Anda di halaman 1dari 24

TUGAS SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

“KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN


LAPORAN KEUANGAN (KDPPLK)”

Diajukan untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Seminar Akuntansi Keuangan
Tahun Akademik 2019/2020

Oleh:

1. Aulia Rosalinda Septiawati (3.16.4.004)


2. I.S Azizah (3.16.4.014)
3. Nurfatimah (3.16.4.021)
4. Rozan Abdul Rozaq (3.16.4.026)
5. Vita Liana Winanda (3.16.4.031)

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV AKUNTANSI KEUANGAN


POLITEKNIK POS INDONESIA
KELAS D-IV AK 4A
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.

Bandung, 13 Oktober 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………


DAFTAR ISI …………………………………………………………………...

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………...


1.1. Latar Belakang Masalah …………………………………………………
1.2. Rumusan Masalah ………………………………………………….
1.3. Tujuan ………………………………………………………………

BAB II ANALISIS DAN PEMBAHASAN ……………………………………


2.1. Pengertian dan Tujuan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian
Laporan Keuangan (KDPPLK)……………………………………..
2.2. Katrakteristik kualitatif informasi keuangan yang berguna
………………….……………………………………………………
2.3. Definisi, konsep pengukuran dan pengakuan unsur-unsur yang
membentuk laporan keuangan ……………………………………..
2.4. Konsep Modal dan Pemeliharaan Modal ………………………….
2.5. Asumsi Dasar ………………………………………………………
2.6. Struktur dan Isi Laporan Keuangan ………………………………..
2.7. Tanggal Efektif Transaksi …………………………………………

BAB III KESIMPULAN ………………………………………………………


1.1. Kesimpulan………………………………........................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Proses akuntansi yang dimulai dari identifikasi kejadian dan transaksi hingg
a penyajian dalamlaporan keuangan, memerlukan sebuah kerangka dasar
penyusunan dan penyajian laporan keuangn.Kerangka dasar atau kerangka
konseptual akuntansi, adalah suatu sistem yang melekat dengan tujuan-tujuan serta
sifat dasar yang mengarah pada standar yang konsisten dan terdiri atas sifat, fungsi
dan batasan dari akuntansi dan laporan keuangan.

Kerangka konseptual merupakan konsep dasar yang mengatur mengenai


penyusunan dan penyajian laporan keuangan guna menghasilkan informasi
yang bermanfaat untuk kepentingan pihak eksternal. Penyusunan kerangka
konseptual bertujuan untuk menjadi dasar penyusunan atau pengembangan
standard akuntansi (regulator standard akuntansi), menjadi alternatif referensi
dalam memutuskanmasalahakuntansi yang belum ditentukan dalam standard
akuntansi (perusahaan), dasar pemeriksaan dan pemberian opini mengenai
kewajaran penyajiandan kesesuaian laporankeuangan dengan prinsip akuntansi
berlaku umum(auditor), dan dasar penilaian kinerja perusahaan (pengguna
informasi). FASB mendefinisi kerangka konseptual sebagai suatu sistem yang
serasi dengan tujuan (objektif), konsep dasar yang saling berkaitan dan diharapkan
dapat menghasilkan standard-standard yang konsisten, dan memberikan pedoman
tentang jenis, fungsi, keterbatasan akuntansi, dan pelaporan keuangan. Apabila
dalam praktik bisnis terdapat perbedaan antara kerangka konseptual dan standard
akuntansi, maka pihak terkait harus mendahulukan ketentuan yang tercantum dalam
standard akuntansi. Kerangka konseptual menyajikan serangkaian ketentuan dasar
yang harus dipenuhi dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan. Hal
ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman tentang konsep dasar akuntansi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Pengertian dan tujuan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan (KDPPLK).
2. Katrakteristik kualitatif informasi keuangan yang berguna.
3. Definisi, konsep pengukuran dan pengakuan unsur-unsur yang membentuk
laporan keuangan.
4. Konsep modal dan pemeliharaan modal.

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dan tujuan Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK).
2. Untuk mengetahui katrakteristik kualitatif informasi keuangan yang
berguna.
3. Untuk mengetahui definisi, konsep pengukuran dan pengakuan unsur-
unsur yang membentuk laporan keuangan.
4. Untuk mengetahui konsep modal dan pemeliharaan modal.
BAB II

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Tujuan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian


Laporan Keuangan (KDPPLK)

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)


merupakan konsep-konsep dasar yang menjadia pedoman dalam penyusunan
laporan keuangan untuk tujuan umum dan menjadi pedoman bagi penyusun standar
akuntansi untuk mengembangkan standar akuntansi di masa yang akan datang dan
sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan yang belum diatur secara
khusus di dalam pernyataan standar akuntansi. KDPPLK disebut dengan kerangka
konseptual yang diadopsi secara langsung dari conceptual framework IAS.
KDPPLK ini ditujukan untuk:

1. Penyusun standar akuntansi dalam menyusun dan mengembangkan standar


akuntansi

2. Penyusun laporan keuangan dalam mengatasi masalah yang belum diatur dalam
standar

3. Para pemakai dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan


keuangan.

2.2 Katrakteristik kualitatif informasi keuangan yang berguna


Agar laporan keuangan dapat menyediakan informasi yang berguna bagi
pembuat keputusan. KDPPLK mengharuskan informasi yang didalamnya memiliki
4 karakteristik kualitatif, yaitu:
 Dapat dipahami
 relevan
 keandalan
 diperbandngkan
a. Dapat dipahami
KDPPLK mengharuskan semua informasi yang diberikan dalam laporan
keuangan dapat dipahami oleh banyak pengguna. Namun demikian,bukan berarti
informahsi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak
dapat dimasukkan dalam laporan keuangan hanya atas dasar pertimbangan bahwa
informasi tersebut terlalu sulit untuk dipahami oleh pengguna tertentu.

b. Relevan dan Dapat Diandalkan


Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan
pengguna dalam proses pengambilan keputusan dan harus dapat diandalkan.
Keandalan laporan keuangan meliputi ciri-ciri, yaitu:
1. Penyajian yang jujur
Informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta
peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat
diharapkan untuk disajikan.
2. Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan
tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh
ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa
pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang mempunyai
kepentingan yang berlawanan.
3. Substansi mengungguli bentuk
Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur
transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka peristiwa
tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas
ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Substansi transaksi atau
peristiwa lain tidak selalu konsisten dengan apa yang tampak dari bentuk
hukum.
4. pertimbangan sehat
Pertimbangan sehat mengandung unsur kehatihatian pada saat
melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aktiva atau
penghasilan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak
dinyatakan terlalu rendah.
5. Kelengkapan
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus
lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak
mengungkapkan (omission) mengakibatkan informasi menjadi tidak benar
atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna
ditinjau dari segi relevansi.

c. Dapat dibandingkan
Laporan keuangan harus dapat diperbandingkan dengan waktu dan tempat
tertentu agar bermanfaat bagi pengguna. Misalnya, jika laporan keuangan sebuah
perusahaan tidak dapat dibandingkan dengan waktu sebelumnya (karena dibuat
dengan menggunakan standar pengukuran, sedangkan dampaknya tidak
diungkapakan), maka bahkan jika laporan laba rugi komprehensif tahun pertama
menunjukkan untung sebesar 15 juta, sedangkan tahun kedua 25 juta, para
pengguna tidak bisa mengetahui apakah kinerja perusahaan mengalami
peningkatan atau tidak.
KDPPLK mengakui bahwa terdapat beberapa situasi konflik diantara
karakteristk-karakteristk kualitatif. Misalnya, sebuah perusahaan membeli sebidang
tanah pada tahun 20X1 seharga 80 juta dan nilai pasar tersebut pada tahun 20X7
sebesar 100 juta, maka timbul pertanyaan apakah tanah tersebut harus disajikan di
laporan keuangan tahun 20X7 sebesar 80 juta atau 100 juta. Historical cost (biaya
historis/perolehan) sebesar 80 juta dapat diandalkan, namun tidak Hrelevan bagi
para pengguna (misal, investor, atau kreditor ingin mengetahui nila pasar tanah tsb
saat ini bukan biaya historisnya). Nilai pasar saat ini 100 juta dapat relevan bagi
pembuatan keputusan, namun tidak dapat diandalakan (teknik estimasi yang
berbeda akan menghasilkan nilai pasar yang berbeda). Dalam Hsituasi ini,
KDPPLK mengharuskan suatu perusahaan agar berupaya mencapai keseimbangan
yang sesuai di antara karakteristik kualitatif guna mencapai tujuan laporan
keuangan.
2.3 Definisi, konsep pengukuran dan pengakuan unsur-unsur yang
membentuk laporan keuangan

1. Unsur-unsur laporan Keuangan:


 Aktiva

 Liabilitas

 Ekuitas

 Pendapatan

 Beban

a.Aktiva
Aktiva didefinisikan sebagai sumber daya yang dikuasai sebuah entitas
sebagai hasl dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi masa depan
diharapakan mengalir ke entitas. Oleh karena, sumber daya yang dikuasai,
meskipun tidak dimliki, harus dianggap sebagai aset. Contoh, sebuah entitas harus
menyertakan kendaraan bermotor yang diperoleh lewat perjanjian sewa beli atau
mesin yang disewakan lewat perjanjan sewa dapat diperlakukan dengan ketetapan
PSAK 30 sebagai aset
b.Liabilitas
Liabilitas merupakan kewajiban saat ini sebagai hasil dari peristiwa masa
lalu, yang penyelesaiannya mengakibatkan arus keluar suberdaya yang
mengandung manfaat ekonomi. Suatu kewajban dapat berupa kewajiban hukum
atau kewajiban konstruktif
c.Ekuitas
Ekuitas merupakan hak residual aset dikurangi semua liabilitas.
d.Pendapatan,
Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa
dikenal atau disebut, seperti penjualan, pendapatan jasa, bunga, dividen, royalti,
sewa. Sedangkan penghasilan mencerminkan pos lainnya, misalnya penjualan aset
tetap.
e.Beban,
Beban mencakup baik kerugian maupun beban yang timbul dalam
pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Pos yang memenuhi definisi suatu
unsur harus diakui,jika:
a) Besar kemungkinan manfaat ekonomi mengalir masuk ke dalam perusahaan
b) Nilai atau biaya dapat diukur secara andal

2. Pengakuan Laporan Keuangan


a) Pengakuan Aset
Aset diakui dalam laporan posisi keuangan jika kemungkinan besar
bahwa manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke entitas dan aset
tersebut mempunyai biaya atau nilai yang dapat diukur dengan andal. Aset
tidak diakui dalam laporan posisi keuangan jika pengeluaran telah terjadi
dan manfaat ekonominya dipandang tidak mungkin mengalir ke entitas
setelah periode akuntansi berjalan. Dengan demikian, transaksi tersebut
menimbulkan pengakuan beban dalam laporan laba rugi. Perlakuan ini
tidak berarti pengeluaran yang dilakukan manajemen mempunyai intensi
lain selain menghasilkan manfaat ekonomi masa depan bagi entitas di
masa depan atau bahwa manajemen salah arah Implikasi satu-satunya
adalah tingkat kepastian bahwa manfaat ekonomi akan mengalir ke entitas
setelah periode akuntansi berjalan tidak mencukupi untuk membenarkan
pengakuan aset.
b) Pengakuan Liabilitas
Liabilitas diakui dalam laporan posisi keuangan jika terdapat
kemungkinan besar bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung
manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban kini dan
jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. Dalam praktik,
kewajiban menurut kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah
pihak (sebagai contoh, liabilitas atas pesanan persediaan namun belum
diterima) pada umumnya tidak diakui sebagai liabilitas dalam laporan
keuangan. Akan tetapi, kewajiban tersebut dapat memenuhi definisi
liabilitas dan syarat pengakuan jika dalam keadaan tertentu kriteria
liabilitas terpenuhi. Dalam kondisi ini, pengakuan liabilitas
mengakibatkan pengakuan aset atau beban terkait.
c) Pengakuan Penghasilan
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi ketika kenaikan manfaat
ekonomi masa depan yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan
liabilitas telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan
penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau
penurunan liabilitas (misalnya, kenaikan neto aset yang timbul dari
penjualan barang atau jasa atau penurunan liabilitas yang timbul dari
pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar). Prosedur yang biasanya
dianut dalam praktik untuk mengakui penghasilan, sebagai contoh,
persyaratan bahwa pendapatan telah diperoleh, merupakan penerapan
kriteria pengakuan dalam ED Kerangka Konseptual ini. Prosedur ini pada
umumnya dimaksudkan untuk membatasi pengakuan sebagai penghasilan
pada pos-pos yang dapat diukur dengan andal dan memiliki tingkat
kepastian yang cukup.
d) Pengakuan Beban
Beban diakui dalam laporan laba rugi ketika penurunan manfaat
ekonomi Masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau kenaikan
liabilitas telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan
beban terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan liabilitas atau
penurunan aset (sebagai contoh, akrual hak karyawan atau penyusutan aset
tetap). Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung
Antara biaya yang timbul dan perolehan pos penghasilan tertentu. Proses
yang biasanya disebut pengaitan biaya dengan pendapatan (matching of
costs with revenues) ini melibatkan pengakuan pendapatan dan beban secara
gabungan atau bersamaan yang dihasilkan secara langsung dan bersama-
sama dari transaksi atau peristiwa lain yang sama; misalnya, berbagai
komponen beban yang membentuk beban pokok penjualan (cost of goods
sold) diakui pada saat yang sama ketika penghasilan diperoleh dari
penjualan barang. Akan tetapi penerapan matching concept dalam ED
Kerangka Konseptual ini tidak memperkenankan pengakuan pos dalam
laporan posisi keuangan yang tidak memenuhi definisi aset atau liabilitas.
Jika manfaat ekonomi diekspektasikan akan timbul selama beberapa
periode akuntansi dan hubungannya dengan penghasilan hanya dapat
ditentukan secara luas atau tidak langsung, maka beban diakui dalam
laporan laba rugi atas dasar prosedur alokasi yang sistematis dan rasional.
Hal ini sering diperlukan dalam pengakuan beban yang berkaitan dengan
penggunaan aset seperti aset tetap, goodwill, paten, dan merek dagang;
dalam kasus tersebut beban yang dimaksud dikenal sebagai penyusutan atau
amortisasi. Prosedur alokasi ini diintensikan untuk mengakui beban dalam
periode akuntansi di mana manfaat ekonomi yang berkaitan dengan pos-pos
tersebut telah dipakai atau habis.
Beban segera diakui dalam laporan laba rugi ketika pengeluaran
tidak menghasilkan manfaat ekonomi masa depan atau ketika sepanjang
manfaat ekonomi masa depan tidak memenuhi syarat, atau tidak lagi
memenuhi syarat, untuk diakui dalam laporan posisi keuangan sebagai aset.
Beban juga diakui dalam laporan laba rugi pada saat liabilitas timbul
tanpa adanya pengakuan aset, seperti ketika liabilitas timbul akibat garansi
produk.

3. Pengukuran Elemen-elemen Laporan Keuangan


Pengukuran adalah proses penetapan jumlah moneter ketika unsur-unsur
laporan keuangan akan diakui dan dicatat dalam laporan posisi keuangan dan
laporan laba rugi. Proses ini mencakup pemilihan dasar pengukuran tertentu.
Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi
yang berbeda dalam laporan keuangan. Dasar pengukuran tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Biaya historis (historical cost). Aset dicatat sebesar jumlah kas
atau setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan
yang diberikan untuk memperoleh asset tersebut pada saat
perolehan. Liabilitas dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai
penukar dari kewajiban, atau dalam keadaan tertentu (sebagai
contoh, pajak penghasilan), pada jumlah kas atau setara kas yang
diekspektasikan akan dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam
pelaksanaan usaha yang normal.
b. Biaya kini (current cost). Aset dicatat sebesar jumlah kas atau
setara kas yang seharusnya akan dibayarkan jika aset yang sama
atau setara aset diperoleh sekarang. Liabilitas dicatat sebesar
jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan yang mungkin
akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini.
c. Nilai terealisasi/penyelesaian (realisable/settlement value). Aset
dicatat sebesar jumlah kas atau setara kas yang dapat diperoleh
sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal. Liabilitas
dicatat sebesar nilai penyelesaiannya; yaitu, jumlah kas atau setara
kas yang tidak didiskontokan yang diekspektasikan akan
dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam pelaksanaan usaha
normal.
d. Nilai sekarang (present value). Aset dicatat sebesar arus kas masuk
neto masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos
yang diekspektasikan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan
usaha normal. Liabilitas dicatat sebesar arus kas keluar neto masa
depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diekspektasikan
akan diperlukan untuk menyelesaikan liabilitas dalam pelaksanaan
usaha normal.

Dasar pengukuran yang lazimnya digunakan entitas dalam penyusunan


laporan keuangan adalah biaya historis. Ini biasanya digabungkan dengan dasar
pengukuran yang lain. Sebagai contoh, persediaan biasanya dicatat sebesar nilai
terendah dari biaya historis atau nilai terealisasi neto (lower of cost or net
realisable value), sekuritas yang dapat dipasarkan dapat dicatat sebesar nilai
pasarnya, dan liabilitas dicatat sebesar nilai sekarang. Selain itu, beberapa entitas
menggunakan dasar biaya kini sebagai respon dari ketidakmampuan model
akuntansi biaya historis dalam menghadapi dampak perubahan harga aset non-
moneter.
2.4 Konsep Modal dan Pemeliharaan Modal

Konsep Modal
Konsep modal keuangan dianut oleh sebagian besar entitas dalam
penyusunan laporan keuangan. Menurut konsep modal keuangan, seperti uang
atau daya beli yang diinvestasikan, modal bersinonim dengan aset neto atau
ekuitas entitas. Menurut konsep modal fisik, seperti kemampuan usaha, modal
dipandang sebagai kapasitas produktif entitas yang didasarkan pada, sebagai
contoh, unit output per hari.
Pemilihan konsep modal yang tepat bagi entitas didasarkan pada kebutuhan
pengguna laporan keuangannya. Jadi, konsep modal keuangan seharusnya dianut
jika pengguna laporan keuangan terutama berkepentingan dengan pemeliharaan
modal nominal atau daya beli dari modal yang diinvestasikan. Akan tetapi, jika
pengguna berkepentingan dengan kemampuan usaha entitas, maka konsep modal
fisik yang digunakan. Konsep yang dipilih menunjukkan sasaran yang akan
dicapai dalam penetapan laba, meskipun operasionalisasi konsep tersebut tidak
terlepas dari kesulitan pengukurannya.

Konsep Pemeliharaan Modal dan Penetapan Laba.


Konsep modal menciptakan dua konsep pemeliharaan modal:
(a) Pemeliharaan modal keuangan. Menurut konsep ini, laba hanya diperoleh jika
jumlah finansial (atau uang) aset neto pada akhir periode melebihi jumlah
finansial (atau uang) aset neto pada awal periode, setelah mengeluarkan distribusi
kepada, dan kontribusi dari, pemilik selama periode. Pemeliharaan modal
keuangan dapat diukur baik dalam satuan moneter nominal atau satuan daya beli
yang konstan.
(b) Pemeliharaan modal fisik. Menurut konsep ini, laba hanya diperoleh jika
kapasitas produktif fisik (atau kemampuan usaha) entitas (atau sumber daya atas
dana yang dibutuhkan untuk mencapai kapasitas tersebut) pada akhir periode
melebihi kapasitas produktif fisik pada awal periode setelah mengeluarkan
distribusi kepada, dan kontribusi dari, para pemilik selama suatu periode.
Konsep pemeliharaan modal berkepentingan dengan bagaimana entitas
mendefinisikan modal yang ingin dipelihara (dipertahankan). Konsep tersebut
mengaitkan konsep modal dan konsep laba karena memberikan dasar rujukan
untuk mengukur laba. Konsep ini juga merupakan prasyarat untuk membedakan
antara imbal hasil atas modal entitas (return on capital) dan pengembalian modal
(return of capital); hanya arus masuk asset yang melebihi jumlah yang dibutuhkan
untuk memelihara modal dapat dianggap sebagai laba dan karenanya merupakan
imbal hasil atas modal. Jadi, laba merupakan jumlah residual yang tertinggal
setelah beban (termasuk penyesuaian pemeliharaan modal, kalau ada)
dikurangkan pada penghasilan. Jika beban melebihi penghasilan, maka jumlah
residualnya merupakan kerugian.
Konsep pemeliharaan modal fisik memerlukan penggunaan dasar
pengukuran biaya kini. Akan tetapi, konsep pemeliharaan modal keuangan tidak
memerlukan penggunaan dasar pengukuran tertentu. Pemilihan dasar dalam
konsep ini bergantung pada jenis modal keuangan yang ingin
dipelihara/dipertahankan entitas.
Perbedaan pokok antara dua konsep pemeliharaan modal ini adalah
perlakuan terhadap dampak perubahaan harga aset dan liabilitas entitas. Dalam
pengertian umum, entitas telah memelihara/mempertahankan modalnya jika
modal yang dimiliki pada akhir periode samadengan modal yang dimiliki pada
awal periode. Selisih lebih dari jumlah yang disyaratkan untuk memelihara modal
pada awal tahun merupakan laba. Menurut konsep pemeliharaan modal keuangan
yang mendefinisikan modal dalam satuan moneter nominal, laba merupakan
kenaikan dalam modal uang nominal selama suatu periode. Jadi, kenaikan harga
aset yang dimiliki selama suatu periode, yang secara konvensional disebut
keuntungan akibat pemilikan (holding gains), secara konseptual disebut laba.
Akan tetapi, jumlahnya tidak diakui sampai aset tersebut dilepaskan dalam
transaksi pertukaran. Jika konsep pemeliharaan modal keuangan didefinisikan
dalam satuan daya beli konstan, maka laba merepresentasikan kenaikan daya beli
yang diinvestasikan selama suatu periode. Jadi, hanya bagian dari kenaikan harga
aset yang melebihi kenaikan tingkat harga umum yang disebut sebagai laba. Sisa
kenaikan diperlakukan sebagai penyesuaian pemeliharaan modal dan, karena itu,
merupakan bagian dari ekuitas.
Menurut konsep pemeliharaan modal fisik yang mendefinisikan modal
dalam kapasitas produktif fisik, laba merepresentasikan kenaikan modal tersebut
selama suatu periode. Seluruh perubahan harga yang memengaruhi aset dan
liabilitas entitas dipandang sebagai perubahan dalam pengukuran kapasitas
produktif fisik entitas; karena itu, jumlahnya diperlakukan sebagai penyesuaian
pemeliharaan modal yang merupakan bagian ekuitas dan bukan merupakan laba.
Pemilihan dasar pengukuran dan konsep pemeliharaan modal akan
menentukan model akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan
keuangan. Model akuntansi yang berbeda menunjukkan derajat relevansi dan
keandalan yang berbeda dan, seperti halnya dalam bidang lain, manajemen harus
mencari keseimbangan antara relevansi dan keandalan. ED Kerangka Konseptual
ini berlaku untuk serangkaian model akuntansi dan memberikan pedoman dalam
penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang dibentuk menurut model yang
dipilih. Saat ini DSAK IAI tidak memiliki intensi untuk merumuskan suatu model
tertentu kecuali dalam keadaan luar biasa, seperti entitas yang melaporkan dalam
Mata uang di suatu perekonomian yang dilanda hiperinflasi. Akan tetapi, hal ini
akan ditinjau kembali dengan memerhatikan perkembangan di masa depan.

2.5 Asumsi Dasar

a. Dasar Aktual
Untuk mencapai tujuannya laporan keuangan disusun atas dasar akrual.
Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat
kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan
dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan
pada periode yang bersangkutan. Laporan keuangan yang-disusun atas dasar
akrual memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa
lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga kewajiban
pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yang merepresentasikan
kas yang akan diterima di masa depan. Oleh karena itu laporan keuangan
menyediakan jenis informasi transaksi masa lalu dan peristiwa lainnya yang
paling berguna bagi pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
b. Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha
perusahaan dan akan melanjutkan usahanya di masa depan. Karena itu,
perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi
atau mengurangi secara material skala usahanya. Jika maksud atau
keinginan tersebut timbul, laporan keuangan mungkin harus disusun dengan
dasar yang berbeda dan dasar yang digunakan harus diungkapkan.

2.6 Strukur dan Isi Laporan Keuangan

1. Identifikasi laporan Keuangan


Entitas mengidentifikasi laporan keuangan secara jelas dan
membedakannya dari informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama. Entitas
mengidentifikasikan secara jelas setiap laporan keuangan dan catatan atas laporan
keuangan. Di samping itu, entitas menyajikan informasi berikut ini secara jelas, dan
mengulangnya jika dibutuhkan sehingga dapat dipahami:
a. Nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain, dan setiap
perubahan informasi dari akhir periode laporan sebelumnya.
b. Apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok
entitas.
c. Tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang di cakup oleh
laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan.
d. Mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52: Mata
Uang Pelaporan, dan
e. Pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan
keuangan.

2. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)


Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos-
pos, berikut: aset tetap, property investasi, aset tidak berwujud, aset
keuangan, investasi dengan menggunakan metode ekuitas, persediaan,
piutang dagang dan piutang lainnya, kas dan setara kas, total aset yang
diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijal dan aset yang
termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki
untuk dijual sesuai dengan PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang
Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang dihentikan, utang dagang dan
terutang lain, provisi, liabilitas keuangan, liabilitas dan aset untuk pajak kini
sebagai mana didefinisikan dalam PSAK 46: Akuntansi Pajak Penghasilan,
liabilitas dan aset pajak tangguhan, liabilitas yang termasuk dalam
kelompok lepasan yang diklasifikasi sebagai dimiliki untuk dijual sesuai
dengan PSAK 58 (revisi 2009), kepentingan non pengendali disajikan
sebagai bagian dari ekuitas, dan modal saham dan cadangan yng dapat
diatribusikan kepada pemilik entitas induk..
Perbedaan aset Lancar dan Tidak lancar serta Liabilitas jangka
Pendek dan Jangka Panjang, entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar serta
liabilitas jangka pendek dan jangka panjang sebagai klasifikasi yang terpisah dalam
laporan posisi keuangan, kecuali penyajian berdasarkan likuiditas memberian
informasi yang lebih relevan dan dapat diandalkan. Jika pengecualian tersebut
diterapkan, maka entitas menyajikan seluruh aset dan liabilitas berdasarkan
likuiditas. Apapun metode penyajian yang digunakan, entitas mengungkapkan
jumlah yang diharapkan dapat dipulihkan atau diselesaikan setelah lebih dari dua
belas bulan untuk setiap pos aset dan liabilitas yang menggabungkan jumlah yang
diharapkan akan dipulihkan atau diselesaikan:
a) Tidak lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan; dan
b) Lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan.

Aset lancar, entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar, jika:


a) Entitas mengharapkan akan merealisassikan aset, atau bermaksud untuk
menjual atau menggunakannya, dalam siklus operasi normal;
b) Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan;
c) Entitas mengharapkan akan merealisasikan aset dalam jangka waktu dua
belas bulan setelah periode pelaporan; atau
d) Kas atau setara kas (seperti yang dinyatakan dalam PSAK 2 (revisi 2009);
laporan Arus Kas), kecuali aset tersebut dibatasi pertukaran atau
penggunaannya untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya dua belas
bulan setelah periode pelaporan. Entitas mengklasifikasikan aset yang tidak
termasuk kategori tersebut sebagai aset tidak lancer.
Liabilitas jangka pendek, suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai liabilitas
jangka pendek jika:
a) Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus
operasi normalnya;
b) Entitas memilih liabilitas tersebut untuk tujuan dan;
c) Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua
belas bulan setelah periode pelaporan; atau
d) Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas
selama sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan.
Entitas mengklasifikasi liabilitas yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai
liabilitas jangka panjang.

3. Laporan Laba Rugi Komprehensif


Entitas menyajikan seluruh pos penghasilan dan beban yang diakui dalam satu
periode:
a) Dalam bentuk satu laporan laba rugi komprehensif, atau
b) Dalam bentuk dua laporan:
Ø Laporan yang menunjukan komponen laba rugi (laporan laba rugi terpisah); dan
Ø Laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukan komponen pendapatan
komprehensif lain (laporan laba rugi komprehensif).
Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif, laporan
laba rugi komprehensif minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut
periode:
a) Pendapatan;
b) Biaya keuangan;
c) Bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang dicatat dengan
menggunakan metode ekuitas;
d) Beban pajak;
e) Suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari; laba rugi setelah pajak dari
operasi yang dihentikan dan keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui
dengan pengukuran nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual atau dari
pelepasan aset atau kelompok yang dilepaskan dalam rangka operasi yang
dihentian).
f) Laba rugi;
g) Setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang dilasifikasikan sesuai
dengan sifat.
h) Bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan ventura bersama
yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas, dan
i) Total laba rugi komprehensif.

4. Laporan Perubahan Ekuitas


Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukan:
a) Total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yang menunjukan secara
terpisah total jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan
kepada kepentingan non pengendali.
b) Untuk tiap komponen ekuitas pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian
kembali secara retrospektif yang diakui sesuai dengan PSAK 25 (revisi 2009):
Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan;
c) Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal
dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan masing-masing perubahan
yang timbul dari; laba rugi, masing-masing pos pendapatan komprehensif lain,
dan transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang
menunjukan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada
pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada entitas anak yang tidak
menyebabkan hilang pengendalian.

5. Laporan Arus kas


Informasi arus kas memberikan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk
menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas dan kebutuhan
entitas dalam menggunakan arus kas tersebut. PSAK 2 (revisi 2009): Laporan Arus
Kas mengatur persyaratan penyajian dan pengungkapan informasi arus kas.

6. Catatan Atas Laporan Keuangan


Struktur catatan atas laporan keuangan, sebagai berikut:
a) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan
kebijakan akuntansi tertentu yang digunakan.
b) Mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK yang tidak
disajikan dibagian manapun dalam laporan keuangan, dan
c) Memberikan informasi yang tidak disajikan dibagian manapun dalam
laporan keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan
keuangan.
Entitas, sepanjang praktis, menyajikan catatan atas laporan keuangan
secara sistematis. Entitas membuat referensi silang atas setiap pos dalam
laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi komprehensif, laporan laba
rugi terpisah (jika disajikan), laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas
untuk informasi yang berhubungan dalam catatan atas laporan keuangan.

7. Pengungkapan lain
Entitas mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan: a) Jumlah dividen
yang diusulkan atau diumumkan sebelum tanggal penyesuaian laporan keuangan
tetapi tidak diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama periode serta jumlah
dividen per lembar saham;dan b) jumlah dividen preferen komulatif yang tidak
diakui. Entitas mengungkapkan hal-hal berikut ini, jika tidak diungkapkan di bagian
mana pun dalam informasi yang dipublikasikan bersama dengan laporan keuangan:
a) domisili dan bentuk hukum, negara tempat pendirian, alamat kantor pusat entitas
(atau lokasi utama kegiatan usaha, jika berbeda dari lokasi kantor), b) keterangan
mengenai sifat operasi dan kegiatan utama, c) nama entitas induk dan nama entitas
induk terakhir dalam kelompok usaha, dan d) bagi entitas yang mempunyai umur
terbatas, informasi tentang lama umur entitas.
2.7 Tanggal Efektif Transaksi

Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI)


telah mengesahkan Exposure Draft Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (ED
KKPK) menjadi Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (KKPK) dalam
rapatnya pada tanggal 28 September 2016 yang merupakan adopsi dari the
Conceptual Framework for Financial Reporting per 1 Januari 2016 dan akan
menggantikan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
(KDPPLK) (Penyesuaian 2014) yang berlaku efektif per 1 Januari 2015.
Tanggal Pengesahan ED Kerangka Konseptual menjadi Kerangka Konseptual
Pelaporan Keuangan diusulkan menjadi tanggal efektif Kerangka Konseptual
Pelaporan Keuangan.
Maka dengan pernyataan tersebut, Tanggal Efektif Transaksi sudah berlaku
dari awal tanggal pengesahan Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (KKPK)
yaitu pada tanggal 28 September 2016.
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK)
merupakan konsep-konsep dasar yang menjadi pedoman dalam penyusunan
laporan keuangan untuk tujuan umum dan menjadi pedoman bagi penyusun
standar akuntansi untuk mengembangkan standar akuntansi di masa yang akan
datang dan sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan yang belum
diatur secara khusus di dalam pernyataan standar akuntansi
KDPPLK menyatakan tujuan laporan keuangan adalah "menyediakan
informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan
suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam
pengambilan keputusan.
Agar laporan keuangan dapat menyediakan informasi yang berguna bagi
pembuat keputusan. KDPPLK mengharuskan informasi yang didalamnya
memiliki 4 karakteristik kualitatif, yaitu: Dapat dipahami, relevan, keandalan, dan
diperbandingkan.
Ada empat unsur-unsur Laporan keuangan yaitu:
Aset, Liabilitas, Ekuitas, Pendapatan, dan Beban.
Konsep pemeliharaan modal amat penting bagi pengukuran laba. Menurut
Hick, seorang ekonom, laba adalah jumlah maksimum yang dapat dikonsumsi
oleh sebuah entitas dalam suatu perode, namun kekayaan di akhir perode
samadengan awal periode.
DAFTAR PUSTAKA

PSAK 00 Kerangka Dasar Penyusunan Penyajian Laporan Keuangan


PSAK 1 Penyajian Laporan Keuangan