Anda di halaman 1dari 6

2.

2 Uraian Bahan
1. Alkohol (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Alkohol
Rumus molekul : C2H5OH
Berat molekul : 46,07 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasa.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P
dan dalam eter P.
Kegunaan : Desinfektan
Khasiat : Sebagai desinfektan (mencegah pertumbuhan /
pencemaran jasad renik) pada benda mati. Digunakan
juga sebagai antiseptik untuk menghambat
mikroorganisme pada jaringan hidup.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindungi dari cahaya,
ditempat yang sejuk, jauh dari jangkauan api.
2. Aquadest (Dirjen POM, 1995)
Nama Resmi : AQUA DESTILATA
Nama Lain : Air suling, aquades
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan jernih tidak bewarna,tidak berbau, tidak


mempunyai rasa
Kegunaan : Sebagai pembersih sampel.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
3. Eter (Pubchem, 2019)
Nama Resmi : Ethoxyethane
Nama Lain : Dietil Eter
Rumus molekul : C4H10O
Rumus Struktur :

Berat Molekul : 74,1216 g/mol


Pemerian : Cairan berwarna jernih dengan bau anestesi.
Kelarutan : Sedikit larut dalam air
Khasiat : Pelarut
Kegunaan : Anastesi
Penyimpanan : Di bawah suhu -40C
4. Na CMC (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama Lain : Natrium karboksimetilselulosa
Rumus molekul : C23H46N2O6.H2SO4.H2O
Rumus Struktur :
Berat Molekul : 694,85g/mol
Pemerian : Serbuk atau butiran putih kuning gading tidak
berbau/hampir tidak berbau, higroskopik
Kelarutan : Mudah mendispersi dalam air, membentuk suspensi
kolodial, tidak larut dalam etanol 95 %, dalam eter dan
dalam pelarut organik
Khasiat : Sebagai kontrol
Kegunaan : Sebagai pensuspensi obat/sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
5. Paracetamol (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : ACETAMINOPHENUM
Nama Lain : Asetaminofen, parasetamol
Rumus molekul : C8H9NO2
Rumus Struktur :

Berat Molekul : 151,16 g/mol


Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa
pahit
Kelarutan : Larut dalam 17 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95
%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian
gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut
dalam larutan alkali hidroksida
Khasiat : Analgetikum, antipiretikum
Kegunaan : Sebagai pensuspensi obat/sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Efek farmakologi : Parasetamol bekerja dengan menekan efek dari pirogen
endogen dengan jalan menghambat sintesis
prostaglandin, efek parasetamol langsung ke pusat
pengaturan panas di hipotalamus sehingga terjadi
vasodilatasi perifer, keluarnya keringat dan
pembuangan panas.
2.3 Uraian Hewan
2.3.1 Tikus (Rattus norvegicus)
1. Taksonomi Tikus (Rattus norvegicus)
Menurut Besselsen (2004) dan Depkes (2011) taksonomi tikus adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Subkelas : Theria
Ordo : Rodensia
Subordo : Sciurognathi
Famili : Muridae
Subfamili : Murinae
Gambar 2.3.1
Genus : Rattus Tikus (Rattus norvegicus )
Spesies : Rattus norvegicus
2. Anatomi dan Fisiologi tikus
Tikus (Rattus norvegicus) telah diketahui sifat-sifatnya secara sempurna,
mudah dipelihara, dan merupakan hewan yang relatif sehat dan cocok untuk
berbagai penelitian. Ciri-ciri morfologi Rattus norvegicus antara lain memiliki
berat 150-600 gram, hidung tumpul dan badan besar dengan panjang 18-25 cm,
kepala dan badan lebih pendek dari ekornya, serta telinga relatif kecil dan tidak
lebih dari 20-23 mm (Depkes, 2011).
Terdapat tiga galur atau varietas tikus yang memiliki kekhususan tertentu
yang biasa digunakan sebagai hewan percobaan yaitu galur Sprague dawley
berwarna albino putih, berkepala kecil dan ekornya lebih panjang dari badannya,
galur Wistar ditandai dengan kepala besar dan ekor yang lebih pendek, dan galur
Long evans yang lebih kecil daripada tikus putih dan memiliki warna hitam pada
kepala dan tubuh bagian depan (Malole, 1989).
Ada dua sifat utama yang membedakan tikus dengan hewan percobaan
lainnya, yaitu tikus tidak dapat muntah karena struktur anatomi yang tidak lazim
pada tempat bermuara esofagus ke dalam lambung sehingga mempermudah
proses pencekokan perlakuan menggunakan sonde lambung, dan tidak
mempunyai kandung empedu (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Selain itu, tikus hanya mempunyai kelenjar keringat di telapak kaki. Ekor
tikus menjadi bagian badan yang paling penting untuk mengurangi panas tubuh.
Mekanisme perlindungan lain adalah tikus akan mengeluarkan banyak ludah dan
menutupi bulunya dengan ludah tersebut (Sirois, 2005).
Pertumbuhan dan perkembangan tubuh tikus tergantung pada efisiensi
makanan yang diberikan dan juga sangat dipengaruhi oleh metabolisme basal
tubuh tikus itu sendiri. Beberapa faktor penting yang dapat meningkatkan
metabolisme basal tubuh hewan adalah suhu lingkungan, jenis kelamin, umur,
keadaan psikologis hewan, dan suhu badan (Ganong 1999 ; Robinson 1972).

Daftar Pustaka
Ganong, W.F. 1999. Buku Ajar Fisiolog Kedokteran. Edisi 17. EGC: Jakarta.

Robinson, K.L. dan Tomek, W.G. 1972. Agricultural Product Prices. Printing
Cornwell University Press 3rd: USA.

Sirois. 2005. Laboratory Animal Medicine: Principles and Procedures. Elsevier:


USA.
Smith, J.B. dan S. Mangkoewidjojo. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan Dan
Penggunaan Hewan Percobaan Di Daerah Tropis. UI Press: Jakarta.
Malole, M.B.M., Pramono C.S.U., 1989. Penggunaan Hewan-hewan Percobaan
di Laboratorium. PAU Pangan dan Gizi, IPB: Bogor.

Depkes RI. 2011. Target Tujuan Pembangunan MDGs. Direktorat Jendral


Kesehatan Ibu dan Anak: Jakarta.

Besselsen D.G. 2004. Biology of laboratory rodent. Australian National


University: Canberra.

Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Direktorat


Jendral Pengawasan Obat dan Makanan: Jakarta.

Pubchem. 2019. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Ether (Diakses


pada Desember 2019)

Anda mungkin juga menyukai