Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sediaan parenteral adalah sediaan obat steril, dapat berupa larutan atau suspensi
yang dikemas sedemkian rupa sehingga cocok untuk diberikan dalam bentuk injeksi
hypodermis dengan pembawa atau zat pensuspensi yang cocok. Sediaan parenteral volume
kecil diartikan sebagai obat steril yang dikemas dalam wadah dengan ukuran di bawah 100
ml.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang
harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral,
disuntikan dengan cara menembus atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau
selaput lendir.
Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki
peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin ini juga dikenal dengan
nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat Vitamin C termasuk golongan
vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular.
Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan
logam. Meskipun jeruk dikenal sebagai buah penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya
salah besar, karena lemon memiliki kandungan vitamin C lebih banyak 47&% daripada
jeruk.
Kulit merupakan pembatas tubuh dengan lingkungan sekitar karena posisinya yang
terletak di bagian paling luar. Luas kulit dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat
badan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana karakteristik sediaan injeksi vitamin C yang baik?
2. Apa saja formulasi pada sediaan injeksi vitamin C ?
3. Bagaimana prosedur pembuatan sediaan injeksi vitamin C?
4. Apa saja evaluasi yang dilakukan pada sediaan injeksi vitamin C?
5. Apa saja kemasan yang digunakan pada sediaan injeksi vitamin C?
6. Bagaimana indikasi sediaan injeksi vitamin C?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui karakteristik sediaan injeksi vitamin C yang baik.
2. Mengetahui formulasi pada sediaan injeksi vitamin C.
3. Mengetahui prosedur pembuatan sediaan injeksi vitamin C.
4. Mengetahui evaluasi pada sediaan injeksi vitamin C.
5. Mengetahui kemasan yang digunakan pada sediaan injeksi vitamin C.
6. Mengetahui indikasi sediaan injeksi vitamin C.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar Sediaan Injeksi Vitamin C


Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke
dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lender. Injeksi dapat berupa larutan,
emulsi, suspensi, atau serbuk steril yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu
sebelum digunakan. Syarat-syarat obat suntik yaitu, aman, harus jernih, tidak berwarna,
sedapat mungkin isohidris, sedapat mungkin isotonis, harus steril, bebas pirogen (Anief,
Moh, 2006).
Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki
peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin ini juga dikenal dengan
nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat Vitamin C termasuk golongan
vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular.
Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan
logam. Meskipun jeruk dikenal sebagai buah penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya
salah besar, karena lemon memiliki kandungan vitamin C lebih banyak 47&% daripada
jeruk. Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang
menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di
tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar,
pendarahan kecil, dan luka ringan. Vitamin c juga berperan penting dalam membantu
penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran Sebagai antioksidan, vitamin c mampu
menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh Melalui pengaruh pencahar, vitamini ini juga
dapat meningkatkan pembuangan feses atau kotoran Vitamin C juga mampu menangkal
nitrit penyebab kanker.
Injeksi vitamin c dikemas dalam wadah dosis tunggal, yakni suatu wadah kedap udara
yang mempertahankan jumlah obat steril yang dimaksudkan untuk pemberian parenteral
sebagai dosis tunggal dan yang bila dibuka tidak ditutup rapat kembali dengan jaminan tetap
steril. Wadah obat suntik, termasuk tutupnya harus tidak berinteraksi dengan sediaan, baik
secara fisik maupun kimia sehingga akan mengubah kekuatan dan efektivitasnya. Bila
wadah dibuat dari gelas, maka gelas harus jernih dan tidak berwarna atau kekuningan, untuk
memungkinkan memeriksa isinya. Jenis gelas yang susai dan dipilih untuk tiaqap sediaan
parenteral biasanya dinyatakan dalam masing-masing monograf. Obat suntik ditempatkan
di dlam wadah dosis tunggal atau wadah dosis berganda. Menurut definisi wadah dosis
tunggal (Ansel, 1989).

2
Syarat Sediaan Steril
- Fisik : kejernihan, partikel, suspense
- Kimia : isotonis, isohidris
- Biologi : steril, pirogen

1. Kejernihan
Kejernihan adalah suatu batasan yang relatif, yang artinya sangat dipengaruhi oleh
penilaian subjektif dari pengamat. Tujuan dilakukan uji kejernihan ini adalah untuk
mengetahui kejernihan dari sediaan yang dibuat. Syarat kejernihan yaitu sediaan larutan (
kecuali suspensi dan emulsi) adalah tidak ada zat yang terdispersi dalam larutan jernih
2. Partikel
Sediaan steril harus bebas dari partikel melayang karena dapat menyebabkan kontaminasi
dan membawa mikroorganisme.
Partikel asing tersebut merupakan partikel-partikel yang tidak larut yang dapat berasal dari
larutan dan zat kimia yang terkandung, lingkungan, peralatan, personal, maupun dari
wadah. Partikel asing tersebut dapat menyebabkan pembentukan granuloma patologis
dalam organ vital tubuh. Untuk mengetahui keberadaan partikel asing dilakukan dengan
menerawang sediaan pada sumber cahaya. Tujuan dari uji partikel asing ini adalah agar
mengetahui apakah ada partikel dalam sediaan. Dari hasil uji ini mensyaratkan bahwa tidak
terdapat partikel asing dalam sediaan.
Pada waktu pembuatan sediaan steril kemungkinan jika masih terdapat partikel asing bisa
terjadi karena sewaktu penyaringan masing ada partikel yang lolos dari saringan
3. Tipe suspense
Untuk sediaan steril tipe suspense harus memenuhi persyaratan yang berlaku untuk
suspensi steril

3
Suspensi optalmik merupakan sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang
terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata.
Suspensi untuk injeksi merupakan sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang
sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal.
Sedangkan suspensi untuk injeksi kontinyu merupakan sediaan padat kering dengan bahan
pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk
suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.
Suspensi steril berlaku sebagai obat yang hipertonis, mengambil cairan dari jaringan
sekitar. Sehingga akhirnya bisa larut. Walau sudah larut semua, cairan tetap sebagai
hipertonis
Persyaratan fisik lainnya :
- Stabil.
Artinya sediaan tidak mengalami degradasi fisika (ataupun kimia). Misal jika bentuk
sediaan larutan maka sediaan tersebut tetap berada dalam bentuk larutan (bukan suspensi).
Sifat stabil ini berkaitan dengan formulasi. Ketidakstabilan dapat dilihat dari:
a.terjadi perubahan warna
Contoh: larutan adrenalin yang awalnya berwarna jernih karena teroksidasi akan menjadi
merah karena terbentuk adenokrom.
b.terjadi pengendapan
Contoh: injeksi aminophilin dibuat dengan air bebas CO2, karena jika tidak bebas CO2
maka akan terbentuk theopilin yang kelarutannya kecil dalam air sehingga akan
mengendap. Akibatnya dosis menjadi berkurang.

Cara penggunaan sediaan

Injeksi vitamin C diberikan melalui intravena. Injeksi intravena (I.V) merupakan injeksi ke dalam
pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu peredaran darah, obat
sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi, lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini
digunakan untuk mencapai pentakaran yang tepat dan dapat dipercaya atau efek yang
sangat cepat dan kuat. Tidak untuk obat yang tidak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan
protein atau butiran darah. (Tan Hoan Tjay & Kirana R, 2007 hal 19)

Sterilisasi

 Cara sterilisasi akhir


Cara ini merupakan cara sterilisasi umum dan paling banyak digunkan dalam pembuatan
sediaan steril. Zat aktif harus stabil dengan adanya molekul air dan suhu sterilisasi.
Dengan cara ini sediaan disterilkan pada tahap terakhir pembuatan sediaan. Semua alat

4
setelah lubang-lubangnya ditutup kertas perkamen, dapat langsung digunakan tanpa perlu
disterilkan lebih dahulu.

 Cara aseptis
Cara ini terbatas penggunaanya pada sedian yang mengandung zat aktif peka suhu tinggi
dan dapat mengakibatkan penguraian dan penurunan kerja farmakologisnya. Antibiotika
dan beberapa hormon tertentu merupakan zat aktif yang sebaiknya diracik secara aseptis.
Cara aseptis bukanlah suatu cara sterilisasi melainkan suatu cara kerja untuk memperoleh
sediaan steril dengan mencegah kontaminasi jasad renik dalam sediaan.

 Sterilisasi panas dengan tekanan atau Sterilisasi uap (autoklaf)


Dengan memaparkan uap jenuh pada tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu
pada suatu objek, sehingga terjadi pelepasan energi laten uap yang mengakibatkan
pembunuhan mikroorganisme secara irreversible akibat denaturasi atau koagulasi protein
sel. Sterilisasi ini dilakukan dengan suhu 121°C selama 30 menit. Autoklaf digunakan
untuk mensterilkan alat-alat persisi seperti gelas ukur, pipet, corong beserta kertas saring,
spuit.

 Sterilisasi panas kering (oven)


Terjadi melalui mekanisme konduksi panas. Panas akan diabsorpsi oleh permukaan alat
yang disterikan lalu merambat kebagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk
sterilisasi tercapai. Udara panas oven akan mematikan jasad renik meluli mekanisme
dehidrasi-oksidasi terhadap mikroorganisme. Sterilisasi ini dilakukan dengan suhu 170°C
selama 30 menit. Digunakan untuk mensterilkan alat-alat gelas non-persisi seperti beaker
glass, elenmeyer, kaca arloji, cawan penguap, pinset logam, batang pengaduk.

5
2.2 Data Praformulasi
PRAFORMULASI STANDAR FORNAS

Komposisi : Tiap ml mengandung


Acidum ascorbicum 100 mg
Benzalkonium Klorida 0,1 mg
Natrium hidroksida 100 mg
Aqua pro injection hingga 1 ml

Catatan :
1. Dapat ditambahkan dinatrium edetat
2. Digunakan air untuk injeksi bebas udara
3. Natrium subkarbonat dapat diganti dengan natrium hidroksida atau natrium carbonat
4. pH 5,0 – 6,5
5. Pada pembuatan, dialiri gas nitrogen atau CO2
6. Disterilkan dengan cara sterilisasi C
7. Sediaan berkekuatan lain : 50 mg

DATA PRAFORMULASI BAHAN AKTIF


1. Vitamin C/Asam Askobat

Nama Resmi Acidum Ascorbicum


Nama Lain Vitamin C
Rumus Struktur
Rumus Molekul C6H8O6
BM 176,13
Bobot Jenis (BJ) 1,65
Pemerian Serbuk atau Hablur ; putih atau agak
kuning; tidak berbau; rasa asam. Oleh
pengaruh cahaya lambat laun menjadi
gelap. Dalam keadaan kering, mantap di
udara, dalam larutan cepat teroksidasi.
Organoleptis Bentuk Serbuk; warna Putih agak kuning;
rasa asam; tidak berbau
Khasiat Antiskorbut

DATA PRAFORMULASI BAHAN TAMBAHAN


1. Natrium Hidroksida (FI Edisi III Hal 412)

Nama Resmi Natrii Hydroxydum


Nama Lain Natrium Hidroksida
Rumus Struktur
Rumus Molekul NaOH

6
Berat Molekul 40,00
Pemerian Bentuk batang, butiran, massa hablur
atau keping, kering, rapuh dan mudah
meleleh basah. Sangat alkalis dan
korosif. Segera menyerap CO2

Kelarutan Sangat mudah larut dalam air dan


etanol (95%)

2. Water for injection (FI IV hal 112, FI III hal 97)


Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau
Sterilisasi Kalor basah (autoklaf)
Kegunaan Pembawa dan melarutkan
Cara pembuatan Didihkan aqua dan diamkan selama
30 menit, dinginkan.Aqua pro injeksi
digunakan sebagai pelarut dan
pembawa karena bahan-bahan larut
dalam air. Alasan pemilihan karena
digunakan untuk melarutkan zat aktif
dan zat-zat tambahan..

3. Benzalkonium Klorida (Hand Book of Pharmaceutical Excipient, hal.27)

Nama Lain Natrium Hidroksida


Rumus Struktur -
Rumus Molekul -
Pemerian Serbuk amorf berwarna putih atau
putih kekuning-kuningan bisa sebagai
gel yang tebal atau seperti gelatin,
bersifat higroskopis dan berbau
aromatis dan rasa sangat pahit.
Kelarutan hampir tidak larut dalam eter, sangat
larut dalam aseton, etanol (95 %),
metanol, propanol dan air. Larutan
benzalkonium klorida encer berbusa
jika dikocok, mempunyai tegangan
permukaan rendah dan mempunyai
sifat detergen dan pengemulsi

7
OTT Alaminium,surfaktan
anionic,sitrat,kapas,
flouresin,H2O2,HPMC,iodide, kaolin
Stabilitas Bersifat higroskopis dan
mungkin dipengaruhi oleh
cahaya,udara, dan
bahanlogam.larutannya stabil pada
rentang pH dan rentang temperature
yang lebar. Larutannya dapat
disimpan pada periode waktu yang
lama dalam suhu kamar.
Konsentrasi Dalam sediaan preparat
mata,benzalkonium klorida
digunakan sebagai pengawet dengan
konsentrasi 0,01%-0,02%, biasanya
dikombinasi dengan 0,1%w/v
disodium edetat.
Kegunaan Pengawet, antimikroba

8
BAB III
PEMBAHASAN

1. Karakteristik Sediaan Injeksi Vitamin C:

 Tonisitas

-Tonisitas menggambarkan tekanan osmose yang diberikan oleh suatu larutan (zat padat yang
terlarut di dalamnya)
-Suatu larutan dapat bersifat isotonis, hipotonis, atau hipertonis
-NaCl 0,9 % sebagai larutan pengisotoni
-Tidak semua sediaan steril harus isotonis, tapi tidak boleh hipotonis, beberapa boleh hipertonis

 Kejernihan

Larutan injeksi vitamin C adalah dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih secara
normal diperoleh dengan filtrasi. Tentunya, pentingnya peralatan filtrasi agar jernih dan tercuci
baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan
untuk menghilangkannya. Pengerjaan penampilan untuk larutan dalam lingkungan yang bersih,
penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah memberikan kebersihan untuk penyiapan larutan
jernih bebas dari partikel asing. Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan sterilisasi
dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih
sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. Keduanya, wadah dan tutup harus bersih,
steril dan tak tertumpahkan. Wadah atau tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama
kontak lama dalam penyimpanan. Normalnya dilakukan tes sterilisasi

 Buffer dan pH

pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi


optimum untuk stabil. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai kapasitas adekuat untuk
memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. Kapasitas buffer adalah kunci
utama situasi ini

2. Formulasi Sediaan Injeksi Vitamin C


Komposisi :
 Asam ascorbat 10 %
 Na EDTA 0,1 %
 Na metabisulfit 0,5 %

9
 NaHCO 31,39%
 Aqua p.i ad 5 m

Perhitungan Bahan

Prosedur Kerja

-Bahan yang digunakan

 Asam ascorbat
 Na EDTA
 Na metabisulfit
 NaHCO
 Aquadest

-Cara pembuatan

A. Sterilisasi alat dan timbang semua bahan


B. Na ETDA diencerkan dahulu dengan 6ml aquadest lalu dicampurkan dengan Na metabisulfit
C. Vitamin C dimasukan kedalam eylenmeyer
D. Tambahkan aqua pro injeksi sampai larut

10
E. Lalu tambahkan larutan campuran dari Na metabisulfit dan Na EDTA
F. Setelah itu tambahkan NaHCO3 dan aqua pro injeksi ad 25ml
G. Cek PH 6 baru ditambahkan lagi aqua proinjeksi ad 30ml
H. Campuran disaring dengan membran filter
I. Diambil larutan sebanyak 5,3ml kedalam vial dan alumunium dicap

-Cara sterilisasi

Wadah disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan ke dalam wadah. Wadah disaring melalui
penyaring bakteri steril, diisikan ke dalam wadah akhir yang steril, kemudian ditutup kedap dengan teknik asepti

-Evaluasi sediaan

1. Organoleptis
Uji organoleptik atau uji indera atau uji sensori merupakan cara pengujian dengan
menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap
produk. Larutan berwarna kuning bening, homogen, serta tidak ada partikel yang melayang.

2. Kadar pH
Pemeriksaan pH dengan menggunakan pH stik bertujuan untuk meningkatkan stabilitas
injeksi vitamin c supaya tidak terjadi kristalisai, mengurangi rasa sakit dan iritasi juga mencegah
pertumbuhan bakteri, karena jika pH terlalu asam/basa sangat mudah ditumbuhi bakteri, rentang
ph yang baik yaitu 5-7. pH yang dihasilkan pada uji vitamin c adalah 5.
Asam askorbat dalam larutan sangat stabil pada pH 5-6,5. Pengujian dilakukan dengan
menggunakan kertas indicator universal didapatkan pH = 11. Hal ini dikarenakan kami
menambahkan NaOH sebagai adjuster pH terlalu banyak, karena NaOH yang digunakan dalam
bentuk padatan, sedangkan akan lebih efektif jika menggunakan NaOH dalam bentuk larutan.

3. Kebocoran
Pada uji kebocoran, diketahui tidak ada ampul yang bocor, kebocoran ditandai dengan
adanya warna biru di dalam ampul. Uji kebocoran ini dilakukan untuk memastikan bahwa ampul
yang digunakan benar-benar baik kondisinya. Jika terdapat kebocoran akan ada kemungkinan
obat untuk keluar, sehingga dosis yang didapatkan tidak sesuai dengan dosis yang diinginkan.
Selain itu adanya kebocoran dapat menyebabkan partikel asing masuk, partikel ini dapat berupa
mikroorganisme atau pirogen, yang menandakan bahwa larutan tersebut tidak lagi steril.

4.Kejernihan
Kejernihan adalah suatu batasan yang relatif, yang artinya sangat dipengaruhi oleh
penilaian subjektif dari pengamat. Tujuan dilakukan uji kejernihan ini adalah untuk mengetahui
kejernihan dari sediaan yang dibuat. Syarat kejernihan yaitu sediaan larutan ( kecuali suspensi
dan emulsi) adalah tidak ada zat yang terdispersi dalam larutan jernih. Hasil uji dari kejernihan
pada percobaan enjiksi vitamin c adalah jernih, karena tidak terdapat kotoran berwarna gelap
maupun berwarna muda

11
.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
- Formulasi untuk pembuatan sediaan injeksi vitamin C
Komposisi : Tiap ml mengandung
Acidum ascorbicum 100 mg
Benzalkonium Klorida 0,1 mg
Natrium hidroksida 100 mg
Aqua pro injection hingga 1 ml

- Prosedur kerja sediaan injeksi vitamin C


1. Dilakukan sterilisasi peralatan yang akan digunakan sesuai dengan prosedur.
2. Disiapkan Aqua Pro Injeksi bebas O2 sebayak 20 mL.
3. Ditimbang Vitamin c dan NaOH dengan kaca arloji, kemudian masukkan ke dalam
beaker glass, zat akif dilautkan dengan Aqua Pro Injeksi bebas O2, kemudian bilas kaca
arloji dengan beberapa tetes Aqua Pro Injeksi bebas O2.
4. Ditambahkan NaOH ke dalam vitamin c, aduk sampai larut (cek pH 5-6,5).
5. Dituang larutan tersebut ke dala gelas ukur, catat volume larutan. Adkan dengan Aqua
Pro Injeksi bebas O2 sampai tepat 10 mL.
6. Dituang sedikit Aqua Pro Injeksi bebas O2 untuk membasahi kertas saring yang akan
digunakan untuk menyaring.
7. Disaring larutan ke dalam elenmeyer bersih dan kering.
8. Dibilas gelas ukur dengan sisa Aqua Pro Injeksi bebas O2 (sisa 10 mL), kemudian
masukan k dalam bilasan ke dalam Erlenmeyer.
9. Diisikan larutan zat ke dalam ampul (dengan spuit) sebanyak , mL.

- Evaluasi sediaan injeksi vitamin C meliputi uji organoleptis, uji pH, kebocoran, dan
kejernihan.

12
- Penggunaan wadah untuk sediaan injeksi vitamin C adalah dalam wadah dosis tunggal,
yakni suatu wadah kedap udara yang mempertahankan jumlah obat steril yang
dimaksudkan untuk pemberian parenteral sebagai dosis tunggal dan yang bila dibuka
tidak ditutup rapat kembali dengan jaminan tetap steril.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2005. Farmaseutika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UI. 1995. Farmakologi dan Terapi, edisi empat.
Jakarta : Gaya Baru.

Davies MB, Austin J, Partridge DA,1991, Vitamin C: Its Chemistry andBiochemistry. The
Royal Society ofChemistry, Cambridge.

Direction of the Council of The Pharmaceutical Society of Great Britain. 1982. Martindale The
Extra Pharmacopoeia Twenty eight Edition. London : The Pharmaceutical Press.

Farmakope Indonesia Edisi ketiga. 1979. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Farmakope Indonesia Edisi keempat. 1995. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Formularium Nasional Edisi Kedua. 1978. Departemen Kesehatan Repiblik Indonesia.

Groves, M. 1988. ParenteralTechnology Manual. 2nd edition. USA:Interpharm,Press. Hal.


41–42

Lukas, Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta : Andi Yogyakarta.

Sulistiawati, Farida dan Suryani Nelly. 2009. Formulasi Sediaan Steril. Jakarta : Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah.

Wade, Ainley and Paul J.Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients, second edition.
London : The Pharmaceutical Press

13
14