Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM GEOMODEL

OLEH :

Kelompok Legend 9

Muhammad Ridwan Nurdin 410014089

Bhomas Wijokangko 410014

DEPARTEMEN TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA

2019
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

I.2. Maksud dan tujuan

I.3. Rumusan Masalah

BAB II. ISI

II.1 ACARA 2. Analisis Well Log

II.2 ACARA 3. Korelasi Well Log

II.3 ACARA 4. Fance Diagram

II.4 ACARA 6. Analisis Citra Digital (Digitasi morfologi delta)

II.5 ACARA 7. Pembuatan Penampang Geologi

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. KESIMPULAN


BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Geomodel adalah ekuivalen numerik dari peta geologis tiga dimensi yang
dilengkapi dengan deskripsi kuantitas fisik dalam domain yang diminati. Dalam
pembelajaran dan pengaplikasian ilmu geomodelling (permodelan geologi), terdapat
beberapa materi berupa well log, Sedlog, system koordinat, dan Arcgis.

Pada setiap pembahasan materi saling berkesinambungan (berhubungan) dari


penginterpretasian data log, sedlog, system koordinat maupun pengaplikasian pada
arcgis yang berupa Peta.

Wireline log merupakan perekaman data pengukuran secara kontinu disuatu


lubang bor menggunakan geophysic probe yang mampu merespon variasi sifat – sifat
fisik batuan setelah dilakukan pengeboran (reeves, 1986).
Log adalah suatu grafik kedalaman dari suatu set kurva yang menunjukan
parameter yang diukur secara kesinambungan di dalam sebuah sumur (harsono,
1993).
Log dapat berupa pengamatan visual sampel yang diambil dari lubang bor
(geological log), atau dalam pengukuran fisika yang diperoleh dari respon piranti
instrumen yang dipasang di dalam sumur (geophysical log). Well logging dapat
digunakan dalam bidang eksplorasi minyak dan gas, batu bara, air bawah tanah dan
geoteknik.
Logging sumur adalah pengukuran dalam lubang sumur menggunakan
instrumen yang di tempatkan pada ujung kabel wireline dalam lubang bor. Sensir
yang terletak di ujung wireline akan mendeteksi keadaan dalam sumur. Loging sumur
dilakukan setelah drill string dikeluarkan dari sumur. Terdapat dua kabel yang
terkoneksi dengan permukaan, kedalam sumur direkam ketika sensor turun dan
diangkat kembali untuk memulai pendektesian. Subset kecil dari data pengukuran
dapat ditransmisikan ke permukaan real time menggunakan pressure pulses dalam
wells mud fluids colomn. Data telemetri dari dalam tanag mempunyai bandwith yang
kecil kurang dari 100 bit/sec. sehingga informasi didapat real time dengan bandwidth
yang kecil.

1.2 Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui pengertian well log
2. Menentukan zonasi pada data well log
3. Dapat mengkorelasikan data data well log
4. Mengetahui apa itu fence Diagram dan data apa yang bias dihasilkan dari
fence Diagram
5. Dapat menganalisa citra digital
6. Dapat mengaplikasikannya dengan membuat penampang geologi.

1.3 Rumusan Masalah

1) Bagaimana cara mengkelompokan data log yang sama?


2) Bagaimana cara membuat keterangan litologi dari data log?
3) Data apa saja yang dapat kita ketahui dengan menganalisa citra digital?
BAB II

ISI

II.1. Analisis well log

Logging merupakan metode pengukuran besaran-besaran fisik batuan reservoir


terhadap kedalaman lubang bor. Sesuai dengan tujuan logging yaitu menentukan
besaran-besaran fisik batuan reservoir (porositas, saturasi air formasi, ketebalan
formasi produktif, lithologi batuan) maka dasar dari logging itu sendiri adalah sifat-
sifat fisik atau petrofisik dari batuan reservoir itu sendiri, yaitu sifat listrik, sifat
radioaktif, dan sifat rambat suara (gelombang) elastis dari batuan reservoir.

Log adalah suatu grafik kedalaman (dalam waktu) dari satu set yang
menunjukkan parameter fisik, yang diukur secara berkesinambungan dalam sebuah
sumur (Harsono, 1997). Ada 4 tipe atau jenis log yang biasanya digunakan dalam
interpretasi, yaitu:

1. Log Radioaktif
Log radioaktif dapat digunakan pada sumur yang dicasing (cased hole) maupun
yang tidak dicasing (open hole). Keuntungan dari log radioaktif ini
dibandingkan dengan log listrik adalah tidak banyak dipengaruhi oleh keadaan
lubang bor dan jenis lumpur. Dari tujuan pengukuran, Log Radioaktif dapat
dibedakan menjadi: alat pengukur lithologi seperti Gamma Ray Log, alat
pengukur porositas seperti Neutron Log dan Density Log. Hasil pengukuran
alat porositas dapat digunakan pula untuk mengidentifikasi lithologi dengan
hasil yang memadai.

a) Log Gamma Ray (GR Log)


Prinsip pengukurannya adalah mendeteksi arus yang ditimbulkan oleh ionisasi
yang terjadi karena adanya interaksi sinar gamma dari formasi dengan gas ideal
yang terdapat didalam kamar ionisasi yang ditempatkan pada sonde. Besarnya
arus yang diberikan sebanding dengan intensitas sinar gamma yang
bersangkutan.
Didalam formasi hampir semua batuan sedimen mempunyai sifat radioaktif
yang tinggi, terutama terkonsentrasi pada mineral clay. Formasi yang bersih
(clean formasi) biasanya mengandung sifat radioaktif yang kecil, kecuali
lapisan tersebut mengandung mineral-mineral tertentu yang bersifat radioaktif
atau lapisan berisi air asin yang mengandung garam-garam potassium yang
terlarutkan (sangat jarang), sehingga harga sinar gamma akan tinggi.
Dengan adanya perbedaan sifat radioaktif dari setiap batuan, maka dapat
digunakan untuk membedakan jenis batuan yang terdapat pada suatu formasi.
Selain itu pada formasi shaly sand, sifat radioaktif ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi kadar kandungan clay yang dapat berkaitan dengan penilaian
produktif suatu lapisan berdasarkan intrepretasi data logging. Besarnya volume
shale dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
…………………………..…………………... (3-10)
dimana :
GRlog = hasil pembacaan GR log pada lapisan yang bersangkutan
GRmax = hasil pembacaan GR log maksimal pada lapisan shale
GRmin = hasil pembacaan GR log maksimal pada lapisan non shale
Dengan pertimbangan adanya efek densitas formasi, maka untuk formasi
dengan kandungan satu mineral, gamma ray yang terbaca pada log adalah :
……………………………………………….…… (3-11)
dimana :
ρ1 = densitas dari mineral radioaktif
V1 = volume batuan mineral
A1 = faktor perimbangan radioaktif dari mineral
= konsentrasi berat dari mineral

Untuk formasi yang mengandung lebih dari satu mineral radioaktif, respon GR
adalah penjumlahan dari beberapa mineral tersebut dengan menggunakan
persamaan (3-12). Sedangkan untuk formasi dengan kandungan dua mineral
radioaktif, densitas dan kekuatannya berbeda, serta keberadaannya dalam
jumlah yang berbeda maka GR yang terbaca pada log adalah :
……..………..………..………..………..………..………..……... (3-12)
persamaan (3-12) diatas dapat disamakan dengan mengalikan dengan ρb
sehingga persamaannya dapat ditulis menjadi :
.GR = B1 V1 + B2 V2 …………………………………………… (3-13)
dimana:
B1 = ρ1 A1
B2 = ρ2 A2

Secara khusus Gamma Ray Log berguna untuk identifikasi lapisan permeabel
disaat SP Log tidak berfungsi karena formasi yang resistif atau bila kurva SP
kehilangan karakternya (Rmf = Rw), atau ketika SP tidak dapat merekam
karena lumpur yang yang digunakan tidak konduktif (oil base mud). Hal
tersebut dapat dilihat pada gambar 3.10. Selain itu Gamma Ray Log juga dapat
digunakan untuk mendeteksi dan evaluasi terhadap mineral radioaktif
(potassium dan uranium), mendeteksi mineral tidak radioaktif (batubara), dan
dapat juga untuk korelasi antar sumur..

Gambar 1. Log Gamma Ray


b) Log Porositas
Log porositas digunakan untuk mengetahui karakteristik/ sifat dari
litologi yang memiliki pori, dengan memanfaatkan sifat – sifat fisika batuan

yang didapat dari sejumlah interaksi fisika di dalam lubang bor. Log densitas
merekam secara menerus dari densitas bulk formasi. Secara geologi densitas
bulk adalah fungsi dari densitas total dari mineralmineral pembentuk batuan
misalnya matriks, dan volume dari fluida bebas yang mengisi pori (Rider,
2002).

Gambar 2, log porositas

c) Log neutron
Log neutron merekam indeks hidrogen (HI) dari formasi. HI merupakan
indikator kelimpahan komposisi hidrogen dalam formasi, dengan asumsi atom
H berasal dari HC atau air. Karena minyak dan air mempunyai jumlah hidrogen
per unit volume yang hampir sama, neutron akan memberikan tanggapan
porositas cairan dalam formasi bersih, akan tetapi neutron tidak dapat
membedakan antara atom hidrogen bebas dengan atom hidrogen yang secara
kimia terikat pada mineral batuan, sehingga tanggapan neutron pada formasi
serpih yang banyak berkomposisi atom hidrogen di dalam susunan molekulnya
seolah - olah mempunyai porositas yang lebih tinggi. Neutron Log
Neutron Log direncanakan untuk menentukan porositas total batuan tanpa
melihat atau memandang apakah pori-pori diisi oleh hidrokarbon maupun air
formasi. Neutron terdapat didalam inti elemen, kecuali hidrokarbon. Neutron
merupakan partikel netral yang mempunyai massa sama dengan atom hidrogen.

Gambar:3 Log neutron


D. Log akustik
Log adalah log akustik yang menggambarkan waktu kecepatan suara yang
dikirimkan/dipancarkan kedalam formasi sehingga pantulan suara yang kembali
diterima oleh receiver. Waktu yang diperlukan gelombang suara untuk sampai
ke receiver disebut “ interval transit time” atau ∆t. Besar atau kecilnya ∆t yang
melalui suatu formasi tergantung dari jenis batuan dan besarnya porositas
batuan serta isi kandungan dalam batuan (Harsono, 1997).

Log sonik mengukur kemampuan formasi untuk meneruskan gelombang suara.


Secara kuantitatif, log sonic dapat digunakan untuk mengevaluasi porositas
dalam lubang yang terisi fluida, dalam interpretasi seismik dapat digunakan
untuk menentukan interval velocities dan velocity profile selain itu juga dapat
dikalibrasi dengan penampang seismik. Secara kualitatif dapat digunakan untuk
mendeterminasi variasi tekstur dari lapisan sand-shale. Log ini juga dapat
digunakan untuk identifikasi litologi, mungkin juga dalam penentuan batuan
induk, kompaksi nornal, overpressure, dan dalam beberapa kasus dapat
digunakan untuk identifikasi rekahan (fractures) (Rider, 1996).

Gambar:4 Log sonic

II.2. Korelasi Well log

II.3. Facne Diaram


II.4. Analisis Citra Digital (Digitasi morfologi delta)

II.5. Pembuatan Penampang Geologi