Anda di halaman 1dari 22

PRAKTIKUM FITOFARMAKA

TUGAS 5
PENETAPAN KADAR SENYAWA MARKER PADA
SEDIAAN KAPSUL
(Kaempferia galanga)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK : 7

KELAS: D

ANANDA NOVIA RIZKY UJP (201610410311151)

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, M.Farm., Apt.
Amaliyah Dina A., M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Indonesia kaya akan sumber bahan obat tradisional yang telah digunakan oleh
sebagian besar rakyat Indonesia secara turun temurun. Keuntungan penggunaan obat
tradisional adalah antara lain karena bahan bakunya mudah diperoleh dan harganya
murah. Delapan puluh persen penduduk Indonesia hidup di pedesaan, di antaranya
sukar dijangkau oleh obat modern dan tenaga medis karena masalah distribusi,
komunikasi dan transportasi disamping itu daya beli yang relatif rendah menyebabkan
masyarakat pedesaan kurang mampu mengeluarkan biaya untuk pengobatan modern,
sehingga masyarakat cenderung memilih pengobatan secara tradisional (TULAINY,
2016).
Salah satu tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat tradisional yang sering
digunakan oleh masyarakat adalah Kencur (Kaempferia galanga L.). Kencur
merupakan tanaman tropis yang cocok untuk dibudidayakan diberbagai daerah di
Indonesia. Rimpang tanaman kencur dapat digunakan sebagai ramuan obat tradisional
yang berkhasiat mengobati berbagai macam penyakit misalnya masuk angin, radang
lambung, batuk, nyeri perut, panas dalam dan lain-lain. Selain itu, kencur juga dapat
digunakan sebagai salah satu bumbu masakan, sehingga kencur banyak dibudidayakan
sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan dalam jumlah yang besar. Rimpang
kencur juga digunakan sebagai bahan baku fitofarmaka, industri kosmetika,
pembuatan minuman, rempah, serta bahan campuran saus, dan industri rokok kretek
(TULAINY, 2016).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rati Anisah dkk, Kencur diketahui
memiliki kandungan kimia seperti saponin, flavonoid, dan polifenol (Annisah,
Batubara, Roslina, & Yenita, 2018). Selain itu kencur memiliki komponen utama
berupa Etil p-metoksi sinamat (EPMS). EPMS meruakan salah satu senyawa hasil
isolasi rimpang kencur (Kaempferia Galanga L) yang merupakan bahan dasar senyawa
tabir surya yaitu pelindung kulit dari sengatan sinar matahari (Hudha, 2013).

Sediaan-sediaan yang beredar di pasaran tidak diketahui berapa kadar


senyawa aktif yang terkandung di dalamnya karena suatu sediaan tidak hanya
mengandung zat aktifnya saja tetapi juga mengandung bahan tambahan lainnya yang
berfungsi untuk menjaga kestabilan dari sediaan tersebut agar dapat memberikan
efek farmakologi yang baik. Khususnya dalam sediaan kapsul penyebaran dosis per
kapsulnya tidak selamanya seragam sehingga perlu dilakukannya pengujian untuk
mengetahui berapa besar kadar suatu senyawa dalam sediaan tersebut.

1.2. Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas maka, tujuan dari praktikum ini adalah
mahasiswa mampu menentukan kadar senyawa marker yang terdapat dalam
sediaan kapsul ekstrak Kaempferia galangal L.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kencur (Kaempferia galanga)


2.1.1 Taksonomi Kencur (Kaempferia galanga)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Liliopsida
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Kaempferia L.
Jenis : Kaempferia galanga L.
(USDA, 2010)

Gambar 2.1
Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) (Preetha, 2016)

2.1.2 Morfologi Tanaman Kaempferia galanga L.


Kencur merupakan terna tahunan, berbatang basal tidak begitu tinggi, lebih
kurang 20 cm dan tumbuh dalam rumpun. Daun tunggal, berwarna hijau dengan pinggir
merah kecoklatan bergelombang. Bentuk daun jorong lebar sampai bundar, panjang 7-
15 cm, lebar 2-8 cm, ujung runcing, pangkai berlekuk, dan tepinya rata. Permukaan
daun bagian atas tidak berbulu, sedangkan bagian bawah berbulu halus. Tangkai daun
pendek, berukuran 3-10 cm, pelepah terbenam dalam tanah, panjang 1,5-3,5 cm,
berwarna putih. Jumlah daun tidak lebih dari 2-3 lembar dengan susunan berhadapan
(Damayanti, 2008).
Bunga tunggal, bentuk terompet, panjang sekitar 2,5-5 cm. Benang sari panjang
sekitar 4 mm, berwarna kuning. Putik berwarna putih atau putih keunguan. Bunga
tersusun setengah duduk, mahkota bunga berjumlah 4-12 buah dengan warna putih
lebih dominan. Tanaman kencur berbeda dengan famili Zingiberaceae lainnya, yaitu
daunnya merapat ke permukaan tanah, batangnya pendek, akar serabut berwarna coklat
kekuningan, rimpang pendek berwarna coklat, berbentuk jari dan tumpul, bagian
luarnya atau kulit rimpangnya berwarna coklat mengkilat, memiliki aroma yang
spesifik, bagian dalamnya berwarna putih dengan daging lunak, dan tidak berserat
(Damayanti, 2008).

2.1.3 Kandungan Kimia Kaempferia galanga L.


Rimpang kencur paling banyak mengandung alkaloid dan minyak atsiri, yang
terdiri atas sineol, asam sinamat, etil ester, kamphene, paraeumarin dan asam anisat
(Gendrowati, 2013).
Tabel 2.1 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etanol Rimpang Kencur
Uji Fitokimia Hasil
Alkaloid ++++
Minyak Atsiri +++
Saponin +++
Tanin ++++
Flavonoid ++++
Fenolik +++
Steroid/Triterpenoid -
Glikosida ++++
(Gholib, 2007)
Flavonoid menyebabkan perubahan komponen organik dan transport nutrisi yang
akhirnya akan mengakibatkan timbulnya efek toksik terhadap jamur (Agrawal, 2011).
Senyawa alkaloid sebagai antibakteri mampu menghambat sintesis dinding sel
bakteri, jika dinding sel bakteri tidak terbentuk dengan sempurna maka sel bakteri akan
lisis dan hancur. Ekstrak etanol rimpang kencur juga mengandung saponin dan steroid.
Saponin juga merupakan senyawa aktif yang mempunyai aktivitas antifungi.
Mekanisme kerja saponin sebagai antijamur adalah menurunkan tegangan permukaan
sehingga mengakibatkan naiknya permeabilitas atau kebocoran sel dan mengakibatkan
senyawa intraseluler akan keluar. Hal ini menyebabkan sitoplasma bocor keluar dari
sel yang mengakibatkan kematian sel (Nuria dkk, 2009).
Senyawa steroid dapat mengakibatkan kebocoran pada lisosom bakteri. Interaksi
steroid dan membran fosfolipid bakteri akan menyebabkan menurunnya integritas
membrane dan terjadi perubahan morfologi membran bakteri (Hayati et al., 2017).
Rimpang kering dari Kaempferia galanga L. mengandung 2,5 sampai 4% minyak
esensial yang banyak digunakan dalam penyedap makanan, wewangian, dan obat-
obatan. Penelitian barubaru ini menunjukkan potensi antijamur, antibakteri,
antibiofilm, antioksidan dan aktivitas antitumor dari minyak esensial yaitu minyak
atsiri yang diisolasi dari rimpang Kaempferia galanga L (Kumar, 2014).
Ethyl cinnamate dan ethyl-p-methoxycinnamate dan merupakan golongan ester yang
memiliki peran sebagai nematisida, antikanker, antituberkulosis, anti-inflamasi,
antifungal and larvisida (Kumar, 2014).

Gambar 2.2
Gambar Rantai Kimia Ethyl Cinnamate (Kumar, 2014)

Gambar 2.3
Gambar Rantai Kimia Ethyl-p-methoxycinnamate (Kumar, 2014)
2.1.5 Manfaat Kaempferia galanga L.
Kencur (Kaempferia galanga L.) banyak digunakan sebagai bahan baku obat
tradisional (jamu), fitofarmaka, industri kosmetika, penyedap makanan dan minuman,
rempah, serta bahan campuran saus, rokok pada industri rokok kretek. Secara empirik
kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan, infeksi bakteri, obat batuk, disentri,
tonikum, ekspektoran, masuk angin, sakit perut (Pujiharti, 2012).
Kencur juga juga memiliki bermacam-macam kegunaan lain, diantaranya sebagai
antibakteri, antifungi, analgesik, anti-inflamasi, antioksidan, antivirus, antihipertensi,
antikarsinogenik, antinosiseptif, antituberkulosis dan larvasida. Minyak atsiri rimpang
kencur juga digunakan sebagai bahan parfum, obat-obatan, dan untuk aromaterapi
inhalan dan pijat untuk mengurangi kecemasan, stres, dan depresi (Kumar, 2014).

2.2 Senyawa Marker


Berdasarkan Natural Health Product Directorate (NHPD), senyawa marker
merupakana constituent that occurs naturally in the material and that is selected for
special attention (e.g. for identification and standardization purposes) by a researcher
or manufacturer. Marker mempunyai 2 tujuan utama yaitu sebagai penanda
farmakologis dan analisis. Misal: germacron adalah senyawa marker yang terdapat
dalam purwoceng namun zat aktif yang terkandung dalam tanaman tersebut adalah
stigmasterol. Stigmasterol juga ditemukan pada tanaman cabe jawa. Oleh karena itu
sering ditemukan adanya pemalsuan purwoceng yang dicampur dengan cabe jawa,
karena harga purwoceng jauh lebih mahal.
Marker dapat digunakan untuk identifikasi dengan benar dan autentik sumber
bahan alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuantifikasi senyawa
farmakologik aktif pada produk akhir, atau memastikan efikasi produk. Marker sangat
penting dalam evaluasi jaminan kualitas produk. Senyawa marker tidak harus memiliki
aktivitas farmakologi.

2.2.1 Jenis-Jenis Senyawa Marker

Senyawa marker dapat digolongkan menjadi 4 kategori berdasarkan


bioaktivitasnya.

a. Zat aktif
Merupakan senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang diketahui. Contoh:
epedrin pada Epedra sinensis dan sylimarin pada Sylibum marianum.
b. Marker aktif
Merupakan zat kimia yang mempunyai efek farmakologi, tapi belum tentu
mempunyai efikasi klinik. Contoh: alliin pada Allium sativum, hiperisin dan
hiperforyn pada St. John Wort (Hypericum perforatum).
c. Marker analisis
Merupakan zat kimia yang dipilih untuk determinasi kuantitatif tetapi belum
tentu mempunyai aktivitas biologi dan efikasi klinis. Selain itu, marker ini juga
berguna untuk identifikasi positif bahan baku dan ekstrak untuk standardisasi.
Contoh: alkilamid yang berbeda ditemukan pada akar Echinaceae angustifolia dan
E. purpurea tetapi tidak ada pada E. pallida.
d. Marker negatif
Senyawa aktif dengan zat aktif toksik atau allergenik. Contoh: Asam ginkolat
pada Gynko biloba.
Kencur (Kaemferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang mengandung
senyawa etil-p-metoksisinamat sebagai komponen utama dan terkandung pula senyawa
lainnya seperti etil sinamat dan p-metoksistiren.Kadar etil-p-metoksisinamat dalam
kencur cukup tinggi (tergantung spesiesnya) dengan bias sampai 10%.

2.3 Etil Para Metoksi Sinamat / EPMS


Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah satu senyawa hasil isolasi rimpang kencur
(Kaempferia galanga L). EPMS termasuk dalam golongan senyawa ester yang
mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus
karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya
dapat menggunakan pelarut-

pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, metanol, air dan
heksana.
Spesifikasi EPMS :
- Berat molekul = 206,237 g/mol
- Bentuk = kristal
- Warna = putih
- Bau/ aorma = harum seperti aromatik khas
- Titik leleh = 40-500C

Khusus untuk etil ῥ-metoksisinamat, kadar etil ῥ-metoksisinamat dalam kencur


cukup tinggi (tergantung spesiesnya) bisa sampai 10%, karena itu bisa diisolasi dari
bagian umbinya menggunakan pelarut petroleum eter/etanol. Struktur etil ῥ-
metoksisinamat (C12H14O2) adalah :
Gambar 2.4
Struktur kimia senyawa etil ῥ-metoksisinamat

2.4 Tinjauan tentang Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan metode pemisahan


komponen-komponen atas dasar perbedaan adsorbs atau partisi oleh fase diam di
bawah pengaruh gerakan pelarut pengembang atau pelarut pengembang campur.
Pemilihan pelarut pengembang sangat dipengaruhi oleh macam dan polaritas zat-zat
kimia yang dipisahkan (Mulya, M dan Suharman 1995).

Beberapa alasan penggunaan KLT adalah penggunaannya yang mudah, dapat


digunakan secara luas pada sampel yang berbeda, sensivitasnya tinggi, kecepatan
pemisahan dan biaya relative murah. KLT dapat digunakan untuk mengetahui
kemurnian suatu senyawa, memisahkan dan mengidentifikasi komponen dalam suatu
campuran, analisis kuantitatif dari satu atau lebih komponen yang terdapat dalam
sampel.

Keuntungan KLT yaitu:


1. Solven yang digunakan sedikit
2. Polaritas dari solven dapat dirubah dan diatur dalam beberapa menit
3. Jumlah sampel yang diukur dalam satu kali pengukuran / pengembangan lebih
banyak, dalam satu pelat KLT berukuran 20x20 cm dapat ditotolkan lebih kurang
20 titik awal (Touchstone, J.C, dan Dobbins, M.F., 1983).

2.5 KLT Densitometri


KLT Densitometri adalah salah satu metode yang banyak digunakan untuk
penetapan kadar bahan aktif. Densitometry adalah metode analisis instrumental yang
berdasarkan radio elektromagnetik dengan analit yang merupakan noda KLT.
Analisis densitometri dibutuhkan standart dan sampel yang cukup murni. Penetapan
kadar dengan menggunakan fase gerak sedikit, waktu yang relative lebih singkat dan
dapat dilakukan penetapan kadar beberapa sampel secara simultan (Nining,2012).

KLT yang dimaksudkan untuk uji kuantitatif adalah menggunakan


densitometer sebagai alat pelacak, prinsip kerjanya dengan pelacakan pada panjang
gelombang maksimal yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu ada 2 metode, dengan
cara memanjang dan system zig-zag. Pada umumnya lebih banyak digunakan
metode zig-zag karena pengukurannya lebih merata serta ketelitian pengukuran lebih
terjamin dibanding pengamat secara lurus atau memanjang.

Analisis kuantitatif dengan KLT densitometer pada prinsipnya mengarah


pada nilai rf, yaitu dengan membandingkan Rf analitik dengan Rf baku pembanding
atau yang dikenal dengan faktor Rx. Penentuan kuantitatif dengan Rf harus
dilakukan bersamaan dengan sampel pada alat yang sama. Analisis kuantitatif
hampir sama dengan spektrofotometer. Penentuan kadar analit dikorelasikan dengan
area bercak pada plat.

Fase diam: merupakan penyerap berukuran kecil dengan diameter partikel 10-30
mikrometer. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase dima dan semakin sempit
ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensi dan residunya.
Penyerap yang paling sering digunakan adalah silica dan serbuk selulosa, sementara
mekanisme absorpsi yang utama pada KLT adalah absorbs dan partisi. Berikut
adalah beberapa penjerap fase yang digunakan pada KLT:

Fase gerak: Pelarut sebagai eluen merupakan faktor yang menentukan gerakan
komponen-komponen dalam campuran. Pemilihan pelarut tergantung pada sifat
kelarutan komponen tersebut terhadap pelarut yang digunakan. Kekuatan elusi dari
deret-deret pelarut untuk senyawa dalam KLT dengan menggunakan sislka gel akan
turun dengan urutan sebagai berikut : air murni > methanol > etanol > propanol >
aseton > etil asetat > kloroform > metil klorida > benzene > toluene > trikloroetilena
> tetraklorida > sikloheksana > heksana. Fase gerak yang bersifat lebih polar
digunkaan untuk mengelusi senyawa-senyawa yang adsoprsinya kuat, sedangkan
fase gerak yang kurang polar digunakan untuk mengelusi senyawa yang
adsorbsinya lemah (Sastroamidjojo, 1991).
Beberapa petunjuk dalam memilih fase gerak yaitu
1. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT
merupakan teknik yang sangat sensitive
2. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga rf terletak
antara 0.2-0.8 untuk memaksimalkan pemisahan.

2.6 Cara kerja analisis dengan Thin Llayer Chromatography (TLC) scanner.

a. Penentuan panjang gelombang maksimum


Plat KLT yang sudah di scan pada panjang gelombang 254 nm dan 365 nm,
kemudian discan panjang gelombang 200-400 nm. Dari sini dapat diketahui pada
panjang gelombang berapa EPMS memberikan absorban maksimum. Panjang
gelombang maksimum tersebut yang akan digunakan untuk pengukuran.
b. Penentuan linieritas
Linieritas ditentukan dari larutan satandar EPMS pada lemopeng KLT, kemudian
dianalisis dengan KLT densitometry pada panjang gelombang maksimum.
Dihitung berapa regresi linear antara kadar dan luas area noda.
c. Penentuan presisi
Untuk menghitung presisi, ditotolkan sampel pada masing-masing 2 µL dan
larutan standar EPMS masing-masing 2 µL pada plate KLT. Plate ini kemudian
dieluasi dengan fase gerak dan dianalisis menggunakan KLT densitometry pada
panjang gelombang maksimum. Sehingga dapat dihitung berapa standar deviasi
(SD) dan koefisien variasinya (KV)
d. Penentuan akurasi
Untuk menentukan persen rekoveri, ditotolkan sampel recovery masing-masing
2 µL (lihat preparasi sampel untuk recoveri) dan larutan standar EPMS masing-
masing 2 µL pada plat KLT. Plat ini kemudian dieluasi dengan fase gerak dan
dianalisis menggunakan KLT-densitometer pada panjang gelombang maksimum.
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐶𝑡
% rekovery = = 𝐶𝑝+𝐶𝑠𝑡 × 100 %
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎

Dimana Ct = kadar EPMS yang diperoleh


Cp = kadar EPMS dalam sampel
Cst = kadar standar EPMS yang ditambahkan
Hasil yang diperoleh kemudian dihitung standar deviasi (SD) dan koefisien
variasinya (KV).

2.7 Penetapan Kadar

Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan zat berkhasiat


yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi persyaratan dan sesuai dengan yang tertera
pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan sesuai dengan zat aktif yang
terkandung dalam sediaan kapsul. Caranya ditimbang 10-20 kapsul, isinya digerus dan
bahan aktif yang larut diekstraksi menggunakan pelarut yang sesuai dengan prosedur
yang telah ditetapkan. Secara umum, rentang kadar bahan aktif yang diberikan berada
diantara 90-110% dari pernyataan pada label. Untuk penetapan kadar EPMS
dilakukan dengan KLT-Densitometri. Banyak sekali keuntungan penggunaan KLT dan
salah satu keuntungannya adalah mampu memisahkan beberapa sampel secara
bersamaan, yang lebih menguntungkan dibandingkan KCKT. Densitometri merupakan
metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi radiasi elektro magnetik
dengan analit yang merupakan bercak pada KLT. Densitometri dimaksud untuk analisis
kuantitatif analit dengan kadar kecil, yang sebelumnya dilakukan pemisahan dengan
KLT. KLT merupakan kromatografi sederhana dengan bentuk kromatografi planar
yang memisahkan campuran analit berdasarkan distribusi komponen tersebut diantara
2 fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Prinsip kerja KLT adalah dengan menotolkan
cuplikan atau sampel pada lempeng KLT, kemudian lempeng dimasukkan kedalam
wadah berisi fase gerak, sehingga komponen-komponen dalam sampel tersebut
terpisah. Komponen yang mempunyai afinitas besar terhadap fase gerak atau afinitas
yang lebih kecil terhadap fase diam akan bergerak lebih cepat dibanding komponen
dengan sifat sebaliknya (Ihsanto, 2009).
Pada prinsipnya pemisahan KLT diusahakan dilakukan dalam keadaan netral
(Surya, 2011). KLT dapat digunakan untuk tujuan preparatif dan kuantitatif, meskipun
KLT kuantitatif kurang teliti bila dibandingkan dengan sistem kromatografi lainnya.
Sistem KLT telah banyak digunakan untuk analisis obat dan senyawa bahan alam.
Analisis kualitatif pada KLT menggunakan nilai Rf. Dua senyawa dikatakan identik
bila mempunyai nilai Rf yang sama dengan dan diukur pada kondisi KLT yang sama.
Analisis kuantitatif pada KLT didukung dengan teknik densitometri. Untuk menguji
validitas dari metode ini dilakukan pengujian antara lain uji akurasi dengan parameter
% perolehan kembali (% recovery), uji presisi dengan parameter simpangan baku (SD)
dan koefisien variasi (KV).
BAB III

PROSEDUR KERJA

3.1. Kerangka operasional


3.1.1 Pembuatan Eluen

1. N-heksan + etil asetat + 2. Masukkan ke


asam formiat (90:10:1) chamber, homogenkan

3.1.2 Pembuatan Larutan Baku Induk

1. Timbang 2. Tambahkan etanol 10 ml, 3. Dipipet 4,0 ml LI1,


standar EPMS diultrasonik 5 menit. dimasukkan labu ukur 10 ml,
12,5 mg Tambahkan etanol 96% ad 50 tambahkan etanol 96% ad tanda
ml (LI1) (LI2)

3.1.3 Pembuatan Larutan Baku Kerja

Dipipet:
BK6 = 4,0 ml BI2,
BK5 = 3,0 ml BI2,
BK4 = 1,0 ml BI1, Masukkan labu ukur 10,0 ml.
Tambahkan etanol 96% ad
BK3 = 5,0 ml BK6, tanda
BK2 = 5,0 ml BK5,
BK1 = 5,0 ml BK3

3.1.4 Preparasi Sampel Sediaan Kapsul dan Recovery

3. Masukkan ke labu
ukur 10 ml + etanol 96%
ad tanda, ultrasonik 15
menit (Sampel 1, 2, 3)

1. Ambil 6 kapsul secara acak (3


Sampel, 3 Recovery) dengan
persyaratan % penyimpangan tidak > 2. Ditimbang lagi pada
7,5%. Ditimbang isi sebanyak 60 mg timbangan gram balance
pada timbangan kasar.
4. Masukkan ke labu
ukur 10 ml + standar
EPMS + etanol 96% ad
tanda, ultrasonik 15
menit (Recovery 1, 2, 3)

7. Dilakukan analisis
6. Dilakukan analisis
5. Saring pada vial KLT densitometer
pada sinar UV 254
dan 365 untuk untuk penentuan
penentuan panjang linieritas, presisi dan
gelombang akurasinya.
maksimum
3.2 Prosedur Operasional
3.2.1 Pembuatan Eluen (Fase Gerak)
a. Eluen yang digunakan:n-heksana : 90ml; etil asetat : 10 ml ; asam formiat : 1
ml. Jadi total 101 ml (90:10:1)
b. Dari total eluen yang dibuat sebanyak 101 ml, di homogenkan dengan cara
digoyang-goyangkan.

3.2.2 Pembuatan Larutan Baku


3.2.2.1 Pembuatan Larutan Induk
a. Timbang 250 mg standar EPMS
b. Serbuk Epms dimasukkan dalam labu ukur + etanol 96% 20,0 ml kocok ad
homogen
c. Di ultrasonic selama 5 menit, lalu + dengan etanol 96 % ad 50,0 ml
d. Diperoleh larutan induk 1 dengan konsentrasi 5000 ppm (LI 1)
e. Dipipet dari LI 1 sebanyak 4,0 ml, lalu masukkan dalam labu ukur 10,0 ml
f. Ditambah etanol 96% ad garis tanda, kocok homogen
g. Diperoleh larutan induk 2 dengan konsentrasi 2000 ppm (LI 2)

3.2.2.2 Pembuatan Baku Kerja


a. Dipipet dari larutab LI1 5,0 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 50,0 ml.
ditambah etanol sampai garis tanda (500 ppm)  BK4
b. Dipipet dari larutab LI2 3,0 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml.
ditambah etanol sampai garis tanda. (600 ppm)  BK 5
c. Dipipet dari larutab LI2, 4,0 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml,
ditambah etanol sampai garis tanda. (800 ppm)  BK 6
d. Dipipet dari larutab BK6, 5,0 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml,
ditambah etanol sampai garis tanda. (400 ppm)  BK 3
e. Dipipet dari larutan BK5, 5,0 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml ,
ditambah etanol sampai garis tanda. (300 ppm)  BK 2
f. Dipipet dari larutab BK3 5,0 ml dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml ,
ditambah etanol sampai garis tanda. (200 ppm)  BK 1

3.2.3 Preparasi sampel


3.2.3.1 Sampel untuk penetapan kadar sampel
a. Diambil secara acak 3 kapsul ekstrak kencur
b. Keluarkan isinya dari cangkang, lalu masing-masing masukkan ke dalam labu
ukur 10,0 ml
c. Masing-masing ditambah pelarut 5 ml, di ultrasonic selama 5 menit
d. Ditambah etanol 96 % ad 10,0 ml, di ultrasonic selama 10 menit
e. Saring, filtrate di tamping, lalu pipet 1,0 ml, masukkan ke vial
f. Di tambah etanol 96 % sebanyak 2,0 ml, diultrasonik selama 5 menit

3.2.3.2 Sampel untuk penentuan recoveri

a. Diambil secara acak 3 kapsul ekstrak kencur

b. Keluarkan isinya dari cangkang, lalu masing-masing masukkan ke

dalam labu ukur 10,0 ml

c. Masing-masing ditambah pelarut 5 ml, di ultrasonic selama 5 menit

d. Ditambah standar EPMS 500 pp sebanyak 1,0 ml

e. Ditambah etanol 96 % ad 10,0 ml, di ultrasonic selama 10 menit

f. Saring, filtrate di tamping, lalu pipet 1,0 ml, masukkan ke vial

g. Di tambah etanol 96 % sebanyak 2,0 ml, diultrasonik selama 5 menit


3.2.3.3 Penotolan Sampel dan Standar Pada Plat KLT

Ditotolkan masing-masing sampel (sampel sediaan kapsul dan sampel sediaan

kapsul untuk recoveri) sebanyak 2 µL, sedangkan standar EPMS sebanyak 2 µL pada

plat KLT.
BAB IV

HASIL PRAKTIKUM

4.1. Hasil Perhitungan


BAB V

PEMBAHASAN
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.Kesimpulan

5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Huda, Miftahul. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar
[USDA] United State Departement of Agriculture. 2010. USDA National Nutrient
Database for Standart Reference.
Preetha, T. S., Hemanthakumar, A. S. & Krishnan, P. N., 2016. A Comprehensive
Review of Kaemferia galang L. (Zingiberaceae) : A High Sought Medical Plant
in Tropical Asia.
Damayanti R. (2008). Uji efek sediaan serbuk instan rimpang temulawak (Curcuma
xanthorrhiza) sebagai tonikum terhadap mencit jantan. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Agrawal, A. 2011, Pharmacological Activities of Flavonoids: A Review, International
Journal of Pharmaceutical Sciences and Nanotechnology.
Nuria, Cut., 2009, Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun jarak pagar (Jatropha
curcas L.) terhadap bakteri staphylococcus aureus , Escherechia coli dan
Salmonela typhi , Jurnal uji antibakteri.
Aggarwal J, Kumar M, 2014, Prevalence of Microalbuminuria among Rural North
Indian Population with Diabetes Mellitus and its Correlation with Glycosylated
Haemoglobin and Smoking, in Journal of Clinical and Diagnostic Research.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan

Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). 2009. Peraturan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor

HK.00.06.1.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba

dan Kimia dalam Makanan. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan

Republik Indonesia.

Wulandari, Lstyo. 2011. Kromatografi Lapis Tipis. Jember : PT Taman Kampus

Presindo.

Anonim, 2007, USP 32: United States Pharmacopeia Convention, United States
Pharmacopeia and the National Formulary (USP 32 - NF 27), The United

States Pharmacopeial Convention, Rockville (MD).

Rowe, R.C. et Al. (2009). Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed, The
Pharmaceutical Press, London.
Gendrowati, F., 2014, TOGA: Tanaman Obat Keluarga, Padi, Jakarta.

Gandjar, Ibnu Gholib. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.