Anda di halaman 1dari 9

A.

Latar Belakang Masalah


Pengendalian proses stastistikal adalah suatu terminologi yang mulai
digunakan sejak tahun 1970-an untuk menjabarkan penggunaan teknik-teknik
statistikal (Stastistical Techniques) dalam memantau dan meningkatkan
performansi proses menghasilkan produk berkualitas. Pada tahun 1950-an
sampai 1960-an digunakan terminologi Pengendalian Kualitas.
Pengendalian proses statistik (SPC) merupakan suatu metodologi
pengumpulan dan analisis data kualitas, serta penentuan dan interpretasi
pengukuran-pengukuran yang menjelaskan tentang proses dalam suatu sistem
industri, untuk meningkatkan kualitas dari output guna memenuhi kebutuhan
dan ekspektasi pelanggan. Pengendalian proses statistic secara garis besar
digolongkan menjadi 2 (dua), yaitu pengendalian proses statistik (Statistical
Proses Control) dan rencana penerimaan sampel produk (Acception
Sampling).
Pengendalian kualitas proses dan produk juga dapat digolongkan
menurut jenis datanya, yaitu data variable dan data atribut. Data atribut
(Attributes Data), yaitu data kualitatif yang dapat dihitung. Data atribut
digunakan untuk pencatatan dan analisis. Contoh dari data atribut
karakteristik kualitas adalah ketiadaan label pada kemasan produk, kesalahan
proses administrasi buku tabungan nasabah, banyaknya jenis cacat pada
produk, banyaknya produk kayu lapis yang cacat karena corelap, dan lain-lain.
Data atribut biasanya diperoleh dalam bentuk unit-unit nonkonformans atau
ketidaksesuaian dengan spesifikasi atribut yang telah ditetapkan.
Data variabel (Variables Data) merupakan data kuantitatif yang diukur dan
digunakan untuk keperluan analisis. Contoh dari data variabel karakteristik
kualitas adalah: diameter pipa, ketebalan produk kayu lapis, berat semen
dalam kantong, banyaknya kertas setiap rim, konsentrasi elektrolit dalam
persen, dan lain-lain. Ukuran-ukuran berat, panjang, lebar, tinggi, diameter,
volume biasanya merupakan data variabel.

Pengendalian proses statistik berperan penting dalam menjaga mutu


hasil produksi. Mengapa? Statistical Process Control (SPC) merupakan
metode pengendalian kualitas (quality control) melalui pendekatan statistik.
SPC diterapkan untuk memantau dan mengendalikan proses. Pemantauan dan
pengendalian proses dalam SPC berfungsi memastikan agar proses produksi
mendapatkan potensi yang maksimal.

Statistical Process Control (SPC) akan membantu perusahaan dalam


dua hal, yakni dalam hal kestabilan proses, artinya variasi output relative
sama sepanjang waktu, sehingga output proses produksi bisa diprediksi. Serta
dalam hal kemampuan proses, artinya variasi proses sudah berada dalam
range spesifikasi yang telah ditetapkan dalam design produk. Analisa
statistik dilakukan pada saat percobaan (trial) bertujuan untuk memastikan
apakah proses sudah stabil dan mampu untuk produksi massal. Selain itu juga
dilakukan pada saat produksi massal berjalan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja yang menjadi dasar-dasar dari pengendalian proses statistik?
2. Apa yang dimaksud dengan bagan kontrol?
3. Bagaimana pola bagan kontrol?
4. Bagaimana pengendalian proses statistic dengan excel dan alat OM?
5. Apa yang dimaksud dengan kemampuan proses?
C. Pembahasan
1. Dasar – Dasar Pengendalian Proses Statistik
Pengendalian proses statistik mencegah masalah kualitas dengan
memperbaiki proses sebelum hal tersebut mulai mengalami kerusakan.
Proses kontrol dilakukan dengan cara mengambil sampel periodik dari
proses dan merencanakan titik-titik sampel pada grafik. Apabila titik
sampel berada di luar batas kontrol, maka memungkinkan proses yang
diluar kendali, sehingga akan dicari penyebabnya agar masalah bisa
teratasi. Namun, apaliba titik sampel berada di dalam batas kontrol, maka
proses berlanjut tanpa adanya campur tangan dengan tetap melakukan
pemantauan lanjutan.
a. Pengendalian Proses Statistik dalam Manajemen Kualitas
Perusahaan menggunakan pengendalian proses statistik untuk
melihat apakah proses yang mereka jalankan berada dalam kendali
kerja yang benar. Hal seperti ini menuntut perusahaan untuk
memberikan pelatihan Statistical Process Control ( SPC ) secara
berkelanjutan pada karyawan dengan menekankan bahwa Statistical
Process Control ( SPC ) merupakan alat yang mengontrol proses
produksi atau jasa dengan tujuan membuat perbaikan.
Langkah awal dalam memperbaiki kualitas adalah dengan
mengidentifikasi penyebabnya. Beberapa alat kontrol kualitas yang
digunakan untuk mengidentifikasi penyebab meliputi brainstorming,
diagram pareto, histogram, checksheets, lingkaran kualitas, dan
diagram sebab-akibat. Namun, apabila seorang karyawan tidak dapat
memperbaiki masalah, maka manajemen biasanya mulai melakukan
pemecahan masalah.
b. Ukuran Kualitas: Atribut dan Variabel
Kualitas dari produk atau jasa dapat dievaluasi baik dengan
menggunakan atribut dari produk atau jasa maupun menggunakan
variabel ukuran. Atribut merupakan karakteristik produk seperti
warna, tekstur permukaan, kebersihan, atau mungkin bau, rasa, yang
dapat dievaluasi dengan respon diskrit ( baik atau buruk, ya atau
tidak ). Sebagai contoh, operator mungkin menguji sebuah bola lampu
dengan hanya menyalakannya dan melihat apakah itu menyala. Jika
tidak, hal itu dapat diperiksa untuk mengetahui penyebab teknis yang
tepat, akan tetapi untuk tujuan pengendalian proses statistik, fakta
bahwa lampu itu rusak telah ditentukan. Evaluasi atribut kadang-
kadang disebut sebagai klasifikasi kualitatif, karena respon tidak
diukur.
Variabel ukuran merupakan karakteristik produk yang diukur
pada skala kontinu seperti panjang, berat, suhu, atau waktu. Misalnya,
waktu yang dibutuhkan untuk melayani pelanggan di McDonald dapat
diukur untuk melihat apakah pelayanannya cukup cepat. Evaluasi
variabel adalah hasil dari beberapa bentuk pengukuran, kadang-
kadang disebut sebagai metode klasifikasi kuantitatif.
c. Pengendalian Proses Statistik Digunakan dalam Layanan
Kontrol grafik secara historis telah digunakan untuk memantau
kualitas proses manufaktur. Namun, pengendalian proses statistik
hanya berguna untuk memantau kualitas layanan. Perbedaannya
adalah sifat dari "kerusakan" yang diukur dan dipantau. Kontrol grafik
untuk proses layanan cenderung menggunakan karakteristik kualitas
dan pengukuran seperti waktu dan kepuasan pelanggan (ditentukan
oleh survei, kuesioner, atau inspeksi). Berikut ini adalah daftar dari
beberapa layanan yang berbeda dan karakteristik kualitas untuk tiap
satuan yang dapat diukur dan dipantau dengan diagram kontrol.
1) Rumah sakit: Ketepatan waktu dan kecepatan pelayanan,
tanggapan staf untuk permintaan, akurasi tes laboratorium,
kebersihan, kesopanan, akurasi dokumen, kecepatan masuk dan
checkout.
2) Toko grosir: Menunggu waktu untuk memeriksa, frekuensi out-of-
stock item, kualitas makanan, kebersihan, keluhan pelanggan,
kesalahan checkout.
3) Maskapai: penundaan penerbangan, kehilangan dan penanganan
bagasi, waktu di counter tiket dan check-in, agen dan pramugari
courtesy, informasi penerbangan akurat, kebersihan kabin
penumpang.
4) Restoran cepat saji: Menunggu waktu untuk layanan, keluhan
pelanggan, kebersihan, kualitas makanan, akurasi ketertiban,
kesopanan karyawan.
5) perusahaan katalog-order: Memesan akurasi, pengetahuan
operator dan sopan santun, kemasan, waktu pengiriman, pesanan
telepon waktu tunggu.
6) Perusahaan asuransi: akurasi tagihan, ketepatan waktu pengolahan
klaim, ketersediaan agen dan waktu respon.

2. Diagram Kontrol

Diagram kontrol merupakan grafik yang secara visual menunjukkan


gambaran tentang perilaku sebuah proses. Diagram kontrol ini digunakan
untuk memahami apakan sebuah proses manufakturing atau proses bisnis
berjalan dalam kondisi yang terkontrol atau tidak. Diagram kontrol terdiri
dari:
a. Titik-titik yang mewakili sebuah nilai statistik (rata-rata, range,
proporsi) dari sebuah karakteristik sampel yang diambil dari sebuah
proses pada waktu yang berbeda (Data).
b. Rata-rata dari nilai statistik di atas yang dihitung dari keseluruhan
sampel.
c. Garis tengah yang digambar tepat di angka rata-rata nilai statistik
tersebut.
d. Standar eror dari nilai statistik yang juga dihitung dari keseluruhan
sampel.

Batas kontrol atas dan bawah, yang mengindikasikan batas di mana secara
statistik sebuah proses bisa dikatakan menyimpang, yang secara umum
besarnya 3 kali standar eror dari garis tengah.

Sebuah proses umumnya dianggap berada dalam kontrol jika, misalnya:


a. Tidak ada titik sampel di luar batas kontrol.
b. Poin yang dekat proses rata-rata (yaitu, garis tengah), tanpa terlalu
banyak dekat dengan batas kontrol.
c. Sekitar jumlah yang sama dari titik sampel terjadi di atas dan di bawah
garis tengah.
d. Poin tampaknya akan didistribusikan secara acak di sekitar garis
tengah (yaitu, tidak ada pola yang bisa dilihat).

3. Diagram Kontrol untuk Atribut


Ukuran kualitas yang digunakan dalam atribut diagram kontrol adalah
nilai-nilai diskrit yang mencerminkan kriteria keputusan sederhana seperti
baik atau buruk.
a. Diagram-p
Diagram-p menggunakan proporsi barang rusak dalam sampel sebagai
sampel statistik. Dengan sebanyak n item sampel diagram-p diambil
secara periodik dari proses produksi atau jasa, dan proporsi barang
rusak dalam sampel ditentukan untuk melihat apakah proporsi jatuh
dalam batas kontrol pada grafik. Penggunaan rumus berdasarkan
distribusi normal untuk menghitung batas kendali atas (UCL) dan
batas kendali bawah (LCL) dari grafik-p:

b. Diagram-c
Diagram-c digunakan ketika tidak mungkin untuk menghitung
proporsi kerusakan dan jumlah kerusakan sebenarnya harus digunakan.
Sebagai contoh, ketika mobil diperiksa, jumlah noda (yaitu, kerusakan)
dari cat dapat dihitung untuk setiap mobil, tapi proporsi tidak dapat
dihitung, karena jumlah total noda yang mungkin tidak diketahui.
Dalam hal ini satu mobil adalah sampel. Karena jumlah kerusakan per
sampel diasumsikan berasal dari beberapa populasi yang sangat besar,
kemungkinan kerusakan tunggal sangat kecil. Berikut rumus untuk
batas kontrol yang digunakan:

4. Diagram Kontrol untuk Variabel


Diagram kontrol variabel yang digunakan untuk variabel kontinyu yang
dapat diukur, seperti berat atau volume. Dua grafik yang umum
digunakan dalam diagram kontrol variabel adalah R–chart dan X-chart.
R-chart mencerminkan jumlah dispersi hadir dalam setiap sampel,
sedangkan X-chart menunjukkan bagaimana sampel hasil berhubungan
dengan proses rata-rata atau berarti. Grafik ini biasanya digunakan
bersama-sama untuk menentukan apakah suatu proses berada dalam
kontrol.

5. Pengendalian Proses Statistik dengan Menggunakan Excel dan Alat OM


Terdapat sejumlah perangkat lunak yang dapat melakukan analisis kontrol
statistik, termasuk dengan pengembangan proses diagram kontrol. Berikut
langkah-langkah untuk mengembangkan diagram kontrol proses statistik
pada komputer dengan menggunakan excel dan alat-alat OM
6. Kemampuan Memproses

Batas kontrol menyediakan sarana untuk menentukan variasi alami dalam


proses produksi. Hasil statistiknya berdasarkan sampel. Toleransi adalah
spesifikasi desain yang mencerminkan kebutuhan pelanggan terhadap
produk. Sebagai contoh, sekantong keripik kentang mungkin dirancang
untuk memiliki berat bersih 9.0 oz dengan toleransi 0.5 oz. toleransi
desain dengan demikian adalah antara 9.5 oz (batas spesifikasi atas) dan
8.5 oz (batas spesifikasi bawah). Proses pengemasan harus mampu tampil
dalam toleransi desain ini atau bagian tertentu dari kemasan akan rusak,
underweight, atau kelebihan berat. Toleransi tidak ditentukan dari proses
produksi eksternal.