap siswa harus mematuhi dan
mempraktikkan nilai-nilai dasar kewarganegaraan dan memiliki serta dapat
menggunakan keterampilan, pengetahuan, pemahaman dan sikap yang
diperlukan guna keikutsertaannya dalam kehidupan negara yang demokratis; 6)
Setiap siswa harus mampu mengembangkan kemampuan untuk memahami,
menghargai dan bekerja sama dengan orang yang berbeda dalam hal ras, jenis
kelamin, kemampuan, budaya, suku bangsa, agama, dan latar belakang politik,
ekonomi, sosial, serta memahami dan menghargai nilai-nilai, keyakinan, dan
sikap yang dianut mereka; 7) Setiap siswa harus memiliki pengetahuan
mengenai konsekuensi ekologis dalam menggunakan sumber-sumber alam dan
lingkungan; 8) Setiap siswa harus dipersiapkan memasuki pendidikan menengah
(secondary education); 9) Setiap siswa dapat mengembangkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap positif, dan fungsi-fungsi dalam masyarakat demokratis;
dan 10) Setiap siswa harus mampu mengembangkan komitmen belajar seumur
hidup dan bersikap membangun. Tidak ada konsensus mengenai alokasi waktu
untuk tiap mata pelajaran, semuanya diserahkan kepada sekolah berdasarkan
pertimbangan asosiasi profesi, guru, akademisi dan lain sebagainya. Mata
pelajaran pada umumnya yang harus diajarkan pada pendidikan dasar, yakni:
Matematika, Membaca (Reading), Mengeja (Spelling), Menulis, Bahasa Inggris,
Geografi, Sejarah Amerika, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kesehatan, Musik, Seni
Rupa, dan Pendidikan Olah Raga. Berikut diberikan contoh standar kurikulum
Matematika negara bagian (Common Core State Standart for Mathematics).

Tabel 2.2 Standar Kurikulum Matematika Negara Bagian


Pokok
Kelas Capaian Pembelajaran
Bahasan
Operasi dan 1. Representasi dan memecahkan masalah menggunakan
berfikir operasi sederhana (penjumlahan dan pengurangan)
1
aljabar 2. Memahami dan menerapkan sifat operasi serta
hubungan antara penjumlahan dan pengurangan
3. Mahir dalam melakukan penjumlahan dan
pengurangan maksimal 20
1. Representasi dan memecahkan masalah menggunakan
operasi sederhana (penjumlahan dan pengurangan)
2. Mahir dalam melakukan penjumlahan dan
2 pengurangan maksimal 20
3. Menyelesaikan operasi penjumlahan dan perkalian
dengan objek yang sama sebagai fondasi operasi
perkalian
1. Representasi dan memecahkan masalah menggunakan
perkalian dan pembagian
2. Memahami sifat perkalian dan hubungannya antara
perkalian dan pembagian
3
3. Memecahkan masalah melibatkan operasi
penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian
serta mengidentifikasi dan menjelaskan pola
aritmetika
1. Menggunakan operasi hitung (penjumlahan,
pengurangan, perkalian dan pembagian) untuk
4 memecahkan masalah pada bilangan bulat
2. Memahami faktor dan kelipatan bilangan
3. Generalisasi dan menganalisis pola bilangan
1. Menulis dan menafsirkan ekspresi numeric
5
2. Menganalisis pola dan hubungan
Memahami konsep rasio dan menggunakan penalaran-
6
ratio untuk memecahkan masalah
Bilangan 1. Memperluas urutan menghitung
1 2. Memahami nilai tempat suatu bilangan dan sifat-
sifatnya
1. Memahami nilai tempat
2 2. Menggunakan nilai tempat untuk melakukan operasi
penjumlahan dan pengurangan
1. Memahami nilai dan tempat dan sifat operasi untuk
melakukan multi digit aritmetika
3
2. Mengembangkan pemahaman bahwa pecahan sebagai
bilangan
Pokok
Kelas Capaian Pembelajaran
Bahasan
1. Generalisasi pemahaman nilai tempat untuk
mengidentifikasi multi digit bilangan bulat
2. Penggunaan nilai tempat dan memahami sifat serta
4
operasi aritmetika
3. Memperluas pemahaman kesamaan pecahan dan
urutan pecahan
4. Membuat pecahan dari unit pecahan dengan
menerapkan pemahaman operasi bilangan bulat
sebelumnya
5. Memahami notasi desimal untuk pecahan dan
membandingkannya
1. Menggunakan kesetaraan pecahan sebagai strategi
untuk operasi penjumlahan dan pengurangan pada
5
pecahan
2. Melalukan operasi perkalian dan pembagian pecahan
1. Menerapkan dan memperluas pemahaman
sebelumnya tentang perkalian dan pembagian pecahan
6 oleh pecahan
2. Kelancaran prosedur dalam menemukan faktor dan
kelipatan dan memahami sistem bilangan rasional
1. Mengukur secara tidak langsung panjang melalui
literasi unit
1
2. Memberitahu dan menulis waktu
3. Representasi dan menafsirkan data
1. Mengukur dan mengestimasi besaran panjang
2. Melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan
2 panjang suatu objek
3. Menyelesaikan masalah terkait waktu dan uang
4. Representasi dan menafsirkan data
1. Memecahkan masalah yang melibatkan pengukuran
dan estimasi terkait interval waktu, volume dan berat
3 2. Representasi dan menafsirkan data
3. Pengukuran geometris (memahami konsep daerah
untuk dari identifikasi bidang dan garis)
Data dan
1. Memecahkan masalah yang melibatkan pengukuran
Pengukuran
dan menkonversi pengukuran dari unit yang lebih
besar menjadi unit terkecil
4
2. Representasi dan menafsirkan data
3. Pengukuran geometris: memahami konsep sudut dan
mengukur sudut
1. Mengkonversi unit pengukuran dalam jarak tertentu
2. Representasi dan menafsirkan data
5 3. Pengukuran geometris: memahami konsep volume
dan melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan
volume
1. Mengembangkan pemahaman variabilitas statistic
2. Meringkas dan menjelaskan distribusi
6

Pokok
Kelas Capaian Pembelajaran
Bahasan
1 Memberikan alasan mengenai bentuk geometri
2 Memberikan alasan mengenai bentuk geometri
3 Memberikan alasan mengenai bentuk geometri
Menggambarkan dan mengidentifikasi garis dan sudut dan
4
Geometri mengklasifikasikan bentuk sudut
Grafik titik-titik ada koordinat bidang untuk
5
menyelesaikan masalah dunia nyata dan matematika
Menyelesaikan masalah dunia nyata dan matematika
6
melibatkan daerah, luas permukaan dan volume
1. Menerapkan dan memperluas pemahaman
Ekspresi dan sebelumnya terkait aritmetika untuk ekspresi aljabar
6
Persamaan 2. Memberikan penjelasan dan memecahkan masalah
satu persamaan dan pertidaksamaan satu variabel
Sumber: CCSS for Mathematics (2010)
Sekolah secara teratur mengevaluasi siswa dan melaporkan hasil evaluasi
secara periodik untuk para siswa dan orang tua mereka. Tes-tes ini
diselenggarakan oleh sekolah secara desentralisasi. Secara nasional,
kemampuan belajar siswa K-12 dievaluasi oleh institusi yang disebut National
Assessment of Educational Progress (NAEP) yang merupakan program dari
Departemen Pendidikan. Program ini merupakan satu-satunya program yang
secara menerus mengevaluasi kemampuan siswa secara nasional untuk
berbagai bidang studi (Winarso, 2014).
Hasil dari evaluasi dimasukkan dalam laporan yang disebut sebagai
Nation’s Report Card yang memungkinkan perbandingan dari kualitas
pendidikan di berbagai State. Laporan ini juga digunakan untuk perbandingan
kualitas sekolah yang dievaluasi terhadap kualitas nasional, atau perbandingan
antar State. Penilaian dilakukan secara periodik dalam mata pelajaran
Matematika, Membaca, Ilmu Pengetahuan, Menulis, Seni, Kewarganegaraan,
Ekonomi, Geografi, dan Sejarah AS .

F. Kurikulum Jerman
Grundschule atau Volksschule (Sekolah Dasar) merupakan kelanjutan dari
taman kanak-kanak, yang berperan untuk menuntun siswa yang awalnya lebih
berorientasi bermain sambil belajar (pada kindergarden atau taman kanak-
kanak) pada belajar yang sistematis di sekolah, serta proses penyesuaian dari
bentuk dan isi program pembelajaran yang disesuaikan dengan persyaratan
belajar dan kemampuan murid yang berbeda-beda. Grundschule sebagai
pendidikan dasar bertujuan menumbuhkembangkan kompetensi linguistik
(bahasa) dan pemahaman konsep dasar matematika dan sains. Grundschule
tidak hanya mengembangkan ketiga aspek tersebut, di saat yang bersamaan
siswa diharapkan mengembangkan keterampilan psikomotorik dan perilaku
sosial (Kultusminister, 2012). Lama pendidikan di Grundschule umumnya 4
tahun (kelas 1-4), namun di negara bagian seperti Berlin dan Brandenburg,
lama pendidikan Grundschule selama 6 tahun.
Negara bagian yang lain melaksanakan pengajaran tambahan selama 2
tahun pada kelas 5 dan 6 dalam suatu lembaga perantara yang memberikan
berbagai jenis pelajaran sebagai persiapan masuk ke jenjang berikutnya.
Kurikulum dirumuskan oleh Kementrian Pendidikan sesuai Negara bagian
masing-masing di bawah kendali Länder (pemerintah daerah). Pembelajaran di
sekolah dasar awalnya difokuskan pada membaca, menulis, dan berhitung.
Materi pelajaran meliputi bahasa Jerman, matematika, Sachunterricht
(mengkombinasikan biologi, sejarah, dan geografi), seni, musik, olahraga dan
di sebagian besar Länder (negara bagian) memasukkan pelajaran agama,
drama, kerajinan, dan bahasa asing (misalkan bahasa Inggris, Perancis) dalam
kurikulum sekolah dasar. Pelajaran bahasa asing dimasukan di kelas 3 dan 4,
namun sebagian di Länder memasukan pelajaran bahasa asing juga di kelas 1
dan 2. Dalam pelajaran bahasa asing siswa diarahkan untuk memiliki
kompetensi antarbudaya dan meningkatkan reseptif dan produktif dalam
penggunaan bahasa.
Kurikulum didesain berdasarkan kebutuhan masing-masing Negara bagian
(Länder), paling tidak memuat materi ajar, tujuan pembelajaran dan waktu
studi yang diperlukan pada masing-masing jenis dan level sekolah. Biasanya
waktu terbanyak dalam pembelajaran dihabiskan oleh bahasa Jerman dan
Matematika selama 5 jam/minggu, mata pelajaran yang mengkombinasikan
IPA dengan IPS dipenuhi selama 4 jam/minggu. Sehingga pada level ini
memuat tiga mata pelajaran utama yang dialokasikan sebanyak 27 jam/minggu,
sedangkan 13 jam pelajaran lainnya dialokasikan untuk pembelajaran menulis,
musik, pendidikan jasmani, seni dan kerajinan, keselamatan bersepeda, dan
pertolongan pertama (Stevenson dan Nerison, 2007).
Sistem pendidikan di Jerman tidak memiliki tradisi ujian akhir tahun,
penilaian akhir tahun siswa didasarkan pada hasil analisis terhadap kinerja
siswa, dimulai dari kelas 2 dan seterusnya. Laporan penilaian siswa meliputi
komentar terhadap kemajuan dan nilai yang diperoleh siswa, pelaporan proses
belajar dan kinerja siswa, perbandingan kinerja siswa dengan siswa yang
lainnya, serta perilaku sosial di sekolah. siswa yang nilainya kurang (tidak
cukup) harus mengulang kembali di awal tahun baru. Sewaktu kelas 5 dan 6
guru membuat rekomendasi tentang jalur pendidikan lanjutan yang sesuai
untuk siswa (gymnasium, realschule, gesamtschule). Dan, ujian nasional
diselenggarakan pada kelas 10 dan 12. Pada tingkat dasar dan menengah, siswa
dinilai oleh guru berdasarkan pekerjaan siswa secara keseluruhan, proses
penilaian diberikan dan dilaporkan dua kali setahun, dengan masing-masing
siswa diberi peringkat dari Mark-1 (sangat baik) sampai Mark-6 (sangat
kurang/gagal). Batas toleransi peringkat buat siswa adalah Mark-4 untuk maju
ke tahun berikutnya. Guru diberikan kesempatan untuk memberikan
rekomendasi kepada pihak-pihak terkait untuk meminta siswa mengulang di
kelas, karena dikhawatirkan jika diluluskan akan memperburuk prestasi
akademik siswa.
Materi matematika yang diajarkan dari kelas 1 sampai kelas 6 di Jerman
adalah: 1) Bilangan bulat, pecahan, bilangan rasional; 2) Geometri dasar seperti
titik, garis lurus, segmen, segi tiga, segi empat, dan lingkaran; 3) Luas daerah,
luas daerah permukaan, volume, dan representasi bangun ruang; 4) Fungsi
linear, kuadrat, eksponensial dan trigonometri; persamaan linear dan kuadrat,
pertidaksamaan linear, system persamaan linear. Silabus materi matematika
disusun oleh pemerintah federal, namun guru dan sekolah berhak memberikan
pertimbangan yang disesuaikan dengan kondisi siswa, geografis, dan lain
sebagainya. Silabus matematika tersaji pada Tabel. 2.1.
Tabel 2.1 Silabus Matematika di Grundschule (Sekolah Dasar)
Kelas Materi
Objek dan atribut (himpunan dan elemen, diagram); aritmetika:
empat operasi aritmetika dasar dengan bilangan kurang dari
Kelas 1 ke kelas 2
100; besaran (panjang, uang, dan waktu); dan pengalaman
geometris: bentuk dan pola
mempelajari (himpunan bagian, irisan, gabungan); aritmetika
dengan bilangan asli hingga 1 juta termasuk perhitungan
tertulis; menghitung dengan besaran sederhana dalam situasi
Kelas 3 ke kelas 4
konkret; luas daerah sederhana, tessellations (adalah membagi
objek menjadi poligon (segi tiga); dan gagasan pertama simetri
aksial
Penggunaan variabel, persamaan sederhana; mengubah
besaran; daerah persegi panjang, volume balok; konsep
geometri dasar (seperti titik, garis,
Kelas 5 ke kelas 6
paralel, bentuk-bentuk geometris); digit dan nomor sistem; teori
bilangan (bilangan prima, GCD, LCM); dan pecahan dan
pecahan desimal.
Sumber:http://www.didaktik.mathematik.uni-wuerzburg.de/history/meg/weidiga2.html

G. Kurikulum Australia
Kurikulum Australia berisi tentang hak setiap warga Australia, meliputi
hak dasar untuk mencapai sukses, belajar seumur hidup, dan partisipasi dalam
masyarakat Australia. Hal ini berarti bahwa kebutuhan dan kepentingan siswa
akan bervariasi, sehingga sekolah dan guru akan merencanakan kurikulum
berdasarkan kebutuhan dan kepentingan tersebut. Kurikulum Australia juga
mengakui perubahan cara dimana siswa akan belajar dan akan berbagi
tantangan-tantangan yang akan terus membentuk pembelajaran mereka di masa
yang akan datang.
Pusat Pengembangan Kurikulum (Curriculum Development Center)
dibentuk oleh pemerintah Commonweath untuk membantu mengkoordinasi
dan menyiapkan kurikulum, terutama untuk kelas akhir sekolah kejuruan,
sebagai panduan ujian eksternal dan bagi negara-negara bagian dapat
mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan negara tersebut. Buku pelajaran
dan ujian disiapkan oleh berbagai badan termasuk seksi kurikulum departemen
pendidikan, Dewan Pendidikan Australia (The Australian Council For
Educational Research/ ACER), pusat pengembangan kurikulum (Curriculum
Development Center/CDC), penerbit-penerbit buku komersil, dan guru-guru
bidang studi. Metodologi pengajaran pada prinsipnya terletak pada masing-
masing guru atau sekolah, tetapi di Australia pada umumnya satu guru
mengajar satu mata pelajaran dan untuk kelas yang beda umur diajar oleh lebih
dari satu guru atau team teaching.
Kurikulum Australia pun akan dikembangkan untuk semua area
pembelajaran dan mata pelajaran yang ditetapkan dalam Melbourne
Declaration: awalnya untuk bahasa Inggris, Matematika, IPA/Sains dan
Sejarah, dilanjutkan dengan Geografi, Bahasa, Seni, Ekonomi, Bisnis, dan
Kewarganegaraan. Pendidikan Kesehatan dan Olahraga, serta Teknologi
Informasi dan Komunikasi.
Semua negara bagian kecuali (ACT) kurikulum ditetapkan oleh
departemen pendidikan. Namun, di ACT terdapat sistem manajemen sekolah
School Based Management dimana pihak sekolah bertanggungjawab atas
pembuatan kurikulum dan materi. Para guru mengembangkan kurikulum
sendiri untuk mata pelajaran masing-masing. Setiap tahun, semua kurikulum
diajukan kepada departemen pendidikan untuk proses evaluasi. Jika kurikulum
tertentu dianggap tidak memenuhi standar minimal, pihak departemen dapat
meminta agar kurikulum direvisi atau bahkan dapat menolak kurikum tersebut.
Kurikulum Australia menetapkan apa yang harus dipelajari oleh siswa
melalui spesifikasi isi kurikulum dan pembelajaran yang diharapkan pada nilai
sekolah mereka melalui spesifikasi standar prestasi (the specification of
achievment standards). Kurikulum Australia fokus pada tujuh kemampuan
umum, yaitu: 1) kemampuan menulis dan membaca-literacy; 2) kemampuan
berhitung-numeracy; 3) Teknologi Komunikasi Informasi; 4) Keterampilan
berfikir; 5) Kesusilaan; 6) Kreativitas; 7) Manajemen diri; 8) Kerjasama dalam
team-teamwork; 9) Pengertian antarbudaya-intercltural understanding; dan
10) Kompetensi sosial. Tiga dimensi lintas kurikulum (cross-curriculum
dimensions) adalah: 1) sejarah dan kebudayaan penduduk pribumi (indegenous
history and culture); 2) Asia dan keterlibatan Australia di Asia (Asia and
Australia’s engagement with Asia); dan 3) Kelestarian (sustainability)
(Ministerial Council on Education, Employment Training and Youth Affairs,
2008).
Setiap negara bagian kurikulum untuk Year 11 dan Year 12, yaitu tingkat
SMA, dibuat oleh badan khusus di bawah departemen pendidikan, yang
biasanya disebut Senior Secondary Board. Selain pengembangan kurikulum,
badan tersebut juga bertanggungjawab atas pelaksanaan ujian yang dilakukan
pada akhir Year 12 dan pengeluaran Year 12 Certificate.
Pemerintah Australia ingin menetapkan kurikulum nasional (national
curriculum) dalam berbagai bidang studi, yaitu bahasa Inggris, Sejarah,
Matematika, dan Ilmu Pengetahuan. Dalam hal ini, pemerintah nasional sedang
bekerjasama dengan pemerintah negara bagian, sebab perubahan kurikulum
hanya dapat dilakukan atas dasar persetujuan negara bagian.
Rancangan kurikulum Australia untuk matematika pada dasarnya adalah
konsisten dengan harapan yang diuraikan dalam kurikulum Amerika Serikat,
kurikulum matematika Selandia Baru, dan yang dimiliki oleh Finlandia, serta
Kerajaan Inggris Raya.
Rancangan kurikulum Australia untuk matematika dibentuk dalam tiga
bahasan isi adalah Number and algebra, Statistic and probability, dan
Measurement and geometry. Isi dalam bahasan-bahasan tersebut menerangkan
“apa” yang akan diajarka pada siswa. Bahasan kecakapan yaitu –
Understanding Fluency, Problemsolving, dan Reasoning- menerangkan
mengenai “bagaimana”- cara isinya diselidiki atau dikembangkan melalui
seluruh kurikulum dan semakin lama meningkat menjadi semakin ahli setelah
sekolah lama bertahun-tahun, dan para siswa mengembangkan kemampuan
mereka untuk berpikir dan bertindak secara logis, seperti melakukan analisa,
pembuktian, penilaian, menerangkan, menyimpulkan, memberikan alasan,
serta menyamaratakan.
Kurikulum matematika Australia pada garis besarnya adalah
memprioritaskan guru memutuskan dan mengintegrasikan bahasan isi materi
dan keahlian/aspek yang dicapai, dengan menggunakan pola pikir yang luas
dapat membantu micro planning dan memilih tugas atau materi yang tepat bagi
siswa sangatlah penting. Berikut deskripsi matematika di tiap level tahun.

Tabel 2.3. Deskripsi Matematika pada Tiap Level


Foundation  Understanding
year Menghubungkan nama, angka, dan kuantitas
 Fluemcy
Menghitunng urutan angka, melanjutkan pola, dan
membandingkan panjang benda
 Problemsolving
Menggunakan bahan-bahan untuk pemodelan masalah
otentik, mayoritas benda, menggunakan perhitungan
sederhana untuk menyelesaikan masalah asing, dan
membahas kewajaran jawaban
 Reasoning
Menjelaskan perbandingan jumlah secara langsung
menciptakan pola, dan menjelaskan proses membandingkan
panjang
Year 1  Understanding
Menghubungkan nama, angka, dan kuantitas, serta
mempartisi bilangan
 Fluency
Menghitung urutan angka dari depan dan belakang,
menempatkan posisi bilangan pada suatu garis, dan
menyebutkan nama-nama hari
 Problemsolving
Menggunakan bahan-bahan untuk pemodelan masalah
otentik, menyortir benda, memberi dan menerima arah ke
tempat asing, mengggunakan perhitungan sederhana untuk
menyelesaikan masalah asing, dan membahas kewajaran
jawaban
 Reasoning
Menjelaskan perbandingan jumlah secara langsung dan
tidak langsung menggunakan alat yang tidak formal,
menilai representasi data, dan menjelaskan pola yang telah
diciptakan.
Year 2  Understanding
Menghubungkan perhitungan bilangan dengan menghitung
urutan, membuat partisi, dan menggabungkan bilangan,
mengidentifikasi, dan menggambarkan hubungan antara
penjumlahan dan pengurangan, dan antara perkalian dan
pembagian
 Fluemcy
Menghitung urutan angka menggunakan unit informasi
secara berulang untuk membandingkan pengukuran,
menggunakan istilah kesempatan untuk menggambarkan
kemungkinan kejadian, menggambarkan dan
membandingkan durasi waktu
 Problemsolving
Merumuskan masalah dari situasi otentik, membuat model,
dan menggunakan bahasa matematika untuk
mempresentasikan situasi masalah, dan mencocokkan
dengan bentuk asli
 Reasoning
Menggunakan fakta yang diketahui untuk memperoleh
starategi untuk peerhitungan asing, membandingkan, dan
membedakan model operasi, dan menciptakan interpretasi
dari representasi data sederhana.
Year 3  Understanding
Menghubungkan representasi bilangan dengan urutan
bilangan, membuat partisi dan menggabungkan bilangan,
merepresentasi komponen pecahan, menggunakan bahasa
yang tepat untuk mengkomunikasikan waktu, dan
mengidentifikasi simetri benda sekitar
 Fluemcy
Mengulang perkalian, menggunakan satuan metrik untuk
mengurutkan dan membandingkan objek, mengidentifikasi
dan menggambarkan hasil percobaan, menginterpretasikan
peta dan mengkomunikasikan posisi
 Problemsolving
Merumuskan dan membuat model dari situasi otentik yang
melibatkan perencanaan pengumpulan dan representasi
data, membuat model 3 dimensi dan mengguanakan sifat
bilangan untuk melanjutkan pola bilangan
 Reasoning
Menggunakan generalisasi dari sifat bilangan dan hasil
perhitungan, membandingkan sudut, menciptakan dan
mrnginterpretasikan variasi hasil pengumpulan data
Year 4  Understanding
Menghubungkan representasi bilangan dengan urutan
bilangan, membuat partisi dan menggabungkan bilangan,
memperluas nilai bilangan menjadi desimal, menggunakan
bahasa yang tepat untuk mengkomunikasikan waktu, dan
menggambarkan sifat simetri benda sekitar.
 Fluemcy
Mengulang tabel perkalian, mengkomunikasikan urutan
pecahan sederhana, menggunakan alat untuk mengukur
dengan akurat, menciptakan pola dengan bentuk dan
transformasinya, mengumpulkan dan mencatat data.
 Problemsolving
Merumuskan, membuat model, dan mencatat situasi otentik
termasuk operasinya, membandingkan besaran, durasi
waktu, dan menggunakan sifat bilangan untuk melanjutkan
pola.
 Reasoning
Menggunakan generalisasi dari sifat bilangan dan hasil
perhitungan, menentukan strategi dalam menyelesaikan
tugas perkalian dan pembagian, membandingkan sudut,
mengkomunikasikan informasi menggunakan sajian grafik
dan mengevaluasi perbedaan tampilan yang disajikan.
Year 5  Understanding
Menghubungkan representasi bilangan, menggunakan
pecahan untuk mewakili probabilitas, membandingkan dan
mengurutkan pecahan dan desimal, serta
merepresentasikannya dalam berbagai cara,
menggambarkan transformasi dan mengidentifikasi garis
serta rotasi simetri.
 Fluency
Menentukan alat yang cocok untuk mengukur keliling dan
luas, menggunakan estimasi untuk memeriksa kewajaran
jawaban dan menggunakan alat untuk mengukur besaran
sudut.
 Problemsolving
Merumuskan dan menyelesaikan situasi otentik
menggunakan bilangan bulat dan perhitungan, serta
menyusun rencana keuangan.
 Reasoning
Menginfestigasi strategi untuk melakukan perhitungan
efisien, melanjutkan pola yang melibatkan pecahan dan
desimal, menginterpretasikan hasil percobaan, menjawab
pertanyaan terkait dengan investigasi dan interpretasi
kelompok data.
Year 6  Understanding
Menggambarkan sifat perbedaan himpunan bilangan,
menggunakan pecahan dan desimal untuk menggambarkan
probabilitas, representasi pecahan dan desimal dalam
berbagai cara dan menggambarkan hubungan antara
keduanya, dan membuat estimasi yang masuk akal.
 Fluency
Merepresentasikan bilangan bulat pada garis bilangan,
menghitung presentase sederhana, menggunakan tanda
kurung secara tepat, melakukan konversi antara pecahan
dan desimal, menggunakan operasi dalam pecahan, desimal,
dan persentase menggunakan metrik dan menafsirkan
jadwal.
 Problemsolving
Merumuskan dan menyelesaikan situasi otentik
menggunakan pecahan, desimal, persentase, dan
pengukuran, menginterpretasi sajian data sekunder, dan
menemukan ukuran sudut yang tidak diketahui.
 Reasoning
Menjelaskan stategi berhitung, menggambarkan hasil
urutan bilangan, menjelaskan transformasi dari satu bentuk
bentuk lain, menjelaskan mengapa hasil yang diperoleh
berbeda dengan hasil yang diharapkan.

Rancangan kurikulum Australia lebih besar akan bidang statistik dan


probabilitas sebagai pengakuan akan kebutuhan para siswa untuk dapat
menginterpretasikan data dalam abad ke-21 ini. Intinya matematika bukan
memberikan penjelasan tetapi dapat memilah dan memilih materi dengan
melibatkan pengalaman yang mereka butuhkan untuk mempelajari konsep
matematika. Kurikulum matematika Australia secara garis besar adalah
memprioritaskan guru memutuskan dan mengintegrasikan bahasan isi materi
dan keahlian yang dicapai siswa dengan menggunakan pola pikir yang luas
dapat membantu micro planning dan memilih tugas atau materi yang tepat bagi
siswa sangatlah penting. Jadi pada dasrnya, cakupan materi dan keahlian yang
dituntut. Kurukulum matematika Australia sama dengan kurikulum
matematika Indonesia, yang berbeda hanya pada praktek kegiatan belajar
mengajar di kelas dan pencapaian siswa. Dalam hal ini tingkat kompleksitas
masalah soal penerapan dan penggunaan kata-kata dalam pembelajaran
matematika di Australia lebih tinggi dari Indonesia.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kurikulum di Indonesia diawali dengan kurikulum rencana pelajaran (1946-
1968), kurikulum berorientasi pada pencapaian tujuan (1975-1984),
kurikulum 1994, kurikulum berbasis kompetensi (tahun 2004), kurikulum
tingkat satuan pendidikan (tahun 2006) dan yang digunakan saat ini yaitu
kurikulum 2013.
2. Kurikulum sekolah di Jepang ditentukan oleh menteri pendidikan yang
kemudian dikembangkan oleh dewan pendidikan distrik dan kota praja.
Kurikulum awal tahun 1980 memuat mata pelajaran untuk SD terdiri dari
bahasa Jepang sebagai pengantar, ilmu sosial, berhitung, ilmu pengetahuan
umum, musik/seni dan kerajinan, pendidikan jasmani dan kerumah tanggaan
(grade 4 dan 6), disamping itu pendidikan moral wajib belajar 9 tahun,
khusus perbaikan kurikulum dilakukan setiap 10 tahun sekali.
3. Xx
4. Xx
5. Tidak ada kurikulum nasional di AS, State (Negara Bagian) bersama sekolah
dan asosiasi sekolah maupun asosiasi keahlian merekomendasikan standar
tertentu untuk memandu kurikulum yang digunakan di sekolah. Oleh karena
itu, setiap State memiliki standar dan kurikulum yang berbeda-beda
(Common Core State Standard). Pemerintah AS memberlakukan standar
kualifikasi tertentu bagi sekolah yang ingin mendapatkan dana Federal
melalui program Undang-Undang No Child Left Behind.
6. Kurikulum di Jerman dirumuskan oleh Kementrian Pendidikan sesuai
Negara bagian masing-masing di bawah kendali Länder (pemerintah
daerah). Pembelajaran di sekolah dasar awalnya difokuskan pada membaca,
menulis, dan berhitung. Materi pelajaran meliputi bahasa Jerman,
matematika, Sachunterricht (mengkombinasikan biologi, sejarah, dan
geografi), seni, musik, olahraga dan di sebagian besar Länder (negara
bagian) memasukkan pelajaran agama, drama, kerajinan, dan bahasa asing
(misalkan bahasa Inggris, Perancis) dalam kurikulum sekolah dasar.
7. Semua negara bagian Australia kecuali (ACT) kurikulum ditetapkan oleh
departemen pendidikan. Namun, di ACT terdapat sistem manajemen sekolah
School Based Management dimana pihak sekolah bertanggungjawab atas
pembuatan kurikulum dan materi. Para guru mengembangkan kurikulum
sendiri untuk mata pelajaran masing-masing. Setiap tahun, semua kurikulum
diajukan kepada departemen pendidikan untuk proses evaluasi. Jika
kurikulum tertentu dianggap tidak memenuhi standar minimal, pihak
departemen dapat meminta agar kurikulum direvisi atau bahkan dapat
menolak kurikum tersebut.
B. Saran
Sistem kurikulum hendaknya lebih fleksibel dan setiap negara dapat
memasukkan kurikulum local yang bersifat kreativitas sesuai kondisi negara
masing-masing, seperti kurikulum local pertanian, perikanan, perkebunan,
teknologi, dll. Tidak hanya sebatas kurikul seperti bahasa daerah atau bahasa
asing yang selama ini banyak dimunculkan, sehingga tidak berpengaruh
terhadap lapangan kerja dan tidak memberikan jaminan untuk kehidupan,
pekerjaan siswa setelah tamat sekolah.
DAFTAR PUSTAKA

CCSS. (2010). Common Core State Standards for Mathematics.


http://www.corestandards.org/wp-content/uplouds/MathStandards/.pdf.

Kemendikbud. (2016). Permendikbud No 020 tahun 2016 Tentang Standar


Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta:
Kemendikbud.

Kemendikbud. (2018). Permendikbud No 37 tahun 2018 Tentang Kompetensi


Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan
Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemendikbud.

Kultusminister. (2012). The Education System in The Federa Republic of Germany


2012/2013. http://www.kmk.org/fileadmin/doc/.

Permendikbud. (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik


Indonesia Nomor 57 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.

Stevenson, H.W., & Nerison R.L. (2007). To sum it up: case studies of education
in Germany, Japan, and The United States.
http://www2.ed.gov/pubs/Sum/Up.PDF.

Sukmadinata, N.S. (2008). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Remaja


Rosdakarya: Bandung.

Wahyudin, D. (2016). Manajemen Kurikulum Dalam Pendidikan Profesi Guru


(Studi Kasus di Universitas Pendidikan di Indonesia). Jurnal
Kependidikan. 46(2).
Winarso, H. (2014). Sistem Pendidikan di Amerika Serikat. Washington DC. Atase
Pendidikan Kedaulatan Besar Republik Indonesia.