Anda di halaman 1dari 56

78

Untuk mempermudah persoalan, pandanglah jari-jari kedua silinder tersebut

hampir sama, artinya ruangan antara kedua bidang silinder sangat tipis. Perhatikan

gambar 8.9.

Dinding luar
F a b (diam)

L Zat cair

v F
F
Silinder dalam

Gambar 8.9. Bagian kecil cairan kental antara dua dinding viskosimeter yang
dianggap aliran laminer

Bagian kecil dari cairan kental yang berada diantara kedua dinding silinder.

Kenyataannya cairan yang berbatasan dengan dinding, kecepatannya sama dengan

kecepatan dindingnya. Yang berbatasan dengan dinding luar kecepatan cairan sama

dengan nol, sedangkan yang berbatasan dengan dinding dalam kecepatan cairannya

sama dengan v (kecepatan dinding dalam), sedangkan lapisan yang berada di antara

keduanya, kecepatannya berubah secara linier dari 0 s/d v. Jenis aliran dalam bentuk

lapisan-lapisan dimana lapisan yang satu mendahului/ ketinggalan terhadap yang lain.

Perhatikan lagi gambar 8.9, mula-mula dalam keadaan diam cairan kental abcd,

sesaat kemudian setelah dinding dalam digerakan cairan abcd berubah menjadi abcd’.

Hal ini tak ubahnya seperti zat padat yang mendapat regangan geser. Hanya saja

dalam soal cairan kental ini regangan geser berubah terus bersama dengan

dindingnya. Untuk mempertahankan gerak ini pada dinding dalam haruslah ada gaya

F yang menyeret dinding, dinding menyeret lapisan diluarnya dan seterusnya,

sehingga supaya dinding luar tetap diam haruslah ada gaya F dalam arah yang

berlawanan. Kalau gaya F ini bekerja pada luas permukaan cairan di bawah dinding
79

F
seluas A, tegangan gesernya menjadi . Akibat adanya tegangan geser, terjadi
A

a' d '
regangan geser, dalam soal sekarang regangan geser menjadi . Dalam batas
L

elastisitas bahan, tegangan geser berbanding lurus dengan regangan geser. Dalam soal

cairan kental, regangan geser berubah terus karena gerak zat cair di bawah pengaruh

tegangan geser. Dari hasil percobaan didapat bahwa cairan kental tegangan geser

v
berbanding lurus dengan laju regangan geser  
l

F v
~
A l
F v
=
A l
v
F=A
l

 (eta) adalah tetapan pembanding, tekanan pembanding ini disebut koefisien

viskositas atau disebut saja viskositas.

8.6. ALIRAN LINIER DAN ALIRAN TURBULEN

Pada aliran tidak kental seperti yang sudah kita lihat waktu penurunan

persamaan Bernoulli, kecepatan disetiap titik pada suatu penampang lintang tertentu

adalah sama sehingga ujung-ujung panah kecepatan partikel/molekul disuatu

penampang lintang tertentu terletak di bidang datar, dikatakan profil kecepatannya

datar. Apabila fluida (cairan) kental mengalir dalam pipa atau tabung, kecepatan di

titik-titik di suatu penampang lintang tertentu tidak sama lagi. Kalau kecepatan tidak

terlampau besar maka partikel atau molekul akan memiliki aliran seperti yang

ditunjukkan pada gambar 8.10 (b). Kecepatan mempunyai harga terbesar di sumbu

pipa, dan makin berkurang makin dekat dengan dinding. Lapisan fluida yang

menempel dinding berada dalam keadaan diam.


80

Gambar 8.10. (a). Profil kecepatan datar


(b) Aliran laminer
(c) Aliran Turbulen

Jika kecepatan fluida menjadi suatu harga tertentu aliran yang terjadi menjadi

komplek. Di dalam aliran terjadi pusaran-pusaran yang disebut vorbex dan aliran

mendapat muatan lebih besar. Aliran seperti ini mempunyai fropil kecepatan seperti

terlihat pada gambr 8.10 (c) disebut aliran turbulen

8.7. BILANGAN RYNOLDS

Dari suatu percobaan ternyata ada empat faktor/besaran, yang menentukan

apakah cairn kental dalam suatu pipa bersifat laminer atau turbolen. Gabungan

keempat itu disebut bilangan Rynolds (NR).

vD
NR = 

 = rapat massa v = kecepatan rata-rata

D = diameter pipa  = viskositas

Bilangan Rynolds tidak bersatuan, dapat digunakan berbagai sistem satuan.

Dari percobaan didapat bahwa, apabila bilangan Rynolds di bawah 2000 aliran

bersifat laminer, apabila di atas 3000 aliran bersifat turbulen dan apabila antara 2000-

3000 aliran bersifat transisi, dapat berubah dari laminer ke turbulen atau sebaliknya.
81

8.8. ALIRAN FLUIDA KENTAL DI DALAM PIPA

Untuk fluida ideal (yang memenuhi persamaan Bernoulli ) berlaku:

P1 + ½  v12 +  g h1 = P2 + ½  v22 +  g h2

P1  P2 1
= (h2-h1) + 2 g (v2-v12)
g

Masing-masing suku pada persamaan ini disebut head. Suku sebelah kiri head

tekanan, suku pertama di sebelah kanan head ketinggian dan suku terakhir disebut

head kecepatan, Persamaan Bernoulli diturunkan atas dasar kerja total = perubahan

energi mekanik total. Sekarang kalau cairannya kental maka ada gaya gesekan dan

kerja melawan gaya gesekan ini tidak dapat diabaikan. Karena itu sebagian dari kerja

yang dilakukan untuk menggerakkan cairan digunakan untuk mengatasi kerja gaya

gesekan ini. Energi hilang karena gesekan ini disebut head hilang atau head gesekan.

Dalam hal kasus dimana fluida (cairan) kental mengalir dalam pipa yang penampang

lintangnya serba sama (v1 =v2 = v), diameter pipa D, panjang L maka kita lihat

apabila tanpa gesekan, perbedaan tekanan di ujung-ujung L hanya disebabkan beda

ketinggian, sedangkan dengan menghitungkan akibat gesekan (akibat cairan kental)

haruslah dimasukkan head gesekan.

P L v2
 f ……………………………………………………… (14)
o D 2g

Dengan v = kecepatan rata-rata

f = faktor gesekan dan faktor ini fungsi dari bilangan Reynolds

Head tekanan total antara titik (1) dan titik (2) menjadi:

P1  P2 L v2
= (h2-h1) + f …………………………………………. (15)
g D 2g

Untuk aliran laminer (NR < 2000) faktor gesekan diberikan oleh persamaan:

64
f= ……………………………………………………………… (16)
NR

Sedangkan untuk yang turbulen persoalan ini menjadi lebih sulit


82

8.9. HUKUM STOKE

Kalau aliran kental dengan aliran tunak melewati suatu bola atau bola

bergerak dalam fluida kental yang diam, maka bola itu akan mendapat gaya gesekan..

besarnya gaya gesekan menurut Sir George Stokes (yang kemudian disebut Hukum

Stokes) adalah :

Fgesekan = 6   r v …………………………………….. (17)

Persamaan (17) tersebut disebut Hukum Stokes

Dimana :  = viskositas

v = kecepatan relatif bola terhadap cairan

r = jari-jari bola

oleh karena itu bila bola pejal rapat massa , jari-jari r, dilepas dipermukaan

cairan kental yang diam yang rapat massanya o maka pada bola bekerja 3 macam

gaya, yaitu gaya berat, gaya desakan ke atas (gaya Archimedes) dan gaya Stokes.

Lihat gambar 8.10.

persamaan geraknya menjadi:

w – F s – Fa = m a

4 3 4 4
r g   3 g  G rv  r 3 a
w 3 3 3

a = percepatan, g = gravitasi

Gambar 8.10

Karena gaya Stokes berbanding lurus dengan kecepatan maka kecepatan bola akan

bertambah, dengan penambahan yang makin berkurang sehingga kecepatan tetap

(kecepatan terminal atau kecepatan akhir).

Persamaan gerak menjadi

4 4
 r 3  g  r 3  o g  6 r v akhir  0
3 3

2 r2g
Vakhir = (   o )
g 
83

8.10. HUKUM POISEUILLE

Hukum ini akan memperlihatkan besarnya debit (dicharge rate) suatu fluida

kental (cairan kental) yang mengalir di dalam tabung/pipa. Pandang cairan kental

yang viskositasnya , mengalir dalam pipa yang jari-jarinya R panjang L, untuk

silinder kecil berjari-jari r keadaannya dapat dipandang setimbang; artinya aliran di

silinder itu kecepatannya dipandang tetap, liat gambar 8.11

P2
Aliran

R r L dr
r
P1
(a) (b)

Gambar 8.11

Kalau ujung-ujung silinder tersebut, tekanan P1 dan P2 lihat gambar bagian (a) maka

gaya penggerak adalah :

(P1-P2) r2 ……………………………………………….. (18)

gaya gesekan pada dinding silinder karena cairan ini kental adalah

dv
F=-2rL , …………………………………………. (19)
dr

tanda (-) menyatakan makin besar r makin kecil v, karena sebanding maka (lihat

persamaan 18 dan 19)

dv
-rL = (P1-P2) r2
dr

dv  P1  P2  r
=-
dr 2 L

 P1  P2  r
dv = - dr , setelah diintegrasikan di dapat
2 L
84

 P1  P2 
v=- r 2 +C…………………………………………… (20)
4 L

karena cairan kental yang berbatasan dengan dinding diam ( r= R) kecepatannya sama

dengan kecepatan dinding yaitu sama dengan nol. R = r, v =0, dari persamaan (20)

didapat C:

 P1  P2   P1  P2 
0 =- R 2 +C  C = R2
4 L 4 L

subtitusikan lagi harga c ke dalam persamaan (20) didapat:

 P1  P2   P1  P2 
v=- r2 + R2
4 L 4 L

 P1  P2 
v= ( R 2  r 2 ) ………………………………………………. (21)
4 L

terlihat persamaan (21) ini bahwa v fungsi dari r2 atau fungsi parabola.

untuk mendapatkan debit Q perhatikan elemen berupa lapisan tipis dinding sillinder,

pada jarak r setebal dr. untuk lapisan ini debit dQ = v dA dengan dA = 2  r dr, lihat

gambar 8.11 (b)

dari persamaan (21) dan debit dQ = v dA maka didapat:

 P1  P2 
v = (R 2  r 2 )
4 L

 P1  P2 
dQ = v dA = v = ( R 2  r 2 ) 2  r dr
4 L

R R
 P1  P2 
Q   dU   ( R 2  r 2 ) 2  r dr
0 0
4 L

 P1  P2  R
 (R  r 2 ) r dr
2
=
4 L 0

 P1  P2  2
= { ½ R2 (R2-0) – ½ (R4-0)}
4 L

 P1  P2  2  R4 R4 
 
= 
4 L  2 4 
85

 R4
Q = 8 L (P1-P2)…………………………………………………….. (22)

Persamaan (22) disebut hukum Poiseuille.

Contoh-contoh soal

1. Sebuah tangki yang besar berisi air yang tinggi permukaannya 1,5 m dari dasar

tangki.

Pada dasar tangki terdapat pipa

C penyalur air yang luar

penampangnya 2 cm2 di bagian B

dan 1 cm2 di bagian A. tangki


1,5 m h
tersebut tertutup bagian atasnya

.B A dan di atas permukaan air

terdapat udara yang dimanpatkan

hingga mempunyai tekanan Pc. Banyaknya volume air yang keluar dari pipa A adalah

36 liter tiap menit.

Jika diketahui rapat massa air 1 gr/cm3 dan air dapat dianggap sebagai fluida yang

ideal, Pc dianggap konstan ditanyakan:

a) Hitung laju fluida di A (vA)

b) Hitung beda tekanan di c (Pc) dan tekanan udara luar

c) Hitung laju fluida di B (vB)

d) Hitung h.

Jawab

v 36 liter
a) Debit Q =  = 0,6 x 10-3 m3/detik
t menit

Q = vA . a ; a = luas penampang A

Q 0,6 x10 3
va =   vA = 6 m/detik
a 10  4
86

b) Pandang A dan C, menurut Bernoulli

Pc + ½ C +  g hc = PA + ½ vA2 +  g hA ;

Dengan Vc = 0 (tangki besar)

PC-PA = ½ vA2 +  g (hA-hC), ketinggian dari poros lewat A

PC-PA = ½ x 1000 x 36 + 1000 x (1,5)

PC-PA = PC-P0 = 3 x 103 Pa ( = 3. 103 N/m2)

Jadi tekanan lebih di dalam tangki (terhadap luar) = 3 x 103 Pa

c) vA a = vB b (luas penampang B

b
vb = vA = ½ x 6  vB = 3 m/detik
a

d) PA + ½  vA2 +  g hA = PB + ½  vB2 +  g hB, dengan hA = hB

PB-PA = ½  (vA2 - (vB2)


 g h = ½  (vA2-vB2)
2 2
PA = P0 v A  vB
h=
2g
PB = P0 +  g h 36  9
= = 1,35 m
20
PB-PA =  g h

2. Sebuah bola besi dilepaskan dengan kecepatan awal nol dari permukaan zat cair

glycerine. Bila diketahui:

Rapat massa glycerine  g = 1,3 gr cm-3

Rapat masa besi  b = 3 gr cm-3

Koefisien kekentalan (viskositas) glycerine = 8,3 poise

Percepatan gravitasi g = 1000 cm s-2

Jari-jari bola r = 0,2 cm

Hitunglah :

a) Percepatan awal ao dari bola besi


FA
b) Kecepatan terminal (akhir) dari bola besi

Jawab a)  F = m a

w – F A = m ao

w
87

b v g = g v g = b v a o

b  g
ao = g
b

8  1,3
ao = x1000
8

ao = 837,5 cm s-2

b)  F = 0  w – FA – Fs = 0  Fs = w - FA

Fs = b v g - g v g  6   r v = b v g - g v g

FA 4 3
6rv= r g g
3

FS 2r 2 g
v = (b   g )
g

2 x(0,2) 2 x1000
v = (8  1,3)
9 x8,3

v = 7,2 cm s-1
w
3. Air pada 20 oC mengalir dengan kecepatan rata-rata 50 cm/detik di dalam sebuah

pipa yang diameternya 3 mm air = 0,01 dyne detik/cm2

a) Berapakah bilangan Reynoldsnya

b) Bagaimana sifat alirannya

c) Berapakah faktor gesekannya

d) Berapa head gesekan kalau panjang pipa 100 cm.

Jawab

 v D 1x50 x 0,3
a) NR =   NR = 1500
 0,01

b) Karana NR = 15000 < 2000 maka alirannya bersifat laminer

64 64
c) Karena aliran laminer f = =  f = 0,043
NR 1500

P L v2 100 (50) 2
d) Head gesekan  f  0, 043 x x = 17,9 cm air
g D 2g` 0,3 2 x 1000
88
89

ELEKTRO STATIKA

9.1. HUKUM COULUMB

Coulomb (1784) melakukan penyelidikan secara kwantitatif tentang gaya-

gaya pada partikel bermuatan yang lain, dan mendapatkan bahwa gaya tarik-menarik

antara dua partikel bermuatan berbanding langsung dengan besar muatan dan

berbanding terbalik dengan kwadrat jarak antara kedua muatan tersebut.

Arah gaya seperti pada gambar 1.1

r
+ -
q1 q2 F2.1
F1..2
-
q1 q-2
F1..2 F2.1

q+
1
+
q2
F1..2 F1.2
Gambar 1.1.Gaya antara dua muatan listrik

F1.2 = gaya pada muatan titik 1 oleh muatan titik 2

F.2.1 = gaya pada muatan titik 2 oleh muatan titik 1

q1 = besar muatan titik satu

q2 = besar muatan titik dua

r = jarak antara muatan titik 1 dan muatan titik 2.

Jika hukum Coulomb dinyatakan dengan bentuk matematika maka dapat dituliskan:

q1 q 2
F1.2 = F2.1 = k ………………………………………………………… (10.1)
r2

F1.2 = besar gaya pada q1 yang disebabkan oleh q2 demikian pula pada F2.1

k = tetapan pembanding yang besarnya bergantung pada sistem satuan yang

dipergunakan.

Pada sistem CGS, gaya dalam dyne, jarak dalam cm, sedangkan muatan dalam stat-

Coulomb
90

dyne cm 2
k= 1
( stat  coulomb) 2

pada sistem MKS, gaya dinyatakan dalam Newton, jarak dalam meter sedangkan

muatan dalam Coulomb.

Newton m 2
k = 9 . 109
(Coulomb) 2

persamaan– persamaan listrik selanjutnya akan lebih sederhana jika digunakan sistem

MKS, karena itu persamaan-persamaan selanjutnya dalam buku ini tidak

menggunakan sistem CGS.

Untuk menghindari adanya faktor 4  persamaan-persamaan listrik yang

menggunakan Hukum Coulomb, didefinisikan tentang dielektrium, besaran ini

merupakan permitivitas hampa. Untuk sementara cukup dikenal tetapan seperti

halnya tetapan k. Besaran lain tersebut adalah o

1 Coulomb 2
o = 4 k = 8,85 10-2
Newton m 2

Untuk memecahkan problema-problema yang komplikasi, sangat banyak

gunanya jika Hukum Coulomb dinyatakan dengan notasi vektor. Untuk menyatakan

ini letak muatan titik dinyatakan dengan radius vektor r , gaya dengan vektor F ,

sedangkan vektor satuan dengan r (gambar 1.2)
91

F2.1 F2.1
+ +
q1 q2
r1
r2

Gambar 1.2. Posisi muatan dan gaya-gaya dalam notasi vektor



Vaktor satuan r 2.1 adalah vektor r 2.1, dibagi dengan vektor r2.1.Ditulis sebagai

berikut:

 r2.1 r2  r1
r 2.1 = 
r2.1 r2.1

Hukum Coulumb dengan notasi vektor adalah

1 q1 q 2
F2.1 = r2.1 ……………………………………… (10- 2)
4   o r21 2

Contoh

Sebuah uang sen tembaga mempunyai massa 3,1 gr. Uang sen tersebut netral secara

listrik, mengandung listrik positif dan listrik negatif sama banyaknya. Berapakah

besarnya q?. sebuah atom tembaga mempunyai muatan inti positif sebesar 4,6 x 10 -18

dan muatan elektron negatif yang sama besarnya.

Penyelesaian

Banyaknya atom tembaga di dalam sebuah uang sen (N) dicari dari perbandingan:

N m

No M'

dimana N0 adalah bilangan Avogardo, m adalah massa uang dan M adalah berat atom

tembaga. Dengan memecahkan untuk N, maka perbandingan ini menghasilkan

(6,0 x10 23 atom / mol )(3,1 g )


N= = 2,9 x 1022 atom
64 g / mol

muatan q adalah

q = (4,6 x10-18 C/atom) (2,9 x 1022 atom) = 1,3 x 105 C


92

9.2. KUAT MEDAN LISTRIK OLEH SATU MUATAN LISTRIK

Kuat medan listrik pada suatu titik dapat dihitung dengan menggunakan

Hukum Coulomb bila distribusi muatan yang menjadi sumber penyebab adalah

adanya medan listrik diketahui posisinya terhadap titik dimana kuat medan listriknya

akan dihitung. Misalnya muatan q1 sebagai sumber penyebab medan listrik, jarak dari

titik P adalah rp1, hingga dirumuskan.

 1 q q'
Fp  rp1
4   o r p1 2

Kuat medannya adalah



 Fp 1 q1
Ep   rˆp1 ……………………………………. (10.3)
q' 4 o r p1 2


Dimana r P.1 adalah vektor satuan dalam arah dari q dan p.

Pada dasarnya dalam perhitungan medan listrik, perlu ada muatan uji yang

diletakkan di sekitar muatan lain. Medan listrik merupakan medan gaya listrik,

sehingga medan listrik merupakan besaran vektor. Kuat medan listrik pada suatu titik

adalah gaya yang dialami oleh suatu satuan muatan titikk bila diletakkan pada titik

tersebut.

Seperti yang telah dikemukakan terdahulu, bahwa untuk menentukan kuat

medan listrik pada suatu titik, maka titik itu ditempatkan muatan pengetes q’ (muatan

uji) yang sedemikian kecilnya sehingga tidak mempengaruhi muatan sumber atau

muatan penyebab muatan listrik. Jika F adalah gaya yang dialami oleh muatan

pengetes q’, maka kuat medan listrik E, di titik dimana muatan q’ditempatkan adalah

 Fp
Ep  ………………………………………………………….. (10.40
q'

dalam satuan Newton/Coulomb


93

contoh

Berapakah besarnya sebuah medan listrik E supaya sebuah elektron yang ditempatkan

di dalam medan tersebut akan mengalami sebuah gaya listrik yang sama dengan

beratnya?

Penyelesaian

Dengan menggantikan qo dengan e dan F dengan mg, dimana m adalah massa

elektron, maka.

F mg
E= 
qo e

(9,1x10 31 kg ) (9,8 m / s 2 )


=
1,6 x10 19 C

= 5,6 x10-11 N/C

9.3. KUAT MEDAN LISTRIK OLEH n MUATAN LISTRIK

Kuat medan listrik di P yang jaraknya dari muatan q1, q2, q3, …. qn berturut-

turut adalah rp1, rp2, rp3, . . . rpn dapat dihitung dengan jumlah atau menjumlah secara

vektor kuat medan listrik oleh masing-masing muatan.

 1 q1
Ep  r p1
4  o r 2 p1

 1 n
q1 ( x  x1 )i
Ep 
4  o  (x  x )
1
2
 ( y  y1 ) 2  ( z  z1 ) 2 3 / 2
+
1

n
q1 ( y  y1 ) j
 (x  x )
1
2
 ( y  y1 ) 2  ( z  z 1 ) 2 3 / 2
+
1

n
q1 ( y  y 1 ) k
 (x  x )
1
2
 ( y  y1 ) 2  ( z  z 1 ) 2 3 / 2
1
94

9.3.1 Garis-garis Medan Listrik

Dari definisi medan listrik dapat dibayangkan terdapatnya anak panah kecil

atau vektor-vektor di dalam ruang sekitar muatan-muatan listrik. Setiap anak panah

atau vektor mewakili secara serentak besar dan arah medan listrik di titik dalam

ruang. Makin jauh letak titik medan dari muatan sumber maka makin pendek anak

panah yang mewakili medan listrik di tempat tersebut (gambar 1.3)

Gambar 1.3. Garis-garis medan listrik

Cara penggambaran medan listrik di atas dianggap kurang praktis sehingga Faraday

mengusulkan cara baru yaitu menampilkan medan listrik sebagai garis-garis medan

listrik yang mempunyai sifat-sifat pokok sebagai berikut:

(1) Garis-garis medan listrik memencar dari muatan positif dan berakhir pada muatan

negatif

(2) Arah vektor medan listrik E disebut titik dalam ruang garis dengan garis singgung

yang ditarik melalui titik positif dan negatif dari muatan itu.

Sebagai contoh garis-garis medan Faraday untuk jenis muatan positif dan negatif.

Gambar 1.4. yang diletakkan secara terpisah.

+ -

Gambar 1.4. Garis-garis medan listrik untuk dua muatan yang berbeda diletakkan
terpisah
95

+ i +q +q
q q2 1 2
Gbr. 1.5a1 q1 dan q2 Berlawanan Gbr. 1.5a q1 dan q2 tandanya sama
Tanda

Oleh karena besarnya medan listrik berbanding lurus dengan muatan sumber

maka jumlah garis gaya yang dipancarkan oleh muatan tersebut juga sebanding

dengan muatan tersebut. Biasanya diperjanjikan sebagai berikut: Jumlah garis-garis

medan yang dipancarkan oleh muatan q adalah q/o sehingga jumlah garis-garis

medan yang dipancarkan oleh muatan 1C adalah 1/ o = 1,13 x 1011. Dengan

demikian besarnya medan listrik secara numeric sama dengan jumlah garis-garis

medan yang dilingkupi oleh satu satuan luas medan bidang.

9.3.2 Fluks Listrik

Sebagai contoh ditinjau bidang seluas A yang berada di dalam daerah

bermedan listrik seragam E (gambar 1.6).

Medan listrik ini membentuk sudut  dengan bidang tersebut, yang berarti bahwa

vektor medan listrik mempunyai komponen tengensial E yang sejajar dengan

bidang dan komponen normal E n = E yang tegak lurus pada bidang. Fluks listrik

() yang menembus bidang tersebut didefinisikan sebagai hasil kali antara luas

bidang komponen normal E n =

= En . A = ( E cos ) A .. ……………………………………. (10.5)


E

A
(A1) En
E

Gbr. 1.6. Medan listrik yang menembus permukaan dengan luasan A


96

Besaran A cos  di dalam ungkapan persamaan 10.56 dapat diartikan sebagai

proyeksi bidang luasan A pada bidang yang tegak lurus dengan medan listrik E.

Dengan demikian bidang seluas A cos  dapat diperkirakan sebagai bagian dari

bidang A yang secara efektif ditembus oleh garis-garis medan listrik. jadi, fluks

listrik yang menembus suatu bidang sama dengan jumlah garis-garis medan-medan

listrik yang menembus bidang tersebut, dinyatakan dalam satuan Nm2/C.

Selanjutnya bila unsur luas Ai dibuat cukup kecil (Ai  0) maka akhirnya

diperoleh fluks listrik total yang sama dengan jumlah garis-garis listrik yang

menembus permukaan tersebut, yaitu:

=  En dA =  E cos  dA …………………………………………. (10.6)

contoh

sebuah muatan titik sebesar 2x10-8 C diletakkan dipusat suatu kubus dengan rusuk

8 cm. Hitunglah besarnya nilai rerata medan listrik En di salah satu sisi kubus

tersebut:

Pembahasan :

Oleh karena setiap 1C memancarkan garis-garis medan listrik sebanyak 1/o =

1,13 x1011 maka fluks total yang menembus keenam sisi kubus adalah 2 x 10-8 x

(1,13 x1011 ) Nm2/C. bila dianggap bahwa garis-garis medan tersebut memancar dari

muatan titik secara merata ke seluruh ruang maka setiap sisi kubus akan ditembus

oleh fluks listrik sebesar:

1
= x 2.10-8 x (1,13.1011) Nm2/C
6

Bila luas setiap sisi kubus adalah A = (8. 10 -2 m)2 = 64. 10-4 m2 maka besarnya nilai

reratanya medan listrik En adalah :

 2.10 8 x(1,13.1011 ) Nm 2 / C
En = 
A 6 x(6,4.10  3 ) m 2

En = 5,9.104 N/C
97

9.4. HUKUM GAUSS DAN PENERAPANNYA

Di dalam uraian sebelumnya telah ditunjukkan bahwa muatan titik q yang

berada di dalam suatu permukaan tertutup akan menghasilkan fluks listrik sebesar

q/o yang menembus permukaan tersebut sembarang pula yang dinamakan hukum

Gauss atau hukum utama Elektrostatika, yang dijabarkan sebagai berikut:

Fluks listrik yang menembus suatu permukaan tertutup sembarang A yang

menembus (yang membungkus) muatan total Q angihan muatan-muatan titik

atau angihan kontinu adalah

= À
E cos  dA = Q/ o ……………………………… (10.7)

Permukaan tertutup A dinamakan permukaan Gauss

Dari ungkapan persamaan (10.7) di antara lain dapat disimpulkan bahwa besarnya

fluks  hanya bergantung pada jumlah aljabar muatan-muatan listrik yang dibungkus

oleh permukaan hukum Gauss A dan hal ini mudah dikerjakan. Selanjutnya bila dapat

dipilih permukaan hukum Gauss dalam bentuk tertentu sedemikian rupa sehingga

vektor medan listrik E hanya dapat sejajar dengan A atau hanya tegak lurus dengan

pengintegralan di atas dapat dengan mudah diselesaikan. Oleh karena hanya cos  =

1 yang memberikan   0 dan besar medan E tetap disetiap titik pada permukaan A

yang telah dipilih tersebut maka ungkapan persamaan (10.7) memberikan.

Q
E  dA = EA=  o
atau

Q
E = …………………………………… (10.8)
A o

Dengan demikian penerapan Hukum Gauss yang terpenting adalah bahwa ia dapat

digunakan untuk menentukan besarnya medan E di sekitar suatu angihan muatan Q

menurut ungkapan persamaan (10.8) di atas, asalkan dapat dipilih permukaan Gauss

yang membuat pengintegralan  En dA mudah dikerjakan setelah memanfaatkan


sifat simetri yang ditampilkan oleh medan listrik yang dicari.
98

Contoh

Carilah besar medan listrik yang dibangkitkan oleh muatan-muatan titik q’ di tempat

sejauh r dengan menggunakan Hukum Gauss serta tunjukkan bahwa Hukum

Coulomb dapat dijabarkan dari Hukum Gauss!

Jawab

Oleh karena muatan titik bersifat simetri bola, maka medan listrik yang dibangkitkan

juga bersifat bola. Luas permukaan Gauss A = 4  r2. Dari persamaan (10.8)

memberikan besarnya medan listrik yang dibangkitkan oleh muatan listrik titik q’,

yaitu:

Q 1 q'
E(r) =
A o A o r2
Sedangkan E = F/q ………………… definisi medan
Maka :
1 q' q 
Eq = r *)
A o r2

Contoh

Suatu bola isolator, radiusnya R, muatan isoalator serba sama dengan rapat muatan.

Hitunglah kuat medan listrik disuatu titik a dan b yang jaraknya dari pusat bola

berturut-turut ra dan rb, dimana titik a terdapat dalam bola, sedangkan titik b terdapat

di luar bola.

Penyelesaian

Dibuat bidang Gauss radius ra kuat

medan listrik pada setiap titik pada

bidang Gauss sama, sehingga persamaan

Gauss menjadi :

Gbr 1.7. Bola isolator bermuatan serba sama


Ea  d A = o  dV
99

 4
Ea . 4  ra2 =   ra3
o 3


Ea = ra
3 o

Selanjutnya dibuat bidang Gauss dengan radius rb, kuat medan listrik pada setiap

permukaan bidang Gauss sama besarnya, sehingga Hukum Gauss menjadi:


Eb  d A = o  dV

 4
Eb . 4  rb2 =  R
o 3

 R3
Eb = 3 o rb
2

 4 R 3 q

= 3 o 4 rb 4 o rb
2 2

Jadi kuat medan listrik di luar bola seperti seolah-olah seluruh muatan terpengaruh

pada pusat bola.

Soal Latihan

1. Silinder sangat panjang dengan radius R, panjangnya L.. Hitunglah kuat medan

listrik pada jarak r dari sumbu silinder (r > R), jika muatan silinder adalah Q.

2. Andaikan kita mempunyai suatu pelat tipis tak hingga besarnya, dengan muatan

listrik yang tersebar serba sama. Pada jarak 1 m di sebelah kanan pelat diukur

kuat medan sebesar 10 V/m. Tentukan F pada sebuah a pada jarak 2 m dari pelat.

Dan tentukan pula muatan listrik pada bagian pelat seluas 20 cm2.
100

9.5. POTENSIAL LISTRIK

9.5.1 Integral Garis Kuat Medan listrik

Kuat medan listrik merupakan besaran vektor, sehingga integral garisnya

merupakan integral vektor. Integral garis kuat medan dapat mengalihkan kuat medan

listrik kearah lintasan dengan elemen panjang lintasan dan mengintegralkan

sepanjang lintasan yang diinginkan. Berikut ini ditinjau integral garis kuat medan

listrik yang diakibatkan oleh muatan listrik seperti pada gambar 1.7.
E

p b
ds

a
` + Q

Gbr. 1.7. Integral garis kuat medan listrik oleh muatan titik Q

Jika E cos  adalah besarnya komponen kuat medan listrik kearah lintasan di P,

maka integral garis kuat medan listrik dari a ke b adalah:

b
E . ds = E cos  ds
a

b
q
= 
a
4 o r 2
cos  ds

karena ds merupakan elemen lintasan yang tak berhingga kecil, maka elemen ds

dianggap garis lurus (Gbr. 1.8).


q’ a
b
q’
ds

a r
r+dr

+Q

Gbr. 1.8. Hubungan antara s dan r


101

Dari gambar tersebut jelas ds cos  = dr, sehingga persamaan di atas, dapat ditulis

menjadi :

b b
Q Q 1 1

a
E cos  ds = 
a
4 o r 2 dr, =
4 o
  
 ra rb 

Terlihat dari persamaan di atas bahwa integral garis dari kuat medan listrik dari a ke

b tidak bergantung pada lintasannya, melainkan hanya tergantung pada keadaan awal

dan keadaan akhirnya saja. Besaran medan yang bersifat demikian dinamakan Medan

Konservatif.

Dengan kata lain, medan konservatif adalah medan yang integral garisnya sepanjang

lintasan tertutup sembarang sama dengan nol, dan secara matematika dituliskan:

 E cos  ds = 0 ………………………………………. (10.10)

Selanjutnya bila medan E bervariasi arah atau besarnya sama maka usahanya yang

dilakukan oleh medan E membawa muatan q sejauh ds.

dW = F . ds = q E . ds

sehingga besarnya usaha total yang diperlukan untuk menggeser muatan tersebut dari

titik a ke titik b adalah :

W (AB) =q 
a
E . ds

=q 
a
(Ex dx + Ey dy + Ez dz ) ……………… (10.11)

sehingga pada akhirnya karena besarnya usaha di atas persatuan muatan uji positif

sama dengan negatif dari beda potensial maka diperoleh :

V (A) = V(B) = - 
A
E . ds ………………………………. (10.12)

Yang berarti bahwa bila E telah diketahui maka beda potensialnya antara kedua titik

A dan B dapat ditentukan melalui ungkapan (10.12) di atas.


102

Satuan untuk beda potensial adalah volt (V), dengan catatan 1 volt = 1V = 1

Joule/Coulomb = 1 J/C.

Sehingga satuan untuk medan listrik dapat pula dinyatakan dengan satuan baru

pengganti N/C, yaitu:

1 N/C = 1 Nm/C =1 J/C m = 1 Volt/meter

Selanjutnya dengan mengganti B = B dan A = Ao maka ungkapan (10.12) dapat

dituliskan dalam bentuk:

V(B) = - 
Ao
E.ds + V(A0) ……………………………………………….. (10.13)

Pernyataan (10.13) ini dapat diartikan sebagai persamaan yang menyatakan besarnya

potensial listrik disuatu titik sembarang B ataupun A relatif terhadap titik acuan Ao

atau Bo jika titik A yang ditinjau. Sebagai contoh ingin ditentukan beda potensial

antara titik A dengan B diperoleh:

V(A) = - 
Bo
E ds + V(Bo)

V(B) = - 
Ao
E ds + V(Ao)

Sehingga

A B

V(A) – V(B) = - 
Ao
E ds + 
Bo
E ds + V(Ao) – V(Bo)

Atau
Ao Ao Ao

V(A) – V(B) = - 
Bo
E ds - 
Bo
E ds = 
Bo
E ds ………………….. (10.14)

Ungkapan (10.14) memperlihatkan bahwa V(Ao) telah lenyap sehingga tetapan

tersebut tidak mempunyai arti fisis yang penting.

Dengan demkian dapat dipilih letak Ao sedemikian sehingga

V(A) = 0 untuk Ao ~ ………………………………………. (10.15)

Dan ungkapan (10.15) berubah menjadi


103

V(B) = -  E . ds
~
…………………………………………………… (10.16)

Contoh

Tentukan besarnya potensial listrik di tempat sejauh z dari suatu bidang konduktor

yang sangat luas yang membawa rapat muatan konstan  . Anggaplah bahwa bidang

tersebut berpotensial nol.


z Bila Ao adalah titik pada bidang

konduktor maka V(Ao)= 0 karena


y

+ + + +
+ + + +  o
Ex = Ey = 0 dan Ez = E

x
(konstan) maka:

V(B) = V(z) = - (Ex dx +Ey dy +Ez dz)

Atau

z
 z
  
V(z) = - 
z 0
E z dz  
 o  dz
0
= 
 o
 z = -E . z

9.5.2 Perhitungan Potensial Elektrostatik

Sebagai contoh pertama akan ditentukan potensial listrik di sekitar muatan

sumber q’ dengan menggunakan persamaan 10.13:

V(B) = V(r) =  E . ds
Ao
+ V(Ao) …………………………… (10.17)

dengan r adalah jarak titik B dari muatan sumber, lihat gambar (1.10) dan
Ao
(1) P 1 q'
(2) E(r) = rˆ *)
4  o r2
ro
r
*) …………………………. (10.18)

q’
Gbr 1.10 menentukan letak Ao pada muatan q
104

Oleh karena itu integral di dalam ungkapan (10.17) tidak bergantung pada bentuk

lintasan maka dapat dipilih:

Lintasan Ao B seperti tampak dalam gambar 1.10 : dan untuk lintasan (2)

berlaku E . ds = 0 karena r = ds, untuk lintasan (1) berlaku :

1 q'
E . ds = ( rˆ . ds )
4  o r2

1 q'
= ( dr )
4  o r2

Dengan demikian dapat dituliskan sebagai berikut :

1 q'
V(r) = ( dr ) + V (Ao)
4  o r2

q 1 1 
=    + V (Ao)…………………………………….. (10.19)
4  o  r ro 

Selanjutnya sebagai titik acuan dipilih ro ----- sehingga V(A) = 0. Dengan demikian

besarnya potensial listrik ditempat sejauh r muatan sumber q adalah

1 q'
V(r) = …………………………………………………. (10.20)
4  o r

Akhirnya besarnya tenaga potensial dari muatan q yang berada dalam pengaruh

medan listrik dari muatan sumber q’ adalah :

1 q q'
U(r) = q V(r) = …………………………………………(10.21)
4  o r

Sehingga besarnya gaya listrik yang bekerja antara q dengan q’ adalah

dU 1 q q'
F(r) = - = …………………………………………. (10.22)
dr 4  o r2

Yang tidak lain adalah merupakan gaya Coulomb.

Soal

1. Dua buah muatan titik positif, masing-masing dengan besar q, diletakkan pada

sumbu y di titik-titik y = + a dan y = - a

Tentukan :
105

a. Potensial listrik di titik asal (0,0)

b. Potensial listrik di titik sembarang pada sumbu x

c. Besarnya x agar potensial listrik di titik tersebut sama dengan ½ kali potensial

listrik di (0,0)

d. Sketsa grafik yang menyatakan hubungan antara potensial dalam soal b

dengan x untuk –5a  X  5a

9.6. KAPASITOR DAN DIELEKTRIKUM

Seperti telah diketahui, muatan listrik Q yang menempati suatu konduktor

sembarang akan membangkitkan medan listrik E yang besarnya berbanding lurus

dengan jumlah muatan tersebut, dan medan listrik ini memberikan potensial listrik V

yang berbanding lurus dengan kuat medan listrik. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa besarnya muatan Q yang dapat disimpang suatu konduktor

berbanding lurus dengan besar potensial listrik konduktor tersebut. Hubungan linear

ini dituliskan dalam bentuk

Q = C V …………………………………………………. (10.23)

dengan C adalah tetapan kesebandingan yang dinilai numeriknya semata-mata

bergantung pada sifat geometrik (ukuran, bentuk konduktor tersebut).Tetapan C ini

dinamakan kapasitansi konduktor.

Semakin besar kemampuan suatu konduktor menampang muatan listrik pada

potensial rendah maka semakin besar kapasitansinya (C). Setiap konduktor yang

mengikuti karakteristik diatas dinamakan kondensator atau kapasitor.

Satuan C masih bergantung pada satuan yang digunakan untuk mengukur Q dan V. Di

dalam SI, Q dan V masing-masing dinyatakan dalam coulomb dan volt sehingga

satuan kapasitor adalah farad (F) dengan

1 Farad = 1 F = 1 coulomb/volt
106

Di dalam praktek (industri elektronika) satuan farad untuk kapasitansi dianggap

terlalu besar sehingga lebih disukai menggunakan satuan-satuan microfarad (F) dan

pikofarad (pF) dengan 1 F = 10-6 F dan 1 pF = 10-12 F. Selanjutnya oleh karena

F = 1 C/V = 1 C2/Nm maka tetapan permitivitas o dapat dituliskan sebagai

o = 8,85 x 10-12 C2/Nm2 = 8,85 x 10-12 F/m

Kapasitor di dalam suatu rangkaian elektronik ditampilkan dengan simbol

Dua garis sejajar di dalam simbol tersebut menyatakan konduktor-konduktor, dan dua

garis yang menghubungkannya menyatakan hubungan listrik dengan konduktor-

konduktor di atas.

Sebuah bola logam terisolasi yang berjari-jari merupakan suatu kapasitor

yang sederhana. Bila besar muatan listrik yang dapat ditampung oleh konduktor

tersebut adalah Q maka bola akan berpotensial listrik sebesar

1 Q
V= ……………………………………………… (10.24)
4  o a

Sehingga besarnya kapasitansi dari bola konduktor adalah

Q Q
C= = 4 o a ……………………………. (10.25)
V ( 4   o ) (Q / a )

yang menunjukkan bahwa kemampuan bola konduktor menyimpan muatan akan

meningkatkan dengan membesarnya jari-jari bola.

Contoh

Unsur aluminium mempunyai rapat massa 2,7 gr/cm3, nomor atom 13 dan berat atom

27. Bandingkanlah besar muatan listrik total dari elektron-elektron di dalam 1 cm 3

unsur Al tersebut dengan besar muatan listrik yang menempati suatu kapasitor 1 F

yang bekerja pada potensial 1000 V. Muatan yang menempati kapasitor adalah :

Jawab:

Jadi besar muatan yang menempati kapasitor adalah:

Q = C.V = (1F) (1000 V) = 1000 coulomb


107

Oleh karena rapat massa Al adalah 2,7 gr/cm 3 maka 1 cm3 Al akan bermassa 2,7 gr.

Selanjutnya dengan berat atom 27 maka setiap 1 cm3 Al mengandung 0,1 mol atau

6,02 x 1022 cacah atom. Setiap atom memiliki 13 elektron sehingga di dalam 1 cm 3 Al

terdapat 13 x 6,02 x 1022 cacah elektron. Akhirnya karena tiap elektron bermuatan

1,60 x 10-19 C, maka muatan total elektron-elektron di dalam 1 cm3 Al adalah :

QAl = 13 x 6,02 x 1022 x (1,6 x 10-19 coulomb)

atau 125 kali jumlah muatan yang dapat ditampung oleh kapasitor di atas.

Contoh hitunglah kapasitor bumi (bumi sebagai kapasitor) bila ia dapat dianggap,

sebagai suatu bola konduktor berjari-jari a = 6,4 x 106 m.

Jawab

Subtitusi nilai a ke dalam persamaan (10.25) akan memberikan harga

C = 4 oa = 4  (8,85 x 10-12 F/m) (6,4 x 106)

= 7,1 x 10-4 F

Sehingga hubungan linier antara V dan Q diberikan oleh V = 1,4 x 103 C

(V dalam Volt dan Q dalam Coulomb)

yang menunjukkan bahwa diperlukan muatan listrik sekitar 10-3 Coulomb. Salah satu

jenis kapasitor yang banyak dijumpai adalah kapasitor dari dua keping logam sejajar.

Dua keping logam dengan luas A sama besar dan terpisah sejauh d bermuatan sama

besar tetapi berlawanan jenis/tanda, yaitu +Q pada salah satu keping dan –Q pada

keping yang lain (seperti pada gambar 1.11).

A
-Q

d + + + + +
+ + + + + +
+ + + + + + +Q

Gambar 1.11. Sebuah kapasitor plat sejajar


108

Bila medan listrik pada kedua tepi kapasitor diabaikan, maka medan listrik diantara

kedua keping tersebut dapat dianggap seragam asalkan jarak keduanya cukup dekat

luas dan luas masing-masing keping tersebut cukup besar. Dan besarnya medan listrik

seragam adalah :

 Q
E= = ……………………………………… (10.26)
 o  oA

dan besarnya beda potensial listrik kedua keping adalah

Qd
V=Ed = ……………………………………….. (10.27)
 oA

Dengan demikian besarnya kapasitansi kapasitor tersebut adalah

Q Q  A
  o
C = V Qd d ………………………….. (10.28)
oA

yang menunjukkan bahwa memperbesar jumlah listrik yang dapat ditampung oleh

kapasitor pada beda potensial rendah diperlukan luas keping yang cukup besar dan

jarak antara kedua keping cukup dekat.

9.6.1 Kapasitor Tersusun Seri dan Paralel

Di dalam sistem-sistem elektronik beberapa kapasitor biasanya

dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan kawat-kawat konduktor.

Bahkan suatu kombinasi dari kapasitor dapat diukur dengan suatu kapasitor

tunggal yang serta tanpa mengubah watak sistem semula dan cara yang paling

sederhana untuk menghubungkan atau menggabungkan beberapa kapasitor

baik secara seri maupun paralel.

Pertama-tama kita tinjau hubungan paralel seperti pada gambar 1.12. Bila

sejumlah muatan listrik diberikan kepada kombinasi tersebut melalui kedua

terminalnya maka sebagian muatan akan tersimpan di kapasitor kedua.

selanjutnya karena keping di atas dan keping di bawah dihubungkan dengan


109

kawat konduktor, maka ia akan berpotensial sama, demikian juga dengan beda

potensialnya

Q1 Q2
V  , V  ………………………….. (10.29)
C1 C2

Dengan demikian, besar muatan listrik dari muatan kombinasi kedua kapasitor

adalah :

Q = Q1 + Q2 = C1 V + C2 V

= (C1 + C2) V

yang menunjukkan bahawa kombinasi kedua kapasitor dapat digantikan atau

ditukar dengan kapasitor tunggal yang mempunyai kapasitansi sebesar

C = C 1 + C2 ………………………………………………………………. (10.30)

Akhirnya bila kapasitor-kapasitor C1, C2, C3, ……. Cn dihubungkan secara

paralel (gambar 1.13) maka dengan mudah dapat ditunjukkan bahwa besarnya

kapasitansi kapasitor tunggal yang setara dengan kombinasi di atas adalah :

C = C1 + C2 + C3 + …. + Cn …………………………. (10.32)

C1 C2 C1 C2 C3 Cn

Gbr . 1.12. Paralel Gbr. 1.13 Susunan Paralel

Selanjutnya bila ditinjau dua buah kapasitor yang dihubungkan secara

seri (gambar 1.14) sejumlah muatan listrik yang diberikan kepada kombinasi

tersebut muatan listrik yang diberikan kepada kombinasi tersebut melalui

kedua terminal luar. Interaksi elektromagnetik dan gejala imbas listrik

menghasilkan konvigurasi muatan-muatan pada kedua kapasitor tersebut


110

seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.15. Beda potensial adalah untuk

masing-masing “C”.

Q Q
V1 = C , V2 = C …………………….. (10.33)
1 2

yang menunjukkan bahwa kombinasi kedua kapasitor secara seri di atas dapat

ditukar dengan kapasitor tunggal yang mempunyai kapasitansi C dengan

1 1 1
  ……………………………………….. (10.34)
C C1 C 2

Akhirnya bila sejumlah kapasitor C1, C2, C3, …. Cn dihubungkan secara seri

(gambar 1.15) maka dengan mudah dapat dilanjutkan/ditunjukkan bahwa

besarnya kapasitansi kapasitor tunggal yang setara dengan kombinasi tersebut

adalah.

1 1 1 1 1
    ....  …………………………. (10.35)
C C1 C 2 C 3 Cn

-Q C2
+Q

C1 C2 C1 Cn
-Q C1
+Q

Gbr 1.14 Gbr. 1.15. C tersusun seri

9.6.2 Dielektrikum

Dielektrikum adalah bahan yang tidak mempunyai elektron bebas. Jika

suatu dielektrikum tidak dipengaruhi medan listrik, muatan positif dan negatif

tidak terpisah (gambar 1.16a).

Jika suatu dielektrikum dipengaruhi medan listrik, maka muatan negatif dalam

dielektrikum akan ditarik kearah yang bertegangan dengan arah medan listrik,
111

sedangkan muatan positif akan ditarik ke arah yang searah dengan arah medan

listrik. (Gambar 1.6b).

Pengaruh muatan positif dan muatan negatif di dalam dielektrikum saling

menetralkan, sehingga yang berpengaruh hanya muatan yang terdapat di

pinggir dielektrikum.

Dikatakan jika suatu dielektrikum dipengaruhi medan listrik maka di pinggir

dielektrikum tersebut akan terdapat muatan induksi

     +      -
+ + -
     +      -
+ + - + + -
          -
+ + -
     +      -
+ + -

(a) (b) (c)

Gbr. 1.16. Dielektrikum dalam medan magnet

Dengan adanya muatan induksi pada tepi-tepi dielektrikum, maka kuat medan

listrik dalam dielektrikum menjadi lebih kecil, jika dibandingkan dengan kuat

medan listrik tanpa dielektrikum, karena muatan induksi mengakibatkan

medan listrik kearah yang bertentangan dengan medan listrik muatan asli.

Misalnya rapat muatan asli , sedangkan rapat muatan induksi i, maka kuat

medan listrik dalam dielektrikum di antara dua lempeng yang bermuatan

berlawanan adalah:

 
E=  1 ………………………………….. (10.36)
o o

Besarnya muatan induksi bergantung pada besarnya kuat medan listrik yang

mempengaruhinya, rapat muatan induksi berbanding langsung dengan kuat

medan listrik yang mempengaruhinya.

i =  . E ……………………………………. (10.36)
112

Tetapan perbandingan ini dinamakan Suseptibilitas Listrik dielektrikum. Jika

a suseptibilitas listrik dielektrikum a,  b suseptibilitas listrik dielektrikum b

dan jika dikatakan a > b, maka oleh pengaruh medan listrik yang sama σia >

σib. Dengan kata lain suatu dielektrikum yang suseptibilitasnya besar mudah

dinduksikan muatan listrik.

 E
E=  
o o

E 
E+ 
o  o

 
E(1+ )=
 o  o

Didefinisikan tetepan dielektrikum ke


ke = 1 + ……………………………………………… (10.38)
 o


maka E =
 o ke

Didefinisikan permitivitas dielektrikum,

 = o ke ………………………………………………… (10.39)


Maka E= ………………………………………………… (10.40)

Jadi kuat medan listrik dalam dielektrikum sama dengan kuat medan listrik

dalam hampa dengan mengganti o dengan 

Contoh

Dua lempeng sejajar luas masing-masing 1 cm2, jaraknya 2 mm diantaranya

diberi dielektrikum dengan tetapan 5. Kedua lempeng diberi muatan yang

berlawanan sebesar 10-10 C.

Tentukan : a. Kapasistas sistem

b. Kuat medan listrik total dalam dielektrikum

c. Rapat muatan induksi


113

d. Kuat medan listrik oleh muatan induksi

Penyelesaian

A A o ke
a. C = =
d d

10 4 . 8,85 x10 12 x 5


C = = 2,3 10-12 F
2 x 10 3

 q
b. E = =
 A o k e

10 10
= = 2,3 104 N/C
10  4.8,85 x10 12 x5

c. i =  E


1+ = ke  = (ke –1) o
o

 = 4 x8,85 x 10-12 = 3,54 x 10-11

i = (3,54 x 10-11) (2,3 x104) = 8, 14 x 10-7 N/m2

 q
d. Eo = 
 o A o

10 10
=
10  4.8,85 x10 12

= 1,13 x 105 /C

i
Ei =
o

8,14 x10 7
=
8,85 x10 12

= 0,91977 x 105 N/C

Soal

Sebuah kapasitor yang kapasitansinya 100 pF dimuati sampai terjadi perbedaan

potensial sebesar 50 V, dan baterai pemuat kemudian diputus sambungannya.

Kapasitor tersebut kemudian dihubungkan sejajar dengan sebuah kapasitor


114

kedua (yang mula-mula tak bermuatan). Jika perbedaan potensial yang diukur

turun menjadi 35 V, berapakah kapasitansi dari kapasitor kedua itu?


115

ARUS LISTRIK

10.1 ARUS LISTRIK DAN KERAPATAN ARUS

Dalam konduktor logam elektron-elektron bebas begerak kesegala arah

secara sembarang. Dalam elektrolit pembawa muatan listrik adalah ion-ion

positif dan negatif. Bila di dalam konduktor terdapat medan listrik, maka

gerakan muatan-muatan listrik yang sembarang itu akan terarah, yaitu muatan

positif bergerak searah medan listrik sedang muatan negatif melawan arah

medan, dan terjadi arus listrik.

Arah arus listrik diperjanjikan sebagai arah gerak muatan positif. Jika

pada suatu penampang konduktor lewat muatan positif 10 C ke kanan dan

muatan negatif 20 C ke kiri, maka dikatakan pada penampang tersebut lewat

muatan positif sebesar 30 Coulomb ke kanan.

Perhatikan suatu konduktor dengan luas penampang A. Bila dalam selang waktu

dt lewat muatan positif dq adalah besar muatan total yang terdapat di dalam

tabung A v dt, dengan v adalah kecepatan rata-rata partikel pembawa, muatan.

(Lihat gambar 10.1)

i v dt
A
v + v v + v
+ +
+ +
+ v + v + v + v +

Gbr . 10.1 Suatu konduktor yang dilewati arus dalam suatu medan magnet
116

Bila jumlah partikel persatuan volume dan muatan tiap-tiap partikel q maka

dQ = a . v dt n . q

Kuat arus i yang didefinisikan sebagai jumlah muatan positif yang lewat

penampang dalam satu satuan waktu, adalah

dQ
i = = Avnq ………………………………….. (10.1)
dt

Bila satuan muatan adalah Coulomb, dan waktu adalah detik, maka satuan arus

listrik disebut ampere. Kalau muatan yang lewat terdiri dari bermacam-macam

partikel dengan jumlah partikel persatuan volume, kecepatan dan muatan yang

berlawanan maka

dQ = A dt (n1v1 q1 + n1v1 q1 + . . . .) dan

dQ
i = = A  n1v1 q1 …………………………….. (10.2)
dt

Rapat arus J didefinisikan sebagai kuat arus i dibagi luas penampang A, yaitu:

i
J= ……………………………………………….. (10.3)
A

Contoh

Suatu kawat aluminium yang diameternya 0,2 cm disambung dengan kawat

tembaga yang diameternya 0,6 cm. Arus listrik 10 ampere lewat kawat

aluminium. Berapakah besar arus listrik yang lewat pada kawat tembaga? Dan

berapa kerapatan arus listrik di tiap-tiap kawat?

Jawab : Arus listrik yang lewat kawat tembaga sama dengan yang lewat kawat

aluminium, yaitu 10 ampere. Arus listrik lewat secara uniform di

dalam setiap kawat kecuali pada sambungan.

Kerapatan arus di dalam kawat tembaga:

i 10 ampere
JCu = =
A  x (0,3) 2 cm 2

Kerapatan arus di dalam kawat aluminium


117

i 10 ampere
JAl = =
A  x (0,1) 2 cm 2

Fakta bahwa kawat terdiri dari bahan yang berlainan tidak menjadi soal disini.

1.1 Konduktivitas dan Resitivitas

Untuk membedakan sifat penghantaran arus listrik dari bahan-bahan,

didefinisikan pengertian Konduktivitas listrik sebagai perbandingan antara

rapat arus J dengan kuat medan listrik E yang menimbulkan arus I yaitu:

J
 …………………………………………. (10.4)
E

dV i dV
karena E = - , maka J = =  = (- )
dx A dx

atau

dV
i =-A ……………………………………………. (10.5)
dx

untuk suatu kawat yang panjang L dengan beda potensial antara ujung

kawat Vab dan  konstan, maka

L b

i =  dx =- A 
0
 dV
a

iL = - A  (Vb –Va) , atau

L
Vab = Va – Vb = i
A

L
Karena disebut tahanna listrik dari kawat tersebut, dan diberi notasi
A

R, jadi

L
R= ……………………………………………… (10.6)
A

Dan Vab = IR …………………………………………………… (10.7)

Bila arus I dalam ampere, beda potensial V dalam volt, maka tahanan R

dalam satuan ohm ()


118

1 mho
Satuan  adalah ohm. m atau m

Kebalikan dari konduktivitas didefinisikan sebagai resistivitas  sehingga

1
= ……………………………………………… (10.8)

dengan satuan ohm.m.

jadi tahanan listrik dari kawat yang panjang L, luas penampang A,

resistivitas  adalah :

L
R= ………………………………………………….. (10.9)
A

Contoh

Suatu kawat tembaga panjang 20 m, luas penampang 1 mm2. Resistivitas

kawat tembaga adalah 1,7 x 10-8 .m.

Berapakah konduktivitasnya dan tahanan listriknya dari kawat tembaga

tadi?

Jawab : Konduktivitas kawat tembaga:

1 1
= = = 5,9 x 107 mho/m
 1,7 x10 8

konduktor yang memenuhi persamaan (10.7) disebut konduktor linear atau

konduktor yang memenuhi hukum Ohm. Hal ini secara grafik ditunjukkan

pada gambar 10. 2a. Disamping itu ada juga konduktor yang tidak linear,

misalnya dari tabung vakum seperti pada gambar 10.2b dan konduktor

elektrolit gambar 10.2c.

i
i i

V V V
(a) (b) (c)

Gbr. Grafik dari berbagai jenis konduktor


119

Perhatikan suatu “kotak hitam” yang merupakan sebagian dari rangkaian

listrik seperti pada gambar 10.3

Va Vb
i i
a b

Gbr. 10.3. Sebuah kotak hitam yang dialiri arus i

Arus i masuk ke kotak pada tegangan Va dan keluar dari kotak pada

tegangan Vb, Va  Vb.

Dalam waktu dt muatan yang masuk pada jepitan a dan dq, dq = i dt dan

dalam waktu yang sama muatan dt di atas, keluar dari b adalah dq juga.

Jadi dalam waktu dt di atas, ada perpindahan muatan dq dari potensial Va

kepotensial Vb. Muatan dq ini kehilangan energi potensial listrik sebesar

dW, dan

dW = dq (Va-Vb) = I dt Vab ………………………... (10.10)

Daya yang dihasilkan oleh perpindahan muatan tersebut.

dW
P= = i Vab ……………………………………. (10.11)
dt

Bila di dalam kota hitam ada suatu tekanan listrik R, maka

P = i2 R ………………………………………… (10.12)

Atau

V 2 ab
P= ………………………………………. (10.13)
R

Tenaga yang diberikan oleh perpindahan muatan tersebut seluruhnya

diubah menjadi panas, sehingga panas yang timbul dalam tahanan R

persatuan waktu adalah i2R.


120

Contoh

Kawat pemanas terbuat dari campuran nikron (Ni-Cr) panjangnya 10 m

dan mempunyai R = 24 , dibuat kumparan untuk alat pemanas listrik.

Berapakah daya yang dihasilkan bila ujung kumparan tadi dihubungkan

dengan jaringan listrik sebesar 110 Volt?

Selanjutnya bila kawat dari diputus di tengah-tengah lalu salah satu

ujungnya diambil dan dihubungkan kembali dengan tegangan 10 Volt,

berapakah dayanya?

Jawab:

Untuk kumparan yang utuh (sebelum dipotong)

V 2 110 2
P=  = 502 watt
R 24

Untuk satu kawat setengah panjang semula

110 2
P= = 1008 watt
12

Untuk saudara pikirkan, dapatkah kawat tersebut kita potong terus-

menerus untuk mendapatkan daya yang lebih tinggi?

1.2 Rangkaian Arus Searah

Untuk menimbulkan arus dalam suatu konduktor, diperlukan

medana listrik. Ini berarti bahwa untuk mengalirkan arus listrik diperlukan

tenaga untuk mendorong atau menggerakkan muatan listrik di dalam

konduktor.

Misalnya suatu baterai mempunyai ggl 6 volt, untuk setiap muatan yang

keluar dari baterai (ketika baterai dilucuti atau “discharging”), baterai

tersebut mengubah 6 Joule tenaga menjadi tenaga listrik. Jadi untuk muatan
121

sebesar dq yang dikeluarkan sumber dalam waktu dt, tenaga yang diubah

menjadi tenaga listrik adalah dW sehingga ggl , dituliskan :

dW
 ……………………………………………. (10.14)
dq

dan daya yang dikeluarkan sumber ggl adalah

dW  dq
P  =  I ……………………………………… (10.15)
dt dt

Perhatikan suatu rangkaian yang terdiri dari suatu sumber ggl ( ,) dan

tahanan luar R (Gbr. 10.4)

+ -

 ,r)
i

R
a b
Gbr. 10.4. Rangkaian sederhana dengan sebuah R dan satu sumber ggl

Perjanjian arah ggl di dalam sumber adalah dari kutub negatif ke kutub

positif. Panas yang timbul dalam tahanan R persatuan waktu adalah R. i2,

dan panas yang timbul dalam tahanan r adalah r i2, sedang tenaga yang

diubah menjadi tenaga listrik persatuan waktu adalah  i. Jadi

 i = R i2 + r i2 ………………………………. (10.16)

atau


i= ……………………………………… (10.17)
Rr

tegangan Vab = Va-Vb = I. R ………………………………. (10.18)

Suatu rangkaian tertutup yang membuat satu sumber ggl (, r) berupa

baterai dan sebuah motor yang dihubungkan seri dengan tahanan luar R

seperti pada gambar 10.5.


122

+ -

 ,r)
i Gbr . 10.5

+ - R

Pada sumber ggl berupa baterai muatan yang bergerak menghasilkan gaya

listrik dari baterai, pada motor dihasilkan daya mekanis, dan pada tahanan

r, r’ dan R daya panas.

Jadi bila ’ adalah ggl motor, gaya mekanis yang dihasilkan motor adalah ’

i, sehingga:

 i = R i2 + r i2 + r’ i2 +’i ………………………………….. (10.19)

 ' 
i=  …………………………………………. (10.20)
R  r  r ' R

Contoh

Suatu baterai dengan  = 20 volt, r = 0,5 ohm, dihubungkan seri dengan

suatu motor yang bekerja pada tegangan ggl = 12 volt, dan tahanan dalam

r’ =1 ohm, kawat-kawat penghantar memberikan tahanan luar R = 2,5 ohm

+ - b
a

 = 20 V
i r = 0,5 

+ - R = 2,5 
c
’ = 12 V
r’ = 1 

Gbr. 10.6. Rangkaian sederhana yang terdiri dari ggl, sebuah motor, dan
sebuah hambatan luar
Ditanyakan berapa besarnya arus yang mengalir ?. Berapa tegangan

jepitnya (tegangan jepit baterai Vab). Dan berapa tegangan jepit motor Vac,

serta tegangan jepit luar R, Vcb.


123

Jawab

Arus yang mengalir dalam rangkaian

 ' 20  12
i = R  r  r '  2,5  0,5  1 = 2 ampere

Tegangan jepit baterai Vab

Vab = ( 20- 2 x 0,5) = 19 volt

Tegangan jepit motor :

Vac = ( 12 + 2 x 1 ) = 14 Volt

Tegangan jepit tahanan luar R:

Vab = (2 x 2,5) = 5 volt

1.3 Tahanan Seri dan Paralel

Gambar 10.7. Menunjukkan 3 tahanan paralel yang dihubungkan dengan

satu sumber tegangan.

i a i a
i1 i1 i1

R1 R2 R3 R
i b b
i
Rangkaian gambar 10.7a. dapat disederhanakan menjadi gbr. 10.7b dengan

R disebut sebagai tahanan pengganti untuk besaran R1, R2 dan R3 yang

disusun secara paralel. Hubungan antara R dengan R1, R2 dan R3 dapat

dicari sebagai berikut. Arus pada cabang adalah :

Vab Vab Vab


i1 = , i2 = , i3 = ,
R1 R2 R3

arus induk I (I) adalah :

Vab
I= , sedangkan I = i1 + i2 + i3 …………………….. (10.21)
R
124

Vab Vab Vab Vab


Jadi = + + atau
R R1 R2 R3

1 1 1 1
= + = ………………………………….. (10.22)
R R1 R2 R3

Gambar 10.8a menunjukkan 3 tahanan seri yang dihubungkn dengan satu

sumber ggl, dan pada gambar 10.8b dapat disederhanakan menjadi satu

tahanan pengganti (R).

i a R1 c a i

 RP
 R3
R2 i b
i b

(a) (b)

Gb.10.8 Suatu rangkaian seri yang terdiri dari tiga buah hambatan yang
dihubungkan dengan sumber tegangan.

Tegangan jepitnya :

(Va – Vb) = (Va – Vc) + (Vc – Vd) + (Vd – Vb)

10.2 HUKUM KIRCHOFF

Suatu sistem dengan sejumlah rangkaian tertutup atau loop dapat diselesaikan

dengan hukum Kirchoff.

Hukum Kirchoff I : Jumlah aljabar dari arus pada setiap titik cabang dari

rangkaian listrik adalah nol, i = 0.

Hukum Kirchoff II : Jumlah aljabar dari ggl pada suatu loop sama dengan

jumlah aljabar dari perkalian antara arus dengan tahanan

di dalam seluruh rangkaian tertutup tersebut.

  =  i R atau   - i R = 0
125

Contoh

Gambar 10.9 menunjukkan suatu rangkaian listrik yang terdiri dari dua loop.

Besar tahanan luar, tahanan dalam, dan sumber-sumber ggl ditunjukkan pada

gambar berikut ini.

1 = 20 V 2 = 12 V
a r1 = 1  r2 = 1  c
b
i1 I2 i3
I R2 = 3 II
R1= 5  R3= 4

Gb.10.9 Suatu gambar rangkaian tertutup yang dibagi dalam dua loop
(I dan II).

Tentukan besar dan arah arus yang melewati R1, R2, R3, !.

Jawab: Misalkan arah arus dan arah loop seperti ditunjukkan pada gambar.

Loop I : 1 - i1 R1 + i2 R2 = 0 atau

20-5 i1 + 3 i2 = 0 ……………………………… (1)

Loop II: 1- i2 R2 – i3 R3 = 0 atau

-12 – 3 i2 – 4 i3 = 0………………………………….. (2)

dan dari hukum kirchoff I, i di titik d adalah nol, yaitu :

i1 + i2 – i3 = 0 ……………………………………………………… (3)

Dari persamaan (1), (2), dan (3) dapat dicari i1, i2, i3 yaitu i1 = 2,213 A, i2 = -

2,979 A, i3 = - 0,766 A.

Tanda negatif untuk i1, dan i2 berarti arah arus sebenarnya melawan arah arus

pada gambar 11.9.

Soal-soal

1. Sebuah lampu kecil dinyalakan dengan baterai. Tahanan lampu 4 ohm, ggl

baterai 1,5 volt, tahanan dalam baterai 0,5 ohm. Hitunglah daya dan tenaga
126

yang dipergunakan oleh lampu itu selama lima menit, dan berapa pula daya

dan tenaga yang telah dikeluarkan oleh baterai selama waktu tersebut !

2. Pada rangkaian disamping


R1
ini, diketahui : i1 i1
i2
1 = 2 = 18 volt, R2
R3
r1 = r1 = 1 ohm

R1 = 1 K, R2 = 4 K, dan


1, r1
2, r2
R3 = 98 

3. Hitung hambatan ekivalen dari rangkaian hambatan listrik dibawah ini

R1= 2 K

R3= 1 K R4= 3 K
R2= 2 K

R5= 0,25 K R6= 0,5 R7= 0,5


K K

4. Jika kita hendak mengukur daya sebuah pesawat TV, dengan mengguanakan

sebuah ammeter dan sebuah voltmeter. Untuk ini, kita buat rangkaian

sebagai berikut :

i A i1 TV

i2
V

, r
Pada ammeter terbaca kuat arus = 0,125 A, dan pada voltmeter terbaca

tegangan = 200 volt. Bila diketahui hambatan dari ammeter = 100 ohm,

hambatan TV = 10 K ohm, berapa % koreksi yang perlu kita perhitungkan

karena adanya hambatan pada alat ukur ?


127

5. Berdasarkan soal diatas (4) jika diketahui sumber tegangan = 220 volt,

berapakah tahanan dalam sumber arus listrik ?

6. Hitunglah kapasitas bumi bila ia dapat dianggap sebagai suatu bola

konduktor berjari-jari a = 6,4 x 106 m !


128

KEMAGNETAN DAN MEDAN MAGNET

11.1 GAYA MAGNET

Gejala kemagnetan telah menjadi perhatian umat manusia selama kurang

lebih 2000 tahun. Sejarah kemagnetan dimulai pada jaman yunani purba dan

sejumlah pakar telah menulis mengenai sifat-sifat magnet alam, yang namanya

berasal dari kota Magnesia di Asia kecil yang didekatnya telah ditemukan biji

oksida besi lainnya serta benda-benda yang mengandung unsur besi.

Sejumlah eksperimen menunjukkan bahwa sumber gaya magnet dalam

suatu batang magnet terkonsentrasi di dalam suatu tempat yang dinamakan

kutub-kutub magnet. Gaya magnet dapat bersifat tarik menarik atu tolak

menolak, yang dapat dijelaskan dengan cara mendefinisikan dua jenis kutub

magnet yaitu kutub utara (U) dan kutub selatan (S). Kutub sesama dari magnet

tersebut akan tolak menolak, dan kutub yang tidak sama akan tarik menarik.

Pemotongan suatu batang magnet menjadi dua bagian tidak

menghasilkan kutub utara dan selatan yang terpisah satu sama lain, bahkan

diperoleh dua batang magnet baru yang berukuran lebih kecil, masing-masing

dengan sepasang kutub U-S. dengan demikian dapat disimpulkan wujud magnet

yang paling elementer adalah suatu dwikutub magnet, yang membawa satu

kutub U dan kutub S (gambar 11.1)

U S

Gbr. 11.1 Sebuah magnet dengan kutub U-S

Semula diduga bahwa antara gejala kelistrikan dan gejala kemagnetan

tidak ada sangkut pautnya. Hans Christian Oersted dalam salah satu kuliahnya

mengenai listrik dan magnet di Universitas Copenhagen pada musim dingin


q
q V V
r F
r̂ r̂
V' V'
q'
q'
129

1820 berhasil menemukan keterpautan tersebut. Jarum magnet yang

ditempatkan di bawah kawat berarus listrik ternyata terjadi penyimpangan oleh

arus tersebut. Demikian jugan Ampere yang berhasil menemukan adanya gejala

gaya yang bekerja di antara kedua kawat sejajar yang dialiri arus listrik.

Akhirnya para fisikawan telah dapat memastikan bahwa gaya magnet tidak lain

adalah gaya listrik ekstra belaka yang bekerja di antara muatan-muatan

bergerak. Hal ini berarti bahwa diantara dua partikel bermuatan tidak hanya

bekerja gaya Coulomb tetapi juga gaya yang bergantung pada kecepatan

partikel tersebut. Gaya ekstra ini dinamakan gaya magnet. Besar dan arah gaya

magnet tidak hanya bergantung pada jarak kedua partikel, tetapi juga

bergantung pada kecepatan keduanya.

q v q v
r r

q’ v ’‘ q’ v ’‘

Gbr. 11.2 Gerak suatu partikel bermuatan

Sebagai contoh sederhana ditinjau dua partikel dengan muatan titik q

dan q’ yang pada suatu saat bergerak berdampingan dengan kecepatan v dan

v ’ sejajar satu sama lain. Gaya magnet yang bekerja pada muatan q, yang

ditinjau oleh muatan q' adalah

q.q '
F = - (tetapan) v v’ r̂ …………………….. (11.1)
r2

dengan r̂ adalah vektor satuan dari v' munuju q serta tegak lurus pada kedua

vektor kecepatan. Tampak bahwa besar gaya magnet berbanding terbalik

dengan kuadrat jarak kedua muatan seperti halnya gaya elektrosttika dan gaya

gravitasi. Tetapi besarnya gaya magnet masih bergantung pula pada hasil kali

kecepatan-kecepatan kedua muatan.


130

Bila kedua muatan setanda maka gaya magnet akan tarik menarik bila

kecepatan keduanya sejajar (paralel) dan tolak menolak bila kecepatan

keduanya anti paralel. Di dalam SI nilai numerik tetapan di dalam ungkapan

11.1 di atas diberikan:

o
Tetapan = = 1,00 x 10-7 N s2 C-2
4

Dengan o = 4 x 10-7 N s2 C-2 = 1,26 x 1-6 N s2 C-2 ……….. (11.2)

dan dinamakan tetapan permiabilitas ruang hampa. Dengan demkian ungkapan

(11.1) dapat dituliskan dalam bentuk persamaan.

 o q q'
F = - v v' r …………………………….. (11.3)
4 r 2

Contoh

Hitunglah perbandingan antara gaya magnet dengan gaya listrik ! Besarnya

gaya magnet diberikan persamaan………………(11.3)

 o q q'
Fm = v v' r
4 r 2

Bila kedua muatan q dan q' setanda maka gaya magnet bersifat tarik menarik.

Besarnya gaya listrik adalah

1 q q'
Fe =
4 r 2

Yang bersifat tolak menolak. Perbandingan antara gaya magnet dengan gaya

listrik adalah

 o qq '
vv'
Fm 4 r 2
 = o o . v v'
Fe 1 qq '
4 r 2

= (1,26 x 10-6)x (8,85 x 10-12) v v'

= (1,12 x 10-17) v v'

atau
131

Fm v v'
= 3,0 x10 8 m / s 3,0 x10 8 m / s
Fe

Tampak bahwa Fm akan lebih kecil dari pada Fe bila v dan v' keduanyan lebih

kecil dari pada 3,0 x 108 m/s yang merupakan kelajuan cahaya. Perhitungan di

atas mengisyaratkan bahwa gaya magnet akan sangat berarti bila kelajuan

partikel cukup besar sehingga mekanika Newton harus diganti dengan mekanika

relativistik.

11.2 MEDAN MAGNET

Di dalam bab terdahulu ditegaskan bahwa medan listrik berperan

sebagai perantara gaya listrik dari satu muatan ke muatan yang lain. Inipun

berlaku pada kemagnetan, gaya yang bekerja sebagai perantara adalah medan

magnet. Secara operasional medan magnet didefinisikan sebagai suatu besaran

fisis yang diungkapkan dalam tiga besaran terukur yaitu kecepatan partikel

bermuatan, besar muatan listrik dan gaya magnet yang dialami olehnya. Jadi

untuk menetapkan medan magnet yang di suatu titik dekat muatan yang

bergerak diletakkan muatan uji q di titik tersebut dan membiarkannya bergerak

dengan kecepatan v. Muatan uji tersebut akan merasakan pengaruh gaya magnet

bergantung pada kecepatannya. Medan magnet B didefinisikan secara implisit

dalam persamaan yang menyatakan gaya magnet.

F m = q v x B …………………………………………… ………. (11.4)

Bila digunakan sistem koordinat kartesian dengan

v = vx x̂ + vy ŷ + vz ẑ …………………………………………….. (11.5)

B = Bx x̂ + By ŷ + Bz ẑ ………………………………………….. (11.6)

Maka persamaan (12.4) dapat dituliskan dalam bentuk

xˆ yˆ zˆ
F m = vx vy vz
Bx By Bz
132

= q [ (vyBz-vzBy) x̂ + (vzBx-vxBz) ŷ + (vxBy-vyBx) ẑ ] …………. (11.7)

Besarnya gaya magnetik di atas adalah

F m = q[(vyBz – vzBy)2 + (vzBx – vxBz)2 + (vxBy – vyBx)2]½ ……….. (11.8)

Atau

Fm = Fm =q v xB =q v B sin 

dengan  adalah sudut antara vektor kecepatan v dengan vektor medan magnet

B (gambar 11.3) Arah gaya F m (untuk q lebih besar dari 0) sama dengan arah

maju ataupun mundur. Suatu skrup yang diputar dari v ke B menyapu sudut

 lebih kecil dari 180 . Di dalam sistem satuan SI, medan magnet mempunyai

satuan

gaya Newton Newton


 
mua tan ( kecepa tan) Coulomb ( meter / s ) ampere (meter )

Atau sama dengan tesla (T) …………………………………………. (11.9)

Kadang-kadang satuan tesla diberi nama lain yaitu Weber/m2.

Medan-medan magnet yang cukup lemah kerap kali mempunyai satuan yang

lebih kecil yaitu Gauss (G) dengan hitungan :

1 gauss = 1 G 10-4 T = 10-4 Weber/m2.

v
 q
B

Gambar 11.3 Gaya Fm tegak lurus terhadap vektor v dan B. Dimana v dan B
diapit oleh sudut .

Dari ungkapan 11.4 dapat diturunkan sifat-sifat pokok gaya magnet, yaitu :

(i) Gaya magnet F m adalah selalu tegak lurus pada bidang yang melalui B

dan v .
133

(ii) Usaha yang dilakukan oleh gaya magnet Fm bila muatan q telah bergerak

sejauh dr = v dt adalah

dWm = F m . dr = q ( v x B ). v dt

Sedangkan medan magnet yang dibangkitkan oleh muatan q’ yang bergerak

dengan kecepatan v’ adalah:

 o q'
B= ( v ' x r)…………………………………………… (11.11)
4 r 2

Selanjutnya dengan mengingat bahwa medan listrik yang dibangkitkan oleh

muatan titik q’ adalah

1 q'
E= rˆ ………………………………………………… (11.12)
4 o r 2

Maka medan magnet di atas dapat dituliskan dalam bentuk

B = o o v x E ……………………………………………. (11.13)

Contoh

Elektron di dalam atom hidrogen sepanjang

orbit lingkaran dengan jari-jari 5,3 x 10-11 m


B
dan dengan kelajuan 2,2 x 106 m/s. Hitunglah ’

besar medan magnet yang dihasilkan oleh r


e
elektron di pusat orbit.

Jawab :

 o ev'
B =
4 r 2

(1,6 x10 19 )(2,2 x10 6 )


= 1,0 x10-7)
(5,3 x10 11 )

= 12,5 tesla

Anda mungkin juga menyukai