Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH FARMASI KLINIK

ASUHAN KEFARMASIAN

DISUSUN OLEH :

Steafanus Julyan Petra 17.71.018694

Ridwan Dwiatmoko 17.71.018697

Amwal Sulaiman 17.71.018698

Wahid Abdullah 17.71.018699

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karuniaNYA
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Makalah yang kami buat ini berjudul ”Asuhan Kefarmasian”.
Tujuan membuat makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengantar Farmasi Klinik yang dibimbing oleh Ibu Nurul Chusna, S.Farm.,
M.Sc.,Apt. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna, khususnya bagi
kami dan umumnya bagi pembaca.
Demikian makalah ini dibuat, kami menyadari di dalam penyusunan dan
pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, maka dari itu kritik dan saran
sangat kami harapkan demi mencapai kesempurnaan makalah ini agar lebih baik
lagi dan atas kritik dan sarannya kami ucapkan terimakasih.

30 November 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………..……………1
KATA PENGANTAR ........................................................................................... 2
DAFTAR ISI .......................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 4
A. Latar Belakang ....................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 5
C. Tujuan ..................................................................................................... 5
BAB II TINAJAUN PUSTAKA........................................................................... 6
A. Definisi Asuhan Kefarmasian ................................................................ 6
A. Fungsi Asuhan Kefarmasian ................................................................. 6
B. Metode Asuhan Kefarmasian ................................................................ 7
C. Strategi untuk Melakukan Asuhan Kefarmasian ............................. 11
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 14
A. Kesimpulan ........................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 15

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pharmaceutical care atau asuhan kefarmasian merupakan bentuk
optimalisasi peran yang dilakukan oleh apoteker terhadap pasien dalam
melakukan terapi pengobatan sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan
pasien. Apoteker berperan dalam memberikan konsultasi, informasi dan
edukasi (KIE) terkait terapi pengobatan yang dijalani pasien, mengarahkan
pasien untuk melakukan pola hidup sehat sehingga mendukung agar
keberhasilan pengobatan dapat tercapai, dan melakukan monitoring hasil terapi
pengobatan yang telah dijalankan oleh pasien serta melakukan kerja sama
dengan profesi kesehatan lain yang tentunya bertujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien (ISFI, 2000).
Pelayanan kefarmasian mulai berubah orientasinya dari drug oriented
menjadi patient oriented. Perubahan paradigma ini dikenal dengan nama
pharmaceutical care atau asuhan pelayanan kefarmasian. Pharmaceutical care
atau asuhan kefarmasian merupakan pola pelayanan kefarmasian yang
berorientasi pada pasien. Pola pelayanan ini bertujuan mengoptimalkan
penggunaan obat secara rasional yaitu efektif, aman, bermutu dan terjangkau
bagi pasien (Depkes RI, 2008). Hal ini meningkatkan tuntutan terhadap
pelayanan farmasi yang lebih baik demi kepentingan dan kesejahteraan pasien.
Asuhan kefarmasian merupakan komponen dari praktik kefarmasian yang
memerlukan interaksi langsung apoteker dengan pasien untuk menyelesaikan
masalah terapi pasien, terkait dengan obat yang bertujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien (Kemenkes RI, 2011).
Akibat dari perubahan paradigma pelayanan kefarmasian, apoteker
diharapkan dapat melakukan peningkatan keterampilan, pengetahuan, serta
sikap sehingga diharapkan dapat lebih berinteraksi langsung terhadap pasien.
Adapun pelayanan kefarmasian tersebut meliputi pelayanan swamedikasi
terhadap pasien, melakukan pelayanan obat, melaksanakan pelayanan resep,

4
maupun pelayanan terhadap perbekalan farmasi dan kesehatan, serta dilengkapi
dengan pelayanan konsultasi, informasi dan edukasi (KIE) terhadap pasien serta
melakukan monitoring terkait terapi pengobatan pasien sehingga diharapkan
tercapainya tujuan pengobatan dan memiliki dokumentasi yang baik (Depkes
RI, 2008).
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari latar belakang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi asuhan kefarmasian?
2. Apa fungsi asuhan kefarmasian?
3. Bagaimana implementasi asuhan kefarmasian?
4. Apa metode asuhan kefarmasian?
5. Bagaimana strategi untuk melakukan asuhan kefarmasian?
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi asuhan kefarmasian.
2. Untuk mengetahui fungsi asuhan kefarmasian.
3. Untuk mengetahui implementasi asuhan kefarmasian
4. Untuk mengetahui metode asuhan kefarmasian
5. Untuk mengetahui strategi untuk melakukan asuhan kefarmasian.

5
BAB II
TINAJAUN PUSTAKA

A. Definisi Asuhan Kefarmasian


Menurut American Society of Hospital Pharmacists (1993), asuhan
kefarmasian (pharmaceutical care) merupakan tanggung jawab
langsung apoteker pada pelayanan yang berhubungan dengan pengobatan
pasien dengan tujuan mencapai hasil yang ditetapkan yang memperbaiki
kualitas hidup pasien. Asuhan kefarmasian tidak hanya melibatkan terapi obat
tapi juga keputusan tentang penggunaan obat pada pasien. Termasuk keputusan
untuk tidak menggunakan terapi obat, pertimbangan pemilihan obat, dosis, rute
dan metode pemberian, pemantauan terapi obat dan pemberian informasi dan
konseling pada pasien. Asuhan kefarmasian adalah konsep yang
melibatkan tanggung jawab farmasis yang menuju keberhasilan outcome
tertentu sehingga pasien membaik dan kualitas hidupnya meningkat (Heppler
and Strand, 1990).
Outcome yang dimaksud adalah (Heppler and strand, 1990):
1. Merawat penyakit.
2. Menghilangkan atau menurunkan gejala.
3. Menghambat atau memperlama proses penyakit.
4. Mencegah penyakit atau gejala.
A. Fungsi Asuhan Kefarmasian
Fungsi dari asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) adalah (Heppler
and strand, 1990):
1. Identifikasi aktual dan potensial masalah yang berhubungan dengan obat.
2. Menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan obat.
3. Mencegah terjadinya masalah yang berhubungan dengan obat.
4. Implementasi dari asuhan kefarmasian di rumah sakit dapat dilakukan pada
pasien rawat jalan melalui informasi, konseling, dan edukasi untuk obat
bebas dan obat yang diresepkan, pemberian label, leaflet, brosur, buku

6
edukasi, pembuatan buku riwayat pengobatan pasien, serta jadwal minum
obat. Untuk pasien rawat inap melalui informasi dan konseling pasien
masuk/keluar, DIS (Drug Information Service), TDM (Terapeutic Drug
Monitoring), TPN (Total Parenteral Nutrition), Drug-Therapy Monitoring,
Drug Therapy Management, dan sebagainya.
B. Metode Asuhan Kefarmasian
Metode asuhan kefarmasian adalah sebagai berikut:
1. Metode SOAP (Subjective, Objectif, Assesment, Plan)
a. Subjective dari metode SOAP adalah data-data yang dirasakan
oleh pasien yang bersifat subjektif misalnya sakit kepala, sesak
nafas dan lain-lain. Data tentang apa yang dirasakan pasien atau
apa yang dapat diamati tentang pasien merupakan gambaran apa
adanya mengenai pasien yang dapat diperoleh dengan cara
mengamati, berbicara, dan merespon dengan pasien.
b. Objective adalah data-data yang bersifat objektif dan bisa
dibuktikan atau diukur dengan angka dan data tertentu misalnya
hasil pemeriksaan SGPT, SGOT, tekanan darah,gula darah,
respitory rate dan lain sebagainya. Atau dapat juga dikatakan
riwayat pasien yang terdokumentasi pada catatan medik dan hasil
berbagai uji dan evaluasi klinik misalnya, tanda-tanda vital, hasil
test lab, hasil uji fisik, hasil radiografi, CT scan, ECG, dan lain-
lain.
c. Assesment adalah penilaian dari 8 DRP (Drug Related Problem)
atau masalah terkait obat yang menggambarkan suatu keadaan,
dimana menilai adanya ketidaksesuaian pengobatan dalam
mencapai terapi yang sesungguhnya. Misalnya apakah
dosisnya kurang atau lebih dan ada tidak indikasi yang belum
diobati misalnya pasien merasa pusing tapi tanpa ada obat pusing
atau tekanan darahnya tinggi tapi belum ada obat yang untuk
menurunkan tekanan darahnya dan lain sebagainya, ada juga
obat tanpa indikasi misalnya pasien mendapatkan paracetamol

7
tanpa ada indikasi penggunaan paracetamol yang tepat selain itu
juga perlu diperhatikan penggunaan obat yang kurang tepat
misalnya pasien arthirits reumathoid mendapatkan aspirin dengan
dosis 500mg, tapi pasien mempunyai ulkus peptik maka perlu
penilaian apakah aspirin tersebut cocok untuk pasien tersebut
dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Selain itu reaksi
obat yang tidak dikehendaki apakah pasien mempunyai suatu
alergi tertentu atau adakah potensi reaksi obat yang tidak
dikehendaki yang potensial muncul pada pasien atau reaksi obat
yang aktual yang sudah muncul. Selain itu juga interaksi obat
perlu mendapatkan perhatian pada pasien, dengan obat
akan memungkinkan menimbulkan masalah misalnya saja pada
pasien dengan antihipertensi dan NSAID itu akan memunculkan
interaksi dan masih banyak lainnya. Selain itu apakah pasien
gagal mendapatkan obat itu perlu diperhatikan misalnya pada
pasien miskin perlu diperhatikan bagaimana cara pasien supaya
tetap mendapatkan obat jika pasien menderita penyakit-penyakit
yang mutlak membutuhkan obat dan tidak putus obat seperti pada
kasus pasien TB paru.
d. Plan adalah tindak lanjut dari assesment atau penilaian yang
sudah kita lakukan misalnya ada masalah di pasien gagal
mendapatkan obat, dosis berlebih, interaksi obat serta indikasi
tanpa obat. Hal-hal yang akan dilakukan terhadap pasien,meliputi
treatment yang diberikan,termasuk obat yang harus
dihindari,parameter pemantauan (terapi dan toksisitas) dan
endpoint therapy informasi pada pasien. Kita dapat membuat
rencana terkait hal tersebut misalnya jika gagal mendapatkan obat
kira-kira faktor apa yang menyebabkan hal ini terjadi, apakah
obatnya terlalu mahal atau seperti apa misalnya. jika obat terlalu
mahal kita bisa menyarankan mengganti dengan generik ataupun
membeli setengahnya dahulu, jika dosisnya berlebih kita bisa

8
mengatur supaya dosis diturunkan serta jikaada interaksi bisa
diatur misalnya jadwal penggunaan obat atau memanajemen
efekyang mungkin timbul. Selain itu juga bisa melakukan
monitoring terkait terapi yang berjalan misalnya monitoring
efektivitas apakah obat-obat tersebut sudah efektif dalam
mengendalikan asam uratnya ataupun interaksi obat ada tidak
yang menimbulkan makna klinis dan berbahaya serta ada
tidaknya efek sampinga tau ADR yang muncul. ADR ini yang
perlu diperhatikan adalah ADR yang bersifat aktual dan potensial
terjadi dan bagaimanacara mengatasinya. karena satu obat bisa
memiliki ratusan efek samping maka yang perlu diperhatikan
adalah efek samping yang sering terjadi misalnya adalah efek
samping sedasi atau ngantuk pada penggunaan chlorpheneramin
maleat dan efek samping yang membahayakan misalnya
terjadinya steven johnson syndrome. serta memonitor faktor
resiko yang dimiliki oleh pasien misalnya konsumsi gula pada
pasien diabetes.
2. Metode PAM ( Problem, Assesment/Action, Monitoring)
a. Problem
Problem yaitu mengumpulkan dan menginterpretasikan semua
informasi yang relevan utk mengidentifikasikan masalah yang
aktual dan potensial.
b. Assesment/Action
Action berupa upaya untuk mengatasi problem –problem tersebut
secara efektif, menetapkan dan melaksanakan semua tindakan yang
perlu dilakukan.
c. Monitoring
Monitoring merupakan pemantauan terhadap problem
klinik, nutrisi psikososial yang sesuai dengan kondisi pasien (home
care).

9
3. Metode FARM (Finding, Assessment, Resolution, Monitoring)
a. Finding
Finding atau temuan klinis menunjukan apakah suatu
masalah terkait obat potensial atau mungkin terjadi atau memang
sudah terjadi. Terdiri dari data demografis pasien seperti nama,
usia, jenis kelamin dan semua temuan subjektif maupun objektif
terkait.
b. Assessment
Assesment atau penilaian masalah meliputi bagaimana,
derajat, tipe, dan signifikansi masalah, terdapat proses berpikir
yang sampai pada kesimpulan atau penilaian bahwa masalah
terkait obat memang ada atau tidak dan apakah intervensi atau
pemantauan aktif diperlukan atau tidak
c. Resolution
Resolution atau penyelesaian masalah terkait rekomendasi
farmasi tentang usulan untuk mengatasi masalah terkait obat
dengan pertimbangan semua alternatif pilihan terapi baik terapi
farmakologi maupun non farmakologi.
d. Monitoring
Monitoring ditujukan untuk pemantauan endpoint dan
outcomes untuk memberikan jaminan pengobatan dapat
memberikan hasil yang optimal bagi pasien. Parameter
pemantauan untuk menilai efikasi termasuk perbaikan atau
hilangnya tanda tanda gejala dan abnormalitas yang tadinya ada
pada pasien.

10
C. Strategi untuk Melakukan Asuhan Kefarmasian
Strategi untuk melakukan asuhan kefarmasian adalah sebagai berikut:
1. Rawat Inap
a. Ikut berperan aktif melakukan visite/kunjungan ke pasien, baik
secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan lain untuk
mengamati kondisi pasien secara langsung.
b. Melakukan penilaian/evaluasi informasi dari data subjektif dan
objektif yang telah dikumpulkan untuk menetapkan masalah pasien.
c. Melakukan penilaian rasionalitas pengobatan.
d. Mengidentifikasi potensi terjadinya efek samping obat.
e. Mengidentifikasi adanya Adverse Drug Reaction (ADR)
- Mengkonfirmasi ADR yang muncul ke dokter yang membuat
Resep.
- Mengusulkan rekomendasi kepada dokter terkait ADR yang
terjadi.
- Mendokumentasikan solusi rekomendasi yang di usulkan kepada
dokter.
f. Melakukan Monitoring dan Evaluasi Terapi
a) Menilai efektifitas pengobatan
- Melakukan wawancara langsung kepada pasien untuk
menanyakan kondisi pasien setelah diberi terapi.
- Menilai tingkat keberhasilan terapi dengan melihat hasil tes
laboratorium setelah pemberian terapi.
b) Efek Samping Obat
- Menilai secara teoritis obat-obat yang dicurigai menimbulkan
efek samping ke pasien, bertanya langsung ke pasien apakah
ada keluhan baru setelah di berikan terapi.
- Memberikan rekomendasi penanganan efek samping obat
kepada dokter, seperti penghantian obat apabila efek samping

11
tidak dapat ditoleransi dan dapat membahayakan pasien, atau
memberikan alternatif pengobatan lain yang lebih aman.
- Bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain dalam pencegahan
atau penanganan apabila terjadi efek samping obat.
c) Memberikan perhatian lebih kepada pasien yang menggunakan
terapi obat dengan indeks terapi sempit, misalnya penggunaan
digoksin dan obat antiepilepsi.
g. Mendokumentasikan semua kegiatan dalam data medik pasien
ataupun rekam pengobatan pasien.
h. Memberikan KIE kepada pasien ataupun keluarga pasien
- Memberikan pemahaman kepada pasien tentang pentingnya
kepatuhan minum obat demi kesembuhan dirinya sendiri.
- Memberikan arahan kepada keluarga pasien untuk selalu
memberikan support (untuk memberikan dukungan moril
kepada pasien).
2. Rawat Jalan
a. Melakukan penilaian/evaluasi informasi dari data subjektif dan
objektif yang telah dikumpulkan untuk menetapkan masalah pasien.
b. Melakukan penilaian rasionalitas peresepan.
c. Mengidentifikasi potensi terjadinya efek samping obat.
d. Mengidentifikasi adanya masalah terkait obat (Drug Related
Problem)
- Mengkonfirmasi DRP yang muncul ke dokter yang membuat Resep.
- Mengusulkan rekomendasi kepada dokter terkait ADR yang terjadi.
- Mendokumentasikan solusi rekomendasi yang di usulkan kepada
dokter.
e. Melakukan Monitoring dan Evaluasi pengobatan
- Menilai efektifitas pengobatan: melakukan wawancara langsung
kepada pasien untuk menanyakan kondisi pasien setelah diberi terapi
apabila pasien kembali ke apotek untuk menebus obat.

12
- Efek Samping Obat : melakukan wawancara langsung saat pasien
kembali ke apotek untuk menanyakan apakah ada keluhan baru
setelah di berikan obat.
f. Memberikan rekomendasi penanganan efek samping obat kepada
dokter, seperti penghentian obat apabila efek samping tidak dapat
ditoleransi dan dapat membahayakan pasien, atau memberikan
alternative pengobatan lain yang lebih aman.
g. Mendokumentasikan ke dalam rekam pengobatan pasien.
h. Memberikan KIE.
Memberikan informasi kepada pasien tentang tata cara
penggunaan obat yang meliputi aturan pakai, dosis, penyimpanan
obat serta efek samping yang mungkin muncul dari penggunaan
obatnya.
3. Swamedikasi
a. Membangun hubungan professional antara farmasis dengan pasien.
b. Mencari solusi dari masalah yang dialami pasien.
c. Memilih terapi yang sesuai dengan keluhan pasien berdasarkan
efektifitas, kecocokan, kepraktisan biaya dan keamanan (untuk kasus-
kasus penyakit ringan).
d. Memberikan informasi kepada pasien tentang tata cara penggunaan
obat yang meliputi aturan pakai, dosis, penyimpanan obat serta efek
samping yang mungkin muncul dari penggunaan obatnya.
e. Melakukan pengawasan yaitu tindak lanjut kepada penderita seperti
menelepon penderita 2 hari setelah pemberian obat antibiotic, atau
menghubungi penderita hipertensi (apabila pasien memang sering
menkonsumsi obat tersebut sesuai peresepan dokter) 7 hari setelah
pemberian obat untuk menentukan efek samping obat yang
merugikan.
f. Merekomendasikan pasien untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut
ke dokter, apabila pengobatan dengan swamedikasi tidak efektif (sakit
masih berlanjut lebih 3 hari.

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) merupakan tanggung jawab
langsung apoteker pada pelayanan yang berhubungan dengan
pengobatan pasien dengan tujuan mencapai hasil yang ditetapkan yang
memperbaiki
2. Fungsi dari asuhan kefarmasian adalah untuk mengidentifikasi aktual
dan potensial masalah yang berhubungan dengan obat, menyelesaikan
masalah yang berhubungan dengan obat, mencegah terjadinya masalah
yang berhubungan dengan obat.

14
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H. C., Popovich, N.G., Allen, L.V., 1999. Pharmaceutical Dosage Forms and Drug
Delivery Systems 7th Ed. Philadelphia: Williams & Wilkins.
American Society of Hospital Pharmacists (ASHP). 1993. Pharmaceutical Care.
Depkes RI. 2008. Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home Pharmacy Care).
Jakarta: Depkes RI.
Hepler, C.D. and Strand, L.M. 1990. Opportunities and Responsibilities in Pharmaceutical
Care. American Journal of Hospital Pharmacy 47, 533-543.

15
16
17