Anda di halaman 1dari 23

SPIRIT ISLAM DAN RUJUKAN DOKTRIN UTAMA

ISLAM

Disusun oleh :
1. Meinisa Rofiqah (1904015010)
2. Ade Rahmania Terezza (1904015018)
3. Susilawati Umacina (1904015050)
4. Mertia Ningsih (1904015058)

FAKULTAS FARMASI DAN SAINS


PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penanggalan Hijrah sebagai penanggalan Islam mulai digunakan semasa Khalifah


Umar bin al-Khathab ra. Awal Tahun Hijrah berpatokan pada peristiwa hijrah Rasul saw. dari
Makkah ke Madinah. Keputusan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. tersebut yang kemudian
disepakati oleh para sahabat tentu memiliki makna besar. Peristiwa hijrah Baginda Nabi SAW
dari Mekkah ke Madinah adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam
dan kaum Muslim. Dengan hijrah itulah masyarakat Islam terbentuk untuk pertama kalinya.
Lewat pintu hijrah itu pula, Islam sebagai sebuah ideologi dan sistem bisa ditegakkan dalam
intitusi negara, yakni Daulah Islamiyah di Madinah Munawarah. Karena itu makna dan spirit
hijrah itu penting untuk diresapi serta direalisasikan untuk menghela perubahan masyarakat
saat ini. Dengan begitu akan terwujud kembali masyarakat Islam yang diliputi keberkahan dan
keridhaan dari Allah SWT.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian tauhid ?
2. Apa saja macam-macam tauhid ?
3. Apa pengertian pasrah ?
4. Apa pengertian hijrah ?
5. Apa saja macam-macam hijrah ?
6. Apa pengertian adab ?
7. Apa pengertian etos keilmuan ?
8. Bagaimana sejarah biografi Nabi Muhammad SAW ?
9. Bagaimana sejarah awal dakwah islam ?
10. Apa argumentasi ilmiah keunggulan dan keotentikan Al Qur’an dan Sunnah ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui pengertian dari tauhid.
2. Untuk mengetahui macam-macam tauhid.
3. Untuk mengetahui pengertian dari pasrah.
4. Untuk mengetahui pengertian dari hijrah.
5. Untuk mengetahui macam-macam hijrah.
6. Untuk mengetahui pengertian dari adab.
7. Untuk mengetahui pengertian dari etos keilmuan.
8. Untuk mengetahui sejarah biografi Nabi Muhammad SAW.
9. Untuk mengetahui sejarah awal dakwah islam.
10. Untuk mengetahui argumentasi ilmiah keunggulan dan keotentikan Al Qur’an dan
Sunnah.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tauhid


a) Menurut bahasa Tauhid dari segi bahasa adalah bahasa arab, yaitu bentuk masdar (sifat
atau keadaaan) dari kata yuhid/ wahid yang artinya “menyatukan” atau “mengesakan”.
Sebagai bentuk masdar (sifat dan keadaan), kata “ Tauhdi” artinya adalah “penyatuan”
atau “pengesaan”.
b) Menurut istilah Dari segi istilah islam, perkataan Tauhid adalah berarti esa atau satu,
yang merupakan asma Allah yang menunjukkan sifat ke-Maha Esaan dan ke-Maha
Tunggalannya.
c) Tauhid menurut istilah Islam adalah mengakui keesaan Allah, mengesakan Allah.
(Depdikbud RI,1989: 907), dengan cara menyatukan unsur pikiran, perasaan, lisan dan
perbuatan. Jadi Tauhid, dalam konteks agama islam adalah proses pernyatuan aspek
ilmu (kognitif), penghayatan (afektif) dan tindakan (psikomotorik) dala mengesakan
Allah SWT. Atau dengan kata lain Tauhid adalah penyatuan pengetahuan
(knowledge), komitmen dan aktualitas dalam mengesakan Allah SWT.
2.2 Macam-Macam Tauhid
1. Tauhid Rububiyah
Tauhid al-Rububiyah adalah diambil dari salah satu nama Allah al-Rabb, yang
memiliki beberapa makna yaitu : pemeliharaan, pengasuh, pendamai, pelindung, penolong
dan penguasa. Secara umumnya dapat diartikan mentauhidkan Allah dalam perbuatan-
Nya, seperti mencipta, menguasai, memberikan rizki, mengurusi makhluk, dll. Yang
semuanya hanya Allah semata yang mampu dalam semua alam semesta. Dan semua orang
meyakini adanya Rabb yang menciptakan, menguasai, dll.Setelah mengetahui bahwa
pencipta kita adalah Allah swt, dan bahwa keberadaan dan managemen kita hanya berada
di tangan-Nya, kita juga harus percaya bahwa tak seorangpun selain Dia yang mempunyai
hak untuk memerintah dan membuat hukum bagi kita.
Yang dimaksud dengan hal ini ialah bahwa alam raya ini diatur oleh mudabbir
(pengelola), pengendali tunggal, tak disekutui oleh siapa dan apa pun dalam pengelolaan
dan pen-tadbiran-Nya. Dialah Allah (Mahasuci Dia) Pengelola alam semesta
ini.Adapun pentadbiran para malaikat serta semua sebab (lantaran) yang saling
berkaitan, tidak lain adalah perintah-Nya. Hal ini berlawanan dengan pendapat sebagian
kaum
musyrikin yang percaya bahwa yang berkaitan dengan Allah SWT hanyalah
perbuatan penciptaan dan pengadaan mula pertama saja, sedangkan pentadbiran dan
pengaturan segala jenis makhluk dan benda diatas bumi ini selanjutnya diserahkan
sepenuhnya kepada benda-benda langit,malaikat, jin,serta maujudat spiritual yang
diperankan oleh berhala-berhala yang disembah. Jadi menurut mereka tidak ada sangkut
paut Allah dalam hal pentadbiran dan pengelolaan urusan segala nya.
Akan tetapi, dengan jelas dan terang Al-Quran menegaskan bahwa Allah adalah
sang pengatur dan pengelola (al-Mudabbir) bagi alam semesta, maka yang demikian itu
semata-mata atas izin dan perintah-Nya.

2
Allah SWT berfirman dalam QS.Al-A’raaf :
‫ حثيثا‬,‫إن ربكم هللا الذى خلق السموات واألرض فى ستة ايام تم استوى على العرش يغشى اليل النها ر يطلبه‬
‫والشمس والقمر والنجوم ميخرت بأمره أال له الخلق واألمر تباركاهلل رب العلمين‬
Artinya :
“ Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa, lalu Dia menguasai diatas arasy. Dia menutupkan malam kepada siang
yang mengikutinya dengan cepat dan (diciptakan –Nya pula)matahari, bulan dan bintang,
yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya.ingatlah menciptakan dan memerintah
hanyalah hal Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.(QS.Al-A’raf : 54)
Maka, siapa saja yang memiliki pengetahuan, walaupun sedikit, tentang ayat-
ayat Al-Quran, pasti mengetahui manakala Allah SWT menisbahkan banyak dari
perbuatan atau tindakan kepada diri-Nya sendiri, sementara disaat yang sama dan
diberbagai ayat lain Ia menisbahkannya kepada selain Dia, maka yang demikian itu sama
sekali tidak mengandung pertentangan (kontradiksi). Sebab, adanya pembatasan
timbulnya segala perbuatan pada zat-Nya sendiri saja ialah yang semata-mata bersifat
“mandiri sepenuhnya”. Hal ini tidak bertentangan dengan penyekutuan sesuatu selain-Nya
dalam perbuatan itu, dalam arti bahwa ia hanya sebagai pelaksana perintah dan kehendak-
Nya.
2. Tauhid Uluhiyah
Ulluhiyyah diambil dari kata al-ilah yang maknanya sesuatu yang disembah
(sesembahan) dan sesuatu yang ditaati secara mutlak dan total.kata llah ini diperuntukkan
bagi sebutan sesembahan yang benar (haq). Tauhid uluhiyyah adalah menyakini bahwa
tiada tuhan selain Allah SWT.Ini juga merupakan hasil lain keyakinan alamiah-warisan
dalam diri manusia. Jika eksistensi kita berasal dari Allah SWT, pengaturan dan
pengarahan hidup kita diserahkan kepada-Nya.
Anda mungkin telah menyadari bahwa Al-Quran memandang politeisme sebagai
sebuah dosa. Ketika dosa-dosa besar diperhitungkan,”politeisme berada dipuncak
daftarnya,”demikian dikatakan orang politeisme dalam praktiknya berarti menyembah
kepada selain Allah Swt., meskipun si penyembah tidak mempercayai bahwa
sembahannya itu patut disembah, dan hanya menyembahnya karena kepentingan-
kepentingan tertentu.[9]
Firman Allah SWT:
‫وإلهكم إله واحد الإله إال هوالرحمن الرحيم‬
Artinya:
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Baqarah:163)
Tauhid Uluhiyyah ini berhubungan erat dengan dua hal, yaitu: 1) Amal/perbuatan,
2) Ibadah. Supaya kedua hal tersebut mendapat pahala, maka wajib bagi setiap muslim
untuk meyakinkan pentingnya Niat/Ikhlas didalam beramal dan beribadah. Para ulama
telah sepakat Niat yang Murni berperan penting dalam meridhoi amal dan ibadah yang kita
lakukan sehari-hari.
Ibnu Athoillah menyatakan bahwa Niat/Ikhlas adalah Ruhnya:

2
“Amal-Amal adalah laksana gambaran-gambaran yang berdiri tegak dan yang menjadi
ruhnya adalah rahasia ikhlas/niat”
Berdasarkan keterangan di atas, amal-amal seperti sholat dan bersedekah tidak
akan ada ruhnya dalam arti tidak akan diterima dan diberi pahala apabila tidak diiringi
dengan niat yang murni. Sholat yang dikerjakan ataupun sedekah yang berjuta-juta tanpa
ada niat yang benar seolah-olah sholat dan sedekah yang berjuta-juta itu laksana jasad yang
mati tergeletak tak ada arti.
Oleh karena itu, setiap aktifitas ibadah seperti: sedekah, puasa, apabila kosong
tanpa keikhlasan/niat didalamnya, maka sedekah, puasa, berdzikir tidak disebut sebagai
ibadah tetapi disebut adat (kebiasaan).

Ibnu Abbas menyatakan bahwa:


‫عادة هي بل عبادة فليست اإلخالص من خلت عبادة كل‬
“Setiap ibadah yang kosong dari ikhlas/niat, maka itu bukanlah ibadah tetapi ia disebut
kebiasaan (adat)”
3. Tauhid Al Asma Wa’ al Sifat

Tauhid al Asma wa al Sifat adalah penetapan dan pengakuan yang kokoh atas
nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT yang luhur berdasarkan petunjuk Allah SWT dalam
Al-Quran dan petunjuk rasulullah dalam sunnahnya. Mayoritas ulama salaf yakni ulama
yang konsisten dalam mengikuti sunnah rasulullah, pandangan para sahabat dan tabiin
yang shalih, menetapkan segala nama dan sifat yang ditetapkan Allah SWT untuk diri-
Nya, dan apa-apa yang dijelas oleh Rasullulah bagi-Nya. Tanpa melakukan ta’thil
(penolakan), tahrif (perubahan dan penyimpangan lafadz dan makna), tamtsil
(penyerupaan) dan takyif (menanya terlalu jauh tentang sifat Allah SWT).
Sebagaimana firman Allah SWT :

‫ليس كثله شيء وهو السميع البصير‬

Artinya:
“Tiada yang menyerupai-Nya segala sesuatu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat” (QS. As Syura : 11).

2.3 Pengertian Pasrah

Pasrah adalah sikap menerima, tanpa ada usaha, menerima apa hal yang telah
dialaminya berdasarkan keyakinan sedangkan tawakal adalah sikap menerima yang dilakukan
setelah seseorang berusaha dengan kerja keras dan sungguh-sungguh. Lebih jelasnya tawakal
berarti penyandaran, penyerahan dan mempercayakan suatu perkara kepada pihak lain.
Seorang muslim yang tawakal adalah yang menyerahkan, menyandarkan dan mempercayakan
kepada Allah SWT atas segala yang sudah dilakukannya.
dalam keyakinan seorang muslim pasrah yang benar adalah sikap yang ditunjukan seseorang
setelah ia berusaha dengan sungguh-sungguh setelah itu ia menyerahkan hasil dari usaha yang
telah ia lakukan kepada Allah. Jika kita perhatikan tentu antara pasrah dan tawakal memiliki
persamaan dan perbedaan. Tawakal tidak sama dengan pasrah. Pasrah dan tawakal sama sama
berserah diri namun tawakal adalah sebuah kepasrahan dengan tindakan aktif, sementara
pasrah adalah tindakan pasif.

2
2.4 Pengertian Hijrah

Hijrah secara bahasa berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu
keadaan ke keadaan lain (Lisân al-‘Arab, V/250; Al-Qâmûs al-Muhith, I/637). Menurut Rawas
Qal’ah Ji dalam Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’, secara tradisi, hijrah bermakna keluar atau
berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk menetap di situ. Menurut al-Jurjani dalam
At-Ta’rifât, hijrah adalah meninggalkan negeri yang berada di tengah kaum kafir dan berpindah
ke Dâr al-Islâm.

Baginda Nabi saw. pernah bersabda:

« ُ‫َّللاُ َع ْنه‬ ِ ‫سانِ ِه َويَ ِد ِه َو ْال ُم َه‬


‫اج ُر َم ْن َه َج َر َما نَ َهى ه‬ َ ‫س ِل َم ْال ُم ْس ِل ُمونَ ِم ْن ِل‬
َ ‫» ْال ُم ْس ِل ُم َم ْن‬

“Muslim itu adalah orang yang menjadikan Muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya.
Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang”.
(HR al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, dll).

Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, juga al-
’Alqami yang dikutip di dalam ‘Awn al-Ma’bûd, menjelaskan bahwa hijrah itu ada dua macam:
zhâhirah dan bâthinah. Hijrah bâthinah adalah meninggalkan apa saja yang diperintahkan oleh
hawa nafsu yang selalu memerintahkan keburukan (nafsu al-ammârah bi as-sû’) dan seruan
setan. Hijrah zhâhirah adalah lari menyelamatkan agama dari fitnah (al-firâr bi ad-dîn min al-
fitan).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî Syarhu Shahîh al-Bukhârî menjelaskan, asal
dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan
mendapatkan kebaikan. Hijrah secara mutlak dalam as-Sunnah ditransformasikan ke makna:
meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr al-Islâm. Jika demikian maka asal hijrah adalah
meninggalkan apa saja yang telah Allah larang berupa kemaksiatan, termasuk di dalamnya
meninggalkan negeri syirk untuk tinggal di Dâr al-Islâm. Dengan demikian hijrah yang
sempurna (hakiki) adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah SWT larang, termasuk
meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr al-Islâm.

Secara syar’i, menurut para fukaha, pengertian hijrah adalah keluar dari darul kufur
menuju Darul Islam (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Darul Islam
adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek
kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul
kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak
berada di tangan kaum Muslim sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Pengertian
hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu
merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam).

Dari semua itu, hijrah mungkin bisa dimaknai sebagai momentum perubahan dan
peralihan dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari segala bentuk kejahiliahan menuju Islam dan
dari masyarakat jahiliah menuju masyarakat Islam. Alhasil, peralihan dan perubahan ke arah
Islam dan masyarakat Islam itulah spirit hijrah. Tentu spirit hijrah seperti itu sangat relevan
untuk kita wujudkan saat ini di tengah kehidupan kita kaum Muslim.

2
2.5 Macam-Macam Hijrah

Secara garis besar, hijrah dibedakan menjadi dua macam, yaitu hijrah makaniyah
(berpindah dari satu tempat ke tempat lain) dan hijrah maknawiyah (mengubah diri, dari yang
buruk menjadi lebih baik demi mengharap keridhaan Allah SWT).
Contoh hijrah makaniyah adalah peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah serta
hijrahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

"Berkatalah Ibrahim, `sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan)


Tuhanku, sesungguhnya Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.'" (QS al-Ankabut: 26).

"Maka keluarkanlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir,
dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.(QS al-Qashash:
21).

Hijrah maknawiyah, dibedakan menjadi empat, yaitu :

 Hijrah I'tiqadiyah (hijrah keyakinan), ketika seorang Muslim mencoba meningkatkan


keimanannya agar terhindar dari kemusyrikan.
 Hijrah Fikriyah (hijrah pemikiran), ketika seseorang memutuskan kembali mengkaji
pemikiran Islam yang berdasar pada sabda Rasulullah dan firman Allah demi
menghindari pemikiran yang sesat.
 Hijrah Syu'uriyyah adalah berubahnya seseorang yang dapat dilihat dari penampilannya,
seperti gaya berbusana dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hijrah ini biasa
dilakukan untuk menghindari budaya yang jauh dari nilai Islam, seperti cara berpakaian,
hiasan wajah, rumah, dan lainnya.
 Hijrah Sulukiyyah (hijrah tingkah laku atau kepribadian). Hijrah ini digambarkan dengan
tekad untuk mengubah kebiasaan dan tingkah laku buruk menjadi lebih baik. "Seperti
orang yang sebelumnya selalu berbuat buruk, seperti mencuri, membunuh, atau lainnya,
bertekad berubah kepribadiannya menjadi pribadi yang berakhlak mulia," kata Ustazah
Yenni.

2.6 Pengertian Adab

Adab adalah salah satu istilah di dalam bahasa Arab yang artinya adalah adat
kebiasaan. Kata ini menunjuk kepada suatu jenis kebiasaan, etiket, dan pola tingkah laku yang
dianggap sebagai model. Selama dua abad pertama dalam kemunculan agama islam, istilah
adab ini membawa implikasi makna etika dan juga sosial. Kata dasar “Ad” pada kata adab
artinya adalah sesuatu yang menakjubkan, atau persiapan untuk pesta. Di dalam pengertian ini
sama halnya dengan kata urbanitas, kesopanan, keramahan, dan kehalusan budi pekerti pada
masyarakat kota. Sehingga adab artinya sikap yang baik dari sesuatu itu sendiri. Bentuk
jamaknya adalah adab al-islam, dengan begitu pola perilaku yang baik ditetapkan oleh islam
berdasarkan pada ajarannya.

Adat kebiasaan di dalam kebudayaan lainnya selain dalam kebudayaan islam sangat
ditentukan oleh kondisi lokal, oleh karena itu tunduk pada beberapa perubahan yang terjadi
pada setiap kondisi tersebut. menurut W.G Summer berbagai macam kebutuhan yang muncul
berulang kali di suatu waktu tertentu, akan muncul beberapa kebiasaan individual dan juga adat

5
kebiasaan dalam suatu kelompok. Namun kebiasaan yang muncul tersebut adalah konsekuensi
yang secara tidak disadari muncul, dan tidak diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu.

Akhlak di dalam agama islam tidak bersifat tidak sadar. Adab dan kebiasaan dalam
islam berasal dari dua sumber utama di dalam islam, yaitu dari Al Quran dan sunnah, perbuatan
dan kata-kata nabi serta perintahnya secara tidak langsung. Maka akhlak islam itu jelas wahyu
nya berasal dari Allah SWT.

2.7 Pengertian Etos Keilmuan

Kata “etos“, Sebagaimana di uraikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, memiliki
pengertian: pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Secara sederhana, etos
dapat didefinisikan sebagai watak dasar dari suatu masyarakat. Perwujudan etos dapat dilihat
dari struktur dan norma sosial masyarakat itu. Sebagai watak dasar dari masyarakat, etos
menjadi landasan perilaku diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, yang terpancar dalam
kehidupan masyarakat. Karena etos menjadi landasan bagi kehidupan manusia, maka etos
juga berhubungan dengan aspek evaluatif yang bersifat menilai dalam kehidupan masyarakat.
Etos itu muncul karena adanya kemampuan pada diri sendiri dan pada sistem keyakinan yang
menjadi anutannya, dan ini melahirkan sikap tidak khawatir dan tidak cemas untuk
menghadapkan keyakinan itu kepada pengujian ilmiah.

Istilah keilmuan merupakan bentuk derivasi dari kata “ilmu”. Kata “Ilmu“ sendiri
memiliki arti : ( 1 ) Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut
metode – metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala – gejala tertentu
dibidang ( pengetahuan )itu, dan ( 2 ) Pengetahuan atau kepandaian ( tentang soal duniawi )
akhirat, lahir, dan batin dan lain –lain. Kata keilmuan memiliki arti : barang apa yang
berkenaan dengan pengetahuan atau secara ilmu pengetahuan. Menurut Nurcholish Madjid
etos keilmuan adalah suatu bagian integral keagamaan yang sehat. Dimana integral keagamaan
yang sehat ini ditunjukan dengan nilai-nilai (values) yang terkandung dalam al-Qur’an dan
al-Sunnah tentang “keilmuan” yang dijadikan sumber inspirasi dan motivasi oleh setiap
Muslim untuk melakukan aktivitas keilmuan berbagai bidang kehidupan. Cara mereka
memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-Qur’an dan al-Sunnah tentang
dorongan untuk menghasilkan nilai – nilai pendidikan itulah yang membentuk etos keilmuan
dalam Islam. Maka secara sederhana dapat kita pahami bahwa wawasan dan nilai edukatif
seseorang akan terus berkembang seiring dengan perkembangan etos keilmuan yang
dimilikinya.

2.8 Biografi Nabi Muhammad SAW

Muhammad SAW berasal dari kalangan suku Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah bin
Abdul Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Garis nasab ayah dan ibunya
bertemu pada Kilab bin Murrah. Apabila ditarik ke atas, silsilah beliau sampai pada Nabi Ismail
as dan Nabi Ibrahim as.

Muhammad SAW lahir di Mekah Al-Mukarammah pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal,
bertepatan dengan 20 April 571 M pada tahun Gajah. Disebut tahun Gajah, karena pada saat
lahir beliau lahir, Mekah diserang oleh Abrahah yang bermaksud menghancurkan Ka’bah
dengan menggunakan seekor gajah yang besar. Tetapi serangan Abrahah gagal karena pasukan
Abrahah itu diserang penyakit mengerikan. Penyerangan Abrahah ke Mekah ini diabadikan
dalam Al-Qur’an surat Al-Fill.

2
Muhammad SAW dilahirkan sebagai yatim. Ayahnya Abdullah wafat tiga bulan setelah
menikahi ibunya. Nama Muhammad merupakan pemberian kakeknya, Abdul Muthalib.
Sebuah nama yang tidak lazim dan populer di kalangan suku Quraisy saat itu. Beliau beberapa
hari disusui oleh Tsuwaibah, sahaya Abu Lahab, kemudian dilanjutkan penyusuan dan
pengasuhannya oleh Halimah al-Sa’diyah.

Ketika berusia 5 tahun, beliau dikembalikan kepada Aminah. Akan tetapi, setahun
kemudian ibu kandung yang dicintainya ini pun wafat (usia Muhammad 6 tahun). Abdul
Muthalib melanjutkan pengasuhan atas cucunya sampai kakek yang bijak ini juga wafat dua
tahun kemudian (usia Muhammad 8 tahun). Sejak usia 8 tahun, tanggung jawab untuk
mengasuh dan membesarkan Muhammad SAW selanjutnya dipikul oleh Abu Thalib, salah
seorang putera Abdul Muthalib yang paling miskin, tetapi sangat disegani dan dihormati oleh
penduduk Mekah.

Ketika usia 12 tahun, Muhammad SAW ikut pamannya Abu Thalib untuk berdagang
ke Syiria. Ketika Abu Thalib sampai Bushra, ia bertemu dengan pendeta Kristen, Buhaira
namanya. Pendeta itu melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad sebagaimana
termaktub dalam kitab suci yang dipercayainya. Ia memperingatkan Abu Thalib agar menjaga
keselamatan Muhammad dari orang-orang Yahudi di Syiria yang apabila melihat tanda-tanda
itu mungkin akan mencelakainya bahkan membunuhnya. Oleh karena itu, Abu Thalib
mempersingkat keberadaannya di Syiria kali ini dan setelah itu tidak pernah lagi berpergian
jauh meninggalkan kota Mekah.

Tatkala Muhammad SAW berusia 15 tahun, terjadi peperangan antara suku Quraisy
dan kabilah Hawazin. Perang ini disebut dengan perang Fijar yang artinya pendurhakaan.
Disebut demikian karena penyebab terjadinya perang ini adalah pelanggaran yang dilakukan
oleh kabilah Hawazin terhadap aturan dan adat setempat. Dalam perang ini, Muhammad
membantu pamannya memungut anak panah yang dilontarkan musuh dan sesekali melepaskan
anak panah ke pihak musuh. Perang ini terjadi selama empat tahun, kendati hanya terjadi
beberapa hari saja setiap tahunnya. Perang ini berakhir dengan perdamaian yang melahirkan
perserikatan (organisasi) bernama hilf al-fudhul (sumpah utama). Di organisasi ini,
Muhammad terpilih menjadi anggotanya dan merupakan anggota termuda.

Selain aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, masa remaja Muhammad SAW
dilalui dengan menggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah di daerah
Jiad. Pada waktu-waktu tertentu, Muhammad dan keluarganya mengunjungi pasar Ukadz,
Majanah dan Dzu al-Majaz untuk mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan ahli-ahli syair
ternama di Arab, yang disebut penyair Mudlahhabat dan Mu’allaqat.

Pada usia 24 tahun, Muhammad SAW bergabung dengan kelompok dagang Siti
Khadijah untuk melakukan perniagaan (perjalanan bisnis) ke Syiria. Ini adalah kunjungan
kedua Muhammad ke Syiria. Di sini, Muhammad menunjukkan kepiawaiannya dalam
berdagang. Sikap dan tutur kata Muhammad ketika menawarkan barang dagangan menarik
minat calon pembeli untuk berbelanja kepadanya, sehingga barang yang ditawarkan itu laku
keras dan beliau memperoleh keuntungan besar. Hal inilah yang melahirkan suka cita yang
amat dalam pada diri Khadijah kepada Muhammad. Kekaguman Khadijah atas keagungan
pribadi Muhammad menimbulkan hasrat untuk menjadikan beliau sebagai pendamping
hidupnya.

2
Menginjak usia 25 tahun, Muhammad mendapat pinangan dari Khadijah untuk
menjadi suaminya. Khadijah menyuruh Nafisah pembantunya yang setia untuk menjumpai
Muhammad dan menyampaikan isi hatinya. Setelah berpikir serius dan berdiskusi dengan
pamannya, akhirnya Muhammad menerima pinangan Khadijah untuk mendampinginya. Pada
tahun itulah, Muhammad resmi menjadi suami Khadijah, seorang janda kaya dari kalangan
bangsawan Quraisy yang terpandang, ia pernah dua kali menikah tetapi tidak dikaruniai
keturunan.

Ketika Muhammad berusia 35 tahun, terjadilah bencana alam (banjir) di kota Mekah.
Bencana ini menyebabkan Ka’bah yang ada di Mekah mengalami kerusakan, sehingga Hajar
Aswad berpindah dari tempatnya semula. Saat itu terjadi perselisihan di kalangan pemuka
quraisy tentang siapa yang berhak menempatkan kembali Hajar Aswad ke posisinya semula.
Bahkan perselisihan ini nyaris mengobarkan perang saudara, karena masing-masing merasa
paling berhak untuk menempatkan Hajar Aswad. Untunglah Muhammad berhasil
mendamaikan perselisihan tersebut. Muhammad meminta selembar kain. Kain itu
dihamparkan lalu batu itu diletakkan di atasnya dengan tangan beliau sendiri. Disuruhnya ketua
setiap kabilah memegang ujung kain itu, lalu mengangkatnya bersama-sama dan membawa ke
tempat dimana Hajar Aswad itu diletakkan. Kemudian beliau mengambil Hajar Aswad itu
diletakkan. Kemudian beliau mengambil Hajar Aswad dari atas kain tersebut dan
meletakkannya ke tempat semula. Keputusan ini ternyata memuaskan semua pihak yang
bertikai. Dalam peristiwa inilah, Muhammad mendapat julukan Al-Amin (orang yang
terpercaya) dari kaumnya, sehingga beliau semakin populer di kalangan penduduk Mekah.

Sebenarnya popularitas Muhammad tidak muncul dengan tiba-tiba. Sejak masih kanak-
kanak sampai dewasa, beliau dikenal berbudi luhur dan berkepribadian mulia, tidak ada
perbuatan tercela yang dapat dituduhkan kepadanya. Beliau tidak pernah menyembah berhala,
memakan daging yang disembelih untuk berhala, minum khamar, dan mendatangi tempat
perjudian. Beliau dikenal pemalu, tetapi murah hati, mudah bergaul, dan bijaksana. Apabila
ada yang mengajak bicara didengarkannya baik-baik dan tidak pernah memalingkan muka dari
lawan bicaranya. Lisannya fasih, bicaranya sedikit dan lebih banyak mendengarkan. Waktunya
beliau gunakan untuk memikirkan kondisi masyarakat Quraisy dan ciptaan Allah, sehingga ia
sering berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira untuk merenung dan menemukan jawaban apa
yang harus ia lakukan.

Sekitar usia 40 tahun pada malam Senin 17 Ramadhan tahun 13 SH atau 6 Agustus
610 M, selagi Muhammad berkhlwat di Gua Hira, Jibril menyampaikan wahyu pertama, yaitu
lima ayat surat Al-alaq. Dengan turunnya wahyu tersebut, Muhammad resmi menjadi utusan
Allah (Rasulullah) yang bertugas menyampaikan risalah Allah, bahwa tiada Tuhan yang wajib
disembah kecuali Allah, dan bahwasannya Muhammad itu utusan Allah.

Muhammad SAW melaksanakan tugas risalahnya selama 13 tahun di Mekah dan 10


tahun di Madinah. Dakwah dalam periode Mekah ditempuh beliau melalui 3 tahap : Pertama,
tahap dakwah secara diam-diam, sesuai perintah Allah dalam surat al-Muddatstsir ayat satu
sampai tujuh. Dalam tahap ini, Muhammad mengajak keluarga yang tinggal serumah dan
sahabat-sahabat dekatnya agar meninggalkan agama berhala dan beribadah hanya kepada Allah
semata. Kedua, tahap dakwah semi terbuka, sesuai perintah Allah dalam surat al-Syu’ra ayat
214. Dalam tahap ini Muhammad menyeru keluarganya dalam lingkup yang lebih luas. Yang
menjadi sasaran utama dakwah ini adalah Bani Hasyim. Ketiga, tahap dakwah secara terbuka,
sesuai perintah Allah dalm surat al-Hijr ayat 15. Dalam tahap ini Muhammad meluaskan
jangkauan ajakannya tidak hanya kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, tetapi juga kepada

2
seluruh penduduk Mekah dan orang-orang yang datang ke Mekah. Pada fase inilah Muhammad
mendapatkan tantangan dan reaksi yang keras dari kalangan Quraisy. Mereka tidak hanya
menolak ajakan Muhammad, tetapi juga memusuhi, memboikot dan menyiksa orang-orang
yang mendukung ajaran Muhammad. Bahkan mereka mengancam akan membunuh
Muhammad jika ia terus menyebarkan dakwahnya. Intimidasi kafir Quraisy ini berlangsung
hingga puluhan tahun. Ketika menghadapi intimidasi suku Quraisy inilah, Muhammad
menunjukkan kesabarannya yang luar biasa.

Kira-kira usia 50 tahun, Muhammad ditinggal wafat oleh dua orang yang sangat
dicintainya dan selalu mendukung dakwahnya serta melindunginya dari ancaman kafir
Quraisy, yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Tahun ini dikenal dengan ‘am al-huzn, yakni tahun
duka cita dan kesedihan. Dengan meninggalnya dua orang pembela yang setia itu, orang-orang
Quraisy semakin berani melakukan penghinaan bahkan penganiayaan. Kemudian, Muhammad
mencoba pergi ke Thaif untuk menyampaikan dakwah kepada pemuka kabilah di sana. Namun
penduduk Thaif ternyata menolak dakwah Muhammad, bahkan mengusirnya dengan
melempari batu sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Di peristiwa itu, kesabaran
Muhammad juga diuji.

Pada usia 51 tahun, tepatnya tanggal 27 Rajab tahun 11 setelah kenabian atau 1 tahun
sebelum hijrah, Muhammad mendapatkan perintah Allah untuk melaksanakan Isra’ Mi’raj
sebagai upaya memperkuat keimanan beliau dan mengokohkan bathin menghadapi ujian berat
karena ditinggal wafat oleh orang yang dicintai dan penyiksaan orang-orang Quraisy. Di situlah
Muhammad menerima syari’at kewajiban shalat fardhu lima kali sehari semalam, yang harus
disampaikan pengikutnya dan penduduk Quraisy, peristiwa itu justru menjadi bahan untuk
mengolok-olokan beliau bahkan menuduhnya sebagai manusia tidak waras. Tak lama setelah
peristiwa itu, kekerasan terhadap kaum muslimin semakin meningkat, bahkan kafir Quraisy
sepakat akan membunuh Muhammad. Menghadapi kenyataan ini, Muhammad SAW
menganjurkan para pengikutnya untuk hijrah ke Yastrib atau Madinah.

Sekitar usia 52 tahun, tepatnya bulan September 622 M, Muhammad berangkat hijrah
ke Yastrib untuk menghindari penyiksaan kafir Quraisy. Di Yastrib kedatangan Muhammad
ternyata mendapat sambutan luar biasa dari seluruh penduduknya. Sejak kedatangan
Muhammad, Yastrib berubah namanya Madinah al-Rasul (kota Rasul) atau al-Madinah al-
Munawwarah (kota yang mendapatkan cahaya).

Di Madinah inilah, Muhammad lebih leluasa menjalankan aktivitas dakwahnya. Beliau


melakukan pembinaan intensif terhadap masyarakat muslim Madinah yang baru terbentuk.
Beliau meletakkan dasar-dasar kemasyarakatan berupa menyusun sejumlah nilai dan norma
yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan peribadatan, sosial,
ekonomi dan politik yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunah. Beberapa asas
kemasyarakatan yang telah diletakkan oleh Muhammad SAW, antara lain : persaudaraan (al-
ikha), persamaan (al-musawah), toleransi (al-tasamuh), musyawarah (al-tasyawur), tolong-
menolong (al-ta’awun), dan keadilan (al-adalah). Dari Madinah pula Muhammad berhasil
melakukan ekspansi dakwahnya sampai ke negara-negara di luar Jazirah Arab seperti Persia,
Romawi, Yaman, Habsyi, Mesir dan sebagainya.

Tatkala usia 60 tahun, tepatnya 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah, setelah kafir Quraisy
yang ada di Mekah melanggar perjanjian Hudaibiyah. Muhammad SAW memimpin 10.000
pasukan berangkat menuju Mekah. Melihat pasukan Muhammad yang begitu besar, pemuka-
pemuka Quraisy gentar, ketakutan dan berbondong-bondong masuk Islam, di antara mereka

2
adalah Abbas ibn Abdul Muthalib dan Abu Sufyan. Akhirnya, Muhammad dengan mudah
menaklukkan kota Mekah. Peristiwa itu terkenal dengan Futuh Mekah (pembebasan kota
Mekah).

Pada usia 62 tahun, tepatnya 25 Dzul Qaidah 10 H, setelah Islam mencapai


kemenangan hampir di seluruh Jazirah Arab, Muhammad kembali mendatangi kota Mekah
bersama sekitar 100.000 pengikutnya untuk menunaikan ibadah haji. Tepat tengah hari Padang
Arafah, beliau menyampaikan pidato yang amat penting, yang ternyata menyampaikan
pidatonya yang terakhir di hadapan khalayak yang berjumlah amat banyak, sehingga pidato ini
pun dikenal dengan khutbah al-wada’ (pidato perpisahan).

Tepat usia 63 tahun, pada hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H atau 8 Juni 632 M, kira-kira
tiga bulan sesudah menunaikan ibadah haji yang penghabisan itu, Muhammad menderita
demam beberapa hari, sehingga beliau menghembuskan nafas terakhir, menghadap kehadirat
Allah SWT. Muhammad SAW wafat dengan tenang di tengah-tengah pendukungnya yang setia
dan sangat mencintainya. Pemimpin terbesar dunia sepanjang sejarah itu telah menyelesaikan
tugasnya dan kembali kepada Tuhannya.

2.9 Sejarah Awal Dakwah Islam

Rasulullah SAW merupakan nabi terakhir sekaligus rasul yang diangkat pada tanggal
17 Ramadhan atau 13 tahun sebelum hijrah (610 M) dengan usia 40 tahun. Muhammad
diangkat menjadi rasul oleh Allah SWT ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril untuk
menyampaikan wahyu yang pertama yaitu Surah Al-'Alaq ayat 1-5, yang dikenal dalam sejarah
islam sebagai Nuzul-ul-Qur'an. Setelah itu selama 13 tahun (610-622 M), secara berangsur-
angsur wahyu berupa ayat Al-Qur'an diturunkan kepada beliau sebanyak 4726 ayat meliputi
89 surah, salah satunya Surah Al-Muddatsir ayat 1-7 yang turun setelah wahyu pertama.
Dimana Surah Al-Mudatrsir diturunkan dengan isi perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad
SAW berdakwah menyiarkan agaman Islam kepada seluruh umat manusia. Sedangkan isi
ajaran-ajaran yang disampaiakan oleh Rasulullah SAW di awal kenabiannya adalah tentang
Keesaan Allah SWT, Hari Kiamat sebagai hari pembalasan, Kesucian jiwa dan persaudaraan
dan persatuan.

Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab
mampu meninggalkan kejahiliyannya dalam bidang agama, moral dan hukum, sehingga
menjadi umat yang mempercayai kebenaran utusan Allah SWT dan ajaran agama Islam yang
disampaikannya sekaligus agar dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Agar
dapat tercapainya tujuan-tujuan tersebut, maka dalam berdakwah Rasulullah SAW mempunyai
strategi dakwah yang beliau lakukan, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi dan dakwah
secara terang-terangan. Dakwah Rasul secara sembunyi ini menyerukan agama islam kepada
para kerabat, sahabat, hingga orang-orang sekitar rumah tangganya. Orang-orang yang telah
masuk Islam pada saat itu disebut Assabiqulanl Awwalun atau pemeluk Islam generasi
pertama, yang terdiri dari: Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah,
Abu Bakar Ash-Shidiq dan Ummu Aiman.

Sedangkan dakwah secara terang-terangan dimulai sejak tahun ke-4 kenabian setelah
turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-
terangan. Dua tahap dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan ini adalah mengundang
kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim untuk menghadiri jamuan makan sekaligus
mengajak agar masuk Islam. Sedangkan tahap selanjutnya Rasulullah SAW mengumpulkan

2
para penduduk Mekah untuk berkumpul di Bukit Shafa. Selain itu Rasulullah SAW
menyampaikan dakwahnya kepada para penduduk di luar kota Mekah. Diantara orang-orang
yang msuk Islam diluar Mekah antara lain Abu Zar Al-Giffari dan Tufail bin Amr Ad-Dausi.
Sedangkan dari kalangan orang kafir yang masuk Islam ialah Hamzah bin Abdul Muthalib dan
Umar bin Khattab.

Dalam menjalankan dakwahnya, Rasulullah tidak hanya menemukan orang-orang yang


mempercayai sekaligus masuk Islam, melainkan ada beberapa orang yang menolak dan
menentang dengan hadirnya ajaran Islam ini, salah satunya kaum Quraisy. Adapun sebab-sebab
kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW diantaranya karena mereka keberatan
dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang, mereka menolak adanya
kehidupan setelah kematian, mereka berat meninggalkan agama dan tradisi hidup masyarakat
warisan leluhur mereka, dan mereka menentang keras dan berusaha mengehntikan dakwah
Rasulullah SAW sebab Islam melarang menyembah berhala. Dalam mengahadapi tantangan
dari kaum Quraisy, salah saru cara Nabi SAW dengan menyuruh 16 orang sahabatnya untuk
hijrah ke Habasyah karena raja di sana memberikan jaminan keamanan.

2.10 Argumentasi Ilmiah Keunggulan dan Keotentikan Al Qur’an dan Sunnah

1. Keotentikan Al Qur’an
Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat.
Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin
oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa
inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah
Pemelihara-pemelihara-Nya) (QS 15:9).
Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas
dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan
oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap
Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak
berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yang
didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi saw.
Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah
bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan
Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di atas, karena seperti yang ditulis
oleh almarhum 'Abdul-Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang
dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah
untuk meragukan keotentikannya." Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang
mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.
Yang dimaksud dengan otentitas al-Qur-an dalam pembahasan ini adalah bahwa
al-Qur-an yang ada pada kita sekarang ini benar-benar terpelihara kemurniannya. Dari
definisi al-Qur-an sebagaimana disebutkan di atas terlihat bahwa al-Qur-an itu murni,
asli, tanpa ada perubahan, penambahan atau pengurangan sedikitpun. Masalah ini dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1) Masa Turunnya
Al-Qur-an diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu lebih kurang 23 tahun.
Menurut beberapa riwayat, setelah bi`tsah, Rosululloh Saw hidup di Mekah selama 13
tahun, kemudian hijrah kemadinah dan bermukim dikota ini hingga akhir hayatnya, yakni

2
selama 10 tahun. Ibn Abbas mengatakan, Rosululloh diangkat sebagai nabi dan rosul
dalam usia 40 tahun. Setelah bi`tsah beliau tinggal di Mekah 13 Tahun dan selama itu
beliau menerima wahyu. Beliau wafat dalam usia 63 tahun. Beberapa sumber riwayat
memperkirakan masa turunnya wahtu seluruhnya 20 tahun, tetapi ada juga yang
memperkirakan kurang lebih 25 tahun, namun yang masyhur adalah 23 tahun.

Menurut al-Sya`bi, al-Qur-an mula-mula turun pada malam qodar (lailatul qodar). Setelah
itu, ia terus diturunkan secara berangsur-angsur. Pendapat ini berdasarkan pada firman
Alloh Swt.
‫ِإنها أ َ ْنزَ ْلنَاهُ فِي لَ ْيلَ ِة ْالقَد ِْر‬

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.”
{Q.S Al-Qodr (17) : 106}

‫ث َون هَز ْلنَاهُ تَ ْن ِزيال‬


ٍ ‫علَى ُم ْك‬ ِ ‫َوقُ ْرآنًا فَ َر ْقنَاهُ ِلتَ ْق َرأَهُ َعلَى النه‬
َ ‫اس‬

Artinya: “Dan Al Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi
bagian.” {Q.S Al-Isro (17) : 106}

Tujuan Al-Qur-an diturunkan secara berangsur-angsur itu adalah agar Rosululloh Saw dan
para sahabatnya dapat menyimak, memahami, mengamalkan, dan memeliharanya dengan
baik. Rosululloh membacakannya di hadapan para sahabatsecara perlahan-lahan dan para
sahabat membacanya sedikit demi sedikit.

Selain itu al-Qur-an diturunkan berkaitan dengan suatu peristiwa, baik bersifat individual
maupun social (kemasyarakatan). Dengan cara seperti ini proses pemeliharaan kemurnian
al-Qur-an berjalan dengan sendirinya.
Demikian pula mengenai lailatul qodr yang menandai permulaan turunnya al-Qur-an.
Penetapan mala mini dimaksudkan agar manusia dapat mengingatnya, sehingga ia akan
terus diingat dan dikenang. Ini juga merupakan bentuk lain dari upaya pemeliharaan
kemurnian al-Qur-an, disamping menunjukan ke agunganNya.

Disetiap zaman Alloh menciptakan orang-orang yang dengan mudah dapat menghafal
ayat-ayat al-Qur-an. Alloh Swt menegaskan dalam firmanNya:
ُ ِ‫إِنها نَحْ نُ ن هَز ْلنَا ال ِذِّ ْك َر َوإِنها لَهُ لَ َحاف‬
َ‫ظون‬

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami


benar-benar memeliharanya.” {Q.S al-Hijr (15) : 9}

2) Yang Menyampaikan Al-Qur-an.


Al-Qur-an memberi informasi bahwa ia diturunkan dari lauh mahfudz ke dunia
melalui Malaikat Jibril. Lauh Mahfudz adalah tempat yang terpelihara semacam disket
dalam system computer yang terpelihara secara apik dari gangguan dan pengrusakan. Hal
ini dijelaskan dalam ayat yang berbunyi:

ٌ ‫بَ ْل ه َُو قُ ْر‬.


ٍ‫ فِي لَ ْوحٍ َمحْ فُوظ‬.ٌ ‫آن َم ِجيد‬

Artinya: “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang
(tersimpan) dalam Lohmahfuz.” {Q.S Al-Buruj (85) : 21-22}.

2
3) Penerima Al-Qur-an
Sebagaimana disebutkan di atas, wahyu dari Alloh Swt disampaikan kepada Nabi
Muhammad Saw melalui malaikat Jibril. Sebagai penerima wahyu, Nabi Muhammad
dianugrahi Alloh sifat-sifat mulia yang mustahil ia berdusta.

Akhlaq beliau sangat agung. Hal ini ditegaskan Alloh dalam firmanNya:
ٍ ُ‫َوإِنهكَ لَعَلى ُخل‬
‫ق َع ِظ ٍيم‬

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”{Q.S Al-
Qolam (68) : 4}
4) Para Penulis Al-Qur-an
Al-Qur-an terdiri dari 6666 ayat yang dihimpun dalam 114 surat, mulai dari surat
al-fatihah sampai surat an-Nas, kemurnian dan keaslian ayat-ayat tersebut dapat dilihat
antara lain dari proses penulisannya. Wahyu pertama yang diterima Nabi ialah ayat 1 s/d
5 surat al-Alaq, ketika beliau berada di Gua Hiro, sedangkan wahyu terakhir adalah ayat
ke 3 surat al-Maidah, pada waktu beliau wukuf di arofah melakukan HAji Wada` 9
Zulhijah, tahun ke 10 Hijrah, bertepatan dengan 7 Maret 632 M.
Salah satu faktor yang dapat menjamin keaslian dan kemurnian al-Qur-an ialah teks al-
Qur-an itu ditulis sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Rosululloh. Penulisannya
dilakukan dihadapan beliau sendiri. Untuk keperluan penulisan tersebut Rosululloh
mengerahkan sejumlah penulis seperti Khulafaur Rosyidin yang empat, Amir bin
Fuhairoh, Ubay bin Ka`ab, Tsabit bin Qois bin Samas, Zaid bin Tsabit, Mu`awiyyah bin
Abi Sufyan, termasuk saudara Abu Sufyan: Yazid bin Syu`bah, Zubair bin Awwam,
Kholid bin Walid, `Alla bin Al-Hadhromy, Amr bin `Ash, Abdullah bin Al-Hadromy,
Muhammad bin Maslamah, dan Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin salul.

2. Keistimewaan-Keistimewaan Al-Qur’an Al-Karim

1. Tidak sah shalat seseorang kecuali dengan membaca sebagian ayat al-Qur’an (yaitu
surat Al-Fatihah-Red) berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ِ ‫صالَة َ ِل َم ْن لَ ْم َي ْق َرأْ ِبفَا ِت َح ِة ْال ِكت َا‬


‫ب‬ َ َ‫ال‬

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat al-Fatihah”. [HR. Bukhari-
Muslim]

2. Al-Qur’an terpelihara dari tahrif (perubahan) dan tabdil (penggantian) sesuai


dengan firman Allah Azza wa Jalla :

ُ ‫ِإنها نَحْ نُ ن هَز ْلنَا ال ِذِّ ْك َر َو ِإنها لَهُ لَ َحا ِف‬


َ‫ظون‬

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami


benar-benar memeliharanya”. [al-Hijr:9]

Adapun kitab-kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil telah banyak dirubah
oleh pemeluknya.

2
3. Al-Qur’an terjaga dari pertentangan/kontrakdiksi (apa yang ada di dalamnya) sesuai
dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ْ ‫أَفَالَ يَتَدَب ُهرونَ ْالقُ ْر َءانَ َولَ ْو َكانَ ِم ْن ِعن ِد َغي ِْر هللاِ لَ َو َجدُوا فِي ِه‬
ً ِ‫اختِالَفا ً َكث‬
‫يرا‬

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu
bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di
dalamnya”. [an-Nisa’: 82]

4. Al-Qur’an mudah untuk dihafal berdasarkan firman Allah:

‫َولَقَدْ َيس ْهرنَا ْالقُ ْر َءانَ ِلل ِذِّ ْك ِر‬

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran”. [al-Qamar:


32]

5. Al-Qur’an merupakan mu’jizat dan tidak seorangpun mampu untuk mendatangkan


yang semisalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menantang orang Arab (kafir
Quraisy) untuk mendatangkan semisalnya, maka mereka menyerah (tidak mampu).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‫ورةٍ ِ ِّمثْ ِل ِه‬


َ ‫س‬ُ ‫أ َ ْم يَقُولُونَ ا ْفت ََراهُ قُ ْل فَأْتُوا ِب‬

“Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya”.


Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan
sebuah surat seumpamanya … “. [Yunus: 38]

6. Al-Qur’an mendatangkan ketenangan dan rahmat bagi siapa saja yang


membacanya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

‫س ِكينَةُ َو َغ ِشيَتْ ُه ُم‬


‫ت َع َل ْي ِه ُم ال ه‬ْ ‫سونَهُ بَ ْي َن ُه ْم ِإ هال نَزَ َل‬ َ َ‫َّللاِ َو َيتَد‬
ُ ‫ار‬ ‫َاب ه‬َ ‫َّللاِ يَتْلُونَ ِكت‬
‫ت ه‬ ٍ ‫َما اجْ ت َ َم َع قَ ْو ٌم فِي بَ ْي‬
ِ ‫ت ِم ْن بُيُو‬
ْ ْ
ُ‫َّللاُ فِي َمن ِعندَه‬ َ ُ َ ْ ْ ‫ه‬
‫الرحْ َمة َو َحفت ُه ُم ال َمالئِ َكة َوذك ََر ُه ُم ه‬ ُ ‫ه‬

“Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam suatu majlis kecuali turun pada mereka
ketenangan dan diliputi oleh rahmat dan dikerumuni oleh malaikat dan Allah akan
menyebutkan mereka di hadapan para malaikatnya”. [HR. Muslim].

7. Al-Qur’an hanya untuk orang yang hidup bukan orang yang mati berdasarkan
firman Allah:

‫ِلِّيُنذ َِر َمن َكانَ َحيًّا‬

“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup


(hatinya)”. [Yaasiin: 70]

Dan firman Allah:

َ ‫ان ِإاله َما‬


‫س َعى‬ ِ ‫س‬َ ‫إلن‬ َ ‫َوأَن لهي‬
ِ ‫ْس ِل‬

2
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya”. [an-Najm:39]

Imam Syafi’i mengeluarkan pendapat dari ayat ini bahwa pahala bacaan al-Qur’an
tidak akan sampai kepada orang-orang yang mati. Karena bacaan tersebut bukan
amalan si mayit. Adapun bacaan seorang anak untuk kedua orang tuanya, maka
pahalanya bisa sampai kepadanya, karena seorang anak merupakan hasil usaha
orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah n .

8. Al-Qur’an sebagai penawar (obat) hati dari penyakit syirik, nifak dan yang lainnya.
Di dalam al-Qur’an ada sebagian ayat-ayat dan surat-surat (yang berfungsi) untuk
mengobati badan seperti surat al-Fatihah, an-Naas dan al-Falaq serta yang lainnya
tersebut di dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

َ‫ُور َو ُهدًى َو َرحْ َمةٌ ِلِّ ْل ُمؤْ ِمنِين‬


ِ ‫صد‬ُّ ‫ظةٌ ِ ِّمن هر ِبِّ ُك ْم َو ِشفَآ ٌء ِلِّ َما فِي ال‬ ُ ‫يَآأَيُّ َها النه‬
َ ‫اس قَدْ َجآ َءتْ ُكم هم ْو ِع‬

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman”. [Yunus :57]

Begitu pula dalam firmanNya:

َ‫ان َما ه َُو ِشفَآ ٌء َو َرحْ َمةٌ ِلِّ ْل ُمؤْ ِمنِين‬


ِ ‫َونُن ِ َِّز ُل ِمنَ ْالقُ ْر َء‬

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman”. (ِAl-Israa’:82)

9. Al-Qur’an akan memintakan syafa’at (kepada Allah) bagi orang yang membacanya,
berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

َ ‫ا ْق َر ُءوا ْالقُ ْرآنَ فَإِنههُ يَأْتِي يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة‬


ْ َ ‫ش ِفيعًا ِِل‬
‫ص َحابِ ِه‬

“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat


memohonkan syafa’at bagi orang yang membacanya (di dunia)”. [HR. Muslim].

10. Al-Qur’an sebagai hakim atas kitab-kitab sebelumnya, sebagaimana firman Allah
Azza wa Jalla :

ِ ‫ص ِدِّقًا ِلِّ َما َبيْنَ َيدَ ْي ِه ِمنَ ْال ِكت َا‬


‫ب َو ُم َهي ِْمنًا َعلَ ْي ِه‬ ِ ِّ ‫َاب ِب ْال َح‬
َ ‫ق ُم‬ َ ‫َوأَنزَ ْلنَآ ِإ َليْكَ ْال ِكت‬

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran,


membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu”. [al-Maidah: 48]

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata sesudah menyebutkan beberapa pendapat tentang


tafsir (‫) ُم َهي ِْمنًا‬: “Pendapat-pendapat ini mempunyai arti yang berdekatan (sama),
karena istilah (‫ ) ُم َهي ِْمنًا‬mencakup semuanya, yaitu sebagai penjaga, sebagai saksi,
dan hakim terhadap kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an adalah kitab yang paling
mencakup dan sempurna, yang diturunkan sebagai penutup kitab-kitab

2
sebelumnya, yang mencakup seluruh kebaikan (pada kitab-kitab) sebelumnya. Dan
ditambah dengan kesempurnaan-kesempurnaan yang tidak (ada dalam kitab) yang
lainnya. Oleh karena inilah Allah k menjadikannya sebagai saksi kebenaran serta
hakim untuk semua kitab sebelumnya, dan Allah menjamin untuk menjaganya.
[Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal. 65]

3. Keotentikan Sunnah/Hadits

Hadis adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw dari perbuatan,
perkataan, penetapan, ataupun sifat-sifatnya, ia merupakan sumber hukum Islam kedua
setelah al-Qur’an.

Nabi Muhammad, yang merupakan sandaran hadis itu sendiri menjadi hal yang
paling krusial keislaman. Tindak-tanduknya yang telah mendapat arahan langsung dari
Allah Swt., termasuk dalam lafal-lafal yang dikeluarkannya, menjadikan sosok beliau
memang pantas didaulat sebagai penyampai risalah Tuhan yang kredibel dan murni dari
tendensi apapun selain demi kebaikan umat manusia sekalian alam.

Kata-katanya adalah ringkas dan bernas, atau istilah lainnya Jawami’ul Kalim.
Hadis sampai kepada kita melalui jalur transmisi para periwayat. Karena demikian,
seluruh ulama hadis hampir sepakat bahwa hadis bisa dibilang autentik jika para
transmitter-nya mulai dari Nabi hingga kodifikator hadis memiliki rantai keguruan yang
tak terputus, kredibel, serta selamat dari cacat kepribadian.

Para sarjana-sarjana hadis membagi kaidah-kaidah keshahihan hadis menjadi lima


bagian. Yakni 1) kesambungan rantai sanad, 2) keadilan perawi, 3) kredibilitas perawi, 4)
selamat dari syadz, 5) selamat dari illat. Selanjutnya akan diurai deskripsi maisng-masing
kaidah.

1) Ketersambungan Sanad

Yakni setiap perawi dari jajaran periwayat mengambil hadis dari yang diatasnya
(gurunya) secara langsung dari pangkal sanad hingga ujung sanad. Dan ini diketahi dari
lafazh dan bentuk kalimat periwayatan yang digunakan oleh perawi. Semisal “sami’na,
haddatsana, akhbarona, anba’ana,” semua lafzah ini adalah terang menunjukkan bahwa
perawi mengambil hadis langsung dari gurunya.

Sedangkan lafazh “an fulan, qola fulan, dan sebagainya,” ini tidak mengisyaratkan
bahwa periwayat mendengar langsung dari gurunya, akan tetapi mengandung
kemungkinan mendengar atau tidak mendengar langsung dari sang guru.

Maka dari itu, jika lafal penyampaian periwayatan tersebut dipakai oleh orang yang
tsiqoh dan bukan seorang mudallis, maka itu menunjukkan periwayat mendengar
langsung dari gurunya. Jika yang menggunakan adalah seorang mudallis, maka hadis
yang diriwayatkan pun akan memiliki hukum mudallas.

Keluar dari kaidah ini yakni mu’allaq, mursal, mu’dhal, munqathi’, mudallas, dan
lain sebagainya, karena, jika rantai transmisi periwayatan tak bersambung, itu artinya ada

2
yang gugur salah satu atau lebih dari sanad hadis. Dan yang gugur tersebut bisa saja
memiliki status lemah, maka dengan demikian hadis gagal mencapai titik otentik.

Kesambungan sanad menurut Bukhari adalah kepastian bertemu antara murid


dengan guru meski sekali. Kesambungan sanad menurut Muslim adalah kemungkinan
untuk bertemu meski tidak tercakup kemungkinan dari segi umur dan negara.
Keambungan sanad menurut Syafi’i adalah kepastian mendengar antara guru dan murid,
tidak mesti bertemu, akan tetapi setiap perawi diharuskan mendengar langsung dari
gurunya.

Meski mu’allaq menjadi indikasi ketidakautentikan hadis, namun jika itu terdapat
pada shahihain, maka tak berlaku status pelemahan sebuah hadis.

Terdapat sekitar 1341 hadis mu’allaq dalam shahih Bukhari dan 14 hadis dalam
shahih Muslim. Dalam shahih Bukhari terdapat dua kemungkinan perihal mu’allaq.
Pertama, Imam Bukhari telah menyebutkan sanadnya di tempat lain, sehingga dengan
demikian tidak ada keraguan dalam keshahihannya.

Kedua, jika dalam mu’allaq menggunakan sighat thamrid (kalimat pasif) maka
statusnya adalah lemah, akan tetapi dalam shahih Bukhari tidak terdapat hal demikian,
semua mu’allaq di dalamnya memakai sighat jazm (kalimat aktif).

Pula, Imam Ibnu Hajar al-Asqolani telah membuat satu kitab khusus bernama
Taqliqu Ta’liq, kitab yang membuktikan bahwa semua hadis dalam shahih Bukhari
sejatinya adalah muttashil semua, tak ada yang mu’allaq. Sedang mu’alaq dalam shahih
Muslim, Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Muslim, bahwa keshahihan hadis
dalam shahih Muslim adalah hal yang tak bisa diganggu gugat.

3) Keistimewaan Hadits
1) Menggapai mahabbatullah (kecintaan Allah)
Mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla dengan melakukan berbagai hal
yang dianjurkan menjadi sebab digapainya cinta Allah. Ibnul Qayyim berkata dalam
Madarijus Salikin:

،‫ وأجبته دعوة‬،‫أمرا‬ ً ‫ وصدقته‬،‫ظاهرا وباطنًا‬


ً ‫ وأطعته‬،‫خبرا‬ ً ‫وال يحبك هللا إال إذا اتبعت حبيبه‬
‫ وعن طاعة غيره‬،‫ وعن َمحبة غيره من الخلق بمحبته‬،‫ وفنيت عن حكم غيره بحكمه‬،‫وآثرته طو ًعا‬
ً ‫ فالتمس‬،‫ وارجع من حيث شئت‬،‫ وإن لم يكن ذلك فال تَتَعَ هن‬،‫بطاعته‬
‫نورا فلست على شيء‬

“Allah tidak akan mencintaimu kecuali engkau mengikuti Habibullah (Rasulullah)


secara lahir dan batin, membenarkan sabdanya, mentaati perintahnya, menjawab
dakwahnya, mengikuti jalan hidupnya, mendahulukan hukum beliau dibandingkan
dengan hukum lain, mendahulukan cinta kepada beliau diatas cinta kepada yang lain,
mendahulukan ketaatan kepada beliau dibandingkan kepada orang lain. Kalau engkau
tidak demikian, maka tidak ada gunanya. Coba saja lakukan apa yang dapat
menggapai cinta Allah menurut caramu sendiri. Engkau mencari cahaya namun tidak
akan mendapatkannya”.

2
2) Menggapai ma’iyatullah (kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat kita)
Sehingga Allah senantiasa memberi taufiq untuk berbuat kebaikan. Anggota
tubuhnya tidak akan melakukan sesuatu kecuali yang diridhai oleh Allah. Jika
mahabbatullah diraih maka ma’iyatullah pun diraih.
3) Dikabulkannya doa-doa yang menunjukkan kecintaan kepada Allah
Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla dengan melakukan
berbagai hal yang dianjurkan, ia mendapat kecintaan Allah. Dan jika kecintaan
Allah telah diraih, doa pun dikabulkan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits dari Abu
Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaih Wasallam bersabda:

‫ وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما‬،‫ فقد آذنته بالحرب‬،‫ من عادى لي وليًّا‬:‫إن هللا قال‬
‫ فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع‬،‫يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه‬
‫ وما يزال عبدي ه‬،‫افترضته عليه‬
ْ ،‫ ورجله التي يمشي بها‬،‫ ويده التي يبطش بها‬،‫ وبصره الذي يبصر به‬،‫به‬
،‫وإن سألني ِلعطينه‬
،‫ وما ترددت عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت‬،‫ولئن استعاذ بي ِلعيذنه‬
‫وأنا أكره مساءته‬

“Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka


aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Tidak ada yang lebih aku sukai dari
seorang hamba yang mendekatkan diri kepada-Ku, kecuali ia melakukan hal yang
Aku wajibkan kepadanya. Dan sesungguhnya hamba-Ku dengan sebab senantiasa
mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, Aku pun
mencintainya. Maka bila aku telah mencintainya Aku menjadi pendengarannya,
yang ia mendengar dengannya. Aku menjadi penglihatannya, yang ia melihat
dengannya. Aku menjadi tangannya yang ia memukul dengannya. Aku menjadi
kakinya yang ia berjalan dengannya. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku akan
mengabulkannya. Bila meminta perlindungan kepada-Ku maka aku akan
melindunginya. Bila ia menolak sesuatu yang dibenci oleh dirinya, Akulah yang
melakukannya. Dan seorang mukmin itu benci kematian yang jelek, maka Akulah
yang menghindarkannya” (HR. Bukhari)

4) Memperbaiki kekurangan dalam penunaian kewajiban


Perbuatan-perbuatan yang dianjurkan (nafilah) memperbaiki kekurangan-
kekurangan dalam penunaian hal-hal yang wajib. Yang menunjukkan ini adalah
hadits

‫ه‬
،‫ وإن فسدت‬،‫ فإن صلحت فقد أفلح وأنجح‬،‫إن أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صالته‬
‫ انظروا هل لعبدي‬:- ‫ قال الرب – تبارك وتعالى‬،‫ فإن انتقص من فريضة شيئًا‬،‫فقد خاب وخسر‬
‫ ثم يكون سائر عمله على ذلك‬،‫من تطوع؟ فيكمل بها ما انتقص من الفريضة‬

“Sesungguhnya hal pertama yang dihisab dari hamba-Ku di hari kiamat adalah
shalatnya. Jika perhitungannya baik, ia akan beruntung dan selamat. Jika
perhitungannya buruk, ia akan rugi. Jika ada kekurangan dalam shalat wajibnya,
Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman: Lihatlah apakah hambaku mengerjakan
shalat sunnah? Maka disempurnakan dengannya apa-apa yang kurang dari
shalat wajibnya. Demikian juga dengan seluruh amal-amalnya” (HR. Ahmad,
Abu Daud, Tirmidzi)
5) Menghidupkan hati
Jika seorang hamba senantiasa menjaga sunnah dan menjadikannya hal yang
paling penting untuk dipegang, akan terasa sulit baginya meremehkan kewajiban

2
atau kurang dalam pelaksanaannya. Lalu ia pun mendapat keutamaan lain, yaitu ia
senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah. Sehingga hatinya pun hidup karena
ketaatan kepada Allah. Dan barangiapa meremehkan hal-hal yang sunnah,
mengakibatkan ia akan terhalang menjalankan kewajibannya.
6) Terjaga dari melakukan bid’ah
Ketika seorang hamba senantiasa mengikuti apa-apa yang datang dari sunnah
Nabi, ia akan bertekad untuk tidak melakukan suatu ibadah kecuali ada dalilnya.
Dengan ini ia akan selamat dari jalan kebid’ahan.
Bagi pengikut sunnah, masih banyak lagi buah yang didapat. Ibnu Taimiyah
dalam Al Qa’idah Al Jaliyah berkata:

‫فكل من اتبع الرسول صلى هللا عليه وسلم فاهلل كافيه وهاديه وناصره ورازقه‬

“Barangsiapa mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam maka Allah akan


mencukupkannya, memberinya hidayah, menolongnya dan melimpahkan rezeki
kepadanya”
Murid beliau, Ibnul Qayyim, juga berkata dalam Madarijus Salikin :

‫ فهو الصادق‬،‫ وهاجر بقلبه إلى هللا‬،‫ وتغرب عن نفسه وعن الخلق‬،‫فمن صحب الكتاب والسنة‬
‫المصيب‬

“Barangsiapa mengikuti Qur’an dan Sunnah, mengalahkan egonya dan pendapat-


pendapat orang, ia berhijrah kepada Allah dengan sepenuh hati, maka dia lah
orang yang benar”

2
6
7